Anda di halaman 1dari 22

TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

TUGAS SISTEM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

ROSI DESRITA NPM. 120620100520

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat-Nya kami diberi kemudahan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, serta pengikut beliau hingga akhir jaman. Makalah ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Pengelolaan Keuangan Negara dalam Program Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran. Mudah-mudahan penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi mahasiswa Program Magister Akuntansi pada umumnya, sebagai pembuka wawasan bagi implementasi teori dalam Sistem Pengelolaan Keuangan Negara dalam pelaksanaannya di lapangan. Akhir kata dengan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Hazainsyah,SE.,M.Si., Ak, yang telah membimbing dalam mata kuliah Sistem Pengelolaan Keuangan Negara dan semua pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini.

Penyusun

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR........1 PENDAHULUAN..3


A. Latar belakang......3 B. Dasar hukum.....3 C. Pengertian.....4 1. Akuntansi, Transparansi, Dan Akuntabilitas.....4 2. Keuangan Negara..........4 D. Rumusan masalah.......6

PEMBAHASAN
A. Permasalahan...7 B. Pembahasan Masalah.....7 1. Akuntabilitas Keuangan Negara dan Reformasi Keuangan Negara....7 2. Penyusunan Keuangan Negara......9 3. Pelaksanaan Keuangan Negara.......11 4. Prinsip-prinsip Pengeluaran Negara.....12 5. Pertanggungjawaban Keuangan Negara.13 6. Peningkatan kualitas SDM bidang akuntansi.....15 7. Peranan BPK Untuk Membangun Sistem Keuangan Negara...16 C. Kesimpulan masalah.....17

KESIMPULAN.18 LAMPIRAN (Publikasi)..19 DAFTAR PUSTAKA.. 21

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik dalam suatu negara akan dapat mewujudkan penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha. Dalam rangka mewujudkan hal-hal tersebut itulah, pemerintah perlu melakukan reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. Pada tahun 2003 reformasi bidang pengelolaan keuangan negara akhirnya terwujud dengan terbitnya UU No.17/2003 tentang Keuangan Negara yang merupakan salah satu paket UU Keuangan Negara. Selain itu paket berikutnya adalah UU No.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, serta UU No.15/2004 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara. Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa Indonesia. Kewajiban Pemerintah Pusat dan Daerah untuk menyusun laporan keuangan sebagai wujud akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah. Sesuai dengan Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, BPK mempunyai kewajiban dan mandat untuk melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan tersebut. Pada saat ini terjadi bersamaan dengan perubahan lingkungan eksternal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara. Perubahan tersebut antara lain meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memiliki pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan dalam mengelola keuangan negara. B. Dasar Hukum

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

1. UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. UU 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Negara. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan 5. Permendagri No 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. C. Pengertian 1. Akuntansi, Transparansi, Dan Akuntabilitas Akuntansi menurut American Institute of Certified Public Accounting dalam Sofyan Syafri Harahap (2003: 4) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut : Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya. Transparansi adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundangundangan (KK, SAP,2005). Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik (KK, SAP,2005). Hasil dari akuntansi adalah laporan keuangan. Pada dasarnya pembuatan laporan keuangan adalah suatu bentuk kebutuhan transparansi yang merupakan syarat pendukung adanya akuntabilitas yang berupa keterbukaan pemerintah atas aktivitas pengelolaan sumber daya publik (Mardiasmo, 2006). 2. Keuangan Negara

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam merumuskan keuangan negara adalah dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan. Dari sisi objek, yang dimaksud dengan keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan berupa barang yang dapat dijadikan milik pengelolaan berhubung kekayaan dengan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun negara pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan keuangan negara meliputi seluruh subjek yang memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut di atas. Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan, keuangan negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum negara. Keuangan negara memiliki tubuh pengetahuan yang kompak, tunggal dan homogen, pokok-pokok bahasan (subject matters) yang terkandung dalam keuangan negara sebagai studi dan ilmu adalah: (1) Pengeluaran Negara (Government Expenditures); (2) Sumber-sumber Penerimaan Negara di mana pajak merupakan sumber penerimaan yang terpenting (Government Revenues and Taxes); (3) Pinjaman Negara dan Perlunasannya (Government Borrowing and Indebtedness); (4) Administrasi Fiskal atau Teknik Fiskal (Fiscal Administration or Technique) yang membahas hukum dan tatausaha keuangan negara; (5) Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Intergovernment Fiscal Relationship), suatu studi dalam keuangan negara yang semakin penting dan menonjol; dan (6) Kebijakan Fiskal (Fiscal
Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

yang

berkaitan

dengan

pemilikan dan/atau penguasaan objek

sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Page 1

Policy) yang mempelajari peranan dan pengaruh keuangan negara atas pendapatan nasional, distribusi pendapatan nasional, kesempatan kerja, harga-harga dan juga efisiensi alokasi sumbersumber daya. C. Rumusan Masalah Dari bahan publikasi yang kami ambil dengan judul Kualitas Laporan Keuangan Negara Perlu Ditingkatkan dan dengan melihat pelaksanaan reformasi pengelolaan di bidang keuangan maka kami merumuskan sebagai berikut: 1. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara di pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan laporan keuangan berkualitas terbaik. 2. Pengelolaan keuangan negara yang sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. 3. Permasalahan terkait pengelolaan keuangan yang terjadi pada beberapa K/L yang perlu diselesaikan yaitu adanya pungutan yang dikelola di luar mekanisme APBN, penerimaan hibah langsung yang diterima masih dikelola di luar mekanisme APBN. 4. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan di seluruh K/L dan pemerintah daerah.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

BAB II PEMBAHASAN A. Permasalahan Dalam bahan publikasi yang kami dapatkan, dibahas tentang perlunya peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara di pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan laporan keuangan berkualitas terbaik. Untuk itu pemerintah terus berupaya melakukan berbagai perbaikan guna peningkatan transparansi dan akuntanbilitas pengelolaan keuangan negara yang sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Ada beberapa permasalahan terkait pengelolaan keuangan yang terjadi pada beberapa K/L yang perlu diselesaikan yaitu adanya pungutan yang dikelola di luar mekanisme APBN, penerimaan hibah langsung yang diterima masih dikelola di luar mekanisme APBN. Kemudian, adanya anggaran belanja yang tidak sesuai dengan klasifikasi (peruntukannya), pelaksanaan inventarisasi serta penilaian kembali aset tetap pada K/L yang belum selesai secara keseluruhan dan perbedaan laporan hasil inventarisasi dan penilaian serta realisasi belanja di beberapa K/L yang tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. Serta ketersediaan sumber daya manusia yang mampu dalam mengelola keuangan Negara, yg mulai dari perencanaan sampai kepada pertanggungjawaban. C. Pembahasan Masalah 1. Akuntabilitas Keuangan Negara dan Reformasi Keuangan Negara Reformasi atau paradigma baru dalam Keuangan Negara adalah paradigma yang menuntut besarnya akuntabilitas dan transparansi dari penataan keuangan negara dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

a. Dari Vertical Accountability menjadi Horizontal Accountability. Jika selama ini pertanggungjawaban atas penataan keuangan negara lebih ditujukan pada pemerintah yang lebih tinggi (Provinsi atau Pusat), maka dengan reformasi saat ini pertanggungjawaban lebih ditujukan kepada rakyat (DPR). Laporan pertanggungjawaban keuangan negara disampaikan kepada DPR secara periodik, tidak lagi sekedar laporan tentang APBN tetapi mencakup pula laporan Aliran Kas dan Neraca. b. Dari Traditional Budget menjadi Performance Budget. Selama ini penataan keuangan negara adalah dengan sistem tradisional. Sistem tradisional, sistem penyusunannya adalah dengan pendekatan incremental dan line item dengan penekanan pada pertanggungjawaban pada setiap input yang dialokasikan. Melalui reformasi, anggaran harus disusun dengan pendekatan atau sistem anggaran kinerja (performance budgeting), dengan penekanan pertanggunganjawaban tidak sekedar pada input tetapi juga pada output dan outcome. c. Dari Pengendalian dan Audit Keuangan ke Pengendalian dan Audit Keuangan, dan Kinerja. Sebelum reformasi terdapat pengendalian dan audit keuangan negara, bahkan juga audit kinerja. Namun, oleh karena sistem anggaran yang tidak memasukan kinerja, maka proses audit kinerja menjadi tidak berjalan dengan baik. Dalam reformasi ini, oleh karena system penganggaran yang mengunakan sistem penganggaran kinerja (performance budgeting) maka pelaksanaan pengendalian dan audit keuangan negara dan audit kinerja akan menjadi lebih baik. d. Lebih Menerapkan Konsep Value for Money. Reformasi penataan keuangan Negara saat ini menghendaki penerapan konsep value for money atau yang lebih dikenal degan konsep 3E (Ekonomi, Efisien, dan Efektif). Oleh karena itu dalam reformasi ini pemerintah diminta baik dalam mencari dana maupun menggunakan dana selalu menerapkan

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

prinsip 3 E tersebut. Hal ini mendorong pemerintah berusaha selalu memperhatikan tiap sen/rupiah dan (uang) yang diperoleh dan digunakan. Perhatian tertuju pada hubungan antara input-output-outcome. e. Penerapan Pusat Pertanggungjawaban. Dalam reformasi penataan keuangan Negara ini konsep pusat

pertanggungjawaban (responsibility center) diterapkan. Penerapan ini akan memudahkan pengukuran kinerja setiap unit organisasi. Pada konsep ini unit organisasi dapat diperlakukan sebagai pusat pertanggungjawaban pendapatan (revenue) seperti dinas pendapatan, biaya (expense) seperti bagian keuangan. laba (profit), dan investasi seperti BUMD atau Perusahaan Daerah. f. Perubahan Sistem Akuntansi Keuangan Pemerintahan. Untuk mendukung perubahan-perubahan yang telah dikemukakan di atas direformasi pula sistem akuntansi di pemerintahan. Jika selama ini pemerintah menggunakan sistem pencatatan tunggal (single entry system) maka dirubah menjadi sistem ganda (double entry system). Selain itu, selama ini digunakan pencatatan atas dasar kas (cash-basis) maka dirubah menjadi atas dasar actual medication (modified accrual basis). Selain itu, perubahan dalam akuntansi dan pengelolaan negara, yang pada gilirannya menuntut adanya neraca laporan negara, tidak lagi sekedar laporan perhitungan keuangan negara. 2. Penyusunan Keuangan Negara Dalam rangka akuntabilitas penataan keuangan negara, penyusunan keuangan Negara mengacu pada norma-norma dan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Negara. Transparansi tentang keuangan negara merupakan salah satu persyaratan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan bertanggungjawab. Mengingat penanganan pemerintah merupakan salah satu sarana evaluasi
Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

pencapaian

kinerja

dan

tanggungjawab

pemerintah

mensejahterakan

masyarakat, maka keuangan negara harus dapat memberikan informasi yang jelas tentang tujuan, sasaran, hasil dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang dianggarkan. Selain itu setiap dana yang diperoleh, penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan. b. Disiplin Keuangan Negara. Keuangan negara yang disusun harus dilakukan berlandaskan azas efisiensi, tepat guna, tepat waktu dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemilihan antara belanja yang bersifat rutin degan belanja yang bersifat pembangunan/modal harus diklasifikasikan secara jelas, agar tidak terjadi percampuradukan kedua sifat anggaran yang dapat menimbulkan pemborosan dan kebocoran dana. Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicari untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan pada setiap pos/pasal merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja. c. Keadilan Keuangan Negara. Pembiayaan pemerintah dapat dilakukan melalui mekanisme pajak dan retribusi yang dipikul oleh segenap lapisan masyarakat, untuk itu pemerintah wajib mengalokasikan penggunaannya secara adil agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan. d. Efisiensi dan Efektivitas Keuangan Negara. Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mugkin untuk dapat menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang maksimal guna kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, untuk dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan efektivitas anggaran, maka dalam perencanaan perlu ditetapkan secara jelas tujuan, sasaran, hasil dan manfaat yang akan diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang diprogramkan.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

e. Format Keuangan Negara. Pada dasarnya keuangan negara disusun berdasarakan format anggaran deficit (deficit budget format). Selisih antara pendapatan dan belanja mengakibatkan terjadinya surplus atau deficit anggaran. Apabila terjadi surplus, negara dapat membentuk dana cadangan, sedangkan bila terjadi deficit, dapat ditutupi melalui sumber pembiayaan pinjaman dan atau penerbitan obligasi negara sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Keuangan negara yang disusun dengan pendekatan kinerja memuat halhal sebagai berikut: (1) (2) Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja; Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang bersangkutan; dan (3) Bagian pendapatan keuangan negara yang membiayai administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, dan belanja modal/pembangunan.Untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah tersebut, maka dikembangkan standar analisis belanja, tolok ukur kinerja dan standar biaya. Standar analisis belanja adalah penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan, dan yang dimaksud dengan tolok ukur kinerja adalah ukuran keberhasilan yang dicapai pada setiap unit organisasi perangkat pemerintah sedangkan yang dimaksud dengan standar biaya adalah harga satuan unit biaya yang berlaku bagi masing-masing daerah. 3. Pelaksanaan Keuangan Negara Dalam negara, yaitu: (1) Kriteria bagi hasilnya harus mencukupi, menghendaki hasil pungutan penerimaan yang besar dan mencukupi untuk keperluan pemerintah. Oleh karena itu, bukan banyak jenis penerimaannya, tetapi hasil dan potensinya;
Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

rangka

akuntabilitas

penataan

keuangan

negara

terdapat

beberapa kriteria yang dikembangkan terhadap sumber-sumber penerimaan

Page 1

(2)

Kriteria Adil dan Pemerataan, dilihat dari segi dimensi yaitu: a) Tegak lurus (tingkat atau besar pendapatan); b) Mendatar (sumber pungutan dikenakan); dan c) Geografis (meyangkut lokasi dimana pungutan itu dikenakan). Kriteria ini bertitik tolak pada azas manfaat dan azas daya pikul. Azas manfaat menghendaki agar jumlah pungutan sama dengan manfaat yang diterima, sedangkan azas daya pikul adalah pengenaan harus berdasarkan kemampuan bayar seseorang atas suatu pungutan;

(3)

Kriteria Kemampuan Administrasi, setiap jenis penerimaan berbeda-beda dalam perangkat administrasi. Ada yang modern (pajak pusat), sementara Pajak dan Retribusi Daerah biasanya sederhana; dan

(4)

Kriteria Pengaruh Pajak terhadap ekonomi, agar diperhatikan efek terhadap alokasi sumber, oleh karena ada pungutan yang dapat mengurangi kemampuan berproduksi dan investasi, ada pula yang mendorong kegiatan produksi dan investasi. Segi efisiensi adalah pungutan yang mendorong kegiatan ekonomi.

4. Prinsip-prinsip Pengeluaran Negara Prinsip pengeluaran negara yang harus dipertimbangkan meliputi akuntabilitas dan value of money, kejujuran dalam penataan keuangan negara, transparansi dan pengendalian. 1. Akuntabilitas. Akuntabilitas pengeluaran negara adalah kewajiban pemerintah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan dan melaporkan segala aktivitas dan kegiatan yang terkait dengan menggunakan uang publik, kepada pihak yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggung-jawaban tersebut (DPR dan masyarakat luas). Adapun prinsip-prinsip akuntabilitas pengeluaran negara adalah: (1) Adanya system akuntansi dan sistem kemampuan negara yang dapat menjamin bahwa pengeluaran Negara dilakukan secara konsisten sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; (2) Pengeluaran negara yang

