Sejarah islam pada masa kerajaan ottoman di turki Kebangkitan Kesultanan (1299-1453

)
Pada pertengahan abad ke-13, Kekaisaran Bizantium yang melemah telah kehilangan beberapa kekuasaanya oleh beberapa kabilah. Salah satu kabilah ini berada daerah di Eskişehir, bagian barat Anatolia, yang dipimpin oleh Osman I, anak dari Ertuğrul, yang kemudian mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Menurut cerita tradisi, ketika Ertuğrul bermigrasi ke Asia Minor beserta dengan empat ratus pasukan kuda, beliau berpartisipasi dalam perang antara dua kubu pihak (Kekaisaran Romawi dan Kesultanan Seljuk). Ertuğrul bersekutu dengan pihak Kesultanan Seljuk yang kalah pada saat itu dan kemudian membalikkan keadaaan memenangkan perang. Atas jasa beliau, Sultan Seljuk menghadiahi sebuah wilayah di Eskişehir.[1] Sepeninggal Ertuğrul pada tahun 1281, Osman I menjadi pemimpin dan tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Osman I kemudian memperluas wilayahnya sampai ke batas wilayahKekaisaran Bizantium. Ia memindahkan ibukota kesultanan ke Bursa, dan memberikan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan awal politik kesultanan tersebut. Diberi nama dengan nama panggilan "kara" (Bahasa Turki untuk hitam) atas keberaniannya,[2] Osman I disukai sebagai pemimpin yang kuat dan dinamik bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki "Semoga dia sebaik Osman". Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Osman, sebuah mitos yang mana Osman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. Pada periode ini terlihat terbentuknya pemerintahan formal Utsmaniyah, yang bentuk institusi tersebut tidak berubah selama empat abad. Pemerintahan Utsmaniyah mengembangkan suatu sistem yang dikenal dengan nama Millet (berasal dari Bahasa Arab millah ‫ ,)ملة‬yang mana kelompok agama dan suku minoritas dapat mengurus masalah mereka sendiri tanpa intervensi dan kontrol yang banyak dari pemerintah pusat. Setelah Osman I meninggal, kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah kemudian merambah sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Setelah kekalahan di Pertempuran Plocnik, kemenangan kesultanan Utsmaniyah di Pertempuran Kosovo secara efektif mengakhiri kekuasaan Kerajaan Serbia di wilayah tersebut dan memberikan jalan bagi Kesultanan Utsmaniyah menyebarkan kekuasaannya ke Eropa. Kesultanan ini kemudian mengontrol hampir seluruh wilayah kekuasaan Bizantium terdahulu. Wilayah Kekaisaran Bizantium di Yunani luput dari kekuasaan kesultanan berkat serangan Timur Lenk ke Anatolia tahun 1402, menjadikan Sultan Bayezid I sebagai tahanan. Sepeninggal Timur Lenk, Mehmed II melakukan perombakan struktur kesultanan dan militer, dan menunjukkan keberhasilannya dengan menaklukkan Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 pada usia 21 tahun. Kota tersebut menjadi ibukota baru Kesultanan Utsmaniyah. Sebelum Mehmed II terbunuh, pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Korsika, Sardinia, dan Sisilia. Namun sepeninggalnya, rencana untuk menaklukkan Italia dibatalkan.

di Perang Chaldiran. Perluasan Wilayah dan Puncak Kekuasaan (1453–1566) Pertempuran Zonchio pada tahun 1499 adalah perang laut pertama yang menggunakan meriam sebagai senjata di kapal perang. Suleiman yang Agung(1520-15660 melanjutkan ekspansi Selim. Di sebelah timur. angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekuatan dominan. Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah. Ismail I. Serangan ke Wina tahun 1529. dan masa stagnasi militer dan politik Kesultanan Utsmaniyah 1299–1683. Sultan Selim I(15121520) secara dramatis memperluas batas wilayah kesultanan dengan mengalahkanShah Dinasti Safavid dari Persia. Di bawah pemerintahan Selim dan Suleiman.Perkembangan Kerajaan (1453–1683) Periode ini bisa dibagi menjadi dua masa: Masa perluasan wilayah dan perkembangan ekonomi dan kebudayaan (sampai tahun 1566). Ia kemudian melakukan serangan ke Kota Wina tahun 1529. mengontrol sebagian besar Laut Mediterania. dan . mendapatkan kontrol wilayah Mesopotamia dan Teluk Persia. Penaklukkan Konstantinopel oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1453 mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. memperluas wilayahnya sampai ke Eropa dan Afrika Utara. Kesultanan ini memasuki zaman kejayaannya di bawah beberapa sultan. Selim I juga memperluas kekuasaan sampai ke Mesir dan menempatkan keberadaan kapal-kapal kesultanan di Laut Merah. Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Baghdad dari Persia tahun 1535. Pewaris takhta Selim. Beberapa kemenangan besar lainnya meliputi penaklukkan Tunis dan Aljazair dari Spanyol. Setelah menaklukkan Beograd tahun 1521. namun gagal menaklukkan kota tersebut setelah musim dingin yang lebih awal memaksa pasukannya untuk mundur. Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia. angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang kuat. menandakan kebangkitan angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah. di bidang kelautan. Evakuasi umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah sewaktu inkuisisi Spanyol. Suleiman menaklukkan Kerajaan Hongaria dan beberapa wilayah di Eropa Tengah.

dan Habsburg Austria. Kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di barat beserta dengan penemuan jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesulatanan Utsmaniyah. beberapa wilayah kekuasaan kesultanan mulai menghilang. Perubahan taktik militer di Eropa menjadikan pasukan Sipahi yang dulunya ditakuti menjadi tidak relevan. Walaupun begitu. Di medan perang. Pada saat itu. bersatu berdasarkan kepentingan bersama atas kekuasaan Habsburg di selatan dan tengah Eropa. menjadi sekutu yang kuat pada masa periode ini. Pertempuran Lepanto tahun 1571. Hal ini memberikan efek negatif terhadap semua lapisan masyarakat Utsmaniyah. dan bersekutu dengan Perancis.tapi semua orang menjadi salah mengeja menjadi Lepanto) tahun 1571 mengakhiri supremasi kesultanan di Mediterania. Disiplin dan kesatuan pasukan menjadi permasalahan disebabkan oleh kebijakan relaksasi rekrutmen dan peningkatan jumlah Yanisari yang melebihi pasukan militer lainnya . Secara ekonomi. Efektifitas militer dan struktur birokrasi warisan berabad-abad juga menjadi kelemahan dibawah pemerintahan Sultan yang lemah. Kerajaan-kerajaan Eropa berusaha mengatasi kontrol monopoli jalur perdagangan ke Asia oleh Kesultanan Utmaniyah dengan menemukan jalur alternatif. Perancis dan Kesultanan Utsmaniyah. kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa. Kemenangan koalisi tersebut di Pertempuran Lepanto (sebetulnya Navpaktos. dan Belanda melawan Habsburg Spanyol. kerjasama ekonomi juga terjadi antar Perancis dan Kesultanan Utsmaniyah. sebuah koalisi antar kekuatan dagang Eropa di Semenanjung Italiaberusaha untuk mengurangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di Laut Mediterania. Kesultanan Utsmaniyah secara perlahan-lahan tertinggal dengan teknologi militer orang Eropa dimana inovasi yang sebelumnya menjadikan faktor kekuatan militer kesultanan terhalang oleh konservatisme agama yang mulai berkembang. Kesultanan Utsmaniyah dianggap sebagai bagian dari politik Eropa. Sultan memberikan Perancis hak untuk melakukan dagang dengan kesultanan tanpa dikenai pajak. Di Eropa Selatan. masa keemasan yang ditandai dengan penaklukan dan perluasan wilayah berakhir. Italia.penaklukkan Nice dari Kekaisaran Suci Romawi tahun 1543. Inggris. Selain kerjasama militer. Serangan kedua Wina tahun 1683. pemasukan Spanyol dari benua baru memberikan pengaruh pada devaluasi mata uang Kesultanan Utsmaniyah dan mengakibatkan inflasi yang tinggi. admiral angkatan laut Turki saat itu. Penaklukkan terakhir terjadi atas nama Perancis sebagai pasukan gabungan dengan Raja Perancis Francis Idan Hayreddin Barbarossa. Pemberontakan dan Kebangkitan Kembali(1566–1683) Sepeninggal Suleiman tahun 1566. Pada akhir abad ke-16.

adalah satu-satunya Sultan yang menunjukkan kontrol militer dan politik yang kuat di dalam kesultanan. berani. . yang mana kesultanan pada masa ini pertama kali dikontrol oleh beberapa anggota kuat dari Harem dan kemudian oleh beberapa Perdana Menteri (Grand Vizier). di mana ibu dari Sultan yang muda mengambilalih kekuasaan atas nama puteranya. dan berhasil menggulingkan beberapa pemerintahan. Pemberontakan Jelali (1519-1610) dan Pemberontakan Yenisaris (1622) mengakibatkan ketidakpastian hukum dan pemberontakan di Anatolia akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Berakhirnya periode ini digantikan oleh Era Köprülü (1656-1703). Hürrem Sultan yang mengangkat dirinya sebagai pewaris Nurbanu. abad ke-17 bukan hanya masa stagnasi dan kemunduran. Namun. [3]Masa ini berakhir sampai pada kekuasaan Sultan Kösem dan menantunya Turhan Hatice. dan bijaksana. internal maupun eksternal. dideskripsikan oleh perwakilan Wina Andrea Giritti sebagai wanita yang saleh. yang mana persaingan keduanya berakhir dengan terbunuhnya Kösem tahun1651. Kesultanan Wanita (1530-1660) adalah peridode di mana pengaruh politik dari Harem Kesultanan sangat besar. yang menaklukkan Yereva tahun 1635 dan Baghdad tahun 1639 dari kesultanan Safavid.Murad IV (1612-1640). tetapi juga merupakan masa kunci di mana kesultanan Utsmaniyah dan strukturnya mulai beradaptasi terhadap tekanan baru dan realitas yang baru. Murad IV merupakan Sultan terakhir yang memimpin pasukannya maju ke medan perang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful