Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji

syukur

penulis

panjatkan

kepada

Allah

SWT

yang

telah

memberikan karunia-Nya sehingga referat ini dapat diselesaikan dalam


rangka memenuhi tugas dalam menjalani stase bedah mulut di RS.
Bhayangkara TK. I Raden Said Sukanto. Penulisan makalah ini tidak akan
berjalan baik tanpa saran dan nasihat dari AKBP Henry Setiawan, drg.,
M.Kes, Sp.BM selaku pembimbing.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penulisan
referat ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kritik dan saran yang
membangun sangat dibutuhkan dan semoga makalah ini bermanfaat.

Jakarta, 9 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR..........................................................................

DAFTAR ISI......................................................................................

ii

BAB I. PENDAHULUAN.................................................................

BAB II. PEMBAHASAN...................................................................

A. Cleft Palate..............................................................................
1. Definisi................................................................................
2. Etiologi................................................................................
3. Klasifikasi.............................................................................
B. Palatoplasti.............................................................................
1. Definisi................................................................................
2. Tehnik .................................................................................
3. Persiapan dan Perencanaan Pre Operatif.............................
4. Perawatan Post Operatif......................................................
5. Komplikasi Palatoplasti........................................................
BAB III. .........................................................KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA..............................................................

2
2
3
4
5
5
6
9
10
10
14
16

BAB I
PENDAHULUAN

Data dari Pusat Kontrol Penyakit

menyatakan bahwa insidensi dari

kasus celah bibir dan palatum telah meningkat menjadi 1: 600 dari angka
2

kelahiran. Masalah utama dari kasus celah bibir dan palatum adalah
penurunan fungsi bicara dan komunikasi pasien. Kurang lebih 20% dari
anak-anak yang menderita celah palatum memiliki gangguan pada fungsi
bicara yang kompleks. Sebagai hasilnya timbulnya masalah bicara pada
pasien pasti terjadi. Dengan demikian, operasi celah palatum dapat
dilakukan untuk memperbaiki masalah ini.
Teknik pembedahan untuk operasi celah bibir dan langit-langit secara
terus menerus berkembang. Makalah ini akan menjelaskan mengenai
teknik operasi celah langit-langit yang paling sering digunakan. Banyak
permasalahan yang harus dipertimbangkan sebelum dilakukannya operasi
dan penentuan teknik operasi.
Dengan demikian penulis akan membahas lebih lanjut mengenai
operasi celah langit-langit diantaranya adalah persiapan pre operatif,
tehnik tehnik operasi celah palatal yang sering digunakan, perawatan post
operatif dan komplikasi dari tindakan operasi celah langit langit.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Cleft Palate
1. Definisi
Pertumbuhan

yang

salah

pada

awal

perkembangan

merupakan dasar dari kelainan kranofasial. Pada kelainan celah


palatum

terjadi

karena

kegagalan

penyatuan

prosesus

frontonasalis dengan prosesus maksilaris pada masa kehamilan


antara minggu ke-4 hingga minggu ke-7. Pertumbuhan wajah
berkembang cepat pada usia 5 tahun pertama dan setelah usia
13 tahun mulai menurun. Embrio pada daerah kepala dan leher
mesoderm bermigrasi melalui atas maupun samping kepala.
Migrasi melalui samping kepala dan atas memperkuat dinding
epithelial dan membran bibir serta palatum. Setelah lebih banyak
mesoderm bermigrasi kearah medial, maka terbentuklah dasar
hidung dan palatum sampai nostril sill disusul terjadinya bibir dan
penyatuan palatum. Kegagalan dari proses ini menyebabkan
kelainan pada bentuk bibir dan palatum yang dinamakan ( celah
bibir dan palatum ).
Pembentukan wajah terjadi pada minggu ke-5 sampai dengan
minggu ke- 10. Pada saat minggu ke lima, dua tonjolan akan
tumbuh dengan cepat, yaitu tonjolan nasal medial dan lateral.
Tonjolan nasal lateral akan membentuk hidung, sedangkan
tonjolan medial akan membentuk (1) bagian tengah hidung, (2)
bagian tengah bibir atas, (3) bagian tengah rahang atas, serta (4)
seluruh palatum durum. Selama dua minggu berikutnya terjadi
perubahan bermakna pada wajah. Tonjolan maksila terus tumbuh
kearah medial dan menekan tonjolan nasal kearah midline.
Selanjutnya terjadi penyatuan tonjolan-tonjolan nasal dengan
tonjolan maksila disisi lateral. Jadi bibir atas dan palatum dibentuk
oleh dua tonjolan nasal dan dua tonjolan maksila. Tonjolan yang
menyatu di bagian medial, tidak hanya bertemu di daerah
permukaan, tetapi terus menyatu sampai dengan bagian yang
lebih dalam. Struktur yang dibentuk oleh dua tonjolan yang
menyatu ini dinamakan segmen intermaksilaris. Bagian ini terdiri
4

dari (1) bagian bibir yang membentuk philtrum dan bibir atas, (2)
komponen rahang atas yang mendukung empat gigi insisivus, (3)
komponen palatum yang membentuk segitiga palatum primer. Di
bagian atas, segmen intermaksila menyatu dengan septum nasal
yang dibentuk oleh prominence frontal.
Palatum molle terbentuk dari pertumbuhan dua tonjolan
maksila yang disebut palatine shelves. Pada minggu ke enam,
palatine shelves tumbuh miring kearah bawah di kedua sisi lidah.
Pada minggu ke tujuh posisinya horizontal di atas lidah dan
kemudian kedua sisinya menyatu dan membentuk palatum
sekunder. Di bagian anterior terjadi penyatuan dengan palatum
primer, pada titik pertemuan ini terjadi foramen incisivum.
Pada saat yang sama, septum nasal tumbuh kearah bawah
dan bergabung dengan permukaan atas palatum yang baru
terbentuk. Palatine shelves saling menyatu dengan palatum
primer pada minggu ke tujuh dan ke sepuluh masa pertumbuhan
embrio. Apabila terjadi gangguan atau hambatan pada periode ini
menyebabkan gagalnya penyatuan palatum dan atau hidung
disertai kegagalan penyatuan bibir ataupun tidak.
2. Etiologi
Kelainan celah bibir dan langit dapat di sebabkan oleh gen
yang diturunkan oleh kedua orang tua penderita ( herediter ) dan
faktor lingkungan :
1. Herediter
Faktor ini biasanya diturunkan secara genetik dari riwayat
keluarga yang mengalami mutasi genetik. Faktor genetik hanya
20% -30% berpengaruh pada terjadinya celah bibir atau celah
langit-langit. Insiden celah bibir dengan atau tanpa celah langitlangit 1 : 750-1000 kelahiran adapun dilihat dari segi etnis
insiden pada ras Asia 1 : 500 kelahiran, ras Kaukasia 1 : 1.750
kelahiran, ras Afrika Amerika 1 : 2000 kelahiran.
2. Lingkungan
Lingkungan ikut berperan pada perkembangan embriologi
antara lain defisiensi nutrisi, radiasi, beberapa jenis obat, virus,
5

kekurangan vitamin dapat menyebabkan terjadinya celah bibir.


Beberapa jenis obat dan kebiasaan antara lain : phenytoin,
alkohol, retinoic acid, perokok dapat menyebabkan terjadinya
celah bibir. Faktor lingkungan sebagai penyebab celah bibir dan
langit-langit telah banyak diketahui, walaupun tidak sepenting
faktor genetik, tetapi faktor lingkungan adalah faktor yang
dapat

dikendalikan

sehingga

dapat

dilakukan

upaya

pencegahan.
3. Klasifikasi
Klasifikasi Veau ( 1831 )
Group 1 : cleft hanya palum lunak saja.

Group 2 : cleft palatum lunak dan keras, tidak meluas ke


foramen insisivus, hanya meliputi palatum sekunder saja.

Group 3 : complete unilateral cleft, meluas dari uvula ke


foramen insisivus pada midline, kemudian deviasi ke satu sisi dan
biasanya sampai ke alveolus pada gigi insisivus lateral.

Group 4 : complete bilateral cleft, mirip group 3 dengan 2 cleft


yang meluas dari foramen insisiv ke alveolus.

B. Palatoplasty
1. Definisi Palatoplasti
Palatoplasti merupakan suatu tindakan pembedahan dari
palatum untuk menutup celah pada palatum durum dan
mendapatkan fungsi palatum molle yang normal. Palatoplasti
perlu dilakukan karena adanya celah palatum mempengaruhi
hampir seluruh fungsi dari wajah kecuali fungsi pengelihatan.
Pada masa ini apabila seorang anak terlahir dengan celah
palatum baik tanpa atau disertai celah bibir dapat dilakukan
operasi pembedahan untuk memperbaiki celah palatum tersebut
dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Operasi palatoplasti merupakan operasi yang memerlukan
gabungan antara beberapa dokter dari segala bidang. Untuk
dilakukannya operasi palatoplasti, terdapat

syarat dimana

palatoplasti dilakukan pada anak dengan usia 6-12 bulan.

Secara umum terdapat 3 kelompok teknik palatoplasti, yaitu


untuk memperbaiki palatum durum, memperbaiki palatum
molle, dan teknik operasi yang disesuaikan dengan kasus. Untuk
memperbaiki

palatum

durum,

menggunakan

teknik

Veau-

Wardill-Kilner, Von Langenbeck, two flap, furlow double opposing


Z-plasty.
2. Tehnik Palatoplasti
a). Tehnik Von Langenbeck
Pada tahun 1861 , Bernard von Langenbeck menjelaskan
metode palatoplasty
untuk

perbaikan

menggunakan flaps mucoperiosteal


daerah

palatum

durum.

Beliau

mempertahankan perlekatan anterior flap mucoperiosteal ke


margin alveolar untuk membuat flap bipedicle. Awalnya
hanya ujung celah yang di insisi sehingga membentuk insisi
lateral, flap dipisahkan dengan palatum durum, otot palatum
dibagi dan akhirnya dijahit.
Teknik ini masih digunakan sebagai terapi korektif pada
cleft palate.

Pemisahan dan penjahitan otot dilakukan

sebagai prosedur tambahan untuk menyatukan otot.

b). Veau-Wardill-Kilner Palatoplasti


Dengan kata lain tehnik ini disebut juga dengan tehnik VW.

Dalam

teknik

ini

prosedur

V-W

dilakukan

dengan

pembuatan flap mucoperiosteal yang utuh pada palatum mole


8

sehingga terbentuk palatum dengan posisi yang lebih retrusif


tampak lebih panjang. Namun, cara ini meninggalkan area
yang kasar pada bagian anterior dan lateral sepanjang margin
alveolar

dengan

terbukanya

membran

tulang.

Dengan

demikian menyebabkan palatum menjadi lebih pendek dan


terjadi deformitas alveolar dan velofaringeal serta kelainan
susunan gigi geligi.

c). Two Flap Palatoplasti


Sudah menjadi fakta bahwa celah palatum yang tidak
diperbaiki

memiliki

hubungan

antar

rahang

dan

perkembangan yang lebih baik. Pada operasi palatum yang


dilakukan

terlalu

dini

menyebabkan

hipoplasia

maksila.

Dengan alasan demikian banyak dokter bedah mulut

yang

membagi operasi palatum menjadi 2 tahap. Pada palatum


molle diperbaiki terlebih dahulu , kemudian dialjutkan dengan
perbaikan palatum mole. Pada prosedur awal, operasi palatum

mole dilakukan bersamaan dengan perbaikan bibir pada usia 6


bulan dan kemudian perbaikan palatum dilakukan pada usi 1012 bulan. Dengan cara ini secara signifikan mengurangi lebar
celah pada regio palatum durum dan membuat lebih mudah
dialkukannya perbaikan. Hal ini menurunkan resiko hipoplasia
secara signifikan. Meskipun demikian perbaikan fungsi bicara
telah tercapai. Metode ini dilakukan berdasarkan fungsi
perbaikan dari paltum molle itu sendiri yang mana diikuti
dengan penyatuan palatum durum, dan membentuk struktur
anatomi dan fisiologi dari mukosa palatum.

d. Furlow Double Opposing Z-plasty


Teknik furlow double merupakan teknik yang diadopsi dari
teknik doubel reverse Z- plasty untuk permukaan rongga
mulut, hidung dan palatum molle. Tepi dari celah membentuk
cabang inti. Otot incorporated bersatu dengan dasar bagian
posterior dari triangular flap di sisi kiri untuk mempermudah
pembedahan. Pada bagian palatum durum ditutup dengan
pembuatan insisi pada tepi celah dan elevasi mukoperiosteum
dari media ke tepi sehingga celah tertutup tanpa dilakukan
insisi lagi. Teknik furlow menggunakan insisi lateral disaat
dibutuhkan.
Saat dilakukan transposisi dari flap terdapat pemanjangan
pada palatum mole secara efektif dan sutura yang terbentuk
secara horizontal terjadi tumpang tindih yang baik dengan
otot. Banyak operator bedah mulut yang menyatakan dengan
mengunakan teknik ini menghasilkan fungsi bicara yang lebih
baik.

Meskipun

demikian

belum

ada

menyatakan hal tersebut secara objektif.

10

penelitian

yang

3. Persiapan dan Perencanaan Pre Operatif


Sebelum dilakukannya operasi palatoplasti, pasien diharuskan
untukmemenuhi berbagai syarat yaitu diantara lain berat badan
anak lebih dari 10 pounds atau sekitar 5 kg atau usia bayi / anak
lebih dari 10 minggu, kadar Hemoglobin darah lebih dari 10 gr
% menunjukkan
hitung jumlah

kemampuan
sel

darah

oksigenasi

putih

kurang

anak
dari

baik,
10.000

serta
per

mL menunjukkan anak dalam daya tahan tubuh baik. Bilamana


prasyarat ini terpenuhi, maka anak akan terjamin suatu operasi
yang aman, dengan risiko pembiusan dan risiko pembedahan yang
minimal serta prediksi kesembuhan yang baik.
Bilamana prasyarat tersebut belum terpenuhi, operasi ditunda
dengan beberapa petunjuk diberikan kepada orang tua untuk diikuti

11

selama

masa

perbaikan

kondisi

anak.

Misalnya:

(1)

Petunjuk memberi minum secara hati-hati agar pasien bayi tidak


tersedak, antara lain dengan dot khusus atau dengan bantuan
sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak.
(2)

Selain

itu,

celah

pada

bibir

harus

direkatkan

dengan

menggunakan plester untukmenjaga agar celah pada bibir menjadi


tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang rahang atas yang
tidak semestinya, karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi pada
saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil akhir
yang

didapat

tidak

sempurna.

(3)

Orang

tua

agar

melengkapi imunisasi pada bayi / anaknya sesuai dengan program,


hal ini penting agar pada saat operasi bayi / anak berada dalam
kondisi daya tahan tubuh yang baik.

Apabila pasien telah memenuhi syarat diatas maha selanjutnya


pasien

diperlukan

untuk

melakukan

peperiksaan

laboratorium

hitung darah lengkap, pemeriksaan rontgen tirax dan konsultasi ke


bagian spesialis anak.

12

4. Perawatan Post Operatif


Perawatan setelah dilakukan operasi, segera setelah sadar
penderita diperbolehkan minum dan makanan cair sampai tiga
minggu dan selanjutnya dianjurkan makan makanan biasa. Jaga oral
hygiene bila anak sudah mengerti. Bila anak yang masih kecil,
biasakan setelah makan makanan cair dilanjutkan dengan minum
air putih. Berikan antibiotik selama tiga hari. Pada orangtua pasien
juga bisa diberikan edukasi berupa, posisi tidur pasien harus
dimiringkan atau tengkurap untuk mencegah aspirasi bila terjadi
perdarahan, tidak boleh makan atau minum yang terlalu panas
ataupun terlalu dingin yang akan menyebabkan vasodilatasidan,
tidak boleh menghisap

atau menyedot selama satu bulan post

operasi untuk menghindari jebolnya daerah post operasi.


5. Komplikasi Pakatoplasti
Anak dengan palatoschisis berpotensi untuk menderita flu, otitis
media, tuli, gangguan bicara, dan kelainan pertumbuhan gigi. Selain
itu

dapat

menyebabkan

gangguan

psikososial.Komplikasi

post

operatif yang biasa timbul yakni:


a. Obstruksi jalan nafas
Seperti disebutkan sebelumnya, obstruksi jalan nafas post
operatif merupakan komplikasi yang paling penting pada periode
segera setelah dilakukan operasi. Keadaan ini timbul sebagai hasil
dari prolaps dari lidah ke orofaring saat pasien masih ditidurkan
13

oleh ahli anastesi. Penempatan Intraoperatif dari traksi sutura


lidah membantu dalam menangani kondisi ini. Obstruksi jalan
nafas bisa juga menjadi masalah yang berlarut-larut karena
perubahan pada dinamika jalan nafas, terutama pada anak-anak
dengan madibula yang kecil. Pada beberapa instansi, pembuatan
dan pemliharaan dari trakeotomi perlu sampai perbaikan palatum
telah sempurna.
b. Perdarahan
Perdarahan intraoperatif merupakan komplikasi yang potensi
terjadi. Karena kayanya darah yang diberikan pada palatum,
Intraoperative hemorrhage is a potential complication. Because of
the rich blood supply to the palate, perdarahan yang berarti
mengharuskan

untuk

dilakukannya

transfuse.

Hal

ini

bisa

berbahaya pada bayi, yakni pada mereka yang total volume


darahnya rendah. Penilaian preoperative dari jumlah hemoglobin
dan hitung trombosit sangat penting. Injeksi epinefrin sebelum di
lakukan insisi dan penggunaa intraoperatif dari oxymetazoline
hydrochloride capat mengurangi kehilangan darah yang bisa
terjadi. Untuk menjaga dari kehilangan darah post operatif, area
palatum yang mengandung mucosa seharusnya diberikan avitene
atau agen hemostatik lainnya.
c. Fistel palatum
Fistel palatum bisa timbul sebagai komplikasi pada periode
segera setelah dilakukan operasi, atau hal tersebut dapat menjadi
permasalahan yang tertunda. Suatu fistel pada palatum dapat
timbul

dimanapun

sepanjang

sisi

cleft.

Insidennya

telah

dilapornya cukup tinggi yakni


sebanyak 34%, dan berat-ringannya cleft telah dikemukanan
bahwa hal tersebut berhubungan dengan resiko timbulnya fistula.
Fistel cleft palate post operatif bisa ditangani dengan duacara.
Pada pasien yang tanpa disertai dengan gejala, prosthesis gigi

14

bisa digunakan untuk menutup defek yang ada dengan hasil yang
baik. Pasien dengan gejala diharuskan untuk terapi pembedahan.
Sedikitnya supply darah, terutama supply ke anterior merupakan
alasanutama gagalnya penutupan dari fistula. Oleh karena itu,
penutupan fistula anterior maupun posterior yang persisten
seharusnya di coba tidak lebih dari 6-12 bulan setelah operasi,
ketikasupply

darah

telah

memiliki

kesempatan

untuk

mengstabilkan dirinya. Saat ini, banyak centremenunggu sampai


pasien menjadi lebih tua (paling tidak 10 tahun) sebelum
mencoba untuk memperbaiki fistula. Jika metode penutupan
sederhana gagal, flap jaringan seperti flap lidahanterior bisa
dibutuhkan untuk melakukan penutupan.
d. Midface abnormalities
Penanganan Cleft palate pada beberapa instansi telah fokus
pada intervensi pembedahanterlebih dahulu. Salah satu efek
negatifnya adalah retriksi dari pertumbuhan maksilla pada
beberapa persen pasien. Palatum yang diperbaiki pada usia dini
bisa

menyebabkan

berkurangnya

demensi

anterior

dan

posteriornya, yakni penyempitan batang gigi, atautingginya yang


abnormal. Kontrofersi yang cukup besar ada pada topik ini karena
penyebab

dari

hipoplasia, apakah

hal

tersebut

merupakan

perbaikan ataupun efek dari cleft tersebut pada pertumbuhan


primer dan sekunder pada wajah, ini tidak jelas. Sebanyak 25%
pasiendengan
perbaikan

cleft

bisa

palate

unilateral

membutuhkan

yang

telah

bedahorthognathic.

dilakukan
LeFort

osteotomies dapat digunakan untuk memperbaiki hipoplasia


midfaceyang menghasilkan suatu maloklusi dan deformitas dagu.
e. Wound expansion
Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan
yang berlebih. Bila hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang
hingga tahap akhir dari rekonstruksi palatum, dimana pada

15

saattersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa


membutuhkan anestesi yang terpisah.
f. Wound infection
Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang
terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar.
Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi,trauma yang
tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya
dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat
terjadi akibat simpul yang terbenam.
g. Malposisi Premaksilar
Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang
dapat terjadi setelah operasi.
h. Whistle deformity
Whistle

deformity

merupakan

defisiensi

vermilion

dan

mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi


bibir. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari
segmenlateral otot orbikularis.
i. Abnormalitas atau asimetri tebal bibir
Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang
tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung.

16

BAB III
Kesimpulan

Pertumbuhan

yang

salah

pada

awal

perkembangan

merupakan dasar dari kelainan kranofasial. Pada kelainan celah


palatum

terjadi

karena

kegagalan

penyatuan

prosesus

frontonasalis dengan prosesus maksilaris pada masa kehamilan


antara minggu ke-4 hingga minggu ke-7. Pertumbuhan wajah
berkembang cepat pada usia 5 tahun pertama dan setelah usia
13 tahun mulai menurun. Embrio pada daerah kepala dan leher
mesoderm bermigrasi melalui atas maupun samping kepala.
Migrasi melalui samping kepala dan atas memperkuat dinding
epithelial dan membran bibir serta palatum. Setelah lebih banyak
mesoderm bermigrasi kearah medial, maka terbentuklah dasar
hidung dan palatum sampai nostril sill disusul terjadinya bibir dan
penyatuan palatum. Kegagalan dari proses ini menyebabkan
kelainan pada bentuk bibir dan palatum yang dinamakan ( celah
bibir dan palatum ).
17

Kelainan celah bibir dan langit dapat di sebabkan oleh gen


yang diturunkan oleh kedua orang tua penderita ( herediter ) dan
faktor lingkungan. Klasifikasi Veau ( 1831 ) Group 1 : cleft hanya
palum lunak saja, Group 2

: cleft palatum lunak dan keras, tidak

meluas ke foramen insisivus, hanya meliputi palatum sekunder


saja, Group 3

: complete unilateral cleft, meluas dari uvula ke

foramen insisivus pada midline, kemudian deviasi ke satu sisi dan


biasanya sampai ke alveolus pada gigi insisivus lateral, Group 4 :
complete bilateral cleft, mirip group 3 dengan 2 cleft yang meluas
dari foramen insisiv ke alveolus.
Palatoplasti merupakan suatu tindakan pembedahan dari
palatum

untuk

menutup

celah

pada

palatum

durum

dan

mendapatkan fungsi palatum molle yang normal. Palatoplasti


perlu dilakukan karena adanya celah palatum mempengaruhi
hampir seluruh fungsi dari wajah kecuali fungsi pengelihatan.
Pada masa ini apabila seorang anak terlahir dengan celah
palatum baik tanpa atau disertai celah bibir dapat dilakukan
operasi pembedahan untuk memperbaiki celah palatum tersebut
dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tehnik Palatoplasti
Tehnik Von Langenbeck, Veau-Wardill-Kilner Palatoplasti, Two Flap
Palatoplasti, Furlow Double Opposing Z-plasty
Sebelum dilakukannya operasi palatoplasti, pasien diharuskan
untuk memenuhi berbagai syarat yaitu diantara lain berat badan
anak lebih dari 10 pounds atau sekitar 5 kg atau usia bayi / anak
lebih dari 10 minggu, kadar Hemoglobin darah lebih dari 10 gr
% menunjukkan
hitung jumlah

kemampuan
sel

darah

oksigenasi

putih

kurang

anak
dari

baik,
10.000

serta
per

mL menunjukkan anak dalam daya tahan tubuh baik.


Perawatan setelah dilakukan operasi, segera setelah sadar
penderita diperbolehkan minum dan makanan cair sampai tiga
minggu dan selanjutnya dianjurkan makan makanan biasa. Jaga
oral hygiene bila anak sudah mengerti. Bila anak yang masih
kecil, biasakan setelah makan makanan cair dilanjutkan dengan
18

minum air putih. Berikan antibiotik selama tiga hari. Pada


orangtua pasien juga bisa diberikan edukasi berupa, posisi tidur
pasien harus dimiringkan atau tengkurap untuk mencegah
aspirasi bila terjadi perdarahan, tidak boleh makan atau minum
yang

terlalu

panas

ataupun

terlalu

dingin

yang

akan

menyebabkan vasodilatasi dan tidak boleh menghisap

atau

menyedot selama satu bulan post operasi untuk menghindari


jebolnya daerah post operasi.
Komplikasi post operatif yang biasa timbul yakni Obstruksi
jalan nafas, perdarahan, fistel palatum, midface abnormalities,
wound expansion, wound infection, malposisi Premaksilar, whistle
deformitas, abnormalitas atau asimetri tebal bibir.

DAFTAR PUSTAKA
1. Indian J Plast Surg. 2009 Oct; 42(Suppl): S102S109. Cleft palate
repair and variations
2. Kundra P, Supraja N, Agrawal K, Ravishankar M. Flexible laryngeal
mask airway for cleft palate surgery in children: A randomized
clinical trial on efficacy and safety. Cleft Palate Craniofac
J. 2009;46:36873.[PubMed]
3. Agrawal K, Panda KN. Modification in mouth gag tongue blade to
prevent

endotracheal

tube

compression. Plast

Reconstr

Surg. 2005;116:8579. [PubMed]


4. Agrawal K. Presented at CLEFT 2005 8th International Congress
of Cleft Lip and Palate. Durban, South Africa: 2005. Raw area free
palatoplasty.
19

5. Ogata H, Nakajima T, Onishi F, Tamada I, Hikosaka M. Cleft palate


repair using a marginal musculo-mucosal flap. Cleft Palate
Craniofac J. 2006;43:6515. [PubMed]
6. Agrawal K, Panda KN. An innovative management of detached
mucoperiosteal flap from the hard palate (Hanging palate) Plast
Reconstr Surg. 2005;115:8759. [PubMed]

20