Anda di halaman 1dari 19

PENATALAKSANAAN YANG BAIK GIGI RETAK DENGAN PULPITIS REVERSIBEL

Abstrak
Latar Belakang: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh retakan pada gigi dan untuk menilai protokol penatalaksanaan konservatif. Metode: Tanda dan gejala 100 gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel akibat retakan dibandingkan dengan penemuan dari laporan-laporan lain. Gigi-geligi ditangani menggunakan protokol konservatif yang berupa menghilangkan retakan, karies dan restorasi, yang dilanjutkan dengan aplikasi lining sedatif dan restorasi sementara, kecuali terjadi pembukaan pulpa atau struktur gigi yang tersisa tidak mencukupi. Gigi-geligi diamati untuk mengetahui penyembuhan pulpa setelah tiga bulan sampai 5 tahun. Hasil: Delapan puluh gigi tidak membutuhkan perawatan endodontik. Satu gigi memiliki status pulpa yang meragukan saat kunjungan kembali. Lima belas gigi membutuhkan perawatan endodontik pada kunjungan awal karena paparan pulpa akibat karies [4 gigi], retakan yang meluas sampai ke pulpa [2 gigi], dan kebutuhan pasak [9 gigi]. Empat gigi lainnya membutuhkan perawatan endodontik setelah perawatan pulpa konservatif karena pulpitis berlanjut meskipun dipasangkan restorasi sementara [1 gigi], pulpitis setelah restorasi inti [2 gigi], dan nekrosis pulpa yang terdiagnosis saat peninjauan [1 gigi]. Kesimpulan: Pada 80% kasus, jika diperoleh diagnosis status pulpa dan penyebabnya secara akurat, gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel akibat retakan dapat dirawat secara konservatif tanpa perawatan endodontik. Kata Kunci: Pulpitis reversibel, gigi retak, endodontik. Singkatan dan Akronim: CTS: cracked tooth syndrome; RCF: root canal filling. Sumber: Australian Dental Journal 2009; 54: 306-315.

PENDAHULUAN Retakan dan fraktur gigi-geligi adalah masalah yang umum ditemukan di praktek gigi umum dan spesialis. Bader, dkk melaporkan bahwa kurang lebih 1 dari 20 orang mengalami fraktur satu gigi setiap tahunnya, meskipun para penulis dalam penelitian tersebut tidak mendefinisikan apa yang mereka maksud dengan fraktur. Karena fraktur-fraktur tersebut menimbulkan berbagai akibat mulai dari tidak membutuhkan perawatan sampai pencabutan gigi, sebagian fraktur tersebut cenderung berupa retakan. Kurangnya definisi retakan umum ditemukan dalam berbagai penelitian tentang retakan sehingga sulit untuk menghitung jumlah pasien yang mengalami gangguan pulpa akibat retakan pada gigi. Meskipun banyak penelitian yang menerbitkan tentang subyek ini, masih terjadi kesalahpahaman dan terdapat

Page |2

berbagai pendapat tentang hasilnya karena belum ada kesepakatan pemahaman tentang diagnosis dan penatalaksanaan gigi-geligi retak. Laporan pertama dimana gejala fraktur tak-sempurna pada cusp gigi-geligi posterior diuraikan secara rinci oleh Gibbs pada tahun 1954. Beliau menyebut kondisi ini sebagai odontalgia fraktur cusp. Kemudian, Cameron mengemukakan istilah cracked tooth syndrome [umumnya disingkat CTS] untuk tanda dan gejala kolektif yang berhubungan dengan gigi retak. Pada tahun 1976, Cameron menyatakan bahwa hanya 75% gigi-geligi CTS yang akan memiliki pulpa vital. Istilah CTS didefinisikan-ulang pada tahun 1990 sebagai fraktur tak-sempurna gigi posterior vital yang melibatkan dentin dan pulpa gigi. Sejak tahun 1954, kondisi ini terus diredefinisikan dan diberi nama-ulang oleh banyak penulis dalam berbagai artikel jurnal. Namun, belum ada definisi dan terminologi umum sehingga mengakibatkan kesalahpahaman di kalangan praktisi. Penggunaan istilah sindrom dianggap kurang tepat karena sindrom didefinisikan sebagai sejumlah gejala yang terjadi bersamaan dan memberi tanda khas suatu penyakit spesifik. Jelas, retakan pada suatu gigi bukanlah penyakit, jadi istilah sindrom tidak sesuai. Meskipun retakan berhubungan dengan sejumlah gejala yang terjadi bersamaan, gejala-gejala tersebut sangat bervariasi pada setiap kasus. Gejala umumnya adalah salah satu dari berbagai bentuk pulpitis dan pada sebagian kasus disertai juga dengan gejala periodontitis apikal atau lateral. Namun, setiap kategori umum penyakit tersebut [yaitu, pulpitis dan periodontitis] memiliki kisaran tanda dan gejala yang luas tergantung pada kondisi yang benar-benar dialami oleh pasien. Sebagai contoh, satu gigi yang mengalami pulpitis reversibel akut memiliki tanda dan gejala yang berbeda dibandingkan dengan gigi yang mengalami pulpitis ireversibel akut. Selain itu, retakan juga dapat terjadi pada gigi yang mengalami nekrosis pulpa, gigi-geligi yang sudah tidak memiliki pulpa akibat infeksi, atau pada gigi-geligi yang telah dirawat endodontik. Jadi, pada gigi yang retak terdapat berbagai tanda dan gejala.

