Anda di halaman 1dari 11

KESUSASTRAAN ZAMAN MODERN

1. Ciri-ciri Khusus Kesusastraan Zaman Kindai


Restorasi Meiji merupakan langkah pertama bagi Jepang untuk menuju ke zaman
modern. Jepang menyadari ketertinggalannya akibat politik isolasi dan berusaha memasukkan
kebudayaan Barat, termasuk dalam bidang kesusastraan. Kesusastraan pada zaman modern
banyak menerima pengaruh dan dorongan dari kebudayaan Barat yang kemudian
berkembang di Jepang.
Kesusastraan modern mencerminkan manusia yang hidup dalam masyarakat
modern yang cenderung mempunyai sifat borjuis yang menganut paham liberal dan
demokrasi. Manusia modern berusaha menghilangkan perbedaan status sosial yang terdapat
dalam masyarakat feodal dan menyadari perlunya kebebasan, persamaan hak dan humanisme
sebagai dasar kehidupan modern. Kemudian mereka menerima kemajuan ilmu pengetahuan
yang lazim disebut dengan pengetahuan abad ruang angkasa, sehingga masyarakat modern
menjadi rumit. Pemikiran dan perasaannya juga menjadi rumit dan beraneka ragam.
Demikian juga kesusastraannya. Akhirnya mencapai tingkatan yang menuntut kesadaran
manusia dan cara hidup yang serius.
2. Kesusastraan Periode Awal
Masuknya kesusastraan Barat dipelopori oleh golongan terpelajar atau perintis
yang dimulai dengan kesusastraan terjemahan. Perkembangan aliran realisme yang pesat,
begitu juga aliran romantisme dan naturalisme berasal dari pengaruh kesusastraan Barat,
tetapi perkembangannya agak lambat bila dibandingkan dengan perkembangan yang ada pada
kesusastraan Barat itu sendiri. Setelah Perang Dunia I barulah dapat dikatakan
perkembangannya hampir bersamaan. Berkat timbulnya aliran naturalisme, kesusastraan
modern mendapat perubahan besar baik dalam teknik penulisan maupun dalam bahan yang
akan diolah.
a. Novel dan Kritik
1) Periode Zaman Pencerahan
Kesusastraan Tradisional
Restorasi Meiji merupakan gerbang mulai masuknya kebudayaan Barat,
namun demikian tidak serta merta kesusastraan baru lahir, pada saat itu
kesusastraan masih mengikuti arus yang merupakan kelanjutan dari

sastra tradisional. Masa ini menjadi masa peralihan dalam dunia


kekusastraan Jepang dan diisi dengan Gesaku Bungaku (Kesusastraan
masyarakat pada Zaman Edo). Para pengarang Gesaku saat itu banyak
mengeluarkan karya sastra yang bermutu, salah satunya yang terkenal
adalah Kanagaki Robun. Sebagai seorang pengarang di masa peralihan,
Kanagaki

Robun

menunjukkan

sikap

yang

mengikuti

aliran

pembaharuan. Hal tersebut terlihat pada pemilihan tema dalam salah satu
karyanya yaitu Seiyoo Doochuu Hizakurige yang menggambarkan

kehidupan masyarakat yang telah mengadakan pembaharuan.


Kesusastraan Zaman Pencerahan
Para cendikiawan yang membawa pemikiran-pemikiran baru setelah
pulang belajar dari luar negeri dalam waktu singkat memegang peranan
penting dalam melancarkan jalannya Bunmei Kaika (Revolusi
Kebudayaan), antara lain diwakili oleh dua tokoh, yaitu Fukuzawa
Yukichi dan Nishi Amane. Fukuzawa menulis buku Gakumon no
Susume dan Katawa Musume. Nishi Amane dijuluki sebagai seorang
ensiklopedi karena ia mengerti berbagai ilmu pengetahuan yang datang
dari luar dan memperkenalkannya di Jepang. Bukunya yang terkenal
adalah Hyakugaku Renkan. Selain itu Nishi Amane juga dianggap
sebagai orang pertama yang memperkenalkan pemikiran baru dalam

bidang kesusastraan.
Kesusastraan Terjemahan
Berbagai ragam hasil karya Barat diterjmahkan dan ditiru sehingga
memberikan dorongan dan semangat untuk melahirkan kesusastraan
baru. Diantara karya terjemahan yang terkenal adalah kisah Robinson
Crusoe yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang dengan judul Robinson
Zenden, kemudian diterbitkan pula Arabia Monogatari yang merupakan

ringkasan bahasa Jepang dari kisah Arabian Night.


Novel Politik
Bersamaan dengan timbulnya gerakan yang menuntut hak dan kebebasan
yang mempunyai tujuan pembentukan masyarakat baru, berkembanglah
novel politik, yaitu novel yang memasukkan pendapat-pendapat dan
gagasan politik. Pengarang-pengarang novel politik yang mewakili
zaman ini antara lain Yano Ryuukei dengan novelnya Keikoku Bidan,

Tookai Sanshi dengan bukunya Kajin no Kiguu dan Suehiro Tetchoo


dengan bukunya Setchuubai.
2) Aliran Realisme
Anjuran untuk menetapkan aliran realisme
Anjuran pemakaian aliran relisme terutama datang dari mereka yang
menolak cara berfikir cerita-cerita yang bertemakan Kanzen Chooaku,
yaitu tema-tema yang menitikberatkan pada pemikiran yang akan
berakhir dengan kemenangan dan yang salah/buruk akhirnya akan kalah.
Para pencetus ide ini ingin menjadikan pengetahuan yang didapat dari
hasil penyelidikan terhadap kesusastraan asing sebagai pedoman, dari
teori-teori yang mereka anut, teori realisme menjadi yang paling

dominan untuk dimasukkan ke dalam pedoman penulisan novel.


Kesusastraan Shinzui
Argumen sastra tersebut pertama kali adalah karya Tsubouchi Shooyoo
berjudul Shoosetsu Shinzui. Dalam buku ini diungkapkan bahwa novel
harus menggambarkan kehidupan duniawi, perasaan dan gerak hati
manusia, yang teknik penulisannya tidak boleh hanya menggambarkan
kulit luarnya saja, tetapi harus membongkar dan memperlihatkan dengan
jelas apa yang sebenarnya terdapat di dalamnya. Shooyoo telah
membuka sejarah baru dalam kesusastraan Jepang dengan jasanya
menyingkirkan paham dan pandangan yang menganggap kesusastraan
hanyalah

untuk

hiburan

dan

ceriteranya

harus

mengutamakan

kepahlawanan seperti yang ditonjolkan dalam novel yang bertemakan


Kanzen Chooaku. Teori yang dipeloporinya ini berdasarkan pemikiranpemikiran dari kesusastraan Inggris. Buku yang ditulisnya berjudul
Toosei Shosei Katagi dapat dianggap sebagai cara pemakaian teori yang
dipeloporinya. Meskipun dalam buku tersebut digambarkan kehidupan
mahasiswa masa itu secara dinamis yang merupakan ciri-ciri kehidupan
modern, tetapi ia masih memakai elemen-elemen kesusastraan lama

dalam teknik penulisannya.


Shoosetsu Sooron
Shoosetsu Sooroon (kesimpulan tentang teori novel) yang ditulis oleh
Futabei Shimei melengkapi dan memperbaiki teori yang telah ada dalam
Shoosetsu Shinzui karya Shoooyoo. Tujuan Futabei menulis Shoosetsu
Sooron adalah untuk mengkritik buku Toosei Shosei Katagi yang ditulis
oleh Shooyoo. Teori yang diungkapkan oleh Futabei dalam buku itu

mengambil dasar pemikiran dari kesusastraan Rusia. Teori inilah yang


digunakan dalam novelnya yang berjudul Ukigumo. Gaya bahasa yang
dipergunakan Futabei Shimei dalam karya-karyanya berkembang dengan
bebas dan merupakan kombinasi bahasa lisan dan tulisan.
3) Aliran Pseudoklasik
Lahirnya Kenyuusha dan Seikyoosha
Tahun 1887 (Meiji tahun 20) merupakan puncak westernisasi di Jepang.
Hal

