Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah.
Contoh dari kekayaan alam tersebut adalah banyaknya jenis spesies tanaman di Indonesia.
Kurang lebih terdapat 30.000 40.000 spesies tanaman yang ada di Indonesia. Berbagai
macam tanaman tersebut sebagian telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh
masyarakat. Penggunaan obat tradisional merupakan warisan turun temurun dari nenek
moyang kita dari generasi yang satu ke generasi berikutnya, sehingga keberadaannya
terkait dengan budaya bangsa Indonesia. Menurut penelitian masa kini obat-obatan
tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan, dan kini semakin luas penggunaannya
dalam masyarakat.
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya
terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang
lainnya. Sedangkan ekstrak merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk
yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi standar baku yang
ditetapkan. Ada beberapa metode dalam ekstraksi, salah satu metode ekstraksi yaitu
perkolasi.
Perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut
mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit
sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak tahan panas (termolabil).
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang
umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Prosesnya terdiri dari tahapan
pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya, terus menerus
sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.
Metode ekstraksi mengandalkan sifat kelarutan dari senyawa yang akan
diekstraksi terhadap pelarut yang digunakan. Keberhasilan ekstraksi juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor sehingga perlu adanya ketelitian dalam memilih metode ekstraksi
yang digunakan untuk mengekstrak senyawa metabolit sekunder yang diinginkan.

B.

Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian perkolasi ?
2. Bagaimana prinsip perkolasi ?
3. Apa saja alat yang digunakan pada metode perkolasi ?
4. Bagaimana cara kerja metode perkolasi ?
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan perkolasi ?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan perkolasi.
2. Mengetahui prinsip kerja perkolasi.
3. Mengetahui alat-alat yang digunakan pada metode perkolasi.
4. Mengetahui cara kerja perkolasi.
5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode perkolasi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Perkolasi adalah ekstraksi dengan
pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya
dilakukan pada temperatur ruangan. Prosesnya terdiri dari tahapan pengembangan bahan,
tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/ penampungan ekstrak),
terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan (Ditjen
POM, 2000).
Perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut
mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit
sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak tahan panas (termolabil).
Ekstraksi dilakukan dalam bejana yang dilengkapi kran untuk mengeluarkan pelarut pada
bagian bawah. Perbedaan utama dengan maserasi terdapat pada pola penggunaan pelarut,
dimana pada maserasi pelarut hanya dipakai untuk merendam bahan dalam waktu yang
cukup lama, sedangkan pada perkolasi pelarut dibuat mengalir.

B. Prinsip Perkolasi
Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut :
Serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya diberi
sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan
penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.
Gerak ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan di atasnya,
dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan (Ditjen POM, 2000).
Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain : gaya berat, kekentalan, daya
larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adhesi, gaya kapiler dan daya geseran (friksi).
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena :
a. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi.
b. Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuksaluran tempat mengalir
cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut
cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan
konsentrasi.
3

C. Alat yang Digunakan


Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator. Cairan yang digunakan
untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari
perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian
disebut ampas atau sisa perkolasi.
Jenis perkolator ada 3 macam, yaitu :
1. Perkolator berbentuk tabung
2. Perkolator berbentuk paruh
3. Perkolator berbentuk corong
Pemilihan perkolator tegantung pada jenis serbuk simplisia yang akan disari.
Serbuk kina yang mengandung sejumlah besar zat aktif yang larut tidak baik bila
diperkolasi dengan alat perkolator yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi
pekatdan berhenti mengalir. Pada pembuatan tingtur dan ekstrak cair, jumlah cairan
penyari yang tersedia lebih besar dibandingkan dengan jumlah cairan penyari yang
diperlukan untuk melarutkan zat aktif. Pada keadaan tersebut, pembuatan sediaan
digunakan perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi.
Perkolator bentuk tabung biasanya digunakan untuk pembuatan ekstrak cair,
perkolator bentuk paruh biasanya digunakan untuk pembuatan ekstrak atau tigtur dengan
kadar tinggi, perkolator berbentuk corong biasanya digunakan untuk pembuatan ekstrak
atau tingtur dengan kadar rendah.
Ukuran perkolator yang digunakan harus dipilih sesuai dengan jumlah bahan yng
disari. Jumlah bahan yang disari tidak boleh lebih dari 2/3 tinggi perkolator.
Perkolator dilengkapi dengan tutup dari karet atau bahan yang berfungsi
mencegah penguapan. Tutup karet dilengkapi dengan lubang bertutup yang dapat dibuka
atau ditutup dengan menggesernya. Pada beberapa perkolator sering dilengkapi dengan
botol yang berisi cairan penyari yang dihubungkan ke perkolator melalui pipa yang
dilengkapi dengan keran. Aliran perkolator diatur oleh keran. Pada bagian bawah, pada
leher perkolasi tepat di atas keran diberi kapas yang diatur di atas sarangan yang dibuat
dari porselin atau di ats gabus bertoreh yang telah dibalut kertas tapis (Ditjen POM,
2000).

Gambar alat perkolasi

D. Cara Kerja Metode Perkolasi


Menurut Farmakope Indonesia penyarian dengan perkolasi dilakukan sebagai
berikut:
Kalau tidak dinyatakan lain perkolasi dilakukan dengan membasahi 10 bagian simplisia
atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2,5 bagian sampai 5
bagian cairan penyari, lalu dimasukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya
selama 3 jam. Kemudian massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator
sambil tiap kali ditekan hati-hati. Selanjutnya dituangi dengan cairan penyari secukupnya
sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari.
Kemudian perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam. Selanjutnya cairan dibiarkan
menetes dengan kecepatan 1 ml per menit dan ditambahkan berulang-ulang cairan
penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia,
hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa.
Perkolat kemudian disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih
dari 50C hingga konsistensi yang dikehendaki. Pada pembuatan ektrak cair 0,8 bagian
perkolat pertama dipisahkan, perkolat selanjutnya diuapkan hingga diperoleh 0,2 bagian
yang selanjutnya dicampurkan ke dalam perkolat pertama.
Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara
perkolasi tanpa menggunakan panas.
Untuk ekstrak yang diperoleh dengan penyari air agar dihangatkan segera pada
suhu lebih kurang 90C, lalu dienapkan dan diserkai. Serkaian selanjutnya diuapkan pada
tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50C, hingga konsistensi yang dikehendaki.

Untuk ekstrak cair dengan penyari etanol hasil akhir harus dibiarkan di tempat
sejuk selama 1 bulan, kemudian disaring sambil mencegah penguapan.
Serbuk simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan ke dalam
bejana perkolator, tetapi dibasahi atau dimaserasi terlebih dahulu dengan cairan penyari.
Maserasi dilakukan dalam bejana tertutup. Maserasi ini penting terutama pada serbuk
simplisia yang mengandung bahan yang mudah mengembang bila terkena air, misalnya
serbuk rimpang tanaman suku Zingiberaceae. Bila serbuk simplisia tersebut langsung
dialiri dengan cairan penyari maka cairan penyari tidak dapat menembus ke seluruh sel
dengan sempurna. Hal ini disebabkan karena tidak seluruh sel mengembang. Maserasi
pendahuluan sebaiknya dilakukan juga pada serbuk simplisia yang keras, yang zat
aktifnya sulit disari atau jika jumlah cairan penyarinya terbatas. Jika serbuk simplisia
sebelumnya dibasahi dengan cairan penyari yang cukup untuk mengembangkan sel
dengan sempurna maka aliran cairan penyari tidak akan mengalami hambatan. Setelah
seluruh sel serbuk mengembang maka aliran cairan penyari akan merata, sehingga dapat
menembus seluruh sel dengan sempurna.
Sebelum serbuk yang telah dimaserasi itu dimasukkan ke dala perkolator, bagian
leher perkolator diberi kapas, gabus bertoreh atau dengan cara lain. Kapas atau gabus
harus dijaga jangan sampai basah oleh air, kecuali bila cairan penyari mengandung air.
Hal tersebut perlu diperhatikan terutama bila serbuk simplisia mengandung dammar.
Perkolat yang mengandung dammar akan mengendap karena adanya air dalam kapas atau
gabus tersebut. Endapan tersebut akan menghalangi aliran perkolat berikutnya. Bila
menggunakan gabus sebaiknya di atasnya diberi kertas saring dengan diameter lebih
besar dari gabusnya. Pinggir kertas saring digunting teratur. Pengguntingan tersebut
bertujuan agar kertas saring dapat menempel pada dinding perkolator.
Setelah maserasi, massa dimasukkan ke dalam perkolator. Pemindahan dilakukan
sedikit demi sedikit sambil tipa kali ditekan. Penekanan ini merupakan salah satu usaha
untuk mengatur kecepatan pengaliran caitan penyari. Bila da kekhawatiran bahwa aliran
cairan penyari terlalu cepat, hingga zat aktif tidak tersari sempurna maka penekanan dapat
dilakukan dengan agak kuat. Sebaliknya bila perkolat tidak dapat menetes berarti massa
terlalu padat atau serbuk simplisia terlalu halus. Bila hal ini terjadi, isi perkolator harus
dibongkar dan kemudian dimasukkan kembali dengan penekanan yang agak longgar. Bila
diperlukan dapat dibantu dengan mencampur sejumlah kerikil yang telah dibersihkan
pada massa tersebut.
6

Setelah serbuk yang telah dimaserasi itu dimasukkan ke dalam perkolator,


kemudian ditutup dengan kertas saring. Kertas saring memiliki garis tengah lebih besar
daripada garis tengah bejana perkolator. Pada pinggir kertas saring digunting beraturan
agar dapat menempel pada dinding perkolator. Di atas kertas saring tersebut diberi
pemberat kerikil, kaca atau bahan inert lainnya, untuk mencegah agar kertas saring tidak
terangkat ke atas pada saat dituangi cairan penyari.
Cairan penyari dituangkan perlahan-lahan hingga di atas permukaan massa masih
tergenang dengan cairan penyari. Cairan penyari harus selalu ditambahkan sehingga
terjaga adanya lapisan cairan penyari di atas permukaan massa. Untuk memudahkan
penambahan cairan penyari di atas perkolator dipasang botol cairan penyari. Karena
penetes cairan diatur sehingga kecepatan cairan penyari sama dengan kecepatan menetes
sari.
Setelah massa didiamkan 24 jam dalam perkolator, keran dibuka. Keran diatur
sehingga kecapatan menetes 1 ml tiap menit. Jika penetesan terlau cepat, penyarian tidak
sempurna, sebaliknya jika terlalu lambat akan membuang waktu dan kemungkinan
menguap lebih besar. Beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan kecepatan
mengalir adalah lambat untuk kecepatan menetes 1ml tiap menit; sedang untuk kecepatan
antara 1 ml sampai 3 ml tiap menit dan cepat untuk kecepatan antara 3 ml sampai 5 ml
tiap menit.
Untuk menentukan akhir perkolasi, dapat dilakukan pemeriksaan zat aktif secara
kualitatif pada perkolat terakhir. Penyarian kina, pule pandak, pulai, perkolat dihentikan
bila reaksi alkaloid sudah negatif. Untuk jenitri dan teh ditentukan dengan reaksi terhadap
zat aktif tannin. Untuk obat yang belum diketahui zat aktifnya dapat dilakukan penentuan
dengan cara organoleptis seperti rasa, bau, warna dan bentuknya (Ditjen POM, 2000).

E. Reperkolasi
Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari, maka cara
perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Pada perkolasi dilakukan pemekatan sari
dengan pemanasan sedangkan pada reperkolasi tidak dilakukan pemekatan. Reperkolasi
dilakukan dengan cara : simplisia dibagi dalam bejana perkolator, hasil perkolator
pertama dipisahkan menjadi perkolat I dan sari selanjutnya disebut susulan II. Susulan II
digunakan untuk menyari perkolator II. Hasil perkolator kedua dipisahkan menjadi
perkolat II dan sari selanjutnya disebut susulan II. Pekerjaan tersebut diulang sampai
7

mendapat perkolat yang diinginkan. Untuk cara reperkolasi dapat dilakukan pada herba
Timi (Ditjen POM, 2000).

F. Perkolasi Bertingkat
Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang
maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia, maka terjadi
aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya.
Proses penyaringan tersebut akan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan pertama
dan pada tetesan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.
Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dialkukan cara perkolasi bertingkat.
Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum dibuang, disari dengan cairan
penyari yang baru, diharapkan agar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna.
Sebaliknya serbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir jenu. Dengan
demikian akan diperoleh perkolat akhir yang jeruh. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.
Cara ini cocok jika digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk
perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar diperoleh cara yang tepat, perlu
dilakukan percobaan pendahuluan. Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :
1.
2.
3.
4.
5.

Jumlah perkolator yang diperlukan.


Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi.
Jenis cairan penyari.
Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi.
Besarnya tetesan dan lain-lain.
Perkolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan dengan

perkolator biasa. Perkolator ini harus dapat diatur, sehingga:


1. Perkolat dari suatu perkolator dapat dialirkan ke perkolator lainnya.
2. Ampas dengan mudah dapat dikeluarkan. Perkolator diatur dalam suatu deretan dan
tiap perkolator berlaku sebagai perkolator pertama.
3. Larutan yang digunakan untuk menyari serbuk simplisia yang baru diisikan ke
dalam perkolator memiliki konsentrasi yang terbesar.
4. Serbuk simplisia yang disari dengan cairan penyari yang baru, merupakan serbuk
simplisia yang telah tersari sempurna.
Perkolasi bertingkat merupakan penyarian yang maksimal. Penggunaan
perkolator dalam jumlah besar akan memperkecil jumlah cairan penyari yang
diperlukan. Dengan berkurangnya cairan penyari berarti akan memperkecil waktu
pemekatan.
8

G. Kelebihan dan Kekurangan Perkolasi


Kelebihan dari metode perkolasi adalah :
1. Tidak terjadi kejenuhan
2. Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti
terdorong untuk keluar dari sel)
Kekurangan metode perkolasi adalah :
1. Cairan penyari lebih banyak
2. Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan
penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip perkolasi yaitu serbuk
simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat
berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan
penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.
Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator. Cairan yang digunakan
untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari
perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian
disebut ampas atau sisa perkolasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia

10