Anda di halaman 1dari 6

I.

Pengertian Penyebaran Populasi


Populasi didefinisikan sebagai kelompok kolektif organisme. Organisme dan
spesies yang sama (kelompok-kelompok lain di mana individu-individu dapat
bertukar informasi genetika) menduduki ruang atau tempat tertentu,
memiliki berbagai ciri atau sifat yang merupakan sifat milik individu di dalam
kelompok itu. Populasi mempunyai sejarah hidup dalam arti mereka tumbuh,
mengadakan pembedaan-pembedaan dan memelihara diri seperti yang
dilakukan oleh organisme. Sifat-sifat kelompok seperti laju kelahiran, laju
kematian,

perbandingan

umur,

dan

kecocokan

genetik

hanya

dapat

diterapkan pada populasi (Odum,1993).


Penyebaran populasi merupakan pergerakan individu ke dalam atau keluar
dari populasi. Penyebaran populasi berperan penting dalam penyebaran
secara geografi dari tumbuhan, hewan atau manusia ke suatu daerah
dimana

mereka

belum

menempatinya.

Penyebaran

populasi

dapat

disebabkan karena dorongan mencari makanan, menghindarkan diri dari


predator, pengaruh iklim, terbawa air/angin, kebiasaan kawin dan faktor fisik
lainnya (Umar, 2013).
II. Faktor yang Membatasi Distribusi
Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh berbagai hal
disekelilingnya.

Setiap

faktor

yang

berpengaruh

terhadap

kehidupan

organisme tersebut disebut faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai


dimensi ruang dan waktu, yang berarti kondisi lingkungan tidak mungkin
seragam baik dalam arti ruang maupun waktu. Kondisi lingkungan akan
berubah sejalan dengan perubahan ruang, dan akan berubah pula sejalan
dengan waktu. Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan
ini , sehingga hubungan nyata antara lingkungan dan organisme hidup ini
akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik berdasarkan ruang
maupun waktu. Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan
sebagai faktor pembatas bagi organisme , yaitu Hukum Minimum Liebig dan

Hukum Toleransi Shelford. Hukum Minimum Liebig menyatakan bahwa


pertumbuhan suatu tanaman akan ditentukan oleh unsur hara esensial yang
berada dalam

jumlah minimum kritis, jadi pertumbuhan tanaman tidak

ditentukan oleh unsur hara esensial yang jumlahnya paling sedikit. Dengan
demikian unsur hara ini dikatakan sebagai faktor pembatas karena dapat
membatasi pertumbuhan tanaman. Hukum Toleransi Shelford menyatakan
bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu janis organisme mempunyai
suatu kondisi minimum dan maksimum yang mampu diterimanya, diantara
kedua harga ekstrim tersebut merupakan kisaran toleransi dan didalamnya
terdapat sebuah kondisi yang optimum. Dengan demikian setiap organisme
hanya mampu hidup pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu tempat yang
cocok yang dapat diterimanya. Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat
bertahan hidup dan disebut daerah yang tidak toleran. Meskipun Hukum
Minimum Liebig dan Hukum Toleran shelford pada dasarnya benar namun
hukum ini masih terlalu kaku, sehingga kedua hukum tersebut digabungkan
menjadi konsep faktor pembatas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa
kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada kondisi-kondisi
yang tidak sederhana. Organisme di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai
materi yang minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya
yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas
toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam pertumbuhan dan
penyebaran jenis. Di dalam hukum toleransi Shelford dikatakan bahwa besar
populasi dan penyebaran suatu jenis makhluk hidup dapat dikendalikan
dengan faktor yang melampaui batas toleransi maksimum atau minimum
dan mendekati batas toleransi maka populasi atau makhluk hidup itu akan
berada dalam keadaan tertekan (stress), sehingga apabila melampaui batas
itu yaitu lebih rendah dari batas toleransi minimum atau lebih tinggi dari
batas toleransi maksimum, maka makhluk hidup itu akan mati dan
populasinya akan punah dari sistem tersebut. Untuk menyatakan derajat
toleransi sering dipakai istilah steno untuk sempit dan euri untuk luas.
Cahaya, temperatur dan air secara ekologis merupakan faktor lingkungan

yang penting untuk daratan, sedangkan cahaya, temperatur dan kadar


garam merupakan faktor lingkungan yang penting untuk

lautan. Semua faktor fisik alami tidak hanya merupakan faktor pembatas
dalam arti yang merugikan akan tetapi juga merupakan faktor pengatur
dalam arti yang menguntungkan sehingga komunitas selalu dalam keadaan
keseimbangan atau homeostatis. Faktor Fisik Sebagai Faktor Pembatas,
Lingkungan Mikro dan Indikator Ekologi Lingkungan mikro merupakan suatu
habitat organisme yang mempunyai hubungan faktor-faktor fisiknya dengan
lingkungan sekitar yang banyak dipengaruhi oleh iklim mikro dan perbedaan
topografi. Perbedaan iklim mikro ini dapat menghasilkan komunitas yang
berbeda. Suatu faktor lingkungan sering menentukan organisme yang akan
ditemukan pada suatu daerah. Karena suatu faktor lingkungan sering
menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah, maka
sebaliknya dapat ditentukan keadaan lingkungan fisik dari organisme yang
ditemukan pada suatu daerah. Organisme inilah yang disebut indikator
ekologi (indikator biologi). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan indikator biologi adalah: a umumnya organisme steno, yang
merupakan indikator yang lebih baik dari pada organisme euri. Jenis
tanaman indikator ini sering bukan merupakan organisme yang terbanyak
dalam suatu komunitas. b spesies atau jenis yang besar umumnya
merupakan indikator yang lebih baik dari pada spesies yang kecil, karena
spesies dengan anggota organisme yang besar mempunyai biomassa yang
besar pada umumnya lebih stabil. Juga karena turnover rate organisme kecil
sekarang yang ada/hidup mungkin besok sudah tidak ada/mati. Oleh karena
itu, tidak ada spesies algae yang dipakai sebagai indikator ekologi. c
sebelum yakin terhadap satu spesies atau kelompok spesies yang akan
digunakan sebagai indikator, seharusnya kelimpahannya di alam telah
diketahui terlebih dahulu. d semakin banyak hubungan antarspesies,

populasi atau komunitas seringkali menjadi faktor yang semakin baik apabila
dibandingkan dengan menggunakan satu spesies.

2.1 Interelasi dengan spesies lain


2.2
1. Cahaya Matahari Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena
sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem
sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari,
baik dalam jumlah sedikit maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme
tertentu. 2. Suhu Udara Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung
maupun tidak langsung terhadap

suatu organisme. Suhu berperan dalam mengontrol proses-proses metabolisme dalam tubuh serta
berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya terutama suplai air. 3. Air Air merupakan faktor
lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air dalam
biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air
dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada akhirnya
akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut. 4.
Ketinggian Tempat Ketinggian suatu tempat diukur mulai dari permukaan air laut. Semakin
tinggi suatu tempat, keragaman gas-gas udara semakin rendah sehingga suhu suhu udara semakin
rendah. 5. Kuat arus
Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar sungai, suhu air,
kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya diperairan tersebut.
Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan posisinya. Faktor
pembatas dalam ekosistem perairan sungai adalah : Cahaya matahari Cahaya Matahari
merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena sebagai sumber energi utama bagi
seluruh ekosistem. Struktur dan fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi
matahariyang sampai pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit
maupun banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu. Air. Air merupakan

faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua organisme hidup memerlukan air. Air
dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus
air dibumi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada
akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup dalam ekosistem
tersebut. Suhu. Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang
secara bersama-sama mengurangi perubahan suatu sampai tingkat minimal, sehingga perbedaan
suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada di udara. Sifat yang
terpenting adalah : panas jenis, panas fusi, dan panas evaporasi. Kejernihan Penetrasi cahaya
sering kali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa dimana habitat
akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel
yang dapat mengendap, sering kali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan
disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktifitas. Arus
Air cukup padat, maka arah arus amat penting sebagai faktor pembatasan, terutama pada aliran
air.

Disamping itu, arus sering kali amat menentukan distribusi gas yang fital, garam dan organisme
yang kecil. Kuat arus dalam suatu perairan sungai sangat menentukan kondisi substrat dasar
sungai, suhu air, kadar oksigen, dan kemampuan organisme untuk mempertahankan posisinya
diperairan tersebut. Semakin kuat arus air, semakin berat organisme dalam mempertahankan
posisinya. Zona air deras Daerah yang airnya dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi
untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga
dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh berbagai bentos yang telah beradapatasi khusus misalnya
derter. Zona air tenang Bagian air yang dalam dimana kecepatan arus suda berkurang, maka
lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar, sehingga dasarnya lunak tidak sesuai
dengan bentos tetapi sesuai untuk penggali nekton dan plankton.
Menurut

Liebig

(1840),keberadaan,

kelimpahan,

organisme ditentukan oleh tingkatan kondisi dari

atau

distribusi

satu atau

suatu

lebih faktor

pembatas,di bawah atau di atas kondisi yang dibutuhkan oleh organisme itu
dapat membatasi pertumbuhan suatu organisme. Misalnya, seorang petani
menanam jagung di lahan yang kekurangan Nitrogen.

Walaupun energi

matahari, air, dan zat hara lain yang diperlukan jagung tersedia dengan baik,
tetapi pertumbuhan tetap lambat jika salah satu zat hara, dalam hal ini
nitrogen, tidak tersedia. Dalam kasus ini, nitrogen merupakan faktor
pembatas.
2.3 Hubungan antara Distribusi dan Kelimpahan
Kondisi lingkungan dan interaksi dalam populasi menentukan distribusi dan kelimpahan spesies.
Distribusi dan kelimpahan merupakan masalah pokok dalam ekologi dan biogeografi. Keduanya
saling berhubungan. Meski telah lama diakui bahwa kelimpahan dan distribusi hubungannya
saling terkait, sifat hubungan ini belum diselidiki secara sistematis dengan kisaran skala dari tata
ruang geografis untuk seluruh populasi lokal (Brown, 1984).
Kelimpahan adalah jumlah organisme pada habitat. Distribusi adalah penyebaran organisme pada
habitat. Hubungan yang sangat positif antara distribusi dan kelimpahan dapat dihasilkan oleh
sebuah mekanisme metapopulasi yang dinamis, yang tidak didasarkan pada perbedaan ekologi
dengan kapasitas spesies. Punahnya spesies di suatu lokasi juga dapat diiringi oleh populasi baru
dapat terbentuk di lokasi lain yang sesuai dan berdekatan dengan lokasi dengan lokasi semula.
Berbagai spesies yang hidup dalam habitat sementara dapat digolongkan sebagai metapopulasi.
Metapopulasi (populasi dari populasi) adalah sejumlah populasi yang membentuk suatu mozaik
yang dinamis dan saling berhubungan melalui peristiwa-peristiwa migrasi maupun penyebaran
pasif atau bisa dikatakan suatu sistem dimana tingkat rata-rata keberadaan serta rekolonisasi
yang mengakibatkan terjadinya perpindahan individu-individu yang menjamin terjadinya
hubungan secara genetis antara masing-masing sub populasi. Jika emigran dari sekitar habitat
kependudukan berkurang kemungkinan terjadi kepunahan lokal dan jika tingkat imigrasi suatu
wilayah sebanding dengan sebagian kecil wilayah yang diduduki, habitatnya cocok kemudian
keselamatan efek tak terelakkan menghasilkan sebuah korelasi positif antara distribusi dan
kelimpahan. Korelasi tersebut terjadi sebagai konsekuensi dari variasi yang sederhana dalam
tingkat daerah imigrasi dan kepunahan sistem metapopulasi atau penduduk setempat (Lobo,
1993).