Anda di halaman 1dari 2

ABSTRAK

REPRESENTASI GENDER dalam CERPEN


(Analisis Hermeneutik Cerpen-cerpen Karya Kuntowijoyo yang Terbit Pada
Tahun 1970-an)

Oleh:

Tri Purna Jaya

Gender adalah pembagian peran sosial antara perempuan dan laki-laki yang
dikonstruksikan oleh budaya. Dan, di dalam budaya yang telah
terekonstruksi tersebut peran perempuan menjadi minor dibandingkan laki-
laki, sehingga menimbulkan anggapan bahwa laki-laki mempunyai kuasa
yang lebih dibandingkan perempuan, khususnya di dalam kehidupan
berumah tangga.

Pada penglihatanku, laki-laki itu mempunyai hak penuh atas isterinya. Isteri
haruslah penurut, bukankah kita membayar mas kawin? (Samurai:1972).

Petikan di atas diambil dari cerpen Kuntowijoyo yang berjudul “Samurai”.


Dari petikan tersebut, terlihat bagaimana tokoh yang berbicara menganggap
seolah-olah perempuan adalah barang yang dapat dibeli, sehingga sebagai
pemilik ‘barang’ tersebut, ia memiliki kuasa penuh atas ‘barang’ tersebut.

Sastra dapat dijadikan media pendidikan dan sarana untuk memecahkan


masalah-masalah nyata yang cukup sulit dipecahkan dalam masyarakat,
termasuk masalah-masalah yang menyangkut kaum perempuan yang
disebabkan oleh ideologi gender. Melalui apresiasi dan interpretasi, sastra
dapat dijadikan wahana penyadaran terhadap masalah gender. Hal ini tidak
terlepas dari bagaimana karya sastra itu tercipta dari hasil kontemplasi
ataupun pandangan pengarang terhadap apa yang terjadi (desa-kala-
patranya: tempat-waktu-suasananya).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka yang menjadi masalah dalam


penelitian ini adalah bagaimana realitas sosial khususnya tentang masalah
gender dan hal-hal yang berkaitan dengannya dituangkan atau
direpresentasikan dalam karya sastra, yang dalam penelitian ini adalah
cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang terbit pada periode tahun 1970-an.
Sementara, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui realitas sosial
khususnya tentang masalah gender pada tahun 1970-an yang
direpresentasikan dalam cerpen-cerpen karya Kuntowijoyo yang terbit pada
era tahun 1970-an dengan menganalisa dan memaknai teksnya, sehingga
peneliti dapat menyimpulkan isu-isu tentang konsep gender yang termuat
dalam cerpen tersebut.

Untuk penelitian ini digunakan metode hermeneutik, mengingat sifat dari


hermeneutik adalah menganalisa atau menafsirkan teks secara keseluruhan.
Secara spesifik, dalam penelitian ini menggunakan tiga tahapan analisis yang
biasa digunakan dalam metode hermenetik, yaitu analisis naratif, analisis
struktural, dan apropriasi. Analisis naratif memungkinkan untuk
mengetahui unsu r-unsur kisah dalam teks sehingga memudahkan pembaca
yang belum membaca teks yang diteliti, sedangkan analisis struktural
digunakan untuk mengetahui struktu r-struktu r yang mengikat dan
membentuk kisah dalam suatu teks tersebut. Akan tetapi analisis naratif dan
struktural tersebut mempunyai kelemahan, yaitu sifatnya yang melepaskan
suatu teks dari rangka sosial budayanya. Apropriasi digunakan untuk
menutupi kelemahan yang ditimbulkan oleh analisis naratif dan struktural
tersebut dengan melakukan analisis yang lebih mendalam, yang dalam
penelitian ini adalah untuk menyambungkan teks dengan rangka sosial
budaya yang dilepaskan dalam analisis naratif dan struktural sebelumnya,
sehingga memungkinkan peneliti mendapatkan hasil analisis yang lebih
optimal.

Data-data dalam penelitian ini adalah cerpen-cerpen karya Kuntowijoyo


yang terbit pada periode tahun 1970-an yang diindikasikan memuat atau
bertemakan tentang gender atau relasi hubungan perempuan dengan laki-
laki. Dari praanalisis yang telah dilakukan, yaitu mengumpulkan dan
membaca cerpen-cerpen karya Kuntowijoyo yang terbit pada periode tahun
1970-an, ditemukan hanya dua cerpen saja yang bertemakan gender, yaitu
cerpen Anjing (1971) dan Samurai (1972), kemudian dianalisis dengan ketiga
analisis yang telah disebutkan sebelumnya sehingga dihasilkan kesimpulan
awal atau interp retasi teks menu rut sudut pandang peneliti.

Melalui proses analisis dengan menggunakan metode hermeneutik pada


cerpen-cerpen yang sesuai kriteria sebagaimana telah disebutkan di atas,
diperoleh kesimpulan yang berkaitan dengan isu gender sebagai berikut; (1)
Dari teks-teks yang ditelusuri, ditemukan pandangan dari sisi maskulin yang
menganggap bahwa perbedaan gender adalah takdir atau pembawaan lahir,
dan pandangan feminis yang berusaha mementahkan anggapan itu terkait
dengan relasi gender tersebut yang tersirat ataupun tersurat dari ungkapan-
ungkapan tokoh dalam cerpen yang diteliti, (2) Dari cerpen Anjing dan
Samurai dapat ditafsirkan keadaan sosial yang terjadi pada waktu cerpen-
cerpen tersebut diproduksi (dicipta), yang dalam penelitian ini adalah
pandangan tentang konsep dan relasi gender yang berkembang di
masyarakat, (3) Ditemukan bagaimana pembacaan feminis terhadap kondisi
sosial masyarakat memengaruhi teks-teks sastra, yang di dalam kisah cerpen
Anjing dan Samurai terungkap melalui ungkapan-ungkapan dan tindakan
yang dilakukan oleh tokoh perempuan dalam kedua cerpen tersebut.

Anda mungkin juga menyukai