Anda di halaman 1dari 20

TUGAS

MAKALAH STEREOTIP ETNIS


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Nusantara

Oleh :
Khairina Widya PH

15010113120061

Rachma Amalia

15010113120069

Nabila Dina

15010113120076

Feliska Juliana T

15010113120078

Tsamarah Zafira

15010113140166

Frans Andrianto

15010113140172

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas berkat
dan rahmatNya kami dapat menyusun dan menyelasaikan makalah ini dengan baik
dan lancar. Kami menyusun makalah ini berdasarkan tugas yang diberikan oleh dosen
Psikologi Nusantara kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu
kami atas tugas beserta arahan yang diberikan. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman atas bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada kami
saat penyusunan makalah ini.
Semoga makalah yang telah kami susun ini dapat memberikan wawasan
kepada Anda para pembaca. Kami menyadari masih banyak kekurangan di dalam
kami menyusun makalah ini dan di dalam makalah kami ini. Kami memohon maaf
atas kekurangan tersebut. Kritik dan saran dari Anda para pembaca sangat kami
harapkan dan butuhkan untuk perbaikan makalah ini.

Semarang, 2 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar.

Daftar Isi..

BAB I
Pendahuluan.

1. Latar Belakang.. 3
2. Rumusan Masalah. 3
3. Tujuan Penulisan 3
BAB II
Pembahasan..
1. Stereotip
A. Pengertian Stereotip
B. Aspek Stereotip...
C. Isi Stereotip.
D. Tingkatan Stereotip.....
E. Dimensi Stereotip....
2. Stereotip Etnis...
A. Pengertian Stereotip Etnis..
B. Sikap Individu terhadap Stereotip Etnis.
C. Stereotip Etnis di Indonesia
D. Contoh Kasus Stereotip Etnis di Indonesia

4
4
4
5
5
6
7
8
8
10
12
16

BAB III
Kesimpulan..

18

Daftar Pustaka.

19

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki masyarakat yang terdiri dari
bermacam suku bangsa atau kelompok etnis. Keberagaman suku bangsa atau
etnis ini di suatu sisi membawa pengaruh positif untuk kekayaan kebudayaan,
seni, serta dinamika sosial kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap individu
memiliki kecenderungan untuk mengidentifikasi dirinya dengan etnis
tertentu. Seringkali individu menilai perilaku orang lain terkait dengan
latarbelaknag etnis dan suku bangsanya. Hal tersebutlah yang erat
hubungannya dengan stereotip antar suku atau etnis yang sering muncul
dalam suatu interaksi sosial. Stereotip etnis tersebutlah yang terkadang
menimbulkan kasus atau konflik pada suku atau ernis tertentu.

tersebut

membuat penulis ingin mengetahui lebih dalam mengenai setereotip etnis


yang terjadi di Indonesia yang memiliki beragam suku serta ingi mengetahui
bagaimana dampak yang terjadi bila terdapat anggota kelompok atau
kelompok yang disetereotipkan.
2. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian dari stereotip dan stereotip etnis?
b. Bagaimana stereotip-stereotip etnis yang ada di Indonesia?
c. Bagaimana kasus yang stereotip etnis yang terjadi di Indonesia?
3. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan dari stereotip etnis.
b. Untuk mengetahui stereotip etnis yang ada di berbagai suku di Indonesia.
c. Untuk mengetahui sejauhmana kasus-kasus yang terjadi di Indonesia
mengenai stereotip etnis
BAB II
PEMBAHASAN
1. STEREOTIP
A. Pengertian Stereotip
3

Menurut Horton&Hunt (1999) stereotip adalah pandangan (image)


umum suatu kelompok tentang kelompok lainnya atau tentang sejumlah
orang. Stereotip dapat ebrsifat positif contohnya tentang dokter keluarga
yang penuh pengabdian, tetapi dapat pula bersifat negatif contohnya
politikus yang tidak berprinsip dan opportunities, atau campuran dari
positif dan negatif contohnya guru wanita yang menjadi perawan tua,
cerewet, tidak romantis namun penuh pengabdian.
Stereotip merupakan karakteristik yang seseorang aplikasikan pada
orang lain atas dasar nasionalisme, etnik, atau kelompok gender mereka.
Rosihan (2012) menjelaskan bahwa stereotip merupakan suatu bentuk
kategorisasi yang kompleks, yang secara mental mengatur pengalaman
dan menuntun sikap pada suatu kelompok tertentu.
Stereotip merupakan salah satu sumber ketegangan antarsuku bangsa
di Indonesia, yang masing masing mempunyai latar belakang
lingkungan alam dan sosial budaya sendiri. Water Lippman sampai saat
ini dianggap sebagai orang pertama yang merumuskan stereotip dan
membahasnya secara ilmiah dalam bukunya, Public Opinion, terbit tahun
1922. Sejak itulah stereotip mendapatkan tempat dalam literatur ilmu
ilmu sosial, baik sebagai konsekuensi maupun sebagai peramal tingkah
laku manusia. Sampai tahun 1968, Cauthen dan kawan kawan telah
menemukan lebih dari 200 artikel tentang stereotip yang dipublikasikan
sejak tahun 1926. (Cauthen, dkk., 1971 :120 dalam Warnaen, 2002 : 116 117). Berdasarkan Lippman (1922 : 1 dalam Warnaen, 2002 : 117),
stereotip adalah gambar di kepala yang merupakan rekonstruksi dari
keadaan lingkungan yang sebenarnya. Stereotip merupakan salah satu
mekanisme penyederhana untuk mengendalikan lingkungan, karena
keadaan lingkungan yang sebenarnya terlalu luas, terlalu majemuk, dan
bergerak terlalu cepat untuk bisa dikenali dengan segera.
B. Aspek Stereotip

Menurut Miles Hewstone dan Ruper Brown (1986) terdapat tiga aspek
esensial dari stereotip yaitu sebagai berikut :
1. Acap kali keberadaan individu dalam suatu kelompok telah
dikategorisasikan, dan kategorisasai itu selalu teridentifikasi
dengan mudah melalui karakter atau sifat tertentu, misalnya
perilaku, kebiasaan bertindak, seks, etnisitas.
2. Stereotip bersumber dari bentuk atau sifat perilaku turun
menurun, sehingga seolah-olah melekat pada semua anggota
kelompok.
3. Individu yang merupakan anggota kelompok diasumsikan
memiliki karakteristik, ciri khas, kebiasaan bertindak yang
sama dengan kelompok yang digeneralisasi itu.
C. Isi Stereotip
McGarty, Yzerbyt & Spears (2004) mengemukakan tiga kemungkinan
mengenai pembentukan maupun isi stereotip, yaitu: pertama, stereotip
dapat terbentuk sebagai refleksi atas observasi langsung seseorang dari
perilaku suatu kelompok; kedua, stereotip dapat berupa refleksi seseorang
terhadap harapan dan luasnya teori mengenai bagaimana seseorang
berfikir tentang suatu kelompok berperilaku; ketiga, terbentunya stereotip
kemungkinan juga terjadi karena adanya kombinasi dari observasi
seseorng, dan harapan serta pengetahuan seseorang.
D. Tingkatan Stereotip
Terdapat empat tingkatan dalam pembentukan stereotip menurut
Spears (McGarty, Yzerbyt dan Spears, 2004) yang didasarkan pada sumber
data atau data yang tersedia sebagai rangsangan di dunia sosial dan pada
pengetahuan serta harapan. Tingkatan-tingkatan tersebut antara lain:
a) Bottom up
Pembentukan stereotip dalam tingkatan ini didasarkan pada data-data
dan informasi yang telah ada. Beberapa informasi yang telah tersedia ini

menjadi dasar perbedaan stereotip diantara kelompok, terutama kebaikan


dalam kelompok.
b) A bit of bottom up
Penggunaan informasi cukup terbatas dalam pembentukan stereotip
tingkatan ini, data-data yang ada hanya sebagai pengenal suatu kelompok,
bukan dasar utama. Informasi yang digunakan bersumber dari oranglain,
tidak berdasarkan fakta yang ada. Stereotip tentang kelompok luar (outgroup) seringkali dihasilkan atas perbandingan yang dilakukan dengan
kelompok dalam (in-group). Hal ini disebabkan oleh primacy effect, yang
merupakan kesan atau informasi yang di dapatkan pertama merupakan
informasi yang dianggap benar.
c) A bit of top down
Informasi ataupun data-data yang ada hanya digunakan sebagai
konstruksi dasar atau pendugaan dalam membentuk stereotip, seperti
terbatas dalam latar belakang atau penamaan. Informasi yang ada bukan
berdasarkan fakta melainkan melalui pemberitaan ataupun pembicaraan
sekilas sehingga menimbulkan dugaan-dugaan yang akan membentuk
stereotip suatu etnis. McGarty, Yzerbyt dan Spears (2004) menjelaskan
bahwa terkadang seseorang yang memiliki sedikit informasi tentang suatu
kelompok, mampu membentuk sebuah stereotip melalui pertanyaanpertanyaan.
d) Neither up nor down
Pada tingkatan ini, seseorang sama sekali tidak memiliki informasi
ataupun data-data mengenai perbedaan diantara kelompok. Stereotip dapat
terbentuk atas kesamaan-kesamaan, kekhasan diantara kelompok, yang
kemudian memunculkan motivasi untuk memunculkan perbedaan. Hal
menarik dalam tingkatan ini adalah, ketiadaan perbedaan stereotip dapat
memunculkan kondisi bagi perbedaan secara kuat, dalam hal ini terjadi
bias kelompok dalam (in-group), (Rosihan, 2012). Pembentukan dalam
6

tahap ini bisa terjadi karena prasangka (prejudice) terhadap suatu


kelompok tertentu dan menggeneralisasikan terhadap semua kelompok
yang ada.
E. Dimensi Stereotip
Rumondor, dkk. (2014) menjelaskan bahwa terdapat empat dimensi dalam
stereotip, yaitu:
a.

Arah (direction), menunjuk arah penilaian, apakah positif atau

b.

negative. Misalnya disenangi atau dibenci.


Identitas, menunjuk pada seberapa kuatnya keyakinan dari suatu

c.

stereotip
Ketepatan, terdapat beberapa stereotip yang benar-benar tidak

d.

menggambarkan kebanaran, atau sebagian tidak benar


Isi khusus, stereotip mengenai suatu kelompok dapat berbeda-beda,
artinya stereotip dapat berubah dari waktu ke waktu.

2. STEREOTIP ETNIS
1) Pengertian Stereotip Etnis
Warnaen (2002) mendefinisikan stereotip etnis sebagai suatu
kepercayaan yang dianut bersama oleh sebagian besar warga suatu golongan
etnis tentang sifat-sifat khas dari berbagai golongan etnis, termasuk golongan
etnis mereka sendiri. Terdapat empat unsur dalam stereotip etnis menurut
Warnaen, yaitu:
a) Stereotip merupakan salah satu dari kepercayaan.
b) Stereotip yang dianut bersama oleh sebagian warga suatu golongan
etnis disebut sebagai konsensus. Unsur ini yang membedakan
stereotip dan sikap mental yag mencakup prasangka.
c) Sifat-sifat khas yang diatribusikan, ada yang bersifat esensial dan
ada yang tidak; keempat, golongan etnis sendiri bisa dikenai
stereotip yang dinamakan otostereotip.

Sedangkan menurut Rahman (2002), stereotip etnis merupakan keyakinankeyakinan yang dilekatkan pada komunitas etnik lain yang dianggap sebagai
kebenaran turun-temurun dan selalu terdapat dalam diri komunitas tersebut.
Stereotip berbeda dengan prasangka dan diskriminasi, meskipun seringkali
banyak orang yang menyatakan sama. Schneider (2004) menjelaskan bahwa
stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang seseorang miliki mengenai
orang lain yang didasarkan pada kategori; sedangkan prasangkan merupakan
sekumpulan reaksi atau sikap yang bersift afektif; dan diskriminasi lebih
kepada kecenderungan tingkah laku.
Stereotype adalah pemberian atribut, label, atau stigma tertentu
kepadasekelompok atau golongan tertentu. Stereotype ini pada awalnya
munculkarena adanya prototype. Prototype yaitu pengetahuan mengenai orang
-orang

atau

kelompok

tertentu.Stereotype

yang

tertentu

dan

menjustifikasi

kaitannya
suatu

etnis

dengan
tertentu

atribut
perlu

diselidikikebenarannya, apakah stereotype tersebut memang benar, sehingga


perludipikirkan bagaimana cara berinteraksi yang baik dan sesuai dengan
karaktermereka, atau justru stereotype tersebut salah sehingga setiap orang
yangberasal dari luar etnisnya tidak perlu was was, resah, dan membatasi
diribilamana ingin berhubungan dengan mereka.
Dalam The Blackweel Encyclopedia of Social Psychology (Manstead dan
Hewstone, 1996) stereotip didefinisikan sebagai keyakinan-keyakinan tentang
karakteristik seseorang (ciri kepribadian, perilaku, nilai pribadi) yang diterima
sebagai suatu kebenaran kelompok sosial. Sebagai contoh, orang Italia itu
romantis, wanita kurang bisa mengendarai mobil, seorang homoseks memiliki
pandangan politik yang liberal, dan lain-lain. Stereotip etnik itu sendiri
merupakan keyakinan-keyakinan yang dilekatkan pada komunitas etnik lain
yang dianggap sebagai kebenaranturun-temurun dan selalu terdapat dalam diri
komunitas tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa stereotip etnis adalah kepercayaan yang dianut


bersama oleh sebagian besar warga suatu golongan etnis tentang sifat-sifat
khas dari berbagai golongan etnis, termasuk golongan etnis mereka sendiri.
Riset tentang stereotip etnik yang dilakukan oleh tim dari Universitas
British Columbia (Schaller et. al, 2002) memperoleh temuan penting tentang
tipisnya jarak antara stereotip pada level pribadi dan level budaya. Menurut
tim peneliti ini, selama ini stereotip hanya dibatasi pada keyakinan-keyakinan
yang bersifat personal-individual terhadap suatu kelompok tertentu. Namun,
stereotip juga harus dilihat pada level budaya, yakni seperangkat keyakinan
yang terbentuk dalam komunitas-komunitas tertentu sebagai akibat dari proses
kebudayaan.
Walaupun demikian, definisi strerotipe pada level budaya ini merupakan
suatu hal yang sensitif, karena pada dasarnya seperangkat keyakinan strerotipe
itu sendiri umumnya bersumber dari interaksi individu-individu dalam suatu
populasi tertentu (Katz dan Braly; dalam Schaller et. al, 2002).Maka, tidaklah
mengherankan apabila stereotip pada level budaya ini dapat memicu
pembentukan kognisi dan sikap sosial yang apologetik dan klaim-klaim
kebenaran (truth claim).
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan
yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam
kehidupan sehari - hari bertingkah laku sejalan dengan norma - norma, nilai nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan tersebut. Suku bangsa,
ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka sebagai sesuatu yang
prima, riil logis, sesuai dengan kodrat alam dan sebagainya. Segala yang
berbeda dengan kebudayaan yang mereka miliki dipandang sebagai sesuatu
yang kurang baik, kurang estetis, bertentangan dengan kodrat alam, dan
sebagainya.

Cara pandang individu terhadap etnis lain dan etnis tertentu akan
menentukan bagaimana ia bersikap terhadap individu atau kelompok yang
berasal dari etnis tersebut. Yang selanjutnya cara pandang tersebut biasanya
akan diturunkan kepada anak - anaknya. Sehingga anak - anaknya memiliki
pola pikir dan cara pandang yang secara nyata cenderung sama dengan orang
tuanya. Apabila cara pandang negatif yang ditransfer oleh orang tua kepada
anak - anaknya, maka pemikiran - pemikiran dan pandangan negatif pula yang
akan diadopsi oleh anak - anaknya. Dalam ranah pergaulan sosial yang lebih
luas hal itu berpotensi menghancurkan kesatuan dan memperburuk hubungan
sosial diantara kedua etnis yang berbeda.
2) Sikap Individu terhadap Stereotip Etnis
Ada tiga macam sikap individu ketika berhadapan dengan individu
atau kelompok yang berasal dari etnis lain, yaitu meliputi sikap antipati,
sikap setengah terbuka, dan sikap terbuka.
1. Sikap Antipati
Sikap antipati yaitu sikap ketidaksukaan terhadap individu
atau kelompok yang berasal dari etnis lain atau etnis tertentu. Yang
selanjutnya sikap ini akan bermuara dan memproduksi perilaku
sosial yang berupaserentetan penolakan terhadap kehadiran etnis
lain atau etnis tertentu. Individu yang memiliki sikap antipati
terhadap etnis lain atau etnis tertentu biasanya memiliki
kecenderungan mengeksklusifkan diri dengan etnisnya sendiri.
Bentuk perilaku nyata dari sikap antipati terhadap etnis lain ini
biasanya ditunjukkan dengan perilaku menjauhkan diri dari segala
hal yang berhubungan dengan etnis lain. Baik dalam pergaulan
sosial, kesenian, pendidikan, budaya, maupun interaksi - interaksi
lainnya yang bersifat multidimensional. Disini pembauran tidak
akan terjadi.

10

2. Sikap Setengah Terbuka


Sikap setengah terbuka menunjukkan adanya penerimaan
dalam derajat tertentu terhadap kehadiran individu atau kelompok
dari etnis lain maupun etnis tertentu. Orang yang memiliki sikap
setengah terbuka mau berinteraksi dan berhubungan dengan
individu atau kelompok dari etnis lain maupun etnis tertentu, untuk
hal - hal tertentu. Bentuk perilaku nyata dari sikap setengah
terbuka misalnya kerjasama dalam bidang edukasi, bisnis, seni,
dan ekonomi.
3. Sikap Terbuka
Sikap terbuka ialah sikap menerima secara penuh terhadap
kehadiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan individu
atau kelompok dari etnis lain maupun etnis tertentu. Orang yang
memiliki sikap terbuka mau berinteraksi dan berhubungan dengan
individu atau kelompok dari etnis lain maupun etnis tertentu untuk
berbagai macam hal, tidak dibatasi untuk hal - hal tertentu saja.
Bentuk perilaku nyata dari sikap terbuka misalnya mengadopsi
anak dari keturunan etnis yang berbeda, membentuk keluarga
dengan pasangan yang berasal dari etnis yang berbeda, dalam
bentukpernikahan atau perkawinan. Disini pembauran akan terjadi,
dengan tingkat derajat pembauran yang tinggi.

3) Stereotip Etnis di Indonesia


Berikut adalah beberapa stereotip mengenai etnis-etnis di
Indonesia, baik dari ingroup maupun outgroup.
1. Batak

11

a) Orang Batak mengaku sebagai suku yang paling toleran di


seluruh Indonesia. Karena itu menurut mereka, kerusuhan
dengan motif etnik maupun agama tidak akan masuk ke
tanah air mereka. Sudah menjadi hal yang lazim di sana
bahwa orang Muslim membantu orang Kristen yang
merayakan Natal, dan sebaliknya orang Kristen juga
membantu orang Muslim yang merayakan Lebaran.
Toleransi itu terjadi karena ada pertalian adat atau dalihan
na tolu yang sangat kuat dipegang oleh orang Batak. Secara
umum orang Batak mengaku tidak punya masalah dengan
etnik-etnik yang lain, termasuk dengan etnik Tionghoa.
b) Orang Batak dikatakan suka berbicara dengan suara yang
keras agar diperhatikan orang lain (bahkan ada yang
mengidentikkan suka berbicara ini dengan suka membual).
c) Orang Batak itu pemberani dan agresif, mereka berani
dalam mengemukakan pendapat sendiri walaupun mereka
berada di dalam kedudukan minoritas, orang batak tidak
akan terkalahkan oleh kaum yang mayoritas.
d) Orang Batak itu kasar, ini tampak dari kebiasaan mereka
yang suka berbicara keras-keras dan suka berkelahi di
depan orang lain dan pernyataan ini di dukung dengan
perawakan mereka misalnya bentuk dan ekspresi muka.
2. Jawa
a) Orang Jawa juga mengaku sebagai etnik yang paling
toleran dan paling mudah beradaptasi. Dalam soal
hubungan antaretnik, orang Jawa merasa tidak punya
masalah dengan kelompok etnik mana saja.
b) Stereotip orang Jawa adalah lamban dan masa bodoh.
c) Orang Jawa memiliki stereotip sebagai sukubangsa yang
sopan dan halus. Tetapi mereka juga terkenal sebagai

12

sukubangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat


ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin
menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik,
karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak
membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.
3. Minang
a) Bicara tentang Minang berarti bicara tentang Islam. Sebab
orang Minang itu bisa dikatakan semuanya memeluk Islam.
Orang

Minang yang tidak Islam itu secara etnis tetap

Minang, tapi dia dilempar dari sukunya. Ada dua tali di


Minangkabau, yaitu tali darah dan tali adat. Tali darahnya
Islam, dan tali adatnya budaya Minang.
b) Etnis Minang disebut memiliki fanatisme kesukuan karena
mereka suka membantu orang sekampung.
c) Etnis Minang itu rela tidur di emper-emper dan berdagang
sampai

berpeluh-peluh

asalkan

bisa

mengirimkan

penghasilannya ke kampung halaman.


d) Sikap dagangnya kuat, tidak ada tawar menawar bagi
mereka.
e) Orang Minang itu culas dan licik, seperti ada pernyataan
yang mengatakan tahimpik di ateh, takuruang di lua
( terhimpit di atas, terkurung di luar).
4. Tiong Hoa
a) Orang Tiong Hoa rajin, ulet dan serius.
b) Etnis tiong hoa di Indonesia dan di seluruh dunia itu sudah
sebagai perantau sejak ratusan tahun yang lalu. Mau tak
mau mereka menjadi rajin dan ulet. Semakin hidup sulit
semakin ulet, kalau tidak akan putus karena mereka
mengalami diskriminasi di negara orang lain. Kalau etnis
tiong hoa di negaranya sendiri mungkin juga ada yang
malas karena merasa santai di negeri sendiri. Karena
keuletannya tersebut semua etnis tiong hoa dianggap kelas
13

menengah ke atas, dianggap orang kaya. Padahal dalam


struktur sosial China, menjadi pedagang adalah pekerjaan
yang paling rendah disana.
c) Ada yang mengatakan etnis tiong hoa itu bersifat industrial
dan ada juga yang melabel etnis ini sebagai etnis yang
commercial.
d) Orang Tiong Hoa tidak nasionalis, mereka seringkali
memakai bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari
bahkan di tempat umum sekalipun.
e) Orang Tiong Hoa selalu ingin duluan, misalnya mereka
tidak mau antri, maunya nyerobot,tidak mau ikut aturan
main.
f) Etnik yang paling aman dari persoalan disintegritas bangsa,
sebab etnik ini telah menyebar ke seluruh Indonesia.
g) Orang Tiong Hoa yang menganggap rendah masyarakat
pribumi
5. Aceh
a) Etnik Aceh mengklaim etniknya sendiri sebagai etnik yang
toleran. Toleransi antaretnik dan agama adalah hal yang
sangat dijunjung tinggi di sana. Karena itu, menurut
mereka, di Aceh tidak akan terjadi konflik etnik atau
agama. Orang Budha, Hindu, Kristen, atau siapa saja yang
sembahyang di depan rumah mereka, tidak akan diganggu.
Orang Aceh juga tidak menganggap ada sentimen
antaretnik di sana. Yang jadi masalah adalah kalau budaya
dan kultur Aceh diinjak-injak.
b) Seperti pernyataan atau istilah kata dalam bahasa aceh
ureng aceh bek sigepih dipesakit hatejih (orang aceh
jangan sekalipun disakiti hatinya),
c) Etnis Aceh terkenal sebagai bangsa yang gagah berani.
Keterlibatan orang Aceh dalam perang di masa lalu tidak
hanya untuk kalangan laki-laki dan orang dewasa saja,
14

tetapi juga terlibat kaum perempuan, yang banyak yang


menjadi panglima perang di Aceh pada saat itu. Di situlah
dapat kita melihat bahwa sifat Heroisme itu sangat kental
dan hampir menyeluruh.
d) Salah satu kelebihan lainnya yang dimiliki oleh orang Aceh
adalah kerja keras dan pantang menyerah. Jika dilihat dari
aspek sosial, maka gerak bisnis orang Aceh sudah dimulai
sejak pukul empat pagi, khususnya ketika warung kopi
dibuka. Disini dapat diketahui bahwa mereka yang menjual
sarapan pagi tentu bangun lebih pagi daripada jadwal
mereka harus membuka warung. Sehingga kadang kala,
mereka boleh jadi bangun pada jam 2 pagi. Ini menandakan
bahwa orang Aceh begitu kuat kemauannya dalam mencari
nafkah. Ini belum lagi jika kita lihat masyarakat nelayan
yang pagi buta sudah pergi berlayar, yang kadang kala juga
jarang diselingi dengan shalat subuh.
e) Etnis aceh memiliki rasa kesukuan yang sangat menonjol
(sukuisme/provinsialisme),

membanggakan

sesama

etnisnya, dan saling menjunjung tinggi adat dan agama.


Contohnya saja masih berlakunya syariah islam.
f) Orang aceh berwatak keras, ingin menang sendiri, dan
egois.
g) Etnis aceh berdarah panas atau suka marah-marah dan mau
menang sendiri.
4) Contoh Kasus Strereotip Etnis Di Indonesia
Seperti contoh kasus di pasar tradisional Pulo Brayan, ada
pedagang beretnis batak sebagai penjual dan terdapat dua pembeli
yang pertama beretnis Thionghoa, dan yang kedua beretnis Jawa.
Pedagang terrsebut berpikir bahwa orang Thionghoa akan lebih
banyak melariskan dagangannya dibandingkan orang Jawa. Padahal

15

persepsi seperti itu tidak selamanya benar; ternyata pembeli etnis


Thionghoa hanya membeli seperempat lebih sedikit dagangannya
dibbanding etnis Jawa yang lebih banyak membeli barang yang
dijualnya. Pandangan atau pemikiran sementara inilah yang terdapat
pada pemikiran pedagang sehingga melahirkan sikap subjektif
terhadap pendangannya dengan orang lain.
Begitu juga sebaliknya dengan pemikiran sementara pembeli
terhadap ragam etnis pedagang yang berjualan di pasar tradisional.
Ada anggapan bahwa lebih baik membantu teman sendiri (dalam hal
ini satu sub dalam etnis tersebut) dibanding membantu orang lain.
Dalam kasus yang terjadi di lapangan terlihat bahwa ada pembeli yang
membeli barang dagangan sesuai kebutuhan yang dicarinya dan tidak
mempertimbangkan siap penjualnya , akan tetapi ada juga pembeli
yang membeli barang berdasarkan siapa penjualnya. Orang batak yang
yang dianggap kasar akan cenderung disegani oleh orang Jawa yang
pada akhirnnya akan membuat pembeli Etnis Jawa mencari pedagang
yang dirasanya akan memberikan pelayanan yang lebih baik (lembut).
Namun Stereotip etnis ini akan berubah menjadi stereotip peranan dan
mengubah persepsinya terhadap individu suatu etnis ketika terjadi
keintiman atau kedekatan dan kepahaman atas pribadinya, sehingga ia
memandangnya bukan seorang yang beretnis tetapi sebagai teman atau
pelanggan yang mengerti ia.

16

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa stereotip etnis
adalah sebagai suatu kepercayaan yang dianut bersama oleh sebagian besar
warga suatu golongan etnis tentang sifat-sifat khas dari berbagai golongan
etnis, termasuk golongan etnis mereka sendiri. Cara pandang stereotip
diterapkan tanpa pandang bulu terhadap semua anggota kelompok yang
distereotipkan, tanpa memperhatikan adanya perbedaan yang bersifat
individual dan cara pandang stereotip selalu salah. Asal mula timbulnya
stereotip tidak diketahui dan stereotip selalu mengalami perubahan. Terdapat
tiga tingkat penerimaan individu terhadap stereotip mengenai kelompok lain,
yaitu antipati, sikap setengah terbuka, dan sikap terbuka. Indonesia memiliki
banyak jenis etnis sehingga perbedaan etnis dapat menimbulkan berbagai

17

stereotip pada setiap etnis. Stereotip etnis tersebut dapat menjadi negatif bila
enimbulkan perpecahan antar etnis.

DAFTAR PUSTAKA
Diurna, Acta.(2014). Kasus : Stereotip Suku Minahasa Terhadap Etnis Papua (Studi
Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik
Universitas

Sam

Ratulangi).

Volume

III.

No.2.

Tahun

2014.

(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurna/article/viewFile/5038/4555.)
Hoton&Hunt.(1997).Sosiologi.Jilid 1. Edisi 6.Jakarta:Erlangga
Liliweri, Alo.(2005). Prasangka dan Konflik:Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat
Multikultur.Yogyakarta:LKIS Yogyakarta.
Manstead, Anthony S. R., & Hewstone, Miles. (1996). The Blackwell Encyclopedia
of Social Psychology. Oxford, UK: Blackwell Publishers.
McGarty, C., Yzerbyt, V.Y., & Spears, R. 2004. Stereotypes as Explanations:the
Formation of Meaningful Beliefs about Social Groups. Cambridge:
Cambridge University Press.

18

Rahman, Fathur. 2002. Mengelola prasangka sosial dan stereotype etnik-keagamaan


melalui psychological and global education. Yogyakarta: Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Revida, Erika.(2006) judul : Interaksi Sosial Masyarakat Etnik Cina Dengan Pribumi
Di Kota Medan, Sumatera Utara. Jurnal Harmoni Sosial, September 2006,
Volume 1,(1). (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15293/1/harsep2006-%20(4).pdf)
Rosihan, Ahmad. 2012. Stereotipisasi Etnis Pribumi atas Etnis Pendatang. (Studi
deskriptif stereotip pada etnis komering atas etnis jawa: Studi kasus di SMA
Negeri 1 Martapura di Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan).
Rumondor, Feybee, H., Ridwan, P., Tangkudung, P. 2014. Stereotip Suku Minahasa
terhadap Etnis Papua (Studi Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi). Jurnal Acta
Diurna Volume III No. 2: 1-6.
Schaller, Mark, Conway, L. G., & Tanchuk, T. L. (2002). Selective Pressures on the
Once and Futurer Contents of Ethnic Stereotypes: Effects of the
Communicability Traits. Journal of Personality and Social Psychology, 82,
6, 861 877.
Schneider, D. J. 2004. The Psychology of Stereotyping. New York: The Guilford
Press.
Warnaen, Sumarsih. 2002. Stereotip Etnis dalam Masyarakat Multietnis. Yogyakarta:
Mata Bangsa.

19