Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Seperti diketahui oleh masyarakat bahwa setiap pasien yang akan menjalani
tindakan invasif, seperti tindakan bedah akan menjalani prosedur anetesi. Anestesi
sendiri secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika
melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit
pada tubuh. Anestesi umum (general anestesi) atau bius total disebut juga dengan
nama narkose umum (NU). Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara sentral
disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible.
Fibroadenoma mammae (FAM) merupakan tumor jinak pada payudara yang
paling umum ditemukan. FAM terbentuk dari sel-sel epitel dan jaringan ikat, dimana
komponen epitelnya menunjukkan tanda-tanda aberasi yang sama dengan komponen
epitel normal. Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Namum
diperkirakan berkaitan dengan aktivitas ovarium dimulai dan terjadi terutama pada
remaja muda.
Fibroadenoma mammae (FAM) umumnya terjadi pada wanita muda, terutama
dengan usia dibawah 30 tahun dan relatif jarang ditemukan pada payudara wanita
post menopause. Tumor ini dapat tumbuh diseluruh bagian payudara, namun tesering
pada quadranatas lateral. Penyakit ini bersifat asimptomatik atau hanya menunjukkan
gejala ringan berupa benjolan pada payudara yang dapat digerakkan, sehingga pada
1

beberapa kasus, penyakit ini terdeteksi secara tidak sengaja melalui pemeriksaan
fisik. Penanganan FAM ini adalah melalui pembedahan pengangkatan tumor yang
menggunakan anestesi umum untuk menghilangkan rasa sakit pada saat operasi
berlangsung.

BAB II
STATUS PASIEN DAN FOLLOW UP

A. IDENTITAS
1. Nama
: RT
2. Jenis kelamin
: Perempuan
3. Umur
: 15 tahun
4. Agama
: Islam
5. Alamat
: Dusun Simpang Raya, Kampar Utara
6. Tanggal masuk RS
: 20 September 2015
7. No. RM
: 12-07-29
8. Tinggi badan
: 150 cm
9. Berat badan
: 30 kg
B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan penderita pada hari Senin, Tanggal 21

September 2015 Pukul 07.00 WIB


Keluhan utama : Ada benjolan di payudara kiri
Riwayat Penyakit Sekarang :
Kurang lebih 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita baru
menyadari adanya benjolan pada payudara kiri. Benjolan mudah
digerakkan, kenyal, tidak terasa sakit dan panas, dan tidak terasa
menusuk-nusuk. Benjolan awalnya kecil dan membesar dengan cepat
dengan diameter 2 cm. kemudian penderita memeriksakan diri ke
dokter dan dokter menyarankan untuk dilakukan operasi. Siklus haid

treratur tiap bulan kurang lebih satu minggu.


Riwayat Penyakit Dahulu :
Penderita menyangkal ada riwayat penyakit dengan keluhan batuk
lama, riwayat penyakit diabetes mellitus, penyakit tekanan darah

tinggi, dan tidak ada alergi terhadap makanan dan obat-obatan tertentu.
Riwayat Penyakit Keluarga :
3

Penderita menyangkal ada anggota keluarga yang menderita kencing


manis, darah tinggi, asma, penyakit jantung, batuk-batuk lama dan

alergi.
Riwayat obat yang digunakan :
Tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya.
Riwayat Anestesi Dan Operasi :
Penderita tidak pernah dioperasi dan dianestesi sebelumnya.

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum
Keadaan sakit
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis (GCS : E4M5V6)
Keadaan Psikis : Tidak Tampak Gelisah, Takut Maupun Kesakitan
Berat badan
: 30 kg
b. Tanda Vital
Tekanan darah
: 100/80 mmHg
Respirasi
: 18x/menit
Nadi
: 80x/menit
Suhu
: 37oC
c. Status Generalisata
Kepala
: Normochepal, simestris, tanda trauma (-),tumor (-)
Mata
: Status lokalis
Telinga
: Discharge (-), deformitas (-)
Hidung
: Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)
Mulut
: Bibir kering(-), hiperemis(-), pembesaran tonsil (-)
Gigi
: Gigi palsu (-), gigi goyang (-)
Leher
:
Inspeksi
: Simetris, trakea ditengah
Palpasi
: Pembesaran tiroid dan limfe (-)
Thorax
:

Pulmo : vesikuler (+/+) normal, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

Cor
: BJ I-II reguler, bising (-)
Abdomen
:

Inspeksi
: Perut datar, tidak ada bekas luka

Auskultai
: Bunyi usus + normal

Perkusi
: Timpani
Palpasi
: abdomen supel, Tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa

Vertebrae
: Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Tidak ada kelainan
d. Status Lokalis (Regio Mammae Sinistra)
Inspeksi
:Tampak benjolan di Payudara kiri tetapi tidak ada
kemerahan. Discharge (-), Nipple inverted (-), Peau
Palpasi

dOrange (-)
:Pada saat diraba benjolan di payudara kiri menetap,
permukaan licin,

mobile (+), teraba lunak, ukuran

diameter 2 cm, tidak tampak menonjol, dan nyeri


tekan (-).
Auskultasi thorak : SD : vesikuler (+/+) normal
ST : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Cor : BJ I-II reguler, bising (-)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal
: 24 Agustus 2015
Pemeriksaan Darah Lengkap
Hemoglobin
: 14,2 gr/dr
Leukosit
: 9000 ul
Hematokritt
: 40,4%
Eritrosit
: Trombosit
: 280000/ul
LED
:8
Eosinofil
:2
Basofil
:0
Neutrofil Stab : 3
Neutrofil Seg
: 53
Limfosit
: 34
Monosit
:8
Pemeriksaan Hemostasis
Masa pembekuan (CT)
Masa pendarahan (BT)

: 7 menit
: 2 menit

E. DIAGNOSIS KLINIS
Diagnosis Praoperasi
Diagnosis Postoperasi

: FAM Sinistra
: Post Operasi eksisi FAM Sinistra

F. STATUS ANESTESI
ASA I
: Pasien sehat organik fisiologik, psikiatrik, biokimia.
G. TINDAKAN
Dilakukan
: Mastectomy Simple FAM Sinistra
Jenis anestesi
: Anestesi Umum
Tanggal
: 21 September 2015

H. LAPORAN ANESTESI PREOPERATIF


Informed Consent
: Ada
Surat izin operasi
: Ada
Puasa
: Pasien puasa sejak 00.00 WIB
Pemasangan IVLine : Sudah terpasang
Dilakukan pemasangan monitor tekanan darah, nadi dan saturasi O2
Pemeriksaan pasien diruangan operasi:
Tekanan darah
: 100/80 mmHg
Nadi
: 83x/menit
Suhu
: 37 0C
Pernapasan
: 18x/menit
I.

LAPORAN ANESTESI
Teknik anestesi
Ekstubasi
Mulai induksi
Obat induksi

: General Anestesi
: Oro- Pharyngeal Airway (OPA)
: 09.30 wib
: Sedacum IV 10 mg, Fentanyl IV 0,25 mg,

propofol IV 1 amp.
Premedikasi :
Dexamethason IV 4 mg
Medikasi Intra Operatif:
Ketamin IV 10 mg
Propofol 100 mg
Fentanyl 0,1 mg
N2O inhalasi isofluren 2L/menit dengan O2 3L/menit
Medikasi Post Operatif:
Tramadol 200 mg
Ketorolac 30 mg
J. PENGUASAAN JALAN NAFAS

- Persiapan intubasi
- STATICS
- Pipa trakea > 5 tahun (dengan cuffed)
- Face mask
K. PANTAUAN INTRA OPERATIF
Waktu
09.30
09.45
10.00
10.15

Tekanan Darah
110/83 mmHg
100/70 mmHg
122/70 mmHg
115/78 mmHg

Saturasi O2
100%
100%
100%
100%

L. LAPORAN ANESTESI POST OPERATIF


Pasien Sadar : 10.45 WIB
Alderere Score : 10
a. Pergerakan
:gerak bertujuan
Gerak tak bertujuan
Tidak bergerak
b. Pernafasan
:teratur, batuk, menangis
Depresi
Perlu bantuan
c. Warna kulit
:merah muda
Pucat
Sianosis
d. Tekanan darah
:berubah sekitar 20%
Berubah 20-30%
Berubah >50%
e. Kesadaran
:sadar penuh
Bereaksi terhadap rangsangan
Tidak bereaksi
Pasien diantar keruangan : 11.00 WIB
Terapi cairan post operatif : Analgetik drip 20 tpm ( Tramadol

Nadi
83x/menit
78x/menit
80x/menit
84x/menit

2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
100mg dan

ketorolac 30 mg dalam futrolit 500cc)


Saturasi oksigen post operatif : 100%
M. PROGNOSIS
Quo ad vitam
: bonam
Quo ad functionam : bonam

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Pre Operatif
Tindakan Mastectomy Simple FAM sinistra pada pasien ini termasuk kedalam
operasi elektif, walaupun begitu persiapan anestesi dan pembedahan harus selengkap
mungkin karena dalam pemberian anestesi dan operasi selalu ada risiko. Persiapan
yang dilakukan meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien serta pesiapan
obat anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan pasien diantaranya adalah :
8

Informasi penyakit
Anamnesis/heteroanamnesis penyakit
Riwayat alergi, hipertensi, diabetes mellitus, operasi sebelumnya, asma,

komplikasi transfuse darah (apabila pernah mendapatkan transfuse)


Riwayat keluarga (penyakit dan komplikasi anestesi)
Makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau

muntah pada saat anestesi)


Persiapan anestesi yang tidak kalah penting yaitu informed consent, suatu
persetujuan medis untuk mendapatkan izin dari pasien sendiri dan keluarga
pasien untuk melakukan tindakan anestesi dan operasi, sebelumnya pasien dan
keluarga pasien diberikan penjelasan mengenai risiko yang mungkin terjadi
selama operasi dan post operasi.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan anamnesis pada pasien, maka pasien

termasuk dalam klasifikasi ASA I.


Salah satu komplikasi anestesi umum adalah menggigil,

gelisah setelah

anestesi, mimpi buruk, kenaikan suhu, sadar selama operasi. Untuk menenangkan
pasien pada saat operasi seringkali diberikan obat-obatan sedatif pada pasien. Obat
yang sering digunakan seperti midazolam 2 mg sebagai obat premedikasinya.
III.2 Intra Operatif
Tindakan pemilihan jenis anestesi pada pasien operasi diperlukan beberapa
pertimbangan. Teknik anestesi disesuaikan dengan keadaan umum pasien, jenis dan
lamanya pembedahan dan bidang kedaruratan. Metode anestesi yang dipilih
sebaiknya memiliki seminimal mungkin komplikasi pada pasien. Pada pasien ini

digunakan teknik anestesi umum dengan induksi intravena, yaitu pemberian obat
anestesi dengan menyuntikkan obat anestesi melalui intravena.
Operasi dilakukan pada tanggal 21 september 2015 pukul 09.38 wib
sedangkan anestesi dimulai pukul 09.30 di RSUD BANGKINANG dengan
memberikan obat premedikasi dexametason iv 4 mg, selanjutnya obat medikasi
ketamin iv 10 mg, propofol 100 mg, fentanyl o,1 mg. serta diberikan inhalasi berupa
N2O inhalasi Isofluren 2L/menit dengan O2 3L/menit. Anestesi dilakukan secara
umum sesuai dengan suntikan secara intravena dan inhalasi sesuai indikasinya.
Mastectomy Simple FAM merupakan operasi sedang dengan risiko perdarahan
minimum.
Ketorolac 30 mg secara intravena diberikan sesaat sebelum operasi selesai.
Ketorolac adalah golongan NSAID (Non Streroidal Anti-Inflamatory Drug) yang
bekerja menghambat prostaglandin. Ketorolac diberikan untuk mengatasi nyeri akut
jangka pendek post operasi, dengan durasi kerja 6-8 jam.
Pada pasien ini diberikan cairan infuse RL (Ringer Laktat) sebagai cairan
fisiologis untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Pasien sudah tidak
makan dan minum 10 jam, maka kebutuhan cairan pada pasien dengan BB = 30 kg
adalah :
-

Pemberian cairan basal (BB=30 kg)


4 x 10kg = 40
2 x 10kg = 20
1 x 10kg = 10
40 + 20+ 10 = 70 ml/jam

10

Kebutuhan cairan intra operasi (operasi sedang)


6 x 30kg = 180ml/jam
Kebutuhan cairan saat puasa dari pukul 24.00 09.30 (10 jam )
10 x 70ml/jam = 700ml/jam
Jumlah darah selama operasi
50cc x 3 = 150 ml
Jumlah terapi cairan
70+700+150=920 ml 2 kolf RL (kristaloid)

III.3 Post Operatif


Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang UPPA (unit perawatan pasca
anestesi). Pasien berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi. Observasi post operasi
dilakukan selama 1 jam dan dilakuakn pemantauan vital sign (tekanan darah, nadi,
suhu dan pernafasan) dan oksigen tetap diberikan2-3 liter/menit.

11

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
IV.1 Anestesi Umum1,2
Anestesi umum (general anestesi) atau bius total disebut juga dengan nama
narkose umum (NU). Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Anestesi umum biasanya dimanfaatkan
untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu
pengerjaan lebih panjang, misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu
empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lain-lain.
IV.1.1 Tahapan Tindakan Anestesi Umum1,2
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang
sebab-sebab terjadinya kecelakaan anestesi. Sebelum pasien dibedah sebaiknya
dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah
pasien dalam keadaan bugar. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk
mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan.
A. Penilaian Pra Bedah
1. Anamnesis
12

Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi sebelumnya


sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu mendapat
perhatian khusus, misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak
nafas pasca bedah, sehingga dapat dirancang anesthesia berikutnya dengan lebih baik.
Beberapa peneliti menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah dimasa
lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya Halotan jangan digunakan ulang
dalam waktu tiga bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjanganjuga
jangan diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relative besar sangat
penting untuk diketahui apakah menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher
pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu tidak boleh
dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua system organ tubuh
pasien.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
darah kecil (Hb, leukosit, masa perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada
usia pasien diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.
4. Kebugaran untuk anestesi

13

Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan agar
pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak
perlu harus dihindari.
5. Klasifikasi Status Fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang
ialah yang berasal dari the American Society of Anestesiologys (ASA). Klasifikasi
fisik ini bukan alat prakiraan risiko anestesi karena dampak anastesi tidak dapat
dipisahkan dari efek samping pembedahan.
Kelas I

: pasien sehat organic fisiologik psikiatrik dan biokimia

kelas II

: pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang

Kelas III

: pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktifitas rutin


terbatas

Kelas IV

: pasien denga penyakit sistemik berat, tidak dapat melakukan


aktifitas

rutin

dan

penyakitnya

merupakan

ancaman

kehidupannya setiap saat.


Kelas V

: pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa


pembedahan hidupnya tidak lebih dari 24 jam.

Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E


6. Masukan oral
Reflek laring mengalami penurunan selama anastesi. Regurgitasi isi lambung
dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama. pada pasien
yang menjalani anastesi. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang
14

dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anastesi harus dipantangkan dari masukan
oral atau puasa selama periode tertentu sebelum induksi anastesi.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan bayi 3-4
jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anastesi. Minuman
bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih
dalam jumlah terbatas boleh satu jam sebelum induksi anastesi.
7. Pre medikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anastesi dengan
tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anastesi, diantaranya :
a. Meredakan kecemasan dan ketakutan
-

Kunjungan pre anestesi

Pengertian masalah yang dihadapi

Keyakinan akan keberhasilan operasi

b. Memperlancar induksi anastesi


-

Pemberian hipnotik sedative atau narkotik

c. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan lambung


-

Pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, H2 antagonis

d. Meminimalkan jumlah obat anastetik


-

Pemberian hypnotic sedative atau narkotik

e. Mengurangi mual muntah pasca bedah


f. Menciptakan amnesia
g. Mengurangi reflex yang membahayakan
15

h. Mengurangi rasa sakit


IV.1.2. Waktu dan cara pemberian premedical1,2,4
Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam 1 jam, secara
intramuscular minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat
dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara
intravena. Obat akan sangat efektif sebelum induksi. Bila pembedahan belum dimulai
dalam waktu 1 jam dianjurkan semua obat premedikasi bila diberikan secara
intravena dapat menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini
dapat menyebabkan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan :
a. Analgesik narkotik
-

Petidin (amp 2cc=100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB

Morfin (amp 2cc=10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB

Fentanyl (fl 10cc= 500mg), dosis 1-3 gr/kgBB

b. Analgesik non narkotik


-

Ponstan

Tramol

Toradon

c. Hipnotik
-

Ketamin (fl 10cc= 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB

Pentotal (amp 1 cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB

d. Sedatif
16

Diazepam/valium/stesolid (amp 2cc= 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB

Midazolam/domicum (amp 5cc/3cc=15 mg), dosis 0,1 mg/kgBB

Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc= 200mg), dosis 2,5 mg/kgBB

Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 kgBB

e. Anti emetic
-

Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg), dosis 0,001
mg/kgBB

DBP

Narfoz, rantin, primperan

IV.1.3. INDUKSI ANESTESI 2


Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat
dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur
akibat induksi anestesi langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesi sampai
tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS :
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Laringoscope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia
pasien. Lampu harus cukup terang.

