Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

KARSINOMA PROSTAT
Geby Oktavia Sari L, -----, M. Asykar Palinrungi
Divisi Urologi, Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin, Makassar
ABSTRAK
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli buli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami
pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan
terhambatnya aliran urin keluar dari buli buli. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram.
Karsinoma prostat merupakan keganansan yang terbanyak diantara
keganasan sistem urogenitalia pria. Tumor ini menyerang pasien yang berusia di
atas 50 tahun, diantaranya 30% menyerang pria berusia 70-80 tahun dan 75%
pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini jarang menyerang pria berusia sebelum
usia 45 tahun.
Dilaporkan seorang laki-laki usia 72 tahun dengan sulit buang air kecil
yang Dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien kadang harus menunggu lama dan
mengejan saat ingin kencing. Saat buang air kecil, pancaran urin melemah dan
terputus putus serta menetes saat akhir kencing dan rasa tidak puas saat selesai
kencing. Pasien juga mengeluh sering kencing setiap dua sampai empat kali dalam
dua jam. Pasien kadang sulit menahan kencing, pasien juga mengaku sering
terbangun saat tengah malam hanya untuk buang air kecil sebanyak tiga kali.
Riwayat buang air kecil berpasir tidak ada. Riwayat buang air kecil bercampur
nanah tidak ada. Riwayat nyeri pinggang tidak ada. Riwayat mual dan muntah
tidak ada. Riwayat penurunan berat badan ada 5kg dalam dua bulan terakhir.
Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada. Riwayat keluarga menderita penyakit
yang sama tidak ada.

Kata Kunci: Kelenjar Prostat, Karsinoma Prostat, sulit buang air kecil.

BAB I
STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. Mide

RM

: 048947

Jenis Kelamin
Tanggal Lahir
Umur
Alamat
Pekerjaan
MRS
Perawatan
DPJP

: Laki-laki
: 01/07/1943
: 72 tahun
:
Jl.
: Swasta
:
12-12: Kamar 417
:
dr.M.

Samanre, Bone
2015
Asykar Palinrungi ,

Sp.U
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Sulit buang air kecil
C. Anamnesis terpimpin :
Dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien kadang harus menunggu lama dan
mengejan saat ingin kencing. Saat buang air kecil, pancaran urin
melemah dan terputus putus serta menetes saat akhir buang air kecil dan
rasa tidak puas saat selesai kencing. Pasien juga mengeluh sering kencing
setiap dua sampai empat kali dalam dua jam. Pasien kadang sulit
menahan kencing, pasien juga mengaku sering terbangun saat tengah
malam hanya untuk buang air kecil sebanyak tiga kali. Pasien merasa
terganggu untuk melakukan aktivitas sehari- hari karena keluhan sulit
buang air kecil ini. Skor IPSS pada pasien ini 30 (berat). Penurunan berat
badan ada 5kg dalam 2 bulan.
Riwayat buang air kecil berpasir tidak ada. Riwayat buang air kecil
bercampur darah tidak ada. Riwayat nyeri pinggang tidak ada. Riwayat
mual atau muntah tidak ada. Riwayat demam tidak ada.

Riwayat penyakit sebelumnya: riwayat penyakit gula disangkal,


riwayat penyakit tekanan darah tinggi tidak ada,riwayat penyakit asma
tidak ada. Riwayat penyakit usus turun dan / atau wasir tidak ada.

D. PEMERIKSAAN FISIS
1. Status generalisata: sakit sedang/gizi kurang/compos mentis
BB : 45kg
TB : 168 cm
IMT: 16,07 Kg/m2
2. Status vitalis:
BP : 120/80 mmHg

RR : 20x/menit

HR :78x/menit

T :36,6o C

3. Status Lokalis
o Kepala
Bentuk
: normosefal
Rambut
: hitam, lurus, sukar dicabut
o Mata
Konjungtiva : tidak tampak anemis
Sklera
: tidak tampak ikterus
Pupil
: isokor, 2,5/2,5mm, RC +/+
o Mulut
Bibir
: tidak tampak celah
Gusi
: tidak tampak celah
Palatum
: tidak tampak celah
o Leher
Pembesaran kelenjar tidak ada
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis.
Laring T1-T1 tidak hiperemis
o Thorax (Paru)
Inspeksi
: simetris kanan-kiri, tidak ada retraksi interkostal,
Palpasi
:nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba,
vocal fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi
: sonor kanan sama dengan kiri
Auskultasi
: bunyi pernafasan vesikular kanan dan kiri. Bunyi
tambahan: ronkhi -/-, wheezing -/-.
o Thorax (Jantung)
Inspeksi
: ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: ictus cordis teraba, , thrill tidak teraba
Perkusi
: batas jantung dalam batas normal
Auskultasi
: Bunyi jantung S1/S2 murni reguler, bising tidak ada.
o Abdomen
Inspeksi
: cekung, warna kulit sama dengan sekitar, ikut gerak nafas
Auskultasi
: peristaltik (+) kesan normal
Palpasi
: massa tumor tidak teraba, tidak ada nyeri tekan
hati dan limpa tidak teraba
Perkusi
o Ekstremitas

: timpani, nyeri ketok tidak ada


: akral hangat, CRT <2 detik, edema tidak ada

4. Status Urologi:
Regio Costovertebralis Dextra :
Inspeksi:

tampak alignment tulang vertebra baik, tidak

tampak massa tumor, tidak tampak gibbus.

Palpasi :

Nyeri tekan tidak ada, ballotement ginjal tidak

teraba, massa tumor tidak teraba.


Perkusi

: Nyeri ketok tidak ada

Regio Costovertebralis Sinistra :


Inspeksi:

tampak alignment tulang vertebra baik, tidak

tampak massa tumor, tidak tampak gibbus.


1 Palpasi :

Nyeri tekan tidak ada, ballotement ginjal tidak

teraba, massa tumor tidak teraba.


Perkusi

: Nyeri ketok tidak ada

Regio Suprapubik :
Inspeksi:

tampak datar, tidak bulging, warna kulit sama

dengan sekitar , hematom tidak ada, tidak tampak massa tumor.


Palpasi :

Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba

Regio Genitalia Externa :


Penis
Inspeksi:

tampak telah disirkumsisi, OUE berada di ujung

penis, hematom penis tidak ada,massa tumor tidak tampak.


Palpasi :

Nyeri tekan tidak ada, tidak teraba massa

Inspeksi:

Tampak

Scrotum
warna

kulit

lebih

gelap

dari

sekitarnya,tidak tampakhematom, tidak tampak massa tumor.


Palpasi :

Teraba 2 buah testis dengan ukuran kesan normal

dan konsistensi kenyal, nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak
teraba.
Perineum

Inspeksi:

warna kulit tampak lebih gelap dari sekitarnya,

tidak tampak massa tumor, dan hematom


Palpasi :

tidak teraba massa tumor, nyeri tekan tidak ada

o Colok dubur bimanual


Sfingter mencekik, mukosa licin, ampulla kosong, teraba pembesaran prostat
ukuran 3 cm kearah rektum dengan konsistensi padat keras, simetris kiri dan
kanan, permukaan berbenjol-benjol, pole atas dapat dicapai dengan bimanual

palpasi. Dengan bimanual palpasi tidak teraba massa maupun batu pada buli-buli.
Handschoen: lendir tidak ada, feses tidak ada, darah tidak ada.

E. DIAGNOSIS KERJA
HIPERTROPI PROSTAT GRADE III SUSPEK MALIGNANSI
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium (13 desember 2015)
PEMERIKSAAN
WBC
HGB
RBC
PLT
Ureum
Kreatinin
GDS

NILAI
7,82
11,1
3,20
460
34
1,0
133

NILAI NORMAL
4.00 - 10.0x10^3/ul
13.0 - 17.0 gr/dl
4.00 - 6.00 10^6/uL
150 - 400 x10^3/u
10-50 mg/dl
L(<1.3), P(<1.1) mg/dl
80.180/dl

Pemeriksaan Laboratorium (13 Desember 2015)

PEMERIKSAAN
ELEKTROLIT
Natrium
Kalium
Klorida
KIMIA DARAH
SGOT
SGPT
PSA

NILAI

NILAI NORMAL

141
4,1
106

136 145mmol/l
3.5 - 5.1 mmol/l
97 111 mmol/l

22
9
>100

< 35 U/L
< 45 U/L
0-4,00 ng/mL

Pemeriksaan Foto Thorax ( 4 November 2015)

Kesan: -

Pulmo normal

Dilatatio et atherosclerosis aortae

Pemeriksaan ini dilakukan bertujuan untuk mencari apakah ada metastasis ke paru. Pada
pasien ini tidak ditemukan tanda-tanda metastasis.

Pemeriksaan USG Abdomen (3 November 2015)

Telah dilakukan pemeriksaan USG Abdomen dengan hasil sebagai berikut:

Hepar : ukuran dan echo parenkim dalam batas normal, permukaan regular, tepi tajam. Tidak

tampak dilatasi vaskular dan bile duct ekstra/intrahepatic. Tidak tampak SOL.
GB : dinding tidak menebal, mukosa regular. Tidak tampak echo batu / massa.
Pankreas : ukuran dan echo parenkim dalam batas normal. Tidak tampak dilatasi duktus

pankreatikus. Tidak tampak SOL.


Lien : ukuran dan echo parenkim dalam batas normal. Tidak tampak echo mass.
Ginjal kanan : ukuran dan medulla dalam batas normal. Tidak tampak dilatasi PCS. Tidak

tampak echo batu/mass.


Ginjal kiri : bentuk, ukuran, dan echo corticomedullar dalam batas normal. Tidak tampak

dilatasi PCS. Tidak tampak echo batu/mass/cyst.


VU : dinding tidak menebal. Tidak tampak echo batu/mass di dalamnya.
Prostat membesar dengan volume 72 ml. Tampak kalsifikasi di dalamnya.
Kesan :
-

Hypertrophy prostat

G. RESUME
Seorang laki-laki usia 72 tahun dengan sulit buang air kecil yang dialami sejak 1
bulan yang lalu, pasien mengalami hesitancy dan straining saat ingin berkemih. Saat
berkemih, pasien juga merasa adanya weak stream, intermittency, feeling of incomplete
emptying. Pasien juga mengeluh adanya polikisuria setiap dua sampai empat kali dalam
dua jam. Pasien kadang merasakan urgency, pasien juga mengaku mengalami nocturia
sebanyak tiga kali. Pasien merasa terganggu untuk melakukan aktivitas sehari- hari
karena keluhan sulit buang air kecil ini. Skor IPSS pasien adalah 30 (berat). Penurunan
berat badan ada 5kg dalam 2 bulan. Riwayat buang air kecil berpasir tidak ada. Riwayat
piuria tidak ada.Riwayat hematuria tidak ada.

Riwayat nyeri pinggang tidak ada.

Riwayat mual dan muntah tidak ada. Riwayat nyeri kepala tidak ada. Riwayat demam
tidak ada. Riwayat penyakit sebelumnya: riwayat diabetes disangkal, riwayat hipertensi
disangkal, riwayat penyakit asma tidak ada. Riwayat hernia disangkal dan / atau wasir
tidak ada. Riwayat keluarga menderita hal yang sama tidak ada.Dari hasil pemeriksaan

fisik, colok dubur bimanual didapatkan Sfingter mencekik, mukosa licin, ampulla
kosong, teraba pembesaran prostat ukuran 3 cm kearah rektum dengan konsistensi
padat keras, permukaan berbenjol-benjol,simetris kiri dan kanan, pole atas dapat dicapai
dengan bimanual palpasi. Dengan bimanual palpasi tidak teraba massa maupun batu pada
buli-buli. Tidak ada darah, tidak ada lendir, tidak ada feses.
H. DIAGNOSIS
HIPERTROPI PROSTAT GRADE III SUSPEK MALIGNANCY
I. PENATALAKSANAAN
BIOPSI
TUR- P
HASIL BIOPSI (18-12-2015)
-ADENOCARCINOMA PROSTATE, POORLY DIFFERENTIATED
(GLEASON SCORE 5+4=9)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

PENDAHULUAN
Seorang urologis pada umumnya menghabiskan sekitar 30% waktunya untuk berurusan
dengan masalah yang berkaitan dengan prostat.Herannya, untuk sebuah struktur yang sangat
menarik perhatian itu, kita hanya sedikit tahu mengenai prostat.Prostat adalah salah satu dari
kelenjar alat kelamin tambahan; yang lainnya adalah vesikula seminalis, kelenjar Cowper dan
kelenjar Littre.Jika kita hanya sedikit mengetahui tentang prostat, terlebih lagi mengenai
kelenjar lainnya. Vesikula seminalis yang mana merupakan kelenjar sekretorius dan bukan
tempat penyimpanan semen, berkontribusi banyak terhadap cairan semen dan menghasilkan
beberapa substansi yang kita kenal, yaitu fruktosa dan gliseril fosfocholine. Namun, kedua
kelenjar lainnya masih merupakan misteri. Perkembangan embrional dari organ ini
mencerminkan perbedaan jenis kelamin pada struktur dan fungsional traktus genitalia
mamalia jantan.(1,2,3,7)
Kita tahu bahwa prostat berhubungan erat secara anatomi dengan leher kandung kemih
dan mempunyai peran penting untuk memastikan ejakulasi antegrade. Kita mengetahui

prostat memiliki otot polos beguitu juga dengan jaringan glandural dan bahwa otot polos
tersebut dipengaruhi oleh -adrenergic dan telah diketahui terlibat dalam proses pengeluaran
cairan semen saat ejakulasi. Kita tahu bahwa prostat menghasilkan berbagai substansi pada
cairan ejakulat, beberapa pada konsentrasi tinggi seperti zink, sitrat dan poliamin.Prostatic
spesific antigen merupakan enzim yang terlibat untuk mencairkan cairan semen dan juga
merupakan penanda penting untuk mendiagnosis kanker prostat begitu juga sebagai indikator
progosis pada benign prostatic hyperplasia (BPH). Kita juga tahu bahwa perkembangan dan
fungsional prostat dipengaruhi oleh hormon; dengan kata lain merupakan organ kelamin
sekunder.(2,3)
Namun, kita tidak mengetahui bagian mana dari prostat yang bekerja pada individu.
Mekanisme emisi dan ejakulasi belum jelas dan kita masih belum mengetahui mengapa
sekresi prostat mengandung banyak zink, sitrat, dan poliamin atau apapun peran dan berbagai
substansi lain yang disekresikan oleh prostat. Kita juga belum mengerti mengapa penyakit
pada prostat seperti benign hyperplasia dan kanker terjadi hanya pada manusia dan anjing
dan mengapa kelainan ini tidak terjadi pada organ seksual sekunder lainnya.(1)
II.

EPIDEMIOLOGI
Tumor ini menyerang pasien yang berumur di atas 50 tahun, diantaranya 30%

menyerang pria berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini jarang
menyerang pria berusia di bawah 45 tahun.Kanker prostat merupakan tumor yang paling sering
terjadi pada pria di Amerika Serikat. Sekitar 200.000 kasus baru didiagnosis setiap tahunnya.
Kanker prostat menunjukkan morbiditas dan mortalitas yang sangat tinggi pada populasi pria di
Amerika. Secara khusus kanker prostat ternyata lebih banyak diderita oleh bangsa Afro-Amerika
yang berkulit hitam daripada bangsa kulit putih. Hal tersebut ditunjukkan dengan perbandingan
bahwa 1 dari 9 pada kulit hitam di Amerika Utara akan menderita kanker prostate, sedangkan
pada kulit putih di Amerika Utara hanya 1 dari 11 orang akan mengidap kanker prostate.
Sedangkan di Asia sendiri masih terhitung rendah. (1,2,3)
Kenaikan insidens kanker prostat dapat dihubungkan dengan peningkatan usia harapan
hidup, perubahan pola makan khususnya kombinasi lemak dan modalitas diagnostik yang lebih
baik. Sejak diperkenalkan pada akhir tahun 80-an, prostate spesifik antigen (PSA) merupakan
salah satu alat bantu untuk diagnosis kanker prostat, dikombinasikan dengan pemeriksaan colok

dubur dan biopsi prostat dengan bimbingan Transrectal Ultrasonography (TRUS). Biopsi prostat
dilakukan apabila ditemukan kecurigaan kanker prostat pada pemeriksaan colok dubur yaitu
adanya konsistensi prostat yang keras, adanya nodul, atau pembesaran prostat yang tidak
simetris. Biopsi juga akan dikerjakan bila ditemukan lesi hypoechoic atau hiperechoic pada
pemeriksaan TRUS. Selain itu juga dikerjakan bila nilai PSA >10 ng/ml atau PSA density
(PSAD) >0,15 pada penderita dengan nilai PSA antara 4 10 ng/ml walaupun tidak ada
kecurigaan pada pemeriksaan colok dubur maupun pemeriksaan TRUS.(1,4,7,8)

III.

ANATOMI,HISTOLOGI DAN FISIOLOGI KELENJAR PROSTAT


Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di
sebelah inferior buli-buli, di depan rektum dan
membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah
kemiri dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya
kurang lebih 20 gram. Kelenjar ini terdiri atas jaringan
stroma fibromuskular dan glandular epithelial. Prostat
ditopang oleh ligament puboprostatic dari depan dan
oleh diafragma urogenital dari bawah.Dari belakang,
prostat ditembus oleh duktus ejakulatorius yang menuju
verumontanum di prostatic urethra yang terletak
proximal dari sfinkter eksterna. Segmen uretra yang
melintasi prostat adalah uretra pars prostatika. Urethra
ini dilapisi oleh dinding otot longitudinal yang sama
dengan dinding vesika. Di dalam kelenjar prostat
banyak terdapat otot polos yang berasal dari otot longitudinal eksterna vesika. Otot ini sama
dengan otot polos pada sfinkter interna pada urethra posterior.(1,2,3,5,8)

