Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Labioschisis atau biasa disebut bibir sumbing adalah cacat bawaan yang menjadi
masalah tersendiri di kalangan masyarakat, terutama penduduk dengan status sosial
ekonomi yang lemah. Akibatnya operasi dilakukan terlambat dan malah dibiarkan
sampai dewasa.
Sumbing bibir merupakan cacat berupa celah pada bibir atas yang dapat meneruskan
diri sampai ke gusi, rahang dan langitan yang terbentuk pada trimester pertama
kehamilan karena tak terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga prosesus
nasalis dan maksilaris yang telah menyatu menjadi pecah kembali. Deformitas ini
dapat unilateral atau bilateral, inkomplet atau komplet. Ada kemungkinan yang
terkena hanyalah bibir saja, atau dapat meluas sampai ke lubang hidung, atau
mengenai tulang maksila dan gigi. Sumbing bibir dan palatum bisa terjadi secara
terpisah atau bersama- sama.
Ada 14 jenis cacat bawaan celah muka, sumbing bibir dan langitan adalah yang paling
sering dijumpai, angka keterjadiannya kira-kira satu di antara 800 kelahiran. Insidens
celah bibir (sumbing) dengan atau tanpa adanya celah pada palatum, kira-kira terdapat
1:600 kelahiran, insidens celah palatum saja sekitar 1:1.000 kelahiran. Insiden
tertinggi kelainan ini terdapat pada orang Asia dan terendah pada orang kulit hitam.
Data internasional mencatat dalam periode 2002 sampai 2006, insiden sumbing bibir
rata-rata terdapat 8 per 10.000 kelahiran di dunia. Tingkat kelahiran dengan sumbing
bibir tertinggi adalah Jepang dan terendah Afrika Selatan.
Di Republik Ceko, ditemukan 2147 bayi dengan cacat sumbing yang ditemukan dari
1.471.789 kelahiran dalam periode tahun 1994 sampai dengan tahun 2008. Setiap
tahun terdapat sekitar 170 bayi dengan sumbing bibir dan atau langit-langit. Insiden
keseluruhanadalah1 dari 600 kelahiran hidup. Kira-kira kejadian sumbing bibir
terdapat pada 1 dari 2648 kelahiran hidup, sumbing bibir dan langitan terdapat 1 dari
1801 kelahiran hidup dan sumbing langitan terdapat 1 dari 1505 kelahiran.

Pusat Pengendaliandan Pencegahan Penyakit (CDC) baru-baru ini memperkirakan


bahwa setiap tahun 2.651 bayi di Amerika Serikat yang lahir dengan bibir sumbing
dan 4.437 bayi lahir dengan bibir sumbing dengan atau tanpa celah palate. Di
Indonesia penderita kelainan sumbing bibir di Indonesia bertambah rata- rata 7.500
orang per tahun.
Penyebab sumbing bibir yaitu faktor genetik yang termodifikasi oleh agen dari luar
tubuh. Sebagian besar kasus sumbing bibir dapat dijelaskan dengan hipotesis
multifaktor. Teori multifaktor yang diturunkan menyatakan bahwa gen-gen yang
beresiko berinteraksi satu dengan lainnya dan dengan lingkungan, menyebabkan cacat
pada perkembangan janin. Faktor lingkungan yang bisa menjadi kemungkinan
penyebab kelainan sumbing bibir bisa meliputi ibu yang terpajan obat, defisiensi
nutrisi, penyakit infeksi, radiasi, stress emosional, merokok, dan trauma pada masa
kehamilan.
Pengelolaan sumbing bibir merupakan pengelolaan multidisipliner. Program
rehabilitasi yang menyeluruh untuk anak yang menderita sumbing bibir bisa
memerlukan pengobatan khusus dalam kurun waktu bertahun-tahun, dari tim yang
terdiri atas dokter ahli anak untuk mengontrol kesehatan bayi atau anak, ahli bedah
plastik untuk melakukan tindakan operasi, ahli THT yang mungkin diperlukan bila
terjadi gangguan pada telinga, dokter gigi anak, prostodontis, dan ortodontis yang
akan mengawasi perkembangan rahang dan gigi, ahli terapi wicara yang mengawasi
dan membimbing kemampuan bicara, ahli psikologi dan psikiater anak untuk
menangani masalah psikologis yang timbul.
Komplikasi yang bisa terjadi berupa infeksi, otitis media berulang dan ketulian.
Jarang dijumpai kasus karies gigi yang berlebihan. Cacat wicara bisa ada atau
menetap meskipun psenutupan palatum secara anatomik telah dilakukan dengan baik.

BAB II
Tinjauan Pustaka
II.1 Definisi
Celah bibir atau Sumbing merupakan cacat akibat kelainan deformitas kongenital
yang disebabkan kelainan perkembangan wajah selama gestasi. Sumbing dapat terjadi
pada bibir, langit-langit mulut (palatum), ataupun pada keduanya. Sumbing pada bibir
disebut cheiloschisis sedangkan sumbing pada langit-langit mulut disebut
palatoschisis.

II.2 Embriologi
Untuk menjelaskan terjadinya cacat bawaan di daerah wajah, hidung, dan langitan
mulut, perlu kiranya untuk mengetahui perkembangan normal di daerah tersebut.
Pada akhir minggu keempat mudigah, pusat perkembangan yang membentuk wajah
dibentuk oleh suatu ektoderm, yang dikenal sebagai stomodeum, dikelilingi oleh
sepasang lengkung insang pertama. Kemudian mudigah beumur empat setengah dapat
dikenal lima tonjolan disekitar stomodeum yang dibentuk oleh pertumbuhan
mesenkim.
Selama minggu kelima dua buah rigi, tonjol hidung lateral dan medial, tumbuh cepat
dan mengelilingi lempeng hidung yang kemudian membentuk dasar suatu lekuk,
lubang hidung.
Selama dua minggu berikutnya bentuk wajah berubah banyak. Tonjolan-tonjol
maxilla terus tumbuh kearah medial dan mendesak tonjol-tonjol hidung medial kea
rah garis tengah. Selanjutnya, tonjol-tonjol ini bersatu dengan yang lain termasuk juga
tonjol maxilla di sebelah lateralnya. Oleh karena itu, bibir atas dibentuk oleh dua
tonjol hidung medial dan dua tonjol maxilla.

Menurut Richard B. Stark, langitan primer terbentuk diantara minggu keempat sampai
minggu ketujuh, dan terdiri dari: prolabium, pre maxilla, columella, dan septum nasal
anterior. Sedangkan langitan sekunder, terjadi antara minggu ketujuh dan minggu ke
dua belas, terdiri atas: palatum durum, dan palatum molle.

Di dalam kongres di Melbourne tahun 1971, Richard B.Stark juga menjelaskan


hyphotesis migrasi mesodermal. Pada embrio, di daerah kepala dan leher, mesoderm
bermigrasi melalui atas maupun samping kepala. Migrasi melalui atas kepala perlu
untuk jaringan otak depan, dorsum nasalis, dan bibir tengah. Migrasi melalui samping
kepala kiri dan kanan, memperkuat dinding epithelial, membrane brachial bibir.
Kemudian setelah lebih banyak mesoderm bermigrasi kea rah medial, akan
terbentuklan dasar hidung sampai nostril sill, disusul terjadinya bibir dan akhirnya
merah bibir.

Streeter dalam tahun 1948, lebih suka mengganti kata-kata processus (tonjolan)
dengan swellings (pembengkakan) atau ridges yang kurang lebih mendekati
theory migrasi mesodrmal.

II.3 Anatomi
Palatum terdiri atas palatum durum dan palatum molle (velum) yang bersama-sama
membentuk atap rongga mulut dan lantai rongga hidung. Processus palatine os
maxilla dan lamina horizontal dari os palatine membentuk palatum durum. Palatum
molle merupakan suatu jaringan fibromuskuler yang dibentuk oleh beberapa otot yang
melekat pada bagian posterior palatum durum. Terdapat enam otot yang melekat pada
palatum durum yaitu m.levator veli palatine, m. constrictor pharyngeus superior,
m.uvula, m.palatopharyngeus, m.palatoglosus dan m.tensor veli palatini.
Ketiga otot yang mempunyai konstribusi terbesar terhadap fungsi velopharyngeal
adalah m.uvula, m.levator veli palatine, dan m.constriktor pharyngeus superior.
M.uvula berperan dalam mengangkat bagian terbesar velum selama konstraksi otot
ini. M.levator veli palatine mendorong velum kearah superior dan posterior untuk
melekatkan velum kedinding faring posterior. Pergerakan dinding faring ke medial,
dilakukan oleh m.constriktor pharyngeus superior yang membentuk velum kearah
dinding posterior faring untuk membentuk sfingter yang kuat. M.palatopharyngeus

berfungsi menggerakkan palatum kearah bawah dan kearah medial. M.palatoglossus


terutama sebagai depressor palatum, yang berperan dalam pembentukan venom nasal
dengan membiarkan aliran udara yang terkontrol melalui rongga hidung. Otot yang
terakhir adalah m.tensor veli palatine. Otot ini tidak berperan dalam pergerakan
palatum. Fungsi utama otot ini menyerupai fungsi m.tensor timpani yaitu menjamin
ventilasi dan drainase dari tuba auditiva.
Suplai darahnya terutama berasal dari a.palatina mayor yang masuk melalui
foramen palatine mayor. Sedangkan a.palatina minor dan m.palatina minor lewat
melalui foramen palatine minor. Innervasi palatum berasal dari n.trigeminus cabang
maxilla yang membentuk pleksus yang menginervasi otot-otot palatum. Selain itu,
palatum juga mendapat innervasi dari nervus cranial VII dan IX yang berjalan
disebelah posterior dari pleksus.

II.4 Insiden
Angka kejadian bibir sumbing di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
menunjukkan bahwa selama periode 2011-2013 kasus tertinggi yang ditemukan
adalah kasus sumbing bibir dan alveolus yang disertai dengan sumbing palatum lunak
dan palatum keras (65,5%). Sumbing bibir unilateral (66%) lebih banyak ditemukan
daripada sumbing bibir bilateral (34%) dan lokalisasi defek lebih sering terjadi di
sebelah kiri (57%). Jumlah pasien laki- laki (67%) lebih banyak ditemukan daripada
perempuan (33%). Sebagian besar pasien dilakukan operasi pada usia 1-6 tahun
(39%). Sebagian besar pasien dilakukan operasi Primary Lip Repair (71%) dan tehnik
operasi yang tersering ialah Triangular Variant (33%).

II.5 Etiologi
Pada

tahun

1963,

Falconer

mengemukakan

suatu

teori

bahwa

etiologi

palatoschisis bersifat multifaktorial dimana pembentukan celah pada palatum


berhubungan dengan faktor herediter dan faktor lingkungan yang terlibat dalam
pertumbuhan dan perkembangan processus.

II.5.1.Faktor herediter
Sekitar 25% pasien yang menderita palatoschisis memiliki riwayat keluarga yang
menderita penyakit yang sama. Orang tua dengan palatoschisis mempunyai resiko
lebih tinggi untuk memiliki anak dengan palatoschisis. Jika hanya salah satu orang tua
yang menderita palatoschisis, maka kemungkinan anaknya menderita palatoschisis
adalah sekitar 4%. Jikakedua orangtuanya tidak menderita palatoschisis, tetapi
memiliki anak tunggal dengan palatoschisis maka resiko generasi berikutnya
menderita penyakit yang sama juga sekitar 4%.Dugaan mengenai hal ini ditunjang
kenyataan, telah berhasil diisolasi suatu X-linked gen,yaitu Xq13-21 pada lokus
6p24.3 pada pasien sumbing bibir dan langitan. Kenyataan lainyang menunjang,
bahwa

demikian

banyak

kelainan

sindrom

disertai

celah

bibir

dan

langitan(khususnya jenis bilateral), melibatkan anomali skeletal, maupun defek lahir


lainnya.
II.5.2. Faktor lingkungan
Obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan, seperti fenitoin, retinoid (golongan
vitamin A), dan steroid beresiko menimbulkan palatoschisis pada bayi. Infeksi selama
kehamilan

semester

pertama

seperti

infeksi

rubella

dan

cytomegalovirus,

dihubungkan dengan terbentuknya celah. Alkohol, keadaan yang menyebabkan


hipoksia, merokok, dan defisiensi makanan (seperti defisiensi asam folat) dapat
menyebabkan palatoschisis.

II.6 Patofisiologi
II.6.1 Bibir sumbing
Menurut Richard Stark dan Joshua Kaplan dalam tahun 1973, migrasi mesoderm
yang kurang ke dalam bibir dan dasar hidung menjadi penyebab dasar terjadinya
sumbing dan tidak terjadinya Lamina dental serta philtrum di daerah sumbing.
Kurangnya atau terlambatnya migrasi mesoderm menyebabkan lapisan ectoderm
berproliferasi dan menggali jalur lekukan. Jalur yang semakin menipis ini mendapat
tarikan akibat cepatnya pertumbuhan dan akhirnya robek menjadi celah atau
sumbing
Bila sumbing tidak lengkap, jaringan epithel yang tersisa menjadi Simonarts band.
Mesoderm bermigrasi ke dalam membrane bilamellar bibir atas di tiga tempat: Satu,
massa mesoderm yang terletak di tengah dan dua massa mesoderm yang terletak di

samping. Bila terdapat massa mesoderm yang kosong atau kurang, maka dinding
epithelial (membrane brachial) akan terobek dan terjadilah sumbing. Mesoderm
dapat tidak ada sama sekali atau dalam jumlah yang sedikit. Bila sama sekali tidak
ada, terjadilah sumbing lengkap, dan bila terdapat sedikit mesoderm, terjadilah
sumbing tak lengkap atau sebagian.

Menurut lokasi absennya mesoderm, terjadilah sumbing bibir unilateral (tunggal),


sumbing bibir bilateral (rangkap), sumbing bibir tengah.

II.6.2 Sumbing langit-langit


Terjadi antara minggu ketujuh dan kedua belas, dan disebut juga sumbing langitan
sekunder.
Langitan sekunder adalah struktur embrionik yang kemudian menjadi palatum molle
dan palatum durum. Pada proses pembentukan langitan yang normal, terjadi tiga
tahap, yaitu : pertumbuhan, naiknya lempeng calon langitan, peleburan menjadi satu.
Bila terjadi hambatan terhadap salah satu atau lebih tahap tersebut di atas, maka
terjadilah sumbing langitan:
1. Berkurangnya pertumbuhan
Vitamin A dapat mengganggu migrasi sel pada tahap pertumbuhan langitan
sewaktu pertumbuhan maxilla atau dan lempeng-lempeng langitan.
2. Kegagalan atau terlambatnya pengangkatan lempeng-lempeng langitan.
Kegagalan meleburnya jadi satu kedua lempeng langitan yang berhadapan
disebabkan karena kegagalan kontak. Kegagalan kontak adalah akibat
meleburnya ukuran kepala atau berkurangnya pertumbuhan lempeng langitan.

3. Kegagalan karena kurangnya adhesi epithelial


Belum jelas apakah ini juga akibat kurangnya kontak kedua lempeng langitan
atau sewaktu terjadi kontak kemampuan fusi (peleburan) jaringan telah
lewat, sehingga terjadilah sumbing langitan.
4. Terjadinya sumbing setelah tahap peleburab (penyatuan) lempeng langitan
Pada embrio manusia dengan sumbing langitan, terkadang ditemukan sisa
epithel di bagian mesenchym tepi sumbing. Ini terjadi karena terdapatnya sisa
epithel pada proses peleburan garis tengah dan robekan yang mungkin terjadi
kemudian terletak tidak pada garis tengah peleburan semula.

II.7 Efek bibir sumbing


Pasien dengan palatoschisis mengalami gangguan perkembangan wajah, inkompetensi
velopharyngeal, perkembangan bicara yang abnormal, dan gangguan fungsi tuba
eustachi. Kesemuanya memberikan gejala patologis mencakup kesulitan dalam intake
makanan dan nutrisi, infeksi telinga tengah yang rekuren, ketulian, perkembangan
bicara yang abnormal,dan gangguan pada pertumbuhan wajah. Adanya hubungan
antara rongga mulut dan hidung menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk
mengisap pada bayi.
Insersi

yang

abnormal

dari

m.tensor

veli

palatine

menyebabkan

tidak

sempurnanya pengosongan pada telinga tengah. Infeksi telinga yang rekuren telah
dihubungkan dengan timbulnya ketulian yang memperburuk cara bicara pada pasien
dengan palatoschisis. Mekanisme velopharyngeal yang utuh penting dalam
menghasilkan suara non nasal dan sebagai modulator aliran udara dalam pembentukan
fonem lainnya yang membutuhkan nasal coupling. (Manipulasi anatomi yang
kompleks dan sulit dari mekanisme ini, jika tidak sukses dilakukan pada awal
perkembangan bicara, dapat menyebabkan berkurangnya pengucapan normal).

II.8 Klasifikasi
Klasifikasi dibagi menjadi 3 yaitu cleft lip (bibir sumbing) , cleft
palate ( kelainan langit-langit ) , dan cleft lip palate ( kelainan bibir

sumbing dan langit-langit. Pembagian cleft lip sendiri untuk tujuan


operasi dibagi berdasarkan posisi menjadi unilateral dan bilateral ,
sedabgjab secara jenisnya dibagi menjadi complete , incomplete
dan microform.
Untuk kelainan ini sendiri biasanya disertai dengan kelainan lainnya
yaitu kelainan hidung. Untuk kelainan hidung dibagi menjadi ringan,
sedang, dan berat. Kelainan hidung ringan ditandai dengan lateral
displacement dari basis alar tanpa adanya perubahan kontur alar,
pemendekan kolumella yang minimal dan normal dome projection
.Kelainan hidung sedang ditandai dengan adanya displacement
bagian posterior dan lateral dari basis alar , kelainan kolumela , dan
dome yang tertekan. Kelainan hidung berat ditandai dengan adanya
underprojecting basis alar disertai dengan kolaps total dari bagian
bawah lateral cartilage dan adanya kelainan yang berat pada tinggi
kolumela.
Pada umumnya klasifikasi yang dipakai adalah Kernahan dan stark
Stripped Y dan modifikasi, Acronim yang digunakan adalah LAHSHAL

L(Lip)

Alveolus(A)

Hard

(H)

dan

Soft(S)

palate

A. Microform cleft lip , B .Unilateral Incomplete Cleft lip , C. Unilateral


complete cleft lip ,
D. bilateral cleft lip , E. bilateral incomplete cleft lip.

II.9 Sistem kode


Cara menuliskan lokasi celah bibir dan langit-langit yang diperkenalkan oleh Otto
Kriens adalah sistem LAHSHAL yang sangat sederhana dan dapat menjelaskan setiap
lokasi celah pada bibir, alveolar, hard palate, dan soft palate. Kelainan komplit,
inkomplit, microform, unilateral, atau bilateral.8
Bibir disingkat sebagai L (lips), gusi disingkat A (alveolus), langit-langit dibagi
menjadi dua bagian, yaitu H (hard palate) dan S (soft palate). Bila normal (tidak ada
celah), maka urutannya dicoret, celah komplit (lengkap) dengan huruf besar, celah
inkomplit (tidak lengkap) dengan huruf kecil dan huruf kecil dalam kurung untuk
kelainan microform.8
Di sentrum pendidikan di Surabaya, memakai istilah CLP (Cleft Lip and Palate)
bukan celah bibir dan langit-langit atau cheilognatopalatoschizis, dengan demikian
sangat memudahkan pemakaian sistem LAHSHAL untuk lokasi celah. Istilah CLP
juga sesuai dengan ICD (International Code of Diagnosis).8
Contoh:8
1. CLP / L-----L
Cleft Lip and Palate Lokasi celah berada di bibir kanan dan kiri, celah
komplit.
2. CLP / ---SHAL
Cleft Lip and Palate dengan lokasi celah komplit pada soft palate, hard palate,
alveolus dan bibir bagian kiri.
3. CLP / I----Cleft Lip and Palate celah bibir sebelah kanan inkomplit.

Timbulnya suatu kelainan yang diturunkan dapat digambarkan pada suatu diagram
sisilah keluarga, dengan mengurut, hubungan penderita dengan keluarganya atau
nenek moyangnya yang juga mempunyai kelainan yang serupa dengan penderita.
Cara lain yang bisa menggambarkan hubungan tersebut ialah dengan menyebutkan
hubungan tersebut menggunakan rangkaian kalimat untuk menjelaskannya.
Saya mempunyai ide yang sederhana untuk dapat menjelaskan hubungan pasien
dengan keluarganya yang mempunyai kelainan serupa dengan menggunakan sistem
kode huruf. Sistem tersebut disebut sistem Djo. Sistem ini memakai istilah singkatan
huruf PSFMC untuk menggambarkan hubungan penderita dengan keluargannya yang
menderita kelainan serupa.
P

: Patient (pasien) adalah orang yang dating ke kita dan menderita kelainan
bawaan

: Sibling (saudara)

: Father (ayah)

M : Mother (ibu)
C

: Child (anak)

Dalam suatu rangkaian kode maka huruf terakhir adalah orang yang menderita
kelainan serupa dengan pasien yang dating.
Contoh sistem djo :
Didapatkan data dari keluarga pasien dengan kode PFFMS : P adalah pasien, F
pertama adalah ayah dari pasien, F kedua adalah ayah dari F pertama atau kakek dari
pihak ayah dari pasien. M adalah ibu dari F kedua dan S adalah saudara dari M. S
inilah orang dalam keluarganya yang menderita kelainan bawaan seperti pasien yang
dating. Dengan kata lain, riwayat keluarga kelainan seperti yang diderita pasien
adalah saudara dari ibu kakek (buyut) dari pihak ayah.

Apabila akan menyertakan informasi gender ditulis (m) untuk laki-laki, dan (f) untuk
wanita. Bisa pula ditambahkan nomor urut anak dari suatu keluarga.

II.10 Tatalaksana
II.10.1 Saat optimal untuk melakukan operasi bibir
sumbing.
Dalam tahun 1966, Wilhelmsen dan Musgrave memberikan syarat-syarat pra-bedah
dan menyebutnya rule of 10, sebagai berikut:
-

Berat badan = 10 pon

Kadar hemoglobin = 10 gram

Jumlah butir darah putih = 10.000/ ml

Ia berpendapat, setelah berumur satu bulan, bayi mempunyai penyesuaian kardiovaskuler yang lebih baik, transisi gizi, dan kemampuan melawan infeksi.
Millard dalam tahun 1965 menulis bahwa sumbing bibir dapat dioperasi pada umur
berapa saja, dari saat lahir sampai umur tua, tetapi bila yang dipentingkan adalah hasil
akhir operasi, maka sebaiknya operasi pertama dilakukan setelah bayi berumur 3
bulan, agar komponen hidung dan bibir diberi kesempatan tumbuh dan berat bayi 10
12 pon.
Kemudian sejak tahun 1967, ditentukan syarat rule over 10:
-

Berat badan lebih dari 10 pon

Kadar hemoglobin lebih dari 10 gram

Umur lebih dari 10 minggu


Yang dilakukan Millard pada waktu ini, ialah menunggu sampai paling sedikit

umur 3 bulan, bahkan dapat ditunda sampai berumur 4 atau 5 bulan bagi sumbing
bibir tunggal yang tak lengkap. Dengan syarat kadar Hb 10 gram, dan bebas dari
peradangan.
Jadwal tersebut di atas berlaku juga bagi sumbing bibir tunggal lengkap tanpa disertai
alveolar dan juga bagi sumbing langitan.
Untuk sumbing bibir lengkap dengan distorsi alveolar disertai adanya sumbing
langitan, perlu dilakukan : lip adhesion procedure dan penutupan palatum molle
pada umur dua sampai tiga minggu dengan syarat Hb 10 gr, tanpa peradangan. Baru

kemudian pada umur 6 bulan penutupan nasal floor bibir dan koreksi hidung
dilakukan.

II.10.2 Penanganan celah bibir dan langit-langit


Penderita CLP mengalami berbagai penyulit mulai lahir, derita batin dialami
keluarganya dan kelak oleh anaknya sendiri setelah menyadari keadaan dirinya.
Kesukaran minum karena daya hisap yang kurang banyak yang tumpah. Perlu seorang
pekerja social di bawah psikologist.
Untuk penampakannya serta fungsi velum yang baik, perlu pembedahan yang secara
estetik bagus, baik untuk bibir, hidung, dan rahangnya. Di samping jasa seorang
spesialis Bedah Plastik, juga perlu didukung oleh dokter gigi spesialis Orthodontist.
Untuk penyulit telinga dan fungsi pendengaran, perlu jasa seorang spesialis THT.
Jadi penanganan pasien CLP perlu kerjasama para spesialis tersebut di atas dalam
teamwork yang harmonis dengan diatur dalam suatu protocol.
1. Pasien Baru Lahir
Bertemu pekerja social untuk diberi penerangan agar keluarga penderita tidak
stress dan menerangkan harapan rill yang bisa didapat dengan perawatan
menyeluruh bagi anaknya. Diterangkan juga protocol yang harus dijalani
penderita kelak. Menerangkan bagaimana member minum bayi agar tidak
banyak yang tumpah. Dibuat record psikososial pasien, dari sini diambil
sebagai bagian record CLP pada umumnya.
Pekerja social akan mengikuti perkembangan psikososial anak serta keadaan
keluarga dan lingkungannya, serta melaporkannya pada permulaan meeting
setiap tahap protocol ini.
Kalau tidak ada pekerja social, maka tugas ini dilakukan oleh dokter operator
nantinya, atau siapa yang bertemu pasien lebih dulu.
2. Pasien Umur 3 bulan (the over tens)

Operasi bibir dan hidung

Pencetakan model gigi

Evaluasi telinga

Pemasangan grommets bila perlu

3. Pada Umur 10 12 bulan


-

Operasi Palatum

Evaluasi pendengaran dan telinga

4. Pasien Umur 1 4 tahun


-

Evaluasi bicara, dimulai 3 bulan pasca operasi, follow up dilakukan oleh


speech pathologist

Evaluasi pendengaran dan telinga

5. Pasien Umur 4 tahun


Kalau

bicara

tetap

jelek,

dipertimbangkan

repalatorafi

pharyngoplasty.
6. Pasien Umur 6 tahun
-

Evaluasi gigi dan rahang, pembuatan model

Melakukan nasendoscopy bagi yang memerlukannya

Evaluasi pendengaran

7. Pasien Umur 9 10 tahun


-

Alveolar bone graft

8. Pasien Umur 12 -13 tahun

atau/

dan

Final touch untuk operasi-operasi yang dulu pernah dilakukan, bila masih ada
kekurangannya.
9. Pasien Umur 17 tahun
-

Evaluasi tulang-tulang muka

Operasi advancement osteotomy Le Fort I

II.11 Evolusi teknik operasi


Di antara sekian banyak teknik dan jenis operasi sumbing bibir maupun sumbing
langitan, terdapat beberapa yang sangat menonjol dan popular, sehingga masa kini
dipakai sebagai pegangan pokok pendidikan Ilmu Bedah Plastik dan rekonstruksi di
banyak Negara.
Setelah melalui periode awal di mana pada waktu itu dipergunakan alat-alat sederhana
seperti cara Ambroise Pare atau figure of eight nya, menyusullah periode abad ke
19 20.
-

Pada waktu itu para ahli bedah hanya memikirkan bagaimana memperpanjang
jarak vertical sumbing bibir dan menyempurnakan ujung-ujung sumbing bibir.
Para pelopornya antara lain ialah : Von Graefe, Husson, Nelaton, William
Rose, James E. Thompson, Charles H. Mayo, William E.lodd, G. V. I. Brown,
dan Victor Veau.

Golongan yang mengoperasi seluruh tebal bibir dalam usaha memperpanjang


jarak vertical bibir. Adalah : Joseph Francois Malgaigne, dan G. Mirault.

Flap segitiga. Pelopornya adalah : V. P Blair, dan J. B. Brown.

Pembuatan Cupids bow. Pelopornya : Franz konig, Warner Hagedorn, A. B.


Le Mesurier, Trauner, Jean Lucian Grignon, dan Wunderer.

Melestarikan Cupids bow. Adalah : Charles Tennison, Duarte Cordosa,


Kerwin Marcks, Lidiya Maksimouna Obukhova, Peter Randall, Trauner, dan
Pierre Petit.

Konsep Rotation-Advancement. Dari D. Ralph Millard, Jr.

Family Tree sumbing bibir tunggal. Oleh David.

II.12 Teknik Operasi


Macam operasi yang dilakukan terhadap sumbing bibir, perlu kiranya menyebutkan
macam sumbing bibir apa saja yang dapat terjadi.
Macam kelainan sumbing bibir, yaitu: sumbing bibir tak lengkap, sumbing bibir
lengkap, sumbing bibir tunggal, sumbing bibir rangkap, dan sumbing bibir tengah
(sangat jarang).Kombinasi antara kemungkinan-kemungkinan tersebut di atas dapat
terjadi, dapat pula terjadi bersamaan dengan sumbing langitan.
Pada umumnya operasi sumbing bibir tidak dilakukan bersamaan operasi sumbing
langitan, karena mengingat beberapa hal, yaitu : saat optimal operasi berbeda, dan
angka kematian naik karena kemungkinan gangguan pernafasan dan kehilangan darah
bertambah.
Adapun kelainan dasar sumbing, yaitu;
-

Jarak vertical bibir memendek, atau menyempitnya bibir pada sisi sumbing.

Adanya sumbing alveolus (lengkap atau tak lengkap).

Deformitas maxilla dan distorsi.

Kelainan-kelainan hidung : distorsi ala nasi, deformitas columella,


memipihnya cartilage nasal sebelah caudal, dan deviasi septum nasi dalam
bidang vertical atau horizontal, ataupun keduanya.

Cupids bow sebagian besar masih ada tetapi ada distorsi kea rah medial
sumbing.
Adapun dasar tujuan operasi sumbing, ialah : mengenal, mempelajari, dan

mengusahakan tetap utuhnya patokan-patokan wajah normal sebanyak mungkin. Serta


membenahi dan meletakkan patokan-patokan wajah tersebut ke dalam posisi normal,
dinilai dari sisi anterior maupun sisi lateral. Terutama memperhatikan koreksi
sumbing bibirnya, mengusahakan agar philtrum, cupids bow, tuberculum labii
superioris dan batas mucocutan tetap utuh, melakukan koreksi pada basis ala nasi, dan
columella dengan cara undermining dan mobilisasi jaringan, tanpa menginsisi
cartilage ala nasi. Dan bila perlu lakukan koresi orthodontic terhadap alveolus.
Jenis Operasi
1. Garis Lurus Rose-

Indikasi atau
-

Kerugiannya

Keuntungannya
Hanya untuk sumbing - Terjadinya kontraktur

Thompson (disertai

bibir tak lengkap,

Z-plasti di sebelah

kelainan minim

pada parut insisi lurus


- Cupids bow tidak

dalam bibir
2. Garis Patah

lengkap

a. Flap segitiga
(Jenis Z-plasti)
1) Tennison

Untuk sumbing bibir

- Distorsi philtrum,

(Marcks, Randall,

lengkap tingkat

tegaangan pada tepi

Hagerty)

sedang dan sumbing

bawah bibir

bibir tak lengkap


tingkat berat

- Banyak kehilangan
jaringan bibir
- Pengukuran garis insisi
yang rumit

2) Millard

Untuk sumbing bibir

- Terjadi kesulitan untuk

(Rotation

yang tak lengkap

sumbing bibir tak

advancement)

ukuran minim sampai

lengkap dan lengkap,

sedang (modifikasi

tingkat berat

yang mutahir
termasuk untuk
ukuran besar
3) Mirault (Blair-

Brown-Mc

Pelaksanaannya relatif - Lenyapnya cupids bow


mudah

Dowell

- Bibir menjadi pipih dan


tegang
- Adanya distorsi nasal
- Dapat terjadi distorsi
philtrum
- Dapat terjadi distorsi

4) Jayapathy
(Huffman-Lierle)
b. Flap empat
persegi panjang,
atau Flap segi

Z-plasti yang asli

cupidsbow

empat
1) Hagedorn Le

- Jarak vertical bibir


-

Sumbing bibir tak

Mesurier

lengkap dan lengkap

Steffenson

tingkat berat dan

(Modifikasi

ukuran lebar

berlebihan

Axhausen oleh
May)

II.12.1 Operasi celah bibir unilateral


Operasi celah bibir satu sisi (cheiloraphy unilateral), dilakukan pada kelainan CLP/
L----- atau CLP/ La----- atau CLP/ LAHS--- atau CLP/ SHAL. Teknik operasi yang
umum dipakai adalah teknik Millard. Cara ini menggunakan rotation advancement
flap. Djohansjah Marzoeki memodifikasi teknik Millard dengan cara pada vermillion
bibir dibuat flap dari segmen lateral dan menyisipkannya ke subkutan vermillion yang
tipis untuk membuat sentral vermillion sedikit menonjol dan dapat menghilangkan
koloboma. Flap ini kami sebut flap Djo. Cara ini telah dilakukan pada banyak
penderita celah bibir di Surabaya, dan hasilnya cukup memuaskan.8
Bila celah bibir inkomplit, maka cheiloraphy dilakukan sama seperti penanganan
celah komplit. Di samping itu, dasar vestibulum nasi juga harus dibuat pada waktu
yang sama.8

II.12.2 Operasi celah bibir Bilateral


Teknik cheiloraphy bilateral dapat untuk celah yang ditulis lokasinya dengan
cara Otto Kriens sebagai CLP / LAHSHAL atau CLP/ la---al, atau kombinasi lain.
Sering pada cheiloraphy bilateral ditemukan keadaan premaksilanya yang sangat
menonjol. Ini menyulitkan para ahli bedah karena otot-otot bibir tidak bisa secara
langsung dipertemukan atau bila dipaksakan akan terjadi ketegangan dan berakibat
jahitan lepas beberapa hari kemudian. Djohansjah menganjurkan pada keadaan
tersebut otot tidak perlu dipaksakan dipertemukan di tengah, cukup kulit dan subkutan
yang dijahitkan, menempelkan saja pada tepi prolabium. Otot tersebut dapat dijahit
sekunder kelak bila keadaan luka sudah tenang dan stabil, diperkirakan satu tahun
(setelah fase 3 penyembuhan luka selesai).8
Pada celah bibir bilateral dewasa yang prolabiumnya relative kecil, maka perlu
tambahan segmen kulit untuk memperpanjang prolabiumnya. Bila didapatkan celah
bibir bilateral inkomplit, maka cheiloraphy dilakukan sebagai komplit.8

ii.12.3 Operasi sumbing langit-langit


Tiga tujuan utama dalam mengkoreksi sumbing langitan, ialah :
1.

Menghasilkan suara normal


Untuk mencapai taraf suara normal memang sulit, lebih tepat suara
yang layak dapat diterima dan pembicaraan yang dapat dimengerti oleh
masyarakat.

2.

Penutupan secara mekanik


Dengan penutupan celah, baik langitan primer maupun sekunder,
dicapailah suatu penutupan anatomic yang lengkap sehingga mencegah
keluarnya cairan, makanan, liur dan sekresi nasal. Hasil inin tidak selalu dapat

dicapai dengan sempurna, ada kalanya terdapat lubang sisa di alveolus atau
maxilla, dalam hal ini suatu obturator atau prosthesis dapat menolong.
3.

Mengurangi sebanyak mungkin lambatnya pertumbuhan maxilla dan


deformitas alveolar serta gigi

Efek akhir dari operasi dini sumbing langitan terhadap pertumbuhan maxilla kea rah
antero-posterior, lateral dan vertical, akhir-akhir ini menjadi perhatian para ahli bedah.
Perlu dipertimbangkan, saat operasi, cara operasi, dan variasi teknik operasinya; cara
imobilisasi dan kemungkinan timbul infeksi harus difikirkan. Kini lebih dipikirkan
keseimbangan yang sesuai antara operasi yang menjamin perbaikan suara dengan
operasi yang menjamin pertumbuhan fasial dan dental yang kuat.
Pada beberapa kasus di mana tingkat sumbing pada bayi sangat berat, sering
menimbulkan perasaan putus asa. Tetapi kenyataannya sumbing langitan tak akan
bertambah lebar, bahkan akan menyempit mengikuti perkembangan usia. Bila pada
umur 10 bulan tampaknya celah tidak juga menyempit, dinasehatkan untuk menunggu
sekitar 6 sampai 12 bulan lagi. Pemakaian obturator sebelum dan sesuadah operasi
banyak menolong menyempitnya celah, karena lidak tidak lagi mengganggu di tengah
celah dan penekanan lidah terhadap obturator mengakibatkan rangsangan tepi celah
untuk tumbuh mendekat.
Umur waktu operasi, dikaitkan dengan pertimbangan, mortalitas, morbiditas
penderita, hasil kemampuan bicara dan pertumbuhan. Operasi dini sewaktu umur 12
bulan, tidak member hasil yang lebih baik pada suara. Secara teori, lebih lama kita
menunda operasi sumbing langitan, semakin banyak kemungkinan pertumbuhan fasial
yang baik.
Dilihat dari pertumbuhan tulang muka dan pertumbuhan anak, maka usia 5 tahun
merupakan umur terbaik untuk melakukan operasi sumbing langitan. Sedangkan dari
segi ilmu bedah, dapat diambil umur antara 12 sampai 18 bulan untuk operasi
sumbing langitan. Macam operasi lebih dipentingkan dari pada mempersoalkan umur
sewaktu menjalani operasi.
Adapun macam operasi langitan primer terdiri dari 3 macam operasi, yaitu:
1.

Palatoplasty yang sederhana

2.

Push back palatoplasty

3.

Beberapa tindakan tambahan untuk menyokong push back dan penutupan


oropharyngeal termasuk penanganan khusus terhadap otot.

Klasifikasi ini berdasarkan pada derajat diseksi yang diperlukan untuk memperoleh
penutupan yang cukup.
Beberapa komplikasi operasi sumbing langitan, antara lain adalah:
-

Sumbatan jalan pernafasan


Gangguan pernafasan lazim terjadi pasca bedah akibat tertutup gumpalan
darah atau lendir. Hal ini dapat diatasi dengan penyedotan.

Perdarahan
Perdarahan atau kehilangan darah. Bia pada waktu operasi dipergunakan
larutan adrenalin 1 : 200.000 dalam larutan garam faal, jarang timbul
perdarahan dan mudah diatasi dengan koagulasi listrik atau tampon tekan.
Jarang sampa diperlukan transfuse darah.

Terbukanya luka yang dijahit atau robeknya jaringan yang dijahit.


Terobeknya luka disebabkan karena tegangnya jaringan yang dijahit, ditambah
karena akibat anak menangis, bicara keras atau makan makanan padat.
Sedativa akan mengurangi menangis. Ketegangan jaringan dapat dikurangi
dengan pematahan hamulus. Terbukanya luka dapat menyebabkan karena
sebab-sebab penyakit sistemik atau akibat memakai corticosteroid dosis tinggi
dalam waktu yang lama.

Terjadinya fistula
Fistula dapat terjadi akibat hal-hal tersebut di atas dan juga karena jaringan
epithel yang seharusnya dieksisi masih tertinggal. Fistula dapat menutup
secara spontan. Jika tidak menutup spontan, dapat diolesi secara teratur
dengan larutan Nitras Argenti sebagai cauterisasi.

Bicaranya tidak sempurna


Suara hidung dapat juga disebut Rhinolalia sperta, terdapat khas pada
penderita dengan sumbing langitan. Ini terjadi bila palatoplasty dilakukan
setelah anak dapat bicara atau bila hasil operasi tidak memenuhi jarak anteriorposterior yang cukup untuk menghasil suara yang normal.

II.12.4 Palatoraphy celah langit-langit incomplete


Operasi dilakukan dengan teknik V-Y Plasty, diupayakan soft palate dapat terdorong
ke belakang di samping prosedur pengelolaan terhadap otot seperti yang sudah
diutarakan sebelumnya.8

Gambar Desain dan Hasil Palatoraphy Celah Inkomplit

II.12.5 Palatopraphy bilateral


Secara umum baik desain maupun teknik pengerjaan untuk menangani celah langitlangit bilateral hamper sama dengan celah langit-langit unilateral komplit,
perbedaannya pada upaya penutupan mukosa nasi. Mukosa nasal di bawah tulang
palatum kiri dan kanan dipertemukan dengan mukosa septum.8

Gambar Desain Palatoraphy Bilateral 8

DAFTAR PUSTAKA
1. Asensio, Oscar, D. D. S. : A variation of the rotation advancement operation
for repair of wide unilateral cleft lips. Plast. & Reconstr. Surg., 53: 167, 1974.
2. Bloom, Herbert J., D. D. S. : Surgical repair of the cleft lip. Archer, Harry W.
B. S., M.A., D. D. S. Oral & Maxillofacial Surgery, vol 2, chapter 30 W.B.
Sauders Company, 1975.
3. Converse, John Marquis, M. D., Hogan, V. Michael, M. D., and Mc. Carthy,
Joseph G., M. D. Cleft lip and Palate, vol 4 W.B. Saunders company, 1977.
4. Ginestet, G. ,. Frezieres, H., Dupuis, A., and Pons, J. : Chirurgie Plastique et
Reconstructive de la Face. Chapitre VI Les Becs de Levre et Leurs sequelles.
Editions Medicales Flammarion, 1967.
5. Hogan, V. Michael, M. D. : Symposium on cleft lip and palate Volume 2,
number 2, April 1975 Clinics in Plastic Surgery an International Quaterly W.
B. Saunders Company.
6. Holdsworth, W. G., F. R. C. S. (Edin), F. R. C. S. (Eng.) Cleft Lip andPalate
Grune & Stratton, Inc., second Editions, 1957.
7. Lore, John M. Jr., M. D., F. A. C. S. : An Atlas of Head and Neck Surgery
Second Edition, volume I W. B. Saunders Company.
8. Marzoeki D, Jailani M. 2002. Tehnik Pembedahan Celah Bibir dan LangitLangit. Sagung Seto: Jakarta.

9. Millard, D. Ralph, Jr., M. D., F. A. C. S. : Cleft graft. The Evolution of its


Surgery. Volume I. The Unilateral Deformity. Little, Brown & company, 1976.
10. Mustarde, J. C. Plastic Surgery in Infancy and Childhood. Second Edition.
Churchill Livingstone, 1979.
11. Schuchardft. Karl. Prof. Dr. med., Dr. med. Dent. : treatment of Patient with
Clefts of Lips, Alveolus and palate. Scond hamburg International Symposium;
July 6-8, 1964 Grune & Stratt0n, 1966.
12. Spalteholz, Werner: Handatlas und Lehrbuch der Anatomie des menschen.
Erster Teil, Band 1, 2. 1953.
13. Stark, Richard B., M. D., F. A. C. S. : Cleft Palate a Multidiscipline approach.
Hoeber Medical Division, 1968.
14. Grayson B, Cutting C, Wood R. Preoperative columella lengthening in bilateral cleft lip and palate. Plast Reconstr Surg. 1993;92:1422.
15. Wood R, Grayson B, Cutting C. Gingivoperiosteoplasty and growth of the
midface. Plast Surg Forum. 1993;16:229.
16. Brauer RO, Cronin TD. The Tennison lip repair revisited. Plast Reconstr Surg.
1983;71:633.
17. Millard DR. Refinements in rotation-advancement cleft lip technique. Plast
Reconstr Surg. 1964;33:26.
18. Mohler LR. Unilateral cleft lip repair. Plast Reconstr Surg. 1987;80:511.6.
Cronin T, Upton J. Lengthening of the short columella associated with bi19. lateral cleft lip. Ann Plast Surg. 1978;1:75.7. McComb H. Primary repair of
the bilateral cleft lip nose: a 15-year review and a new treatment plan. Plast
Reconstr Surg. 1990;86:882.8. Mulliken JB. Primary repair of bilateral cleft
lip and nasal deformity. Plast Reconstr Surg. 2001;108:181.9.
20. TrottJA,MohanN.Apreliminaryreportononestageopentiprhinoplastyat the time
of lip repair in bilateral cleft lip and palate: the Alor Setar experience. Br J
Plast Surg. 1993;46:215.