17

T: Tube Pipa trakea pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed)
dan >5 tahun dengan balon (cuffed).
A: Airway Pipa mulut faring (guedel, orotracheal airway) atau pipa hidungfaring (nas0-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat
pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat
jalan nafas.
T: Tape plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I : Introducer Mandrinmandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic
(kabel) yang mudah dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa
trakea mudah dimasukkan.
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anastesi
S : Suction penyedot lender, ludah dan lain-lainnya.

IV.1.4. STADIUM ANESTESI3,4

18

Tahapan dalam anestesi terdiri 4 stadium yaitu stadium pertama berupa


analgesia sampai kehilangan kesadaran, stadium 2 sampai resoirasi teratur, stadium 3
dan stadium 4 sampai henti nafas dan henti jantung.
a. Stadium I
Stadium I (St. analgesia/ St. Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian
zat anestetik sampai hilangnya kesadaran pada stadium ini pasien masih
dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).
Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsy kelenjar,
dapat dilakukan pada stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya
reflex bulu mata (untuk mengecek reflex tersebut bisa kita raba bulu
mata).
b. Stadium II
Stadium II (St. Eksitasi; St. Delirium) mulai dari akhir stadium I dan
ditandai dengan pernafasan yang irregular, pupil melebar dengan reflek
cahaya (+), pergerakan bola mata tidak teratur, lakrimasi(+), tonus otot
meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflex menelan dan kelopak mata.
c. Stadium III
Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernafasan hingga
hilangnya pernapasan spontan. Stadium ini ditandai oleh hilangnya
pernafasan spontan, hilangnya reflex kelopak mata dan dapat digerakkan
nya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah.
d. Stadium IV
19

Ditandai dengan kegagalan pernafasan (apnea) yang kemudian akan


segera diikuti kegagalan sirkulasi/henti jantung dan akhirnya pasien
meninggal. Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena berarti
terjadi kedalaman anestesi yang berlebihan.
IV.1.5 TEKNIK ANESTESI UMUM2
1. Sungkup muka (face mask) dengan nafas spontan
Indikasi :
-

Tindakan singkat (1/2 -1 jam)

Keadaan umum baik (ASAI-II)

Lambung harus kosong


Prosedur :

Siapkan peralatan dan alat anestetik

Pasang infuse (untuk memasukkan obat anestetik)

Premedikasi +/- (apabila pasien tidak tenang bisa diberikan obat


penenang) efek sedasi/anti-anxiety : benzodiazepine; analgesia: opioid,
non opioid, dll.

Induksi

Pemeliharaan

2. Intubasi Endotracheal Dengan Nafas Spontan


Intubasi endotrachea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET:
endotrakeal tube) kedalam trakea via oral atau nasal. Indikasi : operasi lama,
sulit mempertahankan airway (operasi dibagian leher dan kepala).
20

Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil
dengan durasi singkat).
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan
Teknik Intubasi
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira-kira 1 menit
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong
kepala sedikit ekstensimulut membuka.
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan , sedikit
demi sedikit , menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri.
6. Cari epiglottis tempatkan bilah didepan epiglottis (pada bilah
bengkok) atau angkat epiglottis (pada bilah lurus).
7. Cari rima glottis (dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dari luar)
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9. Masukkan ET melalui rima glottis
10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas
(alat resusitasi).
Klasifikasi Mallampati :

21

Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi mallampati :

3.

Intubasi Endotracheal Dengan Nafas Kendali (kontrol)


Pasien sengaja dilumpuhkan atau benar-benar tidak bisa bernafas dan pasien

dikontrol pernafasannya dengan kita memberikan ventilasi 12-20x permenit. Setelah


operasi selesai pasien dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan kemudian kita akhiri
efek anestesinya.

4.

Teknik sama dengan diatas

Obat relaksasi otot non depolar (durasinya lama)

Pemeliharaan, obat relaksasi dapat diulang pemberiannya

Induksi Intravena
Paling banyak dilakukan. Induksi intravena dikerjakan dengan hati-hati,
perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikkan dalam
kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernafasan pasien, nadi dan

22

tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan oksigen. Dilakukan pada pasien
kooperatif.
Obat-obat induksi intravena :
A.

Tiopental ( pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 100 mg


Sebelum digunakan dilarutkan dalam aquades steril sampai kepekatan 2,5% (1ml
= 25mg). hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikkan
perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.
Bergantung pada dosis dan kecepatan suntikan thiopental akan menyebabkan
pasien berada dalam keadaan sedasi, hypnosis, anesthesia atau depresi nafas.
Thiopental menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intracranial ddan
diduga dapat melindungi otak akibat kekurangan O2. Dosis rendah bersifat anti
analgesi.

B.

Propofol (diprivan, recofol)


Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic
dengan kepekatan 1% (1ml = 10 mg). suntikan intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2mg/kg intravena.
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anesthesia intravena
total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg.
pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5% tidak dianjurkan untuk anak <3tahun
dan pada wanita hamil.

C.

Ketamin (ketalar)

23

Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi,


nyeri kepala, pasca anestesi dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur dan
mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya diberikan sedasi midazolam (dormikum)
atau diazepam (valium) dengan dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi
salvias diberikan sulfas atropine 0,001 mg/kg.
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg. ketamin dikemas
dalam cairan bening kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1ml= 50 mg), 10% (1ml =
100mg).
D. Opioid (Morfin, petidin, fentanyl, sulfentanyl)
Diberikan dosis tinggi. Tidak mengganggu kardiovaskular, sehingga banyak
digunakan untuk induksi pasien dengan kelinan jantung. Untuk anestesi opioid
digunakan fentanyl dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.
5.

Induksi Intramuscular

Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara


intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
6. Induksi Inhalasi
Induksi inhalasi hanya dikerjakan denganhalotan (fluotan) atau sevofluran.
-

Induksi halotan memerlukan gas pendorong O2 atau campuran N 2O dan


O2

Induksi dengan sevofluren lebih disenangi karena pasien jarang batuk.

24

Induksi dengan enfluren (etran), isofluren (foran, aeran) atau desfluren


jarang dilakukan, karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi
lama.

7.

Induksi per rektal


Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.

IV.1.6. MEKANISME KERJA3,4,5


1. Anestesi inhalasi
Anestesi inhalasi bekerja secara spontan menekan dan membangkitkan
aktivitas neuron berbagai area didalam otak. Sebagai anestesi inhalasi
digunakan gas dan cairan terbang yang masing-masing sangat berbeda dalam
kecepatan induksi, aktivitas, sifat melemaskan otot maupun menghilangkan
rasa sakit. Untuk mendapatkan reaksi yang secepat-cepatnya, obat ini pada
permulaan harus diberikan dalam dosis tinggi, yang kemudian diturunkan
sampai hanya sekedar memelihara keseimbangan antara pemberian dan
pengeluaran. Keuntungan anestesi inhalasi dibandingkan dengan anestesi
intravena adalah kemungkinan untuk dapat lebih cepat mengubah kedalaman
anestesi dengan mengurangi konsentrasi dari gas / uap yang diinhalasi.
2. Anestesi intravena
Obat-obat intravena seperti thiopental, etomidate, dan propofol mempunyai
mula kerja anestesi yang lebih cepat dibandingkan terhadap senyawa gas inhalasi
yang terbaru, misalnya desflurane dan sevoflurane. Senyawa intravena ini umumnya

25

digunakan untuk induksi anestesi. Kecepatan pemulihan pada sebagian besar senyawa
intravena juga sangat cepat.
Farmakokinetika
Dalamnya anestesi ditentukan oleh konsentrasi anestesi didalam susunan saraf
pusat. Kecepatan pada konsentrasi otak yang efektif (kecepatan induksi anestesi)
bergantung pada banyaknya farmakokinetik yang mempengaruhi ambilan dan
penyebaran anestesi. Faktor tersebut menentukan perbedaan kecepatan transfer
anestesi inhalasi dari paru kedalam darah serta dari darah ke otak dan jaringan
lainnya. Faktor-faktor tersebut juga turut mempengaruhi masa pemulihan anestesi
setelah anestesi dihentikan.
Dipengaruhi/ tekanan parsial zat anestetik dalam otak. Faktor penentu tekanan
parsial :
1. Tekanan parsial anestetik gas yang diinspirasi

Untuk mempercepat induksi : kadar gas yang diinspirasi harus lebih


tinggi daripada tekanan parsial yang diharapkan dijaringan.

Setelah tercapai, diturunkan untuk pertahankan anetesi.

2. Ventilasi paru

Hiperventilasi dapat percepat masuknya gas anestetik ke sirkulasi dan jaringan.

Zat larut dalam darah : halothan


3. Pemindahan gas anestetik

26

Membrane alveoli mudah dilewati gas anestetik secara difusi dari alveoli
ke aliran darah

4. Pemindahan gas anestetik dari aliran darah ke sel jaringan tubuh

Jaringan yang mempunyai aliran darah cepat, keseimbangan tekanan


parsial lebih mudah tercapai sehingga anestetik gas lebih mudah
berpindah.

Farmakodinamika3
Anestesi inhalasi bekerja secara spontan menekan dan membangkitkan
aktivitas neuron berbagai area didalam otak. Untuk mendapatkan reaksi yang secepatcepatnya, obat ini pada permulaan harus diberikan dalam dosis tinggi. Senyawa
intravena umumnya digunakan untuk induksi anestesi. Kecepatan pemulihan pada
sebagian besar senyawa intravena juga sangat cepat.
IV.1.7. RUMATAN ANESTESI2
Rumatan anestesi adalah menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan cara
mengatur konsentrasi obat anestesi didalam tubuh pasien. Jika konsentrasi obat tinggi
maka akan dihasilkan anestesi yang dalam, sebaliknya jika konsentrasi obat rendah
maka akan didapat anestesi yang dangkal. Anestesi yang ideal adalah anestesi yang
adekuat. Untuk itu diperlukan pemantauan secara ketat terhadap indicator-indikator
kedalaman anestesi.
Rumatan intravena dengan menggunakan opioid dosis tinggi fentanyl 10-50
g/kgBB. Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N20 dan O2 3:1

27

ditambah halotan 0,5-2 vol % atau enfluran 204 vol% atau isofluran 2-4% tergantung
pernafasan pasien spontan, dibantu atau dikendalikan.
IV.1.8. INDIKASI ANETESI UMUM2,5

Pasien tidak kooperatif, seperti anak-anak

Dewasa yang memilih anestesi umum

Pembedahan yang luas pembedahan yang lama

Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis tau tidaka memuaskan

Alergi obat anestesi lokal

Penderita dengan pengobatan antikoagulantia

IV.1.9. KONTRAINDIKASI ANESTESI UMUM2,5


Tergantung efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan (harus
dihindari pemakaian obat atau dosis diturunkan).

Hepar : obat hepatotoksik

Paru : oobat yang merangsang sekresi paru/bronkus

Jantung : obat yang mendepresi miokard/menurunkan aliran darah


koroner

Ginjal : obat yang disekresi di ginjal

Endokrin : hindari obat yang dapat meningkatkan kadar gula dalam


darah/hindarkan pemakaian obat yang merangsang susunan saraf
simpatis pada diabetes, karena bisa menyebabkan peninggian darah.

28

IV.1.10. Komplikasi Anestesi Umum


Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi sendiri atau kondisi
pasien. Penyulit dapat timbul pada waktu pembedahan, atau kemudian segera ataupun
belakang setelah pembedahan ( lebih dari 12 jam).
a. Komplikasi kardiovaskular

Hipotensi : tekanan sistolik kurang dari 70 mmHg dan kurang 25%


dari sebelumnya.

Hipertensi : umumnya tekanan darah dapat meningkat pada periode


induksi dan pemulihan anestesi. Komplikasi ini dapat membahayakan
pkhususnya pada penyakit jantung. Karena jantung akan bekerja keras
dengan kebutuhan o2 miokard yang meningkat, bila tak tercukupi
dapat timbul iskemia atau imfark miokard. Namun bila hipertensi
karena tidak adekuat dapat dihilangkan dengan menambah dosis
anestetika.

Aritmia jantung : anestesi ringan yang disertai maniplasi operasi dapat


merangsang saraf simpatis, dapat menyebabkan aritmia, bradikardi
yang terjadi dapat diobati dengan atropine.

Payah jantung : mungkin terjadi bila pasien mendapat cairan IV


berlebihan.

b. Komplikasi respirasi

Obstruksi jalan nafas

29

Batuk

Cekukan

Intubasi endotracheal

Apnoe

Atelektasis

Pneumothorak

Muntah dan regurgitasi

c. Komplikasi mata

Laserasi kornea, menekan bola mata terlalu kuat

d. Komplikasi neurologi

Konvulsi, terlambat sadar, cedera saraf tepi

e. Perubahan cairan tubuh

Hipovolemi, hipervolemi

f. Komplikasi lain-lain

Menggigil, gelisah setelah anestesi, mimpi buruk, sadar selama


operasi, kenaikan suhu tubuh.

IV.2. FIBROADENOMA MAMMAE


IV.2.1 Definisi6

30

Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat


pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah menopause. Fibroadenoma adalah
kelainan pada perkembangan payudara normal dimana ada pertumbuhan berlebih dan
tidak normal pada jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih dari sel-sel yang
melapisi saluran air susu di payudara.
Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mammaE yang paling banyak
ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling banyak ditemukan pada
kelompok umur muda.

IV.2.2 Epidemiologi6
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak pada payudara yang lebih sering
didiagnosa pada wanita muda. Fibroadenoma dilaporkan terjadi pada lebih dari 9%
penduduk wanita. Fibroadenoma sangat dipengaruhi oleh hormon dan bervariasi
selama siklus menstruasi dan masa kehamilan.
Berdasarkan laporan dari NSW

Breast Cancer Institute, fibroadenoma

umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada
usia di atas 50 tahun.3 Belum ada data yang pasti mengenai insiden fibroadenoma
pada populasi umum. Dalam suatu studi disebutkan bahwa angka kejadian
fibroadenoma pada wanita yang menjalani pemeriksaan di klinik payudara sekitar
7%-13% sementara itu pada studi yang lain didapatkan 9% dari otopsi. Fibroadenoma
didapatkan dari 50% semua biopsi payudara dan hal ini meningkat mencapai 75%
pada biopsi payudara wanita yang berumur < 20 tahun).
31

IV.2.3 ETIOLOGI7
penyebab pasti Fibroadenoma mammae tidak diketahui. Namun, terdapat
beberapa faktor yang dikaitkan dengan penyakit ini, antara lain peningkatan mutlak
aktivitas estrogen yang diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Selain itu,
diperkirakan terdapat prekursor embrional yang dormant dikelenjar mammaria yang
dapat memicu pembentukan FAM yang akan berkembang mengikuti aktivitas
ovarorium.

IV.2.4 DIAGNOSA KLINIS6,7


A. Gambaran Klinis
Fibroadenoma mammae pada pembagian besar penderita tidak
menunjukkan gejala dan terdeteksi setelak dilakukan pemeriksaan fisik.
Pertumbuhan FAM relative lambat dan hanya menunjukkan sedikit perubahan
ukuran dan tekstur

dalam beberapa bulan. FAM memiliki gejala berupa

benjolan dengan permukaan yang licin dan merah. Biasanya FAM tidak nyeri,
tetapi kadang dirasakan nyeri bila ditekan.
B. Pemeriksaan Fisik
Secara klinis, fibroadenoma mammae biasanya bermanifestasisebagai
massa soliter, diskret, dan mudah digerakkan, selama tidak terbentuk jaringan
fibroblast disekitar jaringan payudara, dengan diameter kira-kira 1-3 cm,
tetapi tetapi ukurannya dapat bertambah sehingga membentuk modul dan
lobus. FAM dapat ditemukan diseluruh bagian payudara, tetapi lokasi

32

tersering adalah pada quadran lateral atas payudara. Tidak terlihat perubahan
kontur payudara. Penarikan kulit dan axillary adenopathy yang signifikan pun
tidak ditemukan.
SADARI (pemeriksaan payudara sendiri). Tujuan dari pemeriksaan
payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan pada
payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka
kematian. Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita
muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda agr
terbiasa melakukannya

dikala tua. Wanita premenopouse sebaiknya

melakukan SADARI setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya


selesai
C. Pemeriksaan Penunjang
Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada
payudara adalah mammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik yang terbaru
adalah menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) dan nuclear
skintigraf.

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Boulton TB, Blogg CE. 1994. Anestesiologi. Edisi 10. Jakarta: EGC
2. Latief SA, suryadi KA, Dachlan MR. 2009. Petunjuk anestesiologi: edisi kedua. Jakarta: bagian anestesiologi dan terapi intensif FK UI
3. Robyn Gymrek, MD. 2010. Regional anesthesia at www.emedicine.com
4. Desai,
A.
General
Consideration.
http://emedicine.medscape.com/article/1271543-overview#showall. Accesed
in june 24.2012
5. Mansjoer A, suprohaita, dkk. Ilmu Anestesi. Dalam : Kapita Selekta
Kedokteran FKUI. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius
6. Robidoux Marilyn A. Breast, Fibroadenoma. Available

from

http://emedicine.medscape.com/. Update only july 26, 2009


7. Syamsuhidajat, R., De Jong Wim. Dalam : Buku Ajar Ilmu Beda. Edisi 2.
Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2005. Hal. 388-393

34