Anda di halaman 1dari 3

1.

Gambar Jantung

2. Tabel Hasil Percobaan


Nomo
r

Macam Percobaan

a.
b.
c.
d.
e.

Suhu dingin
Suhu panas
Pilokarpin
Adrenalin
Otomasi

Frekuensi Denyut Jantung (banyaknya


denyut/menit)
Sebelum
Sesudah
72x /min
64x /min
47x /min
40 x/min
29x /min
19 x/min
18x /min
8 x/min
-

Jelaskan Mekanisme-nya!

Penjelasan
Pada pengamatan tentang pengaruh suhu dan zat kimia terhadap denyut
jantung , di temukan hasil yang berbeda mengenai denyut jantung permenit.
Pada percobaan pertama ketika jantung di tetesi cairan ringer suhu kamar,
diperoleh 72 denyut per menit. Lalu setelah ditetesi ringer dingin (4-10C)
frekuensi denyut jantung di peroleh 64 denyut permenit. Larutan ringer
berfungsi untuk mempercepat denyut jantung. Hal ini disebabkan karena
larutan ringer laktat bersifat hipertonis, sehingga konsentrasi cairan di dalam
sel-sel otot jantung meningkat yang menyebabkan otot jantung akan lebih
cepat berkontraksi dari frekuensi denyut jantung normal. Pada jantung yang
katak di tetesi dengan larutan ringer dingin, mengalami perlambatan denyut
jantung. Hal ini menunjukan bahwa jantung bersifat termolabil dimana
Jantung dapat berubah denyutnya karena pengaruh suhu lingkungan.
Sebagai contoh kita berpindah dari daerah suhu panas ke daerah bersuhu
dingin, maka denyut jantung menurun.
Pada percobaan kedua dengan ringer panas (40-50C), diperoleh perubahan
dari 47 denyut per menit ke 40 kali permenit.

Meningkatnya kontraksi otot jantung disebabkan oleh permeabilitas


membran sel otot jantung terhadap ion meningkat sehingga ion yang keluar
masuk meningkat, terjadilah depolarisasi. Saat potensial membran mencapai
nilai ambang maka terjadilah potensial aksi yang dikonduksian dari SA node
menuju ke AV node, lalu ke berkas His, kemudian ke saraf purkinje dan
akhirnya seluruh otot ventrikel berkontraksi cepat.
Pada percobaan ketiga, jantung yang masih berdetak di tetesi dengan
larutan pilokarpin sebanyak 2 3 tetes, menunjukan penurunan yang cukup
drastis menjadi 29 denyut permenit. senyawa pilokarpin tujuan utamanya
adalah menurunkan denyut jantung, hasil dari percobaan kami menunjukkan
bahwa otot jantung katak mengikuti teori yaitu turun. Hal ini membuktikan
bahwa senyawa pilokarpin dapat bekerja dengan baik di jantung katak. Di
dalam AV node, hiperpolarisasi menyebabkan penghambatan junctional yang
berukuran kecil untuk merangsang AV node sehingga terjadi perlambatan
kontraksi impuls yang akhirnya menyebabkan terjadinya penurunan
kontraksi.
Pada percobaan keempat, jantung katak di tetesi dengan larutan Adrenalin
1 : 1000 sebanyak 2 3 tetes, menunjukan denyut dari 18 kali ke 8 kali
permenit. Adrenalin seharusnya menyebabkan peningkatan kontraksi otot
jantung. Adrenalin digunakan sebagai enaleptikum (obat penyegar) yang
sangat efektif pada keadaan kolaps, shock, dan jantung berhenti. Pada saat
percobaan ini reaksi yang ditimbulkan pada otot jantung katak sama seperti
teori,yaitu tonusnya naik, hal ini membuktikan bahwa pengaruh obat
adrenalin pada jantung katak sangat membantu saat otot jantung mengalami
kolaps. Tetapi hasil yang diperoleh berbeda, kemungkinan cairan pilokarpin
yang menurunkan denyut jantung belum terbilas dengan baik, sehingga
terjadi penurunan denyut jantung. Dan suhu cairan dan sekitar mungkin
telah menurun, sehingga detak tambah menurun.
KESIMPULAN
Berdasarkan data yang di peroleh dari praktikum kardiovaskuler, maka dapat
di tarik kesimpulan sebagai berikut :
1.

Secara umum jantung katak terdiri atas tiga ruang yaitu sinus venosus,
dua atrium, dan satu ventrikel.

2.

Suhu dan zat kimia dapat mempengaruhi frekuensi denyut jantung. Suhu
rendah (dingin) akan menurunkan frekuensi denyut jantung, sedangkan
suhu tinggi akan meningkatkat frekuensi denyut jantung. Hal ini juga
berlaku pada zat kimia, dimana cairan asetikolin memperlambat kerja
jantung, sedangkan cairan adrenalin berfungsi untuk mempercepat kerja
jantung.

3.

Pengaruh suhu dan zat kimia menjelaskan tentang sifat jantung yang
termolabil.

4.

Jantung memiliki otomasi sendiri di otot jantung berupa serabut purkinje


dan serabut his.tanpa adanya koordinasi syaraf simpatis dan
parasimpatis jantung tetap dapat berdetak diluar.

Tanggal: 2 Oktober 2015


Tanda Tangan pembimbing
Guyton, A. C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku
kedokteranEGC, Jakarta.
Ganong, WF, 2001, Review Of Medical Physiology, 20th edition , Appleton &
Lange A Simon &Schuster C0., Los Altos, California