Anda di halaman 1dari 5

REFLEKSI KASUS

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Mengikuti Kepanitraan Klinik Bagian Stase Ilmu Kedokteran Forensik
Di RSUP dr. Sarjidto

Diajukan Kepada Yth :


dr. RA. Kusparwati Ika Pristianti, Sp.F

Disusun Oleh :
Pagela Pascarella.R. / 2010310166
Virtia Novita Sari / 20100310191
Risca Nurfitriani / 20100310225

BAGIAN STASE ILMU KEDOKTERAN FORENSIK


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RSUP SARJIDTO
2016

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

REFLEKSI KASUS
1. Pengalaman
Seorang perempuan berusia 24 tahun, menikah, dengan anak satu datang ke IGD
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta bersama kakak kandungnya pada tanggal 27
januari 2016 pukul 03.00 WIB dengan keluhan mual, pusing, dan pandangan kabur.
Menurut keterangan dari kakak pasien, pasien adalah seorang ibu dengan satu anak yang
tidak bermasalah dan jarang bertengkar dengan suami. Namun, sekitar satu minggu
terakhir ini, pasien mengeluh sering adu mulut dengan suaminya. Adu mulut tersebut
disinyalir karena suami tidak suka dengan tindakan istri yang selalu pulang diantar oleh
atasan laki-laki di kantornya. Pasien mengaku bahwa akhir-akhir ini memang sering
diantar atasan laki-lakinya karena banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan
bersama dan pulang larut malam. Malam itu, pukul dua belas malam, pasien pulang dari
kantor, setiba di rumah, tiba-tiba orang yang dikenal pasien yaitu suami pasien memukul
pasien dengan tangan kosong yaitu tangan kanan sebanyak 1 kali pada daerah dahi sisi
kiri. Suami pasien tidak menggunakan perhiasan seperti cincin. Saat kejadian pasien tidak
melakukan perlawanan. Sebelum terjadi pemukulan, suami memaki-maki pasien dan
kemudian terjadi adu mulut antara pasien dan sang suami yang berujung pada
pemukulan. Pelaku kemudian pergi dari rumah. Setelah itu, pasien merasakan mual-mual,
pusing, dan pandangan kabur tapi tidak terdapat muntah atau pun pingsan. Pasien
kemudian menghubungi kakak kandung laki-lakinya dan bercerita tentang kejadian yang
baru dialami. Pasien segera dilarikan ke rumah sakit oleh kakak kandung laki-lakinya
sementara anggota keluarga yang lain melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi.
Selama pemeriksaan, kondisi mental pasien stabil dan terkendali. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan pada dahi sisi kiri 3cm dari garis pertengahan depan (gpd) dan 3cm dari sudut
luar alis mata kiri terdapat luka memar berwarna merah kebiruan, berbentuk bulat, tepi
tidak teratur, dan tidak terdapat luka lecet. Luka disebabkan oleh kekerasan tumpul dan
tidak menimbulkan halangan dalam bekerja sehingga masuk dalam kategori luka derajat
ringan.

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

2. Masalah yang di kaji


Dasar hukum apa yang bisa di kenakan pada pelaku dalam kasus tersebut?

3. Analisis
Pada kasus tersebut dapat dikenakan undang-undang RI no. 23 tahun 2004 tentang
penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (UU PKDRT). Menurut undang-undang
tersebut KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis,
dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah
tangga.
Ruang lingkup rumah tangga meliputi;
a. Suami, istri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri),
b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana
dimaksud huruf a karena hubungan darah, perkawinan (mertua, menantu, ipar,
besan), persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah
tangga; dan/atau
c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetapkan dalam rumah
tangga tersebut.
Pada BAB III tentang larangan kekerasan dalam rumah tangga dalam undang undang
KDRT berbunyi :
Pasal 5 :
Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang
dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara :
a. kekerasan fisik;
b. kekerasan psikis;
c. kekerasan seksual; atau
d. penelantaran rumah tangga.
Pasal 6 :

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan


yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
Pada BAB VIII tentang ketentuan pidana
Pasal 44
1. Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah
tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.
15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).
2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00
(tiga puluh juta rupiah).
3. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan
matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun atau denda paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta
rupiah).
4. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau
kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat)
bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).

4.

Kesimpulan
Pada kasus tersebut adalah kasus KDRT, sesuai dengan pasal 5 dan 6
undang undang KDRT dengan ketentuan pidana penjara 5 tahun atau
denda paling banyak 15 juta seperti tertera pada pasal 44 undang-undang
KDRT tahun 2004.

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

5.

Dokumentasi
Nama : Nabila
Jenis Kelamin: Perempuan
Umur : Dua puluh lima tahun
Status : Menikah dengan satu anak
Alamat: Gedongkiwo nomor satu, Yogyakarta
Nomor Rekam Medis : 19-09-09
Agama : Islam

6.

Referensi
Kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang republik Indonesia. No. 23.
2004
Idries, AM. Legowo, A. 2008. Penerapan ilmu kedokteran forensic dalam proses
penyidikan. CV. Sagung Seto. Jakarta.

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK