Anda di halaman 1dari 4

NAMA : YUNI LISTIYANA

NIM : P1337420616033

PRODI : S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG

DAMPAK KORUPSI TERHADAP PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Korupsi di Indonesia sudah sangat banyak, korupsi bukan hanya dilakukan oleh pejabat-
pejabat pemerintahan pusat tetapi saat ini banyak kasus pejabat daerah ditangkap KPK karena
melakukan tindak korupsi dan bahkan korupsi terjadi bukan hanya di kalangan pejabat tetapi
rakyat pun banyak yang melakukan tindak korupsi. Dampak dari korupsi di Indonesia sangat
banyak yakni dampak terhadap pelayanan kesehatan, sosial dan kemiskinan masyarakat, birokrasi
pemerintahan, politik dan demokrasi, penegakan hukum, pertahanan dan keamanan, dan
pelestarian lingkungan juga. Kali ini saya akan membahas mengenai dampak korupsi terhadap
pertahanan dan keamanan negara. Terdapat beberapa dampak korupsi terhadap pertahanan dan
keamanan, yaitu :

1. Kerawanan Hankamnas Karena Lemahnya Alusista dan SDM


Indonesi adalah negara no 15 terluas di dunia dan merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia. Indonesia terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia, posisi
Indonesia sangat strategis sehingga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
kebudayaan, social, politik, dan ekonomi. Indonesia juga memiliki jumlah penduduk yang
sangat banyak, yaitu 230 juta jiwa, tetapi jumlah tantara yang melindungi dan menjaga
pertahanan negara tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada.
Dengan bentuk negara kepulauan seperti ini tentunya masalah kerawanan hankam
menjadi sesuatu yang sangat penting. Alat pertahanan dan SDM yang handal akan sangat
membantu menciptakan situasi dan kondisi hankam yang kondusif. Kondisi hankam yang
kondusif ini merupakan dasar yang penting bagi perkembangan dan pertumbuhan
ekonomi. Saat ini kita sering sekali mendapatkan berita dari berbagai media tentang
bagaimana negara lain begitu mudah menerobos batas wilayah Negara Indonesia, baik dari
darat, laut maupun udara. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pertahanan dan keamanan
Indonesia masih sangat lemah. Tentunya hal ini sangat berhubungan dengan alat dan SDM
yang ada serta membutuhkan anggaran yang besar untuk mewujudkannya. Apabila
anggaran dan kekayaan negara ini tidak dirampok oleh para koruptor maka semua itu akan
bisa diwujudkan. Dengan ini Indonesia akan mempunyai pertahanan dan keamanan yang
baik yang pada akhirnya menghasilkan stabilitas negara yang tinggi.

2. Lemahnya Garis Batas Negara


Indonesia dalam posisinya berbatasan dengan banyak negara, seperti Malaysia,
Singapura, China, Philipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Australia. Masyarakat yang
hidup di daerah perbatasan harus menanggung biaya ekonomi yang sangat tinggi.
Perekonomian yang cenderung tidak merata dan hanya berpusat pada perkotaan semakin
mengakibatkan kondisi wilayah perbatasan semakin buruk.
Sisi lain dari permasalahan perbatasan, Indonesia mencatat kerugian yang sangat
besar dari sektor kelautan, seperti yang dilansir oleh kementerian Kelautan dan Perikanan
RI yang menyatakan bahwa Indonesia mengalami kerugian 9,4 Triliun Rupiah per tahun
akibat pencurian ikan oleh nelayan asing. Nelayan asing dari Malaysia, Vietnam, Philipina,
Thailand sering sekali melanggar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dan meneruk
kekayaan laut yang ada di dalamnya. Hal ini terjadi berulang kali dan sepertinya Indonesia
belum mampu mengatasi masalah ini. Kondisi ini semakin jelas, bahwa negara seluas 1,9
juta km persegi ini ternyata hanya dijaga oleh 24 kapal saja, dan dari 24 kapal tersebut
hanya 17 kapal yang dilengkapi dengan senjata yang memadai, seperti yang dijelaskan oleh
Syahrin Abdurahman, Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen
PSDKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Selain itu wilayah tapal batas ini sangat rawan terhadap berbagai penyelundupan
barang-barang illegal dari dalam maupun luar negeri, seperti bahan bakar, bahan makanan,
elektronik, sampai penyelundupan barang-barang terlarang seperti narkotika, dan senjata
dan amunisi gelap. Selain itu juga sangat rawan terjadinya human trafficking, masuk dan
keluarnya orang-orang yang tidak mempunyai izin masuk ke wilayah Indonesia atau
sebaliknya dengan berbagai alasan. Kita bisa bayangkan, andaikan kekayaan negara tidak
dikorupsi dan dipergunakan untuk membangun daerah-daerah perbatasan, maka negara ini
akan semakin kuat dan makmur.
3. Menguatnya Sisi Kekerasan Dalam Masyarakat
Kondisi kemiskinan pada akhirnya memicu berbagai kerawanan sosial lainnya
yang semakin membuat masyarakat frustasi menghadapi kerasnya kehidupan. Kondisi ini
membuat masyarakat secara alamiah akan menggunakan insting bertahan mereka yang
sering kali berakibat negatif terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Masyarakat
menjadi sangat apatis dengan berbagai program dan keputusan yang dibuat oleh
pemerintah, karena mereka menganggap hal tersebut tidak akan mengubah kondisi hidup
mereka. Hal ini mengakibatkan masyarakat cenderung berusaha menyelamatkan diri dan
keluarga sendiri dibanding dengan keselamatan bersama, dengan menggunakan cara-cara
yang negatif.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa korupsi terhadap peluang-


peluang penyalahgunaan uang negara, yang sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat
terhadap realitas kehidupan, yang ujung-ujungnya dapat menimbulkan rasa frustrasi, iri, dengki,
gampang menghujat, tidak menerima keadaan dan rapuh, dan pada ujungnya masyarakat dapat
kehilangan arah dan identitas diri serta menipisnya sikap bela negara dalam pertahanan dan
keamanan. Dampak lain berupa peralatan perang dan SDM yang kurang sehingga pertahanan
menjadi lemah, kemiskinan terjadi pada penduduk perbatasan negara, dan meningkatnya tindak
kekerasan pada masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Nugraheni, Hermin., Tri, Wiji., & Sukini. (2017). Mahasiswa Pelopor Gerakan Antikorupsi.
CV Budi Utama: Yogyakarta.
Hurul, Hidayah. (2018). Analisis Aspek Hukum Tindak Pidana Korupsi Dalam Rangka
Pendidikan Anti Korupsi. Jurnal Kosmik Hukum Vol. 18 No. 2 Juni 2018 Issn
1411-9781
Puspito, Nanang dkk. (2011). Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi.
Kemendikbud: Jakarta. Diakses dari http://akperrsdustira.ac.id/wp-
content/uploads/2017/07/Buku-Pendidikan-Anti-Korupsi-untuk-Perguruan-
Tinggi-2017-bagian-1.pdf tanggal 28 Agustus 2019
Suseno, U & Yudhi, P. (2014). Buku Ajar Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi. Pusat
pendidikan dan pelatihan tenaga Kesehatan: Jakarta Selatan. Diakses dari
https://aclc.kpk.go.id/wp-content/uploads/2018/07/Buku-Ajar-Mata-Kuliah-
PBAK-Poltekkes-Kemenkes.pdf tanggal 28 Agustus 2019
Trinovani, Elvi. (2016). Pengetahuan Budaya Anti Korupsi. Diakses dari
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/PBAK-
Komprehensif.pdf tanggal 28 Agustus 2019