Anda di halaman 1dari 7

2. Uraikan komplikasi imobilitas (minimal 5) !

Jawaban : Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis. Di dalam praktek medis imobilisasi digunakan untuk menggambarkan suatu sindrom degenerasi fisiologis akibat dari menurunnya aktivitas dan ketidakberdayaan. Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh. Misalnya pada system kardiovaskuler,gangguan sirkulasi darah perifer, system respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen ke tubuh. (Lindgren et al. 2004) Gangguan mobilisasi (imobilisasi) didefinisikan menurut North American Nursing Association (NANDA) sebagai suatu keadaan ketika individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik (Kim et al, 1995). Penyebab Berbagai perubahan terjadi pada system musculoskeletal, meliputi tulang keropos (osteoporosis), pembesaran sendi, pengerasan tendon, keterbatasan gerak, penipisan discus intervertebralis, dan kelemahan otot, terjadi pada proses penuaan. Pada lansia, struktur kolagen kurang mampu menyerap energi. Kartilago sendi mengalami degenerasi didaerah yang menyangga tubuh dan menyembuh lebih lama. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya osteoarthritis. Begitu juga masa otot dan kekuatannya juga berkurang. Istirahat di tempat tidur lama dan inaktivitas menurunkan aktivitas metabolisme umum. Hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas fungsional sistem tubuh yang multipel, dengan manifestasi klinis sindrom imobilisasi. Konsekuensi metaboliknya tidak tergantung penyebab untuk apa imobilisasi diresepkan. Hal ini bisa disebabkan oleh: 1. Cedera tulang: penyakit reumatik seperti pengapuran tulang atau patah tulang (fraktur) tentu akan menghambat pergerakan.

2. Penyakit saraf: adanya stroke, penyakit parkinson, paralisis, dan gangguan saraf tapi juga menimbulkan gangguan pergerakan dan mengakibatkan imobilisasi. 3. Penyakit jantung dan pernapasan penyakit jantung dan pernapasan akan menimbulkan kelelahan dan sesak napas ketika beraktivitas. Akibatnya pasien dengan gangguan pada organ organ tersebut akan mengurangi mobilisasinya. Ia cenderung lebih banyak duduk dan berbaring. 4. Gips ortopedik dan bidai. 5. Penyakit kritis yang memerlukan istirahat. 6. Menetap lama pada posisi gravitasi berkurang, seperti saat duduk atau berbaring. 7. Keadaan tanpa bobot diruang hampa, yaitu pergerakan tidak dibatasi, namun tanpa melawan gaya gravitasi Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan instruksi pembatasan gerak dalam bentuk tirah baring, pembatasan gerak fisik selama penggunaan alat bantu eksternal (mis. Gips atau traksi rangka), pembatasan gerak volunteer, atau kehilangan fungsi motorik. DAMPAK FISIOLOGIS Apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap system tubuh berisiko terjadi gangguan. Tingkat keparahannya dari gangguan tersebut tergantung pada umur klien, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta tingkat imobilisasi yang dialami. Misalnya, perkembangan pengaruh imobilisasi lansia berpenyakit kronik lebih cepat dibandingkan klien yang lebih muda (Perry dan Potter, 1994). 1. Perubahan metabolik Sistem endokrin merupakan produksi hormon-sekresi kelenjar, membantu mempertahankan dan mengatur fungsi vital seperti (1) respons terhadap stress dan cedera, (2) pertumbuhan dan perkembangan,(3) reproduksi,(4) homeostasis ion, dan (5) metabolisme energi. Sistem endokrin berperan mengatur lingkungan internal dengan mempertahankan keseimbangan natrium, kalium, air dan keseimbangan asambasa. Sehingga, sistem endokrin bekerja sebagai pengatur metabolisme energy. Hormon tiroid meningkatkan laju metabolic basal (basal metabolic rate, BMR), dan energy dibuat sehingga dapat dipakai sel-sel melalui intergrasi kerja antara hormon gastrointestinal dan pancreas (Price dan Wilson, 1992)

Imobilisasi mengganggu fungsi metabolic normal, antara lain laju metabolik ; metabolisme karbohodrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan. Keberadaan proses infeksius pada klien imobilisasi mengalami peningkatan basal metabolic rate (BMR) diakobatkan karenan demam atau penyembuhan luka. Defisiensi kalori dan protein merupakan karakterisktik klien yang mengalami penurunan selera makan akibat imobilisasi. Protein disintesis dan diubah menjadi asam amino dalam tubuh untuk dibenntuk kembali menjadi protein lain secara konstan. Asam amino tidak digunakan akan diekskresikan. Tubuh dapat mensintesa asam amino tertentu (nonesensial) tetapi tergantung pada protein yang dikonsumsi untuk menyediakan delapan asam amino esensial. Jika lebih banyak nitrogen (produk akhir pemecahan asam amino) yang diekskresikan dari pada yang dimakan dalam bentuk protein, makan tubuh dikatakan mengalami keseimbangan nitrogen negative dan kehilangan berat badan, penurunan massa otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan. Kehilangn protein menunjukkan penurunan massa otot terutama pada hati, jantung, paru-paru, saluran pencernaan, dan sistem kekebalan. Ekskresi kalsium dalam urine ditingkatkan melalui resospsi tulang. Imobilisasi menyebabkan pelepasan kalsium ke dalam sirkulasi. Dalam keadaan normal ginjal dapat mengekskresikan kelebihan kalsium. Jika ginjal tidak mampu berespon dengan cepat maka akan terjadi hiperkalsemia. 2. Gangguan fungsi gastrointestinal Gangguan fungsi gastrointestinal bervariasi dan menagkibatkan penurunan motilitas saluran gastrointestinal. Konstipasi merupakan gejala umum.diare sering terjadi akibat impaksi fekal. Impaksi fekal dapat mengakibatkan obstruksi usus mekanik sebagian ataupun keseluruhan yang menyumbat lumen usus, menutup dorongna normal dari cairan dan udara. Akibat adanya cairan usus menimbulkan distensi dan peningkatan tekanan intraluminal. Selanjutnya, fungsi usus menjadi tertekan, terjadi dehidrasi, terhentinya absorbs, dan gangguan cairan dan elektrolit semakin memburuk. 3. Perubahan sistem respiratori Klien imobilisasi berisiko mengalami komplikasi paru-paru. Komplikasi paruparu yang paling umum adalah atelektasis dan pneumonia hipostatik. Pada atelektasis, bronkiolus menjadi tertutup oleh adanya sekresi dan kolaps alveolus distal karena

udara yang diabsorbsi, sehingga menghasilkan hipoventilasi. Bronkus utama atau beberapa bronkiolus kecil dapat terkena. Luasnya atelektasis ditentukan oleh bagian yang tertutup. Pneumonia hipostatik adalah peradangan paru-paru akibat stasisnya sekresi. Atelektasis dan pneumonia hipostatik, keduanya sama-sama menurunkan oksigenasi, memperlama penyembuhan, dan menambah ketidaknyamanan klien. Pada beberapa hal dalam perkembangan komplikasi ini, adanya penurunan sebanding kemampuan klien untuk batuk produktif. Sehingga penyebaran mucus dalam bronkus meningkat, terutama pada klien dalam posisi telentang, telungkup, atau lateral. Mucus menumpuk di region yang dependen di saluran pernapasan sangat baik untuk pertumbuhan bakteri, maka terjadi bronkopneumonia hipostatik. 4. Perubahan sistem kardiovaskuler Sistem kadiovaskuler juga dipengaruhi oleh imobilisasi. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan trombus. Hipotensi ortostatik adalah tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. Pada klien imobilisasi, terjadi penurunan sirkulasi volume cairan, pengumpulan darah pada ekstremitas bawah dan penurunan respons otonom. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan penurunan aliran balik vena, diikuti oleh penurunan curah jantung yang terlihat pada penurunan tekanan darah. Jika beban kerja jantung meningkat maka konsumsi oksigen juga meningkat. Oleh karena itu jantung bekerja lebih keras dan kurang efisien selama masa istirahat yang lama. Jika imobilisasi meningkat maka curah jantung menurun, penurunan efisiensi jantung yang lebih lanjut dan peningkatan beban kerja . Klien juga berisiko terjadi pembentukan thrombus. Thrombus adalah akumulasi trombosit, fibrin, faktor-faktor pembekuan darah, dan elemen selsel darah yang menempel pada dinding bagian anterior vena atau arteri, kadang-kadang menutup lumen pembuluh darah. Ada tiga yang menyebabkan pembentukan thrombus: (1) hilangnya integritas dinding pembuluh darah, (2) kelainan aliran darah (mis. Aliran darah vena lambat akibat tirah baring dan imobilisasi), (3) perubahan unsure-unsur darah (mis. Perubahan dalam faktor pembekuan darah atau peningkatan aktivitas trombosit). 5. Perubahan sistem musculoskeletal

Pengaruh imobilisasi pada sistem musculoskeletal meliputi ganggguan mobilisasi permanen. Keterbatasan mobilisasi mempengaruhi otot klien melalui kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi otot, dan penurunan stabilitas. Pengaruh sendi. Pengaruh otot. Akibat pemecahan protein, klien mengalami kehilangan massa tubuh, yang membentuk sebagian otot. Oleh karena itu, penurunan massa otot tidak mampu mempertahankan aktivitas tanpa peningkatan kelelahan. Massa otot menurun akibat metabolisme dan tidak digunakan. Jika imobilisasi berlanjut dan otot tidak dilatih, maka akan terjadi penurunan massa yang berkelanjutan. Penurunan mobilisasi dan gerakan mengakibatkan kerusakan musculoskeletal yang besar, yang perubahan patofisiologi utamanya adalah atrofi. Otrofi adalah suatu keadaan yang dipandang secara luas sebagai respon terhadap penyakit dan penurunan aktivitas sehari-hari, seperti pada respon imobilisasi dan tirah baring. Penurunan stabilitas terjadi akibat kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atrofi dan kelainan sendi yang actual. Sehingga klien tersebut tidak mampu bergerak terus menerus dan sangat berisiko untuk jatuh. Pengaruh skelet. Imobilisasi menyebabkan dua perubahan terhadap skelet : gangguan metabolisme kalsium dan kelainan sendi. Karena imobilisasi berakibat pada resorpsi tulang, sehingga jaringan tulang menjadi kurang padat, dan terjadi osteoporosis. Apabila osteoporosis terjadi maka klien berisiko terjadi fraktur patologis. Imobilisasi dan aktivitas yang tidak menyangga tubuh meningkatkan kecepatan resorpsi tulang. Resopsi tulang juga menyebabkan kalsium terlepas ke dalam, sehingga mengakibatkan terjadinya hiperkelsemia. Imobilisasi dapat mengakibatkan kontraktur sendi. Kontraktur sendi adalah kondisi abnormal dan siasa permanen yang ditandai oleh sendi fleksi dan terfiksasi. Hal ini disebabkan tidak digunakannya, atrofi, dan pemendekan serat otot. Jika terjadi kontraktur maka sendi tidak dapat mempertahankan rentang gerak dengan penuh. Sayangnya kontraktur sering menjadikan sendi pada posisi yang tidak berfungsi. lain dari keterbatasan mobilisasi yang memperngaruhi sistem musculoskeletal adalah gangguan metabolisme kalsium dan gangguan mobilisasi

Suatu macam kontraktur umum dan lemah yang terjadi adalah foot drop. Jika foot drop terjadi maka kaki terfiksasi pada posisi plantarfleksi secara permanen. Ambulasi sulit pada kaki dengan posisi ini. 6. Perubahan sistem integumen Dekubitus terjadi akibat iskemia dan anoksia jaringan. Jaringan yang tertekan, darak membelok, dan kontriksi kuat pada pembuluh darah akibat tekanan persisten pada kulit dan struktur di bawah kulit, sehingga respirasi selular terganggu, dan sel menjadi mati. Dekubitus adalah salah satu penyakit iatrogenic paling umum dalam perawatan kesehatan dimana berengaruh terhadap populasi klien khususnya lansia dan yang imobilisasi. Kerusakan integritas kulit mempunyai dampak yang bermakna pada tingkat kesejahteraan, asuhan keperawatan, dan lamanya perawatan di rumah sakit. 7. Perubahan elimininasi urine Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. Pada posisi tegak lurus, urin mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Jika klien dalam posisi rekumben atau datar, ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal akan membentuk urine harus masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Akibat kontraksi ureter yang tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi, pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter. Kondisi ini disebut stasis urine dan meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal. Batu ginjal adalah bau kalsium yang terletak di dalam pelvis ginjal dan melewati ureter. Klien imonilisasi berisiko terjadinya pembentukan batu karena gangguan metabolisme kalsium dan akibat hiperkalsemia. Sejalan dengan massa imobilisasi yang berlanjut, asupan cairan yang terbatas, dan penyebab lain, seperti demam, akan meningkatkan risiko dehidrasi. Akibatnya haluaran urine menurun sekitar pada hari kelima atau keenam. Pada umumnya urine yang diproduksi berkonsentrasi tinggi. Urine yang pekat meningkatkan risiko terjadi batu dan infeksi. Perawatan perineal yang buruk setelah defekasi, terutama pada wanita, meningkatkan risiko kontaminasi saluran perkemihan oleh bakteri Escherechia coli. Penyebab lain infeksi saluran perkemihan pada klien imobilisasi adalah pemakaian kateter urine menetap.

DAMPAK PSIKOSOSIAL Imobilisasi menyebabkan respons emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan status emosional biasa terjadi bertahap. Bagaimanapun juga lansia lebih rentan terhadap perubahan-perubahan tersebut, sehingga perawat harus mengobservasi lebih dini. Perubahan emosional paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.

Daftar Pustaka Perry, Potter. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC