Anda di halaman 1dari 20

Kecelakaan Kerja dan Manajemen Keselamatan Kerja

Nadia Cecilia Stefannie


102012513
E1
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
nadia.cecilia@ymail.com

Pendahuluan
Suatu kecelakaan bukanlah suatu peristiwa tunggal, kecelakaan merupakan hasil dari
serangkaian penyebab yang berkaitan. Menurut Heinrich kecelakaan kerja dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti sebuah efek domino yang mengawali
kecelakaan dan menimbulkan cedera atau kerusakan. Jika satu domino jatuh maka domino ini
akan menimpa domino-domino lainnya hingga domino yang terakhir pun jatuh. Jika salah satu
dari domino dihilangkan misalnya kita melakukan tindakan keselamatan kerja yang benar, maka
tidak akan ada kecelakaan.1-3
Apabila terjadi kecelakan maka harus dicari penyebab dan faktor-faktor yang mendorong
terjadinya kecelakaan tersebut sehingga di kemudian hari hal tersebut tidak terulang lagi serta
pegawai yang mengalami kecelakaan pun mendapat ganti rugi atas apa yang dialami. Banyak
1

teori yang mengungkapkan mengenai factor penyebab kecelakaan kerja. Salah satu teorinya yaitu
two factor theory dimana kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh unsafe condition dan unsafe
action. Faktor-faktor terjadinya kecelakaan dapat dibagi antara lain faktor individu atau manusia,
faktor peralatan saat bekerja, faktor instalasi, dan faktor proses kerja itu sendiri. Dengan adanya
interaksi faktor-faktor itu, maka sebuah kecelakaan kerja dapat terjadi, sehingga untuk mencegah
terjadinya sebuah kecelakaan maka harus dicegah dengan melakukan perubahan pada faktorfaktor tersebut, sehingga kerugian bagi pekerja maupun kerugian bagi perusahaan dapat
dihindari.1-3
Pembahasan
Definisi Kecelakaan Kerja
Pengertian kecelakaan kerja berdasarkan Frank Bird Jr adalah kejadian yang tidak
diinginkan yang terjadi dan menyebabkan kerugian pada manusia dan harta benda. Ada tiga jenis
tingkat kecelakaan berdasarkan efek yang ditimbulkan :
1. Accident

: adalah kejadian yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian baik

bagi manusia maupun terhadap harta benda


2. Incident
: adalah kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan
kerugian.
3. Near miss

: adalah kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir

menimbulkan kejadian incident maupun accident.


Sedangkan berdasarkan sumber UU No 1 tahun 1970 kecelakaan kerja adalah suatu kejadian
yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur
dari suatu aktifitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia atau harta benda.
Menurut UU No. 3 tahun 1992 tentang jaminan social tenaga kerja, kecelakaan kerja adalah
kecelakaan terjadi dalam pekerjaan sejak berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja dan
pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Berdasarkan undang-undang mengenai keselamatan dan kecelakaan kerja dapat terlihat
ada 3 aspek utama dari kecelakaan :

Keadaan apapun yang membahayakan pada tempat kerja maupun di lingkungan kerja.
Hazard ini untuk manusia menimbulkan cedera (injury) dan sakit (illness)
2

Cedera dan sakit adalah hasil dari kecelakaan akan tetapi kecelakaan tidak terbatas pada

cedera dan sakit saja.


Jika dalam suatu kejadian menyebabkan kerusakan atau kerugian (loss) tetapi tidak ada
cedera pada manusia, hal ini termasuk juga kecelakaan. Kecelakaan dapat menyebabkan
hazard pada orang, kerusakan pada peralatan atau barang dan terhentinya proses
pekerjaan.1

Faktor faktor Penyebab Kecelakaan Kerja


Terdapat berbagai macam teori yang menjelaskan mengenai factor penyebab kecelakaan
kerja, beberapa contoh teori tersebut adalah :
Tabel 1. Teori Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja2
1.

Teori

Faktor

Manusia Menekankan bahwa pada akhirnya semua kecelakaan kerja baik

(Human Factor Theory)

langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kesalahan


manusia.

2.

Teori

Kebetulan

Murni Kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan sehingga tidak ada pola

(Pure Chance Theory)

yang jelas dalam rangkaian peristiwanya, karena itu kecelakaan


kerja terjadi secara kebetulan saja.

3.

Teori

Kecenderungan Pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan karena

Celaka (Accident Phone sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami
Theory)
4.

kecelakaan.

Teori Tiga Faktor Utama Penyebab kecelakaan adalah faktor peralatan, lingkungan dan
(Three

Main

Factors manusia pekerja itu sendiri.

Theory)
5.

Teori Dua Faktor Utama Kecelakaan


(Two

Main

Theory)

disebabkan

oleh

kondisi

berbahaya

(unsafe

Factors condition) dan tindakan atau perbuatan berbahaya (unsafe


action).

Penyebab Kecelakaan Kerja


Efek Domino Kecelakaan Kerja (H.W. Heinrich)
3

Menurut teori domino effect kecelakaan kerja H.W Heinrich, kecelakaan terjadi melalui
hubungan mata-rantai sebab-akibat dari beberapa faktor penyebab kecelakaan kerja yang saling
berhubungan sehingga menimbulkan kecelakaan kerja (cedera ataupun penyakit akibat kerja /
PAK) serta beberapa kerugian lainnya.
Terdapat faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja antara lain : penyebab langsung
kecelakaan kerja, penyebab tidak langsung kecelakaan kerja dan penyebab dasar kecelakaan
kerja.
Termasuk dalam faktor penyebab langsung kecelakaan kerja ialah kondisi tidak
aman/berbahaya (unsafe condition) dan tindakan tidak aman/berbahaya (unsafe action).

Kondisi tidak aman (unsafe condition), beberapa contohnya antara lain : tidak
dipasang (terpasangnya) pengaman (safeguard) pada bagian mesin yang berputar,
tajam ataupun panas, terdapat instalasi kabel listrik yang kurang standar (isolasi
terkelupas, tidak rapi), alat kerja/mesin/kendaraan yang kurang layak pakai, tidak

terdapat label pada kemasan bahan (material) berbahaya.


Termasuk dalam tindakan tidak aman (unsafe action) antara lain : kecerobohan,
meninggalkan prosedur kerja, tidak menggunakan alat pelindung diri (APD),
bekerja tanpa perintah, mengabaikan instruksi kerja, tidak mematuhi ramburambu di tempat kerja, tidak melaporkan adanya kerusakan alat/mesin ataupun
APD, tidak mengurus izin kerja berbahaya

sebelum memulai pekerjaan

dengan resiko/bahaya tinggi.


Termasuk dalam faktor penyebab tidak langsung kecelakaan kerja ialah faktor pekerjaan
dan faktor pribadi. Termasuk dalam faktor pekerjaan antara lain : pekerjaan tidak sesuai dengan
tenaga kerja, pekerjaan tidak sesuai sesuai dengan kondisi sebenarnya, pekerjaan beresiko tinggi
namun belum ada upaya pengendalian di dalamnya, beban kerja yang tidak sesuai. Termasuk
dalam faktor pribadi antara lain : mental/kepribadian tenaga kerja tidak sesuai dengan pekerjaan,
konflik, stress, keahlian yang tidak sesuai.
Termasuk dalam faktor penyebab dasar kecelakaan kerja ialah lemahnya manajemen dan
pengendaliannya, kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya sumber daya, kurangnya
komitmen, dsb.
4

Menurut teori efek domino H.W Heinrich juga bahwa kontribusi terbesar penyebab kasus
kecelakaan kerja adalah berasal dari faktor kelalaian manusia yaitu sebesar 88%. Sedangkan
10% lainnya adalah dari faktor ketidaklayakan properti/aset/barang dan 2% faktor lain-lain.
Gambar di bawah ialah ilustrasi dari teori domino effect kecelakaan kerja H.W. Heinrich.3

Gambar 1. Teori Kecelakaan Kerja menurut Heinrich3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja


Menurut Sumamur (1989) menyatakan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi dapat disebabkan
oleh dua faktor, yaitu :

1.

Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja/pengalaman,

kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan), disiplin kerja, perbuatan-perbuatan


yang mendatangkan kecelakaan, ketidak cocokan fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan yang
disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak
5

mengindahkan instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar.
Kekurangan kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai
pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan dan penyakit.

2.

Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan alat pelindung, alat

pelindung tidak pakai, alat-alat kerja yang telah rusak. Lingkungan kerja berpengaruh besar
terhadap moral pekerja. Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan
kerja terdiri dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak pada
rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai
yang kotor dan licin. Ventilasi yang tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat debu,
keadaan lembab yang tinggi sehingga orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak
sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.

1)

Faktor Pekerjaan

a.

Jam Kerja

Dimaksud jam kerja adalah jam waktu bekerja termasuk waktu istirahat dan lamanya bekerja
sehingga dengan adanya waktu istirahat ini dapat mengurangi kecelakaan kerja.
b.

Pergeseran Waktu

Pergeseran waktu dari pagi, siang dan malam dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan
kecelakaan akibat kerja.
2)

Faktor Manusia (Human Factor)

a.

Umur Pekerja

Penelitian dalam test refleks memberikan kesimpulan bahwa umur mempunyai pengaruh penting
dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja. Ternyata golongan umur muda mempunyai
kecenderungan untuk mendapatkan kecelakaan lebih rendah dibandingkan usia tua, karena
mempunyai kecepatan reaksi lebih tinggi. Akan tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu sering
merupakan golongan pekerja dengan kasus kecelakaan kerja tinggi, mungkin hal ini disebabkan
oleh karena kecerobohan atau kelalaian mereka terhadap pekerjaan yang dihadapinya.
b.

Pengalaman Bekerja

Pengalaman bekerja sangat ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja. Semakin lama dia
6

bekerja maka semakin banyak pengalaman dalam bekerja. Pengalama kerja juga mempengaruhi
terjadinya kecelakaan kerja. Pengalaman kerja yang sedikit terutama di perusahaan yang
mempunyai.
c.

Tingkat Pendidikan dan Keterampilan

Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berpikir dalam menghadapi pekerjaan, demikian juga
dalam menerima latihan kerja baik praktek maupun teori termasuk diantaranya cara pencegahan
ataupun cara menghindari terjadinya kecelakaan kerja.
d.

Lama Bekerja

Lama bekerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini didasarkanpada lamanya
seseorang bekerja akan mempengaruhi pengalaman kerjanya.
e.

Kelelahan

Faktor kelelahan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja atau turunnya produktifitas kerja.
Kelelahan adalah fenomena kompleks fisiologis maupun psikologis dimana ditandai dengan
adanya gejala perasaan lelah dan perubahan fisiologis dalam tubuh. Kelelahan kan berakibat
menurunnya kemampuan kerja dan kemampuan tubuh para pekerja.4
Fishbone Diagram
Fishbone diagram atau diagram tulang ikan sering juga disebut Cause-and-Effect
Diagram atau Ishikawa Diagram diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli
pengendalian kualitas dari Jepang, sebagai satu dari tujuh alat kualitas dasar (7 basic quality
tools). Fishbone diagram digunakan ketika kita ingin mengidentifikasi kemungkinan penyebab
masalah dan terutama ketika sebuah team cenderung jatuh berpikir pada rutinitas.
Suatu tindakan dan langkah improvement akan lebih mudah dilakukan jika masalah dan
akar penyebab masalah sudah ditemukan. Manfaat fishbone diagram ini dapat menolong kita
untuk menemukan akar penyebab masalah secara user friendly, tools yang user friendly disukai
orang-orang di industri manufaktur di mana proses di sana terkenal memiliki banyak ragam
variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan.
Fishbone diagram akan mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek atau
masalah, dan menganalisis masalah tersebut melalui sesi brainstorming. Masalah akan dipecah
menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup manusia, material, mesin, prosedur,
7

kebijakan, dan sebagainya. Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui
sesi brainstorming.
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan prosedur atau langkah-langkah pembuatan fishbone
diagram di bawah ini.
Langkah-Langkah Pembuatan Fishbone Diagram
Pembuatan fishbone diagram kemungkinan akan menghabiskan waktu sekitar 30-60
menit dengan peserta terdiri dari orang-orang yang kira-kira mengerti/paham tentang masalah
yang terjadi, dan tunjuklah satu orang pencatat untuk mengisi fishbone diagram. Alat-alat yang
perlu disiapkan adalah: flipchart atau whiteboard dan marking pens atau spidol.
Langkah 1: Menyepakati pernyataan masalah

Sepakati sebuah pernyataan masalah (problem statement). Pernyataan masalah ini


diinterpretasikan sebagai effect (cidera), atau secara visual dalam fishbone seperti
kepala ikan.

Tuliskan masalah tersebut di tengah whiteboard di sebelah paling kanan, misal: Bahaya
Potensial Pembersihan Kabut Oli.

Gambarkan sebuah kotak mengelilingi tulisan pernyataan masalah tersebut dan buat
panah horizontal panjang menuju ke arah kotak (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Pembuatan Fishbone Diagram5

Langkah 2: Mengidentifikasi kategori-kategori

Dari garis horisontal utama, buat garis diagonal yang menjadi cabang. Setiap cabang
mewakili sebab utama dari masalah yang ditulis. Sebab ini diinterpretasikan sebagai
cause, atau secara visual dalam fishbone seperti tulang ikan.

Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk akal
dengan situasi. Kategori-kategori ini antara lain:
o Kategori 6M yang biasa digunakan dalam industri manufaktur:

Machine (mesin atau teknologi),

Method (metode atau proses),

Material (termasuk raw material, consumption, dan informasi),

Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) / Mind Power (pekerjaan
pikiran: kaizen, saran, dan sebagainya),

Measurement (pengukuran atau inspeksi), dan

Milieu / Mother Nature (lingkungan).

Kategori di atas hanya sebagai saran, kita bisa menggunakan kategori lain yang dapat
membantu mengatur gagasan-gagasan. Jumlah kategori biasanya sekitar 4 sampai dengan
6 kategori. Kategori pada contoh ini lihat Gambar 3.

Gambar 3. Pembuatan Fishbone Diagram5


Langkah 3: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara brainstorming

Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming.

Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama di mana sebab tersebut harus


ditempatkan dalam fishbone diagram, yaitu tentukan di bawah kategori yang mana
gagasan tersebut harus ditempatkan, misal: Mengapa bahaya potensial? Penyebab:
Karyawan tidak mengikuti prosedur Karena penyebabnya karyawan (manusia), maka
diletakkan di bawah Man.

Sebab-sebab ditulis dengan garis horisontal sehingga banyak tulang kecil keluar dari
garis diagonal.

Pertanyakan kembali Mengapa sebab itu muncul? sehingga tulang lebih kecil (subsebab) keluar dari garis horisontal tadi, misal: Mengapa karyawan disebut tidak
mengikuti prosedur? Jawab: karena tidak memakai APD (lihat Gambar 4).

Satu sebab bisa ditulis di beberapa tempat jika sebab tersebut berhubungan dengan
beberapa kategori.

10

Gambar 4. Pembuatan Fishbone Diagram5


Langkah 4: Mengkaji dan menyepakati sebab-sebab yang paling mungkin

Setelah setiap kategori diisi carilah sebab yang paling mungkin di antara semua sebabsebab dan sub-subnya.

Jika ada sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu kategori, kemungkinan
merupakan petunjuk sebab yang paling mungkin.

Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang tampaknya paling
memungkinkan) dan tanyakan , Mengapa ini sebabnya?

Pertanyaan Mengapa? akan membantu kita sampai pada sebab pokok dari
permasalahan teridentifikasi.

Tanyakan Mengapa ? sampai saat pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. Kalau sudah
sampai ke situ sebab pokok telah terindentifikasi.

Lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada fishbone diagram (lihat
Gambar 5).

11

Gambar 5. Pembuatan Fishbone Diagram5


Diskusi selama sesi brainstorming hendaknya dirangkum, seperti terlihat pada Tabel 1 di bawah
ini.
Tabel 2. Rangkuman diskusi pada sesi brainstorming fishbone diagram5
Possible Root Cause

Discussion

Root
Cause?

MAN
Kemampuan karyawan melakukan Cedera personil teridentifikasi saat briefing
tugas (cedera lama, fisik)

K3*. Pelaksanaan tugas tidak tergantung pada N


fisik.

Tidak tahu prosedur K3

Awareness training di OJT sudah disediakan

Tidak mengikuti prosedur K3

Karyawan baru di-briefing K3 dan sistem


penalti

Tidak menghadiri training K3

Pelatihan K3 diberikan dalam orientasi dan


OJT

N
N

MACHINE / TOOLS

12

Tinggi tempat kerja rendah

Bukan akar masalah jika metode dapat diubah

Part sudah usang

Tidak ada part usang menyebabkan insiden

Tidak ada tanda bahaya

Tanda bahaya sudah ada

Prosedur tidak diperbaharui

Review prosedur rutin setahun sekali

Tidak ada prosedur K3

Prosedur meliputi prosedur K3 untuk semua

METHOD

kegiatan
Prosedur K3 salah

Prosedur sudah ditinjau oleh supervisor,


manajer, dept. head

Prosedur K3 membingungkan

Prosedur sudah ditinjau oleh supervisor,


manajer, dept. head

Prosedur terlalu manual

Bag dipegang operator, perlu memastikan


tidak ada kebocoran oli, dll.

Tidak ada komunikasi K3

Disertakan dalam OJT

Verifikasi dengan vendor sebelum membeli

MATERIAL
APD** yang salah

Material yang tidak bisa diandalkan Bag plastik rentan robek bila menyentuh objek
bahan (bag kimia)
Kualitas

rendah

tajam
(pipa, Verifikasi dengan vendor sebelum membeli

APD, bagkimia)
Material yang digunakan salah (pipa, Verifikasi dengan vendor sebelum membeli
APD, bag kimia)
Tidak ada APD yang disediakan

APD sudah disediakan untuk semua aktivitas N


13

berbahaya
*)

K3

Kesehatan

dan

Keselamatan

Kerja

**) APD = Alat Pelindung Diri


Dari contoh di atas, fishbone diagram dapat menemukan akar permasalahan, yaitu kabut
oli selama ini dibersihkan dengan ditampung di bag plastik yang rentan robek dan selama tidak
ada bag plastik ada kemungkinan oli menetes jika kran rusak, solusi bisa dengan
menambahkan containment tray atau safety cabinet yang permanen menempel pada pipa.
Jika masalah rumit dan waktunya memungkinkan, kita bisa meninggalkan fishbone
diagram di dinding selama beberapa hari untuk membiarkan ide menetas dan membiarkan orang
yang lalu lalang turut berkontribusi. Jika fishbone diagram terlihat timpang atau sempit, kita
bisa mengatur ulang fishbone diagram dengan kategori sebab utama yang berbeda. Kunci
sukses fishbone diagram adalah terus bertanya Mengapa?, lihatlah diagram dan carilah pola
tanpa banyak bicara, dan libatkan orang-orang yang terkait dengan masalah karena biasanya
mereka lebih mengerti permasalahan di lapangan.5
Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3)
Sistem keamanan dan keselamatan kerja terhadap keseluruhan personil baik Pengawas,
Pelaksana dan juga pekerja terutama yang ada di dalam lingkungan pekerjaan menjadi hal yang
sangat penting dan perlu mendapat perhatian.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan antara lain mengadakan sosialisasi K3,
memasang rambu-rambu peringatan agar bekerja hati-hati dan pemakaian alat-alat pengamanan
untuk keselamatan kerja dan perlindungan terhadap pekerjaan itu sendiri. Untuk melayani
apabila terjadi kecelakaan kecil disediakan kotak/almari P3K mengadakan kerja-sama dengan
Puskesmas terdekat. Apabila Puskesmas tidak mampu akan dirujuk ke Rumah Sakit terdekat.
Seluruh tenaga kerja yang bekerja pada proyek ini akan diikut sertakan dalam program Astek
ataupun Jamsostek.
Secara umum dapat diartikan tujuan penerapan K3 di proyek adalah agar tidak terjadi
kecelakaan kerja (zero accident)
14

Pencegahan dan Penanggulangan Kecelakaan :

Pemasangan poster/himbauan tentang K3


Penggunaan alat keselamatan kerja yang memadai (helm, sarung tangan, sepatu, dll)
Pemberian rambu-rambu petunjuk dan larangan.
Pemasangan pagar pengaman di antara lantai dan tangga
Briefing setiap pagi kepada Mandor dan Sub yang terlibat.
Menjaga kondisi jalan kerja agar tetap layak pakai
Penempatan material/bahan yang sensitive/berbahaya dengan benar
Menjaga kondisi jalan kerja agar tetap layak pakai
Perlu mendapat perhatian terhadap alat yang menimbulkan suara bising, asap dan

residu lainnya.
Penyediaaan alat pemadam kebakaran
Penempatan Satpam
Kerjasama dengan klinik atau rumah sakit terdekat.

Pemeliharaan Kesehatan :

Penyediaan air bersih


Pembuatan sarana MCK yang memadai
Penyediaan tempat sampah dan pembuangan keluar lokasi kerja
Kerjasama dengan klinik atau rumah sakit terdekat

Pelatihan K3
Pada umumnya program pelatihan K3 mencakup :

Kebijakan K3 Perusahaan
Cara bagaimana K3 dapat diorganisir di tempat kerja
Prosedur K3 dalam Perusahaan
Pengendalian bahaya dan resiko
Undang-undang K3
Prosedur keadaan darurat

Program pelatihan K3 perlu mencakup beberapa kelompok sasaran, diantaranya :

Manajemen senior
Manajer/supervisor
Karyawan
Orang yang mempunyai tanggung jawab penuh
Operator
Pengunjung lokal/tamu

Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi :


15

Pemasangan bendera K3, bendera perusahaan dan bendera Negara Republik Indonesia.
Pemasangan sign board K3 berupa slogan-slogan yang mengingatkan akan perlunya
bekerja dengan selamat, gambar-gambar atau pamflet tentang bahaya / kecelakaan
yang mungkin terjadi di lokasi pekerjaan. Slogan maupun pamflet dapat dipasang di
kantor proyek dan lokasi pekerjaan berlangsung.

Kegiatan K3, meliputi :


Kelengkapan administrasi

Pendaftaran proyek ke Disnaker setempat


Pihak pelaksana proyek wajib melapor dan mendaftar ke Disnaker setempat, karena
Disnaker adalah instansi pemerintah yang berwenang dan bertanggung jawab
menangani K3
Pendaftaran dan pembayaran ASTEK
Sesuai dengan ketentuan Negara, perusahaan/proyek yang mempekerjakan tenaga

kerja lebih dari 10 orang, wajib melindungi pekerja melalui Asuransi Tenaga Kerja.
Pendaftaran dan pembayaran asuransi lainnya
Izin dari pihak yang terkait tentang penggunaan jalan dan jembatan

Pengawasan Pelaksanaan K3 meliputi :

Safety Patrol : Suatu team yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan patroli

selama lebih kurang 2 jam (tergantung lingkup proyek). Dalam patroli masing-masing anggota
safety patrol mencatat hal-hal yang tidak sesuai ketentuan/yang mempunyai resiko kecelakaan.
Ketentuan/tolok ukurnya adalah : Safety Plan, Panduan pelaksanaan K3 dan hal-hal yang secara
teknis mengandung resiko.

Safety Supervisor : Petugas yang ditunjuk oleh Manager Proyek yang secara terus menerus

mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan dilihat dari segi K3 : Safety


Supervisor berwenang menegur dan memberikan instruksi langsung terhadap para pelaksana di
lapangan.

Safety Meeting : Rapat membahas hasil/laporan dari safety patrol maupun hasil/laporan

dari safety supervisor. Yang paling utama dalam safety meeting adalah perbaikan atas
pelaksanaan kerja yang tidak sesuai K3 dan perbaikan system kerja untuk mencegah
penyimpangan tidak terulang kembali.
16

Pelaporan dan Penanganan Kecelakaan : Pelaporan dan Penanganan kecelakaan terdiri

dari kecelakaan ringan, kecelakaan berat, kecelakaan dengan korban meninggal dan kecelakaan
peralatan berat.6
Perlengkapan Diri (APD)

Helmet: Alluminium, Standard (CIC)


Sepatu lapangan : kulit, karet
Jas hujan
Masker las
Kaca mata las
Sabuk pengaman
Tali pengaman
Masker hidung
Penutup telinga
Sarung tangan
Handy Talky
Senter
Tas Pinggang
Kartu pengenal.

Perlengkapan K3

Tandu Orang
Alat pemadam kebakaran
Rambu-rambu petunjuk
Spanduk K3
MCK
Pompa air
Mushola
Bedeng pekerja
Ruang Klinik
P3K
Papan pengumuman.

Manajemen Pelaksanaan K3L dalam Pelaksanaan di Proyek


Perusahaan Jasa Konstruksi dalam melaksanakan pekerjaannya banyak menyerap tenaga
kerja, baik yang mempunyai kemampuan dan keahlian cukup maupun yang terbatas. Kegiatan
jasa konstruksi melibatkan banyak tenaga kerja, peralatan konstruksi, mesin-mesin, bahan
bangunan dan menerapkan berbagai macam teknologi. Dalam melaksanakan pekerjaan
konstruksi sering terjadi berbagai macam masalah seperti robohnya perancah, tenaga kerja jatuh
17

dari ketinggian, terkena aliran listrik dan kecelakaan kerja lainnya. Untuk itu disusun Standart
K3L bagi sector jasa konstruksi yang ditujukan agar ditempat kerja tidak terjadi kerugian,
gangguan ataupun kecelakaan, menjaga keselamatan, kesehatan, sehingga pekerja dapat
melakukan pekerjaan merasa aman terhadap bahaya.
Syarat-syarat Manajemen K3L yang akan diterapkan di proyek antara lain sebagai berikut :

Memberi pengarahan langsung kepada tenaga kerja setiap melaksanakan kegiatan guna

mencegah dan mengurangi kecelakaan.


Memberi pertolongan pertama pada kecelakaan
Membekali peralatan keamanan pada para pekerja pada saat melaksanakan pekerjaan
Mencegah dan mengurangi timbulnya penyakit dengan menjaga kebersihan setiap

pekerja.
Memberikan fasilitas yang mencukupi dalam melaksanakan pekerjaan seperti lampu

penerangan, ataupun peralatan lain yang dibutuhkan.


Memelihara kesehatan dengan mengadakan pemeriksaan berkala dari ahli dalam

bidang kesehatan.
Memperoleh keserasian antara kondisi lingkungan setempat dengan keberadaan tenaga

kerja, peralatan kerja dan proses dan metode kerja.


Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada para pekerja yang sedang

bekerja.
Menyediakan fasilitas MCK yang mencukupi bagi pekerja.
Menyediakan obat-obatan di proyek.

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP)


Definisi Standard Operating Procedure
1.

Ada banyak definisi mengenai Standard Operating Procedure (SOP) adalah suatu
panduan yang menjelaskan secara terperinci bagaimana suatu proses harus

2.

dilaksanakan.
Standard Operating

Procedure (SOP)

adalah

serangkaian

instruksi

yang

mengambarkan pendokumentasian dari kegiatan yang dilakukan secara berulang pada


3.

sebuah organisasi.
Standard Operating Procedure (SOP) adalah sebuah panduan yang dikemukakan
secara jelas tentang apa yang diharapkan dan diisyaratkan dari semua karyawan dalam
menjalankan kegiatan sehari-hari.
18

4.

Standard Operating Procedure (SOP) adalah serangkaian instruksi yang digunakan


untuk memecahkan suatu masalah.

Fungsi dan Tujuan Standard Operating Procedure


Fungsi Dan Tujuan Standard Operating Procedure (SOP) adalah untuk mendefinisikan
semua konsep dan teknik yang penting serta persyaratan dibutuhkan, yang ada dalam setiap
kegiatan yang dituangkan ke dalam suatu bentuk yang langsung dapat digunakan oleh karyawan
dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari.
SOP yang dibuat harus menyertakan langkah kegiatan yang harus dijalankan oleh semua
karyawan dengan cara yang sama. Oleh sebab itu, SOP dibuat dengan tujuan memberikan
kemudahan dan menyamakan presepsi semua orang yang berkepentingan sehingga dapat lebih
dipahami dan dimengerti.
Manfaat Standard Operating Procedure
Standard Operating Procedure (SOP) dibuat dengan maksud dan tujun tertentu, sehingga
memberikan manfaat bagi pihak yang bersangkutan.
Berikut beberapa manfaat dari SOP :

Menjelaskan secara detail semua kegiatan dari proses yang dijalankan.


Standarisasi semua aktifitas yang dilakukan pihak yang bersangkutan.
Membantu untuk menyederhanakan semua syarat yang diperlukan dalam proses

pengambilan keputusan.
Dapat mengurangi waktu pelatihan karena kerangka kerja sudah distandarkan.
Membantu menganalisa proses yang berlangsung dan memberikan feedback bagi

pengembangan SOP.
Dapat meningkatkan konsistensi pekerjaan karena sudah ada arah yang jelas.
Dapat meningkatkan komunikasi antar pihak-pihak yang terkait, terutama pekerja
dengan pihak manajemen.6-7

Kesimpulan
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi dan menyebabkan
kerugian pada manusia dan harta benda. Kecelakaan kerja dapat di identifikasi dari penyebabnya
melalui beberapa teori factor penyebab kecelakaan kerja contohnya teori Heinrich yang
19

menyatakan kecelakaan kerja disebabkan karena 2 hal yaitu unsafe condition dan unsafe action.
Analisis dari kecelakaan kerja dapat dipakai metode Fishbone diagram dengan dibantu oleh
orang-orang professional di bidangnya. Pencegahannya dengan bantuan K3 serta manajemen
dari K3, selain itu dengan mengetahui dan mematuhi SOP yang ada.
Daftar Pustaka
1. Ridley J. Kesehatan dan keselamatan kerja ikhtisiar. Edisi 3. Jakarta: Erlangga;2004.h.6222;139-44.
2. Lestari T. Hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan produktifitas kerja
karyawan. Bogor: Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut
Pertanian Bogor;2007.
3. Gafhar H. Pengaruh stres kerja terhadap kinerja karyawan. Makasar: Fakultas Ekonomi Bisnis
Universitas Hasanudin; 2012.

4. Sumamur PK. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Edisi 9. Jakarta: Gunung
Agung;1996.h.11-2;44-50;287-91.
5. Hutadjulu Irwanto. Fishbone diagram dan langkah-langkah pembuatannya. 24 Desember
2011.

Diunduh

dari

http://www.academia.edu/7751112/Fishbone_Diagram_dan_LangkahLangkah_Pembuatannya, 13 Oktober 2015.


6.

7.

Ladou J. Current occupational dan environmental medicine. United States of America: The
McGraw-Hill;2007.p.3-19;579-612.
Sedarmayati. Sumber daya manusia dan produktifitas kerja. Bandung: Mandar Maju; 2011.

20