Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA

MODUL H-07
KEHILANGAN TEKANAN (ENERGI) PADA ALIRAN DALAM PIPA MELALUI
LENGKUNGAN, PERUBAHAN PENAMPANG, DAN KATUP

KELOMPOK 07
Abdul Azhim

1406533365

Aulina Reza Putri

1406533384

Dina Nurdiani

1406533371

Reza Agus Kurniawan


Asisten Modul

Tanggal praktikum

Tanggal disetujui

Nilai Laporan

Paraf Asisten

1406533390

2015

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
2015

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA

KELOMPOK 07
Abdul Azhim

1406533365

Aulina Reza Putri

1406533384

Dina Nurdiani

1406533371

Reza Agus Kurniawan

1406533390

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

2015

7.1

Tujuan Praktikum
Menentukan koefisien kekehilanganan energi dari lengkungan, perubahan
penampang, dan katup pada pipa.

7.2

Teori Dasar
Untuk menyatakan kekehilanganan tekanan (energi) h, sehubungan dengan
head kecepatan yang hilang pada bentuk lengkungan, perubahan penampang dan katup
dalam jaringan pipa pada percobaan ini, dinyatakan:
h

k 2
v
2g

Dimana :
k = Koefisien kekehilanganan energi
v = kecepatan aliran
g = percepatan gravitasi

7. 2.1 Teori Tambahan


KEHILANGAN ENERGI PADA ALIRAN PIPA
Ketika fluida mengalir melewati pipa, fluida mengalami resitansi atau hambatan yang
disebabkan oleh adanya kehilangan energi pada aliran fluida. Kehilangan energi tersebut
diklasifikasikan sebagai:
a. Kehilangan energi mayor
Kehilangan energi karena viskositas fluida dapat dihitung dengan persamaan

hf
f

=
=

loss head karena gaya gesek


koefisien gesekan (fungsi dari bilangan Reynolds)

panjang pipa

v
D

=
=

kecepatan rata-rata aliran


diameter pipa

Ketika fluida dengan viskositas tertentu melewati sebuah pipa, persamaan

tidak lagi konstan sepanjang pipa tersebut. Karena gaya gesek fluida
dengan dinding pipa, persamaan total energy head menjadi

. Untuk mengembalikan persamaan kedua ruas, kita


harus menambahkan kuantitas scalar pada ruas kanan sehingga:

disebut hydraulic loss atau kehilangan energy. Pada pipa horizontal dimana
, diameter pipa konstan, dan

maka kehilangan energy menjadi

(Ilustrasi aliran pada pipa horizontal)


b. Kehilangan energi minor
Kehilangan energi karena perubahan kecepatan aliran fluida. Kehilangan energi minor
antara lain:
1. Perluasan pipa

Gambar 1. Sudden Enlargement

Gambar 2. Gradual Enlargement

Head loss pada perluasan pipa

, dimana V1 adalah kecepatan pada

section 1 dan V2 adalah kecepatan pada section 2.


Energi hilang disebabkan oleh turbulensi pada aliran. Turbulensi adalah aliran
fluida yang tidak beraturan arah dan kecepatannya. Pada pipa dengan perluasan
gradual, kehilangan energi lebih sedikit dibandingkan pipa dengan perluasan
langsung. Kehilangan energi pada perluasan pipa bergantung pada diameter pipa
dan sudut perluasannya.
2. Penyempitan pipa

Gambar 3. Sudden Contraction

Gambar 4. Turbulensi pada penyempitan langsung.


Head loss karena penyempitan pipa

, dimana

dan V2

adalah kecepatan pada section 2. Pada penyempitan, terjadi turbulensi yang


menyebabkan kehilangan energy dan juga terbentuk vena contracta. Vena
contracta adalah bagian tersempit dari aliran fluida dimana fluida memiliki
kecepatan maksimum. Kehilangan energi pada penyempitan pipa lebih kecil dari
pada perluasan pipa. Sementara itu, kehilangan energy pada penyempitan gradual
lebih kecil dari pada penyempitan langsung.
3. Lengkungan pada pipa
Head loss pada bending

, dimana V adalah kecepatan aliran, k adalah

koefisien dari lengkungan (bergantung pada sudut lengkung, jari-jari lengkungan,


dan diameter pipa)
4. Exit Loss
Aliran kehilangan energi saat fluida memasuki tanki melalui pipa masukan. Jika
tanki air dianggap diam, kecepatannya sama dengan nol, dan energi kinetik dapat
diabaikan.

5. Entrance loss
Merupakan kehilangan energy saat fluida meninggalkan tanki dan memasuki pipa
outlet.

Sambungan ( fitting )

Jenis-jenis fitting diantaranya :

Contraction yaitu pipa yang mengalami pengurangan cross sectional area secara
mendadak dari saluran dengan membentuk pinggiran yang tajam. Tekanan yang
melewatinya akan bertambah besar.

Long bend yaitu belokan panjang pada pipa dengan sudut yang melingkar dan cross
sectional area yang besar sehingga tekanannya kecil.

Short bend yaitu belokan pipa seperti long bend tetapi lebih pendek dan cross
sectional area yang lebih kecil sehingga tekanannya lebih besar.

Elbow bend yaitu merupakan belokan pada pipa yang membentuk sudut siku-siku
(90o) dengan cross sectional area yang sangat kecil sehingga akan menimbulkan
tekanan yang sangat besar.

7.3 Alat-alat
1. Meja Hidrolika
2. Perangkat peraga kekehilanganan energi pada aliran melalui pipa yang dilengkapi pipa

6
5

7
8

4
9
3
1
0
11
2
12

1
13

Keterangan Gambar:
1. Pipa Aliran Masuk

8. Lengkung Panjang (large bend)

2. Delapan Manometer

9. Dial Reading

3. Pompa Tangan

10. Lengkung Pendek (small bend)

4. Lengkung Berjenjang (mitre)

11. Lengkung 450

5. Pembesaran Penampang (expansion) 12. Katup Pengatur Aliran


6. Lubang Keluar / Masuk Udara

13. Lengkung Siku (elbow)

7. Pengecilan Penampang (contraction)


7.4 Cara Kerja
1. Meletakkan alat percobaan di atas meja Hidrolika.
2. Menghubungkan pipa aliran masuk dengan suplai dari meja hidrolika dan memasukkan
3.

pipa aliran keluar ke dalam tangki pengukur volume.


Membuka katup pengatur aliran suplai sepenuhnya, demikian juga katup pengatur aliran

4.

pada alat percobaan.


Membuka katup udara pada manometer, membiarkan manometer terisi penuh, dan

5.

menunggu hingga gelembung udara sudah tidak terlihat lagi pada manometer.
Mengatur katup suplai aliran dan mengatur aliran pada alat percobaan, hingga didapatkan
pembacaan manometer yang jelas. Menambahkan tekanan pada manometer dengan

6.

menggunakan pompa tangan, jika diperlukan.


Mencatat pembacaan pada manometer, pembacaan debit pada alat ukur penampang
berubah kemudian menghitung debit aliran dengan menghitung jumlah volume yang

7.

keluar dari alat percobaan dalam waktu tertentu, menggunakan gelas ukur dan stopwatch.
Sekarang memenuhi lagi hingga tumpah air tabung manometer, untuk mengatur debit

8.

aliran memakai katup penghubung, dan membuka penuh katup pengatur aliran.
Mengatur katup penyambung, sehingga pembacaan pada dial pengukur debit menunjuk
pada angka-angka yang jelas (meminta petunjuk asisten), untuk kemudian, memcatat

pembacaan tersebut.
9. Mengulangi langkah 1-8 untuk setiap variasi debit.

7.5

Pengolahan Data

7.5.1 Data Pengamatan


Berikut adalah data hasil pengamatan dari percobaan.
Flowr
ate
(LPM)

V
(liter
)

T
(sec
)

Q (L/s)

0.26

0.052

mitre
h1

h2

31

30.7

enlargeme
nt
h2
h3

Contractio
n
h3
h4

30.7

30.1

30.1

29.5

7.5

0.47

5.09

10

0.685

5.12

12.5

0.88

5.08

15

0.68

2.96

Flowra
te
(LPM)

V
(liter
)

T
(se
c)

Q (L/s)

0.26

0.052

7.5
0.47V (liter)
5.0
Flowra
9
te
10(LPM)0.68
5.1
5
2
12.5 5 0.88 0.26
5.0
8
15 7.5 0.68 0.47
2.9
6
10
0.685

0.09233
8
0.13378
9
0.17322
8
0.22973

44.5

44

44

43.8

43.8

29

34.8

33.5

33.5

33.8

33.8

33

36.5

33.5

33.5

34

34

32

42.5

39

39

40

40

37.5

0.092337
T (sec)
92
0.133789
06
0.173228
5
35
0.229729
5.09
73
5.12

12.5

0.88

5.08

15

0.68

2.96

long bend
h4

h5

29.5

15.7

29
28.7
Q (L/s)
33

29.8

320.052
29.3
37.5
35.5
0.092337
92
0.133789
06
0.173228
35
0.229729
73

short
bend
h5
h6
15.7

16.5

Volume
(liter)
0.125

T
(sec)
3

12

0.123

2.91

14

0.151

3.09

16

0.181

3.25

18

0.18

2.95

20

0.202

3.18

h7

16.5

16.
3
22.
5
25.
5
25.
3
31

29.3
16.3 28 15.28
8
35.5
22.5 34 22.34
2
25.5
24.
5
25.3
23.
8
31
28.
5

Q
0.0416
67
0.0422
68
0.0488
67
0.0556
92
0.0610
17
0.0635
22

Tabel 2. Data Hasil Percobaan Kedua


7.5.2 Hubungan head loss dan kuadratik kecepatan aliran

h6

28.7elbow
23.7 23.7
h7
h8
29.8 29.2 29.2

Tabel 1. Data Hasil Percobaan Pertama


Pressure
(kg/cm2)
10

450

Nilai kekehilanganan tekanan (energi) h dapat ditentukan melalui persamaan


kekehilanganan tekanan.

Pada persamaan di atas, nilai kekehilanganan tekanan (h) sebanding dengan y, nilai

kecepatan kuadrat (v2) sebanding dengan x, dan

sebanding dengan b. Sehingga nilai

koefisien kekehilanganan energi yang diperoleh dalam percobaan dapat dihitung dengan
rumus:

dimana konstanta b didapatkan dengan menggunakan analisis regresi linear berikut ini:

Flowrate
(LPM)

V (m3)

T (sec)

Q (m3/s)

A
(m2)

v = Q/A
(m/s)

x = v2
(m2/s2)

0.00026

0.000052

7.5

0.00047

5.09

10

0.000685

5.12

12.5

0.00088

5.08

15

0.00068

2.96

0.000092
337
0.000133
789
0.000173
228
0.000229
73

0.000
31
0.000
31
0.000
31
0.000
31
0.000
31

0.165499
682
0.293882
615
0.425808
601
0.551331
465
0.731157
638

0.0273901
45
0.0863669
91
0.1813129
65
0.3039663
85
0.5345914
91

Tabel 3. Pengolahan Data Hubungan Head Loss dan Kuadratik Kecepatan Aliran

a)

Lengkung berjenjang (mitre)


Untuk lengkung berjenjang (mitre), kekehilanganan tekanan (h) merupakan selisih

dari pembacaan manometer satu (h1) dan manometer dua (h2).

Tabel 4.

y = h
0.0030

x = v2
0.02739

0.0050

0.08637

0.0130

0.18131

0.0300

0.30397

0.0350

0.53459

y2
0.00000
9
0.00002
5
0.00016
9
0.00090
0
0.00122
5

x2
0.00075
0.00746
0.03287
0.09240
0.28579
0.41927

xy
0.0000821
704
0.0004318
264
0.0023570
685
0.0091189
915
0.0187107
022
0.03070

Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada Mitre

0.0732

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung berjenjang yang


diperoleh pada percobaan adalah:

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung berjenjang berdasarkan


literatur adalah 1.27, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head lossdengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 1. Hubungan Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran


b)

Pembesaran penampang (enlargement)


Untuk pembesaran penampang (enlargement), kekehilanganan tekanan (h)

merupakan selisih dari pembacaan manometer dua (h2) dan manometer tiga (h3).
y = h
0.0060

x = v2
0.00292

y2
0.000036

0.0020

0.00922

0.000004

0.0030

0.01936

0.000009

0.0050

0.03245

0.000025

0.0100

0.05707

0.000100

x2
0.000008
55
0.000085
02
0.000374
72
0.001053
17
0.003257
55
0.004779
01

xy
0.0000175
456
0.0000184
413
0.0000580
729
0.0001622
628
0.0005707
494
0.0008270
72

Tabel 6. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada


Enlargement

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk pembesaran penampang yang


diperoleh pada percobaan adalah:
3.39

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk pembesaran penampang


berdasarkan literatur adalah 0.27, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 2. Hubungan Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran

c)

Pengecilan penampang (contraction)


Untuk pengecilan penampang (contraction), kekehilanganan tekanan (h)

merupakan selisih dari pembacaan manomter tiga (h3) dan manometer empat (h4).
y = h
0.0060

x = v2
0.02739

0.1480

0.08637

0.0080

0.18131

0.0200

0.30397

0.0250

0.53459

y2
0.00003
6
0.02190
4
0.00006
4
0.00040
0
0.00062
5

x2
0.00075
0.00746
0.03287
0.09240
0.28579
0.41927

xy
0.0001643
41
0.0127820
61
0.0014505
04
0.0060793
28
0.0133647
87
0.03384

Tabel 8. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada


Contraction

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk pengecilan penampang yang


diperoleh pada percobaan adalah:

Dengan

nilai

koefisien

kekehilanganan

energi

untuk

pengecilan

penampangberdasarkan literatur adalah 0.89, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran

Grafik 3. Hubungan Antara Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran


d)

Lengkung panjang (long bend)


Untuk lengkung panjang (long bend), kekehilanganan tekanan (h) merupakan

selisih dari pembacaan manometer empat (h4) dan manometerlima (h5).


y = h
0.138
0
0.003
0
0.032
0
0.027
0
0.020
0

x = v2
0.02739
0.08637
0.18131
0.30397
0.53459

y2
0.0190
44
0.0000
09
0.0010
24
0.0007
29
0.0004

x2
0.000
75
0.007
46
0.032
87
0.092
40
0.285
79
0.419
27

Xy
0.0037798
4
0.0002590
96
0.0058020
15
0.0082070
92
0.0106918
3
0.02874

Tabel 10. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada Long
Bend

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung panjang yang


diperoleh pada percobaan adalah:

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung panjang berdasarkan


literatur adalah 0.5, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 4. Hubungan Antara Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran


e)

Lengkung pendek (short bend)


Untuklengkung pendek (short bend), kekehilanganan tekanan (h) merupakan

selisih dari pembacaan manometer lima (h5) dan manometer enam (h6).

y = h
0.0080

x = v2
0.02739

y2
0.000064

x2
0.00075

0.0500

0.08637

0.0025

0.00746

0.0060

0.18131

3.6E-05

0.03287

0.0130

0.30397

0.000169

0.09240

0.0150

0.53459

0.000225

0.28579

0.41927

xy
0.0002191
21
0.0043182
64
0.0010878
78
0.0039515
63
0.0080188
72
0.01760

Tabel 12. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada Short
Bend

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung pendek yang


diperoleh pada percobaan adalah:

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung pendek berdasarkan literatur
adalah 0.56, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 5. Hubungan Antara Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran

f)
Lengkung 45
Untuk lengkung 45,kekehilanganan tekanan (h) merupakan selisih dari pembacaan
manometer enam (h6) dan manometer tujuh (h7).
y = h
0.002
0
0.012
0
0.037
0
0.027
0
0.030
0

x = v2
0.02739

y2
4E-06

0.08637

0.0001
44
0.0013
69
0.0007
29
0.0009

0.18131
0.30397
0.53459

x2
0.000
75
0.007
46
0.032
87
0.092
40
0.285
79
0.419
27

xy
0.0000547
803
0.0010363
833
0.0067085
797
0.0082070
924
0.0160377
447
0.03204

Tabel 14.Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada 45

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung 45oyang diperoleh pada
percobaan adalah:

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung 45o berdasarkan literatur
adalah 1.22, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 6. Hubungan Antara Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran


g)

Lengkung siku (elbow)


Untuk lengkung siku (elbow), kekehilanganan tekanan (h) merupakan selisih dari

pembacaan manometer tujuh (h7) dan manometer delapan (h8).


y = h
0.0050

x = v2
0.02739

0.0030

0.08637

0.0100

0.18131

0.0150

0.30397

0.0250

0.53459

y2
0.00002
5
0.00000
9
0.00010
0
0.00022
5
0.00062
5

x2
0.00075
0.00746
0.03287
0.09240
0.28579
0.41927

xy
0.0001369
51
0.0002590
96
0.0018131
3
0.0045594
96
0.0133647
87
0.02013

Tabel 16. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi Pada Elbow

Sehingga nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung siku yang diperoleh
pada percobaan adalah:

Dengan nilai koefisien kekehilanganan energi untuk lengkung siku berdasarkan


literatur adalah 0.85, maka kesalahan relatif yang diperoleh:

Kemudian data kekehilanganan tekanan (h) dan kuadrat kecepatan aliran (v2)
dituangkan ke dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara head loss dengan kuadratik
kecepatan aliran.

Grafik 7. Hubungan Antara Head Loss dengan Kuadratik Kecepatan Aliran

Hubungan antara tekanan (P) dengan kecepatan (v)


Hubungan antara tekanan (P) dengan aliran kecepatan (v) dapat dituliskan dalam persamaan

N
o.

y=P
(kg/m2
)

0.001

0.0012

0.0014

0.0016

0.0018

0.00018

0.002

0.00020
2

0.009

Volume
(m3)
0.00012
5
0.00012
3
0.00015
1
0.00018
1

T
(se
c)
3
2.9
1
3.0
9
3.2
5
2.9
5
3.1
8

x = v2

Xy

x2

4.17E05
4.23E05
4.89E05
5.57E05
0.0000
61
6.35E05

0.0003
14
0.0003
14
0.0003
14
0.0003
14
0.0003
14
0.0003
14

0.1326
12
0.1345
26
0.1555
29
0.1772
51
0.1941
98
0.2021
71

0.0175859
2
0.0180972
2
0.0241893
7
0.0314179
7
0.0377127
9
0.0408729
6
0.1698762
3
0.0288579
3

1.75859E05
2.17167E05
3.38651E05
5.02688E05
6.7883E05
8.17459E05
0.000273
065

0.0003
09
0.0003
28
0.0005
85
0.0009
87
0.0014
22
0.0016
71
0.0053
02

( x)2

Tabel 30. Pengolahan Data Untuk Mencari Koefisien Kekehilanganan Energi


Nilai b dan a didapatkan dengan menggunakan rumus:

sehingga persamaan regresinya adalah

. Maka nilai koefisien

kekehilanganan energi yang didapatkan adalah:

Nilai koefisien kekehilanganan energi (k) berdasarkan literatur adalah -498.3,


sehingga kesalahan relatif yang didapatkan:

Kemudian data tekanan (P) dan kecepatan (v) dituangkan ke dalam grafik yang
menunjukkan hubungan antara tekanan dengan kecepatan.

Grafik 8. Hubungan Antara Tekanan dengan Kuadrat Kecepatan

7.

Analisa

A.

Analisa Percobaan
Praktikum Kehilangan Energi pada Aliran Pipa bertujuan untuk menentukan
koefisien kehilangan energi dari lengkungan, perubahan penampang, dan katup pada
pipa. Dengan mengetahui koefisen kehilangan energi, kita dapat menghitung besarnya
energi yang hilang pada aliran yang melewati pipa.
Ada beberapa alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: meja hidrolika,
perangkat peraga kehilangan energi, gelas ukur, dan stopwatch. Meja hidrolika

digunakan sebagai alat bantu demonstrasi aspek-aspek khusus dalam teori perhitungan
koefisien kehilangan energi. Gelas ukur digunakan untuk mengukur banyaknya volume
air keluar dari pipa outlet dalam waktu tertentu, sedangkan stopwatch digunakan untuk
pengukuran waktu. Perangkat peraga terdiri dari beberapa alat yaitu delapan
manometer, lengkung berjenjang, pembesaran penampang, pengecilan penampang,
lengkung pendek, lengkung 450, lengkung siku, dial reading, dan katup pengatur aliran.
Praktikum dilakukan dengan variasi debit dan tekanan. Variasi debit yang digunakan
adalah 5, 7.5, 10, 12.5, dan 15 LPM. Sementara itu, variasi tekanan yangdigunakan
adalah 10, 12, 14, 16, 18, dan 20 kg/cm 2. Variasi ini dilakukan untuk Pertama-tama,
praktikan membuka katup pengatur suplai dan pengatur aliran pada alat percobaan agar
air mengalir masuk ke alat percobaan. Selanjutnya, praktikan membuka katup udara
pada manometer dan mengisi penuh manometer agar tidak ada gelembung udara di
dalamnya. Gelembung udara yang terperangkap akan mengganggu dan mengurangi
keakuratan pembacaan manometer.
Air yang mengalir dari suplai aliran, masuk melewati pipa inlet kemudian melewati
lengkung berjenjang, pembesaran dan penampang pipa, lengkung panjang dan pendek,
lengkung 450, lengkung siku, dan akhirnya keluar melewati pipa outlet. Air juga
melewati pipa horizontal yang terhubung pada delapan manometer. Pembacaan tinggi
air pada manometer menunjukkan hydraulic loss

).

Untuk mendapatkan variasi debit, praktikan mengatur katup yang terhubung ke


pengatur debit aliran. Untuk mendapatkan variasi tekanan, praktikan mengatur katup
yang terhubung pada pengatur tekanan dan memperhatikan jarum penunjuk tekanan
pada alat peraga (dial reading). Ketika melakukan variasi debit dan tekanan, praktikan
mengukur debit yang keluar dari pipa outlet pada waktu tertentu dengan gelas ukur
volume dan stopwatch.
B.

Analisa Hasil
Dalam percobaan ini, didapatkan koefisien kehilangan energi sebagai berikut:
Fittings
Dari

percobaan,

bahwa koefisien
pembesaran pipa
pengecilan pipa.

Mitre
Enlargement
Contraction

K
1.4366
3.39
1.58

Long Bend
Short Bend

1.34
0.82

Lengkung 45
Siku

1.49
0.94

Variasi Tekanan

74.1

didapati

kesimpulan

kehilangan energi pada


lebih besar dari pada
Sedangkan

koefisien

kehilangan energi pada long bend lebih besar dari pada short bend. Koefisien
kehilangan energi lengkung 450 lebih besar dari pada lengkung siku.
Menurut tabel Nominal Loss Coefficient K, seharusnya koefisien kehilangan energi
pada lengkung siku lebih besar dari pada lengkung 450. Sementara itu, perbandingan
koefisien kehilangan energi pada sambungan yang disebutkan tadi sudah sesuai dengan
Nominal Loss Coefficient K.
Secara relatif, kehilangan energi yang besar pada aliran disebabkan oleh pembesaran
atau pengecilan langsung pada pipa (sudden enlargement dan sudden contraction).
Pada pembesaran dan pengecilan pipa, terbentuk suatu aliran sekunder yang disebabkan
oleh terpisahnya aliran primer dengan dinding pipa.
Sambungan pipa yang memilki koefisien kehilangan energi yang besar adalah lengkung
siku. Pada lengkung siku, juga terbentuk aliran sekunder karena fluida yang mengalir
dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Untuk mengatur aliran
primer dan sekunder tersebut, dibutuhkan energi. Energi yang digunakan inilah yang
disebut loss energy.

Gambar B.1 Aliran pada lengkung siku

C.

Analisa Kesalahan
Adapun kesalahan yang mungkin terjadi selama praktikum adalah kesalahan praktikan.

1. Kesalahan pembacaan stopwatch


2. Kesalahan pembacaan dial reading
3. Kesalahan pembulatan angka kalkulasi
4. Kesalahan memasukkan angka saat kalkulasi
Selain itu, kesalahan paralaks mungkin dapat terjadi saat pembacaan manometer dan
pembacaan volume air pada gelas ukur.

7.7

Kesimpulan
a)

Didapatkan koefisien kehilangan energi sebagai berikut:


Fittings
Mitre
Enlargement
Contraction
Long Bend

K
1.4366
3.39
1.58
1.34

Short Bend
Lengkung 45

0.82
1.49

Siku
Variasi Tekanan

0.94
74.1

b)

k enlargement > k contraction

c)

k long bend > k short bend

d)

k lengkung siku > k lengkung 450

e)

Terbentuk aliran sekunder saat adanya kontraksi pipa dan pada lengkungan
pipa yang menyebabkan terbuangnya energi aliran fluida.

7.4 Daftar pustaka

http://iitg.vlab.co.in/?sub=62&brch=176&sim=1635&cnt=1 diakses pada 15


Desember 2015 pukul 11.16 WIB

http://udel.edu/~inamdar/EGTE215/Minor_loss.pdf diakses pada 15 Desember 2015


puku 11.21WIB

http://fluid.itcmp.pwr.wroc.pl/~znmp/dydaktyka/fundam_FM/Lecture11_12.pdf
diakses pada 15 Desember 2015 puku 11.21 WIB

http://www.britannica.com/science/turbulent-flow diakses pada 15 Desember 2015


pukuL 11.32 WIB

7.9

Lampiran

Kondisi pompa
saat aliran 5 LPM

Kondisi pompa
saat aliran 10 LPM

Kondisi
manometer saat
aliran 5 LPM

Kondisi
manometer saat
aliran 10 LPM

Proses pengambilan air


guna menghitung debit
saat aliran 5 LPM

Kondisi saat aliran awal


diberi tekanan 0.25 psi

Tabel Nominal K (koefisien kehilangan energi)

Kondisi keluarnya air dari


pipa pembuangan saat
diberi tekanan 0.25 psi