Page |3

Pada tahun 1997, American Association of Endodontists mendefinisikan 5 tipe gigi retak namun kelima kategori tersebut belum jelas dan saling tumpang-tindih pada sebagian kasus. Klasifikasi yang lebih jelas dan sederhana diuraikan dalam 3 kategori berikut ini:
(1)

Enamel crazing [atau infraksi email] retakan kecil pada permukaan gigi; jadi garis retakan yang terdapat pada email dan tidak ada gejala pulpa. Tidak dibutuhkan perawatan namun retakan email berpotensi berkembang menjadi retakan dalam gigi sehingga harus selalu diamati.

(2)

Retakan retakan adalah suatu defek dimana terjadi patahan antara dua bagian namun tidak terjadi pemisahan fragmen; jadi retakan pada gigi ini melibatkan dentin dan email dan/atau sementum. Dalam beberapa kasus, retakan dapat meluas sampai ke ruang pulpa. Retakan semacam ini kemungkinan dapat menyebabkan penyakit pulpa [inflamasi, yang akhirnya nekrosis dan infeksi] dan penyakit periradikuler, tergantung apakah bakteri dapat berpenetrasi ke dalam gigi melalui retakan yang mencapai pulpa atau tidak. Retakan semacam ini tidak membutuhkan perawatan kecuali mereka menyebabkan penyakit pulpa dan/atau periradikuler. Namun, semua retakan berpotensi untuk berkembang menjadi fraktur gigi sehingga harus selalu diamati, atau segera dirawat untuk mencegah atau mengatasi penyakit pulpa dan/atau periradikuler. Retakan yang menyebabkan penyakit pulpa dan periradikuler membutuhkan perawatan, sifatnya sangat bervariasi tergantung pada posisi, arah, dan perluasan retakan.

(3) Fraktur fraktur adalah suatu defek dimana terjadi patahan diantara dua bagian dan fragmennya terpisah; jadi, faktur gigi melibatkan dentin dan email atau sementum, atau kedua jaringan tersebut. Fraktur dapat meluas sampai ke ruang pulpa. Fraktur keungkinan dapat menyebabkan penyakit pulpa [inflamasi, yang akhirnya nekrosis dan infeksi] dan penyakit periradikuler, tergantung apakah bakteri dapat berpenetrasi ke

Page |4

dalam gigi melalui fraktur yang mencapai ruang pulpa. Perawatan yang dibutuhkan untuk fraktur sangat bervariasi tergantung pada posisi, arah, dan perluasan fraktur. Berbagai usaha untuk mendeskripsikan gejala klasik yang berhubungan dengan retakan pada gigi hanya menimbulkan kesalahpahaman di kalangan praktisi karena tidak adanya gejala klasik. Gejala yang muncul tergantung pada proses penyakit dalam pulpa gigi dan jaringan periradikuler yang disebabkan oleh retakan. Hasil dari berbagai definisi dan usaha untuk mengklasifikasikan dan mendaftar gejala gigi retak adalah terdapat banyak protokol penatalaksanaan yang direkomendasikan oleh para penulis dan klinisi. Kurangnya apresiasi universal tentang apa yang dimaksud dengan retakan, apa yang dilakukannya, dan apa yang disebabkannya menimbulkan banyak perdebatan dan kesalahpahaman tentang apa yang efektif dan dapat diterapkan secara klinis saat menangani retakan pada gigi. Namun, belum ada protokol penatalaksanaan standar yang dapat diikuti dan belum ada penelitian yang melakukan follow up gigi-geligi dalam jangka waktu yang cukup untuk menganalisis berbagai metode perawatan secara adekuat. Hal ini menyebabkan ketidakpastian di kalangan praktisi dan pasien. Dalam skenario kasus terparah, kasus gigi retak yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi manifestasi penyakit pulpa dan periradikuler yang tidak diinginkan, semuanya disebabkan oleh ketidakadekuatan pemahaman masalah yang sebenarnya. Misalnya, CTS sering disalahartikan sebagai fraktur akar vertikal. Penatalaksanaan retakan pada gigi harus didasarkan pada konsep bahwa suatu retakan adalah masalah biologis bukan masalah mekanis dalam gigi. Cara paling sederhana yang harus dipertimbangkan dari suatu retakan gigi adalah penyebab potensial penyakit pulpa dan periradikuler sama dengan karies dan kerusakan tepi-tepi restorasi yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit akibat masuknya bakteri ke dalam gigi dan memproduksi endotoksin yang dapat mencapai pulpa atau pada akhirnya, bakteri itu sendiri yang mencapai pulpa. Jadi, retakan harus dianggap sebagai penyebab penyakit [terutama penyakit pulpa],

Page |5

bukan hanya dipertimbangkan sebagai suatu gejala atau penyakit saja. Keberadaan suatu retakan harus dinyatakan sebagai tanda atau pengamatan klinis, bukan suatu diagnosis. Retakan harus dinyatakan sebagai salah satu jalur potensial masuknya bakteri ke dalam gigi. Harus diperhatikan bahwa tidak semua retakan dapat mengakibatkan penyakit pulpa dan periradikuler. Masalah-masalah tersebut hanya akan terjadi jika jumlah bakteri yang terdapat di dalam retakan cukup dan jika bakteri tertentu memiliki sifat yang cukup virulen untuk menyebabkan penyakit pulpa dan periradikuler. Faktor lainnya adalah status kesehatan pulpa tersebut saat invasi bakteri dan apakah pulpa dapat menahan invasi bakteri atau iritasi yang disebabkan oleh endotoksinnya. Penelitian ini memiliki dua tujuan; pertama, untuk mengukur tanda dan gejala yang disebabkan oleh retakan dalam rangka menyederhanakan pedoman-pedoman untuk proses diagnosis dan rencana perawatan gigi-geligi yang memiliki retakan. Tujuan kedua adalah menilai hasil protokol penatalaksanaan konservatif pada gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel akibat retakan .

BAHAN DAN METODE Penelitian ini adalah penelitian prospektif pada 100 retakan gigi yang didiagnosis mengalami pulpitis reversibel. Pasien-pasien ini dirujuk ke ahli endodonsi di tempat praktek swasta untuk perawatan keluhan nyeri akibat gigi yang disertakan dalam penelitian ini. Data dicatat dalam suatu proforma yang dikembangkan untuk penelitian oleh ahli endodontik saat pemeriksaan pasien dan kunjungan follow up. Kemudian, data di de-indentifikasi, disusun dan diukur.

Page |6

Saat pemeriksaan lengkap, dilakukan identifikasi 100 gigi-geligi yang terdiagnosis mengalami pulpitis reversibel [berdasarkan kriteria yang didefinisikan oleh Abbott dan Yu] akibat retakan. Tanda-tanda gigi retak dan pulpitis yang umum dilaporkan diidentifikasi dan diukur. Pasien yang mengeluhkan sensitivitas terhadap berbagai stimulus juga dicatat. Nyeri saat menggigit diukur menggunakan Tooth Slooth dan timbulnya nyeri saat

aplikasi/pembebasan tekanan juga dicatat. Terdapat berbagai macam faktor lain yang juga diukur. Antara lain alasan rujukan ke ahli endodontik, gejala nyeri yang dikeluhkan oleh pasien, durasi nyeri setelah stimulus dihilangkan dan lama nyeri sebelum pemeriksaan. Jika gigi tersebut telah diidentifikasi dan diagnosis ditegakkan, pasien diberi penjelasan rinci tentang masalah yang timbul dan diberi rencana perawatan untuk memperoleh informed consent melanjutkan perawatan. Protokol khusus yang digunakan untuk penatalaksanaan gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel adalah metode konservatif, seperti yang diuraikan dalam diagram dalam Gambar 1. Harus diperhatikan bahwa retakan pada gigi-geligi diatasi menggunakan prinsipprinsip yang sama dengan yang digunakan untuk perawatan karies, yaitu, retakan dihilangkan sehingga semua jalur masuk bakteri tertutup. Protokolnya diuraikan sebagai berikut. Tahap pertama disebut sebagai penyelidikan gigi dan melibatkan semua restorasi, karies, dan retakan pada gigi. Kemudian, gigi-geligi dinilai untuk mengetahui apakah terjadi paparan pulpa [akibat karies ataupun retakan] atau tidak, apakah dibutuhkan pasak atau retensi intraradikuler lainnya untuk membantu meretensi restorasi akhir, atau apakah retakan meluas jauh sampai ke akar sehingga gigi tidak sesuai untuk restorasi dan harus dicabut. Jika menghadapi kedua situasi tersebut, perawatan endodontik harus segera dilakukan. Dalam penelitian ini, tidak ada gigi yang membutuhkan pencabutan.

Page |7

Gambar 1. Diagram garis yang menjelaskan protokol penatalaksanaan gigi-geligi yang memiliki retakan dan pulpitis. Tujuan perawatan gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel akibat retakan mengikuti aliran tanda panah bawah ke sisi kiri diagram dari diagnosis pulpitis reversibel sampai ke restorasi gigi. Namun, terdapat banyak tahapan dimana perawatan endodontik mungkin dibutuhkan.