tersebut

ditandai

dengan

diselenggarakannya

Rokumeikan

Kasoobutookai, yaitu sebuah parade yang diselenggarakan oleh


golongan yang menerima kebudayaan Barat di Jepang. Tetapi
kebudayaan Barat tersebut ternyata tidak diterima oleh semua golongan
karena pada saat itu muncul suatu golongan yang mengkritik dan
menentang westernisasi yang ekstrim dimana pengaruh dan kebudayaan
Barat dimasukkan secara tergesa-gesa. Golongan ini antara lain
dipelopori

oleh

Narushima

Ryuuhoku

yang

mengungkapkan

ketidaksetujuannya melalui sebuah karya sastra berjudul Ryuukyoo


Shinsi. Kemudian muncul pula tokoh-tokoh lain yang juga menentang
dengan cara mendirikan sebuah perkumpulan bernama Seikyoosha.
Tokoh-tokoh dalam perkumpulan ini mengungkapkan kritikannya
terhadap westernisasi di Jepang melalui majalah yang mereka terbitkan.
Sementara itu di dunia kesusastraan sendiri muncul kecenderungan para
sastrawan untuk kembali menggunakan metode klasik dalam dunia
sastra. Merekapun kemudian membuat sebuah perkumpulan bernama
Kenyuusha yang berpusat di Ozaki Kooyoo. Mereka menerbitkan
majalah yang bernama Garakuta Bunko. Masa ini disebut dalam
kesusastraan Jepang sebagai Zaman Kooro yang diambil dari dua nama
pengarang yang berpengaruh pada masa itu, yakni Ozaki Kooyoo dan
Kooda Rohan. Ozaki Kooyoo terkenal mahir melukiskan tokoh wanita
dan banyak menulis Fuuzoku Shoosetsu (Novel Masyarakat), sedangkan
Kooda Rohan terkenal mahir melukiskan tokoh wanita dan banyak

menulis tentang Rizoo Shoosetsu (Novel Idealisme).


Pengarang Wanita Higuchi Ichiyoo
Ia adalah pengarang wanita yang mendapat pengaruh dari Kooda Rohan.
Higuchi Ichiyoo berusaha menulis tentang penderitaan yang dialami
wanita yang hidup dalam alam feodal, sehingga merintis corak baru

kesusastraan. Karangan yang terkenal antara lain adalah Take Kurabe,


dia membuat Daionjimae dekat Yoshiwara yang terkenal sebagai daerah
Geisha sebagai latar belakang cerita. Dalam bahasa yang indah dan
peristiwa yang menggugah hati, dia menggambarkan gejolak hati
pemuda-pemudi yang mendekati masa remaja. Dia juga menulis Nikki
yang menggambarkan perasaan dan pergolakan hati wanita, sehingga
dapat menggugah perasaan pembacanya.
4) Aliran Romantisme
Mori Oogai, usaha pencerahan yang dilakukannya
Mori Oogai sebagai seorang dokter tentara dikirim oleh pemerintah
jepang untuk memperdalam ilmunya ke Jerman.. pada Meiji tahun 21
(1888

M)

kembali

ke

Jepang

dengan

aktif

mengembangkan

pengetahuannya di luar ilmu kedokteran seperti kesusastraan, kesenian,


maupun filsafat Barat, yang diperolehnya waktu belajar di Jerman.
Karena banyaknya ilmu pengetahuan yang ia kuasai, sampai-sampai ia
dijuluki Teebesu Hyakumon no Taito (100 Pintu Kota Thebes).
Pikiran-pikirannya ditulis dan dimuat dalam majalah Sigarami Zooshi.
Kkritik sastra yang diketngahkannya sangat terkenal karena memiliki
ciri-ciri yang khas. Berhasilnya kritik sastra menjadi sebuah bagian yang
menempati tempat tersendiri dalam dunia kekusastraan adalah karena
usaha keras Mori Oogai.
Ada tiga buah novel yang ditulisnya berdasarkan kehidupan yang
dialami di Jerman, yaitu Maihime, Utakata no Ki dan Fumiizukai yang
merupakan cerita percintaan anak muda yang dilukiskan dengan

romantis tetapi berakhir dengan kesedihan.


