Anda di halaman 1dari 53

SISTEM ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN

SISTEM Intansi ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN Vertikal

Ada 2 yaitu : 1, Pada wilayah provinsi ( berdasarkan kewenagan pusat dalam bidang politik laur negeri, keuangan,peradilan,agam, pertahanan dan keamana. ). 2, Pada wilayah kabupaten ayau kota. System Kepegawaian Daerah ada 3 sistem pengelolaan kepegawaian : 1, Integrated system ( manajemen kepegawain ditentukan pusat ), 2. Separated system ( dilaksanakan masing masing daerah ), 3. Unified system ( lembaga di tingkat nasional yang khusus dibentuk untuk keperluan Kepegawaian Formasi Formasi PNS terdiri negeri terdiri dan : Formasi Pemerintah No 5 tahun 1974 PNS : PNS, anggota Perekrutan pusat dan Dan pasal dan dan Formasi PNS TNI, dan tersebut. POLRI Pegawai daerah

Kewenangan UU kehidupan dalam Homes Dasar antara satuan pendistribusian berdasarkan arti

Distribusinya (1) :

Kewenangan pemerintah umum, Kristiandi (1992), kewenagan ini meliputi pengsaturan politik,social,ketertiban,pertahanan luas,seperti pelayanan kesehatan,pos keamanan. telekomunikasi. (1991) kewenangan pada berdasarkan wilayah dan antara basis pusat dan daerah ( terdiri dari 2 : ) Kewenangan diluar kewenagan pemerintahan umum,meliputi penyediaan pelayanan masyarakat

kewilayahan basis

teitorial

fugsional. pemerintahan local.

Pada basis territorial kewenagan untuk menyelengarakan urusan urusan local distribusikan Pada basis fugsional kewenagan untuk menyelenggarakan urusan urusan local

didistribusikan antara kementrian ementrian pusat yang bersifat khusus dan egen egen yang berada diluar knator pusat sebagai pelaksana kebijakan darinya.

HOMES IV (1991) Dasar pendistribusaian kewenagan antara pusat dan daerah terri dari dua pendekatan. satuan Berdasrkan wilayah pada basis dan kewilayahan pemerintah ( teritorial) local.

Pada basis territorial kewenagan untuk menyelengarakan urusan local didistribusikan diantara Pada basis fungsional kewenagan untuk menyelenggarakan urusan local didistribusikan antara kementrian pusat yang bersifat khusus dan again- agenya yang berada diluar kantor pusatnya sebagai pusat pelaksasnaan kebijakan darinya. Empat variasi pengendalian penyelengaraan pemerintahan yang bersifat local : Penyerahan Penyerahan Open Manusia Wilayah wewenag pemerintahan Ultra end arrangement pemerintah wewenag pemerintah Organisasi Hybrid Hybrird Anta pusat Materi yang yang pusat kedaerah diserahi diserahi dilakukan dengan kepada daerah terdira ( super intenal subsidi ) visi organisasi atas :

wewenag. wewenag. wewenag. cara :

vires atau pusat genersi :

dokrin. kompeten.

Kewenagan

Kewenagan Urusan wajib Pelayanan Pelayanan Pelayanan

Politik Pertahanan Yustisi Moneter ( dan Agama provinsi Perencanaan Perencanaan, Penyelengaraan Penyedian Penaganan dan dan pengawasn ketertipan sarana dan umum dan

luar dan peradilan fisikal

negeri. keamanan. ). nasional.

kabupaten/ pengendalian pemanfaatan dan

kota

pembangunan. tata ruang. masyrakat. umum. kesehatan.

ketentraman prasarana

bidang

Penyelengaraan bidang pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. Penaggulanga Fasilitasi masalah social koperasi,usaha lintas kecil da kabupaten. menegah. hidup. pertahanan. dan uum penanaman dsar yang diamankan presiden sebagi oleh kepala peraturan perintah pusat capil pemerintahan. modal. lainya. uu. :

pengembangan Pengendalian

lingkungan Pelayanan kependudukan administrasi administrasi

Pelayanan lainya pusat

Kewengan Kekuasan

pemerintah

ekuasaan segai

eksekuti. legislative. kepala Negara.

Sebagai presiden sebagai

Mentri dibagi atas empat jenis : mentri,coordinator.memimpin depertemen,non depertemen,

mentri

negar

Dalam UU no.32/2004 pasal 10 ayat 3 tentang kewenagan pemerintah pusat antara lain. TUGAS sistem administrasi negara indonesia Moneter dan Politik luar negeri pertahanan Keamanan Perasilan fisikal Agama INDIVIDU

Disusun

Dedi E01107024

FAKULTAS UNIVERSITAS

ILMU

SOSIALDAN

ILMU

POLITIK TANJUNGPURA

P 2

I 0

K 09

PERKEMBAGANSIM 10 BAB PENDAHULUAN ABSTRAK Mei

DALAM

ORGANISASI 2008

BISNIS I

Sistem Informasi Managemen (SIM) merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang semenjak tahun 1960-an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum SIM didefinisikan sebagai sistem yang menyediakan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, managemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: Sistem Informasi, Sistem Pemrosesan Informasi, Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan Judul makalah ini mengandung tanda tanya. namun, mohon untuk tidak ditafsirkan bahwa di Indonesia tidak terdapat kegiatan penelitian yang berhubungan dengan SIM. Justru, diasumsikan bahwa kegiatan tersebut telah ada (exists) sehingga tidak ada klaim bahwa perlu melakukan perintisan bidang ini dari nol. namun, bidang ini telah berkembang secara paralel di berbagai bidang ilmu yang telah mapan seperti Ilmu Komputer, Bisnis dan Managemen, Psikologi, dan

sebagainya. Salah satu konsensus yang didapatkan, bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat dikategorikan dan sebagai ciri khusus bidang SIM : Proses Managemen, seperti Perencanaan Strategis, Pengelolaan Fungsi Sistem Informasi, seterusnya. Proses Pengembangan, seperti Managemen Proyek Pengembangan Sistem, dan seterusnya. Konsep Pengembangan, seperti Konsep Sosio-teknikal, Konsep Kualitas, dan seterusnya. Representasi, seperti Sistem Basis Data, Pengkodean Program, dan seterusnya. Sistem Eplikasi, seperti Knowledgey Management, Executivey System, dst. II BAB PEMBAHASAN A. TEKNOLOGI INFORMASI & SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Teknologi Informasi merupakan teknologi yang dibangun dengan basis utama teknologi komputer. Perkembangan teknologi komputer yang terus berlanjut membawa implikasi utama teknologi ini pada proses pengolahan data yang berujung pada informasi. Hasil keluaran dari teknologi komputer yang merupakan komponen yang lebih berguna dari sekedar tumpukan data, membuat teknologi komputer dan teknologi pendukung proses operasinya mendapat julukan baru, Teknologi 2. informasi yaitu disusun oleh yang tiga menjadi teknologi matra inti utama proses teknologi penyebaran informasi. yaitu :

1. Teknologi komputer, yang menjadi pendorong utama perkembangan teknologi informasi Teknologi telekomunikasi, informasi. informasi. 3. Muatan informasi atau content informasi, yang menjadi faktor pendorong utama implementasi teknologi Kenyataan sejarah dunia mencatat masing-masing dari ketiga matra penyusun teknologi informasi di atas, pada awalnya berkembang saling terpisah. Teknologi komputer berkembang dalam lingkup matematika dan cenderung lebih teoritis. Teknologi telekomunikasi berkembang luas dalam dunia bisnis dan ekonomi menjadi pilar pendukung teknologi transportasi dalam revolusi industri. Sedangkan ilmu informasi muncul pada awal perang dunia II. Kemenangan dan kekalahan sebuah pasukan di medan perang dunia II ditentukan oleh akurasi informasi. Setelah itu, konsep ilmu informasi berkembang pesat.

B. storage, 1. Kerangka

AKTIVITAS dan Kerja

SISTEM

INFORMASI control. Informasi Manajemen

Aktivitas proses pengolahan informasi pada dasarnya terbagi atas aktivitas input, proses, output, Sistem

Sistem informasi manajemen berhubungan dengan banyak teknologi yang kompleks, behavioral concept, dan aplikasi khusus pada area bisnis dan non bisnis yang tidak terhitung banyaknya. Kerangka Kerja Kerja Concepts Procesess Business Management Information Sistem Informasi (pengembangan Manajemen, konsep sistem sistem meliputi : Foundation Development (Membuat informasi) informasi) Aplications Challenges Technologies

Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkatnya dengan munculnya peraturan dari pemerintah. Lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama dengan munculnya masalah manajemen dengan munculnya pemecahan yang memadai. Sistem informasi manajemen SIM bukan sistem informasi keseluruhan, karena tidak semua informasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu 1. ada Manfaat di SIM luar Dalam sistem Organisasi komputer. Bisnis

Pengembangan SIM memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat. Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan

batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan yang baik tidak akan ada tanpa dan bantuan kemampuan pemrosesan uang. komputer. Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM Prinsip utama perancangan SIM : SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika. C. Sistem manajemen, 1. PERANAN informasi Mendukung Mendukung Mendukung sementara Peranan yang SISTEM 3 tugas INFORMASI utama dalam kegiatan-kegiatan pengambilan persaingan lainnya menjalankan Bisnis keputusan keuntungan berbagai Dan macam DALAM sebuah organisasi, BISNIS yaitu: mempunyai

usaha/operasional manajemen strategis fungsi.

Beberapa sistem informasi dapat diklasifikasikan sebagai sistem informasi operasi atau Proses Operasional

Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta produktivitas kantor secara efisien. a. Transaction Processing Systems (TPS) TPS berkembang dari sistem informasi manual untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik (electronic data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan/inventori. TPS menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan, kuitansi b. penjualan, order pembelian, formulir pajak, dan Systems rekening keuangan. (PCS) Process Control

Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara otomatis dibuat

oleh komputer. Kilang minyak petroleum dan assembly lines dari pabrik-pabrik yang otomatis menggunakan c. Office sistem Automation Systems ini. (OAS)

OAS mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik. 2. manajemen. reporting decision ( electronic Peranan Sistem systems support sistem ini ( systems terdiri mail, teleconferencing, Pengambilan atas sistem (sistem informasi beberapa pelaporan pendukung tipe, dan lain-lain. Keputusan yaitu: informasi). keputusan). eksekutif)

Sistem Informasi Manajemen menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan a. Laporan spesifikasi dan rencana awal untuk para manajer dikerjakan oleh information b. Dukungan ad hoc dan interaktif untuk pengambilan keputusan oleh manajer dikerjakan oleh c. Informasi kritikal untuk manajemen atas ditetapkan oleh executive information systems d. Nasehat pakar untuk pengambilan keputusan operasional atau manajerial ditetapkan oleh expert systems (sistem pakar) dan knowledge-based information systems (sistem informasi berbasis ditetapkan function strategic oleh end pengetahuan user information information computing lainnya). systems. systems. systems. e. Dukungan langsung dan terus untuk aplikasi operasional dan manajerial dari end users f. Aplikasi operasional dan manajerial dalam mendukung fungsi bisnis ditetapkan oleh business g. Produk dan layanan jasa yang bersaing untuk mencapai keuntungan strategis ditetapkan oleh Dalam dunia kerja nyata, sistem informasi yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai macam sistem informasi yang telah disebutkan di atas. Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau fungsi-silang. cross-functional sistem informasi yang 3. Peranan menjalankan Persaingan berbagai Keuntungan fungsi. Strategis

Sistem informasi dapat memainkan peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika

perusahaan itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa : Persaingan dari Ancaman Kekuatan Kekuatan para pesaing yang dari dari tawar-menawar tawar-menawar dari berada di produk konsumen, dari industri yang sama, baru, pengganti, dan pemasok. Ancaman perusahaan

Beberapa strategi bersaing yang dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah: Cost leadership. keunggulan biaya-menjadi produsen produk atau jasa dengan biaya rendah. Product differentiation. perbedaan produk-mengembangkan cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang berbeda dengan pesaing. Innovation-menemukan cara baru untuk menjalankan usaha, termasuk di dalamnya pengembangan produk baru dan cara baru dalam memproduksi atau mendistribusi produk dan jasa. 1. Manfaat 1. MANFAAT sistem informasi STRATEGIS manajemen. Meningkatkan UNTUK SIM dapat Efisiensi SISTEM menolong INFORMASI untuk : Operasional perusahaan

Investasi di dalam teknologi sistem informasi dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya low-cost leadership. Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry) dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang diperlukan untuk memasuki persaingan pasar. Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan pemasok dengan cara membangun hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka. 2. Memperkenalkan Inovasi Dalam Bisnis Penggunaan ATM. automated teller machine dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun. Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen atau pemasoknya. Sebuah contoh yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi penerbangan terkomputerisasi

yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan besar. Bila sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem reservasi terkomputerisasi tersebut, maka mereka akan segan 3. untuk menggunakan sistem reservasi dari penerbangan lain. Strategis Membangun Sumber-Sumber Informasi

Teknologi sistem informasi memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi, menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users. Sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk membuat basis informasi strategis (strategic information base) yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung strategi bersaing perusahaan. Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga dalam meningkatkan operasi yang efisien dan manajemen yang efektif dari perusahaan. Sebagai contoh, banyak usaha yang menggunakan informasi berbasis komputer tentang konsumen mereka untuk membantu merancang kampanye pemasaran untuk menjual produk baru kepada konsumen. Fungsi dari sistem informasi tidak lagi hanya memproses transaksi, penyedia informasi, atau alat untuk pengambilan keputusan. Sekarang sistem informasi dapat berfungsi untuk menolong end user manajerial membangun senjata yang menggunakan teknologi sistem informasi untuk menghadapi tantangan dari persaingan yang ketat. Penggunaan yang efektif dari sistem informasi strategis menyajikan end users manajerial dengan tantangan manajerial yang besar BAB PENUTUP A. a. b. c. Kerangka a. b. c. d. Kerja Development Mendukung Mendukung Mendukung Kerja Concepts Procesess Business Management Foundation strategi Sistem proses bisnis pengambilan untuk Informasi (pengembangan (Membuat keunggulan Manajemen, konsep sistem sistem dan KESIMPULAN operasional keputusan kompetitif. meliputi : informasi) informasi) Aplications Challenges Sistem Informasi Manajemen mempunyai 3 tugas utama di dalam sebuah organisasi III

e. SIM a. b. c. yang B. baik dapat Meningkatkan Memperkenalkan Membangun tidak akan ada

Information menolong perusahaan efisiensi inovasi sumber-sumber tanpa bantuan dalam informasi kemampuan

Technologies untuk : operasional bisnis strategis komputer SARAN

Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM pemrosesan

Banyak cara yang dilakukan oleh perkembangan teknologi informasi untuk mendukung bisnis sebuah perusahaan. Selain murah, fleksibel, dan mudah, penggunaan teknologi ini telah banyak digunakan saat ini, tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai aplikasi seperti perbankan, pendidikan bahkan entertainment telah menggunakan sistem Informasi sebagai pelengkap fasilitas bagi pelanggannya. DAFTAR dalam Organisasi Publik. Yogyakarta; Gadjah Mada PUSTAKA University Press Wahyudi Kumorotomo dan Subandono Agus Margono. 1998. Sistem Informasi Manajemen G. Davis, Information Systems Conceptual Foundations :Looking Backward and Forward, Organizational and Social Perpectives on Information Technolog, R.L Baskerville et.al. (eds), 2000,61-82. R.L Baskerville and M. D. Myers, Information Sistems as A Reference Ciscipline, MIS Quarterl , 26 (1) March 2002, 1-1 http://www..student-stie-mce.ac.id http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id www.yetti.blogster.com KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang masih memberi kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah dengan judul : Sistem Informasi Manajemen dalam Organisasi Bisnis. Penyusunan makalah ini kami perbuat untuk memenuhi tugas mata kuliah pada Bidang Study Sistem Informasi Manajemen, selanjutnya pada makalah ini materi yang paling mendapat perhatian adalah bagaimana peranan kegiatan bisnis, Konsep dan sistem bisnis, Mengenal teori

dasar bisnis dan arah perkembangan teori bisnis, Mengenal peranan SIM dalam kegiatan bisnis, dan manfaat Sistem Informasi dalam bisnis. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, hal itu bukan kami sengaja, melainkan keterbatasan ilmu yang dimiliki penyusun dan referensi yang tersedia. Oleh karenanya kami membuka pintu kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga makalah ini benar-benar Kamis, Penyusun DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DA.TAR ISI ii BAB BAB A. B. 1. 2. C. 1. 2. 3. D. 1. 2. 3. A. B. Entry I. II. PENDAHULUAN PEMBAHASAN.. SIM DALAM ORGANISASI BINIS SIM.. Manajemen.. Bisnis. DALAM BISNIS.. Operasional.. Strategis SISTEM INFORMASI.. INFORMASI SISTEM Kerja SIM Proses Sistem Dalam Bisnis DAN Informasi Organisasi INFORMASI Dan Keuntungan UNTUK dalam 1 2 2 2 3 3 4 6 6 7 8 9 9 9 10 11 11 bisnis. dapat 13 di terima oleh Desember para pembaca 2007

PERANAN

TEKNOLOGI KUALITAS Kerangka Manfaat PERANAN Peranan Peranan Peranan MANFAAT Meningkatkan Memperkenalkan Membangun

INFORMASI..

SISTEM Pengambilan Persaingan efisiensi inovasi

Keputusan.

STRATEGIS

operasional. bisnis.. strategis informasi

sumber-sumber

BAB III. PENUTUP 11 KESIMPULAN. SARAN. Filed under: Makalah. Tag: SIM, oraganisasi bisnis, informasi

DAFTAR PUSTAKA. 12

Blogroll Arsip Yang Meta Monggo Masuk RSS RSS log Entri Komentar WordPress.com Tanggapannya LPJ 10 Tutorial PERANAN Ilmu BEM MITOS SIM Membuat DALAM atau STIEKOM KELIRU Lagi Layout ORGANISASI Harta? RAP Friendster BISNIS HOT friendster.com lizanda.multiply.com muslimin.zzn.com myquran myquran.com WordPress.com WordPress.org yahoo.com

asuna17 BJ Get Author Statistik Pencarian di your

di own

Tutorial Tutorial Box.net

Membuat Membuat widget lizanda and

Layout Layout share

F F anywhere!

Blog 2,599 untuk: hits

Theme:

Blix

by

Sebastian

Schmieg

Blog

pada

WordPress.com.

PERANAN

TEKNOLOGI

INFORMASI

PADA

DUNIA

KERJA

Yusuf Personal Email 1. Perkembangan 1. Teknologi teknologi informasi Informasi dan pada saat Paradigma Web : :

Arifin www.yusufarifin.net yusarifin@gmail.com Pendahuluan ini Ekonomi

Teknologi Informasi, selanjutnya disebut TI, merupakan perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi komunikasi, sehingga sering diistilahkan juga dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan masyarakat sudah menjadi program global dalam rangka mengembangkan masyarakat berbasis pengetahuan, karena teknologi informasi telah mendorong umat manusia untuk senantiasa melakukan inovasi yang timbul dari kreativitas dan pengetahuannya. Untuk skala makro inovasi yang berbasis pada kemajuan teknologi informasi, secara signifikan akan meningkatkan standar hidup masyarakat dan mendukung pada pertumbuhan ekonomi bangsa. Sebagai contoh nyata dalam konteks ekonomi mikro, sumberdaya produksi tidak lagi cukup mengandalkan komponen sistem fisik saja, dimana sistem tersebut hanya menerima masukan dari lingkungan berupa sumberdaya berupa 5M (man, money, material, method dan machine) dan melakukan proses transformasi yg bersifat materialistik serta menghasilkan keluaran berupa produk atau jasa. Akan tetapi sumberdaya produksi juga harus didukung oleh sistem manajerial yang sangat sarat dengan sumberdaya informasi, karena dalam sistem manajerial, baik input maupun outputnya sama-sama berupa informasi. Oleh karena itu sistem manajerial sering dikatakan sebagai proses transformasi terhadap informasi. Sudah barang tentu informasi yang dihasilkan melalui sistem manajerial tersebut harus memenuhi kriteria informasi yang berkualitas, karena informasi yang dihasilkan akan digunakan sebagai dasar dalam proses pengambilan keputusan, guna mengendalikan atau mengarahkan sistem fisik dalam mencapai objektifnya. Untuk menghasilkan informasi yang berkualitas tersebut, tidak mungkin dicapai tanpa dukungan teknologi informasi yang berperan mulai dari proses pengkoleksian data, pengolahan data, proses pengambilan keputusan, sampai proses diseminasi informasi. Penggunaan Teknologi informasi dalam transaksi ekonomi sudah merubah sejumlah paradigma ekonomi dan prilaku organisasi bisnis dalam melangsungkan kegiatan usahannya. Teknologi informasi mampu menembus batas wilayah, negara dan benua, memecah hambatan geografis, waktu, biaya dan struktural. Sehingga para pelaku bisnis dapat melakukan ekspansi seluasluasnya dan seakan tak terbatas. Berbagai peluang telah tercipta dan telah menjadi penggerak ekonomi secara global. Dewasa ini muncul fenomena, bahwa sebuah paradigma ekonomi baru telah lahir, Sebagian menamakannya sebagai e-economy, sementara yang lainnya lebih suka menggunakan istilah-

istilah semacam internet economy, digital economy, new economy dan lain sebagainya. Namun banyak pula yang menilai, bahwa paradigma ekonomi baru tersebut sebenarnya tidak ada, yang ada adalah The old economy with the new technology. Terlepas dari benar tidaknya adanya paradigma tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, telah banyak memberi kontribusi yang nyata dalam berbagai kehidupan manusia, termasuk 2. dalam Teknologi berbagai Informasi aktifitas ekonomi sebagai dan Komoditas dunia usaha. Stratejik

Dalam perkembangan perubahan lingkungan dunia usaha yang begitu cepat pada saat ini, telah menjadikan TI sebagai komponen vital yang dapat membantu berbagai aktifitas dunia usaha untuk tetap dapat memenuhi sasaran bisnis yang diinginkan. Bahkan pada saat ini, TI telah menjadi komoditas yang tidak dapat ditinggalkan untuk memenuhi tantangan perubahan, guna mencapai tujuan stratejik dari dunia usaha tersebut. Yang antara lain dapat meliputi internetworking antar pelaku bisnis, internetworking antar perusahaan, rekayasa proses bisnis (process business reengineering), dan pengunaan TI untuk memperoleh keuntungan kompetitif. Berbagai peluang dari TI sebagai komoditas terurama sekali terkait dengan perkembangan sistem informasi komunikasi Humanware Organiware berbasis komputer data atau Infoware berupa yang (data unsur berupa organisasi dan mengunakan 4 unsur utama, device). manusia basis manajemen. (SDM). data yaitu : Technoware terdiri dari piranti keras (hardware), piranti lunak (software) dan peralatan communication sumber daya

Keempat unsur tersebut bersinergi untuk mentransformasikan sumber-sumber data menjadi berbagai produk informasi. Namun hal ini tidak berarti bahwa TI sebagai komoditas tidak mempunyai tantangan, terutama sekali yang berkaitan dengan issue sekuritas dan pengendaliannya. Dalam penggunaanya, kualitas dan kinerja dari penggunaan TI dalam berbagai organisasi harus dikendalikan. Seperti halnya asset bisnis vital lainnya, sumber daya TI perlu diproteksi oleh sistem pengendalian yang bersifat terpadu guna menjamin kualitas dan sekuritasnya. Berbagai peluang dan tantangan akan terus terbuka bagi TI sebagai komoditas di era globalisasi, TI bersama-sama dengan sistem informasi tidak hanya berupa serangkaian teknologi yang dapat

memberikan dukungan terhadap kolaborasi kelompok dunia usaha dari sejumlah perusahaan, pengoperasian bisnis yang efisien, atau pembuatan keputusan manajerial yang effektif, melainkan TI dapat terus berkembang selaras dengan perkembangan kompetisi bisnis. Oleh karena itu, TI sebagai komoditas di era kompetitif harus dipandang sebagai komoditas stratejik yang mampu menyediakan jejaring vital yang kompetitif, mampu menjadi alat pembaharu organisasi, dan dapat dijadikan sebagai investasi yang dapat membantu perusahaan mencapai tujuan stratejik perusahaan. Sebagai komoditas, TI mempunyai peran stratejik dalam bisnis diantaranya untuk mengembangkan kualitas produk, kualitas pelayanan, dan kapabilitas proses yang mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan berupa keuntungan stratejik guna menghadapi pasar global. 3. Teknologi Informasi Pendukung Strategi Kompentitif Bisnis

Untuk mengetahui berbagai peluang dan tantangan TI sebagai komoditas di era kompetitif, maka perlu untuk memahami kaitan antara TI dan konsep strategi kompetitif. Penggunaan TI dalam organisasi bisnis dapat memainkan tiga peran utama yang dianggap penting, yaitu ; a) b) Memberikan Memberikan dukungan dukungan terhadap terhadap operasional manajerial strategis. bisnis pembuatan secara internal, dan keputusan,

c) Memberikan dukungan terhadap pencapaian objektif organisasi serta pencapaian keuntungan kompetitif Model klasik Michael Porter mengenai strategi kompentitif, suatu perusahaan akan dapat bertahan dan sukses dalam perjalanan jangka panjangnya, jika perusahaan tersebut berhasil mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai strategi untuk secara efektif mengatasi lima competitive force (tekanan kompentitif) yang dapat menajamkan struktur kompetisi dalam lingkungan a) b) d) e) Rivalitas Ancaman Daya Daya pendatang industrinya, kompetitor dalam baru tawar tawar dalam industri industri pelanggan, pemasok. yaitu dan dan pasarnya, pasarnya, dan ;

c) Ancaman yang dihadapi karena adanya produk pengganti yang dapat merebut pangsa pasar,

Dalam kaitan dengan hal tersebut, TI harus dapat memberikan dukungan penuh bagi perusahaan

agar dapat mengembangkan berbagai strategi kompetitif guna melawan kelima competitive force itu. Di bawah ini diberikan rangkuman dari berbagai strategi kompetitif yang dapat dilakukan dan bagaimana dukungan Strategi strategis teknologi informasi dalam dalam mengimplementasikannya; Biaya Kepemimpinan

Yaitu strategi untuk mengkondisikan produsen produk dan jasa agar memiliki biaya yang rendah dalam operasional bisnisnya, selain itu perusahaan dapat menemukan berbagai cara untuk membantu para pemasok atau pelanggan untuk mengurangi biaya operasional bisnisnya. Dukungan strategis TI dalam strategi ini adalah : TI harus dapat secara substansial mereduksi biaya yang digunakan dalam proses bisnis perusahaan dan mereduksi biaya produksi yang akan berdampak pada pengurangan beban biaya yang harus dikeluarkan oleh para pelanggan dan pemasok perusahaan. Contoh: Pemesanan spesifikasi produk dilakukan secara on-line di internet, Penawaran penjualan dilakukan secara on-line di internet atau lelang barang dilakukan secara on-line di internet. Strategi Diferensiasi Yaitu strategi untuk mengembangkan berbagai cara untuk melakukan diferensiasi (perbedaan) produk dan jasa dari para pesaing atau mengurangi keunggulan diferensiasi para pesaingnya. Hal ini dapat memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada produk dan jasa agar unggul dalam segmen Dukungan oleh atau startegis TI ceruk dalam perusahaan. stratregi pasar ini tertentu. adalah :

TI harus mampu memberikan fitur yang dapat membedakan produk dan jasa yang dihasilkan TI harus mampu memberikan fitur untuk mengurangi keuntungan deferensiasi yang dapat dicapai oleh kompetitor (menjadikan produk dan jasa kompetitor menjadi tidak atraktif). TI harus memberikan fitur untuk memfokuskan Strategi pada ceruk pasar yang dipilih. Inovasi Contoh : Mendesain produk spesifik untuk pelanggan secara on-line di internet. Yaitu strategi untuk menemukan berbagai cara baru untuk melakukan bisnis. Hal ini dapat melibatkan proses pengembangan berbagai produk dan jasa yang unik, atau memasuki ceruk pasar yang unik. Strategi ini dapat memberikan dampak pada perubahan kultur bisnis secara radikal atas proses bisnis, baik dalam memproduksi maupun dalam mendistribusikan produk dan

jasa Dukungan TI

yang harus

berbeda strategis mampu TI

dengan dalam produk

proses strategi dan

bisnis ini jasa yang

sebelumnya. adalah : inovatif.

membuat

TI harus mampu menciptakan perubahan radikal dalam proses bisnis yang secara dramatis dapat berdampak pada pemangkasan biaya, meningkatkan kualitas, efisiensi layanan terhadap pelanggan pelanggan serta mempersingkat on-line, penyampaian transaksi Strategi produk perbankan dan jasa ke pelanggan. dll. Cotoh : Pemesanan Tiket dan manajemen penerbangan secara on-line, sistem layanan total untuk secara secara on-line, Pertumbuhan

Yaitu strategi untuk menstimulan perusahaan agar secara signifikan memperluas kemampuan perusahaan dalam memproduksi barang dan jasa, mengembangkan ke pasar global, maupun melakukan Dukungan deversifikasi strategis TI produk dalam dan startegi jasa ini yang adalah baru. :

Penggunaan TI harus memungkinkan perusahaan untuk melakukan manajemen regional maupun manajemen bisnis global, sehingga TI mampu mendiversifikasi dan mengintegrasikan berbagai produk dan jasa lainnya. Contoh : Pemesanan barang melalui jaringan satelit global, mengembangkan pemasaran on-line di internet, membangun jaringan satelit canggih yang dapat menghubungkan terminal titik penjualan (point of sale) Strategi di sejumlah lokasi. Aliansi

Yaitu strategi untuk membangun aliansi bisnis baru dengan pelanggan, pemasok, pesaing, konsultan dan perusahaan lainnya. Hubungan aliansi ini dapat berbentuk merger, akuisisi atau kerjasama Dukungan bisnisnya, dan strategis mampu saling TI sistem dalam informasi menguntungkan. strategi inter-organisasional ini: yang

TI dapat membantu perusahaan untuk menciptakan organisasi virtual dengan berbagai patner mengembangkan terhubungkan dengan Internet, extranet, atau jejaring lainnya sehingga dapat mendukung relasi bisnis strategis dengan para konsumen, supplier, sub-kontraktor, dan lain sebagainya. Contoh : Membangun jaringan bisnis di internet baik secara B2C (Business to Costumer) maupun B2B (Business to Business). Pada intinya TI harus mampu untuk secara dramatis meningkatkan kualitas dari produk dan jasa,

mampu memberikan dukungan improvisasi yang berkelanjutan terhadap efisiensi dari proses bisnis, dan mampu untuk secara substansial memperpendek waktu yang diperlukan untuk mengembangkan, 4. Dampak memproduksi, Teknologi dan mengirim pada produk Dunia dan jasa. Usaha. Informasi

Dengan diperankannya TI pendukung strategis pada kegiatan bisnis suatu perusahaan, maka hal itu secara signifikan akan berdampak pada perubahan teknis dalam operasional bisnisnya. Secara fundamental pemberdayaan teknologi informasi pada kegiatan dunia usaha, akan mengakibatkan dunia usaha mengalami pergeseran paradigma struktur pasar, lokasi pasar, organisasi bisnis dan proses bisnis. Pergeseran tersebut diantaranya adalah ; Bergesernya paradigma dunia usaha yang semula menganut konsep Marketplace yaitu proses bisnis yang berorientasi pada interaksi antar penjual dan pembeli secara fisik, menjadi Marketspace yaitu proses bisnis yang mengandalkan teknologi informasi sebagai media untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi bisnisnya secara online. Bergesernya paradigma dunia usaha yang semula menganut model Geografic Business model atau Location Base yaitu proses bisnis yang mempertemukan penjual dan pembeli melakukan tranformasi informasi produk dan jasa di lokasi yang sama, menjadi Global Business Model atau Virtual Based, yaitu proses bisnis yang mengandalkan teknologi informasi sebagi media tranformasi informasi produk dan jasa secara on-line sementara penjual dan pembeli berada di lokasi yang berlainan. Bergesernya paradigma organisasi bisnis yang mengedepankan perubahan misi diantaranya sistem produksi yang bersifat customized atau sistem produksi yang berorientasi pada trend pasar, mengintergrasikan seluruh sistem bisnisnya pada fungsional manajemen berbasis TI. Secara otomatis hal ini menuntut akselerasi peningkatan kompetensi, komitmen, kreatifitas dan fleksibilitas seluruh karyawan dalam beradaptasi perubahan lingkungan organisasi bisnisnya. Bergesernya paradigma proses bisnis yang mengarah pada: o Akselerasi direct marketing, dimana promosi harus dilakukan secara interaktif, on-line dan real time. Sehingga pihak perusahaan dapat lebih mendekatkan diri lagi dengan pelanggannya. o Perluasan saluran distribusi produk dan jasa, baik melaui transfer digital secara on-line, maupun pengiriman produk secara fisik melalui mitra kerja antar perusahaan. Sehingga perusahaan secara otomatis berpeluang untuk memperluas pangsa pasarnya.

o Efisiensi dalam proses transaksi dan efektif dalam pelayanan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pemanfaatan TI dalam transaksi bisnis akan mampu mereduksi berbagai biaya, diantaranya biaya promosi dan biaya koordinasi (manajemen) melalui pola paperless (distribusi data kepada 5. dan pelanggan informasi dengan lebih dilakukan komunikatif, secara variatif dan elektronik). eksklusif. Kesimpulan o Inovasi dalam produk dan jasa, karena dengan bantuan TI produk dan jasa dapat disampaikan

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, telah banyak memberi kontribusi yang nyata dalam berbagai kehidupan manusia, termasuk dalam berbagai aktifitas ekonomi dan dunia usaha. Perkembangan perubahan lingkungan dunia usaha yang begitu cepat pada saat ini, telah menjadikan TI sebagai komponen vital yang dapat membantu berbagai aktifitas dunia usaha untuk tetap dapat memenuhi sasaran bisnis yang diinginkan, bahkan TI telah menjadi komoditas guna mencapai tujuan stratejik dari dunia usaha. Namun hal ini tidak berarti bahwa TI sebagai komoditas tidak mempunyai tantangan, terutama sekali yang berkaitan dengan issue sekuritas dan pengendaliannya. Oleh karena itu Dalam penggunaanya, kualitas dan kinerja dari penggunaan TI dalam organisasi harus dikendalikan. Seperti halnya asset bisnis vital lainnya, sumber daya TI perlu diproteksi oleh sistem pengendalian yang bersifat terpadu guna menjamin kualitas dan sekuritasnya. Faktor penggerak pada pertumbuhan dunia ekonomi telah berubah, yaitu dari upaya memproduksi jumlah berubah menjadi upaya meningkatkan nilai bagi pelanggan yang diyakini dapat memaksimalkan keberhasilah perusahaan dalam mengelola bisnisnya. Secara fundamental peranan teknologi informasi pada dunia usaha akan mengakibatkan dunia usaha mengalami pergeseran paradigma struktur pasar, lokasi pasar, organisasi bisnis dan proses bisnis. ================== ***** ==================== Yusuf Arifin, Dosen KOPERTIS Wil.IV dpk UNPAS, Dosen Program Sarjana dan Program Pasca Sarjana Magister Manajemen FE-UNPAS, Alumni Pasca Sarjana Program Magister Manajemen UNPAD (Cumlaude), Wakil Sekretaris Asosiasi Perguruan tinggi Swata Indonesia (APTISI) Wilayah IV Jabar-Banten, Sekretaris Asosiasi Perguruan tinggi Informatika dan

Komputer Daftar Company, River,N.J Hall, :Prentice

(APTIKOM)

Jabar. Pustaka Inc.

1. James OBrain [2005], Introduction to Information System 12th edition, The McGraw-Hill 2. Laudon.K.C.Laoudon J.P [2000] Magemnet information system, 6th ed. Upper Saddle Hall International ,Inc. Inc. 3. Raymond McLeod & George Schell [2001], Management Information System 8 th, Prentice4. Richardus Eko Indrajit [2002], Konsep & Aplikasi e-Business, Andi yogyakarta. 5. ---, TEKNOLOGI INFORMASI Pilar Bangsa Indonesia bangkit, , Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia. Jakarta-2003

Napak Napak Oleh:

Tilas Tilas

Perkembangan Perkembangan Jurnalis

Bisnis Bisnis J.

Telekomunikasi Telekomunikasi Hius

Indonesia Indonesia ST

Telekomunikasi saat ini menjadi komoditas yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari lapisan masyarakat menengah ke bawah sampai ke jenjang menengah atas, telekomunikasi menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi dan hampir menjadi kebutuhan primer masyarakat. Penulis saat ini tidak akan membicarakan kebutuhan itu secara mendetail, juga tidak membahas masalah persaingan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia, karena kita akan masuk kepada ruang lingkup yang sangat luas seiring dengan beragamnya strategi bisnis yang dijalankan masing-masing perusahaan. Dalam kesempatan ini, penulis akan mengajak pembaca melihat kembali apa yang terjadi di masa lalu saat telekomunikasi masih berupa mimpi dan akhirnya diwujudkan dalam perjalanan

bisnisnya, teknologinya dan regulasinya saat telekomunikasi itu sendiri sekarang menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan. Tidak mungkin sebuah komoditi bisnis tiba-tiba muncul tanpa adanya sebuah metamorfosa rangkaian kehidupannya. Di lain kesempatan, kita akan membahas sejarah telekomunikasi menjadi pelopor diluar sisi bisnis yang akan di kita bicarakan yang sekarang. dalam Tahun 1884, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perusahaan Post-en Telegraafdienst yang perusahaan telekomunikasi Indonesia kemudian perkembangannya kita kenal dengan nama PT. Telkom. Dalam masa sebelum kemerdekaan, perusaahan ini mengalami banyak perubahan nama seiring perubahan fungsi kerja yang dikelola. Hingga sampai tahun 1965, perusaahan yang saat itu bernama PN Postel, dilebur menjadi PN Pos & Giro dan PN Telekomunikasi Tahun 1966, saat Presiden Soeharto menjabat Presiden Republik Indonesia, karena kesigapannya mengikuti arah pembangunan Indonesia, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden mendampingi Kabinet Pembangunan Pertama dan mengeluarkan UU nomor 1 tentang Penanaman Modal Asing (PMA), yang menurut penulis adalah strategi pembangunan yang sangat jitu yang menjadi titik awal perkembangan telekomunikasi di Indonesia. Sebelum Repelita dicanangkan, para pejabat Dirjen Postel sebenarnya sudah mengusulkan kepada Pemerintah agar Indonesia menjadi anggota Intelsat, yang merupakan Konsorsium Telekomunikasi Satelit Internasional yang berdiri tahun 1964. Usul ini didasari kepada Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia saat itu masih menggunakan teknologi berfrekuensi tinggi (single-side band dan shortwave) untuk menyelenggarakan telekomunikasi hingga titik terjauh dengan segala macam permasalahannya. Dengan masuknya Indonesia ke Intelsat, diharapkan Indonesia mempunyai standarisasi telekomunikasi internasional. Adalah Soehardjono, yang menjadi Direktur Jendral Pos dan Telekomunikasi yang pertama di masa Orde Baru dan Sukarno Abdulrahman selaku Direktur Pembangunan PN Telekomunikasi, yang memperjuangkan agar Indonesia menjadi anggota ITU (International Telecomunication Union) dan menjadi founding member dari Intelsat. Dengan menjadikan Telekomunikasi sebagai sarana yang sangat penting dalam menjalankan visi dan misi Orde Baru, Pemerintah menyetujui usulan tersebut meskipun saat itu Pemerintah berada dalam kondisi keuangan yang tidak stabil. Beranjak dari masalah tersebut, UU tentang Penanaman Modal Asing menjadi sebuah jawaban dari permasalah keuangan. Adalah ITT (International Telephone and Telegraph Corporation), sebuah perusahaan telekomunikasi raksasa Amerika Serikat saat itu yang menjadi perusahaan

asing pertama yang menanamkan modalnya di bidang telekomunikasi sekaligus menjadi perusahaan asing kedua setelah Freeport di Papua yang menanamkan modalnya di Indonesia. Dengan perjanjian kerja sama antara ITT dan Pemerintah Republik Indonesia diwakili Departemen Perhubungan saat itu, dimulailah babak baru perkembangan telekomunikasi di Indonesia, ITT menanamkan modalnya sebesar US$ 6,1 juta untuk membuat stasiun bumi pertama di Indonesia yang bertempat di Jatiluhur. Dalam perjanjian itu juga diatur soal kepemilikan Stasiun, pembagian keuntungan, pembayaran pajak dan hal-hal mengenai pengaturan operasional Stasiun. 29 September 1969, Stasiun diresmikan oleh Presiden dan menjadi hari bersejarah bagi pertelekomunikasian Indonesia dengan penggunaan Stasiun sebagai penyelenggara telekomunikasi internasional via Intelsat. Sesuai dengan perjanjian dan Undang Undang, ITT wajib melembagakan sebuah perusahaan sebagai penyelenggara kerjanya, maka lahirlah PT. Indonesian Satellite Corporation (Indosat) yang akan dipimpin oleh direksi yang berisi perwakilan kedua belah pihak. Sejak dioperasikannya stasiun Jatiluhur, volume pembicaraan internasional Indonesia meningkat tiap tahunnya dan menjadi sebuah pangsa pasar bisnis yang menggiurkan. Fenomena ini menjadi bumerang bagi para pejabat telekomunikasi lokal, karena pasar yang sedemikian menguntungkan itu harus dibagi dengan pihak asing sesuai dengan MoU yang telah disepakati. Secara perkembangan teknologi, Perumtel (telah berganti nama), menjadi perusahaan yang merasa paling dirugikan oleh kehadiran Indosat, karena Perumtel saat itu tidak mendapatkan bagian apa-apa dari percakapan internasional, padahal percakapan itu juga memakai jasa Perumtel yang menangani percakapan nasional. Sebagai contoh, seorang di Surabaya yang menelepon ke Belanda, harus melalui stasiun Jatiluhur (jalur nasional) sebelum akhirnya dihubungkan dengan Belanda. Sebagai Informasi tambahan, sejak 1881, sebenarnya di bawah permukaan laut Indonesia telah dibangun SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut), yang menjadi sarana Pemerintah Hindia Belanda berkomunikasi saat masih menyerang Kesultanan Aceh untuk memberitahukan perkembangan penyerangan dan meminta bantuan kepada Batavia. Sejak tahun 1966, proyek SKKL dihentikan, dan diganti dengan SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) yang menjadikan Satelit sebagai tulang punggung infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia dan mulai dioperasikan tahun 1975. Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah dengan menjadikan

Proyek SKSD menjadi Proyek Nasional dan mencatatkan Indonesia sebagai nagara kedua di dunia setelah Kanada yang memakai Satelit sebagai sarana telekomunikasinya. Tahun 1976, satelit Palapa 1 diluncurkan dari Florida. Dan mulai saat ini, telekomunikasi nasional dan internasional di Indonesia masuk ke level yang lebih baik dengan ditunjang oleh jaringan modern gelombang mikro, kabel bawah laut, dan kabel serat optik. Tahun ini juga Indonesia memenuhi syarat Interkonetivitas seperti yang diharapkan dalam CCIR dan CCITT (badan internasional yang menetapkan standar untuk Radio, telepon dan telegraf). Saat itu Indonesia mempunyai perusahaan telekomunikasi bonafit di Dunia yaitu Indosat dengan stasiun bumi di Jatiluhur yang menyelenggarakan telekomunikasi internasional, dan Perumtel dengan satelit Palapanya yang menyelenggarakan telekomunikasi nasional dan regional. Indonesia menjadi lahan subur bagi perkembangan telekomunikasi karena luas wilayahnya, pasar yang menguntungkan, serta keadaan keuangan negara Indonesia di pertengahan dasawarsa 1970an yang tengah surplus dikarenakan keuntungan dari sektor Migas. Para ilmuwan telekomunikasi indonesia, pada awal dasawarsa 1980an, melihat perkembangan telekomunikasi ini menjadi sebuah bisnis yang bagus dan akan sangat merugikan Pemerintah jika bidang ini masih dibagi hasil dengan pihak asing, maka munculah ide untuk mengakuisisi Indosat dari kepemilikan asing dengan menjadikan perusahaan itu sebagai BUMN. Maka, bermodal Kepres Nomor 52 tahun 1980, para pejabat telekomunikasi itu menjajaki kembali perjanjian dengan ITT tentang kepemilikan Indosat. Dengan alasan perjanjian itu tidak sesuai lagi dengan keadaan pembangunan yang sedang terjadi di Indonesia, pemerintah Indonesia secara resmi berniat untuk membeli Indosat dan menjadikannya BUMN. Dengan serangkaian perundingan yang alot yang juga melibatkan pemerintah Amerika Serikat, maka disetujui pembelian 100 % saham Indosat oleh Pemerintah, dan Indosat resmi menjadi BUMN dengan harga US$ 43, 6 juta dengan kurs Rupiah terhadap dolar saat itu sebesar Rp 625. George Hunter yang saat itu menjabat sebagai Managing Director Indosat mengatakan bahwa: Keputusan Pemerintah Republik Indonesia untuk membeli Indosat tidak lepas dari adanya orang-orang di Perumtel yang arogan dan tak ingin kehilangan revenue nya ke Indosat. Terlepas dari benar tidaknya anggapan itu, dalam dunia bisnis, terlebih di bidang telekomunikasi yang saat itu sedang berkembang pesat, akan sangat mudah terjadi silang pendapat dan kebijakan yang saling bersentuhan dengan kepentingan masing-masing stake holder yang bermain di dalamnya. Penjualan Indosat kepada SingTel serta kemudian kepada Qtel baru-baru ini juga

tidak lepas dari strategi bisnis yang tidak lain bertujuan agar Perusahaan dapat bertahan dan dapat meraup untung sebanyak-banyaknya. Kelahiran Perusahaan penyedia telekomunikasi di indonesia seperti PT. Excelcomindo Pratama, PT. Mobile-8 Telecom dan PT Telkomsel dan lain-lain juga ikut meramaikan persaingan dunia bisnis telekomunikasi di Indonesia yang sebenarnya telah ada sejak Indosat berdiri dan menjadi pesaing Telkom di bisnis telekomunikasi. Walaupun strategi bisnis ini sekarang tengah beralih kepada strategi permainan tarif, namun penulis yakin, masing-masing perusahaan tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan telekomunikasi Indonesia yang menjadikan kepuasan pelanggan sebagai prioritas utama dalam bisnisnya. Strategi bisnis yang dijalankan oleh sarjana telekomunikasi Indonesia pada rentang tahun 1960-1980 dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga, tidak hanya menjadi sebuah sejarah yang ditulis dalam buku, tapi juga menjadi motivasi perusahaan dalam menyediakan layanan telekomunikasi di Indonesia. Pemerintah juga hendaknya ikut serta dalam mengatur perkembangan itu, tidak hanya menjadi pengguna tanpa memiliki andil yang besar dalam kemajuan teknologi dan bisnis telekomunikasi. Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), serta pihak-pihak lain dapat ikut serta dalam membenahi permasalahan yang ada dan dapat merumuskan solusi dari ancaman dan gangguan serta kemajuan teknologi yang akan terjadi masa akan datang. Dengan informasi tentang sejarah pertelekomunikasi di Indonesia ini, penulis berharap seluruh masyarakat dapat lebih mengenal sarana yang dipakai terkait masalah perkembangan teknologi, regulasi dan permasalahan yang terjadi didalamnya. Juga diharapkan agar masyarakat juga ikut ambil bagian dalam perkembangan teknologi dan bisnis telekomunikasi dengan memanfaatkannya untuk mendirikan lapangan kerja baru bagi penduduk indonesia, terutama di Aceh, menciptakan teknologi-teknologi dan inovasi yang mendukung telekomunikasi dan membantu pemerintah dengan memberikan saran dan kritikan terhadap bidang bisnis yang menjanjikan ini. Telekomunikasi di Indonesia menjadi sebuah pasar bisnis yang menggiurkan untuk saat ini dan masa akan datang, selain jumlah penduduknya yang banyak, pola hidup masyarakat indonesia juga masyarakat Aceh sangat cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan teknologi telekomunikasi adalah teknologi yang mempunyai kompabilitas tinggi.

Kita akan melihat sepuluh tahun kedepan, seluruh masyarakat di Aceh dan di Indonesia telah dapat tersambung dengan berhasilnya penyedia layanan telekomunikasi untuk menjalankan sumpah palapa yang mempunyai cita-cita untuk menyatukan nusantara walaupun dengan filosofi dalam __________________ PEMANFAATAN Jun for sering pula masyarakat menyebutnya NewTech, begitupun dengan 15, TEKNOLOGI DALAM '08 DUNIA 2:06 BISNIS AM everyone Information & berbeda untuk berbisnis jaman teknologi modern saat ini Terakhir penulis mengambil kalimat dari Sukarno Abdulrahman yang dapat kita jadikan acuan telekomunikasi: Dalam telekomunikasi, yang penting bukanlah standarisasi, melainkan kompabilitas

Perkembangan teknologi demikian pesatnya saat ini, awam menyebutnya sebagai era HiTech Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang dengan cepatnya, kadang kita belum mengetahui sistem yang baru, sudah muncul lagi sistem yang lebih baru. Tentunya sebagai konsekuensi logis dari era globalisasi dan liberalisasi yang dipicu dan dipengaruhi oleh perubahan teknologi yang kontinyu dan sangat cepat tersebut, maka dunia bisnis dihadapkan pada suatu persaingan yang sangat tajam. Kita coba perhatikan fenomena sektor bisnis yang berada dikota kota besar di Indonesia dan para aktornya yang juga mengenal teknologi. Fakta membuktikan secara umum yang terjadi, bahwa teknologi belum bisa menjadi andalan dalam meningkatkan taraf perbaikan usaha/bisnis, dimana hal ini terjadi di berbagai sektor usaha atau bisnis yang ada. Teknologi di kalangan bisnis masih sebatas berfungsi sekedar pelengkap kerja dan bantuan komunikasi ataupun informasi. Berbagai pendapat dan pandangan, bahwa dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang murah dan tersedia dimana mana akan menurunkan biaya transaksi dalam hubungan pasar, maka dari itu berkurang pulalah dorongan untuk mengembangkan susunan kepemimpinan yang hierarkis. Dengan perkembangan internet misalnya, tidak hanya sebagai teknologi komunikasi baru, melainkan juga sebagai pelopor bentuk organisasi yang sama sekali baru dan tidak hierarki, yang tentunya sesuai dengan tuntutan perekonomian saat ini yang begitu

kompleks

dan

padat

informasi.

Boleh jadi pendapat tersebut diatas cocok dari sisi kesuksesan penerapan teknologi modern, namun pastinya di negara negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang dlsb, yang notabene transformasi teknologinya benar benar sudah masuk ke sendi sendi bisnis masyarakat, bahkan sampai ke para petani desa. Tentu lain hal dengan di Indonesia, fakta obyektif di lapangan bahwa masyarakat kita memang baru mengenal teknologi sebagai perangkat yang layak untuk di konsumsi, bukan sebagai infrastruktur dan pilar utama yang dijadikan kebutuhan dalam kelangsungan KONVENSIONAL bisnis. TANPA TEKNOLOGI

Nuansa konvensional ini bisa dirasakan dan dibuktikan dari fakta obyektif di lapangan bahwa orang Indonesia bisa menjalankan bisnisnya tanpa teknologi, kalaupun bisa beli teknologi masih sebatas untuk pelengkap kerja saja, bahkan tak jarang pula hanya untuk gagah gagahan (gaya) dan asesoris belaka, kita belum bisa menjiwai benar bahwa teknologi adalah kebutuhan dan lahan utama untuk setiap business project.

Kita ketahui bersama bahwa dunia bisnis nasional saat ini adalah dunia bisnis konvensional dan tradisional, yang nampaknya baru akan mulai masuk ke wilayah adaptasi dengan kemutakhiran teknologi. Adaptasi new technology bagi masyarakat membutuhkan prinsip, penjiwaan dan pemahaman yang cerdas, tanggap serta cepat sebagaimana kecepatan perubahan dan perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa prinsip seperti itu, masyarakat hanya akan menjadi konsumen sejati.

Entah kapan masyarakat atau mereka para konsumen itu akan benar benar menikmati new technology untuk sebuah perkembangan dari usaha / bisnis. Atau justru hanya akan terus menerus dan sekedar menikmati sebagai bagian gaya hidup belaka?. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kalangan menengah kita suka mengkonsumsi new technology, agar tidak dianggap gaptek, bahkan para eksekutif yang sudah memakai perangkat canggih itu pun tidak sepenuhnya mampu menggunakan fasilitas yang mereka punyai.

Ketika kita mencoba menelisik lebih jauh lagi, suatu kondisi yang sangat memperihatin kan juga terjadi pada perusahaan perusahaan besar di negeri ini, dimana mereka mengkonsumsi new technologi dengan perangkat canggihnya, namun sama sekali tidak bermanfaat untuk meningkatkan revenue atau pendapatan. Hal ini pula rupanya sebagai penyebab terjadinya banyak kasus yang menunjukkan bahwa belanja teknologi pada perusahaan perusahaan tersebut justru menjadi beban.

Kenyataan lain yang nampaknya memperkuat hal ini ketika kita menyaksikan berbagai instansi pemerintah, BUMN, BUMD, dll termasuk pemerintah daerah yang gemar belanja teknologi, terutama Komputer dan Internet. Justifikasi dan target penerapan teknologinya memang jelas, yaitu untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat, namun fakta membuktikan kinerja pemerintahan dari hari ke hari tidak meningkat.

Namun dengan jujur dan bangga harus kita akui bahwa ada satu dua daerah sangat berprestasi dalam kinerja dan pelayanannya kepada masyarakat. Dan itupun bukan karena penerapan new technology yang optimal, melainkan lebih pada kebijakan dan kebajikan kepemimpinan yang diterapkan kepala daerah. New Technology kemudian hanya menjadi barang konsumsi yang setelah puas dibeli lalu dimanfaatkan sesuka mereka, perkara kinerja tidak meningkat, itu menjadi . PEMANFATAN TEKNOLOGI YANG REALISTIS urusan di luar teknologi.

Dari sekian ratus juta masyarakat Indonesia termasuk didalamnya kalangan pelaku bisnis, yang sudah mengenal, menggunakan serta menguasai new technology, persentasenya masih cukup kecil. Boleh jadi hanya 10% saja, mungkin paling banter seputaran 10% sampai dengan 15%. Kita bisa melihat contoh yang realistis dalam masyarakat dan sektor pertanian Indonesia, sudah sampai sejauh mana sentuhan teknologi didalamnya.

Di setiap desa dan perkampungan, kegiatan ekonomi tani sudah berlangsung sejak zaman baheula. Tapi wajah pertanian tanpa sandingan teknologi tepat guna niscaya hanyalah fenomena

keterpurukan dan kemiskinan yang kita saksikan, itulah sektor riil Indonesia, termasuk sektor maritim dan sektor sektor lainnya, yang konon para intelektual dan pemangku kebijakannya sudah mengenal teknologi. Itu semua masih dalam impian saja.

Untuk menjadikan teknologi bukan sekedar alat, atau bahkan memperalat kehidupan manusia, seyogyanya kita harus menyadari hubungan antara manusia dan teknologi itu sendiri. Para ahli teknologi meyakini bahwa teknologi tidak bisa dilihat sebagai entitas yang terpisah dari realitas hidup manusia. Teknologi bisa ada dalam tubuh manusia (teknologi pangan, teknologi kedokteran dll), teknologi bisa berada di lingkungan kita (telepon, faksimil, komputer, satelit dll), bahkan teknologi bisa menjadi ruangan/tempat yang nyaman dan sejuk (ruangan ber-AC), inilah relasi mutual sebagai realitas yang ada.

Suatu kenyataan yang juga harus kita lihat secara jeli, bahwa sains, teknologi dan kultur sudah bercampur aduk dalam kesatuan entitas, dan berdasarkan hal tersebut kemudian kondisi obyektif ini merekomendasikan pelaku bisnis di era teknologi modern ini harus mampu menangkap esensi hubungan. Tanpa kemampuan dan kejernihan melihat realitas ini, niscaya perkembangan bisnis baik gerak perusahaan maupun gerak kepemimpinan dan inisiatif tidak akan mencapai sasaran yang diharapkan, paling hanya akan berjalan tanpa arah tujuan yang jelas.

Maka dalam konteks inilah pentingnya kita bicara realistis dan rasional dalam berbisnis di era globalisasi, liberalisasi dan teknologi saat ini. Yang terpenting, bahwa pencapaian bisnis tidak sekedar butuh pemahaman hitungan dagang secara konvensional semata, melainkan harus juga menghitung target pembukaan/penetrasi pasar baru di hutan belantara era hiperkonsumerisme ini. Kemudian teknologi diterapkan bukan hanya untuk komunikasi dan informasi belaka, melainkan sebagai main infrastructure untuk mencari peluang pasar baru (new market). Yang tidak kalah pentingnya, bahwa belanja teknologi mestinya harus menyadari kemampuan penerapan, optimalisasi dan target target rasional. Kecenderungan belanja teknologi sekedar untuk komunikasi sesama pegawai cukuplah dengan perangkat seluler sederhana dan murah. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah mempersiapkan marketing yang tanggap terhadap situasi pasar yang hendak dicapai, bukan sekedar marketing biasa, melainkan mereka yang benar

benar terdidik dalam memanfaatkan teknologi dan faham perkembangan media massa, baik cetak, televisi maupun online.

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian kita, bahwa teknologi, terutama internet dan telepon saat ini sudah menjadi bagian dari komunikasi global. Salah satu kelemahan para pelaku bisnis dan perusahaan-perusahaan di negeri ini adalah tidak mau berupaya untuk melebarkan sayap, membuka pasar, baik ekspor-impor maupun pelayanan jasa ke negara-negara tetangga (regional) dan ke manca negara (international) secara lebih luas lagi.

Sejak bergulirnya era kompetisi formal dunia secara terbuka di berbagai sektor bisnis dan industri, melalui sistem globalisasi dan liberalisasi beberapa tahun yang lalu, banyak pasar potensial ketika kita tidak sekedar bergerak dalam lingkup regional maupun domestik (jago kandang), pasar begitu luas dan terbuka lebar. Teknologi sangat mampu dan memungkinkan menyediakan hal itu secara murah. Kenapa wawasan dan pikiran kita masih cupet? Kenapa mental 12-Mei-2008 (Harlan Prev: Next: FLEXI PERGESERAN PARADIGMA Jogya). JUMBO KEPEMIMPINAN BONUS kita masih regional, bahkan domestik?

Pemanfaatan 21-09-2005

Pengelolaan

Informasi

dengan

Teknologi

Informasi 11:05:37

Perkembangan teknologi informasi dalam dunia usaha mengalami perkembangan pesat. Meningkatnya kebutuhan akan informasi dalam setiap aspek kehidupan manusia di tambah lagi dengan era persaingan pasar bebas semakin memicu perkembangannya. Globalisasi dunia telah membuat jaringan bisnis semakin meluas. Domain konsumen dari sebuah perusahaan tidak lagi hanya berasal dari satu region melainkan dari seluruh dunia. Hal utama yang perlu diberikan perusahaan kepada setiap pelanggannya dalam menghadapi globalisasi dunia bisnis adalah kemudahan untuk mendapatkan informasi tanpa harus terhambat oleh masalah waktu dan jarak.

Teknologi Informasi dapat menyelesaikan masalah tersebut, oleh karena itu kita mengenal sebutan teknologi tanpa batas untuk Teknologi Informasi. Persaingan bisnis yang semakin komplek memacu setiap perusahaan untuk dapat mengembangkan strategi pemasaran yang efektif dan menciptakan inovasi-inovasi produk baru yang sesuai dengan keinginan pasar. Sistem pemasaran manual dan konvensional dirasakan sudah kurang efektif lagi untuk dapat memperluas target pasar karena selain adanya keterbatasan dalam ruang dan waktu, pun membutuhkan biaya yang tinggi dengan cakupan penetrasi pasar yang terbatas secara teritorial. Efisiensi waktu dan biaya yang ditawarkan oleh Teknologi Informasi, membuat para pengusaha merasa wajib untuk menerapkannya dalam proses manajemen di perusahaan. Bagi mereka yang selalu fokus terhadap kebutuhan pelanggan, tidak akan berpikir dua kali untuk menerapkan Teknologi Informasi dalam proses kerjanya. Globalisasi dunia bisnis menuntut perusahaan untuk dapat mengelola informasi dengan baik, sehingga kebutuhan informasi masingmasing pihak yang berkepentingan (bukan hanya konsumen) dapat terpenuhi dengan cepat dan tepat. Teknologi Informasi dapat mengotomatisasi proses pengelolaan informasi dari mulai memasukkan informasi, menyimpan, dan memperbaruinya setiap saat sehingga setiap orang bisa mendapatkan informasi terbaru dan melakukan analisis dengan mudah. Oleh karena itu proses penyampaian pesan, informasi, maupun pengetahuan dapat lebih cepat, mudah, dan dijamin up to date. Kehadiran teknologi internet menawarkan kemudahan bagi perusahaan dalam mengembangkan pasar dan memperkenalkan produk kepada masyarakat. Teknologi lnternet menciptakan dunia maya tanpa batas territorial, ruang, dan waktu. Kejelian perusahaan untuk memanfaatkan dunia maya sebagai sistem pemasaran modern mendapat respon positif dari masyarakat terlihat dari perkembangan pengguna internet yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Keberhasilan dalam memenangkan persaingan di pasar tergantung dari strategi pemasaran, informasi yang diberikan, dan sosialisasi kepada masyarakat.

1. Konsep keunggulan kompetitif dalam operasional perusahaan


Dalam mengimplementasikan konsep e-business, terlihat jelas bahwa meraih keunggulan kompetitif (competitive advantage) jauh lebih mudah dibandingkan mempertahankannya. Secara teoritis hal tersebut dapat dijelaskan karena adanya karakteristik sebagai berikut:

Pada level operasional, yang terjadi dalam e-business adalah restrukturisasi dan redistribusi dari bit-bit digital (digital management), sehingga mudah sekali bagi perusahaan untuk meniru model bisnis dari perusahaan lain yang telah sukses; Berbeda dengan bisnis konvensional dimana biasanya sebuah kantor beroperasi 8 jam sehari, di dalam e-business (internet), perusahaan harus mampu melayani pelanggan selama 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, karena jika tidak maka dengan mudah kompetitor akan mudah menyaingi perusahaan terkait; Berjuta-juta individu (pelanggan) dapat berinteraksi dengan berjuta-juta perusahaan yang terkoneksi di internet, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk pindah-pindah perusahaan dengan biaya yang sangat murah (rendahnya switching cost); Fenomena jejaring (internetworking) memaksa perusahaan untuk bekerja sama dengan berbagai mitra bisnis untuk dapat menawarkan produk atau jasa secara kompetitif, sehingga kontrol kualitas, harga, dan kecepatan penciptaan sebuah produk atau jasa kerap sangat ditentukan oleh faktor-faktor luar yang tidak berada di dalam kontrol perusahaan; dan Mekanisme perdagangan terbuka dan pasar bebas (serta teori perfect competition) secara tidak langsung telah terjadi di dunia internet, sehingga seluruh dampak atau dalil-dalil sehubungan dengan kondisi market semacam itu berlaku terjadi di dunia maya. Melihat kenyataan di atas, perusahaan harus memiliki kriteria-kriteria (critical success factors) dan ukuran-ukuran (performance indicators) yang dapat dijadikan sebagai barometer sukses tidaknya perusahaan dalam memiliki dan mempertahankan keunggulun kompetitif tertentu. Beberapa teori keunggulan kompetitif di dunia maya menganjurkan agar paling tidak 7 (tujuh) aspek harus menjadi perhatian dari sebuah perusahaan, yaitu masing-masing: 1. 2. 3. 4. 5. Fulfillment Customer Service Price Quality Time Agility

6. 7. Market Reach

Time

to

Market

Kondisi ketujuh aspek tersebut akan sangat menentukan posisi perusahaan di dalam kancah persaingan di dunia maya. e-Business Leadership Perusahaan dikatakan memiliki keungguluan kompetitif jika sanggup menjadi pemimpin (penguasa market share) dibandingkan dengan pesaing lainnya di industri yang relatif sama. Ditinjau dari aspek kepada pelanggan, perusahaan berhasil menciptakan sebuah pendekatan baru dan unik di dalam mengelola komunikasi dan interaksi dengan pelanggannya. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mendapatkan sebuah suasana yang kerap diistilahkan dengan customer intimacy; jalinan keakraban antara pelanggan dengan perusahaan sehingga mereka selalu loyal dengan perusahaan tersebut. Pada kondisi ini pun perusahaan berhasil menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan perusahaan lain, tanpa mengorbankan kualitas dan pelayanan kepada pelanggan. Situasi ini akan berhasil dipertahankan oleh perusahaan jika yang bersangkutan memiliki mitra-mitra bisnis yang efisien dalam pengelolaan rantai nilai (value chain) untuk masing-masing proses terkait. Maka tidak heran jika konsep CRM (CustomerRelationship Management) sedang menjadi primadona saat ini. Disamping itu, kecepatan penciptaan produk baru (time to market) dan kecepatan pengirimannya ke tangan pelanggan juga menjadi kriteria utama yang menjadi bahan pertimbangan posisi perusahaan di dunia persaingan. Semakin cepat pelanggan dapat memperoleh produk pesanannya, semakin baik. Dan tentu saja perusahaan akan berhasil mencapai kondisi ini jika manajemen rantai pasokannya (Supply Chain Management) terkelola secara optimal. Karena di dalam e-business informasi merupakan bahan baku produksi yang sangat penting, maka konsep JIT (Just-In Time) sering diberlakukan terhadap sumber daya informasi ini. Faktor lainnya yang menentukan keunggulan kompetitif sebuah perusahaan adalah kemampuannya dalam menjangkau pasar dan pelanggan dari berbagai segmen yang ada (demografis dan geografis). Di sinilah internet dan teknologi informasi memberikan peranan yang sangat besar. e-Business Stagnation Kebalikan dengan perusahaan e-business yang berhasil menjadi market leader, gagal mendapatkan keunggulan kompetitif akan berakibat terancamnya keberadaan perusahaan di dalam arena persaingan. Perusahaan yang tidak berhasil mencari strategi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif ini biasanya akan berada dalam posisi stagnasi, yang tentu saja akan sangat berbahaya jika tetap dibiarkan. Ciri-ciri perusahaan yang berada di dalam situasi ini berawal dari semakin kecilnya market share yang dikuasai karena banyaknya pelanggan yang perlahan-lahan meninggalkan perusahaan. Menurunnya kuantitas pelanggan ini terkadang belum tentu disebabkan karena gagalnya perusahaan dalam meningkatkan kinerja usahanya, namun dapat juga karena adanya faktor eksternal, seperti persaingan yang sangat ketat. Sering pula terjadi situasi dimana kualitas produk yang baik tidak disertai dengan pelayanan yang baik menyebabkan buruknya persepsi dari pelanggan terhadap perusahaan (yang artinya mengurangi bahkanmeniadakan keuggulan kompetitif yang dicoba diraih).

Dari segi total biaya produksi yang berdampak langsung kepada penentuan harga produk dan jasa, biasanya perusahaan mengalami kesulitan karena adanya fenomena cost transparency. Dengan terbukanya berbagai jenis informasi bagi semua orang di internet, pelanggan dapat dengan mudah membandingkan harga produk atau jasa yang sama dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Dengan kata lain, sangat sulit bagi sebuah perusahaan dalam menentukan harga yang kompetitif (sangat sulit untuk mendapatkan margin keuntungan yang tinggi). Demikian pula dari segi penciptaan produk baru dan pengirimannya ke pihak pelanggan. Pada keadaan stagnasi, durasi penciptaan produk baru dan pengirimannya biasanya standar, dalam arti kata sama dengan perusahaan-perusahaan sejenis lainnya, sehingga dipandang dari sudut pelanggan, perusahaan yang bersangkutan tidak memiliki hal yang istimewa. Seringkali perusahaan e-business yang berada pada kondisi ini digambarkan dengan entiti yang hidup segan, mati tak hendak.Diperlukan perubahan yang sangat mendasar dari manajemen puncak untuk dapat membawa kembali perusahaan ke arena persaingan yang kompetitif (misalnya dengan cara mengadakan program Business Process Reengineering). e-Business Followership Jika di satu titik ekstrem terdapat perusahaan e-business yang berhasil menjadi leader sementara di titik ekstrem lainnya terdapat perusahaan e-business yang terancam bangkrut, terdapat banyak sekali perusahaan (mayoritas) yang berada pada situasi nanggung, artinya yang bersangkutan menempatkan diri sebagai pengikut dari mereka yang berhasil (follower). Walaupun perusahaan yang berada di dalam posisi ini tidak memiliki banyak keunggulan kompetitif seperti halnya perusahaan leader, namun kualitas produk dan pelayanannya berada di atas rata-rata yang diharapkan oleh pelanggan. Perusahaan dalam kategori ini biasanya memiliki produk dengan kualitas yang sudah baik (memenuhi standar minimum), namun di mata pelanggan kualitasnya dipandang lebih karena perusahaan memiliki mekanisme pelayanan yang baik (sehingga pelanggan merasa terpuaskan). Dari sergi harga produk dan jasa pun perusahaan berhasil menekan total biaya produksi karena tingginya tingkat efisiensi yang dicapai (karena memanfaatkan teknologi informasi). Perusahaan juga secara sederhana telah menerapkan konsep knowledge management yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki durasi penciptaan produk baru dan pengirimannya ke tangan pelanggan. Perusahaan yang memiliki keungguluan kompetitif yang netral ini biasanya tidak berambisi untuk menguasai pasar, tetapi cukup untuk tetap amanbertahan di arena persaingan, dan memiliki pelanggan tetap (captive market) yang melakukan transaksi secara kontinyu. Targetnya adalah secara perlahan (gradual) perusahaan berhasil meningkatkan frekuensi dan volume transaksi jual belinya.

Dunia penerbangan Indonesia salah satu sektor yang penuh misteri


Tanggal 25 Januari 2011 nanti, maskapai Garuda hendak menjual saham perdananya kepada publik. Istilah lainnya IPO (Initial Public Offer). Hal ini berarti jika di atas kertas, secara akuntanbilitas, salah satu perusahaan penerbangan BUMN itu berada dalam keadaan sehat. Sebab sesuai dengan aturan Pasar Modal, hanya perusahaan sehat yang diizinkan

oleh Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam LK) untuk go public. Jika IPO ini berhasil, maskapai Garuda diperkirakan akan meraup dana segar dari penjualan tiket pesawat sekitar Rp9 triliun, jika asumsi yang dipakai tepat, yaitu jumlah saham yang dilepas tidak kurang dari 9 miliar sementara harga per lembar saham dalam kisaran Rp900-1,100. Kondisi sehat Garuda ini cukup mengherankan publik, sebab publik tidak pernah diberikan informasi, kapan dan semenjak tahun berapa Garuda sudah berstatus sehat. Semoga saja pengalaman perusahaan pesawat terbang milik pemerintah yang digo publickan rezim Orde Baru, tidak terulang kembali. Perusahaan itu akhirnya mengalami kebangkrutan, padahal ketika IPO antara lain disebutkan, hasil penjualan saham itu akan dipergunakan untuk membuat pesawat terbang. Maskapai Garuda selama beberapa tahun ini kerap selalu disebut salah satu BUMN yang merugi terus.Padahal penjualan tiket secara booking online Garuda terus meningkat. Sehingga ketika terdengar berita Garuda akan IPO, munculah sebuah pertanyaan, sejak kapan Garuda membuat keuntungan? Karena tidak ingin mengganggu IPO dan proses revitalisasi perusahaan milik negara itu, maka rencana go public Garuda ini didukung dan diaminkan saja. Di satu sisi, Maskapai Merpati Nusantara Airlines, anak perusahaan Garuda, hingga sejak saat ini tidak ada kabar (baik) terbarunya. Semenjak home base-nya dipindahkan dari Jakarta ke Makassar, hanya berita perpindahannya saja yang sempat terdengar. Selebihnya tak terdengar kecuali selentingan berita yang sulit dikonfirmasi bahwa perkembangan BUMN itu juga tidak sesuai harapan. Konon, sejak Jusuf Kalla tidak menjabat lagi sebagai Wakil Presiden Oktober 2009, berhenti pula program restrukturisasi dan revitalisasi Merpati. Mengingat pemindahan home base Merpati ke kampung halaman Jusuf Kalla tidak lepas dari pengaruh JK sebagai orang nomor dua di Indonesia pada saat itu. Ceritera lain datang dari Mandala Airlines. Perusahaan yang didirikan oleh TNI-AD itu, pekan ini mengibarkan bendera putih, tanda tidak mampu lagi menghadapi peperangan atau persaingan di bisnis penerbangan era baru ini. Mandala Airlines resmi menghentikan pengoperasiannya sejak tanggal 13 Januari 2011. Sebelumnya kepada Pengadilan Negeri, Jakarta, Mandala sudah mengajukan permintaan bangkrut. Setelah disetujui, barulah penghentian operasi itu dia lakukan. Kalau Garuda, Merpati dan Mandala yang sudah berdiri lebih dari tiga puluh tahun mempunyai ceritera kesulitannya, lain lagi dengan cerita Lion Air dan Air Asia, dua perusahaan penerbangan swasta yang didirikan pasca krisis moneter 1998. Penerbangan swasta ini, sejak awal didirikan lebih banyak mengungkapkan cerita

keberhasilannya. Pengelola Lion Air dan Air Asia lebih mengedepankan jargon kerja keras. Sedangkan Garuda, Merpati dan Mandala lebih menonjolkan kekuasaan, dominasi dan proteksi. Dua paradigma yang saling bertolak belakang tetapi samasama digunakan di industri yang sejenis. Lion Air misalnya yang tanpa sedikitpun bantuan kredit bank pemerintah telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Boeing, pabrikan pesawat terbang komersil. Sehingga Lion Air bisa mengoperasikan belasan pesawat baru. Bandingkan Garuda yang untuk menyewa pesawat saja, negosiasinya memakan waktu bertahun-tahun. Lion Air juga pelopor penjualan tiket pesawat dengan harga tiket yang terjangkau oleh masyarakat kelas menengah. Selain sukses bekerja sama dengan Boeing, Lion juga melakukan terobosan baru. Lion akan menjadikan bandara Sam Ratulangi, Manado, sebagai home base nya. Untuk keperluan itu, Lion air telah membangun hanggar pesawatnya di bandara Sam Ratulangi, selain juga memperpanjang landasan pacunya. Sementara Air Asia milik Tony Fernandes, pengusaha Malaysia, sukses mengakusisi, AW Air, perusahaan swasta nasional Indonesia yang didirikan ketika Abdurahman Wahid (AW) baru saja menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia. Perbandingan Garuda dan Merpati terhadap Lion Air dan Air Asia, tidak akan terjadi andaikata pekan ini tidak muncul berita penghentian operasi oleh Mandala Airlines. Sebab sesungguhnya penghentian operasi Mandala merupakan sebuah tragedi besar dalam industri penerbangan nasional. Sekalipun Mandala sudah berubah kepemilikannya, yaitu menjadi swasta penuh, tetapi secara historis terdapat sejumlah uang rakyat dan pemerintah di dalamnya. Yaitu ketika Mandala dimodali dana TNI sehingga penghentian operasi tersebut secara matematika keuangan, menciptakan kerugian yang besar bagi rakyat dan negara. Kejadian ini juga sekaligus menunjukkan betapa buruk dan amburadulnya manajemen dunia penerbangan nasioinal. Bukankah perubahan status kepemilikan Mandala baru saja terjadi? Selain didera manajemen yang amburadul, pengelola penerbangan tidak memiliki visi seperti Singapura. Negara tetangga ini telah mampu membius konsumennya untuk loyal kepada Singapore Airlines (SQ). Uniknya lagi mayoritas konsumennya berasal dari masyarakat Indonesia. Dengan kata lain Singapore Airlines mampu meyakinkan orang Indonesia untuk membangun armada SQ dan bukan GA (Garuda) apalagi yang punya call sign MZ (Merpati). Beginilah balada penerbangan nasional kita....sungguh ironis. berita lainnya :

Inilah Cara "Refund" Tiket Mandala Eropa Lumpuh Karena Badai Salju Perampokan kantor Batavia air di kota Banjarmasin Pembentukan tim pemantau tarif tiket pesawat oleh Kemenhub Garuda airline tunda jadwal penerbangan ke Jawa Tengah Harga tiket pesawat terus melonjak hingga lebaran Penumpang di medan Khawatir akan tiket Palsu (30/12/2010)

Reservasi dapat dilakukan dengan mengirimkan permintaan anda pada kolom komentar di bawah ini. 0 komentar Link ke posting ini

Inilah cara "Refund" Tiket Pesawat Mandala


JAKARTA, KOMPAS.com Pihak manajemen Mandala Airlines saat ini telah memberlakukan tiga prosedur dalam proses pengembalian tiket pesawat, Jumat (14/1/2011). Melalui pengumuman yang ditempel di Kantor Pusat Mandala Airlines Jalan Tomang Raya Kavling 33 Jakarta Barat, para penumpang Mandala Airlines yang telanjur membeli tiket online bisa langsung menghubungi melalui e-mail cust.feedback@mandalaair.com. Dengan cara yang di berikan oleh pihak Mandala ini, penumpang memberikan data diri, menyebutkan kode booking penerbangan (PNR) yang tertera di tiket, dan nomor rekening bank lengkap dengan nama cabang bank dan nama pemiliki rekening. Selain itu, penumpang juga dapat menghubungi call center 0804 1234567 atau 0215699 70000. Adapun cara yang terakhir adalah mengisi formulir klaim refund. Formulir tersebut bisa diambil melalui petugas kantor perwakilan kota Mandala Airlines terdekat. Khusus untuk klaim refund tiket pesawat akan diproses tiga hari ke depan dan akan direspons paling cepat dalam waktu 7 hari. Refund yang diklaim di luar tanggal yang disebutkan akan direspons dalam waktu 45 hari. Penumpang yang telah memiliki tiket setelah bulan Februari akan diberi opsi untuk mempertahankan tiket nya. Namun, bila penumpang merasa tidak nyaman dipersilakan melakukan proses klaim refund tiket online. Proses refund tiket pesawat akan dilakukan melalui transfer rekening bank. (Iwan Taunuzi)

berita lainnya :

Eropa Lumpuh Karena Badai Salju Perampokan kantor Batavia air di kota Banjarmasin Pembentukan tim pemantau tarif tiket pesawat oleh Kemenhub Garuda airline tunda jadwal penerbangan ke Jawa Tengah Harga tiket pesawat terus melonjak hingga lebaran Penumpang di medan Khawatir akan tiket pesawat Palsu (30/12/2010)

Reservasi dapat dilakukan dengan mengirimkan permintaan anda pada kolom komentar di bawah ini. 0 komentar Link ke posting ini

Informasi Harga Tiket Pesawat Sriwijaya Air


Fungsi Javascript Untuk Editor Template Blogger Terganggu [Maintenance 24 Februari 2011]

Niat awal saya malam ini sebenarnya ingin kembali membenahi struktur blog saya dan sedikit menambahkan beberapa postingan tentang Informasi Harga Tiket Pesawat Sriwijaya Air, namun saat hendak menuju ke Menu Rancangan untuk memasukkan beberapa Script, ternyata saya malah menemukan Hal Ganjil di Edit HTML Template saya, yaitu Editor Template tidak bisa diedit dan tidak bisa di save sama sekali karena Fungsi Javascript untuk Editor Template dari Blogger sedang mengalami masalah dan sedang dalam Maintenance. Awalnya saya kira hanya Akun Blog saya yang mengalami masalah tersebut, namun saat saya coba LogOut dari akun blog ini dan LogIn dengan 2 akun Blog saya yang lain ke Blogger.com ternyata saya menemukan masalah serupa disemua akun saya, hingga akhirnya saya yakin Blogger memang sedang melakukan Maintenance terhadap Editor Templatenya dan mematikan sementara Fungsi Javascript untuk Button Save Template, Bersihkan Template dan Pratinjau. Kenapa saya katakan mematikan sementara? karena fungsi javascript di Button lain seperti Button Terbitkan Entri di Menu postingan dan Button lainnya berfungsi dengan baik, dan kebetulan hal seperti ini memang bukan hanya sekali ini dilakukan oleh pihak Blogger, karena tahun lalu pun saya pernah 2 kali menemukan kejadian seperti ini hhe... :D Semoga Maintenance yang dilakukan Pihak Blogger.com cepat selesai karena saya ingin cepat membenahi beberapa struktur blog ini agar peringkat di SERP meningkat....Amin Reservasi dapat dilakukan dengan mengirimkan permintaan anda pada kolom komentar di bawah ini. 0 komentar Link ke posting ini

Tiket Pesawat Murah Ryanair Tiket Pesawat Murah Ryanair, Tapi Harus Berdiri !?
Maskapai penerbangan dengan harga tiket pesawat murah Ryanair berencana mengoperasikan penerbangan di mana sebagian penumpang harus berdiri sepanjang perjalanan. Satu tiket pesawat dijual dengan harga murah meriah, hanya 5 poundsterling atau sekitar Rp 67.000,-

Kepala eksekutif Ryanair, Michael OLeary, akan mengajukan proposal area berdiri tersebut hari ini waktu setempat, Kamis, 1 Juli 2010. Area berdiri dengan kursi vertikal itu akan disediakan di bagian belakang 250 armada pesawat. Ryanair, seperti dikutip dari laman The Telegraph, juga akan mengenakan biaya 1 poundsterling atau sekitar Rp13 ribu pada tiap penumpang yang menggunakan fasilitas toilet. Kebijakan itu diharapkan bisa mendorong penumpang untuk menggunakan toilet bandara sebelum masuk pesawat.

Maskapai Irlandia ini juga akan mengusulkan toilet koin agar tiket pesawat dapat di jual dengan harga tiket pesawat murah. Perubahan lain yang sedang kami usahakan adalah melepas sepuluh deret kursi terakhir sehingga jumlah (kursi normal) menjadi 15 deret, kata OLeary. Sedangkan satu area berdiri kira-kira seluas sepuluh deret kursi. Uji coba untuk mengetes keamanannya akan dilakukan tahun lalu. Namun, juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil mengatakan bahwa rencana harga tiket pesawat murah tersebut kemungkinan besar akan berbenturan dengan syarat standar keamanan.

Sumber: http://koranbaru.com/tiket-pesawat-murah-ryanair-tapi-harus-berdiri/ Reservasi dapat dilakukan dengan mengirimkan permintaan anda pada kolom komentar di bawah ini.

okus Saatnya Menata Penerbangan Nasional Belum lama ini Menhub Hatta Radjasa, sebelum digantikan Jusman SD, tiba-tiba mengajukan pola hub and spoke untuk diterapkan dalam rute penerbangan nasional. Pola untuk penataan operasi penerbangan ini sebenarnya bukan "barang baru". Di AS, kelompok komuter telah menerapkannya sejak dasawarsa 1980-an. Di dalam negeri, seorang pemerhati penerbangan sipil sebenarnya sudah mengusulkannya sejak tahun 1990-an. Tetapi, waktu itu, usulannya ini langsung ditolak. Kini, Kementerian

Perhubungan tiba-tiba meminta segenap operator penerbangan nasional menerapkannya mulai tahun ini juga. Apa dasar pertimbangannya? Berikut telaah Angkasa. Penulis: Gatot Rahardjo Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan pada peluncuran perdana pesawat Boeing 737900ER milik Lion Air akhir April lalu di Jakarta. Pola hub and spoke, menurutnya, akan diterapkan guna memeratakan derap pembangunan hingga ke kota-kota kecil. Sejauh ini, meski sudah maju dan berkembang pesat, maskapai penerbangan berjadwal di dalam negeri terkesan hanya mau melayani kota-kota besar alias rute gemuk saja. Merujuk data 2002-2006, sayap maskapai penerbangan berjadwal dalam negeri telah menjangkau ke 77 rute. Tetapi lonjakan ini hanya berkutat di 22 kota (besar) saja. Seperti diutarakan sejumlah pihak, kebijakan pola hub and spoke tampaknya sengaja dipilih untuk mengurai persaingan yang terpusat di jalur-jalur gemuk itu. Pemerintah agaknya sudah menyadari bahwa pemberian izin rute yang hanya sekadar menuruti permintaan pasar telah membuat kota-kota di pelosok semakin tersingkir. Tentang persaingan tersebut, Dirjen Perhubungan Udara Dr Budi M. Suyitno sempat mengatakan, bahwa tak sedikit maskapai melakukannya dengan coba-coba dan menghalalkan berbagai cara. Untuk itu, pemberlakuan pola hub and spoke diharapkan akan membuat kegiatan bisnis penerbangan nasional lebih tertata efektif, efisien, dan merata ke seluruh daerah. Tetapi, akankah Menhub yang baru, Jusman SD, tertarik melanjutkan kebijakan pendahulunya? Meski Jusman telah menyatakan akan lebih memusatkan perhatian pada bidang jasa transportasi darat dan kaut, ia sepakat meneruskan rencana penataan itu. Pasalnya, sejak kran liberalisasi maskapai nasional dibuka sedasawarsa lalu, maskapai nasional telah tumbuh bak jamur di musim hujan. Sampai akhir 2006 saja, Dephub mencatat sudah lebih dari 40 maskapai kargo dan penumpang yang terdaftar. Pertumbuhan ini juga menyebabkan jumlah pesawta meningkat sampai 573 buah. Pesawat-pesawat ini amat beragam, ada yang berbadan besar, sedang, dan kecil. Sebagai dampak ikutannya, jumlah penumpang dan rute juga ikut melonjak. Dari yang semula pada 1990-an masih di bawah 10 juta orang, kini telah merengkuh lebih dari 34 juta penumpang. Sementara untuk rute, kini sudah mencapai 195 rute yang menyebar ke 101 kota. Pola hub and spoke agaknya merupakan jawaban Pemerintah untuk para kritisi yang kerap mempertanyakan minimnya keterlibatan Dephub dalam mengatur persaingan yang makin tak terkendali. Pola jejaring disiapkan Pola penataan hub and spoke sendiri sebanarnya bukanlah "barang baru" dalam dunia penerbangan. Pola ini sudah diperkenalkan dan dikembangkan kelompok komuter di Amerika Serikat sejak awal dasawarsa 1980-an. Karena mampu menumbuhkembangkan dan menata rute, serta mengedepankan kepentingan umum dan konsumen, kelompok trunks (yang selanjutnya

menamakan diri US Majors) dan kelompok locals (yang selanjutknya menamakan diri US Nasionals) ikut mengadopsinya. Perkembangan ini dipicu oleh pemberlakuan Airline Deregulation Acts pada 1978. (Angkasa, Februari 1998) Pola ini terdiri dari hub-hub yang akan berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi dan aktivitas penerbangan di suatu wilayah dan kota-kota kecil spoke di sekitarnya yang akan berhubungan langsung dengannya. Awalnya, pola juga yang biasa disebut sebagai pola Sunburst atau Cluster ini kerap dianggap tradisional. Nyatanya, pola ini justru mengantar bisnis penerbangan sipil menuju pola jaringan rute yang amat modern. Sedemikian inovatifnya, sampai-sampai penerbangan Eropa, yang biasanya alergi dengan kebijakan di AS, ikut meniru. Pada awal dasawarsa 1990-an, seorang pemerhati penerbangan sipil di dalam negeri, Capt. Cartono Soejatman, sebenarnya pernah berusaha menyakinkan pejabat Dephub bahwa pola ini amat cocok untuk membenahi keruwetan penerbangan nasional yang mirip dengan yang dialami AS pada akhir dasawarsa 1970-an dan Eropa ketika membentuk Uni Eropa pada era 1980-an. Pola ini juga bisa dijadikan wahana untuk memajukan daerah-daerah tertinggal yang banyak tersebar di seantero Nusantara. Tetapi usulan itu tak pernah diperhitungkan karena pihak Dephub lebih suka membiarkan para maskapai bertarung bebas di pasar. Beberapa bulan lalu, seiring dengan berhembusnya angin perubahan di dalam tubuh Dephub, cara pandang itu berubah. Dirjen Perhubungan Udara Dr Budi M. Suyitno, termasuk salah seorang yang memahami betapa cocoknya pola hub and spoke bagi Indonesia. Menurutnya, pola ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas maskapai, memeratakan penghasilan antar maskapai, serta membuka daerah-daerah tujuan baru. "Dengan terbukanya daerah-daerah baru itulah, perekonomian daerah diharapkan ikut tumbuh dan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional," ujarnya. Pernyataan Hatta Radjasa pun menjadi semacam lampu hijau. Ditjen Perhubungan Udara langsung menindaklanjutinya dengan menetapkan pola jejaring yang paling realistis. Sejumlah bandara besar dengan tingkat kepadatan lalulintas udara yang tinggi, serta kesiapan sarana dan prasarana yang amat memadai mulai disiapkan menjadi hub. Karena kandidat cukup banyak, Dephub akan memilahnya menjadi tiga jenis hub, yakni super hub, main hub dan small hub. Super hub atau hub paling besar kemungkinan besar akan ditempatkan di Jakarta (Bandara Soekarno Hatta). Super hub akan melayani penerbangan ke seluruh wilayah Indonesia, dari Wilayah Barat sampai ke Wilayah Timur. Maskapai yang akan menempati super hub harus mempunyai kemampuan melayani transportasi ke seluruh hub yang ada di Indonesia. Di bawah super hub ada main hub yang akan melayani wilayah-wilayah tertentu misalnya wilayah Indonesia bagian Barat, bagian Tengah, bagian Timur atau Jawa-Bali-Nusatenggara. Kandidatnya adalah Surabaya, Denpasar dan Makasar. Ada kemungkinan Jakarta juga akan difungsikan menjadi main hub, tetapi lagi-lagi khusus untuk wilayah Indonesia bagian Barat.

Selanjutnya, untuk small hub yang akan melayani wilayah-wilayah yang lebih sempit seperti Sumatera Utara dan Buleleng (Batam-Riau-Palembang), diajukan sebagai kandidat: Medan, Batam, Balikpapan, Menado dan Sorong. Walau berbeda tingkatan, hub-hub tersebut bisa saling berhubungan langsung. Dari small hub, misalnya, bisa langsung berhubungan dengan super hub tanpa melalui main hub. Lalu kota-kota mana saja yang akan ditetapkan sebagai spoke? Dephub belum memaparkan detail. Tetapi, mereka mengatakan, pada prinsipnya kota-kota ini harus bermuara pada hub terdekat. Jadi untuk hub Medan, misalnya, spoke-nya bisa Aceh, Bukit Tinggi, Padang, dan Nias. Sementara untuk hub Manado, spoke-nya bisa Gorontalo, Palu dan kota-kota lainnya di sekitar ibukota Sulut itu. Spoke yang sudah ditetapkan hub-nya tidak akan bisa melayani penerbangan ke hub lain. Untuk melayani penerbangan lanjutan akan dilakukan maskapai yang melayani penerbangan antar hub. Jadi, dari Palu ke Jakarta tidak akan ada lagi penerbangan langsung. Penerbangan harus melalui Menado dahulu dan itu pun pindah ke pesawat yang lebih besar. Paket deregulasi Walau terkesan sambung menyambung, penerbangan dengan pola hub and spoke tidak akan berlangsung lebih lama. Dalam kaitan ini, untungnya, operator penerbangan malah akan menikmati tambahan income karena jumlah penumpang yang terangkut menjadi lebih banyak. Namun demikian, Dephub tak akan serta-merta memberlakukan pola tesebut tanpa persiapan dan peraturan. Kabarnya, mereka akan lebih dulu memberlakukan empat paket deregulasi yang khusus disiapkan untuk mengawali penataan. Paket ini akan mencakup penataan rute; penataan terminal, airport serta sarana pendukungnya; penataan jenis pesawat yang cocok untuk tiap-tiap rute; dan penataan tarif. Deregulasi kedua hingga keempat, akan digunakan untuk mendukung pola hub and spoke di Indonesia. Penataan bandara akan disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsinya. "Sebagai bandara super hub, fasilitas dari sebuah bandara tentu akan dibuat lebih lengkap daripada bandara small hub atau spoke. Ini tentunya juga akan membuat pengelola bandara lebih mudah mengembangkan bandaranya karena sudah tahu sarana dan prasarana apa saja yang diperlukan," ujar Budi. Keempat deregulasi itu pun akan ditunjang dengan birokrasi yang lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan serta adanya penegakan aturan yang tegas. Demi mempermudah kelancaran operasional, pihak Ditjen Perhubungan Udara menerapkan sistim easy in easy out untuk mempermudah para maskapai dalam memenuhi persyaratan atau menghentikan operasinya jika tidak memenuhi persyaratan. Paket deregulasi itu pun akan digelar dalam kerangka implementasi cetak biru pembangunan perhubungan udara. Dalam cetak biru ini, Ditjen Perhubungan Udara memacu empat aspek yang

menjadi prasrayat umum yang harus dijalankan berurutan. Keempat aspek ini adalah safety, security, service dan compliance. Seperti diutarakan Budi M. Suyitno, sejauh ini pihaknya sudah menggelar program dengan unsur keselamatan (safety) dan keamanan (security). Manifestasi dari kedua program ini adalah pembuatan pola pemeringkatan maskapai yang telah dipublikasikan beberapa waktu lalu. "Nah, kini kami tengah melakukan tahap ketiga, yakni service, yang didalamnya termasuk deregulasi peraturan itu," ujarnya. Layar sudah dikembangkan. Kini, untuk memastikan bahwa program-program itu berjalan benar, Dephub pun harus senantiasa memastikan bahwa peraturan yang dipakai adalah benar dan tegas terhadap para maskapai. Untuk itu ada baiknya dibuat pedoman khusus dalam tataran praktisnya. Peraturan yang benar dengan penegakan sanksi yang serius akan mampu mendorong perubahan mengikuti pola yang sudah dicanangkan. Yang tidak kalah penting, sosialisasi peraturan baru tersebut harus jelas dan berkesinambungan. Sosialisasi yang benar akan mempercepat pencapaian target dari pelaksanaan pola tersebut. (*) ----Jenis Pesawat Pun Akan Diatur Penulis: Gatot Rahardjo/Angkasa Karena mengedepankan keteraturan, efisiensi, dan efektivitas, pola hub and spoke pun akan "menentukan" jenis pesawat yang layak terbang bagi sebuah rute. Pesawat jet macam B737 misalnya nantinya tak boleh lagi menerbangi rute berjarak pendek. Jalur ini akan diberikan ke pesawat komuter sekelas CN-235, Fokker F-27, atau ATR 42 yang memang dirancang untuk jarak pendek. Pesawat-pesawat ini misalnya akan meramaikan jalur Jakarta-Semarang dan Jakarta-Yogya. Penyesuaian ini sepertinya akan mengecewakan penumpang yang sudah terlanjur menyukai kenyamanan pesawat jet. Demikianlah yang mungkin akan terjadi karena di Indonesia sudah terlanjur muncul anggapan yang salah kaprah. Yakni, bahwa jet bisa digunakan untuk menerbangi jalur mana pun. Padahal, setiap jenis pesawat memiliki kapasitas dan peruntukan sendiri-sendiri. Komuter bermesin turboprop akan dipasang melayani rute jarak pendek, karena memang untuk rute inilah dia akan merasakan efisiensi dan menangguk untung. Demikian pula dengan pesawat jet yang selanjutnya akan dialihkan ke rute-rute antar hub. Medium jet berjarak jangkau 450 millaut misalnya akan dipasang pada rute hub to hub medium, seperti Jakarta-Medan. Sementara small jet berjarak jangkau 250-450 akan dialihkan ke hub to hub jarak pendek seperti JakartaSurabaya.

Pengaturan jenis pesawat juga ada kaitannya dengan persyaratan berat maksimum pesawat saat lepas-landas dan mendarat, yang ujung-ujungnya adalah faktor keselamatan. Jika sebuah jet dipaksa untuk melayani rute Semarang-Jakarta, misalnya, praktis ada dua kemungkinan agar bisa mencapai berat lepas-landas. Pertama, mengoptimalkan bahan bakar sesuai peraturan dengan konsekuensi menurunkan jumlah penumpang dan barang. Kedua, mengoptimalkan jumlah penumpang dan barang dengan konsekuensi mengurangi jumlah bahan bakar sesuai peraturan penerbangan Internsional. Jika opsi kedua yang dipilih, keselamatan penerbangan dengan sendirinya akan dipertaruhkan. (*) ----Berkaca Pada Busway Penulis: Gatot rahardjo/Angkasa Pola hub and spoke sebenarnya sudah diterapkan di Indonesia sejak tahun 2004 pada moda transportasi busway. Pada awalnya, pola yang diprakarsai oleh Gubernur Sutiyoso banyak mendapat kritikan. Pasalnya pola ini menggunakan lajur kanan jalan yang tidak lazim di Indonesia dan mengurangi lebar jalan yang dilaluinya dengan membaginya jadi jalur khusus bus (busway) dan non busway. Alih-alih mengurangi kemacetan, namun justru akan menambah parah kemacetan karena jalannya dipersempit. Namun Sutiyoso tetap bergeming. Busway menurutnya akan mampu mengurangi kemacetan di jalan-jalan protokol ibukota. Dengan getol ia mensosialisasikan proyeknya tersebut pada setiap kesempatan. Hasilnya secara kuantitatif memang luar biasa. Jumlah penumpangnya terus meningkat. Sehingga jumlah jalurnya terus ditingkatkan hingga rencananya akan menjadi 15 jalur pada tahun 2010. Konsep busway sebenarnya sederhana. Pertama mengadakan terminal (hub) di beberapa tempat yang kemudian dihubungkan dengan jalur khusus.diantaranya dibangun halte-halte. Untuk menghindari kemacetan, lajurnya dibuat di sebelah kanan jalan dibatasi dengan pembatas. Demi keselamatan dan ketertiban perjalanan, ditempatkan beberapa petugas kemanan serta polisi lalu lintas untuk menjaga lintasan busway agar tidak dilewat kendaraan lain atau orang yang menyeberang sembarang. Sedangkan untuk keamanan dan ketertiban penumpang, ditempatkan petugas keamanan di dalam bus dan di area terminal. Di area terminal juga dilengkapi pendingin ruangan sehingga penumpang betah. Busway hanya berhenti dan bisa menaik-turunkan penumpang di halte-halte dan terminal yang sudah disediakan. Untuk itu pintu bisnya dibuat tinggi sehingga hanya bisa dicapai dari lantai terminal atau halte. Untuk mencapai terminal atau halte busway, penumpang bisa menggunakan feeder (spoke). Feeder ini terdiri dari beberapa moda transportasi (angkot, metromini, biskota, kereta api dll) yang jalurnya bersinggungan dengan jalur busway. Jalur mereka dialihkan atau dihentikan sampai ke terminal atau halte tersebut.

Walau demikian busway juga menyimpan kelemahan laten. Terutama diakibatkan kebijakan busway tidak ditunjang kebijakan yang lain secara menyeluruh sehingga ia terkesan berjalan sendiri. Penumpang sering merasa terlalu lama menunggu akibat jumlah bis yang melayani sangat kurang dan tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Pada jam-jam sibuk, penumpang tetap berjejalan di terminal, halte atau bis. Kualitas pelayanan feeder juga tidak sebagus busway sehingga praktis hanya beberapa feeder yang beroperasi maksimal. Akibatnya penumpang masih sulit mencapai terminal atau halte busway karena terjebak kemacetan di tempat lain. Beberapa penunjang operasional busway juga masih sangat kurang sehingga mengganggu kelancaran operasional sehari-hari. Misalnya depo bis yang jauh dari terminal serta stasiun pengisian bahan bakar (gas dan premium) yang jauh dari jalur busway hingga mengakibatkan terbuangnya waktu. Jalur busway juga tidak aman dari kecelakaan karena keteledoran pemakai jalan, sedikitnya rambu peringatan serta ketidaktegasan para petugas penjaga lintasan. Jika menilik pada paparan diatas, pola busway seharusnya bisa diterapkan pada pola hub and spoke di dunia penerbangan nasional. Kelemahan-kelemahan pada busway seharusnya bisa dijadikan pelajaran untuk menjadikan pola hub and spoke yang berhasil. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian adalah soal sosialisasi dan ketetapan serta ketegasan penegakan peraturan. Dan yang paling utama, hendaknya pembenahan dunia penerbangan nasional dilakukan secara menyeluruh, mantap dan tegas. (*) ----Sulitnya Berbagi Kue Penulis: Gatot Rahardjo/Angkasa Tekad pemerintah untuk menata dan menerapkan pola hub and spoke nampaknya tidak akan mulus. Pasalnya pola hub and spoke versi Departemen Perhubungan belum banyak diketahui oleh sebagian pengelola maskapai nasional. Saat mereka dikumpulkan dalam sosialisasi pola ini pada hari Senin, 7 Mei lalu oleh Ditjen Hubud, wacana yang mencuat adalah soal pemindahan pangkalan induk (home base) dan kerjasama antar maskapai. Jika dirunut ke belakang, sebenarnya wajar jika banyak pengelola maskapai belum tahu pola ini. Sebagian besar dari mereka tidak berlatar belakang dunia penerbangan dan selama ini menjalankan bisnis maskapainya seperti halnya menjalankan bisnis travel biasa. Ditambah lagi peran Pemerintah dalam mengatur tidak memakai pola tertentu. Hanya beberapa maskapai besar seperti Garuda yang menyatakan sudah mengerti. "Kita sebenarnya sudah menerapkannya tapi untuk penerbangan internasional. Kita punya hub di Jakarta dan Bali," ujar Emirsyah Sattar, Presiden Direktur Garuda Indonesia. Di dua tempat itu Garuda mempunyai beberapa sarana pendukung yang kuat seperti cabin crew base serta pusat perawatan dan perbaikan (GMF).

Beberapa maskapai relatif masih baru, seperti Adam Air dan Sriwijaya Air, mengatakan akan mempelajari dulu pola tersebut. Pindah homebase Wacana homebase muncul karena dalam pertemuan itu Direktorat Perhubungan Udara mengeluarkan list alternatif hub untuk maskapai penerbangan. Di dalam list disebutkan ada beberapa maskapai yang dipangkalkan di luar Jakarta, seperti Deraya Air Service di Balikpapan, Kartika Airlines di Medan, Mandala di Surabaya, Merpati di Makasar, Peita Air Service di Kupang, Riau Airlines di Batam, Travel Express di Makasar dan Wings Air di Surabaya. Sedangkan Lion Air dan Metro Batavia Air diberi opsi antara Jakarta (Cengkareng) atau Surabaya, Sriwijaya Air diberi opsi antara Jakarta (Cengkareng) dengan Medan. Maskapai yang tetap dipangkalkan di Jakarta (Cengkareng) adalah Adam Air, Garuda Indonesia dan Indonesia Air Asia. Sedangkan Deraya dipangkalkan di Jakarta (Halim Perdana Kusuma). Maskapai mengartikan itu sebagai ancang-ancang Pemerintah untuk meminta mereka hengkang dari Jakarta yang dinilai sudah terlalu padat. Tentu saja tanggapan mereka beragam karena menyangkut periuk nasi mereka. Beberapa maskapai menanggapi positif namun banyak juga yang skeptis. Chandra Lie, Presiden Direktur Sriwijaya Air mengatakan hal itu masih sekedar wacana dari Pemerintah. Namun jika jadi diterapkan, ia mengaku akan mengikutinya. Rusdi Kirana, Presiden Direktur Lion Air dan Wings Air juga menyatakan akan mengikuti apa yang akan diterapkan Pemerintah. Baginya, tidak penting kantor pusat maskapainya ada di mana asalkan dia bisa mengendalikan maskapainya dengan efektif dan efisien. "Kita tidak keberatan pindah homebase. Karena itu hanya dari sisi head office-nya, karyawannya nggak banyak," ujarnya. Namun ada juga yang menolak jika harus meninggalkan Jakarta, seperti Garuda. Sebagai flag carrier dan sudah establish, akan sangat memakan waktu dan biaya jika harus memindahkan markas besar Garuda dari Jakarta. Memang sangat disayangkan munculnya wacana seperti itu. Karena bagaimanapun, soal pemindahan kantor pusat maskapai seharusnya menjadi hak dari maskapai yang bersangkutan. "Tidak perlu dipaksa," ujar Budhi M Suyitno, Dirjen Hubud. Dengan perhitungan bisnis yang paling sederhana pun mereka akan serta merta memindahkan kantor pusatnya, mendekati area bisnis yang dituju agar lebih efektif dan efisien. Pemerintah, lanjut Budi tidak akan membuat peraturan tentang itu. "Biarkan saja mereka bersaing asalkan dalam pola yang sudah kita tetapkan. Nanti akan ada seleksi alam dan akan tertata sendiri," ujarnya. Tugas pemerintah, lanjutnya, hanyalah membuat pola yang tepat serta mengawasi jalannya pola tersebut secara baik, benar dan tegas. Aliansi strategis Hub and spoke pada dasarnya adalah membangun sistim kerjasama yang bagus antar maskapai hub (besar) dan maskapai spoke (kecil). Dua maskapai ini perlu disinergikan karena memang

keduanya berbeda. Mulai dari besar kecilnya perusahaan, jenis pesawat yang digunakan, serta kultur perusahaan yang berbeda. Yang menjadi kendala adalah sampai saat ini belum banyak maskapai di Indonesia yang mengerti perbedaan dua jenis maskapai tersebut. Mereka lebih banyak memposisikan diri sebagai maskapai mandiri dan menganggap maskapai lain sebagai pesaing yang sewaktu-waktu bisa menjalankan rute yang sama dan merebut pangsa pasar di rute itu. Beberapa maskapai yang mempunyai anak perusahaan yang sama, sejak semula tidak memposisikan anak perusahaannya sebagai spoke bagi maskapai utamanya. Namun hanya membagi pasar berdasarkan wilayah dan pangsa pasar yang dituju. Hal ini tercermin dari rute yang dijalani, pesawat yang digunakan serta organisasi perusahaannya. Sebagai contoh, Garuda sejak awal tidak memposisikan Citilink sebagai armada spoke-nya, namun sebagai maskapai mandiri yang mempunyai pangsa pasar di bawah Garuda. Jika Garuda mengusung konsep full service, maka Citilink mengusung konsep low cost carrier (LCC). Walau jenis pesawatnya berbeda, namun mereka terkadang menjalankan rute yang sama. Citilink juga ditujukan untuk wilayah-wilayah kecil yang tidak terjangkau oleh Garuda. Setali tiga uang dengan Lion Air dan Wings Air. Walau berada dalam satu naungan perusahaan induk yang sama, mereka menjalankan usahanya secara mandiri. Dengan pesawat dan konsep yang hampir sama, mereka hanya membagi wilayah dan rute yang dilayaninya. Lion melayani kota-kota besar dan penting sedangkan Wings melayani kota-kota nomor dua. Tidak mudah memang untuk mengajak maskapai-maskapai besar itu bekerjasama dengan maskapai kecil. Apalagi ada kekawatiran dengan kerjasama ini berarti akan membagi keuntungan dengan teman aliansinya. Pola hub and spoke, dikawatirkan akan merombak total rute penerbangan yang sekarang ini sudah mereka jalani dan membaginya dengan maskapaimaskapai kecil sebagai spoke. Garuda, menurut Emirsyah Sattar, siap bekerja sama dengan maskapai lain namun dengan syarat rekan bisnisnya nanti juga mempunyai sistim, tingkat keselamatan dan produk yang sama. "Kalau tidak sama, susah. Tidak akan bisa!" ujarnya. Ia kawatir penumpang Garuda akan kecewa jika nanti akan diangkut oleh maskapai spoke yang tidak mempunyai standar pelayanan yang sama dengan Garuda. Kekawatiran-kekawatiran seperti itu seharusnya tidak perlu muncul jika Pemerintah dan Operator sama sepakat dan sepaham dengan pola yang akan diberlakukan. Oleh karena itu Pemerintah sebagai pembuat peraturan dan Operator sebagai pelaksana harus sama-sama transparan dan saling memberi masukan. Namun benarkah aliansi strategis antar maskapai itu mutlak dilakukan? Pasalnya dalam pola hub and spoke, maskapai yang melayani hub dan yang melayani spoke tidak harus bergabung dan mempunyai pola yang sama. Kalaupun dibiarkan bersaing secara sehat, asal koridornya dijaga dengan ketat, bisa dipastikan maskapai-maskapai itu akan menyesuaikan diri dan menjalin kerjasama dengan sendirinya.

Bergabungnya maskapai hub dan maskapai spoke seharusnya hanya satu pilihan agar lebih efisien dan memudahkan kinerja. Hanya keteraturan dan ketepatan jadwal yang bisa membuat mereka bersinergi. (*) ----Aliansi Strategis Sebagai Kata Kunci Penulis: Cartono Sujatman/Angkasa Beberapa minggu sebelum Menhub Hatta Radjasa mencanangkan pola hub and spoke, Dirjen Perhubungan Udara Budi M. Suyitno menyatakan ingin melakukan terobosan baru dalam kebijakan sistem angkutan udara nasional. Dalam kebijakan ini ia akan mendorong agar antar maskapai penerbangan nasional melakukan aliansi strategis. Sejumlah maskapai tentu menyambut dengan senang hati karena aliansi strategis yang sudah dilakukan maskapai internasional bertahun-tahun lalu ini merupakan kata kunci menuju industri angkutan udara abad ini. Aliansi strategis atau code-sharing, di lain pihak, juga dapat meredakan persaingan bebas atau bare knucles free-flight competition yang telah merusak citra penerbangan nasional. Persaingan semacam inilah yang belum lama ini "menelurkan" travel warning dari pemerintah AS dan Eropa. Kebijakan beraliansi sendiri merupakan langkah awal dalam menciptakan atau menyusun prakondisi untuk menghadapi ekonomi pasar mendatang. Dalam kaitan ini Indonesia diharapkan dapat menyusun pra-kondisinya sendiri. Untuk itu pemerintah bisa mencermati model yang pernah diadopsi AS atau mungkin Eropa. Pra-kondisi ekonomi pasar AS yang menganut sistem open sky bilaterals telah disusun 10 tahun lalu. Sementara Uni Eropa yang menganut single market multilaterals telah memulainya 15 tahun lalu. Kedua negara sepakat menerapkan kebijakan ini karena begitu ingin keluar dari keruwetan sekaligus kelesuan yang dialami industri penerbangan dan perekonomian nasionalnya. Open sky bilaterals Pada paruh pertama dasawarsa 1970-an, AS mengalami krisis ekonomi yang dikenal sebagai stagflasi. Hal ini diwarnai melambungnya harga BBM akibat embargo BBM 1973. Untuk menenangkannya kemudian muncul gagasan untuk menderegulasi perekonominya. Paket deregulasinya dikenal sebagai Edward Kennedy Deregulation Bill. Kongres kemudian menyikapinya dengan menetapkan bidang penerbangan sebagai prime target dari regulatory reform tersebut. Untuk itu kemudian dibuatkan Undang-undang Deregulasi Airline atau ADA pada 1978. ADA 1978 tak lain adalah amandemen dari UU penerbangan yang sudah ada, yakni FAA 1958. ADA 1978 jugalah yang kemudian melikuidasi Civil Aeronautics Board (CAB) pada 1985. Ronald Reagan, mantan bintang film yang menjadi presiden AS pada 1980 melontarkan kebijakan untuk menurunkan laju inflasi. Kebijakan soft landing ini awalnya melambungkan

suku bunga pinjaman bank setinggi mungkin. Langkah ini kemudian mengakibatkan resesi ekonomi yang dahsyat, mengakibatkan pengangguran meningkat dari 7,5 menjadi 10 persen. Tetapi, lewat langkah berikutnya, dengan mencabut otoritas CAB, Pemerintah Reagan menjadi leluasa mengatur industri penerbangan. AS kemudian kemudian membagi-bagi rute penerbangan dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi para usahawan untuk masuk ke dalam industri penerbangan yang melayani kepentingan umum. Kebijakan tersebut ditanggapi dengan masuknya ratusan perusahaan penerbangan ukuran Commuters yang mengoperasikan pesawat ukuran kecil dengan jarak penerbangan pendek/dekat. Sebagai akibatnya, lalu terjadi konsolidasi pada jenis pesawat yang dioperasikan. Nah, pada saat itulah kemudian muncul pola rute penerbangan Hub and Spoke atau Poros dan Ruji (PdR). Sejak itulah kemudian menjamur opsi kerjasama operasi di antara para maskapainya. Apakah itu merger, akuisisi, pooling agreement, bilateral agreement, code-sharing, dan aliansi-aliansi strategis lainnya antara major airlines dengan kelompok commuter. Misalnya saja, antara American Airline (major) dengan American Eagle yang didukung Executive Airlines, Flagship Airline, Simmons Airline dan Wing West Airline (dari kelompok commuter). Continentals Airline juga tak mau ketinggalan. Mereka bergandeng dengan Continental Express didukung Britt Airways dan Rocky Mountain Airways. Lalu Delta Airline yang menggandeng The Delta Connection ditambah Sky West Airline. Demikian pula terjadi aliansi strategis antara major airlines seperti North-West Airlines, TWA, United Airlines dan USAir dengan masing-masing mitra aliansi commuter-nya. Kebijakan Reagan berikutnya adalah ekspansi besar-besaran dalam menciptakan lapangan kerja sebanyakbanyaknya untuk mengurangi pengangguran. Kala itu AS mengalami ekspansi terbesar yang pernah dialami dalan sejarahnya. Dengan mengutamakan regional airline, terutama dari kelompok commuter-nya, penerbangan nasional pun berhasil menjangkau daerah-daerah terpencil. Mereka juga berhasil membuka daerah terisolasi, yang pada gilirannya berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Untuk mendukung penciptaan lapangan kerja, pemerintah AS tak lupa meerapkan paket kebijakan fiskal berupa tax-cut atau potongan pajak sampai 15-30 persen. Sejak digencarkan pada 1983, kebijakan soft landing atau pendaratan mulus Reagan ini mendorong terciptanya 600.000 unit usaha per tahun. Di antara unit usaha baru tersebut: 54.000 unit (10 persen) berteknologi tinggi atau canggih, sedang sisanya 546.000 unit berteknologi sederhana atau tanpa teknologi. Dari paparan di atas jelas bahwa kebijakan soft landing Ronald Reagan tidak hanya mengejar pertambahan jumlah penumpang semata, namun juga mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Ini terjadi karena para commuter mampu menghidupkan daerah terpencil dan terisolasi. Single market multilateral

Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Eropa? Pada 1989, Komisi Masyarakat Ekonomi Eropa mengaku belajar dari AS, dan memilih prakondisi udara terbuka dengan fokus perhatian pada single market multilateral. Seperti dipaparkan pakar penerbangan Giovany Nero, Uni Eropa menerapkan pola rute penerbangan mirip jaring ikan atau fish net. Dalam pola jaring ikan itu, sektor rute penerbangannya terdiri dari rute-rute duopoli dan monopoli. Rute duopoli menjadi penghubung hub-hub, yang secara harafiah merupakan ibukota negara-negara yang mengoperasikan maskapai penerbangannya sendiri. Sementara rute monopolinya menghubungkan suatu hub dengan beberapa spoke yang masih terletak dalam wilayah negara di mana hub itu berada, atau dengan rute intra negara hub tersebut. Begitu pun, baik AS maupun Eropa tak lantas menikmati hasilnya dalam waktu singkat. Prakondisi open sky bilateral maupun single market multilateral berlangsung secara bertahap tidak kurang dari 10 tahun, namun dengan sasaran yang jelas dan pasti. (*) Artikel Pilihan Lain