Gigi-geligi yang tidak membutuhkan perawatan endodontik imediet [karena alasanalasan yang diuraikan di atas] diberi lining sedatif [Ledermix cement, Lederle Laboratories, Wolfratshausen, Germany] yang diaplikasikan untuk mensedasi pulpa dan membantu respon penyembuhan. Kemudian, gigi-geligi direstorasi menggunakan restorasi sementara, yaitu semen glass ionomer tradisional setting-kimiawiKetac Silver ataupun Ketac Fill [3MESPE, Seefeld, Germany], tergantung pada kebutuhan estetik gigi tersebut. Stainless steel [SS] band [A Bands, Ormco, USA] digunakan sebagai bagian restorasi sementara jika dibutuhkan retensi tambahan. SS band berfungsi untuk meretensi restorasi sementara, bukan

Page |8

sebagai splint untuk menahan retakan atau cusp karena semua retakan dibuang dari gigi beserta struktur gigi yang tak-terdukung sebagai bagian dari restorasi definitif jika gejala pulpitis telah mereda. Sebagian kasus membutuhkan mahkota sementara yang disementasi menggunakan campuran lunak semen zinc oxide eugenol [IRM, Dentsply Caulk, Milford, USA] yang dimaksudkan agar eugenol bekerja sebagai sedatif bagi pulpa. Setelah mengaplikasikan lining dan restorasi sementara, pasien diperingatkan tentang kemungkinan timbulnya nyeri post-operatif dan diminta untuk mencatatnya jika nyeri telah hilang. Jika nyeri berlanjut, pasien diminta untuk menghubungi ahli endodontik untuk evaluasi-ulang dan perawatan lebih lanjut. Jika nyeri mereda dalam waktu beberapa hari pertama, pasien dijadwalkan untuk kunjungan-kembali selama 3 bulan post-operatif klinis dan pemeriksaan radiografik untuk menilai status pulpa dan respon penyembuhan. Respon normal terhadap tes sensibilitas pulpa dingin pada kunjungan ke-3 bulan menunjukkan bahwa pulpitis telah sembuh, sehingga mengkonfirmasi diagnosis awal, yaitu pulpitis reversibel. Kemudian, pasien-pasien ini dirujuk kembali ke dokter gigi umum untuk pemasangan restorasi overlay atau mahkota. Pemeriksaan follow up lanjutan dijadwalkan sampai 5 tahun untuk mengawasi status pulpa pada gigi-geligi tersebut. Jika tidak ada respon terhadap uji sensibilitas pulpa pada kunjungan ke-3 bulan, hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya nekrosis pulpa dan pasien dijadwalkan untuk pemeriksaan lanjutan 3 bulan kemudian atau pelaksanaan perawatan endodontik, tergantung pada sedefinitif apa diagnosisnya pada saat itu. Pasien-pasien ini juga dijadwalkan untuk menjalani pemeriksaan follow up lanjutan sampai 5 tahun untuk mengawasi status pulpa gigigeligi tersebut. Data disusun dan dianalisis berdasarkan frekuensi untuk mengetahui apakah terdapat tanda dan gejala khas gigi retak dan pulpitis reversibel yang dapat membantu merumuskan

Page |9

suatu diagnosis. Selain itu, data digunakan untuk mengetahui keampuhan perawatan yang diterapkan pada gigi retak dengan reversibel pulpitis.

HASIL Penelitian ini menyertakan total 100 gigi-geligi dari 76 pasien yang didiagnosis mengalami pulpitis reversibel akibat retakan. Pasien berusia antara 17 sampai 68 tahun [mean = 42,5 tahun]. Sebagian besar gigi [72%] adalah pasien yang termasuk dalam kelompok usia 30-50 tahun, 32% pasien adalah laki-laki dan 68% perempuan. Sebagian besar pasien hanya memperoleh perawatan pada 1 gigi [65%] namun sebagian memperoleh perawatan pada dua atau tiga gigi, dan satu pasien menjalani perawatan pada 10 gigi akibat kecelakaan kendaraan bermotor [Tabel 1]. Alasan rujukan bermacammacam, yang paling sering adalah untuk perawatan endodontik [Tabel 2]. Retakan yang awalnya diidentifikasi oleh dokter gigi yang merujuk akibat rasa nyeri dan membutuhkan perawatan hanya terdapat pada 9% kasus [Tabel 2]. Gigi-geligi molar adalah kelompok gigi yang paling umum [82%] dan gigi molar satu rahang atas adalah gigi yang paling sering terserang [29%] [Tabel 3]. Gejala nyeri yang dikeluhkan pasien bervariasi, sebagian gigi-geligi sangat sensitif terhadap stimulus dingin, panas, dan saat menggigit, sedangkan separuh gigi lainnya sensitif terhadap berbagai kombinasi ketiga stimuli nyeri tersebut [Tabel 4]. Pada sebagian besar kasus [91%] , pasien mengeluhkan nyeri saat tes menggigit menggunakan Tooth Slooth [Professional Result Inc, Laguna Niguel, CA, USA] meskipun nyeri saat aplikasi tekanan paling sering ditemukan [Tabel 5] dan nyeri saat tekanan dilepaskan hanya terjadi pada 8 gigi, hal ini berlawanan dengan banyak laporan yang menyatakan bahwa ini adalah tanda

P a g e | 10

klasik retakan pada gigi. Durasi nyeri setelah stimulus dilepaskan bervariasi antara satu detik sampai 5 menit [Tabel 6]. Rasa nyeri yang timbul sebelum melakukan kunjungan ke ahli endodontik bervariasi antara kurang dari 1 bulan sampai kurang lebih 5 tahun [Tabel 7].

Meskipun 83 gigi telah kehilangan cusp pra-operatif, hanya 17 gigi yang tidak mengalami kehilangan cusp setelah perawatan [Tabel 8], hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar retakan dalam penelitian ini adalah cusp yang tak-terdukung. Setelah

P a g e | 11

melepaskan restorasi, membuang karies dan retakan [yaitu, pemeriksaan gigi-geligi], 85 gigi dirawat secara konservatif menggunakan semen Ledermix lining sedatif dan dipasangkan restorasi sementara menggunakan Ketak Silver atau Ketak Fil, tergantung pada kebutuhan estetiknya. Sebagian besar gigi [76 gigi] juga diberi SS band untuk membantu meretensi restorasi sementara dan tigagigi membutuhkan mahkota sementara [Tabel 9]. Kemudian, 85 gigi tersebut diperiksa lagi setelah 3 bulan untuk mengetahui apakah pulpitisnya telah sembuh dan pulpa kembali normal. Lima belas gigi lainnya membutuhkan perawatan endodontik akibat paparan karies [4 gigi], retakan yang meluas sampai ke ruang pulpa [2 gigi], membutuhkan pasak atau bentuk retensi intraradikuler lainnya untuk membantu meretensi restorasi [9 gigi] [Tabel 10].

Dari 85 gigi yang dirawat menggunakan semen Ledermix, gejala segera sembuh pada 60 gigi dan lebih dari 1-3 hari pada 25 gigi lainnya [Tabel 11]. Pada pemeriksaan setelah 3 bulan, pulpitis pada 98% dari 85 gigi yang dirawat menggunakan semen Ledermix dinyatakan sembuh [Tabel 12]. Pulpitis berlanjut pada satu gigi sebelum pemeriksaan ke-3 bulan dilakukan, oleh karena itu gigi ini memperoleh perawatan endodontik. Nekrosis pulpa didiagnosis pada gigi lainnya saat kunjungan tiga bulan. Dari 85 gigi yang dirawat secara konservatif, 46 [54,1%] diperiksa pada berbagai waktu selama 5 tahun [Tabel 13]43 gigi tidak mengalami perubahan pulpa namun pulpitis ireversibel terjadi pada 2 gigi setelah restorasi inti amalgam dipasangkan [dan sebelum gigi dipreparasi untuk restorasi mahkota]. Pada satu gigi lainnya, status pulpa setelah 3 bulan

P a g e | 12

tidak jelas namun pasien tidak kembali untuk kunjungan lanjutan jadi status pulpa terakhir tidak diketahui. Diduga pulpa gigi tersebut mengalami nekrosis dan pada akhirnya membutuhkan perawatan endodontik. Tabel 14 menampilkan ringkasan keseluruhan perawatan yang diberikan dan hasil perawatan tersebut. Secara keseluruhan, 80% gigi-geligi dalam penelitian ini tidak membutuhkan perawatan endodontik.

PEMBAHASAN

P a g e | 13

Penggunaan 100 gigi yang didiagnosis mengalami pulpitis reversibel akibat retakan menimbulkan berbagai macam kasus dan sampel pasien yang relevan tanpa bias disebabkan oleh seleksi kasus. Rasio perempuan terhadap laki-laki adalah 2:1 yang sama dengan hasil penelitian lain tentang retakan pada gigi, hal ini umum ditemukan pada pasien yang dirawat di tempat praktek gigi umum dan ahli endodontik. Sebagian besar pasien termasuk dalam kelompok usia 30-50 tahun, hal ini juga sama dengan penelitian lain, dan umum di tempat praktek ahli endodontik. Hampir separuh gigi [43%] dirujuk untuk menjalani perawatan endodontik meskipun diagnosis awal sementaranya adalah pulpitis reversibel. Hal ini dipastikan setelah pemeriksaan ke-85 gigi, dimana 15 gigi membutuhkan perawatan endodontik akibat paparan karies atau alasan mekanis, bukan karena keberadaan pulpitis ireversibel. Pada 9% kasus, retakan tersebut awalnya diidentifikasi oleh dokter gigi umum dan dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa dokter gigi yang merujuk belum memeriksa status pulpa gigi-geligi tersebut secara akurat, hal ini mencerminkan kebingungan tentang masalah ini di kalangan profesional dental. Hal ini juga menegaskan dibutuhkannya penelusuran riwayat, pemeriksaan, dan tes-tes yang sesuai untuk merumuskan diagnosis yang akurat. Banyak penulis mencoba mengklasifikasikan retakan berdasarkan gejala yang timbul dari pulpa. Yang berupa, sensitivitas termal [terhadap panas dan/atau dingin], nyeri saat menggigit [saat aplikasi dan/atau pelepasan], durasi nyeri [setelah stimulus dihilangkan], dan riwayat nyeri [sebelum mengunjungi dokter gigi]. Hasil penelitian ini, dan penelitian lainnya, menunjukkan bahwa gejala klasik atau umum sangat bervariasi. Hal ini mudah dijelaskan karena retakan bukanlah suatu penyakit. Namun, merupakan penyebab satu atau beberapa penyakit. Gejalanya akan mengakibatkan penyakit pulpa atau periradikuler yang disebabkan oleh retakan. Gejalanya bervariasi tergantung pada tahapan penyakit pulpa dan periradikuler yang timbul saat pasien datang untuk melakukan perawatan, serta perluasan retakan atau

P a g e | 14

fraktur, dan posisi retakan atau fraktur. Jadi, status pulpa dan jaringan periradikuler harus didiagnosis, sehingga penyebabnya [yang dapat berupa suatu retakan] dapat diidentifikasi. Penelusuran riwayat yang menyeluruh dan komprehensif harus dilakukan untuk mengembangkan diagnosis sementara. Pemeriksaan klinis, pengujian, dan radiograf dilakukan untuk memastikan diagnosis status pulpa/saluran akar dan status periradikuler serta untuk mengidentifikasi gigi yang terlibat. Penyebab penyakit juga harus ditentukan selama pemeriksaan klinis. Pemeriksaan lanjutan gigi-geligi dengan membuang semua restorasi, karies, dan retakan dapat memastikan hal-hal di atas dan mempermudah operator untuk menilai-kembali prognosis gigi dan merencanakan perawatan lebih lanjut. Banyak penulis dan klinis meyakini bahwa nyeri saat tekanan kunyah dibebaskan adalah tanda klasik cusp yang retak. Namun, ini bukanlah kasus yang diselidiki dalam penelitian ini. Tooth Slooth digunakan untuk menguji nyeri kunyah dan hanya 8% gigi yang mengalami nyeri saat tekanan kunyah dilepaskan sebagai satu-satunya tanda yang berhubungan dengan gigitan, dan 25% lainnya mengalami nyeri saat aplikasi dan pembebasan tekanan. Yang jauh lebih sering ditemukan adalah gigi-geligi mengalami nyeri saat tekanan diaplikasikan [68% gigi mengalaminya, tanpa merasakan sakit saat tekanan dilepaskan] dan sebagian gigi tidak mengalami nyeri yang berhubungan dengan gigitan. Jadi, tanda klasik nyeri saat tekanan dilepaskan tidak dapat diandalkan untuk mengidentifikasi retakan pada suatu gigi. Posisi, arah, dan perluasan retakan akan menentukan apakah nyeri timbul akibat gigitan, serta menentukan apakah nyeri disebabkan oleh aplikasi atau pelepasan tekanan. Jadi, metode yang digunakan untuk menguji tekanan kunyah dan arah gigitan berperan penting. Visualisasi suatu retakan pada gigi berperan penting untuk mengetahui

keberadaannya, perluasan, dan arah karena hal ini akan mempengaruhi perawatan yang

P a g e | 15

dibutuhkan dan prognosis gigi. Transluminasi sinar serat-optik dianjurkan untuk melihat dan mengidentifikasi retakan. Peralatan ini harus digunakan pra-operatif selama pemeriksaan dan setelah semua restorasi dilepaskan dari gigi. Semua restorasi, karies, dan retakan harus dihilangkan agar dapat dilakukan pemeriksaan gigi secara menyeluruh. Langkah ini mempermudah pemeriksaan seluruh gigi untuk mengetahui keterlibatan pulpa, banyaknya struktur gigi yang tersisa, apakah gigi dapat direstorasi dan prognosis jangka panjangnya. Setelah pemeriksaan gigi-geligi dalam penelitian ini, pulpa dirawat menggunakan lining sedatif. Lining pilihan adalah semen Ledermix yang mengandung triamcinolone [0,67%], kalsium hidroksida [33,4%], dan zinc oxide-eugenol. Triamcinolone merupakan salah satu agen kortikosteroid, yang bekerja sebagai agen anti-inflamasi. Hume dan Kenney menunjukkan bahwa 70% agen ini dilepaskan dari semen Ledermix dalam 24 jam pertama setelah aplikasi pada dentin dan sisanya dilepaskan dalam 3 hari berikutnya. Peredaan gejala nyeri pada gigi-geligi dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Hume dan Kenney dan membuktikan manfaat penggunaan bahan ini untuk penatalaksanaan pulpitis reversibel. Kembalinya status pulpa normal pada semua, kecuali 2 gigi [satu mengalami pulpitis lanjutan, dan satu gigi lainnya tidak memiliki status yang jelas], yang dibuktikan pada kunjungan 3 bulan dan tes pulpa, ditambah dengan follow up jangka panjang pada 46 gigi yang juga menunjukkan bahwa tidak ada efek samping yang mengganggu dari bahan ini seperti yang diyakini oleh banyak praktisi terdahulu. Keyakinan ini berpusat pada keberadaan kortikosteroid, namun seperti yang dibuktikan dalam penelitian in vitro Hume dan Kenney, obat ini hanya berkhasiat selama 3 hari. Dan diduga efek in vivo-nya lebih singkat akibat dinamika aliran cairan melalui pulpa yang membersihkan obat lebih cepat di dalam gigi pasien. Setelah semua triamcinolone dilepaskan, komponen-komponen yang tersisa dalam semen Ledermix dapat terus melepaskan efek terapeutiknya pada pulpa. Kalsium hidroksida

P a g e | 16

di dalam semen Ledermix memiliki efek terhadap pulpa gigi yang jelas dan telah terbukti, sedangkan eugenol dapat bekerja sebagai anti-inflamasi dan anti-bakteri, tergantung pada konsentrasi yang mencapai pulpa setelah dilepaskan dari semen melalui hidrolisis progesif yang terjadi pada dasar kavitas. Brannstrom juga membuktikan bahwa zinc oxide eugenol mencegah masuknya bakteri ke dalam kavitas yang membantu mengurangi dan/atau menghindari inflamasi pulpa. Pada satu gigi, gejala pulpitis terus berlanjut setelah perawatan konservatif awal. Hal ini merupakan hasil dari penemuan subyektif pemeriksaan yang tidak diinterpretasikan dengan tepat atau akibat trauma lanjutan [sehingga menimbulkan inflamasi lebih lanjut] pada pulpa akibat prosedur operatif yang digunakan untuk memeriksa dan merestorasi gigi sementara. Hal terakhir ini ditemukan pada dua gigi dimana awalnya pulpa kembali ke kondisi normal setelah perawatan konservatif namun kemudian tanda-tanda pulpitis kembali setelah restorasi dipasangkan. Pada satu gigi, gejala telah mereda namun akhirnya didiagnosis mengalami nekrosis pulpa. Hal ini juga menunjukkan terjadinya trauma lanjutan akibat prosedur operatif namun dalam situasi semacam itu, nekrosis dapat juga terjadi segera setelah perawatan awal. Jika nekrosis pulpa terjadi, gejala pulpa akan mereda dan pasien tidak akan merasakan nyeri sampai terjadi periodontitis apikal akut setelah infeksi sistem saluran akar. Pentingnya melepaskan semua restorasi, membersihkan karies dan retakan untuk pemeriksaan lebih lanjut dibuktikan oleh penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa semua gigi yang dirujuk untuk menjalani perawatan endodontik, hanya 15% yang benar-benar membutuhkan perawatan endodontik, sedangkan 85% lainnya dirawat secara konservatif. Selain itu, terdapat selisih jumlah cusp yang hilang pra-operatif dan post-operatif, yang ditranslasikan pada perbedaan utama pilihan perawatan potensial pada gigi-geligi tersebut.

P a g e | 17

Gigi-geligi yang dirawat secara konservatif direstorasi menggunakan restorasi sementara, yaitu semen glass ionomer setting-kimia, bahan ini tidak akan menyusut karena tidak mengandung resin, hal ini menguntungkan bagi kavitas-kavitas besar. Selain itu, bahanbahan ini tidak membutuhkan light curing yang tidak dapat dilakukan melalui SS band. Ketac Silver digunakan jika estetik tidak dipermasalahkan karena warnanya yang kontras dengan struktur gigi membantu operator untuk membersihkan bahan ini dan mempertahankan lebih banyak struktur gigi. Ketac Silver juga tidak kasar dan memiliki kekuatan yang adekuat untuk membentuk akses preparasi kavitas jika perawatan endodontik dibutuhkan di kemudian hari. Ketac Fil digunakan jika dibutuhkan restorasi estetik, seperti pada gigi-geligi anterior rahang atas dan bawah, dan sebagian gigi premolar. Dalam penelitian ini, 76% gigi dipasangkan SS band sebagai bagian restorasi sementara untuk membantu mempertahankannya, dan tidak dilakukan splinting retakan atau cusp. Band tidak akan mencegah splitting gigi jika terjadi retakan vertikal dan belum dihilangkan. Selain itu, band tidak akan mencegah penetrasi bakteri, jadi jika retakan tidak dihilangkan, maka iritasi pulpa akan berlanjut dan sistem saluran akar dapat terinfeksi. Band juga membantu perawatan endodontik jika dibutuhkan selama periode follow up, karena memberikan kestabilan bagi restorasi sementara, suatu titik referensi yang stabil untuk mengukur panjang saluran akar dan mempermudah pemasangan rubber dam. Dalam penelitian ini, tidak ada gigi yang membutuhkan pencabutan dan hanya 4 gigi yang membutuhkan perawatan endodontik setelah kunjungan pemeriksaan awal. Sebaliknya, Roh dan Lee menganalisis 154 kasus gigi-geligi yang mengalami retakan dan mereka melaporkan bahwa 43% gigi membutuhkan mahkota tanpa pengisian saluran akar [RCF], 43% membutuhkan mahkota disertai dengan RCF, dan 14% dicabut. Roh dan Lee juga juga menyimpulkan bahwa kemungkinan retakan dimana gigi utuh sensitif terhadap perubahan termal dan tes gigit [meskipun mereka tidak menyebutkan apa tipe uji gigit yang dilakukan].

P a g e | 18

Tanda dan gejala tersebut adalah bukti adanya inflamasi pulpa namun laporan ini tidak memberikan rincian tentang diagnosis pulpa atau status periradikuler jadi hasilnya sulit dibandingkan dengan penelitian lain karena tidak jelas apakah mereka membatasi penelitiannya pada gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel atau tidak. Krell dan Rivera melaporkan evaluasi 6 bulan tentang 127 gigi retak yang didiagnosis mengalami pulpitis reversibel. Penelitian tersebut hampir sama dengan penelitian ini, untuk kasus-kasus yang dipilih dalam analisis. Namun, mereka menggunakan metode perawatan yang berbeda karena mereka merekomendasikan pemasangan mahkota pada gigi dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah pulpitis akan sembuh. Jika gejala berlanjut atau jika pulpa mengalami nekrosis, maka dilakukan perawatan endodontik melalui kavitas akses yang dipotong melalui mahkota. Mereka melaporkan bahwa 21% sampel berkembang menjadi pulpitis ireversibel dalam waktu 2 bulan atau mengalami nekrosis pulpa dalam waktu 5 bulan. Mereka menyimpulkan bahwa jika perawatan endodontik tidak dibutuhkan dalam waktu 6 bulan, maka dikemudian hari, tidak akan diperlukan [kecuali timbul peristiwa pemicu lainnya]. Jika dibandingkan, tidak satupun gigi-geligi dalam penelitian ini membutuhkan perawatan endodontik setelah mahkota dipasangkan dan hanya 4% membutuhkan perawatan endodontik sebelum pemasangan mahkota. Metode yang diterapkan oleh Krell dan Rivera adalah untuk mengatasi retakan sebagai suatu masalah mekanis, dan digunakan untuk menyatukan retakan dengan mahkota, sedangkan protokol penatalaksanaan yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada prinsip retakan sebagai penyebab inflamasi pulpa. Dengan memasangkan mahkota sesegera mungkin, Krell dan Rivera tidak mengatasi inflamasi pulpa secara langsung sehingga banyak penyakit pulpa yang berkembang menjadi pulpitis ireversibel atau nekrosis pulpa. Diduga, trauma lanjutan pada pulpa akibat preparasi dan pemasangan mahkota berperan dalam perkembangan penyakit pulpa meskipun hal ini tidak akan terjadi jika pulpitis diatasi dan disembuhkan sebelum prosedur mahkota

P a g e | 19

dilakukan. Tujuh puluh sembilan persen gigi-geligi yang pulpanya sembuh menjalani pembuangan retakan sebagai bagian dari proses preparasi mahkota dan hal ini menjelaskan mengapa gejala pada gigi-geligi ini sembuh. Namun, sulit untuk mengetahui hal ini dari laporan mereka. Diagnosis pulpitis reversibel harus selalu dipertimbangkan sebagai diagnosis sementara yang perlu dikonfirmasi dan hal ini hanya dapat dilakukan jika pulpa sembuh dibutuhkan 6-8 minggu, namun 3 bulan merupakan periode yang panjang untuk mempermudah operator membedakan nekrosis pulpa dengan pulpa yang normal secara klinis keduanya tidak menimbulkan gejala.

KESIMPULAN Pada 80% kasus, jika diagnosis status pulpa dan penyebabnya akurat, gigi-geligi yang mengalami pulpitis reversibel akibat retakan dapat dirawat secara konservatif tanpa perawatan endodontik. Dalam beberapa kasus, perawatan endodontik dibutuhkan karena alasan mekanis atau restorasi gigi atau jika pulpa terbuka dan hal ini umumnya dapat ditentukan pada kunjungan awal dengan melepaskan semua restorasi dan membuang retakan dari gigi. Penelitian ini mendukung konsep bahwa suatu retakan adalah penyebab penyakit pulpa, bukan menjadi penyakit itu sendiri atau suatu sindrom.