Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

HEMOROID INTERNAL

Disusun Oleh :
Anindya Dwitiya Putri
1361050020

Pembimbing :
dr. Stanley K. Olivier, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN


INDONESIA

PERIODE 2 OKTOBER 2017 – 9 NOVEMBER 2017


BAB I

PENDAHULUAN

Hemorrhoid merupakan pelebaran dan inflamasi dari pleksus arteri-vena di

saluran anus yang berfungsi sebagai katup untuk mencegah inkomtinensia flatus

dan cairan. Hemorroid bukan penyakit yang fatal, tetapi sangat mengganggu

kehidupan. Tingginya prevalensi hemorroid disebabkan beberapa faktor antara

lain; kurangnya konsumsi makanan berserat, konstipasi, usia, keturunan,

kebiasaan duduk terlalu lama, peningkatan tekanan abdominal, pola buang air

besar yang salah, hubungan seks per anal, kurangnya intake cairan, kurang olah

raga dan kehamilan. Penanganan hemorroid dapat dilakukan secara non bedah

seperti modifikasi pola hidup (makanan dan kebiasaan buang air besar) maupun

pembedahan. Stapled hemorroidopexy merupakan suatu teknik pembedahan

minimal invasive dengan menggunakan alat stapling, dimana teknik ini

menghindari luka di bagian sensitif anal area dan mereduksi rasa sakit pasca

operasi. Oleh sebab itu, beberapa negara sudah menjadikan stapled

hemorroidopexy sebagai gold standart penanganan hemorroid.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Hemoroid

Hemoroid adalah jaringan normal yang terdapat pada semua orang, yang
terdiri atas pleksus arteri-vena, berfungsi sebagai katup di dalam saluran anus
untuk membantu sistem sfingter anus, mencegah inkontinensia flatus dan cairan.
Apabila hemoroid ini menyebabkan keluhan, barulah dilakukan tindakan.

Hemoroid dibedakan antara interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah


pleksus vena hemoroidalis superior diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh
mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskular di dalam jaringan
submukosa pada rektum sebelah bawah. Hemoroid sering dijumpai pada tiga
posisi primer yaitu, kanan depan, kanan belakang dan kiri lateral. Hemoroid yang
lebih kecil terdapat diantara ketiganya. Hemoroid eksterna yang merupakan
pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroidalis hemoroid inferior terdapat di
sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus.

2. Anatomi

Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi


ektoderm, sedangkan rektum berasal dari entoderm. Karena perbedaan asal anus
dan rektum ini, perdarahan, persarafan serta penyaliran vena dan limfnya berbeda
juga, demikian pula epitel yang menutupinya. Rektum dilapisi oleh mukosa
glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan
epitel berlapis gepeng kulit luar. Tidak ada yang disebut mukosa anus. Daerah
batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel. Kanalis
analis dan kulit luar di sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik dan peka
terhadap rangsangan nyeri. Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui
sistem porta, sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui
cabang vena iliaka. Sistem limf dari rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh
limf sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar limf paraaorta
melalui kelenjar limf iliaka interna, sedangkan limf yang berasal dari kanalis
analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.

Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya


mengarah ke ventrokranial yaitu ke arah umbilikus dan membentuk sudut yang
nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut
ini menjadi lebih besar. Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis
mukokutan, linea pektinata atau linea dentata. Di daerah ini terdapat kripta anus
dan muara kelenjar anus anatara kolumna rektum. Cincin sfingter anus melingkari
kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan sfingter ekstern.

a) Sistem Arteri

Arteri hemoroidalis superior merupakan kelanjutan langsung arteri


mesenterika inferior. Arteri ini membagi diri menjadi dua cabang utama, kiri dan
kanan. Cabang yang kanan bercabang lagi. Letak ketiga cabang terakhir ini
mungkin dapat menjelaskan letak hemoroid dalam yang khas yaitu dua buah di
setiap perempat sebelah kanan dan sebuah di seperempat lateral kiri.

Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan anterior arteri iliaka


interna, sedangkan arteri hemoroidalis inferior merupakan cabang arteri pudenda
interna. Anastomosis antara arkadae pembuluh inferior dan superior menjadi
sirkulasi kolateral yang mempunyai makna penting pada tindak bedah atau
sumbatan aterosklerotik di daerah percabangan aorta dan arteri iliaka.
Anastomosis tersebut ke pembuluh kolateral hemoroid inferior dapat menjamin
perdarah di kedua ekstremitas bawah. Perdarahan di pleksus hemoroidalis
merupakan kolateral luas dan kaya sekali darah sehingga perdarahan dari
hemoroid intern menghasilkan darah segar yang berwarna merah dan bukan darah
vena warna kebiruan.

b) Sistem Vena

Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan


berjalan ke arah kranial ke dalam vena mesenterika inferior dan seterusnya
melalui vena lienalis ke vena porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan
rongga perut menentukan tekanan di dalamnya. Vena hemoroidalis inferior
mengalirkan darah ke dalam vena pudenda interna dan ke dalam vena iliaka
interna dan sistem kava. Pembesaran vena hemoroidalis dapat menimbulkan
keluhan hemoroid.

c) Penyaliran Limf

Pembuluh limf dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalirkan


isisnya menuju ke kelenjar limf inguinal. Selamjutnya, cairan limf terus mengalir
sampai ke kelnjar limf iliaka. Pmbuluh limf dari rektum di atas garis anorektum
berjalan seiring dengan vena hemoroidalis superior dan menlanjut ke kelenjar limf
mesenterika inferior dan aorta.

d) Persarafan

Perasarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik.


Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior dan dari sitem
parasakral yang terbentuk dari gangglion simpatis lumbal ruas kedua, ketiga dan
keempat. Unsur simpatis pleksus ini menuju ke arah struktur genital dan serabut
otot polos yang mengendalikan emisi air mani dan ejakulasi. Persarafan
parasimpatik berasal dari saraf sakral kedua, ketiga dan keempat. Serabut saraf ini
menuju ke jaringan erektil penis dan klitoris serta mengendalikan ereksi dengan
cara mengatur aliran darah ke dalam jaringan ini.
3. Gejala dan Tanda

Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau “wasir” tanpa ada


hubungannya dengan gejala rektum atau anus yang khusus. Nyeri yang hebat
jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada
hemoroid eksterna yang mengalami trombosis. Perdarahan umumnya merupakan
tanda pertama hemoroid interna akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang
keluar berwarna merah segar dan tidak bercampur dengan feses, dapat hanya
berupa garis pada feses atau kertas pembersih sampai pada perdarahan yang
terlihat menete atau mewarnai air toilet menjadi berwarna merah segar karena
kaya akan zat asam. Perdarahan luas dan intensif di pleksus hemoroidalis
menyebabkan darah di vena tetap merupakan “darah arteri”.

Kadang, perdarahan hemoroid yang berulang dapat menyebabkan anemia


berat. Hemoroid yang membesar sacara perlahan akhirnya dapat menonjol keluar
dan menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi sewaktu
defekasi dan disusul oleh reduksi spontan sesudah selesai defekasi. Pada stadium
lebih lanjut, hemoroid interna ini perlu didorong kembali setelah defekasi agar
masuk ke dalam anus. Akhirnya, hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang
mengalami prolaps menetap dan tidak dapat didorong masuk lagi. Keluarnya
mukus dan terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid yang
mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal
yang dikenal sebagai pruritus anus, dan ini disebabkan oleh kelembapan yang
terus menerus dan rangsangan mukus. Nyeri hanya timbul apabila terdapat
trombosis yang luas dengan udem dan radang.

4. Pemeriksaan

Hemoroid dapat dikelompokkan dalam empat derajat :

 Derajat 1 : hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa


nyeri pada waktu defekasi. Pada stadium awal seperti ini tidak terdapat
prolaps dan pada pemeriksaan anoskopi terlihat hemoroid yang
membesar menonjol ke dalam lumen.
 Derajat 2 : hemoroid menonjol melalui kanalis analis pada saat
mengedan ringan tetapi dapat masuk kembali secara spontan.
 Derajat 3 : hemoroid menonjol saat mengedan dan harus didorong
kembali sesudah defekasi.
 Derajat 4 : hemoroid menonjol keluar dan tidak dapat didorong masuk.

