PROFIL KETENAGAKERJAAN PROVINSI PAPUA BARAT LABOR PROFILE of PAPUA BARAT PROVINCE 2009

BPS PROVINSI PAPUA BARAT STATISTICS of PAPUA BARAT PROVINCE

PROFIL KETENAGAKERJAAN PROVINSI PAPUA BARAT 2009 LABOR PROFILE of PAPUA BARAT PROVINCE 2009
ISSN: No. Publikasi/Publication Number: 91521.10.16 Katalog BPS/BPS Catalogue :2303004.9100 Ukuran Buku/Book Size: 16,5 x 21 cm Jumlah Halaman / Total Pages : viii + 133 = 141 hal/pages Naskah/Manuscript : Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Papua Barat Gambar Kulit/ Cover : Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Data BPS Provinsi Papua Barat Diterbitkan oleh / Published by :

Kata Pengantar

Tiga sasaran utama dalam rencana pembangunan pada pemerintahan penduduk Indonesia Bersatu adalah tingkat mengurangi jumlah dan miskin, menurunkan pengangguran

meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ketiga sasaran tersebut ditargetkan pemerintah utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu isu penting tersebut adalah mengenai masalah pengangguran. Tingkat pengangguran yang tinggi tidak hanya berimplikasi pada terjadinya berbagai permasalahan ekonomi, melainkan juga akan menimbulkan masalah dibidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial. Dibutuhkan data yang lengkap, relevan, mutakhir, representatif, dan berkesinambungan untuk dapat memberikan gambaran situasi dan permasalahan ketenagakerjaan sehingga pemerintah dapat menciptakan sebuah kondisi dimana tersedia lapangan kerja atau usaha yang layak dan peningkatan produktivitas kerja bagi tenaga kerja dengan mendapatkan imbalan yang memadai untuk dapat hidup sejahtera. Melalui publikasi Profil Ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat 2009 diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan secara umum dan indikator-indikator ketenagakerjaan yang dapat membantu menjelaskan permasalahan ketenagakerjaan dalam lingkup yang lebih sempit.

i

Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan publikasi ini diucapkan terimakasih. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan semua pihak yang membutuhkan. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan pembuatan publikasi pada masa yang akan datang.

Manokwari, November 2010 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat,

Ir. Tanda Sirait, MM NIP. 195507211978011002

ii

DAFTAR ISI Kata Pengantar………………………………………………………….. Daftar Isi………………………………………………………………... Daftar Tabel...…………………………………………………………... Daftar Gambar………………………………………………………….. I. Pendahuluan……………………………………………………… 1.1 Latar Belakang……………………………………………. 1.2 Ruang Lingkup……………………………………………. 1.3 Tujuan…………………………………………………….. 1.4 Sistematika Penulisan…………………………………….. Metodologi………………………………………………………. 2.1 Sumber Data……………………………………………… 2.2 Metode Pengumpulan Data……………………………… 2.3 Metode Analisis…………………………………………... 2.4 Bagan Ketenagakerjaan…………………………………. 2.5 Konsep dan Definisi……………………………………… Ketenagakerjaan………………………………………………… 3.1 Penduduk Usia Kerja……………………………………. 3.2 Angkatan Kerja…………………………………………... 3.2.1 Penduduk Bekerja……………………………… 3.2.1.1 Bekerja Menurut Pekerjaan Utama…… 3.2.1.2 Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama 3.2.1.3 Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Utama 3.2.1.4 Bekerja Menurut Pendidikan…………... 3.2.1.5 Bekerja Menurut Jam Kerja…………… 3.2.1.6 Bekerja Menurut Sektor Informal……... 3.3 Bukan Angkatan Kerja…………………………………... 3.4 Indikator Ketenagakerjaan................................................... 3.4.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)…………. 3.4.2 Setengah Pengangguran………………………… 3.4.3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja……………. 3.4.4 Tingkat Kesempatan Kerja…………………….. 3.4.5 Laju Pertumbuhan Kesempatan Kerja………... 3.4.6 Elastisitas Kesempatan Kerja………………….. 3.4.7 Produktivitas Pekerja…………………………… Hal. i iii v viii 1 1 5 6 6 7 7 8 9 10 12 24 25 33 35 39 47 49 53 63 73 85 87 88 101 110 114 117 119 123

II.

III.

iii

IV

Kesimpulan……………………………………............................. Daftar Pustaka…………………………………………………… Lampiran

126 157

iv

DAFTAR TABEL
No 2.1. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. 3.8. 3.9. 3.10. 3.11. 3.12. 3.13. 3.14. 3.15. 3.16. Judul Tabel Batasan Kegiatan Formal/Informal………….......................................... Dependency ratio, youth DR, dan Old DR Papua Barat 20052009............................................................................................................... Penduduk Papua Barat Berusia 15 Tahun ke atas menurut Kabupaten/Kota dan Kelompok Umur Tahun 2009……………........ Jumlah Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009................................................................................. Jumlah Penduduk yang Bekerja Didalam Angkatan Kerja Tahun 2009…………………........................................................................................ Persentase Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Papua Barat Tahun 2009…………….................................................................................. Persentase Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Papua Barat Tahun2006 – 2009 ................................................................................... Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009…………................... Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Kabupaten/Kota, Jenis Kelamin dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009…... Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009.......... Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Jenis Pekerjaan Utama Tahun 2009…………………........................................................................... Persentase Penduduk Bekerja menurut Kabupaten/kota dan Status Pekerjaan Utama Tahun 2009……………………………………..... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tahun 2009…………………………………….. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kabupten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009................................................................... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Pendidikan Tahun 2009................................................................... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin Tahun 2009……………………………….... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009……………. Hal. 23 29 31 35 37 40 42 43 45 46 48 50 52 54 57 58 60

v

3.17. 3.18. 3.19. 3.20. 3.21 3.22. 3.23. 3.24. 3.25. 3.26. 3.27. 3.28. 3.29. 3.30. 3.31. 3.32. 3.33. 3.34.

Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Status Pekerjaan Utama Tahun 2009………………..... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kabupten/Kota dan Jam Kerja Tahun 2009….................................................................... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Jam kerja dan Jenis kelamin Tahun 2009……................................................................. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Jam Kerja dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009……………………………........ Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Status pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tahun 2009…………………………………….......... Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan dan Jam Kerja Tahun 2009………..................................................................... Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Formal-Informal menurut Kabupaten/Kota…...................................................................... Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009…………………....... Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009… Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Status Pekerjaan Utama..................................... Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009.................................... Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan jam Kerja Tahun 2009......................................... Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009....................................................................... Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Kabupaten/Kota dan Perkotaan/Perdesaan Tahun 2009........................................................... Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Kelompok Umur Tahun 2009.................................................................................................. Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Kabupaten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009............................................................................ Persentase Setengah Pengangguran terhadap Total Pekerja menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009……………………………………………....................................................... Setengah Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota dan Ktiteria Setengah Penganggur Tahun 2009........................................................

62 64 66 67 69 71 75 77 78 80 82 84 92 93 95 97 104 108

vi

3.35. 3.36. 3.37.

Persentase Setengah Pengangguran Terpaksa dan Sukarela menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009……………………………............................................................. Elastisitas Kesempatan Kerja Provinsi Papua Barat Tahun 2008-2009………………………….................................................................. Produktivitas Pekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 (Juta rupiah per pekerja per tahun)………………….......

109 122 124

vii

DAFTAR GAMBAR No. 2.1. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.7. 3.8. 3.9. 3.10. 3.11. Judul Gambar Diagram Ketenagakerjaan……………………........................................... Penduduk Usia Kerja menurut Kelompok Umur Provinsi Papua Barat 2009……………....................................................................... Jumlah Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin dan Kabupaten /Kota Tahun 2007-2009……….......................................... Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009……….................................................... Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Nasional dan Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2009……………………………………............. Persentase Setengah Pengangguran Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2009………………................................................................... Jumlah Setengah Pengangguran di Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2009………………................................................................... TPAK menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 ................................ TPAK menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009…………………………................................................................................. Tingkat Kesempatan Kerja menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009............................................................................................................ Laju Pertumbuhan TKK dan Laju Pertumbuhan Angkatan Kerja 2006-2009...................................................................................... Hal. 11 26 33 86 91 103 111 113 114 116 118

viii

Page |1

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi diarahkan untuk membawa rakyat pada peningkatan kesejahteraan yang lebih baik, dan hal ini bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah. Pembangunan ekonomi adalah salah satu pilar penting untuk mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat (Harmadi, 2007). Ekonomi sendiri bicara mengenai 3 konsep penting yang saling terkait, yaitu keterbatasan sumberdaya, pilihan, dan pengambilan keputusan ekonomi, yang dapat menghantarkan kita pada tercapainya kesejahteraan rakyat yang optimal. Seperti kita ketahui pembangunan menjadikan rakyat sebagai subjek sekaligus juga Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |2
sebagai objek dari pembangunan itu sendiri. Pembangunan tidak akan ada artinya tanpa rakyat karena tidak mungkin dilaksanakan tanpa rakyat. Di samping itu pembangunan memang ditujukan untuk rakyat. Sudah jelas bahwa manusia merupakan faktor utama dalam pembangunan. Kini proses pembangunan suatu bangsa tidak lagi dapat dipahami secara terbatas pada pertumbuhan ekonomi semata, namun harus pula memuat di dalamnya proses pembangunan manusia yang mencakup tiga aspek: pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ukuran perkembangan kemiskinan. yang dipergunakan manusia dalam suatu mengevaluasi bangsa ialah pembangunan

Jika pembangunan manusia dipahami sebagai

kumpulan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, maka kemiskinan justru dipahami harus diturunkan. Salah satu tujuan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Papua Barat adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan sendiri diukur dari seberapa banyak rakyat yang dapat hidup layak. Mereka yang tidak dapat hidup layak akan masuk ke dalam kemiskinan. Secara absolut, penduduk dikatakan miskin ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya (basic needs) seperti pangan, sandang, papan dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengakses berbagai pelayanan dasar seperti air bersih, sanitasi, transportasi umum, fasilitas kesehatan, dan pendidikan. Ketidakmampuan yang menjerumuskan penduduk ke

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |3
dalam kemiskinan tersebut disebabkan oleh kemampuan daya beli yang tidak memadai. Secara ekonomi, daya beli penduduk sangat tergantung pada keterlibatan secara aktif penduduk di pasar kerja. Penduduk yang aktif bekerja memproduksi barang/jasa akan memperoleh imbal balik dari perusahaan tempatnya bekerja berupa upah/gaji. Sebaliknya mereka yang tidak aktif bekerja dalam angkatan kerja akan menjadi pengangguran yang akan menjadi beban bagi diri dan keluarganya. Salah satu tantangan besar bangsa ini adalah menciptakan lapangan kerja atau usaha yang layak (decent work) bagi angkatan kerja yang besar dan cenderung terus meningkat karena perubahan struktur umur penduduk. Tantangan tersebut mencakup dua hal sekaligus, yaitu penciptaan lapangan pekerjaan baru bagi angkatan kerja yang belum bekerja dan peningkatan produktivitas kerja bagi mereka yang sudah bekerja sehingga memperoleh imbalan kerja yang memadai untuk dapat hidup layak (decent living). Tantangan itu sangat besar untuk dihadapi oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Walaupun demikian, peran yang dimainkan pihak pemerintah dapat sangat menentukan melalui pembangunan yang secara sadar dan konsisten dirancang berbasis ketenagakerjaan, serta dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi. Pengangguran dapat dilihat sebagai akibat dari tidak bekerjanya pasar tenaga kerja dengan baik. Dari sisi penawaran, secara umum di Indonesa mengalami masalah labor market

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |4
missmatch. Sedangkan dari sisi permintaan, ada keterbatasan daya serap pasar tenaga kerja. Pengangguran senantiasa bertambah setiap tahun seiring dengan laju pertumbuhan penduduk usia kerja. Tingginya angka pengangguran tidak hanya menimbulkan masalahmasalah dibidang ekonomi saja, melainkan juga menimbulkan berbagai masalah dibidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial. Papua Barat masuk dalam daftar kedua tertinggi persentase penduduk miskin pada tingkat nasional. Ini menandakan tidak sedikit penduduk Papua Barat yang miskin dibandingkan total penduduknya. Akibat banyak pengangguran maka banyak pula yang kemampuan daya belinya tidak memadai sehingga memaksa mereka jatuh dalam jurang kemiskinan. Selain dihadapkan pada masalah pengangguran, keadaan ketenagakerjaan juga dihadapkan pada masalah setengah pengangguran, yang secara ekonomi tergolong bekerja namun jam kerjanya berada dibawah jam kerja normal. Hal ini tentunya juga terkait dengan masalah produktivitas tenaga kerja dalam mewujudkan decent living. Dalam menjawab tantangan untuk mewujudkan decent work dan decent living, agar upaya penurunan tingkat pengangguran pada khususnya, dan pemantauan situasi ketenagakerjaan yang lebih baik pada umumnya, dalam koridor pembangunan berbasis ketenagakerjaan, pemerintah sangat memerlukan data yang lengkap, akurat, relevan, mutakhir, dan berkesinambungan. Untuk memenuhi kebutuhan data tersebut BPS telah melaksanakan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |5
sebuah survei yang khusus dirancang untuk mengumpulkan data ketenagakerjaan dengan pendekatan rumah tangga melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS). Melalui buku publikasi “Profil Ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat Tahun 2009”, hasil pendataan Sakernas diaktualisasikan untuk dapat dimanfaatkan lebih luas kepada para pengguna data dari berbagai kalangan, terutama pemerintah daerah untuk mendapatkan gambaran ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat untuk bisa merealisasikan decent work dan decent living bagi kesejahteraan masyarakat.

2. Ruang Lingkup
Pembahasan pada tulisan ini terbatas pada variabel-variabel yang terdapat pada kuesioner Sakernas dan indikator-indikator ketenagakerjaan yang dibentuk dari pengembangan variabelvariabel tersebut. Hal-hal yang dibahas didasarkan pada bagan ketenagakerjaan untuk lebih memudahkan bagi para pengguna informasi dalam memahami gambaran dan permasalahan ketenagakerjaan, seperti penduduk usia kerja, angkatan kerja, pengangguran terbuka, sektor informal, sektor usaha/lapangan pekerjaan utama dan lain sebagainya. Selain itu dibahas juga mengenai indikator-indikator terkait ketenagakerjaan seperti TPT, TPAK, TKK, setengah pengangguran, elastisitas kesempatan kerja dan produktivitas pekerja.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |6

3. Tujuan
Tujuan secara umum dalam tulisan ini adalah memberikan gambaran mengenai keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat tahun 2009. Sedangkan tujuan yang lebih khusus adalah: a. Untuk mengetahui karakteristik keadaan penduduk usia kerja, angkatan kerja, dan bukan angkatan kerja di Provinsi Papua Barat. b. Untuk mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi dalam ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat. c. Untuk mengetahui karakteristik ketenagakerjaan yang lebih spesifik di Provinsi Papua Barat melalui indikator-indikator ketenagakerjaan.

4. Sistematika Penulisan
Penyajian penulisan Profil Ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat diorganisasikan sebagai berikut: Bab I adalah bagian pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan sistematika penulisan. Bab II membahas mengenai metodologi, berisi sumber data, metode pengumpulan data, metode analisis, bagan ketenagakerjaan, dan konsep dan definisi. Pada bab III dibahas mengenai keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Papua Barat, kemudian bab terakhir berisi kesimpulan dari pembahasan sebelumnya.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |7

BAB II METODOLOGI

A. Sumber Data
Sejauh ini sumber data makro mengenai situasi ketenagakerjaan yang secara luas dianggap paling kredibel adalah berasal dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS). Suatu survei yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik secara rutin dalam mengintegrasikan data ketenagakerjaan yang mempunyai peran penting, karena dirancang khusus untuk mengumpulkan data yang menggambarkan keadaan umum ketenagakerjaan antar periode survei.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |8
Semula data Sakernas yang memiliki jumlah total sampel sekitar 60.000 rumah tangga hanya dapat dipakai untuk estimasi level propinsi, tetapi mulai Sakernas Semester II yang dilaksanakan bulan Agustus 2007, data ketenagakerjaan yang dihasilkan mempunyai ketercukupan sampel untuk dapat dipergunakan mengestimasi sampai pada level kabupaten/kota. Dengan semakin besar jumlah sampel Sakernas menjadikan Sakernas lebih representatif dan lebih memungkinkan untuk dibuat analisis yang lebih komprehensif dengan cakupan tentang gambaran umum ketenagakerjaan yang lebih tajam, sehingga cerminan situasi ketenagakerjaan pertimbangan yang sebenarnya dapat teraktualisasikan. Berdasarkan sebagaimana disajikan sebelumnya, data hasil pengolahan Sakernas Agustus 2009 ini digunakan sebagai sumber data dalam menggambarkan situasi tenaga kerja dalam publikasi Profil Ketenagakerjaaan Provinsi Papua Barat 2009.

B. Metode Pengumpulan Data
Sejarah pengumpulan data ketenagakerjaan melalui Sakernas mengalami berbagai perubahan-perubahan sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1976, baik dalam periode pencacahan maupun cakupan sampel wilayah dan rumah tangga. Sakernas diselenggarakan dua kali dalam satu tahun (semesteran) mulai tahun 2005. Pada tahun 2007, pelaksanaan semester pertama di Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Page |9
bulan Februari dan semester kedua pada bulan Agustus. Untuk Sakernas Februari, level estimasi hanya sampai tingkat provinsi dan jenis survei yang digunakan adalah panel survey, dengan memakai sampel rumah tangga yang sama untuk periode survei semester pertama. Sedangkan pada Sakernas semester kedua, jenis survei yang digunakan adalah cross sectional survey. Jumlah sampel Sakernas Agustus 2007 di Provinsi Papua Barat adalah sekitar 2.354 rumah tangga dari total 69.824 rumah tangga diseluruh Indonesia. Rumah tangga korps diplomatik, rumah tangga dalam blok sensus khusus dan rumah tangga khusus yang tinggal dalam blok sensus biasa tidak tercakup dalam sampel Sakernas 2007. Data dan informasi yang dikumpulkan melalui Sakernas 2007 dilakukan dengan wawancara langsung kepada rumah tangga sampel terpilih. Jumlah rumah tangga sampel terpilih dari setiap blok sensus terpilih adalah 16 rumahtangga dengan metode systematic sampling dari daftar listing rumah tangga.

C. Metode Analisis
Interpretasi mengenai gambaran keadaan ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat dari hasil pengolahan data mentah dan tabulasi, dipaparkan melalui analisis dekriptif sederhana dengan menampilkan grafik dan tabel-tabel yang lebih mudah ditangkap secara visual dan praktis sehingga akan memudahkan konsumen dalam memperoleh informasi, mengidentifikasi kondisi sebuah Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 10
indikator, membandingkan indikator baik antar periode maupun antar wilayah.

D. Bagan Ketenagakerjaan
Pemahaman mengenai konsep ketenagakerjaan sangat

penting untuk dapat mengidentifikasi penduduk yang termasuk kedalam kelompok angkatan kerja, bukan angkatan kerja, berkerja atau pengangguran. Indikator-indikator ketenagakerjaan harus mempunyai konsep yang jelas dan tidak ambigu. Diperlukan suatu konsep dan definisi yang dapat membedakan antar indikator dengan indikator lainnya dengan batasan-batasan yang logis, bisa diterima secara umum dan berlaku untuk cakupan wilayah yang luas. Dalam rangka memudahkan pemahaman konsep dan definisi, diagram ketenagakerjaan akan membantu mengidentifikasikan indikator-indikator ketenagakerjaan seperti terlihat pada gambar 1.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 11

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 12 E. Konsep dan Definisi
Konsep dan definisi yang digunakan dalam pengumpulan data ketenagakerjaan oleh Badan Pusat Statistik mengacu pada The Labour Force Concept yang disarankan oleh International Labour Organization (ILO). Berdasarkan bagan ketenagakerjaan, penduduk dibagi menjadi dua dua kelompok, yaitu penduduk usia kerja dan penduduk bukan usia kerja. Selanjutnya usia kerja dibedakan pula menjadi dua kelompok berdasarkan kegiatan utama yang sedang dilakukannya. Kelompok tersebut adalah Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Penduduk Usia Kerja adalah penduduk berumur 15 tahun dan lebih. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya. Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 13
dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pula kegiatan tidak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi. Pengangguran Terbuka adalah Angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan, yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja (have a job in future start) adalah keadaan dari seseorang yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja karena berbagai sebab, seperti: sakit, cuti, menunggu panenan, mogok dan sebagainya, termasuk mereka yang sudah diterima bekerja tetapi selama seminggu yang lalu belum mulai bekerja. Contoh :  Pekerja tetap/pegawai pemerintah/swasta yang sedang tidak masuk bekerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir, mesin/peralatan perusahaan mengalami kerusakan dan sebagainya.  Petani yang mengusahakan tanah pertanian dan sedang tidak bekerja karena alasan sakit atau menunggu pekerjaan berikutnya (menunggu panen atau menunggu hujan untuk menggarap sawah).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 14
 Orang-orang yang bekerja atas tanggungan/resiko sendiri dalam suatu bidang keahlian (pekerja profesional/mempunyai keahlian khusus), yang sedang tidak bekerja karena sakit, menunggu pesanan dan sebagainya. Mencari pekerjaan (looking for work) adalah kegiatan seseorang yang tidak bekerja dan pada saat survei orang tersebut sedang mencari pekerjaan, seperti:  Yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.  Yang sudah pernah bekerja, karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan.  Yang bekerja atau mempunyai pekerjaan, tetapi karena sesuatu hal masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan lain. Usaha mencari pekerjaan ini tidak terbatas pada seminggu sebelum pencacahan saja, tetapi bisa dilakukan beberapa waktu yang lalu asalkan seminggu yang lalu masih menunggu jawaban. apabila sedang bekerja /dibebastugaskan baik akan dipanggil kembali ataupun tidak, dan berusaha umtuk mendapatkan pekerjaan, tidak dapat disebut sebagai pengangguran. Mempersiapkan Usaha (establishing a new bussiness/firm) adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam rangka mempersiapkan suatu usaha yang ”baru”, yang bertujuan untuk

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 15
memperoleh penghasilan/keuntungan atas resiko sendiri, baik dengan atau tanpa mempekerjakan buruh/karyawan/pegawai dibayar maupun tidak dibayar. Mempersiapkan suatu usaha yang dimaksud adalah apabila ”tindakan nyata”, seperti mengumpulkan modal, perlengkapan/alat, mencari lokasi/tempat, mengurus izin usaha dan sebagainya telah/sedang dilakukan. Setengah Penganggur adalah orang yang bekerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu). Setengah penganggur dibagi menjadi dua, yaitu:  Setengah penganggur terpaksa adalah orang yang bekerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan.  Setengah penganggur sukarela adalah orang yang bekerja dibawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian pihak menyebutnya sebagai pekerja paruh waktu/part time worker). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah perbandingan antara jumlah penganggur dengan jumlah angkatan kerja dan biasanya dinyatakan dalam persen.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 16
Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang bekerja dengan jumlah penduduk angkatan kerja, biasanya dinyatakan dalam persen. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja (bekerja dan pengangguran) dengan jumlah penduduk usia kerja, dan biasanya dinyatakan dalam persen. Sekolah adalah kegiatan seseorang untuk bersekolah disekolah formal, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi selama seminggu yang lalu sebelum pencacahan. Termasuk pula kegiatan dari mereka yang sedang libur sekolah. Mengurus rumahtangga adalah kegiatan seseorang yang

mengurus rumahtangga tanpa mendapatkan upah, misalnya: ibuibu rumahtangga dan anaknya yang membantu mengurus rumahtangga. mendapatkan Sebaliknya upah pembantu rumahtangga yang walaupun pekerjaannya mengurus

rumahtangga dianggap bekerja. Kegiatan lainnya adalah kegiatan seseorang selain bekerja, sekolah, dan mengurus rumah tangga, termasuk didalamnya mereka yang tidak mampu melakukan kegiatan seperti orang lanjut usia, cacat jasmani (buta, bisu dan sebagainya) dan penerima pendapatan/pensiun yang tidak bekerja lagi selama seminggu yang lalu.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 17

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah tingkat pendidikan yang dicapai seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi suatu tingkatan sekolah dengan mendapatkan tanda tamat (ijazah). Jumlah jam kerja seluruh pekerjaan adalah jumlah jam kerja yang dilakukan oleh seseorang (tidak termasuk jam kerja istirahat resmi dan jam kerja yang digunakan untuk hal-hal diluar pekerjaan) selama seminggu yang lalu. Bagi pedagang keliling, jumlah jam kerja dihitung mulai berangkat dari rumah sampai tiba kembali di rumah dikurangi waktu yang tidak merupakan jam kerja, seperti mampir ke rumah famili/kawan dan sebagainya. Untuk pembantu rumahtangga yang melakukan pekerjaan yang terus menerus didalam rumahtangga dihitung banyaknya jam kerja sehari ratarata 12 jam. Lapangan usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan / tempat bekerja / perusahaan / kantor dimana seseorang bekerja. Klasifikasi baku yang digunakan dalam penggolongan lapangan pekerjaan/lapangan usaha adalah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2000. Dalam pengumpulan datanya menggunakan 18 kategori tetapi dalam penyajian data/publikasinya menggunakan sembilan kategori/sektor yaitu: 1. Pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan 2. Pertambangan dan penggalian

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 18
3. Industri pengolahan 4. Listrik, gas dan air 5. Bangunan/konstruksi 6. Pedagang besar, eceran, rumah makan dan hotel 7. Angkutan, pergudangan dan komunikasi 8. Keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan. 9. Jasa kemasyarakatan. Jenis pekerjaan/jabatan adalah macam pekerjaan yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang termasuk golongan bekerja atau orang-orang yang sementara tidak bekerja. Jenis/jabatan pekerjaan dibagi dalam 8 golongan besar, yaitu: 1. Tenaga professional, teknisi dan yang sejenisnya. 2. Tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan. 3. Tenaga tata usaha dan tenaga yang sejenis. 4. Tenaga usaha penjualan. 5. Tenaga usaha jasa. 6. Tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan, perikanan. 7. Tenaga produksi, operator alat angkut, pekerja kasar. 8. Lainnya. Upah/gaji bersih adalah penerimaan buruh/karyawan yang biasanya diterima selama sebulan, berupa uang atau barang, yang dibayarkan melalui perusahaan/kantor/majikan. Penerimaan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 19
bersih yang dimaksud tersebut adalah setelah dikurangi dengan potongan-potongan iuran wajib, pajak penghasilan dan lainnya. Status pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Mulai tahun 2001 status pekerjaan dibedakan menjadi 7 kategori, yaitu: a. Berusaha sendiri, adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja tidak Contoh: Tukang becak yang membawa becak atas resikonya sendiri. Sopir taksi yang membawa mobil atas resiko sendiri. Kuli-kuli di pasar, stasiun, atau tempat-tempat lainnya yang tidak mempunyai majikan tertentu. b. Berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, adalah berusaha atas resiko sendiri dan menggunakan buruh/karyawan/pegawai tak dibayar dan atau buruh/karyawan/pegawai tidak tetap. Contoh: dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan teknologi atau keahlian khusus.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 20
Pengusaha warung yang dibantu oleh anggota rumahtangganya atau orang lain yang diberi upah tidak tetap. Penjaja keliling yang dibantu anggota rumahtangganya atau seseorang yang diberi upah hanya pada saat membantu saja. Petani yang mengusahakan tanah pertaniannya dengan dibantu anggota rumahtangga atau orang lain. Walaupun bagi pada waktu panen, petani dan memberikan panen (bawon, paro,

sebagainya). Pembantu pemanen tidak dianggap sebagai buruh tetap, sehingga petani digolongkan sebagai berusaha dengan bantuan anggota rumahtangga/buruh tidak tetap. c. Berusaha dengan buruh tetap, adalah berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/karyawan/pegaawai tetap yang dibayar. Contoh: Pemilik toko mempekerjakan satu atau lebih buruh tetap. Pengusaha sepatu yang memakai buruh tetap.

d. Buruh/Karyawan/Pegawai, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi (baik pemerintah atau swasta) dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 21
barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak digolongkan majikan sebagai jika buruh/karyawan/pegawai, mempunyai 1 (satu) tetapi majikan sebagai pekerja bebas. Seseorang dianggap memiliki tetap (orang/rumah tangga) yang sama dalam sebulan terakhir, khusus pada sektor bangunan/konstruksi batasannya tiga bulan. Apabila majikannya instansi/kantor/perusahaan, boleh lebih dari satu. e. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian baik berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha pertanian meliputi: pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan perburuan, termasuk pertanian. f. Pekerja bebas di non pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir), di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 22
Usaha non pertanian meliputi: usaha sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air, sektor konstruksi/bangunan, sektor perdagangan, sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi, sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan. g. Pekerja tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha, dengan tidak mendapatkan upah/gaji, baik berupa uang maupun barang. Penjelasan: Pekerja tak dibayar tersebut dapat: Sebagai anggota rumahtangga dari orang yang dibantu, seperti istri/anak yang membantu suaminya/ayahnya bekerja di sawah. Bukan sebagai anggota rumahtangga tetapi keluarga dari orang yang dibantunya, seperti famili yang membantu melayani penjualan di warung. Bukan sebagai anggota rumahtangga dan bukan keluarga dari orang yang dibantunya, seperti orang yang membantu menganyam topi pada industri rumah tangga tetangganya. Kegiatan Informal diambil dari kombinasi antara jenis pekerjaan utama dan status pekerjaan utama. Batas kegiatan informal dapat dilihat seperti pada tabel sebagai berikut:

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 23

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 24

BAB III KETENAGAKERJAAN

Pada bab ini akan digambarkan keadaan ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat pada tahun 2009. Bab ini akan membahas mengenai situasi ketenagakerjaan melalui indikator-indikator seperti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Kesempatan Kerja (TKK), laju pertumbuhan angkatan kerja, laju pertumbuhan kesempatan kerja, elastisitas tenaga kerja, produktifitas pekerja, pekerja sektor informal, jenis pengangguran yang menarik untuk dibahas. Melalui publikasi Profil Ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat 2009, penulis mencoba untuk mengulas keadaan ketenagakerjaan di provinsi kepala burung ini dengan menggunakan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 25
konsep-konsep ketenagakerjaaan yang lazim digunakan baik secara nasional maupun internasional. 1. Penduduk Usia Kerja Untuk bisa dibandingkan antar wilayah atau negara maka konsep ketenagakerjaan yang digunakan adalah konsep Labour Force Framework sesuai yang telah direkomendasikan International Labour Organization (ILO). Penduduk dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Kelompok-kelompok tersebut digambarkan dalam bagan ketenagakerjaan (lihat bab II). Penduduk dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu penduduk usia kerja dan bukan usia kerja. Indonesia dalam memberikan batasan umur pada penduduk usia kerja, menggunakan batas bawah usia kerja (economically active population) 15 tahun (meskipun dalam survei Sakernas dikumpulkan informasi mulai dari penduduk usia 10 tahun) dan tanpa batas atas usia kerja. Pemberian batas bawah dan batas atas bervariasi dari setiap negara sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Sebagai contoh penggunaan batas bawah: Mesir (6 tahun), Brazil (10 tahun), Swedia, USA (16 tahun), Canada (14 dan 15 tahun), India (5 dan 15 Tahun), dan Venezuela (10 dan 15 tahun), sementara penggunaan batas atas penduduk usia kerja contohnya: Denmark, Swedia, Norwegia, Finlandia (74 tahun), Mesir, Malaysia, Mexico (65 tahun), banyak negara termasuk Indonesia tidak menggunakan batas atas.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 26
Dalam Profil Ketenagakerjaan ini digunakan batasan

penduduk usia kerja dengan batas bawah 15 tahun dan tanpa batas atas menganut pada konsep yang selama ini dipakai oleh BPS. Distribusi dan komposisi penduduk usia kerja digolongkan menurut kelompok umur dengan interval 5 tahun untuk memudahkan dalam menginterpretasikan dan menganalisis data ketenagakerjaan.

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.1 Penduduk Usia Kerja menurut Kelompok Umur Provinsi Papua Barat 2009 Pada gambar 3.2. menyajikan kondisi sebaran penduduk usia kerja di Provinsi Papua Barat. Papua Barat yang tergolong dalam piramida penduduk muda sangat mempunyai potensi yang besar sebagai pemasok angkatan kerja dan juga bisa menjadi pemasok bukan angkatan kerja. Porsi penduduk usia 15-19 tahun merupakan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 27
yang paling tinggi dan umumnya mereka berada pada usia sekolah. Secara umum penduduk usia tersebut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah sehingga mereka akan menyumbang porsi besar pada kelompok bukan angkatan kerja dan sebaliknya akan mengurangi porsi kelompok angkatan kerja. Dalam struktur penduduk muda, porsi penduduk usia 20-24 tahun juga menyumbang porsi yang besar pada penduduk usia kerja. Ketika hanya sebagian kecil saja yang terlibat dalam kegiatan sekolah maka penduduk usia ini akan menjadi penyumbang yang besar pada kelompok angkatan kerja walaupun tidak semua terserap dalam lapangan pekerjaan. Penduduk yang lebih banyak terdistribusi pada umur-umur muda memaksa Provinsi Papua Barat harus bersiap untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Dalam grafik terlihat bahwa jumlah penduduk usia kerja yang berada pada interval umur 20-24 dan 25-29 tahun memiliki proporsi tinggi. Pada interval umur tersebut biasanya banyak terdapat new entrance pada dunia kerja. Setelah lulus dari SLTA atau pendidikan tinggi, lapangan kerja siap diperebutkan oleh para pencari kerja. Dengan besarnya komposisi penduduk pada usia tersebut tidak dapat dihindari bahwa penyediaan lapangan pekerjaan harus sebanding dengan penduduk usia kerja yang siap masuk angkatan kerja. Para pendatang baru di pasar kerja yang jumlahnya tidak sedikit ini akan mendatangkan masalah baru jika lapangan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menyerap mereka semua. Meskipun mereka berperan sebagai penyebab meningkatnya partisipasi

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 28
angkatan kerja, namun bila mereka tidak bekerja maka mereka akan masuk ke dalam kelompok para pencari kerja atau pengangguran. Pada kenyataannya, pertambahan jumlah angkatan kerja tidak secepat pertambahan persediaan lapangan pekerjaan. Akibatnya jumlah lapangan pekerjaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja yang jumlahnya terus meningkat. Lapangan pekerjaan semakin menjadi rebutan sekian banyak para pencari kerja yang yang terdapat di pasar kerja. Mereka yang kalah bersaing harus tersingkir dari lapangan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Semakin lebar gap antara jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dengan jumlah para pencari kerja, maka semakin lama jumlah pengangguran juga akan terakumulasi sehingga beban pasar kerja untuk menyediakan lapangan pekerjaan akan semakin berat. Sebuah indikator digunakan untuk melihat ketergantungan suatu kelompok umur tertentu terhadap suatu kelompok yang secara ekonomi dapat dikatakan produktif. Dependency Ratio (rasio ketergantungan/beban tanggungan) dipakai untuk mengetahui berapa besar beban tanggungan penduduk yang produktif (umur 1564 tahun) terhadap penduduk yang tidak produktif yaitu penduduk muda (kurang dari 15 tahun) dan penduduk tua (65 tahun ke atas). Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Keuntungan-keuntungan ekonomi dari demografi dapat diperoleh dengan memanfaatkan kondisi dependency ratio. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang tidak produktif. Sedangkan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 29
persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang tidak produktif. Tabel 3.1 Dependecy ratio, youth DR dan Old DR Papua Barat 2005-2009 Dependency Ratio 2005
Youth DR Old DR Dependency Ratio 51,03 2,07 53,10 2006 49,77 2,30 52,07 2007 48,12 2,27 50,39 2008 47,05 2,15 49,19 2009 46,12 2,27 48,39

Sumber: Proyeksi SP2000 dan SUPAS2005 Semakin lama dependency ratio Papua Barat semakin menurun. Pada tahun 2005 tercatat sebesar 53,10 persen dan terus menurun hingga mencapai 48,39 persen pada tahun 2009. Dari sudut ekonomi kondisi ini sangat menguntungkan karena setiap 1 orang penduduk tidak produktif ditanggung oleh 2 orang yang produktif. Ditambah lagi ketergantungan penduduk muda (youth DR) lambat laun menurun yang artinya pengeluaran tinggi untuk menghidupi penduduk usia muda semakin berkurang. Konsumsi kelompok ini merupakan yang paling tinggi. Limpahan penduduk yang produktif ini akan memberikan output maksimal apabila mereka semua dapat lapangan pekerjaan yang akan berdampak perkembangan ekonomi di Papua Barat. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat terserap dalam positif pada

P a g e | 30
Didalam tabel 3.2, dapat diperoleh informasi persebaran penduduk menurut kelompok umur dari masing-masing kabupaten/kota. Betapa mantapnya kekuatan potensial yang meskinya dapat dihasilkan dengan jumlah penduduk usia kerja yang besar untuk menggerakkan roda perekonomian bila penduduk usia kerja tersebut mampu bersaing dalam dunia kerja. Dengan catatan man power sebanyak itu mendapatkan tempat untuk berusaha dan bekerja. Namun bila tidak tertampung dalam pasar kerja justru potensi negatiflah yang nantinya akan dihasilkan.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Tabel 3.2 Penduduk Papua Barat Berusia 15 tahun ke atas yang Masuk Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota, 2009
Golongan Umur / Age Group

Kabupaten /Kota ( Regency/Municipality)

15-19
30-34
(5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

20-24
55-59
(3) (4)

25-29

35-39

40-44

45-49

50-54

60-64

65+
(12)

Jumlah/ Total
(13)

(1) (2)

Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong 711 2,271 666 924 8,264 1,356 2,620 1,900 4,055 22,767 51,788 50,430 47,642 49,990 42,340 33,508 27,058 15,526 3,127 2,760 1,886 4,010 17,664 4,519 5,045 3,074 9,703 2,863 2,449 1,388 5,103 12,911 4,860 5,127 1,946 13,783 3,321 2,571 1,336 3,262 15,836 5,257 4,659 1,857 9,543 3,892 2,502 1,694 3,660 10,587 6,123 7,669 2,776 11,087 3,228 2,102 1,509 3,166 10,137 3,924 6,912 1,452 9,910 2,323 1,676 1,208 2,168 7,014 2,206 5,291 3,141 8,481 2,153 849 747 1,556 8,125 3,167 5,733 1,888 2,840 1,318 802 289 787 3,652 1,136 3,030 912 3,600

253 487 104 359 1,861 200 1,154 873 1,065 6,356

114 198 256 316 1,542 516 866 612 560 4,980

23,303 18,667 11,083 25,311 97,593 33,264 48,106 20,431 74,627 352,385

Jumlah/Total

P a g e | 31

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 32

Sekilas tampak komposisi jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Papua Barat terkonsentrasi di kelompok umur muda. Kondisi ini memungkinkan banyak terdapat angkatan kerja baru yang siap bersaing di pasar tenaga kerja. Persaingan dalam mendapatkan pekerjaan terjadi bukan hanya terbatas pada para new comers yang baru lulus dari jenjang peendidikan, tetapi juga para pencari kerja yang sebelumnya pernah bekerja maupun yang masih bekerja tetapi kurang puas dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang, sehingga masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kota Sorong dan Kabupaten Manokwari adalah dua kota yang paling padat penduduknya di Provinsi Papua Barat. Kabupaten Manokwari sebagai ibukota provinsi yang sedang membangun dan Kota Sorong sebagai pusat industri dan perdagangan di Papua Barat, menarik setiap orang untuk bekerja dan menetap, menjadikan kedua wilayah tersebut mempunyai jumlah penduduk yang paling besar di Papua Barat, demikian pula dengan jumlah penduduk usia kerja tentu saja berkorelasi positif dengan jumlah penduduknya. Besarnya jumlah penduduk usia kerja bagaikan pedang bermata dua, ada sisi positif dan negatif, tergantung pada pemerintah daerah dalam mengelola wilayahnya apakah dapat mengasah potensi sumber daya manusianya untuk mendulang permata atau bisa jadi akan menuai bencana yang ditimbulkan dari sampah masyarakat yang salah kelola.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 33
2. Angkatan Kerja Angkatan kerja (labour force) adalah Penduduk usia kerja yang bekerja atau memiliki pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan termasuk didalamnya pengangguran. Dalam kurun waktu sejak Agustus 2007 sampai dengan keadaan Agustus 2009, jumlah angkatan kerja terus mengalami peningkatan. Pada Agustus 2007 jumlah angkatan kerja mencapai 296.146 orang dan terus bertambah menjadi 352.385 pada Agustus 2009. Peningkatan penduduk usia kerja yang diikuti dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja merupakan suatu kondisi ekonomi positif yang menunjukkan adanya peningkatan peran serta penduduk usia kerja dalam pasar kerja.

Sumber: Sakernas Agustus 2007-2009, Papua Barat

Gambar 3.2. Jumlah Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin Tahun 2007-2009

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 34
Berdasarkan jenis kelamin, meskipun jumlah laki-laki hampir dua kali lipatnya perempuan, keduanya sama-sama mengalami peningkatan dalam hal jumlah angkatan kerja sejak 2007 hingga 2009. Peran serta aktif penduduk usia kerja dalam pasar kerja ditunjukkan oleh semakin banyaknya penduduk usia kerja yang terserap dalam lapangan kerja. Ketika jumlah angkatan kerja terus bertambah, pertambahan tersebut lebih banyak menyumbang besaran jumlah penduduk yang bekerja atau terserap pada lapangan pekerjaan. Sebaliknya jumlah yang menganggur dari 2007-2009 terus mengalami penurunan. Keadan ini menunjukkan pasar kerja Papua Barat selang 2007 hingga 2009 bersifat positif dalam hal mengurangi pengangguran. Tabel 3.3 menginformasikan bahwa total dari angkatan kerja di Provinsi Papua Barat adalah sebanyak 352.385 orang dengan komposisi 229.006 orang berjenis kelamin laki-laki dan 123.379 orang berjenis kelamin perempuan. Artinya bahwa angkatan kerja di Papua Barat pada tahun 2009 sebagian besarnya adalah laki-laki. Perbandingan angkatan kerja laki-laki terhadap angkatan kerja perempuan hampir 6:4. Kabupaten Manokwari mempunyai labour force yang paling besar diantara kabupaten/kota lainnya, yaitu sebesar 97.593 orang, sedangkan Kabupaten Teluk Wondama jumlah angkatan kerjanya yang paling kecil, yaitu 11.083 orang. Terkait dengan isu gender, komposisi angkatan kerja disetiap kabupaten/kota didominasi oleh laki-laki Sedangkan untuk

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 35
Kabupaten Manokwari dan Sorong Selatan gap antara laki-laki dan perempuan tidak terlalu jauh, berarti kesetaraan gendernya lebih baik dari kabupaten lainnya.

Tabel 3.3. Jumlah Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/ Kota dan Jenis Kelamin, 2009 Jenis Kelamin Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Laki-laki (2) 17,156 13,669 7,962 18,033 54,744 18,845 33,481 14,723 50,393 229,006 Perempuan (3) 6,147 4,998 3,121 7,278 42,849 14,419 14,625 5,708 24,234 123,379 Total (4) 23,303 18,667 11,083 25,311 97,593 33,264 48,106 20,431 74,627 352,385

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

2.1 Penduduk Bekerja Angkatan kerja, dikelompokkan lagi menjadi dua, yaitu penduduk yang bekerja dan pengangguran. Penduduk yang bekerja juga dibagi menjadi dua, penduduk yang sedang bekerja dan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 36
penduduk yang bekerja tetapi selama referensi survei seminggu yang lalu sementara tidak bekerja (cuti, sakit, mogok, dll). Dalam tulisan ini sementara tidak bekerja tidak diulas karena persentasenya sangat kecil. Pengelompokan lapangan pekerjaan yang dilaksanakan dalam Sakernas Agustus 2009 berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005. Penyusunan KBLI juga berpedoman pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) revisi 3 tahun 1990. Namun pada penyajian datanya hanya dikelompokkan menjadi sembilan sektor besar dan atau berdasarkan sektor primer, sekunder dan tersier tergantung dari keperluan analisis. Sembilan sektor yang dimaksud adalah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik/gas/air, sektor konstruksi/bangunan, perdagangan, angkutan/pergudangan/komunikasi, lembaga keuangan & jasa perusahaan, dan jasa kemasyarakatan. Namun kadangkala untuk keperluan analisis global, sektor-sektor tersebut disederhanakan lagi menjadi sektor primer (agriculture), sektor sekunder (manufacture), dan sektor tersier (sevices). Berdasarkan argument teknis, seperti yang telah direkomendasikan oleh International labour Organization (ILO) sebagaimana tercantum dalam buku “Surveys of Economically Avtive Population, Employment, Unemployment and Underemployment” an ILO Manual Concept and Methods. ILO 1992, untuk memperhatikan the one hour criterion, yaitu digunakannya konsep/definisi satu jam Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 37
dalam referensi tertentu untuk menentukan seseorang dikategorikan sebagai (employed) bekerja. Berdasarkan hal dimaksud, maka dalam pelaksanaan Sakernas digunakan konsep/definisi “bekerja paling sedikit 1 jam dalam seminggu yang lalu (refensi survei)” untuk mengkategorikan seseorang (currently economically active population) sebagai bekerja, tanpa melihat lapangan usaha, jabatan, maupun status pekerjaannya. Konsep bekerja satu jam selama seminggu yang lalu juga digunakan oleh banyak Negara antara lain Pakistan, Filipina, Bulgaria, Hungaria, Polandia, Rumania, Federasi Negara-negara Rusia dan yang lainnya.
Tabel 3.4. Jumlah Penduduk yang Bekerja Didalam Angkatan Kerja Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Papua Barat Jenis Kelamin Laki-laki (2) 15,039 12,673 7,523 16,768 53,685 18,198 31,845 14,292 43,074 213,097 Perempuan (3) 4,517 4,145 2,982 6,288 41,877 13,917 13,872 5,040 20,024 112,662 Total (4) 19,556 16,818 10,505 23,056 95,562 32,115 45,717 19,332 63,098 325,759

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 38

Jumlah penduduk yang bekerja didalam angkatan kerja di Provinsi Papua Barat berjumlah 325.759 orang dengan proporsi 213.097 berjenis kelamin laki-laki (65,42 persen) dan jumlah penduduk perempuan yang bekerja sebanyak 112.662 orang (33,21 persen). Perbandingan pekerja laki-laki dan pekerja perempuan di Papua Barat pada tahun 2009 adalah 7:3. Artinya adalah dari 7 pekerja laki-laki terdapat 3 pekerja perempuan. Kondisi serupa berlaku untuk sebagian kabupaten/kota kecuali Fakfak dan Kaimana berbanding 8:2, dan Manokwari dan Sorong Selatan berbanding 6:4. Di era emansipasi wanita, kesetaraan gender menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan disegala bidang, baik itu pendidikan, kesehatan, maupun dalam hal memperoleh pekerjaan. Dari tabel 3.4. belum tampak adanya keseimbangan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan yang bekerja. Peran perempuan yang bekerja yang paling menonjol terdapat di Kabupaten Manokwari dan Sorong Selatan yang ditunjukkan dengan perbandingan seperti diuraikan sebelumnya. Manokwari dan Sorong Selatan memiliki porsi pekerja perempuan yang paling besar diantara kabupaten/kota lainnya di Provinsi Papua Barat. Angka ini cukup menunjukkan bahwa perempuan Kabupaten Manokwari dan Sorong Selatan mampu bersaing dengan penduduk laki-laki dalam hal memperoleh pekerjaan.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 39
2.1.1 Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Penduduk bekerja memasuki berbagai variasi lapangan pekerjaan yang macamnya sangat banyak. Variasi lapangan pekerjaan ini tetap diakomodir sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) sampai dengan lima digit (meliputi 18 kategori/sektor) sehingga dapat menangkap lapangan pekerjaan dengan detail. Namun dalam penyajian datanya tidak memungkinkan untuk menampilkan seluruh lapangan pekerjaan lima digit kode KBLI. Kemudian lapangan-lapangan pekerjaan tersebut dikelompokkan dalam sembilan sektor lapangan pekerjaan utama. Pada keadaan Agustus 2009, sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak digeluti oleh sebagian besar penduduk di Papua Barat, yang menjadikan sektor ini menempati peringkat pertama dengan 56,60 persen. Sedangkan sektor jasa kemasyarakatan dan perdagangan berada pada peringkat kedua dan ketiga dengan besar masing-masing 15,89 persen dan 10,39 persen. Sementara itu sektor keuangan-jasa perusahaan dan listrik/air/gas menjadi sektor yang jumlah pekerjanya paling sedikit diantara sektor Listrik, Gas dan Air yaitu masing-masing sebesar 0,53 persen dan 0,25 persen. Kedua sektor ini juga perkembangannya sangat fluktuatif dari 2006 hingga 2009 Tabel 3.5. mengilustrasikan bahwa pertanian adalah lapangan pekerjaan yang mayoritas dilakukan oleh penduduk Provinsi Papua Barat. Dominasi sektor pertanian dari periode

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 40
Agustus 2006 bertahan sampai dengan keadaan agustus 2009 dengan persentase yang terbesar.
Tabel 3.5. Persentase Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2009 Lapangan Pekerjaan Utama (1) Pertanian Pertambangan Industri Listrik, Gas & Air Bangunan Perdagangan Angkutan dan Pergudangan Keuangan & Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan Total 2006 (2) 63.68 1.28 2.09 0.07 6.68 6.04 8.82 0.14 11.2 100 2007 (3) 55.69 2.94 3.69 0.48 4.35 11.94 6.97 0.53 13.41 100 2008 (4) 58.79 3.08 3.59 0.10 4.22 9.7 5.74 0.84 13.94 100 2009 (5) 56.6 3.02 3.74 0.25 4.77 10.39 4.82 0.53 15.89 100

Sumber: Sakernas Agustus 2006-2009, Papua Barat

Kebanyakan sektor bergerak fluktuatif kecuali sektor Jasa Kemasyarakatan, Pertanian, dan Angkutan. Pertanian dan Angkutan semakin lama semakin merosot persentasenya. Ini menunjukkan sektor ini semakin tidak diminati. Pekerja yang jumlahnya terus merangkak naik tidak meningkat persentase pekerja di kedua sektor ini. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 41
Sebaliknya dengan jasa kemasyarakatan yang secara pasti persentasenya semakin menanjak tinggi sepanjang tahun 2006-2009. Penggambaran ini menguatkan asumsi bahwa pekerjaan di sektor ini dianggap pilihan terakhir terbaik dan menjadi incaran angkatan kerja di Papua Barat. Stabilitas pekerja di sektor ini sangat tinggi. Jika Pertanian, Angkutan dan Jasa Kemasyarakatan mengalami pergerakan yang konsisten, lain halnya dengan beberapa sektor lainnya. Pergerakannya berfluktuatif, kadang naik kadang turun. Dapat disimpulkan bahwa pekerja pada sektor-sektor ini Masih banyak yang berkeinginan mudah keluar dan masuk. berpindah ke sektor lainnya. Ada fakta menarik dari fenomena diatas, yaitu sektor pertanian yang berangsur menurun, dan sektor jasa kemasyarakatan yang terus mengalami perkembangan. Benang merah yang dapat ditarik dari fenomena ini adalah bahwa di Papua Barat ada kecenderungan sedang terjadi transisi atau pergeseran dari sektor primer (agriculture) ke sektor sekunder (manufacture) dan sektor tersier (services). Pola persebaran penduduk di sektor Agriculture, Manufacture dan Services atau biasa disingkat dengan sektor A, M dan S digambarkan pada tabel 3.6. dibawah ini. Namun, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa sektor A (agriculture) termasuk didalamnya adalah sektor pertanian. Sektor M (manufactures) meliputi sektor pertambangan, industri, listrik, air, gas, dan bangunan/konstruksi. Sedangkan sektor S (services), yang termasuk didalamnya adalah

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 42
sektor perdagangan, angkutan, pergudangan, keuangan, jasa

perusahaan, dan jasa kemasyarakatan.
Tabel 3.6. Persentase Lapangan Pekerjaan Utama di Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2009 Lapangan Pekerjaan Utama (1) Agriculuture Manufacture Services Total 2006 (2) 63.68 10.12 26.2 100 2007 (3) 55.69 11.46 32.85 100 2008 (4) 58.79 10.99 30.22 100 2009 (5) 56.59 11.78 31.63 100

Sumber: Sakernas Agustus 2006-2009, Papua Barat

Sepanjang tahun 2006-2009 tampak bahwa dominasi sektor Agriculture semakin menurun, dan pada dasarnya sektor Manufacture dan Services semakin meningkat. Pergeseran struktur pekerjaan dan perekonomian di Papua Barat sedang berlangsung. Gambaran modernisasi dan kemajuan masyarakat di Papua Barat sedang merebak. Penduduk yang mulanya mayoritas adalah para pekerja pertanian bergeser ke sektor modern seperti industri dan jasa-jasa. Transisi ini tidak mungkin dihindari karena tuntutan globalisasi. Tetapi tidak serta merta kita mengiyakan proses ini terjadi karena masih banyak faktor yang harus dihubung-hubungkan agar bisa ditinjau secara menyeluruh.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 43
Tabel 3.7. Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Lapangan Pekerjaan Utama A (2) 8,516 11,535 5,754 13,459 71,528 23,704 26,166 17,618 6,088 184,368 M (3) 2,599 618 952 3,841 6,160 1056 9,917 229 12,993 38,365 S (4) 8,441 4,665 3,799 5,756 17,874 7,355 9,634 1,485 44,017 103,026 Total (5) 19,556 16,818 10,505 23,056 95,562 32,115 45,717 19,332 63,098 325,759

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Sektor agriculture begitu mendominasi lapangan pekerjaan utama di semua kabupaten di Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong yang merupakan satu-satunya wilayah administrasi di Provinsi Papua Barat yang berstatus kota (dulu kotamadya). Pola yang ada di Kota Sorong menggambarkan keadaan mirip dengan karakteristik perkotaan pada kota-kota lainnya di Indonesia. Pada wilayah perkotaan memang sektor pertanian porsinya sangat kecil, justru sektor services yang paling berkembang untuk daerah ini. Sedangkan untuk kabupaten lainnya, lapangan pekerjaan utamanya mempunyai pola yang sama satu sama lain, yaitu didominasi oleh Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 44
sektor pertanian (A), kemudian sektor services berada diurutan kedua dan disusul oleh sektor manufacture berada ditempat terakhir. Rendahnya sektor manufacture di Papua Barat diduga karena masih sedikitnya investasi yang masuk ke daerah yang jumlah sumber daya alamnya sangat melimpah ini. Infrastruktur yang ada sekarang ini belum mampu menarik investor untuk membuka usaha industri baru di Papua Barat. Aksesibilitas yang sulit dan mahal sangat mempengaruhi sisi marketing hasil produksi sehingga akan menghalangi iklim investasi. Proses pembebasan tanah, hak ulayat adat dan tipologi geografi Papua Barat belum kondusif dan belum mampu mendukung investasi manufaktur. Sama halnya dengan penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan secara total, komposisi penduduk yang bekerja menurut jenis kelamin juga mempunyai komposisi yang hampir sama. Pada kabupaten lainnya kecuali Kota Sorong dan Kabupaten Fakfak, sektor pertanian (Agrikultur) dan yang non pertanian (Manufaktur dan Service) proporsinya nyaris seimbang (Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Sorong), sedangkan di Raja Ampat, Sorong Selatan, Manokwari, dan Kaimana sektor Pertanian (Agrikultur) masih mendominasi dengan kisaran yaitu 70 persen lebih. Sebaliknya di Kota Sorong dan Kabupaten Fakfak sektor Non Pertanian (Manufaktur dan Service) melebihi sektor pertanian, bahkan di Kota Sorong sangat dominan (hampir 90 persen).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 45
Tabel 3.8. Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Kabupaten/Kota, Jenis Kelamin dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009 Kabupaten/ Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Laki-Laki A (2) 47.18 68.45 53.86 52.50 72.40 73.35 55.53 94.53 10.46 54.69 M (3) 16.43 4.88 12.65 22.33 10.86 5.40 26.88 1.60 25.26 16.08 S (4) 36.39 26.67 33.48 25.17 16.74 21.24 17.59 3.87 64.27 29.23 Total (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Perempuan A (6) 31.46 69.00 57.08 74.05 77.99 74.41 61.15 81.51 7.90 60.20 M (7) 2.83 0.00 0.00 1.54 0.79 0.52 9.78 0.00 10.54 3.64 S (8) 65.71 31.00 42.92 24.41 21.22 25.07 29.07 18.49 81.56 36.16 Total (9) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Analisis berdasarkan status pekerjaan pekerja sangat berguna untuk melihat bagaimana pola antar sektor pekerjaan (AMS). Ternyata pekerja dengan status berusaha sendiri paling besar persentasenya ada pada sektor S dibandingkan dengan sektor A dan sektor M. Menurut status berusaha dibantu buruh tidak tetap tercatat persentase paling banyak ada pada sektor A. Budaya rumahtangga pertanian di pedesaan melibatkan pekerja keluarga tanpa dibayar menjadi penyebab besarnya persentase pekerja pada status ini. Persentase pekerja dengan status pekerja tak dibayar jika Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 46
dibandingkan dengan sektor M dan S paling tinggi persentasenya yaitu 36.80 persen.
Tabel 3.9. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan Utama (AMS) Tahun 2009 Status Pekerjaan (1) Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh tetap/buruh tdk dibayar tidak Lapangan Pekerjaan utama A M S (2) 16.62 39.39 0.53 4.03 2.64 0.00 36.80 100 (3) 15.33 12.99 4.10 56.17 0.00 9.67 1.74 100 (4) 23.73 7.85 3.04 57.36 0.00 1.79 6.22 100 Total (5) 18.72 26.31 1.74 27.03 1.49 1.71 23.00 100

Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar Buruh/karyawan/pegawai Pek bebas pertanian Pekerja bebas non pertanian Pek tak dibayar Papua Barat Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Pada status pekerjaan dibantu oleh buruh tetap/buruh dibayar, persentase tertinggi ada disektor M dan hampir sebanding dengan sektor S, yaitu pada kisaran 4,10 dan 3,04 persen. Pekerja sektor A yang berstatus ini persentasenya jauh lebih kecil. Jika melihat status pekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai, tampak bahwa persentase terbesarnya Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 47
ada pada sektor S dan M. Nilainya sangat berbanding jauh dengan sektor A, yaitu 14:1. Pekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap/dibayar dan status buruh/karyawan/pegawai dikelompokkan ke dalam pekerja sektor formal. Dari tabel di atas terbukti bahwa sektor informal paling dominan berada pada sektor A (95,44 persen), sebaliknya sektor M dan S paling banyak pada sektor Formal (60,27 dan 60,40 persen).

2.1.2

Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengakomodir

jenis pekerjaan utama dari Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia (KBJI) 2002 yang mengacu pada ISCO 1988 dengan uraian jenis pekerjaan yang lebih rinci. Agar bisa dibandingkan dengan data-data sebelumnya, dalam penyajian ini klasifikasi tersebut dikonversikan ke Klasifikasi Jenis Pekerjaan Indonesia (KJI) 1982. Dalam KBJI, jenis pekerjaan dikelompokkan menjadi 10 golongan pokok, yaitu: golongan 1 terdiri dari pejabat lembaga legislatif, pejabat tinggi, dan manager; golongan 2: tenaga profesional; golongan 3: teknisi dan asisten tenaga profesional; golongan 4: tenaga tata usaha; golongan 5: teanga usaha jasa dan tenaga penjualan; golongan 6: tenaga usaha pertanian dan peternakan; golongan 7: tenaga pengolahan dan kerajinan; golongan 8: operator dan perakit mesin; golongan 9: tenaga kasar dan tenaga kebersihan; dan golongan 10: anggota TNI dan POLRI. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 48
Tabel 3.10. Jumlah Penduduk yang Bekerja menurut Jenis Pekerjaan Utama Tahun 2009 Jenis Pekerjaan Utama (1) Tenaga Profesional, Teknisi Dan Tenaga Lain Ybdi Tenaga Kepemimpinan Ketatalaksanaan Pejabat Pelaksana, Tenaga Usaha Dan Tenaga Ybdi Tenaga Usaha Penjualan Tenaga Usaha Jasa T U Tani, Kebun, Ternak, Ikan, Hutan Dan Perburuan Lainnya Tenaga Produksi Op Alat Angkutan Dan Pekerja Kasar Papua Barat Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat Dan Tata Jumlah (2) 22,648 4,291 15,526 30,531 9,820 181,011 56,879 5,053 325,759 Persentase (3) 6.95 1.32 4.77 9.37 3.01 55.57 17.46 1.55 100

Sesuai dengan mayoritas penduduknya yang berprofesi di kegiatan pertanian, maka sudah bisa dipastikan bahwa komposisi jenis pekerjaan utama di Provinsi Papua Barat sebagian besar adalah sebagai tenaga usaha tani, kebun, ternak, ikan, hutan dan perburuan dengan persentase mencapai 55,57 persen. Kondisi ini konsisten dengan keadaan penduduk yang bekerja mayoritas pada lapangan pekerjaan utama pada sektor pertanian yang mencapai 56,60 persen. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 49
Sedangkan tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan adalah jenis pekerjaan yang paling sedikit di Papua Barat, yaitu sebesar 1,32 persen. Namun kecilnya persentase pada jenis pekerjaan ini masih dinilai relevan, karena dalam piramida sebuah organisasi maka semakin tinggi level pimpinan maka jumlahnya akan semakin sedikit.

2.1.3

Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama Dalam bekerja, seseorang mempunyai status masing-masing

sesuai dengan pekerjaan apa yang sedang dijalani. Status pekerjaan utama adalah jenis kedudukan seseorang dalam melakukan pekerjaan pada suatu unit usaha/kegiatan. Status pekerjaan utama dibedakan menjadi tujuh kelompok pada saat proses pengumpulan data, namun kadang-kadang dalam melakukan analisis status usaha yang mempunyai karakteristik yang hampir sama dapat digabungkan sesuai kebutuhan penyajian dan analisis data. Bila penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan utama dikombinasikan dengan jenis pekerjaan utama maka akan diperoleh kategori apakah seseorang tergolong bekerja di sektor formal atau informal. (lihat pembahasan bab II).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 50
Tabel 3.11. Persentase Penduduk Bekerja menurut Kabupaten/ Kota dan Status Pekerjaan Utama Tahun 2009 Status Pekerjaan Utama Ber Buruh Pek usaha /Kary dibantu /Peg Bebas buruh (3) 6.26 31.18 18.58 24.78 34.28 42.72 42.96 31.91 7.85 28.05 (4) 38.68 17.38 23.68 31.38 15.42 16.93 18.51 13.91 57.89 27.03 (5) 0.49 2.19 0.44 7.16 4.29 1.01 4.50 0.24 2.75 3.20 Pek Tak Dibaya r (6) 6.44 22.89 15.74 17.82 37.66 28.57 21.97 25.14 6.32 23.00

Kabupaten/Kota

Ber usaha sendiri (2) 48.13 26.36 41.55 18.86 8.35 10.77 12.06 28.80 25.19 18.72

Total

(1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT

(7) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Status pekerja berusaha dibantu buruh (tetap maupun tidak tetap) menduduki posisi paling tinggi yaitu mencapai 28,05 persen. Dan hampir sepertiga pekerja di Papua Barat berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai. Sedangkan yang berstatus berusaha sendiri tidak mencapai seperlima pekerja yang ada. Yang cukup memprihatinkan dan perlu diperhatikan adalah persentase pekerja yang berstatus sebagai pekerja tak dibayar yang mencapai nilai hampir setara dengan buruh/karyawan/pegawai. Berarti hampir seperempat dari pekerja yang ada di Papua Barat pada tahun 2009 Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 51
bekerja tanpa memperoleh penghasilan. Mereka hanya membantu keluarga untuk memperoleh penghasilan tanpa dibayar. Bila diperhatikan menurut kabupaten/kota, nampak variasi besaran persentase status pekerjaan utama disetiap daerah. Untuk status pekerjaan berusaha sendiri, Kabupaten Fakfak mempunyai persentase paling besar yaitu 48,13 persen. Hampir separuh pekerja di Fakfak berstatus berusaha sendiri. Sebaliknya, di kabupaten tersebut jumlah pekerja keluarga yang berstatus tidak dibayar menduduku posisi dua terbawah dengan capaian 6,44 persen. Kabupaten Sorong merupakan penyumbang terbanyak pada status pekerjaan berusaha dibantu buruh (tetap/tidak tetap atau dibayar/tidak dibayar) dengan persentase sekitar 42,96 persen. Sedangkan Fakfak sebagai penyumbang terkecil pada status pekerjaan ini dengan persentase hanya 6,26 persen. Persentase terbesar pekerja dengan status pekerjaan utama sebagai buruh/pegawai/karyawan terletak di Kota Sorong yang masih menjadi pusat perekonomian di Provinsi Papua Barat. Kota Sorong memberikan share yang paling besar pada status pekerjaan ini sebesar 57,89 persen. Separuh lebih pekerja Kota Sorong berstatus buruh/karyawan/pegawai. Tingginya persentase pada status pekerjaan sebagai buruh/pegawai/karyawan karena di Kota Sorong adalah sebagai ‘pintu masuk utama’ pulau Papua. Investasi di Kota Sorong sangat banyak sehingga berdiri berbagai perusahaan dengan kapasitas besar, baik perusahaan industri dan pertambangan. Keadaan Kota Sorong mengundang investor menanamkan investasinya di daerah produsen minyak bumi dan eksportir hasil Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 52
laut beserta olahannya. Skala besar ataupun sedang pada perusahaan yang ada di Kota Sorong menarik banyak pekerja yang terserap sebagai buruh/karyawan/pegawai. Yang perlu dicermati adalah pekerja dengan status pekerja keluarga yang tak dibayar ternyata paling besar persentasenya ada di ibukota provinsi Papua Barat, Manokwari. Mendekati empat puluh persen pekerja di Kabupaten Manokwari pada tahun 2009 tak berpenghasilan meskipun mereka melakukan usaha/kerja Tabel 3.12. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Status Pekerjaan (1) Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh Buruh/Karyawan/Pegawai Pekerja Bebas Pekerja Tak Dibayar Jenis Kelamin Laki-laki (2) 21.56 36.50 30.07 4.41 7.46 Perempuan (3) 13.34 12.06 21.30 0.91 52.39 100 Total (4) 18.72 28.05 27.03 3.20 23.00 100

Papua Barat 100 Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Penduduk laki-laki masih lebih tinggi persentasenya untuk status pekerjaan utama. Hal ini terlihat pada tabel 3.12 untuk semua status pekerjaan utama kecuali pekerja tidak dibayar. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 53

Sementara untuk pekerja tidak dibayar, persentase pekerja perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan pekerja laki-laki yaitu 52,39 persen. Partisipasi dalam lapangan pekerjaan terimbas oleh status hubungan mereka dengan salah-satu keluarga yang bekerja. Mereka berasal dari keluarga sendiri dan umumnya adalah berjenis kelamin perempuan (istri atau anak perempuan) yang masih memiliki hubungan famili. 2.1.4 Bekerja Menurut Pendidikan Kualitas ketenagakerjaan diukur berdasarkan partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran, tingkat pendidikan pekerja, produktifitas tenaga kerja, dan tingkat upah. Gambaran pekerja menurut tingkat pendidikan dapat digunakan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan saat kini bahkan prediksi di masa yang akan datang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik kualitas ketenagakerjaan. Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan produktifitas dan tingkat upah. Pendidikan yang semakin tinggi berbanding lurus dengan kemampuan dan keterampilan kerja. Namun dibalik itu semua, tingkat pendidikan yang tinggi berpengaruh pada pilihanpilihan pekerjaan. Tenaga kerja dengan pendidikan tinggi tidak akan sembarangan menentukan jenis pekerjaan. Dengan tingkat pendidikannya mereka berharap mendapat pekerjaan dengan tingkat penghasilan yang lebih baik. Akibatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar pula persentase yang menganggur. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 54
Artinya banyak yang masih mencari kerja terkait dengan pilihanpilihan mereka pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih menjanjikan.
Tabel 3.13. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Kabupten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009 Pendidikan Kabupaten/Kot a (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT <SD (2) 15.61 32.69 35.88 24.84 49.18 27.91 29.62 44.66 6.35 30.76 SD (3) 25.65 25.63 23.42 27.24 19.21 19.42 24.04 31.84 10.31 20.36 SLTP (4) 16.43 20.58 15.97 18.54 13.22 24.71 20.32 12.42 14.68 16.62 SLTA (5) 28.28 17.89 20.18 24.97 13.32 15.96 19.89 9.57 50.50 23.66 Diplo ma/ Sarjan a (6) 14.03 3.21 4.55 4.41 5.08 11.99 6.14 1.51 18.16 8.61 Total

(7) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Papua Barat digambarkan dalam tabel 3.13. . Kualitas ketenagakerjaan di Papua Barat pada tahun 2009 sama dengan kondisi Nasional. Secara global, tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Papua Barat masih tergolong rendah, separuh lebih pekerja berpendidikan SD ke bawah. Jika dilihat dari pendidikan dasar 9 tahun, tercatat Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 55
67,73 persen pekerja berpendidikan SLTP ke bawah. Pekerja terdidik (SLTA keatas) hanya 32,27 persen. Keadaan ini secara umum berlaku di kabupaten/kota se Papua Barat kecuali untuk Kota Sorong. Separuh lebih pekerja di Kabupaten Kaimana, Teluk wondama, Teluk Bintuni, Manokwari, Sorong Selatan, Sorong, dan Raja Ampat adalah pekerja dengan pendidikan sangat rendah yaitu tamatan SD ke bawah, bahkan separuh dari pekerja itu tidak tamat SD/tidak pernah sekolah. Yang paling parah lagi adalah Kabupaten Manokwari dan Raja Ampat, keduanya memiliki persentase pekerja berpendidikan SD ke bawah tertinggi yaitu masing-masing sebesar 68,39 persen dan 76,50 persen (tiga perempat lebih). Jika membahas keadaan ketenagakerjaan di Papua Barat maka bisa diketahui yang lebih baik kondisinya adalah Kabupaten Fakfak dan Kota Sorong. Di Fakfak pada tahun 2009 tercatat pekerja yang berpendidikan SD ke bawah hanya sebesar 41,26 persen sedangkan di Kota Sorong jauh lebih kecil lagi yaitu sekitar 16,66 persen saja. Kecilnya persentase pekerja dengan pendidikan rendah berbanding terbalik dengan persentase pekerja terdidik (SMA ke atas) di kedua wilayah ini. Fakfak mencatat pekerja terdidiknya sebesar 42,31 persen dan Kota Sorong jauh lebih tinggi lagi yaitu sebesar 68,66 persen. Seperti diuraikan sebelumnya bahwa perbedaan tenagakerja terdidik dan tak terdidik adalah dalam hal penentuan pekerjaannya. Tenagakerja tak terdidik tidak mempermasalahkan jenis dan status pekerjaan yang akan digelutinya. Minimnya keterampilan dan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 56
keahlian memaksa mereka bekerja pada lapangan pekerjaan apapun tanpa memperhitungkan besaran upah/penghasilan yang akan diperolehnya. Akhirnya mereka masuk pada lapangan pekerjaan yang tidak menuntut kualifikasi tertentu yang memberikan penghasilan tidak optimal. Tidak sama halnya dengan tenaga kerjatenaga kerja terdidik, karena berbekal kemampuan dan keahlian yang dimilikinya mereka tidak sembarangan menentukan jenis dan status pekerjaannya. Perhitungan rate of return dari masa pendidikan yang telah dikeluarkannya harus lebih tinggi. Harapan akan tingkat penghasilan/pendapatan yang tinggi harus sesuai dengan tingkat pendidikan/keterampilan/keahlian yang dimiliki. Bisa disimpulkan bahwa di Papua Barat separuh lebih pekerja masuk dalam pasar kerja dan bekerja pada lapangan pekerjaan karena ketiadaan pilihan atas pendidikan rendah yang melekat pada diri mereka. Keterpaksaan ini berdampak pada tingkat penghasilan yang diperoleh pekerja-pekerja ini yaitu terletak pada tingkat yang rendah. Tingginya persentase pekerja dengan pendidikan rendah harus perlu diperhatikan keberadaannya pada pasar kerja Papua Barat. Pekerja ini ada di setiap kelompok umur. Besarannya bervariasi dan membesar pada kelompok umur 45 tahun ke atas. Dengan demikian jika selama 15 tahun ke depan mereka tetap berada pasar kerja maka mereka ini akan tetap menjadi penyumbang besarnya persentase pekerja Papua Barat yang berpendidikan rendah.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 57
Tabel 3.14. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Kelompok Umur dan Pendidikan Tahun 2009 Pendidikan Kelompok Umur (1) 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 + PAPUA BARAT <SD (2) 38.89 23.42 20.33 27.12 21.34 29.92 41.59 48.75 40.83 54.72 58.21 30.76 SD (3) 24.92 19.39 19.01 19.85 20.04 15.47 22.76 24.83 21.18 25.74 22.59 20.36 SLTP (4) 20.02 22.32 21.47 20.03 18.55 13.65 10.82 8.90 9.11 6.39 3.78 16.62 SLTA (5) 16.02 31.05 29.89 23.85 27.36 27.14 15.82 12.36 18.80 9.93 11.81 23.66 Diplo ma/Sa rjana (6) 0.14 3.83 9.29 9.14 12.72 13.82 9.01 5.15 10.08 3.23 3.61 8.61 Total (7) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Persentase penduduk yang bekerja bila dibandingkan secara gender, akan diperoleh bagaimana tingkat kesetaraan gender dalam dunia kerja di Provinsi Papua Barat berdasarkan tingkat pendidikan yang telah ditamatkan. Misalnya dengan membandingkan secara gender dari sisi tenaga kerja terdidik dan dari sisi tenaga kerja yang berpendidikan rendah (SD kebawah).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 58
Tabel 3.15. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Pendidikan (1) Tdk/blm prnh sekolah, tdk/blm tamat SD SD SLTP SLTA Diploma/Sarjana Papua Barat Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat Jenis Kelamin Laki-laki (2) 24.43 20.49 18.94 27.74 8.41 100 Perempuan (3) 42.73 20.11 12.23 15.95 8.98 100 Total (4) 30.76 20.36 16.62 23.66 8.61 100

Kesenjangan masih terjadi di pasar kerja Papua Barat pada tahun 2009. Belum ada pemerataan kesempatan antara pekerja lakilaki dan perempuan. pekerjaan belum setara Menurut tingkat pendidikan tertentu, dengan laki-laki. Tabel di atas kesempatan tenaga kerja perempuan untuk maasuk dalam lapangan mempelihatkan bahwa persentase pekerja laki-laki untuk tingkat pendidikan terdidik yaitu SMA masih terdapat selisih yang cukup besar. Tercatat pekerja laki-laki berpendidikan SMA sebanyak 27,74 persen dan pekerja perempuan pada tingkat pendidikan yang sama hanya berkisar 15,95 persen. Namun demikian ada dua hal yang cukup membanggakan yang menunjukkan kesamaan peran yaitu pada tingkat pendidikan tinggi (Diploma/Sarjana) dan tingkat pendidikan rendah (tamtan SD) di mana persentase pekerja laki-laki Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 59
dan pekerja perempuan nyaris sama dan bahkan perempuan memiliki persentase yang sedikit lebih tinggi dibandingkan pekerja laki-laki. Masing-masing sebesar 8,41 persen untuk laki-laki dan 8,98 persen untuk perempuan pada tingkat pendidikan Diploma/Sarjana. Sedangkan pada tingkat pendidikan SD baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berkisar pada angka 20 persen, laki-laki sebesar 20,49 persen dan perempuan sebesar 20,11 persen. Meskipun separuh lebih pekerja Papua Barat berpendidikan rendah (SD ke bawah) dan separuh dari mereka adalah yang tidak pernah sekolah/tidak tamat SD, ternyata justru berlangsung kesenjangan antara laki-laki dan perempuan yang sangat besar. Persentase pekerja dengan pendidikan ini yang berjenis kelamin perempuan hampir dua kali lipatnya laki-laki. Pasar kerja Papua Barat masih dipenuhi oleh pekerja-pekerja tidak terampil dan ahli. Jika dipilah-pilah menurut lapangan pekerjaan utama, sesuai dengan tabel 3.16. tingkat pendidikan tenaga kerja dari sektor services mempunyai sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan paling baik diantara sektor lainnya. Pada sektor services persentase tenaga kerja terdidiknya mencapai 66,90 persen. disamping itu pada sektor ini persentase tenaga kerja dengan pendidikan SD kebawah juga paling kecil, yaitu sebesar 18,88 persen, paling rendah diantara sektor lainnya.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 60
Tabel 3.16. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 Pendidikan (1) Tdk/blm prnh sekolah, tdk/blm tamat SD SD SLTP SLTA Diploma/Sarjana Total Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat Lapangan Pekerjaan Utama A M S (2) 48.73 25.21 15.17 9.47 1.42 100 (3) 12.88 15.06 24.72 41.57 5.78 100 (4) 5.24 13.64 16.21 42.38 22.52 100 Papua Barat (5) 30.76 20.36 16.62 23.66 8.61 100

Pertanian adalah sektor subsisten yang tidak menuntut kualifikasi pendidikan/keterampilan bagi para pekerjanya. Sektor ini sangat mudah dimasuki. Ketika pencari kerja tidak mungkin bersaing dengan para pencari kerja lainnya yang berlatar belakang pendidikan lebih tinggi, ketika dengan latar belakang pendidikan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor M atau S, maka mereka tidak punya pilihan selain bergelut di sektor A. Bukan hal yang perlu ditanyakan kenapa sektor ini memiliki persentase pekerja yang tidak/belum pernah sekolah/tidak/belum tamat SD jauh lebih besar dan berlipat-lipat dibandingkan sektor M atau S. Kondisi yang sama untuk tingkat pendidikan SD.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 61
Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin kecil persentase pekerja pada sektor Agriculture. Ini menunjukkan bahwa pertanian semakin ditinggalkan oleh para tenaga kerja terdidik. Pertanian hanya dilirik oleh tenaga kerja berpendidikan rendah. Tingkat penghasilan yang rendah dan pekerjaan yang dianggap kotor karena selalu bergelut dengan lahan dan menguras energi fisik menjadi penyebab rendahnya persentase pekerja terdidik di sektor ini. Justru sebaliknya, sektor M atau S merupakan sektor yang paling banyak dilirik oleh pekerja terdidik (SMA ke atas). Setara dengan kualifikasi pendidikan yang disyaratkan sektor ini bagi para pekerjanya, maka tidak salah jika ke dua sektor ini memiliki persentase paling besar untuk pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Dan nilainya sangat jauh lebih besar dibandingkan sektor A dengan tingkat pendidikan sama. Apabila membandingkan antara M dan S, maka pada tingkat pendidikan tinggi, sektor S memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan sektor M.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 62

Tabel 3.17. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Tertinggi dan Status Pekerjaan Utama Tahun 2009 Status Pekerjaan Utama Pendidikan Usaha Sendiri (2) 24.74 24.89 20.01 28.74 1.63 100 Berusaha dibantu Buruh (3) 38.62 25.79 18.18 14.29 3.13 100 Buruh/ Kary. /Peg. (4) 5.69 9.60 15.03 43.73 25.94 100 (5) 30.52 24.12 23.77 21.59 0.00 100 Pek. Bebas Pek. Tak dibayar (6) 55.56 22.16 12.84 7.66 1.79 100 Papua Barat (7) 30.76 20.36 16.62 23.66 8.61 100

(1) Tdk/blm prnh sekolah, tdk/blm tamat SD SD SLTP SLTA Diploma/ Sarjana Total

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Setelah dicermati, pekerja yang status pekerjaan utamanya sebagai pekerja tidak dibayar mempunyai sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan yang paling buruk diantara status pekerjaan lainnya. Bagaimana tidak, pada status pekerjaan ini persentase tenaga kerja terdidiknya paling rendah, hanya sebesar 9,45 persen dan persentase penduduk yang bekerja dengan tingkat pendidikan SD kebawah sangat besar, mencapai 77,72 persen.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 63
Persentase Diploma/Sarjana pekerja yang dengan berstatus pendidikan SLTA dan

buruh/karyawan/pegawai

merupakan yang tertinggi dibandingkan status pekerjaan lainnya. 2.1.5 Bekerja Menurut Jam Kerja Dalam mengukur produktivitas tenaga kerja, variabel jam kerja seringkali digunakan sebagai tolok ukurnya. Idealnya semakin banyak jam kerja yang digunakan maka diharapkan output (produktivitas) yang dihasilkan juga semakin banyak. Dalam konsep yang dipakai BPS dalam Sakernas, jam kerja juga digunakan sebagai penentu lapangan pekerjaan utama bila seseorang mempunyai lebih dari satu jenis pekerjaan. Maksudnya, bila seseorang bekerja pada lebih dari satu lapangan pekerjaan yang berbeda (berlainan kode KBLI), maka yang dianggap sebagai lapangan pekerjaan utama adalah lapangan pekerjaan yang jam kerjanya lebih banyak dari lapangan pekerjaan lainnya. Sedangkan untuk lapangan pekerjaan yang jam kerjanya lebih kecil dianggap sebagai pekerjaan tambahan/pekerjaan sampingan. Dalam menentukan jam kerja normal, BPS berpatokan pada jumlah jam kerja minimal 35 jam dalam seminggu. Bila seorang pekerja bekerja dibawah jam kerja normal, maka dikategorikan sebagai setengah pengangguran, karena dengan jam kerja yang kurang dari jam kerja normal, produktivitasnya dianggap rendah tidak seperti tenaga kerja yang menggunakan jam kerja secara penuh.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 64
Sedangkan bila seorang pekerja dalam seminggu yang lalu (dalam periode survei) sementara tidak bekerja, atau jam kerjanya nol jam, maka tidak dikategorikan sebagai setengah pengangguran atau pengangguran terbuka. Pengecualian ini berlaku karena sebenarnya statusnya adalah sebagai pekerja, tetapi karena selama pencacahan sedang cuti, sakit, menunggu panen dan sebagainya, maka yang bersangkutan sementara tidak bekerja. Perlu dicatat, sementara tidak bekerja selama seminggu yang lalu pada kasus ini dalam bagan ketenagakerjaan masih masuk kedalam angkatan kerja.
Tabel 3.18. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Kabupten/Kota dan Jam Kerja Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Jam Kerja 0 (2) 1.61 1.80 5.14 0.21 0.22 9.03 5.70 0.00 0.99 2.32 1-34 (3) 39.71 40.07 43.57 31.43 27.04 48.34 22.39 42.87 14.01 29.18 35+ (4) 58.69 58.13 51.29 68.36 72.74 42.63 71.92 57.13 84.99 68.50 Total (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 65
Distribusi penduduk yang bekerja berdasarkan kelompok jam kerja digambarkan dalam tabel 3.18. Secara global, bila dikelompokkan dalam jam kerja, pekerja di Provinsi Papua Barat sebagian besar bekerja diatas jam kerja normal (35 jam seminggu), tepatnya sebanyak 68,50 persen memiliki jam kerja diatas 35 jam seminggu. Dapat dikatakan bahwa produktivitas penduduk yang bekerja di Papua Barat sudah baik dari segi penggunaan jam kerja. Namun masih terdapat 29,18 persen yang bekerja di bawah jam kerja normal, yang merupakan setengah pengangguran Papua Barat tahun 2009. Diantara kabupaten/kota di Papua Barat, tenaga kerja di Kota Sorong telah menggunakan jam kerja secara maksimal, hal ini terlihat dari persentase penduduk yang bekerja diatas jam kerja normalnya sangat tinggi. Tenaga kerja Kota Sorong yang bekerja diatas 35 jam seminggu sebanyak 84,99 persen. Jadi hanya sekitar 15,01 persen sisanya adalah tergolong sebagai setengah pengangguran (14,01 persen) dan dalam kategori sementara tidak bekerja (0,99 persen). Sementara itu, Sorong Selatan menjadi kabupaten yang penggunaan jam kerja tenaga kerjanya paling tidak maksimal, karena tidak mencapai separuh pekerja di kabupaten Sorong Selatan (42,63 persen) tidak bekerja dengan jam kerja diatas 35 jam seminggu, bahkan justru sebaliknya yang setengah pengangguran melebihi persentase yang bekerja di atas jam kerja normal yaitu sebesar 48,34 persen.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 66

Tabel 3.19. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jam kerja dan Jenis kelamin Tahun 2009 Jam Kerja (1) 0 1-34 35+ Total Jenis Kelamin Laki-laki (2) 2.56 23.35 74.09 100 Perempuan (3) 1.86 40.21 57.94 100 Papua Barat (4) 2.32 29.18 68.50 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Jam kerja pekerja laki-laki dan perempuan bila dilihat perbandingannya, menunjukkan bahwa pekerja laki-laki mempunyai jam kerja yang lebih banyak bila dibandingkan dengan pekerja perempuan. Persentase pekerja laki-laki yang bekerja 35 jam ke atas perminggu melebihi persentasenya pekerja perempuan. Masingmasing sebesar 74,09 persen dan 57,94 persen. Hal serupa berlaku untuk yang sementara tidak bekerja seminggu yang lalu. Kemudian, lebih sedikitnya jam kerja pekerja perempuan dibandingkan pekerja laki-laki terlihat dari persentase yang bekerja antara 1-34 jam seminggu di mana pekerja perempuan persentasenya melebihi persentase pekerja laki-laki.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 67
Dengan begitu bisa diketahui bahwa di pasar kerja Papua Barat pada tahun 2009 terdapat 29,18 persen pekerja yang tergolong sebagai setengah pengangguran. Setengah pengangguran laki-laki mencapai 23,35 persen dari total penduduk laki-laki yang bekerja dan setengengah penganggur perempuan sebanyak 40,21 persen dari total penduduk perempuan yang bekerja. Pembahasan yang lebih rinci mengenai setengah pengangguran akan dijelaskan pada subbab berikutnya.
Tabel 3.20. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Jam Kerja dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 Kelompok Umur (1) 0 1-34 35+ Total Lapangan Pekerjaan Utama A (2) 2.49 38.85 58.66 100 M (3) 3.37 10.62 86.02 100 S (4) 1.62 18.78 79.60 100 Papua Barat (5) 2.32 29.18 68.50 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Berdasarkan tabel 3.20. diperoleh informasi pekerja di sektor agriculture, manufacture dan services mempunyai proporsi yang lebih besar pada penggunaan jam kerja diatas 35 jam seminggu. Dari ketiga sektor tadi, manufacture memiliki persentase paling besar dibandingkan services dan agriculture dengan besaran masingmasing adalah 86,02 (M) 79,60 (S) dan 58,66 (A). Jika ingin melihat perbandingan setengah pengangguran pada ketiga sektor ini, tampak Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 68
bahwa agriculture lah yang memiliki persentase setengah

pengangguran paling besar dibandingkan lainnya. Tercatat sektor agriculture sebesar 38,85 persen, service sebesar 18,78 persen, dan manufacture sebesar 10,62 persen. Seperti telah disinggung sebelumnya, jam kerja yang digunakan oleh tenaga kerja berkaitan dengan produktivitas dari output yang dihasilkan. Dari hasil tabulasi silang antara jam kerja dengan lapangan pekerjaan utama/sektor usaha, dengan asumsi bahwa semakin tinggi jam kerja yang digunakan maka semakin tinggi produktivitas kerjanya. Diperoleh hasil bahwa jam kerja pada sektor manufacture merupakan sektor yang tenaga kerjanya memiliki jam kerja yang relatif maksimal dibandingkan dengan sektor lain. Disusul oleh sektor services dan sektor agriculture. Penggunaan jam kerja pada status pekerjaan utama pekerja digunakan untuk melihat sebaran keefektifan penggunaan jam kerja pada masing-masing status pekerjaan utama, atau untuk mengamati pada status pekerjaan utama yang manakah penduduk yang bekerja tergolong sebagai setengah pengangguran atau sebagai tenaga kerja yang sepenuhnya produktif. Informasi dari tabel 3.21. diperoleh gambaran bahwa hampir di seluruh status pekerjaan utama penggunaan waktu kerja 35 jam ke atas per minggu lebih banyak persentasenya dibandingkan yang kurang dari 35 jam kerja. Yang paling tinggi adalah status buruh/karyawan/pegawai. Secara otomatis persentase pada status ini akan besar karena sektor ini merupakan sektor formal yang secara resmi mengatur jumlah jam kerja minimal pegawai setiap Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 69
harinya. Aturan resmi masuk kerja minimal 8 jam kerja sehari berdampak pada tingginya jam kerja pekerja berstatus ini. Tercatat persentase pekerja pada status ini yang bekerja di atas 35 jam perminggu sebesar 82,36 persen. Pola serupa juga berlaku pada status lainnya kecuali pekerja tak dibayar. Persentase pekerja dengan status sebagai pekerja tak dibayar besarannya lebih kecil dibandingkan yang bekerja di bawah jam kerja normal (46,05 persen). Tingginya persentase pekerja tak dibayar yang bekerja di bawah jam kerja normal kemungkinan besar karena pekerja-pekerja ini hanya merupakan pelengkap yang bekerja sekedar membantu keluarga. Sehingga tidak dipatok harus bekerja selama 8 jam sehari. Ketika kegiatan utamanya telah selesai, para pekerja ini baru meluangkan waktunya untuk ikut bekerja membantu keluarganya untuk memperoleh penghasilan. menghasilkan.
Tabel 3.21. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja Tahun 2009 Status Pekerjaan (1) Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh Buruh/Karyawan/Pegawai Pekerja Bebas Jam Kerja 0 (2) 4.47 3.58 11.08 0.00 1-34 (3) 26.33 24.80 15.88 18.52 35+ (4) 69.21 71.61 82.36 81.48 Total (5) 100 100 100 100

Walaupun secara ekonomi

sesungguhnya harus dicatat sebagai kegiatan produktif yang yang

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 70
Pekerja Tak Dibayar Papua Barat 0.00 7.94 53.95 29.18 46.05 68.50 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Penggunaan jam kerja yang paling efektif diantara status pekerjaan utama adalah penduduk dengan yang bekerja sebagai yang buruh/karyawan/pegawai persentase penduduk

bekerja diatas 35 jam seminggu sebesar 82,36 persen. Pada status pekerjaan utama ini untuk penduduk yang bekerja dibawah jam kerja normal juga relatif paling rendah, sehingga produktivitas pada status pekerjaan ini juga baik. Dalam tabel diatas status pekerjaan utama berusaha dibantu buruh adalah penggabungan dari berusaha dibantu oleh buruh dibayar/buruh tetap dan dibantu oleh buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar. Demikian pula dengan pekerja bebas yang merupakan penggabungan antara pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di nonpertanian. Penduduk yang bekerja menurut kelompok jam kerja dan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan memiliki model yang terpola, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin tinggi persentase pekerja yang bekerja 35 jam ke atas perminggu. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja maka semakin rendah persentase pekerja yang bekerja di bawah jam kerja normal. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menentukan produktifitas pekerja jika ditilik dari lamanya jam kerja selama Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 71
seminggu. Para pekerja terdidik lebih produktif terutama karena mereka paling banyak terserap di pekerjaan-pekerjaan formal non pertanian sehingga menuntut disiplin terhadap waktu kerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan atau tempat mereka bekerja. Namun tidak sama halnya dengan pekerja berpendidikan rendah, meskipun persentase yang bekerja di atas jam kerja normal melebihi persentase yang bekerja di bawah jam kerja normal, jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi maka persentasenya lebih kecil.
Tabel 3.22. Persentase Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan dan Jam Kerja Tahun 2009 Pendidikan (1) Tdk/blm prnh tdk/blm tamat SD SD SLTP SLTA Diploma/Sarjana Total Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat sekolah, Jam Kerja 0 (2) 2.39 1.64 3.47 1.79 2.86 2.32 1-34 (3) 37.32 35.90 27.09 15.83 24.92 29.18 35+ (4) 60.29 62.46 69.44 82.37 72.22 68.50 Total (5) 100 100 100 100 100 100

Persentase yang semakin meningkat menurut tingkat pendidikan terbatas hingga tingkat pendidikan SLTA. Ketika

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 72
mencapai pendidikan diploma/sarjana maka persentase pekerja yang bekerja 35 jam lebih mengalami penurunan dan sebaliknya persentase yang bekerja di bawah jam kerja normal semakin berkurang. Kemungkinan karena level managerial kebanyakan diisi oleh pekerja dengan kapasitas ini. Padahal manager/pimpinan seringkali tidak berada di kantor karena urusan perjalan bisnis/dinas dan lain-lain yang mengurangi jam kerja perminggunya. Tingkat pendidikan pekerja di Provinsi Papua Barat yang sebagian besar (47,97 persen) adalah berpendidikan rendah (SD kebawah), dan tidak sedikit yang jam kerjanya dibawah jam kerja normal. Implikasinya adalah produktivitas tenaga kerja yang rendah ditambah masih tingginya angka pengangguran di Papua Barat akan menjadi pemicu masih tingginya angka kemiskinan di Provinsi Papua Barat. Kemiskinan merupakan lingkaran setan. Rendahnya pendapatan perkapita rumahtangga berpengaruh pada kemampuan pemenuhan kebutuhan dasarnya. Ketidakcukupan pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan bergizi akan berpengaruh pada gizi dan derajat kesehatan para pekerja yang ada di rumahtangga tersebut. Dampaknya secara langsung akan berpengaruh pada Disamping itu, dengan produktifitas dari pekerja tersebut.

pendapatan yang hanya pas-pasan untuk kebutuhan pokok menyulitkan bagi para pekerja untuk menyisihkan pendapatannya untuk kebutuhan non makanan seperti investasi pendidikan. Bisa dibayangkan bagaimana rumahtangga-rumahtangga miskin akan menciptakan individu-individu yang miskin pula. Ketiadaan kualitas sumber daya manusia pada akhirnya pasti mendorong mereka Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 73
masuk ke jurang kemiskinan. Sehingga ketika harus bersaing di pasar kerja untuk merebut lapangan-lapangan pekerjaan dengan tingkat output yang lebih baik, karena harus memiliki kualifikasi pendidikan tertentu memaksa mereka harus tersingkir dari kesempatan-kesempatan kerja pada lapangan pekerjaan ini. Mau tidak mau akhirnya karena tidak mampu bersaing kerja, dengan ketidaaan pilihan lain mereka masuk ke dalam lapangan kerja subsisten seperti pertanian yang dengan mudah dimasuki oleh pekerja tak terdidik tanpa keahlian dan kemampuan. 2.1.6 Bekerja Menurut Sektor Informal Salah satu dimensi penting terkait dengan hal

ketenagakerjaan adalah kebutuhan akan lapangan pekerjaan yang semakin meningkat. Namun, kesempatan kerja di sektor formal dirasakan tidak sesuai jumlah yang diminta dengan jumlah tenaga kerja yang ditawarkan oleh para pencari kerja. pengangguran yang cukup banyak Jangankan pertambahan angkatan kerja dapat terserap dalam lapangan kerja, saja belum tertampung. Pengangguran maupun pertambahan angkatan kerja lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kesempatan kerja yang ada. Akibatnya, sektor informal dianggap sebagai jawaban yang tepat dan mudah atas masalah ketenagakerjaan. Sektor informal tampaknya memainkan peranan cukup penting di dunia, meskipun terkesan diabaikan atau bahkan dianaktirikan. Di beberapa kota besar di negara berkembang peranan sektor informal dalam menyerap angkatan kerja cukup besar (www.unchs.org), yaitu di Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 74
New Delhi, India, 61,4 persen; di Dhaka, Bangladesh, 60 persen. Di Surabaya sektor informal diperkirakan menyerap tidak kurang dari 35 persen jumlah angkatan kerja yang ada (www.undp.org). Fakta menarik dari sektor informal adalah sektor ini terbukti memiliki kemampuan penyerapan tenaga kerja yang tinggi, bahkan hampir tidak mempunyai titik jenuh. Sektor ini juga menjadi saluran urbanisasi penduduk desa ke kota yang paling mudah, murah serta bersifat massal. Sektor ini berperan cukup besar dalam menyangga sektor formal. Studi menunjukkan, lebih dari 75 persen pekerja sektor formal di Jakarta bergantung pada keberadaan sektor informal. Baik untuk konsumsi keseharian (melalui warteg, pasar tradisional), transportasi (ojek), maupun permukiman (pembantu rumah tangga). Keberadaan sektor informal memberikan peran cukup berarti bagi distribusi produk pertanian, pabrik maupun rumah tangga. Kegiatan ini mendukung semangat kewirausahaan dan merupakan potensi sumber pemasukan bagi pemerintah lokal. Sektor informal bahkan dapat menjadi katup penyeimbang perekonomian bangsa ketika Indonesia diterpa krisis moneter 1997/1998. Sektor ini terbukti fleksibel dengan tidak terlalu terpengaruh oleh krisis tersebut. Bahkan pasca krisis sektor ini menjadi semakin berkembang karena untuk terjun ke sektor informal tidak membutuhkan modal yang besar dan tidak melalui prosedur yang berbelit-belit sehingga mudah dalam memulainya. Ada sesuatu yang luar biasa dibalik peran sektor informal di Indonesia. Menurut Mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, di Negara Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 75
berkembang seperti Indonesia, sektor informal memang lebih banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan sektor formal. Sektor ini bahkan menjadi pendorong menurunnya angka kemiskinan. Angka kemiskinan (sesuai hasil survei BPS Maret 2008), turun menjadi 34,96 juta orang (15 persen dari total penduduk Indonesia) dari 37,17 juta orang pada tahun 2007. (www.indonesia.go.id).
Tabel 3.23. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor FormalInformal menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 Kabupaten/Kota -1 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Informal -2 46.49 64.91 71.76 56.64 80.39 76.38 68.58 84.99 0.70 58.38 Formal -3 53.51 35.09 28.24 43.36 19.61 23.62 31.42 15.01 99.30 41.62 Total -4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Menurunnya angka

kemiskinan tersebut sebagian besar diserap oleh sektor informal

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Bagaimana dengan kondisi penduduk yang bekerja pada sektor formal-informal di Provinsi Papua Barat?. Berdasarkan tabel Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 76
3.23. dapat diperoleh informasi bahwa ternyata proporsi sektor informal sangat dominan, sekitar 58,38 persen pekerja bekerja di sektor informal. Sedangkan sisanya hanya 41,62 persen yang bekerja di sektor formal. Begitu juga ketika dilihat di level kabupaten/kota hanya Kota Sorong yang hampir seluruh pekerjanya bekerja di sektor Formal (99,30 persen) dan sisanya kurang dari 1 persen yang bekerja pada sektor informal. Tidak mengherankan karena Kota Sorong sementara ini masih menjadi pusat perekonomian yang ada di Papua Barat. Disana banyak tempat-tempat usaha, perusahaan, industri dan jasa-jasa. Sementara itu, untuk kabupaten lain, terutama kabupaten pemekaran yang masih relatif baru, sektor formal belum banyak diciptakan dan dibuka. Masyarakat masih cenderung bekerja disektor informal. Selain mudah diciptakan, modal yang dibutuhkan juga relatif kecil dibandingkan sektor formal. Selain itu sektor formal mudah untuk berpindah sektor usaha karena pengelolaannya tidak terlalu kompleks sehingga lebih fleksibel. Diantara delapan kabupaten lainnya, Raja Ampat merupakan kabupaten yang kontribusi terbesar penduduknya bekerja di sektor informal, yaitu 84,99 persen. Kabupaten ini, masyarakatnya masih bergantung pada sektor Agriculture (perikanan). Komposisi jenis kelamin penduduk yang bekerja disektor informal di Provinsi Papua Barat adalah 61,90 persen laki-laki dan 38,10 persen adalah perempuan. Pola serupa berlaku untuk seluruh kabupaten/kota se Papua Barat. Ternyata proporsi laki-laki yang bekerja di sektor Informal jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 77
Gap paling jauh adalah di Kabupaten Fakfak, Kaimana dan Raja Ampat. Sedangkan yang nyaris seimbang ada di kabupaten Di kabupaten Manokwari dan Sorong Selatan meskipun pekerja laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan pekerja perempuan. Manokwari tercatat proporsi pekerja laki-laki dan perempuan di sektor informal adalah 53,99 persen dan 46,01. Sedangkan di Sorong Selatan perbandingannya adalah 53,87 persen dan 46,13 persen.
Tabel 3.24. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Jenis Kelamin Laki-laki (2) 76.57 75.29 66.09 65.50 53.99 53.87 65.65 73.98 65.05 61.90 Perempuan (3) 23.43 24.71 33.91 34.50 46.01 46.13 34.35 26.02 34.95 38.10 Total (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 78

Tabel 3.25. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Lapangan Pekerjaan Utama A (2) 74.40 87.52 74.83 78.35 90.08 93.12 80.08 96.63 23.39 80.41 M (3) 5.38 0.85 4.95 10.47 1.90 1.05 8.70 0.00 14.23 4.69 S (4) 20.21 11.63 20.22 11.18 8.03 5.83 11.22 3.37 62.38 14.90 Total (5) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Para pekerja sektor-sektor informal mayoritas berada pada sektor pertanian. Dari delapan kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat seluruhnya berpola serupa yaitu mayoritas pekerja informal adalah pekerja sektor agriculture. Keadaan ini tidak berlaku bagi Kota Sorong karena persentase pekerja sektor ini sangat kecil, apalagi jika dibedakan menurut formal atau informal, maka persentasenya pun akan sama. Pada sektor informal pertanian, yang mendominasi delapan kabupaten di Provinsi Papua Barat, persentase terbesarnya berada di Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 79
Kabupaten Raja Ampat sekitar 96,63 persen dari total penduduk yang bekerja. Sektor informal merupakan sektor yang paling mampu bertahan dari gejolak inflasi, krisis moneter bahkan krisis global selain paling mudah menyerap tenaga kerja bahkan mengurangi angka pengangguran. Pada tingkat nasional sumbangan sektor informal cukup berpengaruh pada perekonomian bangsa. Namun demikian jika dilihat di Papua Barat, ketika hanya memperhitungkan sumbangan sektor pertanian terhadap perekonomian Papua Barat maka tercatat bahwa kontribusinya hanya mencapai 25 persen saja. Padahal pertanian di Papua Barat merupakan penyerap tenaga kerja paling banyak dan di antara pekerja sektor pertanian tersebut pada mayoritas berada di sektor informal. Sektor informal pertanian memberikan kontribusi PDRB yang paling kecil dibandingkan dengan sektor manufacture dan sektor services. Kecilnya kontribusi sektor informal, terutama sektor informal pertanian pada PDRB berarti membuktikan walaupun dapat menyerap banyak tenaga kerja banyak dengan output rendah membuktikan bahwa produktivitasnya masih rendah. Dengan begitu bisa dibenarkan pernyataan bahwa pertanian bukan lah sektor pilihan utama para pencari kerja. Ketiadaan kemampuan atas pilihan akan pekerjaan yang lebih baik memaksa banyak tenaga kerja Papua Barat yang terperosok dalam sektor pertanian subsisten dengan output dan penghasilan apa adanya. Dari pada tidak produktif lebih baik bekerja untuk memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 80
Tabel 3.26. juga menunjukkan bahwa posisi kedua dan ketiga sektor informal di setiap kabupaten ada pada lapangan pekerjaan utama sektor services dan manufacture.
Tabel 3.26. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Status Pekerjaan Utama Status Pekerjaan Utama Kabupaten /Kota Berusaha dibantu buruh tdk dibayar (3) 4.72 33.97 19.54 31.12 37.71 48.12 43.81 36.25 3.54 33.18

Ber usaha Sendiri (2) 83.3 33.84 57.91 29.64 10.34 13.85 17.59 33.88 71.2 27.86

Pekerja Bebas

Pekerja Tak dibayar (5) 11.14 29.38 21.94 28 46.64 36.73 32.03 29.58 17.88 34.24

Total

(1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT

(4) 0.84 2.82 0.61 11.24 5.32 1.3 6.56 0.29 7.38 4.72

(6) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 81
Sektor informal bila dilihat dari sisi status pekerjaan utama, secara umum di Provinsi Papua Barat persentase status yang nyaris sebanding adalah pekerja tak dibayar, berusaha dibantu buruh tak dibayar, dan berusaha sendiri dengan besaran masing-masing berturut-turut adalah 34,24 persen, 33,18 persen dan 27,86 persen. Persentase terkeceil adalah status pekerja bebas yaitu sebesar 4,72 persen yang menunjukkan bahwa pada sektor informal sangat sedikit pekerja yang berstatus ini. Variasi pekerja informal menurut status pekerjaannya di maing-masing kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel 3.26. Tidak semua kabupaten/kota memiliki pola serupa. Kabupaten yang memiliki persentase tertinggi pekerja informal berstatus pekerja tak dibayar hanya Manokwari. Kabupaten/kota lainnya masuk dalam 2 kelompok berbeda lainnya yaitu kabupaten/kota yang persentase tertingginya pada status berusaha sendiri ( Fakfak, Kota Sorong, dan Teluk Wondama) dan status berusaha dibantu buruh tak dibayar (Sorong Selatan, Sorong, Manokwari, Raja Ampat, Kaimana dan Teluk Bintuni).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 82
Tabe 3.27. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009 Kabupaten/K ota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Pendidikan < SD (2) 22.52 40.81 47.02 36.44 59.22 33.25 37.60 47.66 SD (3) 38.63 29.38 29.74 31.47 18.38 21.76 28.34 34.82 SLTP (4) 19.04 21.15 13.98 15.88 12.18 30.43 19.77 11.27 19.46 17.23 SLTA (5) 18.68 8.50 9.26 15.15 9.41 11.66 12.15 5.97 48.10 14.55 Diploma /Sarjana (6) 1.13 0.17 0.00 1.06 0.80 2.90 2.14 0.27 4.39 1.53 (7) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Total

Kota Sorong 9.28 18.76 PAPUA 42.25 24.44 BARAT Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Tenaga kerja disektor informal pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dari pada tenaga kerja disektor formal. Kondisi tingkat pendidikan tenaga kerja disektor informal Provinsi Papua Barat juga menunjukkan gejala yang demikian. Sebesar 66,69 persen dari penduduk yang bekerja disektor informal mempunyai pendidikan rendah atau SD kebawah, dan hanya sekitar 16,03 persen merupakan tenaga kerja terdidik (pendidikan tertinggi yang ditamatkan SLTA atau lebih). Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 83
Situasi tingkat pendidikan tenaga kerja sektor informal dilevel kabupaten/kota rata-rata mempunyai kecenderungan distribusi yang hampir sama dengan kondisi Provinsi Papua Barat secara umum. Tingkat pendidikan yang rendah disektor informal masih tampak nyata di sebagian besar kabupaten. Hanya Kota Sorong yang mempunyai kecenderungan pola yang agak berbeda. Disana justru penduduk yang bekerja disektor informal sebagian besar adalah tenaga kerja terdidik, yaitu sekitar 52,49 persen. Besarnya tenaga kerja terdidik yang bekerja disektor informal di Kota Sorong diduga karena tingkat pendidikan yang sudah baik tidak didukung oleh ketersediaan lapangan pekerjaan disektor formal, akibatnya sebagian dari tenaga kerja yang kalah bersaing disektor formal tersebut terpaksa memilih bekerja disektor informal dari pada menjadi penganggur. Selain itu, tenaga kerja disektor informal Kota Sorong mempunyai persentase paling kecil pada penduduk yang bekerja disektor informal dengan tingkat pendidikan rendah. Selain Kota Sorong, persentase penduduk yang bekerja disektor informal dengan tenaga kerja terdidik relatif tinggi juga terjadi di Kabupaten Fakfak. Sekitar 37,72 persen pekerja informal berpendidikan SLTA keatas. Sedangkan Kabupaten Raja Ampat memiliki persentase terkecil pada pekerja sektor informal, dengan tingkat pendidikan SMA ke atas yaitu sebesar 6,24 persen. Sementara untuk persentase penduduk yang bekerja disektor informal dengan pendidikan rendah , Kabupaten Raja Ampat memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar 82,48 persen.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 84

Tabel 3.28. Persentase Penduduk yang Bekerja di Sektor Informal menurut Kabupaten/Kota dan jam Kerja Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Jam Kerja < 35 (2) 48.40 46.70 53.54 41.24 30.95 62.36 33.19 49.16 22.18 38.64 35+ (3) 51.60 53.30 46.46 58.76 69.05 37.64 66.81 50.84 77.82 61.36 Total (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Di Provinsi Papua Barat, penggunaan jam kerja penduduk yang bekerja disektor informal sebagian besar bekerja diatas 35 jam seminggu, atau sekitar 61,36 persen dari total pekerja disektor informal. Sedangkan sisanya, sebesar 38,64 persen tergolong sebagai setengah rendah. Penggunaan jam kerja pada sektor informal ternyata mayoritas kabupaten/kota dari tenaga kerja bekerja diatas jam kerja Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat pengangguran disektor informal. Jadi wajar bila produktivitas tenaga kerja di Provinsi Papua Barat masih termasuk

P a g e | 85
normal, kecuali di Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Teluk Wondama. Kedua kabupaten ini memiliki pekerja disektor informal yang bekerja diatas 35 jam seminggu kurang dari 50 persen, jadi sebagian besar bekerja dibawah jam kerja normal atau boleh dikatakan pekerja ini termasuk setengah pengangguran disektor informal. Diantara pekerja yang bekerja dibawah jam kerja 35 jam seminggu, setengah pengangguran disektor informal terbanyak berada di Kabupaten Sorong Selatan dengan persentase sebesar 62,36 persen dari total tenaga kerja informal di kabupaten tersebut. Dengan demikian Teluk Wondama memiliki persentase terbesar sebagai pekerja informal yang tergolong setengah pengangguran.

3. Bukan Angkatan kerja Penduduk usia kerja yang dibatasi pada umur 15 tahun keatas dibagi menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk bukan angkatan kerja ini diantaranya dirinci menjadi tiga kelompok besar kegiatan, yaitu penduduk yang sedang sekolah, penduduk yang sedang mengurus rumah tangga, dan penduduk yang sedang melakukan kegiatan lainnya. Jumlah penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja kondisi Agustus 2009 adalah 161.908 orang (31,48 persen dari total penduduk usia kerja) dengan rincian 55.476 orang (34,26 persen) sedang sekolah, 89.446 orang (55,24 persen) sedang mengurus

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 86
rumahtangga, dan 16.986 orang (10,49 persen) sedang melakukan kegiatan lainnya. Jumlah penduduk bukan angkatan kerja mengalami kenaikan dari Agustus 2008 ke kondisi Agustus 2009 dari keadaan semula 160.018 orang menjadi 161.908 orang.

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.3. Persentase Penduduk Bukan Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 Sebaran proporsi penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja, seperti yang dijelaskan pada gambar 3.3. memiliki pola yang seragam diseluruh kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat kecuali Sorong Selatan dan Manokwari.. Mayoritas penduduk bukan angkatan kerja adalah kegiatan mengurus rumah tangga, kemudian kegiatan sedang bersekolah berada diposisi berikutnya dan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 87
selanjutnya adalah kegiatan lainnya menjadi kontributor terkecil dalam proporsi penduduk bukan angkatan kerja. yang tertinggi adalah mereka yang bersekolah. 4. Indikator Ketenagakerjaan Dalam dunia ketenagakerjaan selain indikator-indikator yang telah disinggung pada bahasan sebelumnya, masih terdapat beberapa indikator ketenagakerjaan penting lainnya yang dihasilkan dari SAKERNAS. Beberapa indikator ini bahkan menjadi primadona dari sekian banyak output yang dikeluarkan BPS dari berbagai jenis survei. Isu penting yang selalu hangat diperbincangkan adalah mengenai pengangguran. Angka pengangguran yang secara rutin dirilis (setelah kegitan survei selesai) mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, pengamat ekonomi, peneliti dan para pengguna data khususnya data-data sosial. Mengapa angka pengangguran selalu menjadi bahan pembicaraan banyak pihak?, karena angka tersebut merupakan nilai raport bagi pemerintah untuk mengukur sejauh mana keberhasilan penerapan kebijakan-kebijakan ketenagakerjaan dalam menyelesaikan masalah pengangguran dan penciptaan lapangan pekerjaan. Tentu saja bukan hanya pemerintah pusat yang mendapatkan penilaian atas kinerjanya, tetapi juga pemerintah daerah, baik itu provinsi dan kabupaten/kota yang secara administratif telah Sedangkan di Sorong Selatan dan Manokwari persentase bukan angkatan kerja

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 88
diberikan kewenangan untuk secara otonom mengelola

pemerintahannya sendiri. Sebagai provinsi yang relatif baru di Indonesia, Provinsi Papua Barat mempunyai kesempatan yang bagus untuk melakukan perencanaan pembangunan ketenagakerjaan dengan mendasarkan kebijakan ketenagakerjaan dengan data statistik sebelum permasalahan ketenagakerjaan, khususnya pengangguran dan penciptaan lapangan pekerjaan semakin kompleks. 4.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pengangguran dari sisi ekonomi merupakan produk

ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja yang tersedia, antara lain seperti: jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dibandingkan jumlah pencari kerjanya, kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, dan kurang lengkapnya informasi pasar kerja bagi pencari kerja. Selain itu, pengangguran juga dapat disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi karena perusahaan menutup/mengurangi bidang usahanya sebagai akibat dari krisis ekonomi, keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi, dan lainlain. Pengangguran akibat dari ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap para pencari kerja, senantiasa bertambah setiap tahunnya seiring dengan penambahan jumlah penduduk. Tidak seimbangnya antara demand dan supply tenaga kerja menyebabkan angka pengangguran bergerak fluktuatif. Bila jumlah demand Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 89
(permintaan) tenaga kerja lebih besar dari jumlah tenaga kerja yang tersedia di pasar tenaga kerja, maka yang terjadi adalah tenaga kerja akan memiliki pilihan yang lebih banyak untuk menentukan kemana akan bekerja. Namun pada kenyataannya, disetiap negara mempunyai kecenderungan bahwa jumlah demand tenaga kerja lebih kecil dari pada ketersediaan tenaga kerja (supply) yang ada di pasar tenaga kerja, dengan kata lain jumlah lapangan pekerjaan yang diperebutkan para pencari kerja kurang sebanding dengan jumlah pencari kerja. Implikasi dari lebih kecilnya jumlah lapangan pekerjaan dibandingkan dengan jumlah pencari kerja tidak lain adalah terlahirnya pengangguran. Dengan terbatasnya ketersediaan lapangan pekerjaan tersebut maka jumlah tenaga kerja yang tersediapun tidak akan mampu terserap seluruhnya di pasar tenaga kerja. Semakin besar gap antara jumlah para pencari kerja dengan jumlah lapangan pekerjaan yang diciptakan, maka semakin besar pula jumlah pengangguran. Jumlah pengangguran senantiasa akan bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk setiap tahun. Semakin lama, jumlah penduduk yang menganggur akan terakumulasi bila tidak segera diatasi. Padahal tingginya angka pengangguran tidak hanya akan menimbulkan masalah-masalah ekonomi saja, melainkan juga berbagai masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial. Dalam konsep lama yang termasuk pengangguran adalah mereka yang mencari pekerjaan (looking for work) dan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 90
mempersiapkan usaha (establishing a new bussiness/firm), namun sekarang konsep tersebut telah diperbaharui dengan menambahkan kategori termasuk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (hopless of job) dan yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (have a job in a future start). Bila salah satu dari syarat tersebut terpenuhi maka seorang dapat dikategorikan sebagai pengangguran. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) biasa dipakai untuk mengukur persentase jumlah orang yang menanggur dalam angkatan kerja. Tidak termasuk didalamnya penduduk usia kerja tetapi bukan angkatan kerja seperti siswa yang sedang sekolah/kuliah, sedang mengurus rumah tangga dan sedang melakukan kegiatan lainnya selain bekerja. Secara matematis cara penghitungan TPT adalah:
TPT = (Jumlah penganggur / Jumlah angkatan kerja) x 100%

Nilai TPT inilah yang sering kali disebut-sebut berkaitan dengan tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran. Semakin rendah angka TPT maka jumlah penganggur dalam angkatan kerja semakin sedikit, yang berarti daya serap lapangan pekerjaan terhadap pencari kerja semakin baik.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 91
TPT Provinsi Papua Barat 2006-2009

Sumber: Diolah dari Sakernas Agustus 2006 – 2009, BPS Papua Barat

Gambar 3.4. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2009 Bila diperhatikan dengan cermat pola pada grafik di atas, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Papua Barat memiliki tren yang cenderung semakin menurun. Di Provinsi Papua Barat nilai TPT mangalami penurunan dari kondisi Agustus 2006 ke kondisi Agustus 2009 sebanyak 2,61 poin dari 10,17 persen menjadi 7,56 persen. Penurunan cukup tajam berlangsung sepanjang 2006 hingga 2008, namun ketika menuju 2009 penurunannya melambat. Sakernas dapat digunakan untuk estimasi sampai dengan level kabupaten/kota karena output yang dihasilkan, terutama angka pengangguran sudah mulai diperhitungkan seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penganggur. Hal ini memungkinkan untuk Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 92
melihat bagaimana sebaran TPT di setiap kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat.
Tabel 3.29. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Jenis Kelamin Kabupaten/Kota Total Laki-laki Perempuan (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT (2) 12.34 7.29 5.51 7.01 1.93 3.43 4.89 2.93 14.52 6.95 (3) 26.52 17.07 4.45 13.60 2.27 3.48 5.15 11.70 17.37 8.69 (4) 16.08 9.91 5.22 8.91 2.08 3.45 4.97 5.38 15.45 7.56

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Dari delapan kabupaten dan satu kota di Provinsi Papua Barat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi terdapat di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 16,08, disusul Kota Sorong dengan TPT sebesar 15,45 persen. Kedua kabupaten/kota tersebut memiliki TPT sampai dengan level dua digit, sebuah besaran tingkat pengangguran yang perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah daerah setempat. Bila dicermati lebih dalam, bahwa angka TPT yang tinggi tersebut kontribusi terbesarnya disumbang dari penduduk yang Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 93
berjenis kelamin perempuan. Selain dari kedua daerah tersebut, Kabupaten Kaimana, Teluk Bintuni dan Raja Ampat pengangguran perempuan juga memberikan share yang cukup besar terhadap angka TPT diwilayah tersebut. TPT perempuan tertinggi adalah TPT perempuan Kabupaten Fakfak senilai 26,52 persen yang menunjukkan bahwa di wilayah ini hampir sepertiga angkatan kerja perempuan adalah pengangguran.
Tabel 3.30. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kabupaten / Kota dan Perkotaan/Perdesaan Tahun 2009

Kabupaten/Kota

Perkotaan

Perdesaan

Perkotaan + Perdesaan (4) 16.08 9.91 5.22 8.91 2.08 3.45 4.97 5.38 15.45 7.56

(1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama *) Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong *) Raja Ampat *) Kota Sorong PAPUA BARAT

(2) 13.51 14.20 9.33 9.50 21.95 15.22 14.91

(3) 17.74 8.06 5.22 8.82 1.97 1.07 4.97 5.38 26.24 4.75

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat *) cakupan sampel hanya didaerah perdesaan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 94
Berdasarkan tabel 3.30. tampak bahwa TPT perkotaan lebih tinggi dibandingkan TPT perdesaan. Daerah perkotaan merupakan daerah tujuan mobilitas penduduk. Dengan fasilitas publik yang lebih banyak dibandingkan perdesaan menjadi penarik para pencari kerja berduyun-duyun pindah ke perkotaan. Harapan mendapatkan tingkat penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan bekerja di perdesaan menarik semakin banyak para pencari kerja menaruh harapannya di perkotaan dan rela bersaing dengan para pencari kerja lainnya dalam pasar kerja meraih lapangan-lapangan pekerjaan yang ada. Namun pada kenyataannya, banyaknya tenaga kerja yang mencari kerja dalam pasar kerja di perkotaan jumlahnya tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang ada. Selisih inilah yang menyebabkan tingginya TPT daerah perkotaan. Beda dengan wilayah perkotaan, kebanyakan penduduk yang tetap tinggal di perdesaan paling banyak adalah mereka yang berpendidikan rendah. Kualifikasi mereka yang tidak menjadi syarat ketika mereka terjun dalam lapangan pekerjaan yang ada di perdesaan menjadi penyebab tingkat penyerapan tenaga kerja dalam pasar kerja perdesaan sangat tinggi. Seperti pernah diuraikan sebelumnya, tipe lapangan pekerjaan di perdesaan adalah sektor pertanian subsisten dimana akses keluar atau masuk pada lapangan pekerjaan ini sangat mudah dilakukan. Jadi wajar saja ketika nilai TPT perdesaan jauh lebih rendah dibandingkan TPT perkotaan. Untuk melihat dikelompok umur manakah pengangguran paling banyak berkumpul. Komposisi jumlah penganggur menurut kelompok umur terlihat pada tabel 3.31. terjadi penumpukan pada Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 95
kelompok umur 25-29 ke bawah. Mereka adalah angkatan kerjaangkatan kerja muda yang secara usia masuk ke dalam kelompok usia sekolah. Bisa ditarik kesimpulan bahwa pada kelompokkelompok inilah terisi lulusan-lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang masuk ke dalam pasar kerja untuk mencari kerja. Dengan berbekal kemampuan yang di peroleh selama mengenyam pendidikan, kelompok ini secara aktif terlibat mencari kerja. Karena posisi mereka di pasar kerja sebagai new entrance tanpa kepemilikan pengalaman kerja bisa menjadi penyebab tidak semua bisa langsung terserap dalam lapangan kerja.
Tabel 3.31. Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur Tahun 2009 Kelompok Umur 91) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55+ Papua Barat Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat TPT (2) 19.89 19.13 11.20 6.57 2.32 2.76 1.29 1.39 1.76 7.56

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 96
Di samping itu, keterbatasan lapangan kerja yang ada tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat tiap tahunnya. Para new entrance harus bersaing juga dengan para tenagakerja-tenaga kerja yang sudah terjun lebih lama di pasar kerja. Tidak mengherankan bila pada kelompok umur ini angka TPT-nya paling tinggi diantara kelompok umur lainnya. Penumpukan jumlah penganggur pada kelompok umur 1519, 20-24, dan 25-29 tersebut tahun-tahun biasa terjadi karena di kelompok umur lulusan dari masing-masing tingkatan

pendidikan SLTP, SLTA dan diploma/perguruan tinggi. Ada diantara para lulusan yang tidak lagi meneruskan sekolahnya baik karena motif ekonomi maupun nonekonomi, namun ada pula yang berniat untuk mencari pekerjaan. Bila diperhatikan dari sisi angkatan kerja, pada kelompok umur 25-29 memiliki jumlah angkatan kerja terbesar diantara kelompok umur lainnya, namun jumlah penganggurnya lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok umur 20-24, dimana jumlah angkatan kerja pada kelompok umur tersebut lebih kecil. Fenomena ini diduga sebagian dari angkatan kerja yang sebelumnya berada pada masa tunggu mencari pekerjaan, pada kelompok umur berikutnya telah mendapatkan pekerjaan. Secara agregrat, di Provinsi Papua Barat bila ditinjau menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, terjadi sebuah fenomena mengkhawatirkan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula TPTnya. TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah. Sebaliknya TPT pendidikan SMA ke atas tercatat sebesar 27,76 persen. Kondisi ini memberikan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 97
gambaran bahwa lapangan pekerjaan paling banyak menyerap pekerja berpendidikan rendah. Lapangan pekerjaan masih begitu sulit di keluti oleh para pencari kerja berpendidikan SMA ke atas. Apakah lapangan pekerjaan yang ada sudah tersedia untuk angkatan kerja dengan pendidikan tinggi? Ketika melihat TPT pendidikan SMA ke atas bisa disimpulkan bahwa belum tersedia banyak lapangan pekerjaan bagi mereka yang berpendidikan tinggi.
Tabel 3.32. TPT Menurut Kabupaten/Kota dan Pendidikan Tahun 2009 Pendidikan Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT ≤ SD (2) 6.30 13.16 6.25 5.19 0.37 3.72 4.67 6.34 19.66 5.07 SLTP (3) 13.30 11.60 3.29 16.42 1.64 2.01 5.82 14.59 10.73 7.38 SLTA (4) 28.02 15.74 12.58 14.89 8.72 2.62 8.41 12.45 19.93 15.75 Diploma/ Sarjana (5) 22.80 17.30 7.00 8.05 8.49 13.61 11.83 0.00 10.50 12.01 Total (6) 16.08 9.91 5.22 8.91 2.08 3.45 4.97 5.38 15.45 7.56

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Dengan mencermati lebih dalam, dari masing-masing kabupaten/kota kota terdapat kecenderungan yang sama yaitu TPT Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 98
yang pendidikan tertinggi (SLTA atau lebih) besarannya lebih tinggi dibandingkan TPT pendidikan rendah (SD ke bawah). Bisa dikatakan bahwa angkatan kerja berpendidikan rendah lebih mudah terserap oleh lapangan pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang terdidik. Jika ingin membandingkan antar kabupaten maka kita bisa mengatakan bahwa pada tahun 2009, Fakfak merupakan daerah yang TPT terdidiknya yang paling tinggi. Kemudian disusul oleh Kota Sorong, Kaimana dan Teluk Bintuni. Tingginya TPT total Fakfak dan Kota Sorong ternyata disumbang oleh besarnya TPT terdidik (SMA ke atas). Keadaan yang cukup menarik perhatian adalah kondisi TPT Manokwari. Manokwari merupakan daerah dengan TPT terendah se Papua Barat. Rendahnya TPT hampir di semua tingkat pendidikan, baik TPT pendidikan rendah maupun pendidikan tinggi. Di sini tercatat keduanya memiliki nilai yang rendah terutama yang berpendidikan SD ke bawah. Ini bisa diartikan bahwa pada tahun 2009 di Manokwari penyerapan angkatan kerja dalam lapangan kerja jauh lebih baik dibandingkan kabupaten/kota lain tanpa memperhatikan sektor dominannya. Fenomena lainnya adalah kondisi TPT Kota Sorong. Sebagai satu-satunya kota di Papua Barat yang merupakan pusat bisnis, industri, tujuan migrasi, menjadikan TPT di daerah ini termasuk yang tinggi di Papua Barat. Sesuai dengan ciri-ciri yang dimilikinya seperti keberadaan fasilitas publik dan sosial yang lebih lengkap, tersedianya lapangan pekerjaan yang lebih banyak, perekonomian yang lebih maju, menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk untuk Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 99
bermigrasi ke Kota Sorong. Semakin banyak penduduk luar yang bermigrasi masuk semakin banyak pula stock jumlah angkatan kerja. Persaingan semakin ketat memperebutkan kursi-kursi pekerjaan. Ditilik dari sisi pengalaman bekerja sebelumnya dari karakteristik penganggur, pada kelompok umur 15-29 tahun sebanyak 90,34 persen pengangguran belum pernah mempunyai pengalaman untuk bekerja sebelumnya. Jumlah ini setara dengan 71,86 persen dari seluruh pengangguran, dan berada pada interval kelompok umur 15-29 tahun. Bila dikaitkan antara tingginya persentase pengangguran terdidik dengan tingginya persentase penduduk yang belum mempunyai pengalaman untuk bekerja sebelumnya didalam kelompok umur 15-29 tahun, hal ini menggambarkan bahwa pada interval kelompok umur tersebut umumnya seseorang tamat dari pendidikan baik SLTP, SLTA maupun diploma/sarjana. Terdapat kecenderungan bahwa dimasa tersebut sedang menjalani masa tunggu (job search period) sembari mencari pekerjaan setelah lulus dari pendidikan. Tingginya persentase pengangguran tenaga kerja terdidik di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah terdapat pergeseran dari sektor tradisional ke sektor modern yang bersifat remuneratif, sangat terbatas jumlahnya, sehingga tenaga terdidik yang berjumlah besar dan muncul dalam waktu yang bersamaan sering tidak dapat ditampung dalam pasar kerja pada sektor tersebut. Atau kemungkinan lain, yaitu ketidaksiapan lulusan pendidikan untuk bekerja sesuai dengan harapan lapangan kerja, Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 100
sehingga banyak dunia usaha/industri yang harus melatih tenaga kerja tersebut dalam waktu yang relatif lama agar mereka siap kerja, sehingga akan memunculkan perspektif yang menyatakan asumsi bahwa pendidikan formal mampu menyediakan tenaga kerja terampil dan mampu bekerja tidak sepenuhnya benar. Spekulasi lainnya adalah tidak berimbangnya antara laju pertumbuhan penduduk usia kerja dengan laju pertumbuhan tersedianya lapangan pekerjaan. Bila laju pertumbuhan penduduk usia kerja lebih tinggi atau jumlah angkatan kerja lebih besar dari ketersediaan lapangan pekerjaan maka jumlah pengangguran akan terjadi dan semakin lama akan terakumulasi seiring dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun, sehingga akan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dengan berdampak pada tingkat kemiskinan dan kerawanan sosial. Tingginya angka pengangguran terdidik dapat juga disebabkan oleh kurang berkualitasnya lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan yang ada. Sehingga pasar kerja tidak dapat menyerap para pencari kerja tersebut karena tidak memenuhi kualifikasi standar yang ditetapkan oleh perusahaan atau pasar kerja. Atau dapat juga terjadi lulusan yang dihasilkan sudah jenuh atau melimpah pada jurusan pendidikan tertentu. Misalnya tidak berimbangnya lulusan dari berbagai macam jurusan, seperti terlalu banyak lulusan yang berasal dari jurusan ekonomi membuat persaingan pada jurusan ini menjadi ketat, padahal lapangan pekerjaan yang dibutuhkan pasar untuk jurusan tersebut juga terbatas. Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 101
Kemungkinan terakhir yang paling berbahaya terhadap sustainable development adalah sinkronisasi kebijakan dari pusat hingga ke daerah (terutama pada otonomi, di mana otoritas kebijakan ada di level kabupaten/kota) dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan, terutama penurunan jumlah pengangguran pada batas yang wajar. Salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan terakumulasinya pengangguran adalah menciptakan lapangan kerja yang padat karya. Namun, kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan pekerjaan ini karena preferensi mereka terhadap pekerjaan kantoran lebih tinggi. Preferensi yang lebih tinggi didasarkan pada perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan selama menempuh pendidikan dan mengharapkan tingkat pengembalian (rate of return) yang sebanding. Pilihan status pekerjaan utama para lulusan perguruan tinggi adalah sebagai karyawan atau pegawai, dalam artian bekerja pada orang lain atau instansi atau perusahaan secara tetap dengan menerima upah atau gaji rutin. 4.2 Setengah Pengangguran Selain dihadapkan pada masalah pengangguran, Provinsi Papua Barat juga dihadapkan pada masalah setengah pengangguran, yaitu penduduk yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu, namun tidak termasuk yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja (jam kerja nol). Sementara tidak bekerja memang masuk kedalam kategori angkatan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 102
kerja dan masih dikategorikan sebagai bekerja, tetapi walaupun jam kerjanya selama seminggu yang lalu adalah nol jam, mereka tidak termasuk sebagai setengah pengangguran. Sebagian dari setengah pengangguran adalah yang terpaksa bekerja walaupun jabatannya lebih rendah dari tingkat pendidikannya, upah yang diterima rendah, yang mengakibatkan produktivitasnya pun menjadi rendah. Semakin tinggi tingkat setengah pengangguran maka semakin rendah tingkat utilisasi pekerja dan produktivitasnya. Akibatnya, pendapatan pekerja pun rendah dan tidak ada jaminan sosial atas pekerja. Hal ini sering terjadi di sektor informal yang rentan terhadap kelangsungan pekerja, pendapatan dan tidak tersedianya jaminan sosial. Sehingga pemerintah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan kemampuan bekerja mereka seperti penambahan balai latihan kerja. Ada sebuah kecenderungan mengapa seseorang masuk sebagai setengah pengangguran, sebabnya adalah tingkat kesempatan kerja yang semakin lama semakin kecil membuat para pekerja menerima untuk bekerja atau melakukan pekerjaan walaupun berada dibawah jam kerja normal dari pada menganggur dan tidak mempunyai penghasilan, lebih baik pekerjaan tersebut mereka lakukan. Setengah pengangguran termasuk didalamnya pekerja paruh waktu (part time).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 103

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.5. Persentase Setengah Pengangguran Provinsi Papua Barat Tahun 2006-2009 Di Provinsi Papua Barat jumlah setengah pengangguran mencapai 121.256 orang pada kondisi Agustus 2006 atau sekitar 43,20 persen dari total penduduk yang bekerja, walaupun angka ini turun secara jumlah menjadi 82.508 orang di periode Agustus 2007, tetapi pada Agustus 2007 persentase setengah penganggur terhadap penduduk yang bekerja lebih rendah dari keadaan Agustus 2006, yaitu sebesar 30,77 persen. Kondisi ini meningkat lagi pada Agustus 2008 menjadi 33,28 persen dan kemudian menurun kembali pada Agustus 2009 menjadi 29,18 persen.(gambar 3.5.)

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 104

Tabel 3.33. Persentase Setengah Pengangguran terhadap Total Pekerja Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Jenis Kelamin Laki-laki (2) 35.73 36.19 41.09 25.36 19.06 38.31 17.89 34.22 10.82 23.35 Perempuan (3) 52.96 51.94 49.83 47.60 37.26 61.44 32.72 67.40 20.88 40.21 Total (4) 39.71 40.07 43.57 31.43 27.04 48.34 22.39 42.87 14.01 29.18

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Tanpa memperhatikan jenis kelaminnya, secara total di tiap kabupaten/kota persentase setengah pengangguran nilainya bervariasi. Kota Sorong memiliki persentase setengah pengangguran terkecil di Papua Barat yaitu 14,01 persen. Dan daerah dengan persentase tertinggi berada di Sorong Selatan. Dari sisi gender terungkap bahwa di Provinsi Papua Barat persentase setengah pengangguran perempuan lebih tinggi dibandingkan setengah pengangguran laki-laki, dan ini berlaku untuk Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 105
semua kabupaten/kota. Hampir secara umum persentase setengah pengangguran perempuan bernilai separuh lebih total pekerja perempuan kecuali Manokwari, Sorong dan Kota Sorong. Persentase tertinggi setengah pengangguran perempuan adalah Raja Ampat. Sedangkan yang terendah adalah Kota Sorong. Dominasi perempuan setengah penganggur kemungkinan karena pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengisi waktu luang sambil mengurus rumah tangga, disamping untuk menambah penghasilan rumah tangga. Menurut konsep dari BPS, setengah pengangguran terdiri dari setengah pengangguran terpaksa dan setengah pengangguran sukarela. Keduanya sama-sama bekerja dibawah jam kerja normal (35 jam seminggu), namun terdapat sedikit perbedaan diantara keduanya. Pada setengah pengangguran terpaksa walaupun bekerja kurang dari 35 jam seminggu namun masih mencari pekerjaan lain dan masih bersedia menerima pekerjaan, sedangkan pada setengah pengangguran sukarela, walaupun bekerja dibawah 35 jam seminggu tetapi sudah tidak mencari pekerjaan lagi dan tidak bersedia untuk menerima pekerjaan lain (atau biasanya disebut dengan pekerjaan paruh waktu/part time worker).

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 106

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.6. Jumlah Setengah Pengangguran di Provinsi Papua Barat Tahun 2007-2009 Dari waktu ke waktu selama periode tahun 2007-2008 di Provinsi Papua Barat proporsi banyaknya setengah pengangguran terpaksa selalu lebih besar dibandingkan dengan setengah pengangguran sukarela. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 3.6. . Pada periode Agustus 2007 dan Agustus 2008 jumlah antara setengah pengangguran terpaksa dan setengah pengangguran sukarela menunjukkan peningkatan. Namun pada periode Agustus 2008 dan Agustus 2009 kecenderungan tersebut sudah mulai tidak kelihatan. Jumlah setengah penangangguran terpaksa menurun dan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 107
jumlahnya juga terpaut relatif jauh dengan setengah penganggur sukarela yang masih relatif tinggi. Menurunnya jumlah setengah penganggur terpaksa pada periode Agustus 2009 kemungkinan disebabkan mereka sudah mulai menerima keadaan bahwa semakin sulitnya untuk mencari pekerjaan memaksa untuk tidak lagi mencari pekerjaan lain. Disamping itu, latar belakang pendidikan setengah pengangguran yang rata-rata berpendidikan rendah membuat mereka menyadari bahwa kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki sudah cocok dengan pekerjaan yang sedang dijalani. Kondisi setengah pengangguran pada periode Agustus 2009 memang menurun dari periode sebelumnya pada Agustus 2008. Tetapi dengan persentase setengah pengangguran mencapai 29,18 persen dapat dikatakan bahwa angka ini masih relatif besar karena berkaitan dengan produktivitas tenaga kerja di Provinsi Papua Barat. Secara global, proporsi antara setengah penganggur terpaksa dan setengah penganggur sukarela di Provinsi Papua Barat adalah hampir sebanding. Masing-masing tercatat sebesar 50,71 persen dan 49,29 persen. Pola setengah pengangguran kabupaten/kota bervariasi dan terbagi dalam 2 kelompok, yaitu yang proporsi setengah pengangguran terpaksa melebihi yang sukarela terdiri dari kabupaten Sorong Selatan, Teluk Bintuni, Manokwari, Sorong. Dan Kota Sorong. Sebaliknya daerah yang proporsi setengah pengangguran terpaksa lebih rendah dibanding yang terpaksa adalah Fakfak, Raja Ampat, Teluk Wondama, Kaimana,

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 108
Tabel 3.34. Setengah Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota dan Kriteria Setengah Penganggur Tahun 2009 Kabupaten/Kota (1) Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong PAPUA BARAT Penganggur Terpaksa (2) 15.43 46.84 41.48 62.71 57.78 66.48 61.18 38.77 50.94 50.71 Penganggur Sukarela (3) 84.57 53.16 58.52 37.29 42.22 33.52 38.82 61.23 49.06 49.29 Total (4) 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat Diantara kabupaten/kota yang mempunyai proporsi

setengah penganggur sukarela tertinggi adalah Fakfak, sebesar 84,57 persen. Sementara proporsi setengah penganggur sukarela yang terkecil berada di Kabupaten Sorong Selatan, yaitu sebesar 33,52 persen. Rendahnya angka setengah pengangguran sukarela di kabupaten tersebut menandakan bahwa penduduk yang bekerja tetapi masih berstatus sebagai setengah penganggur belum sepenuhnya puas dengan pekerjaan yang sekarang dijalani, sehingga

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 109
masih berkeinginan untuk merubah keadaan dengan mau mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain. Setengah pengangguran pada lapangan pekerjaan utama ditinjau dari sisi sektor primer, sekunder dan tersier menunjukkan kondisi pada sektor-sektor tersebut masih didominasi oleh setengah pengangguran sukarela. Dominasi pada sektor primer paling besar diantara sukarela.
Tabel 3.35. Persentase Setengah Pengangguran Terpaksa dan Sukarela menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun2009 Lapangan Pekerjaan Utama A M S (2) 74.55 (3) 7.27 (4) 18.18

sektor

lainnya.

Sebanyak

73,70

persen

setengah

pengangguran pada sektor services adalah setengah penganggur

Kabupaten/Kota (1) Setengah Pengangguran Terpaksa

Total (5) 100

Setengah Pengangguran Sukarela PAPUA BARAT Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

75.99 75.36

1.97 4.28

22.05 20.36

100 100

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 110

Untuk sektor sekunder dan tersier, meskipun sebagian besar setengah penganggur tergolong setengah penganggur sukarela, namun besarnya persentase tidak terpaut jauh, sehingga masih dapat dikatakan agak berimbang proporsinya. Besarnya persentase setengah pengangguran sukarela pada sektor primer dan sekunder masing-masing adalah 1,97 persen dan 22,05 persen. Melihat kondisi dan pola yang seragam dari besarnya persentase setengah pengangguran yang mayoritas berada pada setengah penganggur sukarela, berarti bahwa tidak ada perbedaan preferensi pada sektor pekerjaan utama tertentu.

4.3

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan

indikator untuk melihat perbandingan jumlah angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja. Secara umum, apabila tingginya TPAK disebabkan oleh tingginya penduduk yang bekerja, maka TPAK tersebut menunjukkan kinerja partisipasi angkatan kerja yang baik. Namun bila tingginya diiringi dengan rendahnya tingkat kesempatan kerja (persentase penduduk yang bekerja), hal ini cukup mengkhawatirkan, karena berarti penduduk yang mencari pekerjaan meningkat yang selanjutnya dapat memicu tingginya angka pengangguran.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 111

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.7. TPAK Provinsi Papua Barat menurut Jenis Kelamin Tahun 2007-2009 TPAK di Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan sejak Agustus 2007 hingga Agustus 2009. TPAK bertambah dari 66,52 persen menjadi 68,52 persen. Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan partisipasi tenagakerja dalam pasar kerja. Keterlibatan tenaga kerja secara aktif dalam perekonomian semakin membesar. Jumlah penduduk usia kerja (tenaga kerja) yang semakin meningkat akan membawa beberapa konsekuensi dalam ketenagakerjaan. Sebagian penduduk usia kerja akan masuk dalam angkatan kerja dan sebagian lainnya masuk dalam kategori bukan angkatan kerja. Penduduk usia kerja yang masuk ke dalam kelompok angkatan kerja bila tidak terserap pada pasar kerja maka menjadi pengangguran. Padahal kemampuan pasar kerja dalam menyediakan lapangan pekerjaan sangat terbatas. Bila semakin banyak angkatan kerja yang Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 112
tidak terserap pasar kerja, jumlah penganggur terbuka otomatis juga akan semakin bertambah. Jika pasar kerja bisa menyerap semua angkatan kerja dalam lapangan kerja, peningkatan TPAK yang terjadi di Papua Barat ini akan memberikan nilai positif bagi perekonomian dan pembangunan di wilayah ini. Pada keadaan Agustus 2009 besarnya angka TPAK Provinsi Papua Barat sekitar 68,52 persen, artinya dari total jumlah penduduk yang termasuk usia kerja atau tenaga kerja, sebesar 68,52 persen masuk sebagai angkatan kerja yang terlibat aktif dalam kegiatan perekonomian. Jadi hanya sekitar sepertiga dari penduduk usia kerja yang bukan angkatan kerja. Bila ingin dilihat menurut jenis kelamin, sangat jelas sekali bahwa partisipasi tenaga kerja laki-laki dalam pasar kerja jauh lebih banyak dibandingkan partisipasi tenaga kerja perempuan. Masih kuatnya norma-norma sosial dan adat yang menempatkan perempuan pada posisinya sebagai pengurus rumahtangga dan anak-anaknya menjadi alasan kuat kecilnya partisipasi mereka dalam pasar kerja. Besarnya angka TPAK tahun 2009 dirinci menurut kabupaten/kota diterangkan dalam gambar. 3.8 . Angka TPAK tertinggi berada di Kabupaten Manokwari yaitu sebesar 79,26 persen dan TPAK terendah berada di Fakfak yakni sekitar 55,78 persen. Rendahnya TPAK Fakfak terutama disebabkan oleh terlalu rendahnya TPAK perempuan di Fakfak.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 113

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.8. TPAK menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009 Bila dilihat secara gender, besarnya angka TPAK laki-laki dibandingkan dengan TPAK perempuan sangat besar gap-nya (gambar 3.9. ). TPAK laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih besar dari pada TPAK perempuan. Besarnya perbedaan yang paling nyata berada di Kabupaten Kaimana. Selisih angka TPAK dikabupaten tersebut paling besar diantara daerah lainnya, gap-nya mencapai 56,32 persen (dengan rincian TPAK laki-laki sebesar 91,82 persen dan TPAK perempuan sebesar 35,49 persen). Daerah dengan gap terkecil adalah Manokwari dan Sorong Selatan, masing-masing sebesar 12,29 persen dan 17,64 persen. Peran serta tenaga kerja

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 114
perempuan di daerah ini dalam pasar kerja hampir mendekati partisipasi tenaga kerja laki-laki.

Sumber: Sakernas 2007, Papua Barat

Gambar 3.9. TPAK menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2009

4.4

TKK Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) adalah perbandingan antara

jumlah penduduk yang bekerja dengan jumlah penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja. indikator ini mengindikasikan

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 115
besarnya penduduk usia kerja yang bekerja atau sementara tidak bekerja di suatu wilayah. TKK mencerminkan daya serap tenaga kerja pada suatu angkatan kerja. Artinya seberapa banyak angkatan kerja yang terserap masuk dalam lapangan kerja. Sementara angkatan kerja yang tidak terserap oleh lapangan pekerjaan tergolong sebagai pengangguran terbuka. Perbandingan antara banyaknya pengangguran terbuka terhadap angkatan kerja disebut Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Besarnya daya serap angkatan kerja yang masuk dalam lapangan kerja berbanding terbalik dengan besarnya pengangguran terbuka. Semakin tinggi daya serap angkatan kerja maka proporsi pengangguran terbuka semakin kecil nilainya dan sebaliknya. Pada gambar 3.10 , dapat diperoleh informasi bahwa tingkat kesempatan kerja di Provinsi Papua Barat adalah sebesar 92,44 persen (tanda garis kuning). Sementara 7,56 persen sisanya merupakan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Bila dibedakan menurut wilayah administrasi, Kabupaten Manokwari tercatat memiliki angka tingkat kesempatan kerja yang paling tinggi, yakni sebesar 97,92 persen. Hal ini berarti bahwa dari total angkatan kerja didaerah tersebut, sebesar 97,92 persen terserap menjadi pekerja. Atau dengan kata lain dari 100 orang angkatan kerja, sebanyak 96 orang diantaranya terserap menjadi pekerja. Sehingga secara otomatis kabupaten tersebut mempunyai angka tingkat pengangguran terbuka yang paling kecil.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 116
Daerah yang memiliki TPT di bawah 6-7 persen dikatakan daerah yang penganggurannya normal dan bisa disebut daerah fullemployment. Pada tahun 2009, daerah yang nilai TPTnya di bawah 6-7 persen adalah berturut-turut Manokwari, Sorong Selatan, Sorong, Teluk Wondama, dan Raja Ampat. Ke lima kabupaten ini tingkat penganggurannya dianggap normal, dan bisa disebut fullemployement. Dengan klasifikasi ini maka Papua Barat pada tahun 2009 tingkat penganggurannya belum normal, dan provinsi ini belum bisa disebut fullemployement.

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.10. Tingkat Kesempatan Kerja menurut Kabupaten/Kota Tahun 2009

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 117
Di lain pihak, Fakfak dan Kota Sorong merupakan daerah yang memiliki tingkat kesempatan kerja yang paling rendah diantara kabupaten lainnya. TKK Fakfak hanya mencapai angka sebesar 83,92 persen atau banyaknya angkatan kerja yang dapat terserap menjadi pekerja hanya sebesar 83,92 persen saja. Sedangkan TKK Kota Sorong hanya mencapai 84,55 persen. Dapat dibayangkan, berarti tingkat pengangguran Fakfak dan Kota Sorong termasuk tinggi, yaitu mencapai 16,08 persen dan 15,45 persen. 4.5 Laju Pertumbuhan Kesempatan Kerja Laju pertumbuhan kesempatan kerja adalah perbandingan antara selisih jumlah kesempatan kerja dalam dua periode waktu terhadap jumlah kesempatan kerja pada periode waktu awal. Indikator ini untuk menyajikan laju pertumbuhan penduduk yang bekerja. Laju pertumbuhan kesempatan kerja di Papua Barat mengalami peningkatan sangat signifikan pada periode Agustus (2007-2008) dibandingkan (2006-2007), yaitu dari pertumbuhan sebesar -4,48 persen menjadi 17,93 persen. Tanda negatif pada pertumbuhan TKK periode 2006-2007 berarti pada Agustus 2007 nilainya lebih kecil dibandingkan Agustus 2006. Sebaliknya pada periode Agustus 2008 nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan Agustus 2007 yaitu meningkat 17,93 persen. Pada periode 2007-2008 terjadi penyerapan besar-besaran tenaga kerja pada lapangan kerja. Namun ketika memasuki periode Agustus (2008-

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 118
2009) terjadi penurunan laju pertumbuhan kesempatan kerja, meskipun penyerapan 2009 lebih besar dibandingkan 2008.

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Gambar 3.11. Laju Pertumbuhan TKK dan Laju Pertumbuhan Angkatan Kerja 2006-2009

Akan lebih menarik bila membandingkan laju pertumbuhan kesempatan kerja dengan laju pertumbuhan angkatan kerja. Seperti ditampilkan pada gambar 3.11 , laju pertumbuhan TKK dan laju pertumbuhan angkatan kerja menunjukkan gejala pola yang sama dalam periode yang sama. Namun yang perlu diperhatikan adalah selama garis pada laju pertumbuhan TKK dalam gambar masih berada diatas garis laju pertumbuhan angkatan kerja, maka tingkat Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 119
pengangguran terbuka akan mengalami penurunan. Semakin lebar gap pada kedua garis laju pertumbuhan diatas maka akan semakin besar kenaikan atau penurunan tingkat pengangguran terbuka. Seperti yang diterangkan pada gambar diatas, pada periode Agustus (2006-2007) garis laju pertumbuhan TKK berada diatas garis laju pertumbuhan angkatan kerja, konsekuensinya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan pada periode tersebut (10,17 persen menjadi 9,46 persen). Bahkan pada periode selanjutnya, Agustus (2007-2008) semakin lebih baik, pada periode ini garis laju pertumbuhan TKK berada jauh di atas garis laju pertumbuhan angkatan kerja, sebagai akibatnya angka TPT mengalami penurunan lebih nyata dari 9,46 persen menjadi 7,65 persen. Karena gap pada periode ini lebih besar maka perubahan nilai TPT-nya menjadi sangat berarti. Selanjutnya pada periode Agustus (2008-2009) kembali garis laju pertumbuhan TKK berada diatas (nilainya lebih besar) garis laju pertumbuhan angkatan kerja, maka pada periode ini angka TPT kembali mengalami penurunan, yaitu dari 7,65 persen manjadi 7,56 persen. Penurunan yang cukup sedikit, dan dapat terlihat dari pendeknya gap pada gambar 3.11. 4.6 Elastisitas Kesempatan Kerja Perlu diketahui bahwa tidak selamanya kenaikan output suatu sektor ekonomi selalu diikuti dengan kenaikan kesempatan kerja pada sektor yang bersangkutan. Hal ini dapat disebabkan perkembangan teknologi yang ditandai dengan terciptanya alat-alat Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 120
industri yang lebih efisien dan efektif sehingga mampu menghasilkan output yang lebih banyak dibandingkan dengan tenaga manusia, atau dengan kata lain sektor tersebut lebih terfokus pada usaha yang padat modal bukan padat karya. Namun apakah sektor yang ada sekarang pro terhadap tenaga kerja yang tersedia? Artinya penyerapan lapangan pekerjaan masih rendah atau sudah tinggi. Harus dilihat juga siapa penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar yaitu sektor pertanian, industri atau service. Jika perekonomian disumbang oleh sektor –sektor modern yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja, maka kesempatan kerja tidak akan terbuka lebar. Mau setinggi apapun pertumbuhan ekonomi maka pengangguran akan tetap tinggi. Besarnya pengaruh dari pergeseran peran sektor ekonomi terhadap kesempatan kerja dapat diukur dengan tingkat elastisitas. Tingkat elastisitas kesempatan kerja dapat dihitung dengan cara membandingkan antara laju pertumbuhan kesempatan kerja dengan laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan hasil perhitungan PDRB Provinsi Papua Barat, pertumbuhan PDRB dari tahun 2008-2009 adalah sebesar 6,26 persen. Sementara pertumbuhan kesempatan kerja pada periode yang sama adalah sekitar 3,03 persen. Sehingga tingkat elastisitas kesempatan kerja di Provinsi Papua Barat tahun 2009 adalah 0,48 persen, artinya setiap kenaikan PDRB sebanyak satu persen akan menciptakan kesempatan kerja sebanyak 0,48 persen artinya setiap kenaikan PDRB sebanyak 1 persen mampu menyerap sekitar 1.528 pekerja. Jika diasumsikan elastisitas kesempatan kerja tahun depan Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 121
sama, dengan jumlah pengangguran sebanyak 26.626 jiwa pada tahun 2009 maka untuk bisa menyerap pengangguran pada tahun 2009 ini dibutuhkan pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sekitar 17 persen. Suatu hal mustahil yang tidak mungkin dicapai jika rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun berkisar 6-7 persen. Pengangguran akan selalu muncul karena secara alami tidak mungkin ada suatu bangsa yang fullemployement. Mengapa demikian? Pertama, penduduk terus bertambah sehingga otomatis melahirkan para pencari kerja baru yaitu mereka yang telah menuntaskan pendidikan dan memutuskan tidak melanjutkan sekolah dengan alasan ingin berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi yaitu mencari kerja. Kedua, tingkat UMP(Upah Minimum Provinsi) yang bervariasi yang mempengaruhi keputusan tenaga kerja untuk terlibat dalam lapangan pekerjaan atau tidak. Tingkat upah yang rendah akan menjadi alasan kuat bagi tenaga kerja untuk tetap mencari kerja hingga mendapatkan upah yang sesuai. Ini berlaku terutama bagi tenaga kerja berpendidikan. Dengan demikian, kebijakan yang paling nyata bagi pemerintah adalah bagaimana menciptakan lapangan-lapangan kerja yang berkualitas yang mampu memberikan upah/penghasilan yang lebih baik sehingga bisa meningkatkan pendapatan perkapita penduduk yang secara otomatis akan mampu meningkatkan daya beli penduduk. Ketika pendapatan perkapita semakin tinggi maka konsumsi perkapita penduduk juga akan semakin meningkat. Pada

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 122
akhirnya semakin banyak penduduk yang jauh dari garis kemiskinan dan semakin sedikit penduduk yang jatuh di jurang kemiskinan.
Tabel 3.36. Elastisitas Kesempatan Kerja Prov. Papua Barat Tahun 2008-2009 Lapangan Pekerjaan (1) Agriculture Manufacture Services Papua Barat Laju Pertumbuhan PDRB (%) (2) 3.36 6.68 8.39 6.26 Rata-rata Laju Pertumbuhan TKK (%) (3) -0.82 10.42 7.82 3.03 Elastisitas Kesempatan Kerja (4) -0.24 1.56 0.93 0.48

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Pada sektor pertanian (agriculture) yang terdiri dari subsektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan mencatat nilai elastisitas yang negatif, yaitu sebesar -0,24 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian inelastis, karena pertumbuhan nilai tambah (PDRB) justru akan mengurangi tingkat kesempatan kerja sebesar 0,24 persen. Sementara itu, sektor manufacture mencatat sebagai sektor yang paling tinggi nilai elastisitasnya. Sektor manufacture yang terdiri dari sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik/gas/air, dan bangunan/konstruksi. Sektor ini mencatat elastisitas yang positif, yaitu sebesar 1,56 persen. Berarti untuk setiap kenaikan nilai tambah PDRB sebanyak satu persen dari Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 123
gabungan empat lapangan pekerjaan utama tadi maka akan menambah kesempatan kerja sebanyak 1,56 persen. Disektor services, yang terdiri dari sektor perdagangan besar/eceran, rumah makan dan hotel; angkutan, pergudangan dan komunikasi; keuangan, asuransi, usaha persewaan, jasa perusahaan; dan jasa kemasyarakatan, dimana pertumbuhan PDRB-nya yang paling tinggi diantara sektor lainnya (10,70 persen), mencatat adanya inelastisitas kesempatan kerja sebesar 0,93 persen. Jadi setiap kenaikan satu persen PDRB dari sektor services akan menciptakan kesempatan kerja sebanyak 0,93 persen.

4.7

Produktivitas Pekerja Tenaga kerja merupakan modal dasar bagi perkembangan

dan pertumbuhan ekonomi, asalkan tenaga kerja tersebut sebagai sumber daya ekonomi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Peningkatan produksi dan produktivitas kerja sangat ditentukan oleh kemampuan pekerja, baik di tingkat bawah maupun di level pimpinan yang mampu menjadi penggerak tenaga kerja yang ada dibawahnya untuk bekerja secara produktif. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan produktivitas seseorang diantaranya melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman, ketrampilan dan lain-lain. Salah satu cara untuk mengukur produktivitas pekerja adalah membuat rasio antara PDRB dengan jumlah penduduk yang bekerja. Produktivitas pekerja dapat digolongkan menurut lapangan pekerjaan utama atau menurut kabupaten/kota. Atau dapat juga Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 124
PDRB dibedakan antara PDRB dengan minyak dan gas (migas) dan PDRB tanpa minyak dan gas (nonmigas). Satuan dari produktivitas pekerja disini adalah juta rupiah per pekerja per tahun. Produktivitas secara umum di Provinsi Papua Barat dengan migas lebih besar dari pada produktivitas pekerja tanpa minyak dan gas (nonmigas) dengan selisih 13,3 juta rupiah pada tahun 2009. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai output yang dihasilkan pekerja pada sektor migas lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas.
Tabel 3.37. Produktivitas Pekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2009 (Juta rupiah per pekerja per tahun) Lapangan Pekerjaan (1) Agriculture Manufacture Services Papua Barat PDRB (Juta Rupiah) (2) 3,567,520.90 2,638,746.73 4,004,614.97 10,210,882.60 Penduduk Bekerja (3) 184,368 38,365 103,026 325,759 Produktivitas Pekerja (4) 19.35 68.78 38.87 31.34

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Provinsi Papua Barat yang sebagian besar tenaga kerja bergerak disektor pertanian ternyata mencatat produktivitas yang paling rendah diantara sektor lainnya. Produktivitas pada sektor ini hanya mencapai 19,35 juta rupiah. Hal ini sebagai bukti pada pembahasan sebelumnya bahwa sektor partanian yang menjadi penyumbang Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 125
terbesar tenaga kerja di Papua Barat (56,60 persen), serta sebagai penyumbang terbesar penduduk yang bekerja disektor informal dan setengah pengangguran mempunyai produktivitas pekerja yang paling rendah diantara lapangan pekerjaan utama lainnya. Pada sektor manufacture, produktivitas pekerjanya tercatat sebagai yang paling tinggi yaitu sebesar 68,78 juta rupiah, artinya setiap pekerja menghasilkan produktivitas sebesar 68,78 juta rupiah dalam setahun. Secara jumlah tenaga kerja, sektor ini mempunyai tenaga kerja yang paling kecil, namun output PDRB-nya merupakan yang paling besar diantara sektor lainnya, sehingga produktivitas yang dihasilkan juga paling tinggi. Sedangkan pada sektor services dengan jumlah pekerja sekitar 103.026 orang mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari pada sektor pertanian, yaitu sebesar 38,87 juta rupiah per pekerja.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 126

BAB IV KESIMPULAN

Struktur Penduduk Provinsi Papua Barat termasuk dalam kategori penduduk muda. Jumlah penduduk usia kerja terbanyak berada pada kelompok umur 20-24 tahun.

Beban tanggungan penduduk usia produktif (dependency ratio) terhadap penduduk yang belum produktif (0-14 tahun) dan penduduk yang tidak lagi produktif (65+ tahun) adalah sebesar 48,39 persen. artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 48

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 127
orang yang belum produktif dan atau tidak produktif lagi. Dari sudut ekonomi kondisi ini sangat menguntungkan karena setiap 1 orang penduduk tidak produktif ditanggung oleh 2 orang yang produktif. Ditambah lagi ketergantungan penduduk muda (youth DR) lambat laun menurun yang artinya pengeluaran tinggi untuk menghidupi penduduk usia muda semakin berkurang. Konsumsi kelompok ini merupakan yang paling tinggi.  Angkatan kerja di Provinsi Papua Barat adalah sebanyak 352.385 orang dengan komposisi 229.006 orang berjenis kelamin laki-laki dan 123.379 orang berjenis kelamin perempuan. Artinya bahwa angkatan kerja di Papua Barat pada tahun 2009 sebagian besarnya adalah laki-laki. Perbandingan angkatan kerja laki-laki terhadap angkatan kerja perempuan hampir 6:4.  Konsep bekerja yang digunakan oleh BPS menggunakan rujukan dari ILO dengan memakai pendekatan the one hour criterion atau konsep bekerja paling sedikit satu jam yang lalu dalam periode survei. Persentase penduduk yang bekerja didalam angkatan kerja sebesar 92,44 persen.  Sebagian besar penduduk usia kerja Papua Barat bekerja disektor pertanian, dengan persentase sebesar 56,60 persen. Meskipun dominasi sektor pertanian masih begitu kuat, namun sektor pertanian sebagai sektor primer menunjukkan tren yang terus menurun dilihat dari segi jumlah tenaga kerja. Di sisi lain, sektor industri (sektor sekunder) dan sektor jasa-jasa (sektor

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 128
tersier) terus menanjak naik dengan perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini menggambarkan bahwa sedang terjadi transisi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.  Menurut jenis pekerjaan utama, sebagian besar penduduk yang bekerja mempunyai jenis pekerjaan sebagai tenaga usaha tani, kebun, ternak, ikan, hutan dan perburuan, yaitu sebesar 55,57 persen. Hal ini berkaitan erat dengan mayoritas penduduk yang bekerja disektor pertanian.  Secara global, tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Papua Barat masih tergolong rendah, separuh lebih pekerja berpendidikan SD ke bawah. Jika dilihat dari pendidikan dasar 9 tahun, tercatat 67,73 persen pekerja berpendidikan SLTP ke bawah. Pekerja terdidik (SLTA keatas) hanya 32,27 persen.  Provinsi Papua Barat sebagian besar bekerja diatas jam kerja normal (35 jam seminggu), tepatnya sebanyak 68,50 persen memiliki jam kerja diatas 35 jam seminggu. Dapat dikatakan bahwa produktivitas penduduk yang bekerja di Papua Barat sudah baik dari segi penggunaan jam kerja. Namun masih terdapat 29,18 persen yang bekerja di bawah jam kerja normal. Sebanyak itu merupakan setengah pengangguran Papua Barat tahun 2009.  Ternyata proporsi sektor informal sangat dominan, sekitar 58,38 persen pekerja bekerja di sektor informal. Sedangkan sisanya hanya 41,62 persen yang bekerja di sektor formal. Pekerja disektor informal pada umumnya memiliki tingkat

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 129
pendidikan yang lebih rendah dari pada tenaga kerja di sektor formal. Kondisi tingkat pendidikan tenaga kerja disektor informal Provinsi Papua Barat juga menunjukkan gejala yang demikian. Sebesar 66,69 persen dari penduduk yang bekerja disektor informal mempunyai pendidikan rendah atau SD kebawah  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Papua Barat memiliki tren yang cenderung semakin menurun. Di Provinsi Papua Barat nilai TPT mangalami penurunan dari kondisi Agustus 2006 ke kondisi Agustus 2009 sebanyak 2,61 poin dari 10,17 persen menjadi 7,56 persen. Penurunan cukup tajam berlangsung sepanjang 2006 hingga 2008, namun ketika menuju 2009 penurunannya melambat.  TPT yang tinggi tersebut kontribusi terbesarnya disumbang dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan. Selain dari kedua daerah tersebut, Kabupaten Kaimana, Teluk Bintuni dan Raja Ampat pengangguran perempuan juga memberikan share yang cukup besar terhadap angka TPT diwilayah tersebut. TPT perempuan tertinggi adalah TPT perempuan kabupaten Fakfak senilai 26,52 persen yang menunjukkan bahwa di wilayah ini hampir  sepertiga angkatan kerja perempuan adalah pengangguran. Secara agregrat, di Provinsi Papua Barat bila ditinjau menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, terjadi sebuah fenomena mengkhawatirkan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula TPTnya. TPT terendah terdapat

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 130
pada tingkat pendidikan SD ke bawah. Sebaliknya TPT

pendidikan SMA ke atas tercatat sebesar 27,76 persen. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa lapangan pekerjaan paling banyak menyerap pekerja berpendidikan rendah. berpendidikan SMA ke atas.  Di Provinsi Papua Barat jumlah setengah pengangguran mencapai 121.256 orang pada kondisi Agustus 2006 atau sekitar 43,20 persen dari total penduduk yang bekerja, walaupun angka ini turun secara jumlah menjadi 82.508 orang di periode Agustus 2007, tetapi pada Agustus 2007 persentase setengah penganggur terhadap penduduk yang bekerja lebih rendah dari keadaan Agustus 2006, yaitu sebesar 30,77 persen. Kondisi ini meningkat lagi pada Agustus 2008 menjadi 33,28 persen dan kemudian menurun kembali pada Agustus 2009 menjadi 29,18 persen.  TPAK di Provinsi Papua Barat mengalami peningkatan sejak Agustus 2007 hingga Agustus 2009. TPAK bertambah dari 66,52 persen menjadi 68,52 persen. Ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan partisipasi tenagakerja dalam pasar kerja. Keterlibatan tenaga kerja secara aktif dalam perekonomian semakin membesar.  Tingkat kesempatan kerja di Provinsi Papua Barat adalah sebesar 92,44 persen (tanda garis kuning). Sementara 7,56 persen sisanya merupakan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Lapangan pekerjaan masih begitu sulit dikeluti oleh para pencari kerja

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 131
 Laju pertumbuhan kesempatan kerja di Papua Barat mengalami peningkatan sangat signifikan pada periode Agustus (20072008) dibandingkan (2006-2007), yaitu dari pertumbuhan sebesar -4,48 persen menjadi 17,93 persen. Tanda negatif pada pertumbuhan TKK periode 2006-2007 berarti pada Agustus 2007 nilainya lebih kecil dibandingkan Agustus 2006. Sebaliknya pada periode Agustus nilainya jauh lebih besar Agustus 2008 dibandingkan dengan meningkat 17,93 persen. Agustus 2007 yaitu Pada periode 2007-2008 terjadi

penyerapan besar-besaran tenaga kerja pada lapangan kerja. Namun ketika memasuki periode Agustus (2008-2009) terjadi penurunan laju pertumbuhan kesempatan kerja, meskipun penyerapan 2009 lebih besar dibandingkan 2008.  Berdasarkan hasil perhitungan PDRB Provinsi Papua Barat, pertumbuhan PDRB dari tahun 2008-2009 adalah sebesar 6,26 persen. Sementara pertumbuhan kesempatan kerja pada periode yang sama adalah sekitar 3,03 persen. Sehingga tingkat elastisitas kesempatan kerja di Provinsi Papua Barat tahun 2009 adalah 0,48 persen, artinya setiap kenaikan output (PDRB) sebanyak satu persen akan menciptakan kesempatan kerja sebanyak 0,48 persen artinya setiap kenaikan PDRB sebanyak 1 persen mampu menyerap sekitar 1.528 pekerja. Jika diasumsikan elastisitas kesempatan kerja tahun depan sama, dengan jumlah pengangguran sebanyak 26.626 jiwa pada tahun 2009 maka untuk bisa menyerap pengangguran pada tahun 2009 ini dibutuhkan pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sekitar

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 132
17 persen. Suatu hal mustahil yang tidak mungkin dicapai jika rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun berkisar 6-7 persen.  Produktivitas secara umum di Provinsi Papua Barat dengan migas lebih besar dari pada produktivitas pekerja tanpa minyak dan gas (nonmigas) dengan selisih 13,3 juta rupiah pada tahun 2009. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai output yang dihasilkan pekerja pada sektor migas lebih tinggi dibandingkan dengan sektor nonmigas  Provinsi Papua Barat yang sebagian besar tenaga kerja bergerak disektor pertanian ternyata mencatat produktivitas yang paling rendah diantara sektor lainnya. Produktivitas pada sektor ini hanya mencapai 19,35 juta rupiah. Hal ini sebagai bukti pada pembahasan sebelumnya bahwa sektor partanian yang menjadi penyumbang terbesar tenaga kerja di Papua Barat (56,60 persen), serta sebagai penyumbang terbesar penduduk yang bekerja disektor informal dan setengah pengangguran mempunyai produktivitas pekerja yang paling rendah diantara lapangan pekerjaan utama lainnya.  Pada sektor manufacture, produktivitas pekerjanya tercatat sebagai yang paling tinggi yaitu sebesar 68,78 juta rupiah, artinya setiap pekerja menghasilkan produktivitas sebesar 68,78 juta rupiah dalam setahun. Secara jumlah tenaga kerja, sektor ini mempunyai tenaga kerja yang paling kecil, namun output PDRB-nya merupakan yang paling besar diantara sektor lainnya, sehingga produktivitas yang dihasilkan juga paling tinggi. Sedangkan pada sektor services dengan jumlah pekerja

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

P a g e | 133
sekitar 103.026 orang mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari pada sektor pertanian, yaitu sebesar 38,87 juta rupiah per pekerja.

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful