Anda di halaman 1dari 72

Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia Ditinjau dari Aspek

Ekonomi
Written by Dr. Sri Adiningsih Kepala Pusat Studi Asia Pasifik UGM
Tuesday, 21 July 2009 09:54
Pendahuluan

Tidak terasa krisis ekonomi yang telah menghantam kita pada tahun 1997 sudah berlalu
lebih dari satu dekade. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dalam penyehatan ekonomi
yang telah kita lakukan selama ini. Baik suka ataupun duka. Dampak krisis pun sampai
sekarang masih terasa, membebani keuangan Negara sehingga kemampuan Negara untuk
membiayai berbagai kegiatan sosial ataupun terkait dengan masalah lingkungan sulit
untuk mendapatkan prioritas anggaran.

Krisis telah memaksa Indonesia mereformasi ekonominya dalam kerangka program IMF
hingga akhir 2003. Ekonomi mulai pulih pada tahun 2004, sehingga Indonesia siap
membangun ekonominya lagi, bangkit dari keterpurukkannya. Namun ternyata
kebangkitan ekonomi tidak mudah dicapai, perkembangan eksternal yang semakin tidak
ramah dan juga kebijakan domestik dalam mengelola ekonomi yang tidak tepat telah
membuat ekonomi Indonesia tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti hingga saat
ini.

Kualitas pertumbuhan/pembangunan ekonomi yang semakin merosot ditengah-tengah


stabilitas ekonomi makro dan pertumbuhan ekonomi yang mulai meningkat lagi telah
membuat angka pengangguran dan kemiskinan tetap tinggi. Demikian juga beban APBN
masih berat. Sehingga mempersulit Indonesia untuk membangun ekonominya, apalagi
membangun secara berkelanjutan. Fakta menunjukkan bahwa pada masa krisis ekonomi
yang lalu, pembangunan baik dari sisi hardware ataupun software terbengkelai. Sehingga
dapat dilihat kerusakan infrastruktur yang semakin parah, lingkungan juga memburuk,
serta human development merosot.

Potret Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan yang dijalankan di Indonesia sejak tahun 1970-an hingga sekarang masih
cenderung fokus pada pembangunan ekonomi, bahkan pada pertumbuhan ekonomi yang
cenderung jangka pendek. Sehingga masalah keberlanjutan belum menjadi prioritas
utama. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pertumbuhan ekonomi pun kualitasnya
semakin memburuk. Apalagi dengan keterbatasan APBN dan sumber daya yang kita
miliki, sehingga tidak mengherankan apabila pengambil kebijakan lebih memilih jalan
pintas, yang cepat kelihatan hasilnya, kurang memperhatikan keberlanjutannya.

Padahal pembangunan berkelanjutan sudah menjadi tuntutan bagi pengambil kebijakan


pembangunan dalam bumi yang semakin rusak ini. Namun demikian lingkungan hidup
tidak mendapatkan banyak perhatian sejak lama baik pada skala global, regional ataupun
negara. Apalagi negara sedang berkembang yang tengah banyak menghadapi
permasalahan ekonomi seperti Indonesia. Sehingga degadrasi lingkungan telah banyak
menurunkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di negara sedang berkembang seperti
Indonesia. Oleh karena itulah masyarakat dunia sejak tahun 1970-an mulai memberikan
perhatian yang besar pada masalah lingkungan, dalam rangka pembangunan yang
berkelanjutan. Hal itu dapat dilihat diantaranya dari Stockholm Conference (1972),
Agenda 21 di Rio Earth Summit (1992), dan Johannesburg Declaration (2002). Meski
komitmen dan perhatian besar telah diberikan pada tingkat internasional, namun kondisi
lingkungan hidup masih saja memburuk. Kita sekarang masih hidup dalam kondisi yang
dapat merusak lingkungan hidup semakin parah, sehingga akan membahayakan
kehidupan umat manusia pada masa mendatang. Oleh karena itulah usaha untuk menjaga
lingkungan hidup agar pembangunan dapat berkelanjutan sehingga kepentingan
kehidupan generasi yang akan datang terproteksi, menjadi semakin penting untuk
diperjuangkan. Dengan demikian perlu adanya jaminan agar supaya dalam memenuhi
kebutuhan sekarang kita tidak akan mengurangi kemampuan generasi yang akan datang
untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam perkembangannya disadari bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya terkait


dengan aspek lingkungan hidup, namun juga pembangunan ekonomi dan sosial yang
dikenal dengan the living triangle. Tidaklah mungkin lingkungan dapat dijaga dengan
baik bila kondisi sosial dan ekonomi masyarakat buruk. Oleh karena itulah dalam rangka
melestarikan lingkungan hidup kita secara berkelanjutan, pembangunan ekonomi dan
sosial yang berkelanjutan juga perlu dilakukan. Tidaklah mungkin masyarakat yang untuk
hidup saja sulit akan dapat menjaga lingkungannya dengan baik. Perhatian dan komitmen
yang besar masyarakat internasional pada pembangunan berkelanjutan khususnya dari
negera maju dalam beberapa conference adalah cukup besar. Namun demikian dalam
implementasinya ternyata jauh dari harapan. Dapat dilihat bahwa Official Development
Assistance (ODA) yang diberikan negara maju rata-rata hanya sebesar 0,27% dari PDB
mereka pada tahun 1995, turun dari 0,34% pada tahun 1992. Pada tahun 2000 didapati
hanya 4 negara yang menandatangi komitmen ODA memenuhi komitmennya. Hal ini
mencerminkan bahwa pembangunan berkelanjutan pada tingkat globalpun seringkali
hanya menjadi retorika politik belaka. Sehingga tidaklah mengherankan bahwa upaya
pembangunan berkelanjutan tidak mudah diimplementasikan (Cooper & Vargas, 2004).

Rendahnya komitmen negara maju dalam memenuhi komitmennya dalam kerangka


pembangunan yang berkelanjutan tentu saja tidak dapat dipisahkan dengan rendahnya
kepentingan negara maju untuk mendukung pembangunan berkelanjuitan global. Hal ini
tentu saja erat kaitannya dengan kalahnya prioritas menjaga lingkungan dengan masalah
aktual seperti meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi taupun menjaga agar dunia usaha
dari negaranya yang banyak diwakili oleh TNCs terus berkembang dalam pasar global.
Tingginya nilai politis dari kepentingan ekonomi jangka pendek tersebut memang akan
mudah membuat politisi baik dari negara maju ataupun sedang berkembang akan
mengedepankan kepentingan jangka pendek. Selain itu jangan lupa bahwa bargaining
power dari bisnis raksasa di negara maju tentu saja juga besar sekali, sehingga akan
mampu mendistorsi keputusan yang diambil oleh pejabat publik, dapat mengalahkan
kepentingan publik dalam jangka panjang. Hal yang sama juga terjadi di negara kita,
dimana seringkali pengambilan keputusan dibengkokan oleh kepentingan pemodal yang
memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Sehingga tidaklah mengherankan jika World
Trade Organization (WTO) yang menawarkan liberalisasi serta akses pasar yang lebih
luas, serta kadang menawarkan solusi yang lebih menarik/menguntungkan terhadap
berbagai isu yang sama (terkait dengan isu pembangunan berkelanjutan) dapat menjadi
salah satu outlet bagi mereka. Oleh karena itulah dapat dipahami jika WTO berkembang
pesat akhir-¬akhir ini. Sementara pembangunan berkelanjutan semakin tenggelam
ditengah-tengah berbagai kemelut ekonomi yang dihadapi oleh banyak negara, khususnya
negara Selatan.

Prinsip-prinsip ekonomi yang menekankan pada efisiensi ekonomi dengan maximizing


benefit dan minimizing cost dari sudut pandang teori ekonomi memang sangat rasional.
Sehingga dengan ekonomi yang semakin liberal ekonomi pada akhirnya banyak dikuasai
oleh perusahaan transnational (TNCs) yang banyak beroperasi di negara sedang
berkembang, baik untuk mendapatkan input khususnya sumber daya alam, maupun tenaga
kerja murah, ataupun untuk memperluas pasar produk mereka. Sedangkan bagi negara
sedang berkembang, globalisasi yang menjadikan masyarakatnya menjadi konsumen dari
TNCs, juga menggunakan globalisasi untuk memperluas pasarnya, meskipun biasanya
untuk produk primer ataupun sekunder dengan tingkat teknologi yang rendah. Sehingga
banyak negara sedang berkembang yang terjerat utang ataupun masih harus berkubang
dengan kemiskinan yang kronis. Bahkan Stiglitz dalam bukunya Globalization and Its
Discontent (2002) mengatakan bahwa manfaat dari globalisasi lebih rendah dari klaim
yang selama ini diyakininya, sebab harga yang harus dibayar juga mahal, karena
lingkungan yang semakin rusak, demikian juga proses politik korup berkembang, dan
cepatnya perubahan yang terjadi membuat masyarakat tidak dapat menyesuaikan
budayanya.

Liberalisasi pasar yang semakin melibas perekonomian di banyak Negara juga telah
menghambat pembangunan berkelanjutan. Martin Khor direktur dari Third World
Network melihat bahwa lieberalisasi dan globalisasi yang menekankan pada "daya saing"
telah menghambat pembangunan berkelanjutan sehingga merusak lingkungan.
Liberalisasi dan globalisasi telah memperburuk lingkungan global karena tidak adanya
aturan dan pengawasan pada TNCs di pasar global sehingga meningkatnya volume bisnis
mereka meningkatkan kerusakan lingkungan. Padahal aktivitas TNCs telah banyak
merusak lingkungan hidup (penghasil lebih dari 50% greenhouse gases). Demikian juga
kebijakan yang liberal dan integrasi pasar telah mendorong peningkatan eksploitasi dari
sumber daya alam seperti hutan dan kelautan sehingga mendorong kerusakkan lingkungan
yang serius. Selain itu globalisasi mendorong ekplorasi sumber daya alam yang melampau
batas keberlangsungannya seperti air, tanah, dan mineral, telah banyak merusak
lingkungan hidup.

Bagi negara seperti Indonesia, yang baru saja keluar dari krisis ekonomi, serta masih
menghadapi banyak masalah ekonomi dan sosial yang berat, sehingga menghadapi proses
globalisasi baik dalam kerangka ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 2010, ASEAN
Economic Community tahun 2015, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan
WTO adalah tidak mudah. Oleh karena itu membangun kembali Indonesia tidaklah
mudah pada saat ini. Apalagi membangun secara berkelanjutan ditengah-tengah pasar
yang semakin liberal.
Tantangan Indonesia

Potret pembangunan berkelanjutan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan potret


internasional, bahkan cenderung lebih buruk. Meskipun komitmen pemerintah nampaknya
cukup besar sejak jaman Orde Baru, diantaranya dapat dilihat dengan keberadaan
Kementrian Negara Lingkungan Hidup yang tentunya diikuti dengan kebijakan dan
anggaran untuk melestarikan lingkungan hidup. Namun komitmen dan keberadaan
kementrian yang menjaga lingkungan hidup pun ternyata tidak mencukupi. Dapat dilihat
dari kerusakkan lingkungan hidup Indonesia yang masih saja berlanjut, sehingga bencana
alam semakin banyak terjadi di tanah air kita yang tercinta ini. Laut, hutan dan lingkungan
hidup lainnya pada umumnya semakin rusak.

Seperti sudah dibahas sebelumnya bahwa menjaga lingkungan tidaklah dapat berdiri
sendiri. Pembangunan berkelanjutan dengan melestarikan lingkungan hanya akan berhasil
jika dipadukan secara terintegral dengan pembangunan ekonomi dan sosial yang
berkelanjutan. Oleh karena itulah perlu kebijakan yang terintegral dalam pembangunan
lingkungan dengan pembangunan ekonomi dan sosial agar dapat memberikan hasil yang
optimal. Meski demikian desain program yang baikpun belum menjamin keberhasilan
pembangunan berkelanjutan. Banyak bukti menunjukkan bahwa keberhasilan
pembangunan berkelanjutan seringkali terganjal oleh kurangnya implementasi yang baik.
Secara prinsip pembangunan berkelanjutan sebenarnya harus terefleksi dalam cara
berfikir, hidup, memerintah dan berbisnis dari seluruh masyarakat. Oleh karena itulah
dalam kerangka mensukseskan pembangunan berkelanjutan banyak sekali aspek yang
perlu dibenahi.

Kegagalan implementasi kebijakan, program ataupun proyek-proyek pada pembangunan


berkelanjutan seringkali karena tidak mempertimbangkan berbagai aspek yang perlu
dilihat, baik dari sisi teknis, legal, fiskal, administrasi, politik, etik dan budaya (Cooper
and Vargas, 2004). Pertanyaannya adalah apakah secara teknis suatu kebijakan fisibel erat
kaitannya dengan apakah kita tahu apa yang perlu dilakukan, bagaimana caranya?
Seringkali tantangannya disini adalah lebih pada masalah keberlanjutannya suatu
kebijakan, dan apa yang dilakukan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dari sisi
legal tentu saja erat kaitannya dengan apakah secara legal kebijakan ataupun program
yang dilakukan tidak melanggar rambu¬rambu yang ada. Dalam hal ini tantangan yang
dihadapi adalah bagaimana kita mendesain infrastruktur legal yang diperlukan untuk
pembangunan berkelanjutan. Ataupun kasus yang hangat akhir-akhir ini terkait dengan
masalah illegal logging dan penegakkan hukumnya yang dinilai tidak memihak pada
lingkungan. Jelas ini merupakan salah satu masalah terbesar bangsa Indonesia. Sedangkan
dari sisi fiskal, tantangan yang dihadapi diantaranya adalah bagaimana mendesain
kebijakan yang ongkosnya minimal ditengah beban fiskal yang berat untuk membayar
hutang. Oleh karena itu dana untuk melaksanakan program pembangunan terbatas,
sehingga perlu terobosan agar supaya secara fiskal baik dari sisi penerimaan dan
pengeluaran dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Reformasi fiskal yang tengah
kita gulirkan mestinya juga didasari oleh kepentingan melaksanakan pembangunan
berkelanjutan. Adapun aspek administrasi erat kaitannya dengan kemampuan organisasi
dan kemampuan manajerial untuk melaksanakan secara konsisten kebijakan yang ada.
Dalam hal ini koordinasi baik secara horizontal ataupun vertikal, baik di pusat maupun
daerah, ataupun antar pusat dan daerah, ataupun antar daerah, sangat krusial untuk
dilakukan. Seringkali ego antar instansi dan juga antar pemerintah pusat dan daerah
membuat koordinasi untuk melaksanakan kebijakan secara konsisten sulit untuk
dilakukan. Aspek politik juga memegang peranan penting dalam melaksanakan
pembangunan berkelanjutan. Selain political will untuk melaksanakan pembangunan
berkelanjutan penting. Namun stabilitas politik juga memegang peranan penting dalam hal
ini. Untuk itulah perlu pembangunan institusi dan juga perbaikkan pemerintahan untuk
mensukseskan pembangunan berkelanjutan. Sedangkan aspek etika dan budaya juga
memegang peranan penting dalam implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Itu semua menunjukkan bahwa mengimplementasikan kebijakan pembangunan
berkelanjutan tidaklah mudah. Meski demikian tidak berarti tidak dapat dilakukan.

Pembangunan berkelanjutan tidaklah mudah dilakukan oleh negara yang masih


menghadapi banyak masalah ekonomi seperti Indonesia. Beban hutang yang besar,
kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, serta stabilitas ekonomi yang rapuh serta
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas rendah membuat pemerintah menghadapi
tantangan besar dalam mengimplementasikan kebijakan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu kondisi keungan negara yang berat, hutang luar negeri yang besar, serta
fundamental ekonomi yang masih rapuh, disertai dengan kualitas pertumbuhan ekonomi
yang memburuk. Membuat Indonesia akan mudah terjebak memilih kebijakan ekonomi
yang cenderung menguntungkan dalam jangka pendek. Khususnya dengan
mengeksploitasi sumber daya alamnya, ataupun memberikan kelonggaran yang lebih
besar pada kegiatan ekonomi yang berpotensi merusak lingkungan baik dari industrialis
domestik ataupun asing. Pembangunan berkelanjutan menjadi semakin mahal untuk
diimplementasikan.

Kesimpulan

Masa depan kehidupan bangsa dan negara akan banyak sekali ditentukan oleh berbagai
pilihan kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada saat ini. Apalagi pemerintah juga
cenderung semakin liberal dalam melaksanakan kebijakan ekonominya. Sementara itu
tuntutan untuk membangun secara berkelanjutan juga semakin meningkat selaras dengan
semakin besarnya ongkos yang harus kita pikul dengan semakin rusaknya lingkungan
hidup, yang dapat dilihat dengan semakin banyaknya bencana alam yang merenggut
banyak nyawa dan material akhir-akhir ini. Oleh karena itu Indonesia tidak lagi dapat
mengabaikan pelestarian lingkungan hidupnya.

Trade off antara mengedepankan kepentingan jangka pendek (kepentingan generasi


sekarang) dengan kepentingan jangka panjang (kepentingan anak cucu kita) harus segera
diambil keputusannya. Sudah saatnya kita hidup bukan hanya untuk kepentingan jangka
pendek, namun harus memperhatikan kepentingan generasi mendatang yang akan hidup di
Indonesia. Oleh karena itu harus ada perubahan paradigma dalam pengelolaan ekonomi
agar supaya keputusan apapun yang diambil akan menggunakan perspektif jangka
panjang, mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu dalam
pembuatan kebijakan ekonomi harus menjaga lingkungan hidup serta mempertimbangan
aspek sosial masyarakat. Untuk itulah Indonesia sudah saatnya menyusun program
pembangunan berkelanjutan secara terintegral agar supaya lebih efektif dalam menjaga
lingkungan hidup kita. Namun demikian kebijakan dengan program yang baguspun
tidaklah dapat menjamin keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Banyak bukti
menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pembangunan berkelanjutan adalah
implementasi dari kebijakan yang diambil. Oleh karena itulah perlu disiapkan suatu
environment agar tujuan pembangunan berkelanjutan berhasil. Dalam hal ini kebijakan
ataupun program tersebut mesti mempertimbangkan baik dari sisi teknis, legal, fiskal,
administrasi, politik, etik dan budaya agar mudah diimplementasikan.

Referensi

Cooper, Phillip J. Dan Vargas, Claudia M., Implementing Sustainable Development from
Global Policy to Local Action, Rowman & Littlefield Publisher Inc., UK, 2004

Khor, Martin, "Globalization and the Crisis of Sustainable Development", Third World
Network.

Stiglitz, Joseph, Globalization and its Discontents, The Penguin Books, 2002)

World Economic Forum, World Investment Report 2005.

Disampaikan dalam Seminar llmiah Musyawarah Nasional I


Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia
Jakarta, 24 November 2007.
PEMBANGUNAN BERBASIS EKOSISTEM
Tuesday, 20 April 2010 13:15 | Written by Hafid Zain M | | |

Biodiversitas sebagai sebuah kekayaan alam

Keanekaragaman hayati Indonesia telah dinilai tinggi didunia. Menurut publikasi dari
Kementrian Lingkungan Hidup Indonesa, melalui buku Status Lingkungan Hidup
Indonesia, menyebutkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara megabiodiversity.
Sebagai negara megabiodiversity, keanekaragaman hayati Indonesia terdiri dari: mamalia
515 species (12 % dari jenis mamalia dunia), reptilia 511 jenis (7,3 % dari jenis reptilia
dunia), burung 1.531 jenis (17% dari jenis burung dunia), amphibi 270 jenis,
binatang tak bertulang belakang 2.827 jenis dan tumbuhan sebanyak ± 38.000 jenis, di
antaranya 1.260 jenis yang bernilai medis (Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008).

Berbagai biota yang menghuni alam indonesia ini saling berinteraksi membentuk
berbagai ekosistem yang memiliki sumberdaya alam tinggi sebagai modal dalam
pembangunan. Perlu dicermati, kekayaan biodiversitas yang telah membentuk suatu
ekosistem, sebenarnya cukup rapuh. Bentang alam indonesia dari pegunungan, lembah,
ngarai, pesisir, sampai dengan laut lepas menyimpan sumberdaya alam yang tidak
ternilai. Interaksi dari berbagai ekosistem tersebut secara harmoni telah memberikan
manfaat bagi manusia. Kompleksitas ekosistem tersebut berperan dalam bidang industri,
pertanian, perikanan, maupun perdagangan di Indonesia secara langsung maupun tidak
langsung. Kelangsungan suatu ekosistem sangat menentukan seberapa besar nilai
ekonomi yang mampu diberikan oleh alam kepada manusia.

Dari berbagai kajian dan penelitian yang telah dilakukan terkait natural resource
memberikan fakta menarik, bahwa alam memiliki suatu sistem yang dinamis dan menjadi
sumber utama yang diperlukan manusia dalam kehidupan. Keterkaitan dan
keberlangsungan sistem di alam tersebut memberikan aliran energi terhadap biota
didalamnya sebagai suatu bentuk dukungan alam terhadap proses kehidupan yang
berlangsung. Dukungan alam tersebut memiliki keterbatasan (Daya Dukung Lingkungan)
dan sangat tergantung oleh interaksi-interaksi berbagai komponen yang ada di dalamnya.
Keharmonisan hubungan tersebut didukung oleh tingkat biodiversitas yang memiliki
kerentanan tinggi terhadap faktor internal ekosistem dan faktor luar yang mendukung
bentuk ekosistem yang ada.

Secara empirik disebutkan bahwa pada jaman dahulu kehidupan manusia yang sangat
bergantung pada alam. Selanjutnya di era modern dan yaitu dari revolusi industri di
negara Eropa, para pakar telah menyatakan bahwa manusia telah dan mampu menguasai
alam. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia memang “bisa” menguasai alam, tetapi hal
tersebut hanya berlangsung pada beberapa aspek. Disadari atau tidak, sampai dengan saat
ini kehidupan manusia sangat tergantung kepada alam.