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

dilakukan dapat menunjukan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan; dan (3) Pengeluaran negara yang dilakukan dapat berorientasi pada pencapaian visi, misi, hasil dan manfaat yang akan diperoleh. 2. Value for Money. Pengeluaran negara harus berdasarkan konsep value of money, yaitu: a) Ekonomi, adalah hubungan antara pasar (nilai uang) dan masukan (input). Ekonomi adalah praktek pembelian barang dan jasa pada kualitas yang diinginkan dan pada harga terbaik yang memungkinkan. Sesuatu kegiatan operasional dikatakan ekonomis bila dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang dianggap tidak perlu. Oleh karena itu pada hakekatnya ada pengertian yang serupa antara efisiensi dengan ekonomi, karena kedua-duanya menghendaki penghapusan/penurunan biaya; b) Efisiensi, berhubungan erat dengan konsep efektivitas, yaitu rasio yang membandingkan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan. Proses kegiatan operasional dapat dikatakan dilakukan secara efisien apabila suatu target kinerja tertentu (outcome) dapat dicapai dengan menggunakan sumber daya dan biaya yang serendahrendahnya; c) Efektivitas, merupakan kaitan atau hubungan antara keluaran suatu pusat pertanggungjawaban dengan tujuan atau sasaran yang harus dicapainya. Efektivitas dalam Pemerintahan dapat diartikan penyelesaiannya kegiatan tepat pada waktunya dan di dalam batas anggaran yang tersedia, dapat berarti pula mencapai tujuan dan sasaran seperti apa yang telah direncanakan. 5. Pertanggungjawaban Keuangan Negara Menurut Mustopadidjaja (2003), Pertanggungjawaban merupakan ujung dari siklus anggaran setelah perencanaan dan pelaksanaan. Kata-kata kunci dalam pertanggungjawaban dalam evaluasi, evaluasi kinerja, dan akuntabilitas. Evaluasi kinerja kebijakan pada hakikatnya dilakukan untuk mengetahui

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

ketepatan dan efektivitas baik kebijakan itu sendiri maupun system dan proses pelaksanaannya, agar dapat dilakukan langkah-langkah tindak lanjut untuk menghindarkan biaya yang lebih besar atau untuk mencapai manfaat yang lebih baik. Essensi evaluasi kinerja adalah perbandingan yang menyangkut kinerja dan tingkat efektivitas baik kebijakan maupun sistem dan proses pelaksanaan yang berkembang dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi atau dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Evaluasi kinerja yang dilakukan dapat menyediakan informasi bagi para pengelola kebijakan dan pembuat kebijakan mengenai ketepatan dan efektivitas kebijakan dan sistem serta proses pelaksanaannya, agar dapat dilakukan tindak lanjut dini apabila secara aktual ternyata ada hal-hal yang perlu dikoreksi baik pada kebijakan atau pun pada sistem dan proses pelaksanaannya. Langkah dan tujuan serupa juga dilakukan dalam rangka pengawasan internal, karena sebenarnya pemantauan merupakan bagian dari kegiatan pengendalian internal yang diperlukan untuk peningkatan efektivitas manajemen, peningkatan efisiensi pemanfaatan sumber-sumber, dan perbaikan-perbaikan lainnya ke depan yang dapat meliputi kebijakan dan sistem serta proses pelaksanaannya, dengan kemungkinan terminasi atau pun ekstensi dan modifikasi kebijakan yang dilaksanakan. Evaluasi kinerja pada pengawasan eksternal, dilakukan dengan tujuan memberikan gambaran obyektif mengenai ketepatan dan efektivitas kebijakan ataupun sistem serta proses pelaksanaannya, kondisi biaya dan manfaat aktual dari kebijakan, perkembangan berbagai unsur dan indikator kinerja yang dicapai, yang diperlukan sebagai pertanggungjawaban atau pun pertanggunggugatan (responsibility and or accountability) suatu organisasi dalam melaksanakan tugas kelembagaannya. Hal terakhir itu menunjukkan maksud (motif) dilakukannya evaluasi kinerja, yang tentu dipengaruhi pula oleh posisi dan peran lembaga pengawasan eksternal yang melakukan evaluasi tersebut. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah instrumen pertanggungjawaban yang pada pokoknya terdiri dari berbagai indikator dan

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

mekanisme kegiatan pengukuran, penilaian, dan pelaporan kinerja secara menyeluruh dan terpadu untuk memenuhi kewajiban suatu instansi pemerintah dalam pertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, serta misi organisasi. LAKIP adalah media pertanggungjawaban yang bersisi informasi

mengenai kinerja instansi pemerintah, dan bermanfaat antara lain untuk: (1) Mendorong instansi pemerintah untuk menyelenggarakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan secara baik dan benar (good governance) yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, kebijaksanaan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat; (2) Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel sehingga dapat beroperasi secara efisien, efektif, dan responsive terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya; (3) Menjadi masukan dan umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka meningkatkan kinerja instansi pemerintah; dan (4) Terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

6. Peningkatan kualitas SDM bidang akuntansi Setidaknya ada lima faktor penyebab lemahnya SDM untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas fiskal di Indonesia, yaitu :
a.

Hampir tidak ada jurusan akuntansi di Indonesia yang mendidik akuntan yang bergerak dalam produksi jasa-jasa publik (public goods) yang diproduksi oleh sektor pemerintah.

b.

Pemerintah Pusat maupun Pemda memiliki jumlah SDM yang sangat terbatas yang memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan keahlian di bidang akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah. Padahal, paket tiga UU Keuangan Negara Tahun 2003-2004 menuntut Pemerintah Pusat dan Daerah, bahkan setiap satuan kerja di bawahnya

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

untuk menyampaikan pertanggungjawaban keuangannya dalam bentuk laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi pemerintahan.
c.

Pelatihan untuk peningkatan kapasitas SDM yang ada tidak dirancang dan dilaksanakan dengan program yang jelas dan terjadwal. Pada umumnya, pelatihan pada instansi pemerintah dilakukan berdasarkan tawaran dari luar pemerintah dan tidak dirancang berdasarkan kebutuhan internal. Untuk mengatasi kelangkaan tenaga-tenaga akuntan, BPK menyarankan

agar tenaga-tenaga BPKP disebarluaskan ke Departemen Teknis dan Pemda. Menegpan perlu menyusun perencanaan kebutuhan pegawai negeri sipil dan memudahkan perpindahan tenaga dari satu ke lain Departemen tanpa perlu surat keterangan lolos butuh yang sangat menghambat. Tenaga-tenaga akuntan BPKP itu diharapkan sekaligus membangun system akuntansi pada instansi yang bersangkutan. Pemanfaatan tenagatenaga akuntan BPKP di berbagai instansi penegak hukum dewasa ini, seperti Kejaksaan dan Kepolisian, baru terbatas pada perhitungan kerugian negara dan belum membangun sistem akuntansi instansi tersebut. Untuk mengatasi tenaga pemeriksa keuangan negara, BPK telah mengajak keikutsertaan KAP (Kantor Akuntan Publik) untuk melakukan pemeriksaan pada perusahaan negara dan BUMN yang merupakan keahlian mereka. Sesuai dengan pengembangan kemampuannya untuk memeriksa produksi public goods, KAP akan diikutsertakan dalam mengaudit sektor pemerintah produsen jasa-jasa publik itu. 7. Peranan BPK Untuk Membangun Sistem Keuangan Negara Satu-satunya memberikan opini tugas konstitusional serta BPK saran adalah dan untuk melakukan kepada

pemeriksaan keuangan negara. Berdasarkan hasil pemeriksaannya itu, BPK pemeriksaan rekomendasi Pemerintah dan DPR untuk membangun dan menyempurnakan sistem keuangan negara. Setelah menyerahkannya kepada DPR, sebagai pemegang hak budjet, BPK wajib mengumumkan hasil pemeriksaannya secara luas kepada masyarakat. BPK wajib untuk segera melaporkan hasil pemeriksaan yang diduga mengandung aspek kriminal kepada penegak hukum untuk disidik. BPK diberi
Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

kewenangan quasi-judicial untuk menghitung dan menetapkan kerugian negara. UU No. 15 Tahun 2006 sekaligus menugaskan BPK untuk memantau tindak lanjut saran serta rekomendasi pemeriksaannya. BPK tidak berwenang untuk mengambil kebijakan dan tindakan langsung bagi perbaikan sistem keuangan negara. Kewenangan seperti ini hanya dimiliki oleh Pemerintah bersama dengan lembaga-lembaga perwakilan Rakyat melalui pembuatan UU dan aturan maupun tindakan lain yang bersifat memaksa. Selain berwenang untuk membuat UU, DPR sekaligus memiliki hak budjet sehingga dapat mengawasi anggaran negara mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta pertanggungjawaban. D. Kesimpulan dari Masalah Telah diuraikan mengenai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang meliputi uraian tentang konsep dan aplikasinya, reformasi, penyesuaian, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban keuangan negara. Tuntutan untuk mewujudkan konsep dan aplikasi keuangan negara tersebut di atas, dan juga untuk mewujudkan good governance, membutuhkan profesionalitas dan akuntabilitas yang semakin tinggi, kejujuran, konsistensi, komitmen yang tinggi, dan berupaya keras meningkatkan citra dan kinerja aparatur dalam penyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

BAB III KESIMPULAN Dasar-dasar peningkatan transparansi dan akuntabilitas sektor publik sudah diletakkan oleh Pemerintah dan DPR dalam paket tiga UU Keuangan Negara tahun 20032004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Ketiga UU Keuangan Negara Tahun 2003-2004 dan SAP tersebut diharapkan akan memodernisir sistem keuangan negara dan menyehatkan struktur anggaran negara. Sistem akrual mengungkapkan hak dan kewajiban kontijensi serta perencanaan jangka panjang berbasis kinerja. Sistem akuntansi digantikan dari sistem single entry accounting system dengan sistem dua sisi yang berpasangan (double entry accounting system). Sistem akuntansi sektor publik yang baru akan menggunakan system akuntansi yang terpadu dan terkomputerisasi serta menerapkan desentralisasi pelaksanaan akuntansi berjenjang. Penyimpanan uang negara yang tersebar di ribuan rekening, termasuk rekening pribadi pejabat yang sudah meninggal lebih dari 10 tahun akan dikonsolidasikan dalam suatu sistem perbendaharaan negara yang terpadu (Treasury Single Account). Hanya dengan demikian, Menteri Keuangan dapat mengetahui posisi keuangan dan likuiditas keuangan negara. Sebagaimana telah diuraikan diatas, baik perangkat organisasi, instrumen maupun momentum untuk mengimplementasikan ketiga UU Keuangan Negara dan SAP itu pun sudah diletakkan dan telah mulai membuahkan hasil. Pemerintah, DPR dan BPK perlu terus mendorong dan memberikan semangat agar semua perangkat organisasi pemerintahan bergerak sesuai dengan program aksi yang mereka susun sendiri dengan jadwal waktu yang mereka tetapkan sendiri pula. Menpan membantu reformasi birokrasi, termasuk penetapan reformasi, rekrutmen, jenjang karir PNS sesuai dengan keahliannya. BPKP membantu tenaga akuntan yang berpengalaman dan kembali pada misi pokoknya untuk membangun sistem dan melakukan pengawasan keuangan negara.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

KUALITAS LAPORAN KEUANGAN NEGARA PERLU DITINGKATKAN Senin, 19 September 2011 Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan perlunya peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara di pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan laporan keuangan berkualitas terbaik. "Karena itu, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai perbaikan guna peningkatan transparansi dan akuntanbilitas pengelolaan keuangan negara yang sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik," kata Menkeu dalam sambutannya pada Rakernas akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah di Jakarta, Senin. Menurut dia, berbagai langkah nyata yang dilakukan sebagai upaya untuk mewujudkan transparansi dan pengelolaan keuangan negara, antara lain menyempurnakan metode pencatatan dan sistem akuntansi dalam rangka pelaporan keuangan negara, perbaikan proses penyusunan Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (LKBUN) yang dimulai pelaporan keuangan tahun 2010 telah diaudit dan diberi opini oleh BPK. Kemudian, penyempurnaan sistem dan aplikasi administrasi penerimaan negara, penertiban rekening pada Kementerian negara/Lembaga dan penatausahaan Barang Milik Negara (BMN) yang meliputi inventarisasi, penilaian kembali dan sertifikasi. Pemerintah juga berupaya melakukan penertiban pengelompokan jenis belanja dalam penganggaran dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam bidang akuntansi dan pelaporan keuangan di seluruh K/L dan pemerintah daerah. Menkeu memastikan selama delapan tahun reformasi keuangan negara serta berbagai upaya tersebut, opini BPK atas Laporan Keuangan Kementerian negara/Lembaga (LKKL) semakin membaik. "Jumlah LKKL yang mendapat opini terbaik, yaitu wajar tanpa pengecualian pada 2010 mencapai 53 LKKL, dari sebelumnya 2009 sebanyak 45 LKKL," ujarnya. Namun pada 2010 sebanyak 29 LKKL masih mendapatkan opini wajar dengan pengecualian serta dua LKKL yang mendapatkan opini disclaimer.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

Hal tersebut, kata Menkeu, dikarenakan masih ada beberapa permasalahan terkait pengelolaan keuangan yang terjadi pada beberapa K/L yang perlu diselesaikan yaitu adanya pungutan yang dikelola di luar mekanisme APBN, penerimaan hibah langsung yang diterima masih dikelola di luar mekanisme APBN. Kemudian, adanya anggaran belanja yang tidak sesuai dengan klasifikasi

(peruntukannya), pelaksanaan inventarisasi serta penilaian kembali aset tetap pada K/L yang belum selesai secara keseluruhan dan perbedaan laporan hasil inventarisasi dan penilaian serta realisasi belanja di beberapa K/L yang tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. "Untuk itu, diperlukan komitmen para penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan di seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah mengenai ketentuan transparansi dan akuntanbilitas keuangan negara terutama di level pimpinan K/L maupun Pemda," ujar Menkeu. Menkeu menambahkan acara rakernas yang dilaksanakan selama dua hari 19-20 September 2011 dihadiri sekitar 700 pejabat pengelola keuangan pemerintah baik lembaga, pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam acara tersebut juga diberikan penghargaan kepada 53 kementerian dan lembaga serta 32 pemerintah daerah yang mendapatkan penilaian WTP dan mendapatkan nilai tertinggi.

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1

DAFTAR PUSTAKA Mardiasmo, 2006, Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik: Suatu Sarana Good Governance, Jurnal Akuntansi Pemerintahan, Vol. 2, No. 1, Mei 2006, Hal 1 17 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan. Permendagri 13 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Sofyan Syafri Harahap, 2003, Teori Akuntansi, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Siaran Pers BPK RI, 23 Juni 2008 Siaran Pers BPK RI, 15 Oktober 2008 http://www.antaranews.com/berita/276145/kualitas-laporan-keuangan-negara-perluditingkatkan http://jurnalkeuangandanpembangunan.blogspot.com/2010/03/reformasi-pengelolaankeuangan-negara.html www.bpk.go.id/web/files/2009/08/rakernas.pdf www.theprakarsa.org/uploaded/.../Akuntabilitas%20anggaran.pdf

Sistem Pengelolaan Keuangan Negara

Page 1