Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Pajak pada penawaran tenaga kerja

Sekitar tahun 1987 dan 1988, Islandia merombak system perpajakan


mereka. Sebelum perombakan, pekerja harus membayar pajak berdasarkan pada
penghasilan tahun lalu (seperti yang kita lakukan di Amerika), dan beban pajak
rata-rata adalah 14,5% dari pendapatan, dengan tariff marginal sebesar 56,3%,
Sistem yang baru itu adalah Pay-as-you-go dengan pekerja yang membayar
tarif pajak datar 32,5% dari pendapatan mereka. Pada system yang baru ini,
pekerja membayar pajak untuk penghasilan tahun 1986 pada tahun 1987, dan
membayar pajak untuk pendapatan mereka tahun 1988 pada tahun 1988. Sehingga
pendapatan mereka pada tahun 1987 tidak dikenai pajak! Selama satu tahun, ratarata dan marjinal penghasilan tenaga kerja adalah nol.
Apakah perubahan radikal dalam beban pajak ini benar-benar
mempengaruhi keputusan pekerja dalam berapa banyak jam kerja nya? Bianchi,
Gudmundsson, dan Zoega (2001) menyelidiki isu ini dengan memeriksa respon
pekerja di Islandia terhadap satu tahun tax holiday ini, dan mereka mendapatkan
hasil bahwa, hal ini memiliki pengaruh yang besar pada pasokan tenaga kerja dan
pertumbuhan ekonomi. Rata-rata, setiap kenaikan 1% pada gaji setelah dipotong
pajak menjadikan pekerja bekerja 0,4% minggu lebih banyak dari sebelumnya,
sehingga dengan satu ukuran tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara
keseluruhan pekerjaan meningkat pada tahun 1987 dari 78% menjadi 85% seperti
yang ditunjukkan pada grafik 21-1. GDP riil juga melonjak dari kenaikan
biasanya, dari 4,3% menjadi 8,5%. Bagaimanapun, efek tersebut hanya sementara.
Pada tahun 1988, angka-angka tersebut telah menurun ke tingkat normal kembali
sama seperti tingkat saat prareformasi perpajakan.
Tanggapan yang mencolok ini merupakan respon dari perubahan pada
kebijakan perpajakan, ini menunjukkan bahwa pajak dapat menyebabkan efek
dalam keputusan penting, seperti berapa lama kah pekerja harus bekerja. Adanya
beberapa respon tersebut menyoroti ketegangan yang terjadi antara keadilan dan
efisiensi dalam bentuk kebijakan perpajakan pemerintah. Seperti yang kita lihat
pada Bab 20, keinginan masyarakat untuk lebih meratanya distribusi pendapatan
menyebabkan tingginya pajak yang akan dikenakan, tetapi semakin tinggi pajak
yang dikenakan, maka akan menyebabkan efek yang merugikan pada ekonomi :
pajak yang lebih tinggi akan mengurangi pendapatan orang lain dan memperkecil
economic pie yang didapat dari berapa pajak yang dapat dipungut. Apakah
pengurangan di tarif pajak ini tergantung pada seberapa responsif ukuran
economic pie ini terhadap pajak yang dipungut dari berbagai aktivitas ekonomi.
Dalam upaya untuk memahami bagaimana tarif pajak dappat
mempengaruhi perekonomian, dalam tiga bab berikutnya, kita akan menjawab
bagaimana keputusan individu ekonomi terhadap perpajakan. Kita akan berdiskusi
tiga tipe pajak, yaitu : pajak atas tenaga kerja, pajak atas tabungan, dan pajak atas
kekayaan dan pengambilan resiko. Di setiap kasus, kita mulai membahas tentang
kunci kebijakan perpajakan di United States yang mempengaruhi kebijakannya.

Figur 21-1
Islandia
eksperimen sisi
penawaran
Pada tahun 1987,
penduduk Islandia
tidak membayar
pajak untuk
pendapatan
mereka. Hasilnya
adalah terlihat
satu lonjakan
tingkat tenaga

Bab ini dimulai dengan diskusi tentang perpajakan merupakan pendapatan


dari pekerjaan di pasar, dimana para ahli ekonomi lebih condong kepada
penawaran tenaga kerja. Di kasus ini, kita menggambarkan tubuh yang kaya akan
bukti atau keterangan dari keuangan public dan kebijakan ahli ekonomi dalam tiga
dekade kebelakang, dimana kita dapat menarik beberapa keputusan yang umum
dan wajar serta tidak kontroversial. Kemudian kita beralih ke salah satu kebijakan
perpajakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan penawaran tenaga
kerja, pendapatan
pajak kredit (EITC),
program
subsidi
upah/gaji
untuk
keluarga
berpenghasilan
rendah.
Mempelajari EITC
memberikan
kesempatan kepada
kita
untuk
mengaplikasikan
analisis dari teori
perpajakan
dan
penawaran tenaga
kerja dan untuk
Aku berpikir seseorang akan mengatakan itu
memahami
merupakan kemurahan hati orang kaya, tapi, di
berdasarkan bukti
sudut pandang lain, ini merupakan dorongan
yang
nyata,
yang kuat untuk membuat dua ratus ribu dollar
per tahun
bagaimana
kebijakan
perpajakan pemerintah dapat mempengaruhi penawaran tenaga kerja dalam
praktiknya. Kesimpulannya,kita mempertimbangkan untuk perlakuan pajak yang
sesuai dengan perlakuan orang tua dalam mengurus anak, dimana yang menjadi
penentu utama adalah kelakuan orang tua dalam bekerja.

21.1
Perpajakan dan Penawaran Tenaga Kerja-Teori
Analisis pendapatan pajak yang optimal pada bab 20 menggambarkan pentingnya
memahami bagaimana penawaran tenaga kerja merespon adanya perubahan dalam
kebijakan perpajakan. Apabila para individu sangat mengurangi upaya kerja
mereka maka pendapatan pajak meningkat, pendapatan pajak dapat membebankan
Deadweight loss di masyarakat.

Teori dasar
Dasar kerangka teori untuk menilai bagaimana pendapatan pajak dapat
mempengaruhi penawaran tenaga kerja adalah model yang sama dari pengaruh

kesejahteraan kas pada penawaran tenaga kerja di Bab 2 dan 17. Gambar 21-2
mengilustrasikan kemungkinan yang dipilih Ava dalam memilih antara waktu
luang dan dollar yang dikonsumsi. Ingat lagi bahwa kita ingin mencapai waktu
luang maksimal, ingat juga bahwa sebelum pajak kemiringan garis dari batasan
anggaran belanja, tingkat upah, adalah harga dari waktu luang karena merupakan
opportunity cost dari mengambil liburan daripada bekerja. Sebelum pajak
dikenakan, ava menikmati biaya kesempatan mengambil waktu luang sebesar 900
dan tingkat konsumsi C1=$13,750 (point A). Sekarang mari kita umpamakan
bahwa pajak t =30% dikenakan kepada setiap dollar gaji yang diterima.
Kemiringan dari anggaran ava setelah dikenai pajak penghasilan,
$ 12,50 ( 10,3 ) =$ 8,75 , sejak saat ini, apa yang dia (dan pekerja dengan gaji
yang sama) lihat sebagai laba moneter dari kerja mereka. Tarif pajak tetap pada
pendapatan di tingkat =0,3 menyebabkan kendala anggaran untuk poros
batin dari BC1 ke BC2. Pada jumlah tenaga kerja yang sama, 900 jam, dengan
jumlah waktu luang yang sama, ava dapat mengkonsumsi beberapa keuntungan ,
C2 = 9,625 , semenjak beberapa penghasilannya berpindah ke pembayaran pajak.

Figure 21-2

Trade-off antara
Pajak dan
konsumsi waktu
luang
Sebelum pajak
diperkenalkan, Ava
kehilangan $12,50
nilai konsumsi
untuk setiap jam
waktu luang yang
diambilnya.
Setelah pajak
(t=0,3) di
kenakan, upah Ava
setelah dikenai
Karena beberapa upah Ava digunakan untuk membayar pajak, ava
sekarang mengkonsumsi lebih sedikit (C2 = 9,625) untuk jumlah
waktu luang yang sama

Subtitusi dan pengaruh pengaruh pendapatan pada penawaran tenaga


kerja
Kita tidak dapat mengatakan secara pasti apa yang terjadi pada penawaran
tenaga kerja sebagai akibat dari pajak ini karena hal tersebut mempunyai dua efek
yang saling meniadakan. Upah sesetelah pajak merupakan harga efektif dari
waktu luang. Sejak upah setelah pajak lebih rendah dari upah sebelum pajak,
harga dari waktu luang telah jatuh. Pengurangan pada tingkat harga waktu luang
akan mengakibatkan subtitusi efek yaitu menjadi lebih banyak waktu luang dan
lebih sedikit bekerja. Bagaimanapun juga, penurunan kembali untuk bekerja ini
berarti bahwa ava lebih miskin dari semua tingkat pasokan tenaga kerja.
Penurunan pada pendapatan ini juga mempengaruhi dia untuk membeil lebih
sedikit daripada yang biasanya dia beli, termasuk waktu luang; dan lebih sedikit
waktu luang berarti lebih banyak jam untuk bekerja. Karena subtitusi dan dan
pengaruh pendapatan pada penawaran tenaga kerja akan menarik kearah yang
berlawanan, kita tidak dapat memprediksi secara jelas kapan penawaran tenaga
kerja meningkat atau kapan turunnya pada respon terhadap pajak t.
Quick Hint, untuk memahami pengaruh pendapatan terhadap penawaran
tenaga kerja, kadang-kadang sangat membantu dengan memikirkan target
pendapatan perorangan, tujuannya adalah mendapatkan pendapatan yang
tetap. Bayangkan salah satu alasan Ava bekerja adalah membeli satu buah
CD setiap minggu. Apabila dia memiliki pendapatan $5 per jam, dan
sebuah CD mempunyai harga $20, maka dia akan bekerja 4 jam per
minggu. Apabila pemerintah mengenakan pajak sebesar 20% untuk
pendapatan para tenaga kerja, pendapatannya setelah ada pajak akan
turun menjadi $4. Untuk membeli CD yang sama , Ava sekarang harus
bekerja 5 jam per minggu. Dengan demikian, dia akan bekerja lebih keras

lagi, walaupun pendapatannya setelah dikenai pajak menurun, karena dia


mempunyai target pendapatan yang harus didapatnya. Dalam kasus ini,
pengaruh pendapatan mendominasi efek subtitusi, dan jumlah dari jumlah
penawaran tenaga kerja meningkat.
Dua panel dari figur 21-3 menggambarkan dua kemungkinan pengaruh
pajak pada pendapatan tenaga kerja. Di panel (a), efek subtitusi dari pajak
(dimana mengurangi harga dari waktu luang, mengarahkan Ava untuk
menginginkan lebih banyak waktu luang.) lebih besar daripada efek pendapatan
yang lebih rendah setelah dikenai pajak (dimana mengarahkan kepada lebih
sedikit waktu luang). Di kasus ini, waktu luang Ava meningkat dari 900 menjadi
1200, menyiratkan bahwa pasokan tenaga kerja lebih rendah. Di panel (b), efek
pendapatan yang lebih rendah setelah dikenai pajak lebih besar daripada efek
subtitusi pajak, dan Ava bekerja lebih keras untuk memperoleh pendapatan lebih
banyak jadi dia dapat mengkonsumsi barang lebih banyak. Di kasus ini, waktu
luang Ava turun dari 900 menjadi 600, menyiratkan tingginya pasokan tenaga
kerja.
Kedua kemungkinan tersebut menunjukkan perbedaan bentuk untuk kurva
penawaran di pasar tenaga kerja. Jika efek subtitusi mendominasi, seperti kasus
yang pertama, maka kurva penawaran tenaga kerja akan berbentuk miring keatas
seperti yang telah kita bahas sejauh ini. Jika efek pendapatan mendominasi,
seperti kasus kedua, maka kurva penawaran tenaga kerja akan berbentuk miring
kebawah, dengan upah yang lebih tinggi mengarahkan para individu untuk
menawarkan sedikit tenaga kerja. Tampaknya dimana-mana sangat tidak mungkin
kurva penawaran tenaga kerja akan miring kebawah, sejak efek pendapatan
terhadap penawaran tenaga kerja sebanding dengan jam kerja sebelum adanya
perubahan upah. Jika individu belum bekerja sama sekali, dan upah dikenai pajak,
maka ada efek subtitusi pada keputusan penawaran tenaga kerja mereka, tetapi
tidak ada efek pendapatan : mereka tidak bisa menjadi lebih miskin sejak mereka
tidak mendapatkan pengashilan apa-apa sebelum pajak.

