Anda di halaman 1dari 3

KOMPAS, Metropolitan, Jumat, 21 September 2007.

Gedung "Immigrasie Dienst" Siap "Berdinas" Lagi

Gubernur Sutiyoso meresmikan gedung bekas Kantor Imigrasi Jakarta Pusat di Jalan
Teuku Umar, Menteng, Senin (10/9) lalu. Peresmian menandai rampungnya proyek
pemugaran gedung berumur 94 tahun itu.

Gedung di pojok Jalan Teuku Umar-Jalan Cut Nya Dien itu tak bisa dipisahkan dari
sejarah Jakarta. Sejarawan Adolf Heuken, dalam bukunya, Menteng, Kota Taman
Pertama di Indonesia, menyebutkan, pembangunan gedung seluas 1.320 meter itu
menandai awal sejarah arsitektur modern di Indonesia.

"Gedung Imigrasi adalah gedung pertama di Jakarta yang dibangun dengan konstruksi
beton bertulang," lanjut Candrian Attahiyyat, Kepala Subdinas Pengawasan Cagar
Budaya Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Awalnya, gedung di atas lahan seluas 3.249 meter persegi itu milik Nederlandsch
Indische Kunstkring (Lingkar Seni Hindia Belanda), perkumpulan yang berusaha
membangkitkan lagi apresiasi warga Batavia terhadap seni. Para aktivis perkumpulan itu
pula yang sejak pertama merancang dan membangunnya.

Gedung bermenara kembar dengan balkon, atap, pintu, dan jendela berbentuk
lengkungan itu mulai dibangun pada 1913, setelah perusahaan real estat NV De
Bouwploeg (asal nama daerah Boplo, Menteng, sekarang) menghibahkan sebidang
tanah di jalan masuk ke daerah Gondangdia. Lahan tersebut diberikan karena saat itu
NV De Bouwploeg memang sedang mengembangkan daerah Menteng sebagai
kawasan hunian bagi warga kelas atas Batavia.
Dibangun pada masa yang sama dengan gedung Kantor NV De Bouwploeg, yang
sekarang jadi Masjid Cut Mutiah, gedung Kunstkring juga bergaya arsitektur art nouveau
yang mewakili zamannya. Desain digambar PAJ Moojen, arsitek De Bouwploeg yang
juga Presiden Kunstkring.

Alexander Willem Frederik Idenburg, Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu,
meresmikan sendiri gedung baru tersebut segera setelah pembangunan usai pada
1914.

Pameran pertama yang digelar adalah pameran lukisan karya para perupa Belanda
kelahiran Indonesia. Pada 1936, sebagian ruang gedung Kunstkring alias
Kunstkringgebouw itu sempat dijadikan galeri seni rupa yang memamerkan lukisan
kelas dunia. Di tempat itu pernah pula dipajang sejumlah karya asli para perupa sohor,
semacam Marc Chagall, Van Gogh, dan Picasso, yang dipinjam dari berbagai museum
di Eropa.
Majelis Islam A’la

Tak jelas bagaimana nasib perkumpulan Kunstkring setelah tahun 1930-an. Namun,
pada 1942, awal zaman Jepang, gedung berlantai dua itu sempat dijadikan Kantor
Majelis Islam A’la Indonesia. "Setelah direbut dari tangan Belanda, Jepang mungkin
sengaja memberikan gedung Kunstkring kepada ormas Islam itu untuk merangkul umat
Islam," kata Candrian. Setelah Indonesia merdeka, 1945, gedung tersebut dikuasai
Pemerintah RI dan dijadikan kantor imigrasi sampai 1993.

Pada 1993, PT Mandala Griya Cipta (MGC) berusaha menguasai gedung Kunstkring
atau Kunstkringgebouw lewat cara ruilslag. Tukar guling akhirnya terjadi pada 1999,
diikuti dengan pindahnya Kantor Imigrasi Jakarta Pusat ke Kemayoran.

Namun, krisis moneter mengakibatkan gedung antik itu terbengkalai. "Antara 1998 dan
1999 terjadi penjarahan besar- besaran terhadap bangunan tua yang sudah kosong itu.
Kusen- kusen pintu dan jendela, kaca- kaca patri, lampu-lampu, hampir semua habis
dirampok orang tak dikenal," ujar Candrian.

Dijadikan galeri lagi

Baru pada 2003 Pemprov DKI memutuskan menyelamatkan gedung tua itu. Dengan
dana sebesar Rp 28,960 miliar, gedung dibeli dari PT MGC. Usaha pemugaran
kemudian dilakukan secara bertahap dan rampung pada 2005. Biaya pemugaran yang
dihabiskan, menurut Candrian, mencapai Rp 5 miliar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Aurora Tambunan berencana
untuk mengembalikan fungsi gedung tua itu sebagai galeri seni rupa, persis seperti pada
zaman Kunstkring dulu. "DKJ memiliki koleksi lukisan sekitar 360 buah. Sebagian karya
para pelukis ternama kita, seperti Popo Iskandar dan Zaini. Saya ingin bekas gedung
Imigrasi jadi tempat memamerkan lukisan- lukisan itu," katanya.

Untuk menambah isi kas Pemda DKI, Aurora juga mengaku sudah menggandeng PT
Nireta Vista Creative, yang akan membuka usaha restoran di dalam gedung tua itu.
"Waktu zaman Belanda, di gedung itu juga kan ada restoran," tutur Aurora.

Di bagian paling atas dinding depan gedung bercat putih itu samar-samar masih terbaca
tulisan besar-besar, "Immigrasie Dienst" (Dinas Imigrasi). Ini adalah nama lama, yang
masih berbau Belanda, dari Ditjen Imigrasi yang kita kenal sekarang.

Karena sudah diresmikan kembali oleh Gubernur Sutiyoso, gedung Immigrasie Dienst
kini sudah siap "berdinas" lagi. (mulyawan karim)

(*sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/21/metro/3859701.htm )

Tags: batavia, menteng, kunstkring