Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI Daftar Isi Kata Pengantar BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.

3 Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian BAB II BAB III Status Obstetri dan Ginekologi Tinjauan Pustaka A Definisi B Epidemiologi C. Etiologi D. Klasifikasi E. Patofisiologi F. Manifestasi Klinis G. Diagnosis H. Pemeriksaan penunjang I. Penatalaksanaan J. Komplikasi K. Prognosis BAB III Penutup 4.1 Kesimpulan & saran Daftar pustaka 23 24 11 11 11 13 14 14 14 16 16 18 19 3 3 3 4 5 1 2

KATA PENGANTAR
1

Assalamualaikum wr wb, Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya. Atas kehendak Allah sajalah, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit. Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Ilmu obstetri dan ginekologi, penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan saran untuk penyempurnaan kami perlukan, semoga telaah ini dapat berguna dan memberikan manfaat bagi kita semua. Amin. Wassalamualaikum wr wb,

Malang, 23 Juni 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG


2

Setiap tahunnya di Indonesia, berjuta-juta perempuan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, dan sebagian besar dari perempuan tersebut memilih untuk mengakhiri kehamilan mereka, walaupun dalam kenyataanya aborsi secara umum adalah illegal. Seperti di negara-negara berkembang lainnya dimana terdapat stigma dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga-tenaga nonmedis yang menggunakan cara-cara antara lain dengan meminum ramuan-ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan penguguran kandungan yang membahayakan. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena banyak kasus abortus provokatus tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur kehamilannya hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak melapor atau berobat. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini disebabkan oleh kegagalan gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit). Di Indonesia saat ini hukum tentang aborsi didasarkan pada hukum kesehatan tahun 1992.Walaupun bahasa yang digunakan untuk aborsi adalah samar-samar, secara umum hukum tersebut mengizinkan aborsi bila perempuan yang akan melakukan aborsi mempunyai surat dokter yang mengatakan bahwa kehamilannya membahayakan kehidupannya, surat dari suami atau anggota keluarga yang mengijinkan penguguran kandungannya, test laboratorium yang menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang menjamin bahwa setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan menggunakan kontrasepsi. I.2 RUMUSAN MASALAH I.2.1 I.2.2 I.3 Bagaimana etiologi dan patofisiologi abortus inkomplit? Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan abortus inkomplit?

TUJUAN I.3.1 I.3.2 Mengetahui etiologi dan patofisiologi abortus inkomplit. Mengetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan abortus inkomplit. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu kebidanan dan kandungan pada khususnya

I.4

MANFAAT I.4.1

I.4.2

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu kebidanan dan kandungan

BAB II STATUS PASIEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI II.1 IDENTITAS PASIEN No. Reg : 257441
4

Identitas pribadi : Nama penderita Umur penderita Alamat Pekerjaan penderita : Ny. N : 38 tahun : IRT Nama Suami : Tn.K Umur suami : 49 tahun Pekerjaan suami : Swasta (Pedagang) Pendidikan suami : SMP (tamat)

: Sanankerto 03/01 Turen

Pendidikan penderita : SD (6 tahun) Anamnesa :


1. 2. 3.

Masuk rumah sakit tanggal : 20 Juni 2011 Pasien dikirim oleh : Puskesmas Turen Keluhan utama : Perdarahan dari jalan lahir 1 jam sebelum MRS, perdarahan berwarna merah segar dan mengalir banyak, serta keluar jaringan berwarna putih. Keluhan penyerta : Sakit pada perut bagian bawah dan terasa kenceng-kenceng seperti mau melahirkan. Pasien juga sempat pingsan saat terjadi perdarahan. Riwayat menstruasi : menarche umur 12 tahun, HPHT 30-03-2011 Riwayat perkawinan : pasien menikah 1 x, lamanya 8 tahun, umur pertama menikah 30 tahun. Riwayat persalinan sebelumnya : Partus 1 spontan di bidan tahun 2004, tidak ada penyulit, Partus 2 spontan dibidan tahun 2009, tidak ada penyulit. Riwayat penggunaan kontrasepsi : Suntik 1 bulanan selama 2 bulan Riwayat penyakit sistemik yang pernah dialami : Riwayat penyakit keluarga : Riwayat Kehamilan: Hamil awal pasien mual muntah selama 1 minggu, ANC 1x di bidan Riwayat kebiasaan dan sosial : sosial menengah ke bawah, Riwayat coitus semalam sebelum MRS (22.00) Riwayat pengobatan yang telah dilakukan : pasien mengkonsumsi obat penambah darah dan antimual dari bidan

4.

5. 6.

7.

8. 9. 10. 11.

12.

13.

Pemeriksaan fisik
A.

Status present Keadaan umum : kesadaran compos mentis Tekanan darah : 90/60 Suhu: 36C Nadi : 68 x/menit Jumlah pernapasan : 20x/menit
5

B.

Pemeriksaan umum Kulit Kepala Mata Wajah Mulut Leher Thorax Paru : Inspeksi : hiperpigmentasi areola mammae (-), ASI (-) pergerakan pernapasan simetris tipe pernapasan normal retraksi costa -/Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Ekstremitas : iktus kordis tidak terlihat : thrill -/: batas jantung normal : denyut jantung : : flat -/-, distensi -/-, gambaran pembuluh darah kolateral -/: pembesaran organ -/teraba massa abnormal -/: timpani : suara bising usus +/+ : odem -/Status obstetri metallic sound -/nyeri tekan -/S1 S2 : teraba massa abnormal -/: sonor +/+ : vesikuler +/+ wheezing -/hipersonor -/ronki -/pembesaran kelenjar axila -/pekak -/: normal : : anemi (-/-) : simetris : kebersihan gigi geligi kurang hiperemi faring (-) stomatitis (-) pembesaran tonsil (-) ikterik (-/-) odem palpebra (-/-)

: pembesaran kelenjar limfe di leher (-) pembesaran kelenjar tiroid (-) :

suara nafas menurun -/-

C.

Pemeriksaan luar
6

Leopold I Leopold II Leopold III Leopold IV Bunyi jantung janin Pemeriksaan Dalam

: Tinggi fundus uteri : 2 jari di atas symphisis pubis ::::-

Ukuran panggul luar (jika diperlukan) : Pengeluaran pervaginam Vulva / vagina Pembukaan Penipisan portio Ketuban Bagian terdahulu Bagian terendah Hodge Molase :: Blood (+) : 2 cm teraba jaringan ::::::-

Bagian tersamping terdahulu : -

Ukuran panggul dalam (kalau diperlukan) : Ringkasan :

Anamnesa : Perdarahan dari jalan lahir 1 jam sebelum MRS, perdarahan berwarna merah segar dan mengalir banyak. Pasien juga mengeluh sakit pada perut bagian bawah dan terasa kenceng-kenceng seperti mau melahirkan. Pasien juga sempat pingsan saat terjadi perdarahan. Pemeriksaan fisik : keadaan umum : kesadaran compos mentis, tekanan darah : 90/60, nadi : 68x/menit, suhu: 36C, jumlah pernapasan : 20x/menit Pemeriksaan obstetric luar Leopold I Leopold II Leopold III Leopold IV ::::

: Tinggi fundus uteri : 2 jari di atas symphisis pubis

Pemeriksaan obstetric dalam : Vulva / vagina : Blood, Pembukaan: 2 cm teraba jaringan

Diagnose

: GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit :

Rencana tindakan 1. Infus RL 2. Antibiotik


3. Kuretase

Lembar Follow Up Nama pasien Ruang kelas Dignose Tanggal/jam 20 Juni 2011 : Ny. N : IRNA B : GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit Catatan Observasi S : keluhan nyeri pada perut bagian bawah dan perdarahan
8

Paraf/Nama terang

masih terasa mengalir O : T : 90/60, N :68x/menit, S : 36C, RR: 20 x/menit A : GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit P : Infus RL Injeksi ceftazidine 2x1 Injeksi kalnex 2 amp Pro: Kuretase 21 Juni 2011 S : Nyeri sudah berkurang, perdarahan juga sudah berkurang (tidak mengalir) O : T : 100/60, N : 78x/menit, S : 36C, RR: 20x/menit A : GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit P : Injeksi ceftazidine 2x1 Pro: Kuretase (hari ini) 21 Juni 2011 S : Nyeri sudah tidak ada, perdarahan juga sudah tidak ada (hanya flek-flek sedikit) O : Observasi post kuret T : 120/70, N : 80x/menit, S : 36C, RR: 20 x/menit A : GIII P2002 Ab000 UK 12-14 minggu dengan Abortus Inkomplit P : Infus di aff CoAmoxiclav 3x1 B.Comp 3x1

BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. B. EPIDEMIOLOGI Insidensi dari aborsi bervariasi tergantung dari variabel yang digunakan untuk menentukan status aborsi dari suatu kehamilan.

10

Menurut penelitian yang dilakukan Aan Guttmacher Institute, angka kejadian aborsi di Amerika Serikat adalah 1.287.000 kasus pada tahun 2003 dengan rasio 20.8 per 1000 kelahiran pada wanita usia produktif (15-49 tahun). Di Indonesia sendiri, sebuah penelitian menunjukkan angka kejadian aborsi sebesar 2.000.000 kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000 kelahiran pada wanita usia produktif (15-49 tahun). Penelitian ini dilakukan pada fasilitas kesehatan dari 6 wilayah. Dari penelitian yang telah dilakukan, terbukti sebagian besar perempuan yang melakukan aborsi memiliki profil khusus yaitu mereka cenderung sudah menikah dan hampir dua pertiga sudah pernah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa hanya38% dari perempuan pernah kawin yang pernah duduk di bangku Sekolah Menengah. Selanjutnya ditemukan bahwa hampir setiap klien yang melakukan aborsi berusia lebih dari 20 tahun (58% berusia lebih dari 30 tahun). Dan hampir separuh dari perempuan-perempuan tersebut sudah memiliki paling sedikit dua anak. Hampir sebagian besar dari mereka yang melakukan praktek aborsi mengaku karena sudah tidak ingin memiliki anak lagi.
C. ETIOLOGI

Aborsi memiliki banyak faktor penyebab, tetapi beberapa studi menunjukkan 60% disebabkan oleh kelainan kromosom. Berikut adalah penyebab yang umum didapatkandalam kasus aborsi: 1. Faktor janin:
a.

Aborsi aneuploidi

95% dari kelainan kromosom yang berkaitan dengan aborsi disebabkan oleh kesalahan gametogenesis. Trisomi autosomal paling sering ditemukan berkaitan dengan kelainan kromosom pada aborsi pada trimester pertama. Sedangkan monosomy X adalah kelainan kromosom tunggal spesifik yang paling sering ditemukan b. Aborsi eupliodi Janin dengan kromosom normal cenderung untuk aborsi lebih jauh di kemudian hari dibandingkan dengan aborsi aneuploidi. Angka kejadian dari aborsi euploidi berkurang dramatis setelah umur ibu lebih dari 35 tahun. 2. Faktor ibu: a. Infeksi Infeksi tidak umum menyebabkan aborsi. Studi yang dilakukan Simpson dan temanteman (1996) tidak menemukan bukti aborsi akibat infeksi. Studi lain yang
11

dilakukan Oakshet dan teman-teman (2002) menunjukkan hubungan antara aborsi pada trimester kedua dengan bakterial vaginosis b. Hipotiroid Defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan aborsi. Efek dari hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan angka kejadian dari aborsi. c. Diabetes Mellitus Kadar gula darah yang tidak terkontrol meningkatakan angka kejadian aborsi d. Merokok Kebiasaan merokok berkaitan dengan meningkatnya resiko dari aborsi euploidi. Resiko ini meningkat sesuai dengan peningkatan frekuensi dan dosis dari merokok itu sendiri. e. Alkohol Konsumsi alkohol pada 8 minggu pertama kehamilan berkaitan erat dengan peningkata angka kejadian aborsi f. Kafein Peningkatan resiko aborsi baru terjadi pada mereka yang mengkonsumsi kafein lebih dari 500 mg per hari. g. Defek uterus Resiko aborsi meningkat pada sindrom Asherman h. Servix inkompeten Servix inkompeten adalah terjadinya dilatasi servix yang tidak sakit pada trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap dan penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi expulsi dari janin prematur. D. KLASIFIKASI Secara umum aborsi dibagi menjadi: 1. Abortus Spontan: Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang tidak disertai dengandilatasi servix dan pengeluaran janin
b. Abortus insipiens 12

a. Abortus yang mengancam (iminens)

Ditandai oleh terjadinya perdarahan pada awal kehamilan yang disertai dengandilatasi servix dan nyeri c. Abortus inkomplit Ditandai oleh pengeluaran sebagian hasil konsepsi dari kavum uteru d. Abortus komplit Ditandai oleh pengeluaran seluruh hasil konsepsi e. Abortus tertunda Ditandai oleh kematian janin tanpa disertai pengeluaran hasil konsepsi
f. Abortus Habitualis

Ditandai oleh abortus yang berlangsung selama 3 kali atau lebih secara berurutan g. Abortus Septik Abortus yang disertai dengan infeksi pada uterus 2. Abortus yang diinduksi: Aborsi yang dicetuskan karena pertimbangan medis atau secara elektif.

E.

PATOFISIOLOGI Walau sebagian besar kasus abortus spontan disebabkan oleh karena kelainan kromosom, pada prakteknya banyak ditemukan anak lahir dengan kelainan kromosom tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami proses terjadinya abortus secara umum. Dalam sebagian besar dari kasus aborsi, terdapat plasentasi yang tidak adekuat sehingga menyebabkan kegagalan dari sel-sel trofoblast untuk masuk dalam arteri spiralis. Kegagalan dari sel-sel trofoblast tersebut mengakibatkan terjadinya peredarahan dari dari ibu ke anak yang prematur. Masuknya darah ibu tersebut lama-kelamaan menyebabkan terjadinya ekspulsi dari kantung kehamilan. Selain hal tersebut, kegagalan sel-sel trofoblast di atas mengakibatkan peningkatan tekanan oksigen di ruang intervili sehingga terjadi peningkatan stres dan berkurangnya fungsi dari plasenta.

F.

MANIFESTASI KLINIS Gejala klinis pada abortus pada umumnya sama, antara lain: a. Perdarahan atau bercak darah dari jalan lahir pada trimester pertama b. Jumlah darah umumnya sedikit
13

c. Warna darah bervariasi dari kecoklatan hingga merah segar d. Perdarahan bisa berlangsung hingga beberapa hari e. Biasa didahului oleh mulas-mulas atau sakit pinggang G. DIAGNOSA a. Abortus iminens: Anamnesis: Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Biasa berupa bercak-bercak Bisa atau tidak disertai dengan mulas atau nyeri pinggang Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir Pemeriksaan Fisik:
Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak

ditemukan jaringan

b. Abortus insipiens: Anamnesis: o Perdarahan pada trimester pertama kehamilan


o Biasa berupa darah segar yang mengalir

o Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang o Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir Pemeriksaan Fisik:
o Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, portio terbuka, tidak ditemukan

jaringan c. Abortus inkomplit: Anamnesis: Perdarahan pada trimester pertama kehamilan


Biasa berupa darah segar yang mengalir Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang 14

Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir

Pemeriksaan Fisik:
Inspekulo: ditemukan darah segar di sekitar dinding vagina, portio terbuka, bisa

ditemukan jaringan di jalan lahir d. Abortus komplit: Anamnesis: Perdarahan pada trimester pertama kehamilan Darah biasa berupa bercak-bercak
Disertai dengan mulas atau nyeri pinggang

Ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir Pemeriksaan Fisik:


Inspekulo: ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak ditemukan

jaringan

e. Abortus tertunda: Anamnesis: o Uterus yang berkembang lebih rendah dibandingkan usia kehamilannya
o Bisa tidak ditemukan perdarahan atau hanya bercak-bercak

o Tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir Pemeriksaan Fisik:
o Inspekulo: bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina, portio tertutup, tidak ditemukan jaringan

f. Abortus septik:

Anamnesis:

Ditemukan satu atau lebih tanda-tanda abortus di atas Riwayat sedang menggunakan IUD Riwayat percobaan aborsi sendiri Pemeriksaan Fisik: Demam > 38 C
15

Inspekulo: ditemukan salah satu tanda abortus seperti di atas H. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Penunjang:
o

Serum hCG

Serum - hCG > 2500 IU per mL disertai dengan USG transvaginal merefleksikan 90% kehamilan intrauterine Serum - hCG > 6500 IU per mL disertai dengan USG abdomen merefleksikan 90%kehamilan intrauterine o USG Gerakan jantung janin harusnya sudah bisa dilihat sejak masa gestasi 6 - 7 minggu I. PENATALAKSANAAN Secara umum tatalaksana aborsi dibagi 2, yaitu:
a.

Terapi medikasi Terapi medikasi menggunakan mifepristone yang disusul dengan penggunaan misoprostol atau mungkin hanya misoprostol saja. Terapi medikasi ini digunakan pada aborsi dengan masa gestasi 4-9 minggu dan lebih dari 14 minggu. Terapi bedah cenderung digunakan pada masa gestasi 9-14 minggu. Regimen lain seperti methotrexate disusul dengan misroprostol juga sering digunakan. Indikasi penggunaan terapi medikasi:

Pilihan pasien Masa gestasi yang kecil Obesitas (BMI > 30) tanpa kelainan kardiovaskular Fibroma uterus Malformasi uterus Riwayat bedah sevik sebelumnyaKontraindikasi terapi medikasi; Riwayat alergi mifepristone, misoprostol atau obat terapi medikasi lainnya Mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang Gagal ginjal kronik Kelainan pembekuan darah IUD yang masih terpasang Infeksi daerah panggul yang berat
16

Rekomendasi WHO dan IPPF:


o

Mifeprostone 200mg oral diikuti misprostol 800g 36-48 jam setelahnya (oral, sublingual, bukal atau intravaginal) dalam satu dosis atau dibagi menjadi dua dosis 400g yang diberikan selang 2 jam

Rekomendasi FDA Amerika Serikat:


o o

Hari pertama: Mifepristone 600mg per oral dalam satu kali minum Hari kedua: Rh-imunoglobin 50g tidak lebih dari 48 jam sesudah terjadinya tandatanda aborsi pada pasien dengan Rh Hari ketiga: bila proses aborsi belum selesai dan dikonfirmasi dengan USG, berikanmisoprostol 400g Hari keempat belas: cek kembali keadaan aborsi pasien dengan USG atau serum hCG. Serum - hCG seharusnya berada di bawah 1.000IU/L setelah 2 minggu pemberian mifepristone. Bila proses aborsi belum selesai, dilanjutkan dengan aspirasi vakum.

b. Terapi bedah Indikasi terapi bedah: Pilihan pasien Sterilisasi Terdapat kontraindikasi pada pemakaian terapi medikasi Pasien tidak mampu datang untuk kontrol setelah terapi medikasi

Pendekatan terapi bedah yang umum dilakukan yaitu: 1. Aspirasi Vakum Aspirasi vakum adalah prosedur yang aman dan efektif dan menjadi terapi pilihan sebelum teknik dilatasi dan kuretase. Teknik ini bisa digunakan hingga masa gestasi 12 minggu dan 99,5% efektif. Komplikasi teknik ini lebih rendah dibandingkan teknik dilatasi dan kuretase, dilatasi servik yang dibutuhkan lebih kecil, harga yang lebih murah, tidak diperlukan anastesi umum. 2. Dilatasi dan Kuretase Teknik ini lebih berbahaya dan lebih sakit dibandingkan teknik aspirasi vakum sehingga pemilihan teknik ini umumnya dibatasi bila aspirasi dan terapi medikasi tidak bisa diberikan. Teknik ini bisa digunakan hingga masa gestasi 12 mingguan 99% efektif.
17

J.

KOMPLIKASI Komplikasi pada aborsi dibagi dua antara lain:


a. Komplikasi akut

Komplikasi ini terjadi selama prosedur atau 3 jam sesudah proses abortus selesai: Perdarahan
Luka serviks

Perforasi uterus
Hematometra

b. Komplikasi lanjut: o Infeksi o Jaringan sisa o Sensitisasi Rh K. PROGNOSIS Resiko dari kematian atau komplikasi medis yang serius lebih banyak terjadi pada wanita dengan kehamilan cukup bulan dibandingkan aborsi, kesehatan secara umum lebih baik pada pasien aboertus dibandingkan kelahiran cukup bulan. Resiko kematian yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran berkisar 7 - 8 per 100.000 kelahiran sedangkan bila dikaitkan dengan abortus, berkisar kurang dari 1 per 100.000 kelahiran. Beberapa studi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara aborsi dengan penurunan kesuburan atau resiko terjadinya kehamilan ektopik. Sebuah studi di Cina berkaitan dengan pemakaian mifepristone dan misoprostol menunjukkan tidak adanya hubungan antara pemakaian obat tersebut dengan peningkatan resiko kehamilan prematur

18

BAB III PENUTUP


III.1 KESIMPULAN Dari pembahasan makalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Abortus hanya dipraktikkan dalam klinik atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah dan organisaso-organisasi profesi medis. 2. Aborsi hanya dilakukan oleh tenaga profesional yang terdaftar dan memperoleh izin untuk itu, yaitu dokter spesialis kebidanan dan genekologi atau dokter umum yang mempunyai kualifikasi untuk itu. 3. Aborsi hanya boleh dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu (untuk usia diatas 12 minggu bila terdapat indikasi medis). 4. Harus disediakan konseling bagi perempuan sebelum dan sesudah abortus. 5. Harus ditetapkan tarif baku yang terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. III.2 SARAN
1. 2.

Dilakukan penelitian tentang komplikasi dan bahaya abortus di Indonesia Mahasiswa diharapkan lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang bahaya abortus

19

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. Guttmatcher Institute. Aborsi di Indonesia. Guttmatcher Institue. 2008 Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan.P.T Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2009 Norman F. Gant MD, Kenneth J., Md Leveno, Larry C., Iii, Md Gilstrap, John C., MdHauth, Katharine D., Md Wenstrom, John C.Hauth, J. Whitridge Obstetrics Williams(Editor), StevenL. Clark, Katharine D. Wenstrom.Williams Obstetrics 23rd Ed: McGraw-Hill Professional 4. 5. 6. 7. 8. 9. McBride, Dorothy E. Abortion in United State. ABC-CLIO.2008 Evans, Arthur T.Manual of Obstetric 7th ed .Lippincot Williams and Willkins. 2007 Morgan, Mark. Siddighi, Sam.Obstetrics and Gynecology Volume 1.LippincotWilliams and Willkins. 2004 R. James. Scoot, Md. S. Ronald et al.Danforths Obstetric and Gynecology 9thEdition.Lippincott Williams & Wilkins. 2003 Keeling, Jean W. Khong T Yee.Fetal and Neonatal Pathology. Springer. 2007 World Health Organization. Safe Abortion: Technical and Policy Guidance for HealthSystems. World Health Organization. 2003 10. Hatcher, Robert A. Trussell, James.Nelson, Anita L. Contraceptice Technology.Ardent Media. 2008

20