Anda di halaman 1dari 16

Perbandingan Filsafat Barat dan Islam ( Nor Rahman Khasani )

I. PENDAHULUAN
Filsafat pertama muncul di Yunani kira-kira abad ke 7 SM.
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi
tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar
mereka. Orang yang mula-mula sekali menggunakan akal
secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (624546 SM), orang inilah yang digelari Bapak Filsafat.[1] Filosoffilosof Yunani berikutnya yang populer ialah: Sokrates, Plato
dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan
Aristoteles adalah murid Plato. Ada sebagian yang mengatakan
bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah komentar-komentar
karya Plato. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat
besar pada sejarah filsafat.
Banyak pendapat bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada
juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada
lagi yang berpendapat asal mula filsafat dari gabungan
keduanya. Filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari filsafat
Yunani kuno sebagai awal munculnya sejarah perkembangan
filsafat. Filsafat Islam memiliki kisah tersendiri dalam sejarah
perkembangannya, dan filsafat Barat juga memiliki riwayat
yang berbeda dalam perjalanan sejarah mereka.
Pemikiran yang mendalam untuk mencari kebenaran
merupakan hakekat dari filsafat, maka filsafat sangat perlu
untuk dipelajari agar dapat memahami persoalan pemikiran
yang sedang berkembang. Studi filsafat dapat membantu
dalam membangun keyakinan keagamaan berdasarkan
kematangan intelektualitas. Filsafat dapat mendukung
kepercayaan keagamaan seseorang, asal kepercayaan tersebut
tidak bergantung pada konsepsi pra ilmiah yang usang, sempit
dan dogmatis. [2]
Tokoh filsafat Islam maupun filsafat Barat memiliki peran besar
dalam mempengaruhi perkembangan peradaban dan ilmu
pengetahuan berikutnya. Maka hal ini sangat perlu untuk
mempelajari tokoh-tokoh keduanya sekaligus membandingkan
untuk memahami buah pemikirannya. Menurut Zubaidi tokoh

filsafat Barat antara lain Rene Descartes, David Hume, Imanuel


Kant, Hegel, dan lain-lain.[3] Kemudian Harun Nasution
mengatakan bahwa filosof Islam yang pertama muncul di abad
ke-9 M adalah Al-Kindi, ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan lainlain. [4] Dalam makalah ini akan di bahas perbandingan antara
filsasafat Barat dan filsafat Islam dan pemikirannya

II. PEMBAHASAN
A. Konsep-konsep Filsafat
Filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan
kata Yunani, bahkan memang asalnya dari kata Yunani yaitu,
philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan
kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya
cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu
berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya
kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam.
Definisinya, filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang
berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya dari segala
sesuatu berdasarkan pikiran belaka. [5]
Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang
berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat
adalah ilmu yang mencari kebenaran pertama, segala yang
maujud dan ilmu segala yang ada yang menunjukkan adanya
penggerak pertama.[6]
Bagi Al-Farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud
bagaimana hakikat yang sebenarnya. Al-Kindi berpendapat
filsafat merupakan pengetahuan tentang hakekat segala

sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah), ilmu


tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
[7] Ibnu Sina mengaitkan filsafat dan kesempurnaan diri:
filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia melalui
pengkonsepsian hal ihwal dan penimbangan kebenarankebenaran teoritis dan praktis dalam batas-batas kemampuan
manusia. [8]
Dari berbagai keterangan di atas bisa dikatakan bahwa
"filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena
kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, untuk mencari
hakekat kebenaran sesuatu, baik dalam logika, etika maupun
metafisik. Untuk itu studi falsafi mutlak diperlukan logika
berpikir dan logika bahasa. Hal itu membuat filasafat menjadi
sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di
samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan
couriousity 'ketertarikan'
B. Filsafat Barat
Mempelajari filsafat barat tidak lepas dari arah pembicaraan
filsafat secara histories, yaitu kajian yang ditinjau dari sejarah.
Ini dapat dilakukan dengan cara membicarakan tokoh demi
tokoh menurut kedudukannya, maupun pokok-pokok pikiran
dan ajarannya. Mempelajari filsafat barat dapat pula dengan
membagi periode sejarah filsafat menjadi tiga bagian yaitu,
filsafat kuno (ancient philosophy), filsafat abad pertengahan
(middle philosophy) dan filsafat abad modern (modern
philosophy).
Ada tiga hal penting dalam kajian manusia sebagai bagian dari
peradaban filsafat yaitu, indera, akal, dan hati. Yang dimaksud
akal di sini adalah akal yang logis dan rasional, sedangkan hati
adalah rasa. Akal itulah yang menghasilkan filsafat, sedangkan
hati menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut
pengetahuan mistik; iman termasuk di sini. Perseteruan antara
akal dan hati, rasio dan iman antara filsafat dan agama selalu
melatarbelakangi perkembangan budaya manusia hingga
sekarang. Namun secara umum ciri filsafat Yunani adalah
rasionalisme.[9]

Zaman Yunani Kuno


Zaman Yunani Kuno di pandang sebagai zaman keemasan
Filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya.[10] Tokoh-tokohnya
yang populer antara lain Thales, Phytagoras, Socrates,
Democritus, Plato, Aristoteles.
Pada masa awal Thales dan beberapa kawannya, akal mulai
menonjol dominasinya. Filsafat Thales belum sepenuhnya akal,
di dalam argumennya masih terlihat adanya pengaruh
kepercayaan ada mithos Yunani. Phytagoras dalam
argumennya tentang angka-angka juga belum murni akal,
ordonya yang pantang beberapa jenis makanan merupakan
indikator bahwa dia masih dipengaruhi oleh kepercayaan dalam
berfilsafat.
Pada zaman ini manusia adalah ukuran kebenaran, dan semua
kebenaran bersifat relatif. Maka hal ini berakibat timbulnya
kekacauan, yaitu kekacauan kebenaran. Tidak adanya ukuran
yang dapat berlaku umum tentang kebenaran, merupakan
penyebab kekacauan. Akibatnya semua teori sains diragukan,
semua akidah dan kaidah agama dicurigai sehingga manusia
zaman itu telah hidup tanpa pegangan, kemudian munculah
Socrates.
Misi Socrates menghentikan pemikiran yang menganggap
bahwa semua kebenaran itu relatif dengan cara meyakinkan
orang Athena terutama para filosof dan hakim sofis bahwa
tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum, yaitu
kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang. Inilah
pengertian umum yang merupakan temuan Socrates
terpenting. Plato, murid Socrates memperkuat pendapat
gurunya; kebenaran umum memang ada, namanya idea. Idea
itu telah ada sebelum manusia ada; ia ada di dalam idea.
Aristoteles juga berpendapat demikian bahwa kebenaran
umum ada, namanya definisi.
Kurang lebih 300 tahun sejak meninggalnya Socrates pada
masa helenisme di ujung tarikh Masehi, menjelang neo-

Platonisme, filsafat semakin berkurang dominasinya. Pada Abad


Pertengahan agama yang menang mutlak, akal kalah total. [11]
Abad Pertengahan
Abad pertengahan dimulai sejak Plotinus (204-270 M),
pengaruh agama Kristen semakin besar; filsafatnya bersifat
spiritual. Dia adalah filosuf pertama yang mengajukan teori
penciptaan alam semesta. Teorinya yang sangat terkenal yaitu
tentang emanasi (melimpah), yang merupakan jawaban
pertanyaan Thales; apa bahan alam semesta ini, Plotinus
menjawab: bahannya Tuhan. Ajaran Plotinus disebut Plotinisme
atau neo-Platonisme karena erat dengan ajaran Plato yang
teosentris. Tujuan filsafat plotinus adalah tercapainya
kebersatuan dengan Tuhan. Caranya mengenal alam melalui
indera dengan ini akan mengenal keagungan Tuhan, kemudian
menuju jiwa dunia setelah itu menuju jiwa Ilahi. [12]
Pada abad pertengahan didominasi para filosuf seperti Plotinus,
Augustinus, Anselmus, kemudian Aquinas. Potensi manusia
yang diakui pada zaman Yunani diganti dengan kuasa Allah. Ia
mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh pendapat
bahwa kebenaran itu relatif. Kebenaran itu mutlak, yaitu ajaran
agama. Praktis pada abad pertengahan ini filsafat dikuasai oleh
semangat kepercayaan Kristen.
Para ilmuwan pada masa ini hampir semuanya Theolog,
sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan.
Atau dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk
mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi
ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia, abdi agama. [13]
Zaman Modern
Pada dasarnya corak filsafat modern mengambil warna
pemikiran filsafat sofisme Yunani, paham-paham yang muncul
garis besarnya rasionalisme, idealisme, empirisme dan pahampaham yang merupakan pecahan itu. Sebelumnya didahului
dengan masa renaissance, yaitu menghidupkan kembali
rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari

pengaruh agama dan lain-lain. Paham rasionalisme


mengajarkan bahwa akal adalah alat terpenting dalam
memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting
sebagai pendukung rasionalisme: Descartes, Spinoza dan
Leibniz.
Descartes (1596-1650) membawa metode cogito-nya (aku
berpikir). Pengetahuan yang clear and distinct (jelas dan pasti)
pada descartes ini diambil Spinoza dengan nama adequate
ideas, dan pada Leibniz truths of reason. Oleh karena itu
konsep sentral dalam metafisika Descartes adalah substansi
dan definisi, yang sesungguhnya sudah ada pada Aristoteles.
Bahwa sesuatu untuk ada tidak memerlukan yang lain (bila
adanya karena yang lain, berarti substansinya kurang
meyakinkan).[14]
George Barkley (1685-1753) menyatakan bahwa hakekat
obyek-obyek fisik adalah idea-idea. Argumen orang-orang
idealis mengatakan bahwa objek-objek fisik tidak dapat
dipahami terlepas dari spirit. Tokoh idealisme berikutnya adalah
Fichte, Schelling dan Hegel. Filsafat, menurut Fichte haruslah
dideduksi dari satu prinsip. Prinsip tersebut ada di dalam etika;
bukan teori melainkan praktek yang menjadi pusat disekitarnya
kehidupan diatur, dan unsur esensial dalam pengalaman
adalah tindakan, bukan fakta. [15] Dalam pandangan Schelling
realitas adalah identik dengan pandangan berevolusi secara
dialektis. Kita dapat mengetahui dunia secara sempurna
dengan cara melacak proses secara logis perubahan sifat dan
sejarah masa lalu. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan
kesadaran diri secara sempurna, dia menyebutnya identitas
absolut, Hegel menyebutnya ideal.
Faham Idealisme Pascal dan Kant adalah Idealisme Theist. Kant
menyatakan; Akal ada daerahnya dan hati (iman) ada
daerahnya. Bila akal memasuki daerah hati, maka ia akan
hilang dalam paralogisme. Sains dan agama sama-sama dapat
dipegang, sama-sama diperlukan. Skeptis terhadap sains amat
berbahaya; keraguan kepada agama sama juga berbahanya.
Pemikiran berjalan terus. [16]
Pada babak berikutnya beralih kepada faham empirismenya
Locke, Humme dan Spencer. Yaitu suatu doktrin yang

menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh


pengetahuan. Locke menolak konsep bawaan (innate Idea) dan
menonjolkan teori tabularasa. Demikian pula dengan Humme,
semua pengetahuan dimulai dari pengalaman indera sebagai
dasar yang kemudian menimbulkan suatu kesan (impression(.
Lalu Spencer memperkuat empirisnya dengan filsafatnya
tentang the great unknowable, bahwa kita hanya dapat
mengetahui melalui fenomena-fenomena atau gejala-gejala
dibelakang dasar absolut yang tidak dapat kita kenal.
Pragmatisme berarti memiliki manfaat atau berguna. Faham ini
menerapkan segala sesuatu diukur berdasarkan kegunaannya.
Untuk mengukur kebenaran suatu konsep, maka harus
mempertimbangkan apa konsekuensi logis penerapan konsep
tersebut. Tokohnya adalah William James (1842-1910),
pragmatismenya hanya idea yang dapat dipraktekkan yang
benar dan berguna, dia mengingkari idea Plato dan Descartes.
Tokoh berikutnya yang ikut menyemarakkan dunia filsafat pada
abad modern adalah Kierkegaard dan Sartre. Menurut
Kirkegaard filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu
pengekspresian eksistensi individual. Bereksistensi adalah
bertindak. Tidak ada oranglain yang dapat menggantikan
tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya. [17] Maka
fahamnya dinamakan filsafat eksistensialisme. Pada
perkembangannya Kierkegaard dan Sartre meninggalkan
agama alias atheis.
FILSAFAT ISLAM
Filsafat Islam terdiri dari dua kata. Filsafat diartikan sebagai
berpikir bebas, radikal dan dalam dataran makna. Bebas
artinya tidak ada pikiran yang menghalangi bekerja. Sedangkan
kata Islam, secara semantik berasal dari kata salima artinya
menyerah, tunduk dan selamat. Jadi pada hakikatnya adalah
berpikir yang bebas, radikal dan berada pada taraf makna yang
memiliki sifat, corak dan karakter yang menyelamatkan dan
memberikan kedamaian hati. [18]
Filsafat Islam tumbuh oleh dua lingkungan yang hidup sezaman
yang sama-sama meletakkan sendi-sendi kajian rasional Islam.

Menurut Madkour pertama, lingkungan kaum penerjemah yang


memasok dunia Islam dengan buah pemikiran klasik baik Timur
maupun Barat. Kedua, lingkungan sekte teologis Islam,
khususnya Muktazilah. [19]
Filsafat Islam mengalami masa gemilang mulai abad ke-8
sampai abad ke-13. Pada masa ini berkembang penerjemahan
ke dalam bahasa arab karya-karya filosof Yunani atas dorongan
khalifah-khalifah Bani Abbasiah, yaitu; Al-Mansyur, Harun AlRasyid, kemudian Al-Makmun. Berdirilah Perguruan Bait al
Hikmah selain sebagai pusat penerjemahan, juga menjadi
pusat pengembangan filsafat dan sains.
Kontak pertama orang Islam dengan Ilmu Pengetahuan dan
filsafat Yunani adalah pada saat Khalifah Harun Al Rasyid
mengirimkan orang-orang Islam ke Kerajaan Romawi di Eropa.
Harun Nasution mengatakan;
Orang-orang dikirim ke Kerajaan Romawi di Eropa untuk
membeli manuskrip. Pada mulanya yang dipentingkan adalah
buku-buku mengenai kedokteran, tetapi juga mengenai ilmu
pengetahuan-ilmu pengetahuan lain dan falsafat. Buku-buku itu
diterjemahkan dulu ke dalam bahasa Syria, bahasa ilmu
pengetahuan di Mesopotamia di waktu itu, kemudian baru ke
dalam bahasa arab. Akhirnya penerjemahan langsung ke dalam
bahasa Arab. [20]
Berkembangnya pengetahuan dalam Islam karena kebebasan
para intelektual muslim dalam menekuni bidang penelitian,
bahkan khalifah menyediakan sarana perpustakaan maupun
laboratorium-laboratorium untuk penemuan suatu ilmu,
dibuktikan dengan banyaknya Nizhamiyah berdiri.
Menurut Koento Wibisono, di Abad pertengahan inilah dikenal
kehadiran para filsuf Arab seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina,
Ibn Rosjd dan Al-Gazali yang telah menterjemahkan karyakarya Aristoteles dan membawanya ke Cordova, yang pada
gilirannyadikembangkan oleh para filsuf di dunia Barat. [21]
Pemikiran Filsafat Islam telah muncul dan dikenal dalam aliranaliran teologis (kalamiah). Sejak abad 7 sampai tahun

permulaan abad 13 kajian filosofis bercampur dengan kajiankajian teologik, bahkan hidup bersama berdampingan. Maka
muncullah istilah suluk, al-Ittihad, hulul, wihdatul wujud. Ini
semua bentuk-bentuk tasawuf berlandaskan pada sendi-sendi
filsafat, dan teori mereka tentang al-Wujud (ontologi) dan alMarifah (epistemologi) mirip dengan teori para filosof.
Ibrahim Madkour membagi tiga lingkungan dalam dunia Islam
yang menggeluti pemikiran filsafat. Pertama lingkungan aliran
kalam yang mencakup Syiah dan Ahl al-Sunnah, kemudian
sebagian kecil al-Khawarij, Murjiah. Kedua, lingkungan filosoffilosof murni paripatetik Arab, dan yang ketiga adalah
lingkungan kaum sufi. [22]
Pemikiran Filsafat Islam
Berbagai perbedaan yang timbul antara pemikiran yang
rasional (filsafat) dengan rasa (tasauf) tidak menyebabkan ada
orang Islam yang didominasi oleh pemikiran akal secara total,
demikian sebaliknya tidak ada yang didominasi sepenuhnya
oleh rasa (hati) seratus persen. Buktinya adalah tidak ada
filosuf Islam maupun sufi yang meninggalkan iman, apalagi
yang mengambil faham materialisme atau atheisme.
Mengapa demikian, karena Al Quran menghargai akal dan hati.
Pertentangan akal dan hati (iman) dalam Islam pun ada tetapi
tidak sehebat di Barat. Di Timur (Islam) filosof dan sufi samasama beriman, perbedaan mereka hanya pada visi dalam
menafsirkan Kitab Suci, orang filsafat biasanya menggunakan
tawil ke arah rasio, sementara orang-orang tashawuf juga
menggunakan takwil tetapi ke arah rasa. Perkembangan ini
tidak menimbulkan gejolak yang berarti di dalam Islam.
Cukup banyak ayat Quran yang menunjukkan manusia agar
mempergunakan akal sebagai landasan dalam berpikir, berbuat
dan berperilaku seperti kata nazara dalam S. Qaf ayat 6-7, atThariq ayat 6-7, al-Ghasiyah ayat 17-20, tadabbaru pada S.
Shad ayat 68-69, Muhammad ayat 24, tafakkru pada S. An-Nahl
68-69, al-Jatsiyah 12-13, juga kata faqiha, tazakkara, fahima
dan aqala pada surat al-Isra 44, al-Anam 97-98 dan at-Taubah
122. Ayat-ayat itu lebih dari 140 banyaknya. Selain itu hadis

juga banyak menjelaskan perlunya akal digunakan dan


dikembangkan. Di dalam hadis kata akal biasanya diungkapkan
dalam kata al-Ilmu.
Dari ajaran yang memuliakan akal itu maka sekitar tahun 600700 M obor kemajuan ilmu pengetahuan berada di peradaban
dunia Islam. Dalam ilmu kedokteran muncul nama-nama
terkenal seperti Al-Razy (850-923) dan Ibnu Sina (980-1037),
kemudian Ibnu Rushd (1126-1198) dan Al-Idrisi (1100-1166).
[23]
CIRI FILSAFAT ISLAM
Filsafat Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sebagai Filsafat Religius
Topik-topik filsafat Islam bersifat religius, dimulai dengan mengesakan Tuhan dan menganalisa secara universal dan menukik
keteori keTuhanan yang tak terdahului sebelumya. Seolah-olah
menyaingi aliran kalamiah Mutazilah dan Asyariyah yang
mengoreksi kekurangannya dan berkonsentrasi
menggambarkan Allah Yang Maha Agung dalam pola yang
berlandaskan tajrid (pengabstrakan), tanzih (penyucian),
keesaan mutlak dan kesempurnaan total. Dari Yang Esa beremanasi segala sesuatu. Karena Ia pencipta, maka Ia mencipta
dari bukan sesuatu, menciptakan alam sejak azali, mengatur
dan menatanya. Karena alam merupakan akibat bagi-Nya,
maka dalam wujud dan keabadian-Nya, maka Ia
menciptakannya karena semata-mata anugerah-Nya. [24]
2. Filsafat Rasional
Akal manusia juga merupakan salah satu potensi jiwa dan
disebut rasional soul. Walaupun berciri khas religius-spiritual,
tetapi tetap bertumpu pada akal dalam menafsirkan
problematika ketuhanan, manusia dan alam, karena wajib alwujud adalah akal murni. Ia adalah objek berpikir sekaligus
obyek pemikiran. [25]
3. Filsafat Sinkretis

Filsafat Islam memadukan antara sesama filosof. Memadukan


berarti mendekatkan dan mengumpulkan dua sudut, dalam
filsafat ada aspek-aspek yang tidak sesuai dengan agama.
Sebaliknya sebagian dari teks agama ada yang tidak sejalan
dengan sudut pandang filsafat. Para Filosuf Islam secara khusus
konsentrasi mempelajari Plato dan Aristoteles. Untuk itu
mereka menerjemahkan dialog-dialog penting Plato. Republik,
hukum, Themaus, Sophis, Paidon, dan Apologia (pidato
pembelaan Socrates). [26]
4. Filsafat yang Berhubungan Kuat dengan Ilmu Pengetahuan
Saling take and give, karena dalam kajian-kajian filosof
terdapat ilmu pengetahuan dan sejumlah problematika saintis,
sebaliknya dalam saintis terdapat prinsip-prinsip dan teori-teori
filosofis. Filosuf Islam menganggap ilmu-ilmu pengetahuan
rasional sebagai bagian dari filsafat. Misalnya adalah buku AsSyifa milik Ibnu Sina yang merupakan Encyclopedia, Al-Qanun.
Kemudian Al-Kindi mengkaji masalah-masalah matematis dan
fisis. Al-Farabi mempunai kajian ilmu ukur dan mekanika. [27]
Para Filosof Islam adalah ilmuwan, diantara mereka terdapat
ilmuwan menonjol. Selain yang telah disebut di atas misalnya,
Ibnu Bajah, Ibnu Thufayl, dan Ibnu Rusyd.
AL KINDI
Hidup pada tahun 796-873 M pada masa khalifah al-Makmun,
dan al- Mutashim. Al Kindi menganut aliran Muktazilah dan
kemudian belajar filsafat. Menurut al Kindi filsafat yang paling
tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Kata al Kindi : Falsafat
yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama,
yaitu ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab
dari segala yang benar. Masih menurut al Kindi kebenaran ialah
bersesuaian apa yang ada dalam akal dan yang ada di luar
akal.
Dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap
dengan panca indera. Benda-benda ini merupakan juziyat.
Yang penting bagi filsafat bukan juziyat yang tak terhingga

banyaknya, tetapi yang penting adalah hakikat yang terdapat


dalam juziyat, yaitu kulliyat. [28] Kemudian filsafatnya yang
lain yaitu tentang jiwa atau roh
AL FARABI
Al Farabi hidup tahun 870-950 M, dia meninggal dalam usia 80
tahun. Filsafatnya yang terkenal adalah teori emanasi
(pancaran). Falsafatnya mengatakan bahwa yang banyak ini
timbul dari Yang Satu. Tuhan bersifat Maha Satu tidak berubah,
jauh dari materi, jauh dari arti banyak, Maha sempurna dan
tidak berhajat apapun. Kalau demikian hakekat sifat Tuhan,
bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang
Maha satu?
Menurut al-Farabi alam terjadi dengan cara emanasi atau
pancaran dari Tuhan yang berubah menjadi suatu maujud.
Perubahan itu mulai dari akal pertama sampai akal kesepuluh.
Kemudian dari akal kesepuluh muncullah berupa bumi serta
roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari empat
unsur: api, udara, air, dan tanah. Pada falsafat kenabian dia
mengatakan bahwa Nabi atau Rasul adalah pilihan, dan
komunikasi dengan akal kesepuluh terjadi bukan atas usaha
sendiri tetapi atas pemberian Tuhan. [29]

IBNU SINA
Ibnu Sina lahir di Asyfana tahun 980 dan wafat di Isfahan
tahun1037 M. Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu
Sina adalah tentang jiwa. Ibnu Sina juga menganut paham
pancaran, jiwa manusia memancar dari akal kesepuluh. Dia
membagi jiwa dalam tiga bagian, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan
(nafsu nabatiyah), jiwa binatang (nafsu hayawaniyah), dan jiwa
manusia (nafsu natiqah).

Falsafah tentang wahyu dan nabi ia berpendapat, bahwa Tuhan


menganugerahkan akal materiil yang besar lagi kuat yang
disebut al-hads (intuisi). Tanpa melalui latihan dengan mudah
dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat
menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini
mempunyai daya suci (quwwatul qudsiyah). Inilah bentuk akal
tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya
pada nabi-nabi [30]
Dari beberapa kajian di atas, filosuf muslim dalam
pemikirannya selalu bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio
digunakan secara bebas dan radikal namun masih terkendali
oleh wahyu yang merupakan pangkal dari agama Islam.
Filosuf muslim boleh menggunakan akal untuk
mengembangkan buah pikiran dalam menggali ilmu
pengetahuan apa saja secara mendalam, hal itu tidak
bertentangan dengan kitab suci. Bahkan pembahasan materi
tidak terbatas pada ilmu fisik saja.