Apabila hemoroid mengalami prolaps, lapisan epitel penutup bagian yang


menonjol keluar ini mengeluarkan mukus yang dapat dilihat apabila penderita
diminta mengedan. Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna tidak dapat
diraba sebab tekanan vena didalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak
nyeri. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma
rektum.

Penlilaian dengan anoskop diperlukan untuk melihat hemoroid interna


yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan dan diputar untuk mengamati
keempat kuadaran. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskular yang
menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengedan sedikti, ukuran
hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata.

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa keluhan


bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat yang lebuh
tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang
menyartai. Feses harus diperiksa terhadap adanya darah samar.

5. Penatalaksanaan

Menurut Acheson dan Scholefield (2006), penatalaksanaan hemoroid dapat


dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan jenis dan derajat daripada
hemoroid.

a. Penatalaksanaan Konservatif

Sebagian besar kasus hemoroid derajat I dapat ditatalaksana dengan pengobatan

konservatif. Tatalaksana tersebut antara lain koreksi konstipasi jika ada,

meningkatkan konsumsi serat, laksatif, dan menghindari obat-obatan yang dapat


menyebabkan kostipasi seperti kodein (Daniel, 2010). Penelitian meta-analisis

akhir-akhir ini membuktikan bahwa suplemen serat dapat memperbaiki gejala dan

perdarahan serta dapat direkomendasikan pada derajat awal hemoroid (Zhou dkk,

2006). Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi cairan,

menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat buang air besar dilakukan

pada penatalaksanaan awal dan dapat membantu pengobatan serta pencegahan

hemoroid, meski belum banyak penelitian yang mendukung hal tersebut.

Kombinasi antara anestesi lokal, kortikosteroid, dan antiseptik dapat mengurangi

gejala gatal-gatal dan rasa tak nyaman pada hemoroid. Penggunaan steroid yang

berlama-lama harus dihindari untuk mengurangi efek samping. Selain itu

suplemen flavonoid dapat membantu mengurangi tonus vena, mengurangi

hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi meskipun belum diketahui bagaimana

mekanismenya (Acheson dan Scholrfield, 2008).

b. Pembedahan

Acheson dan Scholfield (2008) menyatakan apabila hemoroid internal derajat I

yang tidak membaik dengan penatalaksanaan konservatif maka dapat dilakukan

tindakan pembedahan. HIST (Hemorrhoid Institute of South Texas) menetapkan

indikasi tatalaksana pembedahan hemoroid antara lain:

i. Hemoroid internal derajat II berulang.

ii. Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala.

iii. Mukosa rektum menonjol keluar anus.

iv. Hemoroid derajat I dan II dengan penyakit penyerta seperti

fisura.

v. Kegagalan penatalaksanaan konservatif.


vi. Permintaan pasien.

Pembedahan yang sering dilakukan yaitu:

i. Skleroterapi. Teknik ini dilakukan menginjeksikan 5 mL oil

phenol 5 %, vegetable oil, quinine, dan urea hydrochlorate

atau hypertonic salt solution. Lokasi injeksi adalah

submukosa hemoroid. Efek injeksi sklerosan tersebut

adalah edema, reaksi inflamasi dengan proliferasi

fibroblast, dan trombosis intravaskular. Reaksi ini akan

menyebabkan fibrosis pada sumukosa hemoroid. Hal ini

akan mencegah atau mengurangi prolapsus jaringan

hemoroid (Kaidar-Person dkk, 2007). Senapati (1988)

dalam Acheson dan Scholfield (2009) menyatakan teknik

ini murah dan mudah dilakukan, tetapi jarang dilaksanakan

karena tingkat kegagalan yang tinggi.

ii. Rubber band ligation. Ligasi jaringan hemoroid dengan

rubber band menyebabkan nekrosis iskemia, ulserasi dan

scarring yang akan menghsilkan fiksasi jaringan ikat ke

dinding rektum. Komplikasi prosedur ini adalah nyeri dan

perdarahan.

iii. Infrared thermocoagulation. Sinar infra merah masuk ke

jaringan dan berubah menjadi panas. Manipulasi instrumen

tersebut dapat digunakan untuk mengatur banyaknya

jumlah kerusakan jaringan. Prosedur ini menyebabkan


koagulasi, oklusi, dan sklerosis jaringan hemoroid. Teknik

ini singkat dan dengan komplikasi yang minimal.

iv. Bipolar Diathermy. Menggunakan energi listrik untuk

mengkoagulasi jaringan hemoroid dan pembuluh darah

yang memperdarahinya. Biasanya digunakan pada

hemoroid internal derajat rendah.

v. Laser haemorrhoidectomy.

vi. Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation.

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan proktoskop

yang dilengkapi dengan doppler probe yang dapat

melokalisasi arteri. Kemudian arteri yang memperdarahi

jaringan hemoroid tersebut diligasi menggunakan

absorbable suture. Pemotongan aliran darah ini

diperkirakan akan mengurangi ukuran hemoroid.

vii. Cryotherapy. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan

temperatur yang sangat rendah untuk merusak jaringan.

Kerusakan ini disebabkan kristal yang terbentuk di dalam

sel, menghancurkan membran sel dan jaringan. Namun

prosedur ini menghabiskan banyak waktu dan hasil yang

cukup mengecewakan. Cryotherapy adalah teknik yang

paling jarang dilakukan untuk hemoroid (American

Gastroenterological Association, 2004).

viii. Stappled Hemorrhoidopexy


6. Stappled Hemorrhoidopexy
Stappled hemorrhoidopexy merupakan salah satu cara penanganan

kasus hemorroid. Teknik ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997

oleh Sir Antonio Longo. Semenjak saat itu, data klinis secara signifikan

menunjukkan efektifitas prosedur ini. Metode Longo atau stapled

hemorrhoidectomy ini memiliki efek perdarahan dan nyeri post operasi

yang minimal, sehingga sudah banyak digunakan sebagai gold standart di

beberapa negara.

a. Indikasi dan Kontraindikasi

Penggunaan metode stappled hemorrhoidopexy ini berdasarkan

konsensus American College of Surgeon dilakukan pada

hemorrhoid grade 2 dan 3. Kontraindikasi absolut penggunaan

metode ini adalah anal stenosis, dimana alat yang digunakan untuk

stappled hemorrhoidopexy dan anoskop sulit atau bahkan tidak

bisa sama sekali dimasukkan. Kontraindikasi relatif antara lain;

hemorrhoid grade 4, pembedahan anorektal sebelumnya,

inflamatory bowel disease, inkontinensia anal, pasien yang sering

melakukan anal sex.

b. Prosedur Pelakasanaan

i. Persiapan Pre-Operatif

Persiapan pre-operatif tergantung dari masing-masing

dokter bedah yang bersangkutan; puasa, enema, atau rectal

washout.

ii. Anestesi
Sebelum dilakukan operasi, pasien harus diberikan anestesi

spinal blok, atau sedasi sadar dan lokal anestesi. Dalam

beberapa kasus, pasien juga dapat ditangani dalam keadaan

general anestesi.

iii. Posisi Pasien

Sebelum dilakukan operasi, pasien dapat diposisikan dalm

posisi prone (jack-knife) atau supine (litotomi), tergantung

dokter bedah yang bersangkutan. Meja operasi harus sesuai

tingginya untuk dokter ketika duduk melakukan rectal

suturing dan berdiri ketika melakukan implementasi

stapler.

iv. Suturing

Sebelum penjahitan dan selama proses pembedahan

berlangsung, semua peralatan harus sudah disiapkan.

Anoskop harus digunakan selama proses penjahitan

dilakukan. Dokter bedah harus menjahit jahitan

cirucumferencial purse string penuh tanpa jarak antar

jahitannya, di 2 sampai 3 cm diatas hemorrhoid, sekitar 4

cm dari dentata line. Menjahit di dekat hemorrhoid tidak

dianjurkan untuk hemorrhoidepexy. Menjahit terlalu tinggi

di kanal rektal dapat menyebabkan prolaps. Kedalaman

jahitan harus tidak melebihi lapisan submukosa. Setelah

selesai, jahitan harus kembali diamati, untuk memastikan

bahwa garis jahitannya sudah lengkap dan tidak terbelit di


rektum. Jika jahitannya belum betul, jahitan harus

dibongkar dan kemudian dijahit ulang.

v. Pemasangan Alat dan Aplikasi

Sebelum memasukan anvil, anvil harus dilumuri lubrikan

terlebih dahulu. Anvil harus dimasukan secara perlahan,

dengan posisi lurus didalam kanal ketika anvil melewati

purse string. Pada pasien perempuan, pemeriksaan vagina

harus dilakukan untuk memastikan bahwa vagina tidak

termasuk dalam jaringan yang terjahit. Setelah mengaitkan

anvil dengan stapler, alat dapat ditutup. Sebelum

menjalankan alatnya, ada baiknya dokter bedah merubah

posisi dari duduk ke berdiri. Pegangan alat harus tertutup

sepenuhnya dalam genggaman. Setelah dilepaskan, stapler

dapat dikeluarkan dengan memutar hendel.


BAB III

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. D

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 22 tahun

Pekerjaan : Pegawai Swasta

Suku : Jawa

Agama : Islam

Alamat :

No. Rekam Medik : 13.47.37

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 14 Oktober 2017

Selasa, 14 Oktober 2017, 05:05 WIB (Masuk IGD)

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Benjolan di dubur

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke rumah sakit dengan

keluhan sudah sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu pasien merasa ada benjolan

di sekitar anus. Benjolan terasa ketika pasien buang air besar. Awalnya benjolan

tersebut bisa masuk sendiri sesudah buang air besar, tetapi kurang lebih 3 hari

yang lalu, benjolan baru bisa masuk ketika ditekan oleh pasien. Nyeri (+), demam

(-), batuk (-), sesak (-), riwayat alergi obat (-).

Riwayat Penyakit Dahulu : Disangkal


Riwayat Operasi : Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga : Disangkal

PEMERIKSAAN FISIK

KU : Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Kompos Mentis

Vital Sign :

1. Tekanan Darah : 110/70 mmHg

2. Suhu : 36oC

3. Pernafasan : 20x/menit

4. Nadi : 84x/menit

Status generalis:

1. Kulit :

Petekie (-) Purpura (-)

2. Kepala:

1. Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

2. Hidung : tidak ada secret/bau/perdarahan

3. Telinga : tidak ada secret/bau/perdarahan

4. Mulut : bibir tidak sianosis, tidak ada pigmentasi, mukosa tidak

pucat.

3. Leher:

Dalam batas normal. Pembesaran kelenjar getah bening (-)

4. Thoraks:

1. Cor:
i. I: ictus cordis tidak tampak

ii. P: ictus cordis teraba normal di ICS V MCL Sinistra

iii. P: batas jantung ICS IV Parasternal dekstra sampai ICS V

MCL sinistra

iv. A: S1S2 tunggal, extrasistol (-), gallop (-), murmur (-)

2. Pulmo:

i. I: Simetris, tidak ada retraksi, tidak ada ketertinggalan

gerak

ii. P: Fremitus Normal

iii. P: Sonor

iv. A: Vesikuler +/+, Ronkhi -/- Wheezing -/-

3. Abdomen:

i. I: Flat, DC (-), DS (-)

ii. A: Bising Usus (+) 2x/menit

iii. P: Timpani, Nyeri Ketuk +

iv. P: Supel, Nyeri Tekan (-), Nyeri Lepas(-)

5. Ekstremitas:

1. Akral hangat

+ +

+ +

2. Oedem
Status Lokalis :

 Regio Dubur :

o Tonus Spingter Ani (+)

o Ampula Tidak Kolaps

o Benjolan di Arah Jam 5-7

DIAGNOSIS

Hemoroid Interna Grade II-III

RENCANA TINDAKAN

Strapler Hemorhidectomi
LAPORAN OPERASI

(Selasa, 14 Oktober 2017)

Nama : NN. Desi L. W. Jenis kelamin: Usia : 22 tahun No. MR : 13-46-37-00

Perempuan

Operator : Asisten 1 : Anestesi :

dr.Stanley, Sp.B Zr. Lilis dr. Kurnia, Sp.An

Asisten 2 : Coass: Asisten Anestesi:

Anindya D. Putri, S.ked Dennis Rafi, S.ked Br. Petrus

Yola Fabyola, S.ked

Mario A. Watimena, S.ked

Dinda Olinda Delarosa, S.ked

Karima Andriesta, S.ked

Diagnosis Pra Bedah : TanggalOperasi :

Hemorroid Interna 14-10-2017

Diagnosis PascaBedah : Lama Operasi :

Hemorroid Interna 30 Menit

Tindakan Pembedahan : JenisOperasi :

Hemorroidektomi Emergency

Minor

Poliklinik

Khusus

Elektif

Mayor

Sedang
URAIAN PEMBEDAHAN

1. Pasien tidur posisi litotomi

2. Disinfeksi drapping

3. Insersi anuskopi, fiksasi dengan silk 2.0

4. Tampak hemorroid arah jam 5-7

5. Dibuat jahitan purse string dengan vicryl 3.0

6. Insersi Anvil  purse string dikuatkan

7. Anvil dihubungkan dengan Gun Stapler  Firing, Hemostasis ±30

detik

8. Hemorroid terpotong intake bundar

9. Perdarahan (-), pasang tampon

10. Oprasi selesai

Jaringan hemorroid dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.

Instruksi Post Op :

1. Diet Bebas

2. Tirah Baring
BAB IV

KESIMPULAN

1. Hemorroid merupakan pelebaran plexus hemorrhoid pada bagian mukosa

rektum bagian distal dan anoderm.

2. Rasa sakit tidak selalu terjadi pada kasus hemorroid. Biasanya sakit hanya

dirasakan pada hemorroid eksterna yang mengalami trombosis. Pada

keadaan yang parah, hemorroid dapat menyebabkan anemia akibat

perdarahan hebat.

3. Hemorroid terdiri dari 4 grade; grade pertama tidak ada tonjolan dan

hanya terjadi perdarahan saat buang air besar, grade kedua timbul benjolan

pada saat buang air besar dan dapat hilang dengan sendirinya, grade ketiga

timbul benjolan yang dapat hilang apabila didorong dengan menggunakan

jari, pada grade keempat benjolan tidak dapat dimasukkan kembali.

4. Beberapa teknik pembedahan dapat dilakukan seperti skleroterapi, rubber

band ligation, laser hemorroidectomy dan stapled hemorroidopexy.

5. Stapled hemorroidopexy merupakan suatu teknik pembedahan minimal

invasive dengan menggunakan alat stapling, dimana teknik ini

menghindari luka di bagian sensitif anal area dan mereduksi rasa sakit

pasca operasi.

6. Metode Longo atau stapled hemorrhoidectomy ini memiliki efek

perdarahan dan nyeri post operasi yang minimal, sehingga sudah banyak

digunakan sebagai gold standart di beberapa negara.


DAFTAR PUSTAKA

Abedrapo, Mario A et all.2009. Hemorrhoidopexy With Covidien EEATM


Hemorrhoid Stapler :Technique Guide. France : Elancourt

Cerato, Marlise Mello et all. 2014. Surgical Treatment of Hemorrhoids : A


Critical Appraisal of The Current Option. Received 30 May 2013 from
http://www.scielo.br/pdf/abcd/v27n1/0102-6720-abcd-27-01-00066.pdf

Chalkoo, Mushtaq et all. 2015. An Early Experience of Stapled


Hemorrhoidectomy in Medical College Setting. Published 26 May 2015 on
http://file.scirp.org/pdf/SS_2015052610553699.pdf

Jaiswal, Col S et all. 2012. Stapled Hemorrhoidopexy – Initial Experience From a


General Surgery Center. Published 30 November 2012 on
http://medind.nic.in/maa/t13/i2/maat13i2p119.pdf

Ribaric, G et all. 2011. Stapled Hemorrhoidopexy, An Innovative Surgical


Procedure for Hemmorhoidal Prolapse : Cost-utillity Analysis. United Kingdom :
St. James’s University Hospital

Shrestha, S et all. 2014. Stapled Hemorrhoidectomy in Operative Treatment of


Grade III and IV Haemorrhoids. Nepal : Nepal Medical College and Teaching
Hospital

Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC