Anda di halaman 1dari 35

REFERAT

INFANTISIDA

Dosen Pengampu :
dr. Intarniati Nur Rohmah, Sp.KF, MSi.Med

Residen Pembimbing :
dr. Stephanus Rumancay

Disusun Oleh :
Nur Hidayu (FK ABDURRAB)
Nurul Amini (FK ABDURRAB)
I Gede Ariguna Wijaya (FK TRISAKTI)
M. Abby Wicaksono (FK UPN)
Bella Rosari (FK TRISAKTI)

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Forensik


Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang, 23 November 17 Desember 2015
1

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami sangat bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada
Tuhan Yang Maha Esa karena kami telah dapat membuat referat Infantisida pada kesempatan
kali ini. Tiada hal yang mustahil bagi Tuhan dan kami sangat percaya bahwa kami dapat
membuat referat ini dengan baik dan berguna.
Tujuan kami membuat referat ini adalah untuk memenuhi tugas dalam kaitannya
dengan kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensik.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang dan pihak yang telah
membantu proses pembuatan referat Infantisida ini, termasuk kepada anggota kelompok
meliputi dokter-dokter muda dari TRISAKTI, UPN, dan ABDURRAB yang telah bekerja
sama dalam berdiskusi dengan sebaik baiknya. Tak lupa kepada dosen pengampu kami dr.
Intarniati Nur Rohmah, Sp.KF, MSi.Med, residen pembimbing kami dr. Stephanus Rumancay
yang telah membantu dan membimbing kami dalam pembuatan referat ini.
Manfaat dari referat Infantisida ini adalah untuk memahami dan menerapkan
pengetahuan mengenai Infantisida dalam ilmu kedokteran forensik. Kami berharap bahwa
referat ini dapat berguna bagi para pembaca.
Tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, maka dari itu apabila ada kekurangan
maupun kesalahan kami dalam pembuatan referat ini, maka dapat harap dimaklumi. Untuk itu
kami mengundang para pembaca untuk dapat memberi kritik dan saran tentang referat ini
agar untuk yang selanjutnya dapat menjadi yang lebih baik.

Jakarta, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantari
Daftar Isi.ii
BAB I PENDAHULUAN..1
1.1. Latar Belakang1
1.2. Tujuan.2
1.3. Manfaat Penulisan ....2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3
2.1. Definisi .........3
2.2. Landasan hukum infantisida ......5
2.3. Perbedaan Infantisida dengan Pembunuhan Biasa........7
2.4. Pemeriksaan Kedokteran Forensik Infantisida..9
2.5. Lahir Hidup atau Lahir Mati...13
2.6. Cukup Bulan Dalam Kandungan.25
2.7. Penentuan Usia Janin Diluar Kandungan...29
2.8. Pemeriksaan Terhadap Pelaku Infantisida.30
BAB III PENUTUP..32
3.1. Kesimpulan..........32
DAFTAR PUSTAKA...........34

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga, sebagai pewaris dan
penerus kedua orang tuanya. Oleh karena itu, seorang anak seharusnya mendapatkan
perlindungan baik selama masih di dalam kandungan maupun sesaat setelah dilahirkan
kedunia. Namun hingga saat ini, masih banyak kasus pembunuhan bayi sendiri
(infantisida) yang terjadi di Indonesia.
Infantisida sendiri merupakan pembunuhan bayi dibawah satu tahun yang dilakukan
oleh ibu kandungnya sendiri, segera atau beberapa saat setelah bayi tersebut dilahirkan,
hal ini dikarenakan takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak yang; oleh karena anak
tersebut adalah anak dari hubungan gelap. Pembunuhan terhadap anak merupakan suatu
kejahatan terhadap nyawa.
Ada berbagai macam cara yang digunakan seorang ibu kandung untuk membunuh
bayinya sendiri, namun cara yang paling sering digunakan yaitu membuat keadaan
asfiksia mekanik, yaitu pembekapan, pencekikan, penjeratan, dan penyumbatan. Bentuk
kekerasan lainnya adalah kekerasan tumpul di kepala, kekerasan tajam pada leher atau
dada, bahkan dibakar.
Langkah utama yang dilakukan dalam pemeriksaan adalah harus ditentukan apakah
bayi tersebut dapat lahir hidup atau tidak; dan apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan
hidup atau tidak. Sebab hal tersebut berguna untuk memastikan sebab kematian dari bayi
tersebut. Dari penjelasan di atas, maka pada kasus pembunuhan bayi, terdapat 3 unsur
penting, yaitu :
1. Pelaku haruslah ibu kandung korban
2. Alasan pembunuhan ialah karena takut ketahuan akan melahirkan anak
3. Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan atau beberapa saat kemudian
setelah dilahirkan
Dalam makalah ini, akan dibahas lebih dalam lagi mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan infantisida seperti yang telah dipaparkan di atas. Hal inilah yang melatarbelakangi
penulis dalam pembuatan tugas referat ini yang berjudul INFANTISIDA.
1.2 Tujuan
1.2.1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui pemeriksaan pada kasus infantisida secara menyeluruh
Mampu membedakan kondisi ante natal dan post mortem
1


1.2.2.

Pemeriksaan lengkap untuk menemukan pelaku (suspect)


Tujuan Khusus
Mampu melakukan pemeriksaan kasus dugaan infantisida dengan segala

aspek yang mempengaruhinya


1.3 Manfaat Penulisan
1.3.1. Untuk Hukum
Mengetahui dan mampu melakukan pemeriksaan pada kasus dugaan
infantisida dengan segala aspek yang mempengaruhinya
1.3.2. Masyarakat
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai infantisida dan mampu
mengenali kasus dugaan infantisida
1.3.3. Instansi Kesehatan
Menambah wawasan mengenai infantisida, dan membantu penanganan kasus
dugaan infantisida dengan segala aspek yang mempengaruhinya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

DEFINISI
Pembunuhan anak sendiri tersering terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan,

dengan prevalensi terbanyak pada tahun pertama. Pembunuhan anak sendiri yang dilakukan
dengan sengaja dengan cara maupun metode apapun disebut sebagai infantisida. Sedangkan
istilah filisida diartikan pembunuhan anak yang dilakukan oleh orang tua kandung.
Pengertian infantisida berdasarkan beberapa literatur dibagi atas : 1

Neonatisida
Dapat didefinisikan sebagai pembunuhan anak secara sengaja dalam 24 jam pertama
kehidupannya, yang umumnya dilakukan oleh sang ibu, dan dilakukan segera setelah
anak dilahirkan. Umumnya neonatisida merupakan suatu tindakan yang dilakukan
2

oleh satu individu tanpa saksi yang melihat. Tujuan dari tindakan neonatisida ialah
untuk menyembunyikan fakta bahwa seseorang pernah melahirkan anak, atau untuk

membunuh anak yang tidak diinginkan.1


Infantisida dan Pembunuhan Anak
Didefinisikan sebagai pembunuhan anak secara sengaja yang dilakukan diatas 24 jam
pertama kehidupannya. Metode yang digunakan biasanya jauh berbeda dengan kasus
neonatisida, serta biasanya terdapat campur tangan pihak lain meliputi suami, teman
laki-laki, ataupun babysitter dalam pembunuhannya. 1

Berdasarkan Byard, dan Roger W. Pengertian Infantisida adalah pembunuhan bayi yang
terjadi antara usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kehidupannya. Sedangkan neonatisida
adalah pembunuhan bayi yang terjadi pada kurang dari 24 jam, atau kurang dari 28-30 hari
setelah kelahiran (tergantung pada hukum yang berlaku).2
Pada prakteknya, kebanyakan neonaticide terjadi langsung setelah ibu melahirkan
bayi, dilakukan oleh karena ibu berusaha menutupi kehamilan dan kelahirannya. Pelaku
biasanya adalah wanita muda, lajang, dengan tingkat pendidikan yang rendah, dan tidak
punya rekaman tindak kejahatan. Mereka biasanya akan mencoba melakukan aborsi.2
1.

Dimaio VJ, Dimaio D. Neonaticide, Infanticide, and Child Homicide. Forensic Pathology: Second ed. London.
CRC Press LLC. 2001;1:335-65.

2.

Byard, Roger W. Sudden Death in Infancy Childhood and Adolosence. 2nd ed. UK. Cambridge University Press;
2004:491-575.

Alasan melakukan neonaticide antara lain adalah rasa takut akan kehilangan
pekerjaan, tidak ingin untuk mengurus anak, kemiskinan, dan psikosis. Wanita muda yang
masih lajang biasanya takut untuk mengungkapkan tentang kehamilannya kepada keluarga
oleh karena malu dan rasa takut akan hukuman dan penolakan yang akan dia terima.2
Substansi infanticide diatur dalam English Infanticide Act 1938 (Section 1): Di mana
seorang wanita baik secara sengaja atau karena kelalaian menyebabkan kematian pada bayi
berusia kurang dari 12 bulan. Namun jika pada saat itu juga keseimbangan pikirannya
terganggu oleh karena pengaruh setelah melahirkan atau efek laktasi, dia bisa dihukum seolah
melakukan pembunuhan secara tidak sengaja pada bayi. 3,4
Perlu diperhatikan bahwa:3,4
- Hal tersebut hanya berlaku bagi ibu bukan ayah, atau orang lain.

- Bayi tersebut harus berusia kurang dari 1 tahun, meskipun faktanya kebanyakan infanticide
terjadi pada beberapa jam bahkan menit setelah ibu melahirkan bayi.
- Harus menjadi bayi yaitu, orang yang dapat hidup sendiri di luar tubuh ibu.
- Kematian disebabkan karena kesengajaan atau kelalaian ibu.3,4
Yang dimaksud dengan pembunuhan anak sendiri menurut undang-undang di Indonesia
adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan
atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak.5
Ada 3 faktor penting yang dapat dilihat, yaitu:5

Ibu. Hanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak
sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ia kawin atau tidak. Sedangkan bagi orang lain
yang melakukan atau turut membunug anak tersebut dihukum karena pembunuhan

atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat.5


Waktu. Dalam undang-undang tidak disebutkan batasan waktu yang tepat, tetapi
hanya dinyatakan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Sehingga boleh
dianggap

3.
4.
5.

Knight, Bernard; Saukko, Pekka. Knights Forensic Pathology. 3rd ed. UK: Hodder Arnold. 2004
James, Jason Payne, et al. Simpsons Forensic Medicine. 13th ed. UK:Hodder Arnold. 2011
Budiyanto, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama, cetakan kedua. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997.

pada saat belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Bila rasa
kasih sayang sudah timbul maka ibu tersebut akan merawat dan bukan membunuh

anaknya.5
Psikis. Ibu membunuh anaknya karena terdorong oleh rasa ketakutan akan diketahui
orang telah melahirkan anak itu, biasanya, anak yang dibunuh tersebut didapat dari
hubungan yang tidak sah.5

2.2.

LANDASAN HUKUM INFANTISIDA


Dalam KUHP, pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap

nyawa orang. Adapun bunyi pasalnya, yaitu:6


Pasal 341
Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7
tahun.6
4

Pasal 342
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak

sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. 6


Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain

yang turut serta melakukan sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 181
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan
mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam
dengan pidana penjara selama 9 bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu

lima ratus rupiah.6


Pasal 308
Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak
lama

sesudah

melahirkan,

menempatkan

anaknya

untuk

ditemukan

atau

meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya, maka maksi6.

Pembunuhan anak sendiri. Dalam :Peranan Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum. Edisi Pertama. Jakarta. 2008 ;
161-170

mum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. 6
Adapun bunyi pasal 305 dan 306 tersebut adalah sebagai berikut,6
Pasal 305
Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemukan
atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya,

diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan. 6


Pasal 306
(1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 itu mengakibatkan lukaluka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun 6 bulan.
(2) Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun. 6
Untuk memenuhi kriteria pembunuhan anak sendiri, dengan sendirinya bayi atau anak

tersebut harus dilahirkan hidup setelah seluruh tubuhnya keluar dari tubuh ibu. Bila bayi lahir
mati kemudian dilakukan tindakan membunuh, maka hal ini bukanlah pembunuhan anak
sendiri ataupun pembunuhan. Juga tidak dipersoalkan apakah bayi yang dilahirkan
merupakan bayi yang cukup bulan atau belum cukup bulan, maupun viable atau non-viable. 6
Kesimpulannya, tindak pidana merampas nyawa bayi yang bersifat Kinderdoodslag
dan Kindermoord, harus memenuhi syarat sebagai berikut:6
5

Pelaku harus ibu kandung


Korban harus bayi anak kandung sendiri
Pembunuhan harus dilakukan pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian
Motif pembunuhan karena takut ketahuan telah melahirkan anak
Jika

pembunuhan

bayi

tidak

memenuhi

syarat

untuk

dikatakan

sebagai

Kinderdoodslag ataupun Kindermoord seperti yang disebutkan di atas, maka pembunuhan


tersebut dikategorikan sebagai tindak pidana perampasan nyawa yang bersifat umum
sebagaimana diuraikan dalam pasal 338 dan 340 KUHP dengan hukuman yang jauh lebih
berat.6
6.

Pembunuhan anak sendiri. Dalam :Peranan Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum. Edisi Pertama. Jakarta. 2008 ;
161-170

Bagi orang lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum karena
pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat, yaitu penjara
15 tahun (KUHP Pasal 338: tanpa rencana) atau 20 tahun, seumr hidup/hukuman mati
(KUHP Pasal 340). Adapun bunyi pasalnya, yaitu :6

KUHP Pasal 338


Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.6
KUHP Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.6

2.3.

