Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jumlah penduduk di dunia selalu mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk
dunia mulai meningkat sejak revolusi hijau dan semakin cepat sejak revolusi industri.
Pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat pesat sejak kemerdekaan. Pertumbuhan
enduduk yang cepat berakibat pada penyediaan kebutuhan hidup, dan seringkali
mengakibatkan dampak sosial ekonomi yang tidak diinginkan (Mahanal dkk, 1995). Dari
hasil sensus penduduk tahun 1990 jumlah penduduk Indonesia adalah 179,4 juta. Dibanding
dengan jumlah sensus tahun 1980 maka akan terlihat peningkatan penduduk Indonesia ratarata 1,98% pertahun. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia pada
tahun 1995 sebanyak 195,3 juta jiwa (Sanusi, 2003).
Hubungan antara masalah-masalah kependudukan dan lingkungan hidup sangat
kompleks dan sangat majemuk sifatnya, karena di dalamnya tercakup banyak sekali faktorfaktor, misalnya saja dampak teknologinya, pola konsumsinya, dan faktor-faktor sosial,
ekonomi, serta politiknya. Kepadatan penduduk yang tinggi akan memberikan tekanan pada
daya dukung alam lingkungannya. Manakala tekanan tersebut melampaui batas kemampuan
daya dukung alam lingkungan maka akan merusak lingkungan hidupnya.
Sebaliknya, suatu lingkungan hidup yang terpelihara kelestariannya akan sangat
menunjang bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang terus
bertambah, sementara lahan untuk pertanian dan pemukiman sangat terbatas, memungkinkan
timbulnya lapar tanah. Lapar tanah untuk pertanian sangat terasa di Jawa yang jumlah
penduduknya hanya 60% dari seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan sawah-sawah kelas
satu di pinggiran kota dan di sepanjang jalan ekonomi menciut akibat perluasan daerah
pemukiman serta kegiatan industri.
B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dinamika populasi penduduk
2. Mengetahui faktor penentu dinamika populasi kependudukan
3. Mengetahui kaitan dinamika penduduk dan masalah lingkungan
4. Mengetahui Pengertian densitas kependudukan
5. Mengetahui kriteria densitas kependudukan, hubungan densitas dan masalah
lingkungan
6. Mengetahui solusi densitas kependudukan
C. Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.
5.

Apakah pengertian dinamika populasi penduduk ?


Apakah faktor penentu dinamika populasi kependudukan ?
Bagaimana kaitan dinamika penduduk dan masalah lingkungan ?
Apakah pengertian densitas kependudukan ?
Bagaimana kriteria densitas kependudukan, hubungan densitas dan masalah

lingkungan ?
6. Bagaimana solusi densitas kependudukan ?

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Dinamika Populasi Penduduk.
Dinamika populasi adalah penduduk yang selalu mengalami perubahan jumlah dari
waktu ke waktu. Jumlah penduduk di suatu wilayah bersifat dinamis, maksudnya senantiasa
berubah, adakalanya menurun dan adakalanya menaik. Di Indonesia, jumlah penduduknya
terus meningkat. Dinamika populasi dapat juga disebabkan oleh imigrasi dan emigrasi. Hal
ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnya hewan dan manusia (Kurnia, R.
2006).
Menurut McNaughton & Larry (1990) Populasi meruapakan kumpulan dari kelompok
organisme terdiri dari spesies dalam suatu daerah, suatu populasi terdiri dari unit- unit yang

membangun populasi. Dinamika adalah suatu kumpulan dari dua atau lebih individu dimana
perubahan individu satu dapat mempengaruhi individu lain. Sedangkan populasi adalah
kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu. Jadi dapat
disimpulkan bahwa Dinamika Populasi adalah perubahan populasi dari waktu ke waktu.
Dinamika kependudukan adalah perubahan kependudukan untuk suatu daerah tertentu
dari waktu ke waktu. pertumbuhan penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran,
kematian dan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar maupun ke luar.
Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah
dari waktu ke waktu (Siregar, Sitepu & Ariswoyo. 2013).
B. Faktor Penentu Dinamika Populasi Kependudukan
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan
maupun penurunannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk yaitu
kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk(migrasi).Kelahiran
dan kematian dinamakan faktor alami.
Perpindahan penduduk merupakan faktor non alami.Migrasi ada dua yaitu migrasi yang dapat
menambah jumlah penduduk disebut migrasi masuk (imigrasi), dan yang dapat mengurangi
penduduk disebut migrasi keluar (emigrasi).
Menurut McNaughton & Larry (1990) faktor-faktor yang memepengaruhi dinamika
populasi kependudukan adalah sebagai berikut :
a. Angka Kelahiran (Natalitas)
Pengukuran tingkat kelahiran ini sulit untuk dilakukan, karena banyak bayi-bayi yang
yang meninggal beberap saat kelahiran tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau
kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir mati. Tinggi rendahnya tingkat kelahiran dalam
suatu kelompok penduduk tergantung pada struktur umur, penggunaan alat kontrasepsi,
pengangguran, tingkat pendidikan, status pekerjaan wanita serta pembangunan ekonomi.
Penunjang Kelahiran (Pro Natalitas) antara lain :
- Kawin usia muda
- Pandangan banyak anak banyak rezeki
- Anak menjadi harapan bagi orang tua sebagai pencari nafkah
- Anak merupakan penentu status social
- Anak merupakan penerus keturunan terutama anak laki-laki.
Penghambat Kelahiran (Anti Natalitas) antara lain :
- Pelaksanan Program Keluarga Berencana (KB)

- Penundaan usia perkawinan dengan alasan menyelesaikan pendidikan


- Semakin banyak wanita karir.
b. Kematian (Mortalitas)
Ada beberapa tingkat kematian, yaitu tingkat kematian kasar(crude death rate) dan
tingkat kematian khusus(age specific death rate). Tingkat kematian kasar (crude death rate)
adalah banyaknya orang yang meninggal pada suatu tahun per jumlah penduduk pertengahan
tahun tersebut. Tingkat kematian khusus (age specific death rate) dipengaruhi oleh beberapa
factor, antara lain umur, jenis kelamin, pekerjaan.
Penunjang Kematian (Pro Mortalitas) antara lain :
- Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan
- Fasilitas kesehatan yang belum memadai
- Keadaan gizi penduduk yang rendah
- Terjadinya bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir
- Peparangan, wabah penyakit, pembunuhan
Penghambat Kematian (Anti Mortalitas) antara lain :
- Meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya kesehatan
- Fasilitas kesehatan yang memadai
- Meningkatnya keadaan gizi penduduk
- Memperbanyak tenaga medis seperti dokter, dan bidan

c. Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan kegiatan akibat dari keadaan lingkungan alam yang kurang
menguntungkan. Sebagai akibat dari keadaan alam yang kurang menguntungkan tersebut
menimbulkan terbatasnya sumber daya yang mendukung penduduk di daerah tersebut. Yang
perlu diperhatikan seorang migran dalam menentukan keputusan untuk pindah ke daerah lain
yaitu factor persediaan sumber daya alam, factor lingkungan social budaya, factor potensi
ekonomi. Dengan mengetahui factor-faktor dimuka, setidaknya terhindar dari akibat
negative. Untuk mengetahui pertumbuhan penduduk suatu daerah cepat atau lambat dilihat
dari bentuk piramida penduduk. Karena dengan melihat bentuk piramida penduduk akan
diketahui mengenai perbandingan jumlah penduduk anank-anak, dewasa, dan orang tua pada
wilayah yang bersangkutan. Keadaan struktur penduduk yang berbeda-beda akan
menunjukkan bentuk pyramida yang berbeda pula. Struktur penduduk ada tiga jenis, yaitu

sebagai berikur, piramida penduduk muda, dan piramida stasioner, serta piramida penduduk
tua.
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah
perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang
bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun internasional, dan
ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas penduduk permanen disebut
migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dan dengan
melewati batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap atau tidak
berpindah. Penduduk pindah (urbanisasi, transmigrasi, dan emigrasi). Penduduk pindah
terdiri dari perpindahan dari desa ke kota (urbanisasi), perpindahan penduduk dari yang padat
ke daerah/pulau yang kurang padat didalam suatu negara (transmigrasi), dan perpindahan
penduduk dari dalam negeri ke luar negeri (emigrasi). Penduduk pindah umumnya disebut
emigran.
C. Kaitan Dinamika Penduduk Dan Masalah Lingkungan

Fisis determinisme
Manusia bergantung dengan lingkungan dan lingkungan merupakan pengatur

kehidupan manusia.
Human determinisme
Manusia memanfaatkan alam dengan sebesar-besarnya. Jika hal ini dibiarkan maka
akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Dinamika penduduk yang terjadi maka
akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Seperti halnya pertumbuhan penduduk
dengan kebutuhan yang semakin kompleks mendorong eksploitasi alam yang berlebih

sehingga menyebabkan lingkungan rusak.


Human-nature determinisme
Manusia dan lingkungan saling mempengaruhi dan adanya timbal balik antar keduanya.
Pada

prinsipnya

manusia

memanfaatkan

lingkungan

dengan

tetap

menjaga

lingkungannya. Contoh : kearifan lokal suatu wilayah


D. DENSITAS KEPENDUDUKAN
Kepadatanpen duduk/density adalah jumlah rata-rata penduduk yang mendiami suatu
wilayah administrative atau politis tertentu, biasanya dinyatakan dalam jiwa/Km2 (Hasnida,
2002). Ada beberapa kategori kepadatan penduduk :
1. Kepadatan penduduk aritmatik
Kepadatan penduduk aritmatik adalah perbandingan antara jumlah penduduk
dengan selururh luas wilayah. Oleh karena itu kepadatan penduduk ini dikatakan

sangat kasar, baik tempat yang dapat dihuni maupun tidak dapat dapat dihuni
disamakan/ dihitung. Kepadatan penduduk ini diperoleh dengan rumus.
KPAr = jumlah penduduk (jiwa)
Luaswilayah (km2)
2. Kepadatan pendudu kagraris
Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara jumlah penduduk
yang mempunyai aktivitas penduduk di sector pertanian dengan luas lahan yang dapat
diolah untuk pertanian. Kepadatan penduduk jenis ini biasanya diperuntukkan dalam
kepentingan teknis yaitu untuk mengetahui rata-rata tanah yang dimiliki petani. Contoh
pemanfaatan penghitungan kepadatan ini untuk mengetahui kesejahteraan petani.
Kepadatan penduduk ini diperoleh dengan rumus :
KPAg = jumlah penduduk di sector pertanian (jiwa)
Luas lahan pertanian yang dapat diolah (km2)
3. Kepadatan penduduk fisiologis
Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah penduduk
dan luas lahan pertanian. Kepadatan jenis ini biasanya untuk mengukur kemampuan
produksi pertanian dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kepadatan
penduduk ini diperoleh dengan rumus :
KPF = jumlah penduduk (jiwa)

Luas lahan pertanian yang dapat diolah (km2)


4. Kepadatan penduduk ekonomi
Kepadatan penduduk ekonomi adalah perbandingan antara jumlah produksi dan luas
lahan menurut kapasitas produksinya. Mengingat sulitnya menentukan kapasitas
produksi suatu wilayah, maka perhitungan penduduk ekonomi jarang dipergunakan
E. KRITERIA DENSITAS PENDUDUK
Menurut Undang-undang Nomor:56/PRP/1960 membag iempat klasifikasi kepadatan
penduduk, yaitu:
1. Tidak padat, dengan tingkat kepadatan 1 50 jiwa/ km2
2. Kurang padat dengan tingkat kepadatan antara 51 250 jiwa/ km2
3. Cukup padat dengan tingkat kepadatan 251 400 jiwa/ km2
4. Sangat padat dengan tingkat kepadatan lebih besar dari 401 jiwa/km2
F. HUBUNGAN DENSITAS DENGAN MASALAH LINGKUNGAN
Kepadatan penduduk yang tinggi akan memberikan tekanan pada daya dukung alam
lingkungannya. Manakala tekanan tersebut melampaui batas kemampuan daya dukung alam
lingkungan maka akan merusak lingkungan hidupnya (Burnie, 2005). Berikut adalah

beberapa dampak akibat kepadatan penduduk yang tidak seimbang dengan kelestarian
lingkungan :
1. Ketersediaan Air Bersih
Air merupakan salah satu bahan pokok yang mutlak dibutuhkan oleh manusia
sepanjang masa. Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan peningkatan
kebutuhan air. Pada umumnya, kebutuhan air diperkotaan dipenuhi oleh PAM
(Perusahaan Air Minum) yang mengalirkan air sampai ke rumah-rumah penduduk.
Akan tetapi, makin padatnya penduduk menyebabkan daerah peresapan air hujan
makin berkurang. Jika proses kehilangan air dibiarkan berlangsung terus, pada suatu
saat akhirnya kandungan air tanah sedemikian rendahnya sehhingga energi
potensialnya sangat tinggi dan mengakibatkan tanaman tidak mampu menggunakan
air tanah tersebut (Islami dkk, 1995). Sedangkan tanaman diperlukan dalam hal
ketersediaan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.
Meskipun 2/3 dari luasan bumi berupa air, namun tidak semua jenis air dapat
digunakan secara langsung. Oleh karena itu persediaan air bersih yang terbatas dapat
menimbulkan masalah yang cukup serius. Air bersih dibutuhkan oleh berbagai macam
industri, untuk memenuhi kebutuhan penduduk, irigasi, ternak, dan sebagainya.
Jumlah penduduk yang meningkat juga berarti juga meningkatkan produksi dalam
industri sehingga akan semakin banyak sampah atau limbah yang dihasilkan.
Pembuatan sumur artesis untuk keperluan industri dan kompleks perumahan
mengakibatkan sumur-sumur tradisional mengering. Selain itu, kawasan pemukiman
padat penduduk sering hanya menyediakan sedikit kawasan terbuka sebagai daerah
serapan air hujan. Kawasan yang tertutup rapat oleh aspal dan beton membuat air
tidak dapat meresap ke lapisan tanah, sehingga pada waktu hujan air hanya mengalir
begitu saja melalui permukaan tanah. Akibatnya cadangan air di dalam tanah semakin
lama semakin berkurang sehingga pada musim kemarau sering kekurangan air bersih.
2. Ketersediaan Lahan
Kepadatan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan lahan, baik lahan
untuk tempat tinggal, sarana penunjang kehidupan, industri, tempat pertanian, dan
sebagainya. Untuk mengatasi

kekurangan lahan, sering

dilakukan

dengan

memanfaatkan lahan pertanian produktif untuk perumahan dan pembangunan sarana


dan prasarana kehidupan. Selain itu pembukaan hutan juga sering dilakukan untuk
membangun areal industri, perkebunan, dan pertanian. Meskipun hal ini dapat
dianggap sebagai solusi, sesungguhnya kegiatan itu merusak lingkungan hidup yang

dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Jadi peluang terjadinya kerusakan


lingkungan akan meningkat seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk.
Pesatnya pertambahan penduduk mengakibatkan makin besar kepadatan
penduduk. Jumlah penduduk yang bertambah dengan luas lahan tetap menyebabkan
peningkatan kepadatan penduduk. Akibatnya, makin besar perbandingan antara
jumlah penduduk dan luas lahan. Pada akhirnya, lahan untuk perumahan makin sulit
didapat. Itulah sebabnya di kota-kota besar yang sangat padat penduduknya, kita lihat
banyak yang mendirikan bangunan tidak resmi, bahkan ada pula yang membuat
tempat tinggal sementara dari plastik atau dari karton di pinggir sungai atau di bawah
kolong jembatan.

3. Ketersediaan Udara Bersih


Di daerah padat penduduk seperti di perkotaan, jumlah kendaraan bermotor
meningkat. Gas sisa pembakaran kendaraan bermotor menyebabkan pencemaran
udara. Pencemaran udara banyak mengakibatkan gangguan kesehatan. Manusia dan
makhluk hidup memerlukan udara sehat, yaitu udara yang tidak mengandung unsur
pencemar, misalnya gas karbon monoksida dan karbon dioksida yang jumlahnya
melebihi normal. Gas yang diambil dari udara buruk pernapasan makhluk hidup
adalah oksigen. Gas tersebut merupakan hasil proses fotosintesis tumbuhan hijau.
Oleh karena itu, diperlukan pelestarian tumbuhan hijau melalui penghijauan dan
reboisasi untuk membersihkan udara.
Udara bersih merupakan kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup manusia.
Udara bersih banyak mengandung oksigen. Semakin banyak jumlah penduduk berarti
semakin banyak oksigen yang diperlukan. Bertambahnya pemukiman, alat
transportasi, dan kawasan industri yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak
bumi, bensin, solar, dan batu bara) mengakibatkan kadar CO 2 dan CO di udara
semakin tinggi. Berbagai kegiatan industri juga menghasilkan gas-gas pencemar
seperti oksida nitrogen (NOx) dan oksida belerang (SOx) di udara. Zat-zat sisa itu
dihasilkan akibat dari pembakaran yang tidak sempurna.
Jadi dapat dipahami bahwa semakin tinggi kepadatan penduduk, maka
kebutuhan oksigen semakin banyak. Oleh karena itu pemerintah kota di setiap
wilayah gencar mengkampanyekan penanaman pepohonan. Selain sebagai penyejuk
dan keindahan, pepohonan berfungsi sebagai hutan kota untuk menurunkan tingkat
pencemaran udara.
4. Pencemaran Lingkungan

Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk


yang tinggi. Hal itu menyebabkan kebutuhan akan barang,jasa, dan tempat tinggal
meningkat tajam dan menuntut tambahan sarana dan prasarana untuk melayani
keperluan masyarakat. Akan tetapi, alam memiliki daya dukung lingkungan yang
terbatas. Kebutuhan yang terus-menerus meningkat tersebut pada gilirannya akan
menyebabkan penggunaan sumber daya alam sulit dikontrol. Pengurasan sumber daya
alam yang tidak terkendali tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan
dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan
bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan
pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi
kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat transportasi,
diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan dengan benar,
aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan pencemaran
lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak
terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor,
serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Apabila
daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan kebutuhan penduduk selanjutnya
menjadi tidak terjamin.
G. SOLUSI DENSITAS KEPENDUDUKAN
Manusia tidak dapat bertahan hidup dalam ekolgikal tertutup dalam kurun waktu yang
lama, maka harus ada solusi lain yang dapat mengurangi kepadatan penduduk. Salah satu
program yang selama ini dijalankan pemerintah dalam hal mengatasi kepadatan penduduk
adalah dengan transmigrasi, padahal transmigrasi hanyalah memindahkan penduduk bukan
menekan angka pertumbuhan penduduk. Maka harus ada solusi lain yang dapat menekan
angka pertumbuhan penduduk sekaligus tetap melestarikan lingkungan. Solusi tersebut antara
lain :
1. Program Keluarga Bencana
Keluarga berencana merupakan suatu cara untuk menciptakan keluarga
bahagia sejahtera, tetapi juga merupakan cara untuk membantu negara dalam
mencapai tujuan nasionalnya. KB dapat mencegah ledakan penduduk, kemiskinan,
dan masalah-masalah lainnya (Mahanal, 1995). Melalui KB, jumlah anak dapat
direncanakan dan rentang kehamilan antar anak dapat diatur sehingga jumlah anak
dapat lebih di tekan dan dapat menurunkan angka kelahiran sekaligus menekan
ledakan penduduk.

Program KB merupakan program sosial dasar yang menangani lima aspek,


sebagaimana tercermin dalam Undang Undang No 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang meliputi: 1)
Mengatur kehamilan, 2) Menjaga kesehatan dan menurunkan angka kematian ibu,
bayi, dan anak, 3) Meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling,
dan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, 4) Meningkatkan
partisipasi dan kesertaan pria dalam praktik keluarga berencana, 5) Mempromosikan
penyusuan bayi sebagai upaya untuk menjarangkan jarak kehamilan. Ini artinya,
program KB tidak sekedar berupaya mengendalikan laju pertumbuhan penduduk,
tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas penduduk (Ramani, 2013).
2. Meningkatkan Masa Pendidikan dan Pendalaman Agama
Seseorang yang menempuh masa pendidikan lebih lama akan menunda
terlebih dahulu untuk berkeluarga. Sehingga angka kelahiran bayi dapat ditekan.
Dengan pendidikan maka seseorang akan memiliki pengetahuan lebih mengenai halhal yang perlu dipersiapkan dalam berkeluarga. Dengan pendidikan juga seseorang
akan lebih mengetahui dan memahami bahaya dari seks bebas seperti yang akhir-akhir
ini terjadi di lingkungan masyarakat. Pendalaman agama juga perlu dilakukan oleh
manusia sehingga mereka menyadari pentingnya menjaga keimanan agar tidak sampai
terjerumus dalam pergaulan bebas. Sehingga pernikahan dini lebih bisa ditekan dan
bisa menekan laju pertumbuhan penduduk.
3. Kepedulian Lingkungan
Kepedulian terhadap lingkungan akan dapat memperbaiki lingkungan yang
sebagian telah rusak akibat kepadatan penduduk. Kepedulian ini bisa dilakukan
dengan cara reboisasi, pembatasan lahan industri, pengelolaan sampah sehingga dapat
menurunkan angka pencemaran, dan lain sebagainya. Dengan reboisasi maka hutan
akan kembali hijau sehingga akan ada tanaman yang dapat menahan air hujan agar
tidak langsung mengalir ke sungai maupun lautan, hal ini akan dapat meningkatkan
air dalam tanah. Pembatasan lahan industri juga perlu dilakukan, hal ini dikarenakan
lahan industri yang didirikan oleh pemerintah saat ini semakin mempersempit lahan
pertanian padahal bahan pokok kebutuhan manusia dapat diperoleh dari lahan
pertanian. Semakin padatnya jumlah penduduk maka juga akan semakin banyak
sampah yang dihasilkan. Dengan teknik pengelolan sampah yang baik akan dapat
mengurangi pencemaran lingkungan sehingga kelestarian lingkungan hidup akan
dapat lebih terjaga.

BAB III KESIMPULAN


1. Dinamika populasi penduduk adalah Perubahan populasi manusia dari waktu ke
waktu.
2. Faktor penentu dinamika kependudukan adalah kematian, kelahiran, migrasi,
emigrasi, imigrasi.
3. Kaitan dinamika kependudukan

dengan

masalah

lingkunagn

adalah

Fisis

determinisme, human determinidme, human-nature determinisme.


4. Densitas penduduk adalah jumlah rata-rata penduduk yang mendiami suatu wilayah
administrative atau politis tertentu.
5. Terdapat empat kriteria penduduk yaitu tidak padat, kurang padat, cukup padat, sangat
padat.
6. Hubungan antara kepadatan penduduk dengan masalah lingkungan diantaranya adalah
ketersidaan air bersih, ketersediaan lahan, ketersediaan udara bersih, dan pencemaran
lingkungan.
7. Solusi kepadatan penduduk diantaranya adalah program KB, pemberian moral agama
dan rasa akan kepedulian lingkungan.

DAFTAR RUJUKAN
Burnie, David. 2005. Bengkel Ilmu Ekologi. Jakarta: Erlangga
Hasnida.

2002.

Crowding

(Kesesakan)

dan

Density

(Kepadatan).

(Online),

(http://www.library.usu.ac.id), diakses 17 Februari 2016


Islami, T. & Utomo, W.H. 1995. Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. Semarang: IKIP
Semarang Press
Kurnia, Rahma. 2006. Kepadatan Penduduk. Lampung: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.
Mahanal, Susriyati, dkk. 1995. Panduan Perkuliahan Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup (PKLH). Malang: IKIP Malang
Mc. Naughton, S.J., dan Larry, W.F. 1990. Dinamika Populasi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University PresS.
Ramani, Andrei. 2013. Pelaksanaan Kb (Melalui Jampersal) Untuk Menekan Laju
Pertumbuhan Penduduk Dan Pencapaian Target Millenium Development Goal
(Mdgs). (Online), (http://fkm.unej.ac.id/files/Semnas%202013/Contoh.pdf), diakses
17 Februari 2016
Sasuni, Sri Rahayu. 2003. Masalah Kependudukan di Negara Indonesia. (Online),
(http://www.library.usu.ac.id), diakses 17 Februari 2016
Siregar, H.M., Sitepu, H.R., dan Ariswoyo, S. 2013. Analisis Faktor Penyebab Kepadatan
Penduduk Menurut Persepsi Masyarakat Di Kotamadya
Matematika. Vol. 1 (4) hlm. 349-358.

Sibolga. Saintia

DINAMIKA POPULASI KEPENDUDUKAN DAN DENSITAS KEPENDUUKAN


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Dasar Ilmu Lingkungan
Yang dibina oleh Drs. I Wayan Sumberartha, M.Sc

Oleh Kelompok 3
Gizella Ayu Wilantika
Diah Ajeng Mustikarini

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016