Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

NAMA NPM GRUP FAKULTAS/DEPARTEMEN NO PERCOBAAN NAMA PERCOBAAN TANGGAL PERCOBAAN KAWAN KERJA ASISTEN : HAURETA NOVA AISYAH : 0906488685 : C9 : TEKNIK/TEKNIK SIPIL : KR 01 : DISIPASI KALOR HOT WIRE : 19 MARET 2010 :: MELLA

UNIT PELAKSANA PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN DASAR UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2010

DISIPASI KALOR HOTWIRE

I.

TUJUAN PERCOBAAN Menggunakan hotwire sebagai sensor kecepatan aliran udara.

II.

PERALATAN 1. Kawat pijar (hotwire) 2. Fan 3. Voltmeter dan Amperemeter 4. Adjustable power supply 5. Camcorder 6. Unit PC beserta DAQ dan perangkat pengendali otomatis

III.

LANDASAN TEORI

a) Disipasi Energi Energi mekanik akibat gerakan partikel materi dan dapat dipindah dari satu tempat ke tempat lain disebut kalor. (Syukri S, 1999).

Hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi disebut termodinamika. Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang kimia yang menangani hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain energi dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan keadaan (Keenan, 1980).

Hukum pertama termodinamika menghubungkan perubahan energi dalam suatu proses termodinamika dengan jumlah kerja yang dilakukan pada sistem dan jumlah kalor yang dipindahkan ke sistem (Petrucci, 1987).

Hukum kedua termodinamika, yaitu membahas tentang reaksi spontan dan tidak spontan. Proses spontan yaitu reaksi yang berlangsung tanpa pengaruh luar. Sedangkan reaksi tidak spontan tidak terjadi tanpa bantuan luar.

Energi disipasi dapat berarti energi yang hilang dari suatu sistem. Hilang dalam arti berubah menjadi energi lain yang tidak menjadi tujuan suatu sistem (dalam percobaan, energi listrik berubah menjadi energi kalor). Timbulnya energi disipasi secara alamiah tidak dapat dihindari. Contohnya: 1) Energi panas yang timbul akibat gesekan. Dalam hal ini, timbulnya gesekan dianggap merugikan. 2) Energi listrik yang terbuang akibat adanya hambatan pada kawat penghantar. 3) Energi panas pada transformator (trafo). Trafo dikehendaki untuk mengubah tegangan. Namun, pada kenyataan, timbul panas pada trafo. Panas inilah yang dianggap sebagai energi disipasi.

Dalam fisika, disipasi mewujudkan konsep sistem dinamis di mana modus mekanis yang penting, seperti gelombang atau osilasi, kehilangan energi selama waktu, biasanya karena

tindakan gesekan atau turbulensi. Energi yang hilang diubah menjadi panas, menaikkan temperatur dari sistem. Sistem seperti ini disebut sistem disipasi.

b) Hotwire sebagai Sensor Kecepatan Aliran Udara Perkembangan teknologi yang cepat dalam peralatan penyensoran telah memungkinkan berbagai pengukuran aliran fluida dilakukan dengan berbagai sensor yang memberikan hasil-hasil pengukuran yang akurat. Untuk pengukuran berbagai aliran turbulen, salah satu jenis sensor yang banyak digunakan adalah hotwire anemometer.

Single normal probe adalah suatu tipe hotwire yang paling banyak digunakan sebagai sensor untuk memberikan informasi kecepatan aliran dalam arah aksial saja. Probe seperti ini terdiri dari sebuah kawat logam pendek yang halus (delicate) yang disatukan pada dua kawat baja dengan arus listrik dan bekerja berdasarkan prinsip perpindahan panas konveksi. Masing masing ujung probe dihubungkan ke sebuah sumber tegangan. Energi listrik yang mengalir pada probe tersebut akan didisipasi oleh kawat menjadi energi kalor. Besarnya energi listrik yang terdisipasi sebanding dengan tegangan, arus listrik yang mengalir di probe tersebut dan lamanya waktu arus listrik mengalir.

Bila probe dihembuskan udara maka akan merubah nilai resistansi kawat sehingga merubah besarnya arus listrik yang mengalir. Semakin cepat udara yang mengalir maka perubahan nilai resistansi juga semakin besar dan arus listrik yang mengalir juga berubah.

Jumlah perpindahan panas yang diterima probe dinyatakan oleh overheat ratio yang dirumuskan sebagai :

Overheat ratio =

Rw = resistansi kawat pada temperatur pengoperasian (dihembuskan udara). Ra = resistansi kawat pada temperatur ambient (ruangan).

Sistem hot-wire anemometer yang digunakan meliputi sebuah single normal hotwire probe, DISA 55M01 main unit, 55M11 CTA booster adapter, dan 55M05 power pack. Probe yang digunakan dioperasikan dalam suatu mode temperatur konstan untuk menyediakan respon frekuensi yang lebih tinggi. Dalam mode temperatur konstan, resistansi kawat, Rw dipertahankan konstan untuk memfasilitasi respon instantaneous dari inersia termal sensor terhadap berbagai perubahan dalam kondisi aliran.

Single normal probe

Hotwire probe harus dikalibrasi untuk menentukan persamaan yang menyatakan hubungan antara tegangan kawat (wire voltage, E) dengan kecepatan referensi (reference velocity, U). Setelah persamaan diperoleh, kemudian informasi kecepatan dalam setiap percobaan dapat dievaluasi menggunakan persamaan tersebut.

Persamaan yang didapat berbentuk persamaan linear atau persamaan polinomial.

Beberapa persamaan yang dapat digunakan antara lain: 1) Persamaan Simple Power-law Persamaan ini diperkenalkan oleh L.V. King dan dirumuskan sebagai berikut:

dimana A dan B merupakan konstanta-konstanta kalibrasi, E merupakan tegangan kawat, n merupakan konstanta pangkat, dan U merupakan komponen kecepatan aksial. 2) Persamaan Extended Power-law Persamaan ini diperkenalkan oleh R.G. Siddal dan T.W. Davies yang diformulasikan sebagai berikut:

dimana A, B, dan C adalah konstanta-konstanta kalibrasi dan n = 0.5.

Pada percobaan yang akan dilakukan, yaitu mengukur tegangan kawat pada temperatur ambient dan mengukur tegangan kawat bila dialiri arus udara dengan kecepatan yang hasilkan oleh fan. Kecepatan aliran udara oleh fan akan divariasikan melalui daya yang diberikan ke fan yaitu 70 , 110 , 150 dan 190 dari daya maksimal 230 m/s. c) Konveksi Konveksi adalah proses di mana kalor ditransfer dengan pergerakan molekul dari satu tempat ke tempat yang lain. Sementara konduksi hanya melibatkan molekul (dan/atau elektron) yang hanya bergerak dalam jarak yang kecil dan bertumbukan, konveksi melibatkan pergerakan molekul dalam jarak yang besar.

Tungku dengan udara yang dipaksa, di mana udara dipanaskan, dan kemudian ditiup oleh kipas angin ke dalam ruangan, merupakan satu contoh konveksi yang dipaksakan. Konveksi alami juga terjadi, dan satu contoh yang banyak dikenal adalah bahwa udara panas akan naik. Misalnya, udara di atas radiator (atau pemanas jenis lainnya) memuai pada saat dipanaskan, dan kerapatannya akan berkurang; karena kerapatan menurun, udara tersebut naik, sama seperti sebatang kayu yang diceburkan ke dalam air akan terapung ke atas karena massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis air. Air samudra yang hangat atau dingin, seperti Gulf Stream yang sejuk, menunjukkan konveksi alami dalam skala besar. Angin merupakan contoh konveksi yang lain, dan cuaca pada umumnya merupakan hasil dari arus udara yang konvektif.

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN

1. 2.

Mengaktifkan Web cam dengan mengklik icon video pada halaman web r-Lab. Memberikan aliran udara dengan kecepatan 0 m/s , dengan mengklik pilihan drop down pada icon atur kecepatan aliran. Menghidupkan motor penggerak kipas dengan mengklik radio button pada icon menghidupkan power supply kipas.

3.

4.

Mengukur Tegangan dan Arus listrik di kawat hotwire dengan cara mengklik icon ukur.

5.

Mengulangi langkah 2 hingga 4 untuk kecepatan 70 , 110 , 150 , 190 dan 230 m/s.

V.

DATA PENGAMATAN

Waktu

Kec Angin

V-HW

I-HW

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kec Angin 70 70 70 70 70 70 70 70 70 70

2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 V-HW 2.056 2.056 2.056 2.055 2.055 2.055 2.055 2.055 2.054 2.055

54.5 53.9 53.9 55.5 55.7 54.1 53.9 54.1 55.8 55.6 I-HW 55.1 54.1 54.7 57.4 57.5 55.0 54.1 54.5 57.1 57.8

Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kec Angin 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 Kec Angin 150 150 150 150 150 150 150 150 150 150 Kec Angin 190 190 190 190 190 190 190 190 190 190

V-HW 2.037 2.037 2.036 2.037 2.038 2.036 2.038 2.037 2.037 2.038 V-HW 2.028 2.029 2.028 2.028 2.029 2.029 2.029 2.029 2.029 2.030 V-HW 2.023 2.023 2.022 2.023 2.022 2.023 2.024 2.023 2.023 2.024

I-HW 54.4 55.4 57.7 58.8 57.2 55.0 54.3 54.4 55.9 57.8 I-HW 60.2 59.1 58.8 58.4 57.9 57.4 56.9 56.4 56.0 55.4 I-HW 54.6 54.5 54.5 54.8 55.5 56.5 58.2 59.1 59.4 58.2

Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 VI.

Kec Angin 230 230 230 230 230 230 230 230 230 230

V-HW 2.020 2.019 2.019 2.020 2.021 2.021 2.021 2.021 2.022 2.022

I-HW 60.3 59.6 59.7 59.3 58.7 58.0 57.2 56.6 56.0 55.3

PENGOLAHAN DATA

Dengan menggunakan data-data yang telah diperoleh, maka praktikan bisa membuat grafik Tegangan Hotwire terhadap Waktu seperti ditampilkan di bawah ini,

1.

Kecepatan angin 0 m/s Waktu V-Hw 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112 2.112

Grafik Kecepatan angin 0 m/s


2.5 2 V-HW 1.5 1 0.5 0 0 5 Waktu (s) 10 15 0 m/s Linear (0 m/s)

Y=2.112

2.

Kecepatan angin 70 m/s

Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

V-HW 2.056 2.056 2.056 2.055 2.055 2.055 2.055 2.055 2.054 2.055

Grafik Kecepatan angin 70 m/s


2.0565 2.056 2.0555 V-HW 2.055 2.0545 2.054 2.0535 0 2 4 6 Waktu (s) 8 10 12 70 m/s Linear (70 m/s)

Y=-0.000169+2.056

3.

Kecepatan angin 110 m/s Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 V-HW 2.037 2.037 2.036 2.037 2.038 2.036 2.038 2.037 2.037 2.038

Grafik kecepatan angin 110 m/s


2.0385 2.038 2.0375 V-HW 2.037 2.0365 2.036 2.0355 0 5 waktu (s) 10 15 110 m/s Linear (110 m/s)

Y=0.000090x+2.036

4.

Kecepatan angin 150 m/s

Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

V-HW 2.028 2.029 2.028 2.028 2.029 2.029 2.029 2.029 2.029 2.030

Grafik ketika kecepatan angin 150 m/s


2.0305 2.03 2.0295 V-HW 2.029 2.0285 2.028 2.0275 0 5 Waktu (S) 10 15 150 m/s Linear (150 m/s)

Y= 0.000139x+2.0281

5.

Kecepatan angin 190 m/s Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 V-HW 2.023 2.023 2.022 2.023 2.022 2.023 2.024 2.023 2.023 2.024

Grafik ketika kecepatan angin 190 m/s


2.0245 2.024 2.0235 V-HW 2.023 2.0225 2.022 2.0215 0 5 Waktu (s) 10 15 190 m/s Linear (190 m/s)

Y=0.000109x+2.022

6.

Kecepatan angin 230 m/s Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 V-HW 2.020 2.019 2.019 2.020 2.021 2.021 2.021 2.021 2.022 2.022

Grafik ketika kecepatan angin 230 m/s


2.0225 2.022 2.0215 2.021 V-HW 2.0205 2.02 2.0195 2.019 2.0185 0 2 4 6 Waktu (s) 8 10 12 230 m/s Linear (230 m/s)

Y=0.000315x+2.018

Dalam

penggambaran

grafik,

akan

dicari

persamaan

garis

lurus

terbaik

yang

merepresentasikan data pengamatan di atas dengan menggunakan metode kuadrat terkecil. Garis lurus yang akan dicari adalah

Menggunakan Metode Kuadrat Terkecil (Least Square),


Xi2 0 4900 12100 22500 36100 52900 Yi2 4,461 4,223 4,149 4,116 4,092 4,083

Pengukuran Ke1 2 3 4 5 6

Kec. Angin (m/s) (xi) 0 70 110 150 190 230

V-HW (V)(yi) 2,112 20,552 20,371 20,288 20,230 20,206

xiyi 0 143,86 224,08 304,32 384,37 464,73

n=6

Persamaan garis yang dimaksud adalah

Tegangan
2,500 2,000 1,500 Tegangan 1,000 500 0 -500 -1,000 0 50 100 150 200 250 Tegangan Linear (Tegangan)

Kecepatan Angin (m/s)

VII. ANALISIS DATA

a) Analisis Percobaan Praktikum ini bertujuan untuk menggunakan hotwire sebagai sensor kecepatan aliran udara. Praktikum ini tidak dilaksanakan secara manual, melainkan streaming melalui internet, yaitu situs r-Lab sehingga ada kemungkinan terjadi beberapa kesalahan eksperimen percobaan seperti kesalahan sistematik. Kemudian, Langkah pertama yang dilakukan adalah menghembuskan angin dengan kecepatan yang berbeda-beda pada single normal probe hotwire. Sumber angin yang dimiliki berasal dari fan/kipas angin. Sedangkan, hotwire yang digunakan adalah sebuah kawat logam pendek yang halus yang disatukan pada dua kawat baja dengan arus listrik, yang masing-masing ujungnya dihubungkan ke sebuah sumber tegangan. Besarnya energi listrik yang terdisipasi sebanding dengan tegangan, arus listrik yang mengalir di probe tersebut dan lamanya waktu arus listrik mengalir.

Langkah yang dilakukan praktikan pertama kali dengan menghembuskan angin dengan kecepatan berbeda-beda, yaitu 0 m/s (udara tidak dihembuskan), 70 m/s, 110 m/s, 150 m/s, 190 m/s, dan 230 m/s. Ketika angin dihembuskan pada hotwire, akan mengubah nilai resistansi kawat, sehingga akan merubah besarnya arus listrik yang mengalir. Hal ini, juga akan berpengaruh terhadap tegangan listrik yang mengalir pada kawat. Dengan kecepatan angin yang sama, pengukuran dilakukan setiap sekon sebanyak 10 kali. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan variasi data dan untuk mendapatkan data yang akurat hingga hasil pengukuran akan memiliki pendekatan yang baik terhadap nilai yang sesungguhnya. Ketika angin dialirkan pada probe, maka angin tersebut akan menerpa kawat pijar tersebut dengan kecepatan v sehingga dihasilkan kekuatan gaya sebesar F. Udara yang mengalir pada kawat pijar memiliki besar gaya F dengan kecepatan v yang dialirkan dalam waktu 1 hingga 10 detik. Adanya terpaan angin pada kawat pijar tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan resistansi pada kawat, yang mana hubungannya berbanding lurus dengan kecepatan angin yang mengalir pada probe. Semakin kencang aliran udara yang mengalir pada probe maka tegangan yang terjadi pada sistem akan semakin kecil, sementara arus yang mengalir akan semakin besar. Besar kecilnya perubaan resistansi inilah yang nantinya akan

menentukan besar kecilnya perpindahan atau transfer kalor pada probe.

Dengan kecepatan angin yang sama, walaupun diukur setiap sekon sebanyak 10 kali, tidak tercatat perubahan tegangan hotwire yang signifikan. Tercatat beberapa fluktuasi, namun tidak terlalu jauh dari nilai tegangan rata-rata. Dapat dinyatakan, bahwa waktu tidak berpengaruh terhadap tegangan hotwire bila kecepatan angin yang dihembuskan sama.

Namun, bila melihat data pengamatan serta membuat hubungan antara tegangan dan kecepatan angin, maka didapat bahwa perubahan kecepatan angin akan berpengaruh signifikan terhadap tegangan hotwire.

b) Analisis Hasil Dengan mencari nilai kecepatan angin rata-rata kita dapat medapatkan sebuah hasil yang akan dicari grafiknya.

Pengukuran ke1 2 3 4 5 6

Kec.Angin Rata-Rata (m/s) 0 70 110 150 190 230

V-HW Rata-Rata (V) 2,112 2,055 2,037 2,028 2,023 2,021

Pada saat fan belum dinyalakan (angin belum dihembuskan), tegangan hotwire dimunculkan berkisar 2,112 volt. Penambahan kecepatan angin berbanding terbalik dengan tegangan hotwire. Dengan adanya hembusan angin pada kawat pijar akan menyebabkan terjadinya perubahan resistansi pada kawat di mana perubahan tersebut berbanding lurus dengan kecepatan udara yang mengalir maka tegangan yang terjadi pada sistem semakin kecil dan arus semakin besar.

Sehingga semakin besar kecepatan angin, maka semakin kecil tegangan hotwire, yang sebenarnya tidak terlalu signifikan apabila tidak diukur dengan peralatan digital atau bila diukur manual, karena nilai tegangan kawat berkisar 2 volt dan hanya berbeda ketelitian 3 angka di belakang koma. Meningkatnya resistansi kawat juga akan meningkatkan overheat ratio, yaitu jumlah perpindahan panas yang diterima oleh probe, seperti dinyatakan dalam persamaan (2),

Overheat ratio = Rw Ra = resistansi kawat pada temperatur pengoperasian (dihembuskan udara). = resistansi kawat pada temperatur ambient (ruangan).

c) Analisis Grafik Hal ini ketika kecepatan bertambah, resistansi bertambah dan tegangan berkurang, maka energi listrik yang terdisipasi menjadi energi kalor akan berkurang.

Suatu bentuk energi dapat berubah menjadi bentuk energi yang lain. Misalnya pada peristiwa gesekan energi mekanik berubah menjadi panas. Pada mesin uap panas diubah menjadi energi mekanik. Demikian pula energi listrik dapat diubah menjadi panas atau sebaliknya. Sehingga dikenal adanya kesetaraan antara panas dengan energi mekanik/listrik, secara kuantitatif hal ini dinyatakan dengan angka kesetaraan panas-energi listrik/mekanik. Kesetaraan panasenergi mekanik pertama kali diukur oleh Joule dengan mengambil energi mekanik benda jatuh untuk mengaduk air dalam kalorimeter sehingga air menjadi panas. Energi listrik dapat diubah menjadi panas dengan cara mengalirkan arus listrik pada suatu kawat tahanan yang tercelup dalam air yang berada dalam kalorimeter. Energi listrik yang hilang dalam kawat tahanan besarnya adalah:

di mana : V = beda potensial antara kedua ujung kawat tahanan [volt] i = kuat arus listrik [ampere]

t = lamanya mengalirkan arus listrik [detik]

Energi listrik sebesar V.i.t joule ini merupakan energi mekanik yang hilang dari elektronelektron yang bergerak dari ujung kawat berpotensial rendah ke ujung yang berpotensial tinggi.

Tegangan
2,500 2,000 1,500 Tegangan 1,000 500 0 -500 -1,000 0 50 100 150 200 250 Tegangan Linear (Tegangan)

Kecepatan Angin (m/s)

Dapat juga dilihat dari grafik yang telah dijabarkan di atas. Pada Grafik tersebut, grafik tegangan terhadap kecepatan angin. Bila kecepatan angin tidak konstan, maka hal ini akan berpengaruh signifikan terhadap perubahan tegangan kawat. Karena penambahan kecepatan akan meningkatkan nilai resistansi kawat, yang berarti meningkatkan nilai arus listrik dan mengurangi nilai tegangan hotwire, maka hubungan tegangan dengan kecepatan angin berbanding terbalik. Dapat dilihat, gerakan kurva pada grafik kedua menurun seiring dengan pertambahan kecepatan angin.

Adapun, dari data pengamatan, dapat diamati bahwa plot titik masing-masing data dalam grafik masih tersebar. Oleh sebab itu, berusaha ditarik suatu garis lurus terbaik yang mewakili data-data tersebut. Menggunakan Metode Kuadrat Terkecil (Least Square), maka didapatlah persamaan seperti yang terdapat dalam grafik.

Persamaan ini, y= -0,0004x + 2,9036, adalah persamaan kecepatan angin sebagai fungsi dari tegangan hotwire. y adalah tegangan hotwire dan x adalah kecepatan aliran angin.

Persebaran data bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal (praktikan) dan faktor eksternal (alat dan lingkungan). Namun, mengingat percobaan ini hanya dilaksanakan secara online, maka sesungguhnya tidak ada faktor-faktor yang jelas dalam menjelaskan adanya variasi data. Kondisi ruangan, terutama tekanan dalam ruang tempat percobaan bisa sangat mempengaruhi hasil pengukuran.

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin, merupakan salah satu instrumen yang sering digunakan oleh balai cuaca seperti Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Secara umum ada dua jenis anemometer, yaitu anemometer yang mengukur kecepatan angin (velocity anemometer) dan anemometer yang mengukur tekanan angin (anemometer tekanan). Dari kedua tipe anemometer ini, velocity anemometer lebih banyak digunakan. Salah satu jenis dari velocity anemometer adalah thermal anemometer lebih dikenal dengan hotwire anemometer yaitu anemometer yang mengkonversi perubahan suhu menjadi kecepatan angin. Hotwire anemometer menggunakan kawat yang sangat kecil dialiri panas hingga suhu di atas temperatur Ambient. Bila ada udara/angin yang mengalir melewati kawat, maka akan terjadi efek pendinginan pada kawat, perubahan temperatur dari kawat sebagai indikasi perubahan dari kecepatan angin yang diukur.

Dapat dikatakan, bahwa hotwire adalah salah satu sensor yang cukup diandalkan dalam mengukur kecepatan aliran angin. Sensor hotwire ini menggunakan prinsip disipasi kalor.

Seperti yang didapatkan dalam data percobaan, semakin besar kecepatan aliran angin, semakin kecil pula nilai tegangan yang didapatkan. Dapat disimpulkan bahwa hotwire dapat membedakan antara kecepatan angin yang kencang dan juga yang lemah, yaitu dengan adanya perbedaan dalam tegangan hotwire. Selain itu, hotwire dapat digunakan sebagai pengukur kecepatan angin, karena:

1.

Hambatan kawat dijaga tetap dengan mengatur aliran arus yang melewati dan kecepatan fluida ditentukan dari pengukuran arus menggunakan instrumen yang telah dikalibrasi.

2.

Aliran arus melewati kawat dijaga tetap dan perubahan hambatan kawat akibat pendinginan konveksi diukur menurut penurunan tegangan antara ujung-ujungnya. Fluktuasi kecepatan dideteksi dengan rangkaian elektronik yang dirancang untuk keperluan ini.

VIII. KESIMPULAN

1. Kecepatan angin berpengaruh dalam nilai resistansi hotwire dan juga arus serta tegangan hotwire. 2. Bila kecepatan angin konstan, maka tegangan hotwire akan konstan dalam selang waktu tertentu. 3. Bila kecepatan angin tidak konstan, maka tegangan hotwire akan berubah, di mana hubungan antar keduanya adalah berbanding terbalik. Sehingga bila kecepatan angin bertambah, maka tegangan hotwire akan berkurang. 4. Kecepatan angin dari fan yang dipakai dalam praktikum ini adalah 0 m/s, 70 m/s, 110 m/s, 150 m/s, 190 m/s, dan 230 m/s, dengan tegangan hotwire rata-rata yang tercatat masingmasing adalah 2,112 V, 2,055 V, 2,037 V, 2,028 V, 2,023 V, dan 2,021 V. 5. Persamaan kecepatan aliran angin sebagai fungsi dari tegangan hotwire adalah

dengan y adalah tegangan hotwire sedangkan x adalah kecepatan aliran angin. 6. Hotwire anemometer adalah salah satu sensor yang paling sering digunakan dalam pengukuran berbagai aliran turbulen, salah satunya adalah aliran angin. Single normal probe adalah suatu tipe hotwire yang paling banyak digunakan sebagai sensor untuk memberikan informasi kecepatan aliran dalam arah aksial saja. Bila ada udara/angin yang mengalir melewati kawat, maka akan terjadi efek pendinginan pada kawat, perubahan temperatur dari kawat sebagai indikasi perubahan dari kecepatan angin yang diukur.

IX.

REFERENSI

Giancoli, Douglas C. 2000. Physics for Scientists & Engineers, Third Edition. New York: Prentice Hall. Halliday, Resnick, Walker. 2005. Fundamentals of Physics, 7th Edition, Extended Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc. Pratomo, Hariyo Priambudi Setyo dan Klaus Bemhorst. 2006. Kalibrasi Single-Normal HotWire Probe Sigmond Cohn Alloy 851 Untuk Aliran Jet Terpulsasi dalam Jurnal Teknik Mesin Vol. 8, No. 1, April 2006, halaman 14-21.

www.eepis-its.edu/uploadta/downloadmk.php?id=954 www.mahasiswa-sibuk.co.cc www.wikipedia.com/disipasi-energi