Anda di halaman 1dari 13

Union busting PT ELECTRONIC

PT Samsung Electronics Indonesia yang beroperasi di kawasan Jababeka 1,


Cikarang, Jawa Barat, dinilai melakukan serangkaian tindakan yang
memberangus keberadaan Serikat Pekerja. Itu terjadi setelah 200 buruh
Samsung bergabung dengan Serikat Pekerja Elektronik dan Elektrik Federasi
Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPEE-FSPMI). Manajemen PT Samsung memecat
dua orang buruhnya yang menjadi pengurus Pimpinan Unit Kerja (PUK) SPEEFSPMI serta merumahkan belasan buruh lainnya yang menjadi pengurus serikat
Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik dan Electrik Federasi Serikat
Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE-FSPMI) PT Samsung Elektronik Indonesia
sendiri berdiri pada hari Minggu, 21 Oktober 2012 yang dilantik langsung oleh
Nurdin Muhidin dengan jumlah PUK dan Anggota hamper 200 orang. PUK ini
kemudian memberikan berkas pencatatan nomor serikat pekerja kepada kantor
Dinas Tenaga Kerja untuk mendapatkan surat keputusan Dinas Tenaga Kerja
mengenai pencatatan serikat pekerja PT Samsung Elektronik Indonesia. Setelah
PUK ini didirikan, mulailah timbul permasalahan-permasalahan, salah satunya
PHK yang dilakukan PT. Samsung pada pengurus PUK yang didasari pada alasan
kontrak kerja mereka telah habis dan plan sedang turun pada tanggal 29 oktober
2012. PUK sudah berusaha melakukan perundingan dengan pihak menejemen,
namun perundingan tersebut tidak diakui oleh pihak manejemen karena PUK
tidak dapat menunjukkan SK Disnaker mengenai pembentukan PUK SPEE FSPMI
PT.Samsung.
Pemutusan Hubungan kerja (PHK) yang dilakukan PT Samsung pada anggota PUK
tidak berhenti seketika itu, pada tanggal 30 oktober 2012 manejemen kembali
memanggil 3 anggota PUK dan dengan alasan plan sedang turun ketiga
anggota PUK tersebut dirumahkan kembali atau dengan kata lain mereka
dikembalikan kepada kantor outsouching (SPA) yang medistribusikan mereka
untuk kemudian diberhentikan. Ketiga anggota PUK yang di PHK sepihak oleh
PT.Samsung ini menolak tindakan PHK sepihak yang dilakukan oleh pihak
manejemen. Tepat dihari yang sama dengan terbitnya SK Pencatatan Serikat
SPEE FSPMI PT. Samsung Elektronik oleh Disnaker pada tanggal 5 November
2012, PT. Samsung kembali memanggil anggota PUK yang bekerja di divisi JIT
dengan alasan pemanggilan mengenai perjanjian kontrak kerja yang akan
berakhir dan diminta menandatangani surat PHK. PHK sepihak ini terus dilakukan
PT.Samsung pada anggota PUK dengan mempercepat masa kontrak kerja dan
berbagai alasan lainnya.
Pada hari Rabu, 7 September 2012 semua anggota PUK yang diPHK secara
sepihak berniat untuk bekerja tetapi ketika hendak absensi ternyata id card
mereka sudah tidak teregister sebagai karyawan PT SAMSUNG ELEKTRONICS,
bahkan security melarang masuk para anggota PUK yang tidak menandatangani
surat PHK. Sebanyak 4 kompi Polisi juga turtut mengamankan PT. Samsung
berjaga di gerbang. Upaya perundingan biparted telah dilakukan, namun
perusahaan memberikan respon negative dengan ditolaknya surat audiensi serta

