Anda di halaman 1dari 49

MATERI SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DIAGNOSA


ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD)

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Mardani Banapon
Anindya Hidayaturrohma
Fenika Nikmatul Rizki
Fitrah Nurani Erba Putri
Panji Putro Pamungkas

(P27820714005)
(P27820714011)
(P27820714026)
(P27820714030)
(P27820714033)

D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
S U R AB AYA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
Rahmat dan

Hidayah-Nya, sehingga saya masih diberikan kesempatan untuk

menyusun makalah ini dengan tidak ada halangan dan tepat pada waktunya . Dalam
makalah ini saya membahas tentang Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan
pada Hordeolum. Makalah ini dibuat melalui bantuan beberapa pihak untuk
menyelesaikan tugas salah satu mata kuliah yaitu, Keperawatan Medikal Bedah II.
Oleh karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga penyusunan makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, saya menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam menyelesaikan tugas ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan
kritik dan saran dari pihak pembaca dan Ibu/Bapak pengajar yang bersangkutan, agar
makalah ini dapat lebih baik lagi dan bermanfaat bagi seluruh pihak pembaca.
Akhir kata saya sebagai penyusun mengucapkan terimakasih sebesar- besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.

Surabaya, 31 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................1
C. Tujuan............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Anatomi dan Fisiologi Jantung..........................................................3
2. Klasifikasi.............................................................................................7
3. Etiologi.................................................................................................9
4. Patofisiologi ........................................................................................9
5. Manifestasi Klinis ...............................................................................10
6. Pemeriksaan Penunjang ....................................................................10
7. Pentalaksanaan ..................................................................................16
8. Komplikasi ..........................................................................................20
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian...........................................................................................20
II. Diagnosa Keperawatan .....................................................................23
III. Intervensi .............................................................................................23
IV. Implementasi........................................................................................24
V. Evaluasi..................................................................................................24
ASUHAN KEPERAWATAN KEPERAWATAN........................................25
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................
3.2 Saran........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa
lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena
kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin.Penyakit jantung bawaan ini
menempati urutan kedua penyakit jantung bawaan pada anak setelah Ventrikel
Septal Defect (VSD). Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang)
abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri.Kelainan
jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek
sekat atrium.Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi
jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat.
Di antara berbagai kelainan bawaan (congenital anomaly) yang ada,
penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan yang sering ditemukan. Di
amerika serikat, insidens penyakit jantung bawaan sekitar 8 10 dari 1000
kelahiran hidup, dengan sepertiga di antaranya bermanifestasi sebagai kondisi
kritis pada tahun pertama kehidupan dan 50% dari kegawatan pada bulan
pertama kehidupan berakhir dengan kematian penderita. Di Indonesia pada tahun
2007, dengan populasi lebih dari 200 juta penduduk dan angka kelahiran hidup
2%, diperkirakan terdapat sekitar 30.000 penderita (www.google//http.inside rate
of atrium septal defect.com) Berdasar data diatas maka penulis merasa tertarik
untuk menyusun tentang Atrium Septal Defect dam Ventrikel Septal Devect dan
asuhan keperawatannya.
Dampak penyakit jantung bawaan mengenai ASD+VSD terjadi
pembengkakan di kaki, perut dan daerah di sekitar mata, Sesak napas saat
menyusui, beban yang terlalu berat dari ventrikel menyebabkan hipertrofi dan
pembesaran jantung, dengan meningkatnya resistensi vascular paru, sering
terdapat dispneu dan infeksi paru, pertumbuhan bayi terganggu dan kesulitan
dalam asupan nutrisi.
Solusi dari penyakit tersebut bila diberi minum susu, bayi penderita
penyakit jantung bawaan mudah lelah, minumnya hanya sedikit. Disarankan
memberi susu bukan langsung dari botol tapi dengan sendok atau bisa juga
dengan pipet (alat untuk meneteskan obat ke mulut bayi). Jadi bayi dapat minum
lebih banyak tanpa harus banyak menguras tenaganya saat mengisap susu dari
botol.
Berdasarkan latar belakang diatas maka pada makalah ini akan diuraikan
mengenai asuhan keperawatan pada anak dengan kasus ASD+VSD.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari Atrial Septal Defect (ASD)?
2. Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuhan keperawatan ini
adalah bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan pada kasus Atrial
Septal Defect (ASD)?
C. Tujuan
Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah:
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Kardiovaskuler
2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh gambaran mengenai Atrial Septal Defect (ASD) dan
Ventrikel Septal Defect (VSD)
b. Mahasiswa mampu memahami penyebab ASD dan VSD
c. Mahasiswa mampu mengetahui gejala ASD dan VSD
d. Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan
Atrium Septal Defect (ASD) dan Ventrikel Septal Defect (VSD)
D. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini, yaitu:
1. Kegunaan Ilmiah
a. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
b. Sebagai salah satu tugas akademik
2. Kegunaan Praktis
Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada
klien dengan Atrium Septal Defect (ASD) dan Ventrikel Septal Defect (VSD).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
I. Anatomi dan Fisiologi Jantung
Secara fisiologi, jantung adalah salah satu organ tubuh yang paling vital
fungsinya dibandingkan dengan organ tubuh vital lainnya. Dengan kata lain,
apabila fungsi jantung mengalami gangguan maka besar pengaruhnya terhadap
organ-organ tubuh lainya terutama ginjal dan otak. Karena fungsi utama jantung
adalah sebagai single pompa yang memompakan darah ke seluruh tubuh untuk
kepentingan metabolisme sel-sel demi kelangsungan hidup. Dinding jantung
terdiri dari tiga lapisan:
1. Epikardium, yaitu bagian luar otot jantung atau pericardium visceral.
2. Miokardium, yaitu jaringan utama otot jantung yang bertanggung jawab atas
kemampuan kontraksi jantung.
3. Endokardium, yaitu lapisan tipis bagian dalam otot jantung atau lapisan tipis
endotel sel yang berhubungan langsung dengan darah dan bersifat sangat
licin untuk aliran darah, seperti halnya pada sel-sel endotel pada pembuluh
darah lainnya.
Katup Jantung
Katup jatung terbagi menjadi 2 bagian, yaitu katup yang menghubungkan
antara atrium dengan ventrikel dinamakan katup atrioventrikuler, sedangkan
katup yang menghubungkan sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal
dinamakan katup semilunar. Katup atrioventrikuler terdiri dari katup trikuspid
yaitu katup yang menghubungkan antara atrium kanan dengan ventrikel kanan,
katup atrioventrikuler yang lain adalah katup yang menghubungkan antara
atrium kiri dengan ventrikel kiri yang dinamakan dengan katup mitral atau
bicuspid. Katup semilunar terdiri dari katup pulmonal yaitu katup yang
menghubungkan antara ventrikel kanan dengan pulmonal trunk, katup
semilunar yang lain adalah katup yang menghubungkan antara ventrikel kiri
dengan asendence aorta yaitu katup aorta.
Katup berfungsi mencegah aliran darah balik ke ruang jantung sebelumnya
sesaat setelah kontraksi atau sistolik dan sesaat saat relaksasi atau diastolik.
Tiap bagian daun katup jantung diikat oleh chordae tendinea sehingga pada saat
kontraksi daun katup tidak terdorong masuk keruang sebelumnya yang
bertekanan rendah.Chordae tendinea sendiri berikatan dengan otot yang disebut
muskulus papilaris.

Gambar 1. Katup Jantung


(Dikutip dari kepustakaan 7)
Ruang, Dinding & Pembuluh Darah Besar Jantung
Jantung kita dibagi menjadi 2 bagian ruang, yaitu :
1. Atrium (serambi)
2. Ventrikel (bilik
Karena atrium hanya memompakan darah dengan jarak yang pendek, yaitu
ke ventrikel.Oleh karena itu otot atrium lebih tipis dibandingkan dengan otot
ventrikel.Ruang atrium dibagi menjadi 2, yaitu atrium kanan dan atrium
kiri.Demikian halnya dengan ruang ventrikel, dibagi lagi menjadi 2 yaitu
ventrikel kanan dan ventrikel kiri.Jadi kita boleh mengatakan kalau jantung
dibagi menjadi 2 bagian yaitu jantung bagian kanan (atrium kanan & ventrikel
kanan) dan jantung bagian kiri (atrium kiri & ventrikel kiri).
Kedua

atrium

memiliki

bagian

luar

organ

masing-masing

yaitu

auricle.Dimana kedua atrium dihubungkan dengan satu auricle yang berfungsi


menampung darah apabila kedua atrium memiliki kelebihan volume.
Kedua atrium bagian dalam dibatasi oleh septal atrium.Ada bagian septal
atrium yang mengalami depresi atau yang dinamakan fossa ovalis, yaitu bagian
septal atrium yang mengalami depresi disebabkan karena penutupan foramen
ovale saat kita lahir.
Ada beberapa ostium atau muara pembuluh darah besar yang perlu anda
ketahui yang terdapat di kedua atrium, yaitu :
-

Ostium Superior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat diruang
atrium kanan yang menghubungkan vena cava superior dengan atrium kanan.

Ostium Inferior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium
kanan yang menghubungkan vena cava inferior dengan atrium kanan.

Ostium coronary atau sinus coronarius, yaitu muara atau lubang yang terdapat
di atrium kanan yang menghubungkan sistem vena jantung dengan atrium
kanan.

Ostium vena pulmonalis, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium kiri
yang menghubungkan antara vena pulmonalis dengan atrium kiri yang
mempunyai 4 muara.
Bagian dalam kedua ruang ventrikel dibatasi oleh septal ventrikel, baik

ventrikel maupun atrium dibentuk oleh kumpulan otot jantung yang mana bagian
lapisan dalam dari masing-masing ruangan dilapisi oleh sel endotelium yang
kontak langsung dengan darah.Bagian otot jantung di bagian dalam ventrikel
yang berupa tonjolan-tonjolan yang tidak beraturan dinamakan trabecula. Kedua
otot atrium dan ventrikel dihubungkan dengan jaringan penghubung yang juga
membentuk katup jatung dinamakan sulcus coronary, dan 2 sulcus yang lain
adalah anterior dan posterior interventrikuler yang keduanya menghubungkan
dan memisahkan antara kiri dan kanan kedua ventrikel.
Perlu diketahui bahwa tekanan jantung sebelah kiri lebih besar dibandingkan
dengan tekanan jantung sebelah kanan, karena jantung kiri menghadapi aliran
darah sistemik atau sirkulasi sistemik yang terdiri dari beberapa organ tubuh
sehingga dibutuhkan tekanan yang besar dibandingkan dengan jantung kanan
yang hanya bertanggung jawab pada organ paru-paru saja, sehingga otot jantung
sebelah kiri khususnya otot ventrikel sebelah kiri lebih tebal dibandingkan otot
ventrikel kanan.

Gambar 2. Bagian interior Jantung


(Dikutip dari kepustakaan 8)

Pembuluh Darah Besar Jantung


Ada beberapa pembuluh besar yang perlu anda ketahui, yaitu:
1. Vena cava superior, yaitu vena besar yang membawa darah kotor dari bagian
atas diafragma menuju atrium kanan.
2. Vena cava inferior, yaitu vena besar yang membawa darah kotor dari bagian
bawah diafragma ke atrium kanan.
3. Sinus Coronary, yaitu vena besar di jantung yang membawa darah kotor dari
jantung sendiri.
4. Pulmonary Trunk,yaitu pembuluh darah besar yang membawa darah kotor
dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis
5. Arteri Pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa
darah kotor dari pulmonary trunk ke kedua paru-paru.
6. Vena pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa
darah bersih dari kedua paru-paru ke atrium kiri.
7. Assending Aorta, yaitu pembuluh darah besar yang membawa darah bersih
dari ventrikel kiri ke arkus aorta ke cabangnya yang bertanggung jawab
dengan organ tubuh bagian atas.
8. Desending Aorta,yaitu bagian aorta yang membawa darah bersih dan
bertanggung jawab dengan organ tubuh bagian bawah.

Gambar 3. Pembuluh Darah pada Jantung


Sirkulasi Jantung
a. Sirkulasi Sistemik
Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonalis. Darah di atrium kiri
mengalir ke dalam ventrikel kiri melewati katup atrioventrikel (AV), yang
terletak di taut atrium dan ventrikel kiri. Katup ini disebut katup mitral.

Semua katup jantung membuka jika tekanan dalam ruang jantung atau
pembuluh yang berada di atasnya lebih besar dari tekanan di dalam ruang
atau pembuluh yang ada di bawah.
Aliran keluar darah dari ventrikel kiri adalah menuju sebuah arteri
besar berotot yang disebut aorta. Darah mengalir dari ventrikel kiri ke aorta
melalui katup aorta. Darah di aorta disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik,
melalui arteri, arteriol, dan kapiler, yang kemudian menyatu kembali untuk
membentuk vena. Vena dari bagian bawah tubuh mengembalikan darah ke
vena terbesar , vena cava inferior. Vena dari bagian atas tubuh
mengembalikan darah ke vena cava superior. Kedua vena cava bermuara di
atrium kanan.
b. Sirkulasi Paru
Darah di atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan melalui katup AV
lainnya, yang disebut katup tricuspid. Darah keluar dari ventrikel kanan dan
mengalir melewati katup ke empat, katup pulmonalis, ke dalam arteri
pulmonalis. Arteri pulmonalis bercabang-cabang menjadi arteri pulmonalis
kanan dan kiri yang masing-masing mengalir ke paru kanan dan kiri
berturut-turut. Di paru, arteri pulmonalis bercabang berkali-kali menjadi
arteriol dan kemudian kapiler. Masing-masing kapiler memperfusi alveolus
yang merupakan unit pernafasan. Semua kapiler menyatu kembali untuk
menjadi venula, dan venula menjadi vena. Vena-vena menyatu untuk
membentuk vena pulmonalis besar. Darah mengalir di dalam vena
pulmonalis kembali ke atrium kiri untuk menyelesaikan siklus aliran darah.

Gambar 4. Sirkulasi Jantung


II.

KLASIFIKASI
Pada dasarnya kelainan jantung kongenital dikelompokkan atas dua
kelompok besar yaitu PJB tanpa sianosis dan yang disertai sianosis. PJB

sianotik biasanya memiliki kelainan struktur jantung yang lebih kompleks dan
hanya dapat ditangani dengan tindakan bedah. Sedangkan PJB non sianotik
umumnya memilki lesi (kelainan) yang sederhana dan tunggal, namun tetap
saja lebih dari 90 % di antaranya memerlukan tindakan bedah jantung terbuka
untuk pengobatannya. Sepuluh persen lainnya adalah kelainan seperti
kebocoran sekat bilik jantung yang masih mungkin untuk menutup sendiri
seiring dengan pertambahan usia anak.

Salah satu kelainan jantung congenital

asianosis yang banyak terjadi adalah Atrial Septal Defect (ASD) yang ditandai
dengan adanya lubang yang persisten pada septum antar atrial yang disebabkan
oleh karena kegagalan pembekuan sekat, yang menyebabkan adanya hubungan
antara atrium kanan dan atrium kiri.
Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
a. Ostium secundum: merupakan tipe ASD yang tersering. Kerusakan yang
terjadi terletak pada bagian tengah septum atrial dan fossa ovalis, meskipun
sesungguhnya fosa ovalis merupakan septum primum.umumnya defek
bersifat tunggal tetapi pada keadaan tertentu dapat terjadi beberapa fenestrasi
kecil, dan sering disertai dengan aneurisma fosa ovalis
b. Ostium primum merupakan bagian dari defek septum atrioventrikular dan
pada bagian atas berbatas dengan fosa ovalis sedangkan bagian bawah
dengan katup atrioventrikular
c. Defek Sinus venosus, defek terjadi dekat muara vena besar (vena cava
superior), sehingga terjadi koneksi biatrial. Sering vena pulmonalis dari
paru-paru kanan juga mengalami anomali, dimana vena tersebut bermuara ke
vena cava superior dekat muaranya di atrium. Dapat juga terjadi defek sinus
venosus tipe vena cava inferior, dengan lokasi di bawah foramen ovale dan
bergabung dengan dasar vena cava inferior.

Gambar 5. Letak Defek pada ASD


III.

ETIOLOGI

Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa


faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian
ASD. Faktor-faktor tersebut diantaranya :
1. Faktor Genetik
Resiko penyakit jantung kongenital meningkat 2 sampai 6% jika terdapat
riwayat keluarga yang terkena sebelumnya. Selain itu, 5-8% penderita
penyakit jantung kongenital mempunyai keterkaitan dengan kelainan
kromosom.
2. Faktor lingkungan
Penyakit jantung kongenital juga dihubungkan dengan lingkungan ibu
selama kehamilan. Seringnya terpapar dengan sinar radioaktif dipercaya
dapat menjadi faktor pencetus terjadinya penyakit jantung kongenital pada
bayi.
3. Obat-obatan
Meliputi obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan, misalnya
litium, busulfan, reinoids, trimetadion, thalidomide, dan agen antikonsulvan,
antihipertensi, eritromicin, dan clomipramin.
4. Kesehatan Ibu
Beberapa penyakit yang di derita oleh ibu hamil dapat berakibat pada
janinnya, misalnya diabetes melitus, fenilketouria, lupus eritematosus
siskemik, sindrom rubella kongenital.
IV.

PATOFISIOLOGI
Pada Atrial Septal Defect, aliran darah yang ada di atrium sinistra bocor
ke atrium dextra karena ada defect di septum interatrial-nya yang disebabkan
oleh gagalnya menutup sebuah septum maupun karena adanya gangguan
pertumbuhan. Karena tekanan di ventrikel sinistra yang notabene memompa
darah ke seluruh tubuh lebih besar maka darah dari atrium dextra tidak dapat
masuk ke atrium sinistra sehingga dapat dikatakan darah jalan dari tekanan
tinggi ke tekanan rendah (dari Atrium Sinistra ke Atrium Dextra). Di atrium
dextra dan ventrikel dextra

terjadi

hipertrofi atrium dan ventrikel dextra.

overload darah yang mengakibatkan


Darah kemudian

masuk ke arteri

pulmonalis melewati katup pulmonal, yang otomatis terlalu sempit untuk jalan
darah yang begitu banyak. Hal ini disebut stenosis pulmonal relative. Akibatnya
arteri pulmonalis menjadi dilatasi. Selanjutnya terjadi turbulensi disana yang
menyebabkan terjadinya bunyi murmur systole.
V.

MANIFESTASI KLINIS

Sebagian besar asimptomatik, terutama pada bayi dan anak kecil. Sangat
jarang ditemukan gagal jantung pada defek septum atrium. Bila pirau cukup
besar, pasien mengalami sesak napas, sering mengalami infeksi paru, dan berat
badan akan sedikit turun. Jantung umumnya normal, atau hanya sedikit
membesar.
VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan pulsasi ventrikel kanan pada
daerah para sterna kanan, wide

fixed splitting bunyi jantung kedua

walaupun tidak selalu ada, bising sistolik tipe ejeksi pada daerah pulmonal
pada garis sterna kiri atas, bising mid diastolik pada daerah tricuspid, dapat
menyebar ke apeks. Bunyi jantung kedua mengeras di daerah pulmonal, oleh
karena kenaikan tekanan pulmonal, dan perlu diingat bahwa bising-bising
yang terjadi pada DSA merupakan bising fungsional akibat adanya beban
volume yang besar pada jantung kanan. Sianosis jarang ditemukan, kecuali
bila defek besar atau common atrium, defek sinus coronarius, kelainan
vascular paru, stenosis pulmonal, atau bila disertai anomaly Ebstein.
b. Pemeriksaan Elektrokardiografi
EKG menunjukkan aksis ke kanan, blok bundel kanan, hipertrofi
ventrikel kanan, Interval PR memanjang, aksis gelombang P abnormal, aksis
ke kanan secara ekstrim biasanya akibat defek ostium primum.

Gambar 6. Perekaman pada anak umur 3 tahun dengan Atrial Septal Defect
(ASD)
c. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan pada penderita ASD adalah
1. Foto Thorax

10

Jika jantung membesar atau hipertensi pulmonal ada, itu mungkin


yang disebabkan oleh ASD. Jika kita mencurigai sebuah ASD kita harus
memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Jantung

mungkin

membesar.

Penentuan

CTR

yaitu

dengan

membandingkan lebar thorax dan lebar dari pada jantung. Jika


diameter jantung lebih besar daripada diameter thorax, itu adalah
pembesaran jantung
- Perhatikan bentuk jantung.pertama, perhatikan apexnya yang mana
sering terjadi pembesaran pada ventrikel kanan dan kadang-kadang
terlihat jelas diafragma terangkat. Selanjutnya lihat batas dari jantung
kanan. Karena atrium kanan membesar, batas dari jantung kanan
terlihat lebih lebar dari normalnya
- Perhatikan posisi dari jantung dengan membandingkan pada posisi
dari vertebra. Pada ASD, jantung kadang bergeser ke kiri dan terlihat
juga ke tepi kanan dari columna vertebra
- Perhatikan tonjolan dan lengkungan aorta. Itu sering mengecil jika
ASD ada, karena darah dialirkan melalui atrium kanan, tidak melalui
aorta.
Pada penderita ASD dengan pirau yang bermakna, foto toraks AP
menunjukkan atrium kanan yang menonjol, dan dengan konus pulmonalis
yang menonjol. Jantung hanya

sedikit membesar dan corakan

vaskularisasi paru yang prominent sesuai dengan besarnya pirau.


Batang arteri pulmonalis membesar sehingga pada hilus tampak
denyutan (pada fluoroskopi) dan disebut sebagai hilar dance. Hilar dance
ini terjadi karena arteri pulmonalis penuh darah dan melebar, sehingga
pulsasi ventrikel kanan merambat sampai ke hilus. Makin besar defeknya,
makin kecil jumlah darah yang mengalir ke ventrikel kiri, karena
sebagian besar darah dari atrium kiri mengalir ke atrium kanan melalui
defek. Aorta menjadi kecil, hampir sukar dilihat, sedangkan arteri
pulmonalis menjadi 3-5 kali lebih besar. Pembuluh darah hilus melebar
demikian juga cabang-cabangnya. Lambat laun pembuluh darah paru
bagian tepi menyempit dan tinggal pembuluh dari sentral (hilus) saja yang
melebar. Bentuk hilus lebar, meruncing ke bawah berbentuk sebagai tanda
koma terbalik ().

11

Gambar 7. (A). Foto PA: Kebocoran Septum Atrium (ASD), hemodinamika,


belum ada HP, atrium kanan membesar dan atrium kiri tidak. (B). Foto PA: hilus
melebar sekali, berbentuk koma terbalik. Vaskular paru bagian tepi sempit. Tanda
hipertensi pulmonal. (C). Foto lateral: tampak ventrikel kanan yang membesar
sekali. Atrium kiri dan ventrikel kiri normal.
2. Ekokardiografi
Echocardiography adalah dasar diagnosis pada kondisi ini. pencitraan
dua-dimensi akan menunjukkan defek dalam hampir semua kasus
(Gambar 10.A). Tipe defek secundum yang terbaik dilihat dari gambaran
subkostal, yang menempatkan septum interatrial pada sudut yang
signifikan terhadap berkas pemeriksaan dan mengurangi kemungkinan
diagnosis artefactual yang positif palsu. Karakteristik dilatasi dari ruang

12

sisi kanan jantung baik terlihat dan dominasi volume overload ventrikel
kanan akan sering dilihat sebagai gerakan septum paradoxical. Ini
adalah gerakan anterior abnormal dari septum interventrikular selama
sistole ventricular.
Defek ostium primum

(juga dikenal sebagai defek septum

atrioventrikular parsial) juga baik terlihat, seperti anatomi katup


atrioventrikular. Defek sinus venosus yang

kurang umum lebih sulit

untuk divisualisasikan, karena letaknya tinggi pada atrium yaitu dekat


muara vena kava superior. Studi transesophageal sering digunakan
menunjukkan lesi yang sulit ini. Semua studi dari ASD harus disertai
dengan pemeriksaan yang teliti yaitu memeriksa hubungan dari vena
pulmonal dan sistemik, karena ini sering abnormal.
Studi doppler akan

melengkapi informasi

diagnostik. Pemetaan

aliran warna sangat membantu dalam diagnosis dari setiap defek dan
anomali vena (Gambar 10.C). waktu akselerasi yang singkat dalam aliran
arteri pulmonal kadang-kadang bisa menunjukkan adanya hipertensi
pulmonal, seperti kecepatan tinggi jet pada regurgitasi trikuspid. Rasio
aliran sistemik untuk paru dapat dihitung menggunakan teknik dopler,
tetapi ini sangat memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan.
Sederhana dan lebih akurat penilaian dengan non invasif pada tingkat
shunting kiri ke kanan dapat dicapai dengan terlebih dahulu studi
radionuklide sebelumnya. Studi radionuklida sebelumnya juga membantu
pada anak yang lebih tua dengan kecurigaan ASD yang mana pencitraan
subkostal bukan sebuah diagnostik.
Transthoracis echocardiography, kadang-kadang ditambah dengan
transesophageal, merupakan diagnostic dalam kebanyakan kasus. Shunt
yang besar akan menyebabkan kelebihan volume ventrikel kanan dengan
pembalikan gerakan septum. Defek Ostium primum dan ostium
sekundum dapat dibedakan dengan mudah ; defek sinus venosus mungkin
sulit untuk digambarkan. Warna aliran dopler akan menunjukkan shunt
dan setiap regurgitasi katup. Kecepatan dari setiap regurgitasi tricuspid
akan memperkirakan tekanan arteri pulmonalis. Dengan pengalaman,
operator dapat menetapkan tambahan katup AV cordal pada cacat primum
dan mendeteksi anomaly drainase pembuluh darah lobus kanan atas untuk
SVC yang sering mempersulit defek sinus venosus dan terlihat sesekali
pada ASDs lainnya.

13

C
Gambar 11. (A). Modifikasi apikal echocardiogram empat ruang dari pasien
dengan ASD secundum. Ruang sisi kanan jauh diperbesar. (B). M-Mode
echocardiogram dari seorang pasien dengan ASD dan volume overload pada
ventrikel kanan. Ada gerakan paradoks dari Septum interventriculare (tanda
panah). (C). Studi aliran warna Doppler pada pasien dengan ASDs. Mengalir
melalui defek menuju katup tricuspid yang berwarna merah (arah transduser)
3. Katerisasi Jantung Dan Angiocardiografi
Diagnosis

echocardiographic

komprehensif

akan

sering

menghilangkan keperluan untuk penyelidikan invasif, tetapi akan ada saat


ketika ada keperluan untuk kateterisasi, baik untuk menghitung rasio
shunt yang akurat atau untuk mengkonfirmasi atau mengecualikan
beberapa detail anatomi. injeksi atrium kiri dengan media kontras kadangkadang membantu, tetapi biasanya angiografi digunakan untuk menilai
abnormalnya anatomi vena atau untuk menilai fungsi ventricel kiri. ASD

14

tentu umumnya terkait dengan bentuk lain dari penyakit jantung bawaan
yang mana diperlukan kateterisasi jantung untuk diagnosis.
Kateterisasi jantung sekarang jarang diindikasikan pada ASD
(kecuali untuk terapi intervensi), karena sebagian besar untuk diagnosis
telah beralih ke echocardiogrphy. Sebuah kateter dari pembuluh darah di
kaki biasanya lewat dari RA melalui ASD ke LA. Suntikan media kontras
ke LA akan menunjukkan shunt kiri-ke kanan atrium. Suntikan ke PA
akan menunjukkan shunt kiri-ke-kanan selama fase laevo. Sekali shunt
atrium telah dibuktikan, tidak mungkin untuk mengidentifikasi

distal

shunt lagi (misalnya VSD atau PDA).


Defek Ostium primum ini dapat didiagnosis dengan angiografi LV
pada film frontal sebagai batas kanan atas LV ini sangat melekuk dengan
kurva cekungan halus yang disebabkan oleh kesalahan tempat katup
mitral. Karakteristik penampilan 'leher angsa ' seringkali disertai dengan
regurgitasi mitral, aliran inkompeten sering diarahkan melalui defek
ostium primum ke RA.
Pada angiocardiography ECD yang lengkap dapat menunjukkan
refluks dari kedua ventrikel sampai ke kedua atrium dan shunt kiri-kekanan pada level kedua atrium dan ventrikel. Beberapa Suntikan
angiografik akan diperlukan dan LAO 30 dengan 40 dengan kemiringan
caudocranial merupakan proyeksi yang optimal. Penyimpangan vena
pulmonalis kadang-kadang dapat dideteksi dengan angiografi jantung
kanan pada tahap laevo tetapi hanya tipe sinus venosus atau vena yang
berbentuk seperti pedang dapat divisualisasikan.
Bedah penutupan paling sering dilakukan pada ASD (ASD
sekundum) - sekarang telah banyak bukti dilakukannya echodiagnostic,
ini untuk menyingkirkan diagnostik kateterisasi jantung dan angiografi.20
4. Trans Esophageal Echocardiography
Trans Esofagus Echocardiograf (TEE) berguna dalam mengevaluasi
defek septum atrium (ASD) untuk menilai rincian atau bagian yang halus
pada saat memutuskan untuk penutupan defek. Hal ini juga berguna
dalam menggambarkan ASDs yang tidak terlihat oleh trans toraks
echocardiography

(TTE) baik karena echo window yang jelek atau

karena lokasi dari ASD seperti dalam ASD sinus venosus. TEE sering
digunakan pada saat mengevaluasi hipertensi pulmonal dengan etiologi
yang tidak jelas pada orang dewasa. Pemeriksaan TEE gambarannya

15

sangat dekat dengan jantung tanpa ada intervensi dari jaringan paru-paru,
dapat memberikan gambar yang sangat baik. Selain itu, jarak yang
pendek memungkinkan penggunaan frekuensi transduser yang lebih
tinggi dengan resolusi gambar yang lebih baik. Biasanya frekuensi
transduser yang lebih tinggi tidak dapat digunakan untuk TTE karena
kedalaman penetrasi ultrasound di frekuensi yang lebih tinggi pada orang
dewasa.

Gambar 12. Atrial septal defect pada trans esofagus echocardiography


Gambar TEE dalam tampilan axis pendek menunjukkan aorta (Ao), bagian
dari intra atrium septum (IAS) dan ASD. Hal ini dapat dilihat bahwa hampir
tidak ada rim aorta (aorta rim botak). Bagian dari atrium kiri terlihat di bagian
atas IAS (tidak ditandai dalam gambar). Di bawah IAS, atrium kanan yang
besar dapat terlihat.
VII.

PENATALAKSANAAN
a. Non Bedah
Menutup ASD pada masa kanak-kanak bisa mencegah terjadinya
kelainan yang serius di kemudian hari.Pada beberapa anak, ASD dapat
menutup spontan tanpa pengobatan.Jika gejalanya ringan atau tidak ada
gejala, tidak perlu dilakukan pengobatan.Jika lubangnya besar atau terdapat
gejala, dilakukan pembedahan untuk menutup ASD. Pengobatan pencegahan
dengan antibiotik sebaiknya diberikan setiap kali sebelum penderita
menjalani tindakan pencabutan gigi untuk mengurangi risiko terjadinya
endokarditis infektif.
Pada ASD dengan rasio left to right shunt lebih besar dari 2:1 perlu
dilakukan tindakan operasi untuk mengkoreksi keadaan tersebut. Ada 2 jenis

16

tindakan operasi yang digunakan untuk melakukan koreksi pada ASD ini,
yaitu:
a) Bedah jantung terbuka
b) Amplatzer septal occlude (ASO)
ASO merupakan alat dengan cakram ganda yang dapat mengembang
sendiri (self expandable), terbuat dari kawat nitinol berdiameter 0,0040,0075 inci yang teranyam kuat menjadi dua cakram dengan pinggang
penghubung 3-4 mm. Di dalamnya terdapat lapisan dakron terbuat dari
benang

polyester

yang

dapat

merangsang

trombosis

sehingga

lubang/hubungan antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna.


Tindakan pemasangan ASO telah mendapat persetujuan dari American Food
and Drug Administration (FDA) pada bulan Desember 2001. Di Indonesia,
tindakan ASO mulai dilakukan pada tahun 2002.
Kriteria pasien DSA yang akan dilakukan pemasangan ASO, antara lain :
1. ASD sekundum
2. Diameter kurang atau sama dengan 34 mm
3. Flow ratio lebih atau sama dengan 1,5 atau terdapat tanda-tanda beban
volume pada ventrikel kanan
4. Mempunyai rim posterior minimal 5 mm dari vena pulmonalis kanan
5. Defek tunggal dan tanpa kelainan jantung lainnya yang memerlukan
intervensi bedah
6. Muara vena pulmonalis normal ke atrium kiri
7. Hipertensi pulmonal dengan resistensi vaskuler paru (Pulmonary Artery
Resistance Index = PARI) kurang dari 7 - 8 Wood Unit
8. Bila ada gagal jantung, fungsi ventrikel (EF) harus lebih dari 30%.
Pada dewasa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk keluhan,
umur, ukuran dan anatomi defek, adanya kelainan yang menyertai, tekanan
arteri pulmonal serta resistensi vascular paru. Indikasi penutupan ASD:1
a) Pembesaran jantung foto toraks, dilatasi ventrikel kanan,kenaikan arteri
pulmonalis

50%

atau

kurang

dari

tekanan

aorta,

tanpa

mempertimbangkan keluhan.
b) Adanya riwayat iskemik transient atau stroke pada DSA atau foramen
ovale persisten.

17

b. Pembedahan
- Kateterisasi Jantung
Prosedur dilakukan untuk memperbaiki ASD sekundum, namun untuk
ASD sekundum besar mungkin tidak dapat diperbaiki melalui
kateterisai jantung, dan mungkin memerlukan operasi jantung terbuka
- Operasi jantung terbuka
Prosedur ini adalah pengobatan pilihan untuk jenis ASD tertentu
(primum, venosus sinus dan sinus coroner), dan jenis-jenis cacat
atrium yang hanya dapat diperbaiki melalui operasi jantung terbuka
c. Terapi Medis
- Pemberian beta blocker untuk menjaga detak jantung agar tetap teratur
Misal: Lopressor
Dosis:
a) Hipertensi : awalnya 100-200 mg sebagai dosis tunggal atau dalam
2 dosisi terbagi. Pemberian dosis di atas 200 mg dibagi menjadi 2
kali pemberian dalam sehari
b) Angina pectoris : 2 x sehari 100-200 mg
c) Gangguan denyut jantung : 100-150 mg dalam 2-3 dosisi terbagi

18

- Pemberian anti koagulan untuk mengurangi resiko pembekakan darah


- Pemberian obat untuk meningkatkan kekuatan kontraksi
Misal: Digoxin (lanoxin). Dosis: Dewasa : Untuk digitalisasi cepat (24-36
jam) : 4-6 tablet , kemudian 1 tablet pada interval tertentu sampai
kompensasi tercapai. Untuk digitalisasi lambat (3-5 hari) : 2-6 tablet/hari
dalam dosis terbagi. Pemeliharaan : 1/2-3 tablet/hari. Anak : Untuk
digitalisasi cepat : 25 mcg/kg berat badan dengan selang waktu tertentu
sampai kompensasi tercapai. Pemeliharaan : 10-20 mcg/kg berat
badan/hari.
- Pemberian obat untuk mengurangi jumlah cairan dalam sirkulasi dan paruparu, disebut diuretic
Misal: Furosemide (Lasix).
Dosis: furosemide diberikan dengan dosis :
Dosis lazim dewasa untuk ascites, gagal jantung kongestif, edema,
hipertensi, oliguria nonobstruktif, edema paru, gagal ginjal, dan
oliguria :
oral : awal : 20 80 mg / dosis
Pemeliharaan : tingkatkan secara bertahap dari 20 40 mg / dosis setiap 6
8 jam. Berikan 1 2 x sehari, dengan dosis harian maksimum 600 mg.
Intravena / intramuskular : 10 20 mg sekali selama 1 2 menit. ulangi
dalam waktu 2 jam jika respon tidak memadai.
infus Intravena : 0.1 mg / kg sebagai dosis bolus awal, selanjutnya
tingkatkan dua kali lipat setiap 2 jam sampai maksimal 0.4 mg / kg / jam.
Dosis lazim dewasa untuk hiperkalsemia
Oral : 10 40 mg 4 x sehari.
Intravena : 20 100 mg setiap 1 2 jam selama 1 2 menit.
d. Keperawatan
- Pantau tanda dan gejala penurunan curah jantung
- Jika pasien sesak beri posisi semi fowler
- Tenangkan pasien jika cemas dan bantu pasien untuk melakukan nafas
dalam
- Berikan lingkungan yang man dan nyaman
- Jika pasien nyeri lakukan teknik distraksi dan relaksasi
- Observasi tanda-tanda vital pasien

19

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi yang akan timbul jika tidak dilakukan penutupan defek
adalah pembesaran jantung kanan dan penurunan komplians ventrikel kanan,
aritmia, dan kemungkinan untuk menyebabkan penyakit vaskular paru
obstruktif. Sindroma eisenmenger adalah keadaan pirau kanan ke kiri parsial
atau total pada pasien dengan defek septum akibat perubahan vaskular paru.
Pada defek septum yang menyebabkan pirau dari kiri ke kanan, peningkatan
alirah darah ke paru menyebabkan perubahan histologis pada pembuluh darah
paru. Hal ini menyebabkan tekanan darah di paru meningkat, sehingga pirau
berbalik arah menjadi dari kanan ke kiri. Gejala yang timbul berupa sianosis,
dyspnea, lelah dan disritmia. Pada tahap akhir penyakit, dapat timbul gagal
jantung, nyeri dada, sinkop dan hemoptisis.
Beberapa komplikasi menyertai tindakan penutupan defek septum,
baik trans-kateter atau melalui pembedahan. Komplikasi mayor, yaitu
komplikasi yang perlu penanganan segera antara lain kematian, dekompensasi
hemodinamik yang mengancam nyawa, memerlukan intervensi bedah, dan
lesi fungsional atau anatomi yang permanen akibat tindakan kateterisasi.
Komplikasi yang dapat timbul dari tindakan pembedahan antara lain aritmia
atrial, blok jantung. Komplikasi lain yang berhubungan dengan alat-alat oklusi
transkateter adalah embolisasi yang kadang memerlukan pembedahan ulang,
aritmia, trombus. Komplikasi yang jarang terjadi adalah efusi perikardial,
transient ischemic attack,dansudden death.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


I. Pengkajian
1. Identitas Pasien
a. Nama
b. Umur
c.
d.
e.
f.
g.
h.

dewasa.
Jenis Kelamin
Suku bangsa
Pekerjaan
Alamat
Tanggal MRS
Diagnosa medis

: Berisi inisial nama px


: Bawaan dari lahir yang umum terjadi pada orang
: Lebih sering terjadi pada perempuan
: Tidak berpengaruh
: tidak berpengaruh
: berisi alamat tempat tinggal px
: tanggal px awal MRS
: berisi diagnosa medis px

2. Keluhan Utama :
Nyeri pada dada, dispnea, pusing, tergantung tingkat keparahan ASD.
3. Riwayat Penyakit Sekarang :

20

Sesak napas, pusing, tubuh terasa lemah, BB turun, pasien terlihat pucat,
banyak keringat yang keluar, ujung-ujung jari hiperemik, diameter dada
bertambah (terlihat benjolan dada kiri).
4. Riwayat Penyakit Dahulu :
Adanya faktor bawaan dari ibu sebelum lahir dan wanita yang hamil dengan
banyak mengkonsumsi obat-obatan, radiasi secara potensial menyebabkan
kelainan susunan jantung pada embrio/sejak lahir. Pernah menderita penyakit
jantung.
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung. Pada saat
kehamilan 2 bulan pertama menderita penyakit rubella/penyakit lainnya atau
ibu sering mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti talidomial, atau
terkena sinar radiasi.
6. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Aktivitas/Istirahat
Mengalami kelemahan fisik, letih, lelah.
b. Persepsi dan tata laksana hidup sehat
Tindakan medis dan perawatan dirumah sakit akan mempengaruhi
persepsi klien tentang kebiasaan merawat diri.
c. Pola nutrisi dan metabolisme
Terkadang mengalami anoreksia, mual, muntah
d. Pola eliminasi
Memerlukan bantuan karena keterbatasan aktivitas.
e. Pola tidur dan istirahat
Mengalami gangguan karena sesak.
f. Pola hubungan dan peran
Klien tidak mampu menjalani peran sebagaimana mestinya dan dapat
g.
h.
i.
j.
k.

berdampak terganggunya hubungan interpersonal.


Pola persepsi dan konsep diri
Klien seringkali merasa sedih dengan penyakit yang diderita.
Pola sensori dan kognitif
Fungsi panca indera tidak mengalami gangguan.
Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual klien akan terganggu selama klien dirawat
Pola penanggualangan stress
Pada klien yang belum mengerti penyakitnya akan mengalami stress.
Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagi klien ibadah juga sebagai penanggulangan stress dengan percaya
pada Tuhan.

7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Pemeriksaan keadaan umum klien gagal jantung biasanya dilakukan
dengan tes
GCS demgan kriteria :
- 15 s/d 12 = komposmentis
21

- 11 s/d 8 = somnolen
- 7 s/d 4 = apatis
- 3
= koma
b. Sistem respirasi
Menunjukkan adanya ronkhi kering, kasar, mengi.
c. Sistem kardiovaskuler
Aktivitas ventrikel kanan jelas teraba parasternal kanan dan thrill (25%)
di sela iga II atau kiri, pada auskultasi didapatkan sistolis murmur II.
d. Sistem muskuloskeletas
Melakukan pemeriksaan kekuatan tonus otot.
e. Sistem penginderaan
Tidak ada gangguan penglihatan, pendenaran dan perasa.
f. Abdomen
Dilakukan dengan teknik bimanual untuk mengetahui adanya
hidronefrosis dan pyelonefrotis. Pada daerah supra simisfer pada keadaan
retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dark lien
akan merasa ingin miksi.
g. Ekstremitas
Pada ekstremitas superior dan inferior simetris kanan dan kiri dan tidak
ada kelemahan anggota gerak.
II. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi penurunan curah b.d defek struktur.
2. Gangguan pertukaran gas b.d edema paru.
3. Intoleransi aktivitas b.d gangguan sistem transport oksigen.
4. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai O2
dan zat nutrisi ke jaringan.
5. Resiko tinggi infeksi b.d menurunnya status kesehatan.
III. Intervensi Keperawatan
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung b.d defek struktur.
Tujuan : klien menunjukkan perbaikan curah jantung.
Kriteria Hasil : - frekuensi jantung, tekanan darah dan perfusi perifer
normal.
- Keluaran urin adekuat
Intervensi :
a. Observasi TTV klien secara teratur
R/: memonitoring adanya perubahan sirkulasi jantung sedini
mungkin dan adanya takikardi-disritmia sebagai kompensasi
meningkatkan curah jantung.
b. Anjurkan klien untukk beraktivitas
R/: melatih kondisi fisik klien agar terbiasa beraktivitas.
c. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk pemberian obat
diuretic.
R/: agar keluaran urine klien adekuat
2. Gangguan pertukaran gas O2 b.d edema paru
Tujuan : tidak terjadi gangguan pertukaran O2
Kriteria Hasil : - RR pasien normal

22

- Pasien tidak gelisah


Intervensi :
Beri posisi semifowler
a.
R/: posisi semifowler dapat mengurangi penekanan paru-paru
terhadap jantung.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi O2
b.
R/: Terapi O2 dapat memudahkan pasien umntuk bernapas
Observasi TTV pasien
c.
R/: Memantau perkembangan konsisi pasien
3. Intoleransi aktivitas b.d gangguan sistem transport oksigen
Tujuan : mempertahankan tingkat energy yang adekuat tanpa stress
Kriteria Hasil : - klien mampu melakukan aktivitas yang sesuai dengan
kemampuan.
- Klien melakukan istriahat /tidur dengan tepat.
Intervensi :
a. Beri periode istirahat sering dan periode tifur tanpa gangguan.
R/: untuk memaksimalkan pola tidur pasien
b. Bantu pasien memilih aktivitas sesuai kemampuan
R/: untuk memandirikan pasien dalam melakukan aktivitas sesuai
kemampuan.
c. Hindari suhu lingkungan yang ekstrim seperti
hipertermia/hipotermia.
R/: karena hipotermia dan hipertermia dapat meningkatkan keluahan
O2.

III. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang
telah dibuat untuk mencapai hasil efektif. Dalam pelaksanaan implementasi
keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh
setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan
demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai.
IV. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien dengan Atrium Septal Defect
(ASD)

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD)
A. PENGKAJIAN
Tempat
No. Registrasi
Tanggal Pengkajian
Tanggal MRS
I. Data Subyektif

: Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo Surabaya


: 12486283
: 3 Juni 2016
: 1 Juni 2016

23

1. Biodata
a. Nama
b. Umur
c. Jenis kelamin
d. Alamat
e. Suku/bangsa
f. Status perkawinan
g. Agama
h. Pendidikan
i. Pekerjaan
j. Diagnosa Medis

: Ny. M
: 37 tahun
: Perempuan
: Tembus Mantuil, Banjarmasin, Kaltim
: Banjar/Indonesia
: Menikah
: Islam
: Tamat SMA
: Ibu Rumah Tangga
: ASD sekundum bidirectional shunt denim R to
L + PHT berat + post SVT unstable + post

cardioversi + post vomiting


2. Riwayat Keperawatan
a. Alasan utama MRS
Pasien merasa dada berdebar-debar sejak pagi
b. Keluhan Utama
Pasien mengeluh dada berdebar debar
c. Upaya yang Dilakukan
Keluarga Pasien mengatakan upaya yang telah dilakukan yaitu
membawa pasien ke RS Banjarmasin
d. Terapi/operasi yang pernah dilakukan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak pernah melakukan
operasi apapun.
e. Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien mengatakan sejak kecil mudah kecapekan dan kaget. Lalu
ketika tahun 2010 periksa ke dokter spesialis penyakit dalam dan di
diagnosa menderita ASD. Hingga 4 tahun kemudian tidak pernah
kontrol lagi. Pada bulan Desember 2015 berobat ke dokter spesialis
jantung dan pembuluh darah di RS Banjarmasin dan disarankan ke RS
Dr. Soetomo. Di RSDS pasien dilakukan pemeriksaan echokardiografi 2
kali. Lalu ada rencana operasi akhir Mei, tetapi ketika MRS 2 hari di
ruang Camelia pasien menstruasi dan operasi di tunda lalu pasien KRS
pada tanggal 28 Mei 2016.
f. Riwayat Penyakit Sekarang
Setelah pasien KRS pada tanggal 28 Mei 2016, pada tanggal 1 Juni
2016 pasien datang ke IGD dengan keluhan dada berdebar debar ketika
naik tangga, muntah 2 kali, badan lemas. Lalu pasien dirawat di ICCU,
setelah kondisi pasien stabil pasien dipindah ke ruang Camelia pada hari
Jumat tanggal 3 Juni 2016.
g. Alergi
Pasien mengatakan tidak memiliki alergi terhadap obat obatan maupun
makanan apapun.
h. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan di keluarga pasien tidak ada yang menderita
hipertensi, diabetes maupun penyakit jantung.
24

Genogram :

Keterangan :
= Laki-laki
= Laki-laki meninggal
= Perempuan
= Perempuan meninggal
= Penderita
= Garis pernikahan
= Garis keturunan
= Tinggal serumah
e. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Pasien mengatakan tinggal di perumahan yang lingkungannya bersih
dan jauh dari pabrik.
f. Riwayat Psikososial
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat gangguan psikososial.
3. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi pemeliharaan kesehatan
SMRS : Pasien mengatakan tidak pernah merokok, mandi 2x sehari,
sikat gigi 2x sehari pada pagi dan malam hari.
MRS
: Pasien mengatakan sejak masuk rumah sakit mandi hanya 2
hari sekali karena kondisi badan pasien yang lemas.
b. Pola Aktivitas dan Latihan
SMRS : Pasien mengatakan bahwa aktivitasnya sehari-hari adalah
sebagai ibu rumah tangga tanpa aktivitas tambahan.
MRS : Pasien tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena
pasien mudah lelah dan terkadang sesak.
c. Pola Nutrisi Metabolisme
SMRS : - Pasien mengatakan makan 1x sehari.
25

- Pasien minum air putih 2000 ml/hari


MRS

: - Pasien mengatakan di rumah sakit pasienmakan 3 x sehari .


- Pasien minum air putih dibatasi 600-1000 ml/hari

d. Pola Eliminasi
SMRS : BAB 1-2x sehari, warna kuning kecokelatan dengan
konsistensi
padat, bau khas feses. BAK 5-8 kali sehari, warna kuning
MRS

jernih, bau khas urine.


: selama di rumah sakit pasien belum bisa BAB. BAK 3-5

kali sehari, warna kuning jernih, bau khas urine menggunakan karteter
urine.
e. Pola Tidur Istirahat
SMRS : Pasien mengatakan dalam sehari pasien tidur dengan
frekuensi 6-8 jam perhari
MRS
: Pasien mengatakan lebih banyak tidur di RS karena tidak
banyak aktivitas yang dilakukan
f. Pola Hubungan dan Peran
SMRS : Keluarga pasien mengatakan hubungan pasien dengan
keluarganya, tetangga, maupun lingkungannya baik.
MRS
: Keluarga pasien mengatakan keluarga selalu menjaganya dan
hubungan pasien dengan pasien lain dan perawat juga baik.
g. Pola Sensori Kognitif
SMRS : Pasien mengatakan tidak punya gangguan pada mata dan
telinga
MRS
: Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada kognitif dan
sensorinya.
h. Pola Persepsi Konsep Diri
SMRS : Pasien mengatakan bersyukur atas keadaan fisiknya.
MRS
: Pasien terkadang merasa sedih dengan keadaanya sekarang
dan terkadang pasien menangis.
i. Pola seksual reproduksi
Pasien memiliki 2 anak semuanya berjenis kelamin laki-laki.
j. Pola mekanisme kopping stres
Pasien mengatakan belum memahami penyebab penyakit ASD yang
dideritanya, pasien sering bertanya kepada dokter dan perawat. Pasien masih bingung
tindakan apa yang akan dilakukan untuk mengobati penyakitnya, dan apakah
penyakitnya bisa sembuh.
k. Pola tata nilai kepercayaan
SMRS : Pasien mengatakan beragama Islam dan rutin menjalankan
sholat.
MRS
: Pasien beribadah dengan kondisi keterbatasan fisiknya.
II. DATA OBJEKTIF
1. Keadaan umum : lemas, lemah
2. GCS
: 456
3. Tanda-tanda vital

26

4.
5.
6.
7.

a. Tekanan darah : 80/60 mmHg


b. Nadi
: 75x/menit
c. Suhu
: 36,5C
d. Pernafasan
: 20x/menit
Tinggi badan
: 170 cm
Berat badan
: 65 kg
Status mental
Pasien mengetahui dimana pasien berada, waktu, dan orang disekitarnya.
Penampilan
Penampilan pasien sesuai dengan usia dan jenis kelamin, fitur wajah

simetris.
8. Struktur tubuh dan mobilitas
Pasien dapat duduk dan berjalan dengan baik, tetapi pasien mudah lelah
ketika berjalan.
9. Perilaku
Kontak mata baik, kooperatif dengan orang baru, pasien tampak bersih
dan rapi, pasien terlihat cemas
10. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri di kepala, wajah
simetris, tidak adda edema, leher simetris, tdak ada pembesaran
kelenjar
b. Sistem Pengindraan
Mata : alis mata normal, tidak ada edema pada kelopak mata,

konjungtifa tidak anemis, sklera dan kornea nomal.


Telinga : pasien dapat mendengar dengan baik, tidak ad

sekret, tidak ada serumen, tidak ada benda asing.


Hidung dan sinus : tidak ada sekret, dapat membau dengan

baik, tidak ada polip


Mulut dan faring : tidak terdapat karies gigi, tidak ada

pembesaran tonsil
c. Sistem Integumen
Warna kulit putih dan bersih, rambut tebal agak rontok, kuku tidak
pucat, suhu normal, turgor kulit <2 detik
d. Sitem Respiratori
Thorax simetris, payudara simetris, iktus cordis teraba, tidak ada
retraksi otot bantu nafas, paru paru simetris
e. Sistem Kardivaskuler
Iktus cordis teraba, S1 tunggal S2 Ride fixed splitty
f. Sistem Gastrointestinal
Abdomen simetris, tidak ada pembesaran, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada pembesaran hati, terdapat bising usus
g. Sitem Genetalia
Tidak terpasang karteter urine, tidak ada kesulitan BAK
h. Sistem mukuloskletal

27

Ekstremitas normal, akral hangat, tidak ada edema, kaki mudah lelah
jika berjalan agak jauh
i. Sistem persarafan
Tonus otot normal, kekuatan otot 5, tidak ada kelainan saraf
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hasil Pemeriksaan Patologi Klinik
Tanggal : 1 Juni 2016
Pemeriksaan
HGB

Hasil Pemeriksaan
18,0

Nilai Normal
L = 13,3 - 16,6 g/dL
P = 11,0 - 14,7 g/dL

RBC
HCT

5,81
53,6

3,69 - 5,46 (10^6/uL)


L = 41,3 - 52,1 %
P = 35,2 - 46,7 %

WBC
17,21
b. Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik
Tanggal : 1 Juni 2016

3,37 - 10 (10^3/uL)

Pemeriksaaan
Albumin
BUN

Hasil
3,8
17

Satuan
g/dL
mg/dL

Nilai Normal
3,4 5,0
7 18

Kreatinin serum
Glukosa
SGOT
SGPT

0,99
126
24
25

mg/dL
mg/dL
U/L
U/L

0,6 - 1,3
4041
38

Hasil
145
4,3
112

Satuan
mmol/L
mmol/L
mmol/L

Nilai Normal
136-144
3,8-5,0
97-103

Satuan

Nilai Normal
7,35-7,45
35-45
80-100
22,0-26,0
23-30
-3,50-200

c. Hasil Pemeriksaan Elektrolit


Tanggal : 1 Juni 2016
Pemeriksaaan
Natrium
Kalium
Klorida

c. Hasil Pemeriksaan Analisa Gas Darah


Tanggal : 1 Juni 2016
Pemeriksaaan
pH
pCO2
pO2
HCO3
TCO2
Beccf
So2

Hasil
7,4
32,8
28,0
20,6
21,6
-4,4
53,9

28

mmHg
mmHg
mmol/L
mmol/L
mmol/L

Terapi yang diberikan


1. Infus
a. Infus Nacl 0,9% 1500cc/24 jam
2. Injeksi
a. Injeksi ranitidine
2 x 1 ampul (pukul 08.00 dan 20.00)
3. Obat oral
a. Bioprolol
1 x 25mg
b. Dorner
3x1
c. Silsenafil
3 x 25g , bila TDS>90mmHg
d. Furosemid

4. Diit TKTPRG 1000kkal/hari

ANALISA DATA
NO

PENGELOMPOKAN DATA

KEMUNGKINAN PENYEBAB

29

MASALAH

1.

Ds: Pasien mengatakan nyeri pada

Faktor predisposisi leukimia

Nyeri

tulang belakang
Leukiemia
Do : TD: 130/90 mmHg
N : 100 x/menit

CML

R : 20 x/menit
Skala nyeri : 6 dari (1-10)

Leukositopeni

P : Nyeri ditimbulkan karena


aktifitas dan istirahat di

Myloproliferasi

tempat tidur
Q :Nyeri seperti tertusuk-tusuk,

Infiltrasi sumsum tulang

terasa perih
R : Nyeri terpusat di tulang

Retraksi reseptor

belakang

Nervus ending

T : Nyeri kadang-kadang
muncul dengan frekuensi rata

Nyeri tulang belakang

rata setiap 3 jam


Pasien terlihat gelisah

Ds: Pasien mengatakan badannya


lemas sejak 1 minggu yang lalu
2.

dan adanya perdarahan pada gusi

Intoleransi
Aktifitas

Do : - Konjungtiva anemis
-

Pasien terlihat lemas


TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/menit
S : 36,2C
R : 20 x/menit
Hb : 9,9 g/dL
PCT : 6000 /uL
Kekuatan otot
33
33

Faktor Internal (Genetik


imunologi)
Leukemia
Leukosit memfagosit eritrosit dan
trombosit
Potensial terjadi perdarahan

30

Penekanan BM gangguan
pembentukan komponen darah
Anemia
Lemah
Ganngguan gerak dan aktifitas

31

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama/Umur

: Tn M / 55 Th

Nomor Register : 12425725


Diagnosa Medis: Chronic Myloid Leukemia (CML)
Ruangan
NO
1.

: Ruang Pandan 1 RSUD Dr.Soetomo


TANGGAL
DITEMUKAN
DIATASI
13 Oktober

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri yang berhubungan dengan infiltrasi
sumsum tulang yang di tandai dengan

2015

Do: TD : 120/80 mmHg


N : 100 x/menit
R : 20 x/menit
Skala nyeri : 6 dari (1-10)
P : Nyeri ditimbulkan karena aktifitas dan
gangguan pembentukan leukosit di
tulang belakang
Q :Nyeri seperti tertusuk-tusuk, terasa
perih
R : Nyeri terpusat di tulang belakang
T : Nyeri kadang-kadang muncul
Pasien terlihat gelisah

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan


2.

anemia yang di tandai dengan penurunan

13 Oktober

kadar Hb 9,9 g/dL dan pndarahan gusi

2015

32

NAMA
JELAS

33

RENCANA KEPERAWATAN

Nama/Umur

: Tn M / 55 Th

Nomor Register : 12425725


Diagnosa Medis: Chronic Myloid Leukemia (CML)
Ruangan
NO

: Ruang Pandan 1 RSUD Dr.Soetomo


DIAGNOSA

KEPERAWATAN
1.

TUJUAN
KRITERIA

RENCANA TINDAKAN

RASIONAL

Nyeri yang

HASIL
Tujuan:

berhubungan

Setelah dilakukan

dengan infiltrasi

asuahan keperawatan

intervensi,

sumsum tulang

selama 2x24 jam,

mengindikasi

dari leukemia

nyeri hilang atau

terjadinya

berkurang

1. Kaji tingkat nyeri


Setiap 6 jam

2. Cek monitoring vital


sign TD,N,S,RR setiap

KH :

6 jam

komplikasi
2. Membantu
mengevaluasi
dan kefefektifan

berkurang menjadi

intervensi
3. Meningkatkan
3. Berikan lingkungan

dan mampu

tenang dan kurangi

beristirahat dengan
tepat

kebutuhan untuk

pernyataan verbal

- Nyeri hilang atau


skala 3
- Pasien tampak rileks

1. Membantu mengkaji

rangsangan penuh stres,

istirahat dan
mningkatkan
kemampuan koping

batasi pengunjung
4. Tempatkan pada posisi
yang nyaman dan
sokong sendi,
ekstremitas dengan

4. Dapat menurunkan
ketidaknyamanan
tulang sendi

bantalan
5. Anjurkan teknik
manejemn nyeri,
relaksasi: tarik nafas
dalam

5. Memudahkan
relaksasi, terapi
farmakologi
tambahan dan
meningkatkan

6. Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
terapi obat Injeksi
34

kemampuan koping
6. Untuk mengurangi
rasa nyeri

ranitidine 2 x 2mg
(pukul 08.00 dan 20.00)
Injeksi ceftriaxone 1 x
1gr (pukul 08.00)
Ketorolax 2 x 10 mg
Obat oral
Asam folat 3 x 1 tablet
1mg
PCT 3 x 1 tablet 500mg

1. Mengobservasi tandatanda vital

2. Membatasi aktivitas
2.

fisik

1. Untuk mengetahui

Intoleransi

Tujuan :

aktifitas

Setelah dilakukan

berhubungan

asuahan keperawatan

dengan anemia

selama 2x24 jam,

N : 70-80 x/menit

yang di tandai

pasien tidak

S : 36,6-37,5C

dengan penurunan

mengalami tanda-

kadar Hb 9,9 g/dL

tanda perdarahan

tanda vital pasien


3. Anjurkan untuk bedrest

pemberian tranfusi TC
10 bag

KH :
- TTV Normal

TD : 120/80mmHg

R : 16-20 x/menit
4. Berkolaborasi dalam

dan pendarahan
gusi

batas normal tanda-

5. Pantau adanya

TD : 120/80 mmHg

pendarahan

2. Memaksimalkan
sediaan energi untuk
berktivitas atau
perawatan diri
3. Menghemat energi
untuk aktfitas dan

N : 70-80 x/menit

regenerasi seluler

S : 36,6-37,5C

atau penyambungan

R : 16-20 x/menit

jaringan
4. Tranfusi darah dapat

- Tidak terdapat
pendarahan
- Hb
L: 14-18 g/dL

meningktkan kadar
Hb didalam darah

35

P : 12-16 g/Dl

pasien.
5. Untuk mencegah
adanya pendarahan
kembali

36

PELAKSANAAN
NO

TANGGAL/

DIAGNOSA

JAM

TINDAKAN KEPERAWATAN

37

TANDA
TANGAN

13 Oktober 2015/
08.00

Memberikan injeksi:
a. Ceftriaxon 1 x 1g
b. Ranitidin 1 x 2mg
c. Ketorolax 1 x 10mg

2. Mengkaji tingkat nyeri dengan menggunakan


08.30

menanyakan skala nyeri 1-10


R/ : Pasien mengatakan nyeri pada skala 6 dan
nyeri hilang dan timbul
3. Observasi tanda-tanda vital:

09.30

TD : 120/80 mmHg
N : 100 x/menit
S

: 36,7C

: 20 x/menit

4. Memberikan lingkungan yang tenang pada pasien


10.10

dengan mengurangi penjenguk yang ada


R/ : Pasien dan kluarga pasien awalnya tidak
setuju dengan pelaksanaan tersebut, tetapi
setelah diberikan penjelasan, keluarga pasien
dapat menerimanya
5. Memberikan pasien posisi yang nyaman dengan

11.00

memberikan bantalan di ektremitas bawah dan


lengan sebelah kanan
R/ : Keluarga pasien dapat menerima tindakan
tersebut bahkan sudah bisa menerimanya

14 Oktober 2015/
14.30

1. Memberikan injeksi analgesik dan antibiotik


a. Injeksi ranitidin 1x ampl
b. Injeksi ceftriaxone 1 vial
2. Mengajarkan teknik relaksasi, misalnya tarik

15.30

nafas dalam-dalam, kurangi bebas fikiran


R/ : Pasien dapat mengikuti gerakan teknik

38

relaksasi
3. Mengkaji tingkat nyeri
16.00

R/ : Pasien mengatakan nyerinya sudah sedikit


berkurang
4. Mengkaji adanya perdarahan

16.30

R/ : Pasien mengatakan gusinya sudah tidak


bengkak dan tidak berdarah

39

13 Oktober 2015/
08.30

1. Memberikan obat injeksi:


a. Cepriaxon
b. Ranitidin
c. Ceftriaxon

09.00

2. Observasi tanda-tanda vital


TD : 120/80 mmHg
N : 100 x/menit
S : 36,7C
R : 20 x/menit

09.30

3. Mengajarkan pasien untuk aktifitas fisik, seperti


BAK di pispot
R/ : Respon pasien dan keluarga baik, dapat
menerima penjelasan dengan baik

10.00

4. Menganjurkan pasien untuk bedrest segala


perawatan oleh istri dan keluarga pasin,
misalnya: BAK, mandi, BAB
R/ : Pasien dan keluarga pasien dapat menerima
penjelasan dengan baik

10.30

5. Dilakukan tranfusi darah TC 10 bag

11.00

6. Mengaganti cairan infus


Aminofluid : PZ
1

12.00

:2

7. Memantau adanya perdarahan


R/ : Pasien mengatakan jika gusinya masih
terdapat sedikit perdarahan

14 Oktober 2015/
15.30

1. Memberikan injeksi:
d. Cepriaxon
e. Ranitidin
f. Ceftriaxon

40

CATATAN PERKEMBANGAN

TANGGAL
13 Oktober

NO.
Dx.KEP
Dx 1

2015

PERKEMBANGAN
S : Pasien mengatakan nyeri berada di skala 6
O : Tanda-tanda vital:
TD : 120/80 mmHg
N : 100 x/menit
S

: 36,7C

R : 20 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5,6

S : Pasien mengatakan gusi berdarah sedikit


13 Oktober

Dx 2

2015

O : Konjungtiva anemis
Tanda-tanda vital :
TD : 120/70 mmHg
N : 86 x/menit
S

: 36,5C

: 20 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian


P : Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5

S : Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang dan


berada di skala 5 meskipun nyeri tersebut muncul
lagi
14 Oktober
2015

Dx 1

O : Pasien dapat tidur dengan posisi yang nyaman


Memantau Tanda-tanda vital:
TD : 100/60 mmHg
N : 93 x/menit
S

: 36,3C

: 20 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian


P : intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5,6

41

PELAKSANA

S : Pasien mengatakan gusinya tidak berdarah


O : Kojungtiva anemis
TD : 100/60 mmHg
14 Oktober
2015

Dx 2

N : 93 x/menit
S

: 36,3C

: 20 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian


P : Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5

42

PEMBAHASAN
Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan melaksanakan asuhan keperawatan
pada klien CML dengan masalah nyeri, maka akan dibahas mengenai:
A. Pengkajian Keperawatan
Pada pengkajian identitas, didapatkan klien berusia 55 tahun. Hal ini
biasanya penderita Cronik Mielositik Leukimia (CML) lebih sering ditemukan
pada anak anak(82%) dari usia dewasa (18%) dan lebih sering ditemukan pada
laki laki dari pada wanita. Hal inisesuaidenganteorithe leukimia and lymphoma
society (2009) amerikaserikat, Leukemia Limfoblastik akut (LLA) merupakan
leukemia dengan karakteristik proliferasi dan akumulasi sel-sel patologis dari
sistem limfopoetik yang mengakibatkan organomegali dan kegagalan organ. LLA
82% ditemukan pada anak-anak dan hanya 18% pada orang dewasa. Insiden LLA
mencapai puncaknya pada umur 3-7 tahun. Tanpa pengobatan sebagian anakanak dapat hidup 2-3 bulan setelah terdiagnosis.Maka dari itu tidak ada patokan
yang menyebutkan bahwa CML menyerang orang dewasa berdasarkan jenis
kelaminnya.
Berdasarkan hasil pengkajian riwayat penyakit pada klien CML dengan
masalah nyeri, klien pertama mengalami gelisah,susah tidur, tanda dan
gejaladangejala, penyakit cml antara lain adalah Umumnya gejala CML pada
anak-anak. Biasanya tidak spesifik, seperti fatigue, malaise dan penurunan berat
badan. Abdominal discomfort, yang di sebabkan oleh splenomegali. Gejala
biasanya tidak nyata dan diagnosa sering di tegakkan bila pemeriksaan darah di
lakukan atas alasan lain. Hipermetabolisme, termasuk kehilangan berat badan,
anoreksia dan keringat malam. Gejala leukostasis seperti gangguan penglihatan
atau priapismusjarang terjadi. Hal inisesuaidenganteori(Suriadi, & Rita yuliani,
2001 : 175).Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari
sumsum tulang yang ditandai oleh proliferasi selsel darah putih dengan
manifestasi adanya selsel abnormal dalam darah tepi. Pada leukemia ada
gangguan dalam pengaturan sel leokosit. Leukosit dalam darah berfloreferasi
secara tidak teratur dan tidak terkendali dan fungsinya pun menjadi normal. Oleh
karena proses tersebut fungsifungsi lain dari sel darah merah normal terganggu
hingga menimbulkan gejala leukemia yang dikenal dalam klinik.Dari hasil
pengkajian tanda dan gejala yang di dapatkan, dapat diketahui bahwa gejala
penyakit CML yang mengalami nyeri antara lain adalah klien mengalami gelisah,
mengeringai.

43

Pada riwayat penyakit dahulu, klien tidak mempunyai riwayat penyakit


apapun sebelum didiagnosa penyakit CML dan 3 tahun yang lalu klien pernah
mengalami penyakit CML dan saat ini penyakit CML timbul lagi, orang yang
pernah mengalami penyakit CML dan dinyatakan sembuh bisa menjadi karier
tifoid, sehingga penyakit CML dapat kambuh lagi. Individu yang beresiko
terkena penyakit CML ini salah satunya adalah orang yang dulu pernah terkena
penyakit ini. Hal inisesuaidenganteori (Wiernik,1985 ), bahwakliendengancml
kemungkinanbesarmenderitapenyakit yang sama yang di deritasebelumnya
Pada pengkajian pola eliminasi, tidak di dapatkan klien dengan CML
mengalami kekurang volume cairan, dengan hasil observasi BAB 1x warna
kuning kecoklatan dnegan konsistensi padat, bau khas feses, BAK 3-5 kali
warna kunig jernih, bau khas urine. klien tidak mengalami defisit volume cairan.
Pada pemeriksaan fisik, tidak didapatkan klien mengalami peningkatan
suhu tubuh, suhu tubuh klien 360 C, halinisesuaidenganteori(Tamsuri A 2007),
bahwanilaisuhutubuh orang dewasa 360 C - 370 C
Pada pemeriksaan mata, mulut, hidung, telinga, leher, dan dada/ thorak,
tidak terdapat sekret, kunjingtiva anemis, pengliahatan baik, mukosa bibir kering,
tidak terdapat lesi, bentuk hidung simetris, tidak ada pembekakan, tidak terdapat
sekret, telinga pada saat inspeksi tidak terdapat serumen (bersih), tidak ada lesi
dan tidak terdapat benjolan, tidak ada peradangan, pendengaran baik, leher warna
kulit merata dan tidak terdapat pembesaran venajugularis, dan pemeriksaan
dada/thorak tidak terdapat benjolan, paru-paru kiri dan kanan sama, bunyi suara
jantung S1 S2 tunggal, vaskuler. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik bahwa
hasil pemeriksaan fisik klien CML pada bagian kepala adalah didapatkannya
mukosa mulut kering. Tanda dan gejala

seperti mukosa mulut kering, bisa

disebabkan karena meningkatnya suhu tubuh sehingga proses evaporasi juga


meningkat, sehingga mukosa tubuh menjadi kering.
Pada pengkajian terapi medis, klien mendapatkan terapi infus:
aminofluid, nacl 0, 9% (pz) 14 tpm , injeksi ranitidin 2x ampul, ceftriaxone
1vial ,ketorolax, obat gizi: asam folat 3x1, pct 3x1. Klien mendapatkan ranitidin
untuk menangani gejala akibat produksi asam lambung yang berlebihan.
Ceftriaxone adalah golongan antibiotik cephalosporin yang dapat digunakan
untuk mengobati beberapa kondisi akibat infeksi bakteri, dan infeksi pada pasien
dengan sel darah putih yang rendah. Selain itu, ceftriaxone juga bisa diberikan
kepada pasien yang akan menjalani operasi-operasi tertentu untuk mencegah
terjadinya infeksi. Diit klien yaitu diit NT TKTP. Hal ini klien mendapatkan
antibiotik yang dimaksudkan untuk membunuh kuman penyebab CML.

44

Penulis tidak menemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dan


tinjauan kasus. Hal tersebut dibuktikan dalam hasil pengkajian yang ditemukan
pada klien. Hanya saja pada tanda dan gejala tidak semua yang ada pada teori
muncul pada klien.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa

keperawatan

yang

terjadipadaklienadalahnyeriberhubungandenganefek

fisologis,

halinisesuaidenganteori(Iman,
1997)yaituDepresisumsumtulangyangtakkanberdampakpadapenurunanlekosit,
eritrosit,
factorpembekuandanpeningkatantekananjaringan.Adanyainfiltrasipadaekstramed
ularakanberakibatterjadinyapembesaranhati,

limfe,

noduslimfe,

dannyeripersendian karena hasil pengkajian pada kedua klien mendukung


diangkatnya masalah keperawatan tersebut.
C. Perencanaan
Pada perumusan perencanaan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan
kasus tidak terdapat kesenjangan yang terjadi. Pada tinjauan pustaka perencanaan
menggunakan kriteria hasil yang mengacu pada pencapaian tujuan yang sesuai
dengan perencanaan pada tinjauan kasus. Penulis berupaya untuk memandirikan
pasien dan keluarga dalam pelaksanaan asuhan keperawatan melalui peningkatan
pengetahuan, keterampilan dalam menyelesaikan,mengurangi masalah, dan
perubahan tingkah laku
Dalam tujuan tinjauan kasus pada kedua pasien dicantumkan kriteria
waktu untuk mengatasi masalah pasien secara efektif dan efisien yang
disesuaikan dengan keadaan kedua pasien secara langsung. Perencanaan
keperawatan yang disusun juga tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan
pustaka dengan tinjauan kasus.
Pada
diagnosa

keperawatannyeri

yang

berhubungandenganefekfisiologisdarileukimia terdapat 6 perencanaan yaitu


observasitanda-tanda

vital,

ciptakanlingkungan

yang

tenang,

ajarkanteknikdistraksidanrelaksasi,
aturposisipasiensenyamanmungkinsesuaikeinginanpasien,
dankolaborasidengandokteruntukpemberianobat-obat

anti

nyerisecarateratur.

Semua perencanaan tersebut dilakukan padaklien karena kondisi klinis klien.


D. Pelaksanaan

45

Pada perencanaan, dituliskan bahwa tindakan keperawatan akan


dilakukan dalam 2x24 jam, dalam pelaksanaan sebenarnya dilakukan sesuai
perencanaan yaitu 2x24 jam. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan apa
yang direncanakan, dan dilakukan secara berurutan, pelaksaan yang dilaksanakan
untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.
E. Pembahasan Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap akhir dan alat ukur keberhasilan
pemberian asuhan keperawatan. Pada catatan perkembangan, diagnosa pertama
diperoleh hasil evaluasi tindakan pertama klien mengatakan nyeri yang dialami
tidak berkurang,nyeri yang dialami juga mengganggu rasa nyaman klien, tetapi
pada tindakan kedua nyeri pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang, pasien
juga dapat tidur dengan tenang ketika telah dilakukan asuhan keperawatan,.
Sedangkan pada tinjauan pustaka seharusnya kritera hasil diperoleh pasien
beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti-bukti
ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.

46