Ditinjau dari aspek yuridis upaya pemanfaatan dan pengelolaan kekayaan alam yang bisa
diartikan biodiversitas telah dilakukan di tingkat lokal (nasional) maupun global
(internasional). Peraturan perundangan yang mengatur sistem pengelolaan dan
pemanfaatan kekayaan alam dari jaman orde baru dan reformasi terus berkembang
dengan tujuan pelestarian yang menitikberatkan kepada kesejahteraan dan pembangunan
untuk rakyat melalui pemanfaatan kekayaan alam yang lestari. Dari keputusan menteri,
peraturan presiden, hingga tingkat Undang Undang, yang mana semuanya adalah produk
hukum terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia.
Selain produk hukum dalam negeri tersebut, upaya pemanfaatan dan pengelolaan
keakayaan alam juga telah disepakati di berbagai negara didunia melalui berbagai
konferensi tinggi tingkat dunia, satu diantaranya melahirkan MDG’s (Millenium
Development Goal’s) yaitu pada tujuan ke-7 Memastikan Kelestarian Lingkungan
Hidup).

Pembangunan sebagai manifestasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam

Manifestasi pemanfaatan dan pengelolaan kekayaan alam adalah dalam bentuk


pembangunan nasional yang disusun melalui RPJM dan RPJMD di masing-masing
daerah. Patut untuk dicermati, pembangunan yang telah berlangsung di berbagai pelosok
Indonesia dengan tujuan mensejahterakan kehidupan rakyat lebih beraroma eksploitasi
kekayaan alam tanpa batas. Pembangunan sendiri pada dasarnya dapat diartikan sebagai
suatu proses perubahan menuju perbaikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat baik
politik, ekonomi, teknologi, pranata hukum dan sosial budaya.

Berbagai pakar menilai salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah


peningkatan ekonomi masyarakat, tingkat inflasi, suku bunga, dan lain sebagainya, yang
menitik beratkan pada bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia saat ini
dinilai positif pada tahun 2009 yaitu sebesar 4,5%. Angka PDB per kapita diperkirakan
mencapai Rp24,3 juta (US$2.590,1) dengan laju peningkatan sebesar 12,0%
dibandingkan dengan PDB per kapita tahun 2008 yang sebesar Rp21,7 juta
(US$2.269,9). Sementara itu PNB per kapita juga meningkat dari Rp20,9 juta pada
tahun 2008 menjadi Rp23,4 juta pada tahun 2009 atau terjadi peningkatan sebesar
14,2% (Berita Resmi Statistik No.12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010). Hal itu salah
satunya disebabkan faktor tingkat konsumsi masyarakat dalam upaya pemenuhan
kebutuhan hidup. Tidak dapat dimengerti, hal tersebut adalah kebanggaan atau
sebaliknya. Tetapi, yang patut digaris bawahi adalah seiring peningkatan kebutuhan
masyarakat, tingkat eksploitasi kekayaan alam juga semakin meningkat. Pemerintahpun
juga terus menggenjot kegiatan pembangunan dalam upaya pemenuhan kebutuhan
masyarakat.

Fakta menyebutkan berbagai kerusakan alam indonesia telah telah mengiringi kegiatan
pembangunan indonesia di dasawarsa terakhir ini. Eksploitasi sumberdaya alam pesisir
telah merusak sekian juta ha hutan mangrove yang memiliki peran penting dalam
ekosistem pesisir. Penambangan-penambangan diberbagai daerah juga telah
menyebabkan ketidak harmonisan interaksi keanekaragaman hayati di ekosistem sungai
maupun hutan. Sistem pertanian yang ada juga telah menurunkan kestabilan ekosistem di
dataran rendah. Pembangunan perkebunan yang menghasilkan devisa negara cukup tinggi
disinyalir telah menurunkan tingkat keanekaragaman hayati di ekosistem hutan hujan
tropis. Sampai dengan bahasan ini dikatakan bahwa pembangunan yang telah dilakukan
belum mampu menjawab kebutuhan alam dan kebutuhan manusia yang sesungguhnya.

Komitmen pemerintah terhadap kebijakan pengelolaan lingkungan sebagai langkah


dan strategi pengendalian penurunan (degradasi) kualitas lingkungan yang
mendasarkan pada segitiga emas (golden triangle) : EKONOMI-EKOLOGI-
MASYARAKAT sudah mulai luntur sejak berbaliknya paradigma ”Ekosentrisme
menjadi antrophosentrisme”. Konsep pembangunan yang dipahami tidak berdasar
kepada ”pembangunan berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan berbasis
masyarakat”. Konsep pembangunan cenderung mengarah kepada ”pemenuhan
kebutuhan masyarakat”.

Pembangunan nasional berbasis ekosistem

“Alam memiliki keterbatasan untuk menunjang kehidupan manusia. Karenanya


menghargai integritas ekosistem dan menjamin keanekaragamannya merupakan
prasyarat untuk mendukung kelangsungan kehidupan manusia” (Status Lingkungan
Hidup Indonesia 2008). Pesan yang disampaikan tersebut berlaku universal dalam
berbagai aspek kehidupan. Utamanya dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup
manusia (pembangunan segala bidang).

Ekosistem sebagai sendi utama kehidupan di muka bumi harus menjadi salah satu dasar
pertimbangan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Meletakkannya dalam asas
tertinggi adalah suatu keharusan demi mewujudkan makna terdalam pemenuhan
kebutuhan manusia. Strategi pembangunan nasional bukan hanya Pekerjaan rumah
pemerintah berkuasa, namun menjadi kewajiban semua pihak, karena setiap manusia
hidup di alam dan tergantung terhadap substansi penting yang terkandung dalam alam itu
sendiri (Hafid@April 2010).
Lingkungan Hidup Dan Pembangunan
Berkelanjutan
Written by S.Budhisantosa - Puslit Pranata Pembangunan UI
Tuesday, 21 July 2009 08:58
Keberhasilan manusia mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupannya
sebagai makhluk yang tertinggi derajadnya di muka bumi (khalifah) adalah berkat
kemampuannya beradaptasi terhadap lingkungan hidupnya secara aktif. Sungguhpun
manusia merupakan makhluk lingkungan (territorial being) yang tidak mungkin
dipisahkan dari lingkungan hidupnya sebagai tempat bermukim, manusia tidak
menggantungkan dirinya pada kemurahan lingkungan semata-mata. Sejak terusir dari
Secara simbolik, sejak meninggalkan Taman Firdaus yang segala kebutuhan hidupnya
serba ada dan dalam jumlah serba banyak untuk menjamin hidupnya, terpaksa harus
bekerja keras dengan menguasai alam semesta beserta segala isinya.

Jelaslah bahwa kisah kejadian tentang asal-usul manusia pertama, yaitu Adam dan Siti
Hawa, mengandung pengertian bahwa manusia harus mengembangkan diri untuk
mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan sebagai manusia dengan
menguasai jagad raya beserta isinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejak hidup di
bumi manusia harus mengembangkan peralatan dan cara pengendaliannya untuk
membangun lingkungan hidup yang layak bagi kemanusiaan dan memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan mengelola lingkungannya serta mengolah sumberdaya alam yang
tersedia. Pernyataan poluler tentang usaha manusia membina hubungan secara aktif dan
timbal balik seorang pelopor Antropologi kenamaan Gordon Childe diabadikan dalam
bukunya tentang sejarah peradaban manusia Man Makes Himself (19..).
Berkat kemampuan akal dan ketrampilan kerja kedua tangannya, manusia dapat
memahami lingkungannya dan menghimpun pengalaman sebagai pengetahuan dan
menciptakan peralatan sebagai penyambung keterbatasan jasmaninya. Keunggulan
manusia berfikir secara metaforik dan kemampuan kerja dengan menggunakan peralatan
itu, manusia dapat menghimpun pengalaman, mengembangkan pengalaman dan
kemampuan menguasai bumi dengan segala isinya. Akhirnya manusia menjadi makhluk
pemangsa yang terbesar di muka bumi. Manusia dapat melaksanakan perintah sang
Pencipta untuk menguasai ikan di lautan, menguasai segala binatang yang hidup di
daratan maupun burung-burung yang berterbangan di langit, untuk mengembangkan
keturunan dan memenuhi bumi. Karena itulah manusia berhasil menghantar dirinya
sebagai khalifah di muka bumi dan hidup tersebar luas di muka bumi.

Sungguhpun keunggulan manusia telah membuka peluang untuk menguasai bumi dengan
segala isinya dan dapat mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan di
manapun ia suka, tidaklah berarti bahwa kekuasaan manusia itu tanpa mengenal batas.
Dengan peralatan di tangan sejak zaman batu tua (palaeolithicum) hingga masa industri
yang didominasi dengan penerapan teknologi modern, manusia senantiasa mengalami
sejarah kemajuan dan kemerosotan menuju ke peradaban. Dengan peralatan batu yang
sederhana, manusia dengan lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meramu
dan berburu binatang liar. Kemudahan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup itu berhasil
meningkatkan kesejahteraan yang diikuti dengan meningkatnya kebutuhan hidup dalam
jumlah, ragam dan mutunya. Dengan demikian manusia dipacu untuk meningkatkan
intensitas pengolahan sumberdaya alam yang tersedia dan pada gilirannya menimbulkan
dampak pada lingkungan hidup mereka. Kemajuan peradaban berkat kemampuan manusia
menguasai lingkungannya itu telah menimbulkan dampak pada hubungan timbal balik
antara manusia dengan lingkungannya.

Intensitas pengolahan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bertambah


besar jumlahnya, ragam dan mutunya itu telah mempercepat proses pemiskinan ataupun
sekurang-kurangnya mengganggu keseimbangan fungsi lingkungan hidup setempat.
Akibatnya pemenuhan kebutuhan hidup penduduk setempatpun menjadi sulit sehingga
mengancam kesejahteraan hidup mereka. Kesulitan itu mendorong manusia untuk
kembali mengembangkan teknologi pengolahan sumberdaya alam, sebagaimana tercermin
dalam peninggalan sisa-sisa peralatan pada zaman batu muda, yang mempermudah
manusia mengolah sumberdaya alam. Selanjutnya manusia mampu mengembangkan
peradaban yang lebih kompleks dengan munculnya kota sebagai pusat kekuasaan dengan
penduduk yang tidak harus secara langsung mengolah sumberdaya alam untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya berkat kemampuan penduduk pedesaan menghasilkan surplus.

Jelaslah bahwa sejarah peradaban manusia senantiasa mengalami pasang-surut karena


ulahnya sebagai khalifah di muka bumi. Namun kekuasaan manusia itu ada batasnya,
karena apapun yang dilakukan terhadap lingkungannya akan menimbulkan dampak timbal
balik yang tidak terelakan. Peningkatan intensitas pengolahan sumberdaya alam akan
mempercepat pengurasan persediaan yang pada gilirannya akan mengancam
kesejahteraan penduduk. Akan tetapi dengan keunggulannya, manusia mampu mengatasi
keterbatasan itu dengan mengembangkan teknologi dan cara-cara pengendaliannya, untuk
meningkatkan efisiensi dan produksivitas kerja mereka tanpa menghacurkan pola-pola
hubungan timbal balik dengan lingkungannya (M.Harris, 19) secara selaras, serasi dan
berkeseimbangan. Dengan mengacu pada kearifan lingkungan (ecological wisdom) yang
dikembangkan dari abstraksi pengalaman masa lampau dan digunakan untuk membina
hubungan dengan lingkungannya secara timbal balik (adaptation), manusia mampu
merawat keseimbangan fungsi lingkungan hidupnya (ecological equilibrium).

Namun dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia karena pertambahan jumlah


penduduk dunia serta meningkatnya kesejahteraan hidup yang disertai meningkatnya
kebutuhan hidup manusia di satu pihak, dan kemapuan teknologi modern yang
mempermudah manusia mengolah sumberdaya alam yang terbatas, seringkali kearifan
lingkungan (ecological wisdom) yang mereka kembangkan sebagai kendali terlupakan.
Pengolahan sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan yang sehat diabaikan demi
terpenuhinya kebutuhan hidup manusia yang cenderung terus meningkat dalam jumlah,
ragam dan mutunya. Pesatnya kemajuan teknologi modern tidak secara berimbang diikuti
dengan perkembangan pranata sosial sebagai kendali. Kesenjangan antara kemajuan
teknologi modern dengan perkembangan pranata sosial sebagai kendali (culture lag)
dalam sejarah peradaban manusia itu menjadi sumber bencana yang merusak
keseimbangan lingkungan hidup (ecological equilibrium). Namun demikian manusia tidak
pernah mengenal menyerah. Keberlanjutan hubungan antar manusia dengan
lingkungannya secara berkelanjutan (sustainable adaptation) harus tetap dirawat di era
pembangunan yang mendorong manusia untuk meningkatkan intensitas pengolahan
sumberdaya dan pengelolaan lingkungan hidup yang sehat demi peningkatan
kesejahteraan umum.

PEMBANGUNAN

Apapun makna yang diberikan, pada hakekatnya "pembangunan" itu mengandung


implikasi perubahan yang direncanakan. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan umum
dalam kurun waktu tertentu, tidak ada jalan lain kecuali dilakukan dengan penerapan
teknologi maju yang dapat memperlancar pencapaian sasaran. Sementara itu, setiap
penerapan teknologi baru, khususnya yang digunakan untuk memacu perkembangan
ekonomi, betapapun sederhananya, akan senantiasa memicu serangkaian perubahan pada
sistem produksi, distribusi dan konsumsi yang berdampak luas pada tatanan kehidupan
sosial-budaya masyarakat yang bersangkutan. Di lain pihak, peningkatan produksi barang
kebutuhan hidup dengan mengolah sumberdaya alam secara lebih intensif, akan
mempengaruhi pola-pola hubungan antar manusia dengan lingkungannya.

Pengalaman penerapan teknologi maju di benua lama untuk mengembankan industri pada
awal abad XIX telah membuktikan betapa hubungan antar manusia dan lingkungan
hidupnya kehilangan keseimbangan. Dalam tempo yang relatif singkat hutan-hutan
setempat tidak dapat menghasilkan cukup banyak kayu yang diperlukan untuk
pembangunan. Demikian juga binatang liar tidak lagi dapat diharapkan menghasilkan
kulit berbulu tebal. Selama kurun waktu 50 tahun (1850-1900) tercatatat lebih dari 35 juta
penduduk Eropa terpaksa mengungsi ke luar untuk mencari penghidupan di daerah koloni.

Pengalaman di Eropa itu berulang di kebanyakan negara yang sedang berkembang dewasa
ini, termasuk Indonesia. Setelah selesai dengan "revolusi integratif" yang mempersatukan
bangsa (C.Geertz, 1966) di bawah kepemimpinan Bung Karno, pemerintahan Orde Baru
melanjutkan dengan "revolusi pembangunan". Pembangunan nasional diselenggarakan
dengan percepatan pada pertumbuhan ekonomi yang ditopang dengan penerapan
teknologi maju serta stabilitas nasional sebagai persyaratan.
Percepatan pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang tidak ditopang dengan
perkembangan pranata sosial yang diperlukan ternyata tidak berhasil memacu
perkembangan ekonomi (economic development) yang berakar kuat dalam tatanan
kehidupan masyarakat. Masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih didominasi
tradisi agraris yang bertumpu pada ekonomi subsistensi yang penuh keseimbangan
(equilibrious society) harus dengan masyarakat industri yang bertumpu pada ekonomi
pasar (market oriented economy) yang mengejar keuntungan materi. Dalam keadaan
sedemikian itu pertumbuhan ekonomi hanya di nikmati oleh segolongan kecil masyarakat
yang telah siap memanfaatkan peluang dalam pembangunan. Akibatnya masyarakat
Indonesia mengalami pergeaseran dari masyarakat yang berkesenangan (equilibrious
society) ke arah masyarakat yang berkesenjangan sosial (disequilibrious society) dengan
segala implikasi sosial, politik dan keamanan.

Sementara itu penerapan teknologi modern yang cenderung lebih exploitatif dan expansif
penerapannya untuk mengimbangi besarnya biaya yang diperlukan telah berlangsung
tanpa kendali yang efektif. Akibatnya pengurasan sumberdaya alam berlangsung secara
besar-besaran tanpa mengindahkan keseimbangan fungsi lingkungan. Kenyataan tersebut
telah menyisihkan sebagian masyarakat dari sumberdaya alam yang selama ini mereka
rawat secara berkelanjutan, karena mereka tidak mampu bersaing tanpa perlindungan
dengan pihak "luar" yang memiliki berbagai keunggulan. Akibatnya bukan hanya
kesenjangan sosial bertambah lebar dan dalam, melainkan juga rusaknya keseimbangan
fungsi lingkungan.

Persaingan yang tidak sehat di kalangan masyarakat untuk memperebutkan sumberdaya


alam dan lingkungan yang sehat tanpa perlindungan yang tegas telah memicu pertikaian
sosial yang seringkali disertai kekerasan (violent conflict) yang dihadapi masyarakat
Indonesia dewasa ini.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Mengingat kenyataan tersebut, model pembanguinan nasional harus diubah, bukan lagi
trilogi, melainkan pancalogi dengan menambahkan prinsip sosial dan ekologi.
Pembangunan nasional yang diharapkan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi
menjadi perkembangan ekonomi yang kuat berakar dalam kehidupan masyarakat harus
ditopang dengan pengembangan pranata sosial secara memadai. Dengan lain perkataan,
sejalan dengan usaha pembangunan sektor ekonomi harus diimbangi dengan usaha
memberdayakan masyarakat agar dapat mengambil bagian secara menguntungkan.
Pemberdayaan itu tidak sebatas pada pembekalan ketrampilan dan keahlian, melainkan
juga kondisi lingkungan sosial yang menjamin kebebasan penduduk untuk menentukan
pilihan hidupnya (cultural freedom), keadilan sosial dan demokrasi politik. Tanpa ke 3
persyaratan itu, masyarakat luas tidak akan mampu ikut mengambil bagian secara
menguntungkan, karena sebagian besar dari mereka itu masih didominasi tradisi agraris
masing-masing.

Dengan ke 3 persyaratan tersebut, masyarakat akan merasa aman dalam usahanya karena
perlindungan atas hak asazi mereka sebagai manusia serta perlindungan atas lingkungan
hidup tempat mereka bermukim dan mengembangkan kebudayaan masing-masing.
Sungguhpun tidak mungkin lagi bagi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan akan
lingkungan hidup dengan ke 5 fungsi sosial secara penuh. Setidak-tidaknya ada jaminan
bagi mereka untuk mendapatkan menciptakan lingkungan yang aman, terjamin sumber
pencaharian atau makanannya, tersedia tempat mengembangkan keturunan secara aktif,
terawatnya sarana integrasi sosial dan arena tempat aktualisasi diri bagi warganya dan
kebutuhan akan keamanan. Terpenuhinya jaminan tersebut juga akan memperkuat
kesadaran penduduk untuk mengelola lingkungan hidupnya dan mengolah
sumberdayanya secara berkelanjutan demi pelestarian fungsi lingkungannya secara
menyeluruh.

Sementara itu perhatian terhadap ekologi dalam pembangunan diperluka sebagai kendali
atas pengelolaan lingkungan dan pengolahan sumberdaya alam yang semakin langka
(Environment scarcity). Pertiakaian antar bangsa dan bahkan antar kelompok sosial dalam
lingkungan masyarakat bangsa yang lebih luas dewasa ini, pada hakekatnya berawal pada
perebutan penguasaan sumberdaya dan lingkungan yang terasa semakin langka.
Dalam memperebutkan lingkungan dan sumberdaya alam yang semakin langka itu,
manusia tidak segan-segan menggunakan kekerasan dengan berbagai macam dalih dan
seringkali juga mengaktifkan simbol-simbol ikatan primordial kesukubangsaan,
kebangsaan dan keagamaan ataupun ideologi politik. Karena itu, pembangunan yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umum jangan sampai sebaliknya
menimbulkan kesengsaraan umum. Pembangunan, karena itu bukan semata-mata sekedar
untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, melainkan juga harus mampu memacu
perkembangan sosial-budaya dan melestarikan fungsi lingkungan sebagai tempat manusia
mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Manusia sebagai makhluk lingkungan (territorial being), tidak mungkin dipisahkan dari
lingkungannya dan tidak mungkin merusak lingkungannya untuk kepentingan sejenak
atau bagi generasinya. Semata. Manusia mempunyai tanggungjawab melestarikan fungsi
lingkungan bagi generasi penerus mereka. Apa yang mereka perlukan adalah pengaturan
yang disepakati bersama untuk melestarikan ke 5 fungsi sosial lingkungannya.
Masalahnya siapa yang akan mengambil prakarsa untuk memulainya secara perorangan
maupun kolektif.

Ekonomi
Berbagai Hambatan dalam Penerapan Kebijakan Moneter Inflation
Targeting

I. PENDAHULUAN

Sebagaimana diketahui bahwa negara Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang
berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Tingginya tingkat krisis yang dialami negri kita ini
diindikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak atas inflasi, terjadi
penurunan tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang dilarikan ke luar
negeri, serta terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan untuk
terus berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu kebijakan dalam
mengatasinya.

Kebijakan moneter dengan menerapkan target inflasi yang diambil oleh pemerintah
mencerminkan arah ke sistem pasar. Artinya, orientasi pemerintah dalam mengelola
perekonomian telah bergeser ke arah makin kecilnya peran pemerintah. Tujuan pembangunan
bukan lagi semata-mata pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi lebih kepada pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan.

Penerapan kebijakan moneter dengan menggunakan target inflasi (inflation targeting) ini
diharapkan dapat menciptakan fundamental ekonomi makro yang kuat. Makalah ini akan
membahas berbagai hal yang berkaitan dengan target inflasi, yang meliputi pengertian, evolusi
teori, prasyarat, karakteristik dan elemen target inflasi. Agar dapat mengetahui dengan jelas
kondisi ekonomi nasional Indonesia hingga tahun 2000 ini, maka dalam pembahasan juga
dipaparkan tentang perkembangan ekonomi makro Indonesia.

II. PEMBAHASAN

1. Perkembangan Ekonomi Makro di Indonesia Sejak Tahun 1980-an.

Program pembangunan bidang ekonomi di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1970-an
dan menunjukkan perkembangan yang pesat sejak tahun 1980-an. Pada masa itu pemerintah
memberikan banyak kemudahan bagi para investor yang akan berinvestasi di bidang keuangan
dan perbankan. Hingga pertengahan tahun 1990-an perekonomian Indonesia terlihat semakin
kuat dan mulai terpandang di dunia internasional. Dalam artikel ini akan dibahas perkembangan
ekonomi di Indonesia saat mulai berkembang tahun 1980-an hingga terjadinya krisis moneter
pada tahun 1997.

2. Perkembangan Moneter Perbankan.

Krisis moneter di Indonesia telah memporak-porandakan sektor keuangan yang


sebelumnya tengah berkembang pesat sejak tahun 1980-an. Dalam upaya pemulihan sektor
keuangan Indonesia, telah dilakukan restrukturisasi sistem moneter sejak tahun 1998. Bentuk
nyata restrukturisasi dilakukan dengan cara menyehatkan bank dan memberikan independensi
kepada Bank Sentral. Meski telah menelan banyak biaya dan telah dilaksanakan lebih dari tiga
tahun, namun proses penyehatan sistem moneter belum menunjukkan tanda-tanda akan
berakhir.

3. Kebijakan Moneter

Kondisi ekonomi negara Indonesia pada masa orde baru sudah pernah memanas. Pada
saat itu pemerintah melakukan kebijakan moneter berupa contractionary monetary policy dan
vice versa. Kebijakan tersebut cukup efektif dalam menjaga stabilisasi ekonomi dan ongkos yang
harus dibayar relatif murah. Kebijakan moneter yang ditempuh saat ini berupa open market
operation memerlukan ongkos yang mahal. Kondisi ini diperparah dengan adanya kendala yang
lebih besar, yaitu pengaruh pasar keuangan internasional.

4. Kebijakan Fiskal.

Berdasarkan AD/ART pemerintah negara Indonesia, sebagaimana yang dipublikasikan


oleh BI, untuk semester pertama tahun anggaran 2000 terlihat bahwa telah terjadi defisit
anggaran yang disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk subsidi dan pembayaran bunga
hutang. Meski sebenarnya terjadi peningkatan penerimaan, namun ternyata besarnya
peningkatan penerimaan masih jauh lebih rendah dibanding peningkatan pengeluaran.

Dominasi kebijakan moneter dibanding kebijakan fiskal dan deregulasi sektor riil
menyebabkan terjadinya kebijakan makro ekonomi yang tidak seimbang.

5 Prospek Ekonomi Jangka Pendek.

Ditinjau dari aspek ekonomi makro, kinerja perekonomian bukan hanya dipengaruhi oleh
faktor-faktor internal, namun juga dari faktor eksternal. Kondisi ekonomi sangat dipengaruhi oleh
kondisi politik dan keamanan dalam negeri. Untuk beberapa tahun ke depan, kegiatan ekonomi
Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan, dengan asumsi kondisi politik dan
keamanan stabil. Peningkatan pertumbuhan ekonomi bertumpu pada kenaikan ekspor yang
dewasa ini mulai membaik kembali.
6 Target Inflasi.

Pengertian.

Ada berbagai kebijakan yang biasa dipergunakan oleh pemerintah dalam menangani
permasalahan ekonomi, misalnya kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Target inflasi
merupakan salah satu bentuk kebijakan moneter yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia
dalam upaya pemulihan kondisi ekonomi nasional. Dalam hal ini Bank Indonesia selaku bank
sentral menetapkan target laju inflasi untuk periode jangka waktu tertentu. Dengan demikian,
kebijakan target inflasi lebih berorientasi ke depan (forward looking) dibanding kebijakan-
kebijakan moneter sebelumnya (yang oleh BI disebut juga kebijakan konvensional).

Tidak seperti halnya kebijakan moneter konvensional yang senantiasa mempergunakan


target antara besaran moneter, dalam target inflasi diperggunakan proyeksi inflasi. Kalaupun
harus mempergunakan target antara, biasanya akan digunakan tingkat bunga jangka pendek.

Evolusi Teori.

Inflasi sebagai sasaran utama dan indepensi bank sentral sebagai pengendali inflasi
merupakan landasan dari target inflasi. Konsep target inflasi ini merupakan produk dari evolusi
teori moneter dan akumulasi pengalaman empiris. Teori-teori moneter yang memberikan
kontribusi bagi pematangan konsep ini meliputi teori klasik hingga teori modern, antara lain:

• Teori Klasik >< Teori Keynes.

Menurut teori Klasik, kebijakan moneter tidak berpengaruh terhadap sektor riil. Sedangkan
menurut teori Keynes, sektor moneter dan sektor riil saling terkait melalui suku bunga.
Berdasarkan perkembangan teori dan pengalaman empirik, disimpulkan bahwa dalam jangka
panjang teori yang sesuai untuk dipergunakan adalah teori Klasik, sedangkan dalam jangka
pendek teori Keynes lebih tepat. Kebijakan moneter hanya mempunyai dampak permanen pada
tingkat harga umum (inflasi). Dengan kata lain bahwa pembenahan sektor ekonomi dapat
dilakukan dengan cara pengendalian inflasi.

• Teori klasik modern >< Teori Keynes.

Salah satu penganut teori klasik modern, Milton Friedman, mengemukakan bahwa
kebijakan rule lebih baik dibanding discretion. Pendapat tersebut bertolak belakang dengan teori
Keynes. Kemudian, untuk menentukan pilihan atas rule vs discretion, target inflasi menawarkan
suatu framework yang mengkombinasikan keduanya secara sistematis, yang disebut dengan
constrained discretion. Karena pada dasarnya, dalam praktik kebijakan moneter tidak ada yang
murni rules ataupun murni discretion.

• Teori kuantitas >< Teori Keynes.

Teori Keynes mempergunakan tingkat bunga sebagai sasaran antara, sedangkan dalam
teori kuantitas digunakan jumlah uang beredar. Penggunaan sasaran antara, baik berupa tingkat
bunga maupun kuantitas uang, akan menyebabkan pembatasan diri terhadap informasi. Guna
menghindarkan polemik ini, kebijakan target inflasi menentukan inflasi sebagai sasaran akhir.
Dengan demikian target inflasi menggunakan mekanisme transmisi yang relevan, tidak harus
tingkat bunga ataupun kuantitas uang. Dengan mengambil inflasi sebagai sasaran akhir, otoritas
moneter dapat lebih bebas dan lebih fleksibel dalam menggunakan semua data dan informasi
yang tersedia untuk mencapai sasaran, karena inflasi dipengaruhi bukan hanya oleh satu faktor.

• Teori rational expectations.

Teori rational expectations menyebutkan bahwa faktor ekspektasi mempunyai peran


penting, karena mempengaruhi perilaku dan reaksi para pelaku ekonomi terhadap suatu
kebijakan. Kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi output dalam jangka pendek,
karena setelah ekspektasi masyarakat berperan, output akan kembali seperti semula.
Ekspektasi masyarakat inilah yang menjadi kunci keberhasilan yang harus dapat
dikendalikan. Dengan penerapan target inflasi dalam kebijakan moneter, diharapkan dapat
menjadi anchor bagi ekspektasi masyarakat.

• Teori moneter modern.

Dalam perkembangan selanjutnya, teori moneter modern memasukkan aspek


kredibilitas yang bersumber dari masalah time inconsistency. Artinya bahwa inkonsistensi
dalam kebijakan moneter dapat terjadi apabila otoritas moneter terpaksa harus
mengorbankan sasaran jangka panjang (inflasi) demi mencapai sasaran lain dalam jangka
pendek. Agar hal ini tidak terjadi, maka pengendalian inflasi harus menjadi sasaran tunggal,
atau setidaknya menjadi sasaran utama. Menetapkan inflasi sebagai sasaran utama berarti
menghindarkan diri dari inkonsistensi kebijakan.

7 Prasyarat.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kebijakan moneter dapat mencapai
keberhasilan dalam pelaksanaannya. Prasyarat tersebut meliputi:

- Indepensi Bank Sentral.


Sebenarnya tak ada Bank Sentral yang bisa bersifat benar-benar independen
tanpa campur tangan dari pemerintah. Namun demikian, ada instrumen
kebijakan yang tidak dipengaruhi oleh pemerintah, misalnya melalui kebijakan
fiskal.

- Fokus terhadap sasaran.

Pengendalian inflasi hanyalah salah satu di antara beberapa sasaran lain yang
hendak dicapai oleh Bank Sentral. Sasaran-sasaran lain kadang-kadang
bertentangan dengan sasaran pengendalian inflasi, misalnya sasaran
pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, neraca pembayaran, dan kurs. Oleh
karena itu, seharusnya bank Sentral tidak menetapkan sasaran lain dan berfokus
pada sasaran utama pengendalian inflasi.

- Capacity to forecast inflation.

Bank Sentral mutlak harus mempunyai kemampuan untuk memprediksi inflasi


secara akurat, sehingga dapat menetapkan target inflasi yang hendak dicapai.

- Pengawasan instrumen

Bank Sentral harus memiliki kemampuan untuk mengawasi instrumen-instrumen


kebijakan moneter.

- Pelaksanaan secara konsisten dan transparan.

Dengan pelaksanaan target inflasi secara konsisten dan transparan, maka


kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan yang ditetapkan semakin
meningkat.

- Fleksibel sekaligus kredibel

Biasanya, kebijakan yang fleksibel akan cenderung kurang kredibel dan hal itu
merupakan dilema dalam penentuan kebijakan. Aturan Taylor (Taylor’s rule)
dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk mengatasi dilema tersebut.

8 Karakteristik.

Dalam mengatur/menggunakan instrumen, kebijakan target inflasi ini lebih berwawasan ke


depan. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya, yaitu:

a. Dalam kebijakan ini target dan indikator inflasi ditentukan terlebih dahulu dan
dipergunakan sebagai pegangan dalam pelaksanaan kebijakan moneter.

b. Dalam kebijakan ini juga dibuat prediksi inflasi di masa yang akan datang. Prediksi
dilakukan dengan mempergunakan data besaran moneter, tingkat bunga, kurs, harga
aset, harga barang industri dan sebagainya.

c. Melakukan review terhadap kinerja kebijakan moneter. Hasil tinjauan tersebut dapat
dipergunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja selanjutnya.

9 Elemen-elemen.

Berdasarkan teori dan penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa elemen-elemen dalam
target inflasi terdiri atas:

a. Sasaran target inflasi.

Sasaran utama dalam kebijakan target inflasi adalah pengendalian inflasi. Kalau ada
sasaran-sasaran lain di samping sasaran ini, maka sasaran yang lain harus tunduk pada
sasaran utama.

b. Laporan pelaksanaan

Mestinya, publik perlu untuk mengetahui sasaran kebijakan ini. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka hasil yang telah dicapai oleh kebijakan ini harus dimonitor, dilaporkan dan
diumumkan secara periodik. Ini penting bagi publik agar dapat mengukur keberhasilan
kebijakan ini, karena akan berpengaruh terhadap ekspektasi masyarakat.

c. Independensi

Dengan adanya independensi dalam menentukan kebijakan, maka peluang tercapainya


sasaran akan lebih maksimal.

d. Komunikasi

Dalam pelaksanaan kebijakan ini perlu adanya komunikasi yang efektif terhadap publik
tentang cara-cara pencapaian sasaran inflasi dan mekanisme transmisi yang jelas.

e. Data dan informasi

Data dan informasi yang relevan, terbaru dan lengkap diperlukan untuk melakukan analisis
kebijakan yang prima.

10 Prospek.

Kebijakan target inflasi ini telah dilaksanakan di negara-negara Selandia Baru, Kanada,
Inggris, Finlandia, Swedia, Australia, Spanyol, Korea dan Filipina. Negara-negara tersebut
mendapatkan keberhasilan dalam menekan laju inflasi dengan penerapan kebijakan ini.

Seperti halnya Indonesia, negara-negara tersebut sebelumnya juga mempergunakan


kebijakan moneter dengan target antara. Karena adanya kesamaan permasalahan dan latar
belakang, maka diharapkan pelaksanaan target inflasi di negara kita juga akan dapat menuai
keberhasilan.

11 Berbagai Hambatan Dalam Pelaksanaan Targat Inflasi.

Meski kebijakan target inflasi ini cukup menjanjikan, namun sebenarnya terdapat banyak
hambatan yang berkaitan dengan banyaknya prasyarat yang harus dipenuhi dalam
pelaksanaannya di Indonesia. Ditambah dengan adanya faktor lain yang juga menjadi kendala
dalam pemberlakuan kebijakan ini. Secara singkat, hambatan-hambatan dapat dijelaskan
sebagai berikut:

- Hambatan dalam menciptakan independensi

- Sulitnya menciptakan independensi bank sentral, karena hingga saat ini sistem
pemerintahan Indonesia tidak memungkinkan untuk memberikan kewenangan
penuh terhadap suatu lembaga/otoritas dalam menjalankan fungsi pengawasan
instrumen keuangan. Dengan kata lain bahwa pemerintah tidak dapat benar-
benar tidak turun campur tangan dalam urusan lembaga pengawas, meski
lembaga tersebut disebut lembaga independen. Para pejabat dalam lembaga
tersebut digaji oleh pemerintah, yang berarti loyalitas mereka terhadap
pemerintah tak diragukan lagi. Hal ini jelas-jelas menyebabkan fungsi
pengawasan tak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

- Hambatan dalam memprediksi inflasi.

- Kemampuan untuk memprediksi inflasi merupakan kunci utama dalam


pelaksanaan kebijakan target inflasi. Kemungkinan besar, peramalan inflasi di
Indonesia akan sulit dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan kondisi politik dan
keamanan yang boleh dikatakan tidak menentu akhir-akhir ini. Padahal, stabilitas
nasional sangat berperan dalam menentukan kondisi ekonomi suatu negara.
Untuk saat ini, para investor masih beranggapan bahwa negara kita tidak cukup
kondusif bagi investasi. Isu-isu seputar politik dan keamanan daerah sudah
rawan untuk memporak-porandakan perekonomian nasional. Jika stabilitas
belum tercapai, mustahil dapat memprediksi dengan cermat.

- Hambatan dalam mewujudkan kebijakan secara konsisten dan transparan.

- Pelaksanaan kebijakan target inflasi secara konsisten dan transparan juga akan
sulit terwujud. Tingkat korupsi di Indonesia yang sedemikian tinggi akan
mempersulit pemerintah dalam meraih kepercayaan dari masyarakat. Juga
maraknya praktik kolusi yang menyebabkan sikap masyarakat semakin apatis
dan enggan berpartisipasi dalam pelaksanaan pemulihan krisis ekonomi.
Kebijakan target inflasi belum tentu didukung oleh masyarakat, kecuali apabila
lembaga pelaksana kebijakan ini dapat meyakinkan masyarakat bahwa
aparaturnya negara bersih dan bebas korupsi.

- Hambatan dalam mewujudkan kebijakan secara fleksibel dan kredibel.

- Menjalankan kebijakan secara fleksibel sekaligus kredibel juga bukan


merupakan pekerjaan yang mudah. Jika kebijakan diberlakukan secara lentur,
maka akan membuka kesempatan korupsi dan kolusi, sehingga menyebabkan
incredible. Demikian juga sebaliknya, apabila kebijakan ini lebih berfokus pada
kredibilitas, maka akan timbul sifat inflexible.
- Tingkat keparahan krisis.

- Faktor lain adalah tingkat keparahan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia
sudah tergolong akut, sehingga penanganannya juga lebih sulit dibanding
negara-negara lain. Mungkin kebijakan target inflasi ini berhasil diberlakukan di
negara-negara lain, namun belum tentu akan sesuai diberlakukan di Indonesia.

III. KESIMPULAN

- Kondisi perekonomian Indonesia yang terpuruk akibat krisis memerlukan upaya pemulihan
dengan menggunakan kebijakan moneter. Kebijakan yang diterapkan berupa inflation
targeting yang telah berhasil mengentaskan problem inflasi di berbagai negara di dunia.

- Target inflasi dicetuskan dari perkembangan evolusi teori-teori ekonomi dan dalam
pelaksanaannya ditentukan oleh kondisi suatu negara dengan prasyarat-prasyarat untuk
keberhasilan sistem ini.

- Bank Indonesia sebagai otoritas moneter diharapkan dapat mengembangkan kebijakan


yang secara efektif dapat memulihkan stabilisasi ekonomi jangka pendek dan pertumbuhan
ekonomi yang tinggi berkelanjutan, dengan ongkos yang minimal.

- Pemulihan kondisi ekonomi yang stabil bukan hanya ditentukan oleh faktor internal, namun
juga faktor eksternal, misalnya kondisi politik dan keamanan negara.

- Target inflasi nampaknya akan sulit untuk diberlakukan sebagai salah satu kebijakan
moneter di Indonesia, mengingat berbagai hambatan yang harus dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA :

- Adiningsih, Sri. 2000. "Perkembangan Moneter Perbankan Indonesia". Makalah Seminar


Sehari Kerjasama FE UGM dengan BI, MM UGM, 29 September.

- Bernanke, B. and Mihov. 1997. "What Does the Bundesbank Target?" European Economic
Review.

- Boediono. 2000. "Inflation Targeting". Makalah Seminar Sehari Kerjasama FE UGM dengan
BI, MM UGM, 29 September.

- Fischer, Stanley. 1993. "The Role of Macroeconomic Factors in Growth". Journal of


Monetary Economics.

- Goeltom, Miranda S. 2000. "Perkembangan Ekonomi Makro Indonesia". Makalah Seminar


Sehari Kerjasama FE UGM dengan BI, MM UGM, 29 September.

- Mishkin, F.S. 1999. "International Experience with Different Monetary Policy Regimes".
Journal of Monetary Economics.

- Nopirin. 2000. "Kebijakan Moneter Dengan Target Inflasi". Makalah Seminar Sehari
Kerjasama FE UGM dengan BI, MM UGM, 29 September.

- Saudagaran, S.M. and Diga, J.G. 2000. "The Institutional Environment of Financial Reporting
Regulation in ASEAN". The International Journal of Accounting.

Oleh: Seruni Sutanto, Dosen STIE Widya Manggala Semarang

Sumber: http://www.stie-stikubank.ac.id/webjurnal
Senin Paing, 28 Agustus 2006

Artikel

Pola pembangunan konvensional harus segera ditinggalkan. Jika tidak segera mengubah haluan,
dampak negatif pada ketimpangan kehidupan dan lingkungan akan semakin menjadi-jadi.

---------------------

"Pseudo Growth" dan Pembangunan Berkelanjutan


Oleh Dr. IB Raka Suardana, S.E., M.M.

KERUSAKAN lingkungan Pulau Bali akibat eksploitasi berlebihan, dan berkembangnya usaha
yang mencemari lingkungan, mau tak mau harus disikapi dengan tindakan yang lebih aktif
melalui penyikapan bersama dalam menciptakan sinergi dan jejaring di antara semua
pemangku kepentingan (stakeholders).

---------------------------

Selama ini pembangunan sepertinya hanyalah mengejar pertumbuhan ekonomi, yang diukur
dengan produk domestik bruto (PDB) di tingkat nasional dan produk domestik regional bruto
(PDRB) di level lokal (propinsi dan kabupaten/kota). Jika PDB/PDRB meningkat, maka
pertumbuhan ekonomi tentu meningkat pula, yang dianggap merupakan ''prestasi'' pemimpin
nasional/lokal. Padahal dalam mencapai PDB/PDRB itu, kemajuan pembangunan masih berbasis
pada pembangunan yang bersifat konvensional. Dalam pembangunan konvensional,
keberhasilan menaikkan produksi barang dan jasa secara melimpah (yang merupakan unsur
PDB/PDRB), tidak mengakomodasi aspek lingkungan. Pembangunan sosial juga tersingkirkan,
terutama yang menyangkut kepentingan kelompok miskin. Banyak bukti untuk kasus ini, di
mana rakyat miskin selalu termarginalkan dalam setiap pembangunan.

Kinerja ekonomi dalam pembangunan konvensional seperti itu jelas mengarah kepada
pertumbuhan semu atau dikenal dengan istilah pseudo growth. Pseudo dalam dictionary berarti
palsu atau pura-pura, dan dalam kamus bahasa Indonesia berarti tidak asli dan tidak sah. Dalam
mengukur keberhasilan pembangunan melalui PDB/PDRB, cenderung pada pertumbuhan
ekonomi yang umumnya melakukan eksploitasi sumber daya alam secara eksploitatif, agresif,
dan ekspansif. Sebagai akibatnya, deplisi dan/atau degradasi serta kerusakan sumber daya
alam terjadi begitu mengenaskan. Implikasinya jelas berpotensi menghancurkan kinerja
pertumbuhan ekonomi itu sendiri (self-destructive). Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi
yang selama ini diukur melalui PDB/PDRB dan merupakan sebagai ukuran kesejahteraan
masyarakat masih bersifat "sesaat" dan belum memikirkan kelangsungan hidup untuk generasi
penerus.
Misalnya contoh penebangan pohon di hutan, seharusnya dilakukan peremajaan kembali atau
perbaikan sebagai akibat kerusakan yang timbul. Tetapi kenyataannya, hutan hanya
dieksploitasi untuk perolehan ekonomi tanpa dilakukan reboisasi kembali. Demikian juga galian
C, para pengusaha yang mengeksploatasinya hampir semuanya tidak melakukan upaya atau
memikirkan cara penanganan lubang bekas galian, yang jelas berpotensi akan tenggelam di
kemudian hari. Secara ekonomi, keuntungan diperoleh luar biasa saat pengeksploitasian, baik
bagi si pengusaha maupun yang diterima pemerintah daerah dan pusat melalui restribusi. Saat
menghitung PDB/PDRB, peningkatan pertumbuhan ekonomi terjadi, sehingga dianggap prestasi
bagi pimpinan, baik pimpinan nasional maupun pimpinan wilayah. Jenis pertumbuhan ekonomi
seperti itulah yang dapat dikatekagorikaan pseudo growth (pertumbuhan semu).

Pembangunan Berkelanjutan

Pola pembangunan konvensional harus segera ditinggalkan. Jika tidak segera mengubah haluan,
dampak negatif pada ketimpangan kehidupan dan lingkungan akan semakin menjadi-jadi.
Meskipun kendala yang dihadapi pasti besar, sebab banyak orang pada saat ini masih
mengutamakan kepentingan jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Di samping itu,
adanya egoisme sektoral dan lemahnya penegakan hukum, juga akan menjadi kendala cukup
berat untuk dihadapi.

Sebenarnya sejak dasawarsa 1900-an, semua pihak seharusnya sudah menyadari konsep yang
dijadikan pijakan dalam setiap gerak menuju kemajuan pembangunan, yaitu dikenalkannya
konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Konsep ini didefinisikan sebagai pembangunan atau perkembangan yang memenuhi kebutuhan
masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kebutuhannya. Namun tantangan pembangunan berkelanjutan ini cukup banyak. Salah satu
yang paling krusial adalah menemukan cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil
menggunakan sumber daya alam secara bijaksana, sehingga sumber daya alam terbarukan
dapat dilindungi, dan penggunaan sumber alam yang dapat habis (tidak terbarukan) pada
tingkat di mana kebutuhan generasi mendatang masih tetap akan terpenuhi.

Konsep pembangunan berkelanjutan muncul ketika terjadi kegagalan konsep pembangunan


konvensional, di mana saat itu proses yang terjadi lebih banyak bersifat top-down. Bila ditinjau
dari sisi lingkungan, sosial, dan ekonomi, proses pembangunan yang terjadi tidak memikirkan
generasi mendatang. Pelaksanaan konsep pembangunan berkelanjutan diperkuat dengan
kesepakatan para pemimpin bangsa yang dinyatakan dalam hasil-hasil negosiasi internasional,
antara lain Deklarasi Rio pada KTT Bumi tahun 1992, Deklarasi Milenium PBB tahun 2000, dan
Deklarasi Johannesburg pada KTT Bumi tahun 2002.

Internalisasi Biaya

Secara global konsep pembangunan berkelanjutan sudah ada gerakan nyata untuk
mengimplementasikannya. Seperti, ketatnya, berbagai aturan tentang produk yang masuk ke
negara-negara maju. Misalnya harus mencantumkan label yang ramah lingkungan (eco-
labelling). Bagaimana di tingkat nasional dan lokal? Tampaknya belum.

Untuk itu, secara sederhana jika memungkinkan mulai sekarang setiap perusahaan yang bidang
usahanya berpotensi merusak atau mencemari lingkungan memasukkan biaya perbaikan
lingkungan ke dalam harga pokok produk/jasa yang dihasilkannya, sehingga peremajaan atau
perbaikan lingkungan menjadi tanggung jawab perusahaan yang bersangkutan. Konsep
internalisasi biaya perbaikan lingkungan ke dalam harga pokok, paling tidak akan menjadi
langkah sedikit maju di masa mendatang. Rasanya hal ini tidak begitu sulit dilakukan. Namun
pertanyaannya sekarang, apakah ada pengusaha yang mau melakukannya?

Penulis, dosen FE dan Program Pascasarjana MM Undiknas, serta Ketua Lembaga


Penelitian, Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Undiknas Denpasar

------------------

* Selama ini pembangunan konvensional mengarah kepada pertumbuhan (pseudo growth)


yang hanya menaikkan produksi barang dan jasa secara melimpah, tanpa mengakomodasi
aspek lingkungan.

* Pembangunan sosial tersingkirkan, terutama yang menyangkut kepentingan kelompok miskin.

* Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), salah satunya dengan


meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil menggunakan sumberdaya alam secara
bijaksana.

* Mulai sekarang setiap perusahaan yang bidang usahanya berpotensi merusak atau mencemari
lingkungan, memasukkan biaya perbaikan lingkungan ke dalam harga pokok produk/jasa yang
dihasilkannya.

* Peremajaan atau perbaikan lingkungan menjadi tanggung jawab perusahaan yang


bersangkutan.
Desain Modern di Indonesia

• Mei 16th, 2010

Desain Modern di Indonesia


Perkembangan Desain Abad ke 19 (1850 – 1900)

1. Istana Raja masih menjadi pusat kebudayaan, keabsahan suatu nilai dari ekspresi
budaya, apakah ilmu pengetahuan, seni rupa, musik, sastra, atau tari, ditentukan
oleh patron utama, yaitu institusi kerajaan
2. Gejala sosial yang demikian adalah pengambilan elemen bentuk dari abad 17 dan
18 dalam desain interior gaya historisisme, yang ditandai dengan penggunaan
ornamen dan dekorasi yang berlebihan.

Menurut Paul Greenhalgh dalam bukunya “Modernism in Design” terbitan Reaction


Books, mengatakan bahwa “For the greater part of this century, the word “modern” has
been relatively unproblematic with regard to design. It has meant whatever one wanted it
to mean. It could be applied to any designed object, more or less, given the appropriate
context and, accordingly, it could be construed as an insult or a compliment. It has meant
so much that it has often meant nothing”. Dari sini dapat diartikan bahwa definisi
“modern” secara relatip tidak mempermasalahkan tentang desain, dan dapat diaplikasikan
ke setiap object desain.
Secara umum perkembangan desain di Indonesia terbagai menjadi tiga tahapan penting
yaitu Program Modernisasi, Perkembangan desain modern di Indonesia, awal dan citra
perubahan

Program Modernisasi

Definisi secara umum dari kata “modern” adalah :

• Karya budaya ragawi yang umumnya memiliki ciri – ciri yang sesuai dengan
proses modernisasi dalam arti yang luas
• Lahir dari pemikiran modern dan tumbuh di lingkungan masyarakat modern

Beberapa pendapat tentang Modernisasi:

• Ilmuwan Sosial :
Kemunculan masyarakat industri barat dibandingkan dengan masyarakat negara
berkembang yang masih tradisional
• Eisenstadt :
Modernisasi merupakan proses perubahan masyarakat menuju tipe sistem sosial,
ekonomi, dan politik yang berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara.
Kemudian itu memuncak pada Abad ke-19 dan 20, serta meluas ke sejumlah
negara di Amerika Selatan, Asia, dan Afrika (Eisenstadt, 1996, Modernization:
Protest and Change, Englewood Cliffs, Prentice-Hall)
• Ahli Ekonomi :
Modernisasi berdasarkan berbagai model pertumbuhan ekonomi, standar hidup,
pendapatan per kapita, dan pertumbuhan Industri
• Ahli Sosiologi
Modernisasi dengan lebih mengarah kepada perspektif evolusioner yang
mencakup transisi multilinier masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang
lebih maju
• Ahli Komunikasi
Modernisasi sebagai proses perubahan dari cara hidup tradisional menuju gaya
hidup yang lebih kompleks dan maju secara teknologi
• Black
Modernisasi ditandai oleh perkembangan sejumlah lembaga yang secara
fungsional meningkatkan pengetahuan manusia untuk menguasai lingkungannya
secara cepat.
• Inkeles dan McCleland
Memaparkan modernitas dari variabel psikologis yang membentuk mentalitas
manusia modern secara khas, yaitu dorongan untuk berprestasi, yang diistilahkan
sebagai faktor N-ach (Need of achievement)

Modernisasi di dunia

Chodak mengidentifikasikan 3 tipe modernisasi :

1. Modernisasi Industri
2. Modernisasi Akulturasi
3. Modernisasi Induksi

Menurut Abraham

1. Kosmos yang “nyaman” berubah maknanya oleh otonomisasi (sekularisasi)


sehingga rasa aman lenyap
2. Masyarakat yang “nyaman” dirobek – robek karena individu mendesak diri
sebagai pusat semesta
3. Kebersamaan nilai goyah karena proses individual
4. Birokrasi dan waktu menggantikan tokoh mistis dan waktu mitologi
5. Pribadi menemukan diri sendiri secara kuat sehingga dalam arti sistem sosial,
kehidupan modern bermakna sebagai proses mengganti kenyamanan alamiah
dengan kenyaman buatan

Menurut Giddens

• Kapitalisme
• Industrialisme
• Kekuatan Militer
• Kontrol terhadap informasi dan aktivitas sosial

Abraham mencirikan modernisasi sebagai proses yang selalu diikuti oleh :

• Proses industrialisasi
• Peledakan penduduk
• Sekularisasi
• Revolusi harapan
• Berkembangnya media massa
• Stabilitas kependudukan
• Bangkitnya kelas menengah secara besar – besaran
• Revolusi budaya yang dahsyat

Abraham juga memberikan gambaran tentang modernisasi sebagai suatu perubahan


sebagai berikut :

Gambaran Modernisasi Menurut Abraham

Keterangan gambar :

• Sisi Struktural :
Meliputi peningkatan diferensiasi dan integrasi struktural, yaitu pemisahan
hubungan ekonomi dengan sistem sosial yang lain, kebangkitan lembaga politik
baru, dan perluasan pendidikan formal, spesialisasi serta mencairnya stratifikasi
kemasyarakatan
• Sisi Attitudinal :
Orientasi individu ke arah kemajuan
• Sisi Possesual :
Mengarah kepada terbentuknya spesialisasi fungsional dalam masyarakat

Desain Modern

Menurut Dormer :

1. Barang Konsumen
2. Kerajinan
3. Benda Eksklusif hasil rancangan arsitek dan desainer terkenal

Tema besar desain modern :

1. Konteks ekonomi
2. Penggunaan teknologi baru yang memungkinkan seorang pendesain bermain
dengan bentuk
3. Hubungan antara produksi, konsumsi, dan kepuasan pribadi
4. Kebutuhan masyarakat dengan berbagai perubahannya

Desain Modern di Indonesia

Desain Modern di Indonesia dapat dikategorikan atas tiga kelompok besar :

1. Karya desain yang diciptakan sebagai tuntutan masyarakat yang berpikiran


modern, baik secara mentalitas maupun tindakannya
2. Karya desain yang mengadaptasikan dan menggunakan berbagai unsur
kebudayaan Barat yang telah modern tanpa harus “menjadi Barat” atau berciri
Barat.
3. Karya desain yang semata – mata meniru gaya orang Barat tanpa diimbangi oleh
proses berpikir dan mentalitas modern

Perkembangan desain di Indonesia dapat dilihat dari konsep:

• Perkotaan
• Arsitektur
• Aneka Barang Industri dan Karya Cetak
• Pendidikan Seni Rupa dan Desain

Awal dan Citra Perubahan

Konteks perkembangan desain modern di Indonesia yaitu pergeseran nilai desain


dan dunia kesenirupaan pada :
• Beberapa dasawarsa akhir penjajahan Belanda
• Masa setelah kemerdekaan dan Demokrasi Terpimpin
• Masa Orde Baru hingga era pembangunan sekarang

Dalam teori modernisasi, kondisi Indonesia (Hindia Belanda) pada awal abad ke-20
dapat dikatakan sebagai masa transisi dari tradisional ke arah kehidupan modern
dengan ditandai oleh :

1. Adanya dualisme struktural yang memungkinkan kehadiran bersama


2. Munculnya secara berangsur-angsur norma modernitas dalam kerangka nilai –
nilai tradisional
3. Adanya Program Industrialisasi
4. Terjadinya arus urbanisasi
5. Terjadinya Mobilitas Politik
6. Terdapatnya rekayasa sosial

Desain Indonesia Abad ke 21

Perkembangan desain di Indonesia pada abad ini akibat dari adanya :

• Perkembangan desain di dunia global


• Demam Posmodern
• Adanya hubungan antara perkembangan desain dengan perlawanan budaya
• Adanya kesadaran terhadap hak penciptaan
• Keinginan untuk mewujudkan desain yang berwawasan lingkungan

I. Desain Global

Adanya perubahan besar didunia akibat perkembangan teknologi dan terbentuknya


tatadunia baru yang semakin terpolarisasi oleh peradaban besar sehingga semua
komponen kebudayaan saling mempengaruhi dan memposisikan diri sepadan dengan
kekuatannya.

1. Pendapat Para Ahli tentang abad ke 21

• Peter F. Drucker :
Keberlangsungan pembangunan sebuah bangsa bukan lagi bersandar pada modal,
besarnya tenaga kerja ataupun penguasaan wilayah, namun akan tercipta oleh
kemampuan mengembangkan daya inovasi yang didasari pada penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi
• Jane Jacobs, seorang sosiolog Amerika, mengkritik dengan keras tentang
buruknya perencanaan tatakota di Amerika (1960)
• Robert Venturi yang mengkritik secara tajam Modernisme dalam dunia
arsitektur pada tahun 1966
• Charles Jencks, seorang arsitek Amerika terkemuka mengumandangkan
kematian Modernisme seiring dengan diruntuhkannya bangunan bertingkat Pruitt-
Igoe pada tanggal 15 Juli 1972 di St. Louis, Missouri, pada jam 15.32 karena
bangunan tersebut selama ini menjadi tonggak terapan gaya Modernisme di
Amerika.
• Saiful Arif, Guru Besar dari The Australian National University :
Makna pembangunan yang dilakukan oleh setiap negara adalah proses
transformasi segala bidang dari kondisi tertentu menuju kondisi lain yang lebih
baik.

2. Wacana Desain di Indonesia

Belajar dari pelbagai kebijakan dan hasil pembangunan selama beberapa dekade, telah
nyata bahwa Indonesia terpengaruh oleh dampak percepatan keterbukaan budaya sedunia,
yang ditandai oleh :

1. Semakin menonjolnya pengaruh budaya kuat negara – negara adidaya, hal ini
tercermin dari adanya penentuan arah kebijakan perekonomian akibat adanya
perjanjian internasional dan permainan “Mata Uang” oleh negara – negara maju
2. Sejak pergantian era pemerintahan Orde Baru dan tuntutan perbaikan kinerja
program

Wacana desain di Indonesia juga terjadi akibat adanya :

a. Fenomena Persaingan :
Terjadi akibat percepatan yang terjadi sebelumnya dimana memicu lahirnya
pengelolaan produksi barang dan pergerakan pasar yang semakin tinggi, tidak
hanya secara teraga, melainkan juga dalam bentuk nilai – nilai
b. Keterbukaan Budaya :
Budaya ragawi yang dihasilkan manusia tidak terlepas dari sistem dunia yang
terintegrasi antara satu sistem nilai dengan sistem lainnya.
c. Upaya Pemberdayaan :
Sebagai bagian dari kebudayaan yang teraga, desain tidak terlepas dari rona
pembangunan “besar” yang dijalankan oleh satu pemerintahan dimana tercermin
dari aneka kebijakan termasuk komitmen antar kebudayaan ataupun antarnegara

II. Demam Posmodern

Era Posmodern adalah Masa transisi antara berakhirnya masa modernisme dan
munculnya alternatif pemikiran baru sebagai usaha mencari bentuk baru

III. Desain dan Perlawanan Budaya

Aktivitas desain tidak terlepas dari sistem nilai yang berkembang di dalam
masyarakatnya. Desain adalah wujud yang teraga dengan muatan – muatan makna di
dalamnya. Ditinjau dari aspek rupa, desain telah menunjukkan aspek keragaman yang tak
terhitung, baik gaya, tema maupun teknik pengungkapan. Fenomena yang terbentuk,
teraga menjadi kebudayaan benda, baik pada masa lalu, kini dan yang akan datang.
Makna budaya yang lebih spesifik dalam karya – karya desain yang teraga itu dapat
dikelompokkan atas beberapa peran, diantaranya :

a. Peragaman Bahasa Rupa yang menjadi bagian kreatif wujud desain setiap
periode, baik mengandung nilai – nilai kebaruan, pengembangan ataupun varian
b. Peragaman citarasa masyarakat yang muncul sebagai perluasan, penyebaran dan
kebutuhan baru masyarakat akan aneka produk, perumahan, pakaian dan
komunikasi

IV. Kesadaran terhadap Hak Cipta

Menjelang abad ke – 21, telah tumbuh kesadaran akan hak – hak penciptaan, msekipun
awalnya bukan dari seniman, namun dari kalangan praktisi hukum yang mengamati
fenomena global bahwa hak – hak penciptaan merupakan bagian yang tidak dapat
terpisahkan dari wacana ekonomi global. Baik untuk karya cipta milik orang asing
maupun karya cipta milik Bangsa Sendiri
HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) dalam bidang desain di Indonesia dikategorikan :

1. Karya Cipta Bidang Seni Rupa (UU Hak Cipta Tahun 1997)
2. Karya yang bersifat Temuan (UU Paten Tahun 1997)
3. Merek Produk berupa logo atau identitas produsen (UU No. 19 tentang Merek)
4. Bidang desain terutama performansinya (UU tentang Desain Industri No. 20
Tahun 2000)

Beberapa dasar hukum yang dapat dipakai sebagai acuan adanya perlindungan bagi karya
cipta di bidang desain terdiri dari :

a. Konvensi Internasional :
 WIPO (World Intelectual Property International)
 Paris Convention for The Protection of Industrial Property (11 April 1995
beranggotakan 129 negara termasuk Indonesia)
 Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Work (16
Mei 1995 beranggota 112 negara termasuk Indonesia)
 The Haque Agreement Concerning the International Deposit of Industrial
Designs (1993, ada 24 negara yang menjadi anggota termasuk Indonesia
sejak tahun 1953
 Locarno Agreement Establishing an International Classification for
Industrial Designs (1968 hingga 1995 beranggotakan 23 negara)
 TRIPs (Trade Related Aspects of Intelectual Property Rights, Including
Trade in Counterfeit Goods), merupakan persetujuan integral dari
persetujuan Putaran Uruguay dalam rangka GATT
b. Undang –Undang No. 5 tentang Perindustrian Pasal 17 : Desain Produk Industri
mendapat perlindungan hukum yang ketentuan – ketentuannya diatur dengan
peraturan pemerintah
c. Undang – undang hak cipta 1997 (diperbarui lagi tahun 2002)
d. Undang – undang paten No. 6 tahun 1989
e. RPP tentang desain produk industri
f. Undang – Undang tentang merek No. 19 tahun 1992
g. Undang – undang tentang desain industri No. 31 Tahun 2000

V. Desain yang Berwawasan Lingkungan

Dorongan dan isu – isu gentingnya masalah lingkungan tersebut, kemudian melahirkan
Deklarasi Rio tahun 1992 yang berisi antara lain :

 Hak dan Tanggung Jawab bangsa – bangsa dalam memperjuangkan


perkembangan dan kesejahteraan manusia
 Merancang cara mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dari segi sosial,
ekonomi, dan lingkungan hidup
 Membuat pernyataan tentang prinsip – prinsip yang menjadi pedoman bagi
pengelolaan, pelestarian, dan pembangunan semua jenis hutan secara
berkelanjutan yang merupakan unsur mutlak bagi pembangunan ekonomi dan
pelestarian segala bentuk kehidupan
 Dalam mensiasati terjadinya perubahan iklim, semua negara harus memberikan
kontribusi untuk menstabilkan gas – gas rumah kaca dan atmosfer pada tingkatan
yang tidak akan mengacaukan iklim global; pernyataan ini mensyaratkan
pengurangan emisi gas – gas seperti karbon dioksida, yaitu hasil sampingan dari
pemakaian bahan bakar untuk mendapatkan energi
 Konvensi tentang keragaman hayati yang menghendaki agar semua negara
mengerahkan segala daya dan dana untuk melestarikan keragaman spesies hidup,
dan mengupayakan manfaat penggunaan keragaman hayati dirasakan secara
merata

Perundang – Undangan dan PP


yang berhubungan dengan Lingkungan Hidup dan pengelolaannya :

1. Undang – Undang :
o No. 4 Tahun 1982 tentang ketentuan – ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup, memuat ketentuan bahwa setiap rencana yang
diperkirakan mempunyai dampak terhadap lingkungan, wajib dilengkapi
dengan AMDAL yang pelaksanaannya diatur oleh PP
o No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang
o No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
2. Peraturan Pemerintah (PP) :
o PP No. 51 Tahun 1993 tentang AMDAL
o Menteri Perindustrian No. 12/M/SK/1978, tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Pencemaran Lingkungan sebagai akibat Usaha Industri
o MENKLH No. KEP.02/MENKLH/I/1988 tentang Pedoman Baku Mutu
Lingkungan
o MENLH No. Kep.35/MENLH/10/1993, tentang Ambang Batas Emisi Gas
Buang Kendaraan Bermotor
o Menteri Perhubungan No. KM 8 Tahun 1989, tentang Persyaratan Laik
Jalan Kendaraan Bermotor
o Kepala BAPEDAL RI No. Kep-56 Tahun 1994 tentang Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting (sebagai pengganti No. Kep-
49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Dampak Penting)
MENLH No. KEP-16/MENLH/4/1996 tentang pelaksanaan Program
Langit Biru

Isu Nasional dan Kesepakatan Internasional :

• Program Pembangunan Berkelanjutan


• KTT Bumi Rio de Janeiro 1992 dan Deklarasi Rio
• Agenda 21 sebagai Rencana Global Pembangunan Berkelanjutan
• Konvensi Tentang Perubahan Iklim dan Keragaman Hayati
• KTT Bumi 5 Juni Tahun 1997
• ISO 14001 mengenai Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan
• Program Ekolabeling

Sumber : http://sosiologidesain.wordpress.com/desain-modern-di-indonesia/
Warta Pelaku: Artikel
sumber: warta.asp?mid=3210&catid=2

Padangsidimpuan, 30 November 2010


Menuntaskan Agenda Bangsa, Harus! (Bag. 1)

Bangsa Indonesia sebenarnya masih mengalami berbagai masalah yang begitu kompleks dari segala
sektor. Baik itu sektor sosial, ekonomi, hukum, budaya, politik, maupun keamanan dan pertahanan
negara, yang bisa berpengaruh terhadap tujuan dan cita-cita bangsa ini. Permasalahan-permasalahan
ini merupakan mata rantai masalah. Secara umum dan sederhana masalah ini kemudian berimplikasi
pada lemahnya penghayatan moral dan norma dalaam aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Masalah ini justru menimbulkan krisis kualitas manusia Indonesia yang pada gilirannya tidak mampu
mengelola sumber daya nasional. Krisis kesejahteraan rakyat ini membuka peluang terjadinya krisis
moral.

Menurut pandangan secara umum, ada beberapa masalah dan tantangan yang dihadapi Indonesia,
yang merupakan rantai masalah bangsa. Yaitu, sebagai berikut.

A. Melemahnya kualitas penghayatan moral dan norma dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Ditandai dengan gejala menurunnya rasa kasih sayang dan kepedulian sosial, penyakit sosial (social
pathology) masih ditemukan di antara sesama bangsa Indonesia, serta praktek-praktek moral hazard
menjalar di setiap aktivitas masyarakat.

B. Kualitas penyerapan ilmu pengetahuan masih rendah.

Budaya belajar dan menuntut ilmu semakin dikesampingkan oleh bangsa ini walau Pemerintah telah
mengambil kebijakan wajib belajar dan memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada aset bangsa
untuk belajar dengan biaya yang telah disediakan Pemerintah, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD)
sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Upaya Pemerintah untuk mencerdaskan bangsa
adalah agar mampu mengembangkan ilmu pengetahuannya sebagai modal keberlangsungan hidup
yang bergengsi, layak jual dan memiliki nilai tawar yang diperhitungkan.

Namun, upaya Pemerintah tersebut masih mengalami kendala yang ditandai dengan banyaknya
jumlah anak dan pemuda yang putus sekolah. Gejala yang timbul adalah sebagian lulusan perguruan
tinggi tidak mampu membuka kesempatan berwirausaha. Produk dalam negeri kalah bersaing dengan
produk asing. Nilai produk dalam negeri masih sangat rendah. Dalam segi ketenagakerjaan juga
mengalami penurunan kualitas kemampuan tenaga kerja. Ternyata persoalan di atas merupakan
konsekuensi kelemahan di bidang ilmu pengetahuan.

C. Melemahnya pengelolaan sumber daya nasional.

Potensi pertambahan penghasilan negara pengelolaan yang dilakukan masih mengalami hambatan.
Hal ini terlihat dari penerimaan pajak yang belum maksimal. Pengelolaan tabungan juga belum
optimal. Pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh konsumsi dan impor. Pengelolaan uang
negara belum efisien dan sebagainya. Ironisnya, investor luar maupun dalam negeri merasa was-was
untuk menyuntikkan modalnya untuk membangun usaha maupun industri, dengan alasan
kenyamanan dan keamanan serta keberlangsungan sebuah proyek perekonomian dikhawatirkan
terganggu.

Begitu juga dengan sejumlah jenis kekayaan/aset negara yang tidak dikelola sepenuhnya oleh negara.
Justru malah pihak asing yang memiliki peran penting meraih keuntungan besar dari negara kita.
Padahal, pengelolaan sumber daya yang baik dapat menopang penghasilan negara, dan dengan
sendirinya, rakyat akan merasakan dampak positif dari hal tersebut, pembangunan meningkat,
peluang lapangan pekerjaan dan pendapatan lebih layak, sehingga perputaran perekonomian
Indonesia stabil.

D. Rendahnya kualitas kesejahteraan bangsa.

Tujuan bangsa Indonesia membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum/rakyat, sebagaimana tertuang
dan diamanahkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Amanah ini merupakan harga mati
yang tidak bisa ditawar-tawar dengan dalih apapun. Artinya, mensejahterakan seluruh rakyat
Indonesia merupakan agenda pembangunan nasional yang prioritas untuk direalisasikan.

Pemerintah, sebagai salah satu pelaksana amanah tersebut, telah berupaya melakukan program
gerakan/aksi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, tidak sedikit upaya itu
tertunda keberhasilannya, sehingga masih banyak ditemukan masyarakat yang hidupnya di bawah
standar kelayakan, bahkan standar manusiawi, sehingga dikategorikan “miskin”.
Bantuan-bantuan diberikan kepada masyarakat miskin (pro poor) pun dilakukan oleh hampir seluruh
departemen/badan/dinas/instansi pemerintahan, bahkan Pihak swasta—sebut saja pemberian asuransi
dan pelayanan kesehatan maupun pendidikan, sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT), rehab
rumah, pinjaman modal usaha, hingga pemberian alat/bahan/material sebagai potensi usaha yang
diinginkan oleh masyarakat.
Ternyata persoalannya adalah kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan
dipandang kurang efektif dalam menurunkan angka kemiskinan, karena hanya bersifat parsial, tidak
berkelanjutan, atau tidak tepat sasaran kepada kelompok masyarakat miskin.

Permasalahan kemiskinan yang begitu kompleks, multidimensional dan struktural ini menyisakan
beberapa gejala-gejala yang bergerak merusak upaya transformasi sosial. Di antaranya:

• Ruang lingkup politik


Masyarakat miskin tereliminasi keposisi yang marjinal (terpuruk) akibat proses politik
maupun kebijakan penyelenggara pemerintahan dan pemilik wewenang yang kurang
berpihak. Perilaku politik yang menghasilkan kebijakan-kebijakan hanya menyentuh
kepentingan sepihak. Perilaku politik ini sebenarnya disebabkan faktor tiadanya keterlibatan
masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan itu, atau belum ada lembaga/wadah
yang mampu mengakomodir suara kepentingan masyarakat miskin, sehingga kebutuhan yang
dikehendaki dalam aplikasi menjalankan hidup secara manusiawi terpendam sejalan dengan
waktu.
• Ruang lingkup sosial
Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menurut masyarakat miskin, tidak
begitu penting. Bagi mereka mempertahankan hidup saja sudah cukup berat dilakukan. Lalu,
bagaimana mungkin aktivitas sosial terpikirkan seiring tekanan dan desakan kebutuhaan
hidup. Kondisi ini yang menyebabkan masyarakat miskin tidak terintegrasi ke dalam sebuah
institusi sosial. Kebiasaan pola hidup yang dialami menguatkan dan terinternalisasi ke dalam
pemikiran dan perilaku tidak sehat, optimisme menurun dan menguatnya pesimisme, serta
menghilangkan nilai-nilai kapital sosial.
• Ruang lingkup lingkungan
Pola hidup masyarakat miskin yang tertutup dan terkesan tidak peduli dengan sekitarnya, dan
cenderung memikirkan kehidupan dirinya sendiri atau keluarganya saja tidak akan mampu
beradaptasi dengan lingkungannya. Pandangan yang keliru sering tercetus dari suara sebagian
masyarakat miskin. Penataan dan pembangunan lingkungan serta permukiman yang
dilakukan bukan solusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Malah sebaliknya
mengusik ketenangan pola hidup yang selama ini berlangsung.

Paradigma dan praktek yang muncul adalah membatasi kegiatan yang mengindahkan dan
mendukung kelestarian lingkungan dan peningkatan pembangunan yang berkelanjutan,
bahkan praktek yang ditekuni kurang menjaga kenyamanan lingkungan dan permukiman.
Misalnya saja mengubah sungai, saluran air/parit maupun jalan yang semula indah menjadi
pemandangan suram—yaitu sebagai wadah penampungan sampah dan limbah. Lain lagi
perumahan yang dijadikan wadah berteduh, berlindung, berkumpul dan mengembangkan diri,
ternyata di bawah standar kelayakan, dengan penampilan, volume serta material sangat
sederhana, ditambah MCK yang kurang memadai dan tidak sehat, atau bahkan tidak ada sama
sekali ini merupakan ciri-ciri kemiskinan yang dimiliki, sehingga keadaan inilah yang
dimaksud di atas: kurang peduli menjaga kelestarian lingkungan dan permukiman.

Disadari atau tidak, kondisi ini akan memperparah keadaan masyarakat miskin itu sendiri.
Padahal, kondisi ini dapat diubah menjadi baik, tanpa mengeluarkan modal atau dengan
modal yang sedikit apabila kesadaran berpikir dan bersikap mengubah keadaan itu muncul
lebih kuat, daripada pasrah menerima nasib saja.
• Ruang lingkup ekonomi
Keterbatasan kemampuan masyarakat miskin membangun akses dan nilai jual terhadap
keterampilan, keahlian dan disiplin ilmu tidak memadai serta cendrung mengandalkan tenaga,
mendapatkan perhatian yang rendah pula dari pembeli jasa. Andalan tenaga yang satu-
satunya dimiliki hanya dihitung oleh pembeli jasa. Lazimnya nominal jasa tidak lebih,
bahkan kurang dari pemenuhan kebutuhan pokok, atau lebih mendekati cukup untuk makan
sehari-hari keluarga saja.

Begitulah kehidupan yang dihadapi dengan penghasilan rendah, sehingga tidak mampu
memenuhi kebutuhan hidup yang manusiawi. Keadaan ini bukan hanya sekedar narasi
semata, melainkan fakta yang lalu dituangkan dalam sebuah catatan sejarah.

Sedikit pemisalan diuraikan sebagai referensi yang diperoleh dari pemantauan, kunjungan,
maupun survai ke lokasi. Sebuah kisah salah satu keluarga yang hidup sangat sederhana di
daerah perkotaan, tepatnya di Wilayah Provinsi Sumatera Utara, diharapkan patut menjadi
renungan dan sekaligus perhatian semua pihak. Menurut pendapat yang disampaikan para
ahli/pakar atau pengamat/pemerhati atau tokoh/ilmuwan internasional maupun Indonesia,
keluarga tersebut dapat dikategorikan keluarga miskin karena berpenghasilan tidak menentu.
Rata-rata per hari hanya mampu memperoleh Rp7.000 – Rp15.000 yang dimanfaatkan oleh
empat orang tanggungan. Penghasilan itu semata-mata diupayakan oleh satu orang saja tanpa
ada penghasilan tambahan.

Seorang laki-laki berusia 62 tahun berperan sebagai kepala keluarga penopang hidup keluarga
ini. Ia bergelut mengandalkan tenaga dan kerasnya persaingan di bidang jasa yang
dilakoninya. Ia bekerja menawarkan jasa transportasi angkutan jenis becak dayung, yang
tengah mengalami pergeseran kualitas dan kuantitas, dimana keberadaannya perlahan punah
dan sedikit peminatnya. Becak dayung yang mengandalkan tenaga itu, kerap tidak dilirik oleh
pengguna jasa dengan alasan yang cukup mendasar: kecepatan dan kapasitas angkutnya
terbatas, biaya cukup tinggi dan sering mengalami kerusakan karena rata-rata becak dayung
yang beroperasi adalah “barang lama” dan produk baru sukar ditemukan.

Ditinjau dari kondisinya, penjual jasa ini sudah tidak layak bekerja lagi, mengingat telah
lanjut usia. Kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jasa terkadang menjadi alasan.
Tentu, kondisi lanjut usia mudah terkontaminasi dengan fisik lemah dan cenderung tidak
sehat. Kondisi ini membuka peluang terjadinya kecelakaan maupun menimbulkan penyakit
bagi dirinya sendiri. Diperparah keadaan bahwa empat tahun belakangan ini becak dayung
kalah bersaing dengan becak bermotor yang dinilai lebih mampu memenuhi keinginan
pengguna jasa, bahkan nilai jasa lebih murah dari becak dayung. Becak bermotor, selain
efektif waktu, nyaman, murah, juga berkapasitas lebih dari segi jumlah pengguna jasa dan
barang yang dibawanya.

Dari uraian ini, secara teoritis berdasar materi kajian pemetaan swadaya, khususnya kajian
ekonomi, keluarga ini mengalami perbandingan yang tidak seimbang: pengeluaran lebih
besar dari pendapatannya. Pengeluaran yang kongkret meliputi biaya makan untuk empat
orang terdiri dari pembelian bahan bakar minyak, beras + lauk pauknya, biaya listrik per
bulan dan biaya tambahan lain, seperti biaya perawatan becak dayung, biaya kesehatan, dan
lain-lain. Jenis pengeluaran yang mendasar ini dapat dianalisa beberapa pengeluaran akan di-
delete, dalam arti beberapa kebutuhan akan dihilangkan dan penyelesaian yang dilakukan
adalah pemaksaan kondisi agar normal dengan segala resiko yang ada.
• Ruang lingkup Aset
Rendahnya tingkat kepemilikan masyarakat miskin terhadap modal yang mendorong
keberlangsungan hidup. Sumber daya manusia (human capital) sangat terbatas. Alat
pendukung, material dan dana dari usaha yang dijalankan sangat tidak memadai, sehingga
kompetisi usaha dengan sendirinya mengalami kekalahan. Begitu juga dengan hunian atau
perumahan. Ada yang berstatus tidak memiliki rumah, menumpang, menyewa, dan bila
adapun tidak layak huni. Kepemilikan aset berupa tanah, misalnya, tidak dimiliki oleh
masyarakat miskin. Malah bagi mereka yang memiliki aset berupa harta warisan, yang sering
terjadi adalah penjualan aset satu persatu dan pengelolaan dana yang tidak beraturan. Perilaku
ini bukan menambah aset, tapi justru sebaliknya menambah beban utang di mana-mana.
Bersambung.. (Rahdiansyah Pane, ST, Asisten Kota Infrastruktur Kota Padangsidimpuan-
Sibolga, OC-1 Provinsi Sumatera Utara, PNPM Mandiri Perkotaan; Firstavina)

Pusat Informasi P2KP, Jl. Penjernihan 1, No. 19 F, Pejompongan -Jakarta Pusat 10210. Telp: (021)
70912271, (021)-70952271
Wednesday, November 05, 2008
NEGARA DAN PEMBANGUNAN

BOOK REVIEW:
Negara dan Pembangunan, Studi Tentang Indonesia dan Korea Selatan
Pengarang: Arief Budiman
Penerbit: Yayasan Padi dan Kapas, Jakarta
Tahun: 1991
Jumlah Halaman: 101

PERAN NEGARA DALAM PEMBANGUNAN DENGAN MEMBANDINGKAN


INDONESIA DAN KOREA SELATAN.
Hubungan saling tindak antar negara dan pembangunan di Indonesia dan Korea Selatan
dapat dicermati melalui kenyataan sejarah yang berkembang di dua negara tersebut. Yang
berkaitan dengan hubungan saling tindak antara negara dan pembangunan. Peran negara
dalam pembangunan di Indonesia maupun Korea Selatan dapat ditelusuri dari proses dan
hasil yang dicapai dalam pembangunan di dua negara tersebut, sebagai berikut:
Peran negara dalam pembangunan di Indonesia berbeda dari jaman penjajahan Belanda
hingga saat ini:
Jaman Kolonial Belanda: sistem perekonomian kolonial Belanda tidak/gagal melahirkan
kelas Tuan Tanah/Burjuasi Pribumi, karena tanah dikuasai oleh Negara/Pemerintah
Belanda, dan diserahkan pada kelompok-kelompok kaum pedagang.
Jaman Peralihan Demokrasi: terjadi peralihan dari demokrasi paralamenter ke demokrasi
terpimpin, di mana peran negara dalam pembangunan jiuga mengalami perubahan, sesuai
dengan perkembangan sosiologi-politik di masyarakat yang dinamis.
Negara Orde Baru: Ditandai dengan peran militer yang dominan dalam kehidupan politik
dan negara. Pada periode ini keadaan ekonomi Indonesia cukup sulit.
Benih sebuah negara yang kuat sudah ditanam sejak zaman kolonial, kemudian beralih ke
sistem politik liberal dan selanjutnya ke negara otoriter oleh Bung Karno, dan selanjutnya
benih kehidupan beralih ke tangan Jenderal Soeharto, sifat negara otoriter dan “negara
rente” pada dasarnya tidak berubah.
Ketika terjadi krisis multidimensi di bidang sosial-politik-ekonomi hingga saat ini, masih
perlu dicermati apakah krisis ini akan mengalihkan peran negara sebagai “otoriter
birokratis” rente (NOBR) dan Negara Otoritas Birokratis Pembangunan (NOBP) masih
tergantung pada proses politik yang terjadi sekarang.
Peran negara dalam pembangunan Korea Selatan, sepanjang kenyataan sejarah juga
bersifat dinamis, sebagai berikut:
Jaman kolonial dan sebelumnya: sebelumnya Korea adalah negara merdeka yang
diperintah oleh beberapa kerajaan. Disusul dengan penjajahan Jepang, yang juga
menguasai ekonomi Korea, meskipun kecil, burjuasi orang Korea dibidang perdagangan
dan industri muncul juga.
Jaman pemerintahan sipil: setelah merdeka dari Jepang, Negara Korea terpecah menjadi 2
negara, yakni Negara Korea Selatan dan Negara Korea Utara yang menganut faham
komunis dan Korea Selatan yang menganut faham kapitalis.
Pemerintahan militer dan pembangunan ekonomi: pemerintah baru pimpinan Jenderal
Park Chung-Hee yang mulanya menghadapi kesulitan karena pemerintah AS mencurigai
latar belakang militer, namun pemerintah militer yang berkoalisi dengan teknorat
ekonomi, berhasil pembangun pemerintahan yang relatif bersih, dan akhirnya berhasil
menarik perhatian dan bantuan dari AS, sehingga ekonomi Korea Selatan dapat
berkembang pesat.
Dari perkembangan sejarah pemerintahan dari negara yang berbeda antara Indonesia dan
Korea Selatan, maka peran negara dalam proses pembangunan di masing-masing negara
juga berbeda khusus dalam kaitan dengan “keotoriteran negara” untuk membentuk
kelompok wiraswasta yang tangguh untuk memutar roda pembangunan ekonomi,
terdapat perbedaan antara kedua negara yakni dipakai untuk memperkaya birokrat
negara, serta kelompok wiraswasta yang bergantung pada mereka. Indonesia dinamakan
Negara Otoritas Birokratis Rente (Negara OB Rente) sebaliknya Korea Selatan disebut
sebagai Negara Otoriter Birokratis Pembangunan (Negara OB Pembangunan). Di mana
keotoriteran negara dipakai untuk menumbuhkan kelompok wiraswastawan yang
tangguh.
Peran negara dalam pembangunan di Indonesia dan Korea Selatan ditinjau dari hasil
pembangunan ekonomi yang dicapai, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Setelah perang dunia kedua usai, tingkat perkembangan ekonomi kedua negara sama,
tetapi sekarang Indonesia tertinggal jauh. Tahun 1988 GNP/Kapita Nasional Korea
Selatan mencapai US$ 3.600, sedangkan Indonesia cuma US$ 440 (8,18 kali dari
GNP/kapita Indonesia). Dari kenyataan ini jelas bahwa peran negara dalam pembangunan
ekonomi di Korea Selatan lebih menonjol, ditinjau dari aspek hasil pembangunan
ekonomi yang dicapai, dibandingkan dengan Indonesia.
Perbedaan dalam prestasi pembangunan ekonomi Indonesia ini juga antara lain
disebabkan oleh karena gagalnya Indonesia beralih menjadi Negara OB Pembangunan,
setelah Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan pada tahun 1966. Hal ini berbeda
dengan Korea Selatan, yang sejak Jenderal Park Chung-Hee merebut pucuk pimpinan
Negara Korea Selatan pada tahun 1961, berhasil menyusun Negara Korea Selatan sebagai
Negara OB Pembangunan, dan akhirnya bangkit/membangun industri dan menjadi salah
satu dari 4 macam Asia yang bangkit pada permulaan tahun 1990-an.
Faktor lain yang membedakan peranan negara dalam pembangunan di Indonesia dan
Korea Selatan adalah sebagai berikut:
Persaingan di bidang ekonomi antar kelompok Asli Indonesia mengakibatkan
terpecahnya burjuasi Indonesia, sementara negara Korea dibawah kepemimpinan
Presiden Park dapat menguasai masyarakat sipil, serta didukung oleh negara Amerika
Serikat.
Korea berhasil dengan landreform pada tahun 1950-an sementara Indonesia landreform
gagal dilaksanakan pada permulaan tahun 1960-an.
Bantuan dana dan toleransi kebijakan dari negara Amerika di Korea Selatan justru
mendorong bangkitnya Industrialisasi di Korea pada era Tahun 1970-an hal mana tidak
terjadi di Indonesia, terutama pada era perang dingin antara USA dan negara
sosialis/komunis.
Dari seluruh analisis dan uraian, maka secara singkat ditarik kesimpulan tentang peran
negara dalam pembangunan di Indonesia dan Korea Selatan sebagai berikut:
Peran negara yang berbeda, selain dipengaruhi oleh perkembangan sejarah sebelum
kolonialisme melanda kedua negara, serta kebijakan penjajah itu sendiri, tetapi juga
ditentukan oleh pemimpin negara dalam menentukan strategi yang tepat, utamanya guna
mengalihkan suatu negara dari negara demokrasi otoriter renternir ke negara demokrasi
otoriter pembangunan. Korea Selatan berhasil, namun Indonesia gagal.
Peran negara Korea Selatan dalam pembangunan yang ditandai oleh peningkatan
ekonomi, selain didukung oleh faktor internal, juga didukung oleh faktor eksternal, yakni
dukungan dari Amerika Serikat. Selebihnya dukungan eksternal bagi Indonesia relatif
korup, terutama pada periode “perang dingin” antara negara Barat dan negara-negara
Sosialis/Komunis.
Peran pemerintah negara dalam menata ekonomi dan menguasai/mampu mengendalikan
diri dari jebakan “renternir”, menempatkan salah satu kunci kebijakan pembangunan
yang berhasil. Hal mana terjadi di Korea Selatan, pada masa Pemerintahan Presiden Park.
Sementara Indonesia, kebijakan seperti itu masih lemah, dan silih berganti dari
pemerintahan satu ke lainnya.
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN ANTARA
INDONESIA DAN KOREA SELATAN
Perbedaan
Kebijakan pembangunan Indonesia berhadapan dengan tantangan yang berbeda dengan
Korea Selatan, di mana Indonesia merupakan Negara Kepulauan sementara Korea
Selatan Daratan.
Indonesia terdiri dari banyak suku dan bahasa, sementara Korea Relatif homogen, dengan
demikian kebijakan pembangunan juga berbeda sesuai dengan spesifik yang dihadapi.
Di Korea Selatan, keotoriteran negara dipakai untuk menumbuhkan kelompok wiraswasta
yang tangguh untuk memutar roda perekonomian. Di Indonesia negara gagal membentuk
kelompok wiraswasta yang tangguh. Sebaliknya justru keotoriteran negara di manfaatkan
untuk memperkaya birokrat negara serta kelompok wiraswasta yang tergantung pada
mereka.
Sifat dan pembentukan negara dari waktu ke waktu juga berbeda. Indonesia dijajah
Belanda dengan sistem penjajahan yang kebijakan ekonominya didasarkan pada ekspor
bahan mentah atau barang-barang primer. Penjajahan Jepang atas Korea, mula-mula
bertujuan untuk mendukung proses awal industrialisasi di Jepang dan sebaliknya, karena
Belanda saat itu bukan negara industri, maka Belanda tidak mengembangkan industri di
jajahan Indonesia, tetapi perdagangan hasil bumi, perkebunan dan sebagainya.
Korea Selatan berhasil dengan kebijakan landreform, pada era tahun 1950-an, sementara
Indonesia gagal dalam program landreform era tahun 1960-an.
Berbeda dengan Indonesia, menjelang datangnya kolonialisme Jepang di Korea, negeri
itu tidak terdapat kelompok pedagang (hal ini disebabkan karena ajaran Confusius yang
menyatakan bahwa “mengumpulkan kekayaan, bukanlah suatu hal yang terpuji”) dengan
demikian, kebijakan pembangunan yang ditempuh berbeda.
Di Indonesia terjadi persaingan di bidang ekonomi antara kelompok Cina dan kelompok
asli Indonesia, hal mana merupakan dampak negatif dari kebijakan politik pemerintahan
kolonial, yang berimbas pada pembangunan ekonomi dan sebagainya. Persaingan seperti
di Indonesia, tidak terjadi di Korea Selatan.
Persamaan
Setelah perang dunia kedua usai, tingkat perkembangan ekonomi kedua negara sama,
tetapi sekarang Indonesia tertinggal jauh. Tahun 1988 GNP/Kapita Nasional Korea
Selatan mencapai US$ 3.600, sedangkan Indonesia cuma US$ 440 (8,18 kali dari
GNP/kapita Indonesia). Dari kenyataan ini jelas bahwa peran negara dalam pembangunan
ekonomi di Korea Selatan lebih menonjol, ditinjau dari aspek hasil pembangunan
ekonomi yang dicapai, dibandingkan dengan Indonesia.
Indonesia mengalami perang saudara pada tahun 1957 (peristiwa PRRI dan Permesta),
sedangkan Korea Selatan mengalaminya pada tahun 1950-1953 (Perang Korea).
Indonesia mendapatkan pemerintah yang didominasi oleh kaum militer sejak tahun 1966,
Korea Selatan pada tahun 1961. Sejak saat itu, kedua negara diperintah oleh sebuah
kekuasaan yang bersifat otoriter.
Sebelumnya kedua negara sama-sama mengalami sistem pemerintahan demokrasi
parlamenter, Indonesia dibawah Sukarno, Korea Selatan dibawah Syngman Rhee.
Sebelum Korea dijajah oleh Jepang, seperti juga di Indonesia, kegiatan perdagangan
kurang dianjurkan.
Korea Selatan dan Indonesia sama-sama dipimpin oleh presiden yang berlatarbelakang
militer. Korea Selatan dipimpin oleh Jenderal Park Chung-Hee semantara Indonesia
dipimpin oleh Jenderal Soeharto.
KEKUATAN DAN KELEMAHAN PEMBANGUNAN INDONESIA,
KHUSUSNYA PERAN NEGARA
Kekuatan Pembangunan
Kekuatan pembangunan yang mestinya dapat dimanfaatkan oleh negara dalam proses
pembangunan di Indonesia adalah sebagai berikut:
Optimalisasi potensi sumber daya alam yang melimpah, baik pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan, minyak bumi dan hasil tambang lainnya.
Potensi komoditi perkebunan yang pada saat penjajahan merupakan lokomotif
pembangunan yang diekspor memenuhi pasar dunia, adalah kenyataan yang apabila dapat
dikelola secara profesional akan merupakan salah satu penghasil devisa yang cukup besar
contoh saat ini: minyak kelapa sawit.
Potensi hasil laut, belum sepenuhnya dimanfaatkan, demikian pula dengan potensi hutan.
Apabila negara dapat mendorong industri berbasis produk kayu, ikan dan hasil laut
lai9nnya, melalui suatu pola pengembangan terpadu, maka efek ganda yang timbul
demikian besar dan luar, antara lain: peningkatan pendapatan nelayan lokal, sekaligus
perluasan lapangan usaha/kerja dan pengentasan kemiskinan (umumnya nelayan kecil di
Indonesia, miskin). Demikian pula dengan hasil hutan, khususnya kayu yang apabila
diolah hingga produk hilir akan merupakan potensi komoditi ekspor yang besar, sekaligus
menciptakan lapangan usaha/kerja.
Potensi minyak bumi, belum sepenuhnya dieksploitasi, dan diolah di dalam negeri.
Apabila negara konsisten dengan suatu strategi khusus dana optimalisasi eksplorasi
minyak bumi, dan pengolahan minyak dalam negeri, maka peran Indonesia sebagai
pengekspor minyak akan tetap dapat ditingkatkan, dengan nilai tambah yang lebih,
ditengah kriris akibat tingginya harga BBM seperti saat ini, mestinya peluang emas itu
dapat dinikmati.
Kemandirian Negara
Walaupun Indonesia merupakan negara yang majemuk, dari segi suku, agama, dan terdiri
dari pulau-pulau yang tersebar, namun belajar dari pengalaman sejarah sejak
kemerdekaan, peran negara dalam penciptaan iklim demokrasi da persatuan bangsa,
walaupun melalui aneka tantangan, tetapi masih merupakan salah satu modal bagi
pembangunan yang berkelanjutan.
Posisi negara yang relatif kuyat dalam menghadapi masyarakat sipil yang dinamis dan
majemuk merupakan aspek strategis yang dibutuhkan bagi pembangunan.
Membangun struktur negara yang lebih kuat/kemandirian negara juga meliputi upaya
pemberantasan korupsi (OB Rente) mengarah ke OB Pembagunan, dengan
menumbuhkan kelompok wirausaha yang tangguh.
Rekapitulasi dan akibat dari pencampuran pelbaghai faktor tersebut di atas, khususnya
antara negara sebagai subjek dan kondisi struktural lingkungannya ke arah positif akan
mendorong ke arah pembangunan yang lebih baik.
Kelemahan Pembangunan
Kebijakan pembangunan oleh negara masih kurang mendukung sektor pertanian
(sementara 80 % penduduk bekerja di sektor ini) padahal justru sektor primer inilah yang
pada waktu lalu diandalkan oleh pemerintah penjajah dan bahkan berhasil menembus
pasar dunia. Dampak negatif yang terasa saat ini adalah beberapa tahun lalu Indonesia
masih mengimpor beras, saat ini praktis komoditi jagung dan kacang kedele sebagian
besar masih diimpor dari Amerika. Indonesia terlalu cepat ingin melompat ke
industrialisasi yang high technology pada era tahun1980-an dan 1990-an, dan sektor
pertanian terabaikan.
Potensi gas dan bahan bakar minyak bumi, yang sehak lama merupakan andalan ekspor,
kurang mendapat perhatian, hingga saat ini Indonesia menjadi penimpor BBM dengna
harga yang tinggi. Pendapatan yang diperoleh oleh karena naiknya harga minyak dunia
pada era 1970-an dan 1980-an tidak dimanfaatkan secara baik, bahkan dimanfaatkan oleh
birokrat yang korup dan kroni-kroni pengusaha yang dekat dengan penguasa serta
menguntungkan sekelompok pengusaha tertentu. Seyogyanya “rejeki mumpung” tersebut
dimanfaatkan untuk terus mengeksploitasi potensi gas dan minyak bumi, dan apabila itu
terlaksana, maka saat ini di mana harga minyak dunia meningkat tajam, pendapatan
negara akan meningkat secara signifikan.
Pada era 1970-an, di mana pertumbuhan ekonomi mencapai 8% dengan nilai absolut
GDP yang tinggi, namun pembagian kue pembangunan tetap belum merata, mereka yang
“di atas” memperoleh lebih banyak dari pada rakyat miskin yang di bawah (masih terjadi
kesenjangan).
Kebijakan negara yang mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan fokus pada
pertumbuhan proyek-proyek besar dengan harapan akan menetas ke bawah (trickle down
effect) ternyata merupakan kebijakan dan harapan semu. Dampak dari kelemahan strategi
negara tersebut ialah semakin tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, dan
semakin kuatnya segelintir pengusaha tertentu yang memperoleh fasilitas/ kemudahan.
Salah satu dampak dari akumulasi kebijakan negara tersebut di atas maka status negara
tetap belum beralih dari OB Rente ke OB Pembangunan, sebagaimana yang terjadi di
Korea Selatan. Kelemahan utama adalah pada birokrasi pemerintah yang justru
memanfaatkan kondisi bagi kepentingan pribadi para pemimpin. Sehingga fungsi negara
untuk mensejahterakan rakyat terabaikan. Titik lemah terletak pada birokrasi
pemerintahan yang lemah dan korup.
Diposting oleh Wilson M.A. Therik di 9:07 AM
========================
http://www.ekonomirakyat.org/index.php
[Artikel - Th. I - No. 7 - September 2002]

Mubyarto
EKONOMI KERAKYATAN DALAM ERA GLOBALISASI

Banyak orang berpendapat bahwa sejak krismon 1997 Indonesia telah men
jadi korban arus besar "globalisasi" yang telah menghancur-leburkan
sendi-sendi kehidupan termasuk ketahanan moral bangsa. "Diagnosis"
tersebut menurut pendapat kami memang benar dan kami ingin menunjukkan
di sini bahwa kecemasan dan keprihatinan kami sendiri sudah berumur 23
tahun sejak kami menyangsikan ajaran-ajaran dan paham ekonomi Neoklasik
Barat yang memang cocok untuk menumbuhkan ekonomi (ajaran efisiensi)
tetapi tidak cocok untuk mewujudkan pemerataan (ajaran keadilan). Pada
waktu itu (1979) kami ajukan ajaran ekonomi alternatif yang kami sebut
Ekonomi Pancasila. Pada tahun 1981 konsep Ekonomi Pancasila
dijadikan "Polemik Nasional" selama 6 bulan tetapi selanjutnya
digemboskan dan ditenggelamkan.

Kini 21 tahun kemudian, kami mendapat banyak undangan ceramah/seminar


tentang ekonomi kerakyatan yang dianggap kebanyakan orang merupakan
ajaran baru setelah konsep itu muncul secara tiba-tiba pada era
reformasi. Kami ingin tegaskan di sini bahwa konsep ekonomi kerakyatan
bukan konsep baru. Ia merupakan konsep lama yaitu Ekonomi Pancasila,
namun hanya lebih ditekankan pada sila ke 4 yaitu kerakyatan yang di
pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan. Inilah asas demokrasi ekonomi sebagaimana
tercantum pada penjelasan pasal 33 UUD 1945, yang oleh ST MPR 2002
dijadikan ayat 4 baru.
Mengapa tidak dipakai konsep Ekonomi Pancasila? Sebabnya adalah kata
Pancasila telah "dikotori" oleh Orde Baru yang memberi tafsiran keliru
dan selanjutnya "dimanfaatkan" untuk kepentingan penguasa Orde Baru.
Kini karena segala ajaran Orde Baru ditolak, konsep Ekonomi Pancasila
juga dianggap tidak pantas untuk disebut-sebut lagi.

Pada buku baru yang kami tulis di AS bersama seorang rekan Prof. Daniel
W. Bromley "A Development Alternative for Indonesia", bab 4 kami beri
judul The New Economics of Indonesian Development: Ekonomi Pancasila,
dengan isi
(1) Partisipasi dan Demokrasi Ekonomi, (2) Pembangunan Daerah bukan
Pembangunan di Daerah, (3) Nasionalisme Ekonomi, (4) Pendekatan
Multidisipliner dalam Pembangunan, dan (5) Pengajaran Ilmu Ekonomi di
Universitas.

Kesimpulan kami tetap sama seperti pada tahun 1979 yaitu bahwa hanya
dalam sistem Ekonomi Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia dapat dicapai yaitu melalui etika, kemanusiaan, nasionalisme,
dan demokrasi/kerakyatan. Berikut kami sampaikan terjemahan bab
terakhir (bab 5) Summary and Implications dari buku kami tersebut.

Ringkasan dan Implikasi


Kami telah menelusuri sejumlah masalah yang sungguh memprihatinkan.
Kegusaran utama kami adalah bahwa kebijaksanaan pembangunan Indonesia
telah dipengaruhi secara tidak wajar dan telah terkecoh oleh teori-
teori ekonomi Neoklasik versi Amerika yang agresif khususnya dalam
ketundukannya pada aturan-aturan tentang kebebasan pasar, yang keliru
menganggap bahwa ilmu ekonomi adalah obyektif dan bebas nilai, yang
menunjuk secara keliru pada pengalaman pembangunan Amerika, dan yang
semuanya jelas tidak tepat sebagai obat bagi masalah-masalah yang
dihadapi masyarakat Indonesia dewasa ini.

Pakar-pakar ekonomi Indonesia yang memperoleh pendidikan ilmu


ekonomi "Mazhab Amerika", pulang ke negerinya dengan penguasaan
peralatan teori ekonomi yang abstrak, dan serta merta merumuskan dan
menerapkan kebijakan ekonomi yang mnghasilkan pertumbuhan, yang menurut
mereka juga akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat dan
bangsa Indonesia.

Para "teknokrat" ini bergaul akrab dengan pakar-pakar dari IMF dan Bank
Dunia, dan mereka segera tersandera ajaran dogmatis tentang pasar,
dengan alasan untuk menemukan "lembaga dan harga-harga yang tepat", dan
selanjutnya menggerakkan mereka lebih lanjut pada penelitian-penelitian
dan arah kebijaksanaan yang memuja-muja persaingan atomistik,
intervensi pemerintah yang minimal, dan menganggung-agungkan keajaiban
pasar sebagai sistem ekonomi yang baru saja dimenangkan.
Doktrin ini sungguh sangat kuat daya pengaruhnya terutama sejak
jatuhnya rezim Stalin di Eropa Tengah dan Timur dan bekas Uni Soviet.
Nampaknya sudah berlaku pernyataan "kini kita semua sudah menjadi
kapitalis". Sudahkah kita sampai pada "akhir sejarah ekonomi?". Belum
tentu.

Keprihatinan kita yang kedua adalah bahwa pertumbuhan pendapatan


nasional per kapita sebenarnya merupakan indikator paling buruk dari
kemajuan serta pembangunan ekonomi dan sosial yang menyeluruh. Bagi
mereka yang bersikukuh bahwa Indonesia harus terus mengejar pertumbuhan
ekonomi sekarang, dan baru kemudian memikirkan pembagiannya dan
keberlanjutannya, kami ingin mengingatkan bahaya keresahan politik yang
sewaktu-waktu bisa muncul. Kami secara serius menolak pendapat yang
demikian. Suatu negara yang kaya dan maju berdasarkan sebuah indikator,
jelas bukan negara yang ideal jika massa besar yang terpinggirkan
berunjuk rasa di jalan-jalan. Keangkuhan dari pakar-pakar ekonomi dan
komitmen mereka pada kebijakan ekonomi gaya Amerika merupakan kemewahan
yang tak dapat lagi ditoleransi Indonesia.
Praktek-praktek perilaku yang diajarkan paham ekonomi yang demikian,
dan upaya mempertahankannya berdasarkan pemahaman yang tidak lengkap
dari perekonomian, hukum, dan sejarah bangsa Amerika, mengakibatkan
terjadinya praktek-praktek yang keliru secara intelektual yang harus
dibayar mahal oleh Indonesia. Komitmen pada model-model ekonomi abstrak
dan kepalsuan pengetahuan tentang proses pembangunan, mengancam secara
serius keutuhan bangsa dan keserasian politik bangsa Indonesia yang
lokasinya terpencar luas di pulau-pulau yang menjadi rawan karena
sejarah, demografi, dominasi dan campur tangan asing, dan ancaman
globalisasi yang garang. Kami khawatir Indonesia telah menukar
penjajahan fisik dan politik selama 3½ abad, dengan 3½
dekade "imperialisme intelektual". Sungguh sulit membayangkan kerugian
yang lebih besar lagi.

Gerakan Anti Globalisasi


Dalam 13 tahun terakhir sejak "Washington Concensus" [2] (1989)
mengkoyak-koyak perekonomian negara-negara berkembang dari mulai
Amerika Latin, bekas Uni Soviet, dan negara-negara Asia Timur, di mana-
mana muncul gerakan untuk melawannya, yang disebut gerakan anti-
globalisasi. Gerakan ini mengadakan unjukrasa (demonstrasi) menentang
pertemuan-pertemuan WTO, IMF, dan Bank Dunia, mulai dari Seattle
(1999), Praha (2000), sampai di Genoa Italia (2001).
Dan berbagai LSM tingkat dunia (NGO) menerbitkan buku-buku yang
menganalisis secara ilmiah. Terakhir terbit buku Joseph Stiglitz,
Globalization and Its Discontents (Norton, 2002) yang diresensi di mana-
mana karena Stiglitz kebetulan adalah penerima hadiah Nobel Ilmu
Ekonomi 2001 dan justru pernah menjadi Wakil Presiden Senior Bank Dunia
(1997-2000).

Washington Consencus adalah judul sebuah "kesepakatan" antara IMF, Bank


Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat yang tercapai di
Washington DC berupa resep mengatasi masalah ekonomi negara-negara
Amerika Latin yang
dirumuskan oleh John Williamson sekitar tahun 1989 yaitu 10
kebijakan/strategi: (1) fiscal discipline, (2) A redirection of public
expenditure priorities towards fields with high economic returns and
the potential to improve income distribution, such as primary health
care, primary education, and infrastructure, (3) Tax reform (to lower
marginal tax rates and broaden the tax base), (4) Interest rate
liberalization, (5) A competitive exchange rate, (6) Trade
liberalization, (7) Liberalization of FDI inflows, (8) Privatization,
(9) Deregulation (in the sense of abolishing barriers to entry and
exit), dan (10) Secure property rights.

Dari segi teori, perlawanan terhadap "imperialisme intelektual" ilmu


ekonomi Neoklasik sudah lebih lama meskipun juga menjadi lebih relevan
dan legitimate (syah) sejak "Washington Consensus". Selanjutnya Paul
Ormerod (The Death of Economics, 1992) menyatakan ilmu ekonomi
Neoklasik ortodoks harus dianggap sudah mati, dan Steve Keen "mene
lanjanginya" dalam Debunking Economics (2001).

Di Indonesia perlawanan terhadap teori ekonomi Neoklasik dimulai tahun


1979 dalam bentuk konsep Ekonomi Pancasila, tetapi karena pemerintah
Orde Baru yang didukung para teknokrat (ekonomi) dan militer begitu
kuat, maka konsep Ekonomi Pancasila yang dituduh berbau komunis lalu
dengan mudah dijadikan musuh pemerintah, dan masyarakat seperti biasa
mengikuti "arahan" pemerintah agar konsep Ekonomi Pancasila ditolak.
Namun reformasi 1997-98 menyadarkan bangsa Indonesia bahwa paradigma
ekonomi selama Orde Baru memang keliru karena tidak bersifat
kerakyatan, dan jelas-jelas berpihak pada kepentingan konglomerat yang
bersekongkol dengan pemerintah. Maka munculah gerakan ekonomi
kerakyatan yang sebenarnya tidak lain dari sub-sistem Ekonomi
Pancasila, tetapi karena kata Pancasila telah banyak disalahgunakan
Orde
Baru, orang cenderung alergi dan menghindarinya. Jika Ekonomi Pancasila
mencakup 5 sila (bermoral, manusiawi, nasionalis, demokratis, dan
berkeadilan sosial), maka ekonomi kerakyatan menekankan pada sila ke-4
saja yang memang telah paling banyak dilanggar selama periode Orde
Baru.

UGM telah memutuskan membuka Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP)


untuk menghidupkan kembali tekadnya mengembangkan sistem Ekonomi Panca
sila yang berawal pada tahun 1981 ketika Fakultas Ekonomi UGM
mencuatkan dan menggerakkan pemikiran-pemikiran mendasar tentang moral
dan sistem ekonomi Indonesia. Pendirian Pusat Studi Ekonomi Pancasila
dimaksudkan untuk benar-benar mengkaji dasar-dasar moral, ilmu, dan
sistem ekonomi yang sesuai dengan ideologi Pancasila, karena UGM sudah
lama dikenal sebagai pengembang gagasan Pancasila dan sudah memiliki
Pusat Studi Pancasila.

Sistem Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat


Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang
berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan
menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Pemihakan
dan perlindungan ditujukan pada ekonomi rakyat yang sejak zaman
penjajahan sampai 57 tahun Indonesia merdeka selalu terpinggirkan.
Syarat mutlak berjalannya sistem ekonomi nasional yang berkeadilan
sosial adalah berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi,
dan berkepribadian di bidang budaya.

Moral Pembangunan yang mendasari paradigma pembangunan yang berkeadilan


sosial mencakup:

peningkatan partisipasi dan emansipasi rakyat baik laki-laki maupun


perempuan dengan otonomi daerah yang penuh dan bertanggung jawab;
penyegaran nasionalisme ekonomi melawan segala bentuk ketidakadilan
sistem dan kebijakan ekonomi; pendekatan pembangunan berkelanjutan yang
multidisipliner dan multikultural. pencegahan kecenderungan
disintegrasi sosial; penghormatan hak-hak asasi manusia (HAM) dan
masyarakat; pengkajian ulang pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu
ekonomi dan sosial di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.

Srategi pembangunan yang memberdayakan ekonomi rakyat merupakan


strategi melaksanakan demokrasi ekonomi yaitu produksi dikerjakan oleh
semua untuk semua dan di bawah pimpinan dan penilikan anggota-anggota
masyarakat. Kemakmuran masyarakat lebih diutamakan ketimbang kemakmuran
orang seorang. Maka kemiskinan tidak dapat ditoleransi sehingga setiap
kebijakan dan program pembangunan harus memberi manfaat pada mereka
yang paling miskin dan paling kurang sejahtera.
Inilah pembangunan generasi mendatang sekaligus memberikan jaminan
sosial bagi mereka yang paling miskin dan tertinggal.

Kesimpulan
Globalisasi bukan momok tetapi merupakan kekuatan serakah dari sistem
kapitalisme-liberalisme yang harus dilawan dengan kekuatan ekonomi-
politik nasional yang didasarkan pada ekonomi rakyat. Semasa krismon
kekuatan ekonomi rakyat telah terbukti mampu bertahan. Ekonomi rakyat
benar-benar tahan banting. Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga
Indonesia (Sakerti) 3 (Juni – Desember 2000) membuktikan hal itu dengan
menunjukkan 70% rumah tangga meningkat standar hidupnya.
Krismon memang lebih menerpa orang-orang kota dan menguntungkan orang-
orang desa. Bagi kebanyakan orang desa tidak ada krisis ekonomi. Kesan
krisis ekonomi memang dibesar-besarkan oleh mereka yang tidak lagi
mampu "berburu rente" (rent seekers) yang bermimpi masih dapat
kembalinya sistem ekonomi "persaingan monopolistik" yang lebih
menguntungkan sekelompok kecil orang/pengusaha kaya tetapi merugikan
sebagian besar golongan kecil ekonomi rakyat.

Ke-Indonesia-an

SYNERGY OF PERTAMINA-MEDCO: TOWARD TO WORLD-


CLASS OIL COMPANY

Rumors about such a synergy plan of Pertamina and MedcoEnergy have spread since the
last several months. These two corporations are increasingly mentioned in some news
and energy magazines in Indonesia. Actually, it was also confirmed by Arifin Panigoro
(Founder of Medco) in end October 2008 that Medco was possibility for have a synergy
with Pertamina to stimulate the state oil and gas company to become a world-class
company. There are three optional synergy plans that can be chosen by them, it could be
acquisition, merger, or joint operation based only on certain project area.

Merger, acquisition, or joint operation of each business companies are ordinary things to
keep on the continuity of companies. A merger occurs when two companies combine to
form a single company. A merger is very similar to an acquisition or takeover, except that
in the case of a merger existing stockholders of both companies involved retain a shared
interest in the new corporation. By contrast, in an acquisition one company purchases a
bulk of a second company’s stock, creating an uneven balance of ownership in the new
combined company. And joint operation occurs when two or more companies just
temporary doing specific project until it finished.

There are some examples for this synergy plan in oil and gas industry. Acquisition occurs
in BP and ARCO or Chevron and Texaco where eventually we know only left as BP and
Chevron today. And merger ever happens to Exxon Oil and Mobil Oil or Conoco Oil and
Phillips Oil. Until now, we know that both names are remaining affixed to ExxonMobil
or ConocoPhillips. Joint operation happened to Pertamina and ExxonMobil to operate
Cepu Block in Indonesia. All these entire sample synergy plans happens depend on
situation and also by certain purpose each companies.

As is well known, Pertamina is placed in second rank in oil production after Chevron
Company and gas production after Total Company. This company has reached 191
mbopd (million barrel oil per day) and 1450 mmscfd (million standard cubic feet per day)
of gas until august 2010. It’s only oil company have production increase when other
company has decrease in their production in several years. Medco has reaching 30
thousand bopd and gas reaching 145 mmscfd. In addition, Medco has a network business
in exploration and production overseas, from USA and some countries in Middle East
area. No other words to say, synergy plan between these companies will push Pertamina
into becoming a world class company like other state oil companies in other Asian
companies.

Now the question, what is appropriate choice of cooperation option for synergy plan of
Pertamina-Medco? To able develop Pertamina rapidly, acquisition is more appropriate
than merger and joint operation. If it can materialize, Pertamina will not only potentially
grow in performance of production, but also in assets and network. This company can
increase profit and will easy to expanding the overseas oil business. But actually, Medco
will disappear from oil and gas industry in Indonesia.

However, merger is second choice for synergy plan after acquisition, if Medco isn’t
willing and Pertamina not ready for acquisition for now. Pertamina should choose this
option, because these companies will acquire profit and risk business equally, although it
can’t grow Pertamina rapidly as same as acquisition choice. Merger can grow both
companies potentially, if they can combine their strength to expand their business to all
Middle East area, whose reserves reach 716 billion barrel. It will be an origin appears of
merger between a state oil company and a private oil company in Indonesia.

How about Joint Operation? Looking the intensive process these companies, it seems to
be small opportunity choice for Pertamina-Medco synergy plan. Moreover, these
companies had in fact to do it a long time ago in Donggi Senoro gas in Central Sulawesi.

Moreover, with the revised Law No. 21/2001 issue and the spirit of Article 33 of the
1945, actually synergy plan between Pertamina and Medco has great opportunity and
answer a doubt some parties that Pertamina can become a world class company not only
for this country but also be an international player by its business in various countries.
Written by:

Ryan Alfian Noor

Writer is Student of Petroleum Engineering ITB 2006

Oktober 26, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an | Tinggalkan komentar »

Membangunkan Macan Asia Yang Kini Tertidur Pulas

Jika menukil sejarah persepakbolaan Indonesia berpuluh-puluh tahun yang silam,


sebenarnya Indonesia memiliki sejarah yang cukup gemilang dalam ajang piala dunia.
Indonesia merupakan bagian dari perlehatan bergengsi dan berkelas itu, dengan
nama Hindia-Belanda di tahun 1938. Disana, Indonesia tercatat sebagai negara Asia
pertama yang masuk ke Piala Dunia. Dengan campuran pemain Belanda, Jawa, Ambon,
Tionghoa dan pribumi lainnya, tim ini menggoreskan sebuah semangat sejarah yang tak
mungkin dilupakan oleh bangsa Indonesia saat ini.

Sejalan dengan waktu, persepakbolaan Indonesia semakin berkembang. Tercatat pada


tahun 1950-an, Indonesia mencatat prestasi di kancah ASEAN GAMES, Olimpiade, dan
kualifikasi Piala Dunia. Hegemoni sepakbola Indonesia mulai beralih ke kawasan Asia
Tenggara pada tahun 1970-an pada turnamen antarnegara dan SEA Games. Mulai dari
sinilah gelar “Macan Asia” disemat oleh Indonesia karena berbagai prestasinya yang
semakin menukik.

Namun tampaknya prestasi tim sepakbola Indonesia mulai mandek semenjak memenangi
medali emas SEA Games 1991. Bisa dikatakan, itulah prestasi tertinggi yang diraih
Merah-Putih hingga detik ini. Peringkat Indonesia di daftar Asosiasi Federasi Sepak Bola
Internasional pun juga semakin jeblok. Jika ditilik dalam satu tahun terakhir, Indonesia
berada pada posisi ke-135 pada tahun 2010. Posisi ini turun jauh dibandingkan tahun
2003, dimana Indonesia ada di posisi ke-91. Maka pantaslah jika Indonesia kini disebut
sebagai Macan Asia yang tertidur.

“Sebenarnya permasalahan apa yang terjadi pada dunia persepakbolaan Indonesia?”


Tentu ini menjadi pertanyaan yang hinggap di benak ratusan juta bangsa ini. Jika dipilah-
pilah, setidaknya ada beberapa hal reformatif yang bisa dilakukan bangsa ini jika
menginginkan tim sepakbola yang kompetitif.
Yang pertama adalah pembinaan tim sepak bola Indonesia usia muda yang berkelanjutan,
seperti halnya Australia dan Jepang yang notabene telah masuk alam ajang piala dunia.
Sampai saat ini belum ada arah yang jelas arah pembinaannya. Hal ini terlihat jelas
dengan pengadaan ajang kompetisi yang cenderung apa adanya dan tidak profesional.
Padahal sudah jelas bahwa persoalan mendasar dari tim junior Indonesia adalah teknik
dasar yang masih lemah.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah merealisasikan pemusatan latihan bertaraf
international di dalam negeri. Sebenarnya hal ini sangat memungkinkan dilakukan
Indonesia mengingat negeri ini seringkali menginvestasikan jutaan dolarnya untuk
mengirimkan sebuah timnas untuk belajar dan berlatih ke luar negeri 2 sampai 4 tahun.
Dengan adanya akademi latihan yang lengkap ini, kontinuitas peningkatan kualitas
pemain dapat terus terjaga dari generasi ke generasi.

Hal reformatif berikutnya adalah meningkatkan iklim bisnis Indonesia yang menjangkau
sepakbola. Di Indonesia, sepakbola belum dianggap sebagai lahan industri yang bisa
menghasilkan keuntungan besar. Padahal dengan hadirnya sepakbola menjadi industri
besar di Indonesia, akan menjadikan posisi tawar persepakbolaan Indonesia di mata Asia
Football Confederation (AFC) meningkat. Dengan demikian, peluang klub Indonesia
bermain di ajang Liga Champion Asia akan semakin lebar. Tentu hal ini akan
meningkatkan performa dan kualitas pemain-pemain Indonesia agar lebih kompetitif.

Hal reformatif terakhir yang harus dilakukan adalah organisasi yang memegang kuasa
penuh atas perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia. Hal ini harus dilakukan
mengingat masih banyaknya jajaran pengurus pusat dan daerah PSSI yang memegang
jabatan ganda di klub masing-masing. Tak jarang, konflik kepentingan muncul mewarnai
organisasi tersebut disaat prestasi sepakbola Indonesia sangat merosot. Padahal untuk
membentuk tim sepakbola kompetitif juga diperlukan organisasi yang sehat dengan
pengurus yang bersih dan profesional.

Memang semua hal reformatif bukan semudah membalik telapak tangan. Perlu jangka
waktu yang panjang dan dukungan penuh semua pihak, jika memang bangsa ini mau
menyabet kembali gelar “Macan Asia” yang hilang,

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB 2006

*Tulisan ini pernah nangkring di Harian Seputar Indonesia pada hari Rabu 13 Oktober
2010

Oktober 16, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an | 1 Komentar »


Meneropong Masa Depan Perminyakan Indonesia

Sudah ada banyak tulisan yang telah menguak tentang sains perminyakan (maknanya,
cara pembentukannya, jenisnya, dll) dan analisis perminyakan (analisis energi, analisis
ekonomi, dll). Namun kali ini, saya ingin meneropong lebih jauh tentang masa depan
perkembangan “Teknik Perminyakan”, dari sisi prakteknya dilapangan dan serta peluang
diversifikasi ilmunya di Indonesia. Bagaimanapun juga, hal ini menjadi penting untuk
dipelajari karena negeri ini kaya dengan sumber migasnya. Jika ilmu Teknik
Perminyakan tidak mengakselerasi perkembangannya, maka tantangan energi bangsa ini
tidak akan pernah terjawab.

Berkaca dari sejarahnya, ilmu Teknik Perminyakan mulai tumbuh kembang saat Kolonel
Drake yang mengebor lapisan tanah di Titusville di Pennsylvania. Sejak saat itulah ilmu
itu terus menggeliat hingga memiliki kurikulum terstandar dalam dunia universitas atau
institut dengan judul “Petroleum Engineering”, yang tak lain dan tak bukan lahir dari
ilmu geologi yang telah berkembang cukup pesat sebelumnya. Bisa dikatakan, hingga
kini ilmu Teknik Perminyakan masih “balita” karena baru berumur sekitar dua abad. Hal
ini bisa dibandingkan dengan ilmu matematika, filsafat, ekonomi, dan politik yang kini
telah dewasa karena telah berkembang selama beratus-ratus abad yang lalu.

Sebenarnya makna “Petroleum Engineering” tidak mengikat fokus pada dunia


perminyakan saja (berbeda dengan bahasa Indonesia, “Teknik Perminyakan” memiliki
arti seolah hanya berfokus pada pengambilan minyak saja). “Petroleum” bermakna fluida
hidrokarbon yang ada didalam lapisan geologi didalam permukaan bumi. Dan
hidrokarbon pun bisa berbentuk gas, minyak, dan minyak berat sesuai dengan
komposisinya. Jadi ketika berbicara tentang teknik perminyakan, maka kita tidak hanya
berbicara tentang pengambilan minyak saja. Pengambilan gas pun juga menjadi bagian
dari ilmu ini karena dari segi teknis hampir sama dengan mengambil minyak.

Hingga kini, Ilmu Teknik Perminyakan masih terus mengakselerasi perkembangannya.


Walaupun ada banyak bidang Teknik Perminyakan saat ini, tapi secara umum ilmu ini
bisa dibagi kedalam ketiga sub-teknik: Teknik Reservoir, Teknik Pengeboran, dan Teknik
Produksi. Ketiga sub-teknik ini terus berkembang dengan paduan sistem terkomputerisasi
dan teknologi saat ini. Maka tak heran, jika dulu kebanyakan pengerjaan proyek migas
masih menggunakan tangan dan ketelitian mata, kini semua telah termanajemen rapi
dalam sebuah komputer. Tampak pula sekarang berbagai macam software yang berlisensi
atau yang bebas turut mempermudah pekerjaan seorang Engineer Teknik Perminyakan.
Belum lagi, perkembangan dunia simulasi numerik dari sebuah reservoir di sebuah
computer, membuat kita seolah-olah dapat memprediksi apa saja yang akan terjadi di
dalam bumi sana, tanpa kita harus kedalamnya.

Ilmu Teknik Perminyakan selalu berkembang dengan pesat terutama di negara-negara


yang kaya dengan sumber migas. Kita bisa mengambil contoh di Amerika, Eropa, dan
Negara Timur Tengah yang memiliki sederet nama kampus yang terdapat jurusan
“Petroleum Engineering” didalamnya. Perkembangan ilmu Teknik Perminyakan negara-
negara itu ditopang oleh kebutuhan industri eksplorasi dan eksploitasi migas yang
memang diminta oleh pemerintah untuk bisa memenuhi energi di negaranya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya ilmu Teknik Perminyakan Indonesia


juga berkembang pesat seperti negara-negara kaya migas lainnya. Sampai sejauh ini,
telah sudah ada beberapa kampus yang memasukan ilmu Teknik Perminyakan didalam
salah satu kategori jurusannya. Kampus tersebut adalah ITB, UPN, Univ. Trisakti, dan
beberapa STT Migas yang tersebar di seantero di Indonesia. Secara umum, kampus-
kampus tersebut memang getol sekali menelurkan alumni-alumninya untuk berkontribusi
dalam industri migas yang ada di Indonesia, baik perusahaan nasional atau asing.

Berbicara ihwal perkembangan ilmu Teknik Perminyakan ini, perlu kiranya kita kaitkan
dengan realita sumber migas yang ada di Indonesia ini. Dalam salah satu sumber telah
disebutkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki 60 cekungan sumber migas yang
terbentang di sepanjang pantai barat Sumatera termasuk di Laut Cina Selatan, pantai
utara Jawa dan berbelok ke selat Makasar, yaitu di sepanjang pantai barat Kalimantan
(Sumber: IAGI, 2006). 60 cekungan ini dirinci lagi menjadi 38 basin telah dieksploitasi,
yang 15 di antaranya telah berproduksi, 11 belum produksi, dan dalam tahap eksploitasi,
dan masih ada 22 basin lagi yang belum dieksploitasi hingga sekarang. Walhasil, saat ini
produksi minyak mengalami degradasi terus-menerus sejak tahun 2000. Rupanya era
keemasan produksi minyak Indonesia dari tahun 1976-2000 telah berlalu karena
stagnansi eksploitasi basin Indonesia.

Efek domino yang bisa dirasakan saat ini adalah perkembangan dunia migas di Indonesia
menjadi terhambat. Hal ini ditandai dengan menurunnya pendapatan negara yang berasal
dari sektor migas. Selain itu, industri migas mulai berancang-ancang untuk melakukan
pembatasan jumlah karyawan karena belum adanya lapangan baru untuk dieksploitasi.
Belum lagi ditambah dengan faktor politis sumber migas yang jadi rebutan negara
adidaya dan isu hangat PSC Indonesia yang masih belum surut hingga kini. Sebenarnya
solusi permasalahan ini dapat dipandang dari berbagai sisi. Namun semuanya akan
berpulang lagi pada perkembangan ilmu Teknik Perminyakan itu sendiri, kemudian baru
berlanjut pada SDM yang berkualitas dan modal yang mumpuni.

Mari kita melihat sekilas sumber energi dalam permukaan bumi Indonesia lainnya, yang
proses mengambilnya mirip dengan proses mengambil migas. Adalah non konvensional
gas (coalbed methane dan gas hydrate) dan geotermal yang memiliki prospek masa
depan energi yang potensial di Indonesia. Walaupun pengenalan kedua ilmu itu belum
terlalu populer di Indonesia, namun secara perlahan mulai menunjukan
perkembangannya. Hal ini ditandai dengan diadakannya mata kuliah Teknik Panas Bumi
dan Unconventional Hydrocarbon Recovery sebagai mata kuliah baru di Teknik
Perminyakan kampus Indonesia, khususnya ITB. Kedepannya, mata kuliah yang
berkaitan dengan hal ini sebaiknya diperbanyak, dan adalah sebuah keniscayaan suatu
saat akan menjadi disiplin ilmu tersendiri di kampus yang nantinya akan menjadi
interdisiplin dari ilmu perminyakan.
Yang kedua adalah SDM yang berkualitas. Sudah kita ketahui bersama bahwa kampus
merupakan lembaga pendidik dan penghasil manusia sesuai dengan tujuan kampusnya.
Di Indonesia dikenal sebuah credo Tridharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian,
dan Pengabdian Masyarakat, yang menjadi visi besar setiap kampus negeri ini. Jadi di
perguruan tinggi manapun di Indonesia, kegiatannya selalu diarahkan pada pembangunan
bangsanya. Dalam kaitannya dalam dunia perminyakan, tentu SDM yang dihasilkan
haruslah bisa membangun kemandirian negara dari sektor energi. Dunia migas
merupakan “lahan basah” untuk berkarir dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa prospek
gajinya sangat cerah. Tanpa adanya penanaman jiwa nasionalisme dan integritas pribadi
pada calon alumni-alumninya, maka yang tercipta hanyalah manusia-manusia yang hanya
mementingkan kepentingan pribadinya sendiri dan tidak memilikisense of belonging pada
permasalahan energi bangsanya.

Selain itu, kampus juga harus bisa meningkatkan kapasitas para calon alumninya agar
dapat unggul di kancah dunia internasional. Tidak diragukan lagi bahwa penguasaan
bahasa asing, kepandaian berbicara di depan umum, kemampuan memimpin tim,
merupakan beberapa softskill yang harus dimiliki para alumni Teknik Perminyakan agar
bisa berkompetisi dan bersosialisasi dengan para rekannya. Yang menjadi rekan disini
bukan hanya dari Indonesia saja, alih-alih sudah mencakup rekan dari seluruh tataran
belahan dunia lainnya.

Dan yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah permasalahan modal. Modal sangat
penting bagi kampus sebagai biaya riset dan penelitian. Memang hingga detik ini,
kebanyakan soft-product (metode, analisis, atau laporan) yang dihasilkan para calon
alumni Teknik Perminyakan masih terkendala dengan keterbatasan data yang dimiliki
kampus. Belum lagi alat laboratorium yang sudah usang karena tak diganti sejak lama.
Hal ini dimotori kurangnya asupan dana yang disuntikan oleh pihak-pihak yang
bersangkutan seperti ikatan alumni, pemerintah, dan industri. Kedepannya, perlu
dibentuk sebuah komitmen jelas antara industri, pemerintah, dan pihak alumni dari
Teknik Perminyakan sendiri untuk membangun proses riset dan penelitian yang baik di
kampus. Apalagi jika arah riset dari kampus di bidang Teknik Perminyakan sendiri mulai
diarahkan pada pembentukan hard-product yang dapat diaplikasikan langsung di
lapangan dan bukan lagi hanya konsepsi tertulis diatas kertas saja. Tentunya, modal yang
dibutuhkan tidaklah sedikit.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan saya ini dengan kata-kata John Naisbitt dalam salah
satu bukunya. Dia mengatakan: “we must learn from the future in precisely the ways we
have learned from the past”. Memang benar adanya bahwa kita harus belajar dari masa
depan seperti kita belajar dari masa lalu. Masa emas produksi minyak Indonesia memang
sudah lewat, tapi disana kita belajar dan menginstropeksi diri kita selama 24 tahun
bagaimana cara mengelola minyak dengan baik hingga era kemandirian energi Indonesia
itu pernah ada. Memang saat ini kita berada dalam kidung keterbatasan energi nasional
kita sehingga mau tidak mau kita telah mengimpor minyak. Masa lalu telah mengajarkan
banyak hal pada kita semua, untuk bisa membangun dan mengembangkan dunia
petroleum Indonesia. Kita pasti bisa.
Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mahasiswa S1 Teknik Perminyakan ITB 2006

September 2, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an, Uncategorized | Tinggalkan komentar


»

Menjadi Aktivis Masa Kini

Bung Karno, Bung Hatta, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ki Hadjar


Dewantoro, Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangunkusumo, Sjamsurijal, dan
sederet nama aktivis lainnya, merupakan orang-orang yang senantiasa kreatif dalam
mencari terobosan dalam menyiasati keadaan. Di tengah-tengah impitan pihak imperialis
dan kolonialis, mereka sangat aktif memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan bangsa
ini merdeka, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Setiap masa memiliki nuansa permasalahannya sendiri. Lingkungan eksternal yang


senantiasa berubah. Barangkali apa-apa yang dilakukan aktivis terdahulu tidak lagi cocok
dengan realitas saat ini, mengingat permasalahan yang semakin kompleks dan teknologi
semakin maju. Orang-orang yang hidup masa kini tetapi masih memakai cara berpikir
masa lalu bisa-bisa akan terkena dampak yang diistilahkan oleh Alvin Tofler dengan
nama “future shock”.

Menjadi aktivis pada zaman yang “musuh bersama”-nya sangat abstrak saat ini, memang
butuh kreatifitas ekstra. Adanya kemampuan pihak suprastruktur (pemerintah) untuk
menggeser-geser isu negara dengan cepat dan cantik, membuat para aktivis terkadang
kelimpungan menghadapinya. Hal ini dilanjutkan dengan belum ditemukannya format
baku gerakan aktivis pasca reformasi ini. Jika dulu para aktivis dapat melakukan
terobosan gerakannya lewat momentum kemerdekaan, untuk mengusir para pemodal
asing, untuk menggulingkan kediktatoran seorang pemimpin.Bisa jadi memang kita
belum menemukan momentumnya, sehingga seakan kita terpecah dalam terobosan
gerakan masing-masing “wadah” aktivis. Lantas bagaimana menyikapi hiruk-pikuk
permasalahan era zaman kita? Apakah kita akan diam?

Kalau kita ingin biasa-biasa saja, maka janganlah membuat terobosan-terobosan apa-apa.
Silakan statis dan monoton saja. Tetapi kalau suara kita mau didengar, kiprah kita
mempengaruhi banyak orang dalam skala yang luas, sehingga kita “bukan aktivis biasa”,
maka berbuatlah sesuatu. Manfaatkan media apapun secara positif karena kekuatan media
adalah sangat luar biasa.

Sebagai contoh, kisah gugatan hukum Prita oleh sebuah Rumah Sakit Internasional di
Indonesia tentu masih melekat kuat dibenak kita. Prita yang merasa dirugikan digugat
hukum oleh pihak rumah sakit. Lewat opini yang dia lontarkan di media maya surat
elektronik, Prita memantik dukungan masyarakat Indonesia lewat gerakannya yang
bertajuk “gerakan koin peduli Prita”.

Akan halnya dengan kisah Jojo dan Sinta. Siapa kini yang tidak tahu mereka? Dua wanita
yang merekam lipsync “Keong Racun” mendadak melontarkan keduanya sebagai orang-
orang yang bahkan lebih popular ketimbang peserta kontes idol atau pencarian bakat
yang terlembaga. Ternyata, hal sederhana yang tampil apik di media dapat menyebabkan
dampak sistemik yang tak sekedar isapan jempol belaka.

Bang Alfan Alfian (Dosen Fisip UN) pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya,
bahwa jangan pernah terjebak, karena kita tidak suka substansinya, menyalahkan alatnya.
Kalau kita tidak suka musik, jangan salahkan peralatan musiknya. Kalau Anda tidak suka
konten-konten negatif situs-situs di internet, jangan salahkan internetnya. Manfaatkan
saja “alat-alat” itu untuk kepentingan yang lebih positif.

Penggunaan media yang optimal harus diimbangi dengan “isi” yang mau hendak kita
bawa. Bentuknya bisa tuangan pemikiran orisinalitas kita dalam bentuk tulisan atau bisa
pula berupa penyuaraan opini lewat gerakan-gerakan inovatif atau karya yang telah
dilakukan. Kalau tulisan atau gerakan yang kita lagi-lagi, biasa-biasa saja, tentu akan sulit
dilirik media dan barangkali masyarakat pun sudah lelah melihat hal berulang dan
terkesan itu-itu saja. Memang konten lewat kajian intelektual yang mendalam itu penting,
tetapi metode atau cara penyampaian juga tak kalah pentingnya.

Adalah sebuah kebenaran bahwa bukan tugas aktivis saja untuk menyodorkan konsep-
konsep finalnya dalam sebuah aksi, tetapi aksi apa pun juga memerlukan situasi medan
yang dihadapi. Jadi, adalah sebaiknya aktivis jika mereka setidak-tidaknya mempunyai
gambaran yang menyeluruh mengenai masalah-masalah pokok yang dihadapi negaranya.
Tanpa big picture yang demikian itu, kita hanya akan kehilangan orientasi dan akhirnya
hanya sekedar bertindak sebagai pemberi reaksi-reaksi spontan yang tidak akan
berdampak fundamental dalam masyarakat.

Buat apa kita melakukan aksi berkarya? Buat apa kita melakukan aksi turun ke jalan?
Buat apa ada aksi mengabdi masyarakat? Buat apa aksi melatih jiwa kewirausahaan kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa didapatkan ketika kita dapat menemukan titik temu
intelektualitas kita dengan realitas masyarakat. Intelektualitas tanpa menyentuh sisi
realitas hanya menjadi kajian belaka, dan realitas tanpa disentuh intelektualitas hanya
akan menjadi permasalahan tak akan kunjung usai.

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mentri Koordinator Bidang 1 Kabinet KM ITB 2009-2010

Agustus 19, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an, Kemahasiswaan | Tinggalkan komentar


»
Membangun Kota Madani Berperadaban

Hakikat pembangunan kota yang baik adalah membangun masyarakat. Sebaik apapun
sebuah kota, masyarakatlah yang akan menjadi penentu akan bertahan seberapa lama
keutuhan kota tersebut. Untuk membangun kota yang baik, masyarakat harus
berpendidikan dan moral yang baik. Dan untuk pembangunan kota yang lebih efektif,
masyarakat harus melakukan pembelajaran sejarah masyarakat dunia yang telah berhasil
membangun kotanya.

Pun demikian jika berbicara tentang kota madani. Kota madani diadaptasikan dari
pembangunan kota madinah. Jika dirujuk pada sejarahnya, kota madinah berhasil
membuat sebuah konstitusi dimana didalamnya terdapat produk politik yang terumuskan
melalui kesepakatan berbagai unsur pluralisme kultural dalam masyarakat. Dari sini pula
muncul sebuah sikap kosmopolit yang menjadi cikal bakal terbentuknya sebuah
masyarakat yang terbuka dan demokratis. Kota madani sering dielu-elukan oleh kota
abad 21 saat ini, karena konsep pembangunannya yang holistik, realistik, namun tidak
meninggalkan unsur perbedaannya.

Setelah mengetahui sejarah, langkah selanjutnya yang harus difahami adalah modal,
proses, dan tujuan pembangunan yang mengarah pada perekonomian yang baik,
masyarakat yang baik, dan proses politik yang baik. Semuanya saling bergantung
(interdependent) yang disebut oleh Bung Karno dengan masyarakat gotong royong. Jika
hal ini benar-benar dapat diaplikasikan, maka pembangunan kota akan dapat menjadi
lebih aman, nyaman, tentram, dan efisien.

Menurut World Bank, ada empat pilar modal yang diperlukan sebuah kota agar dapat
melaksanakan sebuah proses pembangunan kota yang baik. Empat modal itu adalah
modal alami, modal fisik, modal manusia, dan modal sosial. Dan semua modal tadi
dipadukan dalam satu indikator yang bernama Gross Domestic Product (GDP). Semakin
tinggi GDP sebuah kota, maka semakin produktif dan tumbuh ekonomi kota tersebut.

Untuk membangun kota madani berperadaban, parameter GDP tidaklah cukup.


Pandangan ini terlalu sempit. Pembangunan masyarakat juga harus dipadu dengan
peningkatan kualitas hidupnya. Dan untuk melakukannya, pemerintah tidak akan bisa
melakukannya sendiri. Perlu ada campur tangan masyarakat didalamnya untuk
membantu pemerintah.

Berbicara tentang pemerintah, kota madani memerlukan pemimpin yang bersih jujur,
adil, dan profesional untuk mengambil pilihan-pilihan sulit untuk membuat kota yang
lebih baik. Pemimpin disini adalah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Koordinasi dan
lebih mengutamakan kepentingan masyarakat adalah penting. Disinilah mental pemimpin
akan diuji, apakah berhasil atau tidak.

Masyarakat yang hidup dalam nuansa kota yang demokratis pun harus aktif mengawasi
pembangunan kotanya. Masyarakat harus mengingatkan pemerintahnya dengan cara-cara
yang beretika dan bermoral. Hal ini harus didukung dengan peran kaum intelektual,
pengusaha, dan media yang memberikan infrmasi yang menunjang kebenaran, kemajuan,
dan persatuan.

Dalam bukunya, The Theory of Moral Sentiments (1754), Adam Smith memberikan
sebuah argumentasi bahwa pemenuhan kepentingan pribadi (pure self interest) setiap
warga harus diimbangi dengan pengendalian diri (self restraint) dari ambisiusitas dirinya.
Disinilah fungsi besar pemerintah menjadi pengendalinya. Bukan hanya dengan hukum
dan peradilan, namun juga dengan nilai-nilai religiusitas dan budaya luhur masyarakatnya
sendiri.

Walaupun pada kenyataannya perekonomian yang baik, masyarakat yang baik, hukum
yang baik, dan proses politik yang baik adalah dambaan semua elemen masyarakat yang
hidup di kota madani, terkadang semua hal ini sulit tercapai. Ada banyak kasus
dilapangan yang membuat satu hal dambaan tadi saling berlawanan dengan hal yang
lainnya (trade-off). Untuk itu perlu ada upaya pemerintah dan masyarakat untuk
merealisasikan pemerintahan, sektor swasta, dan masyarakat yang baik (good
governance, good private sectors, dan good people).

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mentri Koordinator Pengembangan Karakter Kemahasiswaan Kabinet KM ITB

Agustus 12, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an | Tinggalkan komentar »


Refleksi Perkembangan MDGs Dunia dan Indonesia

Diksi kata “Pembangunan” memiliki sebuah


definisi yang sangat besar di dalamnya. Dalam KBBI telah disebutkan dengan gamblang
bahwa kata “Pembangunan” merupakan proses berkelanjutan untuk bangkit. Kata
“Bangun” atau sering pula diselaraskan dengan kata “Bangkit”, selalu dilekatkan secara
personal pada seseorang atau secara komunal pada sebuah kumpulan orang, bisa itu
masyarakat atau juga negara. Dalam perjalanannya, pembangunan akan menemui friksi-
friksi eksternal yang akan menjadi inhibitor dan katalisator yang mempengaruhi waktu
pencapaian keagungan visi dari pembangunan tersebut.

Untuk mencapai sebuah perdamaian dunia, paradigma pembangunan dalam level


personal dan bangsa pun belumlah cukup. Di era milenium saat ini, pembangunan
mestilah difokuskan pada pembangunan dalam level masyarakat globalisasi. Artinya kita
berbicara tentang kehidupan bangsa-bangsa. Dan berbicara tentang permasalahan ini,
saya ingin mengajak kita semua untuk mengingat sasaran pembangunan milenium yang
ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2005 silam. Indonesia dan 189
negara lainnya telah menyepakati 8 sasaran milenium, yakni:

1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim


2. Pemerataan pendidikan dasar
3. Mendukung adanya persaman jender dan pemberdayaan perempuan
4. Mengurangi tingkat kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya
7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Di dunia kita hari ini, setiap hari delapan juta orang meninggal karena terlalu miskin
untuk bertahan hidup. Sementara 1,1 milyar manusia, atau seperenam penduduk bumi,
terpuruk dalam apa yang disebut Jeffrey D. Sach dalam The End of Poverty: Economic
Possibilities for Our Time (2005) sebagai ”kemiskinan ekstrim”. Dunia kita sejatinya
dipenuhi kemiskinan. Inilah lahan subur bagi konflik, permusuhan dan terorisme. Ladang
kering dan tandus bagi perdamaian. Kemiskinan berlanjut pada merosotnya pemerataan
pendidikan dan peningkatan mortalitas manusia. Tidak berakhir sampai disana,
permasalahan penyebaran penyakit baru, rusaknya lingkungan hidup juga menjadi
permasalahan yang tak kunjung usai.

Sasaran-sasaran ini membuat semua paradigma pembangunan sebuah negara menjadi


berubah. Pembangunan yang tadinya berfokus pada kemakmuran sendiri, kini harus
secara pasti bertransendensi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat global. Hal ini
dibuktikan dengan adanya berbagai macam usaha dunia yang mengarah pada
sasaran Millennium Development Goals (MDGs) tersebut. Sebut saja misalnya Traktat
Tokyo (1997) yang banyak ditentang oleh negara adidaya, hingga kini masih
dipertahankan keberadaannya oleh negara berkembang. Ada lagi solidaritas dari negara-
negara selatan untuk mendesak negara-negara utara meningkatkan bantuan pembangunan
bukan hutang, tanpa syarat dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA
(official development assistance) yang tidak bermanfaat untuk negara tersebut.

Hal inilah yang benar-benar diperingatkan sejak lama oleh Adam Smith didalam bukunya
Wealth of Nation (1776), bahwa dalam konteks kenegaraan, ambisi pribadi (self
interests) harus diimbangi dengan moral yang baik sehingga dapat menahan nafsu dan
ambisinya (self reliance). Bisa dibayangkan kalau hal itu tidak dilakukan, sudah tentu
tidak akan ada pemerataan yang adil bagi semua negara-negara di dunia. Negara-negara
yang kaya akan semakin kaya dan negara-negara miskin akan semakin berada di lembah
kemiskinannya.

Lahirnya delapan butir sasaran MDGs ini menjadi pintu gerbang negara-negara dunia
bisa mengendalikan ‘nafsu’ nya sekaligus memupuk kesadaran bahwa ada tanggung
jawab untuk menjaga keutuhan dunia bersama. Sampai sekarang, negara-negara penggiat
MDGs tetap bertahan menyuarakan seuran untuk mengambil langkah aksi guna mencapai
semua sasaran tersebut. Komitmen nyata yang telah hadir adalah tergalangnya dana 16
miliar dolar AS, dengan sekitar 1,6 miliar dolar AS untuk meningkatkan keamanan
pangan, 4,5 miliar dolar AS untuk pendidikan, dan 3 miliar dolar AS untuk mereduksi
penyakit malaria.

Sekarang bagaimana dengan negara Indonesia? Indonesia termasuk negara yang sangat
concern merealisasikan capaian 8 butir sasaran tadi. MDGs telah menjadi referensi
penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum
pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya dibawah
komando Bappenas. Walaupun mengalami berbagai kendala, namun pemerintah
memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan dibutuhkan kerja keras serta
kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan
lembaga donor.

Sayang aduh sayang, baru-baru ini pemerintah menengarai bahwa ada tiga sasaran yang
dimungkinkan gagal pencapaiannya pada tahun 2015. Kemungkinan itu ditunjukan lewat
angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi, pencegahan HIV/ AIDS yang belum
maksimal, dan peremajaan lingkungan hidup yang tidak optimal. Belum lagi tanggungan
beban hutang yang sangat besar. Program-program MDGs lainnya membutuhkan biaya
yang sangat besar. Jika dirujuk lewat data Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008,
beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan
jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu
yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun
drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun.

Akibat hal tersebut, tidak salah jika Indonesia ditempatkan pada posisi yang rentan.
Indeks kerentanan pencapaian MDGs Indonesia berada pada posisi menengah bersama
Filipina, Nepal, dan Papua Nugini, serta lebih buruk dibandingkan Vietnam, Bangladesh,
dan India. Hal ini sangat mengkhawatirkan, mengingat sisa waktu lima tahun lagi (baca:
2015) untuk bisa memenuhi MDGs. Indonesia harus benar-benar memacu diri untuk
mengejar ketertinggalannya. Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan negara
ini untuk dapat memenuhi sasaran MDGs kedepannya:

Pertama, Sinkronisasi arah gerak pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Saat ini, ada
46 program dan 105 tindakan terkait upaya pencapaian MDGs, program prorakyat, dan
program keadilan untuk semua yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Program
dan tindakan itu hanyalah menjadi sia-sia belaka tanpa adanya tindakan nyata di level
kabupaten. Maka jangan sampai sistem desentralisasi negara ini menjadi penghambat.
Jadi, semakin menggeliatnya peran pemerintah daerah untuk menyukseskan tujuan
pembangunan milenium, semakin cepat pula MDGs negara Indonesia akan tercapai.

Kedua, perbaikan sektor pendidikan Indonesia. Sebenarnya, hampir delapan sasaran


MDGs dapat tercapai jika sasaran perbaikan sektor ini telah selesai. Bagaimana tidak?
pendidikan akan meningkatkan harkat hidup orang miskin, sehingga bencana kelaparan,
kematian, dan penyakit pun pasti akan menurun. Begitu pula juga dengan kesadaran
pemahaman gender dan menjaga lingkungan hidup. Pemerintah harus memutar otak
untuk meningkatkan jumlah partisipan pendidikan sesuai dengan umur pendidikannya.

Ketiga, mempertahankan kearifan lokal yang ada di Indonesia. Didalam kearifan lokal
terkandung sebuah visi, misi, dan nilai-nilai yang menjelma menjadi sebuah identitas
sebuah masyarakat. Manusia Indonesia yang terkenal dengan jiwa sosial dan kegotong-
royongannya akan memberikan kontribusi yang besar dalam pencapaian MDGs
kedepannya. Dengan semangat kepedulian yang tinggi, anggota masyarakat Indonesia
bisa bertenggang rasa dan tepo seliro pada anggota masyarakat lainnya yang mengalami
suatu problem kehidupan. Dengan demikian, sektor masyarakat dapat membantu sektor
pemerintah secara kultural.

Keempat, mengoptimalkan penggunaan prinsip Eco-Technology. Prinsip ini mencoba


menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan alam. Prinsip ini memberikan
solusi atas ketergantungan negara Indonesia pada penggunaan energi fosil. Indonesia
yang kaya dengan sumber daya energi alternatif, memiliki potensi besar untuk
menggunakan Eco-Technology. Yang menjadi pemasalahan kini tinggallah ketentuan
kebijakannya. Implementasi dari penggunaan prinsip ini akan berdampak sistemik
terhadap penurunan pencemaran lingkungan.

Juli 11, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an | 2 Komentar - komentar »

Kemelut Dampak Sistemik Globalisasi Pada Indonesia

Hernando de Soto, seorang pemikir ekonomi dunia asal Peru pernah menegaskan bahwa
sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara
terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun,
seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-
negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara
berkembang dan miskin.

Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu
seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labil yang
menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin
berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan
rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk
mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.

Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin.
Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-
negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga,
negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.

Mari berkaca pada isu perjanjian AFTA yang kini menjadi dampak sistemik globalisasi,
pada sektor ekonomi Indonesia. Sebenarnya AFTA merupakan peluang bagi negara
ASEAN untuk berkompetisi secara fair memasarkan produk hasil negerinya. Namun
dengan kehadiran Cina yang turut meramaikan perjanjian ini, menjadikan semua bangsa
di ASEAN menjadi was-was, termasuk negara Indonesia.

Dengan kemampuan Cina menghasilkan produk yang sangat murah, Ekonom Indonesia
benar-benar khawatir kalau produk dalam negeri ini tidak mampu bersaing dengan negara
itu. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya fakta, banyak industri pengrajin Indonesia yang
bangkrut akibat tidak mampu bersaing dengan produk Cina. Padahal itu terjadi jauh
sebelum AFTA diberlakukan.
Mari beralih pada sektor kehidupan yang lain. Jika tadi Hernando lebih berfokus dampak
sistemik globalisasi sektor fiskal, maka Marshall Mc Luhan, seorang penulis buku
Understanding Media, lebih berfokus pada dampak sistemik globalisasi pada sektor
budaya. Dia mengatakan, bahwa kini semakin nyata saja imbas teknologi komunikasi
pada berbagai sektor kehidupan.

Media massa global seperti CNN, MTV, CNBC, HBO, BBC, ESPN, dan lain-lain, telah
menjangkau dan menembus yuridiksi berbagai negara. Setidaknya informasi itu sering
dimaknai di dalamnya mengandung kebudayaan, maka terjadilah penyebaran budaya
global. Media massa berperan sebagai kekuatan trend setter untuk isu-isu global, baik
persoalan politik seperti HAM, lingkungan hidup, maupun terorisme internasional,
hingga ke persoalan budaya dan gaya hidup.

Dampak sistemik ini telah kini telah sampai di Indonesia. Ada dampak positif dan ada
dampak negatif. Dampak positifnya adalah semakin mudahnya kita mengakses berita
internasional dalam real-time saat informasi itu baru didapatkan. Namun disisi lain,
dampak negatif pun tak dapat dielakkan juga. Tampaknya telah terjadi pergeseran nilai-
nilai norma kesopanan yang dahulu kita pegang teguh sebagai identitas negara kita. Saat
ini banyak beredar film Indonesia berkedok komedi atau horor, namun sebenarnya lebih
banyak menonjolkan adegan vulgar yang mengikuti budaya hidup orang barat.

Sebenarnya masih banyak lagi dampak sistemik globalisasi yang mempengaruhi sendi-
sendi kehidupan bernegara kita. Namun yang terpenting adalah bukanlah mendaftar efek
sistemik apa saja yang telah didapatkan Indonesia. Yang terpenting adalah kini sudah
saatnya rakyat dan pemerintah Indonesia sadar, bahwa saat ini bukanlah lagi waktu untuk
bersantai-santai dan memperlambat gerak pembangunan. Kalau ini terus dibiarkan, maka
negara kita akan tergilas oleh dampak sistemik itu sendiri.

Dengan adanya arus globalisasi dunia ini, Indonesia dihadapkan pada hanya dua pilihan
saja : memilih hal ini sebagai sebuah peluang atau sebagai sebuah hambatan. Peluang
berarti setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memanfaatkan situasi ini
dalam menghidupi kehidupannya dengan baik, sedangkan tantangan berarti setiap orang
diberi kesempatan untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuannya. Sudah saatnya
Indonesia melakukan akselerasi pembangunan disegala sektor menghadapi tantangan era
globalisasi yang sudah hadir di depan mata.

Proses globalisasi ini membuat dunia menjadi kian sempit seperti persis yang dikatakan
Thomas L. Friedman didalam bukunya yang berjudul The World is Flat. Jadi janganlah
heran, jika kita dapat menemukan dengan mudah berbagai produk luar negeri yang
beredar di seantero negeri kita.

Disamping itu, globalisasi pun telah membuat seakan negara satu dan lainnya kehilangan
batas-batas jelas teritorialnya serta berujung pada hilangnya status “negara–bangsa”, yang
sama persis seperti ramalan Profesor Kenichi Ohmae didalam bukunya yang berjudul
The End of Nation State.
Proffesor Kenichi Ohmae telah mewanti-wanti sejak lama kepada semua negara yang ada
di dunia bahwa ada empat “I” yang akan membawa dampak sistemik globalisasi ini.
Keempat “I” tersebut adalah Industri, Investasi, Individualisme, dan Informasi. Jadi
sudah seharusnya Indonesia mulai berancang-ancang terhadap empat “I” ini.

Sudahkan industri kreatif Indonesia dikembangkan secara optimal? Sudahkah penanaman


investasi di berbagai sektor Indonesia telah dimaksimalkan? Sudahkah ada
penanggulangan efek individualisme sebagai efek kesenjangan si kaya dan si miskin di
Indonesia di lakukan? Dan sudahkah sektor informasi di maksimalkan hingga sampai di
pelosok desa terpencil Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan milik pemerintah
saja, tapi milik semua bangsa Indonesia. Mari kita saling bahu-membahu untuk
menciptakan sebuah peluang di era globalisasi ini.

Januari 22, 2010 | Categories: Ke-Indonesia-an | Tinggalkan komentar »