Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS MYELITIS

Pembimbing : Dr. Achmad Junaidi, Sp.S

Oleh : Siti Hardianti Harahap S.Ked 04104705244

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN NEURO RSMH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN Laporan Kasus berjudul : Myelitis Oleh: Siti Hardianti Harahap, S. Ked. 04104705278

Telah dinilai dan diterima sebagai salah satu persyaratan kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu Kedokteran Saraf RSMH Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Palembang, Februari 2012 RSMH Palembang.

(Dr. Achmad Junaidi, Sp. S)

KATA PENGANTAR Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya kepada penulis hingga dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Laporan kasus ini dibuat untuk memenuhi sebagian syarat-syarat kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kedokteran Saraf. Dengan disusunnya laporan kasus ini, diharapkan bisa sedikit memberikan gambaran myelitis, khususnya untuk mengetahui cara penegakan diagnosis dan penatalaksaannya bagi dokter umum. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Achmad Junaidi, Sp. S, Selaku pembimbing penyusunan laporan kasus ini dengan memberikan bimbingan dan nasehat dalam penyelesaian laporan kasus ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada temanteman, serta staf bagian saraf, dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kelemahan yang terdapat dalam penulisan laporan kasus ini, kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ KATA PENGANTAR........................................................................................ DAFTAR ISI....................................................................................................... BAB I LAPORAN KASUS 1.1 Identifikasi..................................................................................................... 1.2 Anamnesis..................................................................................................... 1.3 Pemeriksaan Fisik.......................................................................................... 1.4 Pemeriksaan Penunjang................................................................................. 1.5 Diagnosis Banding...................................................................................... . 1.6 Diagnosis Kerja............................................................................................. 1.7 Penatalaksanaan............................................................................................. 1.8 Prognosis........................................................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi................................................................................... 2.2 Myelitis ......................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... i ii iii iv 1 1 1 10 10 10 10 11

12 17 25

BAB I LAPORAN KASUS 1.1 IDENTIFIKASI Nama Jenis Kelamin Usia Kebangsaan Alamat Agama MRS 1.2 ANAMNESIS Penderita dirawat di bagian Neurologi RSMH karena tidak bisa berjalan akibat kelemahan kedua tungkai yang terjadi secara tiba-tiba 1 tahun SMRS penderita mengalami kelemahan kedua tungkai perlahanlahan, diawali dengan rasa berat pada kedua tungkai, dan tidak bisa digerakkan sejak 1 hari SMRS. Selain itu, 1 hari SMRS os mengeluh kaki tidak berasa ketika menginjak air panas, tidak BAK dan BAB, tidak berkeringat mulai dari bagain dada ke bawah, demam (-). Riwayat jatuh terduduk tidak ada, riwayat batuk lama tidak ada, riwayat menderita ISPA sebelumnya tidak ada, riwayat vaksinasi sebelumnya tidak ada, riwayat darah tinggi tidak ada, riwayat kencing manis tidak ada. 1.3 PEMERIKSAAN FISIK Status Internus ( P emeriksaan tanggal 15 Pebruari 2011) Vital sign : Kesadaran Tekanan darah Nadi : Compos Mentis (E4M6V5) : 120/80 mmHg : 74 x/menit : Ny. S : Perempuan : 48 tahun : Indonesia : JL Rama Raya RT 48, RW 11, Kel. Alang-Alang Lebar, Sukarami Palembang. : Islam : 26 Januari 2012

Laju pernapasan Temperatur Pemeriksaan Sistem Kepala dan leher Thoraks Jantung Paru

: 20 x/menit : 36,8 0C

: JVP 5-2 cmH2O : HR 74 kali/menit, murmur (-), Gallop (-) : Vesikuler (+), ronkhi (-), wheezing (-) : Cembung, lemas, hepar dan lien tidak teraba, Bu (+) normal : Tidak diperiksa : edema (-), Deformitas (-)

Abdomen Genitalia Ekstremitas Status Psikiatrikus Sikap Perhatian Status Neurologikus Kepala Bentuk Ukuran Simetris Hematom Tumor Leher Sikap Torticolis Kaku kuduk Syaraf-syaraf otak N. Olfaktorius Penciuman

: Kooperatif : Ada

Ekspresi Muka : Wajar Kontak Psikis : Ada

: Brachiocephali : Normocephali : Simetris : Tidak ada : Tidak ada

Deformitas Fraktur Nyeri Tekan P. Darah Pulsasi

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Pelebaran (-) : Tidak ada

: Lurus : Tidak ada : Ada Kanan :

Deformitas Tumor P. Darah

: Tidak ada : Tidak ada : Pelebaran (-) Kiri Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Anosmia Hyposmia Parosmia N. Optikus Visus Campus visi

: : :

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kanan

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kiri 6/6 V.O.S

: :

6/6 V.O.D

Anopsi Hemianopsia Fundus Oculi Papil edema Papil atrofi

: : : :

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Perdarahan retina :

N. Occulomotorius, Trochlearis, Abduscens Kanan Diplopia Celah mata Ptosis Sikap bola mata Strabismus Exophtalmus Enophtalmus : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke segala arah Bulat 3mm : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kiri Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Deviation conjugae:

Gerakan bola mata Pupil Bentuk Besar

: Baik ke segala arah : : Bulat 3mm

Isokor/anisokor Reflek cahaya o Langsung o Konsensuil o Akomodasi

Isokor Tidak ada (+) (+) (-) Tidak ada Kanan Kiri

Isokor Tidak ada (+) (+) (-) Tidak ada

Midriasis/miosis : : : :

Argyl Robertson :

N. Trigeminus Motorik Menggigit Trismus Refleks kornea Dahi Pipi Dagu : : : : : :

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Kanan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Kiri Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

Sensorik

N. Facialis Motorik Mengerutkan dahi Menutup mata Lipatan nasolabialis Bentuk muka o Istirahat o Berbicara/bersiul Sensorik 2/3 depan lidah

Menunjukkan gigi : Sudut mulut tertinggal

: Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Otonom Salivasi Lakrimasi Chvosteks sign : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada Kanan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Kanan : Tidak ada : Tidak ada Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada Kiri Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Kiri Tidak ada Tidak ada

N. Statoacusticus N. Cochlearis Suara bisikan Detik arloji Tes Weber Tes Rinne N. Vestibularis Nistagmus Vertigo

N. Glossopharingeus dan N. Vagus Kanan Arcuspharingeus Uvula Gangguan Menelan Suara serak/sengau Denyut jantung Reflek Muntah Batuk Okulo kardiak Sinus karotikus : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelaianan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Kiri

Sensorik 1/3 belakang lidah : Tidak ada kelaianan

N. Accessorius Mengangkat bahu Memutar kepala N. Hypoglossus Mengulur lidah Fasikulasi Atrofi papil Disartria Motorik Lengan Gerakan Kekuatan Tonus Reflek Fisiologis Biceps Triceps Radius Ulna Hoffman Tromner Leri Meyer : : : : : :

Kanan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Kanan Tidak ada kelainan Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Kiri Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Kiri Tidak ada kelainan Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Kanan : : : : : : : : : : : Cukup 5 Normal Normal Normal Normal Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kanan : : : Kurang 2 Menurun

Kiri cukup 5 Normal Normal Normal Normal Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kiri Kurang 4 Menurun

Reflek Patologis

- Trofik Tungkai Gerakan Kekuatan Tonus Klonus

Paha Kaki KPR APR Babinsky Chaddock Oppenheim Gordon Schaeffer Rossolimo Mendel bechterew

: : : : : : : : : : :

(-) (-) Menurun Menurun (+) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

(-) (-) Menurun Menurun (+) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Reflek Fisiologis

Reflek Patologis

Reflek Kulit Perut Atas Tengah Bawah Reflek cremaster Trofik : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Hipestesi dari kedua ujung kaki sampai 2 jari di bawah papilla mammae Fungsi Vegetatif Miksi Defekasi Kolumna Vertebralis Kyposis Lordosis Gibbus Deformitas : : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada : : Retensio urine Retensio Alvi

Sensorik

Tumor Meningocele Hematoma Nyeri ketok

: : : :

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kanan (-) (-) Kiri (-) (-)

Gejala Rangsangan Meningeal Kaku kuduk Kerniq Lasseque Brudzinsky Neck Check Symphisis Leg I Leg II : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

Gait dan Keseimbangan Gait Ataxia Hemiplegic Scissor Proplusion Histeric Limping Steppage : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Keseimbangan dan Koordinasi Romberg Dysmetri - Jari-jari - Jari-hidung - Tumit-tumit : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

- Rebound phenomen : Tidak ada - Dysdiadochokinesis : Tidak ada - Trunk Ataxia : Tidak ada

Astasia-abasia : Tidak ada

Gerakan Abnormal Tremor Chorea Athetosis : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Ballismus Dystoni Mycloni Fungsi Luhur Afasia motorik Afasia sensorik Apraksia Agrafia Alexia Afasia nominal

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin ; Parameter Hemoglobin Eritrosit Hematokrit Leukosit LED Trombosit Hitung jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit Hasil 11,9 mg/dl 3.940.000 / mm3 35% 11.400/mm3 94 mm/jam 163.000/mm3 0% 3% 2% 64% 22% 9%

MRI Thoracal

Kesan: Tidak tampak tanda-tanda stenosis canalis thoracalis Tidak tampak kelaianan lain pada pemeriksaan MRI toracal Rontgen Thorak Rontgen thoracolumbal AP/Lat Kesan : Spondylosis Lumbalis

1.5 DIAGNOSIS BANDING SOL 1.6 DIAGNOSIS Diagnosis Klinik : Paraparese inferior flaccid + hipestesi mulai dari ujung jari kedua kaki sampai 2 jari di bawah papilla mammae + retensio urine Diagnosis Topik : Lesi transversal total setinggi T3-T4 Diagnosis Etiologi : myelitiis 1.7 PENGOBATAN Bedrest Diet BB IVFD Nacl 0,9% gtt xx/mnt Pemasangan Kateter Medikamentosa Inj. Methylprednisolon 2 x 125 mg (IV) Inj. Ceftriaxone 2x1 gr IV Vit. B1B6B12 3x1 tab Laxadine syrup 3x 1 cth

1.8 PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam : dubia at bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MIELITIS TRANSVERSA AKUT 1. Definisi Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari satu tingkat, atau segmen, dari sumsum tulang belakang. Istilah myelitis mengacu pada radang sumsum tulang belakang; transversal hanya menggambarkan posisi peradangan, yaitu, di seberang lebar dari sumsum tulang belakang. Serangan peradangan bisa merusak atau menghancurkan myelin, substansi lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf. Ini menyebabkan kerusakan sistem saraf yang mengganggu inpuls antara saraf-saraf di sumsum tulang belakang dan seluruh tubuh. 2. Epidemiologi Myelitis Transversa terjadi pada orang dewasa dan anak-anak, di kedua jenis kelamin, dan di semua ras. Faktor predisposisi pada keluarga tidak jelas. Sebuah puncaknya pada tingkat insiden (jumlah kasus baru per tahun) tampaknya terjadi antara 10 dan 19 tahun dan 30 dan 39 tahun. Meskipun hanya beberapa studi telah meneliti tingkat insiden, diperkirakan bahwa sekitar 1.400 kasus baru didiagnosis myelitis melintang setiap tahun di Amerika Serikat, dan sekitar 33.000 orang Amerika memiliki beberapa jenis kecacatan akibat gangguan ini. 3. Etiologi Para peneliti tidak yakin mengenai penyebab pasti transversa myelitis. Peradangan yang menyebabkan kerusakan yang luas pada medulla spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus, reaksi kekebalan yang abnormal, atau tidak cukup aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak di sumsum tulang belakang. Myelitis Transversa juga dapat terjadi sebagai komplikasi sifilis, campak, penyakit Lyme, dan beberapa vaksinasi, termasuk untuk cacar dan rabies serta idiopatik. Myelitis transversa sering berkembang akibat infeksi virus. Agen infeksi yang dicurigai menyebabkan myelitis transversa termasuk varicella zoster, herpes simpleks, sitomegalovirus, Epstein-Barr, influenza, echovirus, human immunodeficiency virus (HIV), hepatitis A, dan rubella. Bakteri infeksi kulit, infeksi telinga tengah (otitis media), dan Mycoplasma pneumonia.

3. Patogenesis Pasca-kasus infeksi mekanisme sistem kekebalan tubuh yang aktif akibat virus atau bakteri, tampaknya memainkan peran penting dalam menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang. Meskipun peneliti belum mengidentifikasi mekanisme yang tepat bagaimana terjadinya cedera tulang belakang dalam kasus ini, mungkin rangsangan sistem kekebalan sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa reaksi kekebalan tubuh mungkin bertanggung jawab. Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh, yang biasanya melindungi tubuh dari organisme asing, keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, menyebabkan inflamasi dan, dalam beberapa kasus,menyebabkan kerusakan myelin dalam sumsum tulang belakang Beberapa kasus myelitis transversa akibat dari malformasi arteriovenosa spinal (kelainan yang mengubah pola-pola normal aliran darah) atau penyakit pembuluh darah seperti aterosklerosis yang menyebabkan iskemia, penurunan tingkat normal oksigen dalam jaringan sumsum tulang belakang. Iskemia dapat terjadi di dalam sumsum tulang belakang akibat penyumbatan pembuluh darah atau mempersempit, atau faktor-faktor lain yang kurang umum. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf tulang belakang dan membawa sisa metabolik. Ketika arterivenosus menjadi menyempit atau diblokir, mereka tidak dapat memberikan jumlah yang cukup sarat oksigen darah ke jaringan saraf tulang belakang. Ketika wilayah tertentu dari sumsum tulang belakang menjadi kekurangan oksigen, atau iskemik, sel saraf dan serat mungkin mulai memburuk relative dengan cepat. Kerusakan ini dapat menyebabkan peradangan luas, kadang-kadang menyebabkan myelitis transversal. Kebanyakan orang yang mengembangkan kondisi sebagai akibat dari penyakit vaskular melewati usia 50, punya penyakit jantung, atau baru saja menjalani operasi dada atau abdominal.

4. Gambaran klinis Myelitis transversa dapat bersifat akut (berkembang selama jam sampai beberapa hari) atau subakut (berkembang lebih dari 2 minggu hingga 6 minggu). Gejala awal

biasanya mencakup lokal nyeri punggung bawah, tiba-tiba paresthesias (sensasi abnormal seperti membakar, menggelitik, menusuk, atau kesemutan) di kaki, hilangnya sensorik, dan paraparesis (kelumpuhan parsial kaki). Paraparesis sering berkembang menjadi paraplegia. Dan mengakibatkan gangguan genitourinary dan defekasi. Banyak pasien juga melaporkan mengalami kejang otot, perasaan umum tidak nyaman, sakit kepala, demam, dan kehilangan nafsu makan. Tergantung pada segmen tulang belakang yang terlibat, beberapa pasien mungkin juga akan mengalami masalah pernapasan. Dari berbagai macam gejala, empat ciri-ciri klasik myelitis transversa yang muncul: (1) kelemahan kaki dan tangan, (2) nyeri, (3) perubahan sensorik, dan (4) disfungsi pencernaan dan kandung kemih. Kebanyakan pasien akan mengalami berbagai tingkat kelemahan di kaki mereka, beberapa juga mengalaminya di lengan mereka. Awalnya, orang-orang dengan myelitis transversal mungkin menyadari bahwa kaki mereka tampak lebih berat dari biasanya. Perkembangan penyakit selama beberapa minggu sering mengarah pada kelumpuhan penuh dari kaki, yang mengharuskan pasien untuk menggunakan kursi roda. Nyeri adalah gejala utama dari myelitis transversa pada sepertiga sampai setengah dari semua pasien. Rasa sakit dapat dilokalisasi di punggung bawah atau dapat terdiri dari tajam, sensasi yang memancarkan bawah kaki atau lengan atau di sekitar dada. Pasien yang mengalami gangguan sensoris sering menggunakan istilah-istilah seperti mati rasa, kesemutan, dingin, atau pembakaran untuk menggambarkan gejala mereka. Sampai 80 persen dari mereka yang myelitis transversa memiliki kepekaan yang meningkat, sehingga pakaian atau sentuhan ringan dengan jari signifikan menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit (suatu keadaan yang disebut allodynia). Banyak juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap perubahan suhu yang ekstrem atau panas atau dingin. Gangguan pada genitourinary dan gastrointestinal mungkin melibatkan peningkatan frekuensi dorongan untuk buang air kecil atau buang air besar, inkontinensia, kesulitan buang air kecil, dan sembelit. Selama perjalanan penyakit, sebagian besar orang dengan myelitis transversa akan mengalami satu atau beberapa gejala.

5. Perjalanan penyakit Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh mati rasa dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas. Gejala tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan kandung kemih. Lokasi terhambatnya impuls saraf pada medula spinalis menentukan beratnya gejala yang timbul. 6. Diagnosa Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati komprensi medula spinalis baik karena proses neoplasma medula spinalis intrinsik maupun ekstrensik, ruptur diskus intervertebralis akut, infeksi epidural dan polineuritis pasca infeksi akut (Sindrom Guillain Barre). Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor, pleositosis moderat (antara 20-200 sel/mm3) terutama jenis limfosit, protein sedikit meninggi (50-120 mg/100 ml) dan kadar glukosa normal. Berbeda dengan sindrom Guillain Barre di mana dijumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis. Dan pada sindrom Guillain Barre, jenis kelumpuhannya adalah flaksid serta pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan. Lesi kompresi medula spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut sering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medula spinalis. Selain itu pada pungsi lumbal dijumpai blokade aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya sel. Dilakukan pungsi lumbal , CT scan atau MRI, mielogram serta pemeriksaan darah. 7. Penatalaksanaan Pemberian glukokortikoid atau ACTH, biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila

terjadi progresivitas defesit neurologik. Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Bila tidak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0,8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari), lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari). Untuk mencegah efek samping kortikosteroid, penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2kali/hari. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral. Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin, dan untuk mencegah terjadinya infeksi traktus urinarius dilakukan irigasi dengan antiseptik dan pemberian antibiotik sebagai prolifilaksis (trimetroprim-sulfametoksasol, 1 gram tiap malam). Konstipasi dengan pemberian laksan. Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. Bila terjadi hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. Disamping terapi medikamentosa maka diet nutrisi juga harus diperhatikan, 125 gram protein, vitamin dosis tinggi dan cairan sebanyak 3 liter per hari diperlukan. Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering menimbulkan spasme kedua tungkai, hal ini dapat diatasi dengan pemberian Baclofen 1580 mg/hari, atau diazepam 3-4 kali 5 mg/hari. Rehabilitas harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah komplikasi tromboemboli.