Anda di halaman 1dari 3

Tinjauan Pustaka

Tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya
tergabung dalam marga pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditunjukan
pada Pinus Sumatra atau Pinus merkusi. Tumbuhan ini kebanyakan berumah satu
(monoecious) yaitu dalam satu pohon terdapat organ reproduksi jantan dan organ reproduksi
betina, namun letaknya terpisah. (Prayogo 2015)
Pinus memiliki ciri khas yaitu memiliki batang utama silindris, lurus dalam tegakan
rapat serta memiliki alur yang dalam, cabang-cabang membentuk putaran yang teratur, tinggi
bebas bebas cabang bisa mencapai 10-25 meter, memiliki bentuk daun jarum dengan jumlah
dua helai yang dapat bertahan lebih dari 2 tahun dengan tepi daun bergerigi halus, bunga
berbentuk stobili jantan dan betina. Daun merupakan bagian dari tajuk pohon yang mungkin
terjadinya proses fotosintesis, respirasi dan transpirasi. Daun pinus berbentuk seperti jarum
tersusun dalam berkas-berkas yang masing-masing terdiri atas dua helai. Tajuk pinus
berwarna hijau muda dengan berbentuk limas pada waktu muda dan kemudian melebar
setelah dewasa. Tajuk yang besar dan baik memunginkan produksi getah yang tinggi. Untuk
memberikan kebebasan bagi perkembangan tajuk, dapat diusahakan dengan jarak tanam yang
lebar dengan cara melakukan penjarangan untuk memberikan ruang yang cukup bagi
pertumbuhan. biasanya terdapat di daerah iklim sedang.
Sebagai pohon yang memiliki buah yang besar, pinus secara genetis memiliki
perakaran tunggang yang sangat dalam. Akar tersebut dapat menembus lapisan tanah yang
keras dan dalam,walaupun perakaran pinus tetap dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Hal
ini secara tidak langsung dapat meningkatkan tahanan geser pada tanah, sehingga
menguntungkan untuk tabilitas lereng atau dapat menahan longsor. (Indrajaya,2008)
Penyebaran pinus sp meliputi daerah eurasia dan amrika. Menurutdata yan tersedia
tahun 1967 suku pinus memiliki kurang lebih 107 jenis yang tersebar secara alami di berbagai
tempat tumbuh yang berbeda-beda di benua Eropa, Afrika dan Asia. Asia sendiri memiliki 28
jenis pinus antara lain Pinus merkusii, Pinus kaysia, dan Pinus insularis. (Kalima, 2005)
Pinus merupakan tanaman berbentuk pohon dengan kayu keras. Daun berbentuk
jarum. berkembang biak dengan menghasilkan konus. Akar pinus mengeluarkan zat alelopati
(semacam senyawa yang menghambat pertumbuhan tumbuhan lain di sekitar akar pinus),
sehingga ketika kita melihat sederetan hutan pinus, lantai hutannya bersih. Hanya ada sedikit

tumbuhan yang bisa bertahan dari zat alelopati pinus, misalnya Eupathorium triplinerve.
(Cahyanti, 2015)
Tanaman pinus sengaja ditanam untuk dimanfaatkan kayu dan getahnya, serta
konservasi lahan.Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, antara lain bagian
batangnya dapat disadap untuk diambil getahnya. Getah pinus dapat diolah menjadi bahan
pengencer cat. Hasil kayunya bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat
panjang. (Pole, 2016)
Produk HHNK menjadi produk kehutanan yang paling dimininati. Selain itu,
pemanfaatan HHNK bersifat lestari dan tidak terlalu merusak kawasan hutan sehingga
menjadi salah satu solusi pengelolaan hutan yang lestari. Salah satu produk HHNK yang
mengalami peningkatan di pasar industri ialah getah pinus. Getah pinus biasa dimanfaatkan
untuk diolah menjadi gonderukem dan terpentin. Getah pinus dihasilkan dari getah pinus
dengan proses penyadapan. (Djazuli, 2011)

Daftar Pustaka
Cahyanti, Lutfi Ditya. 2015. Potensi alelopati daun pinus sebagai bioherbisida pratumbuhan
pada gulma krokot . Gontor Agrotech Science Journal. 1:2
Djazuli, Lutfi Ditya. 2011. Potensi Senyawa Alelopati Sebagai Herbisida Nabati.
Balai Penelitian Lingkungan. Jakarta
Indrajaya, Yongky. 2008. Potensi Hutan Pinus merkusii Sebagai Pengendali Tanah Longsor di
Jawa. Jurnal Balai Penelitian Kehutanan Ciamis.
Kalima, Sutisna. 2005. Studi sebaran alam Pinus merkusii Jungh et de Vriese Tapanuli,
Sumatra Utara dengan metode cluster dan pemetaan digital.. Jurnal penelitian Hutan
dan Konservasi Alam. Bogor.
Pole, Mike., Wang, Yangdong. 2016. The rise and demise of podozamites in east asia-an
extinct conifer life style. Elsevier. 7712:13
Prayugo, Yudha. 2015. Kaya Raya dari Pohon Pinus. Lembar Langit Indonesia. Jakarta