P. 1
pemekaran wilyah

pemekaran wilyah

|Views: 6,702|Likes:
Dipublikasikan oleh Gregorius Adi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, ridho dan karunia-Nya, sehingga tugas pembuatan makalah Hukum Pemerintahan Daerah yang berjudul “Fenomena Pemekaran Wilayah di Indonesia” dapat penulis selesaikan, sebagai salah satu tugas matakuliah Hukum Pemerintahan Daerah pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Pemekaran Wilayah merupakan instrumen penting dalam pembangunan Negara Indonesia. Pemekaran daerah di Indonesia adalah pem
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, ridho dan karunia-Nya, sehingga tugas pembuatan makalah Hukum Pemerintahan Daerah yang berjudul “Fenomena Pemekaran Wilayah di Indonesia” dapat penulis selesaikan, sebagai salah satu tugas matakuliah Hukum Pemerintahan Daerah pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Pemekaran Wilayah merupakan instrumen penting dalam pembangunan Negara Indonesia. Pemekaran daerah di Indonesia adalah pem

More info:

Published by: Gregorius Adi on Mar 30, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, ridho dan karunia-Nya, sehingga tugas pembuatan makalah Hukum Pemerintahan Daerah yang berjudul “Fenomena Pemekaran Wilayah di Indonesia” dapat penulis selesaikan, sebagai salah satu tugas matakuliah Hukum Pemerintahan Daerah pada Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Pemekaran Wilayah merupakan instrumen penting dalam pembangunan Negara Indonesia. Pemekaran daerah di Indonesia adalah pembentukan wilayah administratif baru di tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten dari induknya. Seperti yang kita ketahui, pembangunan wilayah di Indonesia pada awalnya tidak merata, cenderung terpusat pada Daerah Ibukota Jakarta dan sangat timpang dengan daerah-daerah selain Jakarta. Oleh karena itu timbulah ide pemekaran wilayah untuk mengatasi masalah tersebut. Ide Pemekaran Wilayah di Indonesia termasuk baru, ide ini muncul sekitar tahun 2001. Namun hal ini menjadi bagian integral dalam perkembangan Negera Indonesia. Pada bab-bab selanjutnya kelompok kami akan membahas mengenai pemekaran wilayah di Indonesia secara lebih lanjut dan lebih lengkap.

1

Daftar isi Kata Pengantar…………………………………………….........................................1 Daftar Isi…………………………………………………………………………….... BAB I Pendahuluan A. Latar belakang masalah…………………………………………………… B. Rumusan Masalah…………………………………………………………. C. Tujuan……………………………………………………………………….. D. Manfaat Penelitian…………………………………………………………. E. Hipotesis…………………………………………………………………….. BAB II Tinjauan Teoritis…………………………………………………………… BAB III Pembahasan 1. Apakah yang dimaksud dengan pemekaran wilayah? …………………………............................ 2. Bagaimana sistem pemerintahan itu sendiri setelah terjadi pemekaran wilayah? ……………………………. 9 9 10 12 3. Apakah dampak positif dan negatif dari pemekaran wilayah? …………………………………………………………………......... 4. Hambatan apa sajakah yang selalu dihadapi dalam Pemekaran wilayah ?…………………….. Daftar Pustaka……………………………………………………………………… BAB IV Kesimpulan………………………………………………………... ……… 11 8 3 4 4 5 5 6 2

2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa sebelum 1998, kekuasaan Pemerintah Pusat negara Republik Indonesia sangat sentralistik dan semua daerah di republik ini menjadi perpanjangan tangan kekuasaan Jakarta (pemerintah pusat). Dengan kata lain, rezim Orde Baru mewujudkan kekuasaan sentripetal, yakni berat sebelah memihak pusat bukan pinggiran (daerah).1 Daerah yang kaya akan sumber daya alam, ditarik keuntungan produksinya dan dibagi-bagi di antara elite Jakarta, alihalih diinvestasikan untuk pembangunan daerah. Akibatnya, pembangunan antara di daerah dengan di Jakarta menjadi timpang. B.J. Habibie yang menggantikan Soeharto sebagai presiden pasca-Orde Baru membuat kebijakan politik baru yang mengubah hubungan kekuasaan pusat dan daerah dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah atau yang biasa disebut desentralisasi. Dengan terbitnya undangundang ini, daerah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Jakarta dan tidak lagi mau didikte oleh pusat. Bahkan, beberapa daerah, seperti Aceh, Riau dan Papua menuntut merdeka dan ingin berpisah dari Republik Indonesia.2 Pada masa awal reformasi, selain adanya keinginan provinsi memisahkan dari republik, juga bermuncukan aspirasi dari berbagai daerah yang menginginkan dilakukannya pemekaran provinsi atau kabupaten. Dalam upaya pembentukan provinsi dan kabupaten baru ini, tarik-menarik antara kelompok yang setuju dan tidak setuju terhadap pemekaran daerah sebagai akibat dari otonomi daerah meningkatkan suhu politik lokal. Indikasi ini tercermin dari munculnya ancaman dari Sebelum ke materi yang paling utama kelompok kami akan membahas terlebih dahulu mengenai sejarah dari pemekaran wilayah di Indonesia, yang dimulai pada era perjuangan kemerdekaan hingga era sekarang. Era perjuangan

3

kemerdekaan

(1945-1949)

Ketika

Indonesia

memproklamasikan

kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memiliki 8 provinsi, yaitu: Sumatra, Borneo (Kalimantan), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Pada masa pergerakan kemerdekaan (1945-1949), Indonesia mengalami perubahan wilayah akibat kembalinya Belanda untuk menguasai Indonesia, dan sejumlah "negara-negara boneka" dibentuk Belanda dalam wilayah negara Indonesia. Era Republik Indonesia Serikat (1949-1950) hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949, Belanda mengakui Indonesia dalam bentuk serikat, dimana terdiri dari 15 negara bagian plus 1 Republik Indonesia. Beberapa bulan kemudian, sejumlah negaranegara bagian menggabungkan diri ke negara bagian Republik Indonesia. Era 1999-sekarang Pada tahun 1999, Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia dan berada di bawah PBB hingga merdeka penuh pada tahun 2002, dan Indonesia kembali memiliki 26 provinsi. Sementara itu, pada era reformasi terdapat tuntutan pemekaran sejumlah provinsi di Indonesia. B. Rumusan Masalah Dalam penyusunan makalah ini kami akan membahas beberapa hal penting yaitu : 1. Apakah yang dimaksud dengan pemekaran wilayah di Indonesia ? 2. Bagaimanakah perangkat hukum di Indonesia mengatur mengenai permasalahan otonomi daerah dan pemekaran wilayah? 3. Dampak apakah yang timbul dari pemberlakuan sistem otonomi daerah? 4. Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya pemekaran wilayah di negara Republik Indonesia? C. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah hukum Pemerintahan Daerah, selain itu dapat pula menambah wawasan tentangSistem pemerintahan daerah serta pengertian dari pemekaran wilayah.. Beranjak dari hal tersebut, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk :

4

1. Mengetahui sejauh mana perkembangan dari pemekaran wilayah di Indonesia berdasarkan sejarah dari pemekaran wilayah di Indonesia. 2. Memperoleh data secara objektif tentang pekeraran wilayah dilihat dari dampak positif dari pemekaran wilayah maupun dampak negatifnya. D. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan makalah ini adalah : 1. Kelompok kami dapat menambah pengetahuan dan pengalaman di bidang pemerintahan daerah serta undang-undang terkait. 2. Dapat memberi informasi tentang sejarah dari pemekaran wilayah di Indonesia ditinjau dari beberapa aspek. 3. Memberi sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam mata kuliah Hukum Pemerintahan Daerah. E. Metode Penulisan : Makalah ini disusun dengan metode studi kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan sumber penulisan dari bahan-bahan pustaka. F. Hipotesis Kelompok kami telah mengambil dugaan semetara yaitu “Pembangunan pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat telah menghasilkan banyak kemajuan seperti yang kita rasakan saat ini”.

5

BAB II Tinjauan Teoritis

Untuk masalah pemekaran wilayah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah dituntut adanya pelaksanaan reformasi birokrasi, baik di lingkungan pemerintahan pusat maupun daerah. Hal ini mengingat aparatur birokrasi sebagai pelaksana kebijakan-kebijakan politik harus mewujudkan kinerjanya yang semakin baik. Pemekaran wilayah pada hakekatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Pemekaran wilayah memiliki nilai strategis dalam mendukung

keberhasilan pembangunan nasional, hal tersebut ditunjukkan oleh : Mempunyai dampak penting bagi kemajuan suatu daerah. Dalam bidang ekonomi jelas berkaitan dengan tingkat kesejahteraan penduduk setempat. a. Merupakan langkah untuk mensinergikan antara kepentingan pusat dan daerah yang secara notabene saling terkait b. Memunculkan jiwa integrasi bangsa.. Gejolak pemekaran wilayah ini harus mendapatkan respon yang positif bagi pemerintah daerah maupun pusat. Pemekaran daerah di Indonesia adalah pembentukan wilayah administratif baru di tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten dari induknya. Landasan hukum terbaru untuk pemekaran daerah di Indonesia adalah UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pelaksanaan otonomi daerah yang dicanangkan sejak Januari 2001 telah membawa perubahan politik di tingkat lokal (daerah). Salah satunya adalah menguatnya peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Jika di masa sebelumnya DPRD hanya sebagai stempel karet dan kedudukannya di bawah legislatif, setelah otonomi

6

daerah, peran legislatif menjadi lebih besar, bahkan dapat memberhentikan kepala daerah. Sebagaimana diamanatkan UU Nomor 32 Tahun 2004, publik seharusnya dilibatkan dalam pembuatan kebijakan. Namun, di beberapa daerah yang sudah mengadopsi sistem otonomi daerah, kenyataan yang terjadi masih jauh dari harapan. Pengambilan keputusa belum melibatkan publik dan masih berada di lingkaran elite lokal provinsi dan kabupaten/kota. Belum terlibatnya publik dalam pembuatan kebijakan itu tercermin dari pembuatan peraturan daerah (perda) Walaupun pelaksanaan otonomi daerah lebih memikirkan peningkatan pendapatan daerah, implementasi otonomi daerah selain telah mendekatkan pemerintah setempat dengan masyarakat, juga mendorong bangkitnya partisipasi warga. UU Nomor 32 Tahun 2004 juga mendefinisikan daerah otonom sebagai berikut. “Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.1

1

Indonesia (b), Undang-Undang Tentang Pemerintahan Daerah, No. 32 Tahun 2004, LN No. 125 tahun 2004, TLN No. 4437, ps. 1

7

BAB III PEMBAHASAN 1. Apakah yang dimaksud dengan pemekaran wilayah ? Pemekaran daerah di Indonesia adalah pembentukan wilayah

administratif baru di tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten dari induknya. Landasan hukum terbaru untuk pemekaran daerah di Indonesia adalah UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.2 Ide pemekaran wilayah merupakan hal yang termasuk baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah setengah abad lebih usia negara ini, tahun 2000 lahir sebuah provinsi baru bernama Banten. Dahulu, wilayah Banten adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten (UU Nomor 23 Tahun 2000), pemerintah mengesahkan adanya provinsi baru itu pada 17 Oktober 2000. Selanjutnya, diikuti pula munculnya Provinsi Bangka Belitung dari Sumatera Selatan sebagai provinsi induknya, Provinsi Gorontalo (dari Sulawesi Utara), dan Kepulauan Riau (dari Riau) melalui undang-undang yang dibentuk pada tahun yang sama. Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, pemekaran provinsi terjadi di Maluku dan Papua. 2. Bagaimanakah perangkat hukum di Indonesia mengatur mengenai permasalahan otonomi daerah dan apa dasar hukum dari pemekaran wilayah pemekaran wilayah? Dalam sistem otonomi daerah, dikenal istilah desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem
2

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemekaran_daerah_di_Indonesia, diunduh pada tanggal 21 pukul 08;20 wib.

8

Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sedangkan dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah dan/atay kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Sementara itu, tugas pembantuan merupakan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. amanat UUD 1945 yang menyebutkan bahwa, “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”3 Peraturan Pemerintah Nomor direalisasikan melalui 8 Tahun 2005 tentang Pemilihan,

Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (PP Nomor 6 Tahun 2005). 3. Dampak apakah yang timbul dari pemberlakuan sistem otonomi daerah? Dampak positif otonomi daerah adalah memunculkan kesempatan identitas lokal yang ada di masyarakat. Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat mendapatkan respon tinggi dari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di daerahnya sendiri. Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang didapatkan melalui jalur birokrasi dari pemerintah pusat. Dana tersebut memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan daerah serta membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata.4

4. Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya pemekaran wilayah di negara Republik Indonesia ?

3

Indonesia (a), loc. cit.

4

Kendra Clegg, “Dari Nasionalisasi ke Lokalisasi: Otonomi Daerah di Lombok” dalam Desentralisasi Globalisasi dan Demokrasi Lokal, editor Jamil Gunawan, (Jakarta: LP3ES, 2005), hlm. 194.

9

Ide pemekaran wilayah merupakan hal yang termasuk baru dalam kehidupanberbangsa dan bernegara Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah setengah abad lebih usia negara ini, tahun 2000 lahir sebuah provinsi baru bernama Banten. Dahulu, wilayah Banten adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten (UU Nomor 23 Tahun 2000), pemerintah mengesahkan adanya provinsi baru itu pada 17 Oktober 2000. Selanjutnya, diikuti pula munculnya Provinsi Bangka Belitung dari Sumatera Selatan sebagai provinsi induknya, Provinsi Gorontalo (dari Sulawesi Utara), dan Kepulauan Riau (dari Riau) melalui undang-undang yang dibentuk pada tahun yang sama. Kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, pemekaran provinsi terjadi di Maluku dan Papua. Dari kenyataan yang ada serta hasil dari berbagai penelitian seperti dicontohkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya pemekaran wilayah, terutama pembentukan provinsi baru. Menunjangnya sebuah daerah dalam beberapa hal menjadi penyebab utama sebuah wilayah menginginkan melepaskan diri dari wilayah induknya, hal-hal tersebut adalah: a. kemampuan ekonomi; b. potensi daerah; c. sosial budaya; d. sosial politik; e. kependudukan; f. luas daerah; g. pertahanan; h. keamanan; i. dan faktor lain yang menunjang otonomi daerah.

10

BAB IV KESIMPULAN Dari pembahasan pada bab-bab terdahulu, hal-hal yang dapat disimpulkan dalam makalah ini adalah sebagai berikut. a. Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai perangkat hukum yang mengatur pemerintahan daerah sesuai amanat UUD 1945, yaitu UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Nomor 32 Tahun 2004) yang mengatur secara jelas pemberlakuan otonomi daerah, begitu pula dalam hal pembentukan daerah atau pemekaran wilayah. b. Dalam sistem otonomi daerah dikenal istilah-istilah yang amat penting dalam pelaksanaannya, yaitu desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. c. Pemberlakuan sistem otonomi daerah telah membawa perubahan politik di tingkat lokal, hal ini memberikan dampak positif maupun dampak negatif. d. Menunjangnya sebuah daerah dalam beberapa hal, seperti kemampuan ekonomi, potensi daerah, dan sebagainya menjadi penyebab utama sebuah wilayah menginginkan melepaskan diri dari wilayah induknya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemekaran wilayah. . SARAN Pemerintah pusat tetap harus mengatur dan menjalankan urusan di beberapa sektor di tingkat kabupaten dan menjamin bahwa pemerintah lokal punya kapasitas dan mekanisme bagi pengaturan hukum tambahan atas bidang-bidang tertentu dan penyelesaian perselisihan. Selain itu, pemerintah pusat juga harus menguji kembali dan memperketat kriteria pemekaran wilayah dengan lebih

11

DAFTAR PUSTAKA - “Dua Provinsi Baru di Aceh Dideklarasikan.” <www.liputan6.com/view/ 1,113592,1,0,1133,690100.html>. 7 Desember 2005. Gunawan, Jamil. Ed., Desentralisasi Globalisasi dan Demokrasi Lokal. Jakarta: LP3ES, 2005. - Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemerintahan Daerah, No. 32 Tahun 2004, LN No. 125 tahun 2004, TLN No. 4437 Indonesia, Undang-Undang Tentang Perimbangan Keuangan antara pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, No. 33 Tahun 2004, LN No. 126 tahun 2004, TLN No. 4438. - Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, PP No. 6 tahun 2005, LN No. 22 tahun 2005, TLN No. 4480 - http://www.facebook.com/topic.php?uid=114077793364&topic=12756

12

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->