Anda di halaman 1dari 16

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK

OLEH:
KELOMPOK 12
WIDYA ASTUTI (1202120470)
DESI SASNITA (1202165489)
ALI AFRIZAL (1002132849)
DHORATUN NASEHA (1202154431)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan yang maha esa karena dengan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami bisa membuat makalah ini dengan tepat waktunya. Ada pun judul
makalah kami ini adalah OTONOMI DAERAH dan PEMILIHAN LANGSUNG
KEPALA DAERAH.
Embryo makalah ini sebagian besar berasal dari buku indra bastian,sebuah karya
sebenarnya sulit dikatakan sebagai usaha sendiri tanpa bantuan orang lain. Demikian juga
dengan makalah ini, makalah ini tidak akan mungkin terselesaikan tanpa ada dorongan terusmenerus, bantuan dan kritikan yang sedalam-dalamnya kepada dosen pengajar yaitu buk
vince
Kami juga mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah mendorong
dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Akhirnya segala kesalah dan kekurangan adalah tanggung jawab
penulis. Namun, apabila terdapat kebenaran dalam makalah ini hanya karena ridho dari sang
pencipta.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
..................................................................................................................
DAFTAR ISI
..................................................................................................................
..................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN
..................................................................................................................
1.
LATAR
BELAKANG
......................................................................................................
2.
RUMUSAN
MASALAH
......................................................................................................
3.
TUJUAN
......................................................................................................

BAB 11 PEMBAHASAN
..................................................................................................................
12.1 TEORI PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK..........................................................
12.2 SISITEM PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK......................................................
12.3 SIKLUS PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK........................................................
12.4 TEKNIK PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK ......................................................
12.5 CONTOH PERTANGGUNGJAWABAN DI ORGANISASI SEKTOR PUBLIK.....

BAB 111 PENUTUP


..................................................................................................................
1.
KESIMPULAN
......................................................................................................
2.
SARAN
......................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
..................................................................................................................

BAB 1
PENDAHULUAN
1.

LATAR BELAKANG
Pertanggungjawaban publik yang dibahas dalam bab ini adalah mekanisme
penyampaian pelaporan pertanggungjawaban organisasi sektor publik kepada pihak
yang

memiliki

hak

atau

berkewenangan

untuk

meminta

keterangan

ataupertanggungjawaban atasnya.
2.

RUMUSAN MASALAH
Pada bab ini akan dibahas mengenai teori pertanggungjawaban sektor publik yang
meliputi makna istilah pertanggungjawaban publik dan teori kekuasaan (authority)
didalam pertanggungjawaban publik, sistem pertanggungjawaban publik, siklus
pertanggungjawaban publik, serta mengenai contoh pertanggungjawaban di organisasi
sektor publik.

3.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Agar mahasiswa dapat memahami:
1.

Teori pertanggungjawaban publik

2.

Sistem pertanggungjawaban publik

3.

Siklus pertanggungjawaban publik

4.

Teknik pertanggungjawaban publik

BAB II
PEMBAHASAN

PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK

12.1 TEORI PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK


12.1.1 Makna Istilah Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban sering digunakan sebagai sinonim kata akuntabilitas, penyelenggaraan,
tanggung jawab, blameworthiness, kewajiban, dan istilah lain lain yang berhubungan dengan
harapan pemberian tanggung jawab.
12.1.2 Teori Kekuasaan (Authority) dalam Pertanggungjawaban Publik
Kekuasaan dimaknai sebagai upaya seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi orang
lain agar sesuai dengan tujuan dan keinginan orang yang berkuasa. Berdasarkan pendefinisian
kekuasaan yangbegitu luas, berikut akan dikemukakan secara singkat beberapa pemikiran
ahli tentang kekuasaan, diantaranya oleh Niccolo Machiavelli, Thomas Hobbes, Max Webber,
Michel Foucault, dan Hannah Arendt.
Filsuf Niccolo Machiavelli (1469-1527) kekuasaan merupakan sesuatu yang harus
diraih, karena ia tidak datang begitu saja.
Max Webber merumuskan kekuasaan merupakan kemampuan individu dalam
menjalin hubungan social untuk mewujudkan keinginannya dalam suatu tindakan komunal,
meskipun melawan arus dan mendapat resistensi dari individu lain yang terlibat dalam
tindakan tersebut (Frans Magnis Suseno, 1987:53)

Foucault (Haryatmoko, 2004:217) kekuasaan sebagai seluruh tindakan yang menekan


dan mendorong tindakan tindakan lain melalui rangsangan, persuasi, atau dapat juga dengan
melalui paksaan dan larangan.
Hannah Arendt (1906-1975),kekuasaan manusia terkait dengan kemampuannya untuk
melakukan suatu tindakan.