PERBERDAAN INFANTICIDE DENGAN PEMBUNUHAN BIASA


Pembunuhan anak biasa adalah pembunuhan pada anak di atas usia satu hari yang

dilakukan oleh ibu, ayah, atau orang tua tiri. Pembunuhan anak biasa adalah pembunuhan
yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri dan tidak memenuhi syarat pembunuhan
infanticide. Resnick mengklasifikasikan pembunuhan terhadap anak berdasarkan motif dari
pembunuhan, yang terdiri dari altruism, acute psychosis, unwanted child, accidental, dan
sposal revenge. 7
Bila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, misalnya tempat sampah,
got, sungai dan sebagainya, maka bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak

sendiri (pasal 341, 342) pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang
(pasal 181) atau bayi yang ditelantarkan sampai mati (pasal 308). 6
Klasifikasi pembunuhan anak berdasarkan Resnick yaitu:7
1. Altruism
Adalah pembunuhan anak yang dilakukan berdasarkan motif rasa tidak tahan melihat
atau membayangkan anaknya menderita. Jenis pembunuhan ini dilakukan dengan
tujuan menghilangkan penderitaan dari anaknya, biasanya pembunuhan dengan motif
ini akan disertai dengan bunuh diri dari pelaku. Misal anak yang dibunuh oleh ibunya
7.

Apuranto, H. dan Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 1997.

karena mempunyai penyakit yang tidak dapat sembuh atau anak yang dibunuh oleh
ibunya karena selalu disiksa oleh keadaan atau seseorang.7
2. Acute Psychosis
Adalah pembunuhan anak sendiri yang dilakukan berdasarkan motif orang tua yang
mengalami gangguan kejiwaan.7
3. Unwanted children
Adalah pembunuhan anak sendiri yang dilakukan karena orang tua tidak
mengharapkan anak tersebut. Pembunuhan anak berdasarkan motif ini biasanya sering
terjadi pada pernikahan yang tidak dinginkan atau pada kasus pemerkosaan.7
4. Accidental
Adalah pembunuhan anak sendiri secara tidak sengaja. Pembunuhan jenis ini sering
berkaitan dengan penyiksaan terhadap anak yang berujung ke kematian anak tersebut.
Biasa pembunuhan dengan motif ini akan tampak tanda-tanda battered child
syndrome, cedera yang dihasilkan dari penyiksaan secara fisik bisa berupa bengkak,
luka bakar, patah tulang dan lain-lain.7
5. Spousal Revange
Adalah pembunuhan terhadap anak sendiri dengan tujuan untuk balas dendam
terhadap pasangannya atau untuk memberi hukuman terhadap pasangannya.7
Dalam KUHP, belum terdapat pasal yang mengatur secara langsung pembunuhan
anak biasa (non infanticida). Oleh karena itu, pembunuhan anak biasa dapat dimasukkan
dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Selain itu, pada Undang-Undang juga terdapat
pasal yang mengatur mengenai perlindungan anak. Berikut merupakan isi-isi pasal tersebut.7

Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
7

Pasal 339
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana,
yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah
pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari
pidana dalam hal

7.

Apuranto, H. dan Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 1997.

tertangkap

tangan,

ataupun

untuk

memastikan

penguasaan

barang

yang

diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup

atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.


Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas
nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana
rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua

puluh tahun.
Pasal 344
Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang
jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun.

Undang-Undang Perlindungan Anak (Pasal 13)


(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang
bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:7
a. diskriminasi;
b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;
c. penelantaran;
d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;
e. ketidakadilan; dan
f. perlakuan salah lainnya.
(2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.7
2.4.

BUKTI MEDIK INFANTISIDA

Pada saat pemeriksaan jenazah bayi pada kasus curiga infanticide , dokter harus memeriksa
beberapa hal yaitu:8

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara.
1997: 256 69.

1. Bayi tersebut viabel atau tidak


Viabel adalah keadaan bayi atau janin yang dapat hidup di luar kandungan lepas dari
ibunya tanpa bantuan alat yang canggih. Bayi dikatakan viabel dengan melihat tanda-tanda
yang dapat diukur dan tanda-tanda yang tidak dapat diukur. Tanda dapat diukur antara lain :8
-

Umur kehamilan >28 minggu,


Panjang badan kepala-tumit >35 cm,
Panjang badan kepala-bokong 30-33 cm,
Berat badan sekitar 2500-3000 gr,
Lingkar kepala sudah mencapai 33 cm.

Sedangkan tanda yang tidak dapat dikur antara lain :8


-

Jenis kelamin sudah dapat dikenali


Bulu badan, alis dan bulu mata sudah tumbuh
Kuku sudah melewati ujung jari ( dapat diketahui dengan menggesek ujung kuku

pada kulit pemeriksa)


Inti penulangan sudah terbentuk minimal pada tulang kalkaneus atau kalus

(menandakan usia kehamilan kurang lebih 7 bulan)


Pertumbuhan gigi sudah sampai tahap kalsifikasi.8

Inti penulangan

Lingkar kepala fronto occipital

2. Bayi lahir hidup atau mati


Dengan melihat ada atau tidaknya tanda-tanda bayi lahir hidup dan mati. Tanda-tanda bayi
lahir hidup dengan menilai sistem pernafasannya. Pada bayi yang sistem pernafasannya perna
bernafas, ditemukan: 8
9

Dada sudah mengembang

Tulang iga terlihat lebih mendatar

Sela iga melebar

Paru-paru telah memenuhi rongga dada

Tepi paru tumpul

Warna paru berubah dari livid menjadi bercak-bercak pink seperti mozaik (mottled
pink) karena terisinya alveolus dengan udara maka membuat darah mengalir pada
pembuluh darah

Uji apung paru (Docimasia Hidrostatica Pulmonum) hasilnya positif jika parunya
mengapung. Akan tetapi, pada bayi lahir mati yang sudah pembusukan, akan
memberikan hasil positif palsu. Maka untuk membedakan keduanya dilakukan
pengeluaran udara pembusukan yuitu dengan memberikan tekanan yang besar pada
potongan paru tersebut sehingga udara hasil pembusukan akan keluar sedangkan
udara pernafasan akan tetap berada pada alveolus.8

Namun, hasil uji apung paru ini tetap meragukan, karena masih ada kemungkinan bayi
bernafas meskipun masih didalam uterus atau vagina (vaginitus uterus atau vaginitus
vaginalis) kemudian meninggal saat dilahirkan secara lengkap sehingga bayi tetap dinyatakan
lahir mati. hasil yang meragukan juga bida terjadi pada bayi yang telah diberikan nafas
buatan sehingga terjadi pernafasan parsial. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan lain,
yaitu :8

Ditemukan makanan atau bakteri di dalam usus

Uji apung lambung-usus (Uji Breslau) yang pelaksanaannya mirip dengan uji apung
paru. Pada keadaan bayi lahir hidup, akan terdapat udara dalam usus bayi karena pada
saat dia menangis atau hidup ada beberapa udara yang tertelan sehingga akan
memberikan hasil yang positif pada uji Breslau. Pemeriksaan ini juga tidak dapat
dilakukan pada saat sudah terjadi pembusukan
10

Uji telinga tengah (Uji Wredent Wendt) yaitu dengan membuka terlinga tengah bayi di
dalam bejana berisi air, hingga terlihat gelembung udara pada bayi yang saat bernafas
telinga tengahnya terisi udara.8

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara.
1997: 256 69.

3. Lama hidup diluar kandungan


Setelah diketahui bayi lahir hidup, maka selanjutnya perlu diamati berapa usia bayi dan
berapa lama bayi hidup diluar kandungan. Usia bayi dapat dihitung menggunakan rumus de
Hass yaitu untuk 5 bulan pertama panjang kepala sampai tumit (cm) adalah kuadrat dari umur
(bulan). Untuk mengetaui lama bayi hidup diluar kandungan dapat dinilai juga dari :8

Kondisi bayi, masih kotor atau sudah dirawat

Mekonium yang akan keluar dari usus maksimal dalam 2 hari

Tingkat proses pelepasan tali pusat

Ikterus yang akan tampak pada hari ke-4-10

Terdapat udara pada usus kecil (1 jam setelah lahir), duodenum (6-12 jam pasca lahir)
dan usus besar (12-24 jam pasca lahir).8

4. Sebab kematian
Penentuan sebab kematian dapat dilihat dari tanda-tanda jeratan, luka atau pun tanda
kekerasan lain pada tubuh bayi. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan
pembekapan dan penjeratan.8
5. Apakah sudah ada tanda-tanda perawatan
Jika sudah tampak tanda perawatan maka pembunuhan yang dilakukan oleh ibu tidak dapat
dikatakan sebagai infanticide, tetapi pembunuhan biasa. Tanda perawatan tersebut antara lain:

11

Pemotongan tali pusat dengan alat : dapat dilihat pada ujung pemotongan tali pusat
terlihat rata, apabila tidak dapat dinilai karena sudah mengelisut penilaian dilakukan
dengan memasukan ujung tali pusat didalam air. Sehingga dapa terlihat apakak ujung
pemotongan tersebut rata atau terkoyak.

Verniks kaseosa pada leher, lipat ketiak dan lipat paha sudah dibersihkan

Adanya makanan atau susu dalam labung

Adanya pakaian yang dikenakan oleh bayi.8

7.

Apuranto, H. dan Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 1997.

2.5.

LAHIR HIDUP ATAU LAHIR MATI


Lahir hidup atau Live Birth adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang

lengkap, yang setelah pemisahan tersebut, bernafas atau menunjukkan tanda kehidupan lain
seperti denyut atau detak jantung, denyut nadi tali pusat, gerakan otot volunter (otot rangka),
tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan ari
dilahirkan.7,8
Lahir mati atau Still Birth adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau
dikeluarkan oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun
sesudah kehamilan berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin
yang tidak bernafas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut jantung,
denyut nadi tali pusat, atau gerakan otot rangka.7,8,9
Berikut adalah tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan :7,8,9

Pernafasan (paru mengembang dan terdapat udara dalam lambung atau usus).
Menangis.
Pergerakan otot.
Sirkulasi darah, dan denyut jantung serta perubahan hemoglobin.
Isi usus.
Keadaan tali pusat.
1. Pernafasan7
12

Pernafasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan sirkulasi
plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru. Pernafasan
setelah bayi lahir mengakibatkan perubahan letak diafragma dan sifat paru-paru.
a. Letak diafragma
Pada bayi yang sudah bernafas, letak diafragma setinggi iga ke-5 atau ke-6. Sedangkan pada
yang belum bernafas setinggi iga ke-3 atau ke-4.

7.

Apuranto, H. dan Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu

8.

Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 1997.


Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara.

9.

1997: 256 69.


Knight, Bernard. Knights Forensic Pathology, 3rd dd. London:Arnold.2004

b. Gambaran makroskopik paru


Paru-paru bayi yang sudah bernafas berwarna merah muda tidak homogeny namun
berbercak-bercak. Konsistensinya adalah seperti spons dan berderik pada perabaan.
Sedangkan, pada paru-paru bayi yang belum bernafas berwarna merah ungu tua seperti warna
merah hati bayi dan homogeny, dengan konsistensi kenyal seperti hati atau limpa.7,8,9
c. Uji apung paru2,10
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh, paru-paru tidak disentuh untuk
menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sediaan histopatologi jaringan paru akibat
manipulasi berlebihan.
Lidah keluarkan seperti biasa dibawah rahang bawah, ujung lidah dijepit dengan pinset atau
klem, kemudian ditarik kearah ventrokaudal sehingga tampak palatum mole. Dengan scalpel
yang tajam, palatum mole disayat sepanjang perbatasannya dengan palatum durum. Faring,
laring, esophagus bersama dengan trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esophagus
bersama dengan trakea diikat dibawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini
dimaksudkan agar pada manipulasi berikutnya cairan ketuban, meconium, atau benda asing
lain tidak mengalir keluar melalui trakea, bukan untuk mencegah masuknya udara kedalam
paru.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah dan
scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esophagus diikat diatas diafragma
dan dipotong diatas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak masuk kedalam
lambung dan uji apung lambung-usus tidak memberikan hasil meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan kedalam air dan
dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan
dan dimasukkan kembali kedalam air, dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah itu
tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan kedalam air, dan dilihat apakah mengapung atau
13

tenggelam. Lima potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam air,
diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena
kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan diantara dua
karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus jangan digeser untuk mengeluarkan
gas pembusukan yang terdapat pada jaringan interstitial paru, lalu masukkan kembali ke
dalam air dan diamati apakah masih mengapung atau tenggelam.
10. Sheperd R. Simpsons Forensic Medicine. 12th ed. London:Arnold.2003.

Bila masih mengapung berarti paru terisi udara residu yang tidak akan keluar. Namun,
terkadang dengan penekanan, dinding alveoli pada mayat bayi yang telah membusuk lanjut
akan pecah dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru mengingat
kemungkinan adanya pernafasan sebagian yang dapat bersifat buatan atau alamiah yaitu bayi
yang sudah bernafas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina.
Hasil negatif belum tentu pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi dilahirkan
hidup tapi kemudian berhenti nafas meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam
alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan
untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka
uji apung paru kurang dapat dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.10
d. Mikroskopik paru-paru10
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan
larutan formalin 10%. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk memungkinkan cairan
fiksatif melekat dengan baik ke dalam paru. Setelah difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat
sediaan histopatologik. Biasanya digunakan pewarnaan HE dan bila paru telah membusuk
digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum bernafas, tetapi
merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk
paru janin belum bernafas adalah adanya tonjolan yang berbentuk seperti bantal yang
kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti ganda.
Pada permukaan ujung bebas tonjolan tampak kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru
bayi belum bernafas yang sudah membusuk dengan pewarnaan gomori atau ladewig, tampak
serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang
keriting, sedangkan pada tonjolan berjalan dibawah kapiler sejajar dengan permukaan
tonjolan dan membentuk gelung-gelung terbuka.
14

Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi cairan amnion
yang luas karena asfiksia intrauterine, misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio
plasenta sehingga terjadi pernafasan janin prematur.

10. Sheperd R. Simpsons Forensic Medicine. 12th ed. London:Arnold.2003.

Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang
dengan inti piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti
bawang. Juga tampak sel-sel amnion bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti
terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin terlihat
dalam bronkioli dan alveoli. Kadang-kadang ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus
yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding
alveoli.10
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat, dengan atau
tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterine, kelainan kongenital yang fatal
seperti anensefalus.10

Gambar 2.2. Mikroskopis Paru Bayi Lahir Mati (Still Born)

15

Gambar 2.3 Mikroskopis Paru Bayi Lahir Hidup ( Live Born)

10. Sheperd R. Simpsons Forensic Medicine. 12th ed. London:Arnold.2003.

Tabel 1. Penentuan lahir hidup atau mati


Tanda-tanda
Tanda-tanda maserasi

Lahir hidup

Lahir mati
Baru terlihat setelah 8-10
hari kematian inutero.
Bila kematian baru terjadi 3
atau

hari:

Perubahan

berupa vesikel atau bula yang


berisi

cairan

kemerahan,

epidermis bewarna putih dan


berkeriput, bau tengik, dan
tubuh mengalami perlunakan.
Organ-organ tampak basah
Pengembangan dada

Dada sudah mengembang


Diafragma

Pemeriksaan
paru

sudah

tetapi tidak berbau busuk


Iga masih mendatar dan

turun diafragma masih setinggi iga

3-4.
sampai sela iga 4-5
makroskopik Paru sudah mengisi rongga Paru-paru masih tersembunyi
dada

dan

menutupi dibelakang kandung jantung

sebahagian kandung jantung.

atau telah mengisi rongga

Paru berwarna merah muda dada.


tidak merata dengan pleura Paru-paru bewarna kelabu
tegang.

ungu merata seperti hati,


16

Menunjukkan

gambaran konsistensi padat,tidak teraba

mosaic kerana alveoli telah derik udara dan pleura yang


longgar

berisi udara.
Gambaran

marmer

akibat

pembuluh daran interstitial


berisi darah
Konsistensi seperti spons dan
teraba derik udara.
Pengirisan paru dalam air :
terlihat

jelas

keluarnya

gelembung udara dan darah.


Berat paru bertambah 2 kali
kerana berfungsinya sirkulasi
darah jantung paru.
Uji apung paru
Hasil positip
-Hasil negatip
Pemeriksaan
mikroskopik Alveoli paru mengembang Tanda khas untuk paru bayi
paru

sempurna dengan atau tanpa yang belum bernafas adalah


emfisema obstruktif

adanya

Tidak terlihat projection.

berbentuk seperti bantal yang

Perwarnaan

Gomori

yang

atau akan bertambah tinggi dan

Ladewig: serabut retikulin dasar


tampak tegang.

tonjolan

menipis

sehingga

tampak seperti dada (club


like)
Pada paru bayi yang belum
bernafas

dan

sudah

membusuk
pewarnaan
Ladewig:

dengan
Gomori
Tapak

retikulin

pada

dinding

alveoli

atau
serabut

permukaan
berkelok-

kelok seperti rambut yang


kerinting

17

2. Menangis
Bernafas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi tanpa bernafas.
Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena suara tangisan
dapat terjadi dalam uterus atau vagina. Yang merangsang bayi menangis dalam uterus adalah
masuknya udara ke dalam uterus dan kadar oksigen dalam darah menurun dan atau kadar CO2
dalam darah meningkat.10
3. Pergerakan otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat dibuktikan.
Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati, maupun yang lahir
mati.10
4. Peredaran darah, denyut jantung, dan perubahan pada hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada saksi mata) dan
bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan dalam duktus arteriosus,
foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena umbilikalis yang langsung masuk
vena cava inferior). Bila ada yang menyaksikan denyut nadi tali pusat / detak jantung pada
bayi yang sudah terlahir lengkap, maka ini merupakan bukti suatu kelahiran hidup. Foramen
ovale tertutup bila telah terjadi pernafasan dan sirkulasi (satu hari sampai beberapa minggu).
Duktus arteriosus perlahan-lahan menjadi jaringan ikat (paling cepat dalam 24 jam). Duktus
venosus menutup dalam 2-3 hari sampai beberapa minggu.10

Gambar 2.4 Foramen ovale dan duktus arteriosus

10. Sheperd R. Simpsons Forensic Medicine. 12th ed. London:Arnold.2003.

5. Isi usus dan lambung


Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk akibat reflek
menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara dalam lambung dan usus
dapat terjadi akibat pernafasan wajar, pernafasan buatan atau tertelan. Keadaan-keadaan
tersebut tidak dapat dibedakan. Cara pemeriksaan yaitu esophagus diikat, dikeluarkan
18

bersama lambung yang diikat pada jejunum pada lekuk pertama, kemudian dimasukkan
kedalam air. Makin jauh udara usus masuk kedalam usus, makin kuat dugaan adanya
pernafasan 24-48 jam post mortem, mekonium sudah keluar semua seluruhnya dari usus
besar.10
6. Keadaan tali pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya denyut tali pusat
setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata. Kedua, pengeringan tali
pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu diputus (secara tajam atau tumpul).10
7. Keadaan kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan setelah bayi lahir,
sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut tidak lahir hidup
yaitu maserasi yang dapat terjadi bila bayi sudah mati didalam uterus beberapa hari (8-10
hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan yaitu pada maserasi tidak terbentuk
gas karena terjadi secara steril. Kematian pada bayi dapat terjadi waktu dilahirkan, sebelum
dilahirkan, atau setelah terpisah sama sekali dari ibu.10
Kematian pada bayi dapat terjadi saat bayi dilahirkan, sebelum dilahirkan, atau setelah
terpisah sama sekali dari si ibu. Bukti kematian dalam kandungan adalah:10

Antepartum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan.


Maserasi, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri :
Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau).
Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan.
Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak.
Tidak ada gas, baunya khas.
Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan.
9.

Knight, Bernard. Knights Forensic Pathology, 3rd dd. London:Arnold.2004.

VIABILITAS 8,9
Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup diluar kandungan ibunya atau
sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya. Viabilitas mempunyai beberapa syarat,
yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Umur 28 minggu dalam kandungan.


Panjang badan 35 cm.
Berat badan 2500 gram.
Tidak ada cacat bawaan yang berat.
Lingkaran fronto-oksipital 32 cm.

19

Selain itu juga dilihat adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bayi, seperti kelainan jantung (ASD, VSD), otak (anensefalus atau
mikrosefalus), dan aluran pencernaan (stenosis esophagus, gastroskizis).9
PENYEBAB KEMATIAN
Bila terbukti bayi lahir hidup (sudah bernafas), maka harus ditentukan penyebab
kematiannya. Bila terbukti bayi lahir mati (belum bernafas) maka ditentukan sebab lahir mati
atau sebab mati antenatal atau sebab mati janin (fetal death).8,9
Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
a. Kematian wajar
1. Kematian secara alami

Imaturitas
Terjadi jika bayi yang lahir belum cukup matang dan mampu hidup di luar
kandungan sehingga mati setelah beberapa saat sesudah lahir.
Penyakit kongenital
Seringkali terjadi jika ibu mengalami sakit ketika sedang mengandung seperti
sifilis, tifus, campak sehingga anak memiliki cacat bawaan yang menyebabkan
kelainan pada organ internal seperti paru-paru, jantung dan otak.

2. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara.

9.

1997: 256 69.


Knight, Bernard. Knights Forensic Pathology, 3rd dd. London:Arnold.2004

3. Malformasi
Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap seperti
anensefali. Jika kelainan tersebut fatal, maka bayi tidak akan bisa bertahan hidup.
4. Penyakit plasenta
Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding uterus akan
dapat menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui jika sang ibu
meninggal dan dilakukan pemeriksaan dalam.
5. Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau akibat
pembesaran kelenjar timus.
6. Eritroblastosis fetalis
20

Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung anak dengan
rhesus positif, sehingga darah ibu akan membentuk antibodi yang menyerang sel
darah merah anak dan menyebabkan lisisnya sel darah merah anak, sehingga
menyebabkan kematian anak baik sebelum maupun setelah kelahiran.8,9
b. Kematian akibat kecelakaan
1. Akibat persalinan yang lama
Ini dapat menyebabkan kematian pada bayi akibat ekstravasasi dari darah ke selaput
otak atau hingga mencapai jaringan otak akibat kompresi kepala dengan pelvis,
walaupun tanpa disertai dengan fraktur tulang kepala.
2. Jeratan tali pusat
Tali pusat seringkali melingkar di leher bayi selama proses kelahiran. Hal ini dapat
menyebabkan bayi menjadi tercekik dan mati karena sufokasi.
3. Trauma
Hantaman yang keras pada perut wanita hamil dengan menggunakan senjata tumpul,
terjatuhnya ibu dari ketinggian juga merupakan penyebab kematian bayi intrauterin.
Untuk kasus seperti ini harus diperiksa tanda-tanda trauma pada ibu.
4. Kematian dari ibu
Ketika ibu mati saat proses melahirkan ataupun sebelum melahirkan, maka anak tidak
akan bertahan lama di dalam kandungan sehingga harus dilahirkan sesegera mungkin.
Jika kematian disebabkan oleh penyakit kronis, seperti perdarahan kronis, maka kese
9.

Knight, Bernard. Knights Forensic Pathology, 3rd dd. London:Arnold.2004

mpatan untuk menyelamatkan nyawa anak sangatlah kecil. Sedangkan jika kematian
disebabkan karena kejadian akut seperti kecelakaan, dimana ibu sebelumnya sehat,
maka kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa bayi lebih besar.8,9
c. Kematian karena tindakan pembunuhan
1. Pembekapan (sufokasi)
Penekanan yang ringan pada mulut dan hidung bayi yang baru saja dilahirkan dengan
menggunakan bantal atau telapak tangan sebenarnya sudah cukup untuk
mematikannya tanpa meninggalkan jejas. Namun umunya si ibu menjadi panik pada
saat mendengar tangisan bayi sehingga ia cepat-cepat membekap hidung dan mulut
bayi.
21

Tindakan yang tergesa-gesa dengan tenaga yang berlebihan itu dapat meninggalkan
jejas pada muka bayi. Pada pembekapan dengan tangan dapat ditemukan luka-luka
memar dan lecet yang masing-masing disebabkan oleh tekanan bagian lunak ujung
jari dan oleh tekanan kuku. Pembekapan dengan menggunakan selimut atau bantal
mungkin tidak menimbulkan luka namun serabut-serabut benang atau kapuk dapat
tertinggal pada muka bayi.

Gambar 2.5 Korban pembekapan


8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

2. Penjeratan (strangulasi)
Penjeratan juga merupakan cara pembunuhan anak yang cukup sering ditemui. Sering
ditemukan tanda-tanda kekerasan yang sangat berlebihan dari yang dibutuhkan untuk
membuat bayi mati. Tanda-tanda bekas jeratan akan ditemukan di daerah leher
disertai dengan memar dan resapan darah. Kadang juga ditemukan penjeratan dengan
menggunakan tali pusat sehingga terlihat bahwa bayi mati secara alami.
3. Penenggelaman (drowning)
Ini dilakukan dengan membuang bayi ke dalam penampungan berisi air, sungai dan
bahkan toilet.
4. Pencekikan

22

Pada pemeriksaan mayat baru lahir, daerah leher dan tengkuk harus diperiksa dengan
teliti karena pencekikan merupakan cara yang sering dilakukan dalam pembunuhan
anak sendiri. Pada pencekikan dengan kedua tangan dan dari depan dapat ditemukan
luka-luka lecet di daerah tengkuk dan luka memar di daerah leher. Luka lecet bekas
tekanan kuku dapat berbentuk garis lengkung atau garis lurus. Untuk meredam
tangisan bayi, si ibu mungkin akan membekap mulut bayinya sehingga luka-luka
memar dan lecet dapat ditemukan disekitar mulut.

Gambar 4. Korban pencekikan manual (tampak bekas kuku pelaku pada leher korban)9

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

5. Kekerasan tumpul pada kepala


Jika ditemukan fraktur kranium, maka dapat diperkirakan bahwa terjadi kekerasan
terhadap bayi. Pada keadaan panik, ibu memukul kepala bayi hingga terjadi patah
tulang.
6. Kekerasan tajam
Kematian pada bayi baru lahir yang dilakukan dengan melukai bayi dengan senjata
tajam seperti gunting atau pisau dan menyebabkan luka yang fatal hingga menembus
organ dalam seperti hati, jantung dan otak.8,9
2.6.

CUKUP BULAN DALAM KANDUNGAN


23

Pengertian cukup bulan biasanya diasosiasikan dengan usia kehamilan aterm atau diatas 36
minggu. Anak tersebut cukup bulan jika:5,8

Berat badan lebih dari 2500 gram, panjang badan lebih dari 48 cm, lingkar kepala
lebih dari 34 cm, diameter puting susu 7 mm

Terdapat pusat penulangan episisis didistal femur dan proksimal tibia ( merah ukuran
5x5 mm). Cara pemeriksaannya dengan uji radiologik atau dengan memeriksa
langsung pada tulang tersebut. Bila pada proksimal tibia, maka kulit daerah lutut
diinsisi melintang , patella dilepaskan, dan ujung distal femur diiris melintang sejajar
tipis-tipis. Pusat penulangan tampak sebagai merah tua pada dasarnya putih ( rawan ).
Bedakan dengan warna merah yang ditemukan pada diafisa tulang. Pusat penulangan

epifisis ini juga sudah ditemukan disternum, kuboid, tibia dan lain-lain.
Lanugo tinggal sedikit, kuku-kuku sudah melewati ujung jari dan telah cukup kaku,
kemudian juga daun telinga tidak cukup kaku, daktilografi telah jelas, kedua testis
telah turun bila tidak ada kelainan atau labia mayor telah menutupi labia minor.

Disebut belum cukup bulan jika belum memenuhi ciri-ciri diatas. Bila belum cukup bulan,
selanjutnya ditentukan berapakah usia kehamilannya dengan menggunakan rumus Haase:5,8

8.

Usia kehamilan 1-5 bulan : panjang tubuh = bulan kuadrat cm


Usia kehamilan > 5 bulan : panjang tubuh = bulan x 5 cm

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

Bulan pada rumus ini = 4 minggu, dan usia kehamilan yang didapat harus ditulis dalam
satuan minggu. Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah
dikandung selama 37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran
bayi cukup bulan dapat dinilai dari:5,8
Ciri-ciri eksternal
-

Daun telinga
Pada bayi yang lahir cukup bulan, daun telinga menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada bagian

dorsokranialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula.


Susu

24

Pada bayi yang matur putting susu sudah berbatas tegas, areola menonjol diatas
-

permukaan kulit dan diameter tonjolan susu itu 7 milimeter atau lebih.
Kuku jari tangan
Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas dan
relatif keras sehingga terasa bila digarukkan pada telapak tangan pelaku autopsi. Kuku
jari kaki masih relatif pendek. Pada bayi yang prematur kuku jari tangan belum

melampaui ujung jari dan relatif lebih lunak sehingga ujungnya mudah dilipat.
Garis telapak kaki
Pada bayi yang matur terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan
hingga tumit. Yang dinilai adalah garis yang relatif lebar dan dalam. Dalam hal kulit

telapak kaki itu basah maka dapat juga tampak garis-garis yang halus dan superfisial.
Alat kelamin luar
Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna yakni pada dasar
skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Pada bayi perempuan yang

matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor.
Rambut kepala
Rambut kepala relatif kasar, masing-masing helai terpisah satu sama lain dan tampak
mengkilat. Batas rambut pada dahi jelas. Pada bayi yang prematur rambut kepala
halus seperti bulu wol atau kapas, masing-masing helai sulit dibedakan satu sama lain
dan batas rambut pada dahi tidak jelas.

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.
-

Skin opacity
Pada bayi matur, jaringan lemak bawah kulit cukup tebal sehingga pembuluh darah
yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samar-samar. Pada bayi

prematur pembuluh-pembuluh tersebut tampak jelas.


Processus xiphoideus
Pada bayi yang matur processus xiphoideus membengkok ke dorsal, sedangkan pada
yang prematur membengkok ke ventral atau satu bidang dengan korpus manubrium

sterni.
Alis mata
Pada bayi yang matur, alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah

terdapat, sedangkan pada yang prematur bagian itu belum terdapat.


Pusat penulangan
Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai arti yang
cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan menunjukkan pusat
penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Demikian juga pada cuboideum dan
cuneiform. Sedangkan, talus dan calcaneus pusat penulangan akan tampak pada umur
kehamilan 28 minggu.5,8
25

Penaksiran umur gestasi


-

Rumus De Haas
Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam
sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5 bulan terakhir, panjang

8.

badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5.


Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3
Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala)

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

Tabel 1. Umur bayi dan panjang badan.


Umur
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
5 bulan
6 bulan
7 bulan
8 bulan
9 bulan

Panjang badan (kepala-tumit)


1 x 1 = 1 (cm)
2 x 2 = 4 (cm)
3 x 3 = 9 (cm)
4 x 4 = 16 (cm)
5 x 5 = 25 (cm)
6 x 5 = 30 (cm)
7 x 5 = 35 (cm)
8 x 5 = 40 (cm)
9 x 5 = 45 (cm)

Perkiraan umur janin dapat pula dilakukan dengan melihat pusat penulangan (ossification
centers) sebagai berikut:
Pusat penulangan pada:
Klavikula
Tulang panjang (diafisis)
Iskium
Pubis
Kalkaneus
Manubrium sterni
Talus
Sternum bawah
Distal femur
Proksimal tibia
Kuboid

Umur (bulan)
1,5
2
3
4
5-6
6
Akhir 7
Akhir 8
Akhir 9/ setelah lahir
Akhir 9/ setelah lahir
Akhir 9/ setelah lahir
Bayi perempuan lebih
26

cepat

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

2.7.

PENENTUAN USIA JANIN DILUAR KANDUNGAN

Usia pasca lahir dapat ditentukan dari:5,8


a. Udara dalam saluran pencernaan : terdapat udara dilambung berarti baru saja lahir,
namun belum tentu lahir hidup atau lahir mati. Terdapat udara diduodenum berarti
lebih dari 2 jam. Terdapat udara diusus halus berarti 6-12 jam. Terdapat udara diusus
besar berarti 12-24 jam
b. Bila mekonium telah keluar seluruhnya berarti telah 24 jam atau lebih
c. Perubahan tali pusat. Bila kemerahan dipangkalnya berarti telah 36 jam. Bila kering
berarti 2-3 hari. Bila puput artinya telah 6-8 hari, atau kadang sampai 20 hari. Bila
sembuh berarti telah 15 hari. Bila arteri atau vena umbilikalis tertutup berarti 2 hari
d. Duktus arteriosus menutup berarti 3-4 minggu
e. Duktus venosus menutup berarti lebih dari 4 minggu
f. Sel darah merah berinti hilang berarti 24 jam (masih ada jika diambil disinusoid
hati).5
Penentuan umur bayi ekstra uterin didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi setelah
bayi dilahirkan, misalnya:5,8
a. Udara dalam saluran cerna. Bila hanya terdapat dalam lambung atau duodenum
berarti hidup berarti saat, dalam usus halus berarti telah hidup 1-2 jam, bila dalam
usus besar, telah hidup 5-6 jam dan bila telah terdapat dalam rectum berarti telah
hidup 12 jam.
b. Mekonium dalam kolon. Meconium akan keluar kira-kira dalam waktu 24 jam setelah
lahir.
c. Perubahan tali pusat setelah bayi keluar akan terjadi proses pengeringan tali pusat
baik di lahirkan hidup maupun mati. Pada tempat lekat akan terbentuk lingkaran
merah setelah bayi hidup kira-kira 36 jam. Kemudian tali pusat akan mnegering
menjadi seperti benang dalam waktu 6 hingga 8 hari dan akan terjadi peneymbuhan
luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi dalam waktu 15 hari. Pada pemeriksaan
mikroskopik daerah yang akan melepas akan tampak reaksi inflamasi yang mulai
timbul setelah 24 jam berupa sebukan sel-sel leukosit berisi banyak, kemudian akan
terlihat sel-sel limfosit dan jaringan granulasi.
27

8.

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara.
1997: 256 69.

d. Eritrosit berini akan hilang dalam 24 jam pertama setelah lahir, namun kadangkala
masih dapat ditemukan dalam sinusoid hati.
e. Ginjal. Pada hari ke 2-4 akan terdapat deposit asam urat yang berwarna jingga
berbentuk kipas (fan-shaped) lebih banyak dalam pyramid daripada medulla ginjal.
Hal ini akan menghilang setelah hari ke 4 saat metabolisme telah terjadi.
f. Perubahan sirkulasi darah. Setelah bayi lahir, akan terjadi obliterasi arteri dan vena
umbilikus dalam waktu 3-4 hari. Duktus venosus akan tertutup setlah 3-4 minggu dan
foramen ovale akan tertutup setelah 3 minggu-1 bulan tetapi kadang-kadang tidak
menutup walaupun sudah tidak berfungsi lagi. Duktus arteriousus akan tertutup
setelah 3 minggu-1 bulan.
2.8.

PEMERIKSAAN TERHADAP PELAKU INFANTISIDA


Pemeriksaan terhadap wanita yang disangka sebagai ibu dari bayi bersangkutan

bertujuan untuk menentukan apakah wanita tersebut baru melahirkan.Pada pemeriksaan juga
perlu dicatat keadaan jalan lahir untuk menjawab pertanyaan apakah mungkin wanita
tersebut mengalami partus presipitatus 5,8
Tanda telah melahirkan anak.
-

Robekan baru pada alat kelamin.


Osteum uteri dapat dilewati ujung jari
Keluar darah dari Rahim.
Ukuran Rahim; saat post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi tulang

kemaluan.
Payudara mengeluarkan air susu.
Hiperpigmentasi aerola mamae.
Striae gravidarum dari warna merah menjadi putih.5,8

Berapa lama telah melahirkan

8.

Ukuran Rahim kembali ke ukuran semula 2-3 minggu.


Getah nifas : 1-3 hari post patum berwarna merah, 4-9 hari post partum berwarna

putih, 10-14 hari post partum getah nifas habis.


Robekan alat kelamin sembuh dalam 8-10 hari.5,8

Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Penerbit Binarupa Aksara. 1997:
256 69.

Tanda-tanda partus presipitatus.


28

Robekan pada alat kelamin.


Inversion uteri yaitu bagian dalam Rahim menjadi keluar, lebih-lebih bila tali pusat

pendek.
Robekan tali pusat anak yang biasanya terdapat pada anak atau pada tempat lekat tali

pusat. Robekan ini harus tumpul, dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis.


Luka pada kepala bayi menyebabkan perdarahan dibawah kulit kepala, perdarahan
didalam tengkorak.5,8

Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta pada darah yang berasal dari rahim.
Upaya membuktikan seorang tersangka ibu sebagai ibu dari anak yang diperiksa adalah suatu
hal yang paling sukar. Beberapa cara yang paling sering digunakan yaitu:5,8
a. Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak.
Ibu diperiksa apakah memang baru melahirkan (tinggi uteri, striae gravidarum,
dinding perut kendor, payudara besar dan kencang, robekan perineum, lochia,
kolostrum). Sedangkan saat lahir si anak dilihat dari usia pasca lahir ditambah lama
kematian.
b. Memeriksa golongan darah ibu dan anak.
Hal ini juga sulit karena tidak adanya golongan darah ayah, akan tetapi sekarang
pemeriksaan golongan darah ini merupakan prosedur standard yang digunakan.
Eksklusi hanya dapat ditegakkan bila 2 faktor dominan terdapat bersama-sama pada
satu individu sedangkan individu lain tidak mempunyai sama sekali. Contohnya
adalah bila ibu golongan darah AB sedangkan anak O atau sebaliknya. Penggunaan
banyak jenis golongan darah akan lebih memungkinkan mencapai tujuan.5,8
Pemeriksaan DNA
Cara ini merupakan cara yang meskipun canggih namun harus diinterpretasikan
dengan hati-hati. Hanya separuh DNA inti sel anak yang berasal dari ibu, sedangkan yang
lainnya berasal dari ayah, sehingga apabila identitas ayah tak ditemukan makan interpretasi
hasil menjadi sangat sulit. Penggunaan DNA mitokondria yang memiliki cara yang persis
sama anatara ibu dan anak juga kurang memiliki kemampuan determinasi.5,8
5.

Budiyanto, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama, cetakan kedua. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
1. Pengertian infantisida
29

Infantisida merupakan pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri,
segera atau beberapa saat setelah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia
melahirkan bayi.
2. Landasan hukum infantisida
Dasar hukum yang menyangkut pembunuhan anak sendiri, yaitu:
- Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan pembunuhan anak;
-

yaitu : pasal 341, 342 dan 343.


Kinderdoodslag dilakukan tanpa rencana, sedangkan kindermoord dilakukan
dengan

rencana,

sehingga

hukuman

kindermoord

lebih

berat

dari

kinderdoodslag. Kesimpulannya, tindak pidana merampas nyawa bayi harus


memenuhi syarat sebagai berikut:

Pelaku harus ibu kandung


Korban harus bayi anak kandung sendiri
Pembunuhan harus dilakukan pada saat dilahirkan atau tidak lama

kemudian
Motif pembunuhan karena takut ketahuan telah melahirkan anak

3. Pemeriksaan kedokteran forensik infantisida (Bayi Post Mortem)


Pemeriksaan kedokteran forensik pada kasus pembunuhan anak atau yang diduga
kasus pembunuhan anak ditujukan untuk memperoleh kejelasan di dalam hal sebagai
berikut:

Bayi viabel atau tidak


Bayi lahir hidup atau mati
Sebab kematian bayi
Lama hidup diluar kandungan

4. Pemeriksaan terhadap pelaku (suspect)


- Mencocokan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak
a. Adanya bekas-bekas kehamilan
Striae gravidarum
Dinding perut kendor
Rahim dapat diraba diatas symphisis
Payudara besar dan kecil
b. Adanya bekas-bekas persalinan

Robekan perineum
Keluar cairan lochea

Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak


Memeriksa golongan darah ibu dan anak
30

Sidik jari DNA

DAFTAR PUSTAKA
1. Dimaio VJ, Dimaio D. Neonaticide, Infanticide, and Child Homicide. Forensic
Pathology: Second ed. London. CRC Press LLC. 2001;1:335-65.
2. Byard, Roger W. Sudden Death in Infancy Childhood and Adolosence. 2nd ed. UK.
Cambridge University Press; 2004:491-575.
3. Knight, Bernard; Saukko, Pekka. Knights Forensic Pathology. 3rd ed. UK: Hodder
Arnold. 2004
4. James, Jason Payne, et al. Simpsons Forensic Medicine. 13th ed. UK:Hodder Arnold.
2011
5. Budiyanto, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama, cetakan kedua. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997.
6. Pembunuhan anak sendiri. Dalam :Peranan Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum.
Edisi Pertama. Jakarta. 2008 ;161-170
31

7. Apuranto, H. dan Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga; 1997.
8. Idries A.M. Infanticide. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama.
Penerbit Binarupa Aksara. 1997: 256 69.
9. Knight, Bernard. Knights Forensic Pathology, 3rd dd. London:Arnold.2004.
10. Sheperd R. Simpsons Forensic Medicine. 12th ed. London:Arnold.2003.

32