Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan Latar belakang Obat pencahar (laksansia) adalah zat-zat yang dapat mempercepat peristaltik di dalam usus sebagai

refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus yang menyebabkan defekasi. Zat-zat ini mempengaruhi atau merangsang susunan syaraf otonom parasimpatis untuk melakukan gerak peristaltaltik di usus dan mendorong isinya keluar. Obat pencahar adalah obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi konstipasi atau sembelit. Biasanya obat ini hanya digunakan saat mengalami konstipasi atau sembelit. Konstipasi atau sembelit adalah keluhan pada sistem pencernaan yang paling umum dan banyak ditemui di masyarakat luas termasuk di sekitar kita. Penyebab umum konstipasi atau sembelit yang berada disekitar kita antara lain karena kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi, menderita panas dalam, stres dalam pekerjaan, aktivitas yang padat, pengaruh hormon dalam tubuh, usus kurang elastis (biasanya karena sedang dalam masa kehamilan atau usia lanjut), kelainan anatomis pada sistem pencernaan, gaya hidup yang buruk, efek samping akibat meminum obat tertentu (misalnya obat antidiare, analgesik, dan antasida), kekurangan asupan vitamin C, disebakan oleh penyakit, menahan rangsangan untuk buang air besar dalam jangka waktu yang lama dan seharusnya segera dikeluarkan dan dibuang, kekurangan makanan berserat, karena usia lanjut, dan masih banyak lainnya. Selain untuk menyembuhkan sembelit, obat pencahar juga biasa digunakan untuk membantu penyembuhan keracunan obat atau makanan yang akut, penderita yang akan menjalani dengan sinar rontgen pada saluran usus, ginjal, kandung kemih dll, sebelum dan sesudah minum obat cacing. Namun demikian penggunaan obat pencahar harus sesuai kebutuhan, sebab penggunaan obat pencahar yang terlalu sering dapat mengakibatkan beberapa efek yang tidak diingikan, yaitu ; Absorpsi zat yang diperlukan tubuh pada usus dapat terganggu, Sintesa vitamin dalam usus juga bisa terganggu, Garam-garam natrium dan kalium tidak diserap dalam usus sehingga dapat menyebabkan kelemahan otot.

Tujuan Mengetahui pengaruh beberapa sediaan obat yang memilki daya kerja sebagai laksansia dan mengetaahui mekanisme perubahan yang terjadi dari pengaruh obat tersebut di dalam usus. Alat dan Bahan Alat: - perasat bedah minor - syringe Bahan: - tikus - benang - kapas - uretan - aquades -NaCl fisiologis 0,9% -NaCl fisiologis 3% -MgSO4 4,7% -MgSO4 27%

Metode 1.Menimbang bobot tikus untuk mengetahui berat dan dosis anestesi yang akan diberikan, dengan dosis uretan yang diberikan yaitu 1,25 gr/kg BB 2.Menyuntikan uretan secara intra peritoneal (IP), setelah tikus telah teranestesi, dengan meletakan pada alas kayu/busa pada posisi ventrodorsal dan mengikat kaki-kakinya pada sisi bantalan kayu/busa tersebut. 3.Membedah dengan alat bedah pada bagian abdomen, kemudian mempreparir usus sepanjang 2,5 cm dari daerah pylorus dengan mengikat dengan benang.

4.Membagi usus halus menjadi 5 segmen dengan mengikat dengan benang pada interval panjang 5 cm, dan jarak cm antar ikatan. 5.Dengan menggunakan syringe, menginjeksi segmen pertama dengan aquades, segmen kedua dengan NaCl 0,9%, segmen ketiga dengan NaCl 3%, segmen ke empat dengan MgSO4 4,7 %, dan segmen kelima dengan MgSO4 27% (masing-masing sebanyak 0,25 ml) 6.Setelah menginjeksi semua segmen kemudian menutup ruang abdomen yang telah terbuka dengan kapas yang telah dibasahi dengan NaCl 0,9%. 7.Melakukan aspirasi cairan pada setiap segmen menggunakan syringe setelah 45 menit dari penyuntikan. Menghitung volume cairan yang diaspirasi dari tiap-tiap segmen.