Anda di halaman 1dari 6

Tugas Mata Kuliah : Teori Perencanaan dan Pembangunan (PWK 605)

PEMBAHASAN RPJMN TAHUN 2010-2014 DAN SSE (STEADY STATE ECONOMY)

Oleh: YONATHAN 21040112410026

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

2013
1. Pendahuluan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari Visi, Misi, dan Program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), yang memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program kementerian/lembaga dan lintaskementerian/lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Secara jangka panjang, pemerintah membuat tahapan pembangunan berupa Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang memiliki masa hidup dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2025. Jadi, RPJPN ini memiliki 20 tahun untuk mencapai segala misi dan visi yang diembannya. Selain itu, RPJPN ini berisi pedoman bagi pemerintah dan warga Negara Indonesia dalam penyelenggaraan pembangunan Indonesia selama 20 tahun. RPJPN selanjutnya diuraikan menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang berjangka lima tahunan untuk memudahkan kontrol pemerintah dalam menyusun program prioritas selama lima tahun kerja sekaligus melakukan penyesuaian agar sesuai dengan visi dan misi yang diharapkan terpenuhi dalam lima tahunan pembangunan tersebut. Langkah strategis yang tertuang dalam RPJMN 2010-2014 adalah mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi serta memanfaatkan semua potensi dan peluang yang ada. Adapun tujuannya adalah sebagai berikut:
1. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa, yang didukung sepenuhnya oleh kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, 2. Terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara yang demokratis, berbudaya, bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia, 3. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata, yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif, yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

=2 =

Oleh pemerintah, penyusunan RPJMN lima tahunan ini diharapkan juga bisa memudahkan penyesuaian rencana apabila ternyata dalam jangka menengah tersebut terjadi perubahan terkait aspek pembangunan yang diprioritaskan.

2.

Pembahasan Pada saat ini, pertumbuhan ekonomi menjadi tolok ukur dari kesejahteraan suatu

bangsa. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari hasil pembangunan yang lebih terlihat sebagai pembangunan fisik kota atau wilayah. Padahal jika ditengok lagi, ukuran dari pertumbuhan ekonomi seringkali mengabaikan unsur-unsur pembangunan lainnya yang juga penting dan harus dipertimbangkan yaitu unsur lingkungan dan sosial. Karenanya, pertumbuhan ekonomi seakan menjadi sebuah samaran ketika pertumbuhan ekonomi tersebut dibarengi dengan meningkatnya kerugian, baik dari segi lingkungan atau sosial, yang dihasilkan dari sebuah pembangunan. Dari hal tersebut muncul teori ekonomi baru yang dimunculkan oleh ahli ekonomi dunia, Herman Dally. Teori yang dikemukakan oleh Herman Daly adalah Steady State Economy, yang lebih mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan aspek lain yaitu lingkungan. Menurut Herman Dally, Steady State Economy merupakan suatu tatanan ekonomi yang menyeimbangkan pertumbuhan dengan integritas lingkungan. Steady State Economy bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya, serta distribusi kesejahteraan yang dihasilkan dari upaya pemanfaatan sumber daya tersebut. Melalui teori ini, Dally berargumen bahwa lingkungan / sumber daya alam tidak akan selamanya mampu mendukung pertumbuhan pembangunan yang sifatnya semakin mengeksploitasi sumber daya alam (natural source). Perhitungan PDB tidak menyertakan marginal benefit dan marginal cost. Karena dalam marginal cost, seperti kerusakan lingkungan serta konflik sosial yang ditimbulkan dari suatu pembangunan itu lebih besar dari marginal benefit nya. Pertumbuhan ekonomi justru lebih menunjukkan buruknya kesejahteraan suatu negara, jika itu terjadi. Teori SSE ini juga menyebutkan Growth in GNP should cease when decreasing marginal benefits become equal toincreasing marginal costs , yang artinya bahwa pertumbuhan PDB seharusnya berhenti jika turunnya marginal benefit sama dengan naiknya atau meningkanya mariginal cost. Jika kita kembali memperhatikan data yang tercantum dalam RPJMN tahun 20102014 yang menyatakan bahwa pada tahun 2009 perekonomian Indonesia tumbuh positif

=3 =

meskipun sempat naik turun akibat krisis ekonomi global tahun 2008. Dampak krisis global mulai dirasakan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sejak triwulan IV tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2008 menurun minus 3,6 persen jika dibandingkan dengan triwulan III tahun 2008 atau meningkat 5,2 persen, sementara itu pada triwulan sebelumnya ekonomi tumbuh positif, yaitu 6,2 persen pada triwulan I; 6,4 persen pada triwulan II; dan 6,4 persen pada triwulan III. Krisis global menyebabkan ekspor barang dan jasa tumbuh negatif 5,5 persen pada triwulan IV tahun 2008 dibanding triwulan sebelumnya. Meskipun pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami fluktuasi karena krisis global seperti yang telah disebutkan di atas, perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dikategorikan memiliki kinerja perekonomian yang baik mengingat banyak negara yang pertumbuhannya negatif, sementara itu Indonesia tumbuh positif 4 persen bersama Cina dan India yang masing masing tumbuh 7,9 persen dan 6,1 persen pada triwulan II tahun 2009. Seperti yang telah dijelaskan pada awal pembahasan disebutkan dalam Steady State economy oleh Dally bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya juga memperhatikan aspek-aspek lain, seperti lingkungan dan sosial, yang diperhitungkan dalam marginal cost dan benefit. Maka dalam penjabaran RPJM Indonesia masih belum dalam posisi Steady State Economy. Hal ini disebabkan karena pembangunan selalu dihadapkan pada dilema dimana pemanfaatan sumber daya alam yang berlebih, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru dapat berdampak kepada kerusakan lingkungan dan berpotensi memunculkan konflik sosial yang justru akan lebih merugikan ketimbang mensejahterakan. Selain disebutkan laju pertumbuhan ekonomi, dalam RPJMN juga dijelaskan mengenai berbagai permasalahan yang masih dihadapi Indonesia. Beberapa permasalahan ini bisa jadi merupakan dampak negatif atau efek samping dari pembangunan. Peningkatan kebutuhan masyarakat dapat berakibat pada meningkatnya ekploitasi dan pemanfaatan sumber daya alam, yang berakibat pada menurunnya daya dukung dan fungsi dari lingkungan hidup serta mengakibatkan kerusakan sumber daya alamnya. Akibat terjadinya degradasi lingkungan hidup ini sudah mulai dirasakan, terutama timbulnya permasalahan pemenuhan kebutuhan masyarakat baik berupa pangan, energi serta kebutuhan akan sumber daya air di berbagai wilayah. Dalam RPJMN disebutkan bahwa peningkatan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas dari pemerintah mendatang yang tertuang dalam RPJMN ini. Wujud akhir dari =4 =

perbaikan kesejahteraan akan tercermin pada peningkatan pendapatan, penurunan tingkat pengangguran dan perbaikan kualitas hidup rakyat. Perbaikan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan melalui sejumlah program pembangunan untuk penanggulangan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja, termasuk peningkatan program di bidang pendidikan, kesehatan, dan percepatan pembangunan infrastruktur dasar. Namun dalam kenyataannya di kawasan timur Indonesia, begitu melimpahnya kekayaan alam di Papua, tetapi ironis justru hasil tambang di Papua lebih banyak menguntungkan pihak asing sebagai investor ketimbang rakyat Papua yang memiliki hak atas kekayaan alam Papua. Hal ini mendorong timbulnya konflik sosial, karena eksploitasi berlebih oleh pihak investor tidak hanya dilakukan terhadap sumber daya alam tetapi juga terhadap sumber daya manusianya. Eksploitasi penambangan secara besar-besaran yang saat ini terjadi di Papua telah banyak merusak kawasan hutan, dan masyarakat di sekitar area penambangan justru tidak ikut merasakan keuntungan yang diambil oleh investor asing sebagai pemilik perusahaan pengelola pertambangan. Saat ini banyak masyarakat yang hidup di sekitar area penambangan yang hidup miskin.

3.

Kesimpulan Dari beberapa kasus yang diuraikan di atas, menunjukkan bahwa Indonesia belum

berada pada tahap Steady State Economy. Keseimbangan belum dicapai dan bahkan pemerataan pembangunan (growth with equity) belum bisa dikatakan berhasil karena hingga saat ini, pembangunan hanya terpusat di wilayah pusat pemerintahan. Jika dikaitkan dengan teori Steady State Economy maka marginal cost yang dihasilkan dalam perekonomian Indonesia lebih besar daripada marginal benefit. Hal ini perlu menjadi pertimbangan lebih lanjut bagi pemerintah apakah pembangunan saat ini sudah menimbulkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan dari Sabang sampai Merauke. Secara keseluruhan, RPJMN memprioritaskan percepatan pertumbuhan ekonomi dalam rangka terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Segala cara dilakukan agar bagaimana bisa meningkatkan sektor ekonomi tanpa ada pertimbangan dan pemikiran bahwa dengan meningkatnya pertumbuhan konomi maka meningkatnya juga exploitas sumber daya alam. Tujuan itu bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Herman Dali dalam konsep SSE-nya. Hal tersebut dikarenakan konsep perencanaan pembangunan Indonesia dalam RPJMN yang lebih memprioritaskan ke arah peningkatan pertumbuhan ekonomi. =5 =

Daftar Pustaka Dally, Herman . Steady-State Economics. Http://dieoff.org/page88.htm Perpres No 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 2014.

=6 =