Anda di halaman 1dari 17

MATAKULIAH

STUDI HADITS

MAKALAH

ULUMUL QURAN

PENULIS
AISYAH AMSIH

Telah di upload di
http://m-zulkifli.blogspot.com/2014/10/makalah-ulumul-quran.html

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada masa Rasulullah masih hidup, zaman khulafaur rasyidin dan sebagian besar zaman
Umayyah sehingga akhir abad pertama hijrah, hadits-hadits nabi tersebar melalui mulut kemulut
(lisan). Ketika itu umat Islam belum mempunyai inisiatif untuk menghimpun hadits-hadits nabi
yang bertebaran. Mereka merasa cukup dengan menyimpan dalam hafalan yang terkenal kuat.
Dan memang diakui oleh sejarah bahwa kekuatan hafalan para sahabat dan para tabiin benarbenar sulit tandingannya.
Hadits nabi tersebar ke berbagai wilayah yang luas dibawa oleh para sahabat dan tabiin
ke seluruh penjuru dunia. Para sahabat pun mulai berkurang jumlahnya karena meninggal dunia.
Sementara itu, usaha pemalsuan terhadap hadits-hadits nabi makin bertambah banyak, baik yang
dibuat oleh orang-orang zindik dan musuh-musuh Islam maupun yang datang dari orang Islam
sendiri.

Yang dimaksud dengan pemalsuan hadits ialah menyandarkan sesuatu yang bukan dari
Nabi SAW kemudian dikatakan dari Nabi SAW. Berbagai motifasi yang dilakukan mereka
dalam hal ini. Ada kalanya kepentingan politik seperti yang dilakukan sekte-sekte tertentu
setelah adanya konflik fisik (fitnah) antara pro-Ali dan pro-Muawiyyah, karena fanatisme
golongan, madzhab, ekonomi, perdagangan dan lain sebagainya pada masa berikutnya atau unsur
kejujuran dan daya ingat para perawi hadits yang berbeda. Oleh karena itu, para ulama bangkit
mengadakan riset hadits-hadits yang beredar dan meletakkan dasar kaidah-kaidah yang ketat
bagi seorang yang meriwayatkan hadits yang nantinya ilmu itu disebut Ilmu Hadits.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian Ulumul Hadits
2. Macam-Macam Ilmu Hadits
3. Cabang-Cabang Ilmu Hadits

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ulumul Hadits
Ulumul Hadits adalah istilah ilmu hadits di dalam tradisi Ulama Hadits (arabnya : Ulum
al-Hadits). Ulum al-Hadits terdiri atas dua kata, yaitu Ulum dan al-Hadits. Kata Ulum dalam
bahasa arab adalah bentuk jamak dari ilm, jadi berati ilmu-ilmu; sedangkan al-Hadits di
kalangan Ulama Hadits berarti segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari
perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat. Dengan demikian Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang
membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi SAW.

Menurut Ulama Mutaqaddimin Ilmu Hadits adalah:


Artinya: Ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan hadits
sampai kepada Rasul SAW dari segala hal ihwal para perawinya, kedhabitan, keadilan, dan dari
bersambung tidaknya sanad dan sebagainya.

Pembukaan hadits di sekitar abad ke dua hijriyah yang dilakukan para pemuka hadits
dalam rangka menghimpun dan membukukannya semata-mata di dorong oleh kemauan yang
kuat agar hadits nabi itu tidak hilang begitu saja bersama wafatnya para penghafalnya. Mereka
menghimpun dan membukukan semua hadits yang mereka dapatkan beserta riwayat dan
sanadnya masing-masing tanpa mengadakan penelitian terlebih dahulu terhadap pembawanya
(para rawi) begitu pula terhadap keadaan riwayat dan marwinya. Barulah di sekitar pertengahan
abad ke-3 Hijriyah sebagian Muhadditsin merintis ilmu ini dalam garis-garis besarnya saja dan
masih berserakan dalam beberapa mushafnya. Diantara mereka adalah Ali bin Almadani (238
H), Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam At-Turmudzi dan lain-lain.

Adapun perintis pertama yang menyusun ilmu ini secara fak(spealis) dalam satu kitab
khusus ialah Al-Qandi Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzy(360 H) yang di beri nama dengan AlMuhaddisul Fasil Bainar Wari Was Sami. Kemudian bangkitlah Al-Hakim Abu Abdilah anNaisaburi (321-405 H) menyusun kitabnya yang bernama Makrifatu Ulumil Hadits. Usaha beliau
ini diikuti oleh Abu Nadim al-Asfahani (336-430 H) yang menyusun kitab kaidah periwayatan
3

hadits yang diberi nama Al-Kifayah dan Al-Jamu Liadabis Syaikhi Was Sami yang berisi
tentang tata cara meriwayatkan hadits.

B. Macam-Macam Ilmu Hadits


Ilmu hadits yakni ilmu yang berpautan dengan hadits. Apabila dilihat kepada garis
besarnya, Ilmu Hadits terbagi menjadi dua macam. Pertama, Ilmu Hadits Riwayat (riwayah).
Kedua, Ilmu Hadits Dirayat (dirayah).

1. Ilmu Hadits Riwayah


Ilmu Hadits Riwayah ialah.
Artinya: Ilmu yang menukilkan segala apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik
perkataan, perbuatan, taqrir, ataupun sifat tubuh anggota ataupun sifat Perangai.
Ibnu Akfani berkata:
Artinya: Ilmu hadits yang khusus dengan riwayat ialah: Ilmu yang melengkapi penukilan
perkataan-perkataan

Nabi

SAW

perbuatan-perbuatannya,

periwayat-periwayat

hadits,

pengdlabitannnya dan penguraian lafadz-lafadznya.


Kebanyakan ulama mentarifatkan ilmu hadits riwayah sebagaimana:
Artinya: Ilmu hadits riwayah adalah suatu ilmu untuk mengetahui sabda-sabda nabi, taqrirtaqrir nabi dan sifat-sifat nabi.
Maudhunya (obyeknya) adalah pribadi Nabi SAW yakni perkataan, perbuatan, taqrir dan
sifat Beliau, karena hal-hal inilah yang dibahas didalamnya. Adapun faedah mempelajari ilmu
hadits riwayah adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya yang
pertama yaitu Nabi Muhammad SAW.

2. Ilmu Hadits Dirayah


Ilmu Hadits Dirayah biasa juga disebut sebagai Ilmu Musthalah al-Hadits, Ilmu Ushul al-Hadits,
Ulum al-Hadits, dan Qawaid al-Hadits at-Tirmidzi mendefinisikan ilmu ini dengan
Artinya: Undang-undang atau kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan,
cara menerima dan meriwayatkan sifat-sifat perawi dan lain-lain.
Ibnu al-Akfani mendefinisikan ilmu ini sebagai berikut
4

Artinya: Ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayatan, syarat-ayarat, macammacam dan hukum-hukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi baik syaratsyaratnya, macam-macam hadits yang diriwayatkan dan segala yang berkaitan dengannya.
Kebanyakan ulama mentarifkan Ilmu Hadits Dirayah sebagai berikut:
Artinya: Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu untuk mengetahui keadaan sanad dan matan dari
jurusan diterima atau ditolak dan yang bersangkutpaut dengan itu.
Maudhunya (objeknya) adalah mengetahui segala yang berpautan dengan pribadi Nabi
SAW, agar kita dapat mengetahuinya dan memperoleh kemenangan dunia akhirat. Dengan
mempelajari Hadits Dirayah ini, banyak sekali faedah yang diperoleh antara lain:

1. Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan hadits dan ilmu hadits dari masa ke masa sejak
masa Rasul SAW sampai sekarang.
2.

Dapat mengetahui tokoh-tokoh serta usaha-usaha yang telah mereka lakukan dalam

mengumpulkan, memelihara dan meriwayatkan hadits.


3.

Mengetahui kaidah-kaidah yang dipergunakan oleh para ulama dalam mengklasifikasikan

hadits lebih lanjut.


4.

Dapat mengetahui istilah-istilah, nilai-nilai dan kriteria-kriteria hadits sebagai pedoman

dalam beristimbat.
5.

Dari beberapa faedah diatas apabila diambil intisarinya, maka faedah mempelajari Ilmu

Hadits Dirayah adalah untuk mengetahui kualitas sebuah hadits, apakah ia maqbul (diterima) dan
mardud (ditolak), baik dilihat dari sudut sanad maupun matannya.
6.

Dengan melihat uraian Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah diatas, tergambar

adanya kaitan yang sangat erat antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini karena setiap ada
periwayatan hadits tentu ada kaidah-kaidah yang dipakai dan diperlukan baik dalam
penerimaannya maupun penyamapaiannya kepada pihak lain. Sejalan dengan perjalanan Ilmu
Hadits Riwayah, Ilmu Hadits Dirayah juga terus berkembang menuju kesempurnaanya, sesuai
dengan kebutuhan yang berkaitan langsung dengan perjalanan Hadits Riwayah. Oleh karena itu,
tidak mungkin Ilmu Hadits Riwayah berdiri tanpa Ilmu Hadits Dirayah, begitu juga sebaliknya.

C. Cabang-Cabang Ilmu Hadits


5

Pada perkembangan selanjutnya, para ulama menyusun dan merumuskan cabang-cabang


ilmu hadis. Karena hal ini dirasa perlu untuk mengetahui sejauh mana suatu hadis dapat
dikatakan maqbul (diterima) atau mardud (ditolak). Sehingga muncullah berbagai macam cabang
ilmu hadis. Sebelum itu yang lebih dahulu muncul adalah ilmu Hadist riwayah dan ilmu hadist
dirayah, dan setelah itu barulah cabang cabang ilmu hadist seperti : Ilmu Rijal Al-Hadist, Ilmu
Al-Jarh Wa Al-Tadil, Ilmu Tarikh Al-Ruwah, Ilmu Ilal Al-Hadist, Ilmu Al-Nasikh Wal AlMansukh, Ilmu Asbab Wurud , Gharib Al-Hadits, Ilmu At-Tashif Wa At-Tahrif dan Ilmu
Mukhtalif Al-Hadist. Secara singkat cabang cabang ilmu hadist diatas akan diuraikan sebagai
berikut :
1. Ilmu dan Kaidah Hadis Tentang Rawi dan Sanad
a.

Ilmu Rijal Al-Hadist


Munzier suparta (2006:30) menyatakan Ilmu Rijal Al-Hadist adalah ilmu untuk

mengetahui para perawi haidst dalam kapasitasnya sebagai perawi hadist.


Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir (1998:57) Ilmu Rijal Al-Hadist adalah ilmu yang
membahas tentang para perawi hadist, baik dari sahabat, tabiin, maupun dari angkatan
sesudahnya.
Sedangkan muhadditsin, sebagaimana dikutip dalam buku Endang Soetari (1994:233)
mentarifkan Ilmu Rijal Al-Hadist meliputi Ilmu Thabaqah dan Ilmu Tarikh Ar-Ruwah. Ilmu
Thabaqah adalah ilmu yang membahas tentang kelompok orang orang yang berserikat dalam
satu alat pengikat yang sama. Sedangkan Ilmu Tarikh Ar-Ruwah adalah ilmu yang membahas
tentang biografi para perawi hadist. Adapun materi dari ilmu ini adalah :
a) Konsep tentang rawi dan thabaqah
b) Rincian thabaqah rawi
c) Biografi yang telah terbagi pada tiap thabaqah
Dari berbagai definisi diatas, pada dasarnya Ilmu Rijal Al-Hadist adalah ilmu yang
membahas tentang para perawi hadist dalam memelihara dan menyampaikannya kepada orang
lain dengan menyebutkan sumber-sumber pemberitaannya.
Kedudukan ilmu ini sangat penting dalam lapangan ilmu hadist, karena, sebagaimana
diketahui bahwa objek kajian hadist, pada dasarnya ada dua hal yaitu matan dan sanad. Munzier
Suparta (2006:30) menyatakan Ilmu Rijal Al-Hadist ini lahir bersama sama dengan periwayatan

hadist dalam islam dan mengambil posisi khusus untuk mempelajari persolan-persoalan disekitar
sanad.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui keadaan para perawi yang menerima hadist dari
Rasullah SAW, dan keadaan para perawi yang menerima hadist dari para sahabat dan seterusnya.
Dan dengan ilmu ini kita juga dapat mengetahui sejarah ringkas para perawi hadist, mazhab yang
dipegang oleh para perawi, dan keadaan para perawi dalam menerima hadist.
Kitab kitab yang disusun dalam ilmu ini beraneka ragam. Seperti halnya dikutip dalam
buku Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir (1998:58) ada yang hanya menerangkan riwayatriwayat ringkas para sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi.
Ada yang menerangkan para perawi yang dipercaya saja. Ada yang menerangkan riwayat para
perawi yang lemah-lemah, atau para mudalis, atau para pemuat hadist maudu. Dan ada yang
menerangkan sebab sebab dianggap cacat dan sebab sebab dipandang adil dengan menyebut kata
kata yang dipahami untuk itu serta martabat perkataan. Seperti pada abad ke tujuh hijrah Izzudin
Ibnu Atsir (630 H) mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya dalam
sebuah kitab besar yang bernama Usdul Gabah. Pada abad kesembilan hijrah, Al Hafidh Ibnu
Hajar Al Asqolani menyusun kitabnya yang terkenal denagn nama Al Ishabah. Dalam kitab ini
dikumpulkan al istiah dengan usdul gabah dan ditambah dengan yang tidak trdapat dalam kitab
kitab tersebut. Kemudian kitab ini diringkas oleh As Suyuti dalam kitab Ainul Ishobah. Al
bukhori dan Imam Muslim juga telah menulis kitab yang menerangkan nama-nama sahabat yang
hanya meriwayatkan suatu hadist saja yang bernama Wuzdan.
b. Ilmu Jarh Wa At-Tadil
Ilmu Al-Jarh Wa At-Tadil, pada hakikatnya merupakan satu bagian dari Ilmu Rijal AlHadist, akan tetapi, karena bagian ini dipandang penting, maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu
yang yang berdiri sendiri. Adapun beberapa pengertian dari Ilmu Al-Jarh Wa At-Tadil adalah
sebagai berikut :
Munzier Suparta (2006:31) menyatakan Ilmu Al-jarh yang secara bahasa berarti luka,
cela, atau cacat, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada
keadilan dan kedhabitannya. Para ahli hadist mendefinisikan Al-Jarh dengan kecacatan pada para
perawi hadist, disebabkan oleh suatu yang dapat merusak keadilan atau kedhabitan perawi.
Sedangkan At-Tadil yang secara bahasa berarti menyamakan dan menurut istilah berarti lawan
dari Al-Jarh yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan ketetapan bahwa dia adil atau dhabit.
7

Sementara ulama lain mendefinisikan Al-Jarh dan At-Tadil dalam satu definisi yaitu ilmu yang
membahas tentang para perawi dari segi yang dapat menunjukan keadaan mereka, baik yang
dapat mencacatkan atau membersihkan mereka dengan ungkapan atau lapadz-lapadz tertentu.
Dari beberapa definisi diatas dapat diketahui bahwa ilmu ini digunakan untuk
menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu dapat diterima atau ditolak sama sekali.
Apabila seorang perawi dijarh oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya
harus ditolak, dan sebaliknya apabila dipuji, maka hadistnya dapat diterima selama syarat-syarat
yang lain dipenuhi.
Munzier Suparta (2006:32) menyatakan kecacatan rawi itu bisa diketahui melalui
perbuatan-perbuatan yang dilakukannya, biasanya dikatagorikan kedalam lingkup perbuatan :
Bidah yakni melakukan perbuatan tercela atau diluar ketentuan syariah; Mukhalafah, yakni
berbeda dengan periwayatan dari rawi yang lebih tsiqah; Qhalath, yakni banyak melakukan
kekeliruan dalam meriwayatkan hadist; Jahalat al-hal, yakni tidak diketahui identitasnya secara
jelas dan lengkap; dan Dawat Al-Inqitha, yakni diduga penyandaran (sanad)-nya tidak
bersambung.
Adapun orang-orang yang melakukan Tajrih dan Tadil harus memenuhi syarat sebagai
berikut : Berilmu pengetahuan, Taqwa Wara, Jujur, Menjauhi sifat fanatik golongan, dan
Mengetahui ruang lingkup Ilmu Al-Jarh Wa At-Tadil.
Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini berbeda beda, sebagian ada yang kecil, hanya
terdiri dari satu jilid dan hanya mencakup beberapa ratus orang rawi. Sebagian yang lain
menyusunnya menjadi beberapa jilid besar yang mencakup antara sepuluh sampai dua puluh ribu
Rijalus Sanad. Disamping itu sistematis pembahasannya juga berbeda beda. Ada sebagian yang
menulis rawi-rawi yang tsiqah saja dan ada juga yang mengumpulkan keduanya. Fathur Rahman
(1987:279) menyebutkan kitab-kitab itu, antara lain :
1. Marifatur-rijal, karya Yahya Ibnu Main.
2. Ad-Dluafa, karya Imam Muhammad Bin Ismail Al Bukhari (194 252 H)
3. At-tsiqat, karya Abu Hatim Bin Hibban Al-Busty (304 H)
4. Al-jarhu wat tadil, karya Abdur Rahman Bin Abi Hatim Ar Razy (240 326 H)
5. Mizanul itidal, karya Imam Syamsudin Muhammad Adz Dzahaby (673 748 H)
6. Lisanul mizan, karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (773 852 H)

c.

Ilmu Tarikh Ar-Ruwah


Ilmu Tarikh Ar-Ruwah merupakan masih bagian dari Ilmu Rijal Al-hadist. Ilmu ini

mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang
terlibat dalam periwayatan.
Munzier Suparta (2006:34) menyatakan Ilmu Tarikh Ar-ruwah adalah ilmu untuk
mengetahui para perawi hadist yang berkaitan dengan usaha periwayatn mereka terhadap hadist.
Mengenai hubungan antara ilmu ini dengan ilmu Thabaqah Ar-Ruwah, sebagaimana dikutip
masih dari buku yang sama, bahwa terdapat berbagai perbedaan pendapat dikalangan para
ulama. Ada ulama yang membedakan secara khusus, tetapi ada juga yang mempersamakannya.
Menurut As-Suyuti, antara Ilmu Thabaqat Ar-ruwah dengan Ilmu Tarikh Ar-ruwah adalah sama
saja dengan antara umum dan khusus, keduanya bersatu dalam pengertian yang berkaitan dengan
para perawi, tetapi Ilmu Tarikh Ar-Ruwah menyendiri dalam hubungannya dengan kejadiankejadian yang baru. Menurut Al-Shakawi, bahwa ulama mutakhirin membedakan antara kedua
disiplin ilmu tersebut. Menurut mereka bahwa Ilmu Tarikh Ar-Ruwah, melalui eksistensinya
memperhatikan hal ihwal perawi, dan melalui sifatnya memperhatikan kelahiran dan wafatnya
mereka.
Jadi dengan ilmu ini dapat diketahui keadaan dan identitas para perawi, seperti
kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, masa/waktu mereka mendengar hadist dari gurunya, siapa
yang meriwayatkan hadist darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan,
dan lain sebagainya. Dan ilmu ini juga merupakan senjata yang ampuh untuk mengetahui
keadaan rawi yang sebenarnya, terutama untuk membongkar kebohongan para perawi.
2. Ilmu Kaidah Tentang Matan
a.

Gharib Al-Hadits

Menurut Endang Soetari (2005:210), Ilmu Gharib al-Hadist adalah:


Ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan Hadist yang sukar diketahui
maknanyadan yang kurang terpakai oleh umum.
Yang dibahas oleh ilmu ini adalah lafadh yang musykil dan susunan kalimat yang sukar
dipahami, tujuannya untuk menghindarkan penafsiran menduga-duga. Pada masa tabiin dan
abad pertama hijriyah, bahasa arab yang tinggi mulai tidak dipahami oleh umum, hanya
diketahui secara terbatas. Maka orang yang ahli mengumpulkan kata-kata yang tidak dapat
dipahami oleh umumtersebut dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari.
9

Endang Soetari juga menyebutkan beberapa upaya para ulama Muhaditsin untuk menafsirkan
keghariban matan Hadits, antara lain:
1. Mencari dan menelaah hadits yang sanadnya berlainan dengan yang bermatan gharib
2. Memperhatikan penjelasan dari sahabat yang meriwayatkan Hadits atau shahabat lain yang
tidak meriwayatkan,
3. Memperhatikan penjelasan dari rawi selain shahabat.
Di sisi lain, dalam buku Ilmu Hadis karya Mudasir (2005:57), menurut Ibnu Shalah, yang
dimaksud dengan Gharib al-hadis ialah: Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang
terdapat pada lafal-lafal hadis yang jauh dan sulit dipahami karena (lafal-lafal tersebu) jarang
digunakan. Mudasir menyatakan bahwa bahwa ilmu ini muncul atas usaha para ulama setelah
Rasulullah SAW. Wafat ketika banyaknya bangsa-bangsa yang bukan arab memeluk Islam serta
banyaknya orang yang kurang memahami istilah atau lafal-lafal tertentu yang gharib atau sukar
dipahami.
Imam Al-Nawawi menyebutkan dalam bukunya (2001:116) bahwa Hadis gharib adalah
Hadis yang diriwayatkan dari al-Zuhri atau rawi yang selevel dengan al-Zuhri dimana Hadishadisnya itu dikumpulkan oleh seorang rawi. Hadis gharib terbagi ke dalam dua begian, shahih
dan tidak shahih. Dalam kategori tidak shahih, hadis gharib bisa berupa Hadis hasan juga bisa
dlaif. Namun umumnya Hadis gharib tidak shahih. Hdis ini juga terbagi ke dalam dua
klasifikasi berdasarkan pada pada kualitas sanad dn matan Hadis tersebut. Pertama , Hadis gharib
baik dari segi matannya maupun sanadnya. Ini seperti pada Hadis yang hanya diriwayatkan oleh
seorang rawi. Kedua, Hadis yang kegharibannya terdapat pada sanadnya saja, seperti pada Hadis
yang matannya diriwayatkan oleh sekelompok sahabat, di mana salah seorang di antara mereka
meriwayatkannya secara tunggal Hadis itu. Dalam kaitan ini, Ai-Titmidzi biasanya
menggunakan teknis gharibun min badza al-wajh (gharib berdasar tinjauan ini. Namun sampai
ssat ini tidak ditemukan Hadis gharib dalam segi matannya saja, tapi sanadnya tidak gharib.
Kecuali jika ada Hadis tunggal yang populer di mana Hadist itu diriwayatkan oleh banyak rawi,
maka hadis itu disebut Hadis gharib yang masyhur dan juga gharib secara matannya saja tidak
beserta sanadnya, jika dilihat dari salah satu dari dua jalurnya, seperti Hadis Innama al-amalu bi
al-niyyat.
Definisi lain diungkapkan oleh Wahyudin Darmalaksana (2004:39), bahwa Hadits Gharib
yaitu hadits yang terdapat penyendirian rawi dalam sanadnya di mana saja penyendirian dalam
10

sanad itu terjadi, daik karena penyendirian sifat atau keadaan yang berbeda dengan sifat dan
keadaan rawi lainnya, ataupun juga karena penyendirian personalia itu sendiri. Berdasarkan pada
bentuk penyendirian tersebut, kemudian hadits gharib terbagi pada dua macam: pertama, Hadits
Gharib Mutlaq yakni hadits yang didalamnya terdapat penyendirian sanad dalam jumlah
personalianya. Kedua, Hadis Gharib Nisbi yakni Hadis yang terdapat penyendirian dalam dalam
satu sifat atau keadaan tertentu.
b. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits
Menurut ahli bahasa, asbab diartikan dengan al-habl (tali), yang menurut lisan Al-Arab
berarti saluran, yang artinya adalah segala sesuatu yang menghubungkan satu benda dengan
benda yang lainnya. Adapun arti asbab menurut istilah adalah Segala sesuatu yang mengantar
pada tujuan.Kata wurud (sampai, muncul) berarti : Air yang memancar atau yang mengalir.
Dalam pengertian yang lebih luas, As-Suyuti menyebutkan pengertian asbab wurud al-hadist,
yaitu Sesuatu yang membatasi arti suatu hadist, baik berkaitan dengan arti umum atau khusus,
mutlak atau muqqayyad, dinasakhkan, dan seterunya, atau suatu arti yang dimaksud oleh sebuah
hadist saat kemunculannya.
Dari pengertian asbab wurud al-hadist seperti di atas, dapat dibawa pada pengertian ilmu
asbab wurud al-hadist, yakni suatu ilmu yang membicarakan sebab-sebab Nabi Muhammad
SAW. Menuturkan sabdanya dan saat beliau menuturkannya, seperti sabda RasulullahSAW
tentang menyucikan air laut, yaitu, Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. Hadist ini
dituturkan oleh Rasulullah SAW ketika seorang sahabat sedang berada di tengah laut
mendapatkan kesulitan berwudhu.
Menurut As-Suyuti, urgensi asbab wurud terhadap hadist sebagai salah satu jalan untuk
memahami kandungan hadist, sama halnya dengan urgensi asbab nuzul Al-Quran terhadap AlQuran. Ini terlihat dari beberapa faedahnya antara lain dapat men-taksis arti yang umum,
membatasi arti yang mutlak,menunjukkan perincian terhadap yang mujmal, menjelaskan
kemusykilan, dan menunjukkan illat suatu hukum.Maka dengan memahami asbab wurud alhadist ini, makna yang dimaksud atau dikandung oleh suatu hadist dapat dipahami dengan
mudah. Namun, tidak semua hadist mempunyai asbab al-wurud, seperti halnya tidak semua ayat
Al-Quran memiliki asbab an-nuzul-nya.
Sedangkan menurut Endang Soetari (2005:212), Tarif ilmu Asbab Wurud al-Hadist
Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW menuturkan sabdanya dan masa-masa Nabi
11

menuturkan. Ilmu ini titik berat pembahasannya pada latar belakang dan sebab lahirnya Hadist.
Manfaat mengetahui asbab al-wurud Hadist antara lain untuk membantu memahami dan
menafsirkan Hadits serta mengetahui hikmah-hikmah yang berkaitan dengan wurudnya hadist
tersebut, atau mengetahui kekhususan konteks makna hadist. Perintis ilmu asbab Wurud alHadits adalah Abu Hamid ibn Kaznah al-Jubairi, dan Abu Hafash Umar ibn Muhammad ibn
Raja al-Ukbari (339 H). Kitab yang terkenal adalah kitab al-nayan wa al-Tarif, susunan
Ibrahim Ibn Muhammad al-Husaini (1120 H).
c.

Ilmu An-Nasikh Wa Al-mansukh


Menurut Drs. H. Mudasir dalam bukunya Ilmu Hadist (2005:53), Yang dimaksud dengan

ilmu an-naskh wa almansukh disini terbatas sekitar nasikh dan mansukh pada hadist. Beliau
menyebutkan bahwa kata An-Nasakh menurut bahasa mempunyai dua pengertian, al-izzlah
(menghilangkan), seperti (matahari menghilangkan bayangan) dan an-naql (menyalin), seperti
(saya menyalin kitab) yang berarti saya menyalin isi suatu kitab untuk dipindahkan pada kitab
lain. Pengertian An-Nasakh menurut bahasa, dapat kita jumpai Dalam Al-Quran, antara lain
dalam firman Allah SWT. Surat Al-Baqarah ayat 106: Ayat mana saja yang Kami nasakhkan
atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau
yang sebanding dengannya. Tidaklah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa
atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah : 106)
Adapun An-Nasakh menurut Istilah, sebagaimana pendapat ulama ushul adalah:Syari
mengangkat (membatalkan) suatu hukum syara dengan menggunakan dalil syari yang datang
kemudian.
Sedangkan menurut Endang Soetari dalam bukunya Ilmu Hadist (2005:213)
menyebutkan bahwa Tarif ilmu Nasikh wa al-Mansukh: adalah:Ilmu yang menerangkan
Hadist-hadiat yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkannya.
Beliau menyatakan bahwa ilmu ini bermanfaat untuk pengamalan Hadis bila ada dua
Hadis Maqbul yang tanakud yang tidak dapat dikompromikan atau dijama. Bila dapat
dikompromikan, hanya sampai pada tingkat mukhtalif al-hadis, kedua hadis maqbul tersebut
dapat diamalkan. Bila tidak bisa dijama (dikompromikan, maka Hadist yang tanakud tadi
ditarjih atau dinasakh. Bila diketahui mana diantara kedua Hadist yang diwurudkan duluan dan
yang diwurudkan kemudian, maka yang wurud kemudian (terakhir) itulah yang diamalkan.
Sedangkan yang duluan tidak diamalkan. Yang belakangan disebut nasikh, yang duluan disebut
12

mansukh. Kaidah yang berkaitan dengan nasakh, antara lain berupa cara mengetaui nasakh,
yakni penjelasan dari Rasulullah SAW sendiri, keterangan sahabat dan tarikh datangnya matan
yang dimaksud.
4. Ilmu Kaidah Tentang Sanad dan Matan
a.

Ilmu Ilal Al-Hadist


Munzier Suparta (2006:35) menyatakan kata Ilal adalah bentuk jama dari kata Al-Illah,

yang menurut bahasa berarti penyakit atau sakit. Menurut Muhadditsin, istilah Illah berarti
sebab yang tersembunyi atau samar-samar yang berakibat tercemarnya hadist. Adapun yang
dimaksud dengan Ilmu Ilal Al-Hadist menurut Muhadditsin adalah ilmu yang membahas sebabsebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan keshahihan hadist, seperti mengatakan
muttashil terhadap hadist yang munqathi, menyebutkan marfu terhadap hadist yang mauquf,
memasukan hadist kedalam hadist lain, dan hal-hal yang seperti itu.
Beberapa buku lainnya juga, seperti Muhammad Ahmad dan M.Mudzakir (1998:61) dan
Endang Soetari menyatakan hal yang sama mengenai definisi Ilmu Ilal Al-Hadist. Jadi secara
singkat, Ilmu Ilal Al-Hadist adalah ilmu yang membahas tentang suatu illat yang dapat
mencacatkan kesahihan hadist.
Endang Soetari, menyatakan illat yang terjadi pada sanad dan terjadi pula pada matan, yaitu :
a) Lahir sanad shahih padahal terdapat rawi yang tidak mendengar sendiri dari guru.
b) Hadist Mursal dimusnadkan lahirnya.
c) Hadist mahfuzh dari shahabat tertentu diriwayatkan dari sahabat lain yang berbeda tempat
tinggalnya.
d) Hadist Mahfuzh dari sahabat tertentu diriwayatkan dengan paham tabiin.
e)

Meriwayatkan dengan an-anah suatu hadist yang sanadnya gugur seorang rawi atau

beberapa orang.
f)

Berlainan sanadnya dengan sanad yang lebih kuat.

g) Berlainan nama gurunya yang memberikan hadist dengan nama guru rawi-rawi tsiqah, atau
nama guru tidak disebutkan dengan jelas.
h) Meriwayatkan hadist yang tidak pernah didengar dari gurunya, walaupun gurunya itu benarbenar guru yang pernah memberikan beberapa hadist padanya.
i)

Meriwayatkan hadist dengan sanad lain, secara waham terhadap hadist yang sebenarnya,

hanya mempunyai satu sanad.


13

j)

Memauqufkan hadist yang maufu.


Adapun beberapa ulama yang menulis mengenai ilmu ini adalah Ibn Al-Madini (234 H),

Ibn Abi Hatim (327 H) yakni kitab Ilal Al-Hadist. Imam Muslim (261 H), Al-Daruquthni (375
H), dan Muhammad Ibn Abd Allah Al-Hakim.
b. Ilmu At-Tashif Wa At-Tahrif
Menurut Mudasir (2005:57), Ilmu At-tashif wa at-tahrif adalah ilmu yang berusaha
menerangkan hadis-hadis yang sudah diubah titik atau syakalnya (musahhaf) dan bentuknya
(muharraf). Al-Hafizh Ibnu Hajar membagi ilmu ini menjadi dua bagian, yaitu ilmu at-tashif dan
ilmu at-tahrif. Sebaliknya Ibnu Shalah dan pengikutnya menggabungkan kedua ilmu ini menjadi
satu ilmu.Menurutnya, ilmu ini merupakan satu disiplin iilmu bernilai tinggi yang dapat
membangkitkan semangat para ahli hafalan (huffaz). Hal ini karena hafalan para ulama
terkadang terjadi kesalahan bacaan dan pendengarannya yang diterima dari orang lain.
Sedangkan menurut Endang Soetari (2005:216) Ilmu Tashhif wa al-Tahrif adalah: Ilmu
yang menerangkan Hadis-hadis yang sudah diubah titiknya (musahhaf) dan bentuknya
(muharraf). Diantara kitab ilmu ini adalah kitab: al-Tashhif wa al-Tahrif, susunan al-Daruquthni
(358 H) dan Abu Ahmad al-Askari (283 H).
Sedangkan menurut Imam Al-Nawawi (2001:120), kesalahan tulis (tashhif) bisa saja
terjadi pada kata atau lafadh dalam sebuah Hadis atau penglihatan rawi, baik dalam segi sanad
maupun matannya. Diantara kesalahan tulis pada sanad adalah penulisan al-Awwam bin
Murajim (dengan ra dan jim pada kata Murajim) ditulis secara salah oleh Ibn al-Main dengan
za dan ha (Muzahim). Dan diantara kesalahan tulis pada matan adalah Hadis Zaid bin Tsabit
berikut ini: Anna Rasulallah ihtajara fi al-masjid (Bahwa Rasulullah membuat kamar di salah
satu ruangan masjid dari tikar atau yang sejenisnya di mana tempat itu dipergunakan untuk
shalat). Ibnu Lahiah menulis secara salah kata ihtajara dengan menggantikannya menjadi
ihtajama (berbekam). Menurutnya, kadang kesalahan tulis terjadi karena salah dengar, seperti
Hadis dari Ashim al-Ahwal. Kadang pula kesalahan terjadi pada makna Hadis, seperti ungkapan
Muhammad bin al-Mutsanna berikut ini, Nahnu qaumun lana syarafun, nahnu min anazah shalla
ilaina Rasulullah (Kami adalah sekelompok orang yang memiliki kehormatan. Kami lahir dari
kabilah Anazah di mana Rasulullah pernah shalat di kabilah kami). Kata anazah di sini
dipahami secara salah oleh Muhammad bin al-Mutsanna. Padahal yang dimaksudkan dari Hadis
bahwa Rasulullah shalat di depannya diberi tanda dengan tongkat. Bahkan ada orabg arab
14

pedesaan yang salah memahami anazah. Ia mengira bahwa kata itu adalah anzah (dengan nun),
yang berartri kambibg. Ia pun akhirnya, karena salah memahami makna Hadis yang dimaksud,
shalat dengan disertai kambing kecil.
c.

Ilmu Mukhtalif Al-Hadis


Mudasir (2005:58) mendefinisikan ilmu mukhtalif al-hadis sebagai ilmu yang membahas

tentang hadis-hadis yang menurut lahirnya saling bertentangan atau berlawanan agar
pertentangan tersebut dapat dihilangkan atau dikompromikan antara keduanya sebagaimana
membahas hadis-hadis yang sulit dipahami isi atau kandungannya, dengan menghilangkan
kemusykilan atau kesulitannya serta menjelaskan hakikatnya.
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dengan menguasai ilmu mukhtalif al-hadis,
maka hadis-hadis yang tampaknya bertentangan dapat diatasi dengan menghilangkan
pertentangan itu sendiri. Begitu juga kemusykilan yang terlihat dalam suatu hadis dapat
dihilangkan dan ditemukan hakikat dari kandungan hadis tersebut. Sebagian ulama menyamakan
istilah ilmu mukhtalif al-hadis dengan ilmu musykil al-hadis, ilmu takwil al-hadis, ilmu talfiq alhadis, dan ilmu ikhtilaf al-hadis. Akan tetapi, yang dimaksudkan oleh istilah-istilah di atas
memiliki arti yang sama.
Imam Al-Nawawi (2001:121) menyebutkan bahwa maksud dari Mukhtalaf al-Hadis
adalah adanya dua Hadis yang bertentangan maknanya secara eksplisit. Tugas seorang ahli Hadis
dalam masalah ini adalah menggabungkan dua Hadis yang bertentangan itu, atau mentarjih salah
satunya. Hanya para imam yang mempunyai penguasaan mendalam pada bidang Hadis dan fikih,
di samping para ahli ushul fikih yang memiliki kapasitas yang memadai dalam bidang semantik.
Hadis mukhtalaf terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, pertentangan yang
memungkinkan untuk menggabungkan maksud dari dua hadis itu. Setelah menjadi jelas, bagian
yang telah digabungkan itu wajib untuk diamalkan. Kedua, pertentangan yang memungkinkan
untuk digabungkan dengan satu alasan. Karenanya, jika kita mengetahui salah satu dari kedua
hadis itu menjadi penasikh, maka kita dahulukan Hadis penasih itu. Jika tidak, kita mengamalkan
Hadis yang diunggulkan (rajih), seperti mentarjih karakteristik dan jumlah para rawi yang
mencapai sekitar lima puluh jalur.

15

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ilmu Hadits adalah ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Nabi SAW. Perintis
pertama Ilmu Hadits adalah Al Qadi Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzy. Pada mulanya, Ilmu
Hadits merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, ilmu-ilmu yang terpisah
dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadits, karena masing-masing
membicarakan tentang hadits dan para perawinya. Akan tetapi pada masa berikutnya ilmu-ilmu
itu digabungkan dan dijadikan satu serta tetap menggunakan nama Ulumul Hadits.
Macam-macam Ilmu Hadits ada dua yaitu Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits
Dirayah. Adapun cabang-cabang dari Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah adalah:
1. Ilmu Rijal al-Hadits

6. Gharib al-Hadits

2. Ilmu Jarh wa at-Tadil

7. Nasikh wa al Mansukh

3. Fann al-Mubhanat

8. Asbab Wurud al-Hadits

4. Tashhif wa at-Tahrif

9. Talfiq al-Hadits

5. Ilal al-Hadits

10. Musthalah Ahli Hadits

B. SARAN
Sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat
banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat

16

kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi kita semua. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad, dan Mudzakir, Muhammad. 2000. Ulumul Hadits. Bandung: CV Pustaka
Setia
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2010. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,
Semarang: PT Pustaka Rizki Putra
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2003. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Islam. Jakarta: PT Bulan
Bintang
Suparta, Munzier. 2003. Ilmu Hadits. Jakarta: PT Raja Grafindo
Mudasir. 2005. Ilmu Hadis. Bandung: Pustaka Setia
Ahmad, Muhammad dan M. Mudzakir. 2000. Ilmu Hadis. Pustaka Setia. Bandung
Suprapta, Munzier. 2006. Ilmu Hadis. Grafindo Persada. Jakarta

17