tuntutan perundingan pertama dan kedua, dan tidak juga ada tindakan yang
dilakukan pihak Disnaker setelah PUK melayangkan surat permohonan
pengawasan Disnaker terhadap PT.Samsung atas indikasi adanya pelanggaran
tentang ketenagakerjaan terutama Union Busting.
Akibat makin banyak anggota PUK yang di PHK. Buruh Bekasi Bergerak bersiap
untuk unjuk rasa di PT SAMSUNG ELECTRONICS INDONESIA pada hari senen
tanggal 19 november 2012, Di pimpin langsung oleh bung Nurdin, mereka pun
siap berangkat (dengan mengendarai motor), tetapi aksi merekapun di larang/ di
tahan oleh Pihak Aparat (Polisi membuat barikade barisan), mereka pun tidak tau
alasan aparat melarang Buruh Bekasi Bergerak beraksi meskipun sudah
mempunyai izin untuk melakukan unjuk rasa. Mereka tetap mencoba unjuk rasa
dengan cara longmarc (berjalan kaki) tetapi tetap saja pihak aparat menghalangi
mereka. Akhirnya merekapun hanya berorasi di kawasan Ejip, selang beberapa
jam kerumunan merekapun hampir di datangi oleh sekelompok massa yang
mempersenjatai diri. Merekapun hampir saja bentrok dengan massa. Tetapi ada
beberapa anggota PUK yang laen, yang datang pulang kerja untuk datang
bersolidaritas mendapatkan serangan dari massa itu (di lemparin batu, dan
dengar dengar ada terkena sabetan benda tajam. Aksi pun dibubarkan setelah
ada kesepakatan antara buruh dan massa saat itu.
Itimidasi terhadap anggota PUK SPEE-FSPMI PT. Samsung terus berlanjut, merek
adikumpulkan disuatu ruangan dan di introgasi. Mereka mendapatkan perkataan
kasar dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya agar PUK mencabut surat
unjuk rasa di Polres Bekasi. Kontrakan mereka pun didatangi oleh oang-orang PT
Samsung yang Anti serikat. Rumah mereka di foto dan didata. Sejak kejadian
pengurungan itu, para anggota PUK tidak lagi dapat dihubungi, seolah hilang
ditelan bumi dan tak satupun anggota PUK SPEE-FSPMI PT. Samsung yang lolos
dari PHK sepihak tersebut. (Riz)

Dugaan Kasus Union Busting, Dirut dan HRD PT ASI Ditetapkan Sebagai
Tersangka

Solidaritas.net, Karawang Meski harus menunggu hingga dua tahun lamanya,


ternyata perjuangan yang dilakukan oleh kaum buruh di Kabupaten Karawang,
Jawa Barat mulai membuahkan hasil. Perjuangan itu terkait kasus
pemberangusan serikat (union busting) terhadap Serikat Pekerja Anggota
Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (SPA FSPS) PT Adyawinsa Stamping
Industry(ASI) Karawang bagian dari ADW Group, yang telah dilaporkan ke pihak
Polres Karawang sejak tanggal 23 Agustus 2013.
(Kita) belum menang, baru ditetapkan tersangka (dari PT ASI). Belum
dipenjara. Ini SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan)nya, ujar Dirjen Hukum dan HAM Dewan Pengurus Pusat (DPP) FSPS, Choirul AK
kepada Solidaritas.net, Senin (20/4/2015).
Dalam surat yang ditunjukkan Choirul, dijelaskan pihak Polres Karawang telah
melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan keterangan
ahli Dr Lanny Ramli SH MHum. Dari hasil tersebut, kemudian penyidik
menetapkan status tersangka terhadap WM dan NM W, serta telah dilakukan
pula pemanggilan terhadap keduanya sebagai tersangka.
Kedua tersangka merupakan Direktur Utama dan Manajer HRD PT ASI. Mereka
dilaporkan oleh buruh SPA FSPS PT ASI ke Polres Karawang terkait dugaan
pemberangusan serikat pekerja dengan menghalang-halangi kegiatan mereka.
Berdasar UU Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh,
perbuatan itu tergolong sebagai tindak pidana kejahatan.
Dalam kasus ini, jika tersangka terbukti bersalah, maka dapat dikenai sanksi
pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, dan/atau denda
paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 500 juta, sesuai dengan Pasal 43
UU tersebut. Masih soal keterangan dalam surat yang diperlihatkan Choirul,
selanjutnya pihak penyidik Polres Karawang akan mengirimkan berkas perkara ke
Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Negeri Karawang.
Terkait penetapan tersangka ini, Choirul sendiri merasa sedikit lega. Dia berharap
pihak kepolisian bisa bersikap tegas dalam kasus ini, termasuk kasus-kasus
perburuhan lainnya.
Penetapan tersangka dua orang manajemen PT ASI bak secercah harapan
bagi kalangan buruh di Karawang dalam kebebasan berserikat. Apalagi
mengenai semacam kasus union busting di Karawang ini sangat banyak. Dan

selama ini, para pengusaha yang menghalang-halangi buruh untuk berserikat


belum ada yang dipenjara, katanya dikutip dari Fakta Jabar.

Sementara itu, pengurus SPA FSPS PT ASI, Nasuha mengatakan penetapan


tersangka ini merupakan buah kerja keras dari kalangan buruh dalam
memperjuangkan penegakan UU No 2 tahun 2000.
Harapan saya yang mewakili teman SPA PT ASI, yakni berharap supaya
tersangka dugaan kasus PT ASI diberikan efek jera jika dipenjarakan. Hukum
harus ditegakkan, apalagi bukti kita sudah kuat, ujar Nasuha menyampaikan
harapannya melalui wartawan Fakta Jabar.
Sebelumnya, pada bulan Juni 2014, AS, Manajer HRD PT UPA di Karawang juga
ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama, yakni pemberangusan
serikat pekerja. Kasus ini muncul setelah manajemen perusahaan itu melakukan
pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 1.836 buruh mereka yang
tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau, Makanan dan
Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSPRTMM SPSI)

Penanganan Kasus Union Busting Dinilai Lambat


Sumber : Koran Sindo
SEMARANG Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota
Semarang dinilai lambat menangani dugaan kasus pemberangusan serikat buruh
(union busting) oleh PT AST Indonesia.
Meski kasusnya sudah berjalan enam bulan, hingga kini belum terselesaikan.
Lebih dari enam bulan kasusnya belum selesai, para buruh yang terdampak
kasus ini jadi terkatung-katung, ujar Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota
Semarang Heru Budi Utoyo di sela-sela aksi unjuk rasa di depan Kantor
Disnakertrans Kota Semarang,kemarin. Menurutnya,Komnas HAM sebelumnya
sudah mengirimkan surat permintaan tanggapan kepada Kepala Disnakertrans
Kota Semarang tertanggal 12 Desember 2012 untuk memberikan penjelasan
mengenai kasus yang terjadi di PT AST Indonesia.Namun,hingga kini belum juga
ada respons.
Akibat lambatnya penanganan, sebanyak 175 buruh yang dipecat PT AST
Indonesia pada Juli 2012 hingga kini tidak mendapatkan upah. Para pekerja pun
mengalami kesulitan dalam menghidupi diri dan keluarganya. Dalam unjuk rasa
kemarin, SPN Kota Semarang meminta Disnakertrans bersikap tegas dan cepat
menyelesaikan kasus union busting, baik yang dilakukan PT AST Indonesia
maupun PT Kencana Sehati di Semarang. Saya harap pemerintah
mengoptimalisasi kinerja pegawai pengawasan untuk mencegah dan
menghentikan pemberangusan serikat buruh, ujarnya.
Para buruh juga meminta Kapolrestabes Semarang menindaklanjuti laporan
dugaan pemberangusan serikat buruh terhadap anggota dan pengurus Federasi
Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT AST Indonesia. Aksi yang berlangsung
pukul 09.0011.00 itu diterima langsung Kepala Disnakertrans Kota Semarang
Gunawan Saptogiri. Dalam pertemuan tersebut, Gunawan mengaku sudah
memproses kasus dugaan union busting oleh PT AST Indonesia. Hanya, pihaknya
membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.
Kami minta dukungan semua pihak, termasuk para buruh untuk menyediakan
alat bukti, ujarnya. Disnakertrans masih membutuhkan bukti lengkap untuk
memutuskan kasus tersebut, seperti surat pernyataan,dokumentasi demo
buruh,dan sebagainya. Kalau memang PT AST Indonesia itu terbukti melakukan
tindakan union busting,perusahaan tersebut bisa terkena tindak pidana sesuai
dengan Undang-Undang No 21/2000 tentang Serikat Buruh. amin fauzi

KRONOLOGI KASUS PEMBERANGUSAN (AKTIVIS) SERIKAT PEKERJA KOMPAS


13 September 2006
Kesepakatan
tentang
penyelesaian
saham
karyawan
Kompas
tercapai,ditandatangani wakil serikat kerja bernama Perkumpulan Karyawan
Kompas danmanajemen PT Kompas Media Nusantara. Pihak perkumpulan
ditandatanganiSyahnan Rangkuti selaku ketua umum dan perusahaan diwakili St
Sularto selakuwakil pemimpin umum. Kesepakatan itu sebenarnya merugikan
karyawan karenakaryawan kehilangan 20 persen saham atas PT Kompas Media
Nusantara yangdiwariskan oleh Pak Ojong sejak 1980, jauh sebelum ada
keputusan Menpen yangmewajibkan perusahaan pers memberikan saham
kepada karyawannya. Dalam kesepakatan itu karyawan hanya mendapatkan 20
jaminan alokasi 20 persendeviden PT KMN dan perubahan itu harus melalui
persetujuan karyawan.
Perundingan ini cukup menyakitkan karena pengurus sempat memberikan
kuasahukum kepada Tim Advokasi Karyawan Kompas yang akan memperkarakan
soal inisecara perdata atau pidana. Menjelang kesepakatan itu memang
munculkekhawatiran bahwa setelah kesepakatan ditandatangani, pengurus
serikat akanada balas dendam terhadap pengurus, terutama berikatan
persyaratan bahwaperundingan dilakukan tanpa melibatkan Pemimpin Redaksi
Suryopratomo.Kekhawatiran itu ternyata terjadi.
15 November 2006
Rapat redaksi Rabu mengumumkan mutai,rotasi, pengalihan tugas di
lingkunganredaksi. Di situ nama saya sebagai sekretaris Perkumpulan Karyawan
Kompasdiurutkan di bawah Syahnan Rangkuti sebagai ketua Perkumpulan
KaryawanKompas. Dua-duanya dibuang. Satu pengurus lain dipromosikan
menjadi wakilkepala biro. Satu lainnya hanya pindak tugas liputan.
Tindakanindiskriminatif ini tampaknya sengaja dilakukan untuk memecah
belahpengurus. Dari sederet nama yang dimutasi, tampak secara substansial
bahwasekretaris dan ketua serikat pekerja dibuang.
Rupa-rupanya
(belakangan
baru
diketahui)
hari
itu
juga
manajemenmengeluarkan surat keputusan pembuangan saya ke Ambon. Surat
Keputusanbernomor 269/Penpen/SK/XI/2006 yang ditandantangani Wakil
Pemimpin UmumHarian Kompas St Sularto itu menyebutkan terhitung mulai 1
Desember 2006saya dipindahkan mulai 1 Desember 2006, padahal
kepengurusan saya sebagaisekretaris serikat pekerja baru berakhir pada 28
Februari 2007.
18 November 2006

Saya mengirimkan surat protes ke Bapak Jakob Oetama selaku Pemimpin


UmumKompas tentang pembuangan saya ke Ambon yang mengandung
pelanggaran terhadapUU Serikat Pekerja/Buruh NO 21/2000 yang menyatakan
bahwa karenaaktivitasnya atau pengurus serikat pekerja dengan ancaman
pidana denda 100juta sampai 500 juta atau hukuman penjara maksimal lima
tahun penjara. Dalamkaitan itu saya juga mengritik cara-cara mutasi yang
dilakukan manajemenkompas saat ini yang menutup peluang wartawan untuk
semakin pandai danberkembang menjadi seorang spesialis. 24 November 2006
Pak Jakob membalas surat saya secara pribadi. Surat itu ditulis dalam kertasdan
amplop warna kuning dan diantar melalui kurir ke rumah saya. Dalam suratitu
Pak Jakob tampak menghindar dari persoalan. Ia hanya mengatakan bahwatelah
menerima dan membaca surat itu namun ia tidak terlibat lagi dalamurusan
manajemen Kompas. Saya disarankan membawa persoalan ini kepada StSularto
(Wakil Pemimipin Umum) atau Suryopratomo (Wakil Pemimpin Umum).Padahal
Pak Jakob masih menjabat sebagai Pemimpin Umum Kompas.
27 November 2006
Saya dipanggil oleh St Sularto yang didampingi GM-SDM Umum
BambangSukartiono dan staf legal SDM Umum Frans Lakaseru. Mas Larto
menyatakantelah mendapat tembusan dari Pak Jakob untuk menyelesaikan
kasus saya. Tidakada yang baru dalam pertemuan itu, ia mengatakan bahwa
mutasi saya ke Ambonmerupakan pemindahan tugas biasa. Saya menyatakan
tidak bisa dilihat begitu,karena wartawan Kompas dengan segera melihat
pemindahan saya ke Ambonsebagai wartawan biasa merupakan bentuk
pembuangan. Saya menyatakanpenolakan dan minta surat keputusan
pembuangan saya dicabut. Dalam pertemuanitu Bambang Sukartiono menyebut
penugasan saya ke Ambon dalam rangka"rehabilitasi". Ia juga menyebut tidak
bisa menghapus keputusan yang dibuatbegitu saja demi "menyelamatkan
muka".
28 November 2006
Saya dipanggil oleh SDM-Umum dalam acara penerimaan SK Mutasi. Saya
sebagaisekretaris dan Sdr Syahnan Rangkuti sebagai ketua, yang sama-sama
dibuang keluar kota jauh dari Jakarta, disertakan dengan mereka yang
dipromosikan. Disitu kami hanya mendengar penjelasan teknis hak-hak yang
menyertaikepindahan. Dalam kesempatan itu saya menanyakan kepada
Bambang Sukartionoalasan pembuangan saya ke Ambon namun tidak mendapat
penjelasan yang jelas.Pertanyaan itu saya ulang, juga tidak dijawab jelas. Saya
juga menanyakanapa salah saya sehingga saya harus direhabilitasi. Dan kalau
SK itu tidakbisa dicabut demi menyelamatkan muka, muka siapa sebenarnya
yang maudiselamatkan.
Setelah pertemuan itu, saya berbicara empat mata dengan Sdr.
BambangSukartiono. Saya menawarkan jalan ketiga. Pembuangan saya ke
Ambondibatalkan. Akan tetapi untuk mendinginkan situasi saya menyediakan
diriuntuk dimutasi ke wilayah Jawa Barat selatan selama tiga bulan dalam

kaitanpenguatan
profesionalisme
saya
sebagai
jurnalis.
Saya
ingin
mengembangkan kemampuan saya dalam depth reporting, setelah itu
dikembalikan ke Jakartauntuk mengembangkan bidang yang sama dengan
pilihan desk humaniora, politik,atau investigasi. Saya meminta batas waktu
sehari untuk menjawab. Karena diminta memberikan surat tertulis, malam itu
juga saya memberikan surat tertulis.

29 November 2006
Rabu sore saya menanyakan kepada Bambang Sukartiono tentang tawaran saya.
Ia menjawab secara prinsip bisa diterima, teknis mau diputuskan kemudian. Saya
menanyakan yang diterima apa, apakah termasuk batas waktu penugasan tiga
bulan. Ia jawab itu tidak dibicarakan karena tidak tercantum dalam surat saya.
Saya cek memang tidak tercantum dalam surat tetapi secara lisan telahsaya
sampaikan. Karena itu saya membuat surat susulan tertanggal 29November. Di
situ saya tegaskan jangka waktu tiga bulan dan minta akar surat pembuangan
saya ke Ambon ditinjau kembali.
Permintaan saya sederhana saja, surat keputusan yang pemindahan saya
keAmbon yang mengarah pada pelanggaran UU Serikat Pekerja/Buruh dicabut
atau direvisi. Saya memberikan batas waktu keptusan definitive koreksi
ataspemindahan saya selambat-lambatnya Rabu (6/12).
6 Desember 2006
Saya kedatangan aktivis dari berbagai kelompok sejak pukul 16.00
untukmenanyakan keputusan final menyangkut pembuangan saya ke Ambon.
Sekitar 40 aktivis mahasiswa, pers mahasiswa, NGO, guru, dosen, dan aktivis
bantuanhukum datang. Untuk menunggu batas waktu yang telah saya
sampaikan sebelumya kepada manajemen, kami mengadakan diskusi informal
tentang pendidikan.Menjelang pukul 18.00 saya mengelepon General Manajer
SDM Umum Bambang Sukartiono tentang tuntutan saya untuk membatalkan
atau merevisi SuratKeputusan tentang pembuangan saya. Akan tetapi pihak
manajemen tidak bisa memberikan jawaban definitif dengan alasan belum
menerima putusan dari redaksi.
Penundaan untuk kedua kali keputusan itu saya artikan sebagai
penolakanmanajemen untuk merevisi SK yang mengandung unsur pelanggaran
terhadap UU Serikat Buruh/Pekerja. Oleh karena itu dihadapan para aktivis yang
hadir saya menyatakan sejak malam itu akan melakukan perlawanan sampai SK
tersebutdicabut atau direvisi. Saya membagikan tembusan surat yang pernah
sayasampaikan kepada Pak Jakob, karena pada surat ke Pak Jakob sudah saya
cantumkan bahwa surat itu saya tembuskan ke karyawan dan pihak-pihak
terkait. Saya juga menempelkan surat itu di beberapa tempat di lantai tigadan

lantai empat. Selama ini tidak ada masalah penempelan pengumumuan


ditempat-tempat tersebut, baik yang dilakukan oleh Perkumpulan Karyawan
Kompas ataupun inisiator penyelenggara futsal yang diselenggarakan pada saat
genting perundingan saham antara manajemen dengan pengurus. Inisiator
penyelenggara futsal itu kini telah dipromosikan menjadi salah satu kepala biro
di daerah.

7 Desember 2006
Pagi-pagi saya memperoleh informasi tembusan surat itu telah dicopoti oleh
satpam. Siang hari saya membagikan media yang saya tulis sendiri tentang
berita pemberangusan aktivis serikat pekerja di Kompas dan tembusan
suratuntuk Pak Jakob ke karyawan di lantai tiga, empat, dan lima. Ini adalah
haksaya sebagai aktivis serikat pekerja untuk memberikan informasi mengenai
apayang terjadi dalam serikat pekerja kepada anggotanya. Ini juga hak
setiaporang untuk membuat dan menyebarluaskan informasi sebagaimana juga
praktek yang lazim dilakukan seorang wartawan.
Sore hari sekitar pukul 18.00 saya dipanggil oleh Pemimpin Redaksi Kompas
Suryopratomo yang berdiri di depan televisi di dekat meja sekretariat redaksi.
"Wis, sini Wis," katanya. Saya datang berdiri, percakapan terjadi dalam jarak dua
meter. Di situ langsung saya ditegur mengapa saya mengadakan pertemuan
tanpa izin sekretariat redaksi. Saya mengatakan bahwa saya menerima tamu,
mereka datang ingin tahu perkembangan akhir rencana pembuangan saya ke
Ambon. Dalam perdebatan tersebut Sdr. Suryopratomo mengatakan, "Memang
itu ruangan mbahmu". Saya jawab dengan kalimat serupa,"Siapa bilang itu
ruangan mbahmu". Sebagai seorang karyawan biasa dan sebagai seorang
sekretaris serikat pekerja sepantasnya bila saya diajak omong baik-baik di dalam
ruangan. Kalau kalimat terakhir yang saya ucapkan dianggap tidak hormat pada
atasan, itu juga merupakan bahasa yang dipergunakan seorang pemimpin koran
terbesar, koran intelektual, dalam berkomunikasi dengan karyawannya.
8 Desember 2006
Pagi-pagi saya menerima desas-desus bahwa saya telah dipecat dari Kompas
mulai hari itu. Saya semula tidak percaya, tetapi sore hari saya menerimakabar
itu langsung dari atasan saya., Wakil Editor Kennedy Nurhan. Saya kemudian
membagikan sisa fotokopi tulisan yang masih ada di tangan saya.Pada saat jam
pulang, sekitar jam 16.00 WIB, saya turun ke lantai dasar, didepan lift saya
membagikan fotokopi tulisan tersebut. Menurut saya, ini hak orang-orang di

lingkungan Kompas dan Gramedia untuk tahu. Peristiwa itu berlangsung


menyenangkan. Orang menerima dengan tertawa-tawa sambil kami berfoto-foto.
Selebaran itu juga diterima oleh Wakil Redaktur Pelaksana Kompas Taufik Miharja
yang kebetulan lewat. Reaksi spontannya biasa-biasa saja.
Kami bahkan sempat berfoto bersama satpam yang berjaga di situ.
Kemudianseorang satpam perempuan meminta berita yang saya sebarkan. Tidak
lama kemudian datang Wakil Ketua Satpam, Kiraman Sinambela, langsung
"memiting" bahu saya sebelah kanan dan bilang "Ikut ke pos satpam". Saya
menolak karena tidak ada urusan dengan satpam. Urusan saya dengan mereka
yang mengeluarkan keputusan yang tidak adil itu. Namun saya dipaksa,
kemudian saya digotong-gotong. Tangan dan kaki saya dipegang satu-satu,
mungkin oleh empat orang satpam. Sepanjang perjalanan ke pos satpam saya
berteriak-teriak,"Tolong-tolong, tolong saya dianiaya. Tetapi tidak satu pun orang
menolong saya meski menyaksikan peristiwa itu. Saya kemudian disekap di pos
satpam. Saya dengar di luar, seorang pos satpam mengatakan agar tidak
seorang pun boleh mendekati ruang penyekapan itu. Saya di ruangan sendirian,
di situ saya dihadapi tiga orang satpam.

Khawatir akan terjadi penganiayaan terhadap diri saya, saya segera


menghubungi beberapa kawan di Kompas, termasuk GM SDM Kompas Bambang
Sukartiono. Saya juga menghubungi rekan-rekan saya diluar melalui
handphone.Saat disekap itu saya diwawancara langsung oleh wartawan radio
68H. Cukup lama saya sendirian dan terteror. Setelah cukup lama masuk ke
ruang penyekapan, Bambang Sukartiono dan Redaktur Pelaksana Kompas Trias
Kuncahyono. Saya sempat mempertanyakan kepada Bambang Sukartino,
beginikah cara Kompas memperlakukan karyawannya seolah-olah sebagai
seorang kriminal.Kalaupun saya salah, bukankah saya bisa ditegur baik-baik dan
diajak berbicara di ruang pimpinan Kompas?
Setelah itu saya diinterogasi. Saya tidak tahu apakah satpam memiliki
hakinterogasi. Namun karena saya tidak didampingi oleh pengacara saya
diam.Ketika satpam menanyakan nama lengkap saya, saya jawab silahkan tanya
kepada Bambang Sukartiono atau Trias Kuncahyono. Ketika ditanya, apakah saya
tidak bersedia menjawab? Saya menyatakan tidak bersedia. Tak lama kemudian
saya ditanya lagi, saya menjawab dengan nada keras, "Apakah pendengaran
Anda kurang jelas sehingga ada bertanya lagi meski saya telah mengatakan
saya tidak mau menjawab. Trias Kuncahyono sebenarnya mencoba meminta
agar saya boleh meninggalkan ruangan. Akan tetapi penyekapan tetap berlanjut.
Satpam mengatakan, apakah akan begini terus sampai berhari-hari atau
bertahun-tahun. Saya jawab saya tetap tidak akan menjawab sampai kapanpun.
Di depan kamera yang dipasang satpam saya sempat mengatakan, "Pak
Jakob,beginikah cara Kompas memperlakukan karyawannya?"

Seperti layaknya seorang kriminal, ketika saya minta izin ke kamar mandi,saya
dikawal oleh dua orang satpam. Saya mulai tidak enak badan, perut mulas, lelah
secara psikologis. Saya minta izin mengambil jaket di ruangredaksi, tidak
diperbolehkan. AC dimatikan, sehingga ruang kemudian menjadipengap. Saat
itulah saya dikunjungi tiga pengurus Perkumpulan Karyawan Kompas Rien
Kuntari dan Luhur serta seorang mantan pengurus Tyas. Saya baru dilepaskan
setelah Bambang Sukartiono datang kembali. Penyekapan itu berlangsung
selama sekitar dua jam. Saya kemudian dibawa ke lantai tiga,sejumlah satpam
mengawal kami.
Setelah cukup lama menunggu, kami diundang masuk ke ruangan Pemimpin
Redaksi Suryopratomo. Di dalam ruangan itu saya didampingi Rien Kuntari dan
Luhur.Dari pihak manajemen ada Trias Kuncahyono, Didik, Bambang Sukartiono,
dan Retno Bintarti. Di situ saya disuruh menerima surat pemberitahuan bahwa
saya dikeluarkan oleh redaksi. Dalam surat itu setelah saya baca kemudian
antara lain berbunyi "Perusahaan dengan ini memutuskan tidak ada kepercayaan
lagikepada Saudara dan tidak dapat memperpanjang hubungan kerja dengan
Saudara terhitung mulai tanggal 9 Desember 2006. Di situ juga dicantumkan
larangan saya untuk masuk bekerja di seluruh lingkungan perusahaan. Anehnya
surat itu ditandatangi bukan oleh GM-SDM atau Pemimpin/Wakil Pemimpin
Umum tetapi oleh Pemimpin Redaksi Suryopratomo. Tidak ada permintaan maaf
sepotong katapun dari pimpinan Kompas yang hadir di ruangan itu atas
kekerasan yang saya alami.

Saya sempat menyampaikan salam perpisahan kepada teman-teman di lantai


tiga yang dekat dengan tempat duduk saya. Saya sempat menempelkan
peringatan di meja saya, agar barang-barang pribadi saya jangan diganggu
tanpa sepengetahuan saya karena bisa berdampak perdata atau pidana. Saya
masih menyimpan buku-buku, surat-surat, dan uang di meja saya.
Saya turun ke bawah bersama isteri saya dan sejumlah wartawan Kompas yang
masih berani menunjukkan simpati atas kewenang-wenangan terhadap saya. Di
lobi lantai dasar ternyata telah berkumpul puluhan aktivis dan sejumlah
wartawan. Di situ saya mengumumkan apa yang baru saja terjadi dan
pemecatan terhadap diri saya.

STOP UNION BUSTING !


PEKERJAKAN KEMBALI 4 ORANG PEKERJA RUMAH SAKIT HUSADA UTAMA,
SURABAYA !

Sekali lagi terjadi kasus Union Busting atau Pemberangusan terhadap Serikat
Pekerja / Buruh. Di mana 4 orang karyawan/pekerja Rumah Sakit Husada Utama,
yang beralamat di Jalan Prof. Dr. Moestopo No. 31 - 35 Surabaya, di PHK secara
sepihak oleh manajemen perusahaan karena menjadi pengurus Federasi Serikat
Buruh Kerakyatan-Konfederasi Serikat Nasional (FSBK-KSN) basis RS Husada
Utama. Empat orang pekerja tersebut adalah saudara Endah Nurhayati, ST.
(Ketua), Rizal Aditya Ferdianto (Wakil Ketua), Pramana Endradmaja (Sekretaris)
dan Laely Lusiana Eva, SE (Bendahara).
Kronologis terjadinya kasus ini sendiri awalnya saat para pekerja/karyawan
Rumah Sakit Husada Utama mendirikan Serikat Buruh Kerakyatan Basis PT. Cipta
Karya Husada Utama untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka. Tindakan
ini kemudian justru berujung dengan di berikannya sanksi SP 1 dan Demosi
(Penurunan Jabatan) dari bagian Admission ke bagian House kepping (Cleaning
Service) dan berlanjut pemberian SP 2. Ironisnya ternyata pemberian sanksi
tersebut berdasarkan Peraturan Perusahaan PT. Cipta Karya Husada Utama yang
sudah usang masa berlakunya yaitu 2009-2011, sehingga pemberian sanksi
tersebut tidak mempunyai dasar hukum yang jelas.

Oleh karena itulah, sanksi tersebut dengan tegas di tolak oleh ke empat
pengurus FSBK-KSN Basis PT. Cipta Karya Husada Utama di Rumah Sakit Husada
Utama tersebut. Penolakan pemberian sanksi tersebut kemudian di respon
manajemen dengan melarang 4 orang itu memasuki area Rumah Sakit Husada
Utama. Permasalahan ini kemudian di laporkan oleh Mahfud Zakaria selaku
Sekjend FSBK-KSN kepada Disnaker Kota Surabaya untuk di tindak secara tegas
terkait tindakan kejahatan yaitu menghalang-halangi pekerja untuk menjadi
pengurus serikat buruh (pasal 28 jo pasal 43 Undang-Undang No.21 tahun 2000
tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.
Hasil dari sidang mediasi di kantor Disnaker Kota Surabaya, Sdr. Reza selaku
perwakilan dari perusahaan PT. Cipta Karya Husada Utama menyatakan bahwa
sanksi SP 1 dan SP 2 telah di cabut karena mereka mengakui bahwa saat
pemberian sanksi tersebut telah terjadi kekosongan hukum yaitu sudah habisnya
masa berlaku Peraturan Perusahaan.
Namun, pihak manajemen Rumah Sakit Husada Utama ternyata ingkar terhadap
hasil mediasi dan tetap memberikan sanksi Demosi terhadap 4 orang pengurus
serikat tersebut. Kejahatan anti serikat manajemen Rumah Sakit Husada Utama
ini ternyata tidak hanya berhenti melakukan Demosi, namun parahnya mulai 16
Oktober 2012 4 pekerja tersebut kemudian mendapatkan sanksi Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak dari manajemen perusahaan.

Bahwa perlu di ketahui juga, pelanggaran yang di lakukan oleh pihak manajemen
RS. Husada Utama tidak hanya menghalang-halangi pekerjanya untuk menjadi
pengurus serikat buruh dengan memberikan sanksi PHK, namun juga
menghalangi-halangi pekerja lainnya yang ingin bergabung menjadi anggota
serikat. Bahwa hingga sekarang, ratusan pekerja PT. Cipta Karya Husada Utama
di Rumah Sakit Husada Utama masih berstatus kerja kontrak (PKWT) meskipun
sudah bekerja lebih dari 4 (empat) tahun dan di upah di bawah Upah Minimum
Kota (UMK) Surabaya serta tidak di daftarkan kepesertaannya pada program
Jamsostek.
Dari penjelasan kami di atas, maka itulah kami dari Federasi Serikat Buruh
Kerakyatan-Konfederasi Serikat Nasional (FSBK-KSN) dengan ini menyatakan
sikap:
1. Mengecam keras tindakan Union Busting yang di lakukan Manajemen Rumah
Sakit Husada Utama Surabaya karena tindakan tersebut terang telah melanggar
Undang-undang dan merupakan bentuk tindakan pidana.
2. Pekerjakan kembali 4 pengurus FSBK-KSN Basis Rumah Sakit Husada Utama
yang di PHK secara sepihak dan tempatkan mereka di jabatan semula yaitu
Admission.