Kekuasaan Terbatas
Sebagai contoh, pimpinan melakukan penyuapan sehingga yang dipimpin dapat melihatnya
sebagai keadaan dimana perintah tersebut tidak berlaku lagi.
PemeliharaanKekuasaan
Ada banyak faktor yang menyebabkan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan pimpinan dapat
terancam akibat memberikan perintah yang sulit dilakukan, perlakuan yang tidak adil,
kegagalan melangsungkan nilai nilai yang ada pada agen, tingkah laku pimpinan yang
berubah ubah dan tidak berkompeten, atau penolakan kekuasaan oleh agen lain.
Apa yang Terjadi Jika Pemeliharaan Kekuasaan Gagal?
Ketika yang dipimpin memutuskan untuk memberontak melawan kekuasaan pemimpin,
pemimpin dapat menetapkan pilihan mengikuti perintah atau menentang apa yang telah
digariskan oleh pimpinannya.
Permasalahan Pimpinan
Permasalahan yang dihadapi pimpinan adalah menyangkut pemilihan upah untuk
memaksimalkan keuntungan
Permasalahan pihak yang dipimpin
Pihak yang dipimpin mempunyai dua keputusan yang akan dibut: (1) Mereka harus
memutuskan apakah akan berpartisipasi. (2) jika perpartisipasi, para pendukung harus
memutuskan seberapa besar upaya yang akan dicurahkannya. Jadi, mereka harus memilih
apakah mereka memang harus melakukan apa yang pimpinan mereka katakana untuk
dikerjakan
Birokrasi dan Delegasi

Kerangka kerja menyatakan dua alas an bagi birokrasi organisasi


Alasan 1. Diajukan oleh Philip Selznick (1949) pimpinan harus mengatakan kepada
yang dipimpin untuk mengikuti perintahnya, jika negara mengambil alih.
Alasan 2.

Dikembangkan oleh Alvin Gaouldner (1954) di mana ada seorang

pimpinan, seorang pengawas, dan perangkat aturan pegawai. Pimpinan mempunyai berbagai
kekuasaan terhadap pengawas dan pegawai tersebut.
Manfaat Pendelegasian
Pimpinan dan pengawas harus memiliki informasi yang sama. Alasannya adalah bahwa
pilihan pengawas dapat tidak sejalan dengan pilihan pimpinan, sehingga pengawas tidak
dapat memberikan dorongan kepada pegawai untukmencapai tujuan pimpinan.
Pmpinan Sebagai Perwujudan Cita Cita Pegawai
Kekuasaan pimpinan dapat terancam oleh kegagalan melangsungkan cita cita pegawainya
atau kegagalan untuk menegakkan aturan cita cita oleh pimpinan bagi pegawainya.
12.2 SISITEM PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK
Sesuai

dengan

kondisi

Negara

masing

masing,

sistem

ini

dibedakan

menjadi

(www.wikipedia.com)
(1)

Presidensial
Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensial terdiri dari tiga unsur yaitu:
a. Presiden yang dipilih rakyat dalam memimpin pemerintahan dan mengangkat
pejabat pejabat pemerintahan terkait.
b. Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa jabatan yang tetap tidak bisa
saling menjatuhkan.
c. Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan eksekutif dan badan legislatif
Berikut ini adalah ciri ciri pemerintahan presidensial:
a. Dikepalai oleh presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala Negara
b. Kekuasaan legislatif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat dan dipilih
langsung atau melalui badan perwakilan rakyat
c. Presiden memiliki hak prerogatif (hak istimewa) untuk mengangkat dan
memberhentikan menteri menteri yang memimpin departemen dan nondepartemen
d. Menteri menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif presiden
bukan kepada kekuasaan legislatif

e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif


(2)

Parlementer
Sistem parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan dimana parlemen (dewan
perwakilan rakyat) memiliki peranan penting dalam pemerintahan

(3)

Komunis
Negara komunis adalah istilah yang digunakan oleh ilmuwan politik untuk
mendeskripsikan bentuk pemerintahan, dimana Negara tersebut berada dibawah sistem
satu partai dan mendeklarasikan kesetiaan kepada Marxisme-Lenimisme, Maoisme,
contoh negaranya adalah Republik Rakyat Cina (sejak 1949), Kuba, Korea Utara,
Laos, dan Vietnam

(4)

Demokrasi Liberal
Demokrasi Liberal adalah satu bentuk kerajaan demokrasi melalui perwakilan yang
membuat keputusan berlandaskan undang undang yang tunduk pada perlembagaan
yang liberal

(5)

Liberal
Liberalisme ialah falsafah yang meletakkan kebebasan individu sebagai nilai politik
tertinggi. Liberalisme menekankan hak hak pribadi serta kesamarataan peluang

(6)

kapital
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal),
yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang barang yang di gunakan dalam
proses pembuatan barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut
Kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem
perekonomian dimana perkembangan Kapitalisme dikaitkan sebagai bagian dari
gerakan individualisme.

12.3 SIKLUS PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK


Dalam mewujudkan akuntabilitas dalam organisasi sektor publik, diperlukan siklus sebagai
berikut:

penetapan regulasi pertanggungjawaban pimpinan organisasi

pembentukan dan penerbitan SK tim penyusun laporan pertanggungjawaban organisasi

penyususn draft laporan pertanggungjawaban organisasi

pembahasan draft laporan pertanggungjawaban organisasi dengan pimpinan organisasi

penyelesaian laporan pertanggungjawaban organisasi

pengajuan laporan pertanggungjawaban organisasi ke lembaga legislatif/parlemen

pemaparan/pembacaan

laporan pertanggungjawaban organisasi oleh pimpinan

organisasi ke lembaga legislatif/parlemen

pembahasan laporan pertanggungjawaban organisasi oleh lembaga legislatif/parlemen

penilaian dan rekomendasi atas laporan pertanggungjawaban organisasi

penerbitan laporan pertanggungjawaban organisasi

12.3.1 Penetapan Regulasi Pertanggungjawaban Pimpinan Organisasi


Regulasi ini merupakan hal yang penting dalam proses pertanggungjawaban, karena regulasi
diatur dalm mekanisme dan tata cara pertanggungjawaban serta hal hal apa saja yang harus
dilakukan oleh pimpinan organisasi beserta jajarannya, dan hal hal apa saja yang tidak boleh
dilakukan oleh pimpinan organisasi beserta jajarannya, sehingga ada pimpinan yang jelas
antara yang salah dan yang benar.
12.3.2 Pembentukan dan Penerbitan SK Tim Penyusun Laporan Pertanggungjawaban
Organisasi
Pada tahapan ini, akan dibentuk tim yang terdiri dari individu individu yang kompeten
dibidangnya, yang akan menyusun laporan pertanggungjawaban dari kegiatan dan program
yang telah dilaksanakan organisasi sektor publik selama satu periode.
12.3.3 Penyusunan Draft Laporan Pertanggungjawaban Organisasi
Tahapan selanjutnya, setelah pembentukan dan penerbitan SK tim penyusun laporan
pertanggungjawaban organisasi adalah penyusunan draft laporan pertanggungjawaban atau
hal hal yang seharusnya dilaporkan untuk dipertanggungjawabkan justru tidak tercantum
dalam draft laporan pertanggungjawaban.
12.3.4 Pembahasan Draft Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Sektor Publik

Hal ini sebagai tindakan koreksi dan evaluasi agar draft laporan pertanggungjawaban yang
dibuat sudah mencantumkan segala sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan
12.3.5 Penyelesaian Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Sektor Publik
Berdasarkan draft yang telah disepakati, tim penyusun kemudian melengkapi draft tersebut
sampai

menjadi

laporan

pertanggungjawaban

akhir

yang

siap

diajukan

guna

dipertanggungjawabkan.
12.3.6 Pengajuan Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Sektor Publik ke
Legislatif/Parlemen
Di lembaga legislatif/parlemen ini, laporan pertanggungjawaban organisasi akan di periksa
dan dinilai kebenarannya.
12.3.7 Pemaparan/Pembacaan Laporan Pertanggungjawaban Organisasi Sektor Publik
Oleh Kepala/Pimpinan Organisasi di Hadapan Lembaga Legislatif/Parlemen
Setelah

tahapan

pengajuan

laporan

pertanggungjawaban

diterima

oleh

lembaga

legislatif/parlemen tiba saatnya pimpinan/kepala organisasi membacakan dan memaparkan isi


dari laporan pertanggungjawaban tersebut kepada parlemen.
12.3.8

Pembahasan

Laporan

Pertanggungjawaban

Organisasi

Oleh

Lembaga

Legislatif/Parlemen
Berdasarkan pemaparan laporan pertanggungjawaban organisasi yang telah disampaikan oleh
pimpinan/kepala organisasi, lembaga legislatif/parlemen mengadakan musyawarah atau
pembahasan terkait laporanpertanggungjawaban tersebut. Musyawarah ini membahas
jawaban lembaga legislatif/parlemen atas laporan pertanggungjawaban pimpinan pelaksana
organisasi.
12.3.9 Organisasi
Dari hasil pembahasan dan musyawarah yang dilakukan, lembaga legislatif/parlemen
membuat penilaian berdasrkan regulasi dan aturan yang berlaku.
12.3.10 Penerbitan Laporan Pertanggungjawaban Organisasi
Setelah

proses

penilaian

laporan

pertanggungjawaban

organisasi

oleh

lembaga

legislatif/parlemen selesai, laporan tersebut siap untuk dipublikasikan atau disampaikan

kepada masyarakat. Publikasi ini dapat dilakukan melalui televise, radio, surat kabar, atau
media public lainnya.

12.4 TEKNIK PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK


12.4.1 Teknik Penyusunan Pelaporan Pertanggungjawaban Publik
Metode yang digunakan dalam mekanisme komunikasi politik bagi penyusun pelaporan
pertanggungjawaban publik adalah:
(1)

Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif bertolak dari aliran filsafat positivism-naturalisme, seperti:
(a)

Metode Analisis Isi


Karakter metode analisis isi adalah:
Karakter Objektif
Sifat Sistematis

(b)

Metode Survei
Yaitu mampu mengumpulkan data secara besar besaran dengan mengakses
sebagian populasi sebagai sampel dengan cara tertentu sehingga dapt dikatakan
mewakili seluruh populasi.

(c)

Metode Eksperimen
Adalah metode kuantitatif yang banyak digunakan dalam penyusunan laporan
pertanggungjawaban, terutama yang terkait dengan pengaruh isi laporan
pertanggungjawaban. Contohnya adalah menyusun laporan pertanggungjawaban
berdasarkan data data yang berasal dari hasil penyebaran kuesioner secara langsung
kepada responden melalui surat, telepon, email, atau dari hasil uji laboratorium.

(2)

Metode Kualitatif
Metode ini memiliki kekuatan sebagai alat pengumpulan data yang melibatkan
manusia sebagai subjek sehubungan denagn realitas atau gejala yang terjadi
Metode Wawancara

Metode Observasi
Ada dua jenis metode observasi yaitu:
Participant Observation, yaitu observasi dengan ikut terlibat dalam kegiatan
komunitas yang di teliti
Nonparticipant Observation yaitu observasi tidak terlibat
Metode Focus Group Discussion
Berikut ini adalah langkah langkah dalam penyelenggaraan Focus Group
Discussion
Merancang interview guide yang bersifat longgar sesuai topic
Menentukan paket pesan sebagai bahan diskusi, jika diperlukan
Menunjuk dan memilih moderator yang bertugas memfasilitasi diskusi
Moderator mengajukan pertanyaan kepada peserta (publik) sesuai tujuan diskusi
Menentukan dan mengorganisasi kelompok peserta yang terdiri dari atas jumlah
dan karakter kelompok
Menghadirkan partisipan untuk masing masing kelompok pada waktu dan
tempat yang telah direncanakan.
Melakukian pencatatan atas perkembangan perkembangan yang terjadi pada
peserta hingga dilanjutkan sampai diskusi dan wawancara
Melakukan transkripsi hasil rekam
Menganalisis data yang telah ditranskip sambil mempelajari catatan lapangan
Menarik kesimpulan dengan mengacu pada pertanyaan dan tujuan diskusi

(3)

Metode Gabungan Kuantitatif-Kualitatif


Contoh metode gabungan kuantitatif-kualitatif adalah wawancara, analisis isi melalui
wawancara, dan analisis semiotic melalui wawancara. Metode ini menurut Louise G.
White dan Robert P. Clark (1990:213) dalam Pawito (2009:87), memungkinkan
memperoleh temuan temuan yang lebih valid ketimbang hasil yang diperoleh dengan
hanya menggunakan satu metode

12.4.2 Penyampaian Pelaporan Pertanggungjawaban Publik


a.

Presentasi

Sebagai contoh, presentasi kepala daerah kepada DPRD tentang hasil hasil yang
dicapai dalam bidang pemerintahan dan bidang pengelolaan keuangan selama periode
berjalan
b.

Publikasi
publikasi laporan pertanggungjawaban kepala daerah kepada DPRD berisi:

(1)

Kebijakan kebijakan yang telah dicanangkan

(2)

Program kerja

(3)

Pelaksanaan program kerja yang telah ditetapkan

(4)

Hasil hasil yang telah dicapai selama tahun berjalan di bidang pemerintahan dan
pengelolaan keuangan

(5)

Hambatan hambatan yang muncul selama periode pemerintahan dan cara untuk
mengatasinya

(6)

Perhitungan APBD

c.

Pengiriman Surat
Selain

teknik

teknik

yang

sudah

dijelaskan

sebelumnya,

dalam

proses

pertanggungjawaban public, laporan pertanggungjawaban organisasi dapat juga


disampaikan melalui pengiriman surat
12.5 CONTOH PERTANGGUNGJAWABAN DI ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
a.

Pemerintah Pusat
Dalam rangka pertanggungjawaban pengelolaan keuangan Negara, pemerintah pusat
mengeluarkan Laporan Realisasi APBN, seperti kutipan yang disajikan berikut ini

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH


Pendapatan Negara dan hibah dalam APBN tahun 2005 ditetapkan Rp380,4
triliun, atau 17,4 persen terhadap PDB. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar
Rp 23,4 triliun atau 5,8 persen jika dibandingkan dengan anggaran pendapatan
Negara dan hibah yang ditapkan dalam APBN-P tahun 2004. Dari jumlah
tersebut, 78,3 persen bersumber dari penerimaan perpajakan, 21,5 persen
bersumber dari penerimaan Negara bukan pajak, sedangkan sisanya 0,2 persen
berasal dari hibah. Kontribusi penerimaan sektor perpajakan yang semakin
meningkat tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tetap konsisten untuk terus
menggali sumber sumber pendanaan dari dalam negeri guna mewujudkan
kemandirian APBN.

b.

Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah dalam menyusun akuntabilitasnya harus transparan dan dapat
menyediakan informasi tentang pengelolaan keuangan daerah secara luas, sehingga
mudah diakses, diketahui, dan dievaluasi oleh pihak pihak yang berkepentingan

c.

Partai Politik
Sebagai salah satu organisasi yang termasuk dalam wilayah sektor publik, partai politik
juga harus menerapkan prinsip good political party governance pada partai politik
dimaksudkan agar partai partai politik bersifat akuntabel dan transparan dalam
pengelolaan sumber daya keuangan, mengikuti aturan hukum, dan etika politik.

BAB 111
PENUTUP
1 KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan auditing bagi
sektor publik sangat penting, karena seperti yang telah dijelaskan bahwa auditing merupakan
suatu investigasi independen terhadap beberapa aktivitas khusus. Mekanisme audit
merupakan suatu mekanisme yang dapat menggerakkan makna akuntabilitas dalam
pengelolaan sektor pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau instansi
pengelola asset Negara, serta organisasi sektor public lainnya seperti Yayasan, LSM, dan
Partai Politik. Selain meskipun hanya memiliki pengertian yang tepat ketika di gunakan
dalam modifikasi yang terbatas, namun untuk auditing pajak ataupun auditing keuangan, satu
definisi umum dapat di kemukakan sebagai berikut:
Suatu proses sistematik yang secara objektif terkait evaluasi bukti bukti berkenaan
dengan asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi guna memastiikan derajat atau tingkat
hubungan antara asersi tersebut dengan kriteria yang ada, serta mengomunikasikan hasil yang
diperoleh kepada pihak pihak yang berkepentingan .
2. SARAN
Dari pembahasan ini, kami mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini kami mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca sekalian yang mana kritik dan saran tersebut bersifat
membangun, karena kami masih dalam tahap proses pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra, 2010, Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. New Ed. Jakarta: Erlangga |
Akuntansi Sektor Publik Kelompok 12