Anda di halaman 1dari 17

AMONIA (NH)

Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati
berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia).

Molekul ammonia

mempunyai bentuk segi tiga. Ammonia terdapat di atmosfera dalam kuantiti yang kecil akibat
pereputan bahan organik. Ammonia juga dijumpai di dalam tanah, dan di tempat berdekatan
dengan gunung

berapi.

Walaupun

amonia

memiliki

sumbangan

penting

bagi

keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak
kesehatan. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerjaan Amerika Serikat memberikan
batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas berkonsentrasi 35 ppm volum, atau 8
jam untuk 25 ppm volum. Kontak dengan gas amonia berkonsentrasi tinggi dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian. (Wikipedia)
Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini
menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena amonia mendidih di suhu -33 C,
cairan amonia harus disimpan dalamtekanan tinggi atau temperatur amat rendah. Walaupun
begitu, kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksi biasa
di dalam sungkup asap. "Amonia rumah" atau amonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam
air. Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baum. Produk larutan komersial
amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baum (sekitar 30
persen berat amonia pada 15.5 C). Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki
konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia. Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75),
namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=9.25). (Wikipedia)

Sumber Amoniak
Amonia terdapat di atmosfer dalam kuantiti yang kecil akibat pereputan bahan
organik. Amonia juga dijumpai di dalam tanah, dan di tempat berdekatan dengan gunung
berapi. Oleh karena itu, pada suhu dan tekanan piawai, amonia adalah gas yang tidak
mempunyai warna (lutsinar) dan lebih ringan dari pada udara (0.589 ketumpatan
udara). Amonia tidak menyokong pembakaran, dan tidak akan terbakar kecuali dicampur
dengan oksigen, di mana amonia terbakar dengan nyalaan hijau kekuningan muda. Amonia
dapat meletup jika dicampur dengan udara. Amonia diperoleh dengan cara menyulingkan

tumbuhan dan hewan yang mengandung nitrogen. Atau dengan mereaksikan garam-garam
amonium dengan hidroksida alkali.Amonium juga diperoleh dengan mereaksikan magnesium
nitrit (Mg3N2) dengan air.
Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan
nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari dekomposisi bahan
organic oleh mikroba dan jamur (amonifikasi). Sumber amonia adalah reduksi gas nitrogen
yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri dan domestik. Amonia yang
terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Selain terdapat dalam bentuk
gas, amonia membentuk senyawa kompleks dengan beberapa ion-ion logam. Amonia juga
dapat terserap kedalam bahan-bahan tersuspensi dan koloid sehingga mengendap di dasar
perairan. Amonia di perairan dapat menghilang melalui proses volatilisasi karena tekanan
parsial amonia dalam larutan meningkat dengan semakin meningkatnya pH. Ikan tidak bisa
bertoleransi terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu
proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat meningkatkan sifokasi. Pada
budidaya intensif, yang padat penebaran tinggi dan pemberian pakan sangat intensif,
penimbunan limbah kotoran terjadi sangat cepat.
Gas amonia juga merupakan salah satu gas pencemar udara yang dihasilkan dari
penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme seperti dalam proses pembuatan kompos,
dalam industri peternakan, dan pengolahan sampah kota. Amonia (gas) itu terdiri dari
hidrogen dan nitrogen yang biasanya perbandingan molarnya 3:1, ada metan, argon, dan
CO2. Amonia disintesis dengan reaksi reversibel antara hidrogen dengan nitrogen.

Keberadaannya di Perairan
Amonia (NH3) pada suatu perairan berasal dari urin dan feses yang dihasilkan oleh
ikan. Kandungan amonia ada dalam jumlah yang relatif kecil jika dalam perairan kandungan
oksigen terlarut tinggi. Sehingga kandungan amonia dalam perairan bertambah seiring
dengan bertambahnya kedalaman. Pada dasar perairan kemungkinan terdapat amonia dalam
jumlah yang lebih banyak dibanding perairan di bagian atasnya karena oksigen terlarut pada
bagian dasar relatif lebih kecil (Welch, 1952 dalam Setiawan, 2006). Menurut Jenie dan
Rahayu (1993) dalam Marlina (2004), konsentrasi amonia yang tinggi pada permukaan air
akan menyebabkan kematian ikan yang terdapat pada perairan tersebut. Toksisitas amonia
dipengaruhi oleh pH yang ditunjukkan dengan kondisi pH rendah akan bersifat racun jika

jumlah amonia banyak, sedangkan dengan kondisi pH tinggi hanya dengan jumlah amonia
yang sedikit akan bersifat racun juga. Selain itu, pada saat kandungan oksigen terlarut tinggi,
amonia yang ada dalam jumlah yang relatif kecil sehingga amonia bertambah seiring dengan
bertambahnya kedalaman (Welch, 1952 dalam Setiawan, 2006). Kadar amonia pada perairan
alami biasanya kurang dari 0,1 mg/liter. Kadar amonia bebas yang tidak terionisasi pada
perairan tawar sebaiknya tidak lebih dari 0,2 mg/liter. Jika kadar amonia bebas lebih dari 0,2
mg/liter, perairan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan. Kadar amonia yang tinggi dapat
merupakan indikasi adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik,
industri, dan limpasan pupuk pertanian. Kadar amonia yang tinggi juga dapat ditemukan pada
dasar danau yang mengalami kondisi tanpa oksigen atau anoxic (Effendi, 2003). Menurut
Boyd (1990), amonia dapat meningkatkan kebutuhan oksigen pada insang dan jaringan tubuh
yang mengalami kerusakan, dan menurunkan kemampuan darah dalam membawa oksigen.
Dalam kondisi kronik, peningkatan amonia dapat menyebabkan timbulnya penyakit dan
penurunan pertumbuhan. Pescod (1973) menyarankan agar kandungan amonia dalam suatu
perairan tidak lebih dari 1 mg/l, yaitu agar kehidupan ikan menjadi normal.

Karakteristik Amonia
1. Amonia merupakan gas yang tidak berwarna namun berbau sangat menyengat.
2. Sangat mudah larut dalam air, dalam keadaan standar, 1 liter air mampu melarutkan
1180 liter amonia.
3. Amonia mudah mencair, amonia cair membeku pada suhu (-)78 derajat celsius dan
mendidih pada suhu 33 derajat celsius.
4. Amonia bersifat korosif pada tembaga dan timah, dan mudah terbakar.
5. Amonia digunakan sebagai bahan alat kecantikan seperti bahan campuran pada cat
rambut, meluruskan rambut.

Tabel 1. Sifat-sifat Fisik Amonia

Spesifikasi Bahan Baku


Ammonia dibuat dari bahan baku gas bumi yang direaksikan dengan udara dan steam yang
diproses pada suhu dan tekanan yang tinggi melalui beberapa katalisator di dalam pabrik.
Bahan baku yag digunakan adalah gas alam yang mengandung Hydrogen (H2) dan Nitrogen
(N2) dengan perbandingan rasio H2 : N2 = 3 : 1.
Sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku
a.

Metana

Rumus molekul

: CH4

Berat molekul

: 16 g/mol

Titik leleh

: -182 C

Titik didih

: -162 C

Densitas

: 0.423 g/cm3

Fase pada 250 C

: gas

b.

Nitrogen

Rumus molekul

: N2

Berat molekul

: 28.02 g/mol

Titik didih

: -195.8 C

Titik lebur

: -209.86 C

Tekanan kritis

: 33.05 atm

Temperatur kritis

: 126 C

Sifat kimia :

Ikatan rangkap tiga tiga nitrogen yang sangat kuat menyebabkan N2cenderung inert.
Nitrogen dapat diproduksi dari pencairan dan fraksinasi udara. Hasil yang diperoleh
masih mengandung argon dan oksigen. Sedangkan N2 murni dapat diperoleh dengan
cara dekomposisi thermal dan larutan Natrium azide atau Barium azide.

2NaN3

2Na +3N2

c. Hidrogen
Rumus molekul

: H2

Berat Molekul

: 2.016 g/mol

Titik didih

: -252.6 C

Titik lebur

: -259.2 C

Densitas

: 0.08988 g/cm3

Sifat Kimia :

Entalpi pembakaran hidrogen adalah -286 kJ/mol. Hidrogen terbakar menurut


persamaan kimia:

2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l) + 572 kJ (286 kJ/mol)


Reaksi dengan halogen
H2 (g) + Cl2 (g) 2 HCl (g)
HCl (g) + air H+ (aq) + Cl (aq)
Dengan Logam Golongan Alkali
2 Na (s) + H2 (g) 2 Na+H- (s) + energi
Na+H (s) + H2O NaOH (aq) + H2 (g)

Pembuatan Amonia
Amonia dibuat menurut proses Haber. Fritz Haber adalah pemenang hadiah nobel untuk
pembuatan amonia dari nitrogen dan hydrogen.
N2(g) + 3H2 (g)

2NH3(g)

Selanjutnya, proses Haber ini di kembangkan oleh Carl Bosch, dengan menemukan metode
pada tekanan tinggi. Dengan demikian, sekarang ini proses pembuatan amonia disebut proses
Haber-Bosch.
Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hydrogen ditemukan oleh Fritz
Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan proses industri pembuatan amonia
untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh Carl Bosch, seorang insinyur kimia juga
dari Jerman. Persamaan termokimia reaksi sintesis amonia adalah :
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92,4Kj Pada 25oC : Kp = 6,2105
Berdasarkan prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk ketuntasan reaksi ke
kanan (pembentukanNH3) adalah suhu rendah dan tekanan tinggi. Akan tetapi, reaksi
tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah, bahkan pada suhu 500oC sekalipun.
Dipihak lain, karena reaksi ke kanan eksoterm, penambahan suhu akan mengurangi
rendemen. Proses Haber-Bosch semula dilangsungkan pada suhu sekitar 500oC dan tekanan
sekitar 150-350 atm dengan katalisator, yaitu serbuk besi dicampur dengan Al2O3, MgO,
CaO, dan K2O.
Reaksi ke kanan pada pembuatan amonia adalah reaksi eksoterm. Reaksi eksoterm
lebih baik jika suhu diturunkan, tetapi jika suhu diturunkan maka reaksi berjalan sangat
lambat. Amonia punya berat molekul 17,03. Amonia ditekanan atmosfer fasanya gas. Titik
didih Amonia -33,35 oC, titik bekunya -77,7 oC, temperatur & tekanan kritiknya 133 oC &
1657 psi. Dengan kemajuan teknologi sekarang digunakan tekanan yang jauh lebih besar,
bahkan mencapai 700 atm. Untuk mengurangi reaksi balik, maka amonia yang terbentuk
segera dipisahkan. Mula-mula campuran gas nitrogen dan hidrogen dikompresi
(dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan. Kemudian campuran gas
dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator sehingga terbentuk ammonia.

Produksi ammonia secara modern berbahan baku gas alam (metana), Liquified
Petroleum Gas ( propana dan butana).
Amoniak diproduksi dengan mereaksikan gas Hydrogen (H2) dan Nitrogen (N2) dengan
rasio H2 : N2 = 3 : 1 . Pada pembuatan amonia yang dilaksanakan pada industri (PT. PUSRI)
secara garis besar dibagi menjadi 4 Unit dengan urutan sebagai berikut :
1.

Feed Treating Unit dan Desulfurisasi

Gas alam yang masih mengandung kotoran (impurities), terutama senyawa belerang sebelum
masuk ke Reforming Unit harus dibersihkan dahulu di unit ini, agar tidak menimbulkan
keracunan pada Katalisator di Reforming Unit. Untuk menghilangkan senyawa belerang yang
terkandung dalam gas alam, maka gas alam tersebut dilewatkan dalam suatu bejana yang
disebut Desulfurizer. Gas alam yang bebas sulfur ini selanjutnya dikirim ke Reforming Unit.
Jalannya proses melalui tahapan berikut :
a.

Sejumlah H2S dalam feed gas diserap di Desulfurization Sponge Iron dengan

sponge iron sebagai media penyerap. Persamaan Reaksi :


Fe2O3.6H2O + H2S Fe2S3 6 H2O + 3 H2O
b.

CO2 Removal Pretreatment Section

Feed Gas dari Sponge Iron dialirkan ke unit CO2 Removal Pretreatment Section Untuk
memisahkan CO2 dengan menggunakan larutan Benfield sebagai penyerap. Unit ini terdiri
atas CO2 absorber tower, stripper tower dan benfield system.
c.

ZnO Desulfurizer

Seksi ini bertujuan untuk memisahkan sulfur organik yang terkandung dalam feed gas dengan
cara mengubahnya terlebih dahulu mejadi Hydrogen Sulfida dan mereaksikannya dengan
ZnO. Persamaan Reaksi :
H2S + ZnO ZnS + H2O
2.

Reforming Unit

Di Reforming Unit gas alam yang sudah bersih dicampur dengan uap air, dipanaskan,
kemudian direaksikan di Primary Reformer, hasil reaksi yang berupa gas-gas Hydrogen dan
Carbon Dioksida dikirim ke Secondary Reformer dan direaksikan dengan udara sehingga
dihasilkan gas-gas Hidrogen , Nitrogen dan Karbon Dioksida Gas-gas hasil reaksi ini dikirim
ke Unit Purifikasi dan Methanasi untuk dipisahkan gas karbon dioksidanya. Tahap-tahap
reforming unit adalah :
a.

Primary Reformer

Seksi ini bertujuan untuk mengubah feed gas menjadi gas sintesa secara ekonomis melalui
dapur reformer dengan tube-tube berisi katalis nikel sebagai media kontak feed gas dan steam

pada temperature (824 oC)dan tekanan (45 46 kg/cm2) tertentu . Adapun kondisi operasi
acuan adalah perbandingan steam to carbon ratio 3,2 : 1. Persamaan Reaksi :
CH4 + H2O CO + 3 H2 H = - Q
CO + H2O CO2 + H2 H = + Q
b.

Secondary Reformer

Gas yang keluar dari primary reformer masih mengandung kadar CH4 yang cukup tinggi,
yaitu 12 13 %, sehingga akan diubah menjadi H2 pada unit ini dengan perantaraan katalis
nikel pada temperature 1002,5 oC. Persamaan Reaksi :
CH4 + H2O 3 H2 + CO
Kandungan CH4 yang keluar dari Secondary reformer ini diharapkan sebesar 0.34 % mol dry
basis. Karena diperlukan N2 untuk reaksi pembentukan Amoniak maka melalui media
compressor dimasukkan udara pada unit ini. Persamaan Reaksi :
2H2 + O2 2H2O
CO + O2 2CO2
3.

Purification & Methanasi

Karbon dioksida yang ada dalam gas hasil reaksi Reforming Unit dipisahkan dahulu di Unit
Purification, Karbon dioksida yang telah dipisahkan dikirim sebagai bahan baku Pabrik Urea.
Sisa Karbon dioksida yang terbawa dalam gas proses, akan menimbulkan racun pada
katalisator Ammonia Converter, oleh karena itu sebelum gas proses ini dikirim ke Unit
Synloop & Refrigeration terlebih dahulu masuk ke Methanator. Tahap-tahap proses
Purification dan methanasi adalah sebagai berikut :

a.

High Temperature Shift Converter (HTS)

Setelah mengalami reaksi pembentukan H2 di Primary dan Secondary Reformer maka gas
proses didinginkan hingga temperature 371 oC untuk merubah CO menjadi CO2 dengan
persamaan reaksi sebagai berikut :
CO + H2O CO2 + H2

Kadar CO yang keluar dari unit ini adalah 3,5 % mol dry basis dengan temperature gas outlet
432 oC- 437 oC.
b.

Low Temperature Shift Converter (LTS)

Karena tidak semua CO dapat dikonversikan menjadi CO2 di HTS, maka reaksi tersebut
disempurnakan di LTS setelah sebelumnya gas proses didinginkan hingga temperature
210 oC. Diharapkan kadar CO dalam gas proses adalah sebesar 0,3 % mol dry basis.
c.

CO2 Removal

Karena CO2 dapat mengakibatkan degradasi di Amoniak Converter dan merupakan racun
maka senyawa ini harus dipisahkan dari gas synthesa melalui unit CO2 removal yang terdiri
atas unit absorber, striper serta benfield system sebagai media penyerap. System penyerapan
di dalam CO2 absorber ini berlangsung secara counter current, yaitu gas synthesa dari bagian
bawah absorber dan larutan benfield dari bagian atasnya. Gas synthesa yang telah dipisahkan
CO2-nya akan keluar dari puncak absorber, sedangkan larutan benfield yang kaya CO2 akan
diregenerasi di unit CO2 stripper dan dikembalikan ke CO2 absorber. Sedangkan CO2 yang
dipisahkan digunakan sebagai bahan baku di pabrik urea. Adapun reaksi penyerapan yang
terjadi :
K2CO3 + H2O + CO2 2KHCO3
d.

Methanasi

Gas synthesa yang keluar dari puncak absorber masih mengandung CO2 dan CO relative
kecil, yakni sekitar 0,3 % mol dry basis yang selanjutnya akan diubah menjadi methane di
methanator pada temperature sekitar 316 oC. Persamaan Reaksi :
CO + 3H2 CH4 + H2O
CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O

4.

