Anda di halaman 1dari 16

Makalah

Proses Keperawatan padaPasien Parkinson


DiajukanuntukMemenuhi Salah SatuTugasMata Kuliah Sistem Neurobehaviour I
Dosen : Anastasia Anna, S.Kp, M.Kep
Dosen Tutor : Urip Rahayu, S.Kp, M.Kep

Disusunoleh :
Kelompok 1
Nida Amalia

220110130009

Hilman Saiful Islam

220110130109

Asih Siti Sundari

220110130133

Fika Apriandini

220110130149

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................. 1

BAB I...................................................................................................................... 2
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 2
1.2 Tujuan........................................................................................................... 3
BAB II..................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian.................................................................................................... 3
2.2 Epidemiologi................................................................................................. 3
2.3 Etiologi......................................................................................................... 4
2.4 Klasifikasi...................................................................................................... 4
2.5 Patofisiologi ................................................................................................. 6
2.6 Manifestasi Klinis.......................................................................................... 7
Tanda dan gejala primer dan gejala sekunder dan otonom juga dapat terjadi..........................7
2.7 Komplikasi.................................................................................................... 8
1. Cedera Akibat Jatuh : Pasien mengalami gangguan mobilitas, rigiditas dsb, sehingga sangat
beresiko untuk jatuh dan akhirnya menimbulkan cedera yang cukup serius...........................8
2.8 Proses Keperawatan pada Pasien Parkinson.................................................8
2.8.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................. 13
2.8.3 Intervensi Keperawatan.................................................................................13
BAB III.................................................................................................................. 16
3.1 Simpulan.................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Parkinson merupakan suatu syndrom yang memiliki tanda dan gejala utama
yang khas denganresting-tremor ritmik, bradikinesia, kekakuan otot, dan hilangnya
refleks-refleks postural. Penyakit Parkinson dapat menyerang penduduk dari berbagai
etnis dan status sosial ekonomi. Penyakit Parkinson paling banyak dialami pada usia
lanjut yang berkisar antara usia 40-70 tahun (PERDOSSI, 2008). Insiden lebih tinggi
pada laki-laki, ras kulit putih dan didaerah industry tertentu, insidensi terendah terdapat
pada populasi Asia dan kulit hitam Afrika. Faktor lingkungan memiliki peranan penting
dalam menimbulkan penyakit ini (Sharma, 2008).
Walau penyebabnya belum diketahui atau bersifat idiopatik, gejala-gejala yang
mungkin muncul pada penyakit ini merupakan akibat dari degenerasi sel dopaminergik
atau sel syaraf pada substansia nigra, yang berfungsi mengatur gerakan tubuh.Sehingga
penyakit ini tidak dapat disembuhkan, hanya bisa dikendalikan gejalanya. Penyakit ini
bersifat menahun dan berlangsung progresif atau dengan kata lain semakin lama akan
memburuk. Tingginya pervalasi parkinson di Indonesia dan kemungkinan masalah yang

akan dialami pasien sangat penting untuk diketahui. Ditambah dengan ketidaktahuan
masyarakat tentang pankinson dan penanganaan penyakit yang tidak tepat dari tim medis
juga dapat memperburuk kondisi yang di alami pasien. Maka dari itu sangat penting
untuk mengetahui bagaimana pendekatan proses keperawatan yang tepat pada pasien
Parkinson.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan paper ini adalah mahasiswa mampu mengetahui prosess
keperawatan pada pasien Parkinson secara umum, antara lain:
1. Mampu menjelaskan kembali pengertian dari penyakit Parkinson
2. Mampu menjelaskan kembali etiologi dari penyakit Parkinson
3. Mampu menjelaskan kembali tanda dan gejala dari penyakit Parkinson
4. Mampu menjelaskan kembali proses keperawatan yang tepat pada pasien Parkinson

BAB II
PENDAHULUAN
2.1 Pengertian
Penyakit parkinson (paralysis agitans) juga merupakan gangguan neurodegeneratif
yang berhubungan dengan penurunan mobilitas disebabkan oleh berkurangnya dopamin
dan sentral nervus sistem saraf pusat (In Koo Chun et all, 2011). Penyakit parkinson
merupakan gangguan neurodegeneratif terbanyak ke-dua yang diderita manusia setelah
penyakit Alzheimer (Iskandar, 2002)
2.2 Epidemiologi
Studi dari penyakit Parkinson telah menyimpulkan bahwa faktor genetik tidak
memainkan peran penting dalam kasus mereka dengan onset dimulai diatas usia 50;
Namun, faktor genetik mungkin di tempat kerja dalam kasus onset awal. Sementara
penelitian genetik, menghubungkan mutasi pada alpha-synuclein dan parkin-gen untuk
penyakit parkinson, hanya sekitar 1% dari kasus yang jelas genetic (Schapira, 2006;
Tenner et all., 1999). Penyakit Parkinson paling banyak dialami pada usia lanjut yang

berkisar antara usia 40-70 tahun, rata-rata pada usia 58-62 tahun dan sekitar 5% muncul
pada usia dibawah 40 tahun (PERDOSSI, 2008). Insiden lebih tinggi pada laki-laki, ras
kulit putih dan didaerah industry tertentu, insidensi terendah terdapat pada populasi Asia
dan kulit hitam Afrika. Faktor lingkungan memiliki peranan penting dalam menimbulkan
penyakit ini (Sharma, 2008).
2.3 Etiologi
Penyakit Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel saraf di bagian otak yang
meproduksi dopamine yang berfungsi mengontrol dan mengkoordinasikan gerakan tubuh.
Penyebab rusaknya sel-sel saraf penghasil dopamine ini belum diketahui jelas
penyebabnya atau idiopatik. Beberapa faktor yang berperan antara lain :
a. Genetik : Jarang terjadi kecuali pada kasus dalam keluarga sebagai akibat dari gen yang

rusak yang dapat diwariskan


b. Penggunaan Obat : Penggunaan obat yang berlebihan seperti antipsikotis dan
antihipertensi methyldopa dan reserpine serta penggunaan obat-obatan terlarang.
c. Paparan Racun Lingkungan : Zat kimia yang berisiko manyebabkan penyakit ini

seperti,

(1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-trihidroxypyridine (MPTP), CO, Mn, (methanol,

etanol, dan sianida), dan penggunaan pestisida berlebihan.


d. Penyakit : Berbagai kondisi penyakit yang dapat mencetuskan Parkinson, seperti

Encephalitis virus, peradangan otak langka yang diikuti infeksi (Flu), trauma kepala
berulang, gangguan penurunan neurologis, gangguan struktur otak (tumor otak dan
stroke), hidrosefalus, tiroid dan gangguan paratiroid, serta tekanan emosional tinggi.
2.4 Klasifikasi
Penyakit parkinson dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan (Hoehn dan Yahr 1967) yaitu:
Stage I
Stage II

Penyakit unilateral.
Penyakit bilateral dengan refleks postural yang masih

Stage III

terpelihara.
Penyakit bilateral dengan hambatan refleks postural; masih

Stage IV
Stage V

mampu untuk berjalan.


Penyakit parah yang membutuhkan bantuan.
Tingkat akhir, immobilitas.

2.5 Patofisiologi

2.6 Manifestasi
Klinis
Tanda dan gejala
primer dan gejala
sekunder dan otonom
juga dapat terjadi.
a. Gejala Primer
Gejala primer ini
terdiri dari 4 gejala
utama
disebut

atau

biasa
TRAP

(Tremor, Rigidity, Akinesia/Bradykinesia, Postural Instability).


1. Tremor : Pada pasien Parkinson gejala yang paling khas terjadi adalah tremor istirahat
(Rest Tremor). Tremor biasanya hadir hanya pada satu sisi tubuh dalam tahap awal
parkinson, tetapi dapat menyebar ke sisi lain sebagai penyakit berkembang. A pilbergulir tremor sangat karakteristik dan muncul meskipun seseorang bergulir pil antara
ibu jari dan telunjuk. (National Institute of Neurological Disorders and Stroke [NINDS],
2006).

2. Kekakuan Otot atau Rigidity : dapat dirasakan di seluruh rentang saat melakukan
gerakan. Biasanya, kekakuan Parkinson ditandai sebagai hipertonisitas otot yang
mengakibatkan kekakuan gerak dan sering dikaitkan dengan nyeri (aching) dan
ketidaknyamanan (Nutt & Wooten, 2005).
3. Pergerakkan melambat atau Akinesia/Bradykinesia : Mengacu pada lambatnya
gerakan, hal ini sering terjadi yang paling menonjol dan melumpuhkan gejala,
menyebabkan kesulitan dalam berjalan, saat mengubah posisi, berbicara dan menelan
(NINDS, 2006).
4. Postural Instability: Hilangnya refleks postural mengacu pada kesulitan balancing yang
dihasilkan dari berkurangnya refleks yang memungkinkan seseorang untuk menjaga
keseimbangan (NINDS, 2006). Pasien akan mengalami kesulitan tinggal seimbang dan
bahkan dapat jatuh ketika mengubah posisi.
b. Gejala Sekunder
Gejala sekunder sering terjadi dari kombinasi gejala primer.
1. Hipomimia : penurunan ekspresi wajah (masked face) yang dihasilkan dari gangguang
otot wajah dengan bardikinesia.
2. Hipokinetik Disartria : adanya ketidakmampuan proses produksi bunyi bicara akibat
penurunan gerak dari otot-otot organ bicara terhadap ransangan dari saraf pusat.
3. Hipoponia : Suara tidak jelas (teredam), yang dihasilkan dari kurangnya koordinasi
dalam otot vokal. Sama dengan otot-otot yang digunakan untuk menelan menjadi
kaku, menyebabkan disfagia.
4. Micrographia : Tulisan tangan mengecil, hasil dari kekakuan dan bradikinesia di
tangan (Jankovic, 2006).
c. Gejala Otonom
Gejala otonom bisa terjadi, seperti konstipasi, hipotensi orthostatic, disfungsi seksual,
keringat berlebihan, inkontinensia dan gejala umum lainnya.(Jankovic, 2006)
d. Gejala Neuropsikiatrik
Depresi pada populasi ini mungkin sulit untuk mendeteksi, karena banyak gejala yang
mirip dengan PD, seperti kehilangan ekspresi wajah, motor dan perlambatan
mental,dan kesulitan kognitif (Calne, 2003).
2.7 Komplikasi

1. Cedera Akibat Jatuh : Pasien mengalami gangguan mobilitas, rigiditas dsb,


sehingga sangat beresiko untuk jatuh dan akhirnya menimbulkan cedera yang cukup
serius.
2. Aspirasi Makanan (Tersedak): Kemampuan menelan menurun, sehingga jika
diberikan makanan dalam bentuk padat perlu pengawasan ekstra karena beresiko .
3. Infeksi Saluran Kemih: Pasien Parkinson mengalami inkontinensia (tidak bisa
mengontrol kandung kemih) sehingga kencing tidak bisa dikontrol, oleh sebab itu
diperlukan kateter untuk membantu pengeluaran kemih yang terkontrol.
4. Kerusakan Kulit : kulit yang lembab dan berkeringat, ditambah dengan gerakan
yang kaku yang dapat menimbulkan luka goresan dan juga mudah diinfeksi bakteri
karena medianya yang lembab.
5. Dimensia: Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan
dayaingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan
sehari-hari (Nugroho, 2008).
2.8 Proses Keperawatan pada Pasien Parkinson
2.8.1 Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
A. Data Biografi
Nama, usia (Lebih sering pada usia lanjut, pada rentang usia 50-60 tahun),
alamat, jenis kelamin (laki-laki lebih beresiko terkena penyakit Parkinson
daripada perempuan), status perkawinan, pekerjaan, agama,

suku

bangsa (ras kulit hitam jarang terkena penyakit Parkinson.).


B. Riwayat Kesehatan
a Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama yang sering dirasakan yaitu gangguan
gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot dan hilangnya refleks
postural.
b Riwayat Penyakit Sekarang
Metode mengkaji riwayat kesehatan pasien, dapat dikaji menggunakan PQRST :
P (Palliative/Provocative)

: Apa yang menyebabkan timbulnya gejala? Apa faktor

Q (Quality/Quantities)

yang memperburuk dan memperingan keluhan?


: Bagaimana karakteristik keluhan yang dirasakan?

R (Region/Radiation)
S (Scale/Severity)

Seberapa sering keluhan dirasakan?


: Di bagian tubuh mana keluhan dirasakan?
: Berapa skala terberat yang ditimbulkan keluhan terhadap

T (Time)

aktivitas? Seberapa berat keluhan?


: Sejak kapan keluhan dirasakan? / Apakah awitan gejala
datang tiba-tiba atau bertahap?

Riwayat Kesehatan Terdahulu

a. Penyakit Terdahulu : seperti Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit


Jantung, Anemia.
b. Riwayat Kecelakaan dan cedera : yang dapat menyebabkan trauma pada
otak bagian substansia nigra.
c. Riwayat pengunaan obat-obatan
antikoagulan,

aspirin,

: seperti

vasodilator,

penggunaan

dan

Penggunaan

obat-obat
obat-obat

antikolinergik dalam jangka waktu yang lama.


d Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit Parkinson belum ditemukan hubungan sebab genetik yang jelas
tetapi pengkajian riwayat penyakit keluarga terdahulu. (DM dan hipertensi)
e Pola Kehidupan Sehari-hari
Pengkajian pola kehidupan meliputi nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi,
pola tidur/istirahat serta personal hygiene. Data ini diperlukan untuk melihat
kebutuhan dasar mana yang terganggu pada pasien dengan penyakit Parkinson.
C. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Kesadaran
Pasien dengan penyakit Parkinson pada umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran Jika pasien mengalami penurunan kesadaran gunakan skala GCS
(Glasgow Coma Scale).
Jenis Respon
Respon membuka mata
Spontan
Rangsang terhadap bicara (perkataan )
Rangsang terhadap nyeri
Tidak ada respon
Respon verbal
Terorientasi
Percakapan yang membingungkan
Penggunaan kata-kata yang tidak sesuai
Suara menggumam
Tidak ada respon
Respon motoric
Mengikuti perintah
Menunjuk tempat rangsangan
Menghindar dari stimulasi
Fleksi abnormal (dekortikasi)
Ekstensi abnormal (deserebrasi)
Tidak ada respon

Nilai
4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1

b. Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital


a. Tekanan Darah : hipotensi (<120/80 mmHg), Hipotensi postural :
berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada
pengaturan tekanan darah oleh sistem persarafan otonom.
b. Denyut Nadi
: baradikardi ( <60-100 x/menit),
c. Pernapasan
: terjadi penurunan frekuensi pernapasan

berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivasi, aspirasi makanan atau saliva,


berkurangya fungsi pembersihan saluran napas.
d. Suhu Tubuh
: jika terdapat cedera, dapat meningkatkan suhu tubuh
c. Pemeriksaan Fungsi Cerebral: Status mental pasien mengalami perubahan
yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi,
penurunan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Pemeriksaan Saraf Kranial
Saraf
Kranial

Nama

Tipe

Olfaktorius

Sensorik

Penciuman

II

Optikus

Sensorik

Penglihatan dan lapang


pandang

III

Okulomotoris

Motorik

IV

Troklearis

Motorik

Gerak mata ekraokular


(EOM);
Gerakan
sfingter pupil; gerakan
otot siliaris lensa.
EOM,
khususnya
menggerakan bola mata
ke bawah dan lateral.

Trigeminus
Cabang
Oftalmik

Sensorik

Sensasi
wajah,
nasal.

Sensorik

Sensasi kulit wajah dan


rongga oral anterior
(lidah dan gigi).

Cabang
Maksilaris

Cabang
Mandibula

Motorik
dan
Sensorik

VI

Abdusens

Motorik

VII

Fasialis

Motorik
dan

Fungsi

kornea, kulit
dan mukosa

Otot
mengunyah;
sensasi kulit wajah.
EOM;
menggerakan
bola mata ke samping.
Ekskresi wajah; indra
perasa (dua per tiga

Metode Pengkajian
Minta pasien menutup mata dan
mengidentifikasi aroma ringan
yang berbeda, seperti kopi,
vanila, selai kacang, jeruk,
limun, cokelat, lemon.
Minta pasien untuk membaca
bagan Snellen ; periksa lapang
pandang dengan konfrontasi; dan
lakukan
pemeriksaan
oftalmuskopi.
Kaji enam gerakan okular dan
reaksi pupil.

Kaji gerakan okular.

Saat pasien melihat keatas,


sentuh bagian samping sklera
mata untuk menimbulkan refleks
kedip. Untuk menguju sensasi
ringan, meminta pasien menutup
mata, sapukan kapas yang
digulung kecil pada dahi pasien
dan sinus paranasal. Untuk
menguji sensasi dalam, gunakan
sisi tumpul dan tajam peniti pada
area yang sama.
Kaji sensasi kulit seperti
mengkaji cabang oftalmik di
atas.
Minta pasien untuk mengatupkan
gigi dengan kencang.
Kaji arah pandangan.
Minta pasien untuk tersenyum,
mengangkat
alis
mata,

Sensorik

lidah anteriol).

mengerutkan
dahi,
mengembungkan pipi, menutup
mata dengan kuat. Minta pasien
untuk mengidentifikasi berbagai
contoh
makanan
yang
ditempatkan pada ujung dan sisi
lidah : gula (manis), garam
(asin), jus lemon (asam), kina
(pahit) : identifikasi area rasa.

Auditorius
Cabang
Vestibular

Sensorik

Keseimbangan.

Metode pengkajian dibahas


dengan fungsi sebelum (pada
bagian selanjutnya).

Cabang Koklear

Sensorik

Pendengaran.

IX

Glosofaringe

Motorik
dan
Sensorik

Kemampuan menelan,
gerakan lidah, indra
perasa (lidah posterior).

Vagus

XI

Aksesoris

Motorik
dan
Sensorik
Motorik

Sensasi pada faring dan


laring; menelan, dan
gerakan pita suara.
Gerakan
kepala;
mengangkat bahu.

XII

Hipoglosalum

Motorik

Penjuluran
lidah;
menggerakkan lidah ke
atas dan ke bawah lalu
dari sisi ke sisi.

Kaji kemampuan klien untuk


mendenggar
kata
yang
diucapkan dan vibrasi garputala.
Letakkan contoh makanan pada
lidah
posterior
untuk
diidentifikasi. Minta pasien
untuk menggerakkan lidah dari
sisi ke sisi dan dari atas ke
bawah.
Terkaji dengan saraf kranial IX;
kaji adanya serak saat pasien
bicara.
Minta pasien mengangkat bahu
melawan tahanan tangan Anda
dan putar kepala ke samping
melawan tahanan tangan Anda
(ulangi pada sisi lainnya).
Minta pasien untuk menjulurkan
lidah
pada
garis
tengah,
kemudian menggerakkannya dari
sisi ke sisi.

VIII

e. Pengkajian Sistem Motorik : Inspeksi umum, didapatkan perubahan pada gaya


berjalan, tremor secara umum pada seluruh otot, dan kaku pada seluruh gerakan,
pasien sering mengalami rigiditas desebresi.
Tabel Karakteristik tremor
Tremor
Halus
Kasar
asteriksis
Fisiologis

Gerakan tidak bertujuan


Lesi pada basal ganglion
Lesi pada serebral
Gangguan metebolisme
Karena keletihan atau stres

f. Pengkajian Refleks : Terdapat kehilangan refleks postural, jika pasien mencoba


untuk berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan

seperti didorong. Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah


satunya kedepan dan kebelakang) dapat menimbulkan sering jatuh.
g. Pengkajian Sistem Sensorik : Pasien dengan penyakit Parkinson mengalami
penurunan terhadap sensasi semsorik secara progresif.
D. Data Penunjang
Pemeriksaan pencitaraan yang dipakai untuk membantu mengadakan diagnosis
penyakit Parkinson adalah Positron Emission Tomography (PET) dan Signal Photon
Emission CT (SPECT) tetapi tidak dianjurkan sebagai standar (George D, 2009).
2.8.2 Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik yang b.d kekakuan bradikinesia, ketidakseimbangan postur
tubuh dan kelemahan otot.

2. Hambatan Komunikasi Verbal b.d perubahan suara dan cara bicara dan menurunnya
ekspresi wajah.

3. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuskular,


menurunnya kekuatan, kehilangan kontrol otot/koodinasi.
4. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi dan disfungsu
karena perkembangan penyakit.
5. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan tremor,
perlambatan dalam proses makan, serta kesulitan mengunyah dan menelan.
2.8.3 Intervensi Keperawatan
No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Dx: Hambatan mobilitas

Tujuan:

Tujuan dan Evaluasi


Pasien
mampu

fisik yang b.d kekakuan

mendemonstrasikan

bradikinesia,

mandiri secara maksimal. Pasien

fungsi

fisik

ketidakseimbangan postur

terbebas dari komplikasi imobilitas

tubuh dan kelemahan otot.

Evaluasi: Pasien mempertahankan


sebesar apa mobilitas mandiri dari
perkembangan
menggunakan

penyakit,
alat

ketika melakukan aktivitas sehari-hari,


2

untuk mengkaji kemampuan pasien.


Anjurkan penggunaan walker dan alat
bantu lainnya, untuk menstabilkan gaya

pasien

bantu

Intervensi dan Rasional


Temani pasien ketika berjalan dan

berjalan normal.
Pasang pagar penyangga pada kasur,
untuk mengurangi resiko jatuh dan

untuk

memudahkan pasien untuk berdiri.

memaksimalkan mobilitas

No.
2.

Dx:

Diagnosa Keperawatan
Hambatan Komunikasi

Tujuan dan Evaluasi


Tujuan:
Pasien
mampu

Verbal b.d perubahan suara

berkomunikasi dengan jelas

dan

Evaluasi:

cara

bicara

dan

menurunnya ekspresi wajah.

keluarga

Perawat
dapat

dan

dan

mengungkapkan

2.

proses

informasi

terkait

perubahan cara bicara


Minimalisir suara bising ketika pasien
berbicara, untuk menurunkan gangguan

dapat

penyakit dan efek dari bicara


dan ekspresi

menyediakan

mengerti

keluarga

Intervensi dan Rasional


Observasi kemampuan pasien dalam
berkomunikasi dengan keluarga, untuk

terhadap kata yang diucapkan,


pasien

1.

3.

lingkungan saat mendengar lingkungan


Beri
pasien
waktu
pada
saat
berkomunikasi, tingkat stress berkurang

pada pasien saat diberikan waktu dalam


berbicara

No.
3.

Diagnosa Keperawatan
Dx: Defisit perawatan diri b.d

Tujuan dan Evaluasi


Tujuan:
Pasien
mampu
Evaluasi:
keluarga

Perawat
dapat

1.

dan

aktifitas., Dukungan pada pasien selama

mengerti

aktifitas kehidupan sehari-hari dapat

terhadap kata yang diucapkan,


pasien

dan

keluarga

mengungkapkan

Intervensi dan Rasional


Ajarkan dan dukung pasien selama

dapat

2.

proses

meningkatkan perawatan diri.


Minimalisir suara bising ketika pasien
berbicara, untuk menurunkan

penyakit dan efek dari bicara


dan ekspresi

Berikut ini merupakan penatalaksanaan pasien Parkinson, baik dari aspek farrmakologi dan
non-farmakologi.
A. Farmakologi
1. Levodop : untuk menghilangkan semua gejala klinis dari Parkinson.
Cara Pemberian : 30-60 menit sebelum makan, dimulai dengan dosis rendah kemudian
ditinggikan (mis. 25mg /100mg 25mg/250mg karbidopa-levodopa), 3 x/sehari. Efek
samping : anoreksia, mual muntah, aritmia, depresi, cemas, agitasi, insomnia, somnolen,
kebingungan, waham, halusinasi, mimpi buruk, euphoria, perubahan suasana hati dan
kepribadian, dyskinesia, glaucoma akut, kelainan pengecapan dan penghidu, kecoklatan
pada air liur, urin dan cairan vagina dan semuanya bersifat sementara.
2. Agonis Reseptor Dopamin: obat yang bekerja langsung pada reseptor dopamine tanpa
perlu dimetabolisme dan tidak bersaing dengan zat lain ketika transport aktif ke dalam
sawar otak.
3. Obat Penghambat Asetilkolin: Obat antimuskarinik digunakan untuk mengatasi tremor
dan rigiditas pada penderita parkinsonisme. Penghentian obat ini harus diturunkan
dosisnya secara bertahap, efek nya merugikan susunan saraf pusat dan perifer, sulit
ditoleransi oleh pasien lansia
4. Obat lain yang biasa digunakan diantaranya: Inhibitor Monoamin Oksidase, Inhibitor
Katekol-O-Metiltransferase,
Antikolinergik
B. Non-Farmakologi
1. Latihan

Apomorfin,

Amantadin,

Antidepresan

Trisiklik,

Tujuan

latihan

pada

Parkinsons Disease

adalah

untuk

menambah

kekuatan,

keseimbangan, koordinasi, dan fleksibilitas, seperti stretching, latihan kekuatan, aerobic


conditioning,treadmill dan tai chi.
2. Edukasi
Pendidikan kesehatan yang dapat diberikan mengenai: Penyebab dan gejala penyakit,
Aktiftas self-care, Latihan motorik, Pengobatan, Nutrisi, Kemampuan komunikasi,
Dukungan psikososisal.
3. Pembedahan
Dilakukan

pada

pasien

stadium

lanjut

yang

kurang

responsif

terhadap

farmakoterapi.Berikut ini merupakan beberapa penatalaksanaan operasi bagi pasien


Parkinson
a. Stereotactic procedure
Thalamotomy dan pallidotomy efektif untuk mengurangi beberapa gejala dari
Parkinsons Disease.
a. Thalamotomy
Thalamotomy memblokir aktivitas otak yang abnormal dari mencapai otot dan
menyebabkan tremor. Diperkirakan bahwa aktivitas otak yang abnormal yang
menyebabkan tremor diproses melalui thalamus. Diberikan stimulus stereotactic
elektrik untuk menghancurkan bagian thalamus tertentu untuk mengurangi
tremor.
b. Pallidotomy
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memutuskan rantai saraf yang membuat adanya
tremor, kekakuan otot, bradikinesia, dan meningkatkan fungsi motorik dan ADL dari
pasien Prosedur ini hanya bisa dilakukan pada salah satu bagian otak saja, bila terjadi
gangguan bilateral dianjurkan untuk ada interval 6 bulan baru bisa melakukan tindakan
yang sama.

c. Neural Transplantation
Transplantasi dilakukan dari sel neural, dari sel fetal, atau dari sum-sum tulang
belakang untuk mengganti sel-sel sub. Nigra.
e. Deep Brain Stimulation (DBS)
Penanaman suatu alat yang berfungsi untuk memblok jalan saraf yang berhubungan dengan
tremor pada parkinson. Generator ditanam dibawah pada klavikula (subkutan) dan
dihubungkan dengan elektroda sebagai stimulator ditanamkan di dalam otak (talamus).

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Penyakit Parkinsonmerupakan suatu syndrom yang memiliki tanda dan gejala
utama yang khas denganresting-tremor ritmik, bradikinesia, kekakuan otot, dan
hilangnya refleks-refleks postural. Penyakit Parkinson belum dapat disembuhkan
secara total, pengobatan yang dilakukan oleh pasien pernyakit Parkinson hanya
untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan.Kelainan pergerakan ini diakibatkan oleh
defek jalur dopaminergik (produksi dopamine) yang meghubungkan substansia nigra
dengan korpus striatum khususnya pada sel-sel saraftertentu(neuron) di otaksecara
bertahappecahatau mati.
Manifestasi primer yang muncul terdiri dari 4 gejala utama atau biasa disebut
TRAP (Tremor, Rigidity, Akinesia/Bradykinesia, Postural Instability).Diagnosa
utama yang sering muncul pada penyakit Parkinson : Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kekuatan dan kendali otot. Intervensi utama :
Melakukan program pelatihan kekuatan otot (latihan postural, teknik berjalan,
ROM), selain itu juga dilakukan kolaborasi dengan phisioterapi untuk memperbaiki
fungsi motorik klien. Disertai juga dengan dilakukannyalatihan, program nutrisi dan
pembedahan yang tepat sesuai kondisi klien.Kolaborasi pemberian terapi
Farmakologi sesuai dengan instruksi dokter antara lain : Levodopa, Agonis reseptor
dopamin, Inhibitor monoamin oksidase, Antidepresan, Antihistamin.
Penyakit ini bersifat menahun dan berlangsung progresif,ketidaktahuan
masyarakat tentang pankinson dan penanganaan penyakit yang tidak tepat dari tim
medis juga dapat memperburuk kondisi yang di alami pasien.Oleh karena itu, pasien
dengan penyakit Parkinson diperlukan perawatan secara intensif disertai support
system dari keluarga, kerabat, dan tim medis. Hal ini untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth Textbook of medical-surgical nursing 11th edition. 2008, Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
In Koo Chun et all. 2011. Design & Evaluation of Levodopa Methyl Ester Intranasal
Delivery System. Korea: Jurnal of Parkinsons Disease.
Katzung, Betram G. 2013. Farmakologi Dasar & Klinik / Editor, Betram G. Katzung, Susan
B. Masters, Anthony J. Trevor; Jakarta : EGC.
Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika. Hal 180-192
Osborn, Kathleen S. 2010. Medical-Surgical Nursing : Preparation For Practice. USA :
Pearson Education. Inc.
Osborn, Kathleen S. 2010. Medical-Surgical Nursing: preparation for practice, Upper Saddle
River: Pearson.
Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2003. Patofisiologi: KonsepKlinis Proses-proses
Penyakit. Jakarta: EGC.
Schapira, Anthony et. all. 2014. Movement Disorder, Vol 384.

Slowing of

neurodegeneration in parkinsons disease and Huntington disease: future therapeutic


perspectives.Diaksespadatanggal 2 Oktober 2015.
Syaifudin.2009.

AnatomiTubuhManusiauntukMahasiswaKeperawatan,

Ed.

2.

Jakarta:

SalembaMedika.
Wilkinson, Judith M.dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
diagnosis NANDA, intervensi NIC, Kriteria hasil NOC, Ed. 9. Jakarta: EGC.
Williams

Lippincot

dan

Wilkins.

2011.

KapitaSelektaPenyakit:

denganImplikasiKeperawatan/Editor. Kimberly A. J Bilotta, Ed. 2. Jakarta: EGC.