Tookoku dan Majalah Kesusastraan Bungaku Kai
Pada Meiji tahun 26 (1893) terbitlah sebuah majalah kesusastraan yang
berjudul Bungaku Kai yang mempunyai gaya bahasa yang romantis.
Pada zaman itu, yang menjadi pelopor pengarang-pengarang muda
adalah Tookoku. Dia mendapat pengaruh dari Ralp Waldo Emerson (ahli
pikir Ameriks), dan George Gordon Byron(penyair Inggris). Dia juga
mempelopori penulisan drama berbentuk tragedi. Diantara buku-buku
karangannya yang berisi kritikan terhadap keadaan pada waktu itu antara

lain Jinsei ni Awataru to wa nanno iizo, Naibu Seimeiron, dan lain-lain.


Izumi Kyooka dengan aliran mistik dan aliran romantik

Izumi Kyooka adalah murid Ozaki Kooyoo yang berasal dari


perkumpulan Kenyuusha, pada mulanya mengeluarkan novel yang
mengandung ide-ide tertentu yang bertujuan untuk mencari penyelesaian
kontradiksi yang ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Dia kemudian
membentuk suatu aliran tersendiri dalam karangan-karangannya.
Dengan memasukkan unsur yang bercorak mistik dan romantik.
Perasaan yang mengandung mistik dan yang bersifat menonjolkan roh
atau hantu ini melatar belakangi karya-karyanya dan mempunyai sumber
inspirasi untuk menggambarkan kecantikan wanita. Pada dasarnya
karanganya itu melukiskan kebenaran dan rasa cinta yang dalam yang

menentang kepincangan dan kebusukan yang ada dalam masyarakat.


Terciptanya kesusastraan yang menonjolkan keindahan alam
Tokutomi Rooka adalah seorang yang beraliran liberal dan berdasarkan
pemikiran agama Kristen. Yang membuat dia terkenal adalah bukunya
yang berjudul Shizen to Jinsei yang menguraikan keindahan alam
dengan menggunakan bahasa tulisan yang indah dengan gaya bahasa
yang sangat romantis. Selain itu ada juga karangan Kunikida Doppo
berjudul Musashino yang melukiskan tentang keindahan alam yang

mengharukan.
1) Aliran naturalisme
Pengaruh Emile Zola
Naturalisme dalam kesusastraan Jepang tumbuh sebagai akibat dari
pengaruh pengarang perancis penganut aliran Naturalis bernama Emile
Zola. Pengaruh Zola ini lebih cepat dikenal dengan munculnyab sebuah
buku berjudul Ishibigaku berisikan tentang naturalis Estetik. Zola
menjelaskan dalam novel Jikken Shoosetsuron yang berisikan peristiwa
percobaan pengobatan, salah satu teori realisme yang berpegang pada
data ilmu pasti secara teliti. Berdasarkan teori ini di Jepang juga
berkembang penulisan novel melalui pendekatan ilmiah. Sejalan dengan
pengaruh teori tersebut yang melukiskan sesuatu berdasarkan pada
kenyataan apa adanya, aliran naturali lambat laun sangat berpengaruh

dalam penulisan karya sastra di Jepang.


Masa pertumbuhan aliran naturalis
a) Shimazaki Tooson, memulai karirnya sebagai penyair yang
memperkenalkan karya-karyanya melalui majalah kesusastraan
bernama Bungaku Kai. Tetapi dengan karyanya yang pertama yaitu

novel Hakai, ia melukiskan tentang rahasia pribadi manusia modern


yakni

mengalami

kehidupan

yang

resah

karena

harus

menyembunyikan suatui rahasia, tetapi berakhir dengan pengakuan


pelakunya. Dia kemudian menulis Haru, Ie, dan Shinsei yang
merupakan novel panjang dan berorientasi pada kehidupan
pribadinya yang ditulis dengan bentuk realisme. Isi novelnya
mempunyai tema yang sangat luas, berdasarkan cinta sesama
manusia.
b) Tayama Katai, melaui novel Futon yang materinya bersendikan paa
kehidupan

pribadi

yang

ditulis

dengan

berterus

terang,

menjadikannya sebagai seorang pelopor Naturalisme. Dalam karya


lainya Inaka kyooshi ia mengemukakan sifat yang biasa terjadi
dalam kehidupan manusia, menyebabkan ia terkenal sebagai seorang
kritikus dalam dunia sastra naturalisme.
c) Hakuchoo dan Shuusei
Masamune Hakuchoo menulis novel yang berteakan kehidupan
manusia yang senantiasa merasa dirinya melarat tidak punya apaapa. Diantara karangannya antara lain adalah Doko , Doro Ningyou,
dan Irie no Hotori.
Tokuda Shuusei adalah salah seorang murid Ozaki Kooyoo yang
diakui sebagai pengarang aliran naturalis setelah ia menulis novel
Arajiyotai. Dalam karyanya dia selalu menggambarkan lukisan
kehidupan yang suram dan dicetuskan dengan kata-kata yang singkat
dan sederhana tetapi melukiskan apa adanya dalam keadaan yang

wajar
Aliran Kiseki
Di dalam majalah terbitan Waseda yang berjudul Kiseki, kita bisa
melihat suatu gaya yang melukiskan sesuatu yang tersembunyi yang
berhubungan dengan unsur psikologis seseorang. Aliran ini timbul
karena pengaruh kesusastraan Rusua pada akhir abad ke-19. Penulis-

penulisnya bernaung dalam wadah yang disebut Waseda Bungaku.


Shisoosetsu (Novel Aku) dan Shinkyooshoosetsu (Novel Psikologis)
Timbulnya pengaruh aliran naturalis dari pertengahan hingga akhir
Zaman

Taishoo

mendorong

munculnya

Shisoosetsu

dan

Shinkyooshoosetsu yang bertema pengutaraan pengalaman-pengalaman


yang bersumber dari keadaan sehari-hari pengarangnya. Dalam novel

Shisoosetsu digambarkan keadaan yang makin memburuk dan biasanya


berakhir

dengan

tragedi,

sedangkan

dalam

Shinkyoosoosetsu

digambarkana keadaan seseorang yang bergelut dalam kehidupan untuk

mencapai kesempurnaan dan biasanya berakhir dengan baik.


Kritikan terhadap naturalisme dan lahirnya anti naturalisme
Kesusastraan naturalisme yang melukiskan kenyataan umumnya
memberikan bagian-bagian yang paling buruk dari kehidupan manusia
secara terang-terangan, sebagai tandingannya timbullah
kesusastraan

yang

melukiskan

segi

keindahan

yang

sejenis
berusaha

menoropong manusia, baik kehidupan manusia itu sendiri maupun cita

citanya.
Nagai kafuu
Nagai Kafuu setelah kembali dari tugas belajar di luar negeri, ia menulis
buku berjudul Amerika Monogatari dan Furansu Monogatari karena
merasa bahwa saat itu Jepang sangat menitikberatkan pada realisme
sehingga kehilangan idealisme dan imaginasi. Untuk membangkitkan
kembali perasaan mencintai Jepang zaman dulu, Kafuu yang tertarik
akan pribadi manusia Zaman Edo mengambil tema dunia Geisha yang
ditulis dalam novelnya yang berjudul Sumidagawa, Ude Kurabe,
Okamezasa dan lain-lain. Ceritanya selalu bermotif keadaan yang selalu
menyenangkann, tetapi di dalam keadaan seperti itu, sebenarnya kita
dapat meihat status pengarang yang tiak baik dalam masyarakat beserta

perasaan putus asa yang dimilikinya.


Tanizaki Junichiroo
Tanazaki Junichiroo selalu melukiskan tentang kecantikan wanita dengan
menonjolkan keindahan yang aneh bagian yang sensitif dari wanita
tersebut. Dia melukiskan bahwa wanita itu sebagai seorang yang lemah
lembut dan tidak berdaya, tetapi menyembunyikan kekuatan dan suatu
keindahan yang sangat misterius. Seperti yang dilukiskan dalam

novelnya Shisei (Tattoo) dan Chijin no Ai (Cinta seorang binal).


Satooo Haruo
Satoo Haruo menulis sifat keengganan yang disertai intelektualitas dan
romantik dengan indahnya.ini dilukiskannya dalam novel Denen no
Yuutsu (Kebosanan di desa) dan Tokai no Yuutsu (Kebosanan di kota)
yang ditulis puitis ini terkandung gejolak hati keharuan dan
kegembiraan.

Kesusastraan Intelektual dan kesusastraan moral


Mori Oogai dan Natsume Sooseki merupakan pelopor yang memberi
cahaya terang dalam kesusastraan modern Jepang dengan kritik yang
bersifat ilmiah dan etik yang hanya terdapat pada orang-orang yang
berpendidikan tinggi.
a) Mori Oogai
Di dalam dasar-dasar novel Oogai terdapat sebuah gambaran tentang
usaha yang tak kenal lelah untuk mencari kebenaran yang
mencerminkan pandangan hidupnya sendiri. Di akhir hayatnya dia
aktif dalam penulisan biografi yang berdasarkan fakta-fakta sejarah
misalnya buku berjudul Shibue Chuusai dengan kalimatnya yang
singkat, indah, dan tidak ada celanya dan menjadi dasar kalimat
modern.
b) Natsume Sooseki
Natsume Sooseki mula-mula dikenal dengan novel berjudul Wagahai
wa Neko de aru (Saya adalah kucing).

Hasil karyanya banyak

berisikan tentang moral dan pada akhir hidupnya ia mengarahkan


tema dan gaya kesusastraan yang ditulisnya pada paham Sokuten
Kyoshi (meninggalkan ego dan menghadapkan diri pada yang lebih

tinggi).
Suzuki Miekichi dan kesusastraan anak-anak
Suzuki Meikichi terkenal dengan penulisan yang puitis dan halus seperti
dalam novel Chidori dan Kuwa no Mi, dia juga sebagai seorang perintis
yang mengembangkan kesusastraan anak-anak dengan menerbitkan
majalah Akai Tori. Akai tori selain memuat novel anak-anak karya
pengarang terkenal juga memuat cara menulis huruf indah yang diasuh
oleh Suzuki Miekichi sendiri dan cara menulis puisi modern yang diasuh
oleh Kitahara Hakushuu sehingga sangat digemari anak-anak dan

remaja.
Akutagawa Ryuunosuke
Akutagawa mengutamakan pengambilan bahan dari cerita yang berlatar
belakang sejarah atau cerita klasik, kemudian diolahnya dengan baik
sehingga lahirlah sebuah novel baru dengan penafsiran yang baru pula.
Diantara novel seperti itu adalah Rashoomon, Gesaku Zanmai,
Karenoshoo, dan Yabu no Naka. Dia mempunyai keahlian untuk

mengubah realitas sehingga dia dijuluki grup cendikiawan atau

neorealisme.
Kikuchi Kan
Kikuchi Kan tidak secerdas dan setajam Akutagawa, tetapi dia membuat
tema novelnya dengan mudah dan jelas. Karyanya antara lain Tadanao

Kyoogyoo Jooki, Onshuu no Kanata ni, dan Rangaku Kotohajime.


Aliran Shirakaba
Shirakaba adalah suatu grup yang menganut paham humanisme yang
berdasarkan paham idealisme dan menentang pandangan naturalisme,
menjunjung tinggi individu seseorang dan mencoba membentuk kembali
keluhuran budi manusia.
a) Mushanokooji Saneatsu
Dia mendirikan Atarashiki Mura di bagian timur dan barat Jepang
yang berfungsi sebagai panggung pengalaman nyata dalam
kehidupan yang diusulkannya. Karya yang menonjol antara lain
adalah Omedetaki Hito dan Koofukusha. Gaya penulisannya
sederhana dan optimis.
b) Shiga Naoya
Gaya penulisan Shiga Naoya sangat sempurna dan realis, dan
condong pada Shinkyoo Shoosetsu (Novel Psikologis). Anyakooro
adalah satu-satunya novel yang panjang yang ditulisnya, namun
dianggap merupakan hasil sastra modern yang terkemuka. Tema
ceritanya diangkat dari kegetiran hidup tetapi kemudian berkembang
ke arah pemurnian jiwa.
c) Arishima Takeo
Arishima Takeo adalah seorang yang cenderung pada paham
sosialisme. Sesudah berakhirnya Perang Dunia I dan bergejolaknya
arus sosialisme, Arishima Takeo berusaha sekuat tenaganya
memikirkan peranan apa sebenarnya yang harus dimainkan oleh pada
cendikiawan.

Untuk

mencurahkan

perasaan

kurang

puasnya

Arishima menulis sebuah buku berjudul Sengen Hitotsu yang


merupakan argumentasi sastra. Juga menulis novel berjudul Kain no
Matsuei, Aru onna, dan Umare Izuru Nayami.