Anda di halaman 1dari 31

MATERI KULIAH BAHAN BANGUNAN

MIX DESIGN STRUKTUR BETON K-350


Dosen Pengampu : Yusuf Amran, S.T, M.T

Disusun Oleh : Kelompok V


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

RISANDI
LAGITA OKTAVIANI
RICO HANDOKO
AZIS AJI PANGESTU
WAHYUDI
FEBRI
SATRIO

(15510057)
(15510049)
(15510053)
(15510005)
(15510025)
(15510067)
(15510059)

JURUSAN TEKNK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Mix Design Struktur
Beton Gedung Bertingkat K-350. Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas mata kuliah Bahan Bangunan Semester 2.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak. Tak lupa penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada Bpk. Yusuf Amran, S.T, M.T, selaku dosen pengampu mata kuliah
Bahan Bangunan yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi
sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga
tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.

Metro, Juni 2016


Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................

KATA PENGANTAR....................................................................................................

ii

DAFTAR ISI..................................................................................................................

iii

BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................

1.1 Latar Belakang...................................................................................................


1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
1.3 Tujuan................................................................................................................

1
1
2

BAB 2 : PEMBAHASAN..............................................................................................

2.1
2.2
2.3
2.4

KRITERIA PERENCANAAN...........................................................................
METODE SNI 03-2834-1993............................................................................
LANGKAH HITUNGAN..................................................................................
CONTOH HITUNGAN ...................................................................................

3
5
23
24

BAB 3 : PENUTUP.......................................................................................................

27

4.1 Kesimpulan........................................................................................................

27

4.2 Saran..................................................................................................................

27

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................

28

LAMPIRAN...................................................................................................................

29

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Campuran beton merupakan perpaduan dari komposit material penyusunnya.

Karakteristik dan sifat bahan akan mempengaruhi hasil rancangan. Perancangan


campuran beton dimaksudkan untuk mengetahui komposisi atau proporsi bahan-bahan
penyusun beton. Proporsi campuran dari bahan-bahan penyusun beton ini ditentun
melalui sebuah perancangan beton (mix design). Hal ini dilakukan agar proporsi
campuran dapat memenuhi syarat teknis serta ekonomis. Dalam menentukan proporsi
campuran dapat digunakan beberapa metode yang dikenal antara lain: (1). Metode
Ameican Concrete Institute, (2). Portland Cement Association, (3). Road Note No. 4,
(4). British Standard atau Departement of Environment, (5). Departemen Pekerjaan
Umum, dan (6). Cara coba-coba.
Perencanaan campuran beton (mix design) dimaksudkan untuk pemilihan
material/bahan, menentukan proporsi masing-masing bahan, sehingga diperoleh beton
yang mempunyai kuat tekan seperti yang direncanakan, mudah dikerjakan
(pengadukan, pengangkutan, penuangan, pemadatan dan perataan) tanpa kecenderungan
akan terjadi segregasi dan bleeding, tahan lama, serta ekonomis.
Beton adalah material yang mempunyai kuat tekan yang besar, karena itu mutu
beton selalu diukur berdasarkan kuat tekan (fc). Sedangkan faktor-fakor yang
mempengaruhi kuat tekan beton adalah fas dan kepadatan, umur beton, jenis semen dan
jumlah semen, dan sifat agregat.

1.2.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja kriteria perencanaan?
2. Apa yang dimaksud dengan Metode SK.SNI.T-15-1990-03 yang digunakan
dalam perancangan beton?
3. Bagaimana langkah-langkah hitungannya?
4. Bagaimana contoh hitungannya pada struktur beton K-350 ?

1.3.

TUJUAN

Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita
semua tentang perancangan beton (mix design), khususnya yaitu kriteria perencanaan,
metode-metode yang digunakan dalam perancangan campuran beton, pelaksanaan
campuran di laboratorium, beserta contoh perhitungan campuran agregat.

BAB II
5

PEMBAHASAN

2.1. KRITERIA PERENCANAAN


Perencanaan campuran beton merupakan suatu hal komplek jika dilihat dari
perbedaan sifat dan karakteristik bahan penyusunnya. Karena bahan penyusun tersebut
akan menyebabkan variasi dari produk beton yang dihasilkan. Pada dasarnya
perancangan campuran dimaksudkan untuk menghasilkan suatu proporsi campuran
bahan yang optimal dengan kekuatan maksimum. Pengertian optimal adalah
penggunaan bahan yang minimum dengan tetap mempertimbangkan kriteria standar
dan ekonomis dilihat dari biaya keseluruhan untuk membuat truktur beton tersebut.
Kriteria dasar perancangan beton adalah kekuatan tekan dan hubungannya
dengan faktor air semen yang digunakan. Kriteria ini sebenarnya kontradiktif dengan
kemudahan pengerjaan karena menurut Abram, 1920 (Neville, 1981) untuk
menghasilkan kekuatan yang tinggi penggunaan air dalam campuran beton harus
minimum. Jika air yang digunakan sedikit, akan timbul kesulitan dalam pengerjaan
sesuai dengan pendapat Feret (1896) yang mempertimbangkan pengaruh rongga
(voids).
Kriteria lain yang harus diprtimbangkan adalah kemudahan pengerjaan. Seperti
yang disebutkan di atas, faktor air semen yang kecil akan menghasilkan kekuatan yang
tinggi, tetapi kemudahan dalam pengerjaan tak akan tercapai. Perancangan beton tetap
harus mempertimbangkan hal ini, salah satunya dengan menggunakan bahan tambah
jenis plastisizer atau super-plastisizer. Jika pengerjaan beton menggunakan pumpingconcrete, mutlak dibutuhkan keenceran tertentu agar sifat pemompaan bwton saat
pengecoran dapat berjalan dengan baik.
Pemilihan agregat yang digunakan juga mempengaruhi sifat pengerjaan. Butiran
yang besar akan menyebabkan kesulitan, terutama karena akan menimbulkan segregasi.
Jika ini terjadi, kemungkinan terbentuknya rongga-rongga pada saat beton mengeras
akan semakin besar. Selain dua kriteria utama tersebut, hal lain yang patut
dipertimbangkan adalah keawetan (durability) dan permeabilitas beton sendiri.
2.1.1. Variabilitas
6

Variabilitas dalam beton akan mempengaruhi nilai kekuatan tekan dalam


perancangan. Pengertian variabilitas dalam kekuatan beton pada dasarnya tercermin
melalui standar deviasi. Asumsi yang digunakan dalam perencanaan bahwa kekuatan
beton akan terdistribusi normal selama masa pelaksanaan yang diambil melalui hasil
pengujian di laboratorium. Secara umum rumusan mengenai kekuatan tekan dengan
mempertimbangkan variabilitas ditulis sebagai:
f ' cr =f ' c+ k . S
dimana fcr adalah kekuatan tekan rencana rata-rata, fc adalah kekuatan tekan rencana,
S nilai standar deviasi dan k adalah suatu konstanta yang diturunkan dari distribusi
normal kekuatan tekan yang diijinkan biasanya diambil sebesar 1,64. Nilai k di Amerika
adalah 1,64, di Inggris dibulatkan menjadi 1,64, sedangkan di Australia 1,65.
Gambar 1.1. Kurva Distribusi Normal
Beberapa peneliti di komite ACI memberikan nilai dasar k sebesar 1,64 atas
variasi pengujian dari beton normal dengan kekuatan tekan 25 55 Mpa. Untuk variasi
kekuatan tekan beton dengan nilai lebih besar dari 55 MPa nilai variasi yang digunakan
merupakan nilai variasi sebenarnya dari hasil uji statistik.

2.1.2. Keamanan dan Umur Rencana


Nilai keamanan dalam perancangan beton dicerminkan dari batas yang diijinkan
ditolak sebsar 5%, yang merupakan suatu nilai variabilitas dikalikan dengan nilai
standar penyimpangan yang diduga terjadi. Nilai keamanan dalam perancangan beton
dinamakan suatu nilai tambah (margin).
Kekuatan tekan rencana dalam perancangan didasarkan atas kekuatan tekan
maksimum yang terjadi selama masa pengerasan. Kekuatan tekan beton maksimum
biasanya tercapai setelah umur 28 hari. Umur 28 hari ini dijadikan sebagai umur recana.

2.2 METODE SNI 03-2834-1993 (TATA CARA PEMBUATAN RENCANA


PEMBUATAN BETON NORMAL)
7

2.2.1. Ruang lingkup


Tata cara ini meliputi persyaratan umum dan persyaratan teknis perencanaan
proporsi campuran beton untuk digunakan sebagai salah satu acuan bagi para perencana
dan pelaksana dalam merencanakan proporsi campuran beton tanpa menggunakan
bahan tambah untuk menghasilkan mutu beton sesuai dengan rencana.

2.2.2. Pengertian
Dalam standar ini yang dimaksud dengan:
1. Beton adalah campuran antara semen Portland atau semen hidraulik yang lain,
agregat halus, agregat kasar dan air dengan atau tampa bahan tambah
membentuk massa padat;
2. Beton normal adalah beton yang mempunyai berat isi (2200 2500) kg/m 3
menggunakan agregat alam yang dipecah;
3. Agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi secara alami dari batu
atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran
butir terbesar 5,0 mm
4. Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari batu atau
berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai
ukuran butir antara 5 mm 40 mm
5. Kuat tekan beton yang disyaratkan fc adalah kuat tekan yang ditetapkan oleh
perencana struktur (berdasarkan benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm,
tinggi 300 mm);
6. Kuat tekan beton yang ditargetkan fcr adalah kuat tekan rata rata yang
diharapkan dapat dicapai yang lebih besar dari fc;
7. Kadar air bebas adalah jumlah air yang dicampur ke dalam beton untuk
mencapai konsistensi tertentu, tidak termasuk air yang diserap oleh agregat;
8. Factor air semen adalah angka perbandingan antara berat air bebas dan berat
semen dalam beton;
9. Slump adalah salah satu ukuran kekentalan adukan beton dinyatakan dalam mm
ditentukan dengan alat kerucut abram (SNI 03-1972-1990 tentang Metode
Pengujian Slump Beton Semen Portland);
10. Pozolan adalah bahan yang mengandung silica amorf, apabila dicampur dengan
kapur dan air akan membentuk benda padat yang keras dan bahan yang

tergolongkan pozolan adalah tras, semen merah, abu terbang, dan bubukan terak
tanur tinggi
11. Semen Portland-pozolan adalah campuran semen Porland dengan pozolan antara
15% - 40% berat total camnpuran dan kandungan SiO 2 + Al2O3 + Fe2O3 dalam
pozolan minimum 70%;
12. Semen Portland tipe I adalah semen Portland untuk penggunaan umum tanpa
persyaratan khusus;
13. Semen Portland tipe II adalah semen Portland yang dalam penggunaannya
memerlukan ketahan terhadap sulfat dan kalor hidrasi sedang;
14. Semen Portland tipe III adalah semen Portland yang dalam penggunaannya
memerlukan kekuatan tinggi pada tahap permulaan setelah pengikatan terjadi;
15. Semen Portland tipe V adalah semen Portland yang dalam penggunaannya
memerlukan ketahan yang tinggi terhadap sulfat;
16. Bahan tambah adalah bahan yang ditambahkan pada campuran bahan
pembuatan
beton untuk tujuan tertentu.

2.2.3. Persyaratan-Persyaratan
Persyaratan umum yang harus dipenuhi sebagai berikut:
1. Proposi campuran beton harus menghasilkan beton yang memenuhi persyaratan
berikut:
a. kekentalan yang memungkinkan pengerjaan beton (penuangan, pemadatan,
dan perataan) dengan mudah dapat mengisi acuan dan menutup permukaan
secara serba sama (homogen);
b. keawetan;
c. kuat tekan;
d. ekonomis;
2. Beton yang dibuat harus menggunakan bahan agregat normal tanpa bahan
tambah.

2.2.4.

Perhitungan Proporsi Campuran


Pemilihan proporsi campuran beton harus ditentukan berdasarkan hubungan

antara Kuat Tekan Beton dan Faktor Air Semen (fas).


Perhitungan perencanaan campuran beton harus didasarkan pada data sifat-sifat
bahan yang digunakan.

Bila pada bagian pekerjaan konstruksi yang berbeda akan digunakan bahan yang
berbeda, maka proporsi campuran yang akan digunakan harus direncanakan secara
terpisah.
Susunan campuran beton yang diperoleh dari perhitungan perencanaan
campuran harus dibuktikan melalui campuran coba yang menunjukkan bahwa proporsi
tersebut memenuhi kekuatan beton yang disyaratkan. Bahan untuk campuran coba
harus mewakili bahan yang akan digunakan pada campuran sebenarnya.
1. Kuat tekan rata-rata yang ditargetkan dihitung dari:
a. Deviasi Standar yang didapat dari pengalaman di lapangan selama produksi
beton menurut rumus:

x
n

sd

i 1

n 1

dengan:
sd : deviasi standar
xi : kuat tekan beton yang didapat dari masing-masing benda uji
n

x
i 1

: kuat tekan beton rata-rata (


)
n : jumlah data/nilai hasil uji (minimum 30 buah)

Deviasi

standar

ditentukan

berdasarkan

tingkat

mutu

pengendali-an

pelaksanaan pencampuran beton dan volume adukan beton yang dibuat (Tabel
1.b), makin baik mutu pelaksanaan maka makin kecil nilai deviasi standar.
Penetapan nilai ini juga berdasarkan hasil pengalaman praktek
b. Nilai Tambah dihitung menurut rumus:
M =1,64 Sr

dengan
M adalah nilai tambah
1,64 adalah tetapan statistic yang nilainya tergantung pada persentase
kegagalan hasil uji sebesar maksimum 5 %
10

Sr adalah deviasi standar rencana

Apabila dalam suatu produksi beton, hanya terdapat 15 sampai 29 hasil uji
yang berurutan, maka nilai deviasi standar adalah perkalian deviasi standar
yang dihitung berdasarkan data uji tersebut dengan faktor pengali (k) seperti
Tabel 1.b. Sedang bila jumlah data hasil uji kurang dari 15, maka nilai
tambah (M) diambil tidak kurang dari 12 MPa.
c. Kuat Tekan Rata-rata yang ditargetkan dihitung menurut rumus berikut:
f ' cr =f ' c+ M
f ' cr =f ' c+ 1,64 . Sr
Tabel 1.a. Faktor pengali (k) deviasi standar
Jumlah Data

30

25

20

15

< 15

Faktor Pengali

1,00

1,03

1,08

1,15

Tabel 1.b. Mutu pelaksanaan, volume adukan dan deviasi standar


Volume Pekerjaan
Volume Beton
Sebutan
(m)
Kecil
< 1000
Sedang
1000 - 3000
Besar
> 3000

Deviasi Standar sd (MPa)


Mutu Pekerjaan
Baik Sekali
Baik
Dapat Diterima
4,5 < s 5,5 5,5 < s 6,5
6,5 < s 8,5
3,5 < s 4,5 4,5 < s 5,5
5,5 < s 7,5
2,5 < s 3,5 3,5 < s 4,5
4,5 < s 6,5

Tabel 1.c. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan
Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan
Memuaskan
Sangat Baik
11

Sd (MPa)
2,8
3,5

Baik
Cukup
Jelek
Tanpa Kendali

4,2
5,6
7,0
8,4

2. Pemilihan Factor Air Semen


Factor air semen yang diperlukan untuk mencapai kuat tekan rata-rata yang
ditargetkan didasarkan:
1) hubungan kuat tekan dan factor air semen yang diperoleh dari penelitian
lapangan sesuai dengan bahan dan kondisi pekerjaan yang diusulkan. Bila
tidak tersedia data hasil penelitian sebagai pedoman dapat dipergunakan Tabel
2 dan Grafik 1 atau 2;
a) Cara 1 : digunakan jika data agregat kasar tidak diketahui dengan lengkap,
yaitu nilai fas dicari dengan menggunakan Grafik 1, dan
b) Cara 2 : digunakan jika data agregat kasar diketahui lengkap, disini nilai fas
dicari dengan menggunakan Tabel 2 dan Grafik 2.
2) untuk lingkungan khusus, faktor air semen maksimum harus memenuhi SNI
03-1915-1992 tentang spesifikasi beton tahan sulfat dan SNI 03-2914-1994
tentang spesifikasi beton bertulang kedap air, (Tabel 4., Tabel 5., dan Tabel 6.)

Fas yang digunakan adalah nilai terkecil dari nilai fas :

Persyaratan lingkungan khusus dan cara 1, atau


Persyaratan lingkungan khusus dan cara 2.

Tabel 2. Perkiraan kekuatan tekan (MPa) beton dengan Factor air semen, dan agregat
kasar yang biasa dipakai di Indonesia.

Jenis semen

Jens agregat kasar

Semen Portland

Batu tak dipecahkan

Tipe 1
Semen tahan sulfat

Batu pecah
Batu tak dipecahkan

Tipe II, V
Semen Portland

Batu pecah
Batu tak dipecahkan

Tipe III

Batu pecah
Batu tak dipecahkan
12

Kekuatan tekan (MPa)


Pada umur (hari)
Bentuk uji
3
7
28 29
17 23 33 40
Silinder
19 27 37 45
20 28 40 48
Kubus
25 32 45 54
21 28 38 44
Silinder
25 33 44 48
25 31 46 53
Kubus

Batu pecah

30

40

53

60

Tabel 3. Perkiraan kebutuhan air per-meter kubik beton


Ukuran
maksimum
Agregat (mm)
10
20
40

Slump (mm)

Jenis Batuan
0 - 10
150
180
135
170
115
155

Batu tak dipecahkan


Batu pecah
Batu tak dipecahkan
Batu pecah
Batu tak dipecahkan
Batu pecah

13

10 - 30
180
205
160
190
140
175

30 - 60
205
230
180
210
160
190

60 - 180
225
250
195
225
175
205

14

15

Tabel 4. Persyaratan fas dan jumlah semen minimum untuk berbagai pembetonan dan
lingkungan khusus
Jumlah Semen
Jenis Pembetonan

minimum per-m
beton (kg)

Beton di dalam ruang bangunan


a. keadaan keliling non-korosif
b. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau
uap korosif
Beton di luar ruangan bangunan
a. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung
b. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung
Beton masuk ke dalam tanah
a. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti
b. mendapat pengaruh sulfat dan alkali dari tanah
Beton yang kontinu berhubungan dengan air tawar dan air laut

Nilai fas
maksimum

275

0,60

325

0,52

325
275

0,55
0,60

325

0,55
tabel 5
tabel 6

Tabel 5. Fas maksimum untuk beton yang berhubungan air tanah yang mengandung
sulfat

16

Kandungan

Konsentrasi Sulfat
Kadar
gangguan
Sulfat

Dalam Tanah
SO3
Total
dalam
campura
SO3
n
air :
(%)
tanah
= 2:1

Sulfat

Semen
minimum

(SO3)

(kg/m)

< 0,2

< 1,0

0,2 - 0,5

0,5 - 1,0

1,0 - 1,9

1,9 - 3,1

(mm)

(g/l)

40

< 0,3

0,3 - 1,2

1,2 - 2,5

fas

Agregat
maksimum

air tanah

(g/l)

Ukuran

Tipe Semen

dalam

tipe I dengan atau tanpa


Puzolan (15-40%)
tipe I dengan atau tanpa
Puzolan (15-40%)
tipe I Puzolan (15-40%)
atau
Semen Portlant Puzolan

20

280 300
290 330
270 310

tipe II atau tipe V

250 290

tipe I Puzolan (15-40%)


atau
Semen Portlant Puzolan

340 380

tipe II atau tipe V

290 330

1,0 - 2,0

3,1 - 5,6

2,5 - 5,0

tipe II atau tipe V

330 370

> 2,0

> 5,6

> 5,0

tipe II atau tipe V dan


lapisan pelindung

330 370

10
35
0
35
0
36
0
34
0
43
0
38
0
42
0
42
0

0,50
0,50
0,55
0,55
0,45
0,50
0,45
0,45

Tabel 6. Ketentuan minimum untuk beton bertulang dalam air


Tipe Semen
Jenis

Kondisi Lingkungan

fas

Kandungan Semen
minimum (kg/m)

17

yang berhubungan

Beton

dengan
air tawar

0,50

air payau

0,45

air laut

0,45

tipe V
tipe I + Puzolan
(15-40%) atau
Semen Portland
Puzolan
tipe II atau V

Bertulang
atau

Ukuran maksimum

maksimum

Prategang

Agregat (mm)
40
20
280
300
340

380

330

370

3. Slump
Slump ditetapkan sesuai dengan kondisi pelaksanaan pekerjaan (tabel 7)
agar diperoleh beton yang mudah dituangkan/dicor, dipadatkan dan diratakan.

Tabel 7. Penetapan nilai slump


Pemakaian Beton
dinding, pelat pondasi dan pondasi telapak bertulang
pondasi telapak tidak bertulang, kaison, dan struktur di bawah tanah
pelat, balok, kolom dan dinding
pengerasan jalan
pembetonan masal

Nilai Slump (mm)


maksimum minimum
125
50
90
25
150
75
75
50
75
25

4. Besar Agregat Maksimum


Ukuran butir agregat maksimum tidak boleh melebihi:
1) 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping dari cetakan;
2) 1/3 dari tebal pelat;
3) 3/4 dari jarak bersih minimum di antara batang-batang atau berkas-berkas
tulangan.
Selain itu, gradasi agregat yang digunakan (agregat halus dan agregat kasar) harus
memenuhi persyaratan gradasi agregat untuk beton.
5. Kadar Air Bebas
Kadar air bebas ditentukan sebagai berikut:
1) agregat tak dipecah dan agregat dipecah digunakan nilai-nilai pada table 3 dan
grafik 1 atau 2;
18

2) agregat campuran (tak dipecah dan dipecah), dihitung menurut rumus berikut:
2
1
Wh Wk
3
3

dengan:

Wh adalah perkiraan jumlah air untuk agregat halus


Wk adalah perkiraan jumlah air untuk agregat kasar pada Tabel 3

6. Gradasi Agregat dan Proporsi Agregat Halus dan Agregat Kasar


Agregat yang dipergunakan merupakan campuran dari agregat halus dan
agregat kasar dengan proporsi tertentu dan harus me-menuhi persyaratan agregat
untuk beton.
Gradasi agregat halus dikelompokkan dalam 4 daerah gradasi me-nurut
kehalusan butir agregat halus (gambar 2.4 sd. 2.7), dan persyaratan gradasi
agregat kasar tergantung dari ukuran butir maksimum yang dipergunakan (gambar
2.8, 2.9 dan 2.10).
Persyaratan gradasi agregat gabungan (agregat halus dan agregat kasar)
tergantung ukuran butir maksimum (gambar 2.11 s.d 2.13).
Proporsi/prosentase agregat halus terhadap kadar total agregat dalam
campuran beton dicari dengan menggunakan grafik 3, 4 dan 5, yang tergantung
nilai slump, fas, daerah gradasi agregat halus/pasir dan ukuran butir maksimum
agregat.
7. Berat Jenis Relatif Agregat
Berat jenis relatif agregat ditentukan sebagai berikut:
1) Berdasarkan data hasil uji (agregat yang akan digunakan untuk campuran
beton) atau bila tidak tersedia data tersebut, dapat digunakan nilai 2,5 untuk
agregat tak dipecah dan 2,6 2,7 untuk agregat dipecah.
2) Berat jenis agregat gabungan dihitung dengan rumus :

bjagr. gab

P
K
.bjagr.halus
.bjagr.kasar
100
100

Dengan:

Bj.agr.halus : bj agregat halus


Bj.agr.kasar : bj agregat kasar
P : prosentase agregat halus
19

K : prosentase agregat kasar

20

21

22

23

8. Proporsi Campuran Beton


Dari hasil perhitungan perencanaan bampuran ini, kebutuhan semen, air, agregat
halus/pasir dan agregat kasar/kerikil, harus di proporsikan dalam kg per-m3 adukan
beton.

9. Koreksi Proporsi Campuran


Perencanaan campuran beton didasarkan pada agregat dalam kondisi SSD,
sedangkan umumnya kondisi agregat tidak dalam ke-adaan SSD. Kandungan air
agregat di lapangan dapat lebih kecil dari kondisi SSD (agregat lebih kering) yang
menyebabkan air yang diberikan untuk campuran sebagian terserap agregat dan fas
men-jadi lebih kecil, atau dapat juga lebih besar dari kondisi SSD (agregat lebih basah)
sehingga menambah air campuran dan fas menjadi lebih besar.
Karena itu untuk menjaga agar nilai fas tetap, harus dilakukan koreksi proporsi
campuran yang disebabkan kandungan air pada agregat, dan koreksi paling sedikit
dilaksanakan satu kali dalam sehari, dengan menggunakan rumus :
Ah A1 Ak A2
.B
.C
100
100

A
Air

Ah A1
.B
100

B
Agregat halus

Ah A2
.C
100

B
Agregat kasar
dengan:

A
B
C
Ah
Ak
A1
A2

: jumlah kebutuhan air (liter/m3)


: jumlah kebutuhan agregat halus (kg/m3)
: jumlah kebutuhan agregat kasar (kg/m3)
: kadar air sesungguhnya dalam agregat halus (%)
: kadar air sesungguhnya dalam agregat kasar (%)
: kadar air dalam agregat halus kondisi SSD (%)
: kadar air dalam agregat kasar kondisi SSD (%)

10. Berat Isi Beton


24

Berat isi beton dipengaruhi oleh berat jenis agregat gabungan (agregat halus dan
agregat kasar) dan kadar air bebas. Berat isi beton dapat diperoleh dengan
menggunakan Grafik 6.

2.3. LANGKAH HITUNGAN


Langkah hitungan menurut metode SNI 03-2834-1993 terbagi dalam 22 langkah.
Adapun langkahnya sebagai berikut:
1. Tentukan kuat tekan beton yang direncanakan sesuai dengan syarat teknik atau yang
dikehendaki oleh pemilik. Kuat tekan (fc) ini ditentukan pada umur 28 hari.
2. Hitung deviasi standar (s) berdasarkan data lalu.
3. Hitung nilai tambah (m), dimana m = 1,64 . s. Jika data deviasi standar tidak ada, ambil
m = 12 MPa.

25

4. Hitung kuat tekan rata-rata yang ditargetkan (fcr) dimana fcr = fc + m, yaitu langkah
1 + 2.
5. Tetapkan jenis semen yang digunakan.
6. Tentukan jenis agregat yang digunakan, untuk agregat halus dan kasar.
7. Tentukan FAS, jika menggunakan Grafik 1 atau 2. Ikuti langkah-langkah beikut:
a. Tentukan nilai kuat tekan pada umur 28 hari berdasarkan jenis menggunakan Tabel 2
untuk FAS 0,5 sesuai dengan jenis semen dan agregat yang digunakan.
b. Lihat Grafik 1 untuk benda uji silinder dan Grafik 2 untuk kubus.
c. Tarik garis tegak lurus pada FAS 0,50 sampai memotong kurva kuat tekan yang
ditentukan.
d. Tarik garis mendatar dari kuat tekan yang didapat dari Grafik 1 atau 2 sampai
memotong garis tegak lurus untuk FAS 0,5. Gambarkan kurva baru.
e. Dari kurva baru tersebut tarik garis mendatar untuk kuat tekan yang ditargetkan
sampai memotong kurva baru tersebut. Kemudian tarik ke bawah hingga didapatkan
nilai FAS.
8. Tetapkan FAS maksimum menurut Tabel 4 dan untuk lingkungan khusus Tabel 5 dan
6. Dari langkah 7 dan 8 pilih yang paling rendah.
9. Tetapkan nilai slump.
10. Tetapkan ukuran butir nominal agregat maksimum.
11. Tentukan nilai kadar air bebas dari Tabel 3.
12. Hitung jumlah semen yang besarnya dihitung dari kadar air bebas dibagi Faktor Air
Semen (FAS), yaitu langkah 11:8.
13. Jumlah semen maksimum diabaikan jika tidak ditetapkan.
14. Tentukan jumlah semen minimum dari Tabel 4 dan untuk lingkungan khusus Tabel 5
dan 6.
15. Tentukan FAS yang disesuaikan. Jika jumlah semen berubah karena jumlahnya lebih
kecil dari jumalh semen minimum atau lebih besar dari jumlah semen maksimum,
maka FAS harus dihitung kembali. Jika jumlah semen yang dihitung dari langkah 12
berada di antara maksimum dan minimum, atau lebih besar dari minimum namun
tidak melebihi jumlah maksimum kita bebas memilih jumlah semen yang akan kita
gunakan.
16. Tentukan jumlah susunan butir agregat halus, sesuai dengan syarat SNI 03-28341993.
17. Tentukan presentase agregat halus terhadap campuran berdasarkan nilai slump, FAS,
dan besar nominal agregat maksimum. (Grafik 3 sampai 5)
18. Hitung berat jenis relatif agregat.
19. Tentukan berat jenis beton menurut Grafik 6, berdasarkan nilai berat jenis agregat
gabugan dan kadar air bebas (langkah 11).
20. Hitung kadar agregat gabungan yaitu berat jenis beton dikurangi dengan berat semen
ditambah air. Langkah 19-(15+11).

26

21. Hitung kadar agregat halus yang besarnya adalah kadar agregat gabungan dikalikan
presentase agregat halus dalam campuran. Langkah 20x16.
22. Hitung kadar agregat kasar, yaitu agregat gabungan dikurangi kadar agregat halus.
Langkah 20-21.
Jika kondisi bahan di lapangan tidak lagi sesuai dengan yang direncanakan maka
harus dilakukan koreksi proporsi campuran, kemudian dibuat contoh ujinya.

2.4. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN


Cara ini memiliki kekuranga, yaitu:
1. Jenis agregat hanya ditetapkan dari batu pecah dan alami saja sehingga tidak akurat
karena kadang agregat alami tidak memiliki bentuk permukaan tidak bulat atau halus.
Hal ini akan berpengaruh pada jumlah air yang dibutuhkan, sehingga perlu dilakukan
koreksi.
2. Diagram proporsi agregat campuran (langkah 16) sulit dipenuhi.

2.5.

CONTOH HITUNGAN
Tabel 8. Formulir Perencanaan Campuran Beton

No
.
1

Uraian
Kuat Tekan yang disyaratkan (f'c)

Nilai

Keterangan

29 MPa

ditetapkan, s = 1,64

7 MPa
11,48 MPa
40,48 MPa

1+3

(benda uji silinder)


2
3
4

Deviasi standar (s)


Nilai tambah/margin (M)
Kuat Tekan yang ditargetkan (f'cr)

27

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Jenis Semen
Jenis Agregat kasar
Jenis agregat halus
Faktor Air Semen Bebas
Faktor Air Semen maksimum
Faktor Air Semen yang digunakan
Slump
Ukuran Agregat maksimum
Kadar Air bebas
Kadar Semen
Kadar Semen maksimum
Kadar Semen minimum
Kadar semen digunakan
Faktor Air Semen yg disesuaikan
Susunan besar butir Agregat Halus
Berat jenis agregat kasar
Berat jenis agregat halus
Persen Agregat Halus
BJ Relatif agregat (gabungan) SSD
Berat isi beton
Kadar agregat gabungan
Kadar agregat halus
Kadar agregat kasar

Tipe I
Batu pecah
Alami
0,48
0,6
0,48
100 mm
20 mm
205 kg/m
427,083 kg/m
427,083 kg/m
275 kg/m
427,083 kg/m
0,48
Daerah Gradasi 3
2,7
2,6
33,75 %
2,65
2420 kg/m
1787,917
603,42
1178,497

ditetapkan
ditetapkan
ditetapkan
tabel 2 dan grafik 1 dan 2
ditetapkan
ditetapkan
tabel 3
(11)/(8)
tabel 4
daerah gradasi
grafik 4
grafik 6
21-15-11
19x22
22-23

Semen

Air

(kg)

(kg)

Agregat
Halus
Kasar
(kg)

(kg)

Proporsi campuran teoritis (agregat kondisi


25

26

SSD):
setiap m3
setiap campuran uji (m3)
Proporsi campuran dengan angka penyusutan
setiap m3
setiap campuran uji (m3)

28

427,083
2,26

205
1,09

603,42
3,2

1178,497
6,25

491,15
2,6

235,75
1,3

693,933
3,68

1355,27
7,19

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dari perhitungan perencanaan yang telah dilakukan, diperoleh proporsi dari semen,
pasir, kerikil dan air yang dibutuhkan dalam proses campuran beton.
Hasil perhitungan perencanaan ini selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk
proporsi benda uji pada struktur beton K-350.
Pasir dan kerikil dalam keadaan SSD dimaksudkan agar pasir dan kerikil yang
digunakan dalam perencanaan campuran dalam kondisi tidak menyerap air pada campuran
beton tersebut, karena apabila air dalam pasir dan kerikil dalam keadaan kering sekali akan
mengakibatkan terserapnya air yang sudah ada pada beton tersebut menjadi kental/ keras.
Sebaliknya bila pasir dan kerikil dalam keadaan basah maka akan mempengaruhi fas.

3.2.

SARAN
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dalam makalah ini adalah agar kita

dapat memahami tentang mix design. Karena untuk menciptakan beton yag sesuai rencana
29

harus dengan perhitungan yang teliti. Apabila terjadi kesalahan maka akan menyebabkan
hasil beton yang kurang baik.
Dalam makalah ini masih banyak hal-hal yang belum lengkap atau sempurna tentang
penjelasan agregat, untuk itu diharapkan kepada pembaca agar dapat mendalaminya dengan
referensi-referensi lain yang mungkin lebih lengkap lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyono, Tri, 2005, Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta.


Website Dinas PU. SNI 03-2834-1993 (TATA CARA PEMBUATAN RENCANA
PEMBUATAN

BETON

NORMAL)

http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20120809162638.pdf , Mei 2014.

30

LAMPIRAN - LAMPIRAN

31