P. 1
Analisis Indonesian Renactment

Analisis Indonesian Renactment

|Views: 144|Likes:
Dipublikasikan oleh Aulia Nastiti

More info:

Published by: Aulia Nastiti on Oct 03, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2011

pdf

text

original

ARTIKEL MEDIA TENTANG KOMUNITAS “INDONESIAN REENACTORS” DALAM TINJAUAN KAJIAN BUDAYA

Aulia Dwi Nastiti | 0906561452

Tugas UAS Media dan Kajian Budaya Komunikasi Media | Departemen Ilmu Komunikasi | 2011

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

0

ARTIKEL MEDIA TENTANG KOMUNITAS “INDONESIAN RENACTORS”

04 AP RIL 2 0 11

Bangga Berkostum Tentara
RAUNGAN sirene membuat semua tersigap siaga. Sekelompok tentara Jerman juga bergegas. Sembari berlari-lari kecil, mereka membentuk barisan memanjang. Sang komandan, yang mengikuti di belakang, kemudian memberikan arahan dalam bahasa Jerman. Teriakannya yang lantang disahut sekitar sepuluh anak buahnya itu juga dalam bahasa Jerman. Sejurus kemudian, dengan kaki mengentak-entak serempak para serdadu itu menyanyikan lagu mars Panzerlied, yang kurang-lebih berarti nyanyian tank. Penggalan adegan itu terjadi pada acara Toys Fair 2011, di Balai Kartini, Jakarta, pertengahan Maret lalu. Para serdadu itu bukan tentara Jerman betulan, melainkan sekelompok anak muda Jakarta yang demen meniru pasukan Jerman. Mereka menamai diri sebagai komunitas Indonesian Reenactors. "Penampilan mereka unik. Lumayan mendapat sambutan pengunjung," kata penggagas acara Toys Fair, Riza Satyabudi. "Apalagi tampil berbahasa Jerman." Sepekan setelah itu, cosplay (costume play) juga diadakan di Emporium Mall, Jakarta Utara, tujuh hari berturut-turut. Berbagai acara bertema Jepang diselenggarakan dalam Festival Hanami itu, dari demo membuat sushi, pelatihan origami, tarian Taiko dan musik Jepang, hingga kompetisi cosplay. "Acara yang paling ramai pengunjungnya kompetisi cosplay itu. Lebih dari 50 peserta ikut," kata Fahmi, anggota panitia acara Festival Hanami. Acara yang menampilkan cosplayer-orang yang berpakaian mirip dengan tokoh manga, komik, novel grafis, dan tokusatsu (superhero Jepang)-memang sudah jamak. Kelompok yang mewakili berbagai aliran cosplay juga bermunculan, misalnya yang khusus superhero Jepang, komik Amerika, atau pemeran perempuan dalam serial manga. Namun cosplay yang berdasarkan kenyataan adalah kostum tentara. Meski tidak sama dengan yang orisinal, para cosplayer baju militer ini selalu memperhitungkan sejarah seragam yang mereka kenakan. Beberapa selebritas dan seniman juga lebih akrab dengan kostum tentara, misalnya Ahmad Dhani, Band Kotak, serta artis mancanegara seperti Janet Jackson dan Katy Perry. Bruce Dickinson, vokalis Iron Maiden, ketika tampil di Jakarta pada Februari lalu, juga mengenakan dua kostum militer. Pertama, dia mengenakan seragam tentara kuno Inggris berwarna merah, dan berikutnya celana loreng dengan kaus hijau ketat. ***

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

1

Indonesian Reenactors adalah contoh komunitas yang serius pada kostum tentara. Mereka menggemari segala perlengkapan militer, terutama tentara Jerman pada periode Perang Dunia II. Ketua Indonesian Reenactors Permadi Aryawirasmara, 35 tahun, mengatakan komunitasnya tak sekadar mengoleksi seragam dan pernak-pernik militer Jerman. "Kami adalah komunitas reenactment, atau reka ulang sejarah, karena kami suka mempelajari sejarah perang," ujar pria yang tampil sebagai komandan dalam acara di Toys Fair tersebut. Mereka kagum kepada tentara Jerman, menurut Permadi, karena Jerman adalah inovator di bidang kemiliteran modern. Semua teknologi militer yang kini dipakai negara maju merupakan warisan Jerman, seperti kendaraan lapis baja, target inframerah, rudal balistik, senapan serbu taktis, dan sekolah penembak jitu. "Reka ulang sejarah militer Jerman semata-mata penghormatan pada inovasi militer paling jenius yang pernah ada, bukan pada ideologi Nazi-nya," kata Permadi. Indonesian Reenactors memang tidak sok Jerman, karena mereka mendalami sejarah, selain mengenakan seragam. Permadi misalnya menemukan fakta, ada warga Indonesia yang turut memperkuat pasukan Nazi pada Perang Dunia II. Beberapa literatur sejarah menuliskan Divisi 23 (dari total 27 divisi pasukan Nazi di luar ras Jerman), yang beranggotakan keturunan Indonesia, tinggal di Belanda ketika itu. Mereka tergabung dalam satuan tempur Waffen-SS dan diberi nama Legion Niederlande atau lengkapnya 23rd Division der Waffen-SS Freiwilligen Legion Niederlande. "Semuanya tewas oleh tentara Sekutu," ujar Permadi. Mereka juga meriset kostum, emblem, dan peralatan tentara Jerman. Detail dan akurasi, seperti ketepatan berseragam, kepangkatan, kelengkapan seragam, cara baris berbaris, dan lagu-lagu marching, merupakan elemen penting dari hobi ini. "Ini cara belajar sejarah yang mengasyikkan dan menyenangkan," kata pria yang bekerja di sektor tambang itu. Permadi mengakui, memuja militer Jerman tentu membawa risiko dibenci orang yang tak menyukai Nazi. Ketika mereka tampil di Toys Fair, misalnya, beberapa pengunjung bule mengacungkan jari tengah ke arah mereka. Namun itu hanya ditanggapi santai anggota Indonesian Reenactors karena bagi mereka ini hanya hobi. Kostum dan barang koleksi milik anggota Indonesian Reenactors terbagi dalam dua kategori: yang antik dan repro atau replika. Benda-benda antik adalah peninggalan sejarah yang dulu benar-benar digunakan para pelaku sejarah. Sedangkan replika adalah barang yang baru diproduksi meniru apa yang dulu digunakan para serdadu. Tokonya bisa didapati di kota-kota besar: Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Permadi merupakan salah satu pengoleksi lengkap kostum antik militer Jerman. Bahkan beberapa koleksi kostum dan peralatannya asli dari Perang Dunia II, yang sudah berumur 70 tahun, seperti seragam kesatuan Waffen-SS, tanda jasa, tas kulit, botol minuman, ikat pinggang, dan empat helm baja. Ia mengumpulkannya sejak 2007 lewat jejaring dunia maya. Seragam Waffen-SS dibelinya empat tahun lalu seharga Rp 20 juta, sementara tiap helm dibeli Rp 12-30 juta. "Semua saya punya, kecuali senjata asli," ujarnya, terbahak.

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

2

Selain memiliki kostum tentara Jerman, Permadi punya replika pakaian tentara Romawi Kuno-baju besi sekujur tubuh. Ia juga mengoleksi kostum Kesatria Templar periode Perang Salib pada abad XI. Nilai semua koleksinya? "Totalnya kira-kira bisa buat beli Kijang Innova," ujar ayah dua anak ini. Hal yang sama dilakukan Budi Nurtjahjo Djarot, 39 tahun. Anggota Indonesian Reenactors Surabaya ini juga mengoleksi pakaian serta pernak-pernik antik tentara Jerman, Inggris, Amerika, Jepang, dan Rusia. Ia memiliki helm asli peninggalan pasukan Jepang, yang diperolehnya dari Biak, Papua. Juga helm pasukan Inggris yang dibeli lewat situs eBay, helm Belanda pemberian seorang veteran pejuang 1945 keturunan Tionghoa di Surabaya, dan helm N35 milik pasukan Jerman yang diperolehnya di pasar loak di wilayah Kapasan, Surabaya. Budi juga mengoleksi seragam tentara revolusi Indonesia, Badan Keamanan Rakyat. "Karena bagian dari sejarah Indonesia dan rasanya lebih patriotik," ujar Budi. Komunitas Reenactors Surabaya memiliki beragam kegiatan, dari kunjungan ke tempat-tempat sejarah, diskusi dengan ahli sejarah Indonesia dari mancanegara, hingga kegiatan sosial buat para veteran perang revolusi kemerdekaan. Budi, yang juga Kepala Cabang Bank Mandiri Jombang, beruntung karena ayahnya adalah veteran Badan Keamanan Rakyat. Ia diwarisi banyak peralatan asli dari zaman kemerdekaan, seperti gir tempat peluru, ikat pinggang, dan tas kantong peluru. "Saya sudah suka mengumpulkannya sejak taman kanakkanak," ujarnya. Bahkan ia juga menyimpan pakaian asli marinir Amerika yang dibawa ayahnya sepulang pendidikan militer pada 1950-an. Karena detail dan lengkapnya peralatan yang dimiliki anggota komunitas ini, sejumlah prestasi mereka sabet. Di antaranya juara I lomba kostum militer di Indonesia Airsoft Show 2009, komunitas terbaik di Indonesian Communities Expo 2009, dan juara II di Hellofest Kostumasa 2010. Komunitas ini masih bercita-cita merekrut sebanyak-banyaknya penggemar reenactment. "Kami ingin menyampaikan, ada cara belajar sejarah yang menyenangkan, yakni reka ulang sejarah," kata Permadi. Tito Sianipar

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

3

KERANGKA KONSEPTUAL
Subjektivitas, Identitas, dan Representasi
Subjektivitas dan Identitas merupakan dua konsep yang berkaitan erat. Dalam menganalisis kondisi sosio-kultural seorang individu, kedua konsep tersebut hampir tidak dapat dipisahkan. Merujuk pada Barker (2004), subjektivitas ialah kondisi manusia menjadi „seseorang‟ dan proses dimana kita menjadi „seseorang‟. Subjektivitas terkait dengan cara bagaimana seorang individu dibentuk menjadi subjek, baik secara biologis maupun secara kultural, dan bagaimana individu mengenal (experiencing) dirinya sendiri. Sedangkan identitas didefinisikan Barker (2004) sebagai hasil konstruksi sosial dan tidak bisa „eksis‟ di luar representasi budaya, karena merupakan konsekuensi dari akulturasi. Identitas dalam diri seorang individu terbentuk dari dua komponen, yaitu self-identity dan social identity. Selfidentity atau identitas diri merupakan konsepsi verbal tentang cara individu menangani diri sendiri dan identifikasi emosional individu terhadap deskripsi pribadi. Identitas sosial berarti harapan dan opini yang dimiliki orang lain terhadap seorang individu. Dalam diri individu, kedua komponen identitas tersebut berinteraksi dan saling mempengaruhi. Proses bagaimana seorang individu memahami identitasnya itulah yang dipahami sebagai subjektivitas. Giddens (1991) berargumen bahwa identitas bukan kumpulan karakteristik yang kita miliki atau tunjuk, melainkan mode berpikir tentang diri kita sendiri yang akan terus berubah sesuai dalam konteks ruang dan waktu. Oleh karena itu, identitas tidak dipahami sebagai entitas yang tetap, tapi sebagai deksripsi diskursif secara emosional mengenai diri sendiri yang terus berubah dalam konteks ruang dan waktu. Dalam The Question of Cultural Identity, Stuart Hall (1992) mengidentifikasi tiga cara untuk mengkonseptualisasikan identitas: 1. The Enlightment Subject Identitas sebagai subjek pencerahan merupakan sebuah gagasan yang menilai identitas manusia hadir dalam dirinya sendiri dengan dirinya sebagai agen gerakan pencerahan yang berbasis pada reason and rationality. Subjek pencerahan didasarkan pada konsepsi bahwa manusia adalah individu yang utuh, diberkahi dengan kapasitas akal, kesadaran dan tindakan, yang terpusat pada esensi diri sebagai identitas seseorang (Hall, 1992). 2. The Sociological Subject

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

4

Dalam konsepsi ini, identitas bukanlah sebuah hal yang muncul dari „dalam diri‟ (internal) tetapi dibentuk secara kultural melalui proses akulturasi dalam lingkup sosial (eksternal). Dasar pemikiran ini ialah dualisme manusia, di mana dalam diri manusia, aspek sosial dan individual berinteraksi satu sama lainnya. Hall (1992) menyebutnya „the socialised self‟: identitas individu ditentukan oleh tempatnya berinteraksi. Internalisasi nilai dan peran sosial menstabilkan identitas seseorang dan memastikan bahwa mereka memiliki tempat dari struktur sosial. 3. The Postmodern Subject Konsepsi postmodern merupakan gerakan intelektual dari subjek „pencerahan‟ ke subjek „sosiologis‟ yang menggambarkan pergeseran dari seseorang sebagai entitas utuh yang membentuk dirinya ke arah subjek yang dibentuk secara sosial. Subjek postmodern adalah subjek yang tidak dibentuk penuh secara sosial maupun dibentuk oleh diri sendiri. Dalam konsepsi ini, manusia diidentifikasi sebagai subjek peralihan yang memiliki beragam identitas yang berkaitan, bahkan kontradiktif. Namun, subjek tersebut memiliki „core self‟ yang mampu mengkoordinasikan dirinya sehingga membentuk sebuah kesatuan utuh (Hall, 1992). Dalam kajian budaya, subjektivitas dan identitas merupakan dua konsep yang identik dengan representasi. Representasi dipahami sebagai penggambaran realita di dunia melalui berbagai simbol-simbol dan tanda yang maknanya dipahami bersama dalam konteks sosio-kultural (Hall, 1997). Menurut Barker (2004) representasi berkaitan dengan bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan gambaran apa yang tercipta di kepala seseorang ketika memandang dunia. Representasi suatu budaya biasanya disampaikan melalui media. Akan tetapi, representasi realitas atau budaya yang ditampilkan dalam media bukanlah kopian dari realitas dan sama, tetapi merupakan hasil konstruksi sosial (Barker, 2004). Makna yang dipahami dari suatu representasi realita yang ditampilkan media adalah suatu makna yang memang telah dikondisikan agar orang memahami realitas tersebut sesuai dengan koridor atau bingkai yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa representasi pada dasarnya adalah „versi tertentu‟ dari sebuah realitas. Dalam relevansinya dengan subjektivitas dan identitas, representasi dipandang sebagai suatu cara di mana identitas individu teroperasionalisasikan dalam kehidupan sosial.

Ras, Etnisitas dan Bangsa
Dalam perspektif kultural, ras dipandang sebagai konstruksi sosial, bukan kategori esensial secara biologis. Hall (1997) memandang bahwa ras tidak berdiri lepas dari representasi karena ras dibentuk melalui simbolisasi dalam proses perjuangan sosial politis. Oleh karena itu, karakteristik fisik yang dapat diamati dalam diri individu ditransformasikan dalam bentuk ras sebagai sebuah penanda (Gillroy dalam Barker, 2004). Menurut Miles (1989: 75), konsep rasialisasi merujuk pada

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

5

kondisi di mana relasi sosial antara orang-orang terstruktur oleh signifikansi karakteristik biologis untuk mendefinisikan dan mengkonstruksikan kolektivitas sosial yang berbeda. Artinya, rasialisasi mengandung upaya untuk mendifferensiasikan relasi sosial individu berdasarkan kodrat biologisnya. Sedangkan etnisitas ialah konsep kultural yang terfokus pada kepemilikan bersama atas norma, nilai, kepercayaan, serta simbol dan praktik budaya (Barker, 2004: 250). Pembentukan suatu „kelompok etnis‟ didasarkan pada penanda budaya bersama yang berkembang dalam konteks historis, sosial, dan politis yang spesifik, Etnisitas dalam diri individu dibentuk oleh bagaimana caranya merepresentasikan identitas kelompoknya dan mengidentifikasi diri dengan simbol-simbol etnis tersebut. Dengan demikian, dalam persepektif budaya, etnisitas haruslah dipandang sebagai proses relasional yang mengasosiasikan seorang individu pada suatu kelompok dan dikontruksikan dalam suatu konteks sosio-historis yang spesifik (Barth, 1969 dalam Barker, 2004). Dalam kajian budaya, bangsa tidak secara sederhana ditempatkan sebagai wilayah hasil formasi politis, tetapi lebih kepada sistem representasi kultural. Suatu bangsa mereproduksi identitas nasional secara kontinyu melalui aksi diskursif (Barker, 2004). Identitas nasional sendiri didefinisikan sebagai pembentukan identifikasi dalam diri individu terhadap suatu kelompok akibat kesamaan pengalaman sejarah yang direpresentasikan melalui cerita, literatur, budaya, dan media (Bhabha, 1990). Dengan demikian, kebangsaan, bangsa, dan identitas nasional bukanlah suatu fenomena yang terjadi secara natural begitu saja, melainkan kondisi yang dikonstruksikan secara sosio-kultural sebagai bentuk kolektif organisasi dan identifikasi dalam proses historis yang kontinyu. Bahkan Anderson (1983) memandang bahwa bangsa merupakan „imagined community‟ dan identitas kebangsaan adalah konstruksi yang dibangun melalui simbol-simbol dan ritual dalam kerangka hubungan teritorial dan kategori administratif.

Remaja, Budaya Populer, dan Resistensi
Seperti halnya ras, remaja atau youth dalam perspektif kultural bukanlah suatu kategori universal dalam tahap biologis manusia, melainkan konstruksi sosio-kultural yang tampak berubah pada waktu spesifik dalam kondisi definitif (Barker, 2004). Secara kultural, remaja tidak dapat dikategorikan berdasarkan usia atau perkembangan biologis karena tidak ada indikator universal yang menjadi determinasi klasifikasi remaja. Kategorisasi remaja kepada seorang individu dalam konteks budaya bergantung pada konstruksi diskursif yang dibangun oleh struktur yang melatarbelakangi budaya tersebut. Oleh karena itu, dalam kajian budaya, „youth‟ dipandang sebagai subkultur atau kerangka rujukan spesifik dari kultur dominan yang digunakan suatu kelompok dalam memandang dunia (Thornton, 1997). Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

6

Meskipun dipandang sebagai subkultur, remaja juga merupakan entitas yang identik dengan budaya populer. Budaya populer (budaya pop) diartikan sebagai budaya yang diketahui dan diikuti banyak orang, yang pembentukannya berdasarkan kemauan masyarakat untuk diminati oleh masyarakat dalam skala massif, dan biasanya sifatnya temporer (Holliday, Hyde, & Kullman, 2004). Hal ini dikarenakan budaya populer hadir dalam wilayah kontestasi antara berbagai ideologi dan hegemoni (Barker, 2004). Dengan demikian, budaya populer sesungguhnya merupakan ideologi yang memenangkan konsen masyarakat. Budaya populer hadir dengan mewakili ideologi dominan dan diterima bahkan cenderung direproduksi oleh masyarakat luas karena adanya hegemoni atau penguasaan idologi dominan atas kesepakatan sosial. Dalam pandangan John Fiske (1989), agar menjadi budaya populer, sebuah komoditas budaya haruslah dapat melahirkan ketertarikan pada banyak orang karena budaya pop bukanlah sekedar barang konsumsi, melainkan sebuah budaya. Sebagai sebuah budaya, seberapa besar pun budaya populer itu terindustrialisasi, ia tidak pernah bisa hanya didefinisikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, tetapi di dalamnya terdapat proses aktif membentuk dan menyebarluaskan simbol-simbol dan makna ideologi dominan di dalam sebuah sistem sosial. Holliday, Hyde dan Kullman (2004) mengungkapkan empat karakteristik budaya populer: (1) diproduksi oleh industri budaya, (2) cenderung berlawanan dengan folk culture (warisan budaya tradisional yang sifatnya berorientasi ritual dan non-komersial), (3) keberadaannya diterima di mana-mana, dan (4) memenuhi fungsi sosial. Budaya populer memainkan peranan besar dalam mempengaruhi pemikiran kita dalam memahami orang atau kelompok lain karena ia merupakan kerangka rujukan yang dominan. Sebagai sebuah subkultur, remaja tidak dapat dipisahkan dari resistensi. Konsep resistensi mengacu pada suatu bentuk penilaian terhadap nilai budaya dominan. Barker (2004: 401) menjelaskan resistensi sebgai „category of judgment about acts, not a quality of an act itself‟. Dalam kajian budaya, resistensi dipandang sebagai dua hal. Pertama, resistensi sebagai conjunctural (Hall, 1996). Dalam hal ini, resistensi merupakan suatu bentuk perubahan budaya yang terjadi dari proses relasional berbagai subkultur dan kultur dominan. Kedua, resistensi dianggap sebagai sebuah pertahanan (defense). Menurut Bennet (1991), resistensi adalah suatu bentuk hubungan yang defensive antarbudaya sebagai penolakan terhadap budaya dominan. Hal ini mengindikasikan adanya perlawanan dari subkultur yang tersubsordinasi terhadap dominasi budaya mainstream untuk mencapai suatu kondisi budaya yang seimbang ataupun perubahan budaya dominan.

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

7

ANALISIS KASUS

Subjektivitas, Identitas, dan Representasi Komunitas “Indonesian Reenactors”
Melalui artikel media tentang komunitas “Indonesian Reenactors” tersebut dapat diketahui bahwa dalam diri anggota komunitas tersebut terbentuk suatu proses subjektivitas yang mempengaruhi dan membentuk identitas sosio-kultural individu-individu di dalamnya. Merujuk kepada pengertian Barker (2004) tentang subjektivitas, kegiatan yang ada dalam komunitas tersebut merupakan sebuah proses yang membentuk anggotanya menjadi subjek suatu lingkungan kultural dalam konteks historis melalui kegiatan reka ulang sejarah. Komunitas ini berawal dari individuindividu yang memiliki kesamaan ketertarikan dan hobi, yaitu belajar sejarah, terutama sejarah perang. Hal ini tertuang dari kutipan pernyataan ketua komunitas “Indonesian Reenactors” tersebut.
“Ketua Indonesian Reenactors Permadi Aryawirasmara, 35 tahun, mengatakan komunitasnya tak sekadar mengoleksi seragam dan pernak-pernik militer Jerman. "Kami adalah komunitas reenactment, atau reka ulang sejarah, karena kami suka mempelajari sejarah perang,"

Dengan membentuk suatu komunitas, mereka sebenarnya menciptakan suatu wadah untuk mengakomodasi ketertarikan akan kegiatan reka ulang sejarah menjadi suatu budaya yang menjadi kerangka rujukan bagi aktivitas mereka. Melalui budaya yang dikembangkan tersebut, mereka menjadi subjek kultural serta mengenal dan mengalami (experiencing) dirinya sendiri. Dengan melakukan reka ulang sejarah (reenactment) dalam suatu kelompok itulah mereka mereka dapat mengenal diri sendiri dan latar belakang historisnya. Seperti ketika mereka dapat mengetahui peran dan keterlibatan warga Indonesia dalam pasukan Nazi Jerman di Perang Dunia II. Dengan memutar ulang rekaan peristiwa sejarah, pada dasarnya mereka terlibat dalam proses pembentukan diri dan akhirnya membuat mereka merasa mengalami dan menjadi bagian dalam sejarah tersebut. Dalam kerangka identitas (Barker, 2004), individu dalam komunitas “Indonesian Reenactment” memiliki suatu identitas sosio-kultural sebagai hasil konstruksi sosial dalam kelompok tersebut. Konstruksi sosial dalam komunitas tersebut terwujud dalam aktivitas reka ulang sejarah yang dilakukan dengan cara merekonstruksi peristiwa secara detail dan akurat yang dilengkapi dengan artifak-artifak historis yang berhubungan dengan perang dan penampilan dalam pameran kostum. Proses subjektivitas atau pemahaman mengenai identitas sosial yang terepresentasikan dalam budaya perang Jerman tersebut, membawa anggota komunitas “Indonesian Reenactors”

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

8

pada sebuah mode berpikir tentang diri sendiri (Giddens, 1991). Identitas sosial yang mereka kembangkan sebagai „reenactors‟ sejarah perang bukan karena karakteristik mereka sebagai kolektor barang-barang perang, tetapi lebih kepada bagaimana mereka berpikir tentang ketertarikan mereka terhadap budaya perang Jerman, yang selalu berubah dalam konteks ruang dan waktu. Artinya, dalam kelompok tersebut, mereka berpikir bagaimana menempatkan diri sebagai aktor sejarah perang Jerman dengan disesuaikan pada konteks kultural mereka dan

mentransformasikan peristiwa historis dalam waktu masa kini. Mode berpikir ini akan terus berubah sesuai dengan interaksi yang mereka jalani. Hal ini terlihat dari reaksi mereka yang cenderung santai saat menanggapi pembenci Nazi, tentara perang yang mereka perankan. Reaksi mereka menunjukkan mode berpikir yang memandang bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah suatu hobi, suatu ketertarikan, sehingga tidak ada kaitan dengan ideologi Nazi. Pemikiran mengenai aktor sejarah ini jugalah yang membuat mereka rela mengorbankan modal finansial yang begitu besar untuk membiayai hobi mereka. Karena adanya asosiasi diri sendiri yang begitu lekat terhadap karakter tentara Jerman, mereka berupaya untuk memperkuat asosiasi identitas tersebut. Berdasarkan konseptualisasi identitas Hall (1992), konsep identitas sosial individu dalam komunitas “Indonesian Reenactors” dapat diidentifikasi sebagai subjek postmodern (the postmodern subject). Dalam konsepsi ini, identitas anggota komunitas ini merupakan suatu peralihan yang memiliki beragam identitas yang berkaitan, bahkan kontradiktif karena „core self‟ mereka mampu mengkoordinasikan diri dengan menempatkan peran tentara Jerman dalam konteks ruang dan waktu. Barker (2004) juga menyebut bahwa eksistensi identitas tidak bisa dilepaskan dari representasi budaya. Melalui artikel media tersebut dapat diketahui bahwa komunitas aktivitas yang dilakukan komunitas “Indonesia Renactors” merupakan suatu representasi budaya, yaitu budaya militer. Mengacu pada Hall (1997), komunitas tersebut melakukan representasi dengan menggambarkan realitas perang dan budaya militer Jerman melalui berbagai simbol yang maknanya dipahami bersama oleh anggota komunitas tersebut. Simbol yang digunakan berupa kostum militer dengan berbagai kelengkapannya, serta budaya militer seperti baris-berbaris dan lagu perjuangan Jerman. Berbagai kegiatan mereka menunjukkan bagaimana mereka melakukan konstruksi sosial terhadap budaya militer Jerman dan menciptakan gambaran realitas di kepala orang lain ketika memandang tentara Jerman. Hal ini bisa dilihat dalam representasi budaya yang dilakukan komunitas “Indonesian Reenactors” berikut.

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

9

“RAUNGAN sirene membuat semua tersigap siaga. Sekelompok tentara Jerman juga bergegas. Sembari berlari-lari kecil, mereka membentuk barisan memanjang. Sang komandan, yang mengikuti di belakang, kemudian memberikan arahan dalam bahasa Jerman. Teriakannya yang lantang disahut sekitar sepuluh anak buahnya itu juga dalam bahasa Jerman. Sejurus kemudian, dengan kaki mengentak-entak serempak para serdadu itu menyanyikan lagu mars Panzerlied, yang kurang-lebih berarti nyanyian tank.”

Aktivitas yang dilakukan komunitas ini pada dasarnya merupakan sutu representasi budaya perang, terutama budaya Jerman yang dinilai sebagai pioneer dalam infrastruktur dan teknologi perang. Representasi ini dilakukan dengan cara mengumpulkan produk-produk budaya perang yang berasal dari Jerman yang berupa artifak budaya militer dan folklore. Seperti yang disebutkan Barker (2004), representasi budaya yang meraka lakukan merupakan konsekuensi akulturasi yang berlangsung dalam lingkungan sosial. Merujuk pada Rakhmat (2005), akulturasi terbentuk dalam tiga tataran dimensi sikap, aykni kognitif, afektif, dan konatif. Akulturasi budaya dalam komunitas ini terbangun dari tingkat kognitif atau pengetahuan individu terhadap sejarah dan produk budaya perang milik Jerman. Pengetahuan ini berkembang dalam tataran afektif dengan munculnya ketertarikan untuk mempreservasi budaya tersebut. Tindakan (aspek konatif) preservasi yang dilakukan adalah dengan cara mereka ulang sejarah perang Jerman yang dilengkapi penggunaan artifak-artifak budaya tersebut. Sehingga pada akhirnya akulturasi yang dihasilkan berupa budaya perang Jerman yang dikonstruksi ulang oleh kelompok dengan latar belakang budaya Indonesia. Proses akulturasi ini dapat ditemukan dari pernyataan Permadi, ketua komunitas ini.
Mereka kagum kepada tentara Jerman, menurut Permadi, karena Jerman adalah inovator di bidang kemiliteran modern. "Reka ulang sejarah militer Jerman semata-mata penghormatan pada inovasi militer paling jenius yang pernah ada, bukan pada ideologi Nazi-nya," kata Permadi.

Ras, Etnisitas dan Bangsa Komunitas “Indonesian Reenactors”
Berdasarkan konsepsi ras dalam perspektif kultural, penggambaran ras Jerman yang dibawakan oleh komunitas “Indonesian Reenactment” bukanlah sebuah kategori esensial secara biologis akan tetapi sebuah konstruksi sosial. Oleh sebab itulah, meskipun secara karakteristik fisik para anggota komunitas tersebut tidak menunjukkan ras Jerman, apa yang dilakukan mereka mewakili budaya militer Jerman. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Hall (1997) bahwa ras berkaitan erat dengan representasi karena dibentuk melalui proses simbolisasi dalam proses perjuangan sosial politis. Representasi militer Jerman selalu identik dengan simbol Nazi, yang

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

10

mendewakan ras Arya Jerman. Simbol chauvinisme Nazi yang melekat dalam diri militer Jerman itu tercipta dalam perjuangan sosial politis mereka untuk mendirikan Jerman sebagai bangsa yang murni dengan ras Arya-nya. Simbolisasi Nazi ini jugalah yang membuat timbulnya sentimen dari beberapa warga Barat terhadap komunitas “Indonesian Reenactment” ketika tampil mereka ulang kegiatan militer tentara Jerman, seperti yang terlihat dari kutipan artikel berikut.
“…memuja militer Jerman tentu membawa risiko dibenci orang yang tak menyukai Nazi. Ketika mereka tampil, misalnya, beberapa pengunjung bule mengacungkan jari tengah ke arah mereka”

Reaksi beberapa orang tersebut juga menunjukkan apa yang disebut Miles (1989) sebagai rasialisasi. Relasi sosial yang terbentuk antara komunitas “Indonesian Reenactors” dengan beberapa „pengunjung bule‟ berada dalam suatu strukstur sosial yang terjadi akibat signifikansi biologis terhadap ras Jerman sehingga mendorong orang-orang tersebut untuk mendefinisikan kegiatan komunitas “Indonesian Reenactors” sesuai dengan gambaran Nazi dan hal ini membuat meraka melakukan konstruksi kolektivitas sosial yang berbeda terhadap komunitas “Indonesian Reenactors”. Upaya differensiasi sosial ini terlihat dari acungan „jari tengah‟ yang merupakan simbol rasa tidak suka dalam budaya Barat. Sesuai dengan konsep etnisitas (Barker, 2004: 250), dapat dipahami bahwa dalam komunitas “Indonesian Reenactors” terdapat suatu pemahaman bersama atas seperangkat norma, nilai, dan kepercayaan, serta simbol, dan praktik budaya dalam budaya militer Jerman yang mereka bawakan. Berdasarkan perspektif kultural, komunitas tersebut dapat dipandang sebagai representasi kelompok etnis karena perilaku mereka didasarkan pada penanda budaya bersama, yaitu kelengkapan militer Jerman, yang berkembang dalam konteks historis, sosial, dan politis yang spesifik. Rasa etnisitas dalam diri anggota komunitas terbentuk melalui bagaimana cara mereka membawakan identitas kelompok militer Jerman dan mengidentifikasi diri dengan simbolsimbol identitas tentara Jerman. Dengan demikian, merujuk pada apa yang dikatakan Barth (1969), etnisitas militer Jerman yang terbangun dalam diri anggota komunitas “Indonesian Reenactors” haruslah dilihat sebagai proses interaksi relasional yang berlangsung dalam internal komunitas tersebut yang akhirnya menciptakan asosiasi individu terhadap kelompok militer Jerman dan mengkonstruksi relasi sosial tersebut dalam konteks sosio-historis yang lebih spesifik, yaitu dengan kegiatan reka ulang sejarah. Terkait dengan konsepsi bangsa dan identitas nasional (Barker, 2004), identitas nasional bangsa Jerman direproduksi oleh komunitas “Indonesian Reenactors” melalui aksi diskursif, yaitu pendalaman sejarah perang, khususnya militer Jerman. Identitas nasional Jerman tersebut

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

11

termanifestasikan dalam identifikasi diri individu terhadap kelompok militer Jerman melalui sejarah perang mereka yang tersampaikan dalam cerita, literatur, praktik budaya, dan media (Bhabha, 1990). Merujuk kepada Anderson (1983), rasa kebangsaan Jerman yang terbentuk dalam diri komunitas ialah sebagai akibat pemahaman bangsa sebagai suatu ‘imagined community’ yang dikonstruksi melalui simbol-simbol kemiliteran Jerman dan ritual, yaitu praktik reka ulang sejarah perang. Hal ini terlihat dari kutipan berikut,
“Indonesian Reenactors memang tidak sok Jerman, karena mereka mendalami sejarah, selain mengenakan seragam. Permadi misalnya menemukan fakta, ada warga Indonesia yang turut memperkuat pasukan Nazi pada Perang Dunia II…”

Bangsa sebagai „imagined community‟ juga ditegaskan dalam komunitas ini dengan melibatkan sejarah perang Indonesia yang terwujud dari simbol identitas militer Indonesia di masa lampau.

Remaja, Budaya Populer, dan Resistensi Komunitas dalam “Indonesian Reenactors”
Dalam artikel tentang komunitas “Indonesian Reenactors” tersebut, juga dijelaskan tentang anggota serta kegiatan komunitas yang bercorak remaja. Jika didasarkan pada definisi remaja menurut Barker (2004), maka kegiatan komunitas “Indonesian Reenactors” tersebut identik dengan remaja karena merupakan konstruksi sosio-kultural yang tampak berubah pada waktu spesifik dan dalam kondisi definitif. Artinya, terdapat melalui konstruksi sosio-kultural yang mereka bangun, terdapat transformasi yang menggeser pemahaman identitas mereka dalam waktu yang spesifik, yaitu saat mereka melakukan reka ulang sejarah dan kondisi definitif saat mereka mendefinisikan diri sebagai bagian dari sejarah militer Jerman. Oleh karena itulah, komunitas “Indonesian Reenactors” dapat dipandang sebagai kelompok subkultur yang memiliki kerangka rujukan spesifik dalam mengkonseptualisasikan dunia militer Jerman (Thornton, 1997). Sebagai sebuah kelompok subkultur, komunitas “Indonesian Reenactors” juga identik dengan budaya populer. Budaya populer yang dekat dengan dengan komunitas tersebut dan seperti yang disebutkan dalam artikel, ialah budaya cosplay (costume player). Cosplay diidentifikasi sebagai bentuk budaya populer karena sesuai dengan apa yang dikatakan Halliday, Hyde, dan Kullman (2004), cosplay kini hadir sebagai budaya yang diketahui dan diikuti banyak orang, diminati masyarakat dalam skala massif, khususnya oleh para subkultur remaja, dan sifatnya temporer, yaitu baru menjadi tren pada akhir tahun 2000-an. Sesuai dengan karakteristik budaya populer (Holliday, Hyde dan Kullman, 2004), cosplay diidentifikasi sebagai budaya populer karena (1) diproduksi oleh industri budaya, dalam hal ini adalah budaya imitasi kostum yang berasal dari karakter film atau produk budaya lain; (2) Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

12

cenderung berlawanan dengan folk culture atau warisan budaya tradisional Indonesia yang memiliki tradisi kostum daerah yang sifatnya berorientasi ritual dan non-komersial; (3) keberadaannya diterima di mana-mana, bahkan dalam hal ini cenderung direproduksi oleh kelompok subkultur remaja; dan (4) memenuhi fungsi sosial, yaitu kepuasan dan kebutuhan ekspresi diri para anggota kelompok budaya tersebut. Jika merujuk pada terminologi Barker (2004), cosplay menjadi budaya populer karena mampu memenangkan konsen sosial masyarakat sehingga ia diterima dan direproduksi oleh masyarakat luas, di antaranya oleh para kelompok subkultur seperti komunitas “Indonesian Reenactors” ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan individu yang termasuk dalam subkultur tersebut,
"Acara yang paling ramai pengunjungnya kompetisi cosplay itu..” “Acara yang menampilkan cosplayer-orang yang berpakaian mirip dengan tokoh manga, komik, novel grafis, dan tokusatsu (superhero Jepang)-memang sudah jamak..”

Akan tetapi, bila dikaji lebih jauh, praktik budaya yang dilakukan oleh komunitas “Indonesian Reenactors” tersebut juga menggambarkan sebuah upaya resistensi terhadap budaya populer cosplay yang cenderung tidak memeprhatikan nilai-nilai yang ada di balik artifak budaya tersebut, yang dalam hal ini berupa kostum. Resistensi yang dilakukan oleh komunitas ini merupakan suatu bentuk penilaian (judgement) terhadap kualitas budaya cosplay yang jamak ditemui (Barker, 2004). Hal ini terekam dari kegiatan mereka yang disebut „tidak sama dengan cosplay yang orisinal, tetapi mereka selalu memperhatikan sejarah seragam yang mereka kenakan‟. Oleh karena itu, aktivitas kelompok subkultur “Indonesian Reenactors” dapat dipandang sebagai relasi defensif terhadap dominasi budaya cosplay mainstream (Bennet, 1991).

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

13

KESIMPULAN
Berdasarkan paparan konseptual dan hasil analisis yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan terkait dengan komunitas “Indonesian Reenactors” dalam tinjuan kajian budaya, antara lain 1. Dalam komunitas “Indonesian Reenactors” terdapat proses subjektivitas di mana anggotanya secara aktif memaknai identitas sosio-kultural yang terkonstruksi dalam komunitas tersebut. Dalam perspektif kajian budaya, identitasi sosio-kultural yang terbentuk dipandang sebagai konsep identitas sebagai subjek postmodern. Identitas ini lahir dalam proses representasi budaya sebagai konsekuensi dari akulturasi budaya militer Jerman dalam lingkungan sosial komunitas tersebut. Akulturasi budaya militer Jerman dalam komunitas “Indonesian Reenactors” terjadi dalam tiga tahap, yaitu pengetahuan, ketertarikan, dan tindakan preservasi melalui aksi reka ulang sejarah. 2. Simbolisasi melalui seragam tentara dan praktik budaya militer yang dilakukan komunitas “Indonesian Reenactors” merupakan representasi budaya militer Jerman yang identik dengan simbol Nazi. Kondisi ini memicu terjadinya rasialiasiasi terhadap komunitas “Indonesian Reenactment tersebut. Komunitas tersebut juga menunjukkan representasi etnisitas Jerman melalui pemahaman bersama atas seperangkat norma, nilai, dan kepercayaan, serta simbol, dan praktik budaya dalam budaya militer Jerman yang mereka bawakan. Dalam komunitas tersebut juga terjadi reproduksi identitas nasional bangsa Jerman melalui aksi diskursif, yaitu pendalaman sejarah perang dan pasukan militer Jerman. 3. Dalam perspektif kajian budaya, komunitas “Indonesian Reenactors” dipandang sebagai suatu kelompok subkultur remaja karena menandakan transformasi konstruksi sosi-kultural dalam waktu yang spesifik dan kondisi definitir. Sebagai sebuah subkultur, komunitas ini dekat dengan budaya populer cosplay (costume player). Akan tetapi pada praktiknya, proses reproduksi budaya pop cosplay yang dilakukan komunitas “Indonesian Reenactors” dituangkan dalam suatu upaya resistensi. Resistensi dilakukan dengan cara memberikan penilaian (judgement of quality) dan menolak budaya budaya pop cosplay orisinal yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai produk budaya, dalam hal ini kostum dan seragam, yang dikenakan.

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

14

DAFTAR PUSTAKA
Barker, Chris. (2004). Cultural Studies: Theory and Practice. Second Edition. Thousands Oaks, California: SAGE Publications Ltd. Fiske, John. (1989). Understanding Popular Culture. London: Unwin Hyman. Giddens, Anthony. (1991). Modernity and Self-Identity. Cambridge: Polity Press. Hall, Stuart. (1992). “The Question of Cultural Identity” dalam Modernity and Its Futures. Cambridge: Polity Press. Hall, Stuart. (1997). Representations. Thousands Oaks, California: SAGE Publications, Ltd. Kluver, Randy. (2002). “Globalization, Informatization, and Intercultural Communication”, American Communication Journal Vol. 3 (3) Rakhmat, Jalaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya. Steger, Manfred B. (2003). GLOBALIZATION: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press Inc. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Terjemahan Indonesia. Yogyakarta: Jejak. Tempo Interaktif. (2011, 4 April). “Bangga Berkostum Tentara”. http://www.tempointeraktif.com/ tempo/gayahidup/2011/04/04/bangga-berkostum-tentara id.html. Diunduh pada 2 Juni 2011. Ting Too-Mey, Stella. (1999). Communicating Across Culture. New York: The Guildford Press.

Komunitas “Indonesia Reenactors” dalam Tinjuan Kajian Budaya

15

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->