Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR COLUM FEMUR

LAPORAN INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Profesi Ners Departemen Surgical
di Ruang Operasi RS. Panti Nirmala

Oleh :
YEPY HESTI RIANI
NIM 115070207131007

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Definisi Fraktur Colum Femur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang
utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang
ditentukan jenis dan luasnya trauma.

Fraktur adalah pemecahan suatu bagian khususnya tulang, pecahan atau ruptur
pada tulang.

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. (Smeltzer dan Bare,2001)

Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang disebabkan
oleh trauma langsung, kelemahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti
degenerasi tulang atau osteoporosisi. (Muttakin, 2005:98)
Collum Femur adalah tempat yang paling sering terkena pada manula sebagian

besar adalah wanita berusia 60 Th keatas dan kaitannya dengan osteoporosis


demikian nyata sehingga insidensi fraktur columna femur digunakan sebagai ukuran
osteoporosis yang berkaitan dengan umur dalam pengkajian dalam kependudukan.
Namun hal ini bukan semata mata akibat penuaan, fraktur cenderung cendrung
terjadi pada penderita osteopenia diatas rata rata, banyak diantaranya mengalami
kelainan yang menyebabkan kehilangan dan kelemahan jaringan tulang misalnya
osteomalacia, diabetes militus, stroke, alkoholisme, dan penyakit kronis lain.

Anatomi dan Biomekanik Hip Joint

Hip joint merupakan sendi yang arah gerakannya sangat luas atau yang biasa
disebut dengan Ball and Socked joint. Hip joint juga bagian terpenting dalam
pembentuk postur seseorang dan berperan penting dalam setiap aktivitas terutama
dalam berjalan. Hip joint ini terbentuk atas beberapa tulang, ligamen, dan otot
dimana kesemuanya itu saling berhubungan dan saling menguatkan.
Beberapa tulang pembentuk hip joint :
1. Acetabulum
Acetabulum merupakan pertemuan antara os ilium, os ischium, dan os pubis
yang bertugas sebagai mangkuk sendi. Dilapisi hyalin cartilage dan tertutup lagi
acetabulum labrium yang merupakan fibro cartilage, keduanya tebal ditepi dan tipis
di center
2. Os Femur
Pada bagian Os femur terdapat dua bagian yang sangat terkait dalam
pergerakan sendi Hip Joint, bagian itu adalah :
a. Caput femur
Caput femur merupakan tulang yang berbentuk setengah bola dilapisi hyalin
cartilage, kedistal sebagai collum femoris (sering fraktur), kedistal terdapat
trochanter mayor dan minor, selanjutnya kedistal sebagai (shaff of) femur.
b. Collum Femur
Collum femur merupakan processus tulang yang berbentuk piramidal yang
menghubungkan corpus dengan caput femur dan membentuk sudut pada
bagian medial. Sudut terbesar terjadi pada saat bayi dan akan berkurang
seiring dengan pertumbuhan, sehingga pada saat pubertas akan membentuk
suatu kurva pada aksis corpus kurva. Pada saat usia dewasa, collum femur
membentuk

sudut

sebesar

1250

dan

bervariasi

tergantung

pada

perkembangan pelvis wanita lebih besar.


Ligamen
Ada beberapa ligament pembentuk hip joint, dimana ligamen-ligament ini
sangat kuat sebagai penyambung antara acetabulum dan caput femur. Ada lima
ligament terkuat pada hip joint, antara lain :
1. Ligamentum Capitis Femoris
Ligament ini diliputi oleh membran sinovial yang terbentang dari fosa
acetabuli dimana terdapat bantalan lemak menuju ke caput femoris, selain

itu ligament ini mengandung arteria yang menuju caput femoris yang datang
dari r.acetabuli arteria abturatoria. Caput femoris disuplai oleh A circumfleksa
medialis dan A circumfleksa lateralis.
2. Ligamentum Pubofemoral
Berasal dari crista obturatoria dan membrana obturatoria yang berdekatan.
Ligament ini memamcar kedalam capsula articularis zona orbicularis pada
khususnya melanjukan diri melalui jalan ini ke femoris.
3. Tranverse Acetabulum Ligament
Ligament ini berfungsi menjembatani incisura acerabuli dan seluruh
permukaan caput femoris.
4. Iliofemoral Ligament
Berasal dari spina iliaca anterior inferior dan pinggiran acetabulum serta
membentang ke linea intertrochanterica. Ligament ini mempunyai daya
rengang sebesar 350 kg.
5. Ischiofemoral Ligament
Berasal dari ischium di bawah dan berjalan hampir horizontal melewati
collum femoris menuju ke perlekatan pars lateralis ligament iliofemoral.
Ligamnet ini mencegah rotasi medial paha.
Osteokinematik Hip Joint
Hip merupakan sendi Ball and Socked joint sehingga gerakan sendinya sangat
luas kesegala arah, adapun gerakan yang terjadi pada hip joint adalah :
1. Fleksi
Otot penggerak utamanya adalah :
a. Iliacus :
Origonya : Superior 2/3 dari fossa iliaca crest, anterior crest, anterior
sacroiliaca, dan iliolumbal ligament, ala of sacrum.
Insersionya : tendon dari psoas major, dan body of femur
b. Psoas mayor :
Origo : sides of vertebral bodies dan conesponding intervertebralis disc of
T12-L5 dan procesus transversus dari L1-L5.
Insersio : Leser trochanter of femur
Sedangkan otot lain yang berhubungan dengan gerak fleksi adalah
c. Sartorius :

Origo : anterior superior iliac spine, upper aspec of iliac notch


Insersio : Proksimal aspec of medial surface tibia
2. ekstensi
a. Gluteus Maksimus
Origo : Posterior gluteal line of ilium, iliac crest, dorsum of sacrum dan cocyx,
saerotuberous ligament
Insersio : iliotibial tract, gluteal tuberositas femur

Semitendinosus :
Origo : ishial tuberositas
Insersio : Proksimal aspect of medial surface tibia

Semimembrannosus
Origo : ischial tuberositas
Insersio : Medial condilus tibia

Biceps Femoris :
Origo : Ischial tuberositas, lateral tip of linea aspec femur dan lateral
intermuscular septum
Insersio : Lateral aspect of head fibula

3. Abduksi

Gluteus medius
Origo : outer surface ilium antara dan posterior dan anterior gluteal lines
Insersio : Greater trohanter femur

Gluteal Minimus :
Origo : outer surface ilium antara anterior dan posterior gluteal lines
Insersio : greater trohanter femur
Sedangkan otot lain yang berhubungan dengan gerakan ini adalah :

Tensor Facia Latae


Origo : anterior superior iliac spine, anterior aspect of auterlip ofiliac crest
Insertio: illiotibial tractus aproximately 1/3 dwon the tight

4. Adduksi
Adductor Magnus
Origo : inferior rami of pubis dan ischium ischial tuberosity
Insertio:a line fro great trochanter

to linea aspera femur,linea aspera

,adductor tubercole ,medil supra condilare line of femur


Adductor longus

Origo : Anterior aspec of pubis


Insersio : Linea aspera along middle 1/3 femur
Adductor brevis
Origo : Inferior ramus of pubis
Insersio : line lesser trohanter to linea aspera, upper portion of linea aspera
Pectineus
Origo : pectineal line of pubis
Insersio : Line from lesser trohanter to linea aspera
Gracilis
Origo : Body and ramus of pubis
Insersio : proksimal aspecct of medial surface tibia
5. Medial rotasi
Tensor facia latae
Gluteaus minimus
Gluteus medius
6. Lateral rotasi
Piriformis
Origo : anterior suface sacrum, sacrotuberous ligament
Insersio : Freater trohanter femur
Gemellus superior
Origo : iscial tuberositas
Insersio : Greater trohanter femur
Obturator internus :
Origo : Obturatory membran dan forament, inner surface of pelvis, inferior
rami of pubis dan ischium
Insersio : greater trohanter femur
Obturator Eksternus :
Origo : rami of pubis dan ischium, outer surface of obturatory membran
Insersio : Greater trohanter femur
Quadrratus femoris
Origo : ischial tubrosity
Insersio : quadrate tuberosity femur

Klasifikasi Fraktur Femur

Fraktur Femur
Fraktur collum femur
a. Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) fraktur femur yang terjadi di
dalam tulang sendi, panggul dan kapsula.
b. Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur) adalah Terjadi di luar
sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih

kecil /pada daerah intertrokhanter.


Fraktur subtrochanter femur adalah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm
distal dari trochanter minor.
fraktur batang femur (anak anak)
fraktur supracondyler femur
fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke
posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot
gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma
langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus

atau varus dan disertai gaya rotasi.


fraktur intercondylair
biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga

umumnya terjadi bentuk t fraktur atau y fraktur.


fraktur condyler femur
mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi
disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

Gambaran Klinis Fraktur collum femur


Biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul. Tungkai pasien
terletak pada posisi eksternal rotasi dan kaki tampak pendek. Tetapi, hati-hati, tidak
semua fraktur pinggul sedemikian jelas. Pada fraktur yang terinpaksi pasien mungkin
masih dapat berjalan, dan pasien yang sangat lemah atau cacat mental tidak
mengeluh sekali pun mengalami fraktur bilateral.
Manifestasi Klinik Fraktur Secara Umum
Beberapa tanda yang patut dicurigai pada pasien dengan fraktur antara lain
a. Tanda Pasti
C : Crepitus (krepitasi)
F : False movement/sendi palsu
D : Deformity
b. Tanda Tidak Pasti
P : Pain

S :Swelling
B : Bruising (memar)
Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan,
dan kelainan bentuk.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
dimobilisasi.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian- bagian yang tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau
tungkai menyebabkan deformitas (terlihat ataupun teraba) ekstremitas yang
bisa diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5- 5 cm (1- 2 inchi).
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan , teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus, yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

Etiologi Fraktur
Smeltzer dan Bare (2001) membagi penyebab fraktur menjadi tiga.
1. Cidera Traumatik.
Dapat disebabkan oleh:
- Cidera langsung dimana terjadi pukulan langsung pada tulang,
-

sehingga tulang patah secara spontan.


Cidera tidak langsung berarti pukulan berada jauh dari lokasi benturan.
Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot

yang kuat.
2. Fraktur Patologik
Fraktur ini disebabkan oleh suatu penyakit. Diantaranya adalah tumor
tulang (ganas dan jinak), infeksi seperti osteomielitis, rakhitis serta lainnya.
3. Secara Spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus, misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas kemiliteran.

Sumber lain mengatakan penyebab fraktur ada dua, yaitu


Trauma langsung : fraktur yg terjadi karena mendapat rudapaksa, misalnya
benturan

atau

pukulan

yang

berakibat

patah

tulang.

Trauma tidak langsung : bila fraktur terjadi,bag.tulang mendapat rudapaksa


dan berakibat fraktur lain disekitar bagian yg mendapatvrudapaksa tersebut
dan juga karena penyakit primer.
Patah tulang paling sering disebabkan oleh trauma, terutama pada
anak-anak dan dewasa muda. Fraktur patologis sering pada orang tua yang
mengidap osteoporosis atau penderita tumor, infeksi, atau penyakit lain.
(Eizabeth, J. Cowin: 2000)
Menurut Reeves (2001), fraktur lebih cenderung terjadi pada laki-laki,
biasanya pada umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan
olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan
bermotor. Pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur
daripada laki-laki hal ini berhubungan dengan meningkatnya insiden
osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon menopouse.
Mekanisme cidera Fraktur collum femur
Cidera sering terjadi akibat jatuh (atau pukulan) pada trohanter mayor. Atau kaki
wanita manula tersandung karpet dan pinggulnya terpuntir kearah ekstensi rotasi.
Beberapa pasien mempunyai riwayat terkena fraktur compresi colum femur dimasa
lalu.
Sekali mengalami fraktur, caput dan colum bergeser kestadium yang semakin
berat (Garden, 1961). Stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terinfeksi.
Stadium II adalah fraktur lengkap tapi tidak bergeser. Stadium III adalah fraktur
lengkap dengan pergeseran sedang. Dan Stadium IV adalah fraktur berubah dengan
cepat menjadi stadium IV.

Patologi Fraktur collum femur


Caput femoris mendapat persendiaan darah dari tiga sumber (1) pembuluh
intermedula pada colum femur. (2) Pembuluh cervical asendens pada retikulum
capsular, dan (3) pembuluh darah pada ligamentum capitis femoris. Pasokan
intramedula selalu tergantung oleh fraktur, pembuluh retinakular juga dapat robek,

kalau terdapat banyak pergeseran. Pada manula pasokan yang tersisa dalam
ligamentum teres sangat kecil dan, pada 20% kasus tidak ada. Itulah yang
menyebabkan tingginya insidensi cecrosis avaskuler pada fraktur colum femur yang
disertai dislokasi.
Fraktur transcervical, menurut definisi, bersifat intracapsular. Fraktur ini
penyembuhannya

buruk karena (1) robekan pembuluh capsul, cidera itu

melenyapkanpersendian darah utama pada caput, (2) tulang intraarticular hanya


mempunyai periosteum yang tipis dan tak ada kontak dengan jaringan lunak yang
dapat membantu pembentukan callus, dan (3) cairan sinovial mencegah
pembentukan hematome akibat fraktur itu. Karena itu ketetapan aposisi dan infaksi
fragmen tulang menjadi lebih penting dari biasanya. Terdapat bukti bahwa aspirasi
hemartrosis dapat meningkatkan aliran darah dalam caput femoris dengan
mengurangi temponade (Harper, Barnes and Gregg, 1991).
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan fraktur dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
a. Penatalaksanaan Kadaruratan
1. Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan, bingung, tidak menyadari
adanya fraktur, dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah. Maka bila
dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segera
sebelum pasien dipindahkan.

2. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum
dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga di atas dan di bawah
tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi.

3. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan


lunak, dan perdarahan lebih lanjut.

4. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan
menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang
memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh
fragmen tulang.

5. Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan


bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang.

6. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan


membebat kedua tungkat bersama, dengan ekstremitas yang sehat bertindak
sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ekstremitas atau

lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung
pada sling.

7. Peredaran didistal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi


jaringan perifer.

8. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengah pembalut bersih (steril) untuk
mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan
reduksi fraktur, bahkan ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah
bidai sesuai yang diterangkan di atas.

9. Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian


dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan
kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada
sisi cedera. Ekstremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut.
b. Perawatan Pasien dengan Fraktur Terbuka atau Fraktur Tertutup
Perawatan pada pasien fraktur meliputi prinsip 4 R, yaitu rekognisi,
reduksi, retensi, dan rehabilitasi.
1. Rekognisis/Pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan
selanjutnya.
2. Reduksi/Manipulasi/Reposisi
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula
secara optimun. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah
mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasfanatomis
(Smeltzer dan Bare, 2002). Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat
dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat
fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap, sama. Biasanya dokter
melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak
kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera
sudah mulai mengalami penyembuhan. Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur,
pasien harus dipersiapkan untuk menjalani prosedur; harus diperoleh izin untuk
melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu
dilakukan anastesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani dengan
lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
i.
Reduksi tertutup.
Pada kebanyakan kasus, reduksi
mengembalikan
berhubungan)

fragmen
dengan

tulang

manipulasi

tertutup

keposisinya
dan

traksi

dilakukan

(ujung-ujungnya
manual.

dengan
saling

Ekstremitas

dipertahankan dalam posisi yang diinginkan, sementara gips, bidai dan alat
lain dipasang oleh dokter. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan
menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus
dilakukan
ii.

untuk

mengetahui

apakah

fragmen

tulang

telah

dalam

kesejajaran yang benar.


Traksi.
Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imoblisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. Sinar-x
digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen
tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat pembentukan kalus pada
sinar-x. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang gips atau bidai untuk

iii.

melanjutkan imobilisasi.
Reduksi Terbuka.
Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan
bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin,
kawat, sekrup, plat paku, atau batangan logam digunakan untuk
mempertahankan fragmen tulang dalam posisnya sampai penyembuhan
tulang yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakkan di sisi tulang atau
langsung ke rongga sumsum tulang (Gbr. 64-3); alat tersebut menjaga

aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.


3. Retensi/Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimun.
i.
Imobilisasi fraktur.
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau
dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi
kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat
digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk
mengimobilisasi fraktur.
4. Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi.

Segala upaya

diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi
harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (mis. pengkajian
peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi
diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan, ansietas
dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis. meyakinkan,
perubahan posisi, strategi peredaan nyeri, termasuk analgetika).

Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi


disuse dan meningkatkan peredaran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup
sehari-hari diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga-diri.
Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan
terapeutika. Biasanya, fiksasi interna memungkinkan mobilisasi lebih awal. Ahli
bedah yang memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur, menentukan luasnya
gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan, dan menentukan
tingkat aktivitas dan beban berat badan.

Prinsip 4 R diatas merupakan penatalaksanaan pada pasien fraktur


secara menyeluruh dan untuk semua jenis fraktur. Berikut penetalaksanaan
spesifiknya.
1. Perawatan Pasien Fraktur Tertutup
i. Pasien dengan fraktur tertutup (sederhana) harus diusahakan untuk
kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur
dan

pengembalian

kekuatan

penuh

dan

mobilitas

mungkin

ii.

mernerlukah waktu sampai berbulan-bulan.


Pasien diajari bagaima menngontrol pembengkakan dan nyeri

iii.

sehubungan dengan fraktur dan trauma jaringan lunak.


Mereka didorong untuk aktif dalam batas imobilisasi fraktur. Tirah

iv.

baring diusahakan seminimal mungkin.


Latihan segera dimulai untuk mempertahankan kesehatan otot yang
sehat dan untuk meningkatkan kekuatan otot yang dibutuhkan untu
pemindahan dan untuk menggunakan alat bantu (mis. tongkat,

v.

walker).
Pasien diajari mengenai bagaimana menggunakan alat tersebut

vi.

dengan aman.
Perencanaan dilakukan untuk membantu pasien menyesuaikan
lingkungan rumahnya sesuai kebutuhan dan bantuan keamanan

vii.

pribadi, bila perlu.


Pengajaran pasien meliputi perawatan diri, informasi obat-obatan,
pemantauan

kemungkinan

profesional

masalah

dan

perlunya

melanjutkan supervisi perawatan kesehatan.


2. Perawatan Pasien Fraktur Terbuka
Merupakan kasus emergensi dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri
dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period).
Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan pembersihan luka, hecting
situasi, eksisi, dan pemberian antibiotic. Pada fraktur terbuka (yang

berhubungan dengan luka terbuka memanjang sampai permukaan kulit


dan daerah cedera tulang) terdapat resiko infeksi osteomielitis, gas
gangren dan tetanus.
Tujuan penangan meminimalkan kemungkinan infeksi luka, jaringan
lunak dan tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan
tulang. Berikut adalah perawatannya :
i.

Pasien dibawa ke urangan operasi, dimana luka dibersihkan,

ii.

didebridemen (benda asing dan jaringan mati diangkat dan irigasi.


Dilakukan usapan luka untuk biakan dan kepekaan. Fragmen tulang
mati biasanya diangkat. dan diirigasi. Dilakukan, usapan luka untuk

iii.

biakan dan kepekaan.


Fragmen tulang mati biasanya diangkat. Mungkin perlu dilakulan graft
tulang untuk menjembatani defek, namun harus yakin bahwa jaringan

iv.

resipien masih sehat dan mampu memfasilitasi penyatuan.


Fraktur direduksi dengan hati-hati dan distabilisasi dengan fiksasi
eksterna. Setiap kerusakan pada pembuluh darah, jaringan Iunak.

v.
vi.
vii.

otot, saraf, dan tendo diperbaiki.


Ekstremitas, ditinggikan untuk meminimalkan terjadinya edema.
Status neurovaskuler dikaji sesering mungkin.
Suhu tubuh pasien diperiksa dengan interval teratur, dan pasien

viii.

dipantau mengenai adana tanda infeksi.


Penutupan primer mungkin tak dapat dicapai karena adanya edema
potensial iskemia cairan luka yang tak dapat keluar dan infeksi

ix.

anaerob.
Luka yang sangat terkontaminasi sebaikhya tidak dijahit, dibalut
dengan pembalut steril, dan tidak ditutup sampai ketahuan bahwa

x.

daerah tersebut tidak mengalami infeksi.


Profilaksis tetanus diberikan Biasanya, diberikan antibiotika intravena

xi.

untuk mencegah atau menangani infeksi serius.


Luka ditutup dengan jahitan atau graft atau flap kulit autogen pada
hari ke-5 sampai ke-7.

c. Proses Penyembuhan Tulang


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.
Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan
jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru
dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang,
yaitu:

1. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma


Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak
dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini
berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2. Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro
kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow
yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus
masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast
beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari
terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang
yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai
selesai, tergantung frakturnya.
3. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan
osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh
kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi
sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur
dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal
dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi
lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4
minggu setelah fraktur menyatu.
4. Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan
memungkinkan

osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis

fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang


tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang
lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk
membawa beban yang normal.
5. Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.
Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang
oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus.
Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih

tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk,


dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. (Black, J.M,
et al, 1993 dan Apley, A.Graham,1993)
Lamanya proses penyembuhan untuk tiap tulang berbeda, tergantung
dengan ketebalan dan besarnya tulang secara relative, serta macamnya
tulang :
1. Fraktur cruris

: 8 minggu

2. Fraktur femur

: 10 minggu

3. Ante brachii

: 4 minggu

4. Brachii dan humerus : 6 Minggu


d. Factor yang Mempengaruhi Penyembuhan Fraktur
Reduksi. fragmen tulang yang bergeser harus benar-benar akurat dan
dipertahankan dengan sempuma agar penyembuhan benar-benar lerjadi.
Tulang yang terkena harus mempunyai peredaran darah yang rnemadai. Usia
pasien dan jenis fraktur juga berpengaruh pada waktu penyembuhan. Secara
umum, patah pada tulang pipih (pelvis, skapula) sembuh cukup cepat. Patah
pada ujung tulang panjang, di mana tulang lebih vaskuler (pertengahan
batang tulang panjang). Pembebanan berat badan akan merangsang
penyembuhan pada fraktur panjang yang telah stabil pada ekstremitas
bawah. Selain itu, aktivitas akan meminimalkan terjadinya osteoporosis yang
berhubungan dengan aktivitas (reduksi masa total, menghasilkan tulang
porotik dan rapuh akibat ketidakseimbangan homeostasis, pergantian tulang).
Bila penyembuhan fraktur terhambat, waktu penyatuan tulang
mengalami keterlambatan atau berhenti total. Faktor yang dapat menghambat
penyembuban meliputi asupan darah yang tak memadai ke tempat fraktur
atau jaringan sekitarnya, jarak antara fragmen tulang yang ekstensif,
imobilisasi tulang yang tidak memadai, infeksi, komplikasi dari penanganan,
dan kelainin metabolisme.
Penyembuhan dipengaruhi oleh : (berhubungan dengan proses
menua)
1. Nutrisi adekuat
2. Kalsium

3. Posfor
4. Protein
5. Vitamin D
6. Penyakit sistemik penyakit pada vaskuler menurunkan suplai
darah pada saat penyembuhan.
7. Penurunan estrogen

Austin-moore Prothesis
Definisi Austin-Moore Prothesis
Austin Moore Prothesis adalah operasi dengan mengganti atau memindahkan
hanya satu dari permukaan sendi dengan bentuk yang sama, sedangkan pada
fraktur collum femur yang diganti adalah caput femur. Dengan cara memasukkan
batang protese kedalam saluran tulang sumsum (medularycanal) dari tulang femur,
biasanya juga menggunakan semen sebagai fiksasi sehingga permukaan sendi
yang normal tidak terganggu.

Indikasi Pemasangan Austin-Moore Prothesis


1.

Kondisi Lokal
a. Trauma akut seperti: Fraktur sub capital
b. Trauma terdahulu (fraktur, dislokasi yang tidak direduksi atau reposisi )
c. Infeksi arthritis (Pyogenic)
d. Artritis seperti remathoid dan osteoartrosis
e. Tuberculosis sendi Hip
f. Tumor Jaringan lunak sebagaimana atau menyeluruh