Figure 21-3

Subtitusi VS efek pendapatan


Di kedua panel, pajak pada upah tenaga kerja menggeser garis
anggaran pendapatan ke dalam dari BC 1 ke BC2. (a) Jika efek
subtitusi berubah pada upah setelah pajak yang lebih besar,
pekerjaan akan kurang menarik, dan Ava memilih untuk memiliki
lebih banyak waktu luang, bergerak dari 1200 jam waktu luang di
poin B. (b) jika efek pendapatan lebih besar, Ava merasa lebih
miskin dan ini mengurangi waktu luang nya (meningkatkan jam
kerjanya) untuk mendapatkan upah yang hilang, bergerak ke 600
jam waktu luang di titik C.

Sehingga pada tingkat rendah penawaran tenaga kerja, terlihat seperti tidak
mungkin efek pendapatan akan lebih besar dari efek subtitusi. Pada tingkat yang
lebih tinggi dari penawaran tenaga kerja, dimana disana terdapat kerugian yang
lebih besar dari pajak yang berasal dari upah, efek pendapatan akan berubah
menjadi lebih besar daripada efek subtitusi, dan akan mengakibatkan lebih
banyak, tidak lebih sedikit, penawaran tenaga kerja.
Keterbatasan pada teori : keterbatasan pada jam
kerja dan aturan pembayaran
Teori dasar efek pajak dalam penawaran tenaga
kerja mengasumsikan tampilan ideal dalam pasar tenaga
kerja, dimana para individu dapat menyesuaikan jam kerja
mereka secara bebas dan secara bertahap seperti perubahan
dalam kebijakan perpajakan pemerintah. Pada umumnya
pasar tenaga kerja, bagaimanapun, para individu tidak bisa
bebas menyesuaikan jam kerja mereka untuk menemukan
garis singgung yang tepat antara kurva indiferen dan
anggaran pendapatan mereka. Perusahaan, seperti
contohnya, membutuhkan tenaga kerja untuk pekerjaan

Aturan
pembayaran
upah lembur
Pekerja yang
memiliki
banyak
pekerjaan
harus dibayar
satu setengah
kali lipat
daripada
biasanya
dibayar pada
jam kerja biasa
apabila mereka
bekerja lebih

untuk waktu beberapa jam. Pembatasan ini bisa disebabkan


untuk melengkapi produksi, keistimewaan proses produksi
adalah pentingnya mempunyai banyak tenaga kerja dalam
waktu dan pekerjaan yang sama. Seorang pekerja, yang
merupakan bagian dari jalur produksi di sebuah pabrik
tidak bisa hanya bekerja 32 jam per minggu, meskipun itu
adalah jam kerja maksimal mereka, ketika semua pekerja
lain di tempat yang sama bekerja 40 jam per minggu.
Kendala lainnya dalam peningkatan jam kerja
adalah adanya aturan upah lembur, dimana berisi bahwa
pekerja harus dibayar setiap jam satu setengah kali lipat
dari gaji per jam mereka pada hari biasa apabila mereka
bekerja lebih dari 40 jam dalam satu minggu. Peaturan ini
menjadikan mahalnya gaji pegawai yang harus bekerja
lebih dari 40 jam per minggu, ini berarti bahwa mereka
enggan melakukannya bahkan jika itu merupakan kapasitas
optimum tenaga kerja mereka. Secara keseluruhan, kendala
jam tersebut akan memaksa pekerja bekerja terhadap jam
yang sudah dijadwalkan, sehingga menurunkan respon dari
jam kerja terhadap upah setelah adanya pajak.

21.2
Pajak dan Penawaran Tenaga Kerja-Fakta
Penerima
pendapatan
utama :
anggota
keluarga
dimana
penghasilanny
a merupakan
sumber utama
di keluarga
tersebut
penerima
pendapatan
sekunder :
tenaga kerja
lainnya di
keluarga
tersebut selain

Ada sebuah literature ekonomi yang luas yang


memperkirakan dampak dari pajak pada penawaran tenaga
kerja. Penerima pendapatan utama adalah anggota
keluarga dimana penghasilannya merupakan sumber utama
di keluarga tersebut, Sementara penerima pendapatan
sekunder adalah tenaga kerja lainnya di keluarga tersebut.
Pada saat penerima pendapatan utama di keluarga tersebut
merupakan tenaga kerja yang terikat dengan pekerjaan,
maka penerima pendapatan sekunder dalam keluarga akan
mengurus urusan rumah tangga lainnya, seperti mengurus
anak. Biasanya, penerima pendapatan utama merupakan
suami sementera penerima pendapatan seku merupakan istri
dimana mempunya tanggung jawab mengurus anak.
Secara keseluruhan, kesimpulan dari literature ini
ada dua. Pertama, keputusan bekerja dari penerima
pendapatan utama tidak terlalu berpengaruh terhadap upah
mereka (demikian juga dengan pajak). Untuk setiap
penurunan upah sebesar 10% setelah dikenai pajak,
penerima pendapatan utama bekerja sekitar 1% lebih
sedikit, untuk elastisitas penawaran tenaga kerja
sehubungan dengan upah setelah dikenai pajak adalah 0,1 .

Penelitian ini juga menemukan bahwa penerima pendapatan


sekunder jauh lebih terpengaruh oleh upah (demikian juga
dengan pajak), dengan elastisitas penawaran tenaga kerja
yang dipengaruhi oleh upah setelah adanya pajak
diperkirakan sekitar 0,5-1; untuk penerima pendapatan
sekunder , setiap 1% naiknya upah setelah adanya pajak
maka akan menaikkan penawaran tenaga kerja sebesar
0,5%-1%. Sebagian besar respon dari penerima pendapatan
sekunder berasal dari keputusan bekerja (partisipasi
angkatan kerja) dengan bagian yang lebih kecil dari respon
yang dating dari keputusan berapa jam untuk bekerja.
Penemuan ini sangat masuk akal dalam konteks
sejarah. Elastisitas dari penawaran tenaga kerja sehubungan
dengan upah setelah adanya pajak ditentukan oleh
ketersediaan pilihan pengganti tenaga kerja: pada saat ada
pengganti yang lebih baik untuk bekerja, maka penawaran
tenaga kerja akan lebih elastis. Pada umumnya, penerima
pendapatan primer laki-laki memiliki banyak alternative
diluar pekerjaannya, mengingat adanya harapan bahwa
penerima pendapatan primer di United States akan bekerja
sepanjang waktu. Penerima pendapatan sekunder
perempuan, bagaimanapun, mempunyai pilihan natural
diluar itu: menyediakan perawatan untuk anak. Dengan
demikian, mereka lebih elastis dalam keputusan mereka
untuk memasok tenaga kerja. Temuan ini juga masuk akal
mengingat kendala keterbatasan jam pada bab sebelumnya:
laki-laki pada umumnya mempunyai jenis pekerjaan sector
produksi dimana adanya kendala keterbatasan jam itu
penting, sehingga . . .

Memperkirakan Elastisitas dari Penawaran Tenaga Kerja


Tiga pendekatan telah digunakan
untuk memperkirakan elastisitas
penawaran tenaga kerja sehubungan
dengan upah setelah adanya pajak:
Cross-sectional Linear Regression
Evidence: tipe pertama dari faktafakta
datang
cross-sectional
mempelajari
bagaimana
menggunakan
garis
yang
berhubungan dengan kemunduran
analisis dari tipe yang telah dibahas
di bab 3. Studi ini memperkirakan
kemunduran dari penawaran tenaga
kerja sebagai fungsi dari upah setelah
adanya pajak dan variabel kontrol
lainnya. Model seperti ini biasanya
memperkirakan efek dari besar upah
setelah ada pajak pada penawaran
tenaga
kerja
dari
penerima
pendapatan sekunder, tetapi sangat
kecil efeknya (atau mungkin
negative) pada penerima pendapatan
primer.
Analisis kemunduran bersekat silang
ini menderita, bagaimanapun, dari
potensi yang penting kita dapat
menganalisisnya
dengan
cara
membuat prasangka pengaruh dari
upah terhadap penawaran tenaga
kerja. Mengingat lagi dari bab 3,
dimana prasangka dapat muncul
setiap kali ada factor-faktor yang
membedakan
perilaku
dalam
kelompok perlakuan (upah individu
yang tinggi) dari kelompok kontrol
(upah individu yang rendah) yang
berhubungan dengan keputusan
penawaran tenaga kerja. Faktanya,
prasangka tersebut terlihat dengan
jelas. Individu yang mendapatkan
upah yang tinggi mungkin akan
mempunya sifat akan bekerja lebih
lama
tidak
mempermasalahkan

upahnya. Variabel X tidak dapat


mengontrol
gerakan
yang
mendasari analisis regresi ini dengan
efisien, terdapat prasangka terhadap
perkiraan dari dampak upah terhadap
penawaran tenaga kerja.
Fakta eksperimen : pendekatan
lainnya yang disarankan di bab 3
adalah untuk menilai dampak sebab
akibat dari pajak terhadap penawaran
tenaga kerja adalah eksperimen acak.
Bahkan, salah satu eksperimen
penting di United States adalah
eksperimen acak dari system pajak
penghasilan
negative
(NIT).
Eksperimen NIT dijalankan antara
tahun 1968 dan 1976, yang
diprakarsai oleh Kantor Peluang
Ekonomi, sebuah agen federal yang
dibentuk oleh presiden Lyndon
Johnson. Dalam studi ini, dipilih
secara
acak
individu
untuk
ditempatkan di kelompok perlakuan
dan kelompok control. Untuk
kelompok perlakuan, pemerintah
mengganti jadwal pajak dengan
system jaminan pendapatan tetap,
dengan pengurangan tarif pajak.
Sebagai contohnya, sebuah keluarga
dari
empat
orang
mungkin
mendapatkan jaminan $4.000 (pada
saat itu, setengah dari tingkat
kemiskinan , sekitar $8.000 untuk
keluarga dengan jumlah seperti itu)
dan tingkat pengurangan tarif pajak
sebesar 50%. Jika keluarga tersebut
tidak
mempunyai
pendapatan,
mereka akan mendapat $4.000;
sestelah
memiliki
penghasilan
$8.000, dia tidak akan mendapatkan
apa-apa,
dan
setengah
dari
penghasilan diatas $8.000 akan
membayar pajak. Besarnya jaminan

dan tingkat pengurangan secara acak


bervariasi di seluruh kelompok
perlakuan di berbagai negara bagian,
dan hasilnya dari setiap kelompok
perlakuan dibandingkan dengan
kelompok perlakuan lain kepada
kelompok kontrol. Karena tugas
untuk kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol adalah acak, studi
ini membuktikan sarana untuk para
ahli ekonomi untuk memahami
bagaimana
pendapatan
dan
perbedaan di upah setelah pajak
mempengaruhi penawaran tenaga
kerja.
Fakta dari eksperimen NIT berfokus
utama pada laki-laki. Penemuan ini
sangat aneh dan tetap sesuai dengan
perkiraan analisis regresi sekat
silang. Respon secara keseluruhan
dari penawaran tenaga kerja laki-laki
terhadap upah setelah adanya pajak
adalah kecil, dengan elastisitas dari
penawaran tenaga kerja terhadap
upah
setelah
adanya
pajak
diperkirakan sekitar 0,1.
Bukti
Quasi-Eksperimental
:
pendekatan ketiga memperkirakan
elastisitas penawaran tenaga kerja
menggunakan
studi
quasieksperimental dengan tipe yang telah
dibahas di bab 3. Mungkin yang
paling terkenal dari studi ini adalah
studi Nada Eissa tentang pengaruh
dari reformasi undang-undang pajak
1986 (TRA 86) kepada penawaran
tenaga kerja. Eissa (1995) mencatat
bahwa reformasi utama pajak adalah
menurunkan tarif pajak pada wajib
pajak dengan penghasilan yang
sangat tinggi selain itu mereka juga
menurunkan tarif bagi mereka yang
berpenghasilan tinggi. Kelompok
perlakuannya,
sebelum
nya,
merupakan istri dari laki-laki yang

berpenghasilan sangat tinggi (diatas


persentil ke-99 dari distribusi
pendapatan), yang tarif pajaknya
berkurang dengan adanya perubahan
undang-undang pajak. Masalah yang
mereka hadapi adalah factor-faktor
lain yang berubah dari waktu ke
waktu
secara
alami
yang
menyebabkan penawaran tenaga
kerja dari perempuan berpenghasilan
tinggi
meningkat
(misalnya,
meningkatkan kesempatan bagi
perempuan dalam angkatan kerja
selama tahun 1980-an). Untuk
mengatasi
masalah
ini,
dia
membandingkan
kelompok
perlakuan tersebut dengan kelompok
kontrol dari kelompok istri dari lakilaki berpenghasilan tinggi (di
persentil ke-75 dari distribusi
pendapatan)yang
tidak
melihat
banyak perubahan pada tarif pajak
mereka.
Essia mengikuti pendekatan
perbedaan di perbedaan untuk
menganalisis quasi-eksperimen ini di
bab 3 : dia membandingkan
perubahan penawaran tenaga kerja
dari sebelum dan sesudah TRA 86
untuk
istri
dari
laki-laki
berpenghasilan sangat tinggi, dia
melihat pengurangan tarif pajak yang
besar, dengan perubahan penawaran
tenaga kerja selama periode ini sama
untuk istri dari laki-laki dengan
penghasilan tinggi, dimana hanya
sedikit perubahan di tarif pajak
mereka. Dia menemukan bahwa
penawaran tenaga kerja naik secara
signifikan untuk istri dari laki-laki
yang mengalami penurunan tarif
pajak: setiap kenaikan 10% upah
setelah adanya pajak menyebabkan
penawaran tenaga kerja meningkat
sebesar 8% oleh istri mereka.

Menggunakan pendekatan yang


sama, Eissa mengemukakan bahwa
perubahan pajak tersebut tak banyak
berpengaruh terhadap penawaran
tenaga kerja laki-laki berpenghasilan
sangat tinggi, ini relative terhadap
kelompok kontrol dari orang
berpenghasilan
sedikit
tinggi.

Crossley
dan
Jeon
(2007)
menemukan hasil yang sama sebagai
hasil dari reformasi pajak di Kanada
yang sangat mengurangi tarif pajak
istri dari suami berpenghasilan
sangat tinggi.