III. PENUTUP
KESIMPULAN
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa filsafat lahir dari
Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat
dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat asal mula filsafat
dari gabungan keduanya.
Filsafat Barat adalah hasil pemikiran radikal oleh para filosuf
Barat sejak abad pertengahan sampai abad modern,
sedangkan Filsafat Islam adalah berpikir bebas, radikal dan
berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak dan
karakter yang menyelamatkan dan kedamaian hati.

Perjalanan filsafat Barat dimulai dari masa Yunani Kuno, yang


terfokus pada pemikiran asal kejadian alam secara rasional.
Segala sesuatu harus atas dasar logika. Kemudian masa abad
pertengahan filsafat berubah arah menjadi bersifat teosentrik,
segala kebenaran ukurannya adalah ketaatan pada Gereja,
maka mereka banyak berasal dari kalangan pendeta
(agamawan). Pada perjalanan berikutnya para pendeta
dogmatis itu ditinggal para ilmuwan yang kemudian beralih
pada pemikiran yang bercorak bebas, radikal, dan rasional
yang realis.
Filafat Islam segala bentuk pemikiran ilmuwan muslim yang
mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal
yang berlandaskan Wahyu. Filsafat Islam merupakan
pengembangan filsafat Plato dan Aristoteles yang telah
dilandasi dengan ajaran Islam dan memadukan antara filsafat
dan Agama, filsafat yang berciri religius dan berusaha sekuat
tenaga memasukkan teks agama dengan akal.
Perbandingan antara filsafat Barat dan filsafat Islam adalah
sebagai berikut;
Persamaannya, sama-sama berfikir radikal, bebas. Keduaduanya menggunakan logika akal, dialektika. Kedua-duanya
berfikir tentang realitas alam, kosmologi.

Perbedaanya;
Filsafat Islam :
- Berfilsafat menggunakan akal dan bersandar pada Wahyu.
- Ruang lingkup pembahasannya yang abstrak maupun konkrit,
fisik maupun metafisik.
- Berfilsafat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
memahami realitas alam.
- Berfilsafat dimulai dengan keimanan kepada Allah
Filsafat Barat

- Menggunakan rasio.
- Berpijak pada hal-hal yang konkrit
- Hanya berfilsafat.
Kejayaan Islam masa lalu merupakan bagian kehidupan sejarah
umat muslim yang tidak mungkin dilupakan. Maka penting
untuk direnungkan, menurut Noeng Muhadjir:
Dalam kehidupan yang semakin mengglobal ini menjadi tidak
mungkin dijalankan syariat Islam menjadi konstitusi negara
ketika Muslim menjadi minoritas; juga bila Islam menjadi
mayoritas, dapatkan Islam menerapkan hukum syari Islam
sebagai konstitusi negara kepada non Muslim? Karena itu
berarti membatasi kebebasan individu. Perlu dibangun aturanaturan hukum yang universal, sehingga tidak meninggalkan AlQuran. Al-Quran memang bersifat ilahiyah, shingga jangan
ditinggalkan; tetapi syariah merupakan produk interpretasi
manusiawi, sehingga dapat diperbaharui terus.[31]

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai
Capra, (Bandung: Rhosda karya, 2008), cet. XVI
Abu Bakar Atjeh, Sejarah Filsafat Islam, (Sala: Ramadani, 1982),
cet. II
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1993), cet. III

C.A. Qadir, Filsafat dan Imu Pengetahuan dalam Islam, (Jakarta:


Yayasan Obor Indonesia 1991)
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta:
Universitas Indonesia, 1982)
_____________, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 2006), cet. 12
Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2004)
M. Thoyibi (ed), Filsafat Ilmu dan Perkembangannya,
(Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1994)
Musa Asyari, Filsafat Islam, (Yogyakarta: LESFI, 1999)
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional
Komparatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998(
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu,
(Yogyakarta: Liberty Yogyakarta 1996)
Zubaidi, Filsafat Barat, (Yogjakarta: Arruz Media, 2007)

[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales
sampai Capra, (Bandung: Rhosda karya, 2008), cet. XVI, , hal. 1
[2] Zubaidi, Filsafat Barat, (Yogjakarta: Arruz Media, 2007), hal.
12
[3] Ibid, hal. 14
[4] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 2006), cet. 12, hal. 5