Anda di halaman 1dari 24

Kendari, 27 March 2014 _by James S Massora that was posting on google by ressenssioned Dumarys Book_Erlangga factory

BAB I
GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA
Berdasarkan pendekatan kronologis historis substansi perekonomian
Indonesia digolongkan menjadi :
1. Masa sebelum terjajah (sebelum 1600)
2. Masa penjajahan (1600-1945)
3. Masa sebelum 1966 (sejak merdeka)
4. Masa sesudah 1966 (orde baru)
5. Masa sesudah orde baru (reformasi ekonomi)
Sejak merdeka sampai tahun1966 perekonomian Indonesia kurang
berkembang cabinet selalu berganti-ganti sehingga perekonomian Indonesia
mengikuti kebijakan-kebijakan ekonomi kebinet tsb.
Pertumbuhan ekonomi
Periode 1952-1958 = 6,5%
Periode 1960-1965 = 1,9%
APBN deficit, dibiayai dengan mencetak uang baru sehingga terjadi inflasi dan
pada tahun 1966 terjadi hiperinflasi. Inflasi sudah terjadi sejak tahun 1955
sebesar 33%.
Nasionalisasi perusahaan asing menjadi APBN :
Kekurangan capital
Anti investasi asing (inward looking)
Nasionalisasi perusahaan asing terutama belanda dimulai sejak tahun 1951
Tahun 1958 nasionalisasi secara besar-besaran terjadi berdasarkan UU No.
78/1958 tentang investasi asing. Isinya adalah akibat terjadi pelarian modal
peran Indonesia dalam perdagangan internasional sebagai Negara
pengekspor bahan mentah seperti kapra, the, kelapa sawit, lada tembakau.
Dalam system moneter
a. Nasionalisasi bank-bank asing tahun 1953
b. Tahun 1945 didirikan BNI
c. De Javache Bank (belanda) diambil alih menjadi BI (bank central) tahun 1953
Tugasnya :
1. Menstabilkan nilai rupiah
2. Mengatur sirkulasi uang (peredaran)
3. Supaya tidak hanya beredar di kota tertentu tapi menyebar secara
menyeluruh
4. Mengawasi serta mengembangkan perbankan dan kredit. Mengawasi agar
sirkulasi itu bisa teratur penyebarannya.
5. Memonopoli perdaran uang kartal cadangan minimum 20% dalam bentuk
emas dan valuta asing.
d. Instrument kebijakan moneter
Dalam negeri = penetapan premi inpor sebagai persyaratan minimum modal
sendiri bagi pemohon kredit.
Luar negeri = pengawasan devisa secara ketat untuk mencegah devaluasi
dan deficit neraca pembayaran.
e. Tahun 1965 materi urusan bank central (gubernur BI)mengabungkan semuan
bank pemerintah menjadi satu wadah yaitu bank berjuang. Tugasnya agar
otoritas moneter berada dalam satu tangan dalam rangka melaksanakan
ekonomi terpmpin.
Ada empat masa sesudah tahun 1966 (orba)
a. Masa peralihan (1966-1968)
Keadaan ekonomi porak poranda lalu bank central mengambil kebijakan
seperti:
1. Memerangi inflasi
2. Mencukupi stok pangan (beras)
3. Rehabilitas perasarana ekonomi, semua sarana dperbaiki dan mengurus
pengganti
4. Meningkatkan eksport, potensi besar tapi tidak bisa menjual
5. Menyediakan/menciptakan kesempatan kerja UU PMA (outward looking)
1966-1968 masa rehabilitas ekonomi dilakukan program jangka pendek :
1. Tahap penyelamatan juli-desember 1966
2. Tahap rehabilitasin januari-juli 1967
3. Tahap konsolidasi juli-desember 1967
4. Tahap stabilitasi januari-juli 1968
Program jangka panjang terdiri atas rangkuman pembangunan lima tahun
(repelita) yang dimjulai april 1969
Dalam rangka mendukung kebijakan jangka pendek
Kebijakan anggaran berimbang (balance budget policy) politik anggaran
bersifat berimbang.
Inter-Govermental group on Indonesia (IGGI) sebuah konsorsiom negara-negara
donatur
Consultative group Indonesia (CGI) sebagai pengganti IGGI
International monetary fund (IMF) sebagai organisasi keuanagn internasional
Peranan bank-bank dan lembaga keuangan lain sebagai agen pembanguna
diperbesar
Tahapan pelita tahun 1969 merupakan perekmbangan ekonomi
Pelita I : 1969-1974
Pelita II : 1974-1979
Peliat II : 1979-1984
Pelita IV : 1984-1989
Pelita V : 1989-1994
Pelita VI : 1994-1999
Khusus untuk kurun waktu lima tahun REPELITA VI ditargetkan:
Pertumbuyan ekonomi secara keseeluruhan 6,2%
Sector pertanian, perikanan, dan kehutanan 3,5%
Sector industry 9%
Sector manufaktur diluar migas 10%
Sector jasa 6,5%
Laju inflasi 5%
Eksport non migas 16,5%
Eksport manufaktur 17,5%
Debt service ratio 20%

GDP Rp. 2.150 triliun


Nilai investasi Rp. 660,1 triliun
BAB II
PEREKONOMIAN SEBELUM ORDE BARU (ORBA)
Gejolak situasi politik
Mengingat kebijakan-kebijakan makroekonomi tak luput dari keputusan-
keputusan politik, maka relevan mengawali bahasan keadaan ekonomi pada
masa sebelum orde baru denagan merujuk sepintas gejolak-gejolak politik
yang berlangsung selama masa itu. Secara, politis, kurun waktu sejak
kemerdekaan hingga tahun 1965 dapat diplih menjadi tiga periode yaitu:
1. Periode 1945-1950
2. Periode demokrasi parlementer (1950-1959) juga dikenal sebagai periode
demokrasi liberal dan berakhir tanggal 5 juli 1959
3. Periode demokrasi terpimpin yang dikenal dengan periode orde lama.
Sepanjang kurun 1945-1965 keadaan politik sangat labil.

a. Cabinet Hatta (1949-september 1950) dengan program devaluasi mata


uang
b. Cabinet Natsir dengan program:
Eksport diperkuat
Kebijakan fiscal
o Surplus NPI
c. Cabinet sukiman (april 1951-feb1952) dengan program:
- Nasionalisai the javasche bank menjadi BI pada 22 mei 1951
- Surplus , deficit NPI
d. Cabinet wiliko (april 1952-juni 1953)
- Anggaran berimbang APBN
- Rasionalisasi ABRI
- Deskriminatif raisal di bidang ekonomi
e. Cabinet Ali Sastra Negara (agustus 1953-juli 1954) dengan program:
- Pembatasan import
- Pengendalian JUB > gagal
f. Cabinet Burhanuddin (agustus 1955-maret 1956) dengan program:
- Liberalisasi import
- Laju peredaran uang dapat ditekan
g. Cabinet Ali Sastra Negara II (april 1956-maret 1957) dengan program:
- Hasil pemilu I
- 57 program benteng dihentikan soekarno
- Konsep RLT mulai di perkenalkan oleh Dr. juanda kartawijaya
h. Cabinet Juanda (maret 1957-agustus1958) dengan program:
- Eksport ditingkatkan
- Nasionalisasi perusahaan asing
- Peranf merebut irian barat
- Presiden sekaligus sebagai perdana mentri (sosialisme ala indonesia)
Produksi dan Pendapatan
Selama satu setengah dasawarsa (1951-1966), pereonomian Indonesia
tumbuh relative lamban. Sebagai mana yang telah diamati persentasi
ekonomi per kapita hanya tumbuh setingkat 2,7% rata-rata pertahun.
Pertumbuhan tertinggi persentase ekonomi per kapita terjadi pada tahun
1953, yakni sebesar 22,1% yang tak lain adalah rezeki perang korea. Perang
tersebut telah membuat perekonomian Indonesia meningkat pesat.
Angkatan kerja, pekerjaan, dan upah
Menurut sensus, pada tahun 1961 terdapat hampir 64 juta jiwa penduduk
berusia 10 tahun atau lebih. Tetapi yang tergolong sebagi angkatan kerja
hanya 34,7 juta jiwa. Selebihnya (sekitar 29,5 juta jiwa) tidak digolongkan
sebagai angkata kerja. Mereka ini adalah para pelajar dan mahasiswa, pekerja
atau pelaksana kegiatan produktif dirumah sendiri dan orang-orang lain yng
tidak diketahui aktivitas ekonominya.
Neraca-neraca ekonomi nasional
Keprihatinan situasi perekonomian Indonesia selam era sebelum orde baru
dapat pula dilihat dari beberapa neraca ekonomi nasional, yakni neraca
pendapatan dan belanja negaram neraca perdagangan, dan neraca
pembayaran luar negeri.
BAB III
SISTEM EKONOMI INDONESIA
1. Pengertian-pengertian Sistem Ekonomi
Menurut Dumairy : Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan
ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan.
Menurut Sanusi : Sistem ekonomi merupakan suatu organisasi terdiri dari sejumlah lembaga yang
sling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.
2. Sistem-Sistem Ekonomi
Menurut Sanusi (2000), perbedaan antara sistem ekonomi satu dengan yang lainnya terlihat dari
cirri-cirinya, yaitu :
Kebebasan konsumen dalam memilih barang atau jasa yang dibutuhkan.
Kebebasan masyarakat memilih lapangan kerja.
Pengaturan pemilihan / pemakaian alat-alat produksi.
Pemilihan usaha yang dimanifestasikan dalam tanggung jawab manajer.
Pengaturan atas keuntungan usaha yang diperoleh.
Pengaturan motivasi usaha.
Pembentukan harga barang konsumsi dan produksi.
Penentuan pertumbuhan ekonomi.
Pengendalian stabilitas ekonomi.
Pengambilan keputusan.
Pelaksanaan pemerataan kesejahteraan.
3. Macam-Macam Sistem Ekonomi
Secara umum ada tiga macam sistem ekonomi yang dikenal di dunia ini, yakni : Sistem ekonomi
kapitalis, Sistem ekonomi sosialis, dan Sistem ekonomi campuran.
a. Sistem Ekonomi Kapitalis
Dalam Sanusi, sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem ekonomi dimana kekayaan yang
produktif terutama dimiliki secara pribadi dan produksi terutama dilakukan untuk dijual.
b. Sistem Ekonomi Sosialis
Seperti yang dijelaskan di Dumairy (1996), sistem ekonomi sosialis adalah adanya berbagai
distorasi dalam mekanisme pasar menyebabkan tidak mungkin bekerja secara efisien, dan bahwa
sistem ini bukanlah sistem ekonomi yang tidak memandang penting peranan kapital.
c. Sistem Ekonomi Campuran
Sanus (2000) menjelaskan sistem ekonomi campuran sebagai berikut. Dalam sistem ekonomi
campuran dimana kekuasaan serta kebebasan berjalan secara bersamaan walau dalam kadar yang
berbeda-beda. Ada pula sistem ekonomi campuran dimana peran kekuasaan pemerintah relatif
besar.
4. Persaingan terkendali
Untuk mengetahui sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara, maka perlu dianalisis
kandungan faktor-faktor tersebut diatas.

Sistem ekonomi Indonesia (sistem persaingan terkendali);

Bukan kapitalis dan bukan sosialis. Indoensia mengakui kepemilikan individu terhadap sumber
ekonomi, kecuali sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara
sesuai dengan UUD 45.

Pengakuan terhadap kompetisi antar individu dalam meningkatkan taraf hidup dan antar badan
usaha untuk mencari keuntungan, tapi pemerintah juga mengatur bidang pendidikan,
ketenagakerjaan, persaingan, dan membuka prioritas usaha.

Pengakuan terhadap penerimaan imbalan oleh individu atas prestasi kerja dan badan usaha dalam
mencari keuntungan. Pemerintah mengatur upah kerja minimum dan hukum perburuhan.

Pengelolaan ekonomi tidak sepenuhnya percaya kepada pasar. Pemerintah juga bermain dalam
perekonomian melalui BUMN dan BUMD serta departemen teknis untuk membantu
meningkatkan kemampuan wirausahawan (UKM) dan membantu permodalan.

5. Kadar Kapitalisme dan Sosialisme


Unsur kapitalisme dan sosialisme yang ada dalam sistem ekonomi Indonesia dapat dilihat dari
sudut berikut ini:
a) Pendekatan faktual struktural yakni menelaah peranan pemerintah dalam perekonomian

Pendekatan untuk mengukur kadar campur tangan pemerintah menggunakan kesamaan Agregat
Keynesian.
Y = C + I + G + (X-M)
Y adalah pendatan nasional.

Berdasarkan humus tersebut dapat dilihat peranan pemerintah melalui variable G (pengeluaran
pemerintah) dan I (investasi yang dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh
pemerintah.
Pengukuran kadar pemerintah juga dapat dilihat dari peranan pemerintah secara sektoral terutama
dalam pengaturan bisnis dan penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk
setiap sector usaha.
b) Pendekatan sejarah yakni menelusuri pengorganisasian perekonomian Indoensia dari waktu ke
waktu.
Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi tidak pernah terlalu berat kepada
kapitalisme atau sosialisme.
Percobaan untuk mengikuti sistem kapitalis yang dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan
keterpurukan ekonomi hingg akhir tahun 1959.
Percobaan untuk mengikuti sistem sosialis yang dilakukan oleh Presiden I menghasilkan
keterpurukan ekonomi hiingg akhir tahun 1965.
BAB IV
PENDAPATAN NASIONAL, PERTUMBUHAN, DAN STRUKTUR
EKONOMI
Pendapatan Nasional
Prestasi ekonomi suatu bangsa atau Negara dapat dinilai dengan berbagai ukuran agregat.
Secara umum, prestasi tersebut diukur dengan Pendapatan Nasional . Pendapatan Nasional
adalah suatu kerangka perhitungan yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonomi yang
terjadi atau yang berlangsung didalam perekonomian . Pendapatan Nasional adalah alat ukur
yang digunakan untuk menilai perkembangan ekonomi suatu Negara dari waktu ke waktu . Dapat
juga digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita .

Tujuan dan manfaat perhitungan pendapatan nasional


Tujuan mempelajari pendapatan nasional :
1. Untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu Negara
2. Untuk memperoleh taksiran yang akurat nilai barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat dalam
satu tahun
3. Untuk membantu membuat rencana pelaksanaan program pembangunan yang berjangka.

Manfaat mempelajari pendapatan nasional


1. Mengetahui tentang struktur perekonomian suatu Negara
2. Dapat membandingkan keadaan perekonomian dari waktu ke waktu antar daerah atau antar
propinsi
3. Dapat membandingkan keadaan perekonomian antar Negara
4. Dapat membantu merumuskan kebijakan pemerintah.
Di Indonesia, data mengenai pendapatan nasional dikumpulkan dan dihitung serta disajikan oleh
Biro Pusat Statistik. Untuk menghitung pendapatan nasional suatu Negara diperlukan data Produk
Domesti Bruto (PDB). PDB terbagi menjadi 2 :
PDB atas dasar harga berlaku ( PDB Nominal)
Biasanya digunakan untuk melihat pergeseran dan strutur ekonomi
PDB atas dasar harga konstan (PDB Riil)
Biasanya digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Adapun Metode yang digunakan untukmenghitung pendapatan nasional :

1. Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan
oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu
Rumus : Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ]
2. Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest,
profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode.
Rumus : Y = r + w + i + p

3. Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh
seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu
tahun.
Rumus : Y = C + I + G + (X M)
Pendapatan perkapita
Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara.
Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan
jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB per kapita.
Pendapatan perkapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat
pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur Negara
tersebut.
Rumus Pendapatan perkapita = Jumlah pendapatan Nasional / Jumlah Penduduk

Pendapatan perkapita dan Pertumbuhan pendapatan perkapita


Untuk mendapatkan perkapita suatu tahun tertentu adalah dg cara membagi pendapatan pada tahun
tertentu dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut. Kegunaan perhitungan
1. Membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari masa ke masa.
2. Membandingkan laju perkembangan ekonomi antar berbagai Negara.
3. Melihat berhasil tidaknya pembangunan ekonomi suatu Negara.
Tingkat pendapatan perkapita tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat kesejahteraan dan
tingkat pembangunan suatu Negara KARENA :
1. Kelemahan kelemahan yang bersumber dari ketidak sempurnaan dalam menghitung pendapatan
dan pendapatan perkapita.
2. Kelemahan kelemahan yang bersumber dari kenyataan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
bukan saja ditentukan oleh tingkat pendapatan mereka tetapi juga oleh adanya factor-faktor lain.

Beberapa tolok ukur kesejahteraan non pendapatan Indonesia dalam perbandingan internasional:
1. Harapan Hidup
2. kematian bayi per 1000 kelahiran
3. Jumlah dokter per 1000 penduduk
4. Penduduk dewasa buta aksara
5. Porsi pengeluaran untuk pangan

Tolok ukur kemakmuran apapun pendekatannya serta dari manapun tinjauannya pada
umumnya akan konsisiten. Oleh karena itu meskipun tolok ukur dengan tinjauan pendapatan
bukan satu-satunya tolok ukur ia tetap saja relevan dan paling lazim diterapkan.

Hubungan Pendapatan Nasional, Penduduk dan Pendapatan Perkapita


Pendapatan nasional pada dasarnya merupakan kumpulan pendapatan masyarakat suatu
negara. Tinggi rendahnya pendapatan nasional akan mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan
per kapita negara yang bersangkutan. Akan tetapi, banyak sedikitnya jumlah penduduk pun akan
mempengaruhi jumlah pendapatan per kapita suatu negara.Akan tetapi pendapatan perkapita
bukanlah tolok ukur yang tepat untuk mengukur distribusi pendapatan dan kemiskinan suatu
negara.
BAB V
DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN PEMERATAAN PEMBANGUNAN
KONSEP-KONSEP DISTRIBUS PENDAPATAN
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya
pembagian hasil pembangunan suatu Negara dikalangan penduduknya.
Terdapat berbagai criteria atau tolak ukur untuk menilai kemerataan distribus
dimaksud. Tiga diantaranya lazim yang lazim digunakan ialah:
1. Kurva Lorenz
2. Indeks atau rasio Gini
3. Criteria bank dunia
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi komulatif pendapata
dilapisan pendapatan nasional dikalangan lapisan-lapisan penduduk, secara
komulatif pula. Kurva ini terletak di dalam sebuah bujur sangkar yang isi
tegaknya melambangkan persentasi kumulatif pendapatan nasional, sedang
sisi datarnya mewakili persentase kumulatif penduduk. Kurva sndiri
ditempatkan pada diagonal utama bujur sangkar tersebut. Kurva Lorenz
yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan distribusi
pendapatan nasional yang semakin merata. Sebaliknya, jika kurva Lorenz
semakin jauh dari diagonal maka ia mencerminkan keadaan yang semakin
buruk, distribusi pendapatan nasional semakin timpang dan tidak merata.
Indeks atau rasio Gini adalah suatu koefesien yang berkisar dari
angka 0 sampai 1 menjelaskan kadar kemertaan distribusi pendapatan
nasional. Semakin kecil koefesiennya, pertanda semakin baik atau merata
distribusi. Dipihak lain, koefesien yang kian besar mengisyaratkan yang kian
timpang atau senjang.
Criteria ketidakmerataan versi bank dunia didasarkan pada porsi
pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk yakni 40%
penduduk berpendapatan terendah, 40% penduduk berpendapatan
menengah, 20% penduduk berpendapatan tertinggi. Ketimpangan dan
ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk
berpendapatan terendah menikmati dari 12% pendapatan nasional.
Ketidakmerataan dianggap sedang bila 40% penduduk termiskin menikmati
12 hingga 17% pendapatan nasional. Sedangkan 40% penduduk yang
berpendapatan terendah menikmati lebih dari 17% pendapatan nasional,
maka ketimpangan dan kesenjangan dikatakan lunak, distribusi pendapatan
nasional dianggap cukup merata.
KETIDAK MERATAAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
1. Ketidakmerataan pendapatan nasional
Distribusi atau pembagian pendapatan antarlapis pendapatan
masyarakat dapat ditelaah dengan mengamati perkembangan angka-angka
rasio gini. Koefesien gini itu sendiri, perlu dicatat, bukanlah merupakan
indicator paling ideal tentang ketidakmerataan distribusi pendapatan
antarlapis. Namun setidak-tidaknya ia cukup memberikan gambaran
mengenai kecendrungan umum dalam pola pembagian pendapatan.
2. Ketidak merataan pendapatan spasial.
Ketidakmerataan distribus antarlapisan masyarakat bukan saja
berlangsung secara nasional. Akan tetapi hal itu dapat terjadi secara spasial.
Di Indonesia pembagian pendapatan relative lebih merata didaerah pedesaan
daripada di daerah perkotaan. Dibandingkan rasio gini antara desa dan kota
untuk tahun-tahun yang sama, koefesien lebih rendah untuk daerah
pedesaan.
3. Ketidakmerataan pendapatan regional
Secara regional atau antarwilayah, berlangsung pula ketidakmerataan
distribusi pendapatan antarlaisan masyarakat. Bukan hanya itu, diantara
wilayah-wilayah di Indonesia bahkan terdapat ketidakmerataan tingkat
pendapatan itu sendiri. Jadi dalam perspektif antarwilayah, ketidakmerataan
terjadi baik dalam hal tingkat pendapatan masyarakat antar wilayah yang
satu dengan yang lain, maupun dalam hal distribusi pendapatan dikalangan
penduduk masing-masing wilayah.

Ketimpangan pembangunan
Ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia secara makro
dipengaruhi oleh adanyakesenjangan dalam alokasi sumber daya;
sumberdaya manusia,, fisik, teknologi dan capital.Setiap daerah memiliki
karakteristik yang berbeda didalam menghadapi isu
ketimpanganpembangunan. Indonesia bagian barat menjadi primadona
pembangunan ekonomi Indonesiasejak pemerintahan orde baru dimulai,
terlebih sebelum era desentralisasi diterapkan diIndonesia. Sementara
sebaliknya, untuk wilayah Indonesia Timur, banyak mengalamiketertinggalan
diberbagai sector pembangunan.Salah satu dampak sosial yang terjadi akibat
kesenjangan atau ketimpangan pembangunanekonomi dalah adanya
kemiskinan diberbagai sektor. Kemiskinan menjadi problem kolektif bangsa
Indonesia. Berbagai program dan strategi mengentaskan kemiskinan juga
telah banyakdilakukan oleh pemerintah; mulai dari penguatan kualitas
sumberdaya manusia, pembukaanlapangan pekerjaan, eksplorasi sumberdaya
alam dan penyediaan program padat karya. Tulisanini secara global akan
memotret dua persoalan besar yang melanda dan menjadi problembersama
semua daerah.Dalam sebuah negara pasti tidak akan terlepas dari aktivitas-
aktivitas perekonomian. Aktivitasperekonomian ini terjadi dalam setiap bentuk
aktivitas kehidupan dan terjadi pada semuakalangan masyarakat, baik
masyarakat menengah ke bawah maupun pada masyarakat kalanganatas.
Dalam pelaksanaannya, perekonomian selalu menimbulkan permasalahan.
Terlebih lagidalam pelaksanaannya di sebuah negara yang sedang
berkembang. Begitu juga denganIndonesia yang merupakan negara
kepulauan terbesar di dunia. Permasalahan perekonomianyang dihadapi
bangsa ini sangat kompleks karena letak antara pulau satu dengan pulau
yanglainnya sangat berjauhan.

Kesenjangan social
Dalam subbab 5.2.2 didepan telah dipaparkan bahwa ketimpangan social
dalam distribusi pendapatan. Ketimpangan antar daerah ditanah air dapat
pula diungkapkan melalui berbagai variable selain pendaatan, bahkan variable
nonekonomi.
Dilihat berdasarkan berbagai indicator, terlihat masih terjadi
kesenjangan kesejahteraan antara masyarkat desa dan kota. Bahkan untuk
beberapa variable, sekalipun skor kesejahteraannya mengisyaratkan adanya
perbaikan itu cukup mencolok. Persentase penduduk berusia 10 tahun keatas
yang melek huruf lebih besar dikota daripada di desa. Keadaan bayi dan anak-
anak dikota lebih baik daripada temen-teman mereka yang tinggal didesa.
Kelayakan orang di kota jauh lebih baik dari pada mereka yang tinggal di desa
begitu seterusnya.
Mengapa timpang ?
Ada dua factor yang diungkapkan untuk menerangkan mengapa
ketimpangan pembangunan dan ahsil-hasilnya dapat terjadi. Pertama adalah
ketidak sejahteraan anugerah awal antara pelaku-pelaku ekonomi, dan yang
kedua adalah strategi pembangunan dalam era PJP I lebih bertumpu pada
aspek pertumbuhan.
BAB VI
PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN
Variabel-variabel kependudukan Indonesia
Menurut penaksiran yang pertama kali tentang jumlah penduduk
Indonesia pada tahun 1815. Itu pun sebatas penduduk yang ada di pulau
jawa, yang kala itu ditaksir berjumlah 4,5 juta jiwa. Akan hal jumlah penduduk
seluruh Indonesia, perkiraan yang cukup layak dipercaya barulah diadakan
sensus penduduk tahun 1930. Saat itu jumlah penduduk Indonesia ditaksir
berjumlah 60,73 juta jiwa, 41,82 juta jiwa atau sekitar 68,86% merupakan
jumlah penduduk pulau jawa. Penduduk Indonesia terus tumbuh dengan laju
sekitar 2% rata-rata pertahun. Pada pertengahan tahun 1993 penduduk
Indonesia sudah berjumlah sekitar 187 juta jiwa. Dengan jumlah ini Indonesia
sudah menempati urutan keempat Negara berpenduduk terbesar di dunia
sesudah RRC, india, dan amerika serikat. Pada tahun 2000 penduduk
Indonesia diperkirakan 205-206 juta jiwa.

Karakteristik kependuduka Indonesia


Sampai akhir repelita VI komposisi penduduk Indonesia menurut jenis
kelamin di perkiraka masih sama tidak terjadi perubaha, jumlah perempuan
masih lebih banyak dari pada laki-laki. Angka rata-rata harapan hidup
meningkat dari 26,7 tahun pada akhir pelita V menjadi 64,6 tahun pada
repelita VI yang akan datang.

Penduduk Muda dan Penduduk Tua

Pengelompokkan penduduk menurut umur dapat digunakan untuk


mengetahui apakah penduduk di suatu wilayah termasuk berstruktur umur
muda atau tua. Penduduk suatu wilayah dianggap penduduk muda apabila
penduduk usia dibawah 15 tahun mencapai sebesar 40 persen atau lebih dari
jumlah seluruh penduduk. Sebaliknya penduduk disebut penduduk tua apabila
jumlah penduduk usia 65 tahun keatas diatas 10 persen dari total penduduk.

Suatu bangsa yang mempunyai karakteristik penduduk muda akan


mempunyai beban besar dalam investasi sosial untuk pemenuhan kebutuhan
pelayanan dasar bagi anak-anak dibawah 15 tahun ini. Dalam hal ini
pemerintah harus membangun sarana dan prasarana pelayanan dasar mulai
dari perawatan Ibu hamil dan kelahiran bayi, bidan dan tenaga kesehatan
lainnya, sarana untuk tumbuh kembang anak termasuk penyediaan imunisasi,
penyediaan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar termasuk guru-guru dan
sarana sekolah yang lain.

Sebaliknya bangsa dengan ciri penduduk tua akan mengalami beban yang
cukup besar dalam pembayaran pensiun, perawatan kesehatan fisik dan
kejiwaan lanjut usia (lansia), pengaturan tempat tinggal dan lain lain.
Penduduk Indonesia belum dianggap sebagai penduduk tua karena persen
penduduk diatas 65 tahun masih kecil, namun karena jumlah penduduk yang
besar, maka jumlah orang tua juga cukup besar untuk memperoleh perhatian
dari pemerintah pusat maupun lokal.

Ketenagakerjaan

Konsep dan difinisi

Tenaga kerja dipilih pula dalam dua kelompok yaitu angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Yang termasuk angkatan kerja adalah tanaga kerja atau
penduduk dalam usia kerja yang bekerja atau mempunyai pekerjaan untuk
sementara sedang tidak bekerja, dan mencari pekerjaan. Sedangkan yang
bukan termasuk angkatan kerja adalah tenaga kerja atau penduduk dalam
usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak
mencari pekerjaan; yakni orang-orang yang kegiatannya bersekolah.

Angkatan kerja Indonesia

sekitar tiga seperepmat penduduk Indonesia termasuk dalam batas usia


kerja. Dengan kata lain seperempat penduduk Indonesia termasuk sebagai
tenaga kerja karena belum berumur 10 tahun. Tahun 1993 jumlah tengan
kerja tercatat sebesar 143,8 juta orang. Angkatan kerja hanyalah sekitar 55-
60%. Pertumbuhan jumlah tenaga kerja lebih tinggi dari pada pertumbuhan
jumlah penduduk secara keselurhan. Hal itu disebabkan karena struktur
penduduk menurut umur, hingga saat ini masih di dominasi oleh penduduk
berusia muda.

Tingkat partisipasi angkatan kerja dan pengangguran

Rasio antara angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja dikenal dengan istilah Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang notabene merupakan besarnya jumlah penduduk masuk
dalam pasar kerja. TPAK pada tahun 2009 sebesar 68,86 persen, dimana laki-laki mempunyai
TPAK yang lebih besar daripada perempuan yaitu 85,93 dibandingkan 50,68.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) Tahun 2009
Pada tahun 2009, tingkat pengangguran terbuka menunjukkan angka 4,20 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki (4,45 persen) lebih tinggi dibandingkan dengan TPT
perempuan yakni sebesar 3,76 persen.
Lapangan dan tingkat upah

Lapangan, status, dan jenis pekerjaan

Lapangan pekerjaan utama bagi penduduk Indonesia masih berada di sector


pertanian. Sampai tahun 1994. Separuh dari jumlah pekerja menyandarkan
diri sebagai sumber nafkah utama. Sector perdanganagan menempati urutan
kedua dengan jumlah masing-masing 15,79 dan 13,345 pekerjaan, ada pun
sector industry menyerap sekitar 11,09% pekerja, berada di urutan berikutnya
pada tahun 1994, proporsi pekerja perempuan di sector pertanian di pedesaan
tidak jauh berbeda dengan laki-laki. Sedangkan di daerah kota bertani banyak
dilakukan oleh laki-laki. Pekerja dikota mengandalkan hidupnya disektor
pertanian hanya 10,22%, sedangkan di pedesaan mencapai 66%. Angka-
angka ini jelas menyiratkan ketimpangan sektoral dalam daya serap pekerja.

Jam kerja

Menilai apakah seseorang menganggur atau tidak semata-mata tergantung


berdasarkan apakah mereka mempunyai pekerjaan atau tidak, sekiranya
kuranglah memadai. Pendekatan semacam itu mengabaikan pemanfaatan
tenaga yang bersangkutan. Seseorang tergolong tidak menganggur karena
ia mempunyai pekerjaan atau mempunyai pekerjaan. Akan tetapi jika dalam
bekerja itu tenaganya tidak termanfaatkan secara optimal, berarti ia bekerja
tidak dalam kapasitas penuh, maka sesungguhnya ia setengah menganggur
atau menganggur secara terselubung. Oleh karena itu, jam kerja yang
dicurahkan perlu turut dipertimbangkan.

BAB VII

PERDAGANGAN DAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL

Konsep dan unsur-unsur neraca pembayaran internasional (NPI) adalah


semua transaksi yang dilakukan negara dengan negara lain (barang, jasa, dan
dana) dicatat secara sistematis dalam neraca pembayaran internasional
Hubungan ekonomi antar negara dapat dilakukan berupa :
1. Antar negara
2. Antar penduduk
3. Antar swasta
4. Antar badan hokum
Unsure neraca pembayaran nasional dibagi menjadi tiga
1. Neraca perdagangan
2. Transaksi berjalan
3. Neraca modal
Struktur dan unsure neraca perdaganagn internasional
A. 1. Barang transaksi berjalan
a. Eksport
b. Import
2. Jasa-jasa
a. Terima
b. Bayar
B. Lalu lintas modal dan neraca modal
1. Pemerintah masuk-keluar
2. Swasta masuk-keluar
C. Special drawing right (SDR)
D. Selisih perhitungan terjadi jika ada transaksi yang tidak terdeteksi tapi
menimbulkan arus kas kedalam dan keluar.
E. Lalu lintas modern dan cadanagn devisa

Konstalasi perdagangan dunia dapat dibebankan oleh:


a. Factor ekonomi
b. Factor politik
Tahun 1970 an
a. Embargo minyak barang-barang arab (perang arab israel)
b. Kekalahan perang Amerika vs Vietnam
c. Krisis minyak dunia
Tahun 1980 an
a. Realisasi kurs mata uang negara-negara eropa
b. Proteksi negara-negara industry kelesuan perdaganagan internasional
c. Perang dagang jepang vs amerika
Tahun 1990 an
a. Ekonomi dunia mulai pulih tumbuhnya kepercayaan negara-negara maju
untuk melakukan investasi di negara-negara berkembang (asia-afrika)
b. Kepercayaan terhadap investasi di negara eropa mengalami penurunan
c. Krisis terhadap anggaran belanjan negara.
GATT 1994 dan kesiapan Indonesia :
Berangkaa dari:
1. Proteksionisme masing-masing negara terhadap barang-barang import
2. Regionalisasi perdagangan dunia
Lahirnya GATT
1. Uruguay (September 1986)
2. Genewa-Swis (1993)
3. Maroko 1994

Melalui
a. Penurunan tarif
b. Subsidi eksport
c. Proteksi baru anti dumping dsbgnya.
Tanggal 15 desember 1993 di Genewa-Swis dicapai kesepakatan
Tanggal 15 april 1994 di merakesh (maroko) 125 negara menandatangani
kesepakatan resmi berdiri WTO.
Kebijakan-kebijakan
Kebjakan neraca pembayaran dalam negeri :
1. Kebijakan fiscal tax (pajak)
a. Progresif = semakin naik pendapatan maka pajak juga naik
b. Proportional (sebanding) = jika pendapatan naaik 10%, pajak naik 10%
c. Degresif = jika pajak naik, pajak turun
2. Kebijakan Moneter
a. Jumlah uang beredar (JUB)inflasi S > D, deflasi S < D
b. Open market operation
Politik pasar terbuka panen dolog / membeli gabah
Fungsi dolog = mengendalikan harga
c. Rate of interest (R) : mengatur demand an supply berupa investasi dan
mempunyai instrument dalam sector riil.
Asumsi dasar
a. Laju inflasi
b. Tingkat suku bunga
c. Nilai paritas antara valuta negara industry maju
Kebijakan perdagangan luar negeri
1. Peningkatan daya saing
2. Perluasan pasar efesiensi, perbaikan mutu produksi dsb
3. Difersifikasi produk penyempurnaan sarana dan prasarana (promosi,
jejaring informasi, dsb)
Kebijakan investasi asing
1. Deregulasi
2. Debirokratisasi
3. Desentralisasi paket 23 oktober 1993
Pinjaman luar negeri .sebagai suplemen dengan persyaratan
1. Pinjman lunak
2. Tidak terkait dengan unsure politik
3. Bersifat jangka panjang
DSR (debt service ratio) = jumlah pelunasan utang / nilai eksport
Otonomi daerah
UU No. 27/1999
UU No. 33/2004

Pertimbanagan keuanagan pusat dan daerah


a. Dana alokasi umum (DAU)
b. Dana alokasi khusus (DAK)
Kebijakan nilai tukar devisa
Indonesia menganut :
1. Nilai tukar mengambang-terkendali (manunggal-floating exchanger)
2. Devisa bersifat bebas (arus masuk devisa dan arus keluar)
Sasaran rencana pembagunan jangka panjang meliputi :
1. Penekanan debt service ratio (DSR) : pemerintah
2. Penekanan debt service ratio (DSR) : swasta secara sistematis.

BAB VIII
PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT
Prilaku konsumsi masyarakat
Pertumbuhan konsumsi masyaraka Indonesia rata-rata 6,5% petahun
selam masa dasawarsa 1970 an. Angka ini sama 1% lebih rendah dari
pertumbuhan rata-rata pengeluaran konsumsi masyarakat Malaysia untuk
kurun waktu yang sama. Akan tetapi lebih tinggi dari india dan RRC, masing-
masing 2,9 dan 4,9%; bahaka juga dibandingkan pertumbuhan konsumsi
masyarakat AS (3,1%) dan jepang 4,7%. Dalam periode 1980-1993
pengeluaran konsumsi masyarakat Indonesia 4,4%pertahun lebih rendah dari
cina dan Malaysia namun lebih tinggi dari AS dan jepang. Angka-angka ini
beralasan untuk menjelaskan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia
memiliki kemandirian yang cukup untuk menumbuhkan perekonomiannya.
Pola konsumsi masyarakat
Pola konsumsi dapat dikenali berdasarkan alokasi penggunaanya.
Pengeluaran rata-rata perkapita orang Indonesia sebesar Rp.43.565,00 setiap
bulan pada tahun 1993, menurut harga yang berlaku. Diantaranya sebesar
Rp.24.772,00 atau 56,86% merupakan pengeluaran konsumsi makanan.
Bersrti lebih dari separuh habis untuk makan, termasuk minum dan merokok.
Pengeluarahn rata-rata masyarakat kota dua kali lebih besar dari masyarakat
desa. Alokasi penggunaannya juga sangat berbeda, pengeluaran rata-rata
penduduk desa tiap bulan hanya Rp.33.385,00 perkapita, sebesar
Rp.21.228,00 atau 63,,585 untuk makanan. Sedangkan masyarakat kota Rp
64.063,00, yang digunakan untuk makan rata-rata hanya Rp 31.908,00 atau
49,81%. Orang desa dan orang kota tidak hanya berbeda dalah hal besar
pengeluaran, tap juga dalam pola konsumsi. Angka-angka perbandingan ini,
sekali lagi, mengesahkan adanya ketimpanagan tingkat kemakmuran antara
penduduk desa dan kota.
Dimensi ketimpangan pengeluaran konsumsi
Melalui perbandingan-perandingan perilaku dan pola konsumsi masyarakat, telah disingkap
adanya kesenjangan antara masyarakat perdesaan dan masyarakat perkotaan. Pengeluaran
konsumsi masyarakat dapat pula difungsikan untuk mendeteksi ketimpangan kemakmuran antar
lapisan masyarakat, sebab sebagaimana diketahui kesenjangan kemakmuran dapat diukur baik
dengan pendekatan pendapatan maupun pendekatan pengeluaran.
Dengan mengelompokan distribusi pengeluaran masyarakat ke dalam persepuluhan atau desil
(decile) dapat diketahui ketimpangan pengeluaran penduduk. Selanjutnya, bisa pula dihitung
indeks atau rasio gini masyarakat yang bersangkutan secara keseluruhan sebagai satu totalitas.
Disamping, berdimensi spasial atau antar daerah yakni antara daerah perdesaan dan daerah
perkotaan, perbedaan atau ketimpangan pengeluaran konsumsi masyarakat juga terjadi dalam
dimensi antar lapisan pengeluaran itu sendiri. Terdapat pula diskrepansi pengeluaran konsumsi
yang berdimensi regional atau antar wilayah, yakni antara propinsi yang satu dan propinsi lain di
tanah air
Pola konsumsi masyarakat berbeda antarlapisan pengeluaran. Terdapat kecenderungan umum
bahwa semakin rendah kelas pengeluaran masyarakat semakin dominan alokasi belanjanya untuk
pangan. Di lain pihak, kian tinggi kelas pengeluarannya kian tinggi besar pula proporsi belanjanya
untuk konsumsi bukan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi juga berbeda. Semakin rendah
kelas pengeluaran, cenderung semakin dominan jenis padi-padian umbi-umbian yang dikonsumsi.
Dalam kelompok pengeluaran untuk non-makanan, terjadi gejala sebaliknya. Semakin tinggi
pengeluarannya semakin besar proporsinya secara umum, dan secara spesifik untuk berbagai Janis
pengeluaran non-makanan tertentu.
- banyaknya intensitas/kebutuhan konsumen
masyarakat kota cenderung memiliki lebih banyak keinginan untuk dipenuhi dibanding masy. desa
Tabungan Masyarakat
Tabungan adalah bagian dari pendapatan dapat dibelanjakan
(disposable income) yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Ini merupakan
tabungan masyarakat. Tabungan pemerintah adalah selisih positif antara
penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Kedua macam tabungan ini
membentuk tabungan nasional, merupakan sumber dana investasi.
Kendati pada dasarnya semua sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi adalah
tabungan, namun tidak seluruhnya merupakan tabungan sebagaimana yang
dikonsepsikan dalam makro ekonomi. Hanya bagian yang dititipkan pada
lembaga perbankan sajalah yang dapat dinyatakan sebagai tabungan, karena
secara makro dapat disalurkan sebagai dana investasi. Sisa pendapatan tidak
dikonsumsi yang disimpan sendiri (istilah umumnya celengan) tidak tergolong
sebagai tabungan.
Perkiraan jumlah tabungan masyarakat Indonesia memang tidak ditaksir
melalui cara sebagaimana diusulkan tadi. Biro Pusat Statistik menaksirnya
melalui selisih antara tabungan nasional dan tabungan pemerintah. Yang
terakhir ini relative lebih gampang dihitung mengingat catatan
administratifnya cukup tersedia. Angka tabungan nasional sendiri merupakan
hasil penaksiran pula, yaitu PDB dikurangi Nilai Konsumsi Akhir Sektor Rumah
Tangga dan Sektor Pemerintah, ditambah Pendapatan Netto Faktor Produksi
terhadap Luar Negeri. Jadi, karena kesulitan teknis penafsiran, metodologi
perhitungannya dibalik. Bukannya tabungan masyarakat ditambah tabungan
pemerintah menghasilkan tabungan nasional, melainkan tabungan nasional
dikurangi tabungan pemerintah menghasilkan tabungan masyarakat.
Kepraktisan metodologis semacam ini tentu saja merupakan kelemahannya.
Tabungan masyarakat bersama-sama tabungan pemerintah dan dana dari luar
negeri merupakan sumber pembiayaan investasi. Dalam rangka
menggalakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, tabungan
masyarakat senantiasa diupayakan untuk terus meningkat.
Fungsi Konsumsi Dan Fungsi Tabungan
Dalam teori makro ekonomidikenal berbagai variasi model fungsi konsumsi.
Fungsi konsumsi yang paling dikenal dan sangat lazim digunakan dalam
perhitungan-perhitungan makro ekonomi, yaitu fungsi konsumsi Keynesian.
John Maynard Keynes menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat
tergantung pada (berbanding lurus dengan) tingkat pendapatannya. James S.
Duesenberry mengusulkan model lain. Berkaitan dengan hipotesisnya
tentangpendapatan relative, ia berpendapat tingkat pendapatan yang
mempengaruhi pengeluaran konsumsi masyarakat bukan tingkat pendapatan
efektif, maksudnya pendapatan rutin yang secara factual diterima, tapi oleh
tingkat pendapatan relative. Milton Friedman mengajukan model pendapatan
yang menentukan besar kecilnya konsumsi adalah tingkat pendapatan
permanen. Tentu saja, selain tingkat pendapatan sebagai variable pengaruh
utama, terdapat kemungkinan beberapa variable lain turut mempengaruhi
besar kecil pengeluaran konsumsi masyarakat.
Dari sudut tinjauan kebaikan suai (goodness of fit) model ini cukup memadai.
Model ini mengandung korelasi serial (otokorelasi) negative.
Fungsi tabungan dipengaruhi oleh empat factor atau variable. Keempat factor
atau variable tersebut yaitu pendapatan, suku bunga, inflasi, dan penerimaan
ekspor. Model ini tidak otokorelatif.
BAB IX
INVESTASI
PERKEMBANGAN DA SASARAN UMUM INVESTASI
Semenjak diberlakukannya Undang-undang No.1/Tahun 1967 .No.11/Tahun 1997 tentang
PMA dan undang-undang no.6/Tahun 1968 no 12/tahu 1970 tentang PMDN,investasi cendrung
terus meningkan dari waktu ke waktu.Walaupun demikian,pada tahun-tahun tertentu sempat juga
terjadi penurunan.Kecendrungan peningkatan bukan hanya berlangsung pada investasi oleh
kalangan masyarakat atau sektro swasta,baik PMDN maupun PMA, namaun juga penanaman
modal oleh pemerintah.Ini berarti pembetukan modal domestik bruto meningkat dari tahun ke
tahun.

Penanaman modal oleh dunia usaha meningkat pesat terutama dalam dasawarsa 1980-an
sesudah pemerintah meluncurkan sebuah paket kebijksanaan deregulasi dan debirokratisasi.Dalam
dasawarsa 1970-an bagian terbesar penanaman modal negri berasal dari sektor
pemerintah.Keadaan tersebut sekarang terbalik.Selama paruh pertawa dasawarsa 1990-an sebagian
besar investasi domestik berasal dari dunia usaha dan masyarakat.Investasi oleh pemerintah sendiri
juga tetap bertambah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana serta
pelayanan dan dasar lainnya

Dalam pembiayaan pembangunan sepanjang PJP 1 telah terjadi peningkatan pesat


investasi.Apabila pada awal PJP 1 nilai investasi total (diukur dengan harga konstan tahun 1983)
baru mencapai angkka Rp 3,7 Triliun,pada tahun 1992 nilai itu sudah mencapai bilangan Rp 34,7
Triliun.Itu berarti setiap tahun investasi naik dengan lanju rata rata sekitar 10 persen.Sepanjang
kurun waktu itu peranan sektor swasta dalam keseluruhan investasi nasional sangat fluktuatif.Pada
masa sepuluh tahun pertama,maksudnya tahun 1970-an,peranan investasi swasta mengalami
penurunan seirung engan meningkatnya pesat investasi pemerintah.Pada masa sewindu
berikutnya,periode awal 1980-an hingga tahun1987,sejalan dengan merosotnya penerimaan
pemerintah dari sekto minyak bumi serta membekaknya pembayaran utang luar negri,peranan
investasi pemerintah menurun.Sebaliknya,peranan investasi swasta meningkat,kemudian,sejajar
dengan membaiknya lagi penerimaan pemerintah namun kali ini berkat kenaikan pesat penerimaan
pajak,peranan investasi pemerintah pun meningkat kembali sehingga kontribusi relatif investasi
swasta sedikit menurun.

Perkembangan investasi sepanjan PJP I bahkan melebihi pertumbuhan produks


nasional.Rasio investasi terhadap produksi nasional melonjak cukup berarti,dari semula 18 persen
kemudian 30,5 persen.lonjakan rasio ini merupakan pertanda kenaikan kapasitas produksi
nasional.Semua itu dimungkinkan berkat kenaikan dalam sumberr pembiayaannya,baik dari
tabungan dalam negri maupun dari dana luar negri.Tabungan domestik meningkat dengan laju rata
rata 12,6 persen per tahun.Peranan tabungan domestik dalam pembiayaan investasi telah
meningkat dari 82 persen pada Pelita I Menjadi sekitar 91 persen pada pelita V.

Disektor investasi swasta,selama periode 1 januari 1967 hingga 15 juli 1994 secara
kumulatif telah disetujui sebanyak 8703 proyek PMDN dengan nilai total Rp275.413,7
Miliar.Dalam kurun waktu yang sama jumlah PMA yang disetujui sebanyak 2.907 proyek dengan
nilai total US$83.945,6 juta.Namun dari jumlah jumlah yg disetujui itu,realisasi kumulatif hanya
5649 proyek PMDN dengan nilai total 82,949 persen.Sedangkan realisasi kumulatif PMA hana
1649 proyek (56,72 persen) dengan nilai total US$26.742 juta (31,86 persen).Mayoritas Investasi
oleh pihak swasta tertanam disekto sekunder atau sektor industri pengolahan (manufacturing),baik
PMDN maupun PMA,baik dilihat berdasarkan jumlah proyek maupun berdasarkan nilai
investasinya

Dilihat secara regional,sebagian besar proyek-proyek PMDN dan PMA berlokasi di


wilayan Propinsi Jawa Barat dan DKI jakarta,baik tatkalah persetujuannya diterbitkan maupun
sesudah proyek proyek itu diwujudkan.Dalam perbandingan antar pulau,63,3 persen nilai MDN
terkonsentrasi di Pulau Jawa.Proporsi nilai PMA yang menumpuk dipulau ini lebih besar
lagi,67,5persen(Angka-angka dihitung berdasarkan data persetujuan kumulatif sampai dengan 15
juli 1994).Khusus mengenai PMA,nilai investasi terbesar berasal dari Jepang.Para investor dari
negri matahari terbit ini menguasai sekitar seperlima nilai PMA di Indonesia,termasuk nilai
proyek-proyek patungannya dengan beberapa negara.

Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam mencerahkan iklim investasinya di masa


datang,baik secara internal di dalam negri sendiri maupun secara eksternal dari negara lain.Di
dalam negri,tantanagn itu antara lain masih belum memadainya ketersedian sarana dan prasarana
perekonomian yang berupa barang barang publik.Sementara keuangan pemerintah justru harus
dikelola lebih efisien,kalangan swasta biasanya enggan atau tidak tertarik untuk menanam modal
bagi penyediaan barang publik.

Berdampingan dengan tantanan-tantangan yang dihadapi,tentu saja terdapat berbagai


peluang yang kita miliki.Peluang tersebut misalnya kemantapan situasi politik di tanah
air,perkembangan mengesankan dalam kualitas sumberdaya manusia,keterbukaan perekonimian
kita serta keberhasilan pembangunan selama ini yang tentu saja merupakan kredibilitas
tersendiri.Di tengah tantagan dan peluang-peluang itulah pemrintah mencanagkan target-target
tertemtu untuk investasi di masa datang.
Pembentukan Modal Domestik Bruto
Untuk mendapatkan gambaran mengenai perkembangan investasi dari waktu ke waktu, ada
tiga macam cara yang bisa dilakukan. Pertama, dengan menyoroti kontribusi pembentukan modal
domestik bruto dalam konteks permintaan agregat, yakni melihat sumbangan dan perkembangan
variabel I dalam identitas pendapatan nasional Y = C + I + G + X-M. Data I merupakan data
keseluruhan investasi domestik secara bruto, baik investasi oleh swasta (PMDN dan PMA)
maupun oleh pemerintah. Cara kedua ialah dengan mengamati data-data PMDN dan PMA. Berarti
kita hanya mengamati investasi oleh kalangan dunia usaha swasta saja. Cara ketiga ialah dengan
menelaah pekembangan dana investasi yang disalurkan oleh dunia perbankan.
Investasi swasta PMDN dan PMA
Ketimpangan Investasi
Situasi penanaman modal di tanah air, sebagaimana halnya keadaan ekonomi Indonesia
pada umumnya, tak luput dari gejala ketidakmerataan. Ketimpangan investasi terjadi secara
sektoral dan secara regional. Secara sektoral, sebagian besar modal yang ditanam baik modal
dalam negeri maupun modal asing tertumpuk di sektor industri pengolahan. Ketimpangan sektoral
investasi tak pelak merupakan salah satu sumber ketimpangan pertumbuhan antarsektor. Secara
regional, baik investasi domestik maupun investasi asing menumpuk di kawasan tengah Indonesia.
Kebijaksanaan Investasi

Pada tahun-tahun awal pemerintahannya, rezim orde baru menerbitkan dua undang-undang
berkenaan dengan investasi, yaitu Undang Undang No. 1 /Tahun 1967 tentang penanaman modal
asing (PMA) dan Undang Undang No. 6 /Tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri
(PMDN). Pemerintah sengaja lebih dahulu membuat UU tentang modal asing dengan persyaratan
yang amat ringan mengingat pada saat itu investasi diperlukan sekali untuk membantu
memulihkan perekonomian dalam negeri yang porak-poranda. Dalam UU No. 1 /Tahun 1967
antara lain ditetapkan:

1. Penanam modal dibebaskan dari pajak deviden serta pajak perusahaan selama lima tahun.

2. Jaminan tidak akan dinasionalisasikannya perusahaan-perusahaan asing dan kalaupun


dinasionalisasi akan diganti rugi.

3. Masa operasional PMA adalah 30 tahun dengan perpanjangannya tergantung pada hasil
perundingan ulang.

4. Keleluasaan bagi penanam modal asing untuk membawa serta atau memilih personil
manajemennya dan untuk menggunakan tenaga ahli asing bagi pekerjaan-pekerjaan yang
belum bisa ditangani oleh tenaga-tenaga Indonesia.

5. Kebebasan untuk mentransfer dalam bentuk uang semula (valuta asing).

6. Sektor-sektor atau bidang usaha yang dinyatakan tertutup bagi modal asing, yaitu
pekerjaan umum (seperti pelabuhan dan pembangkit tenaga listrik), media massa,
pengangkutan, prasarana serta segala industri yang berhubungan dengan kegiatan produksi
untuk keperluan pertahanan negara.

Deregulasi Investasi

Peraturan pemerintah No. 17/Tahun 1992 mengatur antara lain:

1. Investasi asing dapat mendirikan perusahaan patungan dengan ketentuan modal minimal
US$ 1 juta dan 20% sahamnya dimiliki oleh mitra Indonesia. Tapi dalam 20 tahun setelah
berproduksi pangsa modal Indonesia harus ditingkatkan menjadi sekurang-kurangnya 51%.

2. Pembukaan kesempatan penanam modal asing 100% bersyarat. Adapun syaratnya ialah
modal minimal US$ 50 juta dan berlokasi di kawasan timur Indonesia, Bengkulu atau
Jambi, atau berlokasi di kawasan berikat dengan hasil produksi seluruhnya untuk ekspor.

Peraturan pemerintah No. 20/Tahun 1994 memperlunak lagi ketentuan tentang penanaman
modal asing 100%. Empat hal mengenai PMA 100% di atur ulang disitu: perihal permodalan,
lokasi usaha, kegiatan usaha, dan izin usaha.

Besarnya modal investasi diserahkan sepenuhnya kepada investor yang bersangkutan.

PMA 100% leluasa untuk menjalankan usaha di mana saja di seluruh Indonesia.

PMA patungan (maksudnya bukan PMA langsung 100%) diizinkan memasuki kegiatan
usaha yang tergolong penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak.

Perusahaan yang didirikan dalam rangka PMA diberi izin usaha selama 30 tahun sejak
produksi komersial.
Demikianlah dinamika kebijaksanaan investasi di Indonesia. Apabila diperhatikan dengan
seksama, terkesan pemerintah berada di persimpangan jalan yang sulit. Peraturan-peraturan begitu
mudah dan cepat berganti. Dapat dipastikan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dalam bidang
penanam modal masih akan berluncuran.

BAB X
PENGELUARAN PEMERINTAH
Pengeluaran Pemerintah

Identitas keseimbangan pendapatan nasional Y = C + I + G merupakan pandangan kaum


Keynesian akan relevansi campur tangan Pemerintah dalam perekonomian tertutup. Formula ini
dikenal sebagai identitas pendapatan nasional. Y merupakan pendapatan nasional, C merupakan
pengeluaran konsumsi, dan G merupakan Pengeluaran Pemerintah. Dengan membandingkan nilai
G terhadap Y serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi
Pengeluaran Pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional (Dumairy,1997).

Intervensi pemerintah dan fungsi ekonomi Indonesia


Dalam kancah perekonomian modern peranan pemerintah terdiri dari :
1. Fungsi alokatif peranan pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya
ekonomi yang ada dalam pemanfaatannya bisa optimal dan bisa mendukung
efisiensi produksi
Contoh : barang private dan barang public
2. Fungsi distributive peranan pemerintah dalam mendistribusikan sumber
daya. Kesempatan dan hasil-hasil ekonomi secara adil dan wajar
Contoh : ketidakmerataan sumber daya ekonomi dan kesempatam
3. Fungsi stabilitatif fungsi pemerintah dalam menstabilisasi perekonomian dan
memulihkan jika berada dalam keadaan equilibrium
Contoh : inflasi, tingkat bunga, tingkat upah dst.
4. Fungsi dinamisatif peran pemerintah dalam menggerakkan proses
pembangunan ekonomi, agar lebih cepat tumbuh, berkembang, dan maju.
Dasar teori pengeluaran pemerintah
Lima alasan Adolph wagner pengeluaran pemerintah selalu meningkat :
1. Tuntutan alasan pelindungan keamanan dan pertahanan.
2. Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat
3. Urbanisasi yang mengikuti pertumbuhan ekonomi
4. Perkembanagan demokrasi
5. Inefisiensi pelaksanaan demokrasi
Pengeluaran Pemerintah Indonesia
Pengeluaran Pemerintah dapat dikategorikan ke dalam berbagai jenis pengeluaran.
Pertama, rincian belanja negara menurutt organisasi disesuaikan dengan susunan
kementrian negara/lembaga pemerintah pusat. Belanja pemerintah pusat menurut
organisasi dipengaruhi oleh perkembangan susunan kementrian lembaga,perkembangan
jumlah bagian anggaran (BA), dan perubahan nomenklatur atau pemisahan suatu unit
organisasi dari organisasi induk,atau penggabungan organisasi. Belanja pemerintah pusat
menurut organisasi secara garis besar terdiri dari dua bagian anggaran umum, yaitu
(i) Bagian Anggaran Kementrian/Lembaga (K/L),dan
(ii) BA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (APP).
Bagian anggaran kementrian/lembaga merupakan bagian anggaran belanja pemerintah pusat yang
dikelola oleh kementrian/lembaga dalam rangka pelaksanaan program-program pemerintah yang
telah digariskan dalam rencana kerja pemerintah (RKP). Sementara itu,BA APP merupakan bagian
anggaran belanja emerintah pusat yang dikelola oleh menteri keuangan selaku bendahara umum
negara,dalam rangka peaksanaan kegiatan-kegiatan yang tidak dilaksanakan K/L,seperti
pembayaran pensiun dan pembayaran bunga utang,sementara rincian belanja daerah menrut
organisasi disesuaikan dengan susunan perangkat daerah/lembaga tekhnis daerah .

Kedua,rincian belanja negara/daerah menurut fungsi,antara lain terdiri atas pellayanan


umum,pertahanan,ketertiban dan keamanan,ekonomi,lingkungan hidup,perumahan dan
fasilitas umum,kesehatan,pariwisata,budaya,agama,pendidikan dan perlindungan sosial.
Pada dasarnya, belanja pemerintah pusat menurut fungsi dapat menggambarkan
a. besarnya alokasi anggaran padaprogram-program dalam fungsi pada K/L atau menteri keuangan
selaku bendahara umum negara
b. banyaknya K/L yang menjalankan program-program dalam fungsi yang bersangkutan.

Ketiga, rincian belanja negara/daerah menurut jenis belanja (sifat ekonomi),antara lain
terdiri atas belanja pegawai,belanja barang,belanja modal,bunga,subsidi,hibah,bantuan
sosial,dan belanja lain-lain.
Menurut Badan Pusat Statistik dari sumber Departemen Keuangan RI,jumlah pengeluaran negara
tahun 2011 berjumlah 823,627 jumlah ini merupakan perolehan dari berbagai pengeluaran dari
uraian diatas.dan rinciannya yaitu, (dalam Milyaran Rupiah)
*Belanja Pegawai 180,624
*Belanja Barang 131,533
*Belanja Modal 121,659
*Pembayaran Bunga Utang 116,403
*Subsidi 184,817
*Belanja Hibah 771
*Bantuan Sosial 61,526
*Belanja Lain-Lain 26,294

Setiap tahun tingkat pengeluaran negara semakin tinggi,ini belum sebanding dengan kesejahteraan
rakyat dimana masih banyak sekali rakyat yang mengalami kemiskinan,diharapkan pemerintah
mampu membangun negara yang berkembang ini menjadi negara maju dengan jumlah kemiskinan
yang minim. Karena setiap pengeluaran yang ada bahkan tinggi haruslah diikuti dengan hasil yang
lebih baik.

Tiga neraca pemerintahan pusat


Neraca Modal
Merupakan bagian dari neraca pembayaran yang mencerminkan perubahan-perubahan dalam
kepemilikan aset jangka pendek dan jangka panjang (seperti saham, obligasi dan real estate) suatu
negara, Yang meliputi
a. Arus modal keluar tercatat sebagai debit karena suatu Negara membeli asset berharga dari pihak
asing (luar negeri).
b. Transaksi-transaksi neraca modal diklasifikasi sebagai investasi portfolio, langsung atau jangka
pendek.
Untuk dapat membeli aset luar negeri diperlukan valuta asing, dengan demikian arus modal neto
menggambarkan demand terhadap valuta asing. Nilai valuta asing ditentukan oleh demand valas
untuk membeli barang-barang dan jasa dan demand terhadap valas untuk membeli aset. Neraca
Modal adalah ukuran investasi jangka pendek dan jangka panjang suatu negara, termasuk investasi
langsung luar negeri dan investasi dalam sekuritas.