Anda di halaman 1dari 20

TEKNIK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DENGAN

METODE TALI PANJANG


Oleh :
Home Wisnu Sujatmiko dan Wisman Indra Angkasa
Tujuan
Anggota
Contact Us
Salah satu sumberdaya hayati laut Indonesia yang cukup
Kegiatan potensial adalah rumput laut atau dikenal dengan
IPTEK sebutan lain ganggang laut, seaweed atau atau agar-agar.
Salah satu dari jenis rumput laut yang sudah
Informasi Kuliah dibudidayakan secara intensif adalah Eucheuma sp di
Links wilayah perairan pantai.

Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan


sebagai bahan makanan atau sebagai bahan tambahan
untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil,
kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula
sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak
maupun ikan.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan


rumput laut dalam berbagai industri, maka semakin
meningkat pula kebutuhan akan rumput laut Eucheuma
sp sebagai bahan baku. Selain untuk kebutuhan ekspor,
pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama
ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh
kekurangan bahan baku. Melihat peluang tersebut,
pengembangan komoditas rumput laut memiliki prospek
yang cerah karena memiliki nilai ekonomis yang penting
dalam menunjang pembangunan perikanan baik
kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas,
penyediaan bahan baku industri dalam negeri,
peningkatan konsumsi dalam negeri maupun
meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta
memperluas lapangan kerja.

Budidaya rumput laut Eucheuma sp yang sudah biasa


dilakukan oleh petani/nelayan adalah dengan
menggunakan metode rakit apung (floating raft method)
dan metode lepas dasar (off bottom method), metode ini
sangat tepat diterapkan pada areal perairan antara
interdal dan subtidal dimana pada saat air surut terendah
dasar perairan masih terendam air serta lebih banyak
memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena
itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput
laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi
perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah
dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya
metode lain yang bisa memanfaatkan perairan-perairan
yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan
walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar
apabila dimanfaatkan secara optimal.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai teknik budidaya


rumput laut Eucheuma sp di perairan pantai dengan
metode tali panjang (longline method) yang dapat
diterapkan diperairan yang relatif dalam maupun perairan
dangkal yang mempunyai keunggulan-keunggulan
tertentu dibanding-kan dengan metode lain. Metode ini
sudah diterapkan dan dimasyarakatkan kepada
petani/nelayan rumput laut di Propinsi Nusa Tenggara
Barat dan memberikan hasil yang menggembirakan.

Persyaratan lokasi dan lahan

Lahan budidaya Eucheuma sp yang cocok terutama


sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi
kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Adapun
persyaratan lahan budidaya Eucheuma sp adalah :

* Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan


langsung ombak yang kuat.
* Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang
cukup. Kecepatan arus yang cukup untuk budidaya
Eucheuma sp 20 – 40 cm/detik.
* Dasar perairan budidaya Eucheuma sp adalah dasar
perairan karang berpasir.
* Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air
minimal 30 cm.
* Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak
pandang secara horisontal.
* Suhu air berkisar 27 – 30 oC dengan fluktuasi
harian maksimal 4oC.
* Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 – 35
permil (optimum sekitar 33 permil).
* pH air antara 7 – 9 dengan kisaran optimum 7,3
– 8,2
* Lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai
dan bebas dari pencemaran.
* Sebaiknya dipilih perairan yang secara alami ditumbuhi
berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva, Caulerpa,
Padina, Hypnea dan lain-lain sebagai sp indikator.

Bibit
# Bibit harus dipilih dari thallus yang muda, segar, keras,
tidak layu dan kenyal.
# Berat bibit pada awal penanaman + 100 gram per ikat.
# Bibit sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dan
terlindung dari sinar matahari atau direndam di laut
dengan menggunakan kantong jaring.

Metode tali panjang

Metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya


hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak
menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan
tali plastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya.
Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih
ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak
dalam. Keuntungan metode ini antara lain:

* tanaman cukup menerima sinar matahari;


* tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air;
* terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari
dasar perairan;
* pertumbuhannya lebih cepat;
* cara kerjanya lebih mudah;
* biayanya lebih murah;
* kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.

Saat ini para petani/nelayan di perairan NTB umumnya


mengem-bangkan usaha budidaya rumput laut
Eucheuma sp dengan metode tali panjang, dan tentunya
metode ini dapat diterapkan dan dikembangkan oleh
petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia. Persiapan
pembuatan kontruksinya yang meliputi persiapan lahan
dan peralatan sebagai berikut :

a. Material

# Tali plastik diameter 9 mm (sebagai tali utama dan tali


jangkar).
# Tali plastik diameter 4 mm (sebagai tali ris tempat untuk
mengikatkan bibit).
# Tali rafia (sebagai pengikat bibit).
# Bibit rumput laut (jenis Eucheuma sp ).
# Botol plastik bekas/gabus (sebagai pelampung).
# Patok bambu/kayu atau batu karang (sebagai jangkar).
# Pisau.
# Perahu.

b. Prosedur

# Ukuran unit yang dipakai biasanya 15 x 30 m2.


# Siapkan material budidaya seperti yang tersebut pada
butir a.
# Potong tali ris sepanjang 30,5 m sebanyak 15 buah.
# Potong tali utama sepanjang 17 m sebanyak 2 buah.
# Potong tali jangkar yang panjangnya disesuaikan
dengan kedalaman perairan pada waktu pasang tertinggi
sebanyak 4 buah.
# Rentangkan kedua tali utama pada lokasi perairan yang
telah dipilih dengan posisi saling berhadapan dengan
jarak 30 m dan ikatkan tali jangkar pada kedua ujungnya
yang sebelumnya dibebani batu karang atau diikatkan
pada patok bambu/kayu yang ditancapkan sebelumnya
kemudian disudut-sudutnya dipasang pelampung.
# Ikat bibit yang telah diseleksi dengan tali rafia dengan
berat masing-masing sekitar 100 gram/ikat kemudian
bibit tersebut diikatkan pada tali ris.
# Jarak tiap ikat bibit yang diikatkan pada tali ris sekitar
25 cm kemudian setelah semua tali ris terisi oleh bibit
maka segera diangkut menuju lokasi budidaya dengan
perahu.
# Rentangkan tali ris kemudian ikatkan pada tali utama
dikedua ujungnya dengan jarak masing-masing tali ris
sekitar 1 m.
# Pengikatan tali ris pada tali utama disesuaikan
sehingga jarak tanaman dari permukaan air sekitar 30
sampai 50 cm.
# Setelah tali ris diikat semua maka ikatkan pelampung
botol plastik bekas pada tali ris, masing-masing ris
sebanyak 10 buah dengan jarak sekitar 3 m.

Untuk lebih jelasnya mengenai budidaya Eucheuma sp


dengan metode tali panjang dapat dilihat pada gambar 1.

Perawatan dan panen

Dalam usaha budidaya rumput laut, perawatan tanaman


adalah sangat penting. Kegiatan perawatan meliputihal
hal sebagai berikut:

* membersihkan tanaman dari kotoran yang melekat,


endapan atau tumbuhan lain yang menempel;
* mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman yang
baru atau tanaman yang pertumbuhannya baik;
* memperbaiki konstruksi yang rusak seperti jangkar
tercabut, atau tali-tali lepas atau putus.
Gambar 1. Rumput laut dalam masa pertumbuhan
dengan metode rawai (long line method)

Gambar 2. Rumput laut hasil panen yang siap


dijemur

Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total


(full harvest) setelah berumur 45 – 60 hari sejak
ditanam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat
seluruh tanaman, sedangkan pelepasan tanaman dari tali
ris dilakukan di darat. Penanaman kembali dilakukan
dengan memilih bagian ujung tanaman yang masih muda
dan bagian pangkal tanaman yang merupakan bagian
yang tua dikeringkan karena memiliki kandungan
karaginan yang tinggi.

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu


dengan cara menggunakan alat pengering (oven) atau
secara alami dengan menjemur dengan sinar matahari.
Yang murah dan praktis adalah dengan cara dijemur
dengan sinar matahari selama 2 – 3 hari,
tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran
ini harus menggunakan alas, seperti para-para, terpal
plastik dan lain-lain untuk menghindari tercampurnya
rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir
atau kerikil dan lain-lain. Setelah kering dan bersih dari
segala macam kotoran maka rumput laut dimasukkan
kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau
disimpan di gudang. Pada waktu penyimpanan hindari
kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses
penjemuran dan penyimpanan sangat perlu mendapat
perhatian, karena meskipun hasil panennya baik akan
tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik
maka akan mengurangi kualitas rumput laut.

PENUTUP
Budidaya Eucheuma sp dengan metode tali panjang saat
ini merupakan metode yang paling baik dan efisien
dibandingkan dengan metode lain. Rata-rata laju
pertumbuhan rumput laut dengan metode ini di Propinsi
Nusa Tenggara Barat sekitar 4% sampai 6% perhari.
Petani/nelayan rumput laut di NTB yang menggunakan
metode ini dengan mempunyai areal budidaya sekitar 5
are tiap bulannya mendapat tambahan penghasilan Rp.
350.000,-.

Kontak person:

Wisnu Sujatmiko
Direktorat Kebijaksanaan Pengembangan & Penerapan
Teknologi II - BPPT
Gedung II BPPT Lt.15
Jl. MH. Thamrin No. 8, Jakarta 10340
Telp. (021) 316- 9418
Fax. (021) 316- 9516

TEKNIK BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Oleh:
Home Wisman Indra Angkasa, Heri Purwoto, Jana Anggadiredja
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi
Kuliah
Links
Rumput laut untuk bahan membuat agar gracilaria sp adalah
rumput laut yang termasuk pada kelas alga merah
(Rhodophyta) dengan nama daerah yang bermacam-macam,
seperti: sango-sango, rambu kasang, janggut dayung, dongi-
dongi, bulung embulung, agar-agar karang, agar-agar jahe,
bulung sangu dan lain-lain.

Rumput laut marga gracilaria banyak jenisnya, masing-masing


memiliki sifat-sifat morfologi dan anatomi yang berbeda serta
dengan nama ilmiah yang berbeda pula, seperti: gracilaria
confervoides, gracilaria gigas, gracilaria verucosa, gracilaria
lichenoides, gracilaria crasa, gracilaria blodgettii, gracilaria
arcuata, gracilaria taenioides, gracilaria eucheumoides, dan
banyak lagi. Beberapa ahli menduga bahwa rumput laut marga
gracilaria memiliki jenis yang paling banyak dibandingkan
dengan marga lainnya.

Rumput laut gracilaria umumnya mengandung agar, ager atau


disebut juga agar-agar sebagai hasil metabolisme primernya.
Agar-agar diperoleh dengan melakukan ekstraksi rumput laut
pada suasana asam setelah diberi perlakuan basa serta
diproduksi dan dipasarkan dalam berbagai bentuk, yaitu: agar-
agar tepung, agar-agar kertas dan agar-agar batangan dan
diolah menjadi berbagai bentuk penganan (kue), seperti
pudding dan jeli atau dijadikan bahan tambahan dalam industri
farmasi. Kandungan serat agar-agar relatif tinggi, karena itu
dikonsumsi pula sebagai makanan diet. Melalui proses tertentu
agar-agar diproduksi pula untuk kegunaan di laboratorium
sebagai media kultur bakteri atau kultur jaringan.

Sejak berabad lalu, nenek moyang kita telah memanfaatkan


gracilaria sebagai makanan. Baik dimasak dengan air kelapa
atau dengan air santan dan gula, rumput laut dibuat penganan
atau dimasak oseng-oseng atau tumis. Di beberapa daerah
pesisir di wilayah nusantara ini, gracilaria diyakini dapat
dimakan sebagai pencegah GAKI. Hal ini semakin jelas dari
beberapa hasil penelitian, ternyata beberapa jenis gracilaria
banyak mengandung Iodium.

Tempat tumbuh dan perkembangbiakan

Seperti pada alga kelas lainya, morfologi rumput laut gracilaria


tidak memiliki perbedaan antara akar, batang dan daun.
Tanaman ini berbentuk batang yang disebut dengan thallus
(jamak: thalli) dengan berbagai bentuk percabangannya. Secara
alami gracilaria hidup dengan melekatkan (sifat benthic)
thallusnya pada substrat yang berbentuk pasir, lumpur, karang,
kulit kerang, karang mati, batu maupun kayu, pada kedalaman
sampai sekitar 10 sampai 15 meter di bawah permukaan air
yang mengandung garam laut pada konsentrasi sekitar 12o/oo -
30o/oo. Sifat-sifat oseanografi, seperti sifat kimia-fisika air dan
substrat, macamnya substrat serta dinamika/pergerakan air,
merupakan faktor-faktor yang sangat menentukan
pertumbuhan gracilaria.

Perkembangbiakan gracilaria pada garis besarnya melalui dua


cara, yaitu :

1. Tidak kawin

# vegetasi, yaitu dengan cara penyetekan;


# konyugasi, yaitu dengan cara peleburan dinding sel sehingga
terjadi pencampuran protoplasma dari dua atau lebih thalli;
# penyebaran spora yang terdapat pada kantung spora
(carpospora, cystocarp).

2. Kawin

# Perkawinan antara gamet-gamet yang dihasilkan dari


gametofit yang merupakan hasil germinasi dari spora.

Teknik Budidaya

Budidaya gracilaria sudah sejak lama dikembangkan di


beberapa negara seperti Taiwan dan Chile. Di Indonesia
pengembangan budidaya gracilaria baru dimulai sejak tahun
1985, melalui kegiatan pengkajian yang dilakukan Tim Rumput
Laut BPPT yang bekerjasama dengan instansi terkait dan pihak
swasta.

Berdasarkan hasil kajian, gracilaria dapat dibudidayakan


dengan beberapa metoda, yaitu: metoda dasar (bottom method)
di dalam tambak dengan menebarkan bibit pada dasar tambak
dan metoda lepas dasar (off bottom method) seperti budidaya
Echeuma sp., yaitu dengan cara mengikat bibit pada tali ris
(ropeline) kemudian diikatkan pada patok-patok atau pada rakit.
Akhir-akhir ini dikembangkan pula budidaya gracilaria dengan
metoda rakit (floating rack method) dan metoda rawai (longline
method). Dalam tulisan ini diuraikan salah satu metoda
budidaya gracilaria yang paling banyak digunakan, yaitu
metoda dasar di dalam tambak, yang didasarkan pada hasil-
hasil pengkajian dan ujicoba oleh Tim Rumput Laut BPPT di
beberapa daerah. Teknik budidaya Gracilaria dalam tambak ini
sudah diterapkan dan dikembangkan di Kabupaten Sinjai,
Takalar, Maros, Pangkep (Sulsel); Kabupaten Lamongan
(Jatim); Kabupaten Sumbawa Besar (NTB).

Persyaratan umum

Tahap awal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan


budidaya gracilaria dalam tambak, antara lain adalah keadaaan
tambak yang akan digunakan (termasuk dasar tambak sebagai
substrat), kualitas air dalam tambak dan sekitarnya, serta bibit
tanaman baik mengenai jenis dan kualitasnya.

a. Keadaan Tambak

# Keadaan dasar tambak yang paling ideal adalah pasir yang


mengandung lumpur atau tanah yang mengandung pasir
dengan sedikit lumpur. Perlu diusahakan supaya dasar tambak
tidak terlalu banyak mengandung lumpur (ketebalan lumpur
maksimal 15 sampai 20 cm) dan bila dipandang perlu dapat
dilakukan pengurasan lumpur. Beberapa alternatif
bentuk/disain tambak dapat dilihat pada lampiran.
# Tambak harus bersih dari tanaman lain yang dapat
membusuk, terutama yang dapat meningkatkan derajat
keasaman dasar tambak. Derajat keasaman (pH) dasar tambak
berkisar antara 6 sampai 9 dan yang paling ideal adalah sekitar
6,8 sampai 8,2. Untuk mengurangi keasaman dapat dilakukan
terlebih dahulu "penebaran kapur".
# Tambak harus memiliki saluran air yang baik dan bersih (tidak
terlalu banyak mengandung lumpur), serta setiap petak tambak
diusahakan memiliki 2 (dua) buah pintu air, yang akan
berfungsi sebagai pintu-pintu untuk air masuk dan air keluar.
# Pasang-surut air laut harus mempengaruhi kondisi air di
dalam tambak untuk melakukan pergantian air.
# Gelombang atau arus air di dalam tambak (sebagai akibat
angin atau pengaruh pasang surut) diupayakan tidak terlalu
besar, sehingga tidak mengakibatkan berkumpulnya tanaman
pada suatu tempat tertentu. Akan tetapi gelombang dan arus air
di dalam tambak harus cukup untuk memberikan gerakan bagi
tanaman.
# Pematang tambak supaya diusahakan cukup rapih dan dapat
digunakan sebagai sarana jalan dalam pengelolaan tambak
dan/atau dapat difungsikan pula sebagai tempat penjemuran
hasil panen dengan menggunakan alas.

b. Kualitas Air
1. Salinitas air berkisar antara 12o/oo - 30o/oo dan yang ideal
sekitar 15o/oo - 25o/oo,
2. Suhu air berkisar antara 180C sampai 300C dan yang ideal
sekitar 200C sampai 250 C.
3. pH air dalam tambak berkisar antara 6 sampai 9 dan yang
ideal sekitar 6,8 sampai 8,2.
4. Air tidak mengandung lumpur sehingga kekeruhan (turbidity)
air masih cukup bagi tanaman untuk menerima sinar matahari.

c. Bibit

Tanaman yang dipilih untuk bibit adalah gracilaria yang pada


usia panennya memiliki "kandungan agar-agar" yang cukup
tinggi dan memiliki "kekuatan gel" yang tinggi pula.
Pemeriksaan di laboratorium oleh pakar sebelum tanaman
dijadikan bibit dapat membantu memilih bibit yang baik dan
dapat mencegah menyebarnya bibit yang berkualitas rendah.
Bagian tanaman yang dipilih untuk bibit adalah thallus yang
relatif masih muda dan sehat, yang diperoleh dengan cara
memetik dari rumpun tanaman yang sehat pula dengan panjang
sekitar 5 sampai 10 cm. Dalam memilih bibit perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut : 1) thallus yang dipilih masih cukup
elastis; 2) thallus memiliki banyak cabang dan pangkalnya lebih
besar dari cabangnya; 3) ujung thallus berbentuk lurus dan
segar; 4) bila thallus digigit/dipotong akan terasa getas (britel);
5) bebas dari tanaman lain (epipit) dan kotoran lainnya.

Cara Tanam

# Tambak yang keadaan dan kualitas airnya sudah memenuhi


syarat dibersihkan dari kotoran.
# Tambak dikuras dengan mengeluarkan dan memasukan air
laut pada saat pasang- surut sehingga air yang ada dalam
tambak merupakan air segar (baru).
# Bibit ditanam dengan cara menebarkannya secara merata di
dalam tambak pada saat keadaan cuaca cukup teduh, yaitu
pada pagi hari atau sore hari.
# Kepadatan bibit untuk 1 (satu) hektar (ha):

* pada penanaman pertama ditebar sekitar 1 ton bibit per ha;


* apabila pada panen pertama laju pertumbuhan perhari (DGR)
tidak kurang dari 3%, atau hasil panen basah sekitar 4 kali berat
bibit yang ditanam, maka pada penanaman kedua dapat ditebar
dengan kepadatan menjadi 2 ton per hektar.
* apabila DGR dapat mencapai di atas 4%, atau hasil panen
basah sekitar 6 kali berat bibit yang ditanam, maka pada
penanaman berikutnya dapat ditebar bibit sehingga kepadatan
mencapai sekitar 3 sampai 4 ton bibit per hektar.
* Kedalaman air dalam tambak harus diatur, sehingga dapat
menunjang pertumbuhan tanaman dan juga meningkatkan isi
kandungan dari tanaman. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
* pada 4 minggu pertama, air dalam tambak supaya
dipertahankan pada ke-dalaman sekitar 30 sampai 50 cm,
dengan tujuan agar pertumbuhan cabang lebih cepat;
* pada minggu kelima sampai minggu keenam atau ketujuh air
dipertahankan pada kedalaman sekitar 50 sampai 80 cm
dengan tujuan memperlambat pertumbuhan cabang sehingga
tanaman dapat meningkatkan isi kandungan.

Pada musim kemarau suhu air di dasar tambak diusahakan


supaya tidak terlalu tinggi dan apabila suhu air di atas normal
maka kedalaman air di dalam tambak perlu ditambah, sehingga
suhu di dasar tambak dapat dipertahankan pada kondisi
normal.

Pemupukan

Seperti pada tanaman lain, rumput laut gracilaria juga


memerlukan nutrisi pada pertumbuhannya seperti nitrogen,
phosphat dan kalium serta oksigen. Penggunaan pupuk dalam
budidaya ini akan tergantung kepada kualitas nutrisi di dalam
air tambak. Untuk itu dianjurkan dilakukan analisis kualitas air
tambak untuk mengetahui kandungan nitrogen, phosphat dan
kalium. Hasil analisa tersebut dapat digunakan untuk
menetapkan jumlah pupuk yang perlu digunakan. Pada
prinsipnya, pada empat minggu pertama, tanaman memerlukan
lebih banyak nutrisi nitrogen, sedangkan dua atau tiga minggu
sebelum panen tanaman memerlukan lebih banyak nutrisi
phosphat. Kendala yang dihadapi dalam pemupukan adalah
seringnya perggantian air di dalam tambak, karena itu pupuk
dalam bentuk pelet relatif lebih efektif karena dapat melepas
nutrisi secara bertahap. Apabila di dalam tambak mudah
tumbuh alga hijau, maka hal ini menunjukkan bahwa
kandungan nitrogennya sudah cukup. Dari hasil pengamatan
maka dianjurkan bahwa pada 4 minggu pertama diperlukan
sekitar 10 kg/ha pupuk yang banyak mengandung nitrogen, dan
ditebar secara bertahap. Sedangkan untuk 2 sampai 3 minggu
berikutnya diperlukan sekitar 5 kg/ha pupuk yang lebih banyak
mengandung phosphat yang ditebar secara bertahap.
Penebaran lebih tepat dilakukan pada saat setelah dilakukan
penggantian air tambak.

Pemeliharaan/Perawatan

# Untuk mempertahankan salinitas dan nutrisi baru, perlu


dilakukan pergantian air minimal setiap tiga hari sekali pada
saat surut dan pasang. Pada musim kemarau pergantian air
supaya dilakukan lebih sering untuk menghindari salinitas
terlalu tinggi sebagai akibat dari penguapan air. Sedangkan
pada musim hujan pergantian air harus diatur untuk menjaga
salinitas dalam tambak tidak terlalu rendah. Karena itu pada
saat pergantian air perlu diperhatikan salinitas air pada saluran
pembagi/induk.
# Perlu dilakukan perawatan/ pemeliharaan pada tambak dan
tananan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. membuang tanaman lain (rumput dan alga lainnya) serta


kotoran lainnya dari dalam tambak supaya tidak nengganggu
pertumbuhan rumput laut gracilaria ;
2. perawatan pintu-pintu air, saluran air dan perawatan
pematang tambak.

Panen dan Pascapanen

1.

# Panen dapat dilakukan setelah tanaman berusia sekitar 45


sampai 60 hari (akan sangat tergantung pada kesuburan lokasi
penanaman) atau dengan memilih tanaman yang dianggap
sudah cukup matang untuk dikeringkan. Sedangkan tanaman
yang masih belum matang atau bagian tanaman yang masih
muda dipetik untuk kemudian ditanam kembali sebagai bibit
baru. Sebelum dikeringkan hasil panen dicuci terlebih dahulu
dengan menggunakan air tambak untuk menghilangkan lumpur
dan kotoran lainnya. Apabila tidak ada permintaan lain dari
pembeli maka keringkan langsung dengan sinar matahari
dengan dialasi gedek, krey bambu, daun kelapa atau dengan
menggunakan bahan lainnya.

Catatan:
Untuk pengeringan selama musim penghujan, dapat dilakukan
dengan mengangin-anginkan rumput laut di atas rak (dengan
ketebalan setitar 5 sampai 8 cm.) atau dengan cara diikat dalam
bentuk rumpun dan digantung di dalam gudang. Dapat pula
dilakukan dengan menggunakan alat pengering khusus, seperti
menggunakan penghembus udara panas.
3. Pengeringan diusahakan sampai pada kekeringan yang
cukup dengan kandungan air sekitar 12%, sehingga pada saat
penyimpanan, kandungan air pada rumput kembali menjadi
sekitar maksimal 18%. Apabila diremas dan terasa sakit pada
telapak tangan, artinya kekeringan rumput laut sudah cukup
baik. Rasio basah : kering pada umumnya sekitar 9 :1 atau 8 : 1.

4. Rumput kemudian diayak atau diperlakukan lain untuk


merontokkan butir-butir halus garam dan/atau debu yang masih
melekat serta sekaligus melakukan sortir ulang. Hasilnya
kemudian dimasukan ke dalam karung dan penyimpanan
dilakukan di gudang yang terhindar dari embun, air hujan atau
air tawar lainnya. Gudang harus ditata sedemikian rupa,
sehingga memiliki sirkulasi udara yang cukup baik.
5. Pengepakan atau pengisian dalam karung dapat disesuaikan
dengan permintaan pembeli dengan berat sekitar 50, 75 atau
100 kg. per karung/bal. Untuk mengefektifkan ruangan (baik
dalam gudang atau alat transportasi) sebaiknya pengepakan
dilakukan dengan mesin pres.

Budidaya Campuran
1. Apabila di dalam tambak tumbuh banyak alga hijau seperti
Enteromorpha, Chaetomorpha, dll., dapat dilakukan budidaya
campuran atau mix-farming dengan ikan bandeng (milk-fish).
2. Masukkan sekitar 750 sampai 1000 ekor untuk setiap satu
hektar dengan ukuran besar ikan sekitar 100 g/ekor.
3. Budidaya campuran rumput laut gracilaria dengan ikan
bandeng, sudah merupakan usaha yang dikembangkan
sedemikian rupa, dengan tujuan tidak hanya untuk
menghilangkan alga hijau, akan tetapi sebagai upaya
meningkatkan efisiensi lahan dan meningkatkan pendapatan.
4. Apabila DGR mencapai 4 % ke atas, maka dapat ditebarkan
sekitar 1000 sampai 1500 ekor per hektar dengan ukuran besar
ikan sekitar 100 g/ekor.
5. Panen ikan bandeng akan tergantung pada kebutuhan pasar
akan besarnya ikan bandeng.

Gambar 3. Alternatif bentuk tamb

Kontak Person:

Wisman I. Angkasa
Direktorat Pengkajian Ilmu Kehidupan-BPPT
Gd. II BPPT Lt. 15,
Jl. MH. Thamrin No. 8, Jakarta 10340
Telp. (021) 3169537
Fax. (021) 3169516

TEKNIK BUDIDAYA RUMPUT LAUT


DENGAN METODE TALI PANJANG
Sumber: Iptek Net Topik: Teknologi Tags: Eucheuma, metode lepas dasar, metode rakit
apung, metode tali panjang, Rumput laut

Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau sebagai
bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain.
Selain itu digunakan pula sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri,
maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut Eucheuma sp sebagai bahan baku.
Selain untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama ini
industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku.

Budidaya rumput laut Eucheuma sp yang sudah biasa dilakukan oleh petani atau nelayan
adalah dengan menggunakan metode rakit apung (floating raft method) dan metode lepas
dasar (off bottom method), metode ini sangat tepat diterapkan pada areal perairan yang relatif
dangkal yang bisa bermasalah bila air laut surut.

Untuk mengurangi masalah tersebut diperkenalkan teknik budidaya metode tali panjang
(long line method). Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak
menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali plastik dan botol aqua bekas
sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa
diterapkan di perairan yang agak dalam.

Keuntungan metode ini antara lain:

• tanaman cukup menerima sinar matahari;


• tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air;
• terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan;
• pertumbuhannya lebih cepat;
• cara kerjanya lebih mudah;
• biayanya lebih murah;
• kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.

Petani atau nelayan di perairan NTB umumnya telah memakai metode tali panjang.

Dalam usaha budidaya rumput laut, perawatan tanaman adalah sangat penting, seperti
membersihkan tanaman dari kotoran yang melekat, atau memperbaiki konstruksi yang rusak.

PANEN

• Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total (full harvest) setelah berumur
45 – 60 hari sejak ditanam.
• Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat
pengering (oven) atau secara alami dengan menjemur dengan sinar matahari.
• Pada waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar.

• Budidaya Rumput Laut dengan Metode Lepas Dasar


Sebagai Pekerjaan Sambilan Nelayan yang
Menguntungkan (Jeneponto, Sulawesi Selatan)
• Descriptive title of the technology
• Budidaya Rumput Laut dengan Metode Lepas Dasar Sebagai Pekerjaan Sambilan
Nelayan yang Menguntungkan (Jeneponto, Sulawesi Selatan)

• Global Farming System


• Coastal Artisanal Fishing:
• The crop component of the Coastal Artisanal Fishing Farming Systems is important
for household food security, but the principal livelihood is inshore fishing, with a rapid
growth in aquaculture in many parts of the world. Because of infertile soils crop yields are
often low. The few areas with fertile soil often face serious risks of storms and floods - as
occurs around the Bay of Bengal. Many systems include some tree crop production (e.g.
coconut and cashew) and small livestock, especially goats, and poultry.

• Abstract
• Dalam upaya meningkatkan penghasilan keluarga, para nelayan di kabupaten
Jeneponto, Sulawesi Selatan selain mencari ikan ke laut sebagai pekerjaan utama, juga
membudidayakan rumput laut di pesisir pantai. Budidaya rumput laut yang dilakukan
adalah dengan metode Lepas Dasar, karena lokasi yang digunakan adalah pada dasar
perairan berpasir atau berlumpur pasir, sehingga memudahkan menancapkan patok/tiang
pancang. Hasil dari rumput laut selain bisa diolah sebagai bahan industri makanan seperti
agar-agar, jelly food dan campuran makanan seperti burger dan lainnya, juga sebagai bahan
baku industri koemstika, farmasi, tekstil, kertas, keramik, fotografi, pupuk dan insektisida.

• Type of technology

• Detail Description of technology


• Para nelayan di Indonesia yang tinggal di pesisir pantai umumnya selain memiliki
pekerjaan utama mencari ikan, juga mempunyai pekerjaan sambilan yang sangat
menguntungkan. Misalnya membudidayakan rumput laut seperti yang dilakukan para
nelayan di desa Empoang Selatan, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jepneponto, Sulawesi
Selatan.

• Setelah mengikuti Sekolah Lapangan yang diselenggarakan SPFS – FAO ditambah


pembinaan intensif, para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Mawar
Berkembang ini, tidak saja mampu menjalin kebersamaan di dalam kelompok, juga dalam
meningkatkan kegiatan usahanya.

• “ Sejak kami dibina oleh DST, usaha kami baik menangkap ikan maupun budidaya rumput
laut terus berkembang,” kata Da’I, salah seorang nelayan yang tergabung dalam Kelompok
Nelayan Mawar Berkembang.

• Budidaya rumput laut yang dilakukan selain dikerjakan para nelayan setelah pulang dari
mencari ikan, juga dikerjakan oleh istri para nelayan dengan upah Rp.1.000,- setiap satu
ikatan bibit rumput laut yang dibuatnya. Rata-rata mereka dapat mengerjakan 10 ikatan
setiap harinya, sehingga diperoleh penghasilan tambahan Rp.10.000,- per orang (Gambar
1).

• Perlu diketahui bahwa, Kelompok Nelayan Mawar Berkembang ini dibentuk tahun 2002
dengan anggota 40 orang. Pada tahun 2004 mendapat bantuan Mesin Tempel dari SPFS-
FAO sebanyak 30 buah yang sangat membantu dalam meningkatkan usaha penangkapan
ikan (Gambar 2). Melalui pembinaan yang intensif, mesin tempel tersebut kini sudah
berkembang menjadi 38 buah, sehingga 80 persen anggota kelompok menggunakan
perahu mesin ketika akan melaut. (Baca : Skema Perguliran Bola Salju yang diterapkan
Terhadap Bantuan SPFS (Mesin Motor Tempel) di Kelompok Tani Mawar Berkembang).

Pemilihan Lokasi
• Pemilihan lokasi budidaya rumput laut merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Pilihlah lokasi pesisir pantai yang tidak tercemar sampah industri, limbah rumah tangga
dan lainnya yang dapat meningkatkan kekeruhan air, karena kondisi tersebut
dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas air laut, yang pada akhirnya akan menurunkan
daya dukung lingkungan terhadap perkembangan rumput laut yang dikembangkan.

• Selain itu, lokasi harus terhindar dari angin kencang dan gelombang besar, karena dapat
merusak rumput laut yang dibudidayakan. Mengingat makanan rumput laut berasal dari
aliran air yang melewati, gerakan air yang cukup harus diperhatikan, karena selain dapat
membawa nutrisi, juga dapat mencuci kotoran yang menempel, membantu pengudaraan,
dan mencegah fluktuasi suhu air yang besar,

• Suhu yang baik sekitar 20 – 28 oC, besarnya kecepatan arus antara 20 – 40 cm/detik dan
kecerahan perairan lebih dari 1 meter di atas permukaan air. Persyaratan tersebut sangat
penting diperhatikan, agar rumput laut masih mendapat panetrasi sinar matahari yang
sangat berguna untuk sumber energi dalam proses fotosintesis.


• Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi adalah, sebaiknya tidak
terlalu jauh dari tempat tinggal, supaya mudah melakukan pengawasan. Lokasi juga
harus ada sarana jalan untuk pengangkutan bahan, sarana budidaya bibit, tempat
penjemuran dan mudah dalam pemasaran hasil.

Metode Budidaya
• Dalam budidayakan rumput laut setidaknya ada tiga metode yang digunakan.

• Pertama, Metode Lepas Dasar. Metode ini digunakan pada dasar perairan berpasir atau
berlumpur pasir, sehingga memudahkan menancapkan patok/tiang pancang (Gambar 3)

• Kedua, Metode Rakit Apung. Metode ini cocok dilakukan pada perairan berkarang,
karena pergerakan air didominasi ombak, sehingga penanamannya dengan menggunakan
rakit bambu/kayu (Gambar 4)

• Ketiga, Metode Long Line. Metode ini menggunakan tali panjang 50 – 100 meter yang
dibentangkan, dan pada kedua ujungnya diberi jangkar serta pelampung besar. Setiap 25
meter diberi pelampung utama terbuat dari drum plastic (Gambar 5)


• Karena dasar perairan yang terdapat di desa Empowang Selatan (Jeneponto) berpasir,
maka metode Lepas Dasar adalah metode budidaya rumput laut yang dikembangkan
Kelompok Nelayan Mawar Berkembang. Adapun rumput laut yang dibudidayakan adalah
jenis Eucheuma cottonii.

• Budidaya Rumput Laut di Kelompok Tani Mawar Berkembang

Bahan yang diperlukan


• Untuk lokasi pertanaman dengan ukuran (50 x 10) m2, adalah :

• Bibit 50-100 gr per ikat = 500 - 1.000 kg.

• Patok kayu : panjang 1 m diameter 5 cm = 275 buah

• Tali rentang berdiameter 4 mm = 870 m

• Tali Ris berdiameter 6 mm = 630 m

• Tali rafia = 20 gulung besar

• Setelah bahan terkumpul, lakukan penanaman mengikuti proses berikut ini.

• Pilih bibit rumput laut (Gambar 6) yang baik dengan ciri-ciri : bercabang banyak dan
rimbun, tidak terdapat bercak, tidak terkelupas, warna spesific cerah, umur 25 – 35 hari,
berat bibit 50 – 100 gram per rumpun. Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai
sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan.

• Saat mengangkut bibit dari pantai ke lokasi pengolahan, bibit tetap terendam di dalam air
laut atau dimasukkan ke dalam kotak karton berlapis plastik.

• Bibit disusun berlapis dan berselang seling yang dibatasi dengan lapisan kapas atau kain
yang sudah dibasahi air laut. Agar bibit tetap baik, simpan di dalam keranjang atau jaring
dengan ukuran mata jaring kecil dan harus dijaga agar tidak terkena minyak, kehujanan
maupun kekeringan.

• Sebelum dilakukan penanaman, lakukan pengikatan bibit pada tali Ris (Gambar 7)

• Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali Ris yang telah berisi
ikatan tanaman. Pada tali Ris utama, posisi tanaman sekitar 30 cm di atas dasar perairan
(perkirakan pada saat surut terendah masih tetap terendam air). Patok dari kayu
berdiameter sekitar 5 cm panjang 1 m dan runcing pada ujung bawahnya.

• Jarak antara patok untuk merentangkan tali Ris sekitar 2,5 m. Setiap patok yang berjajar
dihubungkan dengan tali Ris polyethylen (PE) berdiameter 8 mm. Adapun jarak ideal
antara tali rentang sekitar 20-25 cm (Gambar 8).

• Hal-hal yang harus dilakukan dalam perawatan adalah :


• Bersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu, sehingga tidak
menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan makanan.
• Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar sampah-sampah yang
menyangkut bisa larut kembali.
• Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau putus, segera diperbaiki
dengan cara megencangkan ikatan atau mengganti dengan tali baru.
• Waspadai penyakit ice-ice, yaitu adanya tanda bercak-bercak putih pada rumput laut. Jika
ada tanda tersebut, tanaman harus dibuang, karena dapat menularkan penyakit pada
tanaman lainnya. Kalau dibiarkan, tanaman akan kehilangan warna sampai menjadi putih
dan akhirnya mudah putus.
• Untuk menghindari penyakit ice-ice, lakukan monitoring terhadap setiap tanaman,
sehingga jika ada tanaman memutih bisa dilakukan pemotongan. Cara lain menghindari
penyakit ice-ice adalah dengan menurunkan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi
panetrasi banyaknya sinar matahari, karena penyakit ini biasanya terjadi pada daerah
pertanaman yang terlalu tinggi dengan permukaan air. Karena itu disarankan agar
tanaman berada 1 meter dibawah permukaan air.
• Hama rumput laut yang harus diwaspadai antara lain adalah : (a). Larva bulu babi
(Tripneustes sp) bersifat planktonik yang melayang-layang di dalam air, lalu menempel
pada tanaman. (b). Teripang (Holothuria sp) mula-mula menempel dan menetap pada
rumput laut, lalu membesar dan dapat memakan rumput laut dengan menyisipkan ujung
cabang rumput laut ke dalam mulut.
• Walaupun hama tersebut pengaruhnya kecil menyerang pada areal budidaya yang cukup
luas, namun tetap perlu diwaspadai. Untuk menghindarinya, bisa dilakukan pemasangan
jaring pada keliling areal tanaman.

• Pemanenan

• Pemanenan rumput laut sangat tergantung dari tujuannya. Jika tujuan memanen untuk
mendapatkan bibit, pemanenan dilakukan pada umur 25 – 35 hari. Kalau ingin
mendapatkan kualitas tinggi dengan kandungan Karaginan banyak, panen dilakukan pada
umur 45 hari (umur ideal).

• Pemanenan rumput laut dapat dilakukan dengan dua cara :

• Petama memotong sebagian tanaman. Cara ini bisa menghemat tali pengikat bibit,
namun perlu waktu lama. Disisi lain, sisa-sisa tanaman rumput laut yang tidak ikut dipanen
pertumbuhannya lambat, sehingga kualitasnya rendah.

• Kedua, mengangkat seluruh tanaman. Cara ini memerlukan waktu kerja yang singkat.
Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong tali. Kelebihan cara
ini adalah, dapat melakukan penanaman kembali dari bibit-bibit rumput laut yang masih
muda dengan laju pertumbuhan tinggi.

Pasca Panen
• Mengingat mutu rumput laut kering (Gambar 9) bernilai lebih tinggi dibanding yang basah,
perlakuan pasca panen sangat menentukan harga rumput laut.
• Untuk itu, setelah panen dilakukan, segera dikeringkan langsung dibawah terik sinar
matahari dengan meletakkan rumput laut pada para-para atau dialas, sehingga tidak
tercampur pasir, tanah dan benda lainnya (Gambar 10)
• Sambil dilakukan penjemuran, lakukan sortasi dengan cara mengambil benda-benda asing
seperti batu, sampah dan lainnya. Jika cuaca baik, dalam waktu 3-4 hari rumput laut sudah
kering yang ditandai dengan warna ungu keputihan dilapisi kristal garam dan a lot untuk
dipatah.

• Untuk mendapatkan rumput laut berkualitas dan dihargai tinggi, lakukan pengayakan
untuk memisahkan pasir dan garam yang terdapat pada rumput laut.

• Pentingnya Alat Jemur

• Pada saat sekarang ini, para petani nelayan hanya mengandalkan penjemuran atau
pengeringan rumput laut secara alami (Gambar 11). Agar nilai jual rumput laut bisa
dihargai tinggi, para kelompok tani sangat mengharapkan adanya bantuan mesin atau alat
jemur rumput laut. Dengan alat tersebut diharapkan penjemuran bisa optimal, sehingga
nilai jualnya tinggi.

• Dukungan lain yang tidak kalah penting adalah, adanya Koperasi atau kelembagaan yang
mau dan mampu menampung hasil rumput laut para nelayan, sehingga harga jualnya
tidak jatuh karena dibeli para tengkulak sebagaimana terjadi sekarang ini.

• Kesimpulan :

• Melalui usaha penangkapan ikan dan mengembangkan rumput laut dengan metode Lepas
Dasar, Kelompok Nelayan Mawar Berkembang mampu meningkatkan penghasilan dan
kesejahteraan keluarga. Perkembangan tersebut tentu akan lebih signifikan jika ada
bantuan teknologi sederhana untuk pengeringan rumput laut dan adanya Koperasi yang
dapat menampung sekaligus memasarkan hasil rumput laut dengan harga yang
menguntungkan.

• Source(s) Information
• -Dr. Ayi Kusmayadi
-Johan Purnama DVM, MSc
-Makmur Karessang, Jeneponto District Coordinator
-Sukirno, Field Technician (Agricultural Extension)

• Additional External Resources


Budidaya Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii)

Budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu alternatif untuk
meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta pemanfaatan lahan di pesisir pantai.
Teknologi yang sederhana, daya serap pasar yang tinggi dan biaya produksi yang rendah
merupakan kelebihan usaha budidaya rumput laut dibandingkan komoditas perikanan
lainnya.

Faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya rumput laut antara lain
pemilihan lokasi, penggunaan bibit, metode budidaya serta penanganan selama pemeliharaan.

Pemilihan Lokasi Budidaya


Untuk mendapatkan lokasi budidaya yang tepat harus mempertimbangkan faktor resiko,
pencapaian ekologis, antara lain:
• Lokasi terlindung dari terpaan angin dan gelombang yang besar untuk menghindari
kerusakan fisik rumput laut.
• Dasar perairan yang baik bagi pertumbuhan rumput laut (Kappaphycus sp.) adalah potongan
karang mati bercampur dengan pasir karang.
• Kedalaman berkisar antara 30-50 cm pada surut terendah, agar tidak mengalami kekeringan
karena terkena sinar matahari secara langsung.
• Salinitas perairan berkisar antara 28-34 ppt dengan nilai optimum 32 ppt.
• Suhu perairan berkisar 27-30°C.
• Kecerahan dengan angka transparansi sekitar 1,5 m.
• Kisaran pH antara 6-9. Nilai optimal diharapkan pada kisaran 7,5-8,0.
• Kecepatan arus yang dianggap baik berkisar antara 20-40 cm/detik prasarana transportasi.

Pengadaan dan Pemilihan Bibit


Pemiiihan bibit dalam budidaya rumput laut merupakan hal yang sangat penting. Hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
* Bibit yang berupa stek dipilih dari tanaman yang segar, dapat diambil dari alam, tanaman
budidaya, atau hasil kultur jaringan.
* Bibit unggul mempunyai ciri bercabang banyak.
* Bibit sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi usaha budidaya dalam
jumlah yang memadai.