Indikasi yang mutlak seperti :


a. Kekakuan kedua sendi Hip
b. Keterbatasan salah satu fungsi tungkai karena nyeri dan kaku pada
sebagaimana atau seluruh sendi (multiple stiff Joint)
Kondisi Umum
Luasnya nyeri, gerak dan keterbatasan fungsi atau mungkin ketiganya dan salah
satunya menjadi pertimbangan operasi.
Kontra Indikasi Operasi Austin-Moore Prothese
Sepsis yang tersembunyi atau laten adalah kontra indikasi utama terhadap
pergantian sendi. Arthroplasti yang terinfeksi merupakan bencana. Pasien dibawah
usia 60 Tahun dipertimbangkan hanya kalau operasi lain tidak dapat dilakukan.
Tata Pelaksanaan Operasi Austin-Moore Prothesis
1. Letak sayatan (incision)
2. anterolateral : antara tensor fasia latae gluteus
3. Posterolateral : melalui bagian belakang kapsul
4. Lateral : dengan charnley mendekati trocahnter mayor memotong dan fiksasi
dengan wire
5. Caput femur dipindahkan dan diganti dengan protese
6. Fiksasi dengan semen atau jiak keseluruhan tulang telah tanpa menggunakan
semen, tapi dengan press-fit fiksasi.

Komplikasi Post Operasi Austin-Moore Prosthesis


1.Dislokasi
Posisi terpenting yang sering terjadi dislokasi tergantung sayatan operasi :
a. Anterolateral dan lateral : Hip dislokasi apabila ekstensi berlebihan, eksternal
rotasi dan adduksi atau kombinasi dari ketiganya.
b. Posterolateral : Hip dislokasi apabila fleksi berlebihan, internal rotasi dan
adduksi atau kombinasi dari ketiganya.
2. Pembendungan (wear)
Bahan yang dapat menyebabkan pembendungan adalah bahan pits dan
holes atau penggalan dari runtuhan serpihan dari bahan dengan pengulangan
beban pada permukaan.
3. Trombus Vena
Banyak kasus program prophylactic warfirin atau aspirin memberikan resiko
penggumpalan vena.
4. Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada bagian distal sampai dengan ujung bawah
batang protese atau pada bagian bawah dari batang dapat menonjol keluar
melalui dinding lateral dari femur.
5. Nyeri pada Post Operasi.
Nyeri dapat terjadi pada daerah yang telah dilakukan operasi yang timbul
karena adanya bekas luka sayatan operasi.
6. Kegagalan
Pada operasi total Hip replacement yang dilakukan 0,5 1 % mengalami
kegagalan (Dandy 1993). Penyebab dari ini adalah kehilangan (loosening) atau
karena infeksi dalam (deep infection).
7. Infeksi
Infeksi dapat terjadi pada tiap saat setelah operasi dilakukan, walaupun
operasi telah mendapatkan penanganan (pencegahan dini untuk mencegah
agar infeksi tidak terjadi). Infeksi sekunder dapat menyerang bagian tubuh
yang telah ataubekas di operasi.
8. Oedema
Oedema dapat terjadi pada saat setelah operasi dilakukan, karena adanya
bekas luka sayatan operasi yang dapat menyebabkan terganggunya sirkulasi
darah.

9. Kekuatan Otot
Biasanya terjadi karena bagian hip yang dioperasi jarang sekali digerakan
sehingga otot yang berada disekitarnya menjadi tidak berkontraksi atau
beraktifitas jika terus didiamkan akan mengakibatkan atropi dan kekuatan dari
otot tersebut menjadi berkurang.
Komplikasi Fraktur
Komplikasi fraktur dibedakan menjadi komplikasi awal dan lambat.
1. Komplikasi awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar,
dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi
splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan
dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel
lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah
dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea,
demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan
plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali
dengan adanya Volkmans Ischemia.

f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas

kapiler

yang

bisa

menyebabkan

menurunnya

oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.


2. Komplikasi lambat
a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi

dan

memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9


bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis.
Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai

dengan

meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).


Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC


Doenges et all. 1991. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta : EGC
Grace, Pierce A & Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah edisi 3. Jakarta :
Erlangga

Lukman, Nurma Ningsih. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Musculoskeletal. Salemba Medika : Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
NANDA International. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011. Jakarta : EGC
Reksoprodjo, Soolarto (Ed). 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Cetakan 1 Bagian
Ilmu Bedah FKUI / RSCM. Jakarta: Binarupa Aksara
Sjamsuhidayat R & Wim de Wong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta :
EGC
Smeltzer C.S & Bare Brenda. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth, Alih bahasa, Agung Waluyo, (et.all). Editor edisi bahasa Indonesia,
Monica Ester. Ed. 8. Jakarta : EGC