Anda di halaman 1dari 23

1.

DEFINISI
Luka adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan Menurut
InETNA, luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses
selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada
kuntinuitas/kesatuan

jaringan

tubuh

yang

biasanya

disertai

dengan

kehilangan substansi jaringan (Mansjoer, 2001)


2. ETIOLOGI
a. Mekanik
Benda tajam
Merupakan luka terbuka yang terjadi akibat benda yang memiliki sisi
tajam atau runcing. Misalnya luka iris, luka bacok, dan luka tusuk
Benda tumpul
Ledakan atau tembakan
Misalnya luka karena tembakan senjata api
b. Non Mekanik
Bahan kimia
Terjadi akibat efek korosi dari asam kuat atau basa kuat
Trauma fisika
Luka akibat suhu tinggi
Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion
primer, heat exhaustion sekunder, heat stroke, sun stroke, dan
heat cramps.
Luka akibat suhu rendah
Derajat Luka yang terjadi pada kulit karena suhu dingin
diantaranya hyperemia, edema dan vesikel,
Luka akibat trauma listrik
Luka akibat petir
Luka akibat perubahan tekanan udara (Mansjoer, 2001)
Radiasi
3. Klasifikasi
a. Berdasarkan derajat kontaminasi
Luka bersih
Luka bersih adalah luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi,
yang merupakan luka sayat elektif dan steril dimana luka tersebut
berpotensi untuk terinfeksi. Luka tidak ada kontak dengan orofaring,
traktus respiratorius maupun traktus genitourinarius. Dengan demikian
kondisi luka tersebut tetap dalam keadaan bersih. Kemungkinan

terjadinya infeksi luka sekitar 1%-5%.


Luka bersih terkontaminasi
Luka bersih terkontaminasi adalah luka pembedahan dimana saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan saluran perkemihan dalam
kondisi terkontrol. Proses penyembuhan luka akan lebih lama namun

luka tidak menunjukkan tanda infeksi. Kemungkinan timbulnya infeksi

luka sekitar 3% - 11%.


Luka terkontaminasi
Luka terkontaminasi adalah luka yang berpotensi terinfeksi spillage
saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran kemih. Luka
menunjukan tanda infeksi. Luka ini dapat ditemukan pada luka
terbuka karena trauma atau kecelakaan (luka laserasi), fraktur terbuka

maupun luka penetrasi. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.


Luka kotor
Luka kotor adalah luka lama, luka kecelakaan yang mengandung
jaringan mati dan luka dengan tanda infeksi seperti cairan purulen.
Luka

ini

bisa

sebagai

akibat

pembedahan

yang

sangat

terkontaminasi. Bentuk luka seperti perforasi visera, abses dan


trauma lama.
b. Berdasarkan penyebab
1) Luka akibat kekerasan benda tumpul
Vulnus kontusio/ hematom
Adalah luka memar yaitu suatu pendarahan dalam jaringan bawah
kulit akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh

kekerasan tumpul
Vulnus eksoriasi (luka lecet atau abrasi)
adalah cedera pada permukaan epidermis akibat bersentuhan
dengan benda berpermukaan kasar atau runcing. Luka ini banyak
dijumpai pada kejadian traumatik seperti kecelakaan lalu lintas,
terjatuh maupun benturan benda tajam ataupun tumpul. Walaupun
kerusakannya minimal tetapi luka lecet dapat memberikan
petunjuk kemungkinan adanya kerusakan hebat pada alat-alat
dalam tubuh. Sesuai mekanisme terjadinya luka lecet dibedakan
dalam jenis:
Luka lecet gores
Diakibatkan oleh benda runcing yang menggeser lapisan
permukaan kulit
Luka lecet serut (grzse)/geser (friction abrasion)
Adalah luka lecet yang terjadi akibat persentuhan kulit dengan
permukaan badan yang kasar dengan arah kekerasan sejajar/
miring terhadap kulit
Luka lecet tekan (impression, impact abrasion)
Luka lecet yang disebabkan oleh penekanan benda tumpul

secara tegak lurus terhadap permukaan kulit.


Vulnus laseratum (luka robek)

luka dengan tepi yang tidak beraturan atau compang camping


biasanya karena tarikan atau goresan benda tumpul. Luka ini
dapat kita jumpai pada kejadian kecelakaan lalu lintas dimana
bentuk luka tidak beraturan dan kotor, kedalaman luka bisa
menembus lapisan mukosa hingga lapisan otot.
2) Luka akibat kekerasan setengah tajam
Vulnus Morsum
Adalah luka karena gigitan binatang. Luka gigitan hewan memiliki
bentuk permukaan luka yang mengikuti gigi hewan yang
menggigit. Dengan kedalaman luka juga menyesuaikan gigitan
hewan tersebut
3) Luka akibat kekerasan tajam/ benda tajam
Vulnus scisum (luka sayat atau iris)
Luka sayat atau iris yang di tandai dengan tepi luka berupa garis
lurus dan beraturan. Vulnus scissum biasanya dijumpai pada
aktifitas sehari-hari seperti terkena pisau dapur, sayatan benda

tajam ( seng, kaca ), dimana bentuk luka teratur


Vulnus punctum (luka tusuk)
Luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang
biasanya kedalaman luka lebih dari pada lebarnya. Misalnya
tusukan pisau yang menembus lapisan otot, tusukan paku dan
benda-benda tajam lainnya. Kesemuanya menimbulkan efek

tusukan yang dalam dengan permukaan luka tidak begitu lebar.


4) Vulnus scloperotum (luka tembak)
Adalah luka yang disebabkan karena tembakan senjata api
5) Luka akibat trauma fisika dan kimia
Vulnus combutio
Adalah luka karena terbakar oleh api atau cairan panas maupun
sengatan arus listrik. Vulnus combutio memiliki bentuk luka yang
tidak beraturan dengan permukaan luka yang lebar dan warna kulit
yang menghitam. Biasanya juga disertai bula karena kerusakan
epitel kulit dan mukosa
Sumber lain menyatakan pembagian umum luka :
a. Simple, bila hanya melibatkan kulit.
b. Kompukatum, bila melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya.
Trauma arteri umumnya dapat disebabkan oleh trauma benda tajam ( 50
% ) misalnya karena tembakan, luka-luka tusuk, trauma kecelakaan kerja
atau kecelakaan lalu lintas, trauma arteri dibedakan berdasarkan
beratnya cidera :

a. Derajat I adalah robekan adviticia dan media, tanpa menembus


dinding.
b. Derajat II adalah robekan varsial sehingga dinding arteri juga terluka
dan biasanya menimbulkan pendarahan yang hebat.
c. Derajat III adalah pembuluh darah putus total, gambaran klinis
menunjukan pendarahan yang tidak besar, arteri akan mengalami
vasokontriksi dan retraksi sehingga masuk ke jaringan karen
elastisitasnya.
4. MANIFESTASI KLINIK
Menurut black (1993) manifestasi vulnus adalah sebagai berikut:
Deformitas: Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang
berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur

terjadi seperti: rotasi pemendekan tulang, penekanan tulang.


Bengkak: edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi

darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur


Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
Tenderness/keempukan
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari

tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.


Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya

saraf/perdarahan)
Pergerakan abnormal
Krepitasi
(Black, 1993).

a. Vulnus kontusio

Luka Memar
Pendarahan tepi : pendarahan tidak diumpai pada lokasi yang
bertekanan, tetapi pendarahan akan menepi sehingga bentuk
pendarahan akan menepi sesuai dengan bentuk celah antara kedua
kembang yang berdekatan

Dilihat dari permukaan kulit tampak darah berwarna hitam kebiruan,


setelah sekitar dua hari terjadi perubahan pigmen darah menjadi

warna kuning.
b. Vulnus eksoriasi

Luka lecet
Hilangnya epitel

dan

lapisan

dermis

atau

subkutan

hal

ini

menyebabkan luka tampak kuning, putih, merah muda atau berdarah


tergantung pada jaringan yang terekspos / rusak
c. Vulnus laseratum

Vulnus laceratum adalah terjadinya gangguan kontinuitas suatu


jaringan sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal,
luka robek terjadi akibat kekerasan yang hebat sehingga memutuskan
jaringan.

Bentuk luka tidak beraturan


Tepi tidak rata
Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasannya di

daerah yang berambut


Sering tampak luka lecet
Memar disekitar luka

d. Vulnus morsum

Luka mempunyai tepi rata


Dapat berbentuk luka lecet tekan berbentuk garis terputus-putus

,hematoma atau luka robek dengan tepi rata


Luka gigitan masih baik strukturnya sampai 3 jam pasca trauma,
setelah itu dapat berubah bentuk akibat elastisitas kulit

Vulnus morsum merupakan luka yang tercabik-cabik yang dapat


berupa memar yang disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia

e. Vulnus scisum

Luka sayat lebar tapi dangkal


Luka menembus lapisan atas kulit atau lapisan dermis ke struktur
yang lebih dalam (Kartikawati, 2011)

f.

Vulnus punctum

Kedalaman luka melebihi panjang luka


Kerusakan pembuluh darah tepi
g. Vulnus sclerotum

Luka tembak menimbulkan kerusakan jaringan pada organ yang

berada dibawahnya
Peluru dapat menghancurkan tulang dan menyebabkan cidera lebih

lanjut
Peluru dari senapan menyebabkan kerusakan lebih besar
h. Vulnus combutio

Luka bakar derajat 1


Kerusakan pada epidermis, kulit kering, kemerahan, nyeri sekali,
sembuh, dalam 3-7 dan tidak ada jaringan parut

Luka bakar derajat 2


Kerusakan pada epidermis dan dermis, terdapat vesikel dan edema,
subkutan, luka merah, basah dan mengkilat, sangat nyeri, sembuh
dalam, 28 hari tergantung komplikasi infeksi.

Luka bakar derajat 3

Kerusakan pada semua lapisan kulit, tidak ada nyeri, luka merah
keputih-putihan, dan hitam keabu-abuan, tampak kering, lapisan yang
rusak tidak sembuh sendiri maka perlu Skin graff.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan serum: hal ini dilakukan karena ada pada pasien


dengan luka bakar mengalami kehilangan volume

Pemeriksaan darah : misal pada pasien dengan luka gigitan dapat


dijumpai hipoprototrombinemia, trombositopenia, hipofibrinogemia,
dan anemia

Pemeriksaan elektrolit : pada pasien dengan luka bakar mengalami


kehilangan volume cairan dan gangguan Na-K pump

Analisa gas darah biasanya pasien luka bakar

terjadi asidosis

metabolisme dan kehilanga protein

Faal hati dan ginjal

CBC mengidentifikasikan jumlah darah yang

ke dalam cairan,

penuruan HCT dan RBC, trombositopenia lokal, leukositosis, RBC


yang rusak

Elektolit terjadi penurunan calsium dan serum, peningkatan alkali


phosphate

Serum albumin : total protein menurun, hiponatremia

Radiologi : untuk mengetahui penumpukan cairan paru, inhalas asap


dan menunjukkan faktor yang mendasari ; pada pasien vulnus
morsum biasanya terdapat emboli paru/edema paru

ECG : untuk mengetahui adanya aritmia

6. PATOFISIOLOGI
Menurut Soejarto Reksoprodjo, dkk, 1995 ; 415) proses yang terjadi secara
alamiah bila terjadi luka dibagi menjadi 3 fase :
1) Fase inflamsi atau lagphase berlangsung sampai 5 hari. Akibat luka
terjadi pendarahan, ikut keluar sel-sel trombosit radang. Trombosit
mengeluarkan prosig lalim, trombosam, bahan kimia tertentu dan asam
amoini tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus
dinding pembuluh darah dan khemotaksis terhadap leukosit. Terjadi
Vasekontriksi dan proses penghentian pendarahan. Sel radang keluar
dari pembuluh darah secara diapedisis dan menuju dareh luka secara
khemotaksis. Sel mast mengeluarkan serotonin dan histamine yang
menunggalkan peruseabilitas kapiler, terjadi eksudasi cairan edema.
Dengan demikian timbul tanda-tanda radang leukosit, limfosit dan monosit
menghancurkan dan menahan kotoran dan kuman.
2) Fase proferasi atau fase fibriflasi. berlangsung dari hari ke 6-3 minggu.
Tersifat oleh proses preforasi dan pembentukan fibrosa yang berasal dari
sel-sel masenkim. Serat-serat baru dibentuk, diatur, mengkerut yang tidak
perlu dihancurkan dengan demikian luka mengkerut/mengecil. Pada fase
ini luka diisi oleh sel radang, fibrolas, serat-serat kolagen, kapiler-kapiler
baru: membentuk jaringan kemerahan dengan permukaan tidak rata,
disebut jaringan granulasi. Epitel sel basal ditepi luka lepas dari dasarnya
dan pindah menututpi dasar luka. Proses migrasi epitel hanya berjalan
kepermukaan yang rata dan lebih rendah, tak dapat naik, pembentukan
jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan tertutup epitel dan
mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka.

3) Fase remodeling fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan. Dikatakan


berakhir bila tanda-tanda radang sudah hilang. Parut dan sekitarnya
berwarna pucat, tipis, lemas, tidak ada rasa sakit maupun gatal

Etiologi vulnus

Mekanik : benda tajam,


benda tumpul,
tembakan/ledakan, gigitan
binatang

Non mekanik:
bahan kimia, suhu tinggi, radiasi

Kerusakan integritas
jaringan
Traumatic jaringan
Kerusakan pembuluh
Terputusnya kontinuitas

darah

jaringan
Pendarahan berlebih
Kerusakan syaraf perifer
Keluarnya cairan tubuh
Web of caution

Stimulasi neurotransmitter
(histamine, prostaglandin,
bradikinin, prostagladin)

Hipotensi, hipovolemi,
hipoksia, hiposemi
Resiko syok :hipovolomik

Nyeri akut

Pergerakan terbaras

Gangguan mobilitas

ansietas

Gangguan pola tidur

Kerusakan intergritas
kulit
Rusaknya barrier
pertahanan primer

Terpapar lingkungan

Resiko tinggi infeksi

7. KOMPLIKASI
Kerusakan arteri:
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar,
dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan

reduksi, dan pembedahan.


Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam

jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang

menekan otot, saraf, dan pembuluh darah


Infeksi
Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi
Kontraktur
Hipertropi jaringan parut

8. PENYEMBUHAN LUKA
a. Tipe Penyembuhan luka
Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana pembagian ini
dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang.
1)

Primary

Intention

Healing

(penyembuhan

luka

primer)

yaitu

penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi


luka biasanya dengan jahitan.
2)

Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu


luka

yang

tidak

mengalami

penyembuhan

primer.

Tipe

ini

dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan


dalam jumlah besar. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan
lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka.
3)

Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang


dibiarkan

terbuka

selama

beberapa

hari

setelah

tindakan

debridement. Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari).


Luka

ini

merupakan

tipe

penyembuhan

luka

yang

terakhir

(Mansjoer,2001).

b. Fase Penyembuhan Luka


Proses penyembuhan luka memiliki 3 fase yaitu fase inflamasi,
proliferasi dan maturasi. Antara satu fase dengan fase yang lain
merupakan suatu kesinambungan yang tidak dapat dipisahkan.
-

Fase Inflamasi
Tahap ini muncul segera setelah injuri dan dapat berlanjut sampai 5 hari.
Inflamasi berfungsi untuk mengontrol perdarahan, mencegah invasi

bakteri,

menghilangkan

debris

dari

jaringan

yang

luka

dan

mempersiapkan proses penyembuhan lanjutan.


-

Fase Proliferasi
Tahap ini berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 3 minggu. Fibroblast
(sel jaringan penyambung) memiliki peran yang besar dalam fase
proliferasi.

Fase Maturasi

Tahap ini berlangsung mulai pada hari ke 21 dan dapat berlangsung


sampai berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang.
Dalam fase ini terdapat remodeling luka yang merupakan hasil dari
peningkatan jaringan kolagen, pemecahan kolagen yang berlebih dan
regresi vaskularitas luka (Mansjoer,2001).
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan
dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang
terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya
terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka,
namun dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik
-

Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh


dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi,
oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi, dan penyakit
penyerta (hipertensi, DM, Arthereosclerosis).

Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang
dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi :
pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma
jaringan

d. Komplikasi Penyembuhan Luka


Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang
berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang
tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak
adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya
infeksi.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma,


nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan
juga infeksi luka
e. Penatalaksanaan/Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang
dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka,
penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan
pengangkatan jahitan.
1. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan
eksplorasi).

2. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk membersihkan kulit. Untuk


melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan
atau larutan antiseptik seperti:
Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2
menit).

Halogen dan senyawanya


a) Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat, berspektrum
luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3
jam

b) Povidon

Yodium

(Betadine,

septadine

dan

isodine),

merupakan kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone yang


tidak merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan
stabil karena tidak menguap.

c) Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya


untuk antiseptik borok.

d) Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa


biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna,
mudah larut dalam air, tidak merangsang kulit dam mukosa,
dan baunya tidak menusuk hidung.
Oksidansia
-

Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan funngisida agak


lemah berdasarkan sifat oksidator.

Perhidrol

(Peroksida

air,

H2O2),

berkhasiat

untuk

mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh kuman


anaerob

Logam berat dan garamnya


-

Merkuri

klorida

(sublimat),

berkhasiat

menghambat

pertumbuhan bakteri dan jamur.


-

Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. Sifatnya


bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya luka dengan
cara merangsang timbulnya kerak (korts)

Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).


Derivat fenol
Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik
wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar.
Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci tangan.
Basa ammonium kuartener, disebut juga etakridin (rivanol),
merupakan turunan aridin dan berupa serbuk berwarna kuning
dam konsentrasi 0,1%. Kegunaannya sebagai antiseptik borok
bernanah, kompres dan irigasi luka terinfeksi (Mansjoer, 2001).
Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu
diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian
luka.

Penggunaan

cairan

pencuci

yang

tidak

tepat

akan

menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu


rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Pemelihan cairan dalam
pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka.
Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan
pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal
Saline. Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini
merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak
mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium
klorida 9,0 g dengan osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion
Na+ 154 mEq/l dan Cl- 154 mEq/l (ISO Indonesia,2000).
3. Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan,
memperbaiki

dan

mempercepat

proses

penyembuhan

luka;

menghindari terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan


debris.

Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka


yaitu :
i. Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk
membuang jaringan mati dan benda asing.
ii. Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan
mati.
iii. Berikan antiseptik
iv. Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan
pemberian anastesi lokal
v. Bila perlu lakukan penutupan luka
4. Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta
berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang
terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan
sembuh per sekundam atau per tertiam.
5. Penutupan Luka
Adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada
luka sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.
6. Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat
tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai
pelindung terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang
baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek
penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang
menyebabkan hematom.
7. Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan
pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.

9. MASALAH KEPERAWATAN
Data
Etiologi
DS:
Benda tajam, tumpul, suhu
Kien mengatakan
tinggi, bahan kimia
nyeri

Perlukaan pada kulit


DO:

Masalah
Nyeri akut

Terdapat
pada

luka
bagian

tubuh
Grimace
Peningkatan
RR & HR

DS:
Klie n melaporkan
nyeri pada daerah
perlukaan
DO:
Kerusakan lapisan

Proses inflamasi

Pelepasan substansi kimia


(histamine, bradikinin)

Stimulasi ujung saraf

nyeri
Benda tajam, tumpul, suhu
tinggi, bahan kimia

Traumatic jaringan

Kerusakan integritas jaringan

Kerusakan
jaringan

dermis
Benda tajam, tumpul, suhu

DS:DO:
Tampak adanya
luka pada kulit

tinggi, bahan kimia

Traumatic jaringan

Kerusakan pembuluh darah

Perdarahan berlebih

Keluarnya cairan tubuh

Resiko syok : hypovolemik


Perlukaan pada jaringan kulit

Kerusakan epidermis, dermis

Fungsi kulit sebagain

Resiko syok

Resiko infeksi

pertahanan primer hilang

Terpapar lingkungan

Resiko infeksi
10.
a.
b.
c.
d.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut berhubungan
Kerusakan integritas jaringan
Resiko syok
Resiko infeksi

11.
TUJUAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1 nyeri akut
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi selama 1x24 jam nyeri terkontrol

integritas

KH: Melaporkan nyeri terkontrol/ berkurang, ekspresi wajah rileks, mampu


menggunakan tehnik relaksasi
Intervensi
Kaji tanda-tanda vital (TD,suhu,

Rasional
Nyeri cenderung membuat TD,

Nadi,RR)
Kaji keluhan nyeri termasuk lokasi,

suhu,nadi, dan RR meningkat


Pengkajian berkelanjutan membatu

karateristik,

durasi,

frekuensi,

dan meyakinkan bahwa penanganan dalam

identifikasi faktor yang memperberat memenuhi kebutuhan pasien dalam


dan menurunkan nyeri
mengurangi nyeri
Berikan tindakan kenyamanan dasar Menurunkan ketegangan otot
(mis pijatan pada erea yang tidak sakit)
Ajarkan tehnik relaksasi (mis nafas

Memfokuskan kembali perhatian,

dalam)

meningkatkan relaksasi, dan


meningkatkan rasa control yang dapat
menurunkan ketergantungan

Berikan obat analgesik sesuai indikasi.


Pantau

adanya

reaksi

yang

farmakologis
Membantu menurunkan intensitas

tidk nyeri. Untuk menentukan keefektifan

diinginkan terhadap obat

obat

Diagnos 2 : kerusakan integritas jaringan


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam kerusakan
integritas jaringan pasien teratasi

KH:

Perfusi jaringan normal

Tidak ada tanda-tanda infeksi

Ketebalan dan tekstur jaringan normal

Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan


mencegah terjadinya cidera berulang

Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

Intervensi
Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)

Rasional

setiap dua jam sekali


Monitor kulit akan adanya kemerahan

Memeriksa adanya kemungkinan

Monitor aktivitas dan mobilitas klien

infeksi berlanjut
Mobilitas yang terlalu berlebihan akan

menghambat penyembuhan luka


Menunjukkan perkembangan luka dan

Observasi luka : lokasi, dimensi,


kedalaman luka, karakteristik,warna
keefektifan terapi serta kemungkinan
cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
tanda-tanda infeksi lokal, formasi infeksi berlanjut
traktus
Periksa luka secara teratur, catat Pengenalan akan adanya proses
karateristiknya

kegagalan

penyembhan

luka/

Berikan penguatan pada balutan awal/

perkembangannya
Melindungi luka dari perlukaan mekanis

penggantian sesuai indikasi


Pastikan daerah luka kering dan bersih

dan kontaminasi
Merangsang proses penyembuhan luka

dan berikan rangsangan peningkatan secara alami


sirkulsi ke daerah sekitar luka
Tingkatkan hidrasi adekuat

Untuk mencegah kehilangan cariran via

Monitor status nutrisi pasien

transepidermal
Nutrisi juga menentukan tingkat masa
penyembuhan luka
Mempercepat tingkat

penyembuhan
kolaborasi : diet TKTP dan pemberian
vitamin
luka
Ajarkan pada keluarga tentang luka dan Memandirikan keluarga pasien dalam
perawatan luka
intervensi keperawatan pasien jika
nanti sudah pulang

Berikan posisi yang mengurangi tekanan Menghindari komplikasi lebih lanjut


pada luka
Diagnos 3 : resiko syok
Tujuan: dalam 2x60 menit resiko syok tidak terjadi
KH: suhu normal 36,5-37,5c, tidak terjadi hipotensi akut (TD normal),
perdarahan berhasil di atasi, pasien mulai tenang
Intervensi
Monitor keadaan umum pasien.

Rasional
Untuk memantau kondisi pasien
selama masa perawatan teruta-ma
saat terjadi perdarahan.
Dengan memonitor keadaan umum
pasien, perawat dapat segera mengetahui jika terjadi tanda-tanda pre
syok/syok sehingga dapat se-gera di
tangani.

Observasi tanda-tanda vital tiap

2-3

Tanda vital dalam batas normal

jam.

menandakan keadaan umum pasien


baik, perawat perlu terus mengobservasi tanda-tanda vital selama pasien
mengalami perdarahan un-tuk

Monitor tanda-tanda perdarahan

memastikan tidak terjadi pre syok/syok.


Perdarahan yang cepat diketahui dapat
segera diatasi, sehingga pasi-en tidak
sampai ke tahap syok hi-povolemik

akibat perdarahan he-bat.


Jelaskan pada pasien/keluarga tentang Dengan memberi penjelasan & metanda-tanda perdarahan yang mungkin
libatkan keluarga diharapkan tan-dadialami pasien
tanda perdarahan dapat diketa-hui
lebih cepat & pasien/ keluarga menjadi
Anjurkan pasien/keluarga untuk se-

kooperatif se-lama pasien di rawat.


Keterlibatan keluarga untuk segera

gera melapor jika ada tanda-tanda

melaporkan jika terjadi perdarahan

perdarahan.

terhadap pasien sangat membantu tim


perawatan untuk segera mela-kukan

Pasang infus, beri terapi cairan in-

tindakan yang tepat.


Pemberian cairan intravena sangat

travena jika terjadi perdarahan

diperlukan untuk mengatasi kehi-

(kolaborasi dengan dokter).

langan cairan tubuh yang hebat yai-tu


untuk mengatasi syok hipovo-lemik.
Pemberian infus dilakukan dengan

Cek Hb, Ht, trombosit (sito).

kolaborasi dokter.
Untuk mengetahui tingkat kebo-coran
pembuluh darah yang di alami pasien &
untuk acuan me-lakukan tindakan lebih

Perhatikan keluhan pasien seperti

lanjut terhadap perdarahan tersebut.


Untuk mengetahui seberapa jauh

mata berkunang-kunang, pusing,

pengaruh perdarahan tersebut pada

lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas.

pasien sehingga tim kesehatan le-bih

Berikan tranfusi sesuai dengan

waspada.
Untuk menggantikan volume darah

program dokter.
Monitor masukan & keluaran, catat &

serta komponen darah yang hilang.


Pengukuran & pencatatan sangat

ukur perdarahan yang terjadi, produksi

penting untuk mengetahui jumlah

urin.

perdarahan yang dialami pasien.

Untuk mengetahui keseimbangan


cairan tubuh. Produksi urin yang lebih
pekat & lebih sedikit dari normal
(sangat sedikit) menunjukkan pasien
kekurangan cairan & mengalami syok.
Hati-hati terha-dap perdarahan di
Berikan obat-obatan untuk me-ngatasi

dalam.
memandirikan keluarga pasien dalam

perdarahan sesuai dengan program

intervensi

dokter.
Berikan terapi oksigen sesuai dengan

nanti sudah pulang


Pemberian O2 akan membantu ok-

kebutuhan.

sigenasi jaringan, karena dengan

keperawatan

pasien

jika

terjadinya perdarahan hebat maka


suplai oksigen ke jaringan terganggu.
Segera lapor dokter jika tam-pak

Untuk mendapatkan penanganan lebih

tanda-tanda syok hipovolemik &

lanjut sesegera mungkin.

observasi ketat pasien serta perce-pat


tetesan infus sambil menunggu
program dokter selanjutnya
4. resiko infeksi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam, pasien tidak
mengalami infeksi dengan kriteria hasil:
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
Suhu dalam rentang 36,5-37,5 C
Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal
Keadaan luka bersih
Intervensi

Rasional

1. Monitor tanda dan gejala infeksi 1.


sistemik dan lokal
2. Kaji

suhu

neutropenia

badan
setiap

Untuk
menentukan intervensi yang akan

pada
4

pasien

jam
0

laporkan jika di atas 38,5 C


3. Pertahankan teknik aseptif

dan 2.

dilakukan
Mengeta
hui kenaikan suhu dan mencegah
keadaan penyakit yang lebih serius

4. Batasi pengunjung bila perlu

3.

5. Cuci tangan setiap sebelum dan


sesudah

tindakan

Memperk
ecil resiko komplikasi lebih lanjut

keperawatan, 4.

Pengunju

ajarkan dan anjurkan pasien untuk

ng yang keluar masuk mempertinggi

melakukan hal yang sama.

transmisi bakteri

6. Gunakan

baju,

sarung

tangan

Mencegah pemasukan bakteri dan

sebagai alat pelindung

infeksi/sepsis lebih lanjut

7. Ganti letak IV perifer dan dressing 5.


sesuai dengan petunjuk umum

ahankan prinsip steril

8. Gunakan kateter intermiten dan


teknik

steril

Mempert
Menghilangkan kontak dengan

pemasangannya

kuman penyakit, dan memandirikan

selama perawatan di RS

klien dalam perawatan diri

9. Kolaborasi terapi antibiotik

6.

10. Pantau dan laporkan tanda dan

Untuk
upaya meproteksi diri tenaga

gejala ISK (Infeksi Saluran Kemih),

kesehatan

lakukan tindakan untuk mencegah 7.


ISK.
11. Inspeksi
mukosa

Untuk
mengurangi resiko infeksi lebih

kulit

dan

terhadap

membran

lanjut

kemerahan, 8.

panas, drainase

untuk
menurunkan infeksi kandung

12. Monitor adanya luka

kencing, Mencegah pemasukan

13. Dorong istirahat

bakteri dan infeksi/sepsis lebih

14. Ajarkan pasien dan keluarga tanda

lanjut

dan gejala infeksi

9.

untuk
mengurangi infeksi yang terjadi

10.

ISK

adalah salah satu komplikasi BPH


yang perlu ditangani lebih lanjut
11.

Kemerah

an, panas, kondisi drainase adalah


indicator perkembangan kondisi
infeksi
12.

Bagi

pasien BPH, luka baik dari


pemasangan kateter, tirah baring,

pemasanagan IV perlu diperhatikan


untuk mengantisipasi komplikasi
infeksi lebih lanjut
13.

Istirahat

yang cukup akan mempercepat


penyembuhan
14.

Memandi

rikan klien dan keluarga dalam


perawatan diri klien
12.

REFERENSI

Doengoes, Marilynn E., Mary Frances Moorhouse., & Alice C. Murr. 2010.
Nursing Diagnosis Manual : Planning, Individualizing, and Documenting
Client Care. Philadelphia : F.A Davis Company
Mansjoer, Arif.,dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Media Aesculapius
NANDA. Nanda International Nursing Diagnosis : Definitions and Classification.
West Ssussex-United Kingdom : Wiley-Blackwell