Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.43 tahun 2013 tentang cara
penyelenggaraan laboratorium klinik yang baik, bahan laboratorium yang
diatur oleh PERMENKES yaitu terdiri dari reagen bahan standar, bahan
kontrol, air, dan media.
Secara umum medium atau media adalah substansi yang terdiri atas
campuran zat-zat makanan (nutrien) yang dipergunakan untuk pemeliharaan
dan pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme juga merupakan makhluk
hidup, untuk pemeliharaannya dibutuhkan media yang harus mengandung
semua zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, yaitu antara lain senyawasenyawa organik (protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin).
Sedangkan menurut PERMENKES RI Nomor 43 tahun 2013, media adalah
suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang dipakai untuk
menumbuhkan mikroba.
Mikroorganisme mengubah bahan makanan sebagai sumber energi dan
untuk sintesis bahan sel untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Peran utama
nutrien adalah sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai aseptor
elektron dalam reaksi bioenergenik. Bakteri memanfaatkan nutrisi media
berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel.

Pembuatan

suatu

media

yang

ditunjukan

untuk

menumbuhkan

mikroorganisme harus memenuhi beberapa syarat penting, yaitu:


1. Mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme.
2. Memiliki kelembaban optimum bagi pertumbuhan mikroorganisme.
3. Mengandung oksigen (kultur bakteri aerob) dan pH yang sesuai.
4. Tidak mengandung zat-zat penghambat dan harus steril.
Dalam

pemilihan

media

yang

akan

dipergunakan

harus

mempertimbangkan beberapa aspek diantaranya yaitu mempertimbangkan


tujuan pemeriksaan, stabilitas media, transportasi, dan nilai ekonomis.
Pereaksi atau sering disebut reagen adalah suatu zat kimia yang digunakan
dalam

suatu

reaksi

untuk

mendeteksi,

mengukur,

memeriksa,

dan

menghasilkan zat lain. Menurut tingkat kemurniannya, reagen atau zat kimia
dibagi menjadi reagen tingkat analitis dan zat kimia tingkat lain. Zat kimia
yang digunakan di laboratorium klinik ialah zat kimia tingkat analitis atau
beberapa bahan kimia organik pada tingkat kemurnian kimiawi yang telah
melewati tahap pengujian sebelum dipakai secara rutin.
Menurut cara pembuatannya, reagen dibagi menjadi reagen buatan sendiri
dan reagen jadi atau komersil yang telah dibuat oleh pabrik. Suatu reagen
harus mempunyai bahan standar yang digunakan sebagai acuan dalam
melakukan pemeriksaan karena telah diketahui konsentrasi dan kemurnian
yang telah diuji dengan cara penimbangan. Sedangkan bahan kontrol adalah
bahan yang digunakan untuk memantau ketepatan suatu pemeriksaan di
laboratorium atau untuk mengawasi kualitas hasil pemeriksaan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk membantu bagaimana cara
membuat media dan reagen khususnya untuk laboratorium mikrobiologi
dengan benar, selain itu juga untuk menginformasikan bagaimana cara
mengontrol dan menyimpan reagen dengan baik.

BAB II
ISI
Bahan laboratorium yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan antara lain
reagen dan media. Hal-hal yang akan dibahas adalah mengenai macam/ jenis,
dasar pemilihan, pengadaan, dan penyimpanan.
A. Macam/ Jenis
1. Reagen
Pereaksi atau sering disebut reagen adalah suatu zat kimia yang digunakan
dalam

suatu

reaksi

untuk

mendeteksi,

mengukur,

memeriksa,

dan

menghasilkan zat lain.


a. Menurut tingkat kemurniannya reagen/ zat kimia dibagi menjadi:
1) Reagen Tingkat Analitis (Analytical Reagent/ AR)
Reagen tingkat analitis adalah reagen yang terdiri atas zat-zat kimia
yang mempunyai kemurnian sangat tinggi. Kemurnian zat-zat tersebut
dianalisis dan dicantumkan pada botol/ wadahnya. Penggunaan bahan
kimia AR pada laboratorium kesehatan tidak dapat digantikan dengan
zat kimia tingkat lain.
2) Reagen Tingkat Lain
Reagen tingkat lain tersedia dalam tingkatan dan penggunaan yang
berbeda, yaitu:
a) tingkat kemurnian kimiawi (chemically pure grade).
beberapa bahan kimia organik berada pada tingkatan ini, tetapi
penggunaannya sebagai reagen laboratorium kesehatan harus

melewati tahap pengujian yang teliti sebelum dipakai rutin. Tidak


adanya zat-zat pengotor pada satu lot tidak berarti lot-lot yang lain
pada tingkat ini cocok untuk analisis.
b) tingkat praktis (practical grade).
c) tingkat komersial (commercial grade).
merupakan kadar zat kimia yang bebas diperjual belikan di pasaran
misalnya, alkohol 70 %.
d) tingkat teknis (technical grade).
umumnya zat kimia dalam tingkatan ini digunakan di industriindustri kimia.
Zat kimia yang digunakan di Laboratorium Klinik ialah zat kimia tingkat
analitis atau beberapa bahan kimia organik pada tingkat kemurnian
kimiawi yang telah melewati tahap pengujian sebelum dipakai rutin.
Ketiga jenis tingkatan zat kimia lainnya tidak boleh digunakan sebagai
reagen di laboratorium kesehatan.
b. Menurut cara pembuatannya, dibagi menjadi:
1) reagen buatan sendiri
2) reagen jadi (komersial)
reagen jadi adalah reagen yang dibuat oleh pabrik/produsen.
2. Media
Media adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi (nutrient) yang
dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Supaya mikroba dapat tumbuh dengan
baik dalam suatu media, perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh mikrobia.


b. Harus mempunyai tekanan osmose, tegangan permukaan, dan pH yang
sesuai.
c. Tidak mengandung zat-zat penghambat.
d. Harus steril.
Jenis media dapat digolongkan berdasarkan:
a. Susunan kimia
Berdasarkan susunan kimianya, terdapat berbagai jenis media yaitu:
1) Media anorganik: media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik,
misalnya silika gel.
2) Media organik: media yang tersusun dari bahan-bahan organik.
3) Media sintetis: media buatan, dengan ramuan yang tertentu, baik ready
for use maupun ramuan sendiri.
4) Media non sintetis: media alamiah, misalnya media wortel, media
kentang, dan lain-lain.
b. Konsistesi/ kepadatan
Berdasarkan konsistensinya, terdapat berbagai jenis media yaitu:
1) Media cair (liquid medium), yaitu media bentuk cair (broth) misalnya
air pepton, nutrient broth, Tarozzi, dan lain-lain.
2) Media setengah padat (semi solid medium), misalnya SIM agar, Carry
& Blair, dan lain- lain.

3) Media padat (solid medium), yaitu media bentuk padat/ beku misalnya
Potato Dextrose Agar, Nutrient Agar, Blood Agar, serta media-media
lainnya yang berbasis agar.
c. Fungsi media
Berdasarkan fungsinya, terdapat berbagai jenis media yaitu:
1) Transport media: perbenihan yang digunakan untuk mengirimkan
specimen dari suatu tempat ke laboratorium.
Contoh: Carry & Blair untuk tinja/ rectal swab Stuart dan media
Amies untuk usap nasofaring.
2) Enrichment media: perbenihan yang digunakan untuk memperbanyak
bakteri, baik yang ada di dalam spesimen maupun koloni-koloni yang
kecil-kecil.
Contoh: Brain Heart Infussion Broth untuk darah (aerob) dan
Thioglycolate Broth untuk darah (anaerob).
3) Enrichment exclusive media: perbenihan yang dapat memperbanyak
segolongan bakteri, sedangkan bakteri lainnya dihambat atau tidak
dapat tumbuh.
Contoh: Alcalis Pepton Water untuk Vibrio sp. dan Selenite Broth
untuk Salmonella s..
4) Exclusive media: perbenihan yang hanya dapat ditumbuhi segolongan
bakteri saja, sedangkan bakteri lainnya tidak tumbuh dan dapat dibedabedakan koloni spesies satu dengan lainnya.

Contoh: Blood Tellurite Plate untuk difteri dan Azide agar untuk
Enterococcus sp..
5) Media universal: perbenihan yang dapat ditumbuhi oleh hampir semua
jenis bakteri.
Contoh: Blood Agar, Brain Heart Infusion Agar, Tryptose Soy.
6) Selective media: perbenihan yang dapat digunakan untuk membedakan
golongan satu dengan lainnya, sehingga dapat dipilih koloni-koloni
bakteri yang akan dicari.
Contoh: Blood Agar, Brain Heart Infussion Agar, Salmonella Shigella
Agar untuk Salmonella Shigella.
7) Media identifikasi: perbenihan untuk satu jenis ataupun untuk
menentukan jenis bakteri, biasanya digunakan beberapa jenis media.
Contoh: Media gula-gula, Simons Citrat Agar.
d. Cara pembuatan
Berdasarkan cara pembuatannya, terdapat dua jenis media yaitu:
1) Media buatan sendiri
a) dari bahan dasar
b) dari media dehidrasi (dehydrated)
2) Media jadi (komersial)
B. Dasar Pemilihan
Pada umumnya untuk memilih reagen dan media yang akan dipergunakan
harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. kebutuhan,

2. produksi pabrik yang telah dikenal dan mempunyai sensitivitas dan


spesifisitas yang tinggi,
3. deskripsi lengkap dari bahan atau produk,
4. mempunyai masa kadaluarsa yang panjang,
5. volume atau isi kemasan,
6. digunakan untuk pemakaian ulang atau sekali pakai,
7. mudah diperoleh di pasaran,
8. besarnya biaya tiap satuan (nilai ekonomis),
9. pemasok/ vendor,
10. kelancaran dan kesinambungan pengadaan,
11. pelayanan purna jual, dan
12. terdaftar sebagai bahan laboratorium (reagen dan media) dan alat
kesehatan di Kementerian Kesehatan.
Selain hal-hal tersebut di atas untuk masing-masing reagen dan media perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Reagen
a. Untuk analisis di laboratorium harus dipilih reagen tingkat analitis.
Beberapa zat organik dengan tingkat chemically pure harus diuji untuk
setiap lot sebelum dipakai dalam penggunaan rutin, sedangkan zat
kimia practical grade, commercial grade atau technical grade tidak
boleh digunakan di laboratorium.

b. Reagen yang sudah jadi (komersial) direkomendasikan sebagai pilihan


utama. Reagen buatan sendiri dipilih bila tidak tersedia reagen jadi/
komersial.
Keuntungan reagen buatan sendiri:
1) dapat dibuat segar sehingga penundaan dan kerusakan baik dalam
transportasi maupun dalam penyimpanan dapat dihindari,
2) penggunaan zat pengawet dapat dihindari,
3) bila timbul masalah mengenai reagen dan standar, pemecahannya
lebih mudah sebab proses pembuatannya diketahui,
4) bila reagen terkontaminasi atau rusak tidak perlu menunggu
pengiriman reagen berikutnya, dan
5) merupakan penghematan.
Kerugian reagen buatan sendiri:
1) sulit distandardisasi,
2) biasanya tidak melalui uji Quality Control (QC), dan
3) tidak dapat ditentukan stabilitasnya.
2. Media
Untuk

pemilihan

media

yang

akan

dipergunakan

harus

mempertimbangkan tujuan pemeriksaan, stabilitas, transportasi, dan nilai


ekonomis.
C. Pengadaan
Pengadaan reagen dan media harus mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:

1. Tingkat persediaan
Pada umumnya tingkat persediaan harus selalu sama dengan jumlah
persediaan yaitu jumlah persediaan minimum ditambah jumlah safety
stock. Tingkat persediaan minimum adalah jumlah bahan yang diperlukan
untuk memenuhi kegiatan operasional normal, sampai pengadaan
berikutnya dari pembekal atau ruang penyimpanan umum. Safety stock
adalah jumlah persediaan cadangan yang harus ada untuk bahan-bahan
yang dibutuhkan atau yang sering terlambat diterima dari pemasok. Buffer
stock adalah stok penyangga kekurangan reagen di laboratorium. Reserve
stock adalah cadangan reagen/ sisa.
2. Perkiraan jumlah kebutuhan
Perkiraan kebutuhan dapat diperoleh berdasarkan jumlah pemakaian atau
pembelian bahan dalam periode 6-12 bulan yang lalu dan proyeksi jumlah
pemeriksaan untuk periode 6-12 bulan untuk tahun yang akan datang.
Jumlah rata-rata pemakaian bahan untuk satu bulan perlu dicatat.
3. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan (delivery time)
Lamanya waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai bahan
diterima dari pemasok perlu diperhitungkan, terutama untuk bahan yang
sulit didapat.
D. Penyimpanan
Regaen dan media yang sudah ada harus ditangani secara cermat dengan
mempertimbangkan:
1. Perputaran pemakaian dengan menggunakan kaidah:

a. Pertama masuk-pertama keluar (FIFO - first in first out), yaitu bahwa


barang yang lebih dahulu masuk persediaan harus digunakan lebih
dahulu.
b. Masa kadaluarsa pendek dipakai dahulu (FEFO - first expired first
out).
Hal ini adalah untuk menjamin barang tidak rusak akibat penyimpanan
yang terlalu lama.
2. Tempat penyimpanan.
3. Suhu/ kelembaban.
4. Sirkulasi udara.
5. Incompatibility/ bahan kimia yang tidak boleh bercampur.
Hal-hal khusus yang harus diperhatikan:
1. Reagen
Reagen dapat berupa zat padat atau (bubuk kristal zat cair). Tempat
penyimpanan reagen pun harus selalu ditutup dengan baik (hermetis)
supaya zat kimia tidak terkena kelembaban udara dan jamur tidak dapat
tumbuh. Mutu bahan kimia harus dipilih dengan cara membandingkan
pentingnya ketelitian dalam menganalisa untuk mendapat hasil reagen
yang baik.
Mengenal bahaya merupakan langkah pertama dalam rangka
mengendalikan bahaya di laboratorium. Ada beberapa sumber bahaya yang
terdapat di dalam laboratorium, baik bahaya yang bersifat fisik, kimia,
maupun biologis.

Sumber

bahaya

di

laboratorium

berhubungan

dengan

penyimpanan, penanganan, dan pemakaian bahan kimia berbahaya (B3).


Bahayanya meliputi terciprat, tumpah, tertelan, terhirup, terhisap, kontak
dengan kulit, kontak dengan mata, dan lain-lain.

a. Penyimpanan reagen buatan sendiri


1) Harus diketahui sifat-sifat bahan kimia yang dibuat. Reagen
tertentu tidak boleh disimpan berdekatan atau dicampur karena
dapat bereaksi.
2) Larutan berwarna disimpan dalam botol kaca berwarna coklat.
3) Larutan yang tidak mengalami reaksi fotokimia di simpan dalam
botol plastik putih.
4) Cairan dan larutan organik disimpan dalam botol kaca berwarna
coklat.
5) Disimpan pada suhu ruangan atau suhu dingin (2-8C) atau harus
beku disesuaikan dengan ketentuannya.
6) Harus dilakukan uji stabilitas dan uji homogenitas.
7) Diberi label nama reagen, tanggal pembuatan, nomor register, dan
expired date.

b. Penyimpanan reagen jadi (komersial)


1) Tutuplah botol saat penyimpanan.
2) Tidak boleh terkena sinar matahari langsung.
3) Beberapa reagen ada yang harus disimpan dalam botol berwarna
gelap.
4) Beberapa reagen tidak boleh diletakkan pada tempat yang
berdekatan satu dengan lainnya.
5) Bahan-bahan yang berbahaya diletakkan di bagian bawah/ lantai
dengan label tanda bahaya.
6) Buat kartu stok yang memuat tanggal penerimaan, tanggal
kadaluarsa, tanggal wadah reagen dibuka, jumlah reagen yang
diambil, dan jumlah reagen sisa, serta paraf tenaga pemeriksa yang
menggunakan.
2. Media
Media mikrobiologi adalah salah satu bahan consumable yang
banyak digunakan di laboratorium, khususnya laboratorium mikrobiologi.
Media mikrobiologi juga perlu disimpan dalam kondisi yang benar,
penyimpanan media mikrobiologi yang tidak benar akan mempercepat
proses penurunan kualitas media mikrobiologi tersebut. Dokumentasi pada
penerimaan barang yang baik juga akan meminimalisasi terjadinya
ketidaktersediaan stok produk pada gudang sehingga menghambat analisa.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika menerima media
mikrobiologi di laboratorium, antara lain:

a. Pastikan nama, nomor katalog, dan packing yang datang sesuai dengan
yang kita pesan. Pada beberapa vendor terdapat produk-produk yang
mempunyai nama yang hampir sama, misalnya produk yang sama
dengan bentuk cair atau padatan. Ukuran packing juga perlu
diperhatikan karena perbedaan ukuran packing biasanya dibedakan
dengan kode penomeran setelah nomor katalog.
b. Batas kadaluarsa (Expired Date)
Perlu diperhatikan waktu batas kadaluarsa dari media mikrobiologi
yang diterima. Waktu batas kadaluarsa yang umum tergantung jenis
medianya adalah 3-5 tahun. Beberapa media khusus mempunyai batas
kadaluarsa yang lebih singkat. Diskusikan ke vendor jika media
mikrobiologi yang anda terima hanya mempunyai kurang dari 50
persen dari masa kadaluarsa seharusnya. Media yang sudah jadi
(prepare medium microbiology), supplement media mikrobiologi, dan
beberapa media cair mempunyai batas kadaluarsa yang lebih singkat,
misalnya egg yolk yang hanya mempunyai batas kadaluarsa satu tahun.
c. Certificate of Analysis (CoA)
Setiap menerima media mikrobiologi usahakan untuk minta disertakan
Certicate of Analysis untuk setiap produk. Hal ini untuk menjamin
keaslian dari produk tersebut. Certificate of Analysis juga membantu
kita memberikan informasi penting seperti tanggal pembuatan, tanggal
kadaluarsa, analisa quality control yang telah dilakukan untuk media
tersebut, dan warna yang dihasilkan jika ditanam dengan bakteri

tertentu. Selain CoA, dokumen yang yang bisa diminta (biasanya tidak
disertakan) adalah BSE/ TSE Certificate (asal negara dari bahan baku),
Material Safety Data Sheet (MSDS), dan technical data sheet.
d. Dokumentasi.
Dokumentasi sangat penting untuk mencatat media mikrobiologi yang
diterima kedalam buku stok. Jika anda menerima media mikrobiologi
lebih dari satu, tulis tanggal penerimaan pada botol dan botol keberapa,
misalnya jika kita menerima 4 botol TSA maka ditulis 15/01/2011 1 of
4, 15/01/2011 2 of 4, dan seterusnya. Untuk kemudahan administrasi
First In First Out (FIFO) gunakan selalu botol pertama, sehingga jika
botol terakhir sudah digunaka , misalnya 4 of 4, kita diingatkan untuk
melakukan pemesanan kembali.
e. Perhatikan label untuk perbedaan penanganan dan penyimpanan
Tidak semua media mikrobiologi aman bagi kita. Perhatikan label
tanda bahaya untuk memisahkan penanganan dan penyimpanan.
Perlakukan media mikrobiologi dengan tanda tengkorak dengan
menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Simpan media
mikrobiologi sesuai dengan label untuk meminimalisasi percepatan
kerusakan.
f. Pengiriman dengan kondisi special
Media mikrobiologi seperti egg yolk dan egg yolk tellurite emulsion
harus disimpan 2-8oC selama pengiriman. Jika memesan media
mikrobiologi dengan kondisi khusus seperti itu, pastikan menerima

dengan menggunakan dry ice atau alat lain yang menjamin pengaturan
suhu selama dalam pengiriman.
Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan pada media yaitu:
a. Penyimpanan Dehidrated media
1) Media yang didehidratasi tidak dapat disimpan untuk waktu yang
tak terbatas terutama bila penutup wadah telah dibuka.
2) Jumlah keseluruhan harus dikemas dalam wadah yang akan habis
digunakan dalam 1-2 bulan.
3) Saat diterima, semua wadah tertutup rapat. Media yang
dikeringkan menyerap air dari udara. Pada iklim yang lembab,
segel tutup wadah media yang dikeringkan dengan lilin paraffin (isi
rongga antara tutup dan wadah dengan lilin cair, dan biarkan
mengeras).
4) Tanggal penerimaan harus dicatat pada setiap wadah.
5) Semua media dehidratasi harus disimpan di tempat gelap, sejuk
(suhu < 25C) dan berventilasi baik. Rak-rak penyimpanan tidak
boleh ditempatkan di dekat autoklaf atau tempat pencucian karena
kelembaban dan suhu yang tinggi.
6) Menggunakan kaidah FIFO.
7) Tanggal membuka wadah harus dicatat pada wadah tersebut.
8) Buang semua media kering yang sudah menggumpal atau berubah
warna menjadi gelap.
9) Buatlah catatan tertulis tentang media yang tersedia.

b. Penyimpanan media yang telah dilarutkan


1) Hindari terkena cahaya matahari langsung atau panas.
2) Media yang diperkaya dengan darah, bahan organik atau antibiotik
harus disimpan di dalam lemari es.
3) Harus dijaga agar media tidak mengalami kekeringan. Untuk
media dalam cawan petri sebaiknya dibungkus dengan kertas
coklat yang diberi keterangan berupa nama media dan tanggal
pembuatan, serta disimpan di dalam lemari es (4C) dengan posisi
cawan petri terbalik.
4) Media yang menggunakan tabung-tabung reaksi bertutupkan
kapas, sebaiknya ditutup lagi dengan aluminium foil atau plastic
wrap atau parafilm. Agar menghindari evaporasi atau penguapan
dari media selama penyimpanan, serta dapat menghindarkan media
dari kontaminasi.
5) Harus diperhatikan batas lama penyimpanannya, yaitu:
a) Tabung dengan sumbat kapas

: 1 minggu.

b) Tabung dengan sumbat longgar

: 1 minggu.

c) Cawan petri (dalam bungkus plastik)

: 3 minggu.

d) Botol dengan tutup ulir (screwcap)

: 3 bulan.

3. Akuades
Akuadestilata/ aquadest kemungkinan merupakan bahan termurah dari
semua bahanyang digunakan di laboratorium, tetapi tetap merupakan
bahan

penunjang

utamadalam

pembuatan

media.

Akuades

yang

merupakan bahan terpenting dan yang paling sering digunakan, karenanya


kualitas air yang digunakan harus memenuhi standarseperti halnya bahan
lain yang digunakan dalam analisis.Laboratorium harus menetapkan
tingkat kualitas air yang diperlukan sesuai dengan jenis pemeriksaan yang
dilakukan.
Syarat :
1.

pH sekitar 7 (bisa turun karena terpapar dengan udara)

2.

Bebas materi

3.

Kekeruhan
4. DHL (Daya Hantar Listrik)

E. Uji Kualitas
1. Uji Kualitas Reagen
a. Reagen buatan sendiri
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1) Bahan kimia anhidrat (tidak mengandung molekul air) yang
digunakan untuk pembuatan larutan standar kalibrasi dan titrasi
harus dikeringkan terlebih dahulu dalam oven dengan suhu 105C
110C minimal 1-2 jam, sebaiknya satu malam. Kemudian
dinginkan sampai suhu kamar dalam desikator dan timbang dalam
jumlah yang tepat lalu dilarutkan.
2) Bahan kimia garam hidrat (mengandung molekul air) cukup
dikeringkan dalam desikator.

3) Pada waktu pengenceran harus diperhatikan kualitas akuades yang


dipakai. Air yang mengandung kaporit akan mempengaruhi reagen
untuk pemeriksaan kalsium dan klorida, sedangkan air yang
mengandung banyak logam akan mempengaruhi pemeriksaan
logam dan warna.
4) Larutan kerja sifatnya tidak tahan lama sehingga harus dibuat
secukupnya sesuai kebutuhan. Untuk penyimpanan sebaiknya
dalam bentuk larutan stok (larutan induk).
5) Wadah reagen perlu diberi label yang berisi nama reagen (rumus
kimia), tanggal pembuatan, dan paraf pembuat.
6) Harus diketahui sifat bahan kimia yang dibuat. Reagen tertentu
tidak boleh disimpan berdekatan atau dicampur karena dapat
bereaksi.
7) Penyimpanan untuk reagen tertentu mempunyai persyaratan
khusus, misalnya tidak boleh terkena paparan cahaya, harus pada
suhu ruangan, suhu dingin atau beku, dan sebagainya.
b. Reagen yang sudah jadi/ komersial
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1) Etiket/ label wadah
Umumnya pada reagen komersial sudah tercantum nama atau kode
bahan, tanggal produksi, dan batas kadaluwarsa serta nomor batch
reagen tersebut.

2) Batas kadaluwarsa
Perhatikan batas kadaluarsanya. Masa kadaluwarsa yang tercantum
pada kemasan hanya berlaku untuk reagen yang disimpan pada
kondisi baik dan belum pernah dibuka, karena reagen yang
wadahnya sudah pernah dibuka mempunyai masa kadaluwarsa
lebih pendek dari reagen yang belum dibuka.
3) Keadaan fisik
Kemasan harus dalam keadaan utuh, isi tidak mengeras dan tidak
ada perubahan warna. Pengujian kualitas dapat dilakukan dengan:
a) Melakukan pemeriksaan bahan kontrol assayed yang telah
diketahui nilainya dengan menggunakan reagen tersebut.
b) Menggunakan strain kuman untuk uji kualitas reagen
mikrobiologi.
Uji berbagai jenis larutan pewarna dan reagen mikrobiologi dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1. Uji kualitas reagen mikrobiologi
LARUTAN
PEWARNA/
REAGEN/ TES

SPESIMEN/
MEDIA YANG
DIGUNAKAN

Pewarna Gram

Sediaan apus

Streptococcus dan
E. coli

Coccus Gram positif


dan Basil Gram negatif

Pewarna Ziehl
Neelsen

Sediaan apus
dahak

M. tuberculosis dan
campuran flora
tidak tahan asam

Tampak adanya BTA


berbentuk batang
merah dan tidak
ditemukan BTA
Basil/ cocci
Berfluoresensi

Pewarna
Acridine orange

ORGANISME
KONTROL

E. coli
S. aureus

HASIL YANG
DIHARAPKAN

Pewarna Giemsa
Larutan Iodium

Hapusan darah
tepi
Tinja yang
diawetkan
dengan formalin

Parasit malaria
Kista Entamoeba
sp. atau Giardia l.
Bacilllus sp.

Spora

Basitracin disc

Blood Agar
Plate

S. pyogenes
S. faecalis
S. aureus

Catalase

Tryptic soy agar

ONPG

TSI atau Kliger


agar

Optochin disc

Blood Agar
Plate

S. faecalis
Serratia
marcescens, E. coli
S. typhymurium,
Proteus sp.
S. pneumoniae
S. mitis
P. aeruginosa

Oxidase

Tryptic soy agar


E. coli
S. aureus

Coagulase

S. epidermidis
E. coli

Indole

Methyl Red
Voges Proskauer
Oxidase disc

E. aerogenes
E. coli
E. aerogenes
E. coli
E. aerogenes
P. aeruginosa
E. coli

Ditemukan parasit
malaria
Terlihat inti dari kista
Spora terwarnai satu
warna, bacillus
terwarnai warna lain/
counter stain
Ada zone pembatas
Tidak ada zone
pembatas
Terlihat adanya
bubbles (gelembung)
Tidak terdapat bubbles
Berwarna kuning
Tidak berwarna
Tidak ada pertumbuhan
di sekitar disc
Ada pertumbuhan di
sekitar disc
Warna koloni menjadi
merah hitam/ ungu
dalam 20 detik
Koloni tidak berubah
warna
Terbentuk gumpalan
dalam 4 jam
Tidak terbentuk
gumpalan
Cincin merah pada
permukaan
Cincin kuning pada
permukaan
Warna merah
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Warna merah
Warna ungu dalam 30
detik
Tidak berwarna dalam
30 detik

2. Uji kualitas media


Agar media mempunyai kualitas seperti yang diharapkan perlu
dilakukan uji kualitas, seperti uji sterilitas dan uji spesifitas. Uji sterilitas
dilakukan untuk mengetahui apakah bahan atau sediaan steril, sudah
memenuhi syarat atau tidak. Uji sterilitas dapat dilakukan dengan
mengeramkan (inkubasi) media selama 2-3 hari didalam inkubator. Pada
media idealnya tidak boleh ditemukan pertumbuhan bakteri. Akan tetapi
koloni yang tumbuh < 2 dapat diterima. Sedangkan uji spesifitas dilakukan
dengan menggunakan bakteri kontrol yang sesuai dengan jenis dan fungsi
media yang dibuat. Hal ini bermanfaat untuk membantu mengetahui
kelompok dan jenis serta fungsi media yang dibutuhkan. Uji kualitas
media mencakup aspek yang luas, baik media buatan sendiri maupun
media jadi, oleh karena itu penyiapan media harus mendapat perhatian.
Selama proses pembuatan media sebaiknya diawasi oleh seorang
pengawas, agar dapat terjamin kualitasnya. Kualitas media harus diperiksa
dahulu sebelum media digunakan. Ada bermacam-macam cara untuk
menguji mutu media yang telah dibuat, yaitu:
a. Secara visual
yaitu dengan memperhatikan atau melihat warna, kekeruhan dan lainlain. Contoh:
1) Media gula-gula yang dilengkapi tabung durham bila terlihat
gelembung udara berarti sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

2) Bila warna media tidak sesuai dengan warna standar maka harus
dicurigai adanya perbedaan pH, untuk itu periksalah dengan pH
meter. Bila pH media berbeda 0,2 satuan, tambahkan asam atau
basa atau dibuat baru.
b. Uji Sterilitas
Uji sterilitas merupakan suatu keharusan terutama pada media yang
diperkaya dengan bahan-bahan tertentu seperti agar darah atau agar
coklat. Caranya:
1) Ambil sejumlah 5% dari tiap batch media yang dibuat.
2) Inkubasi selama 1-2 hari pada suhu 35C.
3) Bila terdapat pertumbuhan lebih dari 2 koloni mikroorganisme per
cawan petri atau lebih, berarti seluruh media dari batch tersebut
tidak dapat dipakai.
c. Uji spesifitas dengan penanaman mikroorganisme kontrol positif dan
kontrol negatif
Mikroorganisme

kontrol

kualitas

(strain

kuman)

adalah

mikroorganisme spesifik yang seharusnya tumbuh pada media tertentu.


Mikroorganisme tersebut memiliki ciri morfologi, biokimia, dan
serologi yang dapat diuji dan mampu menunjukkan stabilitas
reproduksi yang tetap bilamana ditempatkan pada kondisi yang sesuai.
Uji media dengan menggunakan kuman kontrol positif dan kontrol
negatif ini dapat dilihat pada Tabel 2.

MEDIA
Bile aseculin
agar
Blood agar
Chocolate agar

Tabel 2. Uji media dengan menggunakan kuman


ORGANISME
HASIL YANG
INKUBASI
KONTROL
DIHARAPKAN
24 jam
E. faecalis
Tumbuh & menjadi hitam
S. pyogenes
Tidak tumbuh
24 jam CO2/ S. pyogenes
Tumbuh dan hemolisis
candle jar
S. pneumoniae
Tumbuh dan hemolisis
24 jam CO2 Haemophilus
Tumbuh
influenzae

Decarboxidase
- lysine

48 jam

- ornithine

48 jam

- arginine
(dihydrolase)
Gelatine (rapid
test)
Kligler's iron
agar dan Triple
sugar iron agar

48 jam
24 jam
24 jam

Mac Conkey
24 jam
agar
aerob
Malonate broth 24 jam
Manitol salt
agar

24 jam
aerob

Methyl red/
Voges
Peoskauer
MuellerHinton agar

48 jam

Nitrate broth

24 jam

OF dextrose
(without oil)

24 jam

Pepton water
(indole)

24 jam

24 jam

S. typhymurium
Shigellaflexneri
S. typhymurium
K. pneumoniae
S. typhymurium
K. pneumoniae
E.coli
Serratia marcescens
Citrobacterfreundi
S. typhimurium
S. flexneri
Acinetobacter
E.coli
P. mirabilis
E. coli
K. pneumoniae
S. aureus
T. epidermidis
E. coli
E. coli
K. pneumoniae

Positif
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Negatif
Negatif
Positif
A/A gas + H2S*)
K/A gas + H2S *)
K/A
Tidak ada perubahan
Koloni merah
Koloni tak berwarna
Negatif (hijau)
Positif (biru)
Koloni kuning
Koloni merah muda Tidak
tumbuh
Positif/negatif
Positif/negatif

E. coli ATCC 25922


S.aureus ATCC
25923
P. aeruginosa ATCC
27853
E. coli
Acinetobacter
P. aeruginosa
Acinetobacter
calcoaceticus biovar
Iwoffi
E. coli
P. mirabilis

Diameter zone yang dapat


diterima (lihat tabel 15)

Positif
Negatif
Oksidasi pada permukaan
Tidakada perubahan
Positif
Negatif

Phenylalanine
deaminase
Rappaport
broth
Selenite broth
& kultur
Tetrathionate
broth
Salmonella/
Shigella (SS)
agar

24 jam

Simmons
citrate
TCBS

48 jam

Thayer- Martin
agar

24 jam
CO2

Thioglycollate
broth
Urea medium

24 jam

24 jam

24 jam
aerob
24 jam suhu
kamar

24 jam

24 jam

E. coli
P. mirabilis
S. typhimurium
E. coli

Negatif
Positif
Tumbuh setelah sub kultur
Tumbuh tanpa sub

E. coli
S. typhimurium
Yersinia
enterocolitica
Shigella flexineri
E. coli
K. pneumoniae
Vibrio (non
agglutinable)
E. coli
N. meningitidis
M. gonorrhoeae
Staphylococcus
E. coli Candida
albicans
Bacteroidesfragilis

Tumbuh koloni
Tidak tumbuh
Tidak berwarna
Tidak berwarna

Ecoli
P. mirabilis

Negatif
Positif (merah muda)

Tidak tumbuh
Tumbuh warna biru
Koloni kuning
Tidak tumbuh
Tumbuh
Tumbuh
Tumbuh
Tidak tumbuh
Tumbuh
Tumbuh

d. Uji kualitas pemeriksaan kepekaan bakteri


e. Uji kinerja pada media dengan batch baru adalah:
1) Siapkan suspensi galur stok dengan kekeruhan yang hampir tidak
terlihat, setara dengan kekeruhan baku barium sulfat yang
digunakan pada metode Kirby-Bauer yang telah dimodifikasi
(McFarland 0,5) (lihat hal. 102) dan gunakan 1 sengkelit sebagai
inokulum.
2) Inkubasi selama waktu yang rutin digunakan. Baca plat seperti
biasa.

3) Buatlah pencatatan hasil dengan baik.


A. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
MIKROBIOLOGI

PEMBUATAN

MEDIA

sederhana

yang

1. Media Nutrient Agar (NA)

Merupakan

media

pembiakan

mengandung zat-zat yang umum di perlukan oleh


sebagian besar mikroorganisme dan dipakai juga
sebagai komponen dasar untuk

membuat media

biakan lainnya.
a. Komposisi :
Ekstark sapi = 3 gram
Pepton = 5 gram
Agar = 15 gram
PH = 6,8
Aquadest = 1000 mL
b. Alat :

Kertas timbang

Cawan petri

Neraca analitik

Erlen Meyer

Sendok

Gelas ukur

c. Kontrol Kwalitas :
- Kontrol Positif : Stephylococus, Echerichia coli
- Kontrol Negatif : Media yang tidak ditanami
d. Prosedur Kerja :
1. Di timbang 20 gram Nutrient Agar, kemudian media di larutkan
dengan aquadest sebanyak 500mL dalam Erlenmeyer (Erlenmeyer di
beri label).
2. Erlenmeyerdi beri media di tutup rapat kemudian panaskan kurang
lebih 10 menit pada suhu 50 derajat celcius.

3. Mdia di dinginkan kemudian media tersebut di bagi 2. Mulut


erlenmeyer di sumbat dengan kapas, di tutup dengan kertas dan ikat
dengan tali.
4.

Media di sterilkan dalam Autoclave selama 15 menit dengan suhu 121


derajat celcius.

5.

Erlenmeyer pertama di perkirakan suhunya 80 derajat celcius, di


tambahkan darah vena sebanyak 3 cc dengan cara di semprotkan
melalui dinding Erlenmeyer.

6.

Media di kocok (jangan sampai terbentuk busa) dan di tuang ke dalam


cawan petri sebanyak detengah dari volume cawan petri.

2. Blood Agar Plate (BAP)

Media ini di gunakan untuk menumbuhkan mikro


organisme yang sulit untuk dibiakan dan juga untuk di
membedakan kelompok mikro organisme yang melisis
atau tidak melisiskan butir darah merah.
Agar darah terdiri dari bahan dasar yang mengandung
5% darah domba. Lisis butir darah merah terlihat
sebagai wiayah jernih di sekitar koloni. Bila proses lisis
sempurna akan terlihat di wilayah yang benar-benar
jernih dan jenis hemalisisnya di sebut beta hemolisis.
Bila proses lisis tidak sempurna dan media berwarna
kehijauan maka jenis hemolisisnya di sebut Alpha
Hemolisis. Bakteri yang tidak mampu melisiskan butir
darah dan tidak menyebabkan perubahan nyata pada
media tersebut di sebut gamma hemolisi. Kelompok
mikro organisme yang sering di bedakan berdasarkan
kemampuan melisiskan butir darah merah adalah
sreptococcus dan staphylococcus, proses hemolisis di
sebabkanoleh enzim yang di lepas mikro organisme.
a. Komposisi :

Heart extract = 10 gram


Tryphtose = 10 gram
Nacl = 5 gram

Agar-agar = 15 gram

PH = 6,9

Aquadest

b. Alat :

Kertas timbang

Cawan petri

Neraca analitik

Erlenmeyer

Sendok

Gelas ukur

Autoclave

Gelas ukur

Petridich

Alat Pemanas

Sendok Reagen

c. Prosedur Kerja
1.

Larutkan 40 gram bahan tersebut dengan 1 liter


aquadest

2.

Sterilkan dengan menggunakan autoclave 115


derajat celcius selama 25 menit.

3.

Setelah

di

sterilkan,

dinginkan

pada

suhu

50derajat celcius kemudian tambahkan 4-8%


darah domba, aduk rata.
4.

Tuang dalam petridich steril kurang lebih 25 cc


secara aseptis. Hindari gelembung udara dan
simpan dalam lemari es.

d. Kontrol Kwalitas ;

Kontrol

Positif

Streptococcus

pyogenes,

Sterptococcus
Pneumoniae

Kontrol Negatif : Media yang tidak ditanami

3. TCBS

a. Komposisi :
Yeast extract = 5 gram
Bacteriological Peptone = 10 gram
Sodium thiosulphate = 10 gram
Sodium Citrate = 10 gram
Ox bile = 8 gram
Sucrose = 20 gram
Sodium Chloride = 10 gram
Broom Thymol Blue = 0,04 gram
Thymol Blue = 0,04 gram
Agar = 14 gram
Aquadest = 1000 mL
PH = 8,6
b. Alat :
Timbangan analitik
Gelas ukur
Erlen Meyer
Sendok reagen
Alat Pemanas
c. Prosedur Kerja

Ditimbang 88 gram dehydrate medium kemudian


masukkan ke dalam erlenmeyer dan larutkan
1000mL aquadest.
Bila belum larut panaskan di atas nyala api
sampai suhunya 45-50 derajat celcius.
Jangan

menggunakan

autoclave,

kemudian

tuangkan pada petridisk.


Medium

TCBS

Oxid

sempurna

dan

tidak

membutuhkan bahan tambahan atau tambahan


darah steril, dan media ini lebih menguntungkan
dari media lanryl sulphate tellurite agar yang
membutuhkan tambahan lebih lanjut setelah
pensterilisasian

penampakan

koloni

dari

organisme. Pada media TCBS setelah 24 jam


inkubasi pada suhu 35 derajat celcius.
Bakteri Koloni
1. Vibrio parahaemolyticus kuning, tipis
2. Vibrio Alginiliticus biru, kekuning-kuningan
3. Vibrio Metchnicovin kuning(3,5mm)
4. Vibrio Flufialis kuning (3,4mm)
5. Vibrio Vulnivicus biru, kehijauan (2,3mm)
6. Vibrio mimicus biru, kehijauan (1mm)
Kontrol Kwalitas :
Kontrol Positif : Vibrio Colera
Kontrol

Negatif

: Escheristia

coli

di

hambat

pertumbuhannya
4. Mac Conkey Agar (MCA)

Pembenihan ini bersifat selektif untuk hasil gram


negative baik Enterobacteriateae maupun yang non

fermented basilgram negative, sedangakn bakteri


lainnya umumnya tidak tumbuh / tumbuh dengan
tidak subur.
Persenyawaan utama dalam media ini adalah
laktosa, garam empedu dan nerah netral. Media ini
menghambat pertumbuhan bakteri garam poditif yang
di sebabkan oleh garam empedu dan kristal violet,
bakteri gram negatif yang tumbuh di bedakan dalam
kemampuannya memfermentasekan aktosa.
Koloni dari bakteri yang memfermentasekan
laktosa berwarna merah bata dan di kelilingi oleh
endapan garam empedu. Endapan ini di sebabkan oleh
enguraian

laktosa

menjadi

asam

yamg

bereaksi

dengan garam empedu.


Bakteri yang tidak memfermentasekan laktosa
biasanya bersifat pathogen. Golongan bakteri ini
tidakmemperlihatkan perubahan pada media. Warna
koloni di lihat pada bagian koloni terpisah.
a. Komposisi :
Peptone Yeast extract = 17 gram
Agar = 13,5 gram
Protease Pepton = 3 gram
Netral Red = 0,03 gram
Lactosa = 10 gram

Crystal Violet = 0,001gram

Bile salt no 3 = 1,5 gram


Aquadest = 1000 ml
Sodium Cloride = 5 gram
PH = 7,4
b. Alat :

Erlen Meyer
Sendok tanduk

Gelas ukur

Tabung Reaksi
Tabung Durham

Beaker Gelas

Botol semprot

c. Prosedur Kerja
Timbang bahan tersebut di atas, masukkan
dalam beaker gelas 50 mL dan larutkan dengan
aquadest dan masukkan dalam Erlen meyer.
Homogenkan dengan cara di panaskan di dalam
pemanas selama 15 menit, kemudian mulut
Erlenmeyer di sumbat dengan menggunakan
kapas, yang dilapisi kertas, kemudian sumbatan
tersebut di tutup kembali dengan menggunakan
kertas, lalu di ikat.
Sterilkan media tersebut di dalam autoclave pada
suhu 121 derajat celcius selama 15 menit.
Dinginkan,

kemudian

tuangkan

petridish dan simpan dalam lemari es.

ke

dalam

5. Salmonella Sigella Agar (SSA)

Perbenihan ini mirip MCA, hanya penggunaanya lebih


khusus lagi untuk basil gram negative pathogen
enteric, sehingga di pakai untuk isolasi dari specimen
yinja terutama salmonella shigella yang keduanya
memperlihatkan pertumbuhan koloni yang tidak
berwarna. Sebagai bahan penghambat utama adalah
garam empedu dan brilliant green yang tidak hanya
mengam,bat bakteri asam positif saja tetapi menekan
pertumbuhan basil pathogen non enteric lainnya.
a. Komposisi:
Ekstark sapi = 5 gram
Proteose peptone = 5 gram

Laktosa = 10 gram

Garam bile no.3 = 8,5 gram

Natrium sitart = 8,5 gram

Ferrik sitrat = 1 gram

Agar = 13,5 gram

Merah netral = 0,025 gram

Hijau brilliant = 0,33 gram

Aquadest = 1000 mL dan pH


b. Alat :
Tabung reaksi
Petridisk
Sendok tanduk
Autoclave
Erlenmeyer

Gelas ukur

Timbangan analitik
c. Prosedur Kerja

Timbang bahan tersebut, kemudian masukkan


dalam beaker glass 50 ml dan larutkan dengan
aquadest, lalu masukkan ke dalam Erlenmeyer
Homogenkan dengan cara di panaskan diatas
pemabas selama 15 menit
Sterilkan media tersebut di dalam autoclave pada
suhu 121 derajat celcius selama 15 menit
Diingimgan dan tuang ke dalam petridish dan
simpan dalam lemari es
d. Kontrol Kwalitas
Kontrol

Positif

Salmpnella

typhimurium,

Salmonella
enteridis
Kontrol Negative : Enterococcus raecallis
6. Manitol Salt Agar (MSA)

Persenyawaan utama dalam media ini adalah


NaCL 7,5 %, mannitol, dan merah fenol. Media ini
terutama

di

gunakan

untuk

membedakan

staphylococcus yang bersifat pathogen dan yang tidak


pathogen.
Media

ini

mengandung

kadar

NaCL

tinggi,

sehingga akan menghambat pertumbuhan bakteri,


namun

staphylococcus

pertumbuhannya.

tidak

Staphylococcus

di
aureus

hambat
akan

membentuk zona kuning. Sedangak S. epidermis akan


membentuk zona merah. Warna kuning di sebsbkan
oleh fermentasi mannitol disertai permukaan asam,
sedangkan warna merahdi sebabkan oleh mennitol
yang tidak di frementsikan. Merah fenol merupakan

indicator untuk melihat adanya pembentukan asam.


Pada

umumnya S.

pathogen,sedangkan

S.

Aureus bersifat

Epidermis

bersifat

tidak

pathogen.
a. Komposisi:
Ekstark sapi = 1 gram

Proteose peptone no.3 = 10 gram

NaCL = 75 gram

D-Mannitol = 75 gram
Agar = 15 gram
Merah fenol = 0,025 gram

Aquadest = 1000mL

PH = 7,4
b. Alat :
Cawan petri

Gelas kimia

Tabung reaksi
Autoclave
Erlenmeyer

Rak tabung

Neraca analitik

c. Prosedur Kerja:
Larutksn 60 gram dehydrate medium dalam
1000ml aquadest dingin.

Kocok dan panasi sampai mendidih ( jangan


terlalu lama mendidih) sampai larut sempurna.

Tidak usah steril, tuang pada kotak Petri dalam


beaker glass 50 ml.

Media Uji Biokimia


A. Media Sulfide Indole Motility (SIM)
1. Komposisi Media :

Peptone from casein (20)

Peptone from meat (6,6)

Amonium ion (III) citrate (0,2)

Sodium thio sulfate(0,2), Agar-agar (3,0)

2. Cara Pembuatan :

Melarutkan 30 gr Sulfide Indole Motility (SIM) dalam 1 L


aquadest

mendidihkan menggunakan hot plate, dan menghomogenkan


menggunakan magnetic stirrer.

Kemudian mensterilisasi menggunakan autoclave pada suhu


121 C selama 15 menit.

B. Media Fermentasi Karbohidrat


1. Komposisi Media :
Karbohidrat(5),
Nutrient broth (13),
20 tetes indicator phenol red 1.6%.
2. Cara Pembuatan :
Melarutkan sebanyak 5 gr karbohidrat dan 13 gr Nutrient broth
dalam 1 L aquadest,
Mendidihkan menggunakan hot plate, dan menghomogenkan
menggunakan magnetic stirrer.
Menambahkan 20 tetes indikator phenol red saat hampir
mendidih.Kemudian mensterilisasi menggunakan autoclave
pada suhu 121 C selama 15 menit.
C. Media Pengujian Sitrat Sebagai Sumber Karbon (Simon Citrat
Agar)
1. Komposisi media (g/L) :

Ammonium dihydrogen phosphate (1),


di-Potassium hydrogen phosphate (1),
Sodium chloride (5),
Sodium citrate (2),
Magnesium sulfate (0,2),
Bromothymol blue (0,08),
Agar-agar (13).

2. Cara Pembuatan :
Melarutkan 22,5 gr Simon Citrate Agar (SCA) dalam 1 L
aquadest.
Mendidihkan menggunakan hot plate, dan menghomogenkan
103 menggunakan magnetic stirrer.
Kemudian mensterilisasi menggunakan autoclave pada suhu
121 C selama 15 menit.

Daftar Pustaka
Prihatini, Pengendalian Mutu Bidang Mikrobiologi Klinik (Quality control in
clinical microbiology), Indonesian Journal of Clinical Pathology and
Medical Laboratory, 2006.
Girsang, Merryani, Kendali Mutu Laboratorium Kesehatan Dalam Upaya Peningkatan
Mutu Pelayanan Kesehatan, Media Litbangkes, 1998.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2013, Cara
Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik. Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. 2013.
Vandepitte, J dan Verhaegen, J, Prosedur Laboratorium Dasar Untuk Bakteriologi
Klinis, Jakarta: EGC. 2010.