Prostat mendapat suplai darah yang berasal dari arteri vesika inferior.Mendekati kelenjar
prostat, arteri terbagi menjadi 2 cabang.Arteri urethra menembus junction prostatovesikal
secara posterolateral dan masuk tegak lurus dengan urethra. Arteri ini menuju ke leher
kandung kemih pada arah jam 1 sampai 5 dan arah jam 7 sampai 11, dengan cabang terbesar
berada di posterior. Arteri ini kemudian mengarah ke kaudal, paralel dengan urethra untuk
mensuplai glandular periurethral, dan zona transisi.Oleh karena itu, pada BPH, arteri ini
merupakan penyuplai utama untuk adenoma.Ketika glandula ini direseksi, perdarahan dapat
dijumpai pada leher kandung kemih, khususnya pada arah jam 4 sampai 8.Arteri kapsular
merupakan cabang utama kedua dari arteri prostatika.Pembuluh darah balik dari prostat
masuk ke plexus periprostatic yang mana terhubung dengan vena dorsalis penis dan vena
hipogastrikus (vena iliaka interna) (2,6)
Drainase limfatikus utamanya terdapat pada nodus obturator dan iliaka interna.Sebagian
kecil dari drainase dapat melewati nodus iliaka eksterna.Prostat mendapatkan inervasi
otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus.Pleksus prostatikus (pleksus
pelvikus) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari
nervus hipogastrikus (T10-L2).Stimulasi parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada
epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke
dalam uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi.Sistem simpatik memberikan inervasi pada
otot polos prostat, kapsula prostat, dan leher bulibuli.Di tempat-tempat itu banyak terdapat
reseptor adrenergik-. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot polos
tersebut.(2,4)
Prostat merupakan suatu kumpulan kelanjar yang terdiri dari 30 - 50 kelenjar
tubuloalveolar, dibentuk dari epitel bertingkat silindris atau kuboid yang bercabang.
Duktusnya bermuara ke dalam uretra pars prostatika, menembus prostat. Secara histologi,
prostat memiliki 3 zona yang berbeda yaitu : 1. Zona sentral 2. Zona perifer 3. Zona
transisional.(3,7,8)

Gambar 2.zona pada prostat

Secara histopatologik, kelenjar prostat terdiri atas kapsula fibrosa tipis yang mengandung
serat otot polos dan jaringan kolagen yang mengelilingi urethra (sfinkter interna). Jika dilihat
lebih dalam, akan tampak stroma yang terdiri dari jaringan ikat dan serat otot polot yang
melekat pada kelenjar epithelial. Kelenjar ini bermuara ke duktus ekskresitorius, yang
berhubungan dengan urethra diantara verumontanum dan leher kandung kemih. Terletak
dibawah epithelium transisional dari uretra pars prostatica, terdapat kelenjar periurethral.(2,3,8)

Gambar 3.histologi prostat. Kelenjar epitelia melekat pada jaringan ikat dan elastis serta otot poloS

Pada saat ejakulasi, 2 mL merupakan hasil sekresi dari vesikula seminalis, 0,5 mL berasal
dari prostat, dan kelenjar Cowper dan kelenjar Littre menghasilkan sekitar 0,1 mL. meskipun
manfaat dari berbagai sekresi ini masih belum jelas. Sperma epididimis tetap dapat
membuahi sel telur tapi tidak sebaik sperma ejakulat.Jadi dapat dikatakan bahwa fungsi dari
sekresi ini membantu mengoptimalkan terjadinya pembuahan.Hal ini diakibatkan karena
adanya efek proteksi selama perjalanan sperma hingga sampai ke sel telur, atau perannya
untuk meningkatkn motilitas dan kemampuan sperma untuk bertahan hidup, atau bahkan
peran untuk meningkatkan efek pembuahan oleh sperma. Telah banyak beberapa bukti yang
mendukung peran sperma dalam hal tersebut, walaupun masih memerlukan penelitian lebih
jauh.(2,3,4)
Macam-macam sekresi tersebut juga memiliki peran dalam perlindungan

terhadap

traktus urinarius bawah itu sendiri. Adanya cairan bening ini berfungsi sebagai lubrikan baik
pada urethra dan melalui cairan preejakulat, pada saat melalukan hubungan seksual.Hal ini
merupakan peran dari kelenjar Littre.Efek pelindung terhadap traktus urinarius bawah oleh
komponen cairan semen ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pembersihan uretra secara
mekanis. Saat ini, masih diperdebatkan fungsi prostat dan organ kelamin sekunder lainnya
untuk meningkatan kerja spermatozoa. Zink merupakan antimikroba kuat.
Substansi yang telah dikenal untuk meningkatkan kerja sel sperma dalam pembuahan
adalah fertilization-promoting peptide, yang secara struktur mirip dengan thyrotrophin
releasing hormone.EGF juga banyak terdapat pada cairan semen, hanya kalah dibanding
kolostrum, hal ini bisa jadi mendukung peran dalam pembuahan.(2,3)
Beberapa senyawa dihasilkan oleh prostat, walaupun masih belum diketahui
fungsinya.Acid phostpatase memecah glycerylphosphocholine yang dihasilkan vesikula
seminalis untuk menghasilkan glycerylphospate yang berperan dalam proteksi sperma.
Polyamines merupakan senyawa kation terkuat dan berperan penting dalam proses transkripsi
dan translasi. Prostate specific antigen merupakan protease yang berperan sebagai lubrikan.
Yang lebih menarik, karena tingginya konsentrasi yang terkandung dalam prostat yaitu
zink, sitrat dan polyamines.Terdapat hubungan erat diantara ketiga senyawa ini dan telah
lama diduga bahwa sitrat berfungsi sebagai ligand dari zink dimana zink sendiri berfungsi
untuk

mempertahankan

struktur

kromatin

sperma

yang

meningkatkan

proteksi

sperma.Dilihat bahwa pH optimum untuk acid phospatase jauh lebih rendah daripada pH

cairan semen, dan jika acid phospatase memang memiliki peran penting, hal ini didukung
dengan banyaknya sitrat yang terkandung. Walaupun hal ini masih merupakan spekulasi.
Masalahnya, senyawa-senyawa ini hanya diteliti sebagai perannya sebagai penanda
penyakit dibandingkan dengan peran fisiologisnya. Hingga penemuan dilakukan, fungsi dari
berbagai senyawa yang disekresikan prostat dan vesikula seminalis masih tetap samar.(4,5)
Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat
membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.(3)
IV.

ETIOLOGI
Dari berbagai penelitian dan survei, disimpulkan bahwa etiologi dan faktor resiko
kanker prostat adalah sebagai berikut.(1,2,3,5,7)
1. Usia
Resiko menderita kanker prostat dimulai saat usia 50 tahun pada pria kulit putih,
dengan tidak ada riwayat keluarga menderita kanker prostat. Sedangkan pada pria
kulit hitam pada usia 40 tahun dengan riwayat keluarga satu generasi sebelumnya
menderita kanker prostat. Data yang diperoleh Universitas Sumatera Utara melaui
autopsi di berbagai negara menunjukkan sekitar 15 30% pria berusia 50 tahun
menderita kanker prostat secara samar. Pada usia 80 tahun sebanyak 60 70% pria
memiliki gambaran histology kanker prostat.
2. Ras dan tempat tinggal
Penderita prostat tertinggi ditemukan pada pria dengan ras Afrika Amerika.Pria
kulit hitam memiliki resiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita kanker prostat
dibandingkan dengan pria kulit putih.
3. Riwayat keluarga
Carter dkk menunjukkan bahwa kanker prostat didiagnosa pada 15% pria yang
memiliki ayah atau saudara lelaki yang menderita kanker prostat, bila dibandingkan
dengan 8% populasi kontrol yang tidak memiliki kerabat yang terkena kanker prostat.
Pria yang satu generasi sebelumnya menderita kanker prostat memiliki resiko 2 - 3
kali lipat lebih besar menderita kanker prostat dibandingkan dengan populasi umum.
Sedangkan untuk pria yang 2 generasi sebelumnya menderita kanker prostat memiliki
resiko 9 - 10 kali lipat lebih besar menderita kanker prostat.
4. Faktor hormonal

Testosteron adalah hormon pada pria yang dihasilkan oleh sel Leydig pada testis
yang akan ditukar menjadi bentuk metabolit, berupa dihidrotestosteron (DHT) di
organ prostat oleh enzim 5 - reduktase. Beberapa teori menyimpulkan bahwa
kanker prostat terjadi karena adanya peningkatan kadar testosteron pada pria, tetapi
hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Beberapa penelitian menemukan
terjadinya penurunan kadar testosteron pada penderita kanker prostat. Selain itu, juga
ditemukan peningkatan kadar DHT pada penderita prostat, tanpa diikuti dengan
meningkatnya kadar testosteron.
5. Pola makan
Pola makan diduga memiliki pengaruh dalam perkembangan berbagai jenis kanker
atau keganasan. Pengaruh makanan dalam terjadinya kanker prostat belum dapat
dijelaskan secara rinci karena adanya perbedaan konsumsi makanan pada rasa atau
suku yang berbeda, bangsa, tempat tinggal, status ekonomi dan lain sebagainya.
V.

PATOLOGI
Jenis histopatologis karsinoma prostat sebagian besar adalah adenokarsinoma.
Kurang lebih 75% terdapat pada zona sentral dan zona transisional. Biasanya karsinoma
prostat berupa lesi multisentrik. Derajat keganasan didasarkan pada diferensiasi kelenjar,
atipi sel, dan kelainan inti sel. Derajat Gleason 1, yaitu berdiferensiasi baik, derajat Gleason
2 yang berdiferensiasi sedang, dan derajat Gleason 3 yang berdiferensiasi buruk.
Pembagian derajat keganasan ini merupakan indikator pertumbuhan dan progresifitas
tumor.(1,3)
Tumor yang berada pada kelenjar prostat tumbuh menembus kapsul prostat dan
mengadakan infiltrasi ke organ sekitarnya. Penyebaran secara limfogen melalui kelenjar
limfe retroperitoneal dan penyebaran secara hematogen melalui vena vertebralis menuju
tulang-tulang pelvis, femur sebelah proksimal, vertebra lumbalis, costae, paru, hepar, dan
otak.(1,3)
IV. GAMBARAN KLINIS
Pada kanker prostat stadium dini, sering kali tidak menunjukkan gejala atau tandatanda klinis. Tanda-tanda itu biasanya muncul setelah kanker berada pada stadium yang
lebih lanjut. Kanker prostat stadium dini biasanya diketemukan pada saat pemeriksaan
colok dubur berupa nodul keras pada prostat atau secara kebetulan diketemukan adanya

peningkatan kadar penanda tumor PSA (prostate specific antigens) pada saat pemeriksaan
laboratorium. Secara medik, kanker prostat umumnya tidak menunjukkan gejala khas.
Karena itu, sering terjadi keterlambatan diagnosa. Gejala yang ada umumnya sama dengan
gejala pembesaran prostat jinak, (LUTS) terdiri atas gejala obstruksi dan gejalairitatif. (3),(4),
(9)(10),(11),12)

Tabel 1. gejala obstruksi dan iritasi

o
o
o
o
o

Obstruksi
Hesitansi
Pancaran miksi lemah
Intermitensi
Miksi tidak puas
Menetes setelah miksi

o
o
o
o

Iritasi
Frekuensi
Nokturi
Urgensi
Disuria

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah,
beberapaahli/organisasi urologi membuat sistem skoring yang secara subyektif dapat
diisi dan dihitungsendiri oleh pasien. Sistem skoring yang dianjurkan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO)adalah Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS
(International Prostatic Symptom Score).(9)(10)(11)(12)
Sistem skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan
keluhan miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup
pasien. Setiappertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai dari 0
sampai dengan 5,sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai
dari 1 hingga 7.(9)(10)
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu (1)
ringan:skor 0 7, (2) sedang: skor 8 19, dan (3) berat: skor 20 35.(9)10)(11)(12)
Gambar 5. skor internasional gejala prostat(9)

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli


untukmengeluarkan urine.Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan
Tahap awal (early stage) yang mengalami kanker prostat umumnya tidak
menunjukkan gejala klinis atau asimptomatik. Pada tahap berikutnya (locally advanced)
didapati obstruksi sebagai gejala yang paling sering ditemukan. Biasanya ditemukan juga
hematuria yakni urin yang mengandung darah, infeksi saluran kemih, serta rasa nyeri saat
berkemih. Pada tahap lanjut (advanced) penderita yang telah mengalami metastase di
tulang sering mengeluh sakit tulang dan sangat jarang menhgalami kelemahan tungkai
maupun kelumpuhan tungkai karena kompresi korda spinalis.(1,4,5)
VI.

DIAGNOSIS
Diagnosis kanker prostate ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisis dan
laboratorium. Sebelum melakukan pemeriksaan sebaiknya ditanyakan mengenai riwayat
penyakit, riwayat penyakit kanker dalam keluarga dan gejala-gejala yang dialami,
khususnya yang berhubungan dengan berkemih. Berdasarkan anamnesis tersebut barulah
dianjurkan pemeriksaan yang akan dilakukan sebagaimana yang akan dijelaskan dibawah
ini. Berdasarkan dari ketentuan dari perhimpunan ahli kanker amerika, dua dari
pemeriksaan tersebut, yaitu digital rectal examination (DRE) dan pemeriksaan prostateantigen spesifik (PSA), dianjurkan untuk pasien lebih dari 45 tahun dan memiliki perkiraan
masa hidup kurang dari 10 tahun, serta usia lebih dari 45 tahun yang termasuk dalam resiko
tinggi.
A. Digital Rectal Examination (DRE)
Karena bentuk prostate berada didepan rectum, maka memudahkan kita untuk
menyentuh prostate dengan memasukkan jari lewat rectum. Palpasi prostate merupakan
pemeriksaan yang mudah , murah tapi terbaik untuk mendeteksi semua stadium penyakit
selain stadium A. Adapun yang dapat dinilai dalam melakukan pemeriksaan ini tonus

sfingther ani dan refleks BCR, menilai apakah ada massa dalam lumen rectum serta
menilai keadaan prostate. DRE pada penderita kanker prostate akan menunjukkan adanya
pembesaran prostate dengan konsistensi keras, padat, noduler, irregular, permukaan yang
tidak rata, atau asimetris.(1,2,3,4)
B. Prostat Spesifik Antigen (PSA) test
Peningkatan insidens kanker prostat yang pesat dalam dekade terakhir tidak lepas
dari digunakannya PSA sebagai modalitas diagnostik. Walaupun tidak merupakan
petanda tumor spesifik untuk keganasan prostat, bila nilai PSA >4 ng/ml, yaitu nilai yang
dipakai sebagai batas normal, umumnya akan dilakukan biopsi prostat sekalipun tidak
ditemukan kelainan pada colok dubur. Untuk keganasan prostate dikenal petanda tumor
yaitu fosfatase asam prostate (prostate acid phosphatase = PAP) dan antigen khas prostate
(prostate specific antigen = PSA) yang sensivitasnya tinggi dan spesifisitasnya tidak
terlalu tinggi, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan PAP.8,12 Peningkatan kadar
antigen spesifik prostate (PSA) dalam serum adalah pemeriksaan paling peka untuk
mendeteksi kanker prostate secara dini. Kadar PSA mungkin meningkat pada penyakit
local, sedangkan peningkatan kadar fosfatase asam biasanya mengisyaratkan kelainan
ekstraprostate. Setelah diagnosis dan pengobatan, penilaian respon paling baik dilakukan
dengan melakukan pemeriksaan berkala PSA maupun fosfatase asam.(1,3,6,7)
C. Transrectal Ultrasound (TRUS)
Transrectal ultrasound digunakan untuk mengetahui pertumbuhan prostate yang
tidak normal dan membantu dalam melakukan biopsy pada daerah prostate yang
abnormal. Tindakan ini menggunakan gelombang suara untuk membentuk pencitraan dari
prostate.TRUS selain dapat mengukur volume prostate, dapat juga mendeteksi
kemungkinan adanya keganasan dengan memperlihatkan daerah hypoechoic, dan dapat
pula melihat adanya bendungan vesika seminalis yang tampak merupakan gambaran kista
disebelah bawah dari prostate.(1,3,6,7)
D. Transabdominal Ultrasound (TAUS)
Prostate dapat pula diperiksa dengan USG transabdominal (TAUS), biasanya
dilakukan dalam keadaan vesika urinaria penuh. TAUS dapat mendeteksi bagian prostate
yang menonjol ke buli-buli yang dapat dipakai untuk meramalkan derajat besar obstruksi,
selain tentu saja dapat mendeteksi apabila ada batu didalam vesika.(1,3,6,7)

E. Biopsy
Pada biopsy jaringan sample diambil dan diperiksa dengan bantuan mikroskop untuk
mengetahui ada tidaknya perubahan dari kanker. Hanya biopsy yang dapat menentukan kanker
prostate dengan pasti. Sejumlah dokter biasanya mengambil sejumlah jaringan sample untuk
dibiopsi. Namun perlu diketahui meskipun hasil biopsy negative namun kanker kemungkinan
tetap ada. Hal ini mungkin dikarenakan pada saat biopsy sample yang diambil bukanlah
jaringan yang mengalami kanker. Pada kanker prostate yang mempunyai pembungkus
tumornya memiliki grade dan stage tersendiri. Grade dan stage tersebut membantu dalam
menentukan jenis terapi yang akan dilakukan.(1,3,6,7)
Score

gleason

diperuntukkan

untuk

kanker

prostat

berdasarkan

gambaran

mikroskopiknya. Score gleason sangat penting karena score gleason yang tinggi berhubungan
dengan prognosis yang buruk. Hal ini disebabkan score gleason yang tinggi memberikan
gambaran kanker yang pertumbuhannya cepat. Untuk menerapkan score gleason perlu
dilakukan biopsy. Biopsi dilakukan dengan cara prostatectomy atau dengan cara memasukkan
dengan needle kedalam kelenjar prostat melalui rectum.
Score gleason berkisar antara 2 sampai 10. score gleason dengan nilai 2 menandakan
prognosis yang baik sedangkan nilai 10 menandakan prognosis buruk. Score akhir merupakan
kombinasi dari 2 penilaian yang berbeda dengan range 1 sampai 5. Score gleason berhubungan
dengan beberapa gambaran berikut ini(3,6,7) :
Grade 1. kanker prostat yang menyerupai jaringan prostat normal. Kelenjarnya kecil,
bentuknya baik dan terbungkus rapat.
Grade 2. jaringan masih mempunyai kelenjar0kelenjar yang bentuknya baik, tapi lebih besar
dan memiliki lebih banyak jaringan diantaranya.
Grade 3. jaringan masih memiliki kelenjar yang masih dapat dikenali, tapi selnya lebih
gelap. pada pembesaran yang lebih tinggi, beberapa dari sel-sel ini meninggalkan
kelenjar dan mulai menginvasi jaringan sekitarnya.
Grade 4. jaringan hanya menyisakan sedikit kelenjar yang masih dapat dikenali. Sel sudah
lebih banyak menginvasi jaringan disekitarnya.
Grade 5. jaringan sudah tidak memiliki kelenjar yang dapat dikenali. Hanya terdapat
lembaran-lembaran sel disepanjang jaringan yang berada disekelilingnya.

Dilakukan pemeriksaan patologi terhadap spesimen biopsi dan berusaha memberikan


penilaian terhadap dua bentuk yang paling berbeda. Hasil scoring tersebut dijumlahkan untuk
mendapatkan nilai akhir untuk score gleason. Contoh ; spesimen prostat yang dibiopsi
memperlihatkan dua bentuk yang berbeda salah satunya diberi angka 2 dan yang lainnya diberi
angka 3. maka hasil akhir dari score gelason adalah 5.
Score gleason berguna dalam menegakkan prognosis dari kanker prostat. Bila
digunakan dengan parameter lain, score gleason membantu dalam menentukan staging kanker
prostat yang mana secara tidak langsung akan memberikan gambaran prognosis dari kanker
prostat itu sendiri dan bermamfaat dalam penentuan terapi yang akan dilakukan.

Tingkat infiltrasi dan penyebaran tumor berdasarkan system TNM adalah sebagai
berikut (1,2,3,6,7):
T Tumor Primer
Tx - Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 - Tidak dijumpai tumor primer
Tis Karsinoma in situ ( PIN )
- T1a 5 % jaringan yang direseksi mengandung sel-sel kanker, colok dubur normal
- *T1b - > 5 % jaringan yang direseksi mengandung sel-sel kanker, colok dubur normal.
- *T1c - Peningkatan kadar PSA, colok dubur dan TRUS normal
- *T2a - Teraba tumor pada colok dubur atau terlihat pada TRUS hanya pada satu sisi,
-

terbatas pada prostat


*T3a - Ekstensi ekstrakapsuler pada satu atau dua sisi
*T3b - Melibatkan vesikula seminalis
*T4 - Tumor secara langsung meluas ke baldder neck, sfingter, rectum, muskulus
levator atau dinding pelvik

N Kelenjar limfe regional ( obturator, iliaka interna, iliaka externa, limfonodus presakral )

Nx - Tidak dapat dinilai


N0 - Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional
N1 - Metastasis ke kelenjar limfe regional
M Metastasis jauh

VII.

Mx - Tidak dapat dinilai


M0 - Tidak ada metastasis
M1a - Metastasis jauh kelenjar limfe nonregional
M1b - Metastasis jauh ke tulang
M1c - Metastasis jauh ke tempat lain
PENATALAKSANAAN
Tindakan yang dilakukan terhadap pasien kanker prostat tergantung pada stadium,
umur harapan hidup, dan derajat diferen-siasinya.(1,5,6,7)
Terapi Pilihan Karsinoma Prostat
Stadium
Alternatif Terapi
T1 - T2 (A-B) Radikal prostatektomi
Observasi ( pasien tua)
T3 - T4 (C)
Radiasi
Prostatektomi
N atau M (D) Radiasi
Hormonal

1. Observasi
Ditujukan untuk pasien dalam stadium T1 dengan umur harapan hidup kurang dari 10
tahun.
2. Operatif
- Prostatektomi radikal
Pasien yang berada dalam stadium T1-2 N0 M0 adalah cocok untuk dilakukan
prostatektomi radikal yaitu berupa pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan
vesikula seminalis. Hanya saja operasi ini dapat menimbulkan penyulit antara lain
perdarahan, disfungsi ereksi, dan inkontinensia. Tetapi dengan teknik nerve sparring yang
baik terjadinya kerusakan pembuluh darah dan saraf yang memelihara penis dapat
dihindari sehingga timbulnya penyulit berupa disfungsi ereksi dapat diperkecil.

Transurethral Resection of the Prostate (TUR-P)


TUR-P merupakan suatu cara pembedahan pada kanker prostate apabila terjadi

sumbatan pada urethra yang disebabkan oleh pembesaran prostate. TUR-P biasanya
dilakukan pada penyakit-penyakit yang tergolong ringan. Sebagian prostat diangkat
menggunakan suatu alat yang dimasukkan kedalam urethra. alat tersebut atau yang biasa
dikenal cystoscope dimasukkan kedalam penis dan berfungsi untuk menghilangkan
sumbatan pada urethra tersebut. Tindakan ini biasanya dilakukan pada stadium awal
untuk mengangkat jaringan yang menghambat aliran urine. Pada stadium metastasis
dimana kanker telah menyebar seluruh prostat penganmgkatan testis (Orchiectomy)
dilakukan untuk menurunkan kadar testosteron dan mengendalikan pertumbuhan kanker
3. Radiasi
Ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor loko invasif dan tumor yang telah
mengadakan metastasis. Pemberian radiasi eksterna biasanya didahului dengan
limfadenektomi. Diseksi kelenjar imfe saat ini dapat dikerjakan memlaui bedah
laparoskopi di samping operasi terbuka.
4. Terapi hormonal
Pemberian terapi hormonal berdasarkan atas konsep daro Hugins yaitu: sel epitel prostat
akan mengalami atrofi jika sumber androgen ditiadakan. Sumber androgen ditiadakan
dengan cara pembedahan atau dengan medikamentosa. Meniadakan sumber atau
pengaruh androgen pada sel target disebut sebagai Androgen Deprivation Therapy
(ADT). Menurut Labrie, menghilangkan sumber androgen yang hanya berasal dari testis
belum cukup, karena masih ada sumber androgen dari kelenjar suprarenal yaitu sebesar
10% dari seluruh testosteron yang beredar di dalam tubuh. Untuk itu Labrie
menganjurkan untuk melakukan bokade androgen total.
Tulang adalah tempat yang paling sering terjadinya metastasis kanker prostat;
kejadian metastasis kanker ini pada tulang 80%. Metastasis tulang menyebabkan
berbagai morbiditas, di antaranya adalah nyeri, kompresi korda spinalis, dan fraktur
patologis. Terapi kanker prostat stadium lanjut (termasuk yang sudah metastasis ke
tulang) adalah ADT. Namun keberhasilan ADT hanya 70-80% dengan median durasi
hingga 12-24 bulan. Salah satu akibat jangka panjang ADT adalah pada sistem 1.)
metabolisme (sensitifitas insulin menurun yang menyebabkan peningkatan kadar LDL

dan kolesterol) dan 2.) skeletal (di antaranya adalah meningkatnya turn over tulang,
densitas tulang atau bone mineral density (BMD) menurun, dan meningkatnya resiko
terjadinya fraktur). Untuk itu pada terapi ADT dianjurkan untuk selalu memantau BMD.

VIII.

PROGNOSIS.
Harapan hidup untuk penderita kanker prostat berhubungan dengan stadium
penyakit : Stadium A 87 %, Stadium B 81%, Stadium C 64%, stadium D 30%.(1)

DISKUSI

Dari kasus di atas, Tn. MD usia 72 tahun dengan keluhan sulit buang air kecil. Dari
anamnesa didapatkan pasien mempunyai gejala hesitancy, straining, weak stream, intermittency,
feeling of incomplete emptying,frequency, terminal dribbling dan nocturia yang merupakan
gejala obstruksi dan iritasi. Dari hal ini kita dapat memperkirakan bahwa ada gangguan pada
saluran kemih pada sistem urogenital yang dapat berupa obstruksi akibat hipertrofi prostat atau
karsinoma prostat.
Pada rectal toucher pasien ini ditemukan spincter ani mencekik, mukosa licin, ampula
kosong, teraba pembesaran prostat ukuran 3-4 cm kearah rektum dengan konsistensi padat
keras, permukaan berbenjol-benjol, simetris kiri dan kanan, pole atas dapat dicapai dengan
bimanual palpasi dan pada handscoen didapatkan feses tidak ada, lendir tidak ada, darah tidak
ada. Suatu

keganasan pada prostat bila pada rectal toucher ditemukan konsistensi keras,

berbenjol, tidak rata, dan asimetris dan pada pasien ini ditemukan hal-hal tersebut sehingga suatu
massa atau keganasan dapat dicurigai. Dan grade pembesaran prostat dapat dikategorikan
sebagai grade III karena penonjolan kearah rectum berukuran 3-4cm dan ditemukan juga pole
atas dapat diraba dengan bimanual palpasi yang juga masuk dalam rectal grading yakni grade
III. Oleh karena itu, pasien diagnosis dengan hipertropi prostat grade III suspek malignansi.
Untuk mengklarifikasikan adanya pembesaran prostat dilakukan beberapa pemeriksaan
penunjang yaitu Pemeriksaan laboratorium, PSA dan USG Abdomen. Pemeriksaan Prostate
Specific Antigen (PSA) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya karsinoma prostat
dimana nilai normal PSA adalah 0.5- 4 ng/ml. Namun, kondisi-kondisi lain seperti prostatitis,
BPH, olahraga berat, dan umur dapat meningkatkan nilai PSA. Hasil PSA pada pasien ini terjadi
peningkatan dengan nilai >100 ng/ml. USG Abdomen menilai kondisi buli-buli, volume prostat,
dan mencari kemungkinan adanya karsinoma prostat atau batu prostat. Hasil dari USG Abdomen
didapatkan hipertrofi prostat (volume prostat 72 ml).
Berdasarkan hasil dari anamnesa, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang
disimpulkan diagnosis pasien adalah hipertrofi prostat grade III suspek malignansi
Pada pasien ini ,tindakan yang dilakukan adalah TUR P dan biopsi untuk menegakkan
keganasan yang dicurigai. TUR P adalah sebuah operasi yang dimaksudkan menghilangkan
bagian dari prostat yang menekan uretra. TUR P menggunakan sebuah prosedur endoscopic
dimana dapat dilihat secara langsung bagian yang akan di resected melalui alat yang dimasukkan
melalui uretra. Pengerokan jaringan dilakukan dengan electrokauter. Tindakan ini dilakukan
dibawah general anastesi maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masi dianggap

aman dan tingkat morbiditas yang minimal. Dan setelah jaringan prostat diresecsi maka jaringan
akan di periksakan di patalogi anatomi untuk mengetahui keganasan yang dicurigai pada pasien
ini. Dan di dapatkan hasil biopsy yakni adenocarsinoma prostat, poorly differentiated dengan
scor glaeson sebesar 5+4=9. Score gleason diperuntukkan untuk kanker prostat berdasarkan
gambaran mikroskopiknya. Score gleason sangat penting karena score gleason yang tinggi
berhubungan dengan prognosis yang buruk. Score gleason berkisar antara 2 sampai 10. score
gleason dengan nilai 2 menandakan prognosis yang baik sedangkan nilai 10 menandakan
prognosis buruk. Klasifikasi glaeson yakni 2-4 well differentiated,5-7 moderatily differentiated
dan 8-10 poorly differentiated. Dan pada pasien ini skornya 9 oleh karena itu dikatagorikan
kedalam poorly differentiated.
Maka berdasarkan hasil biopsi yang diperoleh, pasien di diagnosa dengan carcinoma
prostat stage III.

DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo, B. Dasar-Dasar Urologi. Ed. 3: Onkologi Urogenitalia. Jakarta:


Sagung seto.2011.p: 261-68.
2. Berman,david;Ronal

Rodriguez

and

Robert

veltri.

Development,

molecular, biology and physiologi of prostate in: Campbell-Walsh


Urology, 10th ed. Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC (Eds.),Philadelphia:
Saunders Elsevier.2012.p:2519-33.
3. Cooperberg, matthew; Joseph c presti; Katsuto shinohara. Neoplasms of
the prostate gland in: General Urology, 16th Ed, Smith (Eds.), Washingto
DC :Lange Medical

Publication. 2013.p:350-368

4. Palinrungi AM. Benign prostatic hyperplasia in: Lecture Note on UroOnkology Makassar: Division of Urology, Department of Surgery, Faculty
of Medicine, Hasanuddin University; 2010. P: 23-25.
5. Boedi-Darmojo R., H. Hadi Martono. Karsinoma Prostat.Dalam: Buku
Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Ed Ketiga.Jakarta. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2004. p: 411-413.
6. Sjamsuhidajat R., Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.2005. p:782-788.
7. John,simon(Eds.). Urological Neoplasia in: Oxford handbook of urology,
3thEd,united kingdom.2013. p:250-256
8. Freddie,Craig. Prostate Cancer in: The scientific basic of urology
3thEd,united kingdom:informa. 2010.p:387-390
9. Roehrborn, claus MD.

Benign Prostatic Hyperplasia: etyology,

phatophysiology,epidemiology and natural history in: Campbell-Walsh

Urology, 10th ed. Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC (Eds.),Philadelphia:


Saunders Elsevier.2012.p:2570-2609.
10.Anthony,Thomas; Roger sinder and Herbert lepor. Evaluation and
nonsurgical management og benign prostatic hyperplasia in: CampbellWalsh Urology, 10th ed. Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC
(Eds.),Philadelphia: Saunders Elsevier.2012.p:2519-33.
11.Eckhardt; Van venrooij; T.A Boon. Symtoms and quality of life versus
age, psostate volume and urodynamic, parameters in 565 strictly selected
men with lower urinary tract symtoms suggestive of benign prostatic
hyperplasia in: Hoofdstuk Vol 04. Philadelfia: Saunders elseiver.2001.p:
62-74.
12.Fitzpatrick,John. Minimal invasive and endoscopic menagemnt of benign
prostatic hyperplasia in: Campbell-Walsh Urology, 10th ed. Wein AJ,
Kavoussi

LR,

Novick

Elsevier.2012.p:2519-33.

AC

(Eds.),Philadelphia:

Saunders