Synthesa Loop & Amoniak Refrigerant

Gas proses yang keluar dari Methanator dengan perbandingan Gas Hidrogen dan Nitrogen =
3 : 1, ditekan atau dimampatkan untuk mencapai tekanan yang diinginkan oleh Ammonia
Converter agar terjadi reaksi pembentukan, uap ini kemudian masuk ke Unit Refrigerasi

sehingga didapatkan amoniak dalam fasa cair yang selanjutnya digunakan sebagai bahan
baku pembuatan urea. Tahap-tahap poses Synthesa loop dan Amonik Refrigerant adalah :
a.

Synthesis Loop
Gas synthesa yang akan masuk ke daerah ini harus memenuhi persyaratan perbandingan

H2/N2 = 2,5 3 : 1. Gas synthesa pertama-tama akan dinaikkan tekanannya menjadi sekitar
177.5 kg/cm2 oleh syn gas compressor dan dipisahkan kandungan airnya melalui sejumlah
K.O. Drum dan diumpankan ke Amoniak Converter dengan katalis promoted iron. Persamaan
Reaksi :
3H2 + N2 2NH3 .
Kandungan Amoniak yang keluar dari Amoniak Converter adalah sebesar 12,05-17,2 % mol.
b.

Amoniak Refrigerant

Amoniak cair yang dipisahkan dari gas synthesa masih mengandung sejumlah tertentu gasgas terlarut. Gas-gas inert ini akan dipisahkan di seksi Amoniak Refrigerant yang berfungsi
untuk Mem-flash amoniak cair berulang-ulang dengan cara menurunkan tekanan di setiap
tingkat flash drum untuk melepaskan gas-gas terlarut, sebagai bagian yang integral dari
refrigeration, chiller mengambil panas dari gas synthesa untuk mendapatkan pemisahan
produksi amoniak dari Loop Synthesa dengan memanfaatkan tekanan dan temperature yang
berbeda di setiap tingkat refrigeration.
5.

Produk Amoniak

Produk Amoniak yang dihasilkan terdiri atas dua, yaitu Warm Ammonia Product (30 oC)
yang digunakan sebagai bahan baku untuk pabrik urea, Cold Ammonia Product (-33 oC) yang
disimpan dalam Ammonia Storage Tank.

Kondisi Operasi
Reaksi :

N2(g) + 3H2(g)

2NH3(g)

1. Suhu

Reaksi bersifat eksoterm


Suhu rendah akan menggeser kesetimbangan ke kanan.

H= -924 kJ

Kendala : Reaksi berjalan lambat


Suhu berkisar 400-600oC

2. Tekanan

Jumlah mol pereaksi lebih besar dibanding dengan jumlah mol produk.
Memperbesar tekanan akan menggeser kesetimbangan ke kanan.
Kendala : Tekanan sistem dibatasi oleh kemampuan alat dan faktor keselamatan.
Tekanan operasi 150-300 atm

3. Konsentrasi
Pengambilan NH3 secara terus menerus akan menggeser kesetimbangan ke arah kanan.
4.Katalis
Katalis tidak menggeser kesetimbangan kekanan, tetapi mempercepat laju reaksi secara
keseluruhan Fe dengan campuran Al2O3 KOH dan garam lainnya.

Penggunaan amonia

Untuk pembuatan pupuk urea (CO(NH2)2) dan ZA (Zwvelamonia) ((NH4) 2SO4).


Untuk membuat amonium klorida (NH4Cl )pada baterai.
Untuk membuat asam nitrat (HNO3).
Sebagai pendingin dalam pabrik es.
Untuk membuat hidrazin (N2H4) sebagai bahan bakar roket.
Untuk bahan dasar pembuatan bahan peledak, kertas, plastik, dan deterjen.
Indikator Universal : Campuran ammonia juga dapat digunakan sebagai indikator
universal untuk menguji gas yang berbeda-beda yang memerlukan indikator universal

untuk mengetahui keberadaan gas tersebut.


Desinfektan: Ammonia kadang-kadang ditambahkan pada air minum bersama dengan
klorin menjadi chloroamine sebagai desinfektan. Chloroamin tidak bersenyawa
dengan material organik yang berasal dari carcinogenic halomethanes misalnya

chloroform.
Rokok : Pada tahun 1960, perusahaan rokok misalnya Brown & Williamson dan
Philip Morris mulai menggunakan ammonia pada rokok. Bahan aditif ammonia
digunakan untuk menambah mempertinggi aliran nikotin menuju aliran darah,

sehingga efek dari nikotin bertambah tanpa menambah kandungan nikotin dalam
rokok.

Penggunaan Terbanyak Amonia

Dampak Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan Manusia


Adapun dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran amonia adalah sebagai berikut:
1.

Efek Terhadap Kesehatan Manusia

Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat menyebabkan menyebabkan iritasi mata
serta saluran pernafasan. Gas NH3 juga dapat menyebabkan Iritasi pada mata, saluran
pernapasan dan kulit. Pada Kadar 2500-6500 ppm, gas ammonia melalui inhalasi
menyebabkan iritasi hebat pada mata (Keraktitis), sesak nafas (Dyspnea), Bronchospasm,
nyeri dada, sembab paru, batuk darah, Bronchitis dan Pneumonia. Pada kadar tinggi (30.000
ppm) dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.
2.

Efek Terhadap Lingkungan

Sekitar Sisa-sisa makanan dan sampah organik dibuang ke tempat sampah, kemudian di bawa
ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah-sampah tersebut kemudian membusuk dan
menghasilkan gas amonia. Gas ammonia tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang
dapat menyebabkan global warming. Akibat yang terjadi adalah terjadinya perubahan iklim
dan cuaca serta efek global warming lainnya. Gas ammonia juga dapat mengganggu estetika
lingkungan karena bau pembusukan sampah yang sangat menyengat. Dampak negatif yang
ditimbulkan usaha peternakan ayam terutama berasal dari kotoran ayam yang dapat
menimbulkan gas yang berbau. Bau yang dikeluarkan berasal dari unsur nitrogen dan sulfida
dalam kotoran ayam, yang selama proses dekomposisi akan terbentuk gas amonia, nitrit, dan
gas hidrogen sulfida. Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat memyebabkan
gangguan kesehatan ternak dan masyarakat di sekitar peternakan. Amonia dapat menghambat
pertumbuhan ternak.

Toksisitas Amonia
Sifat racun amonia bagi makhluk hidup dapat dilihat dari hasil test in vitro binatang di
laboratorium. Paparan akut untuk garam-garam amonium mempunyai 9 nilai LD50 (lethal
doses 50) sebesar 350-750 mg/ kg berat badan. Dosis tunggal untuk berbagai jenis garam
amonium sebesar 200-500 mg/kg berat badan mengakibatkan oedema paru-paru, disfungsi
sistem syaraf dan kerusakan ginjal. Dosis sebesar 0,9% amonium klorida (kira-kira 290 mg
amonia per kg berat badan per hari) di dalam air minum mengakibatkan hambatan
pertumbuhan janin pada tikus hamil (Fawel dkk., 1996).
Amonia dapat bersifat racun pada manusia jika jumlah yang masuk tubuh melebihi
jumlah yang dapat didetoksifikasi oleh tubuh. Pada dosis lebih dari 100 mg/kg setiap hari
(33,7 mg ion amonium per kg berat badan per hari) dapat mempengaruhi metabolisme

dengan mengubah kesetimbangan asam-basa dalam tubuh, mengganggu toleransi terhadap


glukosa dan mengurangi kepekaan jaringan terhadap insulin (Fawel dkk., 1996).
Amonia dalam bentuk gas bersifat mengiritasi kulit, mata, dan saluran pernafasan.
Apabila terhirup akan mengiritasi hidung, tenggorokan dan jaringan mukosa. Iritasi terjadi
pada konsentrasi mulai 130 ppm sampai dengan 200 ppm. Pada konsentrasi 400-700 ppm
dapat mengakibatkan kerusakan permanen akibat iritasi diorgan mata dan pernafasan.
Toleransi paparan singkat maksimum pada konsentrasi 300-500 ppm selama setengah sampai
1 jam. Paparan pada konsentrasi sebesar 5000-10000 ppm dapat menyebabkan kematian
(Brigden dan Stringer, 2000).

Cara Menanggulangi Pencemaran Ammonia


1.

Absorbsi

Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang dapat menyerap polutan. Berbagai
tipe adsorben yang dipergunakan antara lain karbon aktif dan silikat. Adsorben mempunyai
daya kejenuhan sehingga selalu diperlukan pergantian, bersifat disposal (sekali pakai buang)
atau dibersihkan kemudian dipakai kembali.
2.

Pembakaran

Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat
didalam polutan. Hasil pembakaran berupa (CO2) dan (H2O). Alat pembakarannya adalah
Burner dengan berbagai tipe dan temperaturnya adalah 1200o1400o F
3.

Reaksi Kimia

Banyak dipergunakan pada emisi golongan Nitrogen dan golongan Belerang. Biasanya cara
kerja ini merupakan kombinasi dengan cara - cara lain, hanya dalam pembersihan polutan
udara dengan reaksi kimia yang dominan. Membersihkan gas golongan nitrogen , caranya
dengan diinjeksikan Amonia (NH3) yang akan bereaksi kimia dengan NOx dan membentuk
bahan padat yang mengendap. Untuk menjernihkan golongan belerang dipergunakan Copper
Oksid atau kapur dicampur arang.

Keselamatan dan Pengamanan

Penanganan dan Penyimpanan:


Hindari penghirupan gas/uap. Juga hindari kontak dengan kulit dan mata. Pasang

ventilasi atau local exhauster di tempat kerja untuk mengurangi cemaran agar < NAB.
Pakailah alat pelindung diri : respirator, kacamata, gloves dan pakaian kerja. Wadah dan
pompa untuk transfer bahan harus di groundkan untuk menghindari terjadinya listrik
statis. Hindari kontak amonia dengan karet, plastik dan cat. Simpan bahan dalam wadah
tertutup, di luar, bebas dari matahari, berventilasi, dingin, jauh dari api dan pemanas.

Tumpahan dan Bocoran:


Isolasi daerah kebocoran sampai 100 200 m. Pakailah alat pelindung diri dalam

menangani kebocoran/tumpahan atau seluruh tubuh dalam perlindungan yang sempurna


(encapsulated). Jangan sentuh bahan. Uap/gas amonia dalam udara (kabut) dapat
didispersikan dengan menyemprot dengan air. Bila mungkin segera matikan kebocoran
gas. Hindari tumpahan bahan mengalir kedalam perairan karena amat toksik bagi
lingkungan. Sedikit tumpahan dapat diserap dengan tanah atau pasir atau dinetralkan
dengan asam.

Alat Pelindung Diri:


Pernafasan

: Respirator dengan kartrij apabila konsentrasi <250 ppm.

Pada konsentrasi lebih tinggi pakailah respirator dengan pasok udara atau SCBA.
Mata

: Safety goggles dan pelindung muka.

Kulit

: Gloves (neoprene, karet, PVC karet butil).

Tambahan

: Pancuran air pencuci mata dan safety shower.

Pertolongan Pertama
1. Terhirup
Bawa ke tempat aman dan udara yang segar, beri pernapasan buatan jika

perlu,

segera bawa ke dokter.


2. Terkena mata
Cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit dan segera bawa
ke

dokter.

3. Terkena kulit:
Cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit, lepaskan pakaian yang
terkontaminasi.
4. Tertelan:
Bila sadar, beri minum 1-2 gelas air/susu, jangan dirangsang untuk muntah.

DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Amonia

Agustia, Delvi. 2011. Pengaruh Lama Penyimpanan Urea di Bulk Storage terhadap
Kadar

Ammoniak

Bebas

pada

PT.

Pupuk

Iskandar

Muda,

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27998/3/Chapter%20II.pdf Diakses 2 April


2016.
Anonim,

2012.

Kimia

dalam

Kehidupan

Sehari-hari,

http://akukimia.blogspot.co.id/2012/11/kimia-dalam-kehidupan-sehari-haribag2.html Diakses 1 April 2016.


Khuntari,

Wiwit.

2012.

Amoniak,

http://akuwewete.blogspot.co.id/2012/11/amoniak.html Diakses 2 April 2016.


Muthmainna.

2014.

Pembuatan

Gas

Ammonia,

http://putrisederhana.blogspot.co.id/2014/02/pembuatan-gas-ammonia.html Diakses 1 April


2016.
Retnoningsih, Ratna. 2010. Pengaruh pH, Konsentrasi Awal Ammonia dan Waktu
Operasi

pada

Elektrolisa

Ammonia,

http://eprints.undip.ac.id/36547/2/isi_laporan_tesis_elektrolisa_amonia.pdf Diakses 2 April


2016.
Sitompul,

Riris.

Pabrik

amonia/ Diakses 2 April 2016.

Amonia,

https://ririssitompul.wordpress.com/pabrik-