Anda di halaman 1dari 32

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw

ertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwert
yuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopa
sdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
TUMOR MAMMAE
RSUD ARJAWINANGUN CIREBON
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj
7/2/2010

klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklz
Dr. Mardian

xcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv
bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer
tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyu
iopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop
asdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd
fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh
jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklz
xcvbnmrtyuiopasdfghjklzxcvbn
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 EMBRIOLOGI

Pada minggu ke lima atau ke enam dari perkembangan fetus, dua


kelompok lapisan ektoderm bagian ventral mulai terbentuk pada embrio
sepanjang garis mamme. Umumnya pada pada mamalia, sepasang payudara
akan berkembang sepanjang garis mammae tersebut, yang berjalan dari
pangkal ekstremitas atas (aksilaris anterior) ke regio ekstremitas bawah
(area inguinal). Namun, garis ini tidak menetap pada manusia, dan
menghilang dalam beberapa waktu, kecuali yang berada di daerah
pektoralis yang akan bertahan yang akan berkembang menjadi payudara.
Jika regresi atau hilangnya dari proses tersebut terganggu, maka akan
terbentuk panyudara tambahan (polimastia) atau puting susu tambahan
(politelia) seperti pada gambar I.01.

Gambar I.01. Gambar garis mamme


Masing – masing payudara akan berkembang ketika pertumbuhan
ektoderm membentuk suatu cikal bakal jaringan primer pada mesenkim.
Cikal bakal jaringan primer kemudian menginisiasi dari perkembangan 15
sampai 20 cikal bakal jaringan sekunder. Lapisan epitel berkembang dari
cikal bakal jaringan sekunder dan meluas sepanjang mesenkim.
Perkembangan duktus mayor (duktus laktiferus) melalui pembentukan celah
yang dagkal yang masuk ke dalam mamme.
Selama masa kehamilan, proliferasi dari mesenkim yang berupa
lubang kecil berubah menjadi sebuah puting susu melalui elevasi dari
lubang tersebut, lebih tinggi dari permukaan kulit. Jika terjadi kegagalan
dalam proses tersebut, akan membentuk sebuah puting susu yang inverted.
Kelainan kongenital ini dapat terjadi sebanyak 4%. Pada saat lahir,
payudara antara laki-laki dan perempuan tampak identik, bedanya hanya
pada keberadaan duktus mayor pada perempuan. Pembesaran payudara
pada masa tersebut dapat terjadi dan disertai sekresi cairan keruh yang
disebut witch`s milk (mastitis neonatorum). Kejadian ini terjadi sebagai
respon terhadap hormon maternal yang menembus lapisan plasenta.
Payudara pada perempuan tidak berkembang sampai masa pubertas,
dimana payudara tersebut akan membesar sebagai respon dari hormon
ovarium (estrogen dan progesterone), yang menginisiasi proliferasi lapisan
epitel dan elemen jaringan ikat pada payudara. Kemudian merangsang
hipofisis untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin inilah yang menimbulkan
perubahan pada payudara. Namun, perkembangan payudara tersebut belum
sempurna berkembang sampai masa kehamilan terjadi. Tidak terbentuknya
payudara (amastia) adalah jarang terjadi dan hal ini disebabkan berhentinya
perkembangan dari garis mamme yang terjadi pada minggu ke enam fetus.
Hipoplasia payudara terjadi secara iatrogenik yang dipicu oleh trauma,
infeksi, atau terapi radiasi yang terjadi selama masa pertumbuhan sampai
pubertas.
1.1 ANATOMI

Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada bagian


lateral atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila,
yang disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara
memiliki 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai
saluran ke papilla mammae, yang disebut duktus laktiferus (gambar I.02).
Di antara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper
yang member rangka untuk payudara.

Gambar I.02

Anatomi Payudara
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang arteri perforantes
anterior dari arteri mammaria interna, arteri torakalis lateral yang bercabang
dari arteri aksilaris dan beberapa arteri interkostalis.

Persyarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan


n. interkostalis. Jaringan payudara sendiri diurus oleh saraf simpatik. N.
interkostobrakialis dan n. kutaneus brakius medial yang mengurus
sensitibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Saraf n. pektoralis
yang mengurus m. pektoralis mayor dan minor, n. torakodorsalis yang
mengurus m. latisimusdorsi, dan n. torakalis longus yang mengurus m.
serratus anterior yang sedapat mungkin dipertahankan pada mastektomi
dengan diseksi aksila.

75% aliran limfa payudara mengalir ke axila, sebagian lagi ke


kelenjar parasternal, terutama dari bagian sentraldan medial dan ada pula
pengaliran ke kelenjar interpektoralis. Jalur limfa lainya berasal dari daerah
sentral dan medial selain menuju kelenjar sepanjang pembuluh mammaria
interna, juga menuju aksila kontralateral, ke m. rektus abdominalis lewat
ligamentum falsiparum hepatis ke hati, pleura dan payudara kontralateral
(gambar I.03).
Gambar I.03. Anatomi payudara dan dada

1.3 FISIOLOGI

Perkembangan payudara dan fungsinya dipengaruhi oleh bermacam


stimulus, diantaranya stimulus dari estrogen, progesteron, prolaktin,
oksitosin, hormon tiroid, kortisol dan growth hormon. Terutama estrogen,
progesteron, dan prolakltin telah dibuktikan memiliki efek tropik yang
esensial dalam perkembangan dan fungsi payudara normal. Estrogen
mempengaruhi perkembangan duktus, sedangkan progesteron berperan
dalam perubahan perkembangan epitel dan lobular. Prolaktin adalah
hormon primer yang menstimulus laktogenesis pada akhir kehamilan dan
pada periode postpartum. Prolaktin meningkatkan regulasi reseptor hormon
dan menstimulasi perkembangan epitel.

Sekresi dari hormon neurotropik dari hipotalamus, berperan dalam


regulasi sekresi dari hormon yang berefek terhadap jaringan payudara.
Hormon gonandotropin luteizing (LH) dan hormone folikel stilmulasi
(FSH) berperan dalam pelepasan estrogen dan progesteron dari ovarium.
Pelepasan LH dan FSH dari sel basofil pada bagian hipofise anterior
dipengaruhi oleh sekresi dari gonadotropin releasing hormon (GnRH) dari
hipotalamus. Efek umpan balik baik positif atau negatif dari sirkulasi
estrogen dan progesterone berperan terhadap sekresi LH, FSH, dan GnRH.
Hormon ini berperan untuk perkembangan, fungsi dan pemeliharaan
jaringan payudara. Pada masa neonatus, sirkulasi estrogen dan progesteron
pada perempuan sangat rendah sampai pada masa kelahiran dan masih tetap
rendah selama masa anak-anak karena sensitivitas hormon hipofise yang
memberikan umpan balik negatif terhadap hormon tersebut.

Ketika memasuki masa pubertas, terdapat penurunan sensitifitas


hormon hipofise dan terjadi peningkatan terhadap sensitifitas umpan balik
positif estrogen. Kejadian yang bersifat fisiologis ini menyebabkan
peningkatan dari GnRH, FSH dan LH dan yang paling utama adalah
peningkatan sekresi estrogen dan progesteron dari ovarium, yang memicu
terjadinya siklus menstruasi. Pada awal siklus menstruasi, terjadi
peningkatan ukuran dan massa dari payudara, disertai dengan peningkatan
proliferasi epitel dan jaringan payudara.

Selama kehamilan terjadi peningkatan sirkulasi estrogen dan


progesteron yang berasal dari ovarium dan plasenta, yang menyebabkan
perubahan dari jaringan payudara. Payudara membesar seiring dengan
proliferasi epithelium lobus dan duktus mamme, kulit areola
hiperpigmentasi, dan kelenjar areola aksesoris montgomeri menjadi lebih
prominen. Pada akhir bulan kehamilan, prolakti distimulus untuk
mengsintesis lemak susu dan protein.

Pada masa persalinan, sirkulasi progesteron dan estrogen kemudian


kembali menurun, dan prolaktin meningkat menghasilkan laktogen.
Produksi air susu dan pelepasannya dikendalikan oleh arkus reflek saraf
yang terletak pada area areola dan puting susu. Pemeliharaan masa laktasi
membutuhkan stimulasi regular dari saraf reflek yang menyebabkan sekresi
rolaktin dan produksi air susu. Pelepasan oksitosin merupakan akibat dari
rangsangan auditori, visual, dan olfaktorius pada saat merawat bayi.
Oksitosin merangsang kontraksi dari mioepitel yang menyebabkan
kompresi aveoli dan mengalirkan air susu ke sinus laktiferus.

Pada masa menopause terjadi penurunan pada sekresi estrogen dan


progesteron dan terjadi involusi duktus serta aveoli dari payudara. Massa
jaringan ikat fibrosa meningkat dan jaringan payudara digantikan oleh
jaringan lemak. Sehingga dapat dikatakan bahwa payudara mengalami 3
macam perubahan yang dipengaruhi oleh hormon (gambar I.04), yaitu :

1. Perubahan mulai dari masa hidup anak, pubertas, masa


fertilisasi, sampai masa klimakterium dan menopause,

2. Perubahan yang sesuai siklus daur haid, dan

3. Perubahan pada masa hamil dan menyusui.


Gambar I.04. Pengaruh hormonal terhadap perubahan pada
payudara

1.4 PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik payudara terdiri dari anamnesis yang meliputi


riwayat kehamilan dan ginekologi serta pemeriksaan inspeksi dan palpasi.

• Inspeksi

Pada inspeksi, pasien dapat diminta untuk duduk tegak atau


berbaring, atau dengan meletakan kedua tangan pada pinggul.
Kemudian diperhatikan bentuk kedua payudara (simetrisasi),
ukuran, warna kulit, tonjolan/ benjolan, lekukan, retraksi kulit/
puting, adanya kulit berbintik (seperti kulit jeruk), udem dan ulkus.
Dengan lengan diangkat ke atas, kelainan akan lebih terlihat jelas.
Tabel I.01. Enam langkah pemeriksaan payudara

1. Inspeksi : penderita duduk, bandingkan kiri dan kanan

2. Inspeksi : sewaktu angkat kedua lengan dan diturunkan ,


bandingkan kanan dan kiri

3. Pemeriksaan puting mamme

4. Palpasi keempat kuadran, bandingkan kanan dan kiri

5. Palpasi ketiak

6. Pemeriksaan untuk mencari adanya metastasis

• Palpasi

Dilakukan pada pasien dengan posisi berbaring (posisi


supine) dengan bantal tipis di punggung sehingga payudara
terbentang rata. Palpasi dilakukan dengan menggunakan telapak jari
tangan yang digerakan perlahan tanpa tekanan pada keempat
kuadran payudara (gambar I.05). Dengan posisi duduk, benjolan
yang tak teraba ketika penderita berbaring kadang lebih mudah
ditemukan.

Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan oleh pasien sendiri,


yang disebut dengan SADARI. Pemeriksaan ini dapat dilakukan
rutin tiap sebulan sekali dan jika ditemukan benjolan pada payudara,
maka hal ini dapat menjadi suatu pencegahan terjadinya suatu
keganasan. Namun, perlu diketahui tidak setiap benjolan itu adalah
ganas.

Gambar I.05. Cara pemeriksaan palpasi pada payudara posisi


berbaring

Palpasi pada daerah aksila dilakukan untuk menentukan


adanya limfadenopati dengan cara pasien diminta untuk mengangkat
kedua lengan atas. Daerah supraklavikula dan supra sterna juga
dilakukan palpasi. Jika ditemukan suatu nodul limfadenopati atau
massa pada payudara maka tentukan letaknya, ukuran, konsistensi,
bentuk, terfiksasi atau tidak.

Dengan memijat halus puting susu dapat diketahui adanya


pengeluaran cairan yang dapat berupa darah, nanah, atau serous
(gambar D.02). Pengeluaran cairan dari puting susu di luar masa
laktasi dapat disebabkan oleh kelainan seperti karsinoma, papiloma
di salah satu duktus dan kelainan lainnya.

Gambar I.06.
Pemeriksaan puting
susu

1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Mammografi

Mammografi telah digunakan di Amerika Utara sejak 1960


dan tehnik ini digunakan terus dengan dimodifikasi dan diperbaharui
untuk meningkatkan kualitas gambar yang dihasilkan. Mammografi
konvensional dengan dosis radiasi 0,1 centigray (cGy). Jika
dibandingkan dengan x-ray thorax yang menggunakan dosis 25%.
Namun, tidak terdapat resiko yang berhubungan dengan
meningkatnya kanker payudara dengan dosis radiasi yang diberikan
pada pemeriksaan screening mammografi. Screening mammografi
digunakan untuk mendeteksi kanker payudara yang tidak diketahui
pada perempuan yang gejalanya asimtomatik. Dengan screening
mammografi, dilakukan pemeriksaan dengan dua macam foto yaitu
kraniokaudal (CC) dan oblikmediolateral (MLO). Dengan MLO
dapat dilihat sebagian besar massa payudara, termasuk kuadran
terluar atas dan ekor Spence aksila. Dengan foto CC dapat dilihat
aspek medial dari payudara dan kompresi sebagian besar payudara.

Diagnosa mammografi digunakan untuk evaluasi perempuan


dengan temuan klinis abnormal seperti adanya massa pada payudara
atau keluarnya discharge dari puting susu. Kompresi yang dilakukan
berfungsi untuk meminimalisir pergerakan massa, mempermudah
pembacaan, memisahkan jaringan, dan menurunkan dosis radiasi.
Mammografi juga berfungsi dalam menuntun prosedur
intervensional, seperti tindakan lokalisasi jarum dan biopsi jarum
(needle biopsy).

• Duktografi

Indikasi primer untuk duktografi adalah keluarnya discharge


dari puting, terutama ketika cairan mengandung darah. Media
kontras radioopak diinjeksikan pada satu atau lebih pada duktus
mayor dan kemudian dilakukan mammografi. Duktus kemudian
diperbesar perlahan dengan dilator, dengan kanul tumpul yang
dimasukan pada kondisi yang steril ke dalam ampula puting.dengan
posisi supine, 0,1 sampai 0,2 ml dilusi media kontras diinjeksikan
dan mammografi CC dan MLO dilakukantanpa kompresi. Papiloma
intraduktus dapat terlihat sebagai small filing defects yang
dikelilingi oleh media kontras. Untuk kanker akan tampak sebagai
massa irreguler atau sebagai intraluminal filling defects multipel.

• Ultrasonografi

Ultrasonografi (USG) adalah metode penting untuk


penanganan temuan equivocal pada mammografi, untuk
membedakan massa kista, dan mengambarkan bentuk echoic yang
lebih baik pada abnormalitas solid secara spesifik. Pada
pemeriksaan USG, kista payudara dapat terlihat dengan jelas,
dengan tepinya yang halus dan echo-free center. Gambaran tumor
jinak biasanya menunjukan gambaran tepi yang rata dan halus,
dengan bentuknya bulat/oval yang tegas, internal echo yang lemah,
dan batas depan belakang yang jelas.
Karakteristik kanker payudara memiliki dinding yang
irreguler, tetapi dapat memiliki batas yang rata dan halus dengan
peningkatan gambaran akustik. USG juga digunakan untuk
menuntun biopsi jarum halus (fine-needle aspiration biopsy/ FNA),
core-needle biopsy, dan needle localization pada kelainan payudara.
Pemeriksaan ini memiliki keuntungan yang tinggi dan pasien lebih
mudah menerimanya, tetapi tidak dianjurkan untuk pemeriksaan
kelainan yang diameternya kurang dari dan sama dengan 1
sentimeter.

• Biopsi
Lesi yang nonpalpable
Biopsi payudara biasa dilakukan untuk mendiagnosa lesi yang
nonpalpable. USG digunakan ketika massa tersebut besar, dengan
tehnik stereotaktik dapat juga digunakan bila massa berupa
mikroklasifikasi saja. Kombinasi pemeriksaan dengan mammografi,
USG atau stereotaktik, dan FNA memiliki keakuratan 100% dalam
mendiagnosis tumor mammae.

Lesi yang palpable


Biopsi FNA pada massa payudara yang dapat dipalpasi dilakukan
pada situasi yang diluar dari indikasi pasien. Pada biopsi ini sebuah
jarum dengan panjang 1,5 inci, ukuran 22 gauge pada 10 cc jarum
suntik. Jarum suntik digunakan sebagai alat untuk dilakukannya
biopsy FNA oleh ahli bedah, caranya satu tangan memegang jarum
suntik dan dengan tangan yang satu lagi memposisikan massa
payudara. Setelah jarum suntik ditusukan ke massa payudara,
dilakukan suction sambil jarum ditarik kembali agar material seluler
massa tersebut didapatkan. Kemudian material selular tersebut
dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop.
Gambar I.07. Needle biopsy

BAB II

TUMOR MAMMAE

Tumor payudara merupakan salah satu diantara kelainan yang paling sering
pada wanita dan sangat ditakuti. Pada umumnya kelainan pada payudara tersebut
ditemukan pertama kali oleh penderita sendiri, tetapi umumnya di Indonesia
penderita yang datang berobat tidak dalam stadium dini karena berbagai sebab,
sehingga lebih menyulitkan pengelolaan dan mudah diduga hasilnya kurang
memuaskan.

2.1 TUMOR JINAK PAYUDARA


Kelainan tumor jinak pada payudara memiliki gambaran klinis dan patologi
yang bervariasi. Ahli bedah memerlukan kemampuan lebih dalam untuk
memahami kelainan tumor jinak pada payudara sehingga penjelasan yang baik
dapat diberikan kepada pasien, tatalaksana yang sesuai dan pengobatan jangka
panjang yang tidak diperlukan dapat dihindari.

2.1.1 Penyimpangan Perkembangan Normal dan Involusi


Payudara
Prinsip dasar pada penyimpangan perkembangan normal dan involusi
payudara oleh ANDI (Aberrations of Normal Development and Involution)
diklasifikasikan menjadi :
1. Tumor jinak pada payudara yang berhubungan dengan proses normal
reproduksi dan involusi,
2. Terdapat spektrum mengenai kondisi payudara yang memiliki batasan
antara proses normal dan proses abnormal, dan
3. Klasifikasi yang meliputi seluruh aspek kondisi payudara termasuk
patogenesis dan derajat keabnormalan.
Pada tabel berikut (Tabel II.01), komponen horizontal menjelaskan spektrum
perkembangan payudara mulai dari proses normal, abnormalitas ringan
(disorder), abnormalitas berat (disease). Komponen vertikal menjelaskan
kondisi periode selama terjadinya perkembangan.

Table II.01 ANDI Classification of Benign Breast Disorders

Normal Disorder Disease


Awal usia Perkembangan Fibroadenoma Giant fibroadenoma
reproduktif Lobular
(usia 15–25)
Perkembangan Adolescent Gigantomastia
Stromal hypertrophy
Normal Disorder Disease
Eversion puting Inversi puting Subareolar abses
Fistula Duktus
Mamaria
Akhir Usia Perubahan klinis pada Klinis Incapacitating
Reproduktif menstruasi mastalgia mastalgia
(usia 25–40)
Nodulariti
Hiperplasia Bloody nipple
Epitel pada discharge
Kehamilan
Involution Lobular involution Makrokista
(usia 35–55)
Sclerosing lesions
Involusi duktus
–Dilatation Duct ectasia Periduktal mastitis
–Sclerosis Retraksi puting
Epithelial turnover Hiperplasia Epithelial
Epitel hiperplasia dengan
atipia

2.1.2 Awal Usia Reproduksi


Pada fibroadenoma umumnya predominan pada wanita muda usia 15-
25 tahun. Biasanya tumbuh dengan diameter 1 sampai 2 cm, dan kelainan ini
bersifat jinak, tetapi dapat tumbuh menjadi lebih besar. Fibroadenoma kecil
(kurang dari sama dengan 1 cm) dianggap normal tidak memerlukan tindakan
pembedahan, fibroadenoma besar (1-3 cm) dianggap abnormalitas ringan dan
giant fibroadenoma (lebih dari 3 cm) dianggap sebagai abnormalitas berat.
Fibroadenoma multipel (lebih dari lima lesi pada sebuah payudara) dianggap
sebagai abnormalitas yang berat. Etiologi dari hiperplasia payudara pada
remaja masih belum diketahui. Inversi puting susu adalah abnormalitas ringan
pada perkembangan duktus mayor yang mencegah protrusi normal dari puting.
Fistula duktus mamaria terjadi jika inversi puting menyebabkan obstruksi
duktus mayor, yang kemudian menyebabkan terjadinya abses subareola dan
terjadilah fistel duktus mamaria.
2.1.3 Akhir Usia Reproduksi
Sikikal mastalgia dan nodulariti berhubungan dengan pembesaran
paydara pada masa premenstruasi dan dianggap sesuatu yang normal. Siklikal
mastalgia dan nyeri hebat nodulariti dipandang berbeda dengan benjolan dan
nyeri pada proses fisiologis. Nyeri hebat pada nodulariti tersebut bertahan
lebih dari satu minggu pda siklus menstruasi dan merupakan abnormalitas
yang ringan. Pada hiperplasia epithelia pada masa kehamilan, terkadang terjadi
pengeluaran darah pada kedua payudara.

2.1.4 Involusi
Involusi epitel lobus tergantung pada keadaaan stroma disekitarnya.
Ketika stroma terinvolusi dengan cepat, aveoli kemudian dengan cepat
membentuk mikrokista yang menjadi prekursor dari makrokista. Makrokista
adalah umum dan sering merupakan gejala subklinik yang alami terjadi dan
tidak membutuhkan terapi yang spesifik. Adenosis sklerosis adalah dianggap
abnormalitas ringan dimana terjadi proliferasi dan involusi pada siklus
payudara. Etaksia duktus (dilatasi duktus) dan mastitis periduktal adalah
komponen penting pada klasifikasi ANDI. Fibrosis periduktal adalah
kelanjutan dari mastitis periduktal dengan gejala retraksi pada puting. Enam
persen wanita usia 70 tahun atau lebih memiliki kemungkinan terjadinya
hiperplasia epitelia. Abnormalitas berat berupa proliferasi atipikal termasuk
hiperplasia duktus dan lobus payudara, keduanya menunjukan gambaran
karsinoma in situ. Wanita dengan duktus atipikal atau hiperplasia lobus
payudara memiliki peningkatan resiko keganasan payudara.

2.2 MACAM-MACAM ABNORMALITAS PADA PAYUDARA


2.2.1 Kelainan Fibrokistik

Kelainan ini bersifat nonspesifik dan disebut juga mastitis kronik


kistik (gambar II.01), hiperplasia kistik, mastopatia kistik, displasia
payudara, dan banyak nama lainnya. Istilah yang bermacam-macam ini
menunjukan proses epitel jinak yang terjadi amat beragam dengan
bermacam histopatologi maupun klinis.
Penyakit ini memiliki gejala nyeri, yang pada umumnya membuat
pasien merasa cemas dan yang harus dilakukan sebagai petugas medis
adalah menekankan bahwa proses tersebut bukanlah suatu keganasan. Bila
dalam pemeriksaan ditemukan keraguan maka diperlukan tindakan biopsi,
dengan biopsi dapat diketahui bagaimana perubahan hitopatologik yang
sesungguhnya yang merupakan cara terbaik dalam mendiagnosa dan dapat
ditatalaksana dengan tepat. Indikasi dilakukannya operasi (eksisi) adalah
apabila ditemukan nyeri hebat atau nyeri yang berulang atau keduanya dan
penderita yang khawatir.

2.2.1.1 Patologi Proliferasi Abnormal Non Atipikal

Proliferasi abnormal payudara tanpa atipikal termasuk adenosis


sklerosis, parut radial, lesi sklerosis kompleks, hiperplasia epitel
duktus, dan papiloma intraduktal. Adenosis sklerosis dapat terjadi
selama masa persalinan dan usia mendekati menopause dan tidak
terdapat potensial keganasan. Perubahan histologis terdiri dari
proliferasi dan involusi. Adenosis sklerosis memiliki karakteristik
berupa lobus payudara yang terdistorsi dan biasanya timbul berupa
multipel mikrokista, tetapi penampakannya berupa massa yang dapat
dipalpasi. Lesi dengan diameter 1 cm disebut sebgai parut radial,
sedangkan lesi yang lebih besar disebut komplek lesi sklerosis.

Hiperplasia duktus ringan memiliki karakteristik berupa terdapat


tiga atau empat lapis sel di bawah membran basal. Hiperplasia duktus
sedang memiliki karakteristik berupa terdapat lebih dari lima lapis sel
di bawah membran basal. Hiperplasia epitel duktus florid terjadi pada
lebih kurang 70% lumen duktus minor. Kelainan ini dapat ditemukan
pada lebih dari 20% spesimen jaringan payudara, dapat berbentuk solid
atau papiler dan memiliki resiko kanker. Papiloma intraduktal terjadi
pada duktus mayor, biasanya pada wanita yang premenopause.
Kelainan ini dapat berdiameter 0,5 cm tetapi dapat sebesar 5 cm. Gejala
yang umum menyertai adalah discharge dari puting, yang dapat berupa
cairan serous atau darah. Papiloma intraduktal tampak rapuh, berwarna
kemerah-merahan dan biasanya melekat pada dinding duktus yang
terlibat. Kelainan ini jarang menjadi ganas, dan tidak meningkatkan
resiko seorang wanita menderita keganasan payudara. Namun,
papiloma intraduktus multipel yang muncul pada wanita lebih muda
dan disertai discharge dari puting memiliki kemungkian transformasi
menjadi ganas.

2.2.1.2 Patologi Proliferasi Abnormal Atipikal

Proliferasi abnormal atipikal memiliki perjalanan penyakit


menjadi karsinoma in situ (CIS) tetapi apapun perubahan itu memiliki
gambaran mayor yang tidak menunjukan CIS atau memiliki sedikit
gambaran CIS. Pada tahun 1978, Haagensen dkk menggambarkan
neoplasia lobular memiliki jangkauan spektrum abnormalitas antara
atipikal hiperplasia lobular ke lobular karsinoma in situ.
Gambar II.01. Kelainan fibrokistik

2.2.2 Kista
Volume dari kista tipikal adalah 5 sampai 10 mL, tetapi dapat pula
mencapai 75 mL atau lebih. Pada kelainan ini dapat dilakukan biopsi
dengan jarum. Jika cairan tersebut diaspirasi dan ternyata bukan darah,
maka kista dapat diaspirasi sampai kering, kemudian cairan tersebut
dilakukan pemeriksaan sitologi. Setelah diaspirasi, payudara secara lembut
dipalpasi untuk menyingkirkan adanya massa yang tertinggal. Jika tidak
ada, maka dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan tidak ada massa
yang tertinggal. Jika massa yang ditemukan solid, spesimen jaringan
diperlukan. Jika cairan yang keluar adalah darah, maka diambil 2 mL cairan
untuk dilakukan sitologi. Ditemukannya darah pada kista belum dapat
dipastikan itu darah karena ada kista dengan cairan yang merah bukan
darah, tetapi dengan pemeriksaan darah samar atau pemeriksaan
mikroskopis akan mengeliminasi keraguan. Aspirasi kista yang benar
adalah massa harus hilang sempurna setelah aspirasi dan cairan yang keluar
bukanlah darah. Jika kedua kondisi tersebut tidak ada maka USG, biopsi
jarum, dan mungkin biopsi eksisi dapat dilakukan.
2.2.3 Fibroadenoma

Merupakan neoplasma jinak yang utama terdapat pada wanita muda,


biasanya pada usia 20 tahun atau setelah pubertas. Biasa diketahui secara
tidak sengaja dan setelah menopause tumor ini tidak lagi ditemukan,
sehingga jika ditemukan adanya lesi ini pada wanita diatas 30 tahun dapat
dipikirkan adanya keganasan. Namun pernah dilaporkan, bahwa wanita
postmenopause juga dapat menderita lesi ini setelah mendapat terapi
hormonal (estrogen). Fibroadenoma (gambar II.02) teraba sebagai
benjolan 1-5 cm, bulat atau berbenjol-benjol yang simpainya licin dan
konsistensi kenyal padat. Tumor memilki ciri tidak melekat pada jaringan
sekitarnya dan amat mudah digerakan. Keluhan disertai nyeri umumnya
jarang, tapi kadang dapat disertai dengan nyeri tekan. Tumor multipel pada
satu atau sepasang payudara ditemukan pada 10-15% pasien.
Tumor ini tumbuh dengan cepat selama masa kehamilan dan laktasi
atau menjelang menopause oleh karena rangsangan estrogen yang
meningkat. Terapi tumor ini adalah dengan tindakan ekstirpasi oleh karena
tumor jinak ini akan terus membesar, lebih jelas adalah sebagai berikut :
• Monitoring dan konservatif, jika
o Massa kurang dari 5 cm
o Tidak terdapat tanda keganasan
o 40% mengalami regresi secara spontan
• Fibroadenectomy
o Ukuran massa lebih dari 5 cm
o Simtomatik
o Pertumbuhannya cepat
o Kosmetik
o Permintaan pasien
o Efek menekan

o Memiliki resiko keganasan


Gambar II.02. Fibroadenoma

2.2.4 Tumor Filoides


Merupakan neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal
dan mungkin ganas (10-15%). Cystosarcoma phyllodes merupakan tumor
jinak yang terjadi hampir semata-mata pada payudara wanita. Namanya
berasal dari kata Yunani sarcoma, yang berarti tumor berdaging, dan
phyllo, yang berarti daun. Disebut demikian oleh karena tumor tersebut
menampilkan karakteristik yang besar, sarkoma ganas, tampilan seperti-
daun ketika dipotong, dan epitel, ruang seperti-kista bila dilihat secara
histologis. Karena sebagian besar tumor itu jinak maka disebut juga sebagai
tumor filoides.
Meskipun tumor jinak tidak bermetastase, namun mereka memiliki
kecenderungan untuk tumbuh secara agresif dan rekuren secara lokal. Mirip
dengan sarkoma, tumor maligna bermetastase secara hematogen. Gambaran
patologis tumor filoides tidak selalu meramalkan perilaku klinis neoplasma
karenanya pada beberapa kasus terdapat tingkat ketidakpastian tentang
klasifikasi lesi.
Ciri-ciri tumor filoides maligna adalah sebagai berikut:
• Tumor maligna berulang terlihat lebih agresif dibandingkan tumor
asal.
• Paru merupakan tempat metastase yang paling sering, diikuti oleh
tulang, jantung, dan hati.
• Gejala untuk keterlibatan metastatik dapat timbul segera, sampai
beberapa bulan dan paling lambat 12 tahun setelah terapi awal.
• Kebanyakan pasien dengan metastase meninggal dalam 3 tahun dari
terapi awal.
• Tidak terdapat pengobatan untuk metastase sistemik yang terjadi.
• Kasarnya 30% pasien dengan tumor filoides maligna meninggal
karena penyakit ini.
Etiologi tumor filoides secara pasti belum diketahui, diperkirakan
berhubungan dengan fibroadenoma dalam beberapa kasus, karena pasien
dapat mungkin memiliki gambaran histologis kedua lesi pada tumor yang
sama. Namun, apakah tumor filoides berkembang dari fibroadenoma atau
keduanya berkembang bersama-sama, atau apakah tumor filoides dapat
muncul de novo, masih belum jelas
Tumor ini memiliki tekstur halus, berbatas tajam dan biasanya
bergerak secara bebas. Tumor ini adalah tumor yang relatif besar, dengan
ukuran rata-rata 5 cm. Namun, lesi yang > 30 cm pernah dilaporkan.
Haagensen melaporkan kira-kira satu tumor filodes untuk setiap 40
fibroadenoma. Distribusi usia menurut Haagensen mayoritas terjadi antara
usia 35 dan 55 tahun. Tumor bilateral sangat jarang dan jarang juga terjadi
pada pasien di bawah usia 20 tahun, pertama kali muncul memberikan
reaksi jinak.
Pemeriksaan mamografi dan ultrasonografi (gambar II.03)
umumnya penting dalam diagnosis lesi payudara, namun keduanya sangat
tidak dapat diandalkan dalam membedakan tumor filoides jinak dari bentuk
kondisi ganas ataupun dari fibroadenoma. Dengan demikian, temuan pada
studi pencitraan bukanlah diagnosis pasti. Biopsi payudara eksisi terbuka
untuk lesi lebih kecil atau biopsi insisional untuk lesi lebih besar adalah
metode pasti untuk mendiagnosis tumor filoides.

Gambar II.03. Gambaran mammografi dari tumor filoides

Pada kebanyakan kasus tumor filoides, dilakukan eksisi luas.


Dengan batas eksisinya yaitu: batas 2 cm untuk tumor kecil (< 5 cm) dan
batas 5 cm untuk tumor besar (> 5 cm) telah dianjurkan.

Pertimbangan lain dalam terapi bedah adalah :

• Jika rasio tumor dengan jaringan payudara normal cukup tinggi,


untuk memberikan hasil kosmetik yang memuaskan adalah dengan eksisi
segmental. Mastektomi total dengan atau tanpa rekonstruksi adalah sebuah
pilihan alternatif.
• Prosedur yang lebih radikal tidak secara umum dibenarkan.
• Melakukan diseksi nodus limfatikus aksila hanya untuk nodus yang
dicurigai secara klinis ganas. Namun, sebenarnya semua nodus ini reaktif
dan tidak mengandung sel-sel maligna.
2.2.5 Papiloma Intraduktus

Lesi jinak yang berasal dari duktus laktiferus dan 75% tumbuh di
bawah areola mammae. Lesi ini memiliki ukuran yang kecil, sering terjadi
pada wanita yang berusia 35-55 tahun.

Etiologi dan faktor predisposisi dari lesi ini masih tidak diketahui.
Gejala klinis dari lesi ini adalah :

• Pembesaran dari payudara

• Ditemukan benjolan

• Adanya nyeri pada payudara

• Keluarnya discharge pada puting pada single duktus

Pada pemeriksaan dapat ditemukan sebuah benjolan kecil di bawah puting,


tetapi benjolan ini tidak selalu dapat dipalpasi. Pemeriksaan mammografi
tidak dapat menunjukan adanya lesi papiloma, namun dapat diatasi dengan
pemeriksaan USG. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan juga pada lesi ini
adalah :

• Biopsi payudara

• Pemeriksaan discharge yang keluar untuk melihat apakah terdapat


keganasan (maglinan)

• Pemeriksaan X-ray dengan menginjeksikan bahan kontras ke dalam


duktus (duktogram).

Penatalaksanaan duktus yang mengalami kelainan adalah dengan


operasi pengangkatan dan sel dari tumor tersebut dilakukan pemeriksaan
patologis untuk mengetahui apakah merupakan sel kanker atau tidak.
Komplikasi dari lesi ini tidak ada, adapun komplikasi yang timbul adalah
disebabkan oleh tindakan operasi seperti perdarahan, infeksi, dan resiko
anastesia.
Prognosis pasien dengan satu lesi tumor adalah baik, tetapi orang
dengan multipel papiloma intraduktus atau orang yang menderita lesi ini
pada usia muda memiliki peningkatan resiko untuk berkembang menjadi
kanker, terutama jika memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker.
Tidak ada cara yang dapat mencegah lesi ini, namun dengan pemeriksaan
payudara sendiri dan screening mammografi dapat membantu dalam
mendeteksi lebih awal.

2.2.6 Adenosis Sklerosis

Gangguan proliferasi payudara tanpa atipia terdiri dari adenosis


sklerosis, radial scars, lesi sklerosis komplek, hiperplasia epitel duktus, dan
intraduktal papiloma. Adenosis sklerosis, prevalensi sering terjadi pada
masa menjelang persalinan dan perimenopause serta tidak memiliki
potensial keganasan. Secara klinis adenosis sklerosis teraba seperti kelainan
fibrokistik, tetapi secara histopatologis tampak proliferasi jinak sehingga
ahli patologi sering mengira kelainan ini merupakan sesuatu keganasan.

Perubahan histologist berupa proliferasi (proliferasi duktus) dan


involusi (stromal fibrosis, regresi epitel). Adenosis sklerosis dengan
karakteristik lobus payudara yang terdistorsi dan biasanya muncul pada
mikrokista multipel, tetapi biasanya muncul berupa massa yang dapat
terpalpasi.

2.2.7 Mastitis Sel Plasma

Mastitis sel plasma juga disebut mastitis komedo. Lesi ini


merupakan radang subakut yang didapat pada sistem duktus di bawah
areola. Gambaran klinisnya sukar dibedakan dengan karsinoma, yaitu
berkonsistensi keras, bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi
puting susu akibat fibrosis periduktal, dan bisa terdapat pembesaran kelenjar
getah bening.
2.2.8 Nekrosis Lemak

Nekrosis lemak (gambar II.04) adalah lesi yang sangat jarang


terjadi pada payudara tetapi gejala klinis dari lesi ini adalah sangat penting
untuk diketahui karena lesi ini memiliki gejala klinis berupa benjolan pada
payudara, disertai dengan retraksi dari kulit payudara atau puting yang
menyerupai gejala pada karsinoma. Trauma dianggap merupakan penyebab
terjadinya lesi ini, karena lebih kurang setengah dari pasien ini memiliki
riwayat trauma pada payudara sebelumnya.

Ekimosis sering ditemukan pada lesi tumor ini. Nyeri tekan bisa
juga ditemukan dan bisa juga tidak. Jika lesi ini tidak ditanggani, massa
yang berhubungan dengan nekrosis lemak secara perlahan akan hilang.
Namun demi kepastian diagnosis, lesi ini tetap harus dilakukan biopsi,
massa dieksisi, untuk menyingkirkan kemungkinan adanya keganasan.
Gambar II.04. Nekrosis Lemak

2.2.9 Kelainan Lain


Akrokordon (skin tags) adalah massa pedukulat terlokalisasi pada
aksila, kelopak mata, dan batang tubuh. Lesi ini terdiri dari hiperplasia
epidermis pada jaringan ikat fibrosa. Lesi ini biasanya berukuran kecil dan
cenderung jinak.
Dermatofibroma adalah suatu kelainan yang biasanya berupa nodul
soliter yang ukurannya diameter kira-kira 1 sampai 2 cm. lesi ini ditemukan
primer pada kaki dan lateral dari batang tubuh. Lesi ini terdiri dari
kumparan jaringan ikat yang mengandung fibroblast. Ada tidaknya kapsul
dan vaskularisasi pada massa ini adalah bervariasi. Lesi ini dapat
didiagnosis dengan pemeriksaan klinis. Ketika lesi ini membesar sampai 2-
3 cm, biopsi eksisi dianjurkan untuk mengetahui adanya keganasan.
Lipoma adalah neoplasma subkutaneus yang umum sering terjadi.
Lesi ini ditemukan biasanya pada batang tubuh tetapi dapat pula timbul di
berabagai tempat. Lesi ini terkadang tumbuh sampai berukuran besar.
Pemeriksaan mikroskopik ditemukan sebuah tumor berlobus yang
mengandung sel lemak normal. Terapi dengan eksisi dianjurkan pada pasien
ini untuk mendiagnosis dan mengembalikan kontur kulit menjadi normal.
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

• Pada mamalia, sepasang payudara akan berkembang sepanjang


garis mammae tersebut, yang berjalan dari pangkal ekstremitas
atas (aksilaris anterior) ke regio ekstremitas bawah (area
inguinal). Namun, garis ini tidak menetap pada manusia dan
menghilang, kecuali yang berada di daerah pektoralis yang akan
bertahan yang akan berkembang menjadi payudara.
• Payudara mengalami 3 macam perubahan yang dipengaruhi oleh
hormon yaitu perubahan mulai dari masa hidup anak, pubertas,
masa fertilisasi, sampai masa klimakterium dan menopause,
perubahan yang sesuai siklus daur haid, dan perubahan pada
masa hamil dan menyusui.

• Perlunya dilakukan pemeriksaan payudara berkala baik dengan


pemeriksaan fisik (SADARI) atau pemeriksaan screnning
mamografi untuk mencegah berkembangnya suatu keganasan.

• Kelainan jinak pada payudara dibagi menjadi abnormalitas yang


normal terjadi pada payudara, abnormalitas ringan, dan
abnormalitas yang berat.

• Abnormalitas pada payudara kemudian dibagi lagi menjadi dua


yaitu patologi proliferasi abnormal atipikal dan non atipikal.

3.2 Saran

• Setiap wanita perlu melakukan pemeriksaan payudara secara


berkala untuk menyingkirkan perkembangan keganasan pada
payudara.

• Perlunya sosialisasi kepada masyarakat mengenai jenis-jenis


abnormalitas yang dapat terjadi pada payudara, agar jika
ditemukan suatu kelainan dapat segera dideteksi lebih dini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Current. 2003. Surgical Diagnosis and Treatment, 11th Edition.
Lange Medical Book. United States of America.
2. Sjamsuhidayat dan Wim de Joing, R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah,
Revisi ed. EGC, Jakarta.
3. Sabiston.1995. Buku Ajar Bedah, Bagian I. EGC. Jakarta.
4. U, Bulent et al.2009. Intraductal location of the sclerosing adenosis
of the breast, Clinical Study. Journal Citation Reports. Pittsburgh
5. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001238.htm
6. http://www.breastdiagnostic.com/anatomy.html