Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

SEJARAH BETON DAN PERKEMBANGANNYA

Disusun oleh :
Herckia Pratama Daniel ( 10308072 )
Miftah Hazmi ( 10308073 )
Muhammad Ammar ( 10308074 )
Nuh Akbar ( 10308075 )
Nurlela ( 10308076 )

SarMag Teknik Sipil 2008


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Universitas Gunadarma
DEPOK
2009
0
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Makalah ini berisi tentang Sejarah Beton dan Perkembangan dari beton itu sendiri, dari
awal hingga adanya perkembangan teknologi beton. Dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas dari mata Teknologi Bahan Konstruksi ( TBK ), di samping itu untuk
meningkatkan dan mengembangkan wawasan penulis.
Berkaitan dengan rampungnya penulisan makalah ini, penulis sangat menyadari
sepenuhnya, bahwa kesemuanya itu tidak terlepas dari bantuan, dukungan, pengorbanan dan
partisipasi dari berbagai pihak, antara lain :
1. Ayahanda dan ibunda tercinta, yang telah memberikan dorongan dan bantuan baik
moril maupun materil;
2. Bpk. Heri Suprapto ST.,MT., selaku dosen mata kuliah Teknologi Bahan Konstruksi (
TBK ),, yang telah meberikan referensi sehingga memudahkan penulis dalam
menyusun makalh ini;
3. Pimpinan beserta staf perpustakaan kampus D Margonda Depok, yang telah
memberikan kesempatan dan pelayanan kepada penulis selama mencari bahan-bahan
dalam penulisan makalah ini; dan
4. Teman-teman seperjuangan juga pihak-pihak lainnya yang mendukung terselesainya
makalah ini.
Atas segala jerih payah dan kebaikan mereka ini, semoga Allah membalasnya dengan
berlipat ganda. Amin !
Akhirnya, penulis mengharap bahwa makalah ini semoga bermanfaat khususnya bagi
penulis, dan bagi mereka yang concern terhadap Sejarah dan Perkembangan Beton pada
umumnya. Juga, saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk kemajuan penulis ke
depannya.

Depok, Maret 2009

Penulis,

1
Daftar Isi
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 1
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang............................................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................................... 3
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 4
1.4 Batasan Masalah ............................................................................................................................ 4
1.5 Sistematika Penulisan .................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................................... 5
2.1 Sejarah Beton ................................................................................................................................ 5
2.2 Perkembangan Beton................................................................................................................... 15
2.2.1 Beton Bertulang .................................................................................................................... 15
2.2.2 Beton Prategang ................................................................................................................... 17
2.2.3 Beton Pracetak ...................................................................................................................... 18
2.2.4 Beton Pratekan ..................................................................................................................... 20
2.2.4 Beton Mutu Tinggi................................................................................................................. 23
2.2.4 BetonRingan ......................................................................................................................... 27
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................... 30
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................................. 30
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 31
Daftar Pustaka ....................................................................................................................................... 32

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beton, sebuah kata yang tidak asing bagi Kami mahasiswa Teknik Sipil
khususnya yang nantinya akan menjadi seorang Engineer dan tidak asing di telinga
masyarakat pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada sejauh mana seorang
Engineer tahu bahkan paham apa itu beton dibanding masyarakat pada umumnya.
Seorang Engineer harus paham betul akan sejarah beton dan perkembangannya, tidak
dapat dipungliri lagi bahwa bahan bangunan yang kita kenal dengan “ beton” ini
mempunyai pengaruh besar terhadap pembangunan ( konstruksi ) di seluruh pelosok
dunia, tak terkecuali di Negara Kita ini, Indonesia. Sehingga dengan memgetahui sejarah
dan perkembangannya dapat memberikan wawasan kepada masyarakat sendiri yang
memang concern terhadap beton, baik melalui pembuatan buku, penulisan makalah,
penulisan jurnal atau media apapun yang dapat memberikan pengetahuan tersendiri
kepada masyarakat secara umum tentang beton. Hal ini yang menjadikan kami mebuat
makalah tentang sejarah beton dan perkembanganya untuk berbagi ilmu dan
pengetahuan, sehingga diharapkan siapapun yang membaca makalah ini dapat menambah
ilmu yang dimilikinya.
Dalam makalah ini, penulis hanya membatasi mengenai sejarah beton dan
perkembangannya, sehingga mampu memberikan suatu “solusi” dalam keadaan yang
disebutkan di atas.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang akan dibahas adalah :


 Bagaimana sejarah beton ?
 Bagaimana perkembangan beton hingga saat ini ?

3
1.3 Tujuan

 Mengetahui sejarah beton


 Mengetahui perkembangan beton hingga saat ini

1.4 Batasan Masalah

Karena luasnya cakupan pembahasan mengenai beton maka penulis membatasi


makalah ini dengan hanya membahas materi dan permasalahan menganai sejarah dan
perkembangan beton.

1.5 Sistematika Penulisan

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1.1 Latar belakang


1.1.2 Tujuan Penulisan
1.1.3 Rumusan Masalah
1.1.4 Batasan Masalah
1.1.5 Sistematika Penulisan

Bab II Pembahasan

2.1 Sejarah Beton

2.2 Perkembangan Beton

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

Daftar Pustaka

4
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Beton

Pengetahuan tertua tentang beton adalah di temukan di Timur Tengah dan tertanggal
pada 5600 SM; bangsa Mesir ( pada abad 26 SM ) telah menggunakan campuran dengan
jerami untuk mengikat batu kering , gypsum, dan semen kapur dalam pertukangan batu (
berdasarkan fakta-fakta dalam konstruksi Pyramid ).

Masyarakat Yunani yang tinggal di Crete dan Cyprus menggunakan semen kapur
sebaik mungkin ( abad ke-8 SM ), mengingat Bangsa Babilonia dan Syria menggunakan
“bitumen” untuk membangun bebatuan dan bangunan batu.

Sama halnya pada Bangsa Yunani Kuno, menggunakan batu kapur calcined, ketika
orang Roma membuat beton pertama; yang dicampur kapur putty dengan debu bebatuan
atau abu vulkanik. Mereka menggunakannya dengan batu untuk membangun jalan,
bangunan-bangunan, dan saluran air ( terowongan air ).

Bangsa Roma memakai pozzolana, jenis pasir tertentu dari Pozzuoli, dekat gunung
berapi Vesuvio ( Italia bagian Selatan ), untuk membangun bangunan yang penting sekali,
seperti Pantheon atau Colosseo.

Pantheon J Durm, Handbuch der Architektur, Stoccarda, 1905

Pozzolana adalah jenis pasir yang luar biasa dimana reaksi kimianya dengan kapur
dan air, menjadi sebuah bebatuan yang memiliki massa ; selanjutnya, kimia itu adalah silica
dan alumunium dimana bereaksi dengan Kalsium Hidroksida untuk membentuk senyawa
dengan sifat semen.

5
Kubah Pantheon, dibangun pada abad kedua masehi, yang merupakan Karya terbesar
Bangsa Roma pada waktu itu, Pantheon memiliki struktur dengan sejumlah kekosongan,
relung dan kubah dengan ruang yang kecil yang bertujuan untuk menurunkan bebannya;
Dalam keterangan tentang Kubah ( Dome ) menunjukkan struktur yang lebih tebal dalam
dasar atau kakinya, sedangkan ketebalan cenderung berkurang secara bertahap, berdasarkan
tinggi kubah bertingkat ( dengan kata lain, ketebalan dome berbanding terbalik dengan
tingginya ).

Pliny telah meletuskan semen kapur dan pasir ( perbandingannya satu bagian kapur
sedangkan pasir empat / 1 : 4 ), dan Marco Vitruvio Pollione ( Abad pertama SM ) meletuskan
sebuah campuran pozzolana dan kapur ( dua untuk pozzolana dan 1 untuk kapur / 2: 1 )dan
kami juga mempunyai sebuah karangannya tentang Sifat Beton. Nama Concrete berasal dari
bahasa latin yaitu Concretus , yang berarti tumbuh bersama.

Selama pertengahan tahun kualitas bahan-bahan semen memburuk : kapur dan


pozzolana tidak lama digunakan, Mereka memperkenalkan kembali pada abad ke-13 dan ke-
14. Berdasarkan abad ke – 15, Kontraktor dari Venesia telah menggunakan kapur hitam (
Black Lime ) Abetone – Sebuah wilayah dekat Vicenza ( Italia bagian Utara )- yang
mempunyai kesamaan dengan pozzolana.

Pada tahun 1779 M, Fra Giocondo menggunakan pasir pozzolana sebagai mortar
pada Dermaga Pont de Notre Dame di Paris.

Pada tahun 1779 M, Higging telah memberikan hak paten untuk semen hidrolik yang
digunakan pada Plester Exterior.

Pada tahun 1793 M, John Smeaton menemukan batu kapur Kalsinasi yang berisi
tanah liat yang dihasilkan pada jenis kapur yang mengeras di bawah air, Smeaton
menggunakan kapur hidrolik untuk membangun Mercusuar Eddystone di Cornwall, Inggris.

Mercusuar Eddystone di Cornwall dengan interpretasi / terjemahan dari M. G Sganzin, Nuovo


corso complete di pubbliche costruzioni, venezia, 1849

6
Pada tahun 1796, James Parker telah mempatenkan jenis Khusus dari Semen
Hidrolik yang disebut Roman Cement - yang diperoleh melalui Nodul Kalkunasi dari
batuan kapur yang tiak murni yang berisi tanah liat. Proses yang sama juga telah digunakan
di Prancis pada tahun 1802.

Pada tahun 1812, L. Vicat telah mempersiapkan kapur Hidrolik Buatan dengan
mengkalkinasi campuran buatan pada batuan kapur dan pasir.

Pada tahun 1818, Semen Alami telah diproduksi di US dan M. de Saint Leger telah
memberikan hak paten terhadap Semen Hidrolik. Pada tahun 1822, J. Frost telah
mengajukan Kapur Hidrolik Buatan yang disebut British Cement.

Tepatnya tahun 1824, adalah yang terpenting dalam Sejarah Beton, pada tahun 1824
J. Aspdin yang telah mengembangkan apa yang disebut Semen Portland ( Portland Cement
)- istilah setelah batu kualitas tinggi yang digali di Portland, Inggris- dengan melakukan
pembakaran bersama campuran kapur dan tanah liat hingga karbon dioksida terangkat;
Semen Aspdin merupakan suatu kesuksesan.

Pada tahun 1828, I. K. Brunel merupakn Arsitek Pertama yang menggunakan


Semen Portland pada pembangunan Terowongan Thames, sedangkan pada tes sistematis
Jerman tentang Kuat Tarik dan Tekan semen dimulai pada tahun 1836.

J.L. Lambot telah membuat sebuah kapal kecil dari beton ( kemudian dia
menebalkan perahunya dengan batang besi dan kawat ) di Prancis selatan untuk dipamerkan
pada Pameran Dunia pada tahun 1855 di Paris. Dan pada tahun 1890-an Seorang Italia , C.
Gabellini mulai membangun Kapal dengan menggunakan beton ( membuat kapal dalam
skala yang lebih besar ).

J. L. Lambot, Kapal Kecil Beton Bertulang ( 1848 )

7
Pada tahun 1850, J. Monier, seorang tukang kebun berkebangsaan Prancis,
mengembangkan sebuah Pot Bunga dengan beton bertulang; pada tahun 1867, dia
mempatenkan Garden Tub dan kemudian balok bertulang.

Pada tahun 1887, H. Le Chatelier menyusun perbandingan oksida untuk


mempersiapkan campuran untuk produksi Semen Portland, yang mana unsur pokok adalah
Tri Kalsium silikat, Aluminat, dan Ferrit ( Perbandingan ini dipercaya suatu yang tepat /
fixed).

J. Monier. Pot Bunga dengan Beton Bertulang (1850 )

W. Wilkinson dari Newcastle telah memperkenalkan beton bertulang pada bangunan-


bangunan rumah; pada tahun 1854, dia menggunakan hak patennya untuk “ konstruksi dari
Rumah Tinggal Tahan Api, Gudang , Bangunan lainnya serta bagian-bagian lainnya yang
sama “ (“construction of fireproof dwellings, warehouses, other buildings and parts of the
same “). Wilkinson mendirikan sebuah Pondok / dangau pelayan bertingkat dua yang kecil,
lantai beton bertulang, dan atap dengan batang besi dan tali kawat; Dia telah membangun
beberapa struktur pada jenis ini dan dia percaya akan keharusan untuk membangun bangunan
dengan beton bertulang pertama.

W. Wilkinson, Sistem beton


Bertulang ( 1854 )

8
Seorang builder berkebangsaan Prancis, F. Coignet telah membangun beberapa rumah-
rumah dalam skala yang besar dari beton di UK dan Prancis antara 1850-1880 : Dia
menggunakan batang besi pada lantai untuk mencegah tembok terjadi perlebaran, tetapi
kemudian dia menggunakan batangan sebagai elemen lendut ( Flexural Elements ). Pada
tahun 1801,F. Coignet menerbitkan tulisannya mengenai prinsip-prinsip konstruksi dengan
meninjau kelembaban bahan beton terhadap taruknya. Coignet pada tahun 1861, melakukan
uji coba penggunaan pembesian pada konstruksi atap, pipa dan kubah.

Sistem Beton Bertulang Monier ( 1881 )

Bangunan beton bertulang US pertama dibangun oleh W. E. Ward antara tahun 1871
dan 1875, tepatnya rumah di Port Chester, New York. Ward menggunakan bahasa Prancis
untuk Concrete, yaitu Beton, dan pada tahun 1883, dia menyampaikan selebaran yang
menggambarkan Rumah yang disebutkan tadi kepada Himpunan Insinyur Mekanik Amerika
( The American Society of Mechanical Engineers ); selebaran itu berjudul “ Beton in
Combination with Iron As a Building Material ”.

W.E. Ward, Bangunan Beton Bertulang Pertama di US ( 1871-1875),port Chester, New York

Pada tahun 1879, G. A. Wayss, seorang Builder berkebangsaan Jerman, membeli hak
paten dari apa yang disebut Monier’s System dan mempelopori konstruksi beton bertulang di

9
Jerman dan Austria, mempromosikan The Wayss-Monier System sebaik mungkin pada
pembelajaran ilmu pengetahuan yang menarik di US; selain itu, dia adalah seorang Manager
dari sebuah perusahaan batu yang sukses, yang memproduksi balok beton di San Fransisco (
1870 ). Dia orang pertama yang mengguanakan beton bertulang pada tahun 1877, dan pada
tahun 1884 dia mempatenkan sebuah system.

10 tahun kemudian , tepatnya pada tahun 1894, A. de Baudot membangun The Church
of Saint Jean de Monmartre di Paris dengan kolom beton yang ramping dan kubah, disertai
dengan tembok beton bertulang.

T. A. Edison beroperasi dengan beton , tepatnya pada tahun 1899 Edison membangun
perusahaan Semen Portland Edison, di New Jersey, dia mempromosikan konstruksi beton dan
mebuat proposal dalam jumlah yang besar sebagai pandangan penggunaan beton yang
inovatif,; selain itu, dia merancang seperangkat bentuk cetakan besi untuk bangunan rumah
dengan beton ( termasuk tembok, lantai, dan tangga ).

Jembatan beton bertulang pertama dibangun pada tahun 1889, diamana ketinggian beton
pertama dibangun di Cincinnati, US, antara tahun 1902 dan 1904, dengan menggunakan variasi
pada sistem Ransome: dirancang oleh Elzner dan Henderson, itu merupakan beton pencakar
langit pertama.

F. Hennebique, seorang kontraktor berkebangsaan Prancis, memulai dalam membangun


rumah-rumah beton bertulang pada tahun 1870; dia memakai hak patennya sebagai tanda
penghargaan dalam The Hennebique Concrete System di Prancis, Belgia, Italia, Amerika
Selatan dan Negara-negara lainnya, dan dia juga mendirikan sebuah kerajaan monopoli yang
melibatkan beberapa negar.

Hennebique mempromosikan pertemuan palung beton bertulang dan pengembangan


Konstruksi Standar , tetapi itu adalah A. Perret yang mempunyai kontribusi dalam
penyebarannya sebagai bahan arsitektural.

Sistem Beton Bertulang Hennebique

Perret, pada tahu 1903, merancang dan membangun sebuah multi bangunan tingkat (
Multy-Storey Building ) di Paris dengan menggunakan beton bertulang: Struktur ini sangat

10
mempengaruhi arsitektur dan konstruksi beton selama satu decade, sejak hal itu dibangun
tanpa tembok penahan beban, digantikan oleh kolom, balok, dan papan. Perret juga
membangun Museum, Gereja, Garasi dan Teater, seperti Theatre Champs Elysées.

Notre Dame du Raincy, dibangun pada tahun 1922, yang merupakan sebuah
terobosan penting ( Khususnya memperbandingkan bangunan beton sebelumnya ) dan ini
dianugerahi sebagai Masterpiece rancangan arsitektural: lengkungan langit-langit yang
megah dan kolom ramping yang memberi kesaksian terhadap bentuk yang luar biasa pada
bahan bangunan ini.

Struktur yang paling menarik menyangkut pengembangan beton bertulang adalah


Jahrhunderthalle of Breslau (1913): Bangunan ini dibangun untuk memperingati hari
penaklukan Napoleon ( The Anniversary of The Defeat of Napoleon ) pada tahun 1813 dekat
Breslau; Bangunan ini dirancang oleh M. Berg, dan Engineer dari The Breslau City Building
Department yang mengkalkulasinya.

Jahrhunderthalle of Breslau (1913)

Pada bulan Juni 1991 The City Administration menyetujui proyek beton bertulang
Berg : proyek ini dimulai pada Agustus 1911, yayasan itu dilengkapi pada bulan November
pada tahun yang sama dan pada bulan Desember 1912 konstruksi dasar diselesaikan. H. Poelzg
bertanggung jawab terhadap rancangan dari sejumlah penyokong struktur sementara dan
Engineer dari The Dyckerhoff and Widmann Company, yang bekerja sama dengan kota
engineer, yang dilengkapi kalkulasi struktural akhir.

11
Untuk mengurangi sejumlah rancangan yang tidak dikenal, keseleruhan struktur dibagi
menjadi sub-sub kedalam elemen determinasi yang sangat kecil secara statistik : Kubah
dipisahkan dari dasarnya dan pada tiap dinding penopang yang dirancang menjadi kolom yang
menjepit dua kurva (Curved Two-Pinned Column ), karena metode kalkulasi, pada waktu itu,
yang dibatasi kedalam grafik statis dan solusi numerik elementer pada determinasi struktur.
Kubah itu kini hanya mempunyai empat titik penahan dan sebuah rentang jelas ( Clear Span )
sepanjang 65 meter.

A. Loos, Fashion Haouse Goldman dan Salatsch di Michaelerplatz, Vienna (1911), struktur
dalam beton bertulang

Pada tahun 1951, The Fiat-Lingotto Auto factory dibangun di Turin oleh M. Trucco
menggunakan beton bertulang; bangunannya memiliki rel tes mobil asli (An Original
Automobile Test Track ) pada atapnya. Bagaimnapun juga, beton tidak selalu digunakan
secara substansi : Sebagai contoh , Jembatan Lengkung ( Arch Bridge ) dengan beton
bertulang Maillart, dibangun pada awal abad ke-20, yang telah membahayakan pemandangan
asli pegunungan Swiss Alpine.

Salginatobel Bridge,
R. Maillart

12
Pada tahun 1921 hangar balon udara parabolic beton yang luas di bandara Orly, Paris
telah diselesaikan. Pada tahun 1930, E. Torroja, engineer berkebangsaan Spanyol, telah
merancang kubah tingggi rendah ( low-Rise Dome ) sebagai lambang dari Algeciras, dengan
menggunakan kabel baja sebagai jaringan tegangan. Torroja juga dipercayakan kepada tugas
perancangan Atap stadion berkantilever pada Madrid Hippodrome tahun 1935.

Pada waktu yang sama, seorang berkebangsaan Italia, Pier Luigi Nervi mulai
membangun Hanggar terkenalnya di Orbetello ; yang dikerjakan Nervi meliputi Pameran
Hall (The Exhibition Hall ) di Turin dan dua di dalam gedung stadion di Roma.

E. Freyssinet, Orly Hangar (1920)

Ahli shell beton ( The Concrete Shell ) adalah Felix Candela : Dia merancang The
Cosmic Ray Laboratory of Mexico City, dengan atap shell yang baik; bentuk parabolik
hiperbolik menjadi tanda resmi dan dia membangun beberapa pabrik dan gereja-gereja di
sekitar Mexico City menggunakan bentuk ini.

Le Corbusier, system Dom-


ino (1914)

13
Beton Bertulang Renouwn bekerja pada Le Corbusier adalah sebuah Villa Savoye
(1931), blok perumahan pada pilotis di Nantes dan Marseille (1940), Monastery of La
Tourette (1959), dan bangunan pemerintahan pada Chandigarh di India (1961).

CN Tower di Toronto, Canada ( 555 meter )

Frank Lloyd Wright adalah orang pertama yang memanfaatkan Kantilever sebagai
bentuk rancangan, yang mengungkapkan terima kesih terhadap Konstruksi Beton Bertulang
Natural berlanjut. The Kaufman House (1936) merupakan contoh tertentu dari penggunaan
kantilever.

Pada tahun 1970, bangunan beton bertulang yang berserat pertama yang dibangun.
Bangunan beton bertulang tertinggi dibangun pada tahun 1975, yaitu The CN Tower di
Toronto, Canada ( 555 meter ).

14
2.2 Perkembangan Beton

2.2.1 Beton Bertulang

Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, krikil, batu pecah, atau agregat-
agregat lain yang di campur menjadi satu dengan suatu pasta yagn terbuat dari semen dan
air membentuk suatu massa mirip-batuan. Terkadang, satau atau lebih bahan aditif
ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan karakteristik tertentu, seperti kemudahan
pengerjaan (workability), durabilitas, dan waktu pengerasan.

Seperti substansi-substansi mirip batuan lainnya, beton memiliki kuat tekan yang
tinggi dan kuat tarik yang sangat rendah. Beton bertulang adalah suatu kombinasi antara
beton dan baja di mana tulangan yang merupakan baja berfungsi menyediakan kuat tarik
yang tidak dimiliki pada beton. Tulangan baja juga dapat dapat menahan gaya tekan sehingga
digunakan pada kolom dan pada berbagai kondisi lain.

Kelebihan beton bertulang

Beton bertulang dapat dikatakan sebagai bahan konstruksi yang sangat penting. Beton
bertulang digunakan dalam berbagai bentuk untuk hampir semua struktur, seperti bangunan,
jembatan, pengerasan jalan, bendungan, terowongan, dan sebagainya

Sukses beton bertulang sebagai bahan konstruksi yang universal dapat di pahami jika
dilihat dari segala kelebihan yang dimilki oleh beton itu sendiri. Kelebihan tersebut antara
lain :

 Beton memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
kebanyakan bahan lain
 Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap api dan air
 Struktur beton bertulang sangat kokoh
 Beton bertulagn tidak memerlukan biaya pemeliharan yang relatif tinggi.
 Beton memiliki usia yang relatif sangat panjang.
 Beton merupakan satu-satunya bahanyagn ekonomis unutk pondasi tapk, dinding
basement, tiang tumpuan jembatan, dan bangunan-bangunan semacam itu
 Beton dapat di cetak dengan bentuk yang beragam
 Beton terbuat dari bahan-bahan lokal yang murah
 Keahlian buruh yang dibutuhkan untuk membangun konstruksi beton bertulang
lebih rendah dibandingkan dengan bahan lain seperti baja struktur.

15
Beton Bertulang pada awalnya tidak begitu diketahui. Sebagian besar hasil karya
awal beton pada waktu itu dilakukan oleh dua orang Perancis, Joseph Lambot dan
Joseph Monier. Sekitar tahun 1850, Lambot membuat sebuah perahu beton yang
ditulangi dengan suatu jaringan yang terdiri dari kawat baja atau tulangan yang tersusun
parallel. Meskipun demikian, penghargaan terbesar biasanya diberikan kepada Monier,
karena ia lah orang yang menemukan beton bertulang. Tahun 1867 ia meneriama hak
paten atas keberhasilannya membuat kolam atau tong dan penampang air dari beton yang
ditulangi dengan suatu anyaman yang terbuat dari kawat besi. Tujuan yang ingin
dicapainnya dengan melakukan pekerjaan ini adalah membuat konstruksi yang ringan
tanpa mengurangi kekuatan beton.1

Dari tahun 1867 sampai 1881 Monier mendapatkan hak paten untuk bermacam-
macam konstruksi beton-bertulang, antara lain penopang melintang rel kereta api yang
digunakan untuk mengikat dan menyalurkan tegangan ke bantalan rel, pelat lantai,
bendungan busur, jembatan untuk pejalan kaki, bangunan, dan sebagainya, baik di
Perancis maupun di Jerman. Orang Perancis lainnya, Franćois Coignet, membuat struktur
beton bertulang sederhana dan mengembangkan metode dasar mengenai pembuatan
desain beton-bertulang. Tahun 1861 ia menerbitkan sebuah buku di mana di dalam buku
tersebut ia menampilkan contoh-contoh aplikasi yang cukup banyak. Ia adalah orang
pertama yang menyadari bahwa penambahan terlalu banyak air ke dalam campuran beton
sangat mengurangi kekuatan beton. Orang Eropa lain yang termasuk peneliti pertama
beton bertulang adalah William Fairbairn dan William Wilkinson dari Inggris, G.A.
Wayss dari Jerman, dan Francois Hennebique yang juga berasal dari Perancis. 2,3

William E. Ward membangun bangunan beton bertulang yang pertama di


Amerika Serikat di Port chester, N.Y., pada tahun 1875. Pada tahun 1883 ia
merepresentasikan tulisannya di hadapan America Society of Mechanical Engineer di
mana dalam tulisan tersebut ia mengklaim bahwa ia mendapatkan ide tentang beton
bertulang ketika melihat para buruh Inggris mencoba memindahkan semen yang telah
mengeras dari cetakan-cetakan besi mereka pada tahun 1867.4

Thaddeus Hyatt, orang Amerika, mungkin adalah orang pertama yang


menganalisis dengan benar tegangan-tegangan pada suatu beton bertulang, dan pada
tahun 1877 ia menerbitkan sebuah buku setebal 28 halaman tentang pokok bahasan ini,
berjudul An Account of Some Experiments with Portland Cement Concrete, Combined
with Iron a.” a Building Material. Dalam buku ini ia memuji pengunaan beton bertulang
dan mengatakan “balok baja harus menerima nasibnya.” Hyatt memberikan penekanan
yang besar kepada daya tahan beton yang tinggi terhadap api5.

E. L. Ransome dari San Fransisco diduga telah menggunakan beton bertulang


pada awal tahun 1870-an dan merupakan penemu tulangan ulir, di mana atas
penemuannya ini ia menerima hak paten pada tahun 1884. Tulangan-tulangan ini, yang

16
mempunyai penampang melintang berbentuk bujursangkar, dipuntir dalam keadaan
dingin (cold-twisted) dengan satu putaran penuh dan panjangnya tidak lebih dari 12 kali
diameter tulangan. (Tujuan dari pemuntiran ini adalah agar ikatan antara beton dan
tulangan semakin kuat.) Pada tahun 1890 di San Fransisco, Ransome membangun
Museum Leland Stanford Jr. Bangunan yang terbuat dari beton bertulang tersebut
memiliki panjang 95.1 meter dan tinggi dua lantai di mana yang digunakan sebagai
tulangan tulang tarik adalah tali baja nekas yang semula digunakan pada kereta gantung.
Bangunan ini mengalami kerusakan kevil pada tahun 1906 akibat gaya gempa bumi dan
kebarakan yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Tingkat kerusakan yang kecil pada
bangunan ini dan pada struktur-struktur beton lain yang juga mengalami kebakaran
besasr tahun 1906 tersebut menyebabkan bentuk konstruksi ini dapat di terima secara luas
di pantai barat. Sejak tahun 1900-1910, perkembangan dan penggunaan beton-bertulang
di Amerika Serikat menigkat sangat pesat 8,9.

2.2.2 Beton Prategang

Penerapan pertama dari beton prategang dimulai oleh P.H. Jackson dari California,
Amerika Serikat. Pada tahun 1886 telah dibuat hak paten dari kontruksi beton prategang yang
dipakai untuk pelat dan atap. Pada waktu yang hampir bersamaan yaitu pada tahun 1888,
C.E.W. Doehting dari Jerman memperoleh hak paten untuk memprategang pelat beton dari
kawat baja. Tetapi gaya prategang yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang
karena rendahnya mutu dan kekuatan baja. Untuk mengatasi hal tersebut oleh G.R. Steiner
dari Amerika Serikat pada tahun 1908 mengusulkan dilakukannya penegangan kembali.
Sedangkan J. Mandl dan M. Koenen dari Jerman menyelidiki identitas dan besar kehilangan
gaya prategang. Eugen Freyssonet dari Perancis yang pertama-tama menemukan pentingnya
kehilangan gaya prategang dan usaha untuk mengatasinya. Berdasarkan pengalamannya
membangun jembatan pelengkung pada tahun 1907 dan 1927, maka disarankan untuk
memakai baja dengan kekuataan yang sangat tinggi dan perpanjangan yang besar. Kemudian
pada tahun 1940 diperkenalkan sistem prategang yang pertama dengan bentang 47 meter di
Philadelphia (Walnut Lane Bridge) seperti gambar dibawah ini :

17
Setelah Fresyssinnet para sarjana lain juga menemukan metode-metide prategang.
Mereka adalah G.Magnel (Belgia), Y.Guyon (Perancis), P. Abeles (Inggris), F. Leonhardt
(Jerman), V.V. Mikhailov (Rusia), dan T.Y. Lin (Amerika Serikat). Sekarang telah
dikembangkan banyak sistim dan teknik prategang. Dan beton prategangan sekarang telah
diterima dan banyak dipakai, setelah melalui banyak penyempurnaan hampir pada setiap
elemen beton prategang, misalnya pada jembatan, komponen bangunan seperti balok, pelat
dan kolom, pipa dan tiang panjang, terowongan dan lain sebagainya. Dengan beton prategang
dapat dibuat betang yang besar tetapi langsing.

Struktur beton prategang mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :

 Terhindarnya retak terbuka di daerah tarik, jadi lebih tahan terhadap keadaan korosif.
 Kedap air, cocok untuk pipa dan tangki.
 Karena terbentuknya lawan lendut sebelum beban rencana bekerja, maka lendutan
akhirnya akan lebih kecil dibandingkan pada beton bertulang.
 Penampang struktur lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang dipakai secara
efektif.
 Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dibandingkan jumlah berat besi beton biasa.
 Ketahanan gesek balok dan ketahanan puntirnya bertambah. Maka struktur dengan
bentang besar dapat langsing. Tetapi ini menyebabkan Natural Frequency dari struktur
berkurang, sehingga menjadi dinamis instabil akibat getaran gempa/angin, kecuali bila
struktur itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.

2.2.3 Beton Pracetak

2.2.3.1 Sejarah Beton Pracetak

Sistem beton pracetak adalah metode konstruksi yang mampu menjawab


kebutuhan di era millennium baru ini. Pada dasarnya system ini melakukan pengecoran
komponen di tempat khusus di permukaan tanah (fabrikasi), lalu dibawa ke lokasi
(transportasi ) untuk disusun menjadi suatu struktur utuh (ereksi). Keunggulan system ini,
antara lain mutu yang terjamin, produksi cepat dan missal, pembangunan yang cepat,
ramah lingkungan dan rapi dengan kualitas produk yang baik. Perbandingan kualitatif
antara strutur kayu, baja serta beton konvensional dan pracetak dapat dilihat pada table :

18
Beton
Aspek Kayu Baja konvensional Pracetak
Pengadaan Semakin terbatas Utamanya impor Mudah Mudah
Permintaan Banyak Banyak Paling banyak Cukup
Pelaksanaan Sukar, Kotor Cepat, bersih Lama, kotor Cepat, bersih
Pemeliharaan Biaya Tinggi Biaya tinggi Biaya sedang Biaya sedang
Kualitas Tergantung spesies Tinggi Sedang-tinggi Tinggi
Harga Semakin mahal Mahal Lebih murah Lebih murah
Tenaga Kerja Banyak Banyak Banyak Banyak
Lingkungan Tidak ramah Ramah Kurang ramah Ramah
Standar Ada Ada ( sedang Ada ( sedang Belum ada
(sedang diperbaharui) diperbaharui ) (sedang disusun)
diperbaharui)

Sistem pracetak telah banyak diaplikasikan di Indonesia, baik yang sistem


dikembangkan di dalam negeri maupun yang didatangkan dari luar negeri. Sistem
pracetak yang berbentuk komponen, seperti tiang pancang, balok jembatan, kolom plat
pantai. Permasalahan mendasar dalam perkembangan system pracetak di Indonesia saat
ini adalah :

1. Sistem ini relative baru


2. Kurang tersosialisasikan jenisnya, produk dan kemampuan system pracetak yang
telah ada
3. Serta keandalan sambungan antarkomponen untuk system pracetak terhadap beban
gempa yang selalu menjadi kenyataan
4. Belum adanya pedoman resmi mengenai tatacara analisis, perencanaan serta tingkat
kendalan khusus untuk system pracetak yang dapat dijadikan pedoman bagi pelaku
konstruksi.

2.2.3.2 Perkembangan Sistem Pracetak Di Dunia

Sistem pracetak jaman modern berkembang mula-mula di Negara Eropa.


Strujtur pracetak pertama kali digunakan adalah sebagai balok beton precetak untuk
Casino di Biarritz, yang dibangun oleh kontraktor Coignet, Paris 1891. Pondasi
beton bertulang diperkenalkan oleh sebuah perusahaan Jerman, Wayss & Freytag di
Hamburg dan mulai digunakan tahun 1906. Th 1912 beberapa bangunan bertingkat
menggunakan system pracetak berbentuk komponen-komponen, seperti dinding
.kolom dan lantai diperkenalkan oleh John.E.Conzelmann.

19
Struktur komponen pracetak beton bertulang juga diperkenalkan di Jerman
oleh Philip Holzmann AG, Dyckerhoff dan Widmann G Wayss dan Freytag
KG, Prteussag, Loser dll. Sstem pracetak taha gempa dipelopori pengembangannya
di Selandia Baru. Amerika dan Jepang yang dikenal sebagai Negara maju di dunia,
ternyata baru melakukan penelitian intensif tentangt system pracetak tahan gempa
pada tahun 1991. Dengan membuat program penelitian bersama yang dinamakan
PRESS ( Precast seismic Structure System).

2.2.3.3 Perkembangan Sistem Pracetak Di Indonesia

Indonesia telah mengenal system pracetak yang berbentuk komponen, seperti


tiang pancang, balok jembatan, kolom dan plat lantai sejak tahun 1970an. Sistem
pracetak semakin berkembang dengan ditandai munculnya berbagai inovasi seperti
Sistem Column Slab (1996), Sistem L-Shape Wall (1996), Sistem All Load Bearing
Wall (1997), Sistem Beam Column Slab (1998), Sistem Jasubakim (1999), Sistem
Bresphaka (1999) dan siste4m T-Cap (2000).

2.2.3.4 Permasalahan Umum Pada Pengembangan Sistem Pracetak

Ada tiga masalah utama dalam pengembangan system pracetak :

1. Keandalan sambungan antarkomponen


2. Belum adanya suatu pedoman perencanaan khusus untuk system struktur
pracetak
3. Kerjasama dengan pertencana di bidang lain yang terkait, terutama dengan pihak
arsitektur dan mekanikal/elektrikal/plumbing.

2.2.4 Beton Pratekan

Beton adalah suatu bahan yang mempunyai kekuatan yang tinggi terhadap tekan,
tetapi sebaliknya mempunyai kekuatan relative sangat rendah terhadap tarik. Beton tidak
selamanya bekerja secara efektif didalam penampang-penampang struktur beton
bertulang, hanya bagian tertekan saja yang efektif bekerja, sedangkan bagian beton yang
retak dibagian yang tertarik tidak bekerja efektif dan hanya merupakan beban mati yang
tidak bermanfaat.

20
Hal inilah yang menyebabkan tidak dapatnya diciptakan srtuktur-struktur beton
bertulang dengan bentang yang panjang secara ekonomis, karena terlalu banyak beban
mati yang tidak efektif. Disampimg itu, retak-retak disekitar baja tulangan bisa
berbahaya bagi struktur karena merupakan tempat meresapnya air dan udara luar
kedalam baja tulangan sehingga terjadi karatan. Putusnya baja tulangan akibat karatan
fatal akibatnya bagi struktur.

Dengan kekurangan-kekurangan yang dirasakan pada struktur beton bertulang


seperti diuraikan diatas, timbullah gagasan untuk menggunakan kombinasi-kombinasi
bahan beton secara lain, yaitu dengan memberikan pratekanan pada beton melalui kabel
baja (tendon) yang ditarik atau biasa disebut beton pratekan.

Beton pratekan pertama kali ditemukan oleh Eugene Freyssinet seorang


insinyur Perancis. Ia mengemukakan bahwa untuk mengatasi rangkak,relaksasi dan slip
pada jangkar kawat atau pada kabel maka digunakan beton dan baja yang bermutu
tinggi. Disamping itu ia juga telah menciptakan suatu system panjang kawat dan system
penarikan yang baik, yang hingga kini masih dipakai dan terkenal dengan System
Freyssinet.

Dengan demikian, Freyssinet telah berhasil menciptakan suatu jenis struktur baru
sebagai tandingan dari strktur beton bertulang. Karena penampang beton tidak pernah
tertarik, maka seluruh beban dapat dimanfaatkan seluruhnya dan dengan system ini
dimungkinkanlah penciptaan struktur-struktur yang langsing dan bentang-bentang yang
panjang.

Beton pratekan untuk pertama kalinya dilaksanakan besar-besaran dengan sukses


oleh Freyssinet pada tahun 1933 di Gare Maritime pelabuhan LeHavre (Perancis).
Freyssenet sebagai bapak beton pratekan segera diikuti jejaknya oleh para ahli lain
dalam mengembangkan lebih lanjut jenis struktur ini. Seperti:

a). Yves Gunyon

Yves Gunyon adalah seorang insinyur Perancis dan telah menerbitkan


buku Masterpiecenya “ Beton precontraint” (2 jilid) pada tahun 1951. Beliau
memecahkan kesulitan dalam segi perhitungan struktur dari beton pratekan yang
diakibatkan oleh gaya-gaya tambahan disebabkan oleh pembesian pratekan pada
struktur yang mana dijuluki sebagai “Gaya Parasit” maka Guyon dianggap
sebagai yang memberikan dasar dan latar belakang ilmiah dari beton pratekan.

21
b). T.Y. Lin

T.Y. Lin adalah seorang insinyur kelahiran Taiwan yang merupakan guru
besar di California University, Merkovoy. Keberhasilan beliau yaitu mampu
memperhitungkan gaya-gaya parasit yang tejadi pada struktur. Ia mengemukakan
teorinya pada tahun 1963 tentang “ Load Balancing”. Dengan cara ini kawat atau
kabel prategang diberi bentuk dan gaya yang sedemikian rupa sehingga sebagian
dari beban rencana yang telah datetapkan dapat diimbangi seutuhnya pada beban
seimbang ini. Didalam struktur tidak terjadi lendutan dan karenanya tidak bekerja
momen lentur apapun, sedangkan tegangan beton pada penampang struktur
bekerja merata. Beban-beban lain diluar beban seimbang (beban vertikal dan
horizontal) merupakan “inbalanced load”, yang akibatnya pada struktur dapat
dihitung dengan mudah dengan menggunakan teori struktur biasa. Tegangan akhir
dalam penampang didapat dengan menggunakan tegangan merata akibat
“Balanced” dan tegangan lentur akibat “Unbalanced Load”. Tanpa melalui
prosedur rumit dapat dihitung dengan mudah dan cepat. Gagasan ini telah
menjurus kepada pemakaian baja tulangan biasa disamping baja prategang, yaitu
dimana baja prategang hanya diperuntukkan guna memikul akibat dari Inbalanced
Load.

Teori “inbalanced load” telah mengakibatkan perkembngan yang sangat


pesat dalam menggunakan beton pratekan dalam gedung-gedung bertingkat
tinggi. Struktur flat slab, struktur shell, dan lain-lain. Terutama di Amerika
dewasa ini boleh dikatakan tidak ada gedung bertingkat yang tidak menggunakan
beton pratekan didalam strukturnya.

T.Y. Lin juga telah berhasil membuktikan bahwa beton pratekan dapat
dipakai dengan aman dalam bangunan-bangunan didaerah gempa, setelah
sebelumnya beton pratekan dianggap sebagai bahan yang kurang kenyal (ductile)
untuk dipakai didaerah-daerah gempa, tetapi dikombinasikan dengan tulangan
baja biasa ternyata beton pratekan cukup kenyal, sehingga dapat memikul dengan
baik perubahan-perubahan bentuk yang diakibatkan oleh gempa.

c). P.W. Abeles

P.W. Abeles adalah seorang insinyur Inggris, yang sangat gigih


mendongkrak aliran” Full Prestressing”, karena penggunaanya tidak kompetitif
terhadap penggunaan beton bertulang biasa dengan menggunakan baja tulangan
mutu tinggi. Penggunaan Full Prestessing ini tidak ekonomis, menurut berbagai
penelitian biaya struktur dengan beton pratekan dan Full Prestressing dapat
sampai 3,5 atau 4 kali lebih mahal dari pada struktur yang sama tetapi dari beton
bertulang biasa dengan menggunakan tulangan baja mutu tinggi. Dengan

22
demikian timbullah gagasan baru yang dikemukakan oleh P.W. Abeles untuk
mengkombinasikan prinsip pratekan dengan prinsip penulangan penampang atau
dikenal dengan nama “Partial Prestressing”. Yang mana didalam penampang
diijinkan diadakannya bagi tulangan, lebar retak dapat dikombinasikan dengan
baik.

“Partial Prestrssing” telah disetujui oleh Chief Engineer’s Departement


untuk digunakan pada jembatan-jembatan kereta api di Inggris, dimana tegangan
tarik boleh terjadi sampai 45 kg/cm2 dengan lebar retak yang dikendalikan
dengan memasang baja tulangan biasa. Freyssinet sendiri menjelang akhir
karirnya telah mengakui juga bahwa “Partial Prestressing” mengembangkan
struktur-struktur tertentu. Begitupun dengan teori “Load Balancing” dari T.W. Lin
yang ikut mendorong dipakainya “Partial Prestressing” karena pertimbangannya
kecuali segi ekonomis juga segi praktisnya bagi perencanaan.

2.2.4 Beton Mutu Tinggi

High strength concrete merupakan sebuah tipe beton performa tinggi yang
secara umum memiliki kuat tekan 6000 psi (40 MPa) atau lebih. Ukuran kuat
tekannya diperoleh dari silinder beton 150 mm – 300 mm atau silinder 100 mm –
200 mm pada umur 56 ataupun 90 hari, ataupun umur yang telah ditentukan
tergantung pada aplikasi yang diiningkan. Produksi high strength concrete
membutuhkan penelitian dan perhatian yang lebih jauh terhadap kontrol
kualitasnya daripada beton konvensional.

Sejarah singkat dari perkembangan high strength concrete dapat


dijabarkan berikut ini. Pada akhir tahun 1960-an, admixture untuk mengurangi air
(superplasticizer) yang terbuat dari garam-garam naphthalene sulfonate
diproduksi di Jepang dan melamine sulfonate diproduksi di Jerman. Aplikasi
pertama di Jepang yaitu digunakan untuk produk girder dan balok pracetak dan
cetak di tempat. Di Jerman, awalnya ditujukan untuk pengembangan campuran
beton bawah air yang memiliki kelecakan tinggi tanpa terjadi segregasi. Sejalan
dengan kemungkinan tercapainya mutu beton yang tinggi dan workability yang
tinggi secara simultan pada campuran beton dengan pemakaian superplasticizer,
maka pemakaian kedua bahan tersebut dianggap sangat cocok digunakan pada
produksi komponen-komponen struktur cetak di tempat untuk bangunan-
bangunan tinggi.

23
Beton didefinisikan sebagai “high-strength” semata-mata berdasarkan
karena kuat tekannya pada umur tertentu. Pada tahun 1970-an, sebelum
ditemukannya superplasticizer, campuran beton yang memperlihatkan kuat tekan
40 MPa atau lebih pada umur 28 hari disebut sebagai high strength concrete. Saat
ini, saat campuran beton dengan kuat tekan 60 MPa – 120 MPa tersedia di
pasaran, pada ACI Committae 2002 tentang High Strength Concrete merevisi
definisinya menjadi memperoleh campuran dengan kuat tekan desain spesifikasi
55 MPa atau lebih.

Meskipun tujuan praktisnya adalah untuk menyatakan kuat tekan beton


berdasarkan hasil uji pada umur 28 hari, namun terdapat pergeseran untuk
menyatakan kekuatan pada umur 56 atau 90 hari dengan alas an bahwa banyak
elemen-elemen struktur yang tidak terbebani selama kurun waktu dua atau tiga
bulan atau lebih. Saat kekuatan yang tinggi tidaklah diperlukan pada umur-umur
awal, akan lebih baik untuk tidak menyatakannya hanya untuk mencapai sejumlah
keuntungan misalnya penghematan semen, kemampuan untuk menggunakan
bahan-bahan tambah (admixture) secara berlebihan dan produk yang lebih
durable.

Beberapa puluh tahun yang silam, bangunan-bangunan tinggi yang ada di


New York hampri seluruhnya merupakan bangunan dengan rangka baja. Saat ini,
mungkin sepertiga dari bangunan-bangunan tinggi komersial dibuat dengan
rangka beton bertulang. Terdapat sebuah penilaian yang diyakini bahwa
pemilihan antara rangka baja dengan rangka beton bertulang ditentukan
berdasarkan kecepatan konstruksi yang tinggi. Juga, ketersediaan high strength
concrete secara komersial memberikan sebuah penilaian ekonomis alternatif
untuk membangun kolom dengan beton konvensional pada lantai-lantai bawah
dari bangunan-bangunan tinggi. Berdasarkan sebuah laporan, kapasitas kolom-
kolom dalam hal kemampuan menahan beban pada bangunan-bangunan berlantai
banyak meningkat 4,7 kali untuk setiap lipat tiga kenaikan harga. Untuk
konstruksi bangunan-bangunan yang menggunakan rangka beton bertulang, 30
lantai atau lebih, kolom-kolom dengan ukuran normal dapat dibuat pada sepertiga
bagian dari bangunan dengan mutu beton konvensional 30 MPa sampai dengan 35
MPa. Namun pemakaian high strength concrete dibenarkan untuk kolom-kolom
langsing pada duapertiga bagian bawah dari bangunan.

24
Metode Desain Campuran High Strength Concrete

Metode yang digunakan dalam merencanakan campuran high strength


concrete ada beberapa cara, antara lain: (1) Minimum Voids Method, (2)
Maximum Density Method, (3) Fineness Modulus Method, (4) British Mix
Design (DOE) Method, (5) American Concrete Institute Method (ACI Method),
dan (6) Indian Standard Method. Namun secara umum, desain campuran beton
yang optimum dihasilkan dari pemilihan bahan-bahan local yang tersedia yang
menyebabkan beton segar mampu untuk ditempatkan dan mampu untuk
diselesaikan dan dapat memastikan pengembangan kekuatan dan sifat-sifat lain
yang diinginkan dari beton yang telah mengeras sebagaimana dinyatakan oleh
desainer. Beberapa konsep dasar yang perlu untuk dipahami untuk high strength
concrete antara lain:

Agregat semestinya kuat dan durable. Agregat tidak perlu keras dan
kekuatannya tinggi namun perlu kompatibel, dalam arti cukup kaku dan kuat,
dengan pasta semen. Umumnya ukuran maksimum agregat kasar yang lebih kecil
digunakan untuk kuat tekan beton yang lebih tinggi. Agregat halus yang
digunakan bisa jadi lebih kasar daripada yang diperbolehkan oleh ASTM C 33
(modulus kehalusan butir lebih besar dari 3,2) karena tingginya agregat halus
telah digantikan oleh bahan-bahan perekat (semen).

Campuran high strength concrete akan memiliki isi bahan-bahan perekat


yang tinggi yang meningkatkan panas hidrasi dan kemungkinan susut yang tinggi
mengawali potensi retak. Kebanyakan campuran berisi satu atau lebih bahan-
bahan perekat tambahan seperti fly ash (tipe C atau F), ground granulated blast
furnace slag, silica fume, metakaolin atau bahan-bahan pozolanik alami.

Campuran high strength concrete umumnya membutuhkan rasio factor air


semen yang rendah, dimana rasio factor air semen berada pada rentangan 0,23
sampai dengan 0,35. Faktor air semen yang rendah ini hanya dapat dicapai dengan
admixture (superplasticizer) dalam jumlah dan dosis yang besar, menyesuaikan
antara tipe F atau G berdasarkan ASTM C 494. Admixture pengurang air tipe A
juga dapat digunakan sebagai kombinasinya.

Isi total dari bahan-bahan perekat umumnya sekitar 700 lb/yd3 (415
kg/m3) namun tidak boleh lebih dari 1100 lb/yd3 (650 kg/m3). Pemakaian air
entrainment pada high strength concrete akan menurunkan potensial kekuatan
secara besar.

25
Perhatian yang lebih dan evaluasi akan diperlukan bila spesifikasi
pekerjaan mengatur batas-batas sifat beton seperti rangkak, susut dan modulus
elastisitas. Ahli teknik mungkin mengatur batas-batas sifat tersebut untuk desain
strukturnya. Penelitian-penelitian saat ini mungkin tidak memberikan panduan
yang diperlukan tentang hubungan empiris dari sifat-sifat tersebut dari pengujian-
pengujian trandisional dan beberapa dari pengujian tersebut sangat khusus dan
mahal untuk dilakukan bagi evaluasi campuran. Berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan teoretis, rangkak dan susut yang lebih kecil, modulus elastisitas
yang lebih tinggi dapat dicapai dengan agregat yang lebih besar dan isi pasta yang
lebih sedikit pada beton. Menggunakan ukuran agregat terbesar yang dapat
dicapai dan agregat halus yang digradasi medium sampai dengan kasar dapat
mencapai hal tersebut. Ukuran agregat yang lebih kecil misalkan 3/8 inci ( 9,5
mm) dapat digunakan untuk menghasilkan kuat tekan yang sangat tinggi namun
membutuhkan sifat-sifat seperti rangkak, susut dan modulus elastisitas untuk
dikorbankan. Apabila kesulitan ditemui dalam mencapai kuat tekan yang tinggi,
hanya dengan menambahkan bahan-bahan perekat tidak akan menaikkan
kekuatan. Faktor-faktor seperti bahan-bahan pengganggu dalam agregat, pelapis-
pelapis agregat, agregat kasar, muka-muka pecah, tampang dan tekstur, dan
batasan-batasan pengujian bisa jadi menghalangi kuat tekan tinggi dapat tercapai.
Proporsi campuran beton akhir ditentukan dengan batch coba-coba, entah itu di
laboratorium ataupun dengan batch-batch produksi lapangan skala kecil.
Produksi, transportasi, penempatan dan finishing high strength concrete bisa jadi
berbeda secara signifikan dari prosedur-prosedur yang digunakan pada beton
konvensional. Untuk proyek-proyek yang kritis, sangat direkomendasikan
penuangan coba-coba dan evaluasi dilakukan dan dimasukan sebagai item yang
harus dibayarkan pada kontrak. Pertemuan pra-penawaran dan pra-konstruksi
sangatlah penting untuk dilakukan untuk memastikan kesuksesan proyek yang
menggunakan high strength concrete. Selama konstruksi, pengukuran ekstra harus
dilakukan untuk melindungi terhadap susut plastik dan retak panas pada bagian-
bagian yang lebih tipis. High strength concrete mungkin membutuhkan waktu
yang lebih lama sebelum perancah dibongkar.

Silinder-silinder uji high strength concrete sebaiknya dicetak dengan hati-


hati, dirawat, ditutupi dan diuji. Waktu setting high strength concrete yang lebih
lambat mungkin juga terjadi.

26
2.2.4 BetonRingan

Pada jaman modern untuk mendirikan bangunan sudah dituntut untuk


lebih baik dan lebih baik lagi. Bukan hanya indah dipandang dari sisi
arsitekturnya, dari sisi kenyamanan, keamanan, pengerjaan yang mudah dan cepat
juga murah merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Hebel dan Prime
mortar merupakan jawaban semua tantangan tersebut. Hebel merupakan
Autoclaved Aerated Concrete (AAC) atau yang lebih dikenal sebagai Beton
Ringan Aerasi Hebel. Beton Ringan Aerasi Hebel terbuat dari bahan baku
berkualitas tinggi, diproduksi dengan teknologi Jerman dan standar Deutche
Industrie Norm (DIN). Beton Ringan Aerasi Hebel merupakan bahan bangunan
yang ringan dengan kekuatan yang tinggi dan kemampuan insulasi yang sangat
baik, juga memberikan kemudahan, kecepatan, serta kerapian dalam membangun
segala jenis bangunan; rumah tinggal, komersial, fasilitas publik, perkantoran
maupun industri. Blok & Jumbo Blok Hebel, Super Panel Lantai Hebel serta
Super Panel Diding Hebel merupakan produk unggulan dari Hebel.

Blok Beton Ringan Hebel adalah solusi praktis untuk bangun tembok,
cepat dan rapi. Mempunyai ukuran sangat presisi sehingga pemakaian perekat
PM-100 Superior Thin Bed Prime Mortar yang tipis, mudah pengerjaanya.
Mempunyai kuat tekan yang tinggi namun ringan sehingga lebih tahan gempa.
Selain itu kelebihan lainnya mempunyai ketahan terhadap kebakaran, kemampuan
insulasi panas dan suara yang baik serta handal dan tahan terhadap cuaca.

Sedangkan Super Panel Lantai Hebel merupakan solusi praktis untuk


menambah lantai. Tidak hanya praktis tetapi juga mempunyai nilai ekonomis
yang tinggi, cepat dan efesien dalam pengerjaan, tanpa bekisting sehingga
memungkinkan adanya aktifitas diruang bawah sementara pekerjaan konstruksi
berlangsung. Kekuatan dan keamananya tidak perlu diragukan lagi karena telah
memenuhi standar internasional. Mempunyai kuat tekan yang tinggi namun
ringan, juga diperkuat dengan rangka pembesian dengan proteksi anti karat,
ketahanan akan kebakaran serta mempunyai insulasi panas dan suara yang baik.
Super Panel Lantai Hebel mudah dikerjakan dan dapat dimobilisasi di ruang
terbatas, lebih kokoh dengan mengisi celah sambungan panel dengan mengunakan
PM-600+ Premium Screed Prime Mortar serta tidak memerlukan proses
pengeringan di lapangan.

Super Panel Dinding Hebel memberikan keuntungan yang sangat berarti


untuk pemakaian dinding internal maupun eksternal dibanding tembok biasa.
Keunggulan Super Panel Dinding Hebel pemasangan cepat dan efisien. Biaya
hemat dikarenakan tidak memerlukan kolom praktis karena sudah diperkuat

27
dengan tulangan besi baja diproteksi anti karat, juga akan memberikan kekuatan
dan ketahanan yang sangat memadai terutama terhadap beban gempa. Bahan
beton ringan tidak mudah terbakar juga akan membebani struktur utama lebih
ringan. Memperbesar luas lantai menjadi efektif dikarenakan ketebalan dinding
hanya 7,5 cm tidak memerlukan acian karena dapat disiapkan dalam keadaan siap
cat, menggunakan Prime Mortar PM-200+ Premium Plaster. Kinerja akustik yang
sangat baik dan mempunyai ketahan terhadap suhu. Super Panel Dinding Hebel
juga telah memenuhi Standar Internasional.

Selain baik digunakan dengan Hebel, Prime Mortar juga dapat digunakan
untuk keperluan lain dalam pekerjaan konstruksi. Prime Mortar merupakan semen
instant, bermutu, praktis dan ekonomis yang diformulasi dan diproduksi dengan
teknologi tinggi M-tec Jerman. Ketepatan dan akurasi campuran yang homogen
membuat Prime Mortar menjadi pilihan nomor satu untuk pekerjaan yang lebih
cepat, akurat dan rapi. Keunggulan Prime Mortar menggunakan pasir silika
dengan kadar lumpur yang sangat rendah serta adanya penambahan bahan bahan
aditif. Kualitas yang lebih baik, terjamin, konsisten dan diuji secara teknis.

Untuk sekarang tidaklah susah untuk mendirikan banguan yang


berkualitas baik dan tidaklah salah bila Hebel dan Prime Mortar merupakan
sistem beton ringan terbaik dan terlengkap sebagai solusi inovatif dalam
konstruksi.

Hebel bisa disebut sebagai Beton Ringan Aerasi Hebel (Autoclaved


Aerated Concrete) yang mempunyai bahan baku utama terdiri dari pasir silika,
kapur, semen, air, ditambah dengan suatu bahan pengembang. Kemudian dirawat
dengan tekanan uap air. Beton Ringan Aerasi Hebel merupakan bahan bangunan
yang ringan dengan kekuatan yang tinggi dan kemampuan insulasi yang sangat
baik.

Kekuatan material ini diperoleh dari proses perawatan dangan


menggunakan uap air pada autoclave. Reaksi antara kapur dan pasir silika pada
suhu sekitar 183ºC membentuk suatu subtansi baru yang disebut Tobermorite.
Proses pengembangan menghasilkan pori-pori yang tak terhitung jumlahnya.
Keseluruhan proses dan substansi yang dihasilkan memberikan karakteristik
mekanikal dan fisik Beton Ringan Aerasi Hebel yang luar biasa.

Sejarah Hebel dimulai pada tahun 1943 di Jerman Barat, ketika seorang
kontraktor bangunan bernama Joseph Hebel memutuskan untuk mengembangkan
sistem bangunan yang lebih baik dengan biaya yang lebih ekonomis. Inovasi-
inovasi brilian yang dilakukannya, seperti proses pemotongan dengan

28
menggunakan kawat, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi
perkembangan produk ini.

Ia juga meletakkan dasar bagi pengembangan produk ini dari sekedar


suatu bahan bangunan menjadi suatu Sistem Membangun yang menyeluruh dang
lengkap. Blok, lintel dilengkapi dengan panel untuk lantai, atap, dan dinding telah
berhasil diaplikasikan dengan baik di proyek perumahan, proyek komersial dan
industri. Kesuksesan Hebel di Jerman segera dilihat negara-negara lain. Pada
tahun 1967 bekerja sama dengan Asahi Chemicals dibangun pabrik Hebel
pertama di Jepang. Sampai saat ini Hebel telah berada di 29 negara dan
merupakan produsen beton aerasi terbesar di dunia.

29
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sejarah penemuan teknologi beton dimulai dari :

a. Pada abad 26 SM, bangsa Mesir menggunakan campuran dengan jerami untuk mengikat
batu kering , gypsum, dan semen kapur pada pembuatan Pyramid.
b. Pada abad ke-8 SM, menggunakan campuran dengan jerami untuk mengikat batu kering
, gypsum, dan semen kapur.
c. Pada tahun 1779 M, Fra Giocondo menggunakan pasir pozzolana sebagai mortar pada
Dermaga Pont de Notre Dame di Paris.
d. Pada tahun 1793 M, John Smeaton menemukan batu kapur Kalsinasi yang berisi tanah
liat yang dihasilkan pada jenis kapur yang mengeras di bawah air, Smeaton menggunakan
kapur hidrolik untuk membangun Mercusuar Eddystone di Cornwall, Inggris
e. Joseph Aspdin (1824) Penemu Portland Cement.
f. J.L Lambot (1850 ) telah membuat sebuah kapal kecil dari beton ( kemudian dia
menebalkan perahunya dengan batang besi dan kawat ) di Prancis selatan untuk
dipamerkan pada Pameran Dunia pada tahun 1855 di Paris
g. Pada tahun 1850, J. Monier, seorang tukang kebun berkebangsaan Prancis,
mengembangkan sebuah Pot Bunga dengan beton bertulang; pada tahun 1867, dia
mempatenkan Garden Tub dan kemudian balok bertulang.
h. F. Coignet (1861) melakukan uji coba penggunaan pembesian pada konstruksi atap, pipa
dan kubah
i. Gustav Wayss & Koenen ( 1887) serta Hennebique memperkenalkan sengkang sebagai
penahan gaya geser dan penggunaan balok “ T ” untuk mengurangi beban akibat berat
sendiri
j. Neuman melakukan analisis letak garis netral Considere menemukan manfaat kait pada
ujung tulangan
k. Freyssinet memperkenalkan dasar – dasar beton pratekan
l. Perkembangan beton selanjutnya dikembangkan sperti beton bertulang, beton prategang,
beton pracetak, serta beton pratekan.

30
3.2 Saran

Perkembangan zaman mempengaruhi perkembangan manusia untuk berkembang ke


arah yang lebih baik dan menuntut setiap bangsa untuk berusaha maju. Begitu pula pada
perkembangan beton, dimana pengguanaan beton sangat berpengaruh pada konstruksi
bangunan di setiap pelosok. Namun penggunaan beton tak lepas dari eksploitasi alam yang
memungkinkan alam akan terkuras, dalam hal ini penggunaan bahan campuran beton. Untuk
itu sebagai seorang engineer, dalam penggunaan beton sebagai bahan untuk konstruksi, bias
menyeimbangkan keadaan alam kita, walaupun hal itu memang cukup sulit. Sehingga
seorang engineer dituntut untuk lebih kreatif lagi untuk menemukan material campuran beton
tanpa menguras habis sumber daya yang ada di bumi kita ini.

31
Daftar Pustaka

1
Kirby, R. S., dan Laurson, P. G., 1932, The Early Years of Modern Civil Engineering (New
Haven: Yale University Press), hal. 273-275.
2
Straub, H,. 1964, A History of Civil Engineering (Cambridge: The M.I.T. Press), hal. 205-215.
Translated from the German Die Geschichte der Bauingenieurkuntst, Verlag Birkhauser, Basel,
1949.
3
Kirby, R. S., dan Laurson, P. G., 1932, The Early Years of Modern Civil Engineering (New
Haven: Yale University Press), hal. 273-275.
4
Ward, W. E., 1883, “Beton in Combination with Iron as a Building Material,” Transactions
ASME, 4, hal. 388-403.
5
Kirby, R. S., dan Laurson, P. G., 1932, The Early Years of Modern Civil Engineering (New
Haven: Yale University Press), hal. 275.

Anonim, ( )., CIP 33 – High Strength Concrete, National Ready Mixed Concrete Association., -

Kosmatka, Steven H., Kerkhoff, Beatrix, dan Panarese, William C., 2003., Design and Control of
Concrete Mixture.,Portland Cement Association, Illionis.

Mehtar, P. Kumar, dan Monteiro, Paulo J.M., 2006., Concrete – Microstructure, Properties and Materials,
3rd edition., McGraw-Hill, New York.

Civil Engineering Portal, http://www.engineeringcivil.com/, portal khusus untuk teknik sipil

http://www.tecnologos.it/Articoli/articoli/numero_010/concrete.asp
http://one.indoskripsi.com/node/405

32