Anda di halaman 1dari 5

STRUKTUR MODAL TARGET DAN STRUKTUR MODAL OPTIMAL

Struktur Modal Target


Untuk menghindari terjadinya kesulitan keuangan akibat terlalu besarnya beban
utang, biasanya perusahaan menetapkan apa yang disebut dengan struktur modal target
(target capital structure) atau target rasio utang. Struktur modal target merupakan batas
maksimal perusahaan melakukan pendanaan dari utang sehingga berfungsi sebagai
pengendali agar perusahaan tidak melampaui batas pendanaan yang dianggap aman. Sebagai
ilustrasi, berikut neraca sederhana dari PT ABC.

Asset Lancar Rp 10 milyar

Utang Lancar

Asse Tetap

Utang Panjang

15 milyar

Rp 1 milyar

7 milyar

Equitas
Total asset

Rp 25 milyar

Total asset

17 milyar
Rp 25 milyar

Berdasarkan neraca di atas, rasio utang PT ABC jika menggunakan debt to asset ratio adalah:
8 milyar
x 100% = 32%
25 milyar

Dimisalkan PT ABC pada contoh di atas menetapkan target struktur modalnya adalah 45%
maka berapa PT ABC maksimal boleh menambah pendanaan menggunakan sumber dana
utang berikutnya. Posisi rasio utang PT ABC saat ini adalah 32%. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut bisa dilakukan analisis menggunakan persamaan matematis sebagai
berikut. Dimisalkan jumlah dana utang yang boleh ditambahkan sama dengan x.
8.000.000.000 + x

25.000.000.000 + x
800.000.000.000 + 100x

45
100

= 1.125.000.000.000 + 45x

55x = 325.000.000.000
x = 5.909.090.909

Jika disubstitusikan angka yang diperoleh tersebut akan menjadikan rasio utang PT
ABC sama dengan yang ditargetkan yaitu 45%. Dengan demikian jumlah dana utang
maksimal yang masih bisa diakses oleh PT ABC adalah Rp 5.909.090.909. Jika perusahaan
membutuhkan dana dengan jumlah yang lebih besar dari angka tersebut maka tidak ada

pilihan lain kecuali dipenuhi dari sumber dana ekuitas. Sumber dana ekuitas bisa berasal dari
penerbitan saham biasa, penerbitan saham preferen atau bisa berasal dari keuntungan
perusahaan.
Perusahaan pada umumnya menjaga agar struktur modalnya berada di bawah struktur
modal target dengan tujuan untuk berjaga-jaga. Sebagaimana contoh di atas, realisasi struktur
modal perusahaan adalah 32% sementara struktur modal targetnya 45%. Dengan demikian
ada ruang (reserve) sebesar 13% yang memberikan fleksibilitas pendanaan bagi perusahaan,
yang bisa dimanfaatkan hanya jika dalam kondisi sangat dibutuhkan. Fleksibilitas pendanaan
berarti keleluasaan bagi perusahaan untuk memilih pendanaan dengan utang atau dengan
ekuitas. Jika struktur modal perusahaan melampaui 45% maka pendanaan dari sumber utang
menjadi tertutup sehingga akhirnya hanya sumber dana ekuitas saja yang tersedia bagi
perusahaan.

Struktur Modal Optimal


Struktur modal merupakan kata lain dari struktur pendanaan yang mempersoalkan
tentang komposisi pendanaan perusahaan yaitu berapa bagian dari total pendanaan
perusahaan yang dibiayai dari utang dan berapa bagian yang dibiayai dari modal sendiri
(ekuitas). Pertanyaan tentang berapa bagian sebaiknya modal perusahaan didanai dari utang
dan berapa bagian dari modal sendiri, pada dasarnya merupakan pertanyaan tentang berapa
sebenarnya struktur modal atau struktur pendanaan yang dianggap optimal bagi perusahaan.
Struktur modal optimal merupakan suatu konsep tentang komposisi pendanaan perusahaan
yang memberikan dampak paling tinggi terhadap nilai perusahaan atau nilai saham
perusahaan.
Konsep tentang struktur modal optimal berasal dari Trade-off Theory of Capital
Structure dari Miller-Modigliani (MM) pada tahun 1963. Menurut teori ini, pembiayaan
dengan utang membawa keuntungan (benefit) dan sekaligus biaya (cost) atau kerugian.
Trade-off theory, sesuai namanya, menyatakan bahwa struktur modal mencapai titik optimal
meningkatkan nilai perusahaan ketika marginal benefit sama dengan marginal cost dari
utang. Keuntungan atau manfaat dari pendanaan dengan utang tidak lain adalah keuntungan
pajak (tax shield) yang berasal dari adanya beban bunga. Semakin besar utang semakin besar
pula keuntungan pajak yang bisa diperoleh perusahaan. Sementara kerugian atau biaya yang
ditimbulkan oleh utang ada dua jenis yaitu biaya keagenan (agency cost) dan biaya kesulitan
keuangan (financial distress cost).
Biaya keagenan timbul akibat adanya kebutuhan untuk mengendalikan konflik
kepentingan (conflict of interest) antara kreditur dan pemegang saham sebagai pemilik
perusahaan. Menurut pandangan kreditur, manajemen perusahaan cenderung bertindak
menguntungkan pemegang saham daripada kreditur. Dalam konteks tersebut, untuk
mengamankan dana yang dipinjamkan ke perusahaan, kreditur membuat batasan-batasan

kepada manajemen yang biasanya dituangkan ke dalam bentuk perjanjian kredit (credit
covenant). Batasan-batasan tersebut misalnya dalam bentuk pembatasan nilai dividen yang
bisa dibayarkan kepada pemegang saham, penetapan asset-asset jaminan utang, pengawasan
terhadap penggunaan dana pinjaman, dan sejenisnya. Batasan-batasan tersebut merupakan
konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan sebagai biaya atas pendanaan dari utang.
Semakin tinggi utang perusahaan semakin besar biaya keagenan yang ditimbulkan, dan
sebaliknya.
Biaya kesulitan keuangan adalah biaya atau kerugian yang timbul karena perusahaan
berada dalam kondisi kesulitan keuangan (financial distress) akibat terlalu besarnya beban
utang perusahaan. Dalam bentuk yang serius kesulitan keuangan bisa berupa kondisi yang
mengarah kepada kebangkrutan. Contoh biaya kesulitan keuangan antara lain misalnya:

Nilai pasar asset perusahaan menurun karena perusahaan dalam kondisi kesulitan
keuangan atau menuju kebangkrutan.

Para pelanggan dan supplier mulai meninggalkan perusahaan.

Jika perusahaan ingin melakukan pemulihan (financial recovery) diperlukan biaya yang
tidak sedikit.

Dalam proses penyelesaian kebangkrutan diperlukan biaya untuk mengurus realisasi


(penjualan) asset perusahaan dan distribusi hasil-hasilnya kepada pemegang klaim
(kreditur dan investor).

Semakin besar utang perusahaan semakin meningkat peluang terjadinya biaya atau kerugian
akibat kondisi kesulitan keuangan yang dialami peerusahaan, dan sebaliknya. Struktur modal
optimal menghubungkan antara struktur modal perusahaan (rasio utang) dengan nilai
perusahaan atau harga saham perusahaan. Perhatikan gambar struktur modal optimal berikut
berdasarkan trade-off theory dari MM.

Nilai Perush.

Keuntungan pajak
untuk garis B

Nilai perush dg
utang + keuntungan
pajak

Financial distress &


Agency costs
Nilai
perush
maks.

=
F

>

<

>

<

A
3

Nilai perush.
tanpa utang

Keuntungan
pajak

Nilai perush dg
utang + benefit &
Costs

Jml. Utang
optimum

Rasio utang

Gambar..Struktur Modal Optimal

Penjelasan gambar:
A :

Garis nilai perusahaan jika struktur modal perusahaan sama sekali


tidak melibatkan pendanaan dari utang (unlevered firm value) atau
seluruh pendanaan berasal dari dana ekuitas. Garis ini menggambarkan tidak ada
kontribusi utang terhadap nilai perusahaan.

B : Garis nilai perusahaan jika struktur modal perusahaan selain terdiri dari
ekuitas juga melibatkan dana utang dan hanya memperhatikan manfaat
utang berupa keuntungan pajak (tax-shield). Atas dasar ini, semakin
besar rasio utang perusahaan semakin tinggi nilai perusahaan, dan
sebaliknya.
C : Garis nilai perusahaan jika struktur modal perusahaan selain terdiri dari ekuitas juga
melibatkan dana utang dan dengan memperhatikan baik manfaat utang berupa
keuntungan pajak (tax-shield) maupun biaya yang ditimbulkan oleh utang dalam bentuk
financial distress costs dan agency costs. Berdasarkan ini, awalnya semakin besar rasio
utang semakin tinggi nilai perusahaan sampai mencapai titik jumlah utang tertentu (E)
dimana penambahan selanjutnya terhadap jumlah utang justru menyebabkan nilai
perusahaan turun. Pada konteks ini, terjadi struktur modal optimum atau jumlah utang
optimum sebesar E yang menghasilkan nilai perusahaan maksimum senilai F.
D : Jumlah utang pada titik D selain mandatangkan manfaat (keuntungan pajak), juga
sudah mulai menimbulkan biaya (bisa berupa biaya keagenan atau bisa biaya kesulitan
keuangan). Jumlah utang lebih kecil dari D mendatangkan manfaat tetapi belum
menimbulkan biaya.
E : Jumlah utang optimum yaitu jumlah utang yang menghasilkan nilai perusahaan paling
tinggi (maksimum). Kondisi ini dicapai ketika manfaat marginal (marginal benefit)

yang dihasilkan sama dengan biaya marginal (marginal cost) yang ditimbulkan dari
utang.
F :

Nilai perusahaan yang paling tinggi yang dihasilkan dari struktur modal dengan jumlah
utang optimum.

G : Salah satu titik yang menunjukkan jumlah utang perusahaan di mana marginal benefit
yang dihasilkan lebih besar dari marginal cost yang ditimbulkan dari utang. Pada
jumlah utang ini nilai perusahaan terus mengalami peningkatan dibanding pada jumlah
utang sebesar D.
H : Salah satu titik yang menunjukkan jumlah utang perusahaan di mana marginal benefit
yang dihasilkan lebih kecil dari marginal cost yang ditimbulkan dari utang, sehingga
berdampak kepada turunnya nilai perusahaan dibanding misalnya pada jumlah utang
sebesar E.
Bagi perusahaan penggunaan dana dari utang lebih menguntungkan dibanding ekuitas selama
posisi struktur modal atau rasio utang perusahaan lebih kecil atau sama dengan E (titik
struktur modal optimal). Jika struktur modal sudah berada pada posisi lebih besar dari E,
penggunaan utang merugikan perusahaan karena akan menurunkan nilai perusahaan dan
dalam kondisi demikian sebaiknya perusahaan memanfaatkan sumber dana ekuitas.
Target struktur modal sebaiknya sama dengan struktur modal optimal. Namun
permasalahannya adalah bahwa struktur modal optimal dalam praktik di lapangan sulit
ditentukan sehingga bersifat abstrak. Struktur modal optimal bersifat unik artinya masingmasing perusahaan memiliki titik struktur modal optimal yang